Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ulkus kornea adalah keadaan patologik kornea yang ditandai adanya infiltrat supuratif
efek kornea bergaung, diskontinuitas jaringan kornea yang dapat terjadi dari epitel sampai
stroma. Ulkus kornea yang luas memerlukan penanganan yang cepat dan tepat untuk mencegah
perluasan ulkus dan timbulnya komplikasi berupa descematokel, perforasi, endoftalmitis, bahkan
kebutaan. Pembentukan parut akibat ulserasi kornea adalah penyebab utama kebutaan dan
gangguan penglihatan di seluruh dunia. Kebanyakan gangguan penglihatan ini dapat dicegah,
namun hanya bila didiagnosis penyebabnya ditetapkan secara dini dan diobati secara memadai.
Ulkus kornea yang sembuh akan menimbulkan kekeruhan kornea dan merupakan penyebab
kebutaan nomor dua di Indonesia.

1.2 Batasan Masalah

Batasan penulisan ini membahas mengenai definisi, etiologi, klasifikasi, gambaran klinis,
penatalaksanaan, komplikasi, dan prognosis dari ulkus kornea.

1.3 Tujuan Penulisan

Penulisan ini bertujuan untuk menambah pengetahuan penulisan mengenai ulkus kornea.

1.4 Metode Penulisan

Penulisan ini menggunakan metode penulisan tinjauan kepustakaan merujuk pada


berbagai literatur.

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi

Gambar 2.1 Bola mata 1

Gambar 2.1 .Anatomi Kornea5


Sumber : A.D.A.M. Student Atlas of Anatomy, 2008

Kornea dewasa rata-rata mempunyai diameter horizontal 12 mm dan diameter vertical 11


mm. Bagian perifer kornea lebih tebal dibandingkan bagian sentral, dimana bagian perifer
mempunyai ketebalan 1 mm dan bagian sentral 0,5 mm. Limbus, yang membatasi kornea dan
sclera, berwarna keabuan dan jernih. Bagian kornea yang terekspos dengan dunia luar dilindungi
oleh precorneal tear film, yang terdiri dari 3 lapisan: superficial oily layer yang diproduksi oleh
kelenjar meibom; middle aqueous layer yang diproduksi oleh kelenjar lakrimal utama dan
aksesori; dan deep mucin layer yang berasal dari sel goblet konjungtiva. Peranan precorneal tear
film ini sangat vital bagi fungsi normal kornea. Selain untuk lubrikasi permukaan kornea dan
konjungtiva, tear film juga menyediakan oksigen dan nutrisi, serta mengandung
immunoglobulin, lisosim, dan laktoferin. 1

Dari anterior ke posterior, kornea mempunyai 5 lapisan:

2
Gambar 2.2 Lapisan Kornea 1

1. Lapisan epitel: lapisan ini mempunyai lima atau enam lapis sel dan berbatasan dengan
lapisan epitel konjungtiva bulbaris.
2. Lapisan Bowman: merupakan lapisan jernih aselular, yang terletak di bawah membrana
basal epitel kornea yang merupakan kolagen yang tersusun tidak teratur seperti stroma
dan berasal dari bagian depan stroma. Lapisan ini tidak mempunyai daya regenerasi.
3. Stroma: lapisan ini menyusun sekitar 90% ketebalan kornea. Bagian ini tersusun atas
jalinan lamella serat-serat kolagen dengan lebar sekitar 10-250 m dan tinggi 1-2 m
yang mencakup hampir seluruh diameter kornea. Lamella ini berjalan sejajar dengan
dengan permukaan kornea, dan karena ukuran dan kerapatannya menjadikan kornea
jernih secara optic.
4. Membran Descemet: merupakan lamina basalis endotel kornea. Saat lahir, tebalnya
sekitar 3 m dan terus menebal selama hidup, mencapai 10-12 m.
5. Lapisan endotel: hanya memiliki satu lapis sel yang berperan dalam mempertahankan
deturgesensi stroma kornea. Endotel kornea rentan terhadap trauma dan kehilangan sel-
selnya seiring dengan penuaan. Reparasi endotel terjadi hanya dalam wujud pembesaran
dan pergeseran sel, dengan sedikit pembelahan sel. Kegagalan fungsi endotel akan
menimbulkan edema kornea. 2

3
2.2 Definisi

Ulkus kornea yaitu kerusakan/ kehilangan epitel kornea yang sampai ke stromal, yang
mempunyai batas/ dinding dan dasar.4

2.3 Manifestasi Klinis

Gejala klinis pada ulkus kornea secara umum dapat berupa3 :

Gejala Subjektif

Eritema pada kelopak mata dan konjungtiva


Sekret mukopurulen
Merasa ada benda asing di mata
Pandangan kabur
Mata berair
Bintik putih pada kornea, sesuai lokasi ulkus
Silau
Nyeri
Infiltat yang steril dapat menimbulkan sedikit nyeri, jika ulkus terdapat pada perifer
kornea dan tidak disertai dengan robekan lapisan epitel kornea.

