Anda di halaman 1dari 113

Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap

III

METODE PELAKSANAAN

Metode pelaksanaan Pekerjaan Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa


Kab. Alor Tahap III, dilakukan dengan penjelasan sebagai berikut :

I. PEKERJAAN PERSIAPAN
1. Penerangan dan Keselamatan Kerja
2. Pengukuran dan Pemasangan Bouwplank
3. Dokumentasi dan Gambar Kerja
4. Mobilisasi dan Demobilisasi

II. PEK. PEMBANGUNAN TRESTLE


1. Beton
Beton Bertulang K-225 untuk Plat Lantai
Beton Bertulang K-225 untuk Balok
Beton Bertulang K-225 untuk Pile Cap
Beton Bertulang K-225 untuk Tiang Railing
Beton Bertulang K-225 untuk Cansteen
Beton Bertulang K-225 untuk Trotoir
2. Lapisan Pasir untuk trotoir
3. Lapisan Perkerasan Asphalt Pasir Tebal 3 cm
4. Railing GSP 2 x f = 2,5, t=3 mm
5. Angkor untuk Dudukan Tiang Listrik
6. Baja Siku untuk Delatasi

III. PEK. PEMBANGUNAN DUDUKAN TRESTLE/ABUTMENT


1. Beton
- Beton bertulang K-225 untuk Pilecap
- Beton bertulang K-225 untuk Plat Injak
- Beton bertulang K-225 untuk Dinding Sayap
2. Baja Siku Delatasi
IV.
PEMBUATAN KONSTRUKSI PELENCENGAN
1. Beton
- Beton bertulang K-225 untuk Lantai
- Beton bertulang K-225 untuk Balok
- Beton bertulang K-225 untuk Pilecap
- Beton bertulang K-225 untuk Cansteen
- Beton bertulang K-225 untuk Tiang Railing
- Beton bertulang K-225 untuk Trotoir
2. Lapisan Pasir untuk Trotoir
3. Baja Profil T 100 x 200 + Angker

Metode Pelaksanaan 1
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

4. Railing GSP 2 x f = 2,5 , t = 3mm


5. Fender Type SV 500H 2000L + Anchor

V. PEMB. MOORING DOLPHIN ( 3 BUAH)


1. Beton
Beton bertulang K-225 untuk Pengisi Tiang Pancang
Beton bertulang K-225 untuk selimut Tiang Pancang

2. Tiang Pancang
Tiang Pancang D=508, t = 12,0 mm
Pemancangan Tiang + Transport Ke Titik Pancang
Pengecatan Tiang ( 12 m bagian teratas)
Penyambungan Tiang Setiap 6 m
Pemotongan Tiang
Plat Penutup Tiang

VI. BREASTING DOLPHIN (3 BUAH)


1. Beton
- Beton bertulang K-225 untuk Pengisi Tiang Pancang
- Beton bertulang K-225 untuk selimut Tiang Pancang
2. Tiang Pancang
Tiang Pancang D=508, t = 12,0 mm
Pemancangan Tiang + Transport Ke Titik Pancang
Pengecatan Tiang ( 12 m bagian teratas)
Penyambungan Tiang Setiap 6 m
Pemotongan Tiang
Plat Penutup Tiang
3. Bracing baja pengikat sementara tiang pancang
VII. Catwalk ( 102 M2)
1. Profil Baja :
2. Tiang Pancang
Tiang Pancang D=457, t = 9,0 mm
Pemancangan Tiang + Transport Ke Titik Pancang
Pengecatan Tiang ( 12 m bagian teratas)
Penyambungan Tiang Setiap 6 m
Pemotongan Tiang
Plat Penutup Tiang
2. Bondex
3. Beton Bertulang K-225
- Beton bertulang pengisi tiang
- Beton bertulang K-225 untuk selimut Tiang Pancang

Metode Pelaksanaan 2
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

A. Pekerjaan Persiapan
1. Penerangan dan Keselamatan Kerja
Selama proses pelaksanaan pekerjaan dilapangan disediakan alat penolong untuk
menghindari bahaya dan memberikan pertolongan jika terjadi kecelakaan ditempat
pekerjaan. Segera memberitahukan secara tertulis kepada Direksi mengenai
terjadinya kecelakaan dengan disertai keterangan, menyediakan peralatan yang
sesuai dengan peraturan kesehatan ditempat pekerjaan, membuat pengaturan
dengan Rumah Sakit terdekat dan dengan dokter setempat sehingga bagi para
pegawai/pekerjanya yang sakit atau mengalami kecelakaan segera dapat menerima
pengobatan yang baik pada setiap saat baik siang maupun malam, serta
menyediakan air minum yang cukup dan memenuhi syarat-syarat kesehatan bagi
para pekerja.
Selama proyek berlangsung, di lokasi proyek perlu disediakan alat penerangan
yang cukup memadai sehingga tidak mengganggu proses pekerjaan yang sedang
berjalan yang membutuhkan penerangan yang cukup, seperti pada pekerjaan pada
malam hari. Alat penerangan perlu dijaga selama proyek berlangsung sehingga tidak
terjadi masalah selama masa proyek tersebut.
Untuk memenuhi kebutuhan listrik yang digunakan untuk mempermudah
pelaksanaan pekerjaan dimalam hari maupun kebutuhan kantor, digunakan sumber
listrik Genset dan kapasitas Genset yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan
yang ada.

a. Tahapan pekerjaan :
Pekerjaan penerangan melalui tahapan pengadaan bahan dan peralatan yang
dibutuhkan untuk kebutuhan listrik, menentukan jalur-jaluryang akan
dilalui kabel dan rencana penempatan mesin genset agar terhindar dari cuaca. \

b. Peralatan yang digunakan :


Mesin Genset, Tang, Obeng (tespen), Gunting, dll

c. Bahan yang digunakan :


Kabel listrik
Isolatip
Lampu
Saklar
Stop Kontak

2. Pengukuran dan Pemasangan Bouwplank


Alat-alat yang disiapkan untuk Survey, antara lain untuk pengukuran Topografi
(Theodolit T2 dan T0, Waterpass, Bak Ukur, Geodeticmeter, Pita dan Rantai).
Pengukuran Bathymetric (Echo Sounder, Sextant, Station Pointer), yang dapat
digunakan Direksi/Engineer/Pengawas setiap saat untuk checking pemasangan
tanda-tanda, penentuan elevasi dan lain-lain kegiatan pengukuran yang berkaitan
dengan pelaksanaan pekerjaan. Alat-alat untuk survey dipelihara secara baik
sehingga selama pelaksanaan pekerjaan dapat tetap digunakan secara baik. Selain

Metode Pelaksanaan 3
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

itu juga disediakan patok-patok beton atau patok-patok kayu, bagan template
penampang kedalaman laut yang diminta Direksi Engineer/Pengawas untuk
pemeriksaan atau pengukuran bagian dari pekerjaan.
Untuk keperluan pengecekan kembali kedalaman dasar laut dimana lokasi pekerjaan
dermaga dilaksanakan, maka pemborong melakukan pengukuran ulang mengenai
kedalaman dasar laut sebelum melakukan positioning koordinat tiang pancang. Hasil
pengukuran tersebut kemudian dilaporkan kepada Direksi/Engineer/Pengawas dan
segera diteruskan kepada Konsultan Perencana untuk diperiksa kembali apakah
posisi/lokasi dermaga tersebut sudah memenuhi syarat kedalaman atau perlu
diadakan perubahan.

Peta topografi Peta


batimetri

Peta dasar

Pada tahap ini, jika


bahwa
dinyatakan
Sinkronisasi titik letak fasilitas
tetap dan koordinat
pelabuhanposisi. Maka
koordinasi
tidak sesuaiakan dilakukan
baik dari segi
dengan
elevasi
Pengikatan Elevasi pengguna jasa dan perencana.

Tahapan Pekerjaan :
Tim pengukuran akan melakukan penentuan titik awal pengukuran dimulai
dari kedalaman air, kontur tanah, arus air dan tinggi pasang surut air untuk
menentukan tinggi elevasi selimut tiang pancang dan mendapatkan titik-titik
pancang yang akurat.
Selanjutnya melakukan pengukuran tinggi elevasi Causeway yang digunakan
sebagai dasar ukuran pekerjaan timbunan tanah dan pasir yang akan
dikerjakan, yang disesuaikan dengan Rencana Kerja.
Kemudian melakukan proses pengukuran koordinat titik pancang yang
menentukan posisi dari titik tiang pancang, dilakukan sebagai berikut :
Untuk pengukuran didarat dapat dilakukan oleh 1 orang juru ukur yang
bertugas mengarahkan dan mencatat hasil dari pengukuran dan 2 orang
pekerja yang bertugas untuk menarik meteran (50-100 m) sampai
didapat ukuran yang akurat.
Sedangkan untuk mengukuran titik di laut (menentukan titik pancang)
dilakukan dengan 2 unit alat theodolit dari arah tegak lurus bersilangan.
Satu unit theodolit dioperasikan dari darat yang sejajar dengan baris
tiang pancang trestle yang akan dipancang sementara satu unit theodolit
dioperasikan dari arah tegak lurus yang bersilangan . Sehinggga 2 (dua)
Theodolite akan bertemu di satu titik yang sama.

Metode Pelaksanaan 4
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Gbr. 4 : Pekerjaan pengukuran dan positioning menggunakan theodolite.

Untuk pekerjaan laut pengukuran Hidrografi dilakukan dengan menggunakan


alat Echosounder untuk mendapatkan kedalaman air laut dengan penjelasan
pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
Alat Echosounder diletakkan didalam air dengan posisi menempel pada
perahu.
Perahu dijalankan disekitar lokasi pemancangan
Setelah data kedalaman diperoleh maka secepatnya dilaporkan
kepada konsultan pengawas dan diketahui oleh pimpinan proyek
untuk meminta persetujuan pelaksanaan selanjutnya.

Pemasangan Patok Referensi (Bouwplank)


Setelah melakukan semua pengukuran, maka dilakukan pemasangan patok yang
diawali dengan pengukuran areal yang akan dibersihkan dengan menggunakan alat
ukur/meteran. Setelah mendapatkan ukuran yang akurat (sesuai gambar rencana)
maka pemasangan Bowplank/Patok dapat dilakukan. Setelah mendapatkan
persetujuan Direksi/Engineer/Pengawas Lapangan, maka pemasangan bouwplank
dapat dilaksanakan. Mengingat pentingnya pekerjaan ini yang secara langsung
berdampak pada hasil pekerjaan fisik, maka untuk pemasangannya harus sesuai
dengan rencana pekerjaan/gambar-gambar kerja. Pemasangan Bowplank atau Patok
dilakukan dengan menancapkan patok sebagai batas ukuran yang akurat setelah
mengalami proses pengukuran.

Gambar 1 Ilustrasi Pekerjaan Pengukuran


Ulang

Metode Pelaksanaan 5
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

3. Dokumentasi dan Gambar Kerja


Sebelum pekerjaan dimulai, maka perlu dipersiapkan data-data administrasi
yang meliputi:
Jaminan Asuransi Tenaga Kerja untuk melindungi Tenaga Kerja dari
Kecelakaan Kerja
Buku harian di tempat kerja yang mencatat kejadian-kejadian di tempat kerja
yang meliputi: banyaknya pekerjaan yang dilakukan setiap hari; hari kerja dan
tidak kerja, bahan bangunan yang datang, yang dipergunakan dan yang di
tolak atau di terima; kemajuan pekerjaan; dan kejadian-kejadian di tempat
pekerjaan yang menyangkut pelaksanaan pekerjaan. Buku harian ini harus
ditandatangani bersama antara pelaksana dan pengawas harian sebagai tanda
persetujuan.
Buku direksi yang dipergunakan untuk mencatat semua instruksi direksi yang
ditandatangani direksi
Proses dokumentasi dilakukan dalam setiap tahap kegiatan sehingga semua
proses kegiatan dapat di ketahui atau terekam. Dokumentasi dilakukan dengan Photo
Digital sehingga hasilnya dapat di lihat langsung di komputer kerja yang disediakan
dilapangan, sehingga memudahkan dalam proses pengontrolan.
Pekerjaan As Built Drawing dilakukan setelah pelaksanaan item-item
pekerjaan selesai dilaksanakan yang menunjukkan gambaran pekerjaan yang telah
dilaksanakan/gambar bangunan seperti yang terbangun di lapangan.

4. Mobilisasi dan
Demobilisasi
Proses Mobilisasi dan Demobilisasi, mencakup antar jemput/mendatangkan
personil proyek, staff, pegawai dan pekerja, bahan-bahan bangunan, peralatan
dan keperluan-keperluan insidental untuk melaksanakan seluruh pekerjaan, untuk
pindah di dalam lokasi proyek dan pemindahan/pembongkaran seluruh instalasi
pada saat berakhirnya pekerjaan. Dimana proses mobilisasi dan demobilisasi ini
juga mencakup pengangkutan semua peralatan pembangunan ke lokasi proyek
beserta pemasangannya, dimana alat-alat tersebut akan dipergunakan.
Proses demobilisasi atau pemindahan personil, staff, pegawai dan pekerja
maupun alat-alat kerja dilakukan setelah pekerjaan selesai dikerjakan.
Proses mobilisasi dilakukan dengan terlebih dahulu memasukkan rencana
detail mengenai prosedur mobilisasi kepada Direksi/Engineer/ Pengawas dalam
waktu 7 (tujuh) hari setelah menerima Surat Perintah Mulai Kerja.

Gbr. 1 : Mobilisasi material batu cor dan pasir cor dengan menggunakan tongkang
Yang diteruskan diangkut dengan dumptruk dibawa ke lokasi pekerjaan.

Metode Pelaksanaan 6
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Gbr. 2 : Mobilisasi material besi beton dan semen PC menggunakan kapal barang
Yang kemudian diangkut dumptruk dibawa menuju lokasi pekerjaan.

Gbr. 3 : Mobilisasi personil, staff dan karyawan proyek dengan kapal ferry

Proses Mobilisasi dan Demobilisasi Peralatan ini mencakup pengangkutan


semua
peralatan untuk pembangunan dermaga ke lokasi proyek beserta
pemasangannya,
dimana alat-alat tersebut akan dipergunakan. Proses mobilisasi dilakukan dengan
terlebih
dahulu memasukkan rencana detail kepada Direksi/Engineer/ Pengawas
mengenai
Peralatan yang akan dilakukan proses mobilisasi dan demobilisasi
prosedur
Diesel mobilisasi
ini mencakup: Hammer Kdalam
353,5 waktu 7 (tujuh) hari setelah menerima Surat
1 unit
Perintah
Ton Mulai 1 unit
Kerja.
Ponton/Tongkang 1 unit
Crane 150 Ton 1 unit
Mesin Las 12,5 KVA 1 unit
Generator>80
Exavator Set 1 unit
Hp
Water Tank Truck 5000 2 unit
ltr 5 unit
Concrete Mixer 0,3-0,6 5 unit
m3 3 unit
Concrete Vibrator 2 unit
Dump Truck 3,5 Ton
Metode Pelaksanaan 7
Theodolite
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Waterpass 2 unit
Bar Cutting 1 unit
Bar Bending 1 unit
Peralatan tersebut di angkut dengan menggunakan Ponton Supply yang ditarik
dengan
Tug Boat dari Pelabuhan terdekat dengan lokasi basis pemborong ke Pelabuhan .
Setelah
tiba di Pelabuhan , semua peralatan berada di ponton angkut yang
dijangkar dekat
dengan lokasi dermaga baru. Selanjutnya semua peralatan tersebut di atas di
simpan di
lokasi pekerjaan dan di jaga sehingga dapat dipergunakan pada waktunya
tanpa ada
kendala yang dapatakan
digunakantidak mengganggu pekerjaan, misalkanyang
mengalamigangguan/kerusaka terjadi kerusakan
fatal akibat pada
alatkesalahan/kerusakan
yang n terjadi sebelum alat
peralatan yang
akan digunakan.
digunakan.
Setelah semua peralatan dinyatakan tidak memiliki masalah kemudian
Tahapan diurus
Pekerjaan:
Pada ijin
tentang tahap awal,dan
operasi dilakukan pengecekan
mobilisasi semua peralatan yang akan
alat di pelabuhan
digunakan semua peralatan dimuat ke Ponton Angkut untuk kemudian
Kemudian
pada pekerjaan.
dikirim ke Fase ini dilakukan untuk memastikan agar peralatan
yang akan
lokasi pekerjaan
Kemudian peralatan dibawa ke pelabuhan untuk kemudian dilanjutkan
dengan
perjalanan darat ke lokasi pekerjaan
Setelah peralatan tiba ke lokasi pekerjaan, selanjutnya alat-alat tersebut
disimpan
dan dirawat untuk kemudian dipergunakan pada pekerjaan yang sesuai
dengan
Untuk kebutuhan peralatan
pekerjaan ini, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan
Peralatan
adalah: yang
Kapten akan
Kapal digunakan:
1 orang
KruPonton
Kapal Angkut6
Tug Boat
orang
Jumlah
B. PekerjaanTenaga Kerja:
Pembangunan Tretle
1. Beton Bertulang K 225 untuk Plat Lantai
a. Persyaratan
o Mutu beton plat lantai digunakan mutu K 225.
o Sama halnya dengan balok memanjang dan melintang plat lantai
adalah beton cor insitu dengan tebal 30 cm.
o Bekesting lantai dipasang rata sesuai dengan elevasi rencana dalam
gambar dan di sanggah pada penyokong yang kuat sehingga dijamin
tidak terjadi penurunan/perubahanbentuk bila dilaksanakan
pengecoran beton.

Metode Pelaksanaan 8
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

o Fabrikasi besi tulangan untuk pembesian lantai sudah dipersiapkan


sebelumnya dan di pasang sesuai dengan gambar rencana.
o Pengecoran beton lantai dapat di bagi pelaksanaan dalam beberapa
segmen di sesuaikan dengan persiapan bagian yang sudah rampung
menurut kemajuan pekerjaan.

b. Tahapan Pelaksanaan
: Pasang tumpuan untuk acroe span/multi span (kayu 8/12) pada balok
Pasang multi span pada tumpuan (kayu 8/12) dengan jarak 25 cm
Setelah acroe / multi span terpasang keseluruhan, tempatkan plat form
(Multiplek) setebal 1 cm
Pasang tulangan di atas plat form
Pengecekan tulangan yang terpasang
Pembersihan dengan compressor
Pengecoran plat lanta
Peralatan yang digunakan
:
- Concrete Mixer
- Gerobak Arco
- Sendok Semen
- Alat bantu lainnya

Gambar 28 Pemasangan Tulangan Gambar 29 Pengecoran


Plat Plat

Gambar 30 Detail pengecoran plat


lantai
Metode Pelaksanaan 9
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

2. Beton Bertulang K 225 untuk Balok

a.
Persyaratan :
o Mutu beton yang digunakan adalah beton K-225
o Pelaksanaan sesuai dengan ukuran yang ada dalam gambar rencana
Bekesting dipasang rata sesuai elevasi dalam gambar rencana dan dibuat
diatas penyanggah gantungan yang kuat sehingga dapat menjamin tidak
terjadi penurunan/perubahan bentuk bila dilaksanakan pengecoran beton.
o Pabrikasi besi tulangan dibuat sebelumnya dan dirakit sesuai gambar
rencana.
o Pengecoran balok-balok memanjang dan balok melintang dilaksanakan
secara bertahap yaitu tahap I setinggi 35 cm dan Tahap II bersamaan
dengan pengecoran lantai dermaga.

b. Tahapan Pelaksanaan
Pekerjaan :
Pasang tali penggantung (besi beton D 16).
Pasang kayu ukuran 7/10 pada tali penggantung sebagai penyangga
plat form.
Pasang plat form dari multiplex 12 mm.
Pasang tulangan diatas platform.
Pasang bekisting panel.
Lakukan pemeriksaan / cek ulang terhadap Kerapatan sambungan
bekisting dan Jumlah dan posisi tulangan terpsang
Bersihkan bagian dalam bekisting dengan menggunakan kompresor
Setelah bagian dalam bekisting bersih pengecoran dapat dilakukan
Pengecoran dilakukan dengan menggunakan crawler crane dan
bucket
Pada pengecoran balok diberi over steik untuk keperluan
penyambungan dengan plat.
Untuk Bekisting balok digunakan sistem
penggantung.
Langkah-langkah pemasangannya adalah sebagai berikut :
Pasang dudukan penggantung diatas pile cap. (dudukan
penggantung terbuat dari besi beton D 200).
Pasang rel penggantung (CNP 200) diatas dudukan penggantung.
Pasang roda besi pada penggantung, taruh diatas rel, sehingga
penggantung dapat didorong kearah posisi atas balok.

Metode Pelaksanaan 10
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Posisi tiang penggantung berada diatas balok.


Tahapan
Pelaksanaan :
Tentukan elevasi rencana dudukan bekisting sesuai dengan rencana
poer.

Untuk dudukan bekisting digunakan kayu kelas I yang diapitkan
ketiang pancang dengan menggunakan tierot besi D 16 mm
Setelah Pengapit terpasang, bagian atas pengapit dipasang kayu
kelas I dan dipasang multiplex sebagai plat form.
Pasang tulangan poer.
Tulangan terpasang, untuk form work digunakan plat tebal 3 mm.
Pemasangan bekisting harus rapat dan dijaga agar elevasi poer
sesuai dengan yang direncanakan.
Peralatan yang digunakan
:
1. Concrete Mixer
2. Concrete Vibro
3. Gerobak Arco
4. Sendok Semen
5. Alat bantu lainnya

3. Beton Bertulang K 225 untuk Pile Cap

a. URAIAN :
Pekerjaan beton dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
Pekerjaan Pembesian (Reinforcing
bar)
Mutu besi yang digunakan harus sesuai dalam gambar rencana.
Penyimpanan besi beton harus aman dari minyak, bahan-bahan kimia
dan kemungkinan terkena air laut serta tidak diletakkan
menyentuh
tanah/diberi ganjal atau bantalan dengan tinggi min 10 cm dan jarak
antar menghindari terkena air hujan diatasnya diberi penutup terpal /seng.
Untuk
bantalan
Fabrikasi 2pembesian,
m. pembengkokan, penyalur dan pemotongan
dilaksanakan menurut Peraturan Beton Indonesia 1971 dengan
menggunakan alat potong yang sesuai dengan diameter masing-masing.
Tidak dibenarkan membengkokkan besi dengan cara pemanasan.

Metode Pelaksanaan 11
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Gambar 24 Pekerjaan
Pembesian

- Tahapan
pelaksanaan :
Buat daftar potong bengkok besi sesuai gambar pembesian struktur
Potong besi beton sesuai dengan panjang rencana yang tertera
pada daftar potong bengkok
Bentuk/bengkokkan besi sesuai bentuk yang tercantum dalam
daftar
Besi beton yang telah dipabrikasi tersebut ditumpuk pada
tempat
yang terlindung, diberi tanda/label untuk mempermudah
saat
dipasang dilapangan serta tidak tercampur dengan besi
Pada waktu akan dipasang, besi beton diangkut kelokasi
struktur
pemasangan dengan ponton.
lain.
Untuk memudahkan kelurusan dimarking dulu dengan benang dan
kapur tulis.
Setiap persilangan besi diikat dengan ikatan silang supaya jarak
tidak bergeser.

Metode Pelaksanaan 12
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Pekerjaan
Bekisting
Bekesting harus dipasang pada bidang yang
tepat tanpa celah pada sambungan dan
penyangga direncanakan dengan aman serta
dibagi sehingga tidak dapat berubah bentuk
Defleksi yang terjadi selama pengecoran dan
pemadatan beton. dan harus dibuat sedemikian
rupa sehingga menjamin tidak terjadi
kebocoran-kebocoran cairan dari beton.
Gambar 25 Pekerjaan
Bekisting
Tahapan
Pelaksanaan :
Bekesting sebelum digunakan untuk pengecoran beton harus
dibersihkan dengan baik untuk terhindar dari debu gergaji,
serutan
dan semua bahan asinglainnya. Bekesting hanya boleh
dibuka/dilepas dengan cara sedemikian rupa, sehingga tidak
menyebabkan rusaknya beton.

Bekesting tidak boleh dilepas sebelum beton cukup umur, Jangka


waktu minimum antara pengecoran beton dan pelepasan bekesting
dari berbagai struktur harus
memenuhi persyaratan dalam
spesifikasi teknik dan Peraturan Beton Indonesia PBI 1971.
- Pemasangan Bekisting dan Tulangan Balok
Pasang tali penggantung (besi beton diameter 16 Inch)
Pasang kayu ukuran 7/10 pada tali penggantung sebagai
penyangga plat form
Pasang plat form dari multiplek 12 mm
Pasang tulangan di atas plat form
Pasang bekisting panel
Mutu beton yang
digunakan
Untuk Memperoleh mutu beton yang dipersyaratkan disini maka
sebelumnya dibuat Mix design. Mutu beton ini tergantung dari
mutu
unsur-unsur pendukungnya yaitu Agregat (batu pecah dan pasir),
semen dan air. Agregat harus memenuhi persyaratan dari Peraturan
Beton Indonesia (PBI 1971 Ni-2 dan SK.SNI 1991 T.15.1991.03) baik
gradasi maupun kekerasannya. Demikian pula untuk semen dan air
harus memenuhi persyaratan teknisnya.
Metode Pelaksanaan 13
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Beton bertulang terdiri dari penggabungan matrial agregat kasar


dan
halus dan diperkuat dengan kekuatan baja yang bekerja bersama
dalam menerima gaya gaya yang muncul akibat beban hidup, beban
mati dan beban sementara.
Syarat-
syarat :
Dalam pemilihan pemakain material yang jenisnya material
yang
berkwalitas dan memperhatikan syarat kwalitas material sesuai
petunjuk teknis.
Pemeriksaan material Semen, Agregat kasar (Split), Pasir dan air
kerja harus memenuhi syarat..PBI.71
Semen harus mempunyai daya ikat sesuai persyaratan
teknis..PBI.71
Agregat kasar /Split kwalitas keras dan tidak mengandung tanah
atau Lumpur dan kadar lumpur yang diijinkan maximum 1 %.
(ketentuan dalam PBI.71)
Pasir Cor harus mempunya kwalitas yang baik keras dan kadar
lumpur yang diijinkan maximum 5 % (ketentuan dalam PBI.71)
Untuk mendapatkan mutu Beton yang baik dalam pelaksanaan
pengecoran setiap pengecoran 5 M3 diambil sample 2 buah kubus
dijaga / dipelihara selama dalam proses pengeringan selanjutnya
diuji kekuatan tekan betonnya dilaboratorium.
Selama proses pengeringan beton harus selalu dilindungi dengan
penyiraman air atau ditutup dengan karung yang
senantisa
dibasahi atau menggunakan bahan additive dan umur beton
maximun
Air dapat dicapai
kerja digunakan yangsetelah berumur
berkualitas baik28 hari.
terhindar dari
pengaruh
air garam dan bahan kimia lainnya.
Pekerjaan pengecoran dilaksanakan dibutuhkan ketelian dan
pengawsan untuk mendapatkan mutu Beton yang baik setiap
pengecoran 5 M3 diambil sample 2 buah kubus dijaga / dipelihara
selama dalam proses pengeringan.
Selanjutnya diuji kekuatan tekan betonnya dilaboratorium. Selama
proses pengeringan beton harus selalu dilindungi dengan air
bersih atau ditutup dengan karung yang senantisa dibasahi atau
dapat juga menggunakan bahan additive untuk
mempercepat
proses pengeringan. Dan umur beton maximun adalah 28 hari.
Metode Pelaksanaan 14
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Pendekatan pelaksanaan dilapangan dilakukan dengan


proses
sebagai berikut :

Perancah +
Bekisting

Semen PC Isian Tiang

Pasir Beton

Poer / Pile Cap

Pengadaan
Bahan Batu Pecah 1-

Balok
Pondasi Atas ( Base
Course )
2 Plat Lantai + Kerb

Plat Sayap +
Injak
Zat Air
Adittife

Besi Tulangan Selimut


beton

Skema
Tahapan Pengecoran
Beton

Pengecoran beton
Pekerjaan pengecoran dilaksanakan setelah pekerjaan pembesian
selesai serta telah disetujui oleh Direksi Pengawas Pekerjaan.
Pengecoran beton dilakukan dengan molen (Concrete Mixer) bila
volume beton yang akan dicor sedikit, sedangkan penggunaan beton
ready mix akan menjadi pilihan untuk volume pengecoran yang besar.
Urutan Pelaksanaan Pengecoran :

Pembuatan Job Mix Formula (JMF) sesuai contoh material agregat


yang akan dipakai.
Perbandingan campuran agregat dalam JMF yang menggunakan
takaran berat dikonversikan ke perbandingan volume (bila
pengecoran dengan molen) Selanjutnya buat alat penakar sesuai
dengan hasil konversi.
Pemasangan besi beton tulangan dan bekesting

Metode Pelaksanaan 15
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Juru ukur akan memberi tanda elevasi beton yang akan dicor
Pemasangan tenda pelindung (bila diperlukan)
Proses pengadukan beton dengan menggunakan molen
Beton dituang dilokasi pekerjaan serta dipadatkan dengan
vibrator.
Beton diratakan sesuai dengan batas elevasi yang telah
ditentukan.
Perawatan beton agar sampai batas umur yang diisyaratkan.
Persiapan Teknis :
Pegujian material ( Uji Laboratorium )
Perhitungan Rencana Campuran ( Jobmix Formula )
Melakukan Percobaan campuran
Melakukan pengujian terhadap hasil jobmix.
Persiapan
Pelaksanaan :
Pengadaan bahan ( semen, split, air, zat aditif ) harus cukup
Kotak aduk sudah sesuai dengan jobmix formula
Alat Bantu skop, cangkul, riskam dll
Concrete mixer, vibrator, dan alat transport ( pontoon )
Perlengkapan lainnya seperti tremi, talang cor, panggung cor

Gambar 26 Proses Pengadukan Gambar 27 Proses


dan Pengecoran
Pengecoran beton
- Cara
Pelaksanaan :
Setiap campuran beton harus diaduk dalam pengaduk (mixer) sehingga
merata/homogen dan waktu pengadukan minimum adalah 2 menit untuk
setiap kali mencampur.

Segera setelah beton siap dituangkan, maka dilakukan uji slump tes.
Selanjutnya dituangkan ke dalam begesting, dan adukan beton harus
dipadatkan dengan concrete vibrator yang jumlahnya harus mencukupi.

Metode Pelaksanaan 16
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Pengecoran harus dilakukan menerus dan hanya boleh berhenti pada


tempat-tempat yang diperhitungkan aman dan telah
direncanakan
terlebih dahulu. Untuk menyambung suatu pengecoran dari pengecoran
sebelumnya
sempurna harus dibersihkan
sambungannya. permukaannya
Sebelum dan dibuat
adukan beton kasar, agar
dituangkan,
permukaan harus disiram dengan air semen dengan campuran 1 pc :
0,5 air. Selama pengecoran beton perlu diambil/dibuatkan sample
kubus sebanyak 2 buah untuk setiap 5 m3 pengecoran dan sample
kubus tersebut harus di jaga/dipelihara dan selanjutnya diuji kekuatan
tekan betonnya di laboratorium.
- Pemeliharaan Beton
(Curring)
Selama proses pengerasan dari beton yang selesai di cor, beton harus
dilindungi dengan air bersih atau ditutup dengan karung yang senantiasa
di basahi atau menggunakan bahan additive.

b. Persyaratan :
Mutu beton yang digunakan adalah beton K-225.
Pelaksanaannya sesuai ukuran dalam gambar rencana
Bekesting dipasang rata sesuai elevasi dalam gambar rencana dan
dibuat diatas penyanggah gantungan yang kuat sehingga dapat
menjamin tidak terjadi penurunan/perubahan bentuk bila
dilaksanakan
pengecoran
Pabrikasi beton.
besi tulangan dibuat sebelumnya dan dirakit sesuai gambar
rencana.
Setelah bekesting terpasang semua dan dibersihkan dari kotoran-
kotoran yang ada maka dilakukan pengecoran beton.

c. Tahapan pengecoran Poer/Pile


Cap :
Pemasangan Bekesting lantai Poer dengan system japit / gantung
Pemasangan Bekesting dinding poer dengan system topang
Pemasangan Bekesting lantai balok dengan system japit dan gantung
dari bawah

Tentukan elevasi rencana dudukan bekisting sesuai dengan rencana
poer.

Untuk dudukan bekisting digunakan kayu kelas I yang diapitkan ketiang
pancang dengan menggunakan tierot besi D 16 mm

Metode Pelaksanaan 17
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Setelah Pengapit terpasang, bagian atas pengapit dipasang kayu kelas


I dan dipasang multiplex sebagai plat form.
Pasang tulangan poer.
Setelah tulangan terpasang, untuk form work digunakan plat tebal 3
mm.
Pemasangan bekisting harus rapat dan dijaga agar elevasi poer sesuai
dengan yang direncanakan.
Pengecoran adukan beton untuk Poer
Pengecoran dapat dilakukan dengan menggunakan crawler crane dan
bucket.
Lakukan pemeriksaan / cek ulang terhadap :
Elevasi poer
Jumlah dan posisi tulangan yang terpasang.
Bersihkan bagian dalam bekisting dengan menggunakan kompressor.
Pada pengecoran pile cap diberi over steik untuk keperluan
penyambungan dengan balok.
Pemasangan
Tulangan :
- Pemasangan tulangan untuk poer
- Pemasangan tulangan untuk Balok
Pengecoran adukan beton, dengan tahapan sebagai
berikut :
Pengecoran :
Dalam hal ini pengecoran balok dan poer dilaksanakan secara bersamaan,
karena Poer dan Balok menjadi satu kesatuan.
Proses ini dilaksanakan setelah pekerjaan tiang pancang baja selesai,
dilanjutkan dengan pekerjaan pemasangan perancah dan bekisting pile cap
dimana bentuk dan ukuran mengacu pada Gambar Kerja. Penggunaan besi
beton ulir sebagai tulangan pengisi daripada pile cap haruslah sesuai
dengan ketentuan Gambar Kerja dan RKS baik dari segi diameter tulangan
dan mutu baja yang disyaratkan.
Pada tahapan ini haruslah sudah disetujui oleh Pengawas Pekerjaan untuk
kemudian dilanjutkan dengan pemberian campuran adukan beton K-225.
Pembuatan campuran adukan beton didasarkan pada Mix Desain yang telah
dibuat terlebih dahulu melalui proses laboratorium, untuk campuran K-
225
digunakan perbandingan berat masing-masing material antara Semen : Pasir
: Batu Pecah, dimana dalam 1 M3 campuran beton digunakan Portalnd
Cement Type I - 50 kg.Semua material yang digunakan haruslah sudah di
Metode Pelaksanaan 18
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

setujui oleh pengawas pekerjaan sebelum diterapkan dilapangan dan juga


mengacu pada peraturan-peratuan yang ditetapkan di dalam RKS dan
Gambar Kerja. Untuk masing-masing item pekerjaan yang menggunakan
campuran beton K-225 haruslah dibuatkan sempel beton untuk pengujian
kuat tekan beton. Jumlah sample yang disediakan untuk tiap seri pengetesan
sebanyak 10 ( sepuluh ) Buah dengan nilai maximum Slump 7 cm.
Peralatan yang digunakan :
1. Concrete Mixer
2. Concrete Vibro
3. Gerobak Arco
4. Sendok Semen
5. Alat bantu lainnya

4. Beton Bertulang K-225 untuk Tiang Railing


Pengecoran
beton
Pekerjaan pengecoran dilaksanakan setelah pekerjaan pembesian
selesai serta telah disetujui oleh Direksi Pengawas Pekerjaan.
Pengecoran beton dilakukan dengan molen (Concrete Mixer) bila
volume beton yang akan dicor sedikit, sedangkan penggunaan beton
ready mix akan menjadi pilihan untuk volume pengecoran yang besar.
Urutan Pelaksanaan Pengecoran :

Pembuatan Job Mix Formula (JMF) sesuai contoh material agregat


yang akan dipakai.
Perbandingan campuran agregat dalam JMF yang menggunakan
takaran berat dikonversikan ke perbandingan volume (bila
pengecoran dengan molen) Selanjutnya buat alat penakar sesuai
dengan hasil konversi.
Pemasangan besi beton tulangan dan bekesting
Juru ukur akan memberi tanda elevasi beton yang akan dicor
Pemasangan tenda pelindung (bila diperlukan)
Proses pengadukan beton dengan menggunakan molen
Beton dituang dilokasi pekerjaan serta dipadatkan dengan
vibrator.
Beton diratakan sesuai dengan batas elevasi yang telah
ditentukan.
Perawatan beton agar sampai batas umur yang diisyaratkan.

Metode Pelaksanaan 19
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Persiapan Teknis :
Pegujian material ( Uji Laboratorium )
Perhitungan Rencana Campuran ( Jobmix Formula )
Melakukan Percobaan campuran
Melakukan pengujian terhadap hasil jobmix.
Persiapan
Pelaksanaan :
Pengadaan bahan ( semen, split, air, zat aditif ) harus cukup
Kotak aduk sudah sesuai dengan jobmix formula
Alat Bantu skop, cangkul, riskam dll
Concrete mixer, vibrator, dan alat transport ( pontoon )
Perlengkapan lainnya seperti tremi, talang cor, panggung cor

5. Beton Bertulang K-225 untuk Cansteen


Kansteen berfungsi sebagai pembatas agar kendaraan tidak jatuh dari dermaga.
Pekerjaan Kansteen dilakukan setelah pekerjaan Plat lantai selesai. Pembuatan
kanstein juga menggunakan mutu beton K 225.
Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan kansteen yaitu :
- Tulangan baja
- Semen PC
- Zat additive
- Agregat Kasar ( Batu Pecah 2/3)
- Agregat Halus ( Pasir Beton )
- Air

6. Beton Tumbuk K-175 untuk Trotoir


Beton tumbuk dibuat dari adukan 1 pc : 2 Ps : 3 Kr, sehingga menghasilkan mutu
beton fc = 15 mpa atau K-175 dengan besi beton dari baja lunak Gr. 300
bertegangan leleh ijin maksimum 300 mpa.
Pekerjaan trotoir dilakukan setelah pekerjaan Plat lantai selesai. Pembuatan
kanstein juga menggunakan mutu beton K 175.
Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan kansteen yaitu :
- Tulangan baja
- Semen PC
- Zat additive
- Agregat Kasar ( Batu Pecah 2/3)
- Agregat Halus ( Pasir Beton )

Metode Pelaksanaan 20
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

- Air

6. Lapisan Perkerasan Asphalt Pasir tebal 3 cm


Lapis penutup lapisan perkerasan yang terdiri atas agregat halus atau pasir atau
campuran keduanya, dan aspal keras yang dicampur, dihampar dan dipadatkan dalam
keadaan panas pada temperature tertentu.
Lapisan ini merupakan lapisan non structural dan dikerjakan setelah pekerjaan trestle
selesai.

Gbr. 7 : Pekerjaan lapis aspal hotmix

Produktifitas waktu kerja :

Tenaga Kerja Kwantitas/m2 Jumlah Tenaga Produktivitas


Mandor 0.05 1
Pekerja 0.3 7 20 m2/hr
Mesin Gilas 0.2 4

Pekerjaan Asphalt Hotmix


- Sebelum pekerjaan dilaksanakan, kontraktor mengajukan Job Mix
design yang mengacu pada spesifikasi.
- Pengangkutan dari AMP ke lokasi harus di atur intervalnya agar tepat
tiba di lokasi sehingga temperature asphalt tetap terjaga. Untuk itu
pelaksanaan pekerjaan memerlukan cuaca yang sangat mendukung.
- Permukaan harus bersih dari segala rintangan dan kotoran, dan
dibersihkan dengan alat air compressor.

7. Railing GSP 2x f = 2,5 , t = 3 mm


Railing GSP yang digunakan adalah bahan pipa besi galvanis diameter 2 dengan
ketebalan 3mm, dimana pekerjaan ini dilakukan bersamaan dengan pekerjaan beton
bertulang railing post. Bentuk railing GSP ini mengikuti jalur catwalk yang direncanakan

Metode Pelaksanaan 21
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

sehingga perlu dilakukan pendimensian dengan menggunakan barbending khusus pipa


besi.

8. Angker untuk Dudukan tiang Listrik


Angkeur untuk Dudukan tiang lampu harus dibuat sedemikian rupa sehingga kekuatan
dan ukurannya memenuhi syarat yang diuraikan gambar kerja dan spesifikasinya. Ukuran
Angkeur untuk dudukan tiang lampu dibuat dengan seteliti mungkin sehingga tiang lampu
yang akan dipasang dikemudian hari dapat terpasang dengan baik. Hal-hal yang perlu
diperhatikan salah satunya adalah tata cara pengelasan yang dilakukan dilakukan dengan
las lengkung tiang lampu dan harus memenuhi persyaratan BS 1856 atau JIS Z 3801
dan Z 3841. Semua pekerjaan las dikerjakan oleh tukang las yang sudah
berpengalaman.

9. Baja Siku Delatasi


Uraian :
Pekerjaan Dilatasi dikerjakan pada posisi sambungan plat lantai, dengan adanya
angkur dari
tulangan plat lantai yang dilaskan pada bahan dilatasi ( besi siku : 100 x 100 x 10 ).
Pengelasan besi siku 100 x 100 x 10 pada tulangan plat lantai dilakukan
sebelum
Bahan yangproses
pengecoran
digunakan : plat
Besi siku 100lantai.
x 100 x
10
Kawat Las ( Dioda )
Oxygen
Gas
Alat yang digunakan
: Alat Las
Mesin Genset
Blender
Pemotong
C. Pekerjaan Pembangunan Dudukan Trestle/Abutment
1. Beton Bertulang K 225 untuk Pile Cap

a. URAIAN :
Pekerjaan beton dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
Pekerjaan Pembesian (Reinforcing
bar)
Mutu besi yang digunakan harus sesuai dalam gambar rencana.
Penyimpanan besi beton harus aman dari minyak, bahan-bahan kimia
dan kemungkinan terkena air laut serta tidak diletakkan
menyentuh
tanah/diberi ganjal atau bantalan dengan tinggi min 10 cm dan jarak
antar menghindari terkena air hujan diatasnya diberi penutup terpal /seng.
Untuk
bantalan
Fabrikasi 2pembesian,
m. pembengkokan, penyalur dan pemotongan

Metode Pelaksanaan 22
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

dilaksanakan menurut Peraturan Beton Indonesia 1971 dengan


menggunakan alat potong yang sesuai dengan diameter masing-masing.
Tidak dibenarkan membengkokkan besi dengan cara pemanasan.

Gambar 24 Pekerjaan
Pembesian

- Tahapan
pelaksanaan :
Buat daftar potong bengkok besi sesuai gambar pembesian struktur
Potong besi beton sesuai dengan panjang rencana yang tertera
pada daftar potong bengkok
Bentuk/bengkokkan besi sesuai bentuk yang tercantum dalam
daftar
Besi beton yang telah dipabrikasi tersebut ditumpuk pada
tempat
yang terlindung, diberi tanda/label untuk mempermudah
saat
dipasang dilapangan serta tidak tercampur dengan besi
Pada waktu akan dipasang, besi beton diangkut kelokasi
struktur
pemasangan dengan ponton.
lain.
Untuk memudahkan kelurusan dimarking dulu dengan benang dan
kapur tulis.
Setiap persilangan besi diikat dengan ikatan silang supaya jarak
tidak bergeser.

Metode Pelaksanaan 23
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Pekerjaan
Bekisting
Bekesting harus dipasang pada bidang yang
tepat tanpa celah pada sambungan dan
penyangga direncanakan dengan aman serta
dibagi sehingga tidak dapat berubah bentuk
Defleksi yang terjadi selama pengecoran dan
pemadatan beton. dan harus dibuat sedemikian
rupa sehingga menjamin tidak terjadi
kebocoran-kebocoran cairan dari beton.
Gambar 25 Pekerjaan
Bekisting
Tahapan
Pelaksanaan :
Bekesting sebelum digunakan untuk pengecoran beton harus
dibersihkan dengan baik untuk terhindar dari debu gergaji,
serutan
dan semua bahan asinglainnya. Bekesting hanya boleh
dibuka/dilepas dengan cara sedemikian rupa, sehingga tidak
menyebabkan rusaknya beton.

Bekesting tidak boleh dilepas sebelum beton cukup umur, Jangka


waktu minimum antara pengecoran beton dan pelepasan bekesting
dari berbagai struktur harus
memenuhi persyaratan dalam
spesifikasi teknik dan Peraturan Beton Indonesia PBI 1971.
- Pemasangan Bekisting dan Tulangan Balok
Pasang tali penggantung (besi beton diameter 16 Inch)
Pasang kayu ukuran 7/10 pada tali penggantung sebagai
penyangga plat form
Pasang plat form dari multiplek 12 mm
Pasang tulangan di atas plat form
Pasang bekisting panel
Mutu beton yang
digunakan
Untuk Memperoleh mutu beton yang dipersyaratkan disini maka
sebelumnya dibuat Mix design. Mutu beton ini tergantung dari
mutu
unsur-unsur pendukungnya yaitu Agregat (batu pecah dan pasir),
semen dan air. Agregat harus memenuhi persyaratan dari Peraturan
Beton Indonesia (PBI 1971 Ni-2 dan SK.SNI 1991 T.15.1991.03) baik
gradasi maupun kekerasannya. Demikian pula untuk semen dan air
harus memenuhi persyaratan teknisnya.
Metode Pelaksanaan 24
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Beton bertulang terdiri dari penggabungan matrial agregat kasar


dan
halus dan diperkuat dengan kekuatan baja yang bekerja bersama
dalam menerima gaya gaya yang muncul akibat beban hidup, beban
mati dan beban sementara.
Syarat-
syarat :
Dalam pemilihan pemakain material yang jenisnya material
yang
berkwalitas dan memperhatikan syarat kwalitas material sesuai
petunjuk teknis.
Pemeriksaan material Semen, Agregat kasar (Split), Pasir dan air
kerja harus memenuhi syarat..PBI.71
Semen harus mempunyai daya ikat sesuai persyaratan
teknis..PBI.71
Agregat kasar /Split kwalitas keras dan tidak mengandung tanah
atau Lumpur dan kadar lumpur yang diijinkan maximum 1 %.
(ketentuan dalam PBI.71)
Pasir Cor harus mempunya kwalitas yang baik keras dan kadar
lumpur yang diijinkan maximum 5 % (ketentuan dalam PBI.71)
Untuk mendapatkan mutu Beton yang baik dalam pelaksanaan
pengecoran setiap pengecoran 5 M3 diambil sample 2 buah kubus
dijaga / dipelihara selama dalam proses pengeringan selanjutnya
diuji kekuatan tekan betonnya dilaboratorium.
Selama proses pengeringan beton harus selalu dilindungi dengan
penyiraman air atau ditutup dengan karung yang
senantisa
dibasahi atau menggunakan bahan additive dan umur beton
maximun
Air dapat dicapai
kerja digunakan yangsetelah berumur
berkualitas baik28 hari.
terhindar dari
pengaruh
air garam dan bahan kimia lainnya.
Pekerjaan pengecoran dilaksanakan dibutuhkan ketelian dan
pengawsan untuk mendapatkan mutu Beton yang baik setiap
pengecoran 5 M3 diambil sample 2 buah kubus dijaga / dipelihara
selama dalam proses pengeringan.
Selanjutnya diuji kekuatan tekan betonnya dilaboratorium. Selama
proses pengeringan beton harus selalu dilindungi dengan air
bersih atau ditutup dengan karung yang senantisa dibasahi atau
dapat juga menggunakan bahan additive untuk
mempercepat
proses pengeringan. Dan umur beton maximun adalah 28 hari.
Metode Pelaksanaan 25
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

2. Baja Siku Delatasi


Uraian :
Pekerjaan Dilatasi dikerjakan pada posisi sambungan plat lantai, dengan adanya
angkur
dari tulangan plat lantai yang dilaskan pada bahan dilatasi ( besi siku : 100 x 100
x 10 ).
Pengelasan
Bahan yang besi siku 100 x 100 x 10 pada tulangan plat lantai dilakukan
sebelum
Besi proses
digunakan : 100 x 100 x
siku
pengecoran
10 plat lantai.
Kawat Las ( Dioda )
Oxygen
Gas
Alat yang digunakan
: Alat Las
Mesin Genset
Blender
Pemotong

D. Pembuatan Konstruksi Pelencengan


1. Beton Bertulang K 225 untuk Plat Lantai
c. Persyaratan
o Mutu beton plat lantai digunakan mutu K 225.
o Sama halnya dengan balok memanjang dan melintang plat lantai
adalah beton cor insitu dengan tebal 30 cm.
o Bekesting lantai dipasang rata sesuai dengan elevasi rencana dalam
gambar dan di sanggah pada penyokong yang kuat sehingga dijamin
tidak terjadi penurunan/perubahanbentuk bila dilaksanakan
pengecoran beton.
o Fabrikasi besi tulangan untuk pembesian lantai sudah dipersiapkan
sebelumnya dan di pasang sesuai dengan gambar rencana.
o Pengecoran beton lantai dapat di bagi pelaksanaan dalam beberapa
segmen di sesuaikan dengan persiapan bagian yang sudah rampung
menurut kemajuan pekerjaan.

d. Tahapan Pelaksanaan
: Pasang tumpuan untuk acroe span/multi span (kayu 8/12) pada balok
Pasang multi span pada tumpuan (kayu 8/12) dengan jarak 25 cm
Setelah acroe / multi span terpasang keseluruhan, tempatkan plat form
(Multiplek) setebal 1 cm
Pasang tulangan di atas plat form

Metode Pelaksanaan 26
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Pengecekan tulangan yang terpasang


Pembersihan dengan compressor
Pengecoran plat lanta
Peralatan yang digunakan
:
- Concrete Mixer
- Gerobak Arco
- Sendok Semen
- Alat bantu lainnya

Gambar 28 Pemasangan Tulangan Gambar 29 Pengecoran


Plat Plat

Gambar 30 Detail pengecoran plat


lantai

2. Beton Bertulang K 225 untuk Balok

a.
Persyaratan :
o Mutu beton yang digunakan adalah beton K-225
o Pelaksanaan sesuai dengan ukuran yang ada dalam gambar rencana
Bekesting dipasang rata sesuai elevasi dalam gambar rencana dan dibuat
diatas penyanggah gantungan yang kuat sehingga dapat menjamin tidak
terjadi penurunan/perubahan bentuk bila dilaksanakan pengecoran beton.
o Pabrikasi besi tulangan dibuat sebelumnya dan dirakit sesuai gambar
rencana.

Metode Pelaksanaan 27
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

o Pengecoran balok-balok memanjang dan balok melintang dilaksanakan


secara bertahap yaitu tahap I setinggi 35 cm dan Tahap II bersamaan
dengan pengecoran lantai dermaga.

b. Tahapan Pelaksanaan
Pekerjaan :
Pasang tali penggantung (besi beton D 16).
Pasang kayu ukuran 7/10 pada tali penggantung sebagai penyangga
plat form.
Pasang plat form dari multiplex 12 mm.
Pasang tulangan diatas platform.
Pasang bekisting panel.
Lakukan pemeriksaan / cek ulang terhadap Kerapatan sambungan
bekisting dan Jumlah dan posisi tulangan terpsang
Bersihkan bagian dalam bekisting dengan menggunakan kompresor
Setelah bagian dalam bekisting bersih pengecoran dapat dilakukan
Pengecoran dilakukan dengan menggunakan crawler crane dan
bucket
Pada pengecoran balok diberi over steik untuk keperluan
penyambungan dengan plat.
Untuk Bekisting balok digunakan sistem
penggantung.
Langkah-langkah pemasangannya adalah sebagai berikut :
Pasang dudukan penggantung diatas pile cap. (dudukan
penggantung terbuat dari besi beton D 200).
Pasang rel penggantung (CNP 200) diatas dudukan penggantung.
Pasang roda besi pada penggantung, taruh diatas rel, sehingga
penggantung dapat didorong kearah posisi atas balok.
Posisi tiang penggantung berada diatas balok.
Tahapan
Pelaksanaan :
Tentukan elevasi rencana dudukan bekisting sesuai dengan rencana
poer.

Untuk dudukan bekisting digunakan kayu kelas I yang diapitkan
ketiang pancang dengan menggunakan tierot besi D 16 mm
Setelah Pengapit terpasang, bagian atas pengapit dipasang kayu
kelas I dan dipasang multiplex sebagai plat form.
Pasang tulangan poer.
Tulangan terpasang, untuk form work digunakan plat tebal 3 mm.

Metode Pelaksanaan 28
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Pemasangan bekisting harus rapat dan dijaga agar elevasi poer


sesuai dengan yang direncanakan.
Peralatan yang digunakan :
1. Concrete Mixer
2. Concrete Vibro
3. Gerobak Arco
4. Sendok Semen
5. Alat bantu lainnya

3. Beton Bertulang K 225 untuk Pile Cap

d. URAIAN :
Pekerjaan beton dilakukan dengan tahapan sebagai berikut :
Pekerjaan Pembesian (Reinforcing
bar)
Mutu besi yang digunakan harus sesuai dalam gambar rencana.
Penyimpanan besi beton harus aman dari minyak, bahan-bahan kimia
dan kemungkinan terkena air laut serta tidak diletakkan
menyentuh
tanah/diberi ganjal atau bantalan dengan tinggi min 10 cm dan jarak
antar
Untuk menghindari terkena air hujan diatasnya diberi penutup terpal /seng.
bantalan 2pembesian,
Fabrikasi m. pembengkokan, penyalur dan pemotongan
dilaksanakan menurut Peraturan Beton Indonesia 1971 dengan
menggunakan alat potong yang sesuai dengan diameter masing-masing.
Tidak dibenarkan membengkokkan besi dengan cara pemanasan.

Gambar 24 Pekerjaan
Pembesian

Metode Pelaksanaan 29
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

- Tahapan
pelaksanaan :
Buat daftar potong bengkok besi sesuai gambar pembesian struktur
Potong besi beton sesuai dengan panjang rencana yang tertera
pada daftar potong bengkok
Bentuk/bengkokkan besi sesuai bentuk yang tercantum dalam
daftar
Besi beton yang telah dipabrikasi tersebut ditumpuk pada
tempat
yang terlindung, diberi tanda/label untuk mempermudah
saat
dipasang dilapangan serta tidak tercampur dengan besi
Pada waktu akan dipasang, besi beton diangkut kelokasi
struktur
pemasangan dengan ponton.
lain.
Untuk memudahkan kelurusan dimarking dulu dengan benang dan
kapur tulis.
Setiap persilangan besi diikat dengan ikatan silang supaya jarak
tidak bergeser.

Pekerjaan
Bekisting
Bekesting harus dipasang pada bidang yang
tepat tanpa celah pada sambungan dan
penyangga direncanakan dengan aman serta
dibagi sehingga tidak dapat berubah
bentuk
Defleksi yang terjadi selama pengecoran dan
pemadatan
rupa beton.menjamin
sehingga dan harus tidak
dibuat sedemikian
terjadi
kebocoran-kebocoran cairan dari beton.
Gambar 25 Pekerjaan
Bekisting
Tahapan
Pelaksanaan :
Bekesting sebelum digunakan untuk pengecoran beton harus
dibersihkan dengan baik untuk terhindar dari debu gergaji,
serutan
dan semua bahan asinglainnya. Bekesting hanya boleh
dibuka/dilepas dengan cara sedemikian rupa, sehingga tidak
menyebabkan rusaknya beton.

Bekesting tidak boleh dilepas sebelum beton cukup umur, Jangka


waktu minimum antara pengecoran beton dan pelepasan bekesting

Metode Pelaksanaan 30
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

dari berbagai struktur harus


memenuhi persyaratan dalam
spesifikasi teknik dan Peraturan Beton Indonesia PBI 1971.
- Pemasangan Bekisting dan Tulangan
Balok
Pasang tali penggantung (besi beton diameter 16 Inch)
Pasang kayu ukuran 7/10 pada tali penggantung sebagai
penyangga plat form
Pasang plat form dari multiplek 12 mm
Pasang tulangan di atas plat form
Pasang bekisting panel
Mutu beton yang
digunakan
Untuk Memperoleh mutu beton yang dipersyaratkan disini maka
sebelumnya dibuat Mix design. Mutu beton ini tergantung dari
mutu
unsur-unsur pendukungnya yaitu Agregat (batu pecah dan pasir),
semen dan air. Agregat harus memenuhi persyaratan dari Peraturan
Beton Indonesia (PBI 1971 Ni-2 dan SK.SNI 1991 T.15.1991.03) baik
gradasi maupun kekerasannya. Demikian pula untuk semen dan air
harus memenuhi
Beton persyaratan
bertulang terdiri teknisnya.
dari penggabungan matrial agregat kasar
dan
halus dan diperkuat dengan kekuatan baja yang bekerja bersama
dalam menerima gaya gaya yang muncul akibat beban hidup, beban
mati dan beban sementara.
Syarat-
syarat :
Dalam pemilihan pemakain material yang jenisnya material
yang
berkwalitas dan memperhatikan syarat kwalitas material sesuai
petunjuk teknis.
Pemeriksaan material Semen, Agregat kasar (Split), Pasir dan air
kerja harus memenuhi syarat..PBI.71
Semen harus mempunyai daya ikat sesuai persyaratan
teknis..PBI.71
Agregat kasar /Split kwalitas keras dan tidak mengandung tanah
atau Lumpur dan kadar lumpur yang diijinkan maximum 1 %.
(ketentuan dalam PBI.71)
Pasir Cor harus mempunya kwalitas yang baik keras dan kadar
lumpur yang diijinkan maximum 5 % (ketentuan dalam PBI.71)
Untuk mendapatkan mutu Beton yang baik dalam pelaksanaan
pengecoran setiap pengecoran 5 M3 diambil sample 2 buah kubus

Metode Pelaksanaan 31
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

dijaga / dipelihara selama dalam proses pengeringan selanjutnya


diuji kekuatan tekan betonnya dilaboratorium.
Selama proses pengeringan beton harus selalu dilindungi dengan
penyiraman air atau ditutup dengan karung yang
senantisa
dibasahi atau menggunakan bahan additive dan umur beton
maximun dapat dicapai
Air kerja digunakan yangsetelah berumur
berkualitas baik28 hari.
terhindar dari
pengaruh
air garam dan bahan kimia lainnya.
Pekerjaan pengecoran dilaksanakan dibutuhkan ketelian dan
pengawsan untuk mendapatkan mutu Beton yang baik setiap
pengecoran 5 M3 diambil sample 2 buah kubus dijaga / dipelihara
selama dalam proses pengeringan.
Selanjutnya diuji kekuatan tekan betonnya dilaboratorium. Selama
proses pengeringan beton harus selalu dilindungi dengan air
bersih atau ditutup dengan karung yang senantisa dibasahi atau
dapat juga menggunakan bahan additive untuk
mempercepat
proses pengeringan.
Pendekatan pelaksanaan Dandilapangan
umur beton maximun adalah
dilakukan 28 hari.
dengan
proses
sebagai berikut :

Perancah +
Bekisting

Semen PC Isian Tiang

Pasir Beton
Poer / Pile Cap

Pengadaan
Bahan Batu Pecah 1-
2
Balok
Pondasi Atas
( Base
Air

Plat Sayap +
Zat Adittife Injak

Besi Tulangan
Selimut beton

Metode Pelaksanaan 32
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Skema
Tahapan Pengecoran
Beton
Pengecoran
beton
Pekerjaan pengecoran dilaksanakan setelah pekerjaan pembesian
selesai serta telah disetujui oleh Direksi Pengawas Pekerjaan.
Pengecoran beton dilakukan dengan molen (Concrete Mixer) bila
volume beton yang akan dicor sedikit, sedangkan penggunaan beton
ready mix akan menjadi pilihan untuk volume pengecoran yang besar.
Urutan Pelaksanaan Pengecoran :

Pembuatan Job Mix Formula (JMF) sesuai contoh material agregat


yang akan dipakai.
Perbandingan campuran agregat dalam JMF yang menggunakan
takaran berat dikonversikan ke perbandingan volume (bila
pengecoran dengan molen) Selanjutnya buat alat penakar sesuai
dengan hasil konversi.
Pemasangan besi beton tulangan dan bekesting
Juru ukur akan memberi tanda elevasi beton yang akan dicor
Pemasangan tenda pelindung (bila diperlukan)
Proses pengadukan beton dengan menggunakan molen
Beton dituang dilokasi pekerjaan serta dipadatkan dengan
vibrator.
Beton diratakan sesuai dengan batas elevasi yang telah
ditentukan.
Perawatan beton agar sampai batas umur yang diisyaratkan.
Persiapan Teknis :
Pegujian material ( Uji Laboratorium )
Perhitungan Rencana Campuran ( Jobmix Formula )
Melakukan Percobaan campuran
Melakukan pengujian terhadap hasil jobmix.
Persiapan
Pelaksanaan :
Pengadaan bahan ( semen, split, air, zat aditif ) harus cukup
Kotak aduk sudah sesuai dengan jobmix formula
Alat Bantu skop, cangkul, riskam dll
Concrete mixer, vibrator, dan alat transport ( pontoon )
Perlengkapan lainnya seperti tremi, talang cor, panggung cor

Metode Pelaksanaan 33
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Gambar 26 Proses Pengadukan Gambar 27 Proses


dan Pengecoran
Pengecoran beton
- Cara
Pelaksanaan :
Setiap campuran beton harus diaduk dalam pengaduk (mixer) sehingga
merata/homogen dan waktu pengadukan minimum adalah 2 menit untuk
setiap kali mencampur.

Segera setelah beton siap dituangkan, maka dilakukan uji slump tes.
Selanjutnya dituangkan ke dalam begesting, dan adukan beton harus
dipadatkan dengan concrete vibrator yang jumlahnya harus mencukupi.

Pengecoran harus dilakukan menerus dan hanya boleh berhenti pada


tempat-tempat yang diperhitungkan aman dan telah
direncanakan
terlebih dahulu. Untuk menyambung suatu pengecoran dari pengecoran
sebelumnya harus dibersihkan
sempurna sambungannya. permukaannya
Sebelum dan dibuat
adukan beton kasar, agar
dituangkan,
permukaan harus disiram dengan air semen dengan campuran 1 pc :
0,5 air. Selama pengecoran beton perlu diambil/dibuatkan sample
kubus sebanyak 2 buah untuk setiap 5 m3 pengecoran dan sample
kubus tersebut harus di jaga/dipelihara dan selanjutnya diuji kekuatan
tekan betonnya di laboratorium.
- Pemeliharaan Beton
(Curring)
Selama proses pengerasan dari beton yang selesai di cor, beton harus
dilindungi dengan air bersih atau ditutup dengan karung yang senantiasa
di basahi atau menggunakan bahan additive.

e. Persyaratan :
Mutu beton yang digunakan adalah beton K-225.
Pelaksanaannya sesuai ukuran dalam gambar rencana
Bekesting dipasang rata sesuai elevasi dalam gambar rencana dan
dibuat diatas penyanggah gantungan yang kuat sehingga dapat

Metode Pelaksanaan 34
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

menjamin tidak terjadi penurunan/perubahan bentuk bila


dilaksanakan
pengecoran beton.
Pabrikasi besi tulangan dibuat sebelumnya dan dirakit sesuai gambar
rencana.
Setelah bekesting terpasang semua dan dibersihkan dari kotoran-
kotoran yang ada maka dilakukan pengecoran beton.

f. Tahapan pengecoran Poer/Pile


Cap :
Pemasangan Bekesting lantai Poer dengan system japit / gantung
Pemasangan Bekesting dinding poer dengan system topang
Pemasangan Bekesting lantai balok dengan system japit dan gantung
dari bawah

Tentukan elevasi rencana dudukan bekisting sesuai dengan rencana
poer.

Untuk dudukan bekisting digunakan kayu kelas I yang diapitkan ketiang
pancang dengan menggunakan tierot besi D 16 mm
Setelah Pengapit terpasang, bagian atas pengapit dipasang kayu kelas
I dan dipasang multiplex sebagai plat form.
Pasang tulangan poer.
Setelah tulangan terpasang, untuk form work digunakan plat tebal 3
mm.
Pemasangan bekisting harus rapat dan dijaga agar elevasi poer sesuai
dengan yang direncanakan.
Pengecoran adukan beton untuk Poer
Pengecoran dapat dilakukan dengan menggunakan crawler crane dan
bucket.
Lakukan pemeriksaan / cek ulang terhadap :
Elevasi poer
Jumlah dan posisi tulangan yang terpasang.
Bersihkan bagian dalam bekisting dengan menggunakan kompressor.
Pada pengecoran pile cap diberi over steik untuk keperluan
penyambungan dengan balok.
Pemasangan
Tulangan :
- Pemasangan tulangan untuk poer
- Pemasangan tulangan untuk Balok
Pengecoran adukan beton, dengan tahapan sebagai
berikut :

Metode Pelaksanaan 35
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Pengecoran :
Dalam hal ini pengecoran balok dan poer dilaksanakan secara bersamaan,
karena Poer dan Balok menjadi satu kesatuan.
Proses ini dilaksanakan setelah pekerjaan tiang pancang baja selesai,
dilanjutkan dengan pekerjaan pemasangan perancah dan bekisting pile cap
dimana bentuk dan ukuran mengacu pada Gambar Kerja. Penggunaan besi
beton ulir sebagai tulangan pengisi daripada pile cap haruslah sesuai
dengan ketentuan Gambar Kerja dan RKS baik dari segi diameter tulangan
dan mutu baja yang disyaratkan.
Pada tahapan ini haruslah sudah disetujui oleh Pengawas Pekerjaan untuk
kemudian dilanjutkan dengan pemberian campuran adukan beton K-225.
Pembuatan campuran adukan beton didasarkan pada Mix Desain yang telah
dibuat terlebih dahulu melalui proses laboratorium, untuk campuran K-
225
digunakan perbandingan berat masing-masing material antara Semen : Pasir
: Batu Pecah, dimana dalam 1 M3 campuran beton digunakan Portalnd
Cement Type I - 50 kg.Semua material yang digunakan haruslah sudah di
setujui oleh pengawas pekerjaan sebelum diterapkan dilapangan dan juga
mengacu pada peraturan-peratuan yang ditetapkan di dalam RKS dan
Gambar Kerja. Untuk masing-masing item pekerjaan yang menggunakan
campuran beton K-225 haruslah dibuatkan sempel beton untuk pengujian
kuat tekan beton. Jumlah sample yang disediakan untuk tiap seri pengetesan
sebanyak 10 ( sepuluh ) Buah dengan nilai maximum Slump 7 cm.
Peralatan
1. Concrete yang
Mixer digunakan :
2. Concrete Vibro
3. Gerobak Arco
4. Sendok Semen
5. Alat bantu lainnya

4. Beton Bertulang K-225 untuk Tiang Railing


Pengecoran
beton
Pekerjaan pengecoran dilaksanakan setelah pekerjaan pembesian
selesai serta telah disetujui oleh Direksi Pengawas Pekerjaan.
Pengecoran beton dilakukan dengan molen (Concrete Mixer) bila
volume beton yang akan dicor sedikit, sedangkan penggunaan beton
ready mix akan menjadi pilihan untuk volume pengecoran yang besar.

Metode Pelaksanaan 36
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Urutan Pelaksanaan Pengecoran


:
Pembuatan Job Mix Formula (JMF) sesuai contoh material agregat
yang akan dipakai.
Perbandingan campuran agregat dalam JMF yang menggunakan
takaran berat dikonversikan ke perbandingan volume (bila
pengecoran dengan molen) Selanjutnya buat alat penakar sesuai
dengan hasil konversi.
Pemasangan besi beton tulangan dan bekesting
Juru ukur akan memberi tanda elevasi beton yang akan dicor
Pemasangan tenda pelindung (bila diperlukan)
Proses pengadukan beton dengan menggunakan molen
Beton dituang dilokasi pekerjaan serta dipadatkan dengan
vibrator.
Beton diratakan sesuai dengan batas elevasi yang telah
ditentukan.
Perawatan beton agar sampai batas umur yang diisyaratkan.
Persiapan Teknis :
Pegujian material ( Uji Laboratorium )
Perhitungan Rencana Campuran ( Jobmix Formula )
Melakukan Percobaan campuran
Melakukan pengujian terhadap hasil jobmix.
Persiapan
Pelaksanaan :
Pengadaan bahan ( semen, split, air, zat aditif ) harus cukup
Kotak aduk sudah sesuai dengan jobmix formula
Alat Bantu skop, cangkul, riskam dll
Concrete mixer, vibrator, dan alat transport ( pontoon )
Perlengkapan lainnya seperti tremi, talang cor, panggung cor

5. Beton Bertulang K-225 untuk Cansteen


Kansteen berfungsi sebagai pembatas agar kendaraan tidak jatuh dari dermaga.
Pekerjaan Kansteen dilakukan setelah pekerjaan Plat lantai selesai. Pembuatan
kanstein juga menggunakan mutu beton K 225.
Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan kansteen yaitu :
- Tulangan baja
- Semen PC
- Zat additive

Metode Pelaksanaan 37
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

- Agregat Kasar ( Batu Pecah 2/3)


- Agregat Halus ( Pasir Beton )
- Air

6. Beton Tumbuk K-175 untuk Trotoir


Beton tumbuk dibuat dari adukan 1 pc : 2 Ps : 3 Kr, sehingga menghasilkan mutu
beton fc = 15 mpa atau K-175 dengan besi beton dari baja lunak Gr. 300
bertegangan leleh ijin maksimum 300 mpa.
Pekerjaan trotoir dilakukan setelah pekerjaan Plat lantai selesai. Pembuatan
kanstein juga menggunakan mutu beton K 175.
Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan kansteen yaitu :
- Tulangan baja
- Semen PC
- Zat additive
- Agregat Kasar ( Batu Pecah 2/3)
- Agregat Halus ( Pasir Beton )
- Air

6. Lapisan Pasir untuk Trotoir


Lapis penutup lapisan pasir yang terdiri atas agregat halus atau pasir atau campuran
keduanya dihampar . Lapisan ini merupakan lapisan non structural dan dikerjakan setelah
pekerjaan beton untuk trotoir selesai.

7. Baja Profil T 100 x 200 + Angker

Baja T 100 x 200 dikerjakan setelah pekerjaan lapisan pasir untuk trotoir selesai.
Tenaga yang digunakan :
Pekerja
Tukang besi

Metode Pelaksanaan 38
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Tukang las
Kepala Tukang
Mandor

8. Railing GSP 2x f = 2,5 , t = 3 mm


Railing GSP yang digunakan adalah bahan pipa besi galvanis diameter 2 dengan
ketebalan 3mm, dimana pekerjaan ini dilakukan bersamaan dengan pekerjaan beton
bertulang railing post. Bentuk railing GSP ini mengikuti jalur catwalk yang direncanakan
sehingga perlu dilakukan pendimensian dengan menggunakan barbending khusus pipa
besi.

9. Angker untuk Dudukan tiang Listrik


Angkeur untuk Dudukan tiang lampu harus dibuat sedemikian rupa sehingga kekuatan
dan ukurannya memenuhi syarat yang diuraikan gambar kerja dan spesifikasinya. Ukuran
Angkeur untuk dudukan tiang lampu dibuat dengan seteliti mungkin sehingga tiang
lampu
yang akan dipasang dikemudian hari dapat terpasang dengan baik. Hal-hal yang perlu
diperhatikan salah satunya adalah tata cara pengelasan yang dilakukan dilakukan dengan
las lengkung
dan Z 3841.tiang lampupekerjaan
Semua dan haruslas
memenuhi persyaratan
dikerjakan
oleh tukangBS las
1856yang
atau sudah
JIS Z 3801
berpengalaman.

10. Baja Siku Delatasi


Uraian :
Pekerjaan Dilatasi dikerjakan pada posisi sambungan plat lantai, dengan adanya
angkur dari
tulangan plat lantai yang dilaskan pada bahan dilatasi ( besi siku : 100 x 100 x 10 ).
Pengelasan besi siku 100 x 100 x 10 pada tulangan plat lantai dilakukan
sebelum
Bahan yang proses
pengecoran
digunakan
: plat
Besi siku 100lantai.
x 100 x
10
Kawat Las ( Dioda )
Oxygen
Gas
Alat yang digunakan
: Alat Las
Mesin Genset
Blender
Pemotong
11. Fender Type SV 500H 2000L + Anchor

Metode Pelaksanaan 39
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Fender yang digunakan sesuai dengan RKS yaitu Type SV 500H 2000L + Anchor dimana
harus memenuhui persyaratan defleksi yang terjadi 45%, reaksi maksimal 35 ton dan rate
energy absorption minimal 5,5 ton.m. Pemasangan fender akan dilakukan sesuai dengan
gambar kerja (RKS) pemasangan akan dilakukan oleh tenaga yang berpengalaman
dibidangnya, pemasangan fender ini dilaksanakan setelah pekerjaan pendukungnya telah
selesai dilaksanakan.

Tahapan pelaksanaan pemasangan fender :


Material fender yang akan di gunakan terlebih dahulu di test di laboratorium untuk
menguji kekuatannya.
Buat mal lubang baut fender menggunakan plat baja 6mm, posisi lubang baut
pada mal disesuaikan dengan lubang baut fender yang akan di pasang.
Angkur yang akan dipasang dilaskan pada mal plat baja yang telah disiapkan.
Juru ukur menentukan koordinat dan elevasi angkur baut fender,lalu di tandai.
Pasang angkur baut yang telah dilaskan ke mal pada koordinat dan elevasi yang
telah ditentukan,agar angkur baut kuat terhadap pengaruh beton dan getaran
vibrator saat pengecoran,angkur tersebut dilaskan ke tulangan balok .
Setelah hasil pengecoran beton lantai cukup kuat ( 7 hari ),fender dapat
dipasang pada posisinya.
Pemasangan fender dilaksanakan dengan bantuan service crane di atas ponton
dan tenaga kerja yang cukup.
Peralatan yang digunakan :
1. Ponton
2. Crane

E. Pembuatan Mooring Dolphin ( 3 Buah )

Gbr. 14 :
Mooring Dolphin

1. Beton Isian Tiang


a) Beton isian tiang menggunakan beton mutu K-225
b) Pelaksanaannya sesuai ukuran yang ada dalam gambar rencana yaitu
setinggi 1,8 m.

Metode Pelaksanaan 40
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

c) Pembesian dirakit diluar sesuai gambar, dengan bagian ujung bawah tulangan
dilas pada besi pelat t = 10 mm sehingga dapat berfungsi sebagai bekesting
dasar.
d) Pengecoran beton dilakukan dengan menggunakan tremi agar tidak terjadi
segregasi beton.
e) Pengisian tiang pancang dengan beton diawali dengan penutupan tiang
dengan plat baja (Concrete Stopper) yang digantung / dilas pada ujung bagian
bawah tulangan isian , setelah besi tulangan isian dimasukkan maka
selanjutnya dapat dilakukan pengecoran adukan beton.
Tahapan Pelaksanaan :

Proses ini dilaksanakan setelah pipa pancang terpancang secara


keseluruhan, kemudian dengan memberikan tulangan baja sebagai
struktur tarik dan sebagai stek pengikat poer, dilanjutkan
dengan
pemberian adukan campuran beton K-225.
Pembentukan Besi Tulangan.( Sesuai Gambar Rencana )

Gambar 23 Beton Isian


Tiang
Pengelasan Concrete Stopper Pada Besi Tulangan

Semua ukuran yang dipergunakan di dalam pelaksanaan haruslah


mengacu kepada Gambar Kerja yang telah ditetapkan dan disetujui
oleh Pengawas Pekerjaan.

Pembuatan campuran adukan beton didasarkan pada Mix Desain


yang telah dibuat terlebih dahulu melalui proses laboratorium,
untuk
campuran K-225 digunakan perbandingan berat masing-masing

Metode Pelaksanaan 41
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

material antara Semen : Pasir : Batu Pecah, dimana dalam 1 M3


campuran beton digunakan Portland Cement Type I - 50 kg.

Semua material yang digunakan haruslah sudah di setujui oleh


pengawas pekerjaan sebelum diterapkan dilapangan dan juga
mengacu pada peraturan-peraturan yang ditetapkan di dalam RKS
dan Gambar Kerja.

Untuk masing-masing item pekerjaan yang menggunakan campuran
beton K-225 haruslah dibuatkan sempel beton untuk pengujian kuat
tekan beton. Jumlah sample yang disediakan untuk tiap seri
pengetesan sebanyak 10 (Sepuluh) buah dengan nilai maximum
Slump 7 cm.
Peralatan yang
digunakan:
Isian Tiang :
Pembesian
1. Blender Pemotong
2. Pembengkok besi tulangan
3. Tang
4. Kakatua (Gegep)
Pembetonan
1. Concrete Mixer
2. Sekop
3. Sendok semen

2. Beton Selimutan Tiang


a) Beton isian tiang menggunakan beton mutu K-225
b) Pelaksanaannya sesuai ukuran yang ada dalam gambar rencana
c) Pembesian dirakit diluar sesuai gambar, dengan bagian ujung bawah tulangan
dilas pada besi pelat t = 10 mm sehingga dapat berfungsi sebagai bekesting
dasar.
d) Pengecoran beton dilakukan dengan menggunakan tremi agar tidak terjadi
segregasi beton.
.
a. Tahapan Pelaksanaan
:
Proses ini dilaksanakan setelah pipa pancang terpancang secara
keseluruhan, kemudian dengan memberikan tulangan baja sebagai

Metode Pelaksanaan 42
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

struktur tarik dan sebagai stek pengikat poer, dilanjutkan


dengan
pemberian adukan campuran beton K-225.
Pembentukan Besi Tulangan.( Sesuai Gambar Rencana )

Pengelasan Concrete Stopper Pada Besi Tulangan

Semua ukuran yang dipergunakan di dalam pelaksanaan haruslah


mengacu kepada Gambar Kerja yang telah ditetapkan dan disetujui
oleh Pengawas Pekerjaan.

Pembuatan campuran adukan beton didasarkan pada Mix Desain


yang telah dibuat terlebih dahulu melalui proses laboratorium,
untuk
campuran K-225 digunakan perbandingan berat masing-masing
material antara Semen : Pasir : Batu Pecah, dimana dalam 1 M3
campuran beton digunakan Portland Cement Type I - 50 kg.
Semua material yang digunakan haruslah sudah di setujui oleh
pengawas pekerjaan sebelum diterapkan dilapangan dan juga
mengacu pada peraturan-peraturan yang ditetapkan di dalam RKS
dan Gambar Kerja.

Untuk masing-masing item pekerjaan yang menggunakan campuran
beton K-225 haruslah dibuatkan sempel beton untuk pengujian kuat
tekan beton. Jumlah sample yang disediakan untuk tiap seri
pengetesan sebanyak 10 (Sepuluh) buah dengan nilai maximum
Slump 7 cm.
Peralatan yang
digunakan:
Isian Tiang :
Pembesian
1. Blender Pemotong
2. Pembengkok besi tulangan
3. Tang
4. Kakatua (Gegep)
Pembetonan
1. Concrete Mixer
2. Sekop
3. Sendok semen

3. Tiang Pancang

Metode Pelaksanaan 43
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Tahapan ini dilaksanakan dengan ketentuan yang telah ditetapkan pada


persyaratan bahan pada RKS, diawali dengan pemesanan Pipa Pancang Baja
Dia. 508mm ; T = 12 mm. Pipa Baja di produksi di Jakarta, sehingga
pengadaannya memerlukan transportasi melewati laut dengan menggunakan
tongkang yang ditarik tug boat. Proses pekerjaanya akan dilakukan seperti terlihat
pada bagan berikut ini.

a. Tahapan Pelaksanaan Pengadaan


Pipa
Setelah disetujui oleh owner, produk tiang pancang yang disetujui sesuai
spesifikasi teknis dari pabrik di angkut menggunakan truk ke pelabuhan
terdekat.
Kemudian ini
Pekerjaan diteruskan
dimulai dengan
dengan kapal ke pelabuhan.
melakukan pengadaan koil / lembaran baja dengan
ketebalan yang akan memenuhi ketebalan rencana pada saat menjadi pipa.
Setelah itu pipa akan difabrikasi sesuai dengan petunjuk pelaksanaan ASTM A
252. Merupakan standar untuk pipa dengan fungsi umum (general purpose),
dalam hal ini akan digunakan sebagai fondasi tiang pancang pada bangunan
fasilitas pelabuhan laut.
Dengan kesesuaian pada proses fabrikasi yang merujuk kepada ASTM A 252,
sehingga pada setiap prosesnya tidak akan mengurangi kualitas baja. Jika dilihat
dari sifat-sifat fisik, mekanis dan komposisi kimianya
Dalam pekerjaan fabrikasinya dapat dilihat seperti gambar dibawah, prosesnya
diawali dengan membuka baja plat gulung ,dengan ketebalan sesuai pesanan,
lalu di rekonstruksi menjadi pipa yang dilengkungkan secara spiral lalu dilas untuk
disambungkan sehingga menjadi pipa utuh yang siap untuk dipotong sesuai
dengan pesanan pengguna jasa. Pada saat pengelasan pipa dilakukan inspeksi
NDT (Non Destructive Test).

Metode Pelaksanaan 44
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Gambar 2 Metode Fabrikasi


Baja
b. Fabrikasi
Setelah fabrikasi selesai maka setiap pengelasan penyambungan pembentuk pipa
baja diperiksa oleh quality control dengan Metoda NDT (Non Destructive Test).
Merupakan salah satu teknik mengujian material tanpa merusak benda ujinya.
Pengujian dapat mendeteksi secara dini timbulnya crack atau flaw pada material
secara dini, tanpa menunggu material tesebut gagal ditengah operasinya. Dari
tipe
keberadaan crack pada material NDT dapat dibedakan dalam 2 macam, yaitu:
surface crack dan inside crack. Pada saat pengujian maka harus sudah ditentukan
dahulu targetnya (misal surface crack atau inside crack), baru digunakan metoda
NDT yang
Untuk tepat.
inside crack ada 3 metoda yang dapat digunakan, yaitu:
1. Radiography,dengan menggunakan sinarX untuk mendapatkan
gambaran dalam material. Prinsipnya sama dengan sinar X yang
digunakan untuk tubuh manusia, tetapi panjang gelombang yang
digunakan berbeda (lebih pendek).
2. Ultrasonics, dengan menggunakan gelombang ultrasonic dengan frequensi
antara 0.1 ~ 15 Mhz. Prinsipnya, gelombang ultrasonic dipancarkan dalam
material dan gelombang baliknya atau gelombang yang sampai di sisi yang
lain di bandingkan dengan kecepatan suara dari material itu sendiri untuk
mendapatkan gambaran posisi dari crack.
3. Accustic emmision, (sorry saya nggak bisa jelaskan tentang hal ini)

Metode Pelaksanaan 45
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Untuk surface crack ada beberapa metoda yang dapat digunakan, yaitu:
1. Visual Optical, melihat/mencari crack yang berada dipermukaan material
dengan bantuan optik.
2. Liquid Penetrant, yaitu dengan menyemprotkan/mengulaskan cairan
berwarna pada permukaan material. Pada prinsipnya teknik ini untuk
mempermudah penglihatan saja.
3. Magnetic Particles, cara ini dengan menggunakan serbuk magnetik yang di
sebarkan dipermukaan benda uji. Pada saat crack ada dalam pembukaan
benda uji, maka akan terjadi kebocoran medan magnit di sekitar posisi
crack, sehingga dengan mudah akan bisa dilihat oleh mata. Setelah
pengujian magnetic, maka benda uji akan menjadi bersifat magnet, karena
pengaruh serbuk magnet tersebut, maka untuk menghilangkan effek itu
digunakan metoda demagnetization (proses menghilangkan medan
magnet pada benda uji), salah satu caranya dengan menggunakan
hammering (benda uji dipikul dengan hammer, sehingga timbul getaran
yang akan melepaskan partikel magnet)
4. Eddi current, prisipnya hampir sama dengan teknik medan magnet,
tetapi
disini medan listrik yang dipancarkan dari arus listrik bolak-balik, ketika ada
crack maka medan listrik akan berubah dan perubahannya itu akan
terbaca pada alat pengukur impadance. Prinsip ini erat kaitannya dengan
impedansi, maka alirnya sangat dipengruhi oleh jarak antara benda uji
dengan alat ukurnya.

c. Pengecekan
Dimensi
Berikut merupakan aspek-aspek minimal yang dipertahankan pada saat
proses fabrikasi, sesuai dengan syarat ASTM A 252.
Komposisi Kimia
C: 0.30 % max; Si = 0,35 max.

P: 0,04 % max; Mn 0.30 1.00

S: 0.04 % max.

Sifat sifat mekanis

Kekuatan tarik : 42,2 kg/mm2 atau lebih Grade X-46


Yield Point : 32 kg/mm2 atau lebih

Metode Pelaksanaan 46
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Perpanjangan : 15 % atau lebih


Toleransi profil pipa pancang

Tinjauan Dimensi Spesifikasi Toleransi


Maks Min
Diameter 508 mm 508 mm
Ketebalan 12 mm 11.3 mm
Panjang 16 m 0
Lenturan 0.1% Panjang -
Coating 600 micron 600 micron
Diameter (dengan Coating) 457.8 mm 457.8 m
Tebal (dengan Coating) 12.6 mm 11.9 mm

508 mm
457.8 mm

Keterangan:
: Baja
508, mm : Coating

Pipa yang akan digunakan pada proses pengadaan, akan dibedakan menurut
panjangnya yang antara lain 16 m. Akan tetapi guna kecepatan produksi akan
lebih baik jika hanya melakukan produksi satu jenis panjang pipa yaitu pipa 16
m.

d. Pengecatan Perlindungan
Korosi

Lingkungan laut biasanya dibagi dalam zona atmosfir laut, zona percikan, zona
pasang surut, zona tenggelam dan zona lumpur. Jenis-jenis korosi atmosfir
secara kasar dapat dibagi dalam empat klas utama berdasarkan pada kondisi
keadesifan kelembaban permukaan baja. Klas I menunjukkan "Korosi atmosfir
kering", Klas II "Korosi atmosfir lembab", Klas III, IV "Korosi atmosfir basah".
Korosi atmosfir laut terjadi sebagian besar pada Klas II dan III, dan bisanya

Metode Pelaksanaan 47
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

dipengaruhi oleh semprotan laut (terutama NaCI dan MgC12).Disamping itu,


ada kasus dimana korosi baja dipercepat dengan adanya gas SO2 disekitar
daerah industri.
Daerah percikan adalah lingkungan yang mempunyai sifat korosi sangat tinggi
karena adanya udara bersamaan dengan percikan. Kecenderungan korosi
baja di daerah pasang surut dan di daerah air laut akan berbeda tergantung
pada bentuk-bentuk kepingan baja, yaitu, terpisah atau tersambung. Hal
ini
sangat penting untuk korosi pada struktur baja karena biasanya terbuat
dari
bahan baja yang panjang.

Gambar 3 Diagram Penetrasi Korosi Pada


Pipa
Tindakan perlindungan dari pengecatan adalah berupa dua hal di bawah ini :
1) Mengurangi arus korosi dengan menutup sel korosi dengan lapisan
film yang mempunyai tahanan listrik tinggi.
2) Meningkatkan polarisasi reaksi elektroda dengan tindakan pigmen
anti-karat.

Pengecatan adalah pada awalnya, bukan merupakan cara anti karat yang
abadi, tetapi pada hakekatnya dianggap sebagai pengecatan ulang secara
periodik. Penyebab utama kerusakan film cat adalah tindakan cahaya matahari
dan reaksi korosi di bawah film.Sinar ultraviolet merangsang molekul film
cat
dan mempercepat reaksi oksidasinya. Ion hidroksil, OFF, yang merupakan
hasil reaksi katodik dalam larutan netral dengan oksigen cair, memperlunak
lapisan film di katoda dan membuat sifat adesif antara lapisan film
dan
permukaan baja menjadi semakin buruk. Demikian juga, sebagian besar film
jika bersentuhan dengan larutan air, lapisan ganda elektrik, maka bagian yang
Metode Pelaksanaan 48
padat akan mengeluarkan listrik negatif dan fase cair mengeluarkan listrik
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

positif. Sebagai akibatnya, air masuk kedalam bagian katodik melalui reaksi
elektro-osmosa arus korosi dan pecahan-pecahan alkalin berukuran besar
akan dengan mudah dihasilkan balk oleh masuknya air maupun oleh reaksi
alkali.

Ketiga hal berikut ini sangat berpengaruh pada keawetan film : (a) persiapan
permukaan, (b) ketebalan film, (c) pengecatan. Persiapan permukaan dan
pengecatan hendaknya dilakukan sesuai dengan spesifikasi dari masing-
masing sistem pengecatan. Jika keduanya dikerjakan dengan berhati-hati,
maka keawetan film akan tergantung penuh pada ketebalan film. Karena
lingkungan korosi memerlukan cat yang mempunyai kemampuan dan
keawetan tinggi untuk struktur laut. Cat-cat seperti itu terdiri dari cat yang
kaya
Zinc dan berjenis cat film tebal, dan biasanva disebut sistem pengecatan
perlindungan berat. Ketebalan film total sistem ini adalah sekitar 250 sampai
350
Oleh karena
pada zona atmosfirpenggunaan
itu melihat laut. dari pipa akan digunakan pada daerah
lingkungan laut maka pada 8 m awal pada sebagian pipa dengan panjang 16
m akan dilakukan pengecatan dengan cat anti korosi.

Metode Pelaksanaan 49
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

8m
Pengecatan dengan
epoxy

Batas Pipa Pengadaan


16 m

16 m

Gambar 4 Ilustrasi Pemotongan Tiang Pancang dan Pengecatan Anti


Karat

Metode Pelaksanaan 50
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Gambar 5 Diagram Alur Pekerjaan Pengadaan


Pipa

Metode Pelaksanaan 51
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Dalam penyimpanan pipa baja harus diambil langkah-langkah yang tepat untuk
melindungi pipa baja menjadi bengkok, cacat-cacat permanen. Pada waktu
transportasi, semua pipa baja harus diperlakukan sedemikian sehingga tidak
terjadi pelengkungan-pelengkungan yang besar. Pipa baja tidak boleh
ditumpuk lebih dari 3.5 m dan balok-balok penumpunya ditempatkan
diantara
lapisan dengan jarak antara sebesar 4.0 m.

< 3 .5 m

<4m <4m <4m <4m

Gambar 2.1 Penyimpanan Tiang


baja

Ukuran standar balok, kayu penumpu adalah 10 x 10 cm2 (Gambar 3) Dimana


ada kemungkinan profil baja
melendut, maka harus segera dilakukan
penumpukan/pengaturan kembali.

10 x 10 cm
2

Metode Pelaksanaan 52
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

e. Penandaan dan
Label
Label digunakan untuk mengenali bahwa pipa telah lulus verifikasi QA/QCdan
diberi tanda pass, label berupa kode : tanggal produksi, kode produksi,
nama proyek ; sehingga mempermudah untuk erection. Selain itu setiap pipa
yang sudah selesai tahapan akan diberikan tanda pada setiap interval 50 cm
dan 100 cm yang dimulai dari kaki tiang agar dapat diketehui panjang
tiang
terpancang.

Gambar 2.2 Penandaan Pada Tiang


Pancang

f.
Pengangkutan
1) Setelah disetujui oleh owner, produk tiang pancang yang disetujui
sesuai spesifikasi teknis dari pabrik di di angkut dari stock yard.
2) Dari stock yard , produk yang siap dikirim diangkut dengan
menggunakan tronton sesuai dengan kapasitas. Pengangkutan
product dari stock yard ke dalam bak tronton rnenggunakan
mobile crane.
Diatas bak tronton, produk diberi alat pengganjal pada titik-titik
tumpu
produk dengan arah melintang. Alat pengganjal dapat berupa balok kayu
Sfl.
Dan untuk menjaga kestabilan pada saat pengiriman, product yang telah
tersusun sesuai dengan kapasitas tronton, diikat dengan menggunakan
seling baja yang dikaitkan ke bak tronton, seperti terlihat pada gambar

Metode Pelaksanaan 53
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

dibawah ini, yang selanjutnyakan akan diangkut kedalam pontoon angkut atau
kapal kargo untuk dibawa ke lokasi.

Gambar 6 Proses Pengangkutan dan Transportasi Pipa ke


Pekerjaan Lokasi

Metode Pelaksanaan 54
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Terdapat 2 pilihan lapangan penumpukan pada lokasi pekerjaan, yaitu di area


dermaga baru dan area darat pelabuhan.
Setibanya dilokasi Proyek, maka Pipa Pancang akan ditumpuk di areal
penumpukan ( jika kondisi areal lokasi memungkinkan ) jika
tidak,
maka pipa pancang akan di tumpuk di atas Ponton Transport. Akan
tetapi penumpukan akan lebih baik jika ditumpuk di areal Dermaga
baru, dengan keuntungan mempermudah mobilisasi pada proses
pemancangan pada tahap berikutnya.

Jika lokasi penumpukan yang digunakan adalah areal darat, maka hal-
hal yang harus diperhatikan adalah alat pengangkut yang kemungkinan
hanya bisa peralatan traditional. Karena menurut pengalaman dan
pemahaman lokasi, tidak terdapat alat berat yang bisa
digunakan
seperti mobile crane, yang dapat memobilisasi pipa baja dari dermaga
menuju ke area penumpukan sementara di darat.
o Lokasi penumpukan material harus memiliki drainase yang baik
serta tidak mudah amblas karena berat dari tiang pancang itu
sendiri, bila perlu lokasi penumpukan diperbaiki terlebih dahulu
kondisi tanahnya dengan memberikan lapisan gravel atau diberi
bantalan kayu yang kuat.
o Proses penumpukan dikerjakan berdasarkan grup ( diameter )
dan nomer tiang.
o Tiang harus ditumpuk sedemikian rupa sehingga tidak
mengalami perubahan bentuk fisik. Maka dari itu Tiang diberi
kayu ganjalan berukuran 10 cm untuk setiap jarak 4 m diantara
tiang dan permukaan tanah dan dilapisan paling bawah
tumpukan tiang maksimum adalah 3 lapisan atau setinggi 2
meter.
o Jarak antara tiang 1 dan lainnya adalah 10-20 cm untuk
memberikan ruang gerak pemasangan dan pelepasan tali baja
dan untuk mencegah terjadinya kecelakaan selama proses
pengangkatan tiang.
o Untuk mencegah runtuhnya tumpukan tiang disarankan
memakai ganjal kayu (skid).

Metode Pelaksanaan 55
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Peralatan yang akan


digunakan:
Tongkang 230ft 1 unit
Tug Boat 1600 Hp 1 unit
80ton Crawler Crane 1 unit
Balok Pengangkat 1 unit

Manpower yang akan


digunakan
2 orang
Operator
Captain tug boat 1 orang
Tug boat Crew 2 orang

2. Pengangkutan tiang pancang ke titik


pancang
a. Tahapan Pekerjaan
: Pengangkatan tiang-tiang yang telah disambung dan diberi lapisan
pelindung
dikerjakan dengan menggunakan crane dan diletakkan diatas ponton
transport.
Titik pengangkatan tiang harus diperhatikan agar tidak
Kemudian Ponton Transport yang telah dimuati tiang, ditarik oleh
menyebabkan tiang
Tugboat
menjadi bengkok, serta lapisan pelindung menjadi cacat.
kelokasi ponton pancang yang berada pada tempat titik pancang. Dari
Ponton
Transport ini tiang diangkat menggunakan Leader pancang dan
Pengangkutan Tiang Pancang dari lokasi penumpukan ke titik pancang
diposisikan
dilakukan
dengan benar pada kedudukan titik pancang, sebelum pemancangan
dengan menggunakan ponton transport yang dilengkapi dengan crane
dimulai.
pengangkut
b. Peralatan yang
digeser dengan perahu motor mendekat ke arah ponton pancang.
digunakan:
Ponton Transport
Creane, dan
Perahu Motor
Tenaga Kerja yang :
digunakan
Operator
:
Crew Pancang
Alat yang Digunakan
Sling
Crane(Tali
Baja)
Berdasarkan tahapan-tahapan diatas,analisa terhadap waktu
maka dan
produktivitas kerja adalah sebagai berikut :
Dengan menggunakan tenaga :10 orang pekerja
2 orang
operator,dan
4
pembantu
Metode Pelaksanaan operator 56
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Produktivitas :120 M /
Hari

3. Pemancangan tiang
pancang
Setelah dilakukan pengangkatan tiangpancang ke titik pancang maka
dilakukan proses
pemancangan dengan tahapan sebagai berikut :
a. Pendekatan tahapan pelaksanaan pemancangan
sebagaimana
gambar berikut :

Metode Pelaksanaan 57
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Penentuan Titik Pancang (Pengukuran)


Tahapan Pelaksanaan Penentuan Titik
- Penentuan
Pancang : titik pancang dilakukan dengan 2 unit alat theodolit
dari arah
tegak lurus yang bersilangan. Satu unit theodolit dioperasikan dari
- darat yang
sejajar dengan baris tiang pancang trestle yang akan dipancang
sementara
satu unit theodolit dioperasikan dari arah tegak lurus berlawanan.
- Tiang pancang kemudian ditegakkan dan siap dipancang dengan
dikomando
oleh kedua surveyor, maka kru pancang akan menggerakkan posisi
ponton
pancang dengan menggunakan winch yang dihubungkan dengan
Alat taliyang
sling :
Alatpada
digunakanyangempatdigunakan
angker untuk
yangmelakukan pengukuran
tertanam kuat ke posisiadalah Theodolite
tiang pancang
sebanyak
tersebut. 2
Unit. posisi tiang telah benar (tiang pancang tegak lurus dari
Apabila
Waktudepan Pengerjaan
, posisi :
Waktu
tegak yang
lurusdibutuhkan
dari samping) untuk pekerjaan
maka pengukuran
hammer akan menyesuaikan
diturunkan untuk
dengan
membebani
waktu
kepalapengerjaan
tiang dan tiap-tiap item pekerjaan.
pemancangan dapat dimulai.
Pemancangan
Tahapan Pelaksanaan
Pemancangan
PERTAMA, : dilakukan mobilisasi Ponton Pancang, Ponton Kerja,
Ponton
Transport, Crane, Leader, Diesel Hammer dan Peralatan paralatan
pancang
lainnya. Erection peralatan pancang yang terdiri dari ponton pancang,
Crane
Diesel hammer
kapasitas 35 Ton,K Leader,
25 (untuk tiangAlat
Bak, baja)- alat penumpu, Winch dan
Peralatan pancang harus dilengkapi leader, bak dan alat
jangkar
penumpu
ponton. Kemudian ponton diposisikan pada titik pancang.
KEDUA,
Alat yangsetelah
Peralatan haruskoordinat
digunakan dapat memancang
sebagai dan arah: tegak
berikut kemiringan pancang tercapai,
dimulai
pekerjaan pemancangan SPP menggunakan alat diesel Hammer K 25.

Gambar 7 Gbr.1
Proses
Pemancangan

Metode Pelaksanaan 58
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

KETIGA, setelah semua peralatan siap, angkat tiang pancang


dengan
menggunakan crane kemudian diletakkan pada posisi vertikal dan tepat
pada
titik pemancangan sesuai dengan gambar / yang telah ditentukan.
KEEMPAT, Pemasangan Tiang Pancang Ke Leader dan kemudian
diposisikan
pada Titik Pancang dengan dipandu oleh 2 orang dengan 2
Theodolith
(Alignment) agar diperoleh posisi dan kemiringan yang akurat.
Kemudian
dilakukan pengecekan terhadap koordinat dan kemiringan titik
pemancangan,
KELIMA,
dengan carabila : posisi benar-benar sudah vertikal atau kemiringan sudah
sesuai, Mengangkat tiang pancang pada titik angkat yang
maka dapat dimulai pemukulan dengan diesel hammer yang dirakit
telah
Kontrol
dengan yang dilakukan
ditentukan.
adalah
ponton
:
untuk
Menjaga pemancangan
Selanjutnya
toleransi dilaut.penyetelan
dilakukan
pemancangan horizontalsudut/kemiringan tiang
dan vertikal sesuai
dengan SPP
RKS dengan pengadaan
Satuan progres di control dengan 2 alat theodolit
dan pemancangan dalamyang
meterdibidikan
Melakukan daripengecekan terhadap ketegakan lurusan dan kemiringan
posisi dua arah membentuk sudut 90 derajat.
KEENAM, dilakukan
tiang pancang perhitungan
sebelum antarapemukulan
dan sesudah kapasitas diesel hammer dan
dimulai.
ukuran
tiang harus diperhitungkan dengan cermat untuk tercapainya daya
dukung
yang dikehendaki. Rumus dinamis Hilley Formula lazimnya digunakan
dalam
pelaksanaan pemancangan dan dari pengalaman rumus itu
cukup teruji
dengan loading tes yang menyatakan bahwa rumus tersebut
dapat
dipertanggung jawabkan dan Hammer tidak mengalami kegagalan
dalam
daya dukung yang diperhitungkan.
KETUJUH, setelah sempurna pengukuran tiang maka pemancangan
dilakukan
Pemancangan
dengan menjatuhkan Dihentikan
Hammer Apabila :
secara kontinyu keatas helmet yang
a. Ujung Tiang telah Mencapai Rencana
terpasang
b. Telah
diatas Mencapai
kepala tiangFinal
steelSet 2,5pile.
pipe cm/10
Pelaksanaan Pemancangan tiang
Tumbukan
pancang
KEDELAPAN,
tegak atau miring pelaksanaan pemancangan
harus sedemikian Tiang akan
rupa sehingga diatur
diperoleh hasil
urutannya
sedemikian
sesuai sehingga penggunaan ponton pancang tidak
menyebabkan
dengan gambarada
rupa akan pekerjaan
rencana. tiang pancang
Alat pancang yang terhalang
yang digunakan adalahposisinya
Hammer
untuk
Diesel
dapat
Doubledilaksanakan
Acting K 25.yaitu Hal inidengan
sesuai memperhitungkan
untuk pemancangan ukuran
tiangponton
pipa
dengan
diameter
jarak
457,2antar
mm. tiang.
Hal yang perlu dilakukan adalah :
Pelaksanaan Pemancangan dilakukan sebagaimana prosedur
persiapan
pemancangan diatas pada posisi (koordinat) tiang pancang
sebagaimana
Metode Pelaksanaan
dalam gambar design. 59
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

KESEMBILAN,dilakukan Alignment atau Setting Out untuk


seluruh titik
pancang & setiap titik pancang diikat oleh 2 pasang titik ikat yang saling
tegak
lurus pada titik pancang untuk memperoleh akurasi pemancangan.
Jika terjadi : kepala tiang rusak, kedalaman pemancangan
Hal yang
kurang atau
perlu diperhatikan :
memberitahukan
lebih dari kepada Pengawas
panjang rencana. Pemancangan harus
Lapangan
dihentikan
Semua pemancangan
& harus dihadiri oleh Pengawas Lapangan
Setiap pemancangan harus diadakan pencatatan waktu, jumlah
pukulan&
Pencatatan pemancangan
tinggi penurunan (pile Driving Record/Kalendering)
tiang pancang
dilakukan
selama operasi pemancangan berlangsung.

Gambar 8Pelaksanaan pencatatan


kelendering
KESEPULUH, Bila tiang rusak atau keluar dari posisi melebihi
batastoleransi
maka tiang tersebut harus dicabut & diganti dengan tiang yang
Baikpada
posisinya. Jika tidak mungkin pada posisinya, dengan izin pengawas
maka
tiang dipancang sedekat mungkin atau dipancang tiang tambahan.
KESEBELAS, dilakukan pencatatan pada setiap pemancangan
dalam Form
Pencatatan Hasil Pemancangan, seperti form berikut :

Metode Pelaksanaan 60
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

KEDUABELAS, dilakukan penghitungan daya dukung tiang


digunakan rumus
daya dukung dinamis dari Hilley (Hilley Formula). Angka
keamanan
akan tetap =
digunakansebagai
3 control pemancangan
Perhitungan
digunakan padadaya dukung
rumus Hilley tiang
untuk sesuai rumus KOBE.
diesel Hammer Hilley Rumus
tersebut
berdasarkan
tersebut
diatas kalenderingakan dilaporkankepada perencana
pada
selanjutnya.
pemancangan pertama untuk dilakukan evaluasi sebagai dasar
pelaksanaan Wr x h 1
Rumus : selanjutnya.
pemancangan P= x
S + 2,54Fk

Ket. P = Daya dukung


Wr = Berat Hammer ( ton )
tanah
H = Tinggi Jatuh Hammer
S = Penetrasi Per 10x Pukulan
Fk = (cm)
Faktor Keamanan (3)
Pencatatan untuk daya dukung tiang digunakan Tabel Rekaman
Pemancangan
dimana didalamnya tercantum: data alat (Jenis tipe Hammer,
berat total
Hammer, berat ram, tinggi jatuh ram), data tiang (no.tiang, diameter,
penjang
benaman / penetrasi tiang akibat berat sendir
tiang, elevasi,
benaman posisi
tiang olehtiang, tanggal dan waktu pancang). Tabel
berat Hammer
Rekaman
benaman per interval jumlah pukulan atau sebaliknya jumlah
Pemancangan
pukulan menunjukkan hubungan :
interupsi
per panjang
dalam
benaman.
pemancangan
jumlah pukulan dari awal sampai akhir
sifat perlawanan tanah atau rebound
tinggi jatuh ram pada saat pemancangan / final
setting
Perhitungan Waktu dan Produktivitas
Pemancangan
Pemancangan Tiang
Pancang
PERALATA DIESEL CRAWEL PONTON JUMLAH
TENAGA N HAMERKUANTITAS
SATUAN CRANE KUANTITAS
SATUAN PANCANGKUANTITAS
SATUAN ALAT TENAGA
HARI 0.0417 HARI 0.0417 HARI 0.0417 3 UNIT
- Operator alat OH 1.000 OH 1.000 OH 1.000 3.00
berat OH 2.000 OH 2.000 OH 2.000 6.00
- Pembantu 0.000
OH 10.000 OH OH 10.000 20.00
Operator 29.00
JUMLAH 3 UNIT
- Pekerja

Dengan menggunakan tenaga 20 orang pekerja, 3 orang


operator dan 6
operator
pembantu
Produktifitas : 40 M /
Hari

Metode Pelaksanaan 61
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Peralatan yang
digunakan
1. Ponton : 4. Pilling
Pancang Leader
2. Crawel Crane 5. Tug Boat
3. Diesel Hammer 6. Theodolite

4. Penyambungan tiang
pancang
a. Tahapan Penyambungan Pipa
Tahapan penyambungan pipa dilakukan sebagaimana urutan gambar di
bawah ini.

Gbr : Proses
Gbr :Pengepasan posisi tiang pengelasan
yang
telah terpancang dengan
yang akan disambung

Tahapan pelaksanaan pekerjaan penyambungan pipa dilakukan di darat


sehingga Gbr :Tiang yang telah
tersambung
diperoleh tiang dengan panjang 24 meter. Hal ini dilakukan dengan
Penjelasan Tahapan
pertimbangan sebagai
berikut :
panjang Leader dari Ponton panjang yang ada dan kedalaman air
dilokasi
sehingga memungkinkan pelaksanaan pemancangan tiang dengan
panjang 24
meter.
Penyambungan dilakukan oleh ahli las yang berpengalaman dengan
memenuhi
ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam syarat-syarat spesifikasi
teknis
(Welding Procedure Specification WPS).
Penyambungan tiang pipa ini akan dilengkapi dengan Backing Strips
dengan
ukuran 75 mm x 5 mm pada bagian dalam ujung pipa yang akan di
sambung.
Penyambungan tiang pipa ini akan dilakukan juga di laut setelah
pemancangan
tiang 24 meter dengan persyaratan penyambungan yang sama.
Pipa-pipa yang telah disambung kemudian dites pengelasan
penyambungannya
dengan persyaratan bahwa semua sambungan harus kuat dan tidak
Metode Pelaksanaan 62
bocor.
Beberapa tiang dapat dipilih secara acak untuk dites dengan radiograf
dan hasil
tesnya akan dilaporkan kepada pengawas.
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Cara Pelaksanaan Penyambungan Tiang


Penyambungan tiang pancang sebagai
Pancang
berikut :
- Penyambungan tiang pancang SPP dilakukan dengan Las di sekeliling
pertemuan
kedua plat ujung dengan melakukan pengecekan ulang yaitu :
Sambungan
Koordinat tiang pancang
las
Penyimpangan Max pada penyambungan 5 mm
- Penyambungan tiang pancang SPP akan dilaksanakan dengan
menggunakan
Manual Welding Machine (SMAW), yang mana prosedur penyambungan
sebagai
o Pekerjaan Persiapan : Kedua ujung pipa yang akan dilas diasah
berikut
untuk:
o mengeluarkan kerak air, korosi, amplas biji besi. Ujung pipa dibevel.
o Pemasangan plat back ing/backing strips
Pekerjaan pengelasan : dilakukan oleh tukang las (Welder) yang
o Lapisan 1 (a root pass) : diisi las shield metal arch welding (SMAW)
bersertifikat
dengan low
yang disetujui engineer
o hydrogen type electrode Tipe RD-360 AWS a5. dia 2.6 3.2 mm.
Lapisan selanjutnya seperti point a dengan menggunakan diameter
kawat 4
mm, kecepatan pengelasan harus disesuaikan sehingga
5. Pemotongan
sambungan las tiang
pancang
seragam.
a) Tahapan pelaksanaan
pemotongan :
Lakukan Pengukuran untuk menentukan Elevasi dimana tiang harus
dipotong lalu
diberi tanda
Setelah dengan
Elevasi cat pancang ditentukan maka lakukan
tiang
pemotongan tiang
pancang baja dengan menggunakan blender pemotong.
Hasil Pemotongan harus rata dan rapi.
Agar sisa potongan tiang pancang tidak jatuh kelaut , tiang yang akan
terpotong
Pemotongan Ujung Atas Tiang Pancang Harus Sesuai Dengan Cutting
diikat
Pile di dengan sling baja
Gambar Rencana
b) Peralatan pelaksanaan
pemotongan
- Blender :
- Bahan
pemotonguntuk proses pemotongan : Oxygen dan Gas
Setelah
Elpiji dipancang semua tiang dipotong pada elevasi sesuai gambar
design.
Potongan-potongan tiang baik didarat maupun yang didalam air
yang tidak
c) Perhitungan Waktu
terpakai lagi akan dan
dibuang keluar dari lokasi proyek, sesuai petunjuk
Produktivitas
pengawas.
Tenaga PENGELASA
Sat TENAGA
kerja N
BUAH 36.00
-Tukang: Las OH 0.300 0.77 1.00
- Pekerja OH 0.600 1.54 2.00
JUMLAH 3.00

Metode Pelaksanaan 63
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Dengan menggunakan tenaga 1 orang tukang las, dan2 orang


pekerja maka
pekerjaan pemotongan pipa pancang di trestle dengan total volume
pemotongan 56
buah akan dapat diselesaikan dalam waktu 5 Minggu.
6. Plat Penutup
tiang
a. Tahapan pelaksanaan
pemotongan :
Lakukan Pengukuran untuk menentukan diameternya.
Setelah ditentukan maka lakukan pemotongan pelat baja dengan
menggunakan
blender
Hasil Pemotongan
pemotong.harus rata dan rapi.
Lalu pasang di besi tulangan yang telah di
rangkai.
b. Peralatan pelaksanaan
pemotongan :
- Blender pemotong
- Bahan untuk proses pemotongan : Oxygen dan Gas
Elpiji
c. Bahan yang
digunakan
Plat besi: dengan ketebalan 10
mm

Gbr. Plat Baja yang sudah di Gbr. Memasang plat baja di


potong tulangan

F. Breasting Dolphin ( 3 Buah )

Gbr. 16 :
3 (tiga) buah Breasting Dolphin
Dermaga Penyeberangan

Metode Pelaksanaan 64
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

1. Beton Isian Tiang


f) Beton isian tiang menggunakan beton mutu K-225
g) Pelaksanaannya sesuai ukuran yang ada dalam gambar rencana yaitu
setinggi 1,8 m.
h) Pembesian dirakit diluar sesuai gambar, dengan bagian ujung bawah tulangan
dilas pada besi pelat t = 10 mm sehingga dapat berfungsi sebagai bekesting
dasar.
i) Pengecoran beton dilakukan dengan menggunakan tremi agar tidak terjadi
segregasi beton.
j) Pengisian tiang pancang dengan beton diawali dengan penutupan tiang
dengan plat baja (Concrete Stopper) yang digantung / dilas pada ujung bagian
bawah tulangan isian , setelah besi tulangan isian dimasukkan maka
selanjutnya dapat dilakukan pengecoran adukan beton.
Tahapan Pelaksanaan :

Proses ini dilaksanakan setelah pipa pancang terpancang secara


keseluruhan, kemudian dengan memberikan tulangan baja sebagai
struktur tarik dan sebagai stek pengikat poer, dilanjutkan dengan
pemberian adukan campuran beton K-225.

Pembentukan Besi Tulangan.( Sesuai Gambar Rencana )

Gambar 23 Beton Isian


Tiang
Pengelasan Concrete Stopper Pada Besi Tulangan

Semua ukuran yang dipergunakan di dalam pelaksanaan haruslah


mengacu kepada Gambar Kerja yang telah ditetapkan dan disetujui
oleh Pengawas Pekerjaan.

Pembuatan campuran adukan beton didasarkan pada Mix Desain


yang telah dibuat terlebih dahulu melalui proses laboratorium,
untuk
campuran K-225 digunakan perbandingan berat masing-masing

Metode Pelaksanaan 65
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

material antara Semen : Pasir : Batu Pecah, dimana dalam 1 M3


campuran beton digunakan Portland Cement Type I - 50 kg.

Semua material yang digunakan haruslah sudah di setujui oleh


pengawas pekerjaan sebelum diterapkan dilapangan dan juga
mengacu pada peraturan-peraturan yang ditetapkan di dalam RKS
dan Gambar Kerja.

Untuk masing-masing item pekerjaan yang menggunakan campuran
beton K-225 haruslah dibuatkan sempel beton untuk pengujian kuat
tekan beton. Jumlah sample yang disediakan untuk tiap seri
pengetesan sebanyak 10 (Sepuluh) buah dengan nilai maximum
Slump 7 cm.
Peralatan yang
digunakan:
Isian Tiang :
Pembesian
1. Blender Pemotong
2. Pembengkok besi tulangan
3. Tang
4. Kakatua (Gegep)
Pembetonan
1. Concrete Mixer
2. Sekop
3. Sendok semen

2. Beton Selimutan Tiang


e) Beton isian tiang menggunakan beton mutu K-225
f) Pelaksanaannya sesuai ukuran yang ada dalam gambar rencana
g) Pembesian dirakit diluar sesuai gambar, dengan bagian ujung bawah tulangan
dilas pada besi pelat t = 10 mm sehingga dapat berfungsi sebagai bekesting
dasar.
h) Pengecoran beton dilakukan dengan menggunakan tremi agar tidak terjadi
segregasi beton.
.
a. Tahapan Pelaksanaan
:
Proses ini dilaksanakan setelah pipa pancang terpancang secara
keseluruhan, kemudian dengan memberikan tulangan baja sebagai

Metode Pelaksanaan 66
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

struktur tarik dan sebagai stek pengikat poer, dilanjutkan


dengan
pemberian adukan campuran beton K-225.
Pembentukan Besi Tulangan.( Sesuai Gambar Rencana )

Pengelasan Concrete Stopper Pada Besi Tulangan

Semua ukuran yang dipergunakan di dalam pelaksanaan haruslah


mengacu kepada Gambar Kerja yang telah ditetapkan dan disetujui
oleh Pengawas Pekerjaan.

Pembuatan campuran adukan beton didasarkan pada Mix Desain


yang telah dibuat terlebih dahulu melalui proses laboratorium,
untuk
campuran K-225 digunakan perbandingan berat masing-masing
material antara Semen : Pasir : Batu Pecah, dimana dalam 1 M3
campuran beton digunakan Portland Cement Type I - 50 kg.
Semua material yang digunakan haruslah sudah di setujui oleh
pengawas pekerjaan sebelum diterapkan dilapangan dan juga
mengacu pada peraturan-peraturan yang ditetapkan di dalam RKS
dan Gambar Kerja.

Untuk masing-masing item pekerjaan yang menggunakan campuran
beton K-225 haruslah dibuatkan sempel beton untuk pengujian kuat
tekan beton. Jumlah sample yang disediakan untuk tiap seri
pengetesan sebanyak 10 (Sepuluh) buah dengan nilai maximum
Slump 7 cm.
Peralatan yang
digunakan:
Isian Tiang :
Pembesian
1. Blender Pemotong
2. Pembengkok besi tulangan
3. Tang
4. Kakatua (Gegep)
Pembetonan
1. Concrete Mixer
2. Sekop
3. Sendok semen

Metode Pelaksanaan 67
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

3. Tiang Pancang
Tahapan ini dilaksanakan dengan ketentuan yang telah ditetapkan pada
persyaratan bahan pada RKS, diawali dengan pemesanan Pipa Pancang Baja
Dia. 508mm ; T = 12 mm. Pipa Baja di produksi di Jakarta, sehingga
pengadaannya memerlukan transportasi melewati laut dengan menggunakan
tongkang yang ditarik tug boat. Proses pekerjaanya akan dilakukan seperti terlihat
pada bagan berikut ini.

a. Tahapan Pelaksanaan Pengadaan


Pipa
Setelah disetujui oleh owner, produk tiang pancang yang disetujui sesuai
spesifikasi teknis dari pabrik di angkut menggunakan truk ke pelabuhan
terdekat.
Kemudian ini
Pekerjaan diteruskan
dimulai dengan
dengan kapal ke pelabuhan.
melakukan pengadaan koil / lembaran baja dengan
ketebalan yang akan memenuhi ketebalan rencana pada saat menjadi pipa.
Setelah itu pipa akan difabrikasi sesuai dengan petunjuk pelaksanaan ASTM A
252. Merupakan standar untuk pipa dengan fungsi umum (general purpose),
dalam hal ini akan digunakan sebagai fondasi tiang pancang pada bangunan
fasilitas pelabuhan laut.
Dengan kesesuaian pada proses fabrikasi yang merujuk kepada ASTM A 252,
sehingga pada setiap prosesnya tidak akan mengurangi kualitas baja. Jika dilihat
dari sifat-sifat fisik, mekanis dan komposisi kimianya
Dalam pekerjaan fabrikasinya dapat dilihat seperti gambar dibawah, prosesnya
diawali dengan membuka baja plat gulung ,dengan ketebalan sesuai pesanan,
lalu di rekonstruksi menjadi pipa yang dilengkungkan secara spiral lalu dilas untuk
disambungkan sehingga menjadi pipa utuh yang siap untuk dipotong sesuai
dengan pesanan pengguna jasa. Pada saat pengelasan pipa dilakukan inspeksi
NDT (Non Destructive Test).

Metode Pelaksanaan 68
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Gambar 9 Metode Fabrikasi


Baja
b. Fabrikasi
Setelah fabrikasi selesai maka setiap pengelasan penyambungan pembentuk pipa
baja diperiksa oleh quality control dengan Metoda NDT (Non Destructive Test).
Merupakan salah satu teknik mengujian material tanpa merusak benda ujinya.
Pengujian dapat mendeteksi secara dini timbulnya crack atau flaw pada material
secara dini, tanpa menunggu material tesebut gagal ditengah operasinya. Dari
tipe
keberadaan crack pada material NDT dapat dibedakan dalam 2 macam, yaitu:
surface crack dan inside crack. Pada saat pengujian maka harus sudah ditentukan
dahulu targetnya (misal surface crack atau inside crack), baru digunakan metoda
NDT yang
Untuk tepat.
inside crack ada 3 metoda yang dapat digunakan, yaitu:
4. Radiography,dengan menggunakan sinarX untuk mendapatkan
gambaran dalam material. Prinsipnya sama dengan sinar X yang
digunakan untuk tubuh manusia, tetapi panjang gelombang yang
digunakan berbeda (lebih pendek).
5. Ultrasonics, dengan menggunakan gelombang ultrasonic dengan frequensi
antara 0.1 ~ 15 Mhz. Prinsipnya, gelombang ultrasonic dipancarkan dalam
material dan gelombang baliknya atau gelombang yang sampai di sisi yang
lain di bandingkan dengan kecepatan suara dari material itu sendiri untuk
mendapatkan gambaran posisi dari crack.
6. Accustic emmision, (sorry saya nggak bisa jelaskan tentang hal ini)

Untuk surface crack ada beberapa metoda yang dapat digunakan, yaitu:

Metode Pelaksanaan 69
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

5. Visual Optical, melihat/mencari crack yang berada dipermukaan material


dengan bantuan optik.
6. Liquid Penetrant, yaitu dengan menyemprotkan/mengulaskan cairan
berwarna pada permukaan material. Pada prinsipnya teknik ini untuk
mempermudah penglihatan saja.
7. Magnetic Particles, cara ini dengan menggunakan serbuk magnetik yang di
sebarkan dipermukaan benda uji. Pada saat crack ada dalam pembukaan
benda uji, maka akan terjadi kebocoran medan magnit di sekitar posisi
crack, sehingga dengan mudah akan bisa dilihat oleh mata. Setelah
pengujian magnetic, maka benda uji akan menjadi bersifat magnet, karena
pengaruh serbuk magnet tersebut, maka untuk menghilangkan effek itu
digunakan metoda demagnetization (proses menghilangkan medan
magnet pada benda uji), salah satu caranya dengan menggunakan
hammering (benda uji dipikul dengan hammer, sehingga timbul getaran
yang akan melepaskan partikel magnet)
8. Eddi current, prisipnya hampir sama dengan teknik medan magnet,
tetapi
disini medan listrik yang dipancarkan dari arus listrik bolak-balik, ketika ada
crack maka medan listrik akan berubah dan perubahannya itu akan
terbaca pada alat pengukur impadance. Prinsip ini erat kaitannya dengan
impedansi, maka alirnya sangat dipengruhi oleh jarak antara benda uji
dengan alat ukurnya.

c. Pengecekan
Dimensi
Berikut merupakan aspek-aspek minimal yang dipertahankan pada saat
proses fabrikasi, sesuai dengan syarat ASTM A 252.
Komposisi Kimia
C: 0.30 % max; Si = 0,35 max.

P: 0,04 % max; Mn 0.30 1.00

S: 0.04 % max.

Sifat sifat mekanis

Kekuatan tarik : 42,2 kg/mm2 atau lebih Grade X-46


Yield Point : 32 kg/mm2 atau
lebih
Perpanjangan
: 15 % atau lebih

Metode Pelaksanaan 70
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Toleransi profil pipa pancang

Tinjauan Dimensi Spesifikasi Toleransi


Maks Min
Diameter 508 mm 508 mm
Ketebalan 12 mm 11.3 mm
Panjang 16 m 0

Lenturan 0.1% Panjang -


Coating 600 micron 600 micron
Diameter (dengan Coating) 457.8 mm 457.8 m
Tebal (dengan Coating) 12.6 mm 11.9 mm

508 mm
457.8 mm

Keterangan:
: Baja
508 mm : Coating

Pipa yang akan digunakan pada proses pengadaan, akan dibedakan menurut
panjangnya yang antara lain 16 m. Akan tetapi guna kecepatan produksi akan
lebih baik jika hanya melakukan produksi satu jenis panjang pipa yaitu pipa 16
m.

d. Pengecatan Perlindungan
Korosi

Lingkungan laut biasanya dibagi dalam zona atmosfir laut, zona percikan, zona
pasang surut, zona tenggelam dan zona lumpur. Jenis-jenis korosi atmosfir
secara kasar dapat dibagi dalam empat klas utama berdasarkan pada kondisi
keadesifan kelembaban permukaan baja. Klas I menunjukkan "Korosi atmosfir
kering", Klas II "Korosi atmosfir lembab", Klas III, IV "Korosi atmosfir basah".
Korosi atmosfir laut terjadi sebagian besar pada Klas II dan III, dan bisanya
dipengaruhi oleh semprotan laut (terutama NaCI dan MgC12).Disamping itu,

Metode Pelaksanaan 71
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

ada kasus dimana korosi baja dipercepat dengan adanya gas SO2 disekitar
daerah industri.
Daerah percikan adalah lingkungan yang mempunyai sifat korosi sangat tinggi
karena adanya udara bersamaan dengan percikan. Kecenderungan korosi
baja di daerah pasang surut dan di daerah air laut akan berbeda tergantung
pada bentuk-bentuk kepingan baja, yaitu, terpisah atau tersambung. Hal
ini
sangat penting untuk korosi pada struktur baja karena biasanya terbuat
dari
bahan baja yang panjang.

Gambar 10 Diagram Penetrasi Korosi Pada


Pipa
Tindakan perlindungan dari pengecatan adalah berupa dua hal di bawah ini :
1) Mengurangi arus korosi dengan menutup sel korosi dengan lapisan
film yang mempunyai tahanan listrik tinggi.
2) Meningkatkan polarisasi reaksi elektroda dengan tindakan pigmen
anti-karat.

Pengecatan adalah pada awalnya, bukan merupakan cara anti karat yang
abadi, tetapi pada hakekatnya dianggap sebagai pengecatan ulang secara
periodik. Penyebab utama kerusakan film cat adalah tindakan cahaya matahari
dan reaksi korosi di bawah film.Sinar ultraviolet merangsang molekul film cat
dan mempercepat reaksi oksidasinya. Ion hidroksil, OFF, yang merupakan
hasil reaksi katodik dalam larutan netral dengan oksigen cair, memperlunak
lapisan film di katoda dan membuat sifat adesif antara lapisan film
dan
permukaan baja menjadi semakin buruk. Demikian juga, sebagian besar film
jika bersentuhan dengan larutan air, lapisan ganda elektrik, maka bagian yang
padat akan mengeluarkan listrik negatif dan fase cair mengeluarkan
listrik
Metode Pelaksanaan 72
positif. Sebagai akibatnya, air masuk kedalam bagian katodik melalui reaksi
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

elektro-osmosa arus korosi dan pecahan-pecahan alkalin berukuran besar


akan dengan mudah dihasilkan balk oleh masuknya air maupun oleh reaksi
alkali.

Ketiga hal berikut ini sangat berpengaruh pada keawetan film : (a) persiapan
permukaan, (b) ketebalan film, (c) pengecatan. Persiapan permukaan dan
pengecatan hendaknya dilakukan sesuai dengan spesifikasi dari masing-
masing sistem pengecatan. Jika keduanya dikerjakan dengan berhati-hati,
maka keawetan film akan tergantung penuh pada ketebalan film. Karena
lingkungan korosi memerlukan cat yang mempunyai kemampuan dan
keawetan tinggi untuk struktur laut. Cat-cat seperti itu terdiri dari cat yang
kaya
Zinc dan berjenis cat film tebal, dan biasanva disebut sistem pengecatan
perlindungan berat. Ketebalan film total sistem ini adalah sekitar 250 sampai
350
Oleh karena
pada zona atmosfirpenggunaan
itu melihat laut. dari pipa akan digunakan pada daerah
lingkungan laut maka pada 8 m awal pada sebagian pipa dengan panjang 16
m akan dilakukan pengecatan dengan cat anti korosi.

Metode Pelaksanaan 73
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

8m
Pengecatan dengan
epoxy

Batas Pipa Pengadaan


16 m

16 m

Gambar 11 Ilustrasi Pemotongan Tiang Pancang dan Pengecatan Anti


Karat

Metode Pelaksanaan 74
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Gambar 12 Diagram Alur Pekerjaan Pengadaan


Pipa

Metode Pelaksanaan 75
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Dalam penyimpanan pipa baja harus diambil langkah-langkah yang tepat untuk
melindungi pipa baja menjadi bengkok, cacat-cacat permanen. Pada waktu
transportasi, semua pipa baja harus diperlakukan sedemikian sehingga tidak
terjadi pelengkungan-pelengkungan yang besar. Pipa baja tidak boleh
ditumpuk lebih dari 3.5 m dan balok-balok penumpunya ditempatkan
diantara
lapisan dengan jarak antara sebesar 4.0 m.

< 3 .5 m

<4m <4m <4m <4m

Gambar 2.3 Penyimpanan Tiang


baja

Ukuran standar balok, kayu penumpu adalah 10 x 10 cm2 (Gambar 3) Dimana


ada kemungkinan profil baja
melendut, maka harus segera dilakukan
penumpukan/pengaturan kembali.

10 x 10 cm
2

Metode Pelaksanaan 76
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

e. Penandaan dan
Label
Label digunakan untuk mengenali bahwa pipa telah lulus verifikasi QA/QCdan
diberi tanda pass, label berupa kode : tanggal produksi, kode produksi,
nama proyek ; sehingga mempermudah untuk erection. Selain itu setiap pipa
yang sudah selesai tahapan akan diberikan tanda pada setiap interval 50 cm
dan 100 cm yang dimulai dari kaki tiang agar dapat diketehui panjang
tiang
terpancang.

Gambar 2.4 Penandaan Pada Tiang


Pancang

f.
Pengangkutan
3) Setelah disetujui oleh owner, produk tiang pancang yang disetujui
sesuai spesifikasi teknis dari pabrik di di angkut dari stock yard.
4) Dari stock yard , produk yang siap dikirim diangkut dengan
menggunakan tronton sesuai dengan kapasitas. Pengangkutan
product dari stock yard ke dalam bak tronton rnenggunakan
mobile crane.
Diatas bak tronton, produk diberi alat pengganjal pada titik-titik
tumpu
produk dengan arah melintang. Alat pengganjal dapat berupa balok kayu
Sfl.
Dan untuk menjaga kestabilan pada saat pengiriman, product yang telah
tersusun sesuai dengan kapasitas tronton, diikat dengan menggunakan
seling baja yang dikaitkan ke bak tronton, seperti terlihat pada gambar

Metode Pelaksanaan 77
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

dibawah ini, yang selanjutnyakan akan diangkut kedalam pontoon angkut atau
kapal kargo untuk dibawa ke lokasi.

Gambar 13 Proses Pengangkutan dan Transportasi Pipa ke


Lokasi
Pekerjaan

Metode Pelaksanaan 78
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Terdapat 2 pilihan lapangan penumpukan pada lokasi pekerjaan, yaitu di area


dermaga baru dan area darat pelabuhan.
Setibanya dilokasi Proyek, maka Pipa Pancang akan ditumpuk di areal
penumpukan ( jika kondisi areal lokasi memungkinkan ) jika
tidak,
maka pipa pancang akan di tumpuk di atas Ponton Transport. Akan
tetapi penumpukan akan lebih baik jika ditumpuk di areal Dermaga
baru, dengan keuntungan mempermudah mobilisasi pada proses
pemancangan pada tahap berikutnya.

Jika lokasi penumpukan yang digunakan adalah areal darat, maka hal-
hal yang harus diperhatikan adalah alat pengangkut yang kemungkinan
hanya bisa peralatan traditional. Karena menurut pengalaman dan
pemahaman lokasi, tidak terdapat alat berat yang bisa
digunakan
seperti mobile crane, yang dapat memobilisasi pipa baja dari dermaga
menuju ke area penumpukan sementara di darat.
o Lokasi penumpukan material harus memiliki drainase yang baik
serta tidak mudah amblas karena berat dari tiang pancang itu
sendiri, bila perlu lokasi penumpukan diperbaiki terlebih dahulu
kondisi tanahnya dengan memberikan lapisan gravel atau diberi
bantalan kayu yang kuat.
o Proses penumpukan dikerjakan berdasarkan grup ( diameter )
dan nomer tiang.
o Tiang harus ditumpuk sedemikian rupa sehingga tidak
mengalami perubahan bentuk fisik. Maka dari itu Tiang diberi
kayu ganjalan berukuran 10 cm untuk setiap jarak 4 m diantara
tiang dan permukaan tanah dan dilapisan paling bawah
tumpukan tiang maksimum adalah 3 lapisan atau setinggi 2
meter.
o Jarak antara tiang 1 dan lainnya adalah 10-20 cm untuk
memberikan ruang gerak pemasangan dan pelepasan tali baja
dan untuk mencegah terjadinya kecelakaan selama proses
pengangkatan tiang.
o Untuk mencegah runtuhnya tumpukan tiang disarankan
memakai ganjal kayu (skid).

Metode Pelaksanaan 79
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Peralatan yang akan


digunakan:
Tongkang 230ft 1 unit
Tug Boat 1600 Hp 1 unit
80ton Crawler Crane 1 unit
Balok Pengangkat 1 unit

Manpower yang akan


digunakan
2 orang
Operator
Captain tug boat 1 orang
Tug boat Crew 2 orang

4. Pengangkutan tiang pancang ke titik


pancang
c. Tahapan Pekerjaan
: Pengangkatan tiang-tiang yang telah disambung dan diberi lapisan
pelindung
dikerjakan dengan menggunakan crane dan diletakkan diatas ponton
transport.
Titik pengangkatan tiang harus diperhatikan agar tidak
Kemudian Ponton Transport yang telah dimuati tiang, ditarik oleh
menyebabkan tiang
Tugboat
menjadi bengkok, serta lapisan pelindung menjadi cacat.
kelokasi ponton pancang yang berada pada tempat titik pancang. Dari
Ponton
Transport ini tiang diangkat menggunakan Leader pancang dan
Pengangkutan Tiang Pancang dari lokasi penumpukan ke titik pancang
diposisikan
dilakukan
dengan benar pada kedudukan titik pancang, sebelum pemancangan
dengan menggunakan ponton transport yang dilengkapi dengan crane
dimulai.
pengangkut
d. Peralatan yang
digeser dengan perahu motor mendekat ke arah ponton pancang.
digunakan:
Ponton Transport
Creane, dan
Perahu Motor
Tenaga Kerja yang :
digunakan
Operator
:
Crew Pancang
Alat yang Digunakan
Sling
Crane(Tali
Baja)
Berdasarkan tahapan-tahapan diatas,analisa terhadap waktu
maka dan
produktivitas kerja adalah sebagai berikut :
Dengan menggunakan tenaga :10 orang pekerja
2 orang
operator,dan
4
pembantu
Metode Pelaksanaan operator 80
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Produktivitas :120 M /
Hari

5. Pemancangan tiang
pancang
Setelah dilakukan pengangkatan tiangpancang ke titik pancang maka
dilakukan proses
pemancangan dengan tahapan sebagai berikut :
b. Pendekatan tahapan pelaksanaan pemancangan
sebagaimana
gambar berikut :

Metode Pelaksanaan 81
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Penentuan Titik Pancang (Pengukuran)


Tahapan Pelaksanaan Penentuan Titik
- Penentuan
Pancang : titik pancang dilakukan dengan 2 unit alat theodolit
dari arah
tegak lurus yang bersilangan. Satu unit theodolit dioperasikan dari
- darat yang
sejajar dengan baris tiang pancang trestle yang akan dipancang
sementara
satu unit theodolit dioperasikan dari arah tegak lurus berlawanan.
- Tiang pancang kemudian ditegakkan dan siap dipancang dengan
dikomando
oleh kedua surveyor, maka kru pancang akan menggerakkan posisi
ponton
pancang dengan menggunakan winch yang dihubungkan dengan
Alat taliyang
sling :
Alatpada
digunakanyangempatdigunakan
angker untuk
yangmelakukan pengukuran
tertanam kuat ke posisiadalah Theodolite
tiang pancang
sebanyak
tersebut. 2
Unit. posisi tiang telah benar (tiang pancang tegak lurus dari
Apabila
Waktudepan Pengerjaan
, posisi :
Waktu
tegak yang
lurusdibutuhkan
dari samping) untuk pekerjaan
maka pengukuran
hammer akan menyesuaikan
diturunkan untuk
dengan
membebani
waktu
kepalapengerjaan
tiang dan tiap-tiap item pekerjaan.
pemancangan dapat dimulai.
Pemancangan
Tahapan Pelaksanaan
Pemancangan
PERTAMA, : dilakukan mobilisasi Ponton Pancang, Ponton Kerja,
Ponton
Transport, Crane, Leader, Diesel Hammer dan Peralatan paralatan
pancang
lainnya. Erection peralatan pancang yang terdiri dari ponton pancang,
Crane
Diesel hammer
kapasitas 35 Ton,K Leader,
25 (untuk tiangAlat
Bak, baja)- alat penumpu, Winch dan
Peralatan pancang harus dilengkapi leader, bak dan alat
jangkar
penumpu
ponton. Kemudian ponton diposisikan pada titik pancang.
KEDUA,
Alat yangsetelah
Peralatan haruskoordinat
digunakan dapat memancang
sebagai dan arah: tegak
berikut kemiringan pancang tercapai,
dimulai
pekerjaan pemancangan SPP menggunakan alat diesel Hammer K 25.

Gambar 14 Gbr.1
Proses
Pemancangan

Metode Pelaksanaan 82
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

KETIGA, setelah semua peralatan siap, angkat tiang pancang


dengan
menggunakan crane kemudian diletakkan pada posisi vertikal dan tepat
pada
titik pemancangan sesuai dengan gambar / yang telah ditentukan.
KEEMPAT, Pemasangan Tiang Pancang Ke Leader dan kemudian
diposisikan
pada Titik Pancang dengan dipandu oleh 2 orang dengan 2
Theodolith
(Alignment) agar diperoleh posisi dan kemiringan yang akurat.
Kemudian
dilakukan pengecekan terhadap koordinat dan kemiringan titik
pemancangan,
KELIMA,
dengan carabila : posisi benar-benar sudah vertikal atau kemiringan sudah
sesuai, Mengangkat tiang pancang pada titik angkat yang
maka dapat dimulai pemukulan dengan diesel hammer yang dirakit
telah
Kontrol
dengan yang dilakukan
ditentukan.
adalah
ponton
:
untuk
Menjaga pemancangan
Selanjutnya
toleransi dilaut.penyetelan
dilakukan
pemancangan horizontalsudut/kemiringan tiang
dan vertikal sesuai
dengan SPP
RKS dengan pengadaan
Satuan progres di control dengan 2 alat theodolit
dan pemancangan dalamyang
meterdibidikan
Melakukan daripengecekan terhadap ketegakan lurusan dan kemiringan
posisi dua arah membentuk sudut 90 derajat.
KEENAM, dilakukan
tiang pancang perhitungan
sebelum antarapemukulan
dan sesudah kapasitas diesel hammer dan
dimulai.
ukuran
tiang harus diperhitungkan dengan cermat untuk tercapainya daya
dukung
yang dikehendaki. Rumus dinamis Hilley Formula lazimnya digunakan
dalam
pelaksanaan pemancangan dan dari pengalaman rumus itu
cukup teruji
dengan loading tes yang menyatakan bahwa rumus tersebut
dapat
dipertanggung jawabkan dan Hammer tidak mengalami kegagalan
dalam
daya dukung yang diperhitungkan.
KETUJUH, setelah sempurna pengukuran tiang maka pemancangan
dilakukan
Pemancangan
dengan menjatuhkan Dihentikan
Hammer Apabila :
secara kontinyu keatas helmet yang
a. Ujung Tiang telah Mencapai Rencana
terpasang
b. Telah
diatas Mencapai
kepala tiangFinal
steelSet 2,5pile.
pipe cm/10
Pelaksanaan Pemancangan tiang
Tumbukan
pancang
KEDELAPAN,
tegak atau miring pelaksanaan pemancangan
harus sedemikian Tiang akan
rupa sehingga diatur
diperoleh hasil
urutannya
sedemikian
sesuai sehingga penggunaan ponton pancang tidak
menyebabkan
dengan gambarada
rupa akan pekerjaan
rencana. tiang pancang
Alat pancang yang terhalang
yang digunakan adalahposisinya
Hammer
untuk
Diesel
dapat
Doubledilaksanakan
Acting K 25.yaitu Hal inidengan
sesuai memperhitungkan
untuk pemancangan ukuran
tiangponton
pipa
dengan
diameter
jarak
457,2antar
mm. tiang.
Hal yang perlu dilakukan adalah :
Pelaksanaan Pemancangan dilakukan sebagaimana prosedur
persiapan
pemancangan diatas pada posisi (koordinat) tiang pancang
sebagaimana
Metode Pelaksanaan
dalam gambar design. 83
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

KESEMBILAN,dilakukan Alignment atau Setting Out untuk


seluruh titik
pancang & setiap titik pancang diikat oleh 2 pasang titik ikat yang saling
tegak
lurus pada titik pancang untuk memperoleh akurasi pemancangan.
Jika terjadi : kepala tiang rusak, kedalaman pemancangan
Hal yang
kurang atau
perlu diperhatikan :
memberitahukan
lebih dari kepada Pengawas
panjang rencana. Pemancangan harus
Lapangan
dihentikan
Semua pemancangan
& harus dihadiri oleh Pengawas Lapangan
Setiap pemancangan harus diadakan pencatatan waktu, jumlah
pukulan&
Pencatatan pemancangan
tinggi penurunan (pile Driving Record/Kalendering)
tiang pancang
dilakukan
selama operasi pemancangan berlangsung.

Gambar 15Pelaksanaan pencatatan


kelendering
KESEPULUH, Bila tiang rusak atau keluar dari posisi melebihi
batastoleransi
maka tiang tersebut harus dicabut & diganti dengan tiang yang
Baikpada
posisinya. Jika tidak mungkin pada posisinya, dengan izin pengawas
maka
tiang dipancang sedekat mungkin atau dipancang tiang tambahan.
KESEBELAS, dilakukan pencatatan pada setiap pemancangan
dalam Form
Pencatatan Hasil Pemancangan, seperti form berikut :

Metode Pelaksanaan 84
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

KEDUABELAS, dilakukan penghitungan daya dukung tiang


digunakan rumus
daya dukung dinamis dari Hilley (Hilley Formula). Angka
keamanan
akan tetap =
digunakansebagai
3 control pemancangan
Perhitungan
digunakan padadaya dukung
rumus Hilley tiang
untuk sesuai rumus KOBE.
diesel Hammer Hilley Rumus
tersebut
berdasarkan
tersebut
diatas kalenderingakan dilaporkankepada perencana
pada
selanjutnya.
pemancangan pertama untuk dilakukan evaluasi sebagai dasar
pelaksanaan Wr x h 1
Rumus : selanjutnya.
pemancangan P= x
S + 2,54Fk

Ket. P = Daya dukung


Wr = Berat Hammer ( ton )
tanah
H = Tinggi Jatuh Hammer
S = Penetrasi Per 10x Pukulan
Fk = (cm)
Faktor Keamanan (3)
Pencatatan untuk daya dukung tiang digunakan Tabel Rekaman
Pemancangan
dimana didalamnya tercantum: data alat (Jenis tipe Hammer,
berat total
Hammer, berat ram, tinggi jatuh ram), data tiang (no.tiang, diameter,
penjang
benaman / penetrasi tiang akibat berat sendir
tiang, elevasi,
benaman posisi
tiang olehtiang, tanggal dan waktu pancang). Tabel
berat Hammer
Rekaman
benaman per interval jumlah pukulan atau sebaliknya jumlah
Pemancangan
pukulan menunjukkan hubungan :
interupsi
per panjang
dalam
benaman.
pemancangan
jumlah pukulan dari awal sampai akhir
sifat perlawanan tanah atau rebound
tinggi jatuh ram pada saat pemancangan / final
setting
Perhitungan Waktu dan Produktivitas
Pemancangan
Pemancangan Tiang
Pancang
PERALATA DIESEL CRAWEL PONTON JUMLAH
TENAGA N HAMERKUANTITAS
SATUAN CRANE KUANTITAS
SATUAN PANCANGKUANTITAS
SATUAN ALAT TENAGA
HARI 0.0417 HARI 0.0417 HARI 0.0417 3 UNIT
- Operator alat OH 1.000 OH 1.000 OH 1.000 3.00
berat OH 2.000 OH 2.000 OH 2.000 6.00
- Pembantu 0.000
OH 10.000 OH OH 10.000 20.00
Operator 29.00
JUMLAH 3 UNIT
- Pekerja

Dengan menggunakan tenaga 20 orang pekerja, 3 orang


operator dan 6
operator
pembantu
Produktifitas : 40 M /
Hari

Metode Pelaksanaan 85
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Peralatan yang
digunakan
1. Ponton : 4. Pilling
Pancang Leader
2. Crawel Crane 5. Tug Boat
3. Diesel Hammer 6. Theodolite

6. Penyambungan tiang
pancang
b. Tahapan Penyambungan Pipa
Tahapan penyambungan pipa dilakukan sebagaimana urutan gambar di
bawah ini.

Gbr : Proses
Gbr :Pengepasan posisi tiang pengelasan
yang
telah terpancang dengan
yang akan disambung

Tahapan pelaksanaan pekerjaan penyambungan pipa dilakukan di darat


sehingga Gbr :Tiang yang telah
tersambung
diperoleh tiang dengan panjang 24 meter. Hal ini dilakukan dengan
Penjelasan Tahapan
pertimbangan sebagai
berikut :
panjang Leader dari Ponton panjang yang ada dan kedalaman air
dilokasi
sehingga memungkinkan pelaksanaan pemancangan tiang dengan
panjang 24
meter.
Penyambungan dilakukan oleh ahli las yang berpengalaman dengan
memenuhi
ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam syarat-syarat spesifikasi
teknis
(Welding Procedure Specification WPS).
Penyambungan tiang pipa ini akan dilengkapi dengan Backing Strips
dengan
ukuran 75 mm x 5 mm pada bagian dalam ujung pipa yang akan di
sambung.
Penyambungan tiang pipa ini akan dilakukan juga di laut setelah
pemancangan
tiang 24 meter dengan persyaratan penyambungan yang sama.
Pipa-pipa yang telah disambung kemudian dites pengelasan
penyambungannya
dengan persyaratan bahwa semua sambungan harus kuat dan tidak
Metode Pelaksanaan 86
bocor.
Beberapa tiang dapat dipilih secara acak untuk dites dengan radiograf
dan hasil
tesnya akan dilaporkan kepada pengawas.
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Cara Pelaksanaan Penyambungan Tiang


Penyambungan tiang pancang sebagai
Pancang
berikut :
- Penyambungan tiang pancang SPP dilakukan dengan Las di sekeliling
pertemuan
kedua plat ujung dengan melakukan pengecekan ulang yaitu :
Sambungan
Koordinat tiang pancang
las
Penyimpangan Max pada penyambungan 5 mm
- Penyambungan tiang pancang SPP akan dilaksanakan dengan
menggunakan
Manual Welding Machine (SMAW), yang mana prosedur penyambungan
sebagai
o Pekerjaan Persiapan : Kedua ujung pipa yang akan dilas diasah
berikut
untuk:
o mengeluarkan kerak air, korosi, amplas biji besi. Ujung pipa dibevel.
o Pemasangan plat back ing/backing strips
Pekerjaan pengelasan : dilakukan oleh tukang las (Welder) yang
o Lapisan 1 (a root pass) : diisi las shield metal arch welding (SMAW)
bersertifikat
dengan low
yang disetujui engineer
o hydrogen type electrode Tipe RD-360 AWS a5. dia 2.6 3.2 mm.
Lapisan selanjutnya seperti point a dengan menggunakan diameter
kawat 4
mm, kecepatan pengelasan harus disesuaikan sehingga
7. Pemotongan
sambungan las tiang
pancang
seragam.
d) Tahapan pelaksanaan
pemotongan :
Lakukan Pengukuran untuk menentukan Elevasi dimana tiang harus
dipotong lalu
diberi tanda
Setelah dengan
Elevasi cat pancang ditentukan maka lakukan
tiang
pemotongan tiang
pancang baja dengan menggunakan blender pemotong.
Hasil Pemotongan harus rata dan rapi.
Agar sisa potongan tiang pancang tidak jatuh kelaut , tiang yang akan
terpotong
Pemotongan Ujung Atas Tiang Pancang Harus Sesuai Dengan Cutting
diikat
Pile di dengan sling baja
Gambar Rencana
e) Peralatan pelaksanaan
pemotongan
- Blender :
- Bahan
pemotonguntuk proses pemotongan : Oxygen dan Gas
Setelah
Elpiji dipancang semua tiang dipotong pada elevasi sesuai gambar
design.
Potongan-potongan tiang baik didarat maupun yang didalam air
yang tidak
f) Perhitungan Waktu
terpakai lagi akan dibuangdan
keluar dari lokasi proyek, sesuai petunjuk
Produktivitas
pengawas.
Tenaga PENGELASA
Sat TENAGA
kerja N
BUAH 36.00
-Tukang: Las OH 0.300 0.77 1.00
- Pekerja OH 0.600 1.54 2.00
JUMLAH 3.00

Metode Pelaksanaan 87
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Dengan menggunakan tenaga 1 orang tukang las, dan2 orang


pekerja maka
pekerjaan pemotongan pipa pancang di trestle dengan total volume
pemotongan 56
buah akan dapat diselesaikan dalam waktu 5 Minggu.
8. Plat Penutup
tiang
a. Tahapan pelaksanaan
pemotongan :
Lakukan Pengukuran untuk menentukan diameternya.
Setelah ditentukan maka lakukan pemotongan pelat baja dengan
menggunakan
blender
Hasil Pemotongan
pemotong.harus rata dan rapi.
Lalu pasang di besi tulangan yang telah di
rangkai.
b. Peralatan pelaksanaan
pemotongan :
- Blender pemotong
- Bahan untuk proses pemotongan : Oxygen dan Gas
Elpiji
c. Bahan yang
digunakan
Plat besi: dengan ketebalan 10
mm

Gbr. Plat Baja yang sudah di Gbr. Memasang plat baja di


potong tulangan

9. Bracing Pengikat Baja


Bracing Baja Pengikat Tiang dibuat dengan H Beam dengan ukuran sesuai dalam gambar
rencana, H beam yang dipasang keliling dan diagonal antar tiang agar mengikat setiap
tiang sehingga tiang-tiang pelindung MB dapat menyebarkan gaya yang sama besar.
Bracing baja ini juga sangat berguna agar tidak terjadi keretakan beton pilecap pelindung
MB akibat gerakan antar tiang yang tidak seragam. Penyatuan dengan tiang dilakukan
dengan pengelasan yang harus dilakukan dengan baik dan dikerjakan oleh tukang las
yang berpengalaman.

Gbr. 11 :
Bracing baja
pengikat antar tiang

Metode Pelaksanaan 88
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Bahan yang digunakan :


1. Profil/ plat baja
2. Eketroda
3. Cat anti karat

Peralatan yang digunakan :


1. Mesin Las
2. Alat Bantu

G. Catwalk (102 M2)

Gambar 23
Catwalk

Profil Baja

2. Tiang Pancang
Tahapan ini dilaksanakan dengan ketentuan yang telah ditetapkan pada
persyaratan bahan pada RKS, diawali dengan pemesanan Pipa Pancang Baja
Dia. 457 mm ; T = 9 mm. Pipa Baja di produksi di Jakarta, sehingga
pengadaannya memerlukan transportasi melewati laut dengan menggunakan
tongkang yang ditarik tug boat. Proses pekerjaanya akan dilakukan seperti terlihat
pada bagan berikut ini.

a. Tahapan Pelaksanaan Pengadaan


Pipa
Setelah disetujui oleh owner, produk tiang pancang yang disetujui sesuai
spesifikasi teknis dari pabrik di angkut menggunakan truk ke pelabuhan
terdekat.
Kemudian diteruskan
Pekerjaan ini dimulai dengan
dengan kapal ke pelabuhan.
melakukan pengadaan koil / lembaran baja dengan
ketebalan yang akan memenuhi ketebalan rencana pada saat menjadi pipa.
Setelah itu pipa akan difabrikasi sesuai dengan petunjuk pelaksanaan ASTM A

Metode Pelaksanaan 89
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

252. Merupakan standar untuk pipa dengan fungsi umum (general purpose),
dalam hal ini akan digunakan sebagai fondasi tiang pancang pada bangunan
fasilitas pelabuhan laut.
Dengan kesesuaian pada proses fabrikasi yang merujuk kepada ASTM A 252,
sehingga pada setiap prosesnya tidak akan mengurangi kualitas baja. Jika dilihat
dari sifat-sifat fisik, mekanis dan komposisi kimianya
Dalam pekerjaan fabrikasinya dapat dilihat seperti gambar dibawah, prosesnya
diawali dengan membuka baja plat gulung ,dengan ketebalan sesuai pesanan,
lalu di rekonstruksi menjadi pipa yang dilengkungkan secara spiral lalu dilas untuk
disambungkan sehingga menjadi pipa utuh yang siap untuk dipotong sesuai
dengan pesanan pengguna jasa. Pada saat pengelasan pipa dilakukan inspeksi
NDT (Non Destructive Test).

Gambar 16 Metode Fabrikasi


Baja
b. Fabrikasi
Setelah fabrikasi selesai maka setiap pengelasan penyambungan pembentuk pipa
baja diperiksa oleh quality control dengan Metoda NDT (Non Destructive Test).
Merupakan salah satu teknik mengujian material tanpa merusak benda ujinya.
Pengujian dapat mendeteksi secara dini timbulnya crack atau flaw pada material
secara dini, tanpa menunggu material tesebut gagal ditengah operasinya. Dari
tipe
keberadaan crack pada material NDT dapat dibedakan dalam 2 macam, yaitu:
surface crack dan inside crack. Pada saat pengujian maka harus sudah ditentukan

Metode Pelaksanaan 90
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

dahulu targetnya (misal surface crack atau inside crack), baru digunakan metoda
NDT yang tepat.
Untuk inside crack ada 3 metoda yang dapat digunakan, yaitu:
1. Radiography,dengan menggunakan sinarX untuk mendapatkan
gambaran dalam material. Prinsipnya sama dengan sinar X yang
digunakan untuk tubuh manusia, tetapi panjang gelombang yang
digunakan berbeda (lebih pendek).
2. Ultrasonics, dengan menggunakan gelombang ultrasonic dengan frequensi
antara 0.1 ~ 15 Mhz. Prinsipnya, gelombang ultrasonic dipancarkan dalam
material dan gelombang baliknya atau gelombang yang sampai di sisi yang
lain di bandingkan dengan kecepatan suara dari material itu sendiri untuk
mendapatkan gambaran posisi dari crack.
3. Accustic emmision, (sorry saya nggak bisa jelaskan tentang hal ini)

Untuk surface crack ada beberapa metoda yang dapat digunakan, yaitu:
1. Visual Optical, melihat/mencari crack yang berada dipermukaan material
dengan bantuan optik.
2. Liquid Penetrant, yaitu dengan menyemprotkan/mengulaskan cairan
berwarna pada permukaan material. Pada prinsipnya teknik ini untuk
mempermudah penglihatan saja.
3. Magnetic Particles, cara ini dengan menggunakan serbuk magnetik yang di
sebarkan dipermukaan benda uji. Pada saat crack ada dalam pembukaan
benda uji, maka akan terjadi kebocoran medan magnit di sekitar posisi
crack, sehingga dengan mudah akan bisa dilihat oleh mata. Setelah
pengujian magnetic, maka benda uji akan menjadi bersifat magnet, karena
pengaruh serbuk magnet tersebut, maka untuk menghilangkan effek itu
digunakan metoda demagnetization (proses menghilangkan medan
magnet pada benda uji), salah satu caranya dengan menggunakan
hammering (benda uji dipikul dengan hammer, sehingga timbul getaran
yang akan melepaskan partikel magnet)
4. Eddi current, prisipnya hampir sama dengan teknik medan magnet,
tetapi
disini medan listrik yang dipancarkan dari arus listrik bolak-balik, ketika ada
crack maka medan listrik akan berubah dan perubahannya itu akan
terbaca pada alat pengukur impadance. Prinsip ini erat kaitannya dengan
impedansi, maka alirnya sangat dipengruhi oleh jarak antara benda uji
dengan alat ukurnya.
Metode Pelaksanaan 91
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

c. Pengecekan
Dimensi
Berikut merupakan aspek-aspek minimal yang dipertahankan pada saat
proses fabrikasi, sesuai dengan syarat ASTM A 252.
Komposisi Kimia
C: 0.30 % max; Si = 0,35 max.

P: 0,04 % max; Mn 0.30 1.00

S: 0.04 % max.

Sifat sifat mekanis

Kekuatan tarik : 42,2 kg/mm2 atau lebih Grade X-46


Yield Point : 32 kg/mm2 atau
lebih
Perpanjangan
: 15 % atau lebih
Toleransi profil pipa pancang

Tinjauan Dimensi Spesifikasi Toleransi


Maks Min
Diameter 457.2 mm 457.2 mm
Ketebalan 12 mm 11.3 mm
Panjang 16 m 0
Lenturan 0.1% Panjang -
Coating 600 micron 600 micron
Diameter (dengan Coating) 457.8 mm 457.8 m
Tebal (dengan Coating) 12.6 mm 11.9 mm

457.8 mm
457.8 mm

Keterangan:
: Baja
457.2, mm : Coating

Metode Pelaksanaan 92
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Pipa yang akan digunakan pada proses pengadaan, akan dibedakan menurut
panjangnya yang antara lain 16 m. Akan tetapi guna kecepatan produksi akan
lebih baik jika hanya melakukan produksi satu jenis panjang pipa yaitu pipa 16
m.

d. Pengecatan Perlindungan
Korosi

Lingkungan laut biasanya dibagi dalam zona atmosfir laut, zona percikan, zona
pasang surut, zona tenggelam dan zona lumpur. Jenis-jenis korosi atmosfir
secara kasar dapat dibagi dalam empat klas utama berdasarkan pada kondisi
keadesifan kelembaban permukaan baja. Klas I menunjukkan "Korosi atmosfir
kering", Klas II "Korosi atmosfir lembab", Klas III, IV "Korosi atmosfir basah".
Korosi atmosfir laut terjadi sebagian besar pada Klas II dan III, dan bisanya
dipengaruhi oleh semprotan laut (terutama NaCI dan MgC12).Disamping itu,
ada kasus dimana korosi baja dipercepat dengan adanya gas SO2 disekitar
daerah industri.
Daerah percikan adalah lingkungan yang mempunyai sifat korosi sangat tinggi
karena adanya udara bersamaan dengan percikan. Kecenderungan korosi
baja di daerah pasang surut dan di daerah air laut akan berbeda tergantung
pada bentuk-bentuk kepingan baja, yaitu, terpisah atau tersambung. Hal
ini
sangat penting untuk korosi pada struktur baja karena biasanya terbuat
dari
bahan baja yang panjang.

Gambar 17 Diagram Penetrasi Korosi Pada


Pipa
Tindakan perlindungan dari pengecatan adalah berupa dua hal di bawah ini :
a. Mengurangi arus korosi dengan menutup sel korosi dengan lapisan film
yang mempunyai tahanan listrik tinggi.

Metode Pelaksanaan 93
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

b. Meningkatkan polarisasi reaksi elektroda dengan tindakan pigmen anti-


karat.

Pengecatan adalah pada awalnya, bukan merupakan cara anti karat yang
abadi, tetapi pada hakekatnya dianggap sebagai pengecatan ulang secara
periodik. Penyebab utama kerusakan film cat adalah tindakan cahaya matahari
dan reaksi korosi di bawah film.Sinar ultraviolet merangsang molekul film cat
dan mempercepat reaksi oksidasinya. Ion hidroksil, OFF, yang merupakan
hasil reaksi katodik dalam larutan netral dengan oksigen cair, memperlunak
lapisan film di katoda dan membuat sifat adesif antara lapisan film
dan
permukaan baja menjadi semakin buruk. Demikian juga, sebagian besar film
jika bersentuhan dengan larutan air, lapisan ganda elektrik, maka bagian yang
padat akan mengeluarkan listrik negatif dan fase cair mengeluarkan
listrik
positif. Sebagai akibatnya, air masuk kedalam bagian katodik melalui reaksi
elektro-osmosa arus korosi dan pecahan-pecahan alkalin berukuran besar
akan dengan mudah dihasilkan balk oleh masuknya air maupun oleh reaksi
alkali.
Ketiga hal berikut ini sangat berpengaruh pada keawetan film : (a) persiapan
permukaan, (b) ketebalan film, (c) pengecatan. Persiapan permukaan dan
pengecatan hendaknya dilakukan sesuai dengan spesifikasi dari masing-
masing sistem pengecatan. Jika keduanya dikerjakan dengan berhati-hati,
maka keawetan film akan tergantung penuh pada ketebalan film. Karena
lingkungan korosi memerlukan cat yang mempunyai kemampuan dan
keawetan tinggi untuk struktur laut. Cat-cat seperti itu terdiri dari cat yang
kaya
Zinc dan berjenis cat film tebal, dan biasanva disebut sistem pengecatan
perlindungan berat. Ketebalan film total sistem ini adalah sekitar 250 sampai
350 karena
Oleh pada zona atmosfirpenggunaan
itu melihat laut. dari pipa akan digunakan pada daerah
lingkungan laut maka pada 8 m awal pada sebagian pipa dengan panjang 16
m akan dilakukan pengecatan dengan cat anti korosi.

Metode Pelaksanaan 94
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

8m
Pengecatan dengan
epoxy

Batas Pipa Pengadaan


16 m

16 m

Gambar 18 Ilustrasi Pemotongan Tiang Pancang dan Pengecatan Anti


Karat

Metode Pelaksanaan 95
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Gambar 19 Diagram Alur Pekerjaan Pengadaan


Pipa

Metode Pelaksanaan 96
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Dalam penyimpanan pipa baja harus diambil langkah-langkah yang tepat untuk
melindungi pipa baja menjadi bengkok, cacat-cacat permanen. Pada waktu
transportasi, semua pipa baja harus diperlakukan sedemikian sehingga tidak
terjadi pelengkungan-pelengkungan yang besar. Pipa baja tidak boleh
ditumpuk lebih dari 3.5 m dan balok-balok penumpunya ditempatkan
diantara
lapisan dengan jarak antara sebesar 4.0 m.

< 3 .5 m

<4m <4m <4m <4m

Gambar 2.5 Penyimpanan Tiang


baja

Ukuran standar balok, kayu penumpu adalah 10 x 10 cm2 (Gambar 3) Dimana


ada kemungkinan profil baja
melendut, maka harus segera dilakukan
penumpukan/pengaturan kembali.

10 x 10 cm
2

Metode Pelaksanaan 97
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

e. Penandaan dan
Label
Label digunakan untuk mengenali bahwa pipa telah lulus verifikasi QA/QCdan
diberi tanda pass, label berupa kode : tanggal produksi, kode produksi,
nama proyek ; sehingga mempermudah untuk erection. Selain itu setiap pipa
yang sudah selesai tahapan akan diberikan tanda pada setiap interval 50 cm
dan 100 cm yang dimulai dari kaki tiang agar dapat diketehui panjang
tiang
terpancang.

Gambar 2.6 Penandaan Pada Tiang


Pancang

f.
Pengangkutan
5) Setelah disetujui oleh owner, produk tiang pancang yang disetujui
sesuai spesifikasi teknis dari pabrik di di angkut dari stock yard.
6) Dari stock yard , produk yang siap dikirim diangkut dengan
menggunakan tronton sesuai dengan kapasitas. Pengangkutan
product dari stock yard ke dalam bak tronton rnenggunakan
mobile crane.
Diatas bak tronton, produk diberi alat pengganjal pada titik-titik
tumpu
produk dengan arah melintang. Alat pengganjal dapat berupa balok kayu
Sfl.
Dan untuk menjaga kestabilan pada saat pengiriman, product yang telah
tersusun sesuai dengan kapasitas tronton, diikat dengan menggunakan
seling baja yang dikaitkan ke bak tronton, seperti terlihat pada gambar

Metode Pelaksanaan 98
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

dibawah ini, yang selanjutnyakan akan diangkut kedalam pontoon angkut atau
kapal kargo untuk dibawa ke lokasi.

Gambar 20 Proses Pengangkutan dan Transportasi Pipa ke


Lokasi
Pekerjaan

Metode Pelaksanaan 99
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Terdapat 2 pilihan lapangan penumpukan pada lokasi pekerjaan, yaitu di area


dermaga baru dan area darat pelabuhan.
Setibanya dilokasi Proyek, maka Pipa Pancang akan ditumpuk di areal
penumpukan ( jika kondisi areal lokasi memungkinkan ) jika
tidak,
maka pipa pancang akan di tumpuk di atas Ponton Transport. Akan
tetapi penumpukan akan lebih baik jika ditumpuk di areal Dermaga
baru, dengan keuntungan mempermudah mobilisasi pada proses
pemancangan pada tahap berikutnya.

Jika lokasi penumpukan yang digunakan adalah areal darat, maka hal-
hal yang harus diperhatikan adalah alat pengangkut yang kemungkinan
hanya bisa peralatan traditional. Karena menurut pengalaman dan
pemahaman lokasi, tidak terdapat alat berat yang bisa
digunakan
seperti mobile crane, yang dapat memobilisasi pipa baja dari dermaga
menuju ke area penumpukan sementara di darat.
o Lokasi penumpukan material harus memiliki drainase yang baik
serta tidak mudah amblas karena berat dari tiang pancang itu
sendiri, bila perlu lokasi penumpukan diperbaiki terlebih dahulu
kondisi tanahnya dengan memberikan lapisan gravel atau diberi
bantalan kayu yang kuat.
o Proses penumpukan dikerjakan berdasarkan grup ( diameter )
dan nomer tiang.
o Tiang harus ditumpuk sedemikian rupa sehingga tidak
mengalami perubahan bentuk fisik. Maka dari itu Tiang diberi
kayu ganjalan berukuran 10 cm untuk setiap jarak 4 m diantara
tiang dan permukaan tanah dan dilapisan paling bawah
tumpukan tiang maksimum adalah 3 lapisan atau setinggi 2
meter.
o Jarak antara tiang 1 dan lainnya adalah 10-20 cm untuk
memberikan ruang gerak pemasangan dan pelepasan tali baja
dan untuk mencegah terjadinya kecelakaan selama proses
pengangkatan tiang.
o Untuk mencegah runtuhnya tumpukan tiang disarankan
memakai ganjal kayu (skid).

Metode Pelaksanaan 100


Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Peralatan yang akan


digunakan:
Tongkang 230ft 1 unit
Tug Boat 1600 Hp 1 unit
80ton Crawler Crane 1 unit
Balok Pengangkat 1 unit

Manpower yang akan


digunakan
2 orang
Operator
Captain tug boat 1 orang
Tug boat Crew 2 orang

7. Pengangkutan tiang pancang ke titik


pancang
e. Tahapan Pekerjaan
: Pengangkatan tiang-tiang yang telah disambung dan diberi lapisan
pelindung
dikerjakan dengan menggunakan crane dan diletakkan diatas ponton
transport.
Titik pengangkatan tiang harus diperhatikan agar tidak
Kemudian Ponton Transport yang telah dimuati tiang, ditarik oleh
menyebabkan tiang
Tugboat
menjadi bengkok, serta lapisan pelindung menjadi cacat.
kelokasi ponton pancang yang berada pada tempat titik pancang. Dari
Ponton
Transport ini tiang diangkat menggunakan Leader pancang dan
Pengangkutan Tiang Pancang dari lokasi penumpukan ke titik pancang
diposisikan
dilakukan
dengan benar pada kedudukan titik pancang, sebelum pemancangan
dengan menggunakan ponton transport yang dilengkapi dengan crane
dimulai.
pengangkut
f. Peralatan yang
digeser dengan perahu motor mendekat ke arah ponton pancang.
digunakan:
Ponton Transport
Creane, dan
Perahu Motor
Tenaga Kerja yang :
digunakan
Operator
:
Crew Pancang
Alat yang Digunakan
Sling
Crane(Tali
Baja)
Berdasarkan tahapan-tahapan diatas,analisa terhadap waktu
maka dan
produktivitas kerja adalah sebagai berikut :
Dengan menggunakan tenaga :10 orang pekerja
2 orang
operator,dan
4
pembantu
Metode Pelaksanaan operator 101
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Produktivitas :120 M /
Hari

8. Pemancangan tiang
pancang
Setelah dilakukan pengangkatan tiangpancang ke titik pancang maka
dilakukan proses
pemancangan dengan tahapan sebagai berikut :
c. Pendekatan tahapan pelaksanaan pemancangan
sebagaimana
gambar berikut :

Metode Pelaksanaan 102


Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Penentuan Titik Pancang (Pengukuran)


Tahapan Pelaksanaan Penentuan Titik
- Penentuan
Pancang : titik pancang dilakukan dengan 2 unit alat theodolit
dari arah
tegak lurus yang bersilangan. Satu unit theodolit dioperasikan dari
- darat yang
sejajar dengan baris tiang pancang trestle yang akan dipancang
sementara
satu unit theodolit dioperasikan dari arah tegak lurus berlawanan.
- Tiang pancang kemudian ditegakkan dan siap dipancang dengan
dikomando
oleh kedua surveyor, maka kru pancang akan menggerakkan posisi
ponton
pancang dengan menggunakan winch yang dihubungkan dengan
Alat taliyang
sling :
Alatpada
digunakanyangempatdigunakan
angker untuk
yangmelakukan pengukuran
tertanam kuat ke posisiadalah Theodolite
tiang pancang
sebanyak
tersebut. 2
Unit. posisi tiang telah benar (tiang pancang tegak lurus dari
Apabila
Waktudepan Pengerjaan
, posisi :
Waktu
tegak yang
lurusdibutuhkan
dari samping) untuk pekerjaan
maka pengukuran
hammer akan menyesuaikan
diturunkan untuk
dengan
membebani
waktu
kepalapengerjaan
tiang dan tiap-tiap item pekerjaan.
pemancangan dapat dimulai.
Pemancangan
Tahapan Pelaksanaan
Pemancangan
PERTAMA, : dilakukan mobilisasi Ponton Pancang, Ponton Kerja,
Ponton
Transport, Crane, Leader, Diesel Hammer dan Peralatan paralatan
pancang
lainnya. Erection peralatan pancang yang terdiri dari ponton pancang,
Crane
Diesel hammer
kapasitas 35 Ton,K Leader,
25 (untuk tiangAlat
Bak, baja)- alat penumpu, Winch dan
Peralatan pancang harus dilengkapi leader, bak dan alat
jangkar
penumpu
ponton. Kemudian ponton diposisikan pada titik pancang.
KEDUA,
Alat yangsetelah
Peralatan haruskoordinat
digunakan dapat memancang
sebagai dan arah: tegak
berikut kemiringan pancang tercapai,
dimulai
pekerjaan pemancangan SPP menggunakan alat diesel Hammer K 25.

Gambar 21 Gbr.1
Proses
Pemancangan

Metode Pelaksanaan 103


Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

KETIGA, setelah semua peralatan siap, angkat tiang pancang


dengan
menggunakan crane kemudian diletakkan pada posisi vertikal dan tepat
pada
titik pemancangan sesuai dengan gambar / yang telah ditentukan.
KEEMPAT, Pemasangan Tiang Pancang Ke Leader dan kemudian
diposisikan
pada Titik Pancang dengan dipandu oleh 2 orang dengan 2
Theodolith
(Alignment) agar diperoleh posisi dan kemiringan yang akurat.
Kemudian
dilakukan pengecekan terhadap koordinat dan kemiringan titik
pemancangan,
KELIMA,
dengan carabila : posisi benar-benar sudah vertikal atau kemiringan sudah
sesuai, Mengangkat tiang pancang pada titik angkat yang
maka dapat dimulai pemukulan dengan diesel hammer yang dirakit
telah
Kontrol
dengan yang dilakukan
ditentukan.
adalah
ponton
:
untuk
Menjaga pemancangan
Selanjutnya
toleransi dilaut.penyetelan
dilakukan
pemancangan horizontalsudut/kemiringan tiang
dan vertikal sesuai
dengan SPP
RKS dengan pengadaan
Satuan progres di control dengan 2 alat theodolit
dan pemancangan dalamyang
meterdibidikan
Melakukan daripengecekan terhadap ketegakan lurusan dan kemiringan
posisi dua arah membentuk sudut 90 derajat.
KEENAM, dilakukan
tiang pancang perhitungan
sebelum antarapemukulan
dan sesudah kapasitas diesel hammer dan
dimulai.
ukuran
tiang harus diperhitungkan dengan cermat untuk tercapainya daya
dukung
yang dikehendaki. Rumus dinamis Hilley Formula lazimnya digunakan
dalam
pelaksanaan pemancangan dan dari pengalaman rumus itu
cukup teruji
dengan loading tes yang menyatakan bahwa rumus tersebut
dapat
dipertanggung jawabkan dan Hammer tidak mengalami kegagalan
dalam
daya dukung yang diperhitungkan.
KETUJUH, setelah sempurna pengukuran tiang maka pemancangan
dilakukan
Pemancangan
dengan menjatuhkan Dihentikan
Hammer Apabila :
secara kontinyu keatas helmet yang
a. Ujung Tiang telah Mencapai Rencana
terpasang
b. Telah
diatas Mencapai
kepala tiangFinal
steelSet 2,5pile.
pipe cm/10
Pelaksanaan Pemancangan tiang
Tumbukan
pancang
KEDELAPAN,
tegak atau miring pelaksanaan pemancangan
harus sedemikian Tiang akan
rupa sehingga diatur
diperoleh hasil
urutannya
sedemikian
sesuai sehingga penggunaan ponton pancang tidak
menyebabkan
dengan gambarada
rupa akan pekerjaan
rencana. tiang pancang
Alat pancang yang terhalang
yang digunakan adalahposisinya
Hammer
untuk
Diesel
dapat
Doubledilaksanakan
Acting K 25.yaitu Hal inidengan
sesuai memperhitungkan
untuk pemancangan ukuran
tiangponton
pipa
dengan
diameter
jarak
457,2antar
mm. tiang.
Hal yang perlu dilakukan adalah :
Pelaksanaan Pemancangan dilakukan sebagaimana prosedur
persiapan
pemancangan diatas pada posisi (koordinat) tiang pancang
sebagaimana
Metode Pelaksanaan
dalam gambar design. 104
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

KESEMBILAN,dilakukan Alignment atau Setting Out untuk


seluruh titik
pancang & setiap titik pancang diikat oleh 2 pasang titik ikat yang saling
tegak
lurus pada titik pancang untuk memperoleh akurasi pemancangan.
Jika terjadi : kepala tiang rusak, kedalaman pemancangan
Hal yang
kurang atau
perlu diperhatikan :
memberitahukan
lebih dari kepada Pengawas
panjang rencana. Pemancangan harus
Lapangan
dihentikan
Semua pemancangan
& harus dihadiri oleh Pengawas Lapangan
Setiap pemancangan harus diadakan pencatatan waktu, jumlah
pukulan&
Pencatatan pemancangan
tinggi penurunan (pile Driving Record/Kalendering)
tiang pancang
dilakukan
selama operasi pemancangan berlangsung.

Gambar 22Pelaksanaan pencatatan


kelendering
KESEPULUH, Bila tiang rusak atau keluar dari posisi melebihi
batastoleransi
maka tiang tersebut harus dicabut & diganti dengan tiang yang
Baikpada
posisinya. Jika tidak mungkin pada posisinya, dengan izin pengawas
maka
tiang dipancang sedekat mungkin atau dipancang tiang tambahan.
KESEBELAS, dilakukan pencatatan pada setiap pemancangan
dalam Form
Pencatatan Hasil Pemancangan, seperti form berikut :

Metode Pelaksanaan 105


Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

KEDUABELAS, dilakukan penghitungan daya dukung tiang


digunakan rumus
daya dukung dinamis dari Hilley (Hilley Formula). Angka
keamanan
akan tetap =
digunakansebagai
3 control pemancangan
Perhitungan
digunakan padadaya dukung
rumus Hilley tiang
untuk sesuai rumus KOBE.
diesel Hammer Hilley Rumus
tersebut
berdasarkan
tersebut
diatas kalenderingakan dilaporkankepada perencana
pada
selanjutnya.
pemancangan pertama untuk dilakukan evaluasi sebagai dasar
pelaksanaan Wr x h 1
Rumus : selanjutnya.
pemancangan P= x
S + 2,54Fk

Ket. P = Daya dukung


Wr = Berat Hammer ( ton )
tanah
H = Tinggi Jatuh Hammer
S = Penetrasi Per 10x Pukulan
Fk = (cm)
Faktor Keamanan (3)
Pencatatan untuk daya dukung tiang digunakan Tabel Rekaman
Pemancangan
dimana didalamnya tercantum: data alat (Jenis tipe Hammer,
berat total
Hammer, berat ram, tinggi jatuh ram), data tiang (no.tiang, diameter,
penjang
benaman / penetrasi tiang akibat berat sendir
tiang, elevasi,
benaman posisi
tiang olehtiang, tanggal dan waktu pancang). Tabel
berat Hammer
Rekaman
benaman per interval jumlah pukulan atau sebaliknya jumlah
Pemancangan
pukulan menunjukkan hubungan :
interupsi
per panjang
dalam
benaman.
pemancangan
jumlah pukulan dari awal sampai akhir
sifat perlawanan tanah atau rebound
tinggi jatuh ram pada saat pemancangan / final
setting
Perhitungan Waktu dan Produktivitas
Pemancangan
Pemancangan Tiang
Pancang
PERALATA DIESEL CRAWEL PONTON JUMLAH
TENAGA N HAMERKUANTITAS
SATUAN CRANE KUANTITAS
SATUAN PANCANGKUANTITAS
SATUAN ALAT TENAGA
HARI 0.0417 HARI 0.0417 HARI 0.0417 3 UNIT
- Operator alat OH 1.000 OH 1.000 OH 1.000 3.00
berat OH 2.000 OH 2.000 OH 2.000 6.00
- Pembantu 0.000
OH 10.000 OH OH 10.000 20.00
Operator 29.00
JUMLAH 3 UNIT
- Pekerja

Dengan menggunakan tenaga 20 orang pekerja, 3 orang


operator dan 6
operator
pembantu
Produktifitas : 40 M /
Hari

Metode Pelaksanaan 106


Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Peralatan yang
digunakan
1. Ponton : 4. Pilling
Pancang Leader
2. Crawel Crane 5. Tug Boat
3. Diesel Hammer 6. Theodolite

9. Penyambungan tiang
pancang
c. Tahapan Penyambungan Pipa
Tahapan penyambungan pipa dilakukan sebagaimana urutan gambar di
bawah ini.

Gbr : Proses
Gbr :Pengepasan posisi tiang pengelasan
yang
telah terpancang dengan
yang akan disambung

Tahapan pelaksanaan pekerjaan penyambungan pipa dilakukan di darat


sehingga Gbr :Tiang yang telah
tersambung
diperoleh tiang dengan panjang 24 meter. Hal ini dilakukan dengan
Penjelasan Tahapan
pertimbangan sebagai
berikut :
panjang Leader dari Ponton panjang yang ada dan kedalaman air
dilokasi
sehingga memungkinkan pelaksanaan pemancangan tiang dengan
panjang 24
meter.
Penyambungan dilakukan oleh ahli las yang berpengalaman dengan
memenuhi
ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam syarat-syarat spesifikasi
teknis
(Welding Procedure Specification WPS).
Penyambungan tiang pipa ini akan dilengkapi dengan Backing Strips
dengan
ukuran 75 mm x 5 mm pada bagian dalam ujung pipa yang akan di
sambung.
Penyambungan tiang pipa ini akan dilakukan juga di laut setelah
pemancangan
tiang 24 meter dengan persyaratan penyambungan yang sama.
Pipa-pipa yang telah disambung kemudian dites pengelasan
penyambungannya
dengan persyaratan bahwa semua sambungan harus kuat dan tidak
Metode Pelaksanaan 107
bocor.
Beberapa tiang dapat dipilih secara acak untuk dites dengan radiograf
dan hasil
tesnya akan dilaporkan kepada pengawas.
Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Cara Pelaksanaan Penyambungan Tiang


Penyambungan tiang pancang sebagai
Pancang
berikut :
- Penyambungan tiang pancang SPP dilakukan dengan Las di sekeliling
pertemuan
kedua plat ujung dengan melakukan pengecekan ulang yaitu :
Sambungan
Koordinat tiang pancang
las
Penyimpangan Max pada penyambungan 5 mm
- Penyambungan tiang pancang SPP akan dilaksanakan dengan
menggunakan
Manual Welding Machine (SMAW), yang mana prosedur penyambungan
sebagai
o Pekerjaan Persiapan : Kedua ujung pipa yang akan dilas diasah
berikut
untuk:
o mengeluarkan kerak air, korosi, amplas biji besi. Ujung pipa dibevel.
o Pemasangan plat back ing/backing strips
Pekerjaan pengelasan : dilakukan oleh tukang las (Welder) yang
o Lapisan 1 (a root pass) : diisi las shield metal arch welding (SMAW)
bersertifikat
dengan low
yang disetujui engineer
o hydrogen type electrode Tipe RD-360 AWS a5. dia 2.6 3.2 mm.
Lapisan selanjutnya seperti point a dengan menggunakan diameter
kawat 4
mm, kecepatan pengelasan harus disesuaikan sehingga
10. Pemotongan
sambungan las tiang
pancang seragam.
g) Tahapan pelaksanaan
pemotongan :
Lakukan Pengukuran untuk menentukan Elevasi dimana tiang harus
dipotong lalu
diberi tanda
Setelah dengan
Elevasi cat pancang ditentukan maka lakukan
tiang
pemotongan tiang
pancang baja dengan menggunakan blender pemotong.
Hasil Pemotongan harus rata dan rapi.
Agar sisa potongan tiang pancang tidak jatuh kelaut , tiang yang akan
terpotong
Pemotongan Ujung Atas Tiang Pancang Harus Sesuai Dengan Cutting
diikat
Pile di dengan sling baja
Gambar Rencana
h) Peralatan pelaksanaan
pemotongan
- Blender :
- Bahan
pemotonguntuk proses pemotongan : Oxygen dan Gas
Setelah
Elpiji dipancang semua tiang dipotong pada elevasi sesuai gambar
design.
Potongan-potongan tiang baik didarat maupun yang didalam air
yang tidak
i) Perhitungan Waktu
terpakai lagi akan dan
dibuang keluar dari lokasi proyek, sesuai petunjuk
Produktivitas
pengawas.
Tenaga PENGELASA
Sat TENAGA
kerja N
BUAH 36.00
-Tukang: Las OH 0.300 0.77 1.00
- Pekerja OH 0.600 1.54 2.00
JUMLAH 3.00

Metode Pelaksanaan 108


Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

Dengan menggunakan tenaga 1 orang tukang las, dan2 orang


pekerja maka
pekerjaan pemotongan pipa pancang di trestle dengan total volume
pemotongan 56
buah akan dapat diselesaikan dalam waktu 5 Minggu.
11. Plat Penutup
tiang
a. Tahapan pelaksanaan
pemotongan :
Lakukan Pengukuran untuk menentukan diameternya.
Setelah ditentukan maka lakukan pemotongan pelat baja dengan
menggunakan
blender
Hasil Pemotongan
pemotong.harus rata dan rapi.
Lalu pasang di besi tulangan yang telah di
rangkai.
b. Peralatan pelaksanaan
pemotongan :
- Blender pemotong
- Bahan untuk proses pemotongan : Oxygen dan Gas
Elpiji
c. Bahan yang
digunakan
Plat besi: dengan ketebalan 10
mm

Gbr. Plat Baja yang sudah di Gbr. Memasang plat baja di


potong tulangan

12. Bondex
Bondex merupakan baja ringan yang digunakan sebagai pijakan pada catwalk.
Bondex dikerjakan setelah pekerjaan pembetonan catwalk selesai.

Material yang digunakan :


Baja ringan

Tenaga yang digunakan :


Pekerja
Tukang
Kepala Tukang
Mandor

Metode Pelaksanaan 109


Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

13. Beton Isian Tiang


k) Beton isian tiang menggunakan beton mutu K-225
l) Pelaksanaannya sesuai ukuran yang ada dalam gambar rencana yaitu
setinggi 1,8 m.
m) Pembesian dirakit diluar sesuai gambar, dengan bagian ujung bawah tulangan
dilas pada besi pelat t = 10 mm sehingga dapat berfungsi sebagai bekesting
dasar.
n) Pengecoran beton dilakukan dengan menggunakan tremi agar tidak terjadi
segregasi beton.
o) Pengisian tiang pancang dengan beton diawali dengan penutupan tiang
dengan plat baja (Concrete Stopper) yang digantung / dilas pada ujung bagian
bawah tulangan isian , setelah besi tulangan isian dimasukkan maka
selanjutnya dapat dilakukan pengecoran adukan beton.
Tahapan Pelaksanaan :

Proses ini dilaksanakan setelah pipa pancang terpancang secara


keseluruhan, kemudian dengan memberikan tulangan baja sebagai
struktur tarik dan sebagai stek pengikat poer, dilanjutkan dengan
pemberian adukan campuran beton K-225.

Pembentukan Besi Tulangan.( Sesuai Gambar Rencana )

Gambar 23 Beton Isian


Tiang

Pengelasan Concrete Stopper Pada Besi Tulangan

Semua ukuran yang dipergunakan di dalam pelaksanaan haruslah


mengacu kepada Gambar Kerja yang telah ditetapkan dan disetujui
oleh Pengawas Pekerjaan.

Pembuatan campuran adukan beton didasarkan pada Mix Desain


yang telah dibuat terlebih dahulu melalui proses laboratorium,
untuk
campuran K-225 digunakan perbandingan berat masing-masing

Metode Pelaksanaan 110


Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

material antara Semen : Pasir : Batu Pecah, dimana dalam 1 M3


campuran beton digunakan Portland Cement Type I - 50 kg.

Semua material yang digunakan haruslah sudah di setujui oleh


pengawas pekerjaan sebelum diterapkan dilapangan dan juga
mengacu pada peraturan-peraturan yang ditetapkan di dalam RKS
dan Gambar Kerja.

Untuk masing-masing item pekerjaan yang menggunakan campuran
beton K-225 haruslah dibuatkan sempel beton untuk pengujian kuat
tekan beton. Jumlah sample yang disediakan untuk tiap seri
pengetesan sebanyak 10 (Sepuluh) buah dengan nilai maximum
Slump 7 cm.
Peralatan yang
digunakan:
Isian Tiang :
Pembesian
1. Blender Pemotong
2. Pembengkok besi tulangan
3. Tang
4. Kakatua (Gegep)
Pembetonan
1. Concrete Mixer
2. Sekop
3. Sendok semen

14. Beton Selimutan Tiang


i) Beton isian tiang menggunakan beton mutu K-225
j) Pelaksanaannya sesuai ukuran yang ada dalam gambar rencana
k) Pembesian dirakit diluar sesuai gambar, dengan bagian ujung bawah tulangan
dilas pada besi pelat t = 10 mm sehingga dapat berfungsi sebagai bekesting
dasar.
l) Pengecoran beton dilakukan dengan menggunakan tremi agar tidak terjadi
segregasi beton.
.

Metode Pelaksanaan 111


Pembangunan Dermaga Penyeberangan Baranusa (Pulau Pantar) Tahap
III

a. Tahapan
Pembetonan
Pelaksanaan
: 1. Concrete Mixer
Proses ini dilaksanakan setelah pipa pancang terpancang secara
2. Sekop
keseluruhan, kemudian dengan memberikan tulangan baja sebagai
3. Sendoktarik
struktur semendan sebagai stek pengikat poer, dilanjutkan
dengan
pemberian adukan campuran beton K-225.
Pembentukan Besi Tulangan.( Sesuai Gambar Rencana )

Pengelasan Concrete Stopper Pada Besi Tulangan

Semua ukuran yang dipergunakan di dalam pelaksanaan haruslah


mengacu kepada Gambar Kerja yang telah ditetapkan dan disetujui
oleh Pengawas Pekerjaan.

Pembuatan campuran adukan beton didasarkan pada Mix Desain


yang telah dibuat terlebih dahulu melalui proses laboratorium,
untuk
campuran K-225 digunakan perbandingan berat masing-masing
Tulungagung, 5 Juni 2013
material antara Semen : Pasir : Batu Pecah, dimana dalam 1 M3
PT. KARYA TUNGGAL MULYA ABADI
campuran beton digunakan Portland Cement Type I - 50 kg.
Semua material yang digunakan haruslah sudah di setujui oleh
pengawas pekerjaan sebelum diterapkan dilapangan dan juga
mengacu pada peraturan-peraturan yang ditetapkan di dalam RKS
dan Gambar Kerja.
Ir. TATANG YOGA ENDRA, MM
Untuk masing-masing item pekerjaanDirektur Utama
yang menggunakan campuran
beton K-225 haruslah dibuatkan sempel beton untuk pengujian kuat
tekan beton. Jumlah sample yang disediakan untuk tiap seri
pengetesan sebanyak 10 (Sepuluh) buah dengan nilai maximum
Slump 7 cm.

Peralatan yang
digunakan:
Isian Tiang :
Pembesian
1. Blender Pemotong
2. Pembengkok besi tulangan
3. Tang
4. Kakatua (Gegep)

Metode Pelaksanaan 112


113