Anda di halaman 1dari 3

Struktur Organisasi Dalam Persfektif GCG

WHO CONTROL WHOM


Setiap organ memiliki kamar masing-masing; Tidak diperkenanakan
memasuki dan/atau mencampuri kamar orang lain. Titik!. (Wilson
Arafat, 2010)
Setelah meniti jalan yang begitu panjang dan berliku, biasanya Struktur
Organisasi (SO) baru di suatu perusahaan dapat diterapkan. Hal ini cukup
mudah dipahami. Mengapa? Karena, perubahan SO bukan sekdar perkara ringan
seperti halnya membalikkan telapak tangan. Sekali melangkah, tidak hanya
berpengaruh signifikan bagi kinerja organisasi dalam jangka pendek, lebih dari
semua itu, sungguh menetukan stuktur dan / atau mekanisme governansi dalam
jangka panjang.

Stoner, Feeman dan Gilbert (1995) menjelaskan bahwa the structure can be
defined as a way of how the activities in the organization is divided, organized
and coordinated. Artinya, apabila terjadi perubahan SO, maka konsekuensi
logisnya adalah akan menggeser pula cara bagaimana aktifitas organisasi
dibagi, diorganisir dan dikoordinasikan, tidak terkecuali bagi suatu perusahaan.
Dari kaca mata tata kelola perusahaan alias persfektif good corporate
governance (GCG), terminologi-nya lebih dikenal luas dengan istilah governance
structure.
Struktur dan /
atau
mekanisme
governansi
yang dibagun
dalam governa
nce
stucture dimaks
ud harus
dijabarkan ke
dalam suatu
ranah yang
disebut sebagai
organ-organ
perusahaan
(lihat gambar di
atas). Ini terdiri
dari dua organ,
sebagai berikut:
1. Pertama, Organ Utama: Selaras dengan sistem hukum Europe
Continental yang dianut Republik ini, maka organ utama korporasi-korporasi
di Indonesia terdiri dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Dewan
Komisaris dan Dewan Direksi. Organ utama ini memainkan peranan yang
sungguh penting dalam implementasi GCG secara efektif. Peter Wallace dan
John Zinkin (2005) menyebutnya sebagai The three Key Governance
Rules; Each party brings to the table the requisite balance of skills and
wisdom, complementing each others strengths and weaknesess. Jadi, organ
utama merupakan penentu hitam-putih suatu perusahaan. Sebagaimana
Bacelius Ruru (2002) berpendapat sangat tegas bahwasanya efektifitas peran
dan fungsi organ utama di suatu perusahaan merupakan kata kunci yang
menjadi penentu sukses atau tidaknya implementasi GCG. Oleh karena itu,
stuktur dan / atau mekanisme governansi organ utama di suatu perusahaan
harus dibangun sedemikian rupa sehingga dapat menjalankan fungsinya
sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan / atau atas dasar prinsip bahwa
masing-masing organ memiliki independensi ketika melaksanakan tugas dan
tanggung jawabnya masing-masing, semata-mata demi kepentingan
perusahaan, an sich;
2. Kedua, Organ pendukung: Pada umumnya meliputi: Komite-Komite, baik
dibawah pengawasan dan tanggung jawab Dewan Komisaris (seperti Komite
Audit, Komite Nominasi dan Remunerasi serta Komite Pemantau Risiko, [dan
lain sebaginya]) maupun Dewan Direksi (seperti Komite Human Capital,
Komite Teknologi Informasi, Komite Kredit, Komite Produk, ALCO, [dan lain
sebagainya]), Corporate Secretary, dan unit kerja yang melaksanakan dan
/atau mengkoordinir pelaksanaan fungsi pengendalian internal (seperti
kepatuhan (compliance), manajemen risiko, audit interen dan audit eksteren).
Perlu dipahami bahwa organ pendukung ini harus dibentuk dengan
mempertimbangkan atau berdasarkan kompleksitas bisnis yang dihadapi oleh
suatu perusahaan.
Pada praktiknya di lapangan, organ utama dan organ pendukung berjalin
berkelindan memutar fungsinya sehingga membentuk GCG infrastructure, dan
sekaligus menjadi kepanjangan tangan perusahaan ketika
mengimplementasikan GCG sehari-hari. Jika segenap perihal uraian dalam
tulisan ini dapat dilaksanakan dengan baik maka tugas dan tanggung jawab
masing-masing organ akan menjadi jelas dan tegas. Tidak ada lagi tumpang
tindih pelaksanaan peran dari masing-masing organ. Terlebih lagi hanya
mengedepankan kepentingan segelintir pihak dengan mengebiri hak-hak pihak
lain, yang marak terjadi dalam praktik bisnis hanky-panky alias praktik bad
corporate governance. Proses dan mekanisme ini niscaya dapat terjadi karena
masing-masing organ telah memiliki ruang lingkup tersendiri; tidak
diperkenankan memasuki dan atau mencampuri kamar orang lain. Titik!
Dengan demikian dapat ditarik benang merah yang tegas bahwa SO dalam
persfektif GCG sangat diperlukan untuk memberikan kejelasan fungsi, hak,
kewajiban dan tanggung jawab antara pihak-pihak yang berkepentingan atas
korporasi, yang mencakup proses kontrol internal dan eksternal secara efektif
serta menciptakan keseimbangan internal (antar organ perusahaan) dan
keseimbangan eksternal (antar stakeholders). Dengan ungkapan lain dapat
dikatakan bahwa secara lebih spesifik, governance structure didesain untuk
mendukung berjalannya aktivitas organisasi secara bertanggung jawab dan
terkendali. Penekanan pengendalian dalam kaitan ini menjadi sangat krusial
kerena governance berhubungan dengan jawaban atas pertanyaan who control
whom yang muncul dari pentingnya pemisahan antara pihak yang mengambil
keputusan (decision making) dengan pihak yang mengontrol keputusan tersebut
(decision control). Dengan terbentuknya SO diharapkan suatu perusahaan dapat
mewujudkan segenap perihal ini secara paripurna. Semoga!.

menurut Kementerian BUMN GCG adalah . suatu proses dan struktur yang
digunakan oleh organ perusahaan untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan
akuntabilitas perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka
panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya,
berlandaskan peraturan perundangan dan nilai-nilai etika. GCG dipahami sebagai
komitmen dan kesepakatan dari seluruh organ untuk meningkatkan keberhasilan
perusahaan dengan cara yang beretika. Dari pengertian sederhana tersebut, bisa
dilihat bahwa yang ditekankan disini adalah etika yang diatur dalam organ GCG.
Organ GCG disini terdiri dari Organ Utama dan Organ Pendukung. Organ Utama
terdiri dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Dewan Komisaris dan Direksi,
sedangkan Organ Pendukung terdiri dari Komite Dewan Komisaris, Sekretariat
Dewan Komisaris, SPI dan Sekretaris Perusahaan.

Proses, struktur serta interaksi antar organ menjadi fokus utama dalam penerapan
GCG mulai dari ketersediaan kebijakan GCG, kelengkapan materi kebijakan GCG,
pemahaman atas kebijakan GCG tersebut, perencanaan, pelaksanaan kebijakan,
dokumentasi pelaksanaan kebijakan, pelaporan pelaksanaan kebijakan hingga
pengukuran kinerja atas pelaksanaan kebijakan.