Gejala Objektif

Injeksi siliar
Hilangnya sebagian jaringan kornea, dan adanya infiltrat
Hipopion

2.4 Patofisiologi

Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui cahaya, dalam perjalanan
pembentukan bayangan di retina, karena jernih, sebab susunan sel dan seratnya tertentu dan tidak
ada pembuluh darah. Biasan cahaya terutama terjadi di permukaan anterior dari kornea.
Perubahan dalam bentuk dan kejernihan kornea, segera mengganggu pembentukan bayangan

4
yang baik di retina. Oleh karenanya kelainan sekecil apapun di kornea, dapat menimbulkan
gangguan penglihatan yang hebat terutama bila letaknya di daerah pupil. 4
Karena kornea avaskuler, maka pertahanan pada waktu peradangan tidak segera datang,
seperti pada jaringan lain yang mengandung banyak vaskularisasi. Maka badan kornea,
wandering cell dan sel-sel lain yang terdapat dalam stroma kornea, segera bekerja sebagai
makrofag, baru kemudian disusul dengan dilatasi pembuluh darah yang terdapat dilimbus dan
tampak sebagai injeksi perikornea. Sesudahnya baru terjadi infiltrasi dari sel-sel mononuclear,
sel plasma, leukosit polimorfonuklear (PMN), yang mengakibatkan timbulnya infiltrat, yang
tampak sebagai bercak berwarna kelabu, keruh dengan batas-batas tak jelas dan permukaan tidak
licin, kemudian dapat terjadi kerusakan epitel dan timbullah ulkus kornea.6

Kornea mempunyai banyak serabut saraf maka kebanyakan lesi pada kornea baik
superfisial maupun profunda dapat menimbulkan rasa sakit dan fotofobia. Rasa sakit juga
diperberat dengan adanaya gesekan palpebra (terutama palbebra superior) pada kornea dan
menetap sampai sembuh. Kontraksi bersifat progresif, regresi iris, yang meradang dapat
menimbulkan fotofobia, sedangkan iritasi yang terjadi pada ujung saraf kornea merupakan
fenomena reflek yang berhubungan dengan timbulnya dilatasi pada pembuluh iris. 2

Penyakit ini bersifat progresif, regresif atau membentuk jaringan parut. Infiltrat sel
leukosit dan limfosit dapat dilihat pada proses progresif. Ulkus ini menyebar kedua arah yaitu
melebar dan mendalam. Jika ulkus yang timbul kecil dan superficial maka akan lebih cepat
sembuh dan daerah infiltrasi ini menjadi bersih kembali, tetapi jika lesi sampai ke membran
Bowman dan sebagian stroma maka akan terbentuk jaringan ikat baru yang akan menyebabkan
terjadinya sikatrik.4

2.5 Diagnosis

Diagnosis dari ulkus kornea ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan oftalmologi


dan pemeriksaan laboratorium.

1. Anamnesis dan pemeriksaan fisik


Dari anamnesis didapatkan adanya riwayat trauma, benda asing dan abrasi pada
kornea, riwayat pernah terkena kerattis yang berulang, pemakaian lensa kontak, serta

5
penggunaan kortikosteroid yang merupakan presdiposisi infeksi virus dan jamur, serta gejala
klinis yang ada. 2

2. Pemeriksaan Oftalmologi
Untuk memeriksa ulkus kornea diperlukan slit lamp dan pencahayaan terang. Harus
diperhatikan pantulan cahaya saat menggerakkan cahaya di atas kornea, daerah yang kasar
menandakan defek pada epitel.2

Cara lain untuk melihat ulkus adalah dengan uji fluoresein. Kertas zat warna
fluoresein ditempelkan pada fornik inferior selama 20 detik, dan pasien diminta untuk
berkedip. Kemudian fluoresein dibilas dengan garam fisiologik. Bila terdapat defek epitel
kornea maka akan terlihat warna hijau pada defek tersebut. Pada keadaan ini disebut uji
fluoresein positif.

3. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium berguna untuk diagnosa kausa dan juga penting untuk
pemilihan terapi yang tepat dengan hasil kultur kerokan. Melakukan swab pada kornea dan
melihatnya dengan mikroskop dengan pengecatan Gram maupun Giemsa dan preparasi
KOH dapat melihat adanya bakteri dan jamur dengan jelas. Kultur mikroba penting untuk
mengisolasi organisme penyebab pada beberapa kasus. 2

2.6 Klasifikasi 2,6

Berdasarkan lokasi , dikenal ada 2 bentuk ulkus kornea , yaitu:


1. Ulkus kornea sentral

a. Ulkus kornea bakterialis


b. Ulkus kornea fungi
c. Ulkus kornea virus
d. Ulkus kornea acanthamoeba
Ulkus kornea perifer
a. Ulkus marginal
b. Ulkus mooren (ulkus serpinginosa kronik/ulkus roden)

6
c. Ulkus cincin (ring ulcer)

1. ULKUS KORNEA SENTRAL


A. Ulkus Kornea Bakteri
Keratitis bacterial merupakan penyebab utama ulkus kornea, dimana factor
predisposisinya termasuk pemakaian contact lens, trauma, bedah kornea, penyakit di
permukaan okuler, penyakit sistemik, dan konsumsi imunosupresan yang dapat mengganggu
mekanisme pertahanan dari permukaan okuler sehingga bakteri dapat menginvasi kornea.

Ulkus Streptokokus : Khas sebagai ulcus yang menjalar dari tepi ke arah tengah
kornea (serpinginous). Ulkus bewarna kuning keabu-abuan berbentuk cakram
dengan tepi ulkus yang menggaung. Ulkus cepat menjalar ke dalam dan
menyebabkan perforasi kornea, karena eksotoksin yang dihasilkan oleh
streptokok pneumonia.

Ulkus Stafilokokus : Pada awalnya berupa ulkus yang bewarna putik kekuningan
disertai infiltrat berbatas tegas tepat dibawah defek epitel. Apabila tidak diobati
secara adekuat, akan terjadi abses kornea yang disertai edema stroma dan infiltrasi
sel leukosit. Walaupun terdapat hipopion ulkus seringkali indolen yaitu reaksi
radangnya minimal.
Ulkus Pseudomonas : Lesi pada ulkus ini dimulai dari daerah sentral kornea.
ulkus sentral ini dapat menyebar ke samping dan ke dalam kornea. Penyerbukan
ke dalam dapat mengakibatkan perforasi kornea dalam waktu 48 jam. gambaran
berupa ulkus yang berwarna abu-abu dengan kotoran yang dikeluarkan berwarna
kehijauan. Kadang-kadang bentuk ulkus ini seperti cincin. Dalam bilik mata
depan dapat terlihat hipopion yang banyak.
Ulkus Pneumokokus : Terlihat sebagai bentuk ulkus kornea sentral yang dalam.
Tepi ulkus akan terlihat menyebar ke arah satu jurusan sehingga memberikan
gambaran karakteristik yang disebut Ulkus Serpen. Ulkus terlihat dengan infiltrasi
sel yang penuh dan berwarna kekuning-kuningan. Penyebaran ulkus sangat cepat
dan sering terlihat ulkus yang menggaung dan di daerah ini terdapat banyak
kuman. Ulkus ini selalu di temukan hipopion yang tidak selamanya sebanding
dengan beratnya ulkus yang terlihat.diagnosa lebih pasti bila ditemukan
dakriosistitis.

7
B. Ulkus Kornea Jamur

Jamur merupakan flora normal pada ocular eksterna. Organisme yang sering
ditemukan adalah Aspergillus , Rhodotula, Candida, Penicillium, Cladosporium, dan
Alternaria. 3

Keratitis jamur biasanya terjadi apabila terjadi trauma pada kornea, yang sering
ditemukan pada petani yang menggunakan alat pemotong rumput serta alat pertanian lainnya
tanpa menggunakan pelindung pada mata.

Selain itu, penggunaan kortikosteroid topical juga berdampak terhadap bertambah


buruknya keratitis jamur karena dapat mengaktivasi dan meingkatkan virulensi dari jamur
dengan menekan resistensi kornea terhadap infeksi. Sedangkan pada penggunaan
kortikosteroid sistemik, system imun cenderung ditekan sehingga memudahkan terjadinya
keratitis jamur. Pada kasus yang lebih sedikit juga ditemukan keratitis jamur yang
berhubungan dengan pemakaian kontak lens. 1

Mata dapat tidak memberikan gejala selama beberapa hari sampai beberapa minggu
sesudah trauma yang dapat menimbulkan infeksi jamur ini.

Pada permukaan lesi terlihat bercak putih dengan warna keabu-abuan yang agak
kering. Tepi lesi berbatas tegas irregular dan terlihat penyebaran seperti bulu pada bagian
epitel yang baik. Terlihat suatu daerah tempat asal penyebaran di bagian sentral sehingga
terdapat satelit-satelit disekitarnya..Tukak kadang-kadang dalam, seperti tukak yang
disebabkan bakteri. Pada infeksi kandida bentuk tukak lonjong dengan permukaan naik.
Dapat terjadi neovaskularisasi akibat rangsangan radang. Terdapat injeksi siliar disertai
hipopion.

C. Ulkus Kornea Virus


Ulkus Kornea Herpes Zoster : Biasanya diawali rasa sakit pada kulit dengan
perasaan lesu. Gejala ini timbul satu 1-3 hari sebelum timbulnya gejala kulit. Pada
mata ditemukan vesikel kulit dan edem palpebra, konjungtiva hiperemis, kornea
keruh akibat terdapatnya infiltrat subepitel dan stroma. Infiltrat dapat berbentuk

8
dendrit yang bentuknya berbeda dengan dendrit herpes simplex. Dendrit herpes zoster
berwarna abu-abu kotor dengan fluoresin yang lemah. Kornea hipestesi tetapi dengan
rasa sakit keadaan yang berat pada kornea biasanya disertai dengan infeksi sekunder
Ulkus Kornea Herpes simplex : Infeksi primer yang diberikan oleh virus herpes
simplex dapat terjadi tanpa gejala klinik. Biasanya gejala dini dimulai dengan tanda
injeksi siliar yang kuat disertai terdapatnya suatu dataran sel di permukaan epitel
kornea disusul dengan bentuk dendrit atau bintang infiltrasi. terdapat hipertesi pada
kornea secara lokal kemudian menyeluruh. Terdapat pembesaran kelenjar preaurikel.
Bentuk dendrit herpes simplex kecil, ulceratif, jelas diwarnai dengan fluoresin dengan
benjolan diujungnya

D. Ulkus Kornea Acanthamoeba

Acanthamoeba adalah protozoa hidup bebas yang terdapat di dalam air tercemar
yang mengandung bakteri dan materi organik. Infeksi kornea oleh acanthamoeba biasanya
dihubungkan dengan lensa kontak yang dipakai semalaman atau pada individu bukan
pemakai lensa kontak setelah terapapar air atau tanah yang tercemar.

Gejala awal adalah rasa nyeri yang tidak sebanding dengan temuan klinisnya,
kemerahan dan fotofobia. Tanda klinis yang khas adalah ulkus kornea indolen, cincin stroma
dan infiltrate perineural tetapi sering kali hanya ditemukan perubahan-perubahan yang
berbatas tegas pada epitel kornea.

Diagnosis ditegakkan dengan biakan diatas media khusus (agar non-nutrien yang
dilapisi E. coli), bahan yang diambil adalah biopsy kornea.

2. ULKUS KORNEA PERIFER


A. Ulkus Marginal

Bentuk ulkus marginal dapat simpel atau cincin. Bentuk simpel berbentuk ulkus
superfisial yang berwarna abu-abu dan terdapat pada infeksi stafilococcus, toksit atau alergi
dan gangguan sistemik pada influenza disentri basilar gonokok arteritis nodosa, dan lain-lain.
Yang berbentuk cincin atau multiple dan biasanya lateral. Ditemukan pada penderita
leukemia akut, sistemik lupus eritromatosis dan lain-lain.

9
B. Ulkus Mooren

Penyebabnya belum diketahui, tetapi proses autoimun mempunyai peran penting.


Walaupun belum diketahui penyebabnya, factor presipitasinya termasuk trauma atau
pembedahan dan ekspos terhadap infeksi parasit. Hipotesis dasar dari kasus ini adalah
inflamasi yang berhubungan dengan trauma sebelumnya atau infeksi bisa jadi telah merubah
ekspresi dari antigen kornea atau konjungtiva atau reaktifitas silang yang terjadi antara
efektor imun yang terbentuk sebagai respon infeksi dan antigen kornea. 1

Ulkus Mooren sering dijumpai pada usia tua, tapi tidak berhubungan dengan
penyakit sistemik.2

Ulkus Mooren ini bersifat kronik, nyeri, progresif, dan merupakan suatu ulserasi dari
stroma kornea perifer dan epitel kornea. 60-80% bersifat unilateral. Biasanya ulkus ini
dimulai dari kornea perifer dan menyebar secara circumferen dan kemudian sentripetal
dengan tepi yang rusak /tergali dari jaringan yang tidak berepitel. Terjadi inflamasi di mata
dan nyerinya bisa hebat dengan photofobia. Perforasi bisa terjadi dengan trauma yang minor
atau sedang dalam infeksi sekunder. Vaskularisasi yang menyebar dan fibrosis pada kornea
bisa terjadi.1,2

C. Ring Ulcer

Terlihat injeksi perikorneal sekitar limbus. Di kornea terdapat ulkus yang berbentuk
melingkar dipinggir kornea, di dalam limbus, bisa dangkal atau dalam, kadang-kadang
timbul perforasi.Ulkus marginal yang banyak kadang-kadang dapat menjadi satu
menyerupai ring ulcer. Tetapi pada ring ulcer yang sebetulnya tak ada hubungan dengan
konjungtivitis kataral. Perjalanan penyakitnya menahun.

2.7. Penatalaksanaan 3,6

A. Penatalaksanaan ulkus kornea di rumah

1. Jika memakai lensa kontak, secepatnya untuk melepaskannya


2. Jangan memegang atau menggosok-gosok mata yang meradang

10
3. Mencegah penyebaran infeksi dengan mencuci tangan sesering mungkin dan
mengeringkannya dengan handuk atau kain yang bersih
4. Berikan analgetik jika nyeri
B. Penatalaksanaan medis

1. Pengobatan konstitusi

Oleh karena ulkus biasannya timbul pada orang dengan keadaan umum yang kurang dari
normal, maka keadaan umumnya harus diperbaiki dengan makanan yang bergizi, udara
yang baik, lingkungan yang sehat, pemberian roboransia yang mengandung vitamin A,
vitamin B kompleks dan vitamin C. Pada ulkus-ulkus yang disebabkan kuman yang
virulen, yang tidak sembuh dengan pengobatan biasa, dapat diberikan vaksin tifoid 0,1 cc
atau 10 cc susu steril yang disuntikkan intravena dan hasilnya cukup baik. Dengan
penyuntikan ini suhu badan akan naik, tetapi jangan sampai melebihi 39,5C. Akibat
kenaikan suhu tubuh ini diharapkan bertambahnya antibodi dalam badan dan menjadi
lekas sembuh.

2. Pengobatan lokal

Benda asing dan bahan yang merangsang harus segera dihilangkan. Lesi kornea sekecil
apapun harus diperhatikan dan diobati sebaik-baiknya. Konjungtuvitis, dakriosistitis
harus diobati dengan baik. Infeksi lokal pada hidung, telinga, tenggorok, gigi atau tempat
lain harus segera dihilangkan.

Infeksi pada mata harus diberikan :

Sulfas atropine sebagai salap atau larutan,


Kebanyakan dipakai sulfas atropine karena bekerja lama 1-2 minggu.

Efek kerja sulfas atropine :

- Sedatif, menghilangkan rasa sakit.


- Dekongestif, menurunkan tanda-tanda radang.
- Menyebabkan paralysis M. siliaris dan M. konstriktor pupil.

11
Dengan lumpuhnya M. siliaris mata tidak mempunyai daya akomodsi sehingga
mata dalan keadaan istirahat. Dengan lumpuhnya M. konstriktor pupil, terjadi
midriasis sehinggga sinekia posterior yang telah ada dapat dilepas dan mencegah
pembentukan sinekia posterior yang baru

Skopolamin sebagai midriatika.


Analgetik.
Untuk menghilangkan rasa sakit, dapat diberikan tetes pantokain, atau tetrakain
tetapi jangan sering-sering.

Antibiotik
Anti biotik yang sesuai dengan kuman penyebabnya atau yang berspektrum luas
diberikan sebagai salap, tetes atau injeksi subkonjungtiva. Pada pengobatan ulkus
sebaiknya tidak diberikan salap mata karena dapat memperlambat penyembuhan dan
juga dapat menimbulkan erosi kornea kembali.

Anti jamur
Terapi medika mentosa di Indonesia terhambat oleh terbatasnya preparat
komersial yang tersedia berdasarkan jenis keratomitosis yang dihadapi bisa dibagi :

1. Jenis jamur yang belum diidentifikasi penyebabnya : topikal


amphotericin B 1, 2, 5 mg/ml, Thiomerosal 10 mg/ml, Natamycin > 10 mg/ml,
golongan Imidazole
2. Jamur berfilamen : topikal amphotericin B, thiomerosal,
Natamicin, Imidazol
3. Ragi (yeast) : amphotericin B, Natamicin, Imidazol
4. Actinomyces yang bukan jamur sejati : golongan sulfa, berbagai
jenis anti biotik
Anti Viral
Untuk herpes zoster pengobatan bersifat simtomatik diberikan streroid lokal untuk
mengurangi gejala, sikloplegik, anti biotik spektrum luas untuk infeksi sekunder
analgetik bila terdapat indikasi.

12
Untuk herpes simplex diberikan pengobatan IDU, ARA-A, PAA, interferon
inducer.

Untuk menghindari penjalaran ulkus dapat dilakukan :

1. Kauterisasi
a) Dengan zat kimia : Iodine, larutan murni asam karbolik, larutan murni
trikloralasetat
b) Dengan panas (heat cauterisasion) : memakai elektrokauter atau termophore.
Dengan instrumen ini dengan ujung alatnya yang mengandung panas disentuhkan pada
pinggir ulkus sampai berwarna keputih-putihan.
2. Pengerokan epitel yang sakit
Parasentesa dilakukan kalau pengobatan dengan obat-obat tidak menunjukkan perbaikan
dengan maksud mengganti cairan coa yang lama dengan yang baru yang banyak mengandung
antibodi dengan harapan luka cepat sembuh. Penutupan ulkus dengan flap konjungtiva, dengan
melepaskan konjungtiva dari sekitar limbus yang kemudian ditarik menutupi ulkus dengan
tujuan memberi perlindungan dan nutrisi pada ulkus untuk mempercepat penyembuhan. Kalau
sudah sembuh flap konjungtiva ini dapat dilepaskan kembali.

3. Keratoplasti

Keratoplasti adalah jalan terakhir jika urutan penatalaksanaan diatas tidak berhasil.
Indikasi keratoplasti terjadi jaringan parut yang mengganggu penglihatan, kekeruhan kornea
yang menyebabkan kemunduran tajam penglihatan, serta memenuhi beberapa kriteria yaitu :

1. Kemunduran visus yang cukup menggangu aktivitas penderita


2. Kelainan kornea yang mengganggu mental penderita.
3. Kelainan kornea yang tidak disertai ambliopia.

2.8 Komplikasi

Komplikasi yang paling sering timbul berupa:

13
Kebutaan parsial atau komplit dalam waktu sangat singkat
Kornea perforasi dapat berlanjut menjadi endoptalmitis dan panopthalmitis
Prolaps iris
Sikatrik kornea
Katarak
Glaukoma sekunder

2.9 Prognosis

14
Prognosis ulkus kornea tergantung pada tingkat keparahan, cepat lambatnya penyakit ini
ditangani, jenis mikroorganisme penyebab, dan ada tidaknya komplikasi yang timbul. Ulkus
kornea yang luas memerlukan waktu penyembuhan yang lama karena jaringan kornea bersifat
avaskular. Semakin tinggi tingkat keparahan dan lambatnya mendapat pengobatan serta
timbulnya komplikasi, maka prognosisnya menjadi lebih buruk.DAFTAR PUSTAKA

1. American Academy of Opthalmology. 2011- 2012. External Disease and Cornea.


San Fransisco: AAO.
2. Vaughan, DG. Asbury, T. 2008. Oftalmologi Umum edisi 17. Penerbit Buku
Kedokteran EGC: Jakarta.
3. Ilyas, Sidarta. et al. 2003. Penuntun Ilmu Penyakit Mata FKUI Edisi ke-3. Gaya
Baru: Jakarta.
4. Perhimpunan Dokter Spesislis Mata Indonesia. 2002. Ilmu Penyakit Mata Untuk
Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran Edisi ke- 2. Sagung Seto: Jakarta.
5. Olson, R Todd, Pawlina Woiciech. A.D.A.M Student Atlas of Anatomy. 2nd
Edition. 2008. Cambridge: New York.
6. Wijaya. N. Kornea dalam Ilmu Penyakit Mata, cetakan ke-4, 1989

15