Anda di halaman 1dari 5

Komnas HAM: Ada 12 Orang Dibakar

Hidup-hidup di Aceh
Hasil penyelidikan akan diserahkan ke Kejaksaan Agung

Oleh : Aryo Wicaksono, Reza Fajri


viva.co.id | Senin, 14 Maret 2016 | 20:43 WIB

VIVA.co.id Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyimpulkan


terjadinya pelanggaran HAM berat saat terjadi konflik di Aceh pada 2003, sebelum masa
darurat militer diberlakukan di kawasan itu.

Terjadi eksekusi kilat di depan masyarakat, jadi merupakan shock therapy kepada
masyarakat. Ada yang ditembak kakinya, ada yang dipopor," Ketua Tim Ad Hoc Penyelidikan
Pelanggaran Berat HAM di Aceh, Otto Nur Abdullah, saat menyampaikan laporan resmi hasil
penyelidikan, di kantor Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, Senin 14 Maret 2016.

Laporan ini adalah kasus pro justitia pertama yang diselesaikan Komnas HAM, dari lima
peristiwa pelanggaran HAM berat di Aceh yang sedang diselidiki. Hasil penyelidikan ini
akan diteruskan untuk diproses Kejaksaan Agung sebagai penyidik negara, sesuai Undang-
Undang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.

"Kemudian laki-laki yang setengah menderita atau sudah meninggal itu diangkut lemas,
kemudian dilemparkan ke salah satu rumah penduduk, rumah itu dibakar. Jadi boleh dibilang
saat dibakar ada penduduk dan warga yang keadaan kondisi setengah hidup, kata Otto.

Peristiwa ini terjadi beberapa saat sebelum penetapan status darurat militer oleh Presiden
Megawati Soekarnoputri pada 19 Mei 2003. Dari kejadian ini, sedikitnya terdapat 16 korban
jiwa, dengan 12 di antaranya termasuk dibakar hidup-hidup dan 4 mati ditembak. Selain itu,
ada 21 korban luka-luka.

Otto pun menjelaskan kronologi peristiwa di Desa Jambo Keupok, pada subuh 17 Mei 2003.

Saat itu, dua truk militer mendekati desa. Satu truk masuk ke dalam, sedangkan truk lainnya
berhenti di pinggiran desa. yang terletak di pinggiran kaki bukit, di Kecamatan Bakongan,
Aceh Selatan.

Setelah desa sudah terkepung, para personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersenjata
lengkap, menyisir rumah penduduk untuk mencari anggota dan simpatisan Gerakan Aceh
Merdeka (GAM).

Mereka kemudian memerintahkan para penghuni desa keluar dari rumah dan berkumpul di
jalan yang melintasi di desa itu. Kemudian, laki-laki, perempuan dan anak-anak dipisahkan.

Para laki-laki dewasa kemudian dipaksa memberikan keterangan tentang keberadaan anggota
GAM. Namun, kata Otto, karena TNI tidak puas dengan jawaban penduduk, mereka
kemudian menembak sejumlah warga, dan membakar korban lainnya dalam keadaan hidup.
Setelah anggota TNI kembali ke posnya sekitar pukul 16.00 WIB, para penduduk kemudian
membereskan mayat-mayat di dalam rumah, untuk kemudian dikumpulkan dalam satu
tempat.

Bagi Komnas HAM, ini sudah ada bukti permulaan, sudah ada kuburan massal, jadi tinggal
ditindaklajuti. Sudah ada autopsi, ujar Otto.

Sejak penyelidikan dimulai pada 2013, Tim Ad Hoc melakukan pemeriksaan terhadap para
korban luka, saksi mata, pejabat sipil seperti kepala desa dan camat. Sementara pejabat dari
pihak militer tidak ada yang mau memberikan keterangan.

Padahal, Dandim 0107 Aceh Selatan pada 2003, Danramil Bakongan pada 2003 dan
Komandan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC) dari Batalyon 502 Linud Divisi II Kostrad, diduga
sebagai pihak yang memiliki kemampuan kontrol terhadap anak buahnya saat itu.

Sulitnya meminta data dan keterangan dari pihak militer menjadi salah satu faktor yang
menyulitkan penyelidikan. Selain itu, tim juga bergerak hati-hati agar keamanan para saksi
dan korban tidak terancam.

Kita semaksimal mungkin agar pihak militer hadir (dalam pemeriksaan). Inilah kelemahan
Komnas, kita tidak ada kewenangan upaya paksa. Nanti kejaksaan sebagai penyelidik yang
memiliki kewenangan, kata Sekretaris Tim Ad Hoc, Sriyana.

Komnas HAM: Densus 88 Lakukan


Pelanggaran HAM Serius
Komnas HAM: Densus 88 Lakukan Pelanggaran HAM Serius

Senin, 18 Maret 2013

Hidayatullah.comKomisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menilai oknum tim
Detasemen Khusus Antiteror 88 (Densus 88) Mabes Polri telah melakukan pelanggaran
HAM serius kepada para tersangka kasus terorisme yang rekaman videonya telah diunggah di
situsYoutube.

Kita tidak bela teroris, kata Ketua Komnas HAM, Siti Noor Laila, meluruskan anggapan
soal kesimpulan lembaganya yang menilai Densus 88 telah melanggar HAM terhadap warga
negara yang belum ditetapkan bersalah oleh pengadilan.

Hal itu katakannya kepada para wartwan di Kantor Komnas HAM, Senin (18/03/2013), di
Jakarta.
Menurut Laila, pelanggaran yang dilakukan oknum tim Densus 88 adalah melakukan
penyiksaan yang mengakibatkan kematian kepada warga negara yang tidak berdaya, tidak
bersenjata, dan sudah menyerah.

Komnas HAM menilai Densus telah melanggar beberapa undang-undang di antaranya, Pasal
28 I ayat (1) UUD 1945: Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan
pikiran, .. adalah hak asasi yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.

Belum lama ini, pihak Komnas HAM telah melawat ke Palu dan Poso Sulawesi Tengah,
tempat kejadian video tersebut, untuk melakukan penyelidikan dan menemui pelaku.

Dalam temuannya, Komnas HAM memastikan video penyiksaan oknum terorisme yang
diduga dilakukan tim Densus 88 terhadap sekelompok orang terduga pelaku teror yang
diunggah di situs Youtube bukanlah rekayasa alias asli.[Baca juga: Investigasi Komnas
HAM: Video Itu Asli!]

Video itu valid, kata Ketua Tim Pemantauan dan Penyelidikan Penanganan Tindak Pidana
Terorisme Komnas HAM, Siane Indriani, pada jumpa pers di kantor Komnas HAM Jakarta,
Senin (18/03/2013).*

Rep: Surya Fachrizal Ginting

Red: Cholis Akbar

Senin, 18 Maret 2013

Hidayatullah.comKomisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) memastikan video


penyiksaan oknum terorisme yang diduga dilakukan tim Detasemen Khusus Antiteror 88
(Densus 88) Mabes Polri terhadap sekelompok orang terduga pelaku teror yang diunggah di
situs Youtube bukanlah rekayasa.

Video itu valid, kata Ketua Tim Pemantauan dan Penyelidikan Penanganan Tindak Pidana
Terorisme Komnas HAM, Siane Indriani, pada jumpa pers di kantor Komnas HAM Jakarta,
Senin (18/03/2013).

Menurut Siane, pihaknya telah melawat ke Palu dan Poso Sulawesi Tengah, tempat
kejadian video tersebut, untuk melakukan penyelidikan.

Katanya, kesimpulan itu diperoleh dari sinkronnya keterangan-keterangan yang diberikan


oleh masyarakat setempat (Tanah Runtuh, Poso Kota) dengan terpidana Wiwin yang pada
video tersebut disiksa, ditembak, dan ditelanjangi.

Menurut Siane, secara materi, video itu juga bisa dipastikan asli. Katanya, hal itu bisa dilihat
dari konsistennya ukuran pixel video tersebut sejak menit pertama hingga menit ter akhir.

Siane mengatakan, penyelidikan itu dilakukan Komnas HAM pada 7 11 Maret lalu. Dalam
melakukan penyelidikan, pihaknya juga melibatkan Majelis Ulama dan wartawan setempat.

Pelanggaran HAM Berat


Sebelumnya, 27 Ormas-ormas Islam yang tergabung dalam Silaturrahim Ormas Lembaga
Islam (SOLI) mendesak pemerintah melakukan evaluasi atau bila perlu membubarkan
Densus 88 atas dugaan pelanggaran HAM berat terkait beredarnya video kekerasan di Poso.

Menurut SOLI, tindakan Densus 88 yang dalam banyak kasus telah terbukti melampaui
kepatutan, kepantasan, dan batas perikemanusiaan berupa penangkapan, penculikan,
penyiksaan, intimidasi, dan pembunuhan, yang sebagian terekam dalam video yang beredar,
dan yang telah memakan banyak korban dan menimbulkan kesedihan, luka dan trauma.

Sementara tim investigasi Komnas HAM mengaku telah menemukan bukti-bukti yang cukup
kuat untuk membawa kasus dugaan pelanggaran HAM berat berupa kejahatan kemanusiaan
dalam penanganan terorisme yang diduga dilakukan oknum tim Detasemen Khusus 88 Mabes
Polri.*

Larangan Berpendapat Marak di Kampus Jawa Tengah


Minggu, 27 Desember 2015 | 15:39 WIB

TEMPO/Machfoed Gembong

TEMPO.CO, Semarang - Aliansi Jurnalis Independen (AJI ) Kota Semarang menyatakan


kasus larangan berpendapat dan berekspresi di Jawa Tengah saat ini justru banyak terjadi
kampus. AJI mencatat, selama tahun 2015 ini, terdapat banyak kasus pengekangan terhadap
kebebasan berpendapat di kampus. Ini ironis. Kampus sebagai lembaga pendidikan yang
seharusnya bebas mengkaji justru melarang, kata Ketua Aliansi Jurnalis Independen
Semarang Muhammad Syukron, Minggu, 27 Desember 2015

Sejumlah kasus tersebut antara lain pemberedelan majalah Lentera yang diterbitkan Lembaga
Pers Mahasiswa Lentera di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Lentera ditarik
peredarannya hanya karena menulis soal sejarah peristiwa 1965.
Kasus lain terjadi di Semarang. Acara diskusi tentang lesbian, gay, biseksual, dan transgender
(LGBT) yang diadakan Lembaga Pers Mahasiswa Gema Keadilan Fakultas Hukum
Universitas Diponegoro dilarang dan dibubarkan. Rektor melarang diskusi dengan alasan
tema diskusi adalah isu sensitif dan dikhawatirkan bisa mengganggu proses Universitas
Diponegoro menuju Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH). Alasan lain,
Kepolisian Resor Kota Besar Semarang dan Kepolisian Sektor Tembalang mendatangi lokasi
diskusi dan memberitahukan bahwa akan ada ormas Islam yang bertindak apabila diskusi
tetap dilaksanakan.

Selain mengecam sikap kampus yang dinilai menghambat kebebasan berpendapat dan
berekspresi mahasiswa, AJI Semarang juga mengecam sikap aparat keamanan yang justru
ikut melakukan pengekangan. Kami juga mengecam langkah aparat kepolisian yang turut
sewenang-wenang, ujar Syukron.

Syukron meminta sivitas akademika kampus memberikan perlindungan kepada mahasiswa.


Sikap mahasiswa yang hendak mengkaji dan menghasilkan karya tulis ilmiah itu seharusnya
diapresiasi dalam kerangka kehidupan berbangsa dan bernegara.