Anda di halaman 1dari 14

BAB 39

SISTEM REPRODUKSI PRIA

Struktur Reproduksi Pria

Organ reproduksi pria tidak terpsiah dari saluran uretra dan sejajar dengan
kelamin luar, terletak di bagian ginjal, membentuk kelenjar reproduksi (traktus
genitalis) berhubungan dengan traktur urinarius tetapi tidak bersambung. Sebagian
besar organ reproduksi pria terletak di luar pervis. Organ reproduksi laki-laki terdiri
dari:

1. Kelenjar: Testis, vesika seminalis, kelenjar prostat, kelenjar bulbouretralis


2. Duktus: Epididimis, duktus seminalis, uretra
3. Bangun penyambung: Skrotum, fenikulus spermatikus, penis

Kelenjar
Testis

Testis merupakan 2 buah organ glandula yang memproduksi semen, terdapat di


dalam skrotum dan digantung oleh fenikulus spermatikus. Pada janin, testes terdapat
dalam kavum abdominalis di belakang peritoneum. Sebelum kelahiran akan turun ke
kanalis inguinalis bersama dengan fenikulus spermatikus kemudian masuk ke dlam
skrotum. Testis merupakan tempat dibentuknya spermatozoa dan hormone laki-laki,
terdiri dari belahan-belahan disebut lobules testis.

Testis menghasilkan hormone testosteson yang menimbulkan sifat kejantanan


setelah masa pubertas, di samping itu follicle stimulating hormone (FSH) dan lutein
hormone (LH) testes dibungkus oleh:

1. Fasia spermatika eksterna, suatu membrane yang tipis memanjang ke arah


bawah di antara fenikulus dan testes, berakhir pada cincin subkutan inguinalis
2. Lapisan kremasterika, terdiri dari selapis otot. Lapisan ini sesuai dengan M.
oblique abdominis internus dan kasies abdominus internus.
3. Fascies spermatika interna, suatu membrane tipis dan menutupi fenikulus
spermatikus. Fasi ini akan berakhir pada cincin inguinalis interna bersama
dengan fasia transversalis. Lapisan otot ini sesuai dengan M. obliqus
abdominis internus dan fasianya.

Pembuluh darah testes:

1. Arteri pudenda eksterna pars superfisialis merupakan cabang dari arteri


femoralis.
2. Arteri perinealis superfisialis cabang dari arteri pudenda interna
3. Arteri kremasterika cabang dari arteri epigastrika inferior

Untuk pembuluh darah vena mengikuti arteri.

Persarafan testes meliputi N. ilioinguinalis, N. lumboinguinalis cabang dari


pleksus lumbalis, dan N. perinealis pars superfisialis.

Vesika Seminalis

Vesika seminalis merupakan dua ruangan di antara fundus vesika urinaria dan
rectum, masing-masing ruangan berbentuk piramida. Permukaan anterior
berhubungan dengan fundus vesika urinaria. Permukaan posterior terletak di atas
rectum yang dipisahkan oleh fasia rektovesikalis.

Panjang kelenjar ini 5-10 cm, merupakan kelenjar sekresi yang menghasilkan
zat mukoid. Zat ini banyak mengandung fruktosa dan zat gizi (prostaglandin dan
fibrinogen) yang merupakan sumber energi bagi spermatozoa. Vesika seminalis
bergabung dengan duktus deferens, penggabungan ini disebut duktus ejakulatorius.

Sekresi vesika seminalis merupakan komponen pokok dari air mani yang
menghasilkan cairan yang disebut semen sebagai pelindung spermatozoa. Selama
ejakulasi vesika seminalis mengosongkan isinya ke dalam duktus ejakulatorius
sehingga menambah semen ejakulasi serta mukosa.
Duktus ejakulatorius berjumlah dua buah pada sisi lain dari garis tengah.
Masing-masing duktus akan membentuk gabungan vasikula seminalis dengan duktus
deferens. Panjangnya 2 cm mulai dari lobus medialis basis glandula prostate, berjalan
ke depan bawah di antara lateralis dari utrikulus prostatikus dan berakhir di tepi
utrikulus.

Arteri yang menyuplai vesika seminalis adalah cabang dari arteri vesikalis
medialis, arteri vesikalis inferior, dan arteri haemoroidalis medialis. Vena-vena dan
system limfe menyertai arteri. Persarafan merupakan cabang dari pleksus pelvikus.

Glandula Prostata

Sebagian bersifat glandular dan sebagian lagi bersifat otot. Glandua prostate
terdapat di bawah orifisium uretra interna dan sekeliling permukaan uretra, melekat di
bawah vesika urinaria dalam rongga pelvis di bawah simfisis lobus, yaitu posterior,
anterior, lateral, dan medial.

Fungsi kelenjar prostat mengeluarkan cairan alkali yang encer seperti susu
yang mengandung asam sitrat yang berguna untuk melindungi spermatozoa terhadap
tekanan pada uretra. Basis prostat menghadap ke atas berhubungan dengan
permukaan inferior vesika urinaria. permukaannya berhubungan dengan vesika
urinaria. uretra menembus glandula prostat tepi anterior dan posterior. Apeks prostat
mengarah ke bawah berhubungan dengan diafragma urogenitalis.

Prostat dipertahankan posisinya oleh:

1. Ligamentum puboprostatika
2. Lapisan dalam diafragma urogenitalis
3. M. levator ani pars anterior
4. M. levator prostat bagian dari M. levator ani

Pembuluh darah dan saraf untuk glandula prostate meliputi arteri pudenda
interna, arteri sesikalis inferior, arteri haemoroidalis mediali. Vena akan
membentuk fleksus di sekitar sisi dan basis glandula prostate dan berakhir di vena
hipogastrika. Nervus merupakan cabang dari pelksus pelvis.

Kelenjar Bulbouretralis

Kelenjar ini terdapat di belakang lateral pars membranasea uretra, di antara


kedua lapisan diafragma urogenital dan di sebelah bawah kelenjar prostat. Bentuknya
bundar, kecil, dan warnanya kuning, panjangnya 2.5 cm. fungsinya hamper sama
dengan kelenjar prostat.

Duktus
Epididimis

Epididymis adalah saluran halus yang panjangnya kira-kira 6 cm, terletak di


sepanjang atas tepi dan belakang testes dan terdiri dari:

1. Kaput epididymis, berhubungan erat dengan bagian atas testis sebagai duktus
eferens dari testis.
2. Kaput epididymis: badan ditutupi oleh membrane serosa servikalis sepanjang
tepi posterior.
3. Kauda epididymis: ekor disebut juga globulus minorditutupi oleh membrane
serosa dan berhubungan dengan duktus deferens
4. Ekstremitas superior: bagian yang besar
5. Ekstremitas inferior: seperti titik

Di antara korpus dan testis terdapat rangan yang disebut sinus epididymis (fossa
digitalis). Epididymis sebagian ditutupi oleh lapisan visceral. Lapisan ini bagian
mediastinum menjadi lapisan parietal, dikelilingi oleh jaringan ikat spermatozoa
melalui duktus eferen, merupakan bagian dari kaput epididymis tempat
bermuaranya spermatozoa lalu disimpan mesuk ke dalam vas deferens. Fungsinya
sebagai saluran penghantar testis, mengatur sperma sebelum diejakulasi, dan
memproduksi sperma.

..
Bagian atas. Apendiks epididymis berupa tangkai kecil yang terdapat pada kaput
epididymis, dianggap sebagai duktus eferens.

Duktus Diferens

Duktus deferens adalah duktus ekskretorius dari testis, merupakan lanjutan


dari kanalis epididymis, panjangnya 50-60 cm. mulai dari bagian bawah kauda,
epididymis berbelit-belit, secara berangsur-angsur naik sepanjang tepi posterior
testis dan sisi medialis bagian fenikulus spermatikus. Melalui cincin kanalis
inguinalis masuk ke fenikulus spermatika, membelok sepanjang sisi lateral arteri
epigastrika kemudian menjurus ke belakang agak turun ke fosa iliaka ekstrena
dan mencapai kavum pelvis.

Di antara peritoneal dan dinding lateralis pelvis, selanjutnya saluran ini turun
pada sisi medialis arteri umbilikalis dan nervus obturatorius, menyilang di depan
ureter dan mencapai sisi medial ureter, berbelok-belok membentuk sudut turun ke
medial agak ke depan di antara fundus vesika urinaria bagian atas vesika
seminalis. Berlanjut menjuru ke bawah antara fundus vesika urinaria dan rectum
menuju basis glandula prostate begabung dengan duktus vesika seminalis
membentuk duktus ejakulatorius, bermuara pada pars prostatika uretra melalui
orifisium utrikulus prostatikus.

Duktus deferens keras seperti tali dan berbentuk silinder. Dinding salurannya
sangat kecil. Pada fundu vesika urinaria membesar dan berbelok-belok, disebut
ampula

Uretra

Uretra merupakan saluran kemih dan saluran ejakulasi pada pria. Pengeluaran
urine tidak bersmaaan dengan ejakulasi karena diatur oleh kegiatankontraksi
prostat.

Bangun Penyambung
Skrotum

Skrotum adalah sepasang kantong yang menggantung di dasar pelvis. Di


depan skrotum terdapat penis dan di belkang terdapat anus. Skrotum atau
kandung buah pelir berupa kantong terdiri dati kulit tanpa lemak dan memiliki
sedikit jaringan otot. Pembungkusnya disebut funika vaginalis yang dibentuk dari
peritoneum skrotum yang mengandung pigmen, di dlaamnya terdapt kantong-
kantong, setioa kantong berisi epididymis fenikulus spermatikus. Skrotum kir
tergantung lebih rendah dari skrotum kanan. Skrotum bervariasi dalam beberapa
keadaan, misalnya pengaruh panas pada lansia, dan keadaan lemah, skrotum akan
memnjang dan lemas. Sewdangkan dalam keadaan dingin dan pada orang muda
akan memendek dan berkerut.

Skrotum terdiri dari dua lapisan:

1. Kulit: warna kecoklatan, tipis dan mempunyai flika/rugae, terdapat folikel


sebasea dikelilingi oelh rambut keriting yang akarnya terlihat melalui kulit.
2. Tunika dartos: berisi lapisan otot polos yang tipis sepanjang basis skrotum.
Tunika dartos ini membentuk septum yang membagi skrotum menjadi dua
ruangan untuk testis yang terdapat di bawah permukaan penis.

Pada skrotum terdapat M. kremaster yang muncul dari M. obliguw internus


abdominalis yang menggantungkan testis dan mengangkat testis menurut
kemauan dan reflex ejakulasi.

Fenikulus Spermatikus

Fenikulus merupakan bangun penyambung yang berisi duktus seminalis,


pembuluh limfe, dan serabut saraf. Fenikulus spermatikus memanjang dari
abdominalis inguinalis dan tersusun konvergen ke bagian belakang testis, melewati
cintin subkutan dan turun hamper vertical ke skrotum. Fenilus spermatikus kiri lebih
panjang dari yang kanan karena testis kiri tergantung lebih rendah dari testis kanan.

Pembuluh darh fenikulus spermatikus:

1. Arteri spermatika interna: Cabang dari aorta abdominalis, keluar dari


abdomen melalui cincin inguinalis abdominalsi bergabung dengan fenikulus
spermatikus sepanjang kanalis inguinalis, memberikan darah untuk
epididymis dan substansia testis.
2. Arteri spermatika eksterna: Cabang dari arteri epigastrika inferior,
memberikan darah untuk fenikulus spermatikus, beranastomosis dengan arteri
spermatika interna.
3. Arteri duktus diferens: Cabang dari arteri vesikalis inferior. Arteri ini panjang
bergabung dengan duktus diferens dan beranastomosis dengan arteri
spermatika interna dekat testis.
4. Vena spermatika: Mulai dari belakang testis, menerima darah dari epididymis,
membentuk pompa bagian dari fenikulus spermatikus. Pembuluh-pembuluh
yang membentuk fleksus banyak masuk sepanjang fenikulus spermatikus di
depan duktus diferens. Di bawah cincin substansi inguinalis, pembuluh ini
bersatu membentuk 2-4 vena lewat kaanlis inguinalis masuk ke abdomen,
melalui cincin inguinalis abdominalis yang kanan bermuara ke vena inferior
dan yang kiri bermuara ke vena renalis sinistra.

Penis

Penis terletak menggantung di depan skrotum. Bagian ujung disebut glans


penis, bagian tengah korpus penis, dan bagian pangkal disebut radiks penis. Kulit
pembungkus amat tipis tidak berhubungan dengan bagian permukaan dalam dari
organ dan tidak mempunyai jaringan adipose. Kulit ini berhubungan dengan pelvis,
skrotum dan perineum.

Di belakang orifisium uretra eksterna kulit ini membentuk perlipatan kecil


yang disebut frenulum prepusium. Kulit yang menutupi glans penis bersambung
dengan membrane mukosa utretra dapa orifisium dan tidak mempunyai rambut.
Prepusium menutupi glans, dipisahkan dari prepusium terdapat ruangan yang
dangkal.

Fasia superfisialis secaravlangsung berhubungan dengan fasia skrotum


dengan lapisan sel otot polos. Di antara fasia superfisialis dan profunda terdapat celah
yang menyebabkan kulit begerak bebas. Pada bagian anterior dari ujung M.
bulbokavernosus dan M. iskiakavernosus terbelah menjadi lapisan dalam dan lapisan
luar. Lapisan luar menutupi permukaan superior otot-otot ini dan fasia perinealis dari
perineum, lapisan dalam merupakan lanjutan fasia penis, lamina profunda, dan fasia
profunda dari penis menutupi organ dengan kapsul yang kuat.

Korpora kavernosa penis terdiri dari dua masa silinder yang erektil terdiri dari
dari bagian anterior batang penis. Pada simfisis pubis bagian posterior secara
berangsur-angsur membentuk bangun yang lonjong. Korpora kavernosus penis
ditutupi oleh kapsul yang kuat terdiri dari benang-benang superfisialis profunda,
mempunyai arah longitudinal dan membentuk satu saluran masing-masing
mengelilingi korpora dan membentuk septum penis. Septum ini tebal terdiri dari
bangunan vertical, disebut septum pektiniformis.

Permukaan atas terdapat celah kecil tempat vena dorsalis penis profunda dan
permukaan bawah terdapat celah yang dalam dan luas berisi korpus kavernosa uretra.
Bagian anterior korpus kavernosa penis akan melebar, disebut bulbus korpus
kavernosa penis. Bagian ini terikat kuat pada ramus iskium pubis yang ditutupi oleh
M. iskium kavernosus. Korpus kavernosa uretra bagian dari penis yag berisi uretra di
dalam batang penis berbentuk silinder, lebih kecil dari kavernosa penis, pada
ujungnya agak melebar, bagian anterior membentuk glans penis dan posterior
membnetuk bulbus uretra.

Glans penis adalah bagian akhir anterior dari korpus kavernosa uretra,
memanjang ke dlaam dan bentuknya seperti jamur. Glans penis licin dan kuat, bagian
perifer lebih besar sehingga membentuk tepi yang bundar, disebut korona glandis.
Bagian perifer menyempit membentuk bulbus retroglandularis dari leher penis, dan
pada puncak glans penis terdapat celah dari orifisium uretra eksterna.

Bulbus uretra merupakan pembesaran bagian posterior 3-4 cm dari korpus


kavernosa. Uretra letaknya superfisialis dari diafragma urogenital. Fasia superfisialis
bercampur dengan kapsula fibrosa, disebut ligamentum bulbus dan ditutupi oleh fasia
bulbus kavernosus.

Penggantung penis:

1. Ligamentum fundiformis penis: lapisan tebal dari fascia superfisialis dari


dinding abdominalis anterior di atas pubis.
2. Ligamentum suspensorium penis: berupa benang berbentuk segitiga
bagian eksterna dari fascia profunda, menggantung pada dorsum, dan akar
penis ke bagian inferior linea alba, simfisis pubis, dan ligamentum
arquarta pubis. Kruris iskhio pubis dan bulbus diafragma urogenital
sebagai alat penggantung penis.

Pembuluh darah penis:

1. Artreri pudenda interna: Cabang arteri hipogastrika yang menyuplai darah


untuk ruangan kavernosus.
2. Arteri profunda penis: Cabang dari arteri dorsalis penis, bercabang terbuka
langsung ke ruangan kavernosa. Cabang kapiler menyuplai darah ke
trabekula ruangan kavernosa, dikembalikan ke vena pada dorsum. Vena
dorsalis penis melewati permukaan superior korpora kavernosa dan
bergabung dengan vena yang lain.
Saraf penis berasal dari cabang dari nervus pudendus dan pleksus pelvikus
pada glans penis dan bulbus, beberapa dari filament N. kutaneus.

Fisiologi Reproduksi Pria

Fungsi reproduksi pada pria dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu
spermatogenesis, kegiatan seksual, dan pengaturan fungsi reproduksi.
Spermatogenesis

Tubulus seminiferous mengandung banyak sel epitel germinativum yang


berukuran kecil dinamakan spermastogenia. Sel ini membelah diri membentuk dua
spermatosit yang masing-masing mengandung 23 kromosom. Setelah beberapa
meminggu menjadi spermatozoa. Spermatid ketika pertama kali dibentuk masih
mempunyai sifat umum sel epiteloid, kemudian sitoplasma menghilang, spermatid
memanjang menjadi spermatozoa yang terdiri dari kepala, leher, badan dan ekor.

Setelah pembentukan tubulus seminiferous, sperma masuk ke seminiferous


selama 18 jam sampai 10 hari hingga mengalami proses pematangan. Epididymis
menyekresi cairan yang mengandung hormone, enzim, dan gizi yang sangat penting
dalam proses pematangan sperma, sebagian besar pada vas diferens dan sebagian
kecil di dlaam epididymis.

Penyimpanan dan Pematangan Sperma

Setelah terbentuk dalam tubulus seminiferous sperma membutuhkan waktu


beberapa hari untuk melewati epididymis. Sperma memiliki kemampuan motilitas.
Beberapa faktor dapat menghambat motilitas. Ejakulasi menyekresi cairan yang
mengandunghormon testosterone, hormone estrogen, enzim-enzim, serta nutrisi
khusus untuk pematangan sperma.

Kedua testis dapat membentuk sperma kira-kira 120 juta setiap hari. Sejumlah kecil
sperma dapat disimpan dalam epididymis dna sebagian besar disimpan dalam vas
diferens dan ampula vas diferens, dan dapat mempertahankan fertilitasnya dalam
duktus genitalis selama 1 bulan. Pada aktivitas seksualitas yang tinggi, penyimpanan
hanya beberapa hari saja.

Motilitas dan fertilitas sperma terjadi karena gerakan flagela melalui medium
cairan. Sperma normal cenderung untuk bergerak lurus dan bukan berputar. Aktivitas
ini ditingkatkan dalam medium netral dan sedikit basa. Pada medium yang sangat
asam dapat mematikan sperma dengan cepat. Aktivitas sperma meningkat bersamaan
dengan peningkatan suhu dan kecepatan metabolism. Sperma pada traktus genitalia
wanita hanya dapat hidup 1-2 hari.

Epitel sekretorik vesika seminalis menyekresi bahan mucus yang mengandung


fruktosa, asam sitrat, prostaglandin dan fibrinogen. Setelah vas diferens
mengeluarkan sperma, mucus ini akan menambah semen yang diejakulasi. Fruktosa
dan zat gizi lainnya dalam cairan dibutuhkan oleh sperma yang diejakulasi sampai
salah satu dari sperma membuahi ovum. Prostaglandin membantu proses pembuahan
melalui reaksinya dengan mucus serviks, sehingga membuat lebih reseptif terhadap
gerakan sperma sampai mencapai ujung atas tuba falopii dalam waktu 5 menit.

Kelenjar prostat menghasilkan cairan encer yang mengandung fosfat, enzim


pembeku, dan profibrinolisin. Selama pengisian kelenjar prostat berkontraksi sejalan
dengan kontrasi vas diferens sehingga cairan encer dikeluarkan dan menambah lebih
banyak jumalh semen. Sifat yang sedikit basa dari cairtan prostat memungkinkan
kebehrkasilan fertilisasi ovum karena cairan vas diferens sedikit asam. Cairan prostat
menetralisir sifat asam dari cairan lain setelah ejakulasi.

Semen

Semen berasal dari vas deferens, merupakan cairan yang terkahir diejakulasi.
Semen berfungsi untuk mendorong sperma keluar dari duktus ejakulatorius dan
uretra. Cairan dari vesikula saminlais membuat semen lebih kental. Enzim pembeku
dari cairan prostat menyebabkan fibrinogen dari cairan vesikula seminalis
membentuk kuagulum yang lemah. Sperma dapat hidup beberapa minggu dalam
duktus genitalia pria. Setelah sperma diejakulasi ke dalam semen, jangka hidup
maksimal sperma hanya 24-48 jam.

Hormon

Hormon Testosteron
Hormone testosterone dihasilkan oleh sel intersisial Leyding yang terletak di
antara tubulus seminiferous. Sel ini sedikit pada bayi dan anak, namun banyak pada
pria dewasa. Setelah pubertas, sel intersisial banyak menghasilkan hormone
testosterone setelah disekresi testis. Sebagian besar testosterone berikatan longgar
dengan protein plasma yang beredar dalam darah. Testosterone yangtidak terikat pada
jaringan dengan cepat diubah oleh hati menjadi andosteron dan dehidroepianosteron.
Konjugasi ini disekresi dlaam usus melalui empedu ke dalam urine.

Fungsi testosterone:

1. Efek desensus testis. Hal ini menujukkan bahwa testosterone merupakan hal
yang pentingn untuk perkembangan seks pria selama kehidupan manusiadan
faktor keturunan.
2. Perkembangan seksual primet dan sekunder; sekresi testosterone selteha
pubertas menyebabkan penis, testis dan skrotum membesar sampai usia 20
tahun, memengaruhi pertumbuhan sifat seksual sekunder pria mulai pada
masa pubertas.

Tabel 39.1 Fungsi komponen reproduksi pria

Hormone Gonadotropin

Kelenjar hipofisis anterior menghasilkan dua macam hormone yaitu


luteinizing hormone (LH) dan follicle stimulating hormone (FSH). Sekresi
testosterone selama kehidupan fetus penting untuk peningkatan pembentukan organ
seks pria. Perubahan spermatogenesis menjadi spermatosit terjadi di dalam tubulus
seminiferous dan dirangsang oleh FSH. Namun FSH tidak dapat menyelesaikan
pembentukan spermatozoa karena itu testosterone disekresi secara serentak oleh sel
interstisila yang berdifusi menuju tubulus seminiferous untuk proses pematangan
akhir spermatozoa.

Hormone Estrogen
Hormone estrogen dibentuk dari testosterone dan dirangsang oleh hormone
perangsang folikel yang memungkinkan spermatogenesis menyekresi protein
pengikat endogen untuk mengikat testosterone dan estrogen serta membawa
keduanya ke dalam cairan lumen tubulus seminiferous untuk pematangan sperma.

Hormone Pertumbuhan

Hormone pertumbuhan diperlukan untuk mengatur latar belakang fungsi


metabolisme testis. Secara khusus meningkatkan pembelahan awalspermatogenesis.
Bila tidak terdapat hormone pertumbuhan spermatogenesis sangat berkurang atau
tidak ada sama sekali.

Kegiatan Seksual Pria

Ransangan akhir organ sensorik dan sensasi seksual menjalar melalui saraf
pudendus. Pleksus sakralis dari medulla spinalis membantu rangsangan aksi seksual
mengirim sinyal ke medulla yang meningkatkan sensasi seksual yang berasal dari
struktur interna. Akibat dari dorongan seksual akan mengisi organ seksual dengan
secret yang menyebabkan keinginan seksual, dengan merangsang kandung kemih dan
mukosa uretra.

Unsur psikis rangsangan seksual sesuai dengan meningkatnya kemampuan


seseorang untuk melakukan kegiatan seksual dengan memikirkan/berkhayal sehingga
menyebabkan terjadi aksi seksual dan menimbulkan ejakulasi atau pengeluaran
selama mimpi terutama pada usia remaja. Fungsi otak tidak terlalu penting karena
rangsangan genital yang menyebabkan ejakulasi dihasilkan dari mekanisme refleks
yang sudah terintegrasi pada medulla spinalis lumbalis. Mekanisme ini dapat
dirangsang secara psikis dan seksual yang nyata serta kombinasi keduanya.

Pengaturan Fungsi Reproduksi

Pengaturan fungsi reproduksi dimulai dari sekresi hormone. Pelepasan


gonadotropin releasing hormone (GnRH) oleh hipotalamus merangsang keelnjar
hipofisis anterior untuk menyekresi LH dan FSH. LH merupakan rangsangan utama
untuk sekresi testosterone oleh testis dan FSH merangsang spermatogenesis,

Pengaruh GnRH meningkatkan sekresi LH dan FSH. Hipotalamus


melepaskan GnRH, diangkut ke kelenjar hipotalamus anterior dalam merangsang
pelepasan LH dan FSH darah portal. Perangsangan hormone ini ditentukan oleh
frekuensi dari siklus sekresi dan jumlah GnRH yang dilepaskan setiap siklus. Sekresi
LH mengikuti pelepasan GnRH dan sekresi FSH berubah lebih lambat sebagai
respons perubahan jangka panjang GnRH.

Hormone gonadotropin disekresi oleh sel-sel yang sama dalam kelenjar


hipofisis anterior. LH dan FSH adalah glikoprotein yang berkaitan dengan protein
dalam molekul yang sangat bervariasi. Keadaan yang berbeda dapat mengubah
kemampuan aktivitas dasar LH maupun FSH mengeluarkan pengaruhnya pada
jaringan di dalam testis melalui aktivitas mengaktifkan system enzim khusus dalam
sel-sel target berikutnya.

FSH melekat pada sel-sel dalam tubulus seminiferous. Pengikatan ini


mengakibatkan sel bertumbuh dan menyekresi berbagai unsur spermatogenik. Secara
bersamaan testosterone berdifusi ke dalam tubulus. Dalam ruang interstisial
mempunyai efek tropic terhadap spermatogenesis. Untuk membangkitkan
spermatogenesis dibutuhkan FSH dan testosterone. Testosterson dapat
mempertahankan spermatogenesis untuk waktu yang lama.