Anda di halaman 1dari 314

PENGANTAR

FISIKA KUANTUM

Oleh
SUTOPO
JURUSAN FISIKA FMIPA UM
PRAKATA

Buku ini utamanya disusun sebagai bahan ajar perkuliahan Pengantar Fisi-
ka Kuantum di program studi Fisika atau Pendidikan Fisika jenjang S-1,
dengan bobot 3 sks. Selain sebagai bahan ajar, buku ini juga dimaksudkan
untuk membantu para pemula yang ingin memahami struktur fisika kuan-
tum secara umum, mulai dari latar belakang sejarah, pokok-pokok metodo-
logi, sampai contoh-contoh aplikasinya.
Atas dasar pemikiran itu maka buku ini disusun untuk memberi ja-
waban yang memadai atas 3 pertanyaan pokok berikut. (1) Mengapa Fisika
Kuantum harus ada? (2) Bagaimana metodologi Fisika Kuantum? dan (3)
Bagaimana metodologi itu diterapkan untuk menganalisis suatu gejala fi-
sika tertentu?
Naskah buku ini mulai disiapkan sejak tahun 1998, dalam bentuk dik-
tat kuliah pada program studi Pendidikan Fisika UM (Universitas Negeri
Malang). Dalam kurun waktu yang cukup panjang itu isi naskah beserta
struktur penyajiannya terus diperbaiki berdasarkan hasil implementasinya
di setiap perkuliahan. Namun demikian penulis masih sangat memerlukan
kritik dan saran dari pembaca, khususnya para dosen Fisika Kuantum di
tanah air. Semoga buku ini bermanfaat.
Untuk dapat memahami dengan baik uraian dalam naskah ini, pem-
baca diharapkan telah memiliki keterampilan matematika yang memadai,
utamanya yang berkitan dengan bilangan kompleks, kalkulus diferensial
dan integral, transformasi Fourier, polinomial Hermite, Polinom Legendre,
dan persamaan diferensial. Selain perangkat matematika tersebut, pembaca
diharapkan juga telah familier dengan beberapa konsep dasar dalam fisika
modern, misalnya: efek fotolistrik, efek compton, pembentukan sinar-X,
dan Asas Ketakpastian Heisenberg. Pemahaman tentang teori gelombang
elektromagnetik (teori Maxwell) juga diperlukan, utamanya untuk mema-
hami uraian dalam Bab 1.
Keseluruhan naskah dalam buku ini dapat dikelompokkan atas 3
bagian pokok, yaitu latar belakang lahirnya fisika kuantum (Bab 1 sampai

Sutopo Pengantar Fisika Kuantum iii


iv Prakata

Bab 3), pokok-pokok metodologi fisika kuantum (Bab 4 dan Bab 5), dan
contoh aplikasi metodologi untuk kasus-kasus sederhana (Bab 6, Bab 7, dan
Bab 8).
Bagian Latar Belakang menguraikan beberapa eksperimen penting
yang mengantarkan lahirnya fisika kuantum, yaitu Radiasi Benda-Hitam
(Bab 1) dan Efek Fotolistrik (Bab 2), serta Hipotesis de Broglie (Bab 3). Pada
Bab 1 diuraikan tentang: data eksperimen radiasi benda-hitam, penjelasan
klasik dan kegagalannya, serta postulat Planck dan implikasinya. Pada Bab
2 diuraikan: data eksperimen tentang efek fotolistrik, penjelasan klasik dan
kegagalannya, serta postulat Einstein dan implikasinya (yaitu adanya sifat
ganda yang dimiliki radiasi elektromagnetik). Pada Bab 3 diuraikan: hipo-
tesis de Broglie (makna dan implikasinya), sifat-sifat gelombang materi,
wujud gelombang materi, penafsiran Born tentang gelombang materi, dan
pendeduksian asas ketakpastian Heisenberg berdasar penafsiran Born.
Melalui uraian dalam ketiga bab itu diharapkan pembaca tidak saja
memahami mengapa orang perlu membangun teori baru yang kini dikenal
sebagai Fisika Kuantum, atau Mekanika Kuantum, tetapi juga dapat mema-
hami konsep dualisme gelombang-partikel beserta implikasi teoretiknya,
serta perlunya merombak konsep energi (dari bernilai konstinu ke diskret).
Penjabaran asas ketakpastian Heisenberg di akhir Bab 3 dimaksudkan agar
pembaca segera mendapatkan bukti teoretik bahwa hipotesis de Broglie
cocok dengan teori yang sudah dikenal pembaca sejak di SLTA, yaitu asas
Ketakpastian Heisenberg.
Bagian kedua menyajikan postulat-postulat yang dipakai sebagai dasar
metodologi fisika kuantum. Bagian ini terdiri atas 2 bab, yaitu Bab 4 dan
Bab 5. Pada Bab 4 diuraikan metodologi dalam hal: pendeskripsian keada-
an sistem, pendeskripsian besaran fisika (operator), dan pendeskipsian pe-
ngukuran (proses, hasil, dan dampaknya pada keadaan sistem). Pada akhir
bab itu dibahas pula penerapan postulat pengukuran untuk mendeduksi
asas ketakpastian Heisenberg. Penjabaran asas ketakpastian Heisenberg di-
ketengahkan kembali untuk memberikan bukti teoretis kepada pembaca
akan kekonsistenan postulat-postulat yang telah dikemukakan.
Pada Bab 5 dibahas metode untuk mendapatkan fungsi gelombang
atau untuk menjelaskan bagaimana keadaan sistem berubah terhadap wak-
tu. Perangkat utama untuk itu adalah persamaan Schrdinger. Bagaimana
persamaan tersebut dijabarkan dan seperti apa karakteristiknya diuraikan
secara rinci pada Bab 5 ini.
Pada Bab 5 juga dibahas penerapan persamaan Schrdinger untuk me-
nelaah bagaimana nilai harap suatu besaran fisika berubah terhadap wak-
tu. Contoh besaran yang dibahas dipilih sedemikian rupa hasilnya dapat
dibandingkan dengan rumusan serupa yang ada di Fisika Klasik. Dengan
cara ini diharapkan pembaca segera mendapatkan bukti teoretis bahwa

Pengantar Fisika Kuantum


Prakata v

fisika kuantum telah memenuhi asas kesepadanan dengan fisika klasik.


Perlu ditambahkan bahwa asas kesepadanan merupakan salah satu syarat
yang harus dipenuhi oleh setiap teori baru. Asas itu menyatakan bahwa
setiap teori baru harus sesuai dengan teori lama jika teori baru tersebut
diterapkan dalam wilayah di mana teori lama telah menunjukkan kesahih-
annya.
Bagian ketiga, tentang contoh penerapan metodologi fisika kuantum,
disajikan dalam 3 bab yaitu Bab 6, Bab 7, dan Bab 8. Pada Bab 6 dibahas pe-
nerapan persamaan Schrdinger pada kasus-kasus yang sangat sederhana
dalam arti penyelesaian secara analitisnya mudah dilakukan. Tujuan po-
kok bab itu adalah untuk mengajak pembaca mengenali prosedur umum
dalam memecahkan persamaan Schrdinger sekaligus untuk menerampil-
kan diri dalam menggunakan persamaan itu. Pemaknaan fisik terhadap
setiap hasil analisis juga diberikan untuk menunjukkan adanya perbedaan
dan atau kesamaan antara tinjauan klasik dan tinjauan kuantum.
Pada bab 7 disajikan contoh penerapan persamaan Schrdinger pada
kasus yang sedikit lebih rumit dalam arti untuk menyelesaikan persamaan
Schrdingernya diperlukan langkah-langkah tertentu yang lebih rumit
daripada yang disajikan di Bab 6. Contoh kasus yang dibahas adalah osila-
tor harmonis. Perbedaan mendasar antara hasil analisis secara kuantum
dengan hasil analisis secara klasik juga ditunjukkan. Untuk menunjukkan
adanya kekonsistenan (self consistence) dalam seluruh kerangka pemikiran
kuantum, juga ditunjukkan kecocokan antara hasil analisis ini dengan
salah satu postulat yang mendasari lahirnya fisika kuantum, yaitu postulat
Planck.
Pada bab 8 dibahas momentum sudut secara kuantum dan terapannya
pada atom berelektron tunggal. Pemilihan momentum sudut sebagai po-
kok bahasan didasari oleh pemikiran bahwa selain merupakan besaran
dinamis fundamental dalam gerak tiga dimensi, pembahasan momentum
sudut juga merupakan pintu masuk yang baik untuk mempelajari gerak
tiga dimensi berdasarkan fisika kuantum. Telaah atom berelektron tunggal
dimaksudkan untuk memberikan contoh nyata penerapan persamaan
Schrdinger dalam ruang tiga dimensi. Rumusan yang dihasilkan kemu-
dian diterapkan pada atom hidrogen. Akhirnya, semua rumusan yang di-
peroleh diperbandingkan dengan teori Bohr tentang atom hidrogen, suatu
teori atom yang disusun berdasarkan lompatan-lompatan berfikir (berfikir
kuantum) dan hasilnya menunjukkan banyak kecocokan dengan data eks-
perimen. Pembaca akan melihat bahwa teori Schrdinger dapat menjelas-
kan semua teori yang dirumuskan Bohr, bahkan mampu menjelaskan geja-
la-gejala yang tidak dapat dijelaskan oleh Bohr.
Bagaimana menggunakan buku ini? Struktur bab dalam keseluruhan
buku ini disusun secara konsinten sebagai berikut. Di bagian awal bab

Prakata
vi Prakata

disajikan garis besar isi yang dibahas dalam bab tersebut. Hal ini dimak-
sudkan agar pembaca segera mengetahui apa isi bahasan dalam bab itu.
Setelah bagian pendahuluan tersebut, diuraikan secara rinci semua sub
bahasan yang terkandung dalam bab itu. Sebelum perlatihan, pada setiap
bab disajikan rangkuman yang dimaksudkan untuk memudahkan pem-
baca menangkap inti dari uraian yang ada di setiap sub bahasan. Di akhir
bab disajikan perlatihan yang dikemas dalam dua kelompok pertanyaan,
yaitu pertanyaan konsep dan pertanyaan analisis. Butir-butir pertanyaan
pada bagian pertanyaan konsep tidak semata-mata dimaksudkan untuk
mengukur tingkat pemahaman pembaca terhadap isi naskah, melainkan
juga untuk merangsang pembaca memikirkan hal-hal lain yang terkait de-
ngan pokok bahasan dalam naskah. Dengan demikian diharapkan pem-
baca dapat menjalin semua pengetahuan yang dimiliki menjadi struktur
kognitif baru yang lebih kompleks dan bermakna. Di pihak lain, butir-butir
pertanyaan dalam bagian pertanyaan analitis utamanya dimaksudkan
untuk memandu pembaca memahami uraian naskah secara lebih cermat
dan mendalam, termasuk detail matematis yang digunakan dalam naskah.
Lingkup bahasan yang tercakup dalam naskah ini memang masih
terlalu sempit dibandingkan dengan khasanah fisika kuantum yang begitu
luas. Namun demikian saya berharap agar buku ini merupakan pintu ma-
suk yang tepat untuk mempelajari fisika kuantum. Untuk itu kritik dan
saran sangat kami harapkan, utamanya dari para dosen dan mahasiswa,
demi perbaikan untuk edisi berikutnya.
Buku ini juga menyajikan glosarium yang dimaksudkan untuk mem-
bantu pembaca memahami makna suatu konsep atau istilah penting yang
dibicarakan dalam naskah. Kata-kata kunci dalam glossarium disusun se-
cara alfabetik untuk memudahkan pencarian secara cepat. Glossarium
disajikan setelah Bab 8.
Untuk membantu pembaca menemukan kata-kata kunci yang dipakai
dalam naskah juga disediakan indeks yang ditempatkan di bagian akhir
buku ini. Untuk menemukan penjelasan tentang suatu konsep dari buku
ini, disarankan untuk memadukan informasi dalam Indeks dan Daftar Isi
secara bersamaan.
Agar dapat memahami uraian dalam naskah ini secara baik, ikutilah
saran seperti disajikan dalam gambar berikut.

Pengantar Fisika Kuantum


Prakata vii

Diagram Alur Cara Menggunakan Buku Ini

Baca judul bab beserta pengantarnya

Baca semua judul sub bab


<lompati dulu uraiannya>

Baca Rangkuman

Baca uraian di setiap sub bab tanpa harus


mencermati detail matematisnya

Baca Rangkuman

Baca uraian di setiap sub bab


termasuk detail matematisnya

Kerjakan soal Pertanyaan Analisis

Jawab Pertanyaan Konsep

UCAPAN TERIMAKASIH

Atas selesainya buku ini, saya menyampaikan penghargaan dan teri-


makasih yang mendalam kepada semua pihak yang telah membantu hing-
ga naskah ini dapat diselesaikan dalam wujud seperti ini. Secara khusus
ucapan terimakasih dan penghargaan saya sampaikan kepada yang terhor-
mat guru saya tercinta Prof. Dr. Muslim (Guru besar Fisika UGM Jogya-
karta) atas kesediaannya mereview draf buku ini. Saran dan koreksinya

Prakata
viii Ucapan terimakasih

sungguh sangat bermanfaat, baik dari segi subtansi isi maupun tata tulis.
Terimakasih juga saya sampaikan kepada guru saya Drs. Abdul Aziz, M.S
(Fisika UNESA Surabaya) atas kesediaanya mereview draft buku ini dan
memberikan motivasi kepada saya untuk menyempurnakan naskah buku
ini. Ucapan terimakasih juga saya sampaikan kepada saudara Ahmad
Wafir, mantan mahasiswa saya, yang telah memberikan kritik dan koreksi
secara berani, jujur, dan lugas atas naskah awal buku ini. Kritik dan
sarannya telah memaksa saya untuk menyederhanakan cara penyajian dan
menambah penjelasan yang lebih rinci agar naskah ini dapat dipahami oleh
mahasiswa. Kepada yth Drs. Supahar, M.Si, (Fisika UNY Jogyakarta), saya
haturkan beribu terimakasih atas kejeliannya dalam mencermati huruf
demi huruf serta kata demi kata meliputi keseluruhan halaman dalam draf
naskah ini. Atas kejelian beliau inilah saya sangat terbantu dalam me-
ngupayakan keajegan menggunakan istilah dan ketelitian dalam menggu-
nakan lambang-lambang. Kepada yth. Drs. Parlindungan Sinaga, M.Si (Ju-
rusan Fisika UPI Bandung) dan Dr. Muhammad Nurhuda (Fisika Unibraw
Malang) juga saya sampaikan beribu terimakasih atas kesediaannya melu-
angkan waktu untuk mereview buku ini.
Penyempurnaan akhir naskah ini didasarkan pada hasil ujicoba di UM,
UNY, dan UPI. Dalam hal ujicoba ini saya menyampaikan terimakasih
yang dalam kepada yth. Bapak Drs. Supardi, M.Si (Fisika UNY) dan Bapak
Drs. Yayu Rachmat T, M.Si (Fisika UPI) yang telah bersedia mengujico-
bakan naskah awal buku ini di kelas perkuliahan sekaligus memberikan
masukan-masukan yang sangat bermanfaat baik yang didasarkan atas hasil
ujicoba maupun atas temuan pribadi. Ucapan terimakasih juga saya sam-
paikan kepada Bapak Drs. Yudyanto, M.Si (Fisika UM) yang telah bersedia
mengawal revisi akhir naskah ini. Mudah-mudahan amalan beliau-beliau
dicatat oleh Allah yang Maha Bijak menjadi amalan sholeh.
Ucapan terimakasih juga saya haturkan kepada Dekan FMIPA UM
atas kesediaannya menyertakan draf awal buku ini sebagai salah satu draf
buku yang perlu direview oleh dosen-dosen dari UPI dan UNJ dalam rang-
ka kerjasama JICA-IMSTEP. Kepada Direktor Pembinaan Penelitian dan
Pengabdian Kepada Masyarakat, Ditjen Dikti, juga penulis sampaikan teri-
makasih atas fasilitas yang diberikan sehingga penulis mendapatkan tam-
bahan motivasi untuk menyempurnakan draf buku ini.

Malang, September 2005


Sutopo, Jurusan Fisika FMIPA UM

Pengantar Fisika Kuantum


DAFTAR ISI

Prakata iii
Ucapan Terimakasih vii
Daftar Isi ix
Penjelasan lambang matematika xiii

BAB 1 RADIASI BENDA HITAM 1


1.1 Radiasi Termal 1
1.2 Data Eksperimen Radiasi Benda-Hitam 3
1.2.1 Distribusi Radiansi Spektral 3
1.2.2 Hukum Pergeseran Wien 4
1.2.3 Hukum Stefan-Boltzmann 5
1.3 Rumusan Teoretis 5
1.3.1 Teori Rayleigh-Jeans 8
1.3.2 Teori Planck 9
1.4 Implikasi dan Signifikansi Postulat Planck 12
1.5 Ragam Gelombang Tegak dalam Rongga 15
1.5.1 Persamaan Gelombang dan Syarat Batasnya 15
1.5.2 Penyelesaian Persamaan Gelombang 16
1.6 Penghitungan Cacah Ragam 20
Rangkumam 23
Perlatihan 25
BAB 2 EFEK FOTOLISTRIK 31
2.1 Efek Fotolistrik 32
2.2 Fakta-Fakta Eksperimen 34
2.3 Penjelasan Teoretis 38
2.3.1 Penjelasan Berdasarkan Fisika Klasik 38
2.3.2 Penjelasan Berdasarkan Teori Einstein: 40
Pengkuantuman Cahaya
2.4 Komplementaritas Bak-Gelombang dan Bak-Partikel 44
bagi Cahaya
Rangkumam 47
Perlatihan
48

Sutopo Pengantar Fisika Kuantum ix


x Daftar isi

BAB 3 GELOMBANG MATERI DAN ASAS KETAKPASTIAN


53
HEISENBERG
3.1 Postulat de Brgoglie 53
3.2 Eksistensi Gelombang Materi 55
3.3 Wujud Gelombang Materi 58
3.4 Penafsiran Fungsi Gelombang 64
3.5 Asas Ketakpastian Heisenberg 69
Rangkumam 77
Perlatihan 79
BAB 4 POKOK-POKOK METODOLOGI FISIKA KUANTUM 83
4.1 Pendeskripsian Keadaan Sistem 84
4.2 Pendeskripsian Besaran Fisika 85
4.2.1 Operator Posisi 85
4.2.2 Operator Momentum Linear 87
4.2.3 Operator Besaran Lain 89
4.3 Pendeskripsian Pengukuran 91
4.3.1 Proses Pengukuran 91
4.3.2 Dampak Pengukuran 92
4.3.3 Hasil Pengukuran 95
4.4 Pokok-Pokok Matematika Dalam Ruang Kompleks 98
4.4.1 Perkalian Skalar Antarfungsi-Gelombang 98
4.4.2 Ketaksamaan Schwarz 99
4.4.3 Operator 99
4.4.4 Operator Hermitean 100
4.4.5 Aljabar Operator 101
4.4.6 Komutator 102
4.5 Asas Ketakpastian Heisenberg 102
4.5.1 Penghitngan xp Untuk Beberapa Keadaan 103
4.5.2 Rumusan Umum Asas Ketakpastian 107
Heisenberg
Rangkumam 108
Perlatihan 111
BAB 5 PERSAMAAN SCHRDINGER 115
5.1 Perumusan Persamaan Schrdinger 115
5.2 Tinjauan Umum 118
5.2.1 Bentuk Eksplisit Persamaan Schrdinger 119
5.2.2 Struktur Matematis Persamaan Schrdinger 120
5.3 Perubahan Nilai Harap Terhadap Waktu 123

Pengantar Fisika Kuantum


Daftar isi xi

5.4 Rapat Arus Peluang 130


5.5 Persamaan Schrdinger Bebas Waktu 133
5.5.1 Penjabaran Persamaan Schrdinger Bebas Waktu 133
5.5.2 Keadaan Stasioner 136
5.5.3 Kombinasi Linear Beberapa Fungsi Gelombang
Stasioner 138
5.5.4 Persyaratan Fungsi Eigen 139
5.6 Pengkuantuman Energi 140
Rangkumam 143
Perlatihan 146
BAB 6 KEADAAN STASIONER PARTIKEL DALAM 149
POTENSIAL KOTAK
6.1 Tinjauan Umum 149
6.2 Potensial Undak 153
a. Energi Total Kurang dari V0 153
b. Energi Total Lebih dari V0 157
6.3 Potensial Tanggul 160
a. Energi Total Lebih dari V0 : Resonansi Transmisi 161
b. Energi Total Kurang dari V0: Efek Penerowongan 164
6.4 Potensial Sumur: Keadaan Terikat 168
a. Kedalaman Sumur Berhingga 168
b. Kedalaman Sumur Tak Berhingga 175
Rangkumam 176
Perlatihan 177
BAB 7 OSILATOR HARMONIS 181
7.1 Tinjauan Klasik 182
7.2 Persamaan Schrdinger 183
7.3 Penyelesaian Persamaan Schrdinger 185
7.3.1 Nilai Eigen 188
7.3.2 Fungsi Eigen 190
7.4 Polinom Hermite 198
7.4.1 Definisi Polinom Hermite 198
7.4.2 Beberapa Sifat Polinom Hermite 199
7.5 Fungsi Eigen Osilator Harmonis 199
7.6 Ketakpastian Posisi dan Momentum 202
7.6.1 Ketakpastian Posisi 203
7.6.2 Ketakpastian Momentum 204
7.6.3 Perkalian Ketakpastian Posisi dan Momentum 204

Daftar isi
xii Daftar isi

Rangkumam 205
Perlatihan 207

BAB 8 MOMENTUM SUDUT dan ATOM BERELEKTRON 209


TUNGGAL
8.1 Tinjauan Klasik Momentum Sudut 210
8.2 Operator Momentum Sudut 211
8.2.1 Perumusan Operator 211
8.2.2 Hubungan Komutasi 213
8.3 Persamaan Nilai Eigen Momentum Sudut 215
8.3.1 Persamaan Nilai Eigen Bagi L 2 216
8.3.2 Persamaan Nilai Eigen Bagi Lz 222
8.3.3
Spektrum Nilai Eigen L 2 dan L 222
z
2
8.3.4 Kemerosotan Nilai Eigen L dan L z 224
8.4 Orientasi Vektor Momentum Sudut 224
8.5 Hukum Kekekalan Momentum Sudut 228
8.6 Atom Berelektron Tunggal 229
8.6.1 Persamaan Schrdinger 230
8.6.2 Penyelesaian Persamaan Schrdinger 231
8.6.3 Rapat Peluang Posisi 238
8.7 Bilangan Kuantum 250
8.7.1 Makna Bilangan Kuantum n, , dan m 250
8.7.2 Bilangan Kuantum dan Lambang Spektroskopi 253
8.8 Atom Hidrogen 254
8.8.1 Model Atom Bohr 255
8.8.2 Diskusi Hasil Penerapan Persamaan
258
Schrdinger
Rangkuman 259
Perlatihan 263
GLOSSARIUM 269
INDEKS 279
Daftar Pustaka 285
Lampiran: Tetapan yang digunakan dalam buku ini 287

Pengantar Fisika Kuantum


PENJELASAN
LAMBANG MATEMATIKA

Lambang Makna, Penjelasan Makna, dan Contoh Penggunaannya

= sama dengan
Menyatakan kesamaan (makna atau nilai) antara pernyataan
di sebelah kiri lambang dengan pernyataan di sebelah kanan
lambang.
Contoh:
F = ma, menyatakan ungkapan besar dan arah gaya F sama
dengan besar dan arah ma

didefinisikan sebagai atau



berdasarkan difinisinya dinyatakan sebagai
Menyatakan bahwa ungkapan di sebelah kanan lambang me-
rupakan definisi dari ungkapan di sebelah kiri lambang.
Contoh:
p mv, menyatakan ungkapan momentum linear p dide-
finisikan sebagai perkalian massa m dengan kece-
patan partikel v

diungkapkan dalam bentuk atau diwakili oleh


Menyatakan bahwa ungkapan di sebelah kanan lambang me-
rupakan salah satu bentuk tampilan dari ungkapan di sebe-
lah kiri lambang.
Contoh:

P x ih , menyatakan ih merupakan salah satu
x x
bentuk tampilan operator P x (yaitu di ruang
posisi dalam sistem Cartesan)

Sutopo Pengantar Fisika Kuantum xiii


xiv Penjelasan lambang

Lambang Makna, Penjelasan Makna, dan Contoh Penggunaannya


nilainya sekitar atau dapat didekati sebagai
Menyatakan bahwa ungkapan di sebelah kanan lambang me-
rupakan nilai penghampiran (pendekatan) dari besaran yang
ditulis di sebelah kiri lambang.
Contoh:
Untuk x sangat besar maka ex 1 ex
.* konjugate kompleks
Menyatakan kojugate kompleks bagi fungsi (bilangan) yang
ditulis sebelum tanda *.
Contoh:
Jika z x + iy maka z* = x iy
(,) (dua fungsi yang dipisahkan dengan tanda koma dan ditem-
patkan di dalam kurung biasa)
perkalian skalar
Menyatakan perkalian skalar antara fungsi yang ditulis di
sebelah kiri tanda koma (,) dengan fungsi yang di tulis di
kanan tanda koma.
Contoh:
(f(x), g(x)) f *(x) g(x) dx


A (huruf besar bertopi)
Operator
[,] (dua operator yang dipisahkan dengan tanda koma dan
ditempatkan di dalam kurung siku)
komutator
Menyatakan komutator yang dibentuk oleh operator yang
ditulis di kiri tanda koma dengan operator yang ditulis di
kanan koma
Contoh
[A dan B
, B ], komutator yang dibentuk oleh operator A

|| (fungsi atau vektor yang ditempatkan dalam tanda garis


tegak di kiri dan kanan)
nilai mutlak atau absolut
Contoh:
|a|: modulus atau nilai vektor a, |f(x)|: nilai mutlak bagi f(x)

Pengantar Fisika Kuantum


Penjelasan lambang xv

LAMBANG VEKTOR DAN SKALAR


Vektor dilambangkan dengan huruf latin yang ditulis tegak dan tebal.
Contoh: p, F, i
Skalar dilambangkan dengan huruf latin yang dicetak miring, tidak
tebal
Contoh: p, F
a b = ab cos , a dan b menyatakan vektor, sedangkan a, b, dan
menyatakan skalar.

Penjelasan lambang
BAB 1
RADIASI BENDA-HITAM

Salah satu penyebab lahirnya fisika kuantum adalah ditemukannya bebe-


rapa gejala pada radiasi benda-hitam, pada akhir abad 19, yang tidak da-
pat dijelaskan dengan teori yang telah ada pada saat itu. Untuk menda-
patkan teori yang cocok, ternyata orang harus merombak pemikirannya
tentang konsep energi, khususnya energi radiasi. Keyakinan lama tentang
energi bernilai malar (kontinu) dirombak menjadi keyakinan baru yang
menyatakan bahwa energi dapat bernilai diskret. Di sinilah pertama kali-
nya muncul konsep pengkuantuman energi. Selain itu, tetapan Planck,
yang menjadi ciri khas fisika kuantum, juga ditemukan dalam rangka
perumusan teori radiasi benda-hitam itu.
Oleh karena itu, sebagai langkah awal dalam mempelajari fisika kuan-
tum, pada bab ini kita membahas perihal radiasi benda-hitam. Pertama ki-
ta bahas pengertian radiasi termal dan berbagai data eksperimen yang
terkait dengan radiasi benda-hitam. Kemudian kita pelajari Teori Rayleigh-
Jeans, suatu teori terbaik yang dapat dibangun berdasarkan konsep energi
malar tetapi hasilnya tidak cocok dengan data eksperimen. Kita akan me-
nemukan penyebab kegagalan teori itu dan pada gilirannya akan mema-
hami cara Planck menemukan teori yang benar. Akhirnya, kita diskusikan
konsekuensi teori Planck terhadap perkembangan pemahaman kita ten-
tang energi.

1.1 RADIASI TERMAL

Radiasi (sinaran gelombang elektromagnet) yang dipancarkan oleh


suatu benda akibat temperaturnya disebut radiasi termal. Setiap benda sela-
lu memancarkan radiasi termal ke lingkungannya dan bersamaan itu juga
menyerap radiasi termal dari lingkungannya. Laju pemancaran dan pe-
nyerapan tersebut tidak harus sama. Jika mula-mula temperatur benda
lebih tinggi daripada temperatur lingkungannya, laju pemancaran benda

Sutopo Pengantar Fisika Kuantum 1


2 Radiasi Termal

itu melebihi laju penyerapannya sehingga benda tersebut segera menjadi


dingin. Jika sudah dicapai kesetimbangan termal dengan lingkungannya,
laju pemancarannya selalu sama dengan laju penyerapannya.
Radiasi termal pada umumnya terbentang dalam bentuk spektrum,
artinya terdiri atas sederetan gelombang dengan berbagai frekuensi, atau
panjang gelombang. Spektrum tersebut dapat berupa spektrum kontinu
atau spektrum garis. Spektrum yang dihasilkan oleh radiasi termal benda
padat dan cair berupa spektrum kontinu, sedangkan yang dihasilkan oleh
gas berupa spektrum garis.
Pada umumnya detail spektrum radiasi termal bergantung pada tem-
peratur dan bahan penyusun benda. Tetapi, spektrum yang dihasilkan
oleh benda panas khusus yang disebut benda-hitam (blackbody) hanya ber-
gantung pada temperaturnya. Artinya, pada temperatur yang sama semua
benda-hitam memancarkan radiasi termal dengan spektrum yang sama,
apa pun bahan penyusunnya. Karena sifat keuniversalan spektrumnya
itulah maka para ahli banyak mempelajari radiasi benda-hitam.
Benda-hitam didefinisikan sebagai benda yang menyerap seluruh ra-
diasi yang mengenainya. Contoh terbaik benda-hitam adalah lubang kecil
di dinding benda berongga. Radiasi yang masuk ke dalam rongga melalui
lubang tidak dapat ke luar lagi dengan segera. Sebab, begitu masuk ke da-
lam rongga, ia dipantulkan berkalikali oleh dinding rongga sebelum akhir-
nya menemukan lubang dan lepas ke luar. Lihat Gambar 1.1. Mudah dipa-
hami bahwa semakin kecil ukuran lubang semakin kecil pula peluang
radiasi yang masuk tadi dapat ke luar lagi. Jika lubang dibuat sedemikian
kecil sehingga seluruh radiasi yang masuk tidak dapat ke luar lagi maka
lubang tadi dikatakan menyerap seluruh radiasi yang mengenainya. De-
ngan demikian lubang tersebut berperilaku sebagai benda-hitam. Jika ada
radiasi ke luar melewatinya, asalnya selalu dari dalam rongga itu sendiri,
bukan dari pantulan.

Gambar 1.1 Lubang kecil di permukaan ben-


da panas berongga menyerap
semua radiasi yang mengenai-
nya. Lubang berperilaku seba-
gai benda-hitam.

Penyelidikan radiasi benda-hitam pada umumnya menggunakan lu-


bang kecil seperti itu. Untuk menghasilkan radiasi, dinding rongga dipa-
nasi sehingga memancarkan radiasi ke dalam rongga. Radiasi ini selan-

Pengantar Fisika Kuantum


Radiasi termal 3

jutnya lepas ke luar rongga melewati lubang. Karena lubang telah berperi-
laku sebagai benda-hitam, maka radiasi yang melewatinya dapat diguna-
kan sebagai sampel (contoh) radiasi benda-hitam yang ideal. Lebih lanjut,
karena lubang tidak lain merupakan bagian dari rongga, maka radiasi
yang keluar dari lubang tadi juga mewakili radiasi rongga (cavity radiation)
secara keseluruhan.

1.2 DATA EKSPERIMEN RADIASI BENDA-HITAM

Ada 3 hal penting yang akan kita bicarakan tentang data eksperimen
radiasi benda-hitam, yaitu: distribusi radiansi spektral (spectral radiancy dis-
tribution), Hukum Pergeseran Wien, dan Hukum Stefan-Boltzmann.

1.2.1 Distribusi Radiansi Spektral


Untuk menyelidiki spektrum radiasi benda-hitam, didefinisikan suatu
fungsi distribusi yang disebut distribusi radiansi spektral. Yang dimak-
sud dengan radiansi adalah banyaknya energi yang dipancarkan tiap satu
satuan luas permukaan benda tiap satu satuan waktu. Karena energi per
satuan waktu dinamai daya, maka radiansi dapat pula dikatakan sebagai
daya pancar per satuan luas. Keterangan spetral pada ungkapan distri-
busi radiansi spektral dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa distribusi
radiansi tersebut dirumuskan untuk mendeskripsikan radiansi yang di-
sumbangkan oleh masing-masing komponen spektrum. Komponen spek-
trum dapat dicirikan dengan salah satu dari dua besaran berikut, yaitu
panjang gelombang atau frekuensi. Jika frekuensi yang kita pilih, maka
distribusi radiansi spektral menyatakan distribusi radiansi (daya pancar
per satuan luas permukaan benda-hitam per satuan waktu) yang disum-
bangkan oleh komponen spektrum yang berfrekuensi tertentu. Karena ra-
diansi pada komponen spektrum juga bergantung pada temperatur
benda-hitam maka fungsi distribusi radiansi spektral juga bergantung
pada temperatur benda-hitam.
Jika fungsi distribusi radiansi spektral kita lambangi R T ( ) , maka
R T ( )d menyatakan radiansi benda-hitam yang bertemperatur T dan di-
sumbangkan oleh komponen spektrum yang berfrekuensi dari sampai
d . Data eskperimen radiasi benda-hitam, khususnya distribusi radi-
ansi spektralnya, secara kualitatif disajikan pada Gambar 1.2 .
Berdasarkan gambar tersebut dapat diketahui bahwa spektrum radiasi
benda-hitam berupa spektrum kontinu dengan radiansi yang beragam
bagi masing-masing komponen spektrum. Komponen spektrum yang ber-
frekuensi sangat rendah memiliki radiansi sangat lemah. Seiring dengan

Bab 1: Radiasi Benda Hitam


4 Data eksperimen radiasi benda-hitam

kenaikan frekuensi, radiansi itu berangsur-angsur naik sampai mencapai


batas tertentu kemudian turun lagi. Pada temperatur tertentu, selalu terda-
pat satu komponen spektrum yang radiansinya paling kuat.
RT()

T5
T4
T3
T2
T1

Gambar 1.2 Distribusi spektral radiansi benda-hitam pada temperatur
T5 > T4 > T3 > T2 > T1 . Beda antara dua temperatur yang
berdekatan adalah tetap

1.2.2 Hukum Pergeseran Wien


Gambar 1.2 juga menunjukkan bahwa pada setiap temperatur tertentu
selalu terdapat komponen spektrum yang radiansinya paling besar. Sema-
kin tinggi temperatur benda, semakin tinggi pula frekuensi komponen
spektrum yang radiansinya paling besar. Jika frekuensi komponen spek-
trum dengan radiansi terbesar itu dilambangi maks, maka dari grafik terse-
but didapatkan hubungan bahwa maks T, atau
maks = T, (1. 1)

dengan suatu tetapan yang nilainya sebesar 5,8710 K s . Rumusan
tersebut merupakan bentuk lain dari rumusan maksT = 2,89810 m.K,
yang pertama kali ditemukan secara empiris oleh Wien. Oleh karena itu,
sebagai penghormatan atas karyanya, ungkapan di atas disebut Hukum
Wien. Hukum ini juga sering disebut sebagai Hukum Pergeseran Wien.
Kata pergeseran mengacu pada kenyataan bahwa jika temperatur ber-
ubah (naik/turun) maka nilai maks akan bergeser (naik/turun).
Perlu ditegaskan bahwa indeks maks pada maks kita gunakan
untuk menandai bahwa komponen spektrum yang frekuensinya maks

Pengantar Fisika Kuantum


Data eksperimen radiasi benda-hitam 5

tersebut memiliki radiansi paling besar, bukan untuk menyatakan nilai


maksimum bagi itu sendiri. Hal ini tampak jelas ditunjukkan oleh
Gambar 1.2, bahwa pada sebarang temperatur, dapat bernilai sebarang:
dari 0 sampai . Penjelasan serupa berlaku untuk maks. Untuk
menghindari kesalahan tafsir, ada baiknya jika maks kita baca sebagai
frekuensi utama dan maks kita baca sebagai panjang gelombang utama.

1.2.3 Hukum Stefan-Boltzmann



Luasan di bawah grafik RT(), yaitu 0 RT ( ) d , menyatakan radiansi
benda-hitam yang disumbangkan oleh seluruh komponen spektrum pada
temperatur T. Dengan kata lain, luasan tersebut menyatakan energi termal
yang dipancarkan oleh tiap satuan luas permukaan benda-hitam tiap satu-
an waktu pada temperatur T tertentu. Berdasarkan Gambar 1.2 dapat di-
simpulkan bahwa semakin tinggi temperatur benda-hitam semakin tinggi
pula energi termal yang dipancarkan. Kenaikan energi termal terhadap
temperatur tersebut ternyata sangat cepat.
Energi termal yang dipancarkan per satuan waktu oleh tiap satuan lu-
as permukaan benda-hitam yang bertemperatur T, dilambangi RT, ditemu-
kan secara empiris oleh Stefan dan dirumuskan sebagai
RT = T 4 (1. 2)

dengan = 5,6710 W.m .K , yang disebut tetapan Stefan-Boltzmann.
Persamaan (1.2) dikenal sebagai Hukum Stefan-Boltzmann.

1.3 RUMUSAN TEORETIS

Penjabaran teoretis radiasi benda-hitam pada umumnya dilakukan


melalui telaah radiasi di dalam rongga, bukan radiasi yang dipancarkan
dari lubang di dinding rongga. Hal ini disebabkan karena sudah tersedia
teori yang mapan tentang radiasi rongga, yaitu teori gelombang elektro-
magnetik Maxwell. Selain itu, ada hubungan yang sederhana antara radi-
ansi yang dihasilkan lubang di dinding suatu rongga dengan rapat energi
(per satuan volume) di dalam rongga itu.
Untuk mempelajari spektrum radiasi di dalam rongga, didefinisikan
suatu fungsi distribusi yang disebut distribusi rapat energi spektral, yaitu
distribusi energi termal yang terkungkung dalam tiap satuan volume
rongga yang disumbangkan oleh komponen spektrum tertentu. Jika fungsi
distribusi rapat energi spektral dilambangi T ( ) maka T ( ) d menya-
takan energi termal per satuan volume rongga yang bertemperatur T dan

Bab 1: Radiasi Benda Hitam


6 Rumusan teoretis

disumbangkan oleh komponen spektrum yang berfrekuensi dari sampai


d . Fungsi distribusi rapat energi spektral T ( ) secara kualitatif sa-
ma dengan fungsi distribusi radiansi spektral RT ( ) . Hubungan kedua
besaran tersebut adalah

RT ( ) c T ( ) ,
4
dengan c menyatakan laju cahaya dalam vakum.
Untuk menjelaskan secara teoretis ketiga data eksperimen sebagaima-
na disebutkan di depan, langkah yang paling strategis adalah menja-
barkan rumusan distribusi rapat energi spektral T ( ) . Hal ini disebabkan
karena dua data yang lain, yaitu hukum Wien dan hukum Stefan-
Boltzmann, dapat dijabarkan dari ( ) . Oleh karena itu, kita fokuskan
T
perhatian kita pada penjabaran T ( ) tersebut.
Terjadinya radiasi di dalam rongga dijelaskan sebagai berikut. Kita
asumsikan dinding rongga berupa konduktor. Maka, jika dipanaskan,
elektron-elektron pada dinding rongga akan tereksitasi secara termal se-
hingga berosilasi. Berdasarkan teori Maxwell, osilasi elektron ini meng-
hasilkan radiasi elektromagnet. Radiasi ini akan terkungkung di dalam
rongga dalam bentuk gelombang-gelombang tegak (standing wave). Karena
dinding rongga berupa konduktor maka di dinding rongga terjadi simpul-
simpul gelombang. Uraian lebih rinci tentang terjadinya gelombang tegak
ini disajikan pada bagian tersendiri (lihat bagian 1.5).
Terdapat tak berhingga banyak ragam gelombang tegak (masing-ma-
sing ditandai dengan frekuensi atau panjang gelombangnya) di dalam
rongga. Namun demikian, cacah ragam yang memiliki frekuensi dalam
rentang d tentu jumlahnya terbatas. Untuk memudahkan pembahasan,
penghitungan cacah ragam disajikan pada bagian tersendiri (lihat bagian
1.6). Berikut disajikan hasilnya saja.
Cacah ragam gelombang tegak (di dalam rongga) yang memiliki fre-
kuensi dari sampai d , dilambangi N ( ) d adalah

8V 2
N ()d d , (1. 3)
c3
dengan V menyatakan volume rongga. Untuk setiap ragam gelombang,
terdapat tak berhingga banyak gelombang yang seragam, dengan energi
yang mungkin berbeda-beda bergantung pada amplitudo medannya.

Pengantar Fisika Kuantum


Rumusan teoretis 7

Untuk mendapatkan rapat energi spektral, langkah selanjutnya


adalah menentukan energi rata-rata tiap ragam , yaitu energi termal
rata-rata bagi sekumpulan gelombang tegak yang seragam. Sebab,
berdasarkan definisinya, rapat energi spektral dapat diperoleh dengan
mengalikan energi rata-rata tiap ragam dengan cacah ragam yang
berfrekuensi dalam rentang d dibagi volume rongga, yaitu:
N ( )
T ( ) d d . (1. 4)
V
Penghitungan yang dilakukan Rayleigh dan Jeans menghasilkan nilai
= kBT, dengan kB tetapan Boltzmann yang nilainya 1,3810 J.K.
Subtitusi Persamaan (1.3) dan = kBT ke dalam Persamaan (1.4)
menghasilkan
8 k BT 2
T ( ) d d . (1. 5)
c3
Jelaslah bahwa hasil ini tidak cocok dengan data eksperimen. Data eksperi-
men menunjukkan bahwa untuk frekuensi sangat tinggi T ( ) bernilai nol;
sementara itu menurut teori Rayleigh dan Jeans, T ( ) bernilai tak ber-
hingga besar. Perhatikan Gambar 1.3 berikut.


Gambar 1.3 Kecocokan teori Rayleigh-Jeans dengan data eks-
perimen hanya pada frekuensi rendah

Penghitungan yang dilakukan Planck menghasilkan


h
, (1. 6)
exp (h/k BT ) 1

Bab 1: Radiasi Benda Hitam


8 Rumusan teoretis

dengan h tetapan Planck yang nilainya sebesar 6,6310 J.s. Subtitusi Per-
samaan (1.6) dan (1.3) ke dalam (1.4) menghasilkan

8 2 h
T ( ) d d . (1.7)
3 exp (h/k BT ) 1
c
Hasil penjabaran Planck ini cocok dengan data eksperimen.
Berikut akan diuraikan secara singkat bagaimana Rayleigh-Jeans dan
Planck menghitung nilai energi rata-rata tiap ragam tersebut.

1.3.1 Teori Rayleigh-Jeans


Berdasarkan teori Maxwell, energi tiap ragam gelombang tegak dalam
rongga dapat bernilai sebarang, mulai dari nol sampai tak berhingga ber-
gantung pada amplitudonya. Energi rata-rata tiap ragam dihitung berda-
sarkan statistika Boltzmann yang menyatakan bahwa sejumlah besar (an-
sambel statistik) entitas fisis sejenis yang terbedakan dan berada pada kesetim-
bangan termal pada temperatur T, fraksi entitas fisis yang memiliki energi se-
banding dengan faktor Boltzmann exp( / k BT ) . Statistika ini sepenuhnya
dapat digunakan mengingat bahwa sekumpulan gelombang tegak dalam
rongga tersebut memenuhi syarat berlakunya statistika itu. Ingat bahwa
semua gelombang tegak tadi adalah sejenis dan terbedakan; mereka juga
dalam kesetimbangan termal satu dengan lainnya.
Berdasarkan statistika Boltzmann dan mengingat bahwa energi tiap
ragam bernilai sebarang (bergantung pada amplitudonya), maka energi
rata-rata tiap ragam sebesar

/ k BT
P d e d
0 0
, (1. 8)

/ k BT
P d e d
0 0
1
dengan P() menyatakan fungsi distribusi Boltzmann e / kBT .
k BT
Integrasi Persamaan (1.8) dapat diselesaikan sebagai berikut. Kare-
d / kBT d / kBT
na e e / kBT maka e / k BT k BT 2 e . Dengan
dT 2 d T
k BT
demikian, Persamaan (1.8) dapat ditulis sebagai

Pengantar Fisika Kuantum


Rumusan teoretis 9

d / kBT
e d
dT 0
k BT 2
. (1. 9)
/k T
e B d
0

Selanjutnya, karena e / k BT d k BT maka Persamaan (1.9) dapat diu-
0
bah menjadi
d
( k BT )
2 dT k2T2
k BT B k BT . (1. 10)
k BT k BT
Begitulah proses penghitungan energi rata-rata tiap ragam menurut teori
Rayleigh dan Jeans.
Sebagaimana telah dinyatakan di depan, hasil perhitungan ini menye-
babkan rumusan distribusi rapat energi spektral yang dihasilkan tidak co-
cok dengan eksperimen; khususnya pada frekuensi tinggi (daerah ultra
violet). Perlu dicatat bahwa langkah-langkah yang dilakukan Rayleigh dan
Jeans sepenuhnya tidak bertentangan dengan teori yang ada saat itu. Oleh
karena itu, kegagalan Rayleigh-Jeans sekaligus merupakan kegagalan fisi-
ka yang telah dikembangkan sampai saat itu. Peristiwa itu, dalam sejarah
fisika, dikenal sebagai bencana ultraviolet.

1.3.2 Teori Planck


Persamaan (1.4) memberi petunjuk bahwa kunci utama untuk menda-
patkan teori radiasi benda-hitam yang benar adalah ketepatan dalam me-
rumuskan energi rata-rata tiap ragam. Berdasarkan persamaan itu, dan
kenyataan bahwa teori Rayleigh-Jeans cocok untuk frekuensi rendah,
maka energi rata-rata tiap ragam harus bergantung pada frekuensi. Tegasnya:
pada frekuensi tinggi bernilai nol dan pada frekuensi rendah bernilai kBT.
Pemikiran seperti inilah yang mengantarkan Planck berhasil merumuskan
teori yang benar. Berikut diuraikan secara singkat bagaimana Planck
merumuskan teorinya.
Karena langkah yang ditempuh Rayleigh dan Jeans sudah konsisten
dengan teori-teori yang ada saat itu, maka Planck mencoba mengajukan
hipotesis yang benar-benar baru pada saat itu. Planck mengajukan hipote-
sis bahwa energi tiap ragam tidaklah berupa sebarang nilai dari nol sampai tak
berhingga, melainkan harus merupakan salah satu dari sederetan nilai diskret
yang terpisah secara seragam dengan interval . Jadi energi tiap ragam
haruslah salah satu dari 0, , 2, 3,... n; dengan n = 1, 2, 3,

Bab 1: Radiasi Benda Hitam


10 Rumusan teoretis

Untuk menghasilkan energi rata-rata yang bergantung pada


frekuensi, maka energi tiap ragam juga harus bergantung pada frekuensi.
Ini berarti bahwa harus berbanding lurus terhadap . Kesebandingan
ini dapat diubah menjadi kesamaan dengan mengajukan suatu besaran
yang berdimensikan energi kali waktu (yaitu aksi) sebagai faktor
kesebandingannya. Jika tetapan kesebandingan itu kita lambangi h maka
energi tiap ragam haruslah salah satu dari nilai
n nh , n = 0, 1, 2 ... . (1. 11)
Karena energi tiap ragam tidak bersifat kontinu maka penghitungan
energi rata-rata melalui proses integrasi seperti pada Persamaan (1.8) tidak
lagi dapat digunakan. Sebagai gantinya harus digunakan cara penjumlah-
an biasa, tentu saja harus meliputi seluruh energi yang mungkin dimiliki
setiap ragam, yaitu:
/k T n h /kBT
n e n B nh e n e n
n n k BT n , (1. 12)
/k T n h /kBT
e n B e e n
n n n

dengan h/kBT. Persamaan (1.12) dapat disederhanakan sebagai ber-


d n d n
ikut. Karena e n e n , maka n e n e . Dengan
d d
demikian, Persamaan (1.12) tadi dapat diubah menjadi
d n
e
d n
k B T ( ) . (1. 13)
e n
n
Selanjutnya, dari hubungan:

e n 1 e e 2 e 3 e 4 .
n
1
dan 1 e e 2 e 3 e 4 .

1 e

diperoleh hubungan
n 1
e (1. 14)
n 1 e

Pengantar Fisika Kuantum


Rumusan teoretis 11

Dengan demikian, derivatif pada pembilang di Persamaan (1.13) meng-


hasilkan

d d 1 e
d
e n
d

1 e

( 1 e )2
. (1. 15)
n
Subtitusi Persamaan (1.15) dan (1.14) ke dalam Persamaan (1.13) diperoleh
kB T
. (1. 16)
e - 1
Karena = hv/kBT, maka
h
. (1. 17)
h / kBT
e 1
Begitulah cara Planck merumuskan energi rata-rata tiap ragam gelombang
tegak dalam rongga yang bertemperatur T.
Apakah rumusan tadi telah memenuhi harapan Planck, yaitu: pada
frekuensi rendah bernilai kBT dan pada frekuensi tinggi bernilai nol? Perta-
nyaan itu dapat dijawab dengan mengamati nilai limit pada
dan pada 0. Kedua nilai limit tersebut dapat dihitung dengan kaidah
LHospital sebagai berikut.
h h
lim lim lim k BT
h / k BT
0 0 e 1 0 h/k BT e h / k BT
dan
h h k BT
lim lim lim 0.
h / kBT h / kBT
e 1 h /k BT e

Jelaslah bahwa rumusan nilai energi rata-rata tiap ragam gelombang tadi
telah memenuhi harapan Planck, yaitu: pada frekuensi rendah bernilai kBT
dan pada frekuensi tinggi bernilai nol.
Akhirnya, dengan memasukkan Persamaan (1.17) ke dalam Persama-
an (1.4) diperoleh rapat energi persatuan volume rongga pada temperatur
T yang dihasilkan oleh ragam gelombang yang berfrekuensi antara dan
dv sebagai berikut.
8 h
T d 2 d . (1. 18)
3 h / k BT
c e 1

Bab 1: Radiasi Benda Hitam


12 Rumusan teoretis

Persamaan itu menunjukkan bahwa pada temperatur T tertentu, rapat


energi radiasi menuju nol jika frekuensinya menuju tak hingga. Ini sesuai
dengan data eksperimen. Pencocokan dengan seluruh data eksperimen
dilakukan dengan memilih nilai h. Hasil terbaik dari nilai tersebut adalah
h = 6,634 1034 J.s. (1. 19)
Tetapan tersebut selanjutnya disebut tetapan Planck.
Keberhasilan Planck dalam memecahkan masalah ini, khususnya
yang berkaitan dengan tetapan h-nya, merupakan tonggak sejarah yang
sangat penting bagi perkembangan fisika sekaligus sebagai awal lahirnya
fisika kuantum. Sebagaimana diketahui, besaran aksi h (aksi = energi kali
waktu) selalu muncul dalam setiap persamaan fisika produk fisika
kuantum.
Jika dinyatakan dalam melalui hubungan c = , teori Planck, Persa-
maan (1.19), tadi menjadi
8 c h d
T ( ) d 5 h c / k BT
. (1. 20)
e 1
(Lihat Pertanyaan Analisis nomor 12 di akhir bab ini).
Berdasarkan Persamaan (1.20) tersebut dapat dirumuskan Hukum
Pergeseran Wien dan Hukum Stefan-Boltzmann. (Lihat Pertanyaan Anali-
sis nomor 4, 5, 6, dan 7 di akhir bab ini).

1. 4 IMPLIKASI DAN SIGNIFIKANSI POSTULAT PLANCK

Setelah mencermati keberhasilan planck dalam merumuskan teori ra-


diasi benda-hitam, tentunya kita menyadari bahwa konsepsi klasik yang
menyatakan spektrum energi bersifat kontinu tidak lagi selalu benar. Seba-
gai gantinya kita harus menerima konsep bahwa spektrum energi dapat
bersifat diskret. Selain itu, pengkuantuman energi yang semula masih ber-
sifat sebagai hipotesis itu kini pantas untuk diangkat menjadi postulat.
Perlu dicatat bahwa pengkuantuman energi yang dipostulatkan oleh
Planck tersebut tidak dimaksudkan sebagai pengkuantuman energi radiasi
benda-hitam secara keseluruhan, melainkan mengacu pada pengkuantum-
an energi yang dimiliki tiap ragam gelombang tegak di dalam rongga. Pada
perkembangan berikutnya, para fisikawan sepakat untuk memperluas
keberlakuan postulat tersebut hingga menjangkau semua entitas fisis yang
berperilaku sebagai osilator.
Sebarang entitas fisis yang berperilaku sebagai osilator harmonis
hanya dapat memiliki energi total sebesar nh , dengan n

Pengantar Fisika Kuantum


Implikasi 13

bilangan bulat positif, h = tetapan Planck, dan = frekuensi


osilasi.
Contoh entitas fisis yang tunduk pada postulat tersebut antara lain:
partikel yang ditambatkan pada ujung pegas kemudian dibiarkan ber-
osilasi, bandul (pendulum) yang berayun, partikel-partikel yang dilalui
gelombang sinusoidal, untai L-C pada arus bolak-balik, dan sistem fisis
lainnya yang sejenis dengan itu.
Diagram tingkat energi (Gambar 1.4) berikut merupakan ilustrasi
yang cukup memadai untuk menjelaskan distribusi energi yang mungkin
dimiliki entitas fisis yang tunduk pada postulat Planck. Deskripsi klasik
juga disajikan sebagai pembanding.

maks
6 h
5 h
4 h Gambar 1. 4 Diagram tingkat energi entitas
fisis yang tunduk pada postu-
3 h lat Planck. Kiri: deskripsi fisi-
2 h ka klasik: terdistribusi secara
kontinu. Kanan: menurut pos-
h tulat Planck: terdistribusi se-
0 0 cara diskret.

Pada gambar tadi, setiap energi yang mungkin dimiliki entitas dilukis-
kan sebagai garis-garis mendatar. Jarak antara suatu garis tertentu terha-
dap garis energi nol sebanding dengan energi total entitas pada keadaan
itu. Menurut fisika klasik, entitas tadi dapat memiliki sebarang energi se-
hingga diagram tingkat energinya terdiri atas sederetan garis yang saling
berimpit (berupa spektrum kontinu). Sebaliknya, berdasarkan postulat
Planck, energi total entitas tersebut harus merupakan salah satu dari 0, h ,
2h, 3h, dst. Hal ini ditunjukkan oleh himpunan garis-garis diskret dalam
diagram tingkat energi. Energi entitas yang tunduk pada postulat Planck
dikatakan terkuantumkan. Keadaan di mana entitas memiliki energi
tertentu yang diijinkan disebut keadaan kuantum, dan bilangan bulat n
disebut bilangan kuantum.
Pertanyaan logis yang segera timbul adalah bagaimana kita menjelas-
kan gejala sehari-hari yang menunjukkan bahwa energi osilator harmonis
dapat bernilai sebarang? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita
terapkan postulat Planck pada entitas fisis yang sudah dirumuskan secara

Bab 1: Radiasi Benda Hitam


14 Implikasi

baik oleh fisika klasik. Sebagai contoh, kita ambil gerak osilasi teredam
lemah pada bandul sederhana.

Contoh Soal 1.1

Andaikan massa bandul 0,01 kg dan panjang tali 0,1 m. Bandul


berayun dengan sedikit teredam sehingga frekuensinya dapat
dianggap sama dengan frekuensi dalam keadaan tanpa redaman.
Amplitudo mula-mula sebesar 0,1 rad. Bandingkan variasi energi
total yang mungkin berdasarkan rumusan klasik dan berdasarkan
postulat Planck!

Analisis
1 g 1 9,8
Frekuensi bandul () = = 1,6 Hz.
2 2 0,1
Simpangan bandul berubah terhadap waktu secara:

(t) = 0 e t cos (2t), dengan
menyatakan tetapan redaman.

h

Karena bandul mengalami redaman, maka energi total bandul
tidak kekal, melainkan berubah terhadap waktu dari nilai mak-
simum sampai nol.
Energi maksimum bandul sama dengan energi potensial mula-
mula, yaitu mg (1 cos 0 ) 5 10 6 J .
Menurut fisika klasik, energi bandul akan terus berkurang secara
kontinu seiring dengan berkurangnya amplitudo osilasi.
Analisis berdasarkan postulat Planck dapat diuraikan sebagai
berikut. Energi yang mungkin dimiliki bandul adalah sederetan
nilai dari nol sampai 510 J yang secara berurutan berbeda sebe-

sar h = 6,63410 J.s 1,6 s1 10 J. Jika dibandingkan

dengan energi maksimum bandul diperoleh nilai / 10 . Ber-
arti untuk mengamati terjadinya pengkuantuman energi itu kita

harus mampu mengukur energi sampai ketelitian 10 . Tampak-
nya hal ini tidak mungkin kita lakukan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa penerapan postulat Planck pada

Pengantar Fisika Kuantum


Implikasi 15

osilator makroskopis seperti bandul di atas tidak signifikan. De-


ngan kata lain, analisis klasik maupun analisis berdasarkan pos-
tulat Planck akan menghasilkan kesimpulan yang sama jika
diterapkan pada gejala makroskopis. Hal ini menunjukkan bahwa
teori Planck telah memenuhi asas kesepadanan (korespondensi).

1.5 RAGAM GELOMBANG TEGAK DALAM RONGGA


Pada Bagian 1.5 dan 1.6 ini kita akan membahas secara singkat perihal
gelombang elektromagnet dalam rongga. Bahasan lebih rinci dapat Anda
pelajari dalam teks-teks elektromagnetika. Bahasan ini sengaja diberikan
secara terpisah agar tidak mengganggu alur pemikiran kita dalam memba-
has radiasi benda-hitam.
Untuk memahami adanya berbagai ragam gelombang tegak di dalam
rongga, pertama-tama kita pelajari bagaimana persamaan gelombang elek-
tromagnet di dalam rongga beserta syarat-syarat batasnya. Kemudian kita
selesaikan persamaan itu untuk mendapatkan berbagai ragam gelombang
yang ada. Berikut uraian singkat tentang hal itu.

1.5.1 Persamaan Gelombang dan Syarat Batasnya


Andaikan rongga dalam keadaan vakum. Maka medan listrik dalam
rongga memenuhi persamaan:

1 2 E( r , t )
2 E( r , t ) 0, (1. 21)
c 2 t 2

dan E 0 . (1. 22)

Andaikan pula bahwa rongga berbentuk kubus dengan rusuk L. Kita


gunakan sistem koordinat Cartesan yang sumbu-sumbunya kita pilih seja-
jar dengan sisi kubus seperti Gambar 1.5 berikut.
Z
L

O L
Y

X Bab 1: Radiasi Benda Hitam


16 Ragam gelombang

Gambar 1.5 Orientasi bidang-bidang batas rongga


yang berbentuk kubus dengan rusuk L.
Jika dinding rongga berupa konduktor maka medan elektromagnet E
dalam rongga memiliki syarat batas:
Komponen tangensial medan listrik (Et) pada permukaan batas = 0

Yang dimaksud komponen tangensial adalah komponen pada arah sejajar


permukaan, sedangkan komponen normal adalah komponen pada arah
tegak lurus permukaan. Untuk memperjelas pengertian ini, perhatikan
ilustrasi berikut.
Ez

Gambar 1.6 Medan listrik E di suatu per- E


mukaan batas digambarkan
secara sebarang. Medan diu- Ey
raikan menjadi tiga kompo-
nen yang saling tegak lurus, Ex
yaitu: Ex , Ey, dan Ez

Komponen Ex dan Ey disebut komponen tangensial E pada permukaan


itu; sedangkan komponen Ez disebut komponen normal. Jika permukaan
tersebut adalah konduktor, maka Ex dan Ey bernilai nol.
Syarat batas medan E pada dinding-dinding rongga seperti pada
Gambar 1.5 di depan secara eksplisit diuraikan sebagai berikut.

Pada bidang x = 0 dan x = L: Ey = 0 dan Ez = 0.


Pada bidang y = 0 dan y = L: Ex = 0 dan Ez = 0.
Pada bidang z = 0 dan z = L: Ey = 0 dan Ex = 0.

1.5.2 Penyelesaian Persamaan Gelombang


Medan listrik di dalam rongga memenuhi persamaan gelombang
sebagaimana dinyatakan pada Persamaan (1.21). Persamaan tersebut
dapat diselesaikan dengan cara sebagai berikut. Andaikan
penyelesaiannya dinyatakan dalam bentuk
E( r , t ) E( r )e i t , (1.23)

yaitu merupakan perkalian fungsi letak E(r) dengan fungsi waktu e -it .
Untuk memaksa Persamaan (1.23) sebagai penyelesaian Persamaan (1.21),

Pengantar Fisika Kuantum


Ragam gelombang 17

kita subtitusikan Persamaan (1.23) ke dalam Persamaan (1.21). Hasilnya


adalah
2
2 E( r ) E( r ) 0 . (1. 24)
c2
Ungkapan tersebut menunjukkan: agar Persamaan (1.23) benar-benar
merupakan penyelesaian Persamaan (1.21) maka E(r) dan harus meme-
nuhi Persamaan (1.24). Tugas kita selanjutnya adalah menyelesaikan Per-
samaan (1.24). Persamaan vektor tersebut, dalam sistem Cartesan, dapat
diurai menjadi:

2E 2 2Ey 2 2E 2
i x
E x j E y k z
E z 0 , (1. 25)
x 2 c2 2
c2 z 2 c2
y
dengan i , j , dan k berturutan menyatakan vektor satuan pada arah sum-
bu X, Y, dan Z; dan Ex, Ey, dan Ez berturutan menyatakan besarnya kom-
ponen medan E pada arah sumbu X, Y, dan Z. Perlu dicatat bahwa ketiga
komponen ini pada umumnya merupakan fungsi x, y, dan z.
Persamaan (1.25) menunjukkan bahwa ruas kiri persamaan itu meru-
pakan suatu vektor yang nilai (modulus)-nya nol. Karena vektor nol harus
memiliki komponen nol, maka semua faktor yang ditulis dalam tanda ku-
rung tersebut harus bernilai nol. Dengan demikian, Persamaan (1.25)
dapat dinyatakan sebagai sistem persamaan

2 Ex 2
Ex 0 , (1. 26a)
x 2 c2

2 Ey 2
Ey 0 , (1.26b)
y 2 c2

2 Ez 2
Ez 0 . (1.26c)
z 2 c2
Ketiga persamaan tersebut memiliki bentuk yang sama sehingga ben-
tuk penyelesaian umumnya juga sama. Oleh karena itu, untuk
menghemat ruang, cukup salah satu yang kita selesaikan secara rinci.
Misal, kita ambil untuk Ex. Penyelesaian untuk Ex(x,y,z) dapat dinyatakan
sebagai perkalian fungsi F(x), G(y), dan H(z), yaitu:

Bab 1: Radiasi Benda Hitam


18 Ragam gelombang

Ex (x,y,z) = F(x) G(y) H(z). (1.27)


Subtitusi Persamaan (1.27) ke dalam Persamaan (1.26a) menghasilkan

1 d 2 F 1 d 2G 1 d 2 H
k 2 , (1.28)
F dx 2 G dy 2 H dz 2

dengan k ( /c).
Setiap suku di ruas kiri Persamaan (1.28) merupakan fungsi satu vari-
abel, dan variabel tersebut berbeda untuk suku yang berbeda. Ini
membawa konsekuensi bahwa agar Persamaan (1.28) tersebut berlaku
untuk semua x, y, dan z, maka masing-masing suku harus merupakan
konstanta yang jika dijumlahkan harus menghasilkan k. Selanjutnya
masing-masing konstanta itu secara berturutan kita lambangi: kx , ky,
dan kz. Dengan demikian, Persamaan (1.28) kita urai lagi menjadi sistem
persamaan:

d 2F
k x2 F (1.29a)
dx 2
d 2G
k 2y G (1.29.b)
2
dy
d 2H
k z2 H (1.29.c)
dz 2
dengan kx + ky + kz = k2. Penyelesaian umum ketiga persamaan itu meru-
pakan kombinasi linear dari fungsi sinus dan cosinus. Sebagai contoh, F(x)
merupakan kombinasi linear sin(kxx) dan cos(kxx).
Berdasarkan syarat batas sebagaimana diuraikan di depan, Ex harus
bernilai nol di y = 0 dan y = L, serta di z = 0 dan z = L. Jadi sistem Persama-
an (1.29) harus memenuhi syarat batas: G(0) = G(L) = 0, dan H(0) = H(L) =
0. Dengan syarat batas seperti itu maka penyelesaian Persamaan (1.29b)
adalah:
G(y) = sin (ky y), dengan ky = m/L ; m = 0, 1, 2, (1.30)

dan penyelesaian Persamaan (1.29c) adalah:

H(z) = sin (kz z), dengan kz = n/L ; n = 0, 1, 2, (1.31)


Sejauh ini kita belum mendapatkan batasan apa-apa untuk F. Oleh karena
itu penyelesaian Persamaan (1.29a), kita nyatakan dalam bentuk umum:

Pengantar Fisika Kuantum


Ragam gelombang 19

F(x) = A1 sin (kx x)+ A2 cos (kx x). (1.32)


Sampai tahap ini kita juga belum dapat mengetahui apa syarat yang harus
dipenuhi oleh kx.
Jadi penyelesaian untuk Ex (x,y,z) adalah:

Ex(x,y,z) = {A1 sin(kx x) + A2 cos(kx x)}sin(ky y)sin(kz z). (1.33)

Penyelesaian untuk Ey (x,y,z) dan Ez (x,y,z) dapat ditemukan dengan


prosedur yang sama. Coba Anda selesaikan sendiri dan cocokkan hasilnya
dengan penyelesian berikut.

Ey(x,y,z) = sin(kx x) sin(kz z) {B1 sin(ky y) + B2 cos(ky y)}. (1.34)

Ez (x,y,z) = sin(kx x) sin(ky y) {C1 sin(kz z) + C2 cos(kz z)}. (1.35)


dengan kx = /L dan = 0, 1, 2
Tetapan A, B, dan C pada Persamaan (1.33) sampai (1.35) dapat dite-
mukan dengan memaksa E memenuhi Persamaan (1.22). Dalam sistem ko-
ordinat Cartesan, Persamaan (1.22) identik dengan
Ex Ey Ez
0. (1.36)
x y z
Subtitusi Persamaan (1.33), (1.34), dan (1.35) ke dalam Persamaan (1.36)
menghasilkan

{A1 kx cos(kx x) A2 kx sin(kx x)} sin(ky y) sin(kz z) +


sin(kx x) {B1 ky cos(ky y) B2 ky sin(ky y)} sin(kz z) +
sin(kx x) sin(ky y) {C1 kz cos(kz z) C2 kz sin(kz z)} = 0
atau
{A2 kx B2 ky C2 kz }sin(kx x) sin(ky y) sin(kz z) +
A1kx cos(kx x) sin(ky y) sin(kz z) +
B1ky cos(ky y) sin(ky y) sin(kz z) + (1.37)
C1kz cos(kz z) sin(kx x) sin(ky y) = 0

Ruas kiri Persamaan (1.37) dijamin nol untuk semua x, y, dan z jika:
A2kx + B2 ky + C2 kz = 0 dan A1 = B1 = C1 = 0. Selanjutnya, tetapan yang tidak
nol, yaitu A2, B2, dan C2, agar tampak jelas arti fisisnya, masing-masing

Bab 1: Radiasi Benda Hitam


20 Ragam gelombang

dilambangi E0x, E0y, dan E0z. Subtitusi nilai semua tetapan itu ke dalam
Persamaan (1.33) sampai (1.35) diperoleh penyelesaian akhir untuk
masing-masing komponen medan listrik di dalam rongga sebagai berikut.
Ex(x,y,z) = Eox cos(kx x) sin(ky y) sin (kz z) ,
Ey(x,y,z) = Eoy sin (kx x) cos(ky y) sin(kz z) , (1.38)
Ez(x,y,z) = Eoz sin (kx x) sin(ky y) cos(kz z) ,
dengan
kx = /L , = 0, 1, 2
ky = m/L , m = 0, 1, 2 (1.39)
kz = n /L , n = 0, 1, 2
Selanjutnya, persyaratan A2kx + B2ky + C2kz = 0 dapat diungkapkan
sebagai berikut.
E0x kx + E0y ky + E0z kz = 0, (1.40 )
atau
E0(r).k = 0 (1.41)

Persamaan (1.40) atau (1.41) menunjukkan bahwa medan E(r) meru-


pakan gelombang terpolarisasi transversal: arah polarisasinya tegak lurus
pada arah rambat (k). Persamaan itu juga menunjukkan bahwa salah satu
dari E0x, E0y, atau E0z dapat diberi nilai sebarang tetapi dua lainnya saling
bergantung. Sebagai misal, jika E0x diberi nilai sebarang, misal 0, maka
agar memenuhi Persamaan (1.40), nilai E0y dan E0z harus memenuhi
hubungan E0y ky = E0z kz. Ini berarti untuk setiap nilai k tertentu, ada dua
ragam polarisasi gelombang yang saling bebas.

1. 6 PENGHITUNGAN CACAH RAGAM

Pada bagian ini diuraikan salah satu cara untuk menghitung cacah ra-
gam gelombang di dalam rongga yang memiliki frekuensi dalam interval
d di sekitar tertentu (frekuensinya bernilai dari sampai d ). Dari
Persamaan (1.39) dapat disimpulkan bahwa ragam gelombang tegak yang
diizinkan di dalam rongga harus memiliki vektor gelombang yang nilai
(modulus)-nya sebesar


k mn 2 m2 n2 . (1.42)
L

Pengantar Fisika Kuantum


Penghitungan cacah ragam 21

Selanjutnya, karena k = /c maka frekuensi sudut ragam gelombang yang


diizinkan harus memenuhi hubungan
c
m n ck m n 2 m2 n2 . (1.43)
L
Dengan kata lain, frekuensi setiap ragam gelombang dalam rongga harus
memenuhi hubungan
mn c
m n 2 m2 n 2 (1.44)
2 2L
Jadi, di dalam rongga terdapat tak berhingga variasi akibat dari tak ber-
hingganya variasi nilai ,m, dan n. Ini berarti cacah ragam gelombang
dalam rongga juga tak berhingga. Namun, jika perhatian kita dibatasi
pada cacah ragam gelombang yang berfrekuensi antara dan d ,
tentu saja cacahnya berhingga.
Perhitungan cacah ragam gelombang tegak yang berfrekuensi antara
dan d dapat dilakukan melalui tahapan sebagai berikut: (1) meng-
hitung cacah ragam gelombang yang berfrekuensi kurang dari , (2) men-
derivatifkan hasil yang diperoleh terhadap , dan (3) melipatduakan hasil
yang diperoleh (karena untuk setiap nilai ada dua ragam yang saling
bebas).
Untuk menghitung cacah ragam gelombang yang berfrekuensi kurang
dari , kita bangun suatu ruang abstrak yang dibentang oleh vektor sa-
tuan e1 , e 2 , e 3 . Selanjutnya, setiap frekuensi ragam m n kita pikirkan se-
bagai suatu vektor yang komponennya pada arah e1 , e 2 , e 3 secara
c cm cn
berurutan adalah 1 2 L , 2 2L , 3 2L . Dengan demikian, ujung-
ujung vektor akan membentuk kisi 3 dimensi.

.
m
Gambar 1.7 Gambaran kisi dua dimensi yang
dibentuk oleh ujung-ujung vek-
tor . Segi empat kecil menun-
jukkan sel satuan. Jarak antar-
+ d
nilai dan m adalah (c/2L), se-
hingga luas sel satuan itu adalah
(c/2L) 2.

Bab 1: Radiasi Benda Hitam


22 Penghitungan cacah ragam

Untuk memahami prosedur ini, marilah kita terapkan dulu pada ka-
sus dua dimensi. Dalam gambaran 2 dimensi, ujung-ujung vektor
membentuk kisi 2 dimensi seperti ditunjukkan pada Gambar 1.7
Jika kita abaikan arah polarisasinya, cacah ragam gelombang yang
berfrekuensi dari sampai d sama dengan cacah titik kisi dalam
luasan yang dibatasi oleh dua lingkaran yang masing-masing berjejari
dan d .
Cacah titik kisi dalam lingkaran yang berjari-jari adalah
1
2
2 L2
N
luasan lingkaran dalam kuadran pertama
4 .
(1.45)
luas sel satuan 2 2
c /( 4 L ) c2
Perhatikan bahwa kita hanya mengambil luasan dalam kuadran pertama
karena nilai dan m semuanya positif.
Jika Persamaan (1.45) kita derivatifkan ke maka diperoleh

dN ( ) 2 L2
N ( ) d d d . (1.46)
d c2
Persamaan (1.46) menyatakan cacah ragam gelombang yang berfre-
kuensi antara sampai d tanpa memperhatikan polarisasinya. Cacah
ragam selengkapnya, yaitu setelah memperhatikan polarisasinya, adalah
dua kali nilai itu.
Sekarang kita gunakan prosedur tadi untuk tiga dimensi. Dalam gam-
baran 3 dimensi, sel satuan berbentuk kubus dengan rusuk c/2L sehingga
c3 c3
volume sel satuan dalam kisi ini sebesar 2 L 3 8 V , dengan V menyata-
kan volume rongga.
Cacah ragam gelombang tegak yang berfrekuensi kurang dari sama
dengan cacah titik kisi dalam oktan pertama volume bola yang jari-jarinya
. Batasan pada oktan pertama berasal dari kenyataan bahwa nilai ,m,
dan n harus merupakan bilangan positif atau nol. Cacah titik kisi ini
sebesar
volume bola pada oktan pertama
N .
volume sel satuan
Karena volume oktan pertama adalah (1/8)(4/3)3, dan volume sel satuan
sebesar c3/(8V) maka

Pengantar Fisika Kuantum


Penghitungan cacah ragam 23

1 4
8 3
3 3 V
N 43 . (1.47)
3
c / 8V c3
Jika Persamaan (1.47) diderivatifkan ke diperoleh cacah ragam ge-
lombang tegak yang berfrekuensi antara dan d tanpa memperhati-
kan polarisasinya, yaitu

dN 4 2 V
N (v )d d d . (1.48)
d c3
Cacah total ragam gelombang yang telah dibedakan pula arah pola-
risasinya adalah dua kali dari yang dinyatakan pada Persamaan (1.48),
yaitu
8 2 V
N (v )dv 2 N (v )dv d . (1.49)
c3
Demikianlah salah satu cara untuk menghitung cacah ragam gelom-
bang tegak yang berfrekuensi antara dan d dalam suatu rongga
yang volumenya V. Meskipun penjabaran tadi didasarkan asumsi bahwa
rongga berbentuk kubus, hasilnya tidak memuat informasi tentang bentuk
geometris rongga. Dengan demikian rumusan yang diperoleh tadi berlaku
untuk semua bentuk rongga.

RANGKUMAN

1. Spektrum radiasi termal benda-hitam tidak bergantung pada bahan pe-


nyusun benda, melainkan hanya bergantung pada temperatur benda.
Akibatnya, pada temperatur yang sama semua benda-hitam meman-
carkan radiasi termal dengan spektrum yang sama.
2. Distribusi radiansi spektral R T ( ) benda-hitam memiliki sifat sebagai
berikut.
Bernilai nol pada frekuensi mendekati nol atau pada frekuensi sa-
ngat tinggi (tak hingga).
Terdapat frekuensi utama yang nilainya bertambah secara linear
terhadap temperatur benda (Hukum pergeseran Wien):
maks = (5,8710 Ks)T atau maksT = 2,89810 m.K.

Bab 1: Radiasi Benda Hitam


24 Rangkuman

Luasan di bawah grafik R T ( ) menyatakan total energi termal yang


dipancarkan per satuan waktu oleh tiap satuan luas benda-hitam
yang bertemperatur T. Besarnya
R =T
dengan = 5,67 10 W.m.K.
3. Analisis teoretis radiasi benda-hitam dapat dilakukan dengan menggu-
nakan radiasi rongga sebagai sampelnya. Dengan cara itu dapat diru-
muskan rapat energi spektral, atau distribusi rapat energi (per satuan
volume rongga) berdasarkan frekuensinya, dilambangi T ( ) . Untuk
memperoleh rumusan rapat energi spektral dilakukan sebagai berikut.
Menghitung cacah ragam gelombang tegak dalam rongga yang
memiliki frekuensi dari sampai d . Hasilnya adalah

8 V 2
N ( )d d .
c3
Menghitung energi rata-rata tiap ragam gelombang tegak. Hasil
yang didapat ternyata bergantung pada faham kita tentang energi.
Pandangan klasik yang menyatakan bahwa energi bersifat malar,
seperti yang dipakai oleh Rayleigh-Jeans, menghasilkan nilai
= kBT, (Teori Rayleigh-Jeans)

dengan kB adalah tetapan Boltzmann yang nilainya 1,3810J.K1


dan T menyatakan temperatur benda-hitam.
Pandangan baru yang menyatakan bahwa energi bersifat diskret,
sebagaimana dipostulatkan Planck, menghasilkan
h
, (Teori Planck)
exp ( h / k BT ) 1
dengan h menyatakan tetapan Planck yang nilainya 6,634 10 J.s.
Menghitung T ( ) dengan rumus
N ( )
T ( ) d d .
V
Hasil perhitungan Rayleigh dan Jeans adalah:

Pengantar Fisika Kuantum


Rangkuman 25

8 k BT
T ( ) d 2 d , (Teori Rayleigh-Jeans).
3
c
Hasil perhitungan Planck adalah:
8 h
T ( ) d 2 d , (Teori Planck)
3 exp ( h / k BT ) 1
c

jika dinyatakan dalam , Teori Planck tersebut berbentuk:


8 c h d
T ( ) d 5 h c / k BT
.
e 1
4. Meskipun teori Rayleigh-Jeans dijabarkan secara benar, dalam arti te-
lah menerapkan teori yang relevan secara benar, ternyata hanya cocok
untuk frekuensi rendah. Di lain pihak, Teori Planck, yang dalam pen-
jabarannya harus merombak pandangan klasik tentang energi, cocok
untuk keseluruhan frekuensi. Berdasarkan kenyataan itu maka konsep
energi diskret, sebagaimana dipostulatkan Planck, dapat dipertim-
bangkan sebagai teori yang benar. Sebaliknya, konsep energi kontinu
sebagaimana diyakini selama itu harus ditinggalkan; sebab tidak dapat
digunakan untuk menjelaskan gejala radiasi benda-hitam secara baik.
5. Berdasarkan teori Planck, ragam gelombang tegak yang berfrekuensi
hanya dapat memiliki energi yang memenuhi hubungan n = nh de-
ngan n bilangan asli (1, 2, 3, ), frekuensi gelombang dan h
tetapan Planck.
6. Keberhasilan Planck merumuskan teori radiasi benda-hitam merupa-
kan awal kelahiran fisika kuantum. Implikasi keberhasilan Planck ini
adalah bahwa faham energi bernilai kontinu harus diganti dengan
faham baru yang menyatakan energi bernilai diskret. Faham energi
diskret ini dapat menjelaskan secara baik gejala sehari-hari yang
menunjukkan bahwa energi osilator harmonik bersifat kontinu.
Dengan kata lain, faham energi diskret telah memenuhi prinsip
kesepadanan (korespondensi).

PERLATIHAN

Pertanyaan Konsep

Bab 1: Radiasi Benda Hitam


26 Perlatihan

1. Sebutkan syarat berlakunya statistika Boltzmann. Berdasarkan syarat


itu, jelaskan bahwa kita syah menggunakannya pada sekumpulan ge-
lombang elektromagnet tegak di dalam rongga.
2. Berdasarkan definisinya, benda-hitam adalah benda yang menyerap
semua radiasi yang mengenainya. Menurut Anda, adakah benda-
hitam itu? Jika ada, bagaimana Anda dapat melihatnya?
3. Apakah kegagalan Rayleigh-Jeans dalam menjelaskan spektrum
radiasi benda-hitam disebabkan oleh kesalahannya dalam menerapkan
teori-teori yang ada?
4. Apakah kesalahan teori Rayleigh-Jeans itu disebabkan oleh ketidak-
tepatan penggunaan statistika Boltzmann?
5. Sistem fisis yang bagaimanakah yang tunduk pada postulat Planck?
Besaran apa (yang dimiliki sistem tadi) yang harus terkuantumkan?
6. Benda bermassa m dikenai gaya luar sebesar F = k x, dengan x me-
nyatakan posisi benda relatif terhadap titik acuan tertentu. Apakah
postulat Planck berlaku untuk benda tersebut?
7. Di dalam fisika klasik, adakah besaran-besaran fisis yang mengalami
pengkuantuman? Jika ada, berikan contohnya!
8. Perhatikan gelombang longitudinal tegak (gelombang bunyi) di dalam
suatu pipa organa (terbuka maupun tertutup). Apakah bunyi yang
dihasilkan pipa organa tersebut dapat memiliki sebarang frekuensi
dari nol sampai nilai tertentu? Jika tidak, apakah ini berarti bahwa
frekuensi gelombang tadi terkuantumkan? Apakah energinya juga
terkuantumkan?
9. Gelombang tegak pada dawai yang panjangnya L hanya boleh memi-
liki panjang gelombang yang memenuhi hubungan n = (1/n) 2L,
dengan n merupakan bilangan asli. Dapatkah dikatakan bahwa pan-
jang gelombang tadi terkuantumkan? Jika dapat, apakah frekuensinya
juga terkuantumkan? Bagaimana dengan energi yang dibawanya?
10. Apakah Planck menyarankan pengkuantuman energi berlaku pada se-
mua entitas fisis?
11. Jika ada benda yang bertemperatur 0 K, apakah benda tersebut mera-
diasi?
12. Kita telah mempelajari bahwa teori Rayleigh-Jeans merupakan teori
yang salah. Namun demikian, pada setiap perkuliahan pengantar fisi-
ka kuantum hal itu selalu dipelajari. Mengapa demikian?
13. Pada temperatur biasa (temperatur kamar), kebanyakan benda dapat
terlihat oleh kita bukan karena benda itu memancarkan cahaya, mela-
inkan karena benda tersebut memantulkan cahaya ke arah mata kita.
Jika Anda melihat benda yang memancarkan cahayanya sendiri, apa-
kah Anda menyimpulkan bahwa benda tersebut panas?

Pengantar Fisika Kuantum


Perlatihan 27

14. Pada saat-saat awal diberi catudaya, elemen sterika listrik tidak ber-
pijar meskipun terasa sekali ia memancarkan panas ke sekitarnya. Me-
ngapa hanya panas yang pertama-tama dipancarkan? Mengapa setelah
beberapa saat elemen tersebut berpijar? Mengapa warna pijarannya
berubah dari merah ke kuning?
15. Pengontrolan temperatur tungku suhu tinggi biasanya menggunakan
sensor cahaya (warna). Bagaimana warna dapat digunakan sebagai
indikator temperatur?

Pertanyaan Analisis
1. Pada frekuensi rendah, rumusan energi rata-rata yang dihasilkan
Planck sama dengan yang dihasilkan Rayleigh-Jeans. Berikan kriteria
rendah tersebut. (Petunjuk: ekspansikan exp(h/kBT) dalam deret pang-
kat dari (h/kBT), kemudian dalam kondisi bagaimana Anda dapat
mendekati nilai energi rata-rata menurut teori Planck sebesar kBT?).
2. Ujilah kebenaran jawaban Anda tersebut secara numerik dengan me-
ngisi tabel berikut. Andaikan temperatur rongga 1000 K. Pada kolom
keempat, isikan apakah energi rata-rata tiap ragam (kolom 2) lebih
dari, hampir sama, kurang dari, atau sangat kecil dibandingkan nilai
kBT (kolom 3).
Frekuensi ragam Energi rata-rata kBT Keterangan
10 6 Hz ................ 1,3810 J
10 8 Hz ................ 1,3810 J
10 10 Hz ................ 1,3810 J
10 11 Hz ................ 1,3810 20 J
10 12 Hz ................ 1,3810 20 J
10 13 Hz ................ 1,3810 20 J
10 14 Hz ................ 1,3810 J
210 14 Hz ................ 1,3810 J
310 14 Hz ................ 1,3810 J
410 14 Hz ................ 1,3810 J
510 14 Hz ................
1,3810 J
610 14 Hz ................
1,3810 20 J
710 14 Hz ................
1,3810 20 J
810 14 Hz ................
1,3810 J
910 14 Hz ................
................ 1,3810 20 J
10 15 Hz 1,3810 J
10 16 Hz ................
1,3810 J

Bab 1: Radiasi Benda Hitam


28 Perlatihan

3. Dapatkah Anda menurunkan Hukum Pergeseran Wien berdasarkan


teori Rayleigh-Jeans? Bagaimana dengan hukum Stefan-Boltzmann
(apakah Anda dapat menurunkannya berdasarkan teori Rayleigh-
Jeans?)
4. Tunjukkan bahwa hukum Stefan-Boltzmann dapat diturunkan dari
teori radiasi Planck melalui perhitungan sebagai berikut:
4
0 T ( ) d = CT dengan C suatu tetapan
5. Hitung
0 T ( ) d . Apakah hasilnya berbanding lurus terhadap T ?
Jika ya, berapa nilai kesebandingannya? Apakah sama dengan C di
pertanyaan 4?
6. Jika maks adalah pada saat T ( ) mencapai maksimum, tunjukkan
bahwa maksT = 0,2014 hc/kB. (Petunjuk: nilai x yang memenuhi persa-
maan: 5 ex + x 5 = 0 adalah 4,965)
7. Jika maks adalah di mana T ( ) mencapai maksimum, tunjukkan
bahwa maks = T dengan suatu konstanta. Hitung nilai tersebut.
(Petunjuk: nilai x yang memenuhi persamaan: 3 3 ex = x adalah 2,82)
8. Berdasarkan informasi pada pertanyaan 6 dan 7 tersebut tunjukkan
bahwa maks maks c , mengapa demikian?
9. (a) Berapa panjang gelombang komponen spektrum radiasi benda-
hitam yang paling bersinar pada temperatur 6000K? (Petunjuk: guna-
kan jawaban pertanyaan 6). (b). Berapa frekuensi komponen spektrum
radiasi benda-hitam yang paling bersinar pada temperatur 6000K itu?
(Petunjuk: gunakan jawaban pertanyaan 7). (c) Apakah kedua jawaban
Anda tersebut mengikuti hubungan = c, dengan c laju cahaya dalam
vakum?
10. Besaran fisik yang mencirikan osilator adalah amplitudo dan frekuensi.
(a). Rumuskan energi total osilator harmonis sebagai fungsi amplitudo
dan frekuensinya. (b). Untuk frekuensi tertentu, berapa energi total
osilator yang mungkin? (Petunjuk: jawab pertanyaan b dengan dua
cara, yaitu menurut teori klasik dan menurut postulat Planck).
11. (a). Tentukan panjang gelombang pada tali yang panjangnya L dan
kedua ujungnya terikat kuat. (b) Hitung cacah ragam gelombang yang
memiliki panjang gelombang antara sampai + d.
12. Buktikan Persamaan (1.20) berdasarkan Persamaan (1.18). [Petunjuk:
ingat bahwa T ( ) d = T ( ) d . Tanda negatif harus diberikan
mengingat jika d positif maka d harus negatif dan sebaliknya).

Pengantar Fisika Kuantum


Perlatihan 29

0 3
0 V
4
13. Tunjukkan bahwa N ( ) d 3
. Dengan kata lain, buktikan
0 c3
kebenaran argumen yang menghubungkan Persamaan (1.47) dan
(1.48)
c
14. Berdasarkan hubungan RT ( ) T ( ) , tunjukkan bahwa penurunan
4
nilai maks dapat diperoleh baik dari RT ( ) maupun T ( ) (artinya,
fungsi distribusi manapun yang kita pakai hasilnya sama).
8 V 2
15. Secara matematika, persamaan N ( )d d identik dengan per-
c3
8 V
samaan N ( ) 3 2 . Apakah arti fisik persamaan terakhir ini? Apa-
c
kah ia menyatakan cacah ragam gelombang yang berfrekuensi ?
[Petunjuk: (1) ingat besaran atau faktor yang digunakan untuk mem-
bedakan suatu ragam dengan ragam lainnya, (2) bandingkan persa-
maan terakhir itu dengan Persamaan (1.47)]

Bab 1: Radiasi Benda Hitam


30 Perlatihan

16.

A K
Aksi ................................... 10, 12 Kuantum
bilangan................................ 13
B keadaan ................................ 13
bencana ultraviolet ..................... 9
M
Bencana ultraviolet..................... 9
Benda-hitam Maxwell ............................. 5, 6, 8
contoh terbaik ........................ 2
definisi ................................... 2 P
grafik spektrum .............. 3, 4, 5 pengkuantuman energi... 1, 12, 14,
spektrum ............. 3, 4, 5, 25, 28 26
Boltzmann Planck
tetapan ............................... 7 pengkuantuman energi1, 12, 14,
statistika ............................. 8 26
fungsi distribusi .................. 8 postulat
fungsi distribusi ...................... 8 entitas fisis yang tunduk pada
statistika ................................. 8 ..................................... 13
tetapan ................................... 7 kesepadanan klasik ........... 15
postulat ........... 9, 13, 14, 26, 28
G
postulat, entitas fisis yang
Gelombang tegak ... 6, 7, 8, 11, 12, tunduk pada...................... 13
15, 20, 21, 22, 23, 24, 25 postulat, kesepadanan klasik . 15
cacah ragam teori radiasi benda-hitam... 9, 12
penghitungan .................... 20 tetapan .............. 1, 8, 12, 24, 25
cacah ragam,penghitungan.... 20 Polarisasi.................................. 20
energi rata-rata tiap ragam. 6, 8,
9, 11, 24, 27 R
teori Planck ........................ 7 radiansi spektral ............... 3, 6, 23
energi rata-rata tiap ragam, Radiansi spektral .............. 3, 6, 23
teori Planck ........................ 7 benda-hitam........................ 3, 5
energi tiap ragam definisi.................. 3, 4, 5, 6, 23
teori Planck ........................ 9 radiasi rongga....................... 3, 24
energi tiap ragam, teori Planck 9 Radiasi rongga ................. 3, 5, 24
ragam gelombang ................... 6 Radiasi termal
benda-hitam............................ 2

Pengantar Fisika Kuantum


Perlatihan 31

definisi ................................... 1
spektrum ................................ 2
Rapat energi spektral
definisi ........................... 5, 6, 9
hubungannya dgn radiansi
spektral .............................. 6
teori Rayleigh-Jeans ............... 7
Rayleigh-Jeans, teori
kegagalan ............................... 9
radiasi benda-hitam............. 7, 8

S
Stefan-Boltzmann............. 3, 5, 12
hukum.................................... 5

W
Wien
hukum pergeseran ...3, 4, 12, 27
tetapan ................................... 4

Bab 1: Radiasi Benda Hitam


BAB 2

EFEK FOTOLISTRIK

Efek fotolistrik adalah gejala terlepasnya elektron pada logam akibat disinari
cahaya. Ditinjau dari perspektif sejarah, penemuan efek fotolistrik merupakan
salah satu tonggak sejarah kelahiran fisika kuantum. Dalam konteks ini, untuk
merumuskan teori yang cocok dengan eksperimen, sekali lagi orang diha-
dapkan pada suatu situasi di mana faham klasik yang selama puluhan tahun
telah diyakini sebagai faham yang benar terpaksa harus dirombak. Faham yang
dimaksud adalah konsepsi bahwa cahaya sebagai gelombang. Selama faham
ini tidak dirombak, gejala efek fotolistrik tidak dapat dijelaskan secara baik.
Faham baru yang mampu menjelaskan secara teoretis gejala efek fotolistrik
adalah: cahaya sebagai partikel. Namun demikian, munculnya paham baru ini
menimbulkan polemik baru. Penyebabnya adalah bahwa faham cahaya sebagai
gelombang telah dibuktikan kehandalannya dalam menjelaskan sejumlah besar
gejala yang berkaitan dengan cahaya, yaitu yang berkaitan dengan gejala
difraksi, interferensi, dan polarisasi. Sementara itu, gejala yang disebut tadi
tidak dapat dijelaskan berdasarkan faham cahaya sebagai partikel.
Untuk mengatasi itu, para ahli sepakat bahwa cahaya memiliki sifat ganda:
sebagai gelombang dan juga sebagai partikel. Kesepakatan ini pada gilirannya
mengantarkan de Broglie untuk mengajukan hipotesis yang belakangan
menjadi dasar metodologi fisika kuantum.
Dalam perspektif yang demikian itulah maka mempelajari efek fotolistrik
menjadi penting dalam rangka memahami fisika kuantum secara utuh. Oleh
sebab itu, pada bab ini kita akan mempelajari gejala itu secara rinci.
Sistematika pembahasan kita susun sebagai berikut. Bagian pertama, ten-
tang Efek Fotolistrik, membahas pengertian efek fotolistrik. Bagian kedua, ten-
tang Fakta Eksperimen, memaparkan beberapa gejala penting yang berkaitan
dengan efek fotolistrik. Bagian ketiga, tentang Penjelasan Teoretis,
membicarakan penjelasan teoretis berdasarkan kerangka berfikir fisika klasik
(cahaya sebagai gelombang) dan faham baru (cahaya sebagai partikel). Kita

Sutopo Pengantar Fisika Kuantum 31


32 Efek fotolistrik

akan melihat bahwa faham fisika klasik tidak dapat menjelaskannya secara
utuh. Di lain pihak, kita akan melihat bahwa teori Einstein, yang didasarkan
pada faham cahaya sebagai partikel, dapat menjelaskannya secara utuh. Bagian
keempat, Sifat Ganda bagi Cahaya, mendiskusikan bagaimana kedua watak
cahaya (sebagai partikel dan sebagai gelombang) itu dipadukan.

2.1 EFEK FOTOLISTRIK

Efek fotolistrik adalah gejala terlepasnya elektron pada logam akibat


disinari cahaya, atau gelombang elektromagnetik pada umumnya. Elektron
yang terlepas pada efek fotolistrik disebut elektron-foto (photoelectron). Gejala
ini pertamakali diamati oleh Heinrich Hertz (1886/1887) melalui percobaan
tabung lucutan. Hertz melihat bahwa lucutan elektrik akan menjadi lebih mu-
dah jika cahaya ultraviolet dijatuhkan pada elektrode tabung lucutan (sebagai
bahan elektrode digunakan logam Natrium). Ini menunjukkan bahwa cahaya
ultraviolet dapat mencabut elektron dari permukaan logam, atau sekurang-
kurangnya memudahkan elektron terlepas dari logam. Pengamatan Hertz ini
kemudian diselidiki lebih lanjut oleh P. Lenard. Sekitar delapan belas tahun ke-
mudian (1905), secara teoretis, Einstein berhasil menjelaskan gejala ini.
Perlu dicatat bahwa efek fotolistrik hanyalah salah satu dari beberapa
proses di mana elektron dapat dilepaspancarkan dari permukaan suatu bahan
(pada umumnya logam). Beberapa cara lainnya adalah sebagai berikut.
Emisi termionik: pemancaran elektron dari permukaan logam melalui
proses pemanasan.
Emisi medan (lucutan elektrik): pemancaran elektron dari permukaan
logam akibat pemberian medan listrik eksternal yang sangat kuat.
Emisi lanjutan (secondary emission): pemancaran elektron dari permu-
kaan logam yang diakibatkan oleh partikel berenergi kinetik besar
membentur logam.
Penjelasan sederhana tentang gejala terlepasnya elektron melalui efek foto-
listrik adalah sebagai berikut. Berkas cahaya memberikan energinya kepada
elektron. Jika energi yang diberikan cahaya tersebut sama atau lebih besar
daripada energi ikat elektron maka elektron akan lepas dari logam. Penjelasan
lebih rinci memerlukan pengetahuan yang lebih mendalam tentang berbagai
besaran fisis yang terlibat. Beberapa besaran tersebut adalah: frekuensi cahaya,
intensitas cahaya, kuat arus fotoelektrik, dan energi kinetik elektron-foto. Yang
dimaksud energi kinetik di sini adalah energi kinetik elektron-foto tepat saat
terlepas dari logam.
Skema set percobaan untuk mempelajari efek fotolistrik disajikan pada
Gambar 2.1. Peralatan utama terdiri atas plat logam, tabung kaca yang dileng-

Pengantar Fisika Kuantum


Efek Fotolistrik 33

kapi dengan jendela, galvanometer, dan potensiometer. Plat logam A dan


logam K ditempatkan dalam tabung kaca yang dihampakan. Penghampaan ini
diperlukan untuk meminimalkan benturan antara elektron-foto dengan
molekul-molekul gas. Sisi tabung yang berperan sebagai jendela terbuat dari
bahan kuarsa. Melalui jendela inilah berkas cahaya monokromatis ditem-
bakkan ke pelat K sehingga pelat tersebut melepaskan elektron-foto. Galva-
nometer G digunakan untuk mendeteksi adanya arus listrik yang dihasilkan
elektron-foto tersebut (biasa disebut arus fotoelektrik). Potensiometer (ham-
batan geser) diperlukan untuk mengatur beda potensial antara plat A dan plat
K.
Cahaya monokromatis

G
K A

Potensiometer

Gambar 2.1 Set percobaan untuk mengamati efek fotolistrik.

Dengan peralatan seperti itu dapat dipelajari beberapa hal, yaitu: (1) gejala
terjadinya efek fotolistrik, (2) pengaruh intensitas dan frekuensi cahaya
terhadap kuat arus fotoelektrik, (3) nilai energi kinetik terbesar yang dimiliki
elektron-foto, dan (4) kebergantungan potensial penghenti terhadap intensitas
cahaya.
Cahaya monokromatis ditembakkan ke pelat K yang potensialnya dibuat
lebih positif terhadap plat A. Ternyata, untuk cahaya dengan frekuensi ter-
tentu, galvanometer G mendeteksi adanya arus listrik. Ini menunjukkan bahwa
elektron-foto yang dipancarkan oleh pelat K mampu mencapai plat A
walaupun plat A memiliki potensial yang lebih negatif daripada pelat K. Ini
juga berarti bahwa ketika terlepas dari pelat K, elektron sudah memiliki energi

Bab 2: Efek Fotolistrik


34 Efek fotolistrik

kinetik yang cukup besar untuk menembus potensial penghalang yang di-
pasang antara pelat K dan A.
Cacah elektron-foto yang dilepaskan plat K bergantung pada intensitas
cahaya. Tidak ada cara untuk menentukan berapa kecepatan masing-masing
elektron. Dengan demikian, haruslah dipikirkan bahwa masing-masing elek-
tron-foto memiliki energi kinetik yang berbeda-beda. Untuk menghentikan ge-
rakan elektron-foto tercepat (ditunjukkan dengan tidak adanya arus fotoelek-
trik yang melalui G), diperlukan potensial penghalang V tertentu. Beda poten-
sial yang mampu menghentikan gerak elektron-foto tercepat itu disebut poten-
sial penghenti (stopping potential), dilambangi Vs. Jika elektron-foto tercepat
sudah dapat dihentikan oleh potensial penghenti maka elektron-foto lainnya
otomatis juga dihentikan.
Energi kinetik elektron-foto tercepat dapat diketahui dari nilai Vs. Ber-
dasarkan prinsip kekekalan energi dapat disimpulkan bahwa energi kinetik
elektron-foto tercepat sama dengan eVs , dengan e menyatakan muatan elek-
tron, yaitu 1,6 10C. Jika energi kinetik elektron tercepat dilambangi Kmaks ,
maka
Kmaks = e Vs . (2. 1)

2.2 FAKTA-FAKTA EKSPERIMEN

Fakta-fakta eksperimen efek fotolistrik yang penting untuk kita bicarakan


di sini meliputi: (1) diperlukannya frekuensi ambang untuk menghasilkan efek
fotolistrik, (2) ketakbergantungan energi kinetik elektron-foto terhadap inten-
sitas cahaya, (3) tiadanya waktu tunda antara penyinaran pertama sampai
terjadinya arus fotoelektrik, dan (4) kebergantungan kuat arus fotoelektrik
terhadap intensitas cahaya. Gambar 2.2 berikut menyajikan grafik hasil eks-
perimen (secara kualitatif) yang berhubungan dengan gejala-gejala penting
tersebut.

Diperlukan Frekuensi Ambang Untuk Menghasilkan Efek Fotolistrik


Gambar 2.2a menyajikan data ekperimen tentang kebergantungan po-
tensial penghenti terhadap frekuensi cahaya yang digunakan untuk beberapa
logam, yaitu potasium (kalium K), cesium (Cs) dan tembaga (copper Cu).
Grafik tersebut menunjukkan bahwa, untuk logam tertentu, jika frekeunsi
cahaya yang digunakan kurang dari 0 maka tidak diperlukan potensial peng-
henti. Tidak diperlukannya potensial penghenti menunjukkan bahwa tidak ada
elektron-foto yang terlepas. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk

Pengantar Fisika Kuantum


Fakta-fakta eksperimen 35

menghasilkan efek fotolistrik diperlukan cahaya dengan frekuensi lebih dari 0.


Frekuensi ini selanjutnya disebut frekuensi ambang.

Vs
K Cs Cu

oK oCs oCu

Gambar 2.2a Kebergantungan potensial penghenti Vs terhadap frekuensi


cahaya untuk logam Kalium, Cesium, dan Tembaga.

Grafik tersebut juga menunjukkan bahwa logam yang berbeda memiliki


frekuensi ambang 0 yang berbeda pula. Untuk memperoleh elektron-foto dari
masing-masing logam harus digunakan cahaya yang frekuensinya lebih besar
daripada frekuensi ambang untuk logam tersebut. Pada sebagian besar logam,
frekuensi ambang ini terletak pada daerah ultraviolet.
Berdasarkan Gambar 2.2a tersebut diperoleh hubungan Vs ( 0).
Kesebandingan ini dapat diubah menjadi kesamaan dengan menggunakan
kesebandingan h/e dengan e menyatakan muatan elektron dan h suatu tetapan
yang berdimensikan energi kali waktu.
eVs h h 0 . (2. 2)
Nilai tetapan h ditentukan berdasarkan kecondongan garis (slope). Eksperimen
menunjukkan bahwa nilai tetapan ini sama dengan tetapan Planck yang
ditemukan pada gejala radiasi benda-hitam.

Ketakbergantungan Energi Kinetik Elektron-Foto Terhadap Intensitas


Cahaya
Seperti telah disebutkan, energi kinetik elektron-foto tercepat sama dengan
eVs . Oleh sebab itu, besarnya energi kinetik elektron-foto tercepat dapat
diketahui dari nilai potensial penghenti Vs.
Data eksperimen tentang ketakbergantungan potensial penghenti terhadap
intensitas cahaya disajikan pada Gambar 2.2b.

Bab 2: Efek Fotolistrik


36 Fakta-fakta eksperimen

Kuat arus fotoelektrik (i)

I3
I2
I1

Vs Potensial Penghalang (V)


Gambar 2.2b. Grafik kebergantungan kuat arus fotoelektrik (i) terhadap po-
tensial penghalang (V) untuk tiga nilai intensitas cahaya (I1, I2,
dan I3). Frekuensi cahaya yang digunakan sama besar. Potensial
penghenti (Vs) juga ditunjukkan.

Gambar 2.2.b menunjukkan bahwa, untuk semua intensitas I yang diguna-


kan, kuat arus fotoelektrik berkurang dengan bertambahnya potensial peng-
halang. Pada potensial penghalang tertentu yang besarnya kurang dari Vs, kuat
arus fotoelektrik bergantung pada intensitas, Semakin besar intensitas semakin
besar pula kuat arus yang dihasilkan. Jika potensial penghalang yang terpasang
sama dengan potensial penghenti Vs, ketiga intensitas tersebut semuanya tidak
menghasilkan arus fotoelektrik. Besarnya potensial penghenti untuk ketiga
nilai I tersebut ternyata sama.
Gejala tersebut dapat ditafsirkan sebagai berikut. Pada saat potensial
penghalang sangat rendah, hampir semua elektron-foto yang dilepaskan pelat
K mampu mencapai plat A sehingga arus fotoelektrik yang dihasilkan cukup
kuat. Semakin besar potensial penghalang semakin sedikit cacah elektron-foto
yang mampu mencapai plat A. Hanya elektron-foto yang sangat energik yang
mampu mencapai plat tersebut. Pada saat potensial penghalang sama dengan
potensial penghenti, tidak ada elektron-foto yang mampu mencapai plat A.
Akibatnya, arus fotoelektrik terhenti.
Mengingat percobaan dilakukan dengan cahaya yang frekuensinya ter-
tentu maka dapat disimpulkan bahwa, untuk cahaya dengan frekuensi tertentu,
intensitas cahaya tidak mempengaruhi besarnya potensial penghenti. Dengan
kata lain, energi kinetik elektron-foto tidak bergantung pada intensitas cahaya
yang digunakan.

Pengantar Fisika Kuantum


Fakta-fakta eksperimen 37

Tidak Ada Waktu Tunda Antara Penyinaran Sampai Terjadinya Arus


Fotoelektrik

Kuat Arus Fotoelektrik (i)

Gambar 2.2c Grafik kuat arus fotoelektrik


terhadap waktu, dihitung sejak
saat penyinaran pertama.

0 109 s Waktu (t)

Grafik tersebut menunjukkan bahwa arus fotoelektrik muncul secara


spontan begitu cahaya menyinari permukaan logam. Selang waktu antara saat
penyinaran pertama sampai terjadinya arus ajeg (steady) dapat dianggap sama
dengan selang waktu antara penyinaran pertama sampai lepasnya elektron-
foto. Besaran ini selanjutnya disebut waktu tunda. Meskipun intensitas cahaya
yang digunakan sangat rendah hingga mencapai 10 W/m2 waktu tunda
tersebut tidak lebih dari 1 ns (10 s). [Sebagai pembanding, intensitas 10
W/m2 kira-kira sama dengan intensitas cahaya pada jarak 360 km dari lampu
100 W!].

Kuat Arus Fotoelektrik Berbanding Lurus Terhadap Intensitas Cahaya

Kuat Arus Fotoelektrik (i)

Gambar 2.2d. Grafik kuat arus fotoelektrik


terhadap intensitas cahaya un-
tuk cahaya dengan frekuensi
tertentu. Potensial penghalang
dipasang nol

Intensitas Cahaya (I)

Gambar 2.2d menunjukkan hubungan antara kuat arus fotoelektrik dengan


intensitas cahaya untuk frekuensi tertentu. Logam yang disinari juga tertentu.
Grafik tersebut menunjukkan bahwa kuat arus fotoelektrik berbanding lurus

Bab 2: Efek Fotolistrik


38 Penjelasan teoretis

terhadap intensitas cahaya. Karena arus fotoelektrik sebanding dengan cacah


elektron-foto yang dilepaskan per satuan waktu, maka hubungan tersebut juga
menggambarkan hubungan antara cacah elektron-foto terhadap intensitas
cahaya. Jadi, untuk frekuensi cahaya tertentu, cacah elektron-foto yang
dilepaskan logam berbanding lurus dengan intensitas cahaya.

2.3 PENJELASAN TEORETIS

2.3.1 Penjelasan Berdasarkan Fisika Klasik


Penjelasan menurut fisika klasik, tentu saja, didasarkan pada faham bahwa
cahaya sebagai gelombang. Menurut faham ini, sesungguhnya tidaklah
mengherankan jika cahaya mampu melepaskan elektron dari logam. Sebab,
sebagai gelombang, cahaya membawa energi yang dapat diberikan kepada
elektron sehingga elektron mampu melepaskan diri dari ikatannya dan ber-
gerak dengan energi kinetik tertentu. Semakin besar intensitas cahaya, semakin
besar pula energi yang dapat diberikan kepada elektron. Lepas tidaknya
elektron akibat penyinaran ini bergantung pada cukup tidaknya energi yang
dikumpulkan elektron untuk melepaskan diri dari ikatannya. Namun demi-
kian, ada beberapa fakta eksperimen yang tidak dapat dijelaskan oleh fisika
klasik.
Berikut akan diuraikan secara singkat penjelasan fisika klasik terhadap
fakta-fakta eksperimen yang dirangkum dalam Gambar 2.2 di depan. Uraian
singkat ini sekaligus untuk menunjukkan letak kegagalan fisika klasik dalam
memberikan penjelasan yang lengkap dan memuaskan.

Penjelasan Gambar 2.2a (Diperlukan Frekuensi Ambang Untuk Menghasilkan


Efek Fotolistrik)
Kejadian ini, yaitu diperlukannya frekuensi ambang untuk menghasilkan
efek fotolistrik, sama sekali tidak dapat dijelaskan dengan teori klasik. Berda-
sarkan fisika klasik, terjadi atau tidaknya efek fotolistrik semata-mata ber-
gantung pada intensitas cahaya, bukan pada frekuensi cahaya. Lebih lanjut,
keberadaan bilangan konstan h, yaitu nilai slope pada grafik eVs sebagai fungsi
, tidak dapat dihubungkan dengan semua tetapan yang ada dalam
elektromagnetisme.

Penjelasan Gambar 2.2b (Energi Kinetik Elektron-foto Tidak Bergantung


Pada Intensitas Cahaya)
Ketidakbergantungan energi kinetik elektron-foto terhadap intensitas
cahaya benar-benar tidak dapat dijelaskan dengan fisika klasik. Berdasarkan

Pengantar Fisika Kuantum


Penjelasan teoretis 39

teori klasik, mestinya energi kinetik ini bergantung pada intensitas cahaya.
Sebab, semakin tinggi intensitas cahaya semakin besar energi yang diserap
elektron sehingga energi kinetik elektron juga semakin besar.

Penjelasan Gambar 2.2c (Tidak ada Waktu Tunda Antara Penyinaran Sampai
Terjadinya Arus Fotoelektrik)
Tiadanya waktu tunda untuk melepaskan elektron dengan cahaya yang
intensitasnya sangat lemah jelas tidak dapat diterangkan dengan fisika klasik.
Menurut fisika klasik, jika intensitas cahaya sangat lemah maka diperlukan
waktu yang cukup lama bagi elektron untuk mengumpulkan energi sehingga
dapat melepaskan diri dari ikatannya. Sebagai contoh numerik tentang hal ini,
perhatikan Contoh Soal 2.1 berikut.

Contoh soal 2.1

Sumber cahaya titik berdaya 1 watt dinyalakan di depan lempengan


natrium pada jarak 1 m. Energi untuk melepas elektron dari per-
mukaan natrium diketahui sebesar 2,1 eV. Andaikan luas permukaan
efektif darimana elektron mengumpulkan energi berupa lingkaran
yang jari-jarinya seorde dengan ukuran atom (r 10 m), berapa
waktu yang diperlukan oleh elektron untuk mengumpulkan energi
dari cahaya itu hingga mampu melepaskan diri dari permukaan
logam?
Analisis
Luas muka (front) gelombang pada jarak 1 m adalah 4 (1 m) =
4 m. Jadi intensitas cahaya (I) pada jarak itu = daya per satuan
luas = 1/4 W/m.
Permukaan efektif dari mana elektron mengumpulkan cahaya
berupa lingkaran yang berjejari r 10 m. Jadi permukaan ini
memiliki luas sebesar A = r = 10 m.
Laju energi (daya) yang diserap permukaan efektif target tersebut
sebesar
1
R I A 10 20 m 2 W/m 2 2 ,5 10 21 W .
4

Jika seluruh energi yang mengenai luasan efektif tersebut diserap


oleh satu elektron maka waktu yang diperlukan elektron untuk
mengumpulkan energi sebesar 2,1 eV, atau 2,1 1,6 10 J, adalah

Bab 2: Efek Fotolistrik


40 Penjelasan teoretis

2,11,6 10 19 J
t 120 s 2,3 menit .
2,5 10 21 W
Jadi, berdasarkan analisis ini, untuk dapat lepas dari ikatannya,
elektron harus mengumpulkan energi minimal selama 2,3 menit.
Perhitungan di atas menunjukkan bahwa elektron baru terlepas dari
permukaan logam setelah logam disinari sekitar 2,3 menit. Sebagai-
mana telah disebutkan, waktu tunda sebesar ini tidak pernah ter-
amati. Bahkan untuk intensitas yang 10 kali lebih lemah dari yang
digunakan dalam perhitungan ini, yaitu 10 W/m2, waktu tunda
tersebut tidak lebih dari 1 ns.

Penjelasan Gambar 2.2d (Kuat Arus Fotoelektrik Berbanding Lurus Terhadap


Intensitas Cahaya)
Kebergantungan secara linear kuat arus fotoelektrik (jadi juga cacah
elektron-foto) terhadap intensitas cahaya ini sepenuhnya sesuai dengan faham
cahaya sebagai gelombang. Jika intensitas cahaya dinaikkan maka energi yang
diterima elektron juga meningkat. Akibatnya, energi dan atau cacah elektron-
foto yang dihasilkan juga meningkat sehingga arus fotoelektrik yang dihasilkan
juga meningkat.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faham klasik, yang menya-
takan cahaya sebagai gelombang, tidak mampu memberikan penjelasan yang
memadai tentang data eksperimen efek fotolistrik.

2.3.2 Penjelasan Berdasarkan Teori Einstein: Pengkuantuman Cahaya


Tampaknya kunci untuk memecahkan persoalan di atas adalah bagaimana
menjelaskan adanya frekuensi ambang dan tiadanya waktu tunda. Lebih lanjut,
karena lepas tidaknya elektron akibat penyinaran berkait erat dengan proses
transfer energi dari cahaya ke elektron, maka kunci pemecahan tadi dapat kita
arahkan pada bagaimana proses transfer energi tersebut terjadi.
Proses transfer energi berdasarkan faham cahaya sebagai gelombang telah
kita diskusikan di depan. Hasilnya, sebagaimana kita ketahui, tidak cocok de-
ngan data eksperimen. Tampaknya, selama cahaya dipandang sebagai gelom-
bang maka data eksperimen efek fotolistrik tidak dapat dipecahkan secara
memuaskan.
Untuk memecahkan masalah tersebut, Einstein mempostulatkan bahwa
energi yang dibawa oleh cahaya terdistribusi secara diskret dalam bentuk paket-paket
energi, bukan terdistribusi secara kontinu sebagaimana dinyatakan oleh teori gelom-

Pengantar Fisika Kuantum


Penjelasan teoretis 41

bang. Paket-paket energi ini akan tetap terlokalisir (tidak memudar) ketika
bergerak menjauhi sumbernya. Dengan demikian, paket-paket energi ini
berperilaku sebagai partikel: kehadirannya terlokalisir, artinya pada saat ter-
tentu akan menempati ruangan yang sangat terbatas dan tertentu pula.
(Perhatikan Gambar 2.3 berikut).

(a) (b)

Gambar 2.3 Gambaran dua dimensi distribusi energi yang dibawa oleh berkas
cahaya yang dipancarkan dari sumber cahaya titik. Gambar (a):
distribusi energi menurut teori gelombang: energi tersebar secara
kontinu. Gambar (b): distribusi energi menurut teori Einstein: energi
tersebar dalam bentuk paket-paket energi bak-partikel yang disebut
foton.

Selanjutnya, paket energi bakpartikel ini disebut foton. Karena foton selalu
bergerak dengan laju c, maka menurut teori relativitas, massa foton haruslah
nol. Energi tiap foton tergantung pada frekuensinya, yaitu
=h , (2. 3 )

dengan h menyatakan tetapan Planck.


Interaksi foton dengan partikel, misalnya dengan elektron seperti pada
gejala efek fotolistrik, dipostulatkan sebagai berikut. Setiap foton berinteraksi
hanya dengan satu elektron tunggal. Tidak pernah suatu foton membagi
energinya kepada lebih dari satu elektron. Lebih lanjut, karena elektron pada
gejala efek fotofolistrik dalam keadaan terikat kuat, maka agar tidak melanggar
hukum kekekalan energi dan hukum kekekalan momentum, proses transfer

Bab 2: Efek Fotolistrik


42 Penjelasan teoretis

energi dari foton ke elektron ini memiliki sifat sebagai berikut. Jika energi foton
cukup untuk melepas elektron dari ikatannya maka ada peluang bagi foton untuk
memberikan energinya. Tetapi, jika energi foton tidak cukup maka foton tidak mem-
berikan energinya. Jadi, hanya ada dua kemungkinan yang terjadi, yaitu foton
memberikan seluruh energinya, atau sama sekali tidak memberikan energinya
kepada elektron.
Jika energi foton melebihi energi untuk melepaskan elektron dari ikat-
annya maka sisa energi itu akan diubah menjadi energi gerak (energi kinetik)
elektron. Sebaliknya, jika energinya tidak cukup untuk melepaskan elektron,
maka foton tadi tidak akan memberikan energinya kepada elektron yang
bersangkutan.
Bagaimana postulat tersebut menjelaskan semua data eksperimen efek
fotolistrik? Marilah kita lihat satu per satu data pengamatan pada Gambar 2.2
di depan secara berurutan, dari Gambar 2.2a s/d Gambar 2.2d.

Penjelasan Gambar 2.2a (Diperlukan Frekuensi Ambang Untuk Menghasilkan


Efek Fotolistrik)
Gejala diperlukannya frekuensi ambang untuk menghasilkan efek fo-
tolistrik dengan mudah dapat dijelaskan berdasarkan postulat Einstein. Lepas
tidaknya elektron hanya bergantung pada besarnya energi foton yang mem-
benturnya. Jika energi foton melebihi energi ikat elektron maka elektron
berkemungkinan untuk terlepas. Karena energi foton hanya bergantung pada
frekuensinya, yaitu semakin tinggi frekuensinya semakin besar energinya,
maka jelaslah bahwa untuk menghasilkan efek fotolistrik diperlukan cahaya
dengan frekuensi di atas frekuensi ambang.
Untuk memperjelas uraian di atas, ada baiknya persamaan garis lurus
(Persamaan 2.2) di depan kita tulis ulang dengan sedikit modifikasi menjadi

hv = Kmaks + hv0 . (2.4)

Ruas kiri menyatakan energi yang akan diserahkan foton kepada elektron
ketika berbenturan. Jadi ruas kanan adalah energi yang diperoleh elektron
tepat setelah dibentur foton. Energi ini akan digunakan elektron untuk melepas
ikatannya, dan sisanya (jika ada) digunakan sebagai energi gerak. Elektron
yang terikat paling lemah akan terlepas dengan energi kinetik paling besar,
dilambangi Kmaks. Selanjutnya, suku terakhir ruas kanan (hv0) diartikan sebagai
energi yang diperlukan untuk melepaskan elektron yang terikat paling lemah. Jadi
sama dengan energi ikat elektron tersebut. Energi ikat elektron ini sering
disebut sebagai fungsi kerja dan dilambangi . Elektron dapat dilepaskan dari

Pengantar Fisika Kuantum


Penjelasan teoretis 43

logam jika energi foton yang membenturnya paling sedikit sama dengan ; jadi
hanya jika hv > hv0. Dengan demikian sangatlah jelas bahwa untuk
melepaskan elektron dari suatu logam tertentu diperlukan cahaya yang
memiliki frekuensi minimal sama dengan frekuensi ambang v0.

Penjelasan Gambar 2.2b (Energi Kinetik Elektron-foto Tidak Bergantung


Intensitas Cahaya)
Untuk menjelaskan gejala yang ditunjukkan pada Gambar 2.2b ini, per-
tama-tama kita definisikan intensitas cahaya berdasarkan faham cahaya
sebagai partikel (foton). Berdasarkan faham ini, intensitas cahaya diartikan
sebagai energi tiap foton dikalikan cacah foton yang menembus satu satuan luas per-
mukaan secara tegaklurus tiap satu satuan waktu. Dengan demikian, besar kecilnya
intensitas cahaya menunjukkan banyak-sedikitnya cacah foton, bukan besar-
kecilnya energi tiap foton. Ingat bahwa, berdasarkan definisinya, energi foton
hanya bergantung pada frekuensi.
Besarnya energi kinetik elektron-foto sama dengan besarnya energi foton
dikurangi energi ikat elektron. Karena transfer energi dari foton ke elektron
berlangsung satu lawan satu maka besarnya energi kinetik elektron hanya
bergantung pada besarnya energi foton yang membenturnya. Karena energi
foton hanya bergantung pada frekuensi, bukan pada intensitas, maka harus
disimpulkan bahwa intensitas cahaya tidak mempengaruhi besarnya energi
kinetik elektron-foto yang dihasilkan.

Penjelasan Gambar 2.2c (Tidak ada Waktu Tunda Antara Penyinaran Sampai
Terjadinya Arus Fotoelektrik)
Berdasarkan postulat Einstein di atas, maka pelepasan elektron dapat
terjadi tanpa waktu tunda yang berarti; sebab lepas tidaknya elektron itu tidak
ditentukan oleh seberapa banyak jumlah energi yang berhasil dikumpulkan
elektron, melainkan ditentukan oleh berapa besar energi foton yang menumbuk
elektron tadi. Jika energi foton lebih besar daripada energi ikat elektron, maka
elektron akan terlepas dari permukaan logam dan foton yang membentur tadi
lenyap. Sebaliknya, jika energi foton tadi sangat lemah, maka elektron tidak
terlepas dan foton tidak memberikan energinya kepada elektron. Karena
transfer energi dari foton ke elektron menyerupai benturan antara dua partikel,
maka tidak diperlukan adanya waktu tunda.

Penjelasan Gambar 2.2d (Kuat Arus Fotoelektrik Berbanding Lurus Terhadap


Intensitas Cahaya)

Bab 2: Efek Fotolistrik


44 Komplementaritas gelombang-partikel

Berdasarkan definisi intensitas cahaya sebagaimana disebutkan di depan,


kenaikan intensitas menunjukkan kenaikan cacah foton yang membentur per-
mukaan logam. Ini mengakibatkan bertambahnya cacah elektron-foto yang
dilepaskan logam. Dengan demikian, jelaslah bahwa semakin tinggi intensitas
cahaya semakin besar arus fotoelektrik yang dihasilkan.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa efek fotolistrik dapat di-
jelaskan secara memuaskan jika cahaya dipandang sebagai aliran entitas bak-
partikel yang disebut foton. Bukan sebagai bentuk gelombang sebagaimana
dinyatakan dalam fisika klasik.
Partikel cahaya (foton) memiliki energi sebesar = h. Berdasarkan teori
relativitas, foton juga memiliki momentum yang besarnya p = /c = h/c = h/,
dengan = panjang gelombang cahaya.

2.4 KOMPLEMENTARITAS WATAK BAK-GELOMBANG DAN BAK-


PARTIKEL BAGI CAHAYA

Pada pembahasan di depan telah ditunjukkan bahwa cahaya (dan ge-


lombang elektromagnetik pada umumnya) memiliki watak partikel. Gejala-
gejala seperti efek Compton, pembentukan sinar-X, pembentukan pasangan
(pair production), dan gejala-gejala lain yang merupakan interaksi cahaya
dengan partikel secara nyata telah mendukung kesimpulan ini. Di pihak lain,
gejala interferensi dan difraksi cahaya hanya dapat dijelaskan jika cahaya
diperlakukan sebagai gelombang.
Mengingat partikel dan gelombang merupakan dua entitas yang sangat
berbeda, sedangkan menurut fisika klasik sesuatu yang teridentifikasi sebagai
gelombang akan tetap sebagai gelombang (demikian pula yang teridentifikasi
sebagai partikel akan tetap sebagai partikel dalam seluruh sejarah hidupnya),
maka akan timbul suatu pertanyaan: teori mana yang benar? cahaya sebagai ge-
lombang ataukah cahaya sebagai partikel?
Ternyata pertanyaan yang sangat logis itu tidak dapat dipecahkan dengan
harus memilih salah satunya. Kedua watak tadi masing-masing mempunyai
dukungan eksperimen yang sama kuatnya. Akhirnya disepakatilah bahwa
pertanyaan semacam itu tidak perlu diperdebatkan lagi. Sebagai jalan keluar
terbaik, kedua watak tersebut dipandang saling melengkapi (komplementer).
Kedua watak ini dimiliki oleh cahaya, tetapi pada sebagian besar peristiwa
keduanya tidak muncul secara bersamaan. Ada suatu gejala, yang ditunjukkan
oleh cahaya, yang dapat dijelaskan baik dengan memperlakukan cahaya
sebagai parikel maupun cahaya sebagai gelombang. Contoh gejala yang
dimaksud adalah efek Doppler, yaitu gejala berubahnya frekuensi cahaya

Pengantar Fisika Kuantum


Komplementaritas gelombang-partikel 45

akibat adanya gerak relatif antara pengamat dan sumber. Perhatikan Contoh
Soal 2.2 berikut ini.

Contoh Soal 2.2

Tunjukkan bahwa rumusan Efek Doppler:

1 v/c
, (2. 5)
1 v/c

dengan v menyatakan kecepatan pengamat relatif terhadap sumber


cahaya (pengamat menjauhi sumber), serta v dan v masing-masing
menyatakan frekuensi cahaya yang dipancarkan sumber dan yang
diterima pengamat, dapat diturunkan dengan memperlakukan cahaya
sebagai gelombang maupun cahaya sebagai partikel.
Analisis

Gejala efek Doppler cahaya termasuk gejala relativistik. Oleh sebab


itu, analisis masalah ini akan kita pecahkan berdasarkan Teori Re-
lativitas Khusus. Lebih khusus, persoalan ini akan kita pecahkan
berdasarkan transformasi Lorentz untuk vektor-4.


Jika A A 0 , A merupakan komponen vektor-4 dalam kerangka
inersial K, maka dalam kerangka inersial lain K yang bergerak de-
ngan kecepatan v terhadap K (untuk penyederhanaan dipilih searah
sumbu X), komponen vektor-4 tersebut adalah


A 0' A 0 Ax ,

Ax Ax A 0 , (2. 6)

Ay A y , Az Az ,


dengan v / c dan 1 2 1/ 2
. Pada persamaan transformasi
itu, A0 menyatakan komponen waktu dan A (Ax, Ay, Az ) merupakan
komponen ruang (dalam sistem Cartesan).

Penjabaran efek Doppler berdasarkan cahaya sebagai gelombang


Tanpa mengurangi generalisasinya, kita andaikan gelombang cahaya

Bab 2: Efek Fotolistrik


46 Komplementaritas gelombang-partikel

berupa gelombang monokromatis bidang dengan frekuensi sudut


dan vektor gelombang k (diukur terhadap pengamat di K). Vektor
gelombang dan frekuensi sudut gelombang ini membentuk suatu

vektor-4 (disebut vektor gelombang-4): k k 0 , k . Dalam medium
udara atau vakum, komponen vektor-4 tersebut masing-masing
adalah k0 = /c dan k =/c. Jika gelombang cahaya ini merambat
searah sumbu X, maka kx = /c, ky = kz = 0. Terhadap pengamat di K ,
komponen kx menjadi (lihat Persamaan 2.6):


k x k x k 0 ,
atau

1 . (2. 7)
c c c
Dengan menyatakan dan dalam v (seperti didefinisikan di bawah
Persamaan (2.6)) serta mengganti dengan 2 kita dapatkan ru-
musan efek Doppler seperti dinyatakan pada Persamaan (2.5).
Penjabaran efek Doppler berdasarkan cahaya sebagai partikel

Dalam teori relativitas, energi dan momentum linear p merupakan


komponen suatu vektor-4 (disebut vektor energi-momentum-4):

p p 0 / c, p . . Partikel cahaya (foton) memiliki energi dan mo-
mentum masing-masing sebesar = hv dan p = /c= hv/c (diukur oleh
pengamat di K). Jika foton merambat searah sumbu X, maka px = p.
Terhadap pengamat di K , komponen p0 menjadi (lihat Persamaan
2.6):


p 0' p 0 p x ,
atau
h h h
1 . (2. 8)
c c c
Dengan menyatakan dan dalam v (seperti didefinisikan di bawah
Persamaan (2.6)) kita dapatkan rumusan efek Doppler seperti dinya-
takan pada Persamaan (2.5).
Berdasarkan kedua analisis tersebut jelaslah bahwa efek Doppler
dapat dijelaskan baik dengan memperlakukan cahaya sebagai ge-

Pengantar Fisika Kuantum


Komplementaritas gelombang-partikel 47

lombang maupun cahaya sebagai partikel.

Kembali ke kesepakatan komplementaritas watak gelombang dan partikel


pada cahaya. Kesepakatan tersebut sungguh sangat logis, sebab selain telah
didukung oleh berbagai data eksperimen, watak bak-partikel dan watak bak-
gelombang tersebut ternyata juga tidak terpisahkan. Perhatikan kaitan

= hv , (2. 9)
dan
p = /c = h/ , (2. 10)
dengan dan p menyatakan energi dan momentum foton, v dan menyatakan
frekuensi dan panjang gelombang cahaya. Persamaan (2.9) dan (2.10) itu sering
disebut sebagai kaitan Planck-Einstein.
Sifat komplementaritas pada cahaya tersebut memberi inspirasi de Broglie
untuk mengajukan hipotesis bahwa partikel material juga dapat memiliki
watak sebagai gelombang. Pemikiran ini pada gilirannya mengantarkan lahir-
nya fisika kuantum. Pembahasan lebih lanjut tentang hipotesis de Broglie akan
dipaparkan pada bab berikutnya.

RANGKUMAN

1. Efek fotolistrik adalah peristiwa terlepasnya elektron dari logam akibat


disinari cahaya. Elektron yang dilepaskan pada proses ini disebut elektron-
foto (photoelectron).
2. Ada sejumlah gejala efek fotolistrik yang tidak dapat dijelaskan berdasar-
kan faham cahaya sebagai gelombang. Gejala yang dimaksud meliputi: (1)
Tidak adanya waktu tunda meskipun cahaya yang digunakan intensitasnya
sangat lemah, (2) diperlukannya frekuensi ambang untuk menghasilkan
efek fotolistrik, dan (3) ketakbergantungan energi kinetik elektron-foto
terhadap intensitas cahaya. Satu-satunya gejala yang dapat dijelaskan
berdasarkan faham ini adalah kebergantungan secara linear kuat arus
fotoelektrik terhadap intensitas cahaya.
3. Semua gejala efek fotolistrik dapat dijelaskan secara memuaskan oleh
Einstein berdasarkan faham cahaya sebagai partikel. Artinya, cahaya
dipandang sebagai arus entitas bak-partikel yang berupa paket-paket
energi yang disebut foton. Paket energi (foton) yang diasosiasikan dengan

Bab 2: Efek Fotolistrik


48 Komplementaritas gelombang-partikel

cahaya monokromatis yang berfrekuensi adalah h, dengan h tetapan


Planck. Sebagaimana partikel lainnya, foton juga memiliki momentum;
nilainya sebesar h/c atau h/, dengan menyatakan panjang gelombang
cahaya.
4. Keberhasilan Einstein dalam merumuskan teori efek fotolistrik tersebut
sekaligus mendukung adanya tetapan alam, yaitu tetapan Planck, yang
dikemukakan Planck saat merumuskan teori radiasi benda-hitam.
5. Akibat lain dari keberhasilan Einstein dalam menjelaskan efek fotolistrik
adalah dirumuskannya sifat komplementaritas pada cahaya, yaitu cahaya
memiliki watak sebagai gelombang dan juga sebagai partikel.
6. Melalui pembahasan efek fotolistrik ini kita dapat merumuskan perbedaan
yang sangat fundamental antara partikel dan gelombang. Partikel
kehadirannya sangat terlokalisir, artinya pada saat tertentu ia menempati
ruang yang sangat terbatas. Di pihak lain, kehadiran gelombang bersifat
menyebar; artinya pada saat tertentu ia menempati ruang yang luas.

PERLATIHAN

Pertanyaan Konsep

1. Adakah perbedaan dan kesamaan antara pengkuantuman energi yang


dikemukakan Planck dan pengkuantuman energi yang dikemukakan
Einstein? Jelaskan!
2. Mengapa gejala efek fotolistrik hanya dapat dijelaskan jika cahaya (radiasi
elektromagnetik) dipandang sebagai aliran partikel (foton) bukan sebagai
gelombang sebagaimana dinyatakan oleh teori Maxwell?
3. Cacah elektron-foto yang dilepaskan logam pada umumnya cukup banyak
dengan energi kinetik yang berbeda-beda. Apa yang menyebabkan variasi
energi kinetik ini?
4. Dari aspek kehidupan manusia, gelombang elektromagnetik dan gelom-
bang mekanik mempunyai kesamaan yang menarik. Dalam rentang
frekuensi tertentu, gelombang mekanik menghasilkan bunyi, sedangkan
gelombang elektromagnetik menghasilkan cahaya. Jika cahaya terkuan-
tumkan (kuanta cahaya disebut foton), apakah bunyi juga terkuantumkan?
5. Menurut teori Maxwell, cahaya merupakan gelombang elektromagnetik
sehingga energi yang dibawa cahaya (untuk frekuensi tertentu) sebanding
dengan kuadrat amplitudo medan (E ). Di pihak lain, menurut Einstein
energi yang dibawa cahaya harus memenuhi hubungan n = n hv, dengan n

Pengantar Fisika Kuantum


Perlatihan 49

menyatakan cacah foton. Jadi, menurut Einstein, sama sekali tidak


bergantung pada E. Mengingat teori Einstein lebih baru daripada teori
Maxwell, apakah berarti teori Maxwell salah dan harus ditinggalkan? Atau,
apakah amplitudo medan harus terkuantumkan sehingga kedua teori ini
pada hakekatnya sama? Cobalah Anda diskusikan hal ini!
6. Partikel adalah segala sesuatu yang memiliki massa dan menempati ruang.
Karena foton termasuk partikel, maka foton juga harus memiliki massa.
Apakah yang salah dalam silogisme ini?
7. Benarkah pernyataan Energi sebuah foton dapat bermacam-macam
asalkan memenuhi hubungan = n h, dengan n sebarang bilangan asli?
8. Jelaskan peranan historis gejala efek fotolistrik terhadap lahirnya fisika
kuantum!
9. Dapatkah Anda menjelaskan gejala defraksi cahaya berdasarkan faham
cahaya sebagai partikel? Dapatkah Anda menjelaskan gejala interferensi
cahaya berdasarkan faham cahaya sebagai partikel?
10. Berikan contoh gejala alam yang dapat kita gunakan untuk menguji apakah
entitas yang menunjukkan gejala itu sebagai partikel atau sebagai
gelombang!
11. Salah satu sifat gelombang adalah dapat dipantulkan. Apakah partikel juga
dapat dipantulkan?
12. Jelaskan proses transfer energi dari cahaya ke elektron pada gejala efek
fotolistrik berdasarkan faham (a) cahaya sebagai gelombang, (b) cahaya
sebagai partikel!
13. Gambar 2.2 b menunjukkan bahwa, untuk cahaya dengan intensitas ter-
tentu, arus fotoelektrik berkurang terhadap pertambahan potensial peng-
halang. Jelaskan bahwa berkurangnya arus fotoelektrik tersebut tidak
secara linear terhadap kenaikan potensial penghalang (perhatikan bahwa
grafiknya berupa garis lengkung, bukan garis lurus).
14. Perhatikan Gambar 2.3 b yang menunjukkan gambaran dua dimensi dis-
tribusi spasial energi cahaya menurut faham cahaya sebagai partikel.
Menurut Anda, adakah cahaya di tempat yang tidak ada fotonnya?
15. Cermatilah kebenaran pernyataan berikut: Semakin tinggi intensitas
cahaya yang digunakan pada percobaan efek fotolistrik semakin besar
energi kinetik elektron-foto yang dihasilkan, sebab, energi foton bergan-
tung pada intensitas cahaya

Pertanyaan Analitis

Bab 2: Efek Fotolistrik


50 Perlatihan

1. Energi untuk melepaskan satu elektron dari atom Natrium sebesar 2,3 eV.
Apakah natrium memperlihatkan efek fotolistrik jika disinari dengan ca-
haya jingga ( = 680 nm)?
2. Jika Anda ingin memilih bahan untuk sebuah fotosel yang dapat diope-
rasikan dengan menggunakan cahaya tampak (380 nm < < 700 nm),
manakah dari bahan-bahan berikut yang Anda Pilih?

No. Bahan Fungsi Kerja


1. Tungsten 4,5 eV
2. Litium 2,3 eV
3. Aluminium 4,2 eV
4. Barium 2,5 eV

3. Cahaya dengan panjang gelombang tertentu ditembakkan ke logam


Natrium yang mempuyai fungsi kerja 2,3 eV. Jika untuk meniadakan arus
diperlukan potensial penghenti sebesar 5,0 V, berapa panjang gelombang
cahaya tadi?
4. Fungsi kerja Litium sebesar 2,2 eV. Buatlah, secara kasar, grafik potensial
penghenti terhadap frekuensi cahaya pada percobaan efek fotolistrik yang
menggunakan Litium sebagai targetnya.
5. Tunjukkan bahwa elektron bebas (atau terikat lemah) tidak dapat me-
nyerap seluruh energi foton tanpa melanggar hukum kekekalan energi atau
kekekalan momentum. Di lain pihak, elektron terikat kuat tidak dapat
menyerap sebagian energi foton tanpa melanggar hukum kekekalan energi
atau kekekalan momentum. Dengan kata lain, tunjukkan bahwa efek
fotolistrik hanya terjadi pada elektron terikat kuat.
6. Ketika ditumbuk foton yang berenergi 7,0 eV, elektron yang terlepas dari
suatu logam memiliki energi kinetik maksimum sebesar 4,0 eV. Berapa
energi kinetik maksimum elektron jika logam tersebut ditumbuk foton
yang berenergi 10,0 eV?
7. Pada suatu logam, efek fotolistrik hanya terjadi jika cahaya yang me-
nyinarinya memiliki panjang gelombang maksimum 0. Berapa energi
kinetik maksimum elektron-foto yang dihasilkan logam itu jika disinari
cahaya dengan panjang gelombang 0,75 0 ?
8. Cahaya dengan intensitas 10 W/m2 disinarkan secara tegak lurus pada
permukaan logam yang mempunyai satu elektron bebas per atomnya.
Jarak antaratom kira-kira 2,6 . Berdasarkan faham cahaya sebagai ge-
lombang dan asumsi bahwa cahaya tersebar merata ke seluruh permukaan
logam, (a) berapa energi yang didapat tiap elektron tiap detiknya? (b) jika

Pengantar Fisika Kuantum


Perlatihan 51

energi ikat elektron 4,7 eV, berapa lama elektron mengumpulkan energi
agar dapat lepas dari permukaan logam itu?
9. Cahaya monokromatis ( = 460 ) dengan intensitas 10 W/m2 dijatuhkan
pada plat K (pada Gambar 2.1). Jika luas yang tersinari 1 cm2: (a) berapa
cacah foton per detik yang membentur plat K tersebut? (b) jika 0,1% foton
dapat menghasilkan elektron-foto yang mampu mencapai plat A, berapa
cacah elektron-foto yang mencapai pelat A tiap detiknya?
10. Ketika disinari cahaya dengan panjang gelombang , suatu logam dapat
menghasilkan elektron-foto dengan energi kinetik maksimum Ek1. Berapa
energi kinetik maksimum elektron-foto tersebut jika disinari dengan cahaya
berpanjang gelombang 0,5? Berapa maksimum yang dapat
menghasilkan efek fotolistrik untuk logam itu? (Nyatakan jawaban Anda
dalam dan Ek1)

Bab 2: Efek Fotolistrik


52 Perlatihan

Energi ikat .............. 32, 42, 43, 51


A
Arus fotoelektrik .... 32, 33, 34, 36, F
37, 40, 44, 47, 49 Foton
definisi...................... 41, 44, 48
C intensitas cahaya ................... 43
Compton, efek ......................... 44 interaksi dengan partikel ....... 41
momentum ..................... 44, 48
D transfer energi ke elektron, efek
fotolistrik.......................... 42
de Broglie .......................... 31, 47 Frekuensi ambang, Efek fotolistrik
Doppler, efek ................ 45, 46, 47 ......... 34, 35, 38, 40, 42, 43, 47
Fungsi kerja, lih. Energi ikat 43, 50
E
Efek fotolistrik G
definisi ...................... 31, 32, 47 Gelombang, vs partikel ............. 44
fakta eksperimen .................. 34
set percobaan ....................... 33 H
teori Einstein ...................4044
teori klasik ......................3840 Hertz, Heinrich......................... 32
Efek fotolistrik, tonggak Fisika
kuantum ............................... 31 K
Einstein 32, 40, 41, 42, 43, 47, 48, Komplementaritas gelombang-
49 partikel ................................. 44
Einstein, kaitan Planck-Einstein 47
Einstein, pengkuantuman cahaya L
............................................ 41 Lorentz .................................... 45
Elektron-foto ... 32, 33, 34, 35, 36, Lucutan elektrik ....................... 32
37, 38, 40, 43, 44, 47, 48, 49,
50, 51 M
energi kinetik 32, 34, 35, 36, 38,
43, 49 Maxwell ................................... 48
Emisi lanjutan, secondary
P
emission ............................... 32
Emisi medan, lucutan elektrik ... 32 P. Lenard ................................. 32
Emisi termionik ........................ 32 Partikel, vs gelombang ............. 44

Pengantar Fisika Kuantum


Perlatihan 53

Pembentukan pasangan, pair V


production ........................... 44
vektor energi-momentum-4 ...... 46
Planck, tetapan.............. 35, 41, 48
vektor gelombang-4 ................. 46
Planck-Einstein, kaitan ............. 47
vektor-4 ............................. 45, 46
Potensial penghalang .....34, 36, 49
Potensial penghenti 33, 34, 35, 36, W
50
Waktu tunda, contoh hitungan .. 39
S Waktu tunda, efek fotolistrik ... 34,
37, 39, 40, 43, 47
Sinar-X .................................... 44

Bab 2: Efek Fotolistrik


BAB 3

GELOMBANG MATERI
DAN
ASAS KETAKPASTIAN HEISENBERG

Pada Bab 2 kita telah menyimpulkan bahwa cahaya memiliki watak ganda:
yaitu sebagai partikel dan sebagai gelombang. Adanya watak ganda yang dimi-
liki cahaya ini memungkinkan timbulnya dugaan berlakunya hal serupa pada
partikel material, yaitu partikel yang memiliki massa sebagaimana dimak-
sudkan dalam mekanika Newton. Pada Bab 3 ini kita akan membahas perihal
watak bak-gelombang bagi partikel material.
Hal-hal penting yang kita bahas meliputi: hipotesis de Broglie, eksistensi
gelombang materi, ujud gelombang materi, penafsiran Born tentang fungsi
gelombang, dan asas ketakpastian Heisenberg. Dengan pembahasan ini di-
harapkan pembaca mendapatkan persiapan yang cukup untuk mulai masuk ke
dunia fisika kuantum

3.1 POSTULAT de BROGLIE: GELOMBANG MATERI

Keseluruhan entitas fisis di alam semesta ini dapat dikelompokkan ke


dalam dua golongan besar, yaitu partikel dan gelombang. Kedua golongan
entitas itu dapat dikenali secara mudah berdasarkan kehadirannya: partikel
bersifat terlokalisir sedangkan gelombang bersifat menyebar. Perbedaan kedua
golongan entitas itu juga dapat dikenali dari gejala interferensi. Sebagaimana
diketahui, gejala interferensi hanya dapat ditunjukkan oleh gelombang. Jadi,
jika suatu entitas dapat menunjukkan gejala interferensi maka dapat dipastikan
bahwa entitas tersebut tergolong gelombang. Sebaliknya, jika suatu entitas
tidak dapat menunjukkan gejala interferensi maka entitas tersebut tergolong
partikel.

Sutopo Pengantar Fisika Kuantum 53


54 Postulat de Broglie

Fisika klasik mencirikan partikel sebagai entitas fisik yang memiliki massa.
Pencirian ini sekarang tidak lagi benar. Sebab, sebagaimana telah kita bahas
dalam Bab 2, ada partikel yang tidak bermassa, yaitu foton.
Sebelum teori efek fotolistrik berhasil dirumuskan, orang berkeyakinan
bahwa sekali suatu entitas dikenali sebagai gelombang, selamanya ia tetap se-
bagai gelombang. Sebaliknya, sekali suatu entitas dikenali sebagai partikel,
selamanya ia tetap sebagai partikel. Keyakinan itu tidak lagi dapat diperta-
hankan sejak berhasilnya perumusan teoretis efek fotolistrik. Sebagaimana
telah kita pelajari, bahwa cahaya yang semula diyakini sebagai gelombang
ternyata pada saat tertentu juga dapat berperilaku sebagai partikel. Kenyataan
itu mengisyaratkan perlunya meninjau kembali penggolongan secara diko-
tomis partikel lawan gelombang. Sebab, tampaknya alam tidak secara tegas
membagi penghuninya ke dalam dua golongan besar itu.
Jika benar bahwa alam tidak terbagi atas partikel dan gelombang, yang
menjadi pertanyaan berikutnya adalah apakah partikel itu sebenarnya hanya-
lah salah satu watak yang sedang ditonjolkan oleh suatu entitas pada saat ter-
tentu saja; artinya, pada saat yang lain sebenarnya ia juga menunjukkan watak
gelombang (tetapi kita tidak mengenalinya)? Untuk foton, pertanyaan ini telah
kita temukan jawabnya; yaitu ya. Bagaimana dengan partikel lainnya?
Pada tahun 1924, Louis de Broglie, seorang filsof Perancis, mengajukan hi-
potetis bahwa watak ganda yang dimiliki cahaya (gelombang elektromagnet pada
umumnya) juga dimiliki oleh partikel material. Artinya, partikel material juga
dapat menunjukkan watak gelombang sebagaimana ditunjukkan oleh foton.
Menurut de Broglie, terhadap setiap partikel yang berenergi E dan bergerak
dengan momentum linear p terdapat gelombang yang diasosiasikan dengan-
nya. Gelombang yang diasosiasikan dengan partikel yang bergerak itu disebut
gelombang materi, atau gelombang de Broglie. Dalam konteks yang demikian
dapat dikatakan bahwa gelombang elektromagnet adalah gelombang de
Broglie yang diasosiasikan dengan foton.
Frekuensi dan panjang gelombang bagi gelombang de Broglie dapat di-
turunkan dengan argumen sebagai berikut. Kita telah mengetahui bahwa
momentum linear dan energi foton berkaitan dengan panjang gelombang dan
frekuensi gelombang elektromagnet menurut kaitan Planck-Einstein: p = h/
dan E = hv. Jika hubungan itu dipostulatkan berlaku untuk sebarang partikel
(tidak hanya foton), maka gelombang de Broglie memiliki panjang gelombang
sebesar = h/p dan frekuensi sebesar v = E/h, dengan p dan E berurutan me-
nyatakan momentum linear dan energi partikel yang diasosiasikan dengan
gelombang de Broglie itu. Dengan demikian, hipotesis de Broglie dapat diung-

Pengantar Fisika Kuantum


Postulat de Broglie 55

kapkan dengan pernyataan lain: Terhadap partikel yang bermomentum linear p,


diasosiasikan suatu gelombang yang panjang gelombangnya sebesar = h/p.
Untuk mendeskripsikan suatu gelombang, seringkali orang menggunakan
besaran frekuensi sudut 2 dan bilangan gelombang k 2/. Untuk
gelombang de Broglie, kaitan antara frekuensi sudut dengan energi partikel,
dan bilangan gelombang dengan momentum linear partikel mengikuti rumus-
an Planck-Einstein:

E h h , (3. 1)
2
dan
h k
p h k , (3. 2)
2
h
dengan . Untuk kasus 3 dimensi, Persamaan (3.2) menjadi p k de-
2
ngan k vektor gelombang.

3.2 EKSISTENSI GELOMBANG MATERI

Untuk menyelidiki watak gelombang materi, diperlukan perangkat eks-


perimen yang dapat mendeteksi gejala interferensi dan atau difraksi untuk ge-
lombang materi tersebut. Ini disebabkan karena gejala itu hanya dapat ditun-
jukkan oleh gelombang. Penalaran seperti ini pulalah yang menuntun Young
(1801) dalam menyelidiki apakah cahaya sebagai gelombang atau bukan.
Efek difraksi hanya dapat diamati jika peralatan yang digunakan memiliki
ukuran karakteristik (apertur) seorde atau kurang dari panjang gelombang.
Sebagai contoh bagi apertur adalah luas lensa, lebar celah, dan tetapan kisi
sebagaimana telah kita kenal dalam optika.
Jika a dan berurutan menyatakan ukuran apertur dan panjang gelom-
bang, maka efek difraksi hanya dapat diamati jika /a 1. Jika /a sangat kecil
( 1) maka efek difraksi tidak dapat diamati. Dalam optika, jika /a 1 maka
kita berada pada wilayah optika fisik. Sebaliknya jika /a 1 kita berada pada
wilayah optika geometri. Sebagaimana kita ketahui, dalam optika geometri
cahaya cukup digambarkan sebagai sinar yang arahnya sama dengan arah
rambat cahaya. Dalam hal ini kita tidak perlu mengetahui secara persis apa
hakekat cahaya itu, sebagai gelombang ataukah sebagai partikel. Namun
demikian, dalam optika geometri sebenarnya kita telah mengidentikkan cahaya
sebagai partikel: arah sinar identik dengan trayektori partikel. Jika sinar

Bab 3: Gelombang Materi &Asas Ketakpastian


56 Eksistensi gelombang de Broglie

menjumpai bidang pantul maka akan dipantulkan pada arah tertentu persis
seperti trayektori bola tenis yang dipantulkan lantai.
Mengingat kecilnya nilai tetapan Planck (pada orde 10) maka panjang
gelombang de Broglie pada umumnya juga sangat pendek. Oleh karena itu
diperlukan apertur yang sangat kecil untuk menyelidiki munculnya watak
gelombang materi tersebut. Apertur terkecil yang dapat dibuat dewasa ini
memiliki ukuran sekitar 1 (yaitu jarak rata-rata antarbidang atom pada
kristal).
Marilah kita hitung berapa orde panjang gelombang de Broglie untuk be-
berapa partikel tertentu. Sebelumnya perlu kita ingat bahwa untuk meng-
hasilkan panjang gelombang yang cukup besar maka momentum linear par-
tikel yang bersangkutan haruslah kecil. Jadi, baik massa maupun kecepatannya
harus cukup kecil.

Contoh soal 3.1

Hitung gelombang de Broglie bagi partikel debu (diameter 1 m)


yang bergerak dengan kecepatan 1 mm/s. (Nilai ini masih kurang dari

kecepatan gerak ulat). Andaikan massa debu 10 kg.

Analisis

6,6 1034 J. s
= = 6,6 10 6 .
10- 15
10 3
kg. m/s

Panjang gelombang sependek ini tentu saja masih sangat kecil di-
bandingkan dengan ukuran apertur yang tersedia saat ini. Dengan
demikian tidaklah mungkin untuk mendeteksi gelombang yang
diasosiasikan dengan gerakan partikel debu tersebut.

Perlu dicacat bahwa, meskipun partikel hanya sebesar debu dan bergerak
dengan sangat lambat, ternyata gelombang de Broglie-nya masih terlalu kecil
untuk dapat dideteksi. Untuk partikel makroskopis lainnya, tentu saja panjang
gelombangnya akan lebih kecil lagi. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa aspek gelombang pada gerak partikel makroskopis sangat sulit di-
deteksi, bahkan cenderung tidak mungkin dideteksi. Dengan kata lain, partikel
makroskopis tidak akan menunjukkan watak gelombang.

Pengantar Fisika Kuantum


Eksistensi gelombang de Broglie 57

Contoh Soal 3.2

Berapa gelombang de Broglie bagi suatu neutron termal, misalnya


pada temperatur 300K?

Analisis:

Neutron termal adalah neutron yang energi kinetiknya setara dengan


energi termalnya. Pada temperatur T, energi termal neutron sebesar

3/2 kB T, dengan kB = tetapan Boltzman = 1,3810 J/K. Karena energi
kinetik neutron termal sama dengan energi termalnya, maka
momentum linearnya dapat dihitung dari hubungan p2/2m = 3/2 kBT.
Jadi panjang gelombang de Broglie neutron termal tersebut adalah

h h
= =
p 3 m kB T
6,6 10 -34
1,4 .
3 1,67 10 - 27 1,38 10 - 23 300

Ternyata panjang gelombangnya seorde dengan ukuran apertur


terkecil teoritik, yaitu jarak antarbidang atom dalam kristal. Dengan
demikian, neutron termal tersebut memiliki kemungkinan untuk
menunjukkan watak gelombangnya.

Contoh Soal 3.3


Hitunglah gelombang de Broglie untuk elektron yang memiliki
energi kinetik 100 eV. Massa elektron 9,1 10 kg.

Analisis

h h
= =
p 2 m Ek
6,6 10 34 J s
= 1,2 .
31
2 9,1 10 kg 100 e V 1,6 10 19 J/ e V

Bab 3: Gelombang Materi &Asas Ketakpastian


58 Eksistensi gelombang de Broglie

Ternyata panjang gelombangnya lebih dari ukuran apertur terkecil


teoretik, yaitu jarak antarbidang atom dalam kristal. Dengan demi-
kian, elektron yang berenergi 100 eV tersebut sangat mungkin untuk
dapat menunjukkan watak sebagai gelombang.

Pada tahun 1927, Davisson dan Germer (di USA) dan P.G. Thomson* (di
Swedia) berhasil menunjukkan watak gelombang pada elektron. Thomson
menunjukkan adanya efek difraksi ketika berkas elektron ditembakkan pada
suatu lapisan tipis. Sedangkan Davisson dan Germer menyelidiki efek difraksi
yang dihasilkan berkas elektron yang ditembakkan pada kristal. Mereka
mendapatkan hadiah Nobel (1937) atas temuannya itu.
Mengamati beberapa contoh perhitungan di atas, juga hasil percobaan
Davisson dan Germer, maka dapat disimpulkan bahwa partikel material benar-
benar dapat menunjukkan watak sebagai gelombang sebagaimana
dihipotesiskan oleh de Broglie.
Cabang fisika yang menelaah cara mendapatkan fungsi gelombang untuk
partikel material dikenal sebagai mekanika gelombang atau mekanika kuan-
tum. Erwin Schrdinger (1926) dan Werner Heisenberg (1925) secara terpisah
berhasil merumuskan cara mendapatkan fungsi gelombang tersebut. Kedua
ahli itu selanjutnya dikenal sebagai pelopor mekanika kuantum. Pada bab
berikutnya akan kita bicarakan secara khusus teori Schrdinger tersebut.

3.3 WUJUD GELOMBANG MATERI

Setelah kita meyakini adanya gelombang yang diasosiasikan dengan


partikel material yang bergerak, pertanyaan selanjutnya adalah seperti apakah
wujud gelombang materi tersebut? Sebagai langkah awal untuk menjawab
pertanyaan ini, marilah kita bicarakan gelombang materi yang diasosiasikan
dengan partikel bebas.
Partikel bebas adalah partikel yang tidak dipengaruhi oleh gaya apapun.
Jadi momentum linear (p m v) dan energi totalnya (E) konstan, artinya tidak
bergantung waktu maupun tempat. Dengan demikian, gelombang de Broglie
yang diasosiasikan dengannya haruslah memiliki frekuensi dan vektor gelom-
bang yang konstan, yaitu = E/ dan k = p/ di mana-mana.

*
P.G. Thomson adalah putra J.J. Thomson, yaitu ahli fisika yang berhasil menemukan
elektron dan mengidentifikasinya sebagai partikel elementer. J.J. Thomson juga
mendapatkan hadiah Nobel (1905) atas temuannya itu.

Pengantar Fisika Kuantum


Wujud gelombang de Broglie 59

Untuk penyederhanaan, kita andaikan partikel tersebut bergerak searah


sumbu X positif. Pertimbangan rasional mengharuskan bahwa gelombang yang
diasosiasikan dengannya juga bergerak searah sumbu X positif. Selanjutnya,
karena gelombang tersebut memiliki frekuensi dan bilangan gelombang yang
sudah tertentu nilainya, maka wujudnya dapat dinyatakan sebagai gelombang
monokromatis
( x, t ) A0 sin (kx t ) . (3. 3)

Untuk sementara kita tidak perlu membicarakan apa arti fisis dari A0
maupun . Yang perlu segera kita amati adalah cepat rambatnya. Kecepatan
gelombang tersebut dapat diketahui sebagai berikut. Ambillah sebarang titik x
yang memiliki fase tertentu: kx t = , jadi x = /k + t /k . Titik x yang
berfase ini bergerak dengan kecepatan v = dx/dt = /k. Kecepatan seperti ini
disebut kecepatan fase. Kecepatan fase merupakan satu-satunya kecepatan
yang dimiliki gelombang monokromatis. Jadi, gelombang tersebut bergerak
dengan kecepatan
v f = /k . (3. 4)
Subtitusi Persamaan (3.1) dan (3.2) ke dalam Persamaan (3.4) menghasilan
v f = E/p. (3.5)
Jika kecepatan partikel cukup kecil sehingga kinematika klasik dapat
digunakan, maka E m v (Ep dapat diberi nilai nol sebab partikel dalam
keadaan bebas), dan p mv. Dengan subtitusi nilai-nilai ini ke dalam Persa-
maan (3.5) diperoleh kesimpulan bahwa vf = v. Jadi kecepatan gelombang
separoh kecepatan partikel. Kenyataan ini akan menimbulkan kesulitan pe-
nafsiran tentang bagaimana gelombang tersebut diasosiasikan dengannya.
Jika kehadiran gelombang tersebut dikaitkan dengan suatu partikel, maka
haruslah memiliki kecepatan yang sama dengan kecepatan partikel. Dengan
pertimbangan ini maka dapatlah disimpulkan bahwa gelombang mo-
nokromatis seperti yang dinyatakan dalam Persamaan (3.3) tadi tidak layak
digunakan sebagai gelombang materi.
Jika kecepatan partikel mendekati kecepatan cahaya c, maka menurut teori
relativitas, E = mc dan p = mv, dengan (1v2 /c) . Subtitusi nilainilai
ini ke dalam Persamaan (3.5) menghasilkan vf = c /v. Karena laju partikel
material selalu kurang dari laju cahaya dalam vakum c, maka kecepatan
gelombang tadi akan selalu lebih dari c. Ini tentu saja bertentangan dengan asas
relativitas. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mengasosiasikan ge-
lombang monokromatis bidang dengan gerakan partikel adalah tidak mungkin.

Bab 3: Gelombang Materi &Asas Ketakpastian


60 Wujud gelombang de Broglie

Ketidaktepatan penggunaan gelombang monokromatis sebagai gelombang


materi juga dapat dilihat dari kehadiran spasial gelombang tersebut.
Gelombang monokromatis menyebar ke seluruh ruang. (Untuk model satu
dimensi berarti meliputi seluruh nilai x: dari sampai + ). Karena gelom-
bang materi harus dapat mendeskripsikan partikel, maka seharusnya gelom-
bang tersebut tidak terlalu menyebar. Idealnya harus terlokalisir di sekitar titik
di mana partikel berada. Artinya, amplitudo gelombang tersebut harus bernilai
nol kecuali di sekitar titik di mana partikel yang bersangkutan berada. Lihat
Gambar 3.1

Gambar 3.1. Atas: watak gelombang monokromatis pada t = t0 : menyebar


dari x = sampai +. Tengah: Posisi partikel pada t = t0.
Bawah: Potret gelombang yang layak untuk mendeskripsikan
partikel: pada t = t0 terlokalisir di sekitar posisi partikel.

Gelombang yang serupa dengan yang dilukiskan pada Gambar 3.1 paling
bawah dapat dibentuk dengan memadukan sejumlah besar gelombang
monokromatis yang memiliki bilangan gelombang dan frekuensi yang ber-
beda-beda. Paduan beberapa gelombang monokromatis membentuk pola
gelombang baru yang disebut grup gelombang.
Sebagai contoh, marilah kita padukan dua gelombang monokromatis
1 (x,t) dan 2(x,t) yang masing-masing berbentuk:

1 ( x , t ) = A 0 sin [( k 0 + 12 dk ) x ( 0 + 1
2 d ) t ] ,
dan
2 ( x , t ) = A 0 sin [(k 0 12 dk ) x ( 0 1
2
d ) t ] .

Dengan menggunakan identitas trigonometri

Pengantar Fisika Kuantum


Wujud gelombang de Broglie 61

sin + sin = 2 cos ( ) sin ( + ),


superposisi kedua gelombang di atas menghasilkan

( x , t ) 1 ( x , t ) 2 ( x , t ) 2 A 0 cos ( 21 dk x 21 d t ) sin ( k 0 x 0 t ) . (3. 6)

Gelombang resultan ini dapat dipandang sebagai gelombang monokro-


matis termodulasi. Amplitudonya berubah secara periodik sehingga memben-
tuk semacam paket atau selubung gelombang. Dalam Persamaan (3.6), selu-
bung ini dinyatakan oleh faktor yang ditulis dalam tanda kurung besar, yaitu
2A0cos(dk x d t). Setiap selubung terdiri atas sejumlah gelombang kom-
ponen yang memiliki rata-rata bilangan gelombang k0 dan rata-rata frekuensi
sudut 0 (dinyatakan oleh faktor kedua).
Gambar 3.2 berikut menyajikan plot contoh grup gelombang (x,0) se-
bagai fungsi x yang dibentuk oleh perpaduan fungsi sin 6x dan sin 4x. Menurut
Persamaan (3.6), hasil paduan kedua fungsi tersebut adalah
(x,0) = 2 cos x sin 5x.

sin 4x + sin 6x

Gambar 3.2. Atas: Plot dua gelombang monokromatis dengan bilangan


gelombang masing-masing 4 dan 6. Bawah: Plot grup gelombang
yang dihasilkan oleh perpaduan dua gelombang monokromatis
pada gambar atas.

Grup gelombang beserta gelombang-gelombang komponennya bergerak


pada arah yang sama tetapi dengan kecepatan yang berbeda. Gelombang kom-

Bab 3: Gelombang Materi &Asas Ketakpastian


62 Wujud gelombang de Broglie

ponen bergerak dengan kecepatan v = 0 /k0. Ini disebut kecepatan fase. Di


pihak lain, grup gelombang bergerak dengan kecepatan
d
vg = . (3. 7)
dk
Rumusan kecepatan tersebut diturunkan sebagai berikut. Ambillah se-
barang titik x yang memenuhi hubungan (dk x d t) = konstanta. Jika ung-
kapan ini dideferensialkan, diperoleh dk dx = d dt, atau dx/dt = d/dk. Karena
dx/dt adalah kecepatan, maka ungkapan (3.7) tadi juga sebagai kecepatan. Ini
disebut kecepatan grup.
Meskipun Persamaan (3.7) di atas diturunkan dari grup gelombang yang
dibentuk oleh dua gelombang monokromatis, rumusan kecepatan grup terse-
but berlaku umum. Jadi kecepatan grup merupakan derivatif terhadap k;
sedangkan kecepatan fase merupakan perbandingan terhadap k.
Dengan mengganti dan k menurut Persamaan (3.1) dan (3.2), kecepatan
grup di atas dapat diubah menjadi

d ( E / ) d E d ( p2 / 2m ) p
vg = = = = . (3. 8)
d(p / ) d p dp m
Jika v menyatakan kecepatan partikel maka p = mv, sehingga vg = v. Jadi ke-
cepatan grup sama dengan kecepatan partikel. Dengan demikian dapat di-
simpulkan bahwa gelombang yang diasosiasikan dengan partikel bebas harus-
lah berbentuk grup gelombang. Uraian tadi sekaligus menunjukkan bahwa
agar kecepatan grup sama dengan kecepatan partikel maka hubungan antara E
dan , serta antara k dan p harus memenuhi Persamaan (3.1) dan (3.2).
Sekarang kita simak sekali lagi plot grup gelombang (Persamaan 3.6) pada
Gambar 3.2. Grup gelombang seperti itu tentu saja masih kurang layak untuk
mendeskripsikan partikel karena masih sangat menyebar. Masih menyebarnya
grup gelombang itu disebabkan karena hanya dibentuk oleh dua gelombang
sehingga interferensi konstruktif dengan cepat dapat berulang. Kejadian ini
tidak akan muncul jika grup gelombang tersebut dibentuk oleh perpaduan se-
jumlah besar gelombang monokromatis yang berbeda frekuensi dan bilangan
gelombangnya. Jika ini dilakukan, maka interferensi konstruktif baru terulang
lagi pada jarak yang sangat jauh. Semakin banyak gelombang yang berin-
terferensi semakin jarang pengulangan terjadi. [Ingat bahwa interferensi
konstruktif terjadi jika gelombang-gelombang tersebut semuanya sefase. Aki-
batnya semakin banyak gelombang yang berinterferensi, semakin jarang
semuanya akan sefase].

Pengantar Fisika Kuantum


Wujud gelombang de Broglie 63

Sebagai gambaran, perhatikan pembentukan grup gelombang dengan


memadukan sejumlah gelombang sinus A0 sin kx seperti ditunjukkan pada
Gambar 3.3. Pada setiap grup gelombang, gelombang-gelombang sinus yang
dipadukan memiliki rentangan bilangan gelombang yang sama, yaitu sebesar
k (dalam gambar itu, k = 0,6, dari 2,7 s.d 3,3).

Gambar 3.3. Pola grup gelombang yang dihasilkan oleh perpaduan beberapa
gelombang monokromatis. Dalam setiap pola, rentangan bilangan
gelombang yang digunakan sama, yaitu dari 2,7 s.d 3,3. Beda
bilangan gelombang berturutan yang dipadu adalah 0,6/(n 1),
dengan n cacah gelombang yang dipadu.

Gambar 3.3 tadi menunjukkan bahwa semakin banyak gelombang yang


dipadu semakin jarang terjadi pengulangan interferensi konstruktif. Dengan
demikian, dapatlah dideduksi bahwa pengulangan benar-benar tidak akan ter-
jadi jika jumlah gelombang yang dipadukan tak berhingga banyak. Jadi, secara
prinsip, kita dapat membuat grup gelombang yang nilainya tidak nol hanya di
sekitar titik tertentu. Grup gelombang seperti inilah yang idealnya digunakan
untuk mendeskripsikan partikel.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa wujud gelombang materi
haruslah berupa grup gelombang. Pada bagian berikutnya, secara bertahap
akan kita pelajari sifat-sifat lain yang harus dipenuhi oleh gelombang materi.

Bab 3: Gelombang Materi &Asas Ketakpastian


64 Penafsiran Born

3.4 PENAFSIRAN FUNGSI GELOMBANG

Sejauh ini kita baru membicarakan bentuk gelombang yang layak di-
gunakan untuk mendeskripsikan gerak suatu partikel material. Kita belum
membicarakan misalnya apa yang bergelombang pada gelombang materi
tersebut. Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita kembali pada pen-
deskripsian gelombang dan partikel pada radiasi (cahaya).
Menurut deskripsi gelombang, radiasi dapat digambarkan sebagai entitas
kolektif medan listrik dan medan magnet yang merambat bersama dalam
ruang. Pada medium dielektrik isotropik, medan listriknya merambat dalam
bentuk gelombang bidang E (r , t ) = E 0 exp i(k . r t ) , yang diperoleh dari
penyelesaian persamaan Maxwell. Rata-rata (terhadap waktu) rapat energi
medan per satuan volume pada suatu tempat, dilambangi <we>, adalah

1 1 2
we E.E* E0 . (3. 9)
4 4
Pada deskripsi partikel (foton), rata-rata rapat energi didefinisikan sebagai
hasil kali energi foton ( ) dengan cacah rata-rata foton tiap satuan volume
(N/V). Jika rata-rata rapat energi foton ini dilambangi <wf), maka
<wf > = (N/V) . (3. 10)
Kita harus menggunakan kata rata-rata karena proses pancaran foton dari
sumbernya merupakan proses statistik (acak) sehingga tidak ada cara untuk
memastikan berapa cacah foton yang berada dalam suatu volume pada suatu
saat. Dengan demikian, N/V pada Persamaan (3.10) tersebut dapat diartikan
sebagai rapat peluang mendapatkan foton di suatu titik pada saat tertentu.
Jika kedua rumusan rapat energi di atas kita samakan, kita peroleh hubungan
1 N
w E.E* . (3. 11)
4 V
Jadi |E(r, t)| E.E sebanding dengan N/V. Dengan kata lain, jika E(r, t),
merupakan gelombang yang diasosiasikan dengan foton maka|E(r, t)|, yaitu
kuadrat modulus fungsi gelombang bagi foton, menyatakan peluang men-
dapatkan foton dalam suatu unsur volume di sekitar titik r pada saat t. Dengan
demikian, melalui telaah rapat energi radiasi ini kita telah berhasil memadukan
dualisme gelombang-partikel untuk radiasi.

Pengantar Fisika Kuantum


Penafsiran Born 65

Kesimpulan tersebut selanjutnya dipostulatkan juga berlaku untuk gelom-


bang materi. Jika gelombang materi diungkapkan sebagai fungsi gelombang
(r, t), yang dapat berupa fungsi kompleks variabel real r dan t, maka

(r, t) adalah suatu fungsi yang kuadrat modulusnya, |(r, t)| ,


sebanding dengan rapat peluang (per satuan volume) untuk menda-
patkan partikel di titik r pada saat t.

Penafsiran probabilistik terhadap fungsi gelombang seperti itu pertama kali


diajukan oleh Max Born pada tahun 1926. Oleh sebab itu, ungkapan tersebut
dikenal sebagai penafsiran Born tentang fungsi gelombang.
Selanjutnya,|(r, t)| didefinisikan sebagai rapat peluang kehadiran
partikel di titik r pada saat t, dan biasanya dilambangi (r, t). Artinya:

(r, t ) d3 r | (r, t ) |2 d3 r = * (r , t ) (r , t ) d3 r , (3. 12)


menyatakan besarnya peluang pada saat t partikel berada di dalam unsur
volume dr dx dy dz di sekitar titik r.
Jika partikel yang dibicarakan benar-benar ada, maka pelacakan partikel
ke seluruh ruang pasti dapat menemukannya. Ini berarti bahwa peluang total
mendapatkan partikel haruslah 1. Jadi

(r , t ) d3 r = 1 . (3. 13)

Persamaan (3.13) membawa konsekuensi bahwa integral |(r, t)| ke seluruh


ruang harus berhingga. Dengan kata lain, (r, t) harus merupakan fungsi yang
kuadrat modulusnya dapat diintegralkan dalam arti:

2
(r , t ) d3 r = N (berhingga ). (3. 14)

Fungsi-fungsi seperti itu dikatakan bersifat square integrable (SI). Jika N = 1,


dikatakan fungsi gelombang tersebut ternormalkan (ternormalisasi).
Cara sederhana untuk mengenali apakah suatu fungsi termasuk SI atau
tidak adalah dengan mengamati sebaran nilainya. Jika fungsi tersebut menye-
bar ke seluruh ruang, artinya nilainya tidak nol dari sampai + maka fungsi
tersebut tidak termasuk SI. Sebaliknya, jika tidak terlalu menyebar, artinya
bernilai nol di , maka fungsi tersebut termasuk SI.
Uraian tadi menambah satu lagi sifat yang harus dipenuhi oleh gelombang
materi,yaitu harus bersifat SI.

Bab 3: Gelombang Materi &Asas Ketakpastian


66 Penafsiran Born

Untuk memahami penafsiran probabilistik tersebut, untuk sementara kita


batasi pembicaraan kita dalam kasus 1 dimensi. Jika ( x , t ) menyatakan
gelombang materi yang dibicarakan, dan ( x , t ) ternormalkan, maka
Rapat peluang posisi partikel:

( x , t ) = | ( x , t ) | 2 * ( x , t ) ( x , t ) . (3. 15)
Peluang pada saat t partikel berada dalam interval x dan x + dx:

( x , t ) dx = | ( x , t ) | 2 dx * ( x , t ) ( x , t ) dx . (3. 16)

Peluang pada saat t partikel berada antara x1 dan x2:


x x *
x12 ( x , t ) dx = x12 ( x , t ) ( x , t ) d x . (3. 17)

Peluang pada saat t partikel berada di sebarang titik dari s/d +


*
( x , t ) dx = ( x , t ) ( x , t ) d x 1 . (3. 18)

Rumusan-rumusan tadi didasarkan atas asumsi bahwa ( x , t ) ternormalkan.


Jika ( x , t ) belum ternormalkan, maka rumusan tersebut harus dibagi

dengan ( x , t ) dx .

Contoh soal 3.4.

Gelombang (pada t =0) yang diasosiasikan dengan partikel terikat


dalam potensial sumur kotak yang lebarnya a adalah

2 sin 2 x ; 0 x a
a a
( x)
0 ; x 0 atau x a

(a) Dapatkan fungsi rapat peluang posisi partikel pada t = 0!
(b) Di mana partikel paling mungkin berada?
(c) Berapa peluang partikel berada di x 0?
(d) Berapa peluang partikel berada di x a?
(e) Berapa peluang partikel berada dalam interval [0,a]?
(f) Berapa peluang partikel berada di x a ?

Pengantar Fisika Kuantum


Penafsiran Born 67

Analisis

2 sin 2 2 x ; 0 x a
a a
(a) ( x ) * ( x) ( x)
0 ; x 0 atau x a

(b) Berdasarkan jawaban (a), (x) paling besar di x = a dan x = a.


Jadi partikel paling mungkin di x = a atau di x = a
(c) Peluang partikel berada di x 0 adalah nol, sebab menurut hasil
(a), untuk x 0 maka (x 0) = 0.
(d) Peluang partikel berada di x a adalah nol, sebab menurut hasil
(a), untuk x a maka (x a) = 0.
(e) Fungsi gelombang tersebut telah ternormalkan, sebab:
0 a
( x ) dx ( x ) dx 0( x) dx a ( x ) dx
0 a 2 2x
0 dx 0 sin 2
dx a 0 dx
a a
2 a1 4x 2 a
0 0 ( 1 cos ) dx 0 1 .
a 2 a a 2
Dengan demikian, untuk menghitung peluang ini kita gunakan
Persamaan (3.17) tanpa perlu membagi dengan integral (x) ke se-
luruh ruang. Berdasarkan Persamaan (3.17), peluang partikel berada
dalam interval [0, a] adalah
a 2xa2
(0 x a) 0( x ) dx 0 dx sin 2
a a
2 a1 4x 2a
0 ( 1 cos ) dx 1.
a 2 a a2
(f) Peluang partikel berada di x a adalah

a 0
( x a ) 0( x ) dx ( x ) dx
a2 2x 0
0 sin 2
dx 0 dx
a a
2 a1 4x 2 a
0 (1 cos ) dx 1 .
a 2 a a 2

Bab 3: Gelombang Materi &Asas Ketakpastian


68 Penafsiran Born

Kembali ke sifat SI bagi fungsi gelombang. Menurut teori integral Fourier,


sebarang fungsi SI, misalnya f(x), selalu dapat dinyatakan dalam bentuk in-
tegral
1 i kx
f ( x) g( k ) e dk , (3. 19)
2
dengan g(k) adalah inversi transformasi Fourier dari f(x):
1 - i kx dx .
g( k ) f ( x) e (3. 20)
2
Pada kedua persamaan di atas, k adalah bilangan gelombang dan x adalah ko-
ordinat (posisi). Variabel k dan x merupakan pasangan variabel yang saling
berkonjugasi. Contoh lain pasangan besaran yang saling berkonjugasi adalah
waktu (t) dan frekuensi sudut (). Fungsi f(x) dan g(k) sering disebut pasangan
transformasi Fourier. Secara fisik keduanya mendeskripsikan gejala yang sama
tetapi dari sudut pandang yang berbeda: f(x) mendeskripsikan dalam ruang
koordinat (ruang x), sedangkan g(k) mendeskripsikan dalam ruang k.
Berdasarkan teori di atas, maka fungsi gelombang pada t tertentu, mi-
salnya t = 0, yaitu (x,0), juga dapat disajikan dalam ruang momentum. Jika
~
penyajian dalam ruang momentum dilambangi ( p ,0) maka kedua fungsi ter-
sebut harus memenuhi hubungan:
1 ~ i px /
( x ,0) ( p ,0) e dp , (3. 21)
2
dan
~ 1 i px /
( p ,0) ( x ,0 ) e dx . (3. 22)
2
Kedua persamaan tadi diperoleh dengan analogi Persamaan (3.19) dan (3.20)
serta menggunakan rumusan de Broglie p k .
~
Karena kedua fungsi (x ,0) dan ( p ,0) tersebut merupakan pasangan
Fourier maka keduanya secara fisik sama, artinya keduanya diasosiasikan de-
ngan partikel yang sama. (x ,0) adalah wujud fungsi gelombang jika disaji-
~
kan dalam ruang koordinat, sedangkan ( p ,0) adalah wujud fungsi gelom-
bang jika disajikan dalam ruang momentum.
Selaras dengan penafsiran Born untuk ( x , t ) , maka penafsiran Born
~
untuk ( p ,0) dirumuskan sebagai berikut.

Pengantar Fisika Kuantum


Penafsiran Born 69

Rapat peluang pada saat t partikel memiliki momentum p:


~
~ ( p ,t ) = | ~ ~
( p , t ) | 2 * ( p , t ) ( p , t ) . (3. 23)

Peluang pada saat t partikel memiliki momentum antara p sampai p + dp:


~
~ ( p , t ) dp = | ~ ~
( p , t ) | 2 dp * ( p , t ) ( p , t ) dp . (3. 24)

Peluang pada saat t partikel memiliki momentum antara p1 dan p2:


p ~ p ~ ~
p12 ( p , t ) dp = p12 * ( p , t ) ( p , t ) dp . (3. 25)

Peluang pada saat t partikel memiliki sebarang momentum dari sampai


+ sebesar 1, jadi
~ ~* ~
( p , t ) dp = ( p , t ) ( p , t ) dp 1. (3. 26)

Rumusan (3.23) sampai (3.26) didasarkan atas asumsi bahwa fungsi gelombang
~ ~
( p , t ) ternormalkan. Jika ( p , t ) belum ternormalkan, maka persamaan
~
tersebut harus dibagi dengan ( p , t )dp .
Perhatikan bahwa ruas kanan Persamaan (3.26) dan (3.18) adalah sama,
sehingga dari kedua persamaan itu kita peroleh hubungan:

~
* ~ *
( p , t ) ( p , t ) dp ( x , t ) ( x , t ) dx.

Kesamaan tersebut dikenal sebagai teorema Parseval.

3.5 ASAS KETAKPASTIAN HEISENBERG

Salah satu asas yang dihasilkan fisika kuantum adalah Asas Ketakpastian
Heisenberg. Asas ini menyatakan bahwa pengukuran serempak terhadap
posisi dan momentum linear tidak mungkin dapat dilakukan dengan ketelitian
mutlak. Ketelitian terbaik yang mungkin dicapai adalah xp = /2 dengan x
dan p berurutan menyatakan ketakpastian posisi dan ketakpastian
momentum linear. Asas ketakpastian ini biasanya dinyatakan dengan
ungkapan xp /2.
Pada bagian ini kita akan menelaah munculnya asas tersebut berdasarkan
prinsip penafsiran Born tentang fungsi gelombang sebagaimana telah kita

Bab 3: Gelombang Materi &Asas Ketakpastian


70 Asas ketakpastian Heisenberg

bicarakan sebelumnya. Melalui cara ini kita juga dapat menguji keswacocokan
(kesesuaian) antara penafsiran Born dan Asas Ketakpastian Heisenberg.
Berdasarkan penafsiran Born, dari fungsi gelombang ( x , t ) dapat didefi-
nisikan fungsi rapat peluang kehadiran (posisi) partikel( x, t ) dan dari fungsi
~
gelombang ( p , t ) dapat didefinisikan fungsi rapat peluang momentum
~ ( p , t ) . Dengan demikian, dari kedua fungsi rapat peluang
linear partikel
tersebut dapat dihitung nilai harap (expectation value) posisi dan momentum
linear beserta ketakpastiannya. Prosedur penghitungannya dilakukan sebagai
berikut.
Dari fungsi rapat peluang posisi, (x ) , dapat dihitung nilai harap posisi,
dilambangi <x>, dan variansi posisi, dilambangi x2 , sebagai berikut.


x x( x) dx , (3. 27)


2x x x 2 ( x ) dx . (3. 28)

Persamaan (3.28) dapat diubah menjadi

x2 x 2 x 2 , (3. 29)

dengan

x 2 x 2 ( x) dx . (3. 30)

Ketakpastian posisi partikel, yang tidak lