Anda di halaman 1dari 11

Alamat IP versi 4 (sering disebut dengan Alamat IPv4) adalah sebuah jenis

pengalamatan jaringan yang digunakan di dalam protokol jaringan TCP/IP yang


menggunakan protokol IP versi 4. Panjang totalnya adalah 32-bit, dan secara teoritis
dapat mengalamati hingga 4 miliar host komputer atau lebih tepatnya
4.294.967.296 host di seluruh dunia, jumlah host tersebut didapatkan dari 256
(didapatkan dari 8 bit) dipangkat 4(karena terdapat 4 oktet) sehingga nilai
maksimal dari alamt IP versi 4 tersebut adalah 255.255.255.255 dimana nilai
dihitung dari nol sehingga nilai nilai host yang dapat ditampung adalah
256x256x256x256=4.294.967.296 host, bila host yang ada di seluruh dunia
melebihi kuota tersebut maka dibuatlah IP versi 6 atau IPv6. Contoh alamat IP versi
4 adalah 192.168.0.3. Konsep Perhitungan Subnetting?
Penghitungan subnetting bisa dilakukan dengan dua cara, cara binary yang
relatif lambat dan cara khusus yang lebih cepat. Pada hakekatnya semua
pertanyaan tentang subnetting akan berkisar di empat masalah: Jumlah
Subnet, Jumlah Host per Subnet, Blok Subnet, dan Alamat Host-
Broadcast.
Penulisan IP address umumnya adalah dengan 192.168.1.2. Namun
adakalanya ditulis dengan 192.168.1.2/24, apa ini artinya? Artinya bahwa
IP address 192.168.1.2 dengan subnet mask 255.255.255.0. Lho kok
bisa seperti itu?
Ya, /24 diambil dari penghitungan bahwa 24 bit subnet mask
diselubung dengan binari 1. Atau dengan kata lain, subnet masknya
adalah: 11111111.11111111.11111111.00000000 (255.255.255.0).
Jika masih bingung, Anda perlu mempelajari lagi konversi bilangan Biner ke
bilangan Desimal.
Konsep ini yang disebut dengan CIDR (Classless Inter-Domain Routing) yang
diperkenalkan pertama kali tahun 1992 oleh IEFT.
Pertanyaan berikutnya adalah, Subnet Mask berapa saja yang bisa
digunakan untuk melakukan subnetting?
Ini terjawab dengan tabel di bawah:

Subnetting Pada IP Address Class C


Ok, sekarang mari langsung latihan saja. Subnetting seperti apa yang terjadi
dengan sebuah NETWORK ADDRESS 192.168.1.0/26 ?
Analisa: 192.168.1.0 berarti kelas C dengan Subnet Mask /26 berarti :
11111111 . 11111111 . 11111111 . 11000000 (255.255.255.192)
Penghitungan: Seperti sudah disebutkan sebelumnya semua pertanyaan
tentang subnetting akan berpusat di 4 hal, jumlah subnet, jumlah host
per subnet, blok subnet, alamat host dan broadcast yang valid. Jadi
kita selesaikan dengan urutan seperti itu:

1. Jumlah Subnet = 2^x, dimana x adalah banyaknya binari 1 pada oktet terakhir
subnet mask (2 oktet terakhir untuk kelas B, dan 3 oktet terakhir untuk kelas A). Jadi
Jumlah Subnet adalah 22 = 4 subnet.

2. Jumlah Host per Subnet = 2^y 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu
banyaknya binari 0 pada oktet terakhir subnet. Jadi jumlah host per subnet adalah 26
2 = 62 host.

3. Blok Subnet = 256 192 (nilai oktet terakhir subnet mask) = 64. Subnet berikutnya
adalah 64 + 64 = 128, dan 128+64=192. Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128,
192.

4. Bagaimana dengan alamat host dan broadcast yang valid? Kita langsung buat
tabelnya. Sebagai catatan, host pertama adalah 1 angka setelah subnet, dan broadcast
adalah 1 angka sebelum subnet berikutnya.

Kita sudah selesaikan subnetting untuk IP address Class C. Dan kita bisa
melanjutkan lagi untuk subnet mask yang lain, dengan konsep dan teknik
yang sama. Subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class C
adalah seperti di bawah. Silakan anda coba menghitung seperti cara diatas
untuk subnetmask lainnya.

Subnetting Pada IP Address Class B


Berikutnya kita akan mencoba melakukan subnetting untuk IP address class
B. Pertama, subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting class B
adalah seperti dibawah. Sengaja saya pisahkan jadi dua, blok sebelah kiri
dan kanan karena masing-masing berbeda teknik terutama untuk oktet yang
dimainkan berdasarkan blok subnetnya. CIDR /17 sampai /24 caranya
sama persis dengan subnetting Class C, hanya blok subnetnya kita
masukkan langsung ke oktet ketiga, bukan seperti Class C yang
dimainkan di oktet keempat. Sedangkan CIDR /25 sampai /30
(kelipatan) blok subnet kita mainkan di oktet keempat, tapi setelah
selesai oktet ketiga berjalan maju (counter) dari 0, 1, 2, 3, dst.

Ok, kita coba dua soal untuk kedua teknik subnetting untuk Class B. Kita
mulai dari yang menggunakan subnetmask dengan CIDR /17 sampai /24.
Contoh network address 172.16.0.0/18.
Analisa: 172.16.0.0 berarti kelas B, dengan Subnet Mask /18 berarti
11111111.11111111.11000000.00000000 (255.255.192.0).
Penghitungan:

1. Jumlah Subnet = 2^x, dimana x adalah banyaknya binari 1 pada 2 oktet terakhir. Jadi
Jumlah Subnet adalah 2^2 = 4 subnet

2. Jumlah Host per Subnet = 2^y 2, dimana y adalah adalah kebalikan dari x yaitu
banyaknya binari 0 pada 2 oktet terakhir. Jadi jumlah host per subnet adalah 2^14 2 =
16.382 host

3. Blok Subnet = 256 192 = 64. Subnet berikutnya adalah 64 + 64 = 128, dan
128+64=192. Jadi subnet lengkapnya adalah 0, 64, 128, 192.

4. Alamat host dan broadcast yang valid?

Berikutnya kita coba satu lagi untuk Class B khususnya untuk yang
menggunakan subnetmask CIDR /25 sampai /30. Contoh network address
172.16.0.0/25.
Analisa: 172.16.0.0 berarti kelas B, dengan Subnet Mask /25 berarti
11111111.11111111.11111111.10000000 (255.255.255.128).
Penghitungan:

1. Jumlah Subnet = 2^9 = 512 subnet

2. Jumlah Host per Subnet = 2^7 2 = 126 host

3. Blok Subnet = 256 128 = 128. Jadi lengkapnya adalah (0, 128)

4. Alamat host dan broadcast yang valid?

Masih bingung juga? Ok sebelum masuk ke Class A, coba ulangi lagi dari
Class C, dan baca pelan-pelan
Subnetting Pada IP Address Class A
Kalau sudah mantab dan paham, kita lanjut ke Class A. Konsepnya semua
sama saja. Perbedaannya adalah di OKTET mana kita mainkan blok
subnet. Kalau Class C di oktet ke 4 (terakhir), kelas B di Oktet 3 dan
4 (2 oktet terakhir), kalau Class A di oktet 2, 3 dan 4 (3 oktet
terakhir). Kemudian subnet mask yang bisa digunakan untuk subnetting
class A adalah semua subnet mask dari CIDR /8 sampai /30.
Kita coba latihan untuk network address 10.0.0.0/16.
Analisa: 10.0.0.0 berarti kelas A, dengan Subnet Mask /16 berarti
11111111.11111111.00000000.00000000 (255.255.0.0).
Penghitungan:

1. Jumlah Subnet = 2^8 = 256 subnet

2. Jumlah Host per Subnet = 2^16 2 = 65534 host

3. Blok Subnet = 256 255 = 1. Jadi subnet lengkapnya: 0,1,2,3,4, etc.

4. Alamat host dan broadcast yang valid?


Mudah-mudahan sudah setelah anda membaca paragraf terakhir ini, anda
sudah memahami penghitungan subnetting dengan baik. Kalaupun belum
paham juga, anda ulangi terus artikel ini pelan-pelan dari atas.Jelaskan apa
yang anda ketahui tentang subnetting dan apa guna subnetting?

http://pendidikan-informatika.blogspot.com/2011/10/perhitungan-subnetting-
ipv4.html

jawab:
Teknik subnet merupakan cara yang biasa digunakan untuk mengalokasikan
sejumlah alamat IP di sebuah jaringan (LAN atau WAN). Teknik subnet menjadi
penting bila kita mempunyai alokasi IP yang terbatas misalnya hanya ada 200 IP
yang akan di distribusikan ke beberapa LAN. Dengan adanya subnetting maka
pengalamatan host akan lebih mudah. Subnetting berfungsi untuk
menyembunyikan detail dari internal network suatu organisasi ke router eksternal.
Selain itu, subnetting juga mempermudah manajemen jaringan dan menambah
efisiensi dari jaringan tersebut. Dengan subnetting kita dapat membatasi jumlah
maksimal host yang dapat dialokasikan pada suatu subnet. Dengan subnetting kita
dapat memeriksa kesalahan jaringan dengan cepat karena kesalahan tersebut
sudah terlokalisasi

http://tugas-komputerku.blogspot.com/2012/09/cara-kerja-subnettingfungsi.html

BAB II

PEMBAHASAN

Perbedaan IPv4 dan IPv6

Sebagai protokol pengalamatan internet generasi baru, IPv6 tentu hadir dengan berbagai
kelebihan ketimbang sang pendahulunya yaitu IPv4.
Berikut adalah perbedaan antara IPv4 dan IPv6 menurut Kementerian Komunikasi dan
Informatika (Kominfo) :

Fitur
IPv4: Jumlah alamat menggunakan 32 bit sehingga jumlah alamat unik yang didukung terbatas
4.294.967.296 atau di atas 4 miliar alamat IP saja. NAT mampu untuk sekadar memperlambat
habisnya jumlah alamat IPv4, namun pada dasarnya IPv4 hanya menggunakan 32 bit sehingga
tidak dapat mengimbangi laju pertumbuhan internet dunia.

IPv6: Menggunakan 128 bit untuk mendukung 3.4 x 10^38 alamat IP yang unik. Jumlah yang
masif ini lebih dari cukup untuk menyelesaikan masalah keterbatasan jumlah alamat pada IPv4
secara permanen.

Routing
IPv4: Performa routing menurun seiring dengan membesarnya ukuran tabel routing.
Penyebabnya pemeriksaan header MTU di setiap router dan hop switch.

IPv6: Dengan proses routing yang jauh lebih efisien dari pendahulunya, IPv6 memiliki
kemampuan untuk mengelola tabel routing yang besar.

Mobilitas
IPv4: Dukungan terhadap mobilitas yang terbatas oleh kemampuan roaming saat beralih dari satu
jaringan ke jaringan lain.

IPv6: Memenuhi kebutuhan mobilitas tinggi melalui roaming dari satu jaringan ke jaringan lain
dengan tetap terjaganya kelangsungan sambungan. Fitur ini mendukung perkembangan aplikasi-
aplikasi.

Keamanan
IPv4: Meski umum digunakan dalam mengamankan jaringan IPv4, header IPsec merupakan fitur
tambahan pilihan pada standar IPv4.

IPv6: IPsec dikembangkan sejalan dengan IPv6. Header IPsec menjadi fitur wajib dalam standar
implementasi IPv6.

Ukuran header
IPv4: Ukuran header dasar 20 oktet ditambah ukuran header options yang dapat bervariasi.

IPv6: Ukuran header tetap 40 oktet. Sejumlah header pada IPv4 seperti Identification, Flags,
Fragment offset, Header Checksum dan Padding telah dimodifikasi.

Header checksum
IPv4: Terdapat header checksum yang diperiksa oleh setiap switch (perangkat lapis ke 3),
sehingga menambah delay.

IPv6: Proses checksum tidak dilakukan di tingkat header, melainkan secara end-to-end. Header
IPsec telah menjamin keamanan yang memadai

Fragmentasi
IPv4: Dilakukan di setiap hop yang melambatkan performa router. Proses menjadi lebih lama
lagi apabila ukuran paket data melampaui Maximum Transmission Unit (MTU) paket dipecah-
pecah sebelum disatukan kembali di tempat tujuan.

IPv6: Hanya dilakukan oleh host yang mengirimkan paket data. Di samping itu, terdapat fitur
MTU discovery yang menentukan fragmentasi yang lebih tepat menyesuaikan dengan nilai MTU
terkecil yang terdapat dalam sebuah jaringan dari ujung ke ujung.
Configuration
IPv4: Ketika sebuah host terhubung ke sebuah jaringan, konfigurasi dilakukan secara manual.

IPv6: Memiliki fitur stateless auto configuration dimana ketika sebuah host terhubung ke sebuah
jaringan, konfigurasi dilakukan secara otomatis.

Kualitas Layanan
IPv4: Memakai mekanisme best effort untuk tanpa membedakan kebutuhan.

IPv6: Memakai mekanisme best level of effort yang memastikan kualitas layanan. Header traffic
class menentukan prioritas pengiriman paket data berdasarkan kebutuhan akan kecepatan tinggi
atau tingkat latency tinggi.

TCP/IP merupakan sebuah protokol yang mengatur bagaimana suatu node berkomunikasi
dengan node lainnya didalam jaringan. Protokol tersebut berfungsi sebagai bahasa agar satu
komputer dapat berkomunikasi satu dengan yang lainnya. Internet Protocol (IP) merupakan inti
dari protokol TCP/IP, dimana seluruh data yang berasal dari layer-layer diatasnya harus diolah
oleh protokol ini agar sampai ketujuan. Versi Internet Protocol yang sudah digunakan luas adalah
IPv4.

Saat ini ketersediaan IPv4 sudah hampir habis, untuk itu dikembangkanlah IPv6 dengan 128 bit
address. Dalam pengembangannya, tentu saja terdapat banyak sekali perbedaan antara IPv4
dengan IPv6 ini.

Perbedaan yang paling terlihat tentu saja pada bentuknya. Pada IPv4 dengan panjang 32 bit
penotasiaannya dapat menggunakan angka desimal, sedangkan pada IPv6 dengan 128 bit tentu
saja akan sangat sulit jika harus mengkonversinya kedalam desimal. Untuk itu, IPv6
menggunakan bentuk hexadesimal.

Contoh :
IPv4 : 192.168.179.0 / 24
IPv6 : 2012:6F:: / 32

Dari penulisan IPv6 diatas mungkin akan muncul pertanyaan, Kenapa penulisannya bisa sangat
pendek?. Begini, jadi sebetulnya penulisan yang sebenarnya seperti ini :

2012:006F:0000:0000:0000:0000:0000:0000 / 32

Karena setelah bit ke 32 semuanya 0, bisa detuliskan dengan dobel titik dua saja (::).

Untuk lebih memahaminya, kita bandingkan antara IPv4 dengan IPv6.

A. Struktur pengalamatan
IPv4
Pengalamatan IPv4 menggunakan 32 bit yang setiap bit dipisahkan dengan notasi titik. Notasi
pengalamatan IPv4 adalah sebagai berikut:

XXXXXXXX.XXXXXXXX.XXXXXXXX.XXXXXXXX
Dimana setiap simbol X digantikan dengan kombinasi bit 0 dan 1.
Misalnya:
10000010.11001000.01000000.00000001 (dalam angka biner)
Cara penulisan lain agar mudah diingat adalah dengan bentuk 4 desimal yang dipisahkan dengan
titik. Misal untuk alamat dengan kombinasi biner seperti diatas dapat dituliskan sebagai berikut:
130.200.127.254
Penulis sudah menganggap teman-teman semua sudah bisa mengkonversi dari bilangan biner ke
desimal.
IPv6
Tidak seperti pada IPv4 yang menggunakan notasi alamat sejumlah 32 bit, IPv6 menggunakan
128 bit. Tujuannya adalah agar alokasi alamatnya lebih banyak. Jika pada IPv4 hanya 2 32 (4,5 x
1010), pada IPv6 mecapai 2128 (3 x 1038).
Notasi alamat IPv6 adalah sebagai berikut:
X:X:X:X:X:X:X:X
Dalam bentuk biner ditulis sebagai berikut:

1111111001111000:0010001101000100:1011111001000001:1011110011011010:
0100000101000101:0000000000000000:0000000000000000:0011101000000000

Notasi alamat IPv6 dalam bentuk biner sengaja saya tulis untuk menunjukkan betapa panjangnya
alamat IPv6.
Agar lebih mudah diinget setiap simbol X digantikan dengan kombinasi 4 bilangan heksadesimal
dipisahkan dengan simbol titik dua [:]. Untuk contoh diatas dapat ditulis sbb:
FE78:2344:BE43:BCDA:4145:0:0:3A
Sistem pengalamatan IPv6 dapat disederhanakan jika terdapat beberapa angka "0" secara
berturutan. Contohnya untuk notasi seperti diatas dapat ditulis:
FE78:2344:BE43:BCDA:4145:0:0:3A --> FE78:2344:BE43:BCDA:4145::3A
Contoh lagi:
8088:0:0:0:0:0:4508:4545 --------> 8088::4508:4545

B. Sistem pengalamatan
IPv4

Sistem pengalamatan IPv4 dibagi menjadi 5 kelas, berdasarkan jumlah host yang dapat
dialokasikan yaitu:

Kelas A : range 1-126

Kelas B : range 128-191

Kelas C : range 192-223

Kelas D : range 224-247

Kelas E : range 248-255

Tapi yang lazim dipake hanya kelas A,B dan C sedangkan kelas D dipakai untuk keperluan
alamat multicasting dan kelas E dipake untuk keperluan eksperimental. Selain itu pada IPv4
dikenal istilah subnet mask yaitu angka biner 32 bit yang digunakan untuk membedakan network
ID dan host ID, menunjukkan letak suatu host berada dalam satu jaringan atau lain jaringan.
Contohnya :
- IP address: 164.10.2.1 dan 164.10.4.1 adalah berbeda jaringan jika menggunakan netmask
255.255.254.0, tetapi akan jika netmasknya diganti menjadi 255.255.240.0 maka kedua IP
address diatas berada dalam satu jaringan. Caranya:
164.10.2.1 --> 10100100.00001010.00000010.00000001
255.255.254.0 --> 11111111.11111111.11111110.00000000
____________________________________ XOR
10100100.00001010.00000010.00000000 --> 164.10.2.0

Dan
164.10.4.1 --> 10100100.00001010.00001000.00000001

255.255.254.0 --> 11111111.11111111.11111110.00000000

____________________________________ XOR

10100100.00001010.00001000.00000000 --> 164.10.4.0

Operasi XOR caranya adalah seperti penjumlahan, jika angka "1" jumlahnya genap hasilnya "1"
kalo jumlah "1" ganjil hasilnya "0" (1+1=1, 1+0=0).

Terlihat hasil operasi XOR dua IP address dengan netmask yang sama hasilnya beda berarti
kedua IP address tersebut berbeda jaringan. untuk contoh berikutnya yang menggunakan
netmask 255.255.240.0 silahkan coba sendiri.

IPv6
Pada IPv6 tidak dikenal istilah pengkelasan, hanya IPv6 menyediakan 3 jenis pengalamatan
yaitu: Unicast, Anycast dan Multicast.
- Alamat unicast yaitu alamat yang menunjuk pada sebuah alamat antarmuka atau host,
digunakan untuk komunikasi satu lawan satu. pada alamat unicast dibagi 3 jenis lagi yaitu:
alamat link local, alamat site local dan alamat global.
Alamat link local adalah alamat yang digunakan di dalam satu link yaitu jaringan local yang
saling tersambung dalam satu level. Sedangkan alamat site local setara dengan alamat privat,
yang dipakai terbatas di dalam satu site sehingga terbatas penggunaannya hanya didalam satu
site sehingga tidak dapat digunakan untuk mengirimkan alamat diluar site ini. Alamat global
adalah alamat yang dipakai misalnya untuk Internet Service Provider.
- Alamat anycast adalah alamat yang menunjukkan beberapa interface (biasanya node
yang berbeda). Paket yang dikirimkan ke alamat ini akan dikirimkan ke salah satu alamat
antarmuka yang paling dekat dengan router. Alamat anycast tidak mempunyai alokasi khusus,
karena jika beberapa node/interface diberikan prefix yang sama maka alamat tersebut sudah
merupakan alamat anycast.
- Alamat multicast adalah alamat yang menunjukkan beberapa interface (biasanya untuk
node yang berbeda). Paket yang dikirimkan ke alamat ini maka akan dikirimkan ke semua
interface yang ditunjukkan oleh alamat ini. Alamat multicast ini didesain untuk menggantikan
alamat broadcast pada IPv4 yang banyak mengkonsumsi bandwidth.
Tabel alokasi alamat IPv6 :

Alokasi Binary prefix Contoh 16 bit pertama


Global Unicast 001 2xxx atau 3xxx
Link Local 1111 1110 10 FE8x - FEBx
Site Local 1111 1110 11 FECx - FEFx
Multicast 1111 1111 FFxx

Selain alamat diatas ada juga jenis pengalamatan lainnya diantaranya:

1. IPv4-compatible IPv6 address biasanya alamat ini digunakan untuk mekanisme transisi
Tunelling. Format alamatnya sebagai berikut :

80 bits 16 bits 32 bits


0000 . . . . . . . . . . .0000 0000 IPv4 address
Contoh :
0:0:0:0:0:0:192.168.30.1 --> ::192.168.30.1 --> ::C0A8:1E01

2. IPv4-mapped IPv6 address biasanya digunakan untuk mekanisme transisi ISATAP.


80 bits 16 bits 32 bits
0000 . . . . . . . . . . .0000 FFFF IPv4 address
Contoh :
::FFFF:192.168.30.1 --> ::FFFF:C0A8:1E01

3. IPv6 over ethernet digunakan untuk stateless autoconfiguration (pemberian alamat IPv6 secara
otomatis tanpa memerlukan server yang memberi alokasi IP address, seperti DHCP tetapi tanpa
server).
Contoh :
00:90:27:17:FC:0F
/\
/ \
FF FE
Maka alamatnya menjadi : 00:90:27:FF:FE:17:FC:0F
Kemudian diblok pertama bit ketujuh diinvers

00:90:27:17:FC:0F
|
000000[0]0 bit yang dikurungi diinvers dari 0 --> 1

Maka sekarang menjadi : 02:90:27:FF:FE:17:FC:0F


Alamat tersebut adalah alamat IPv6 over ethernet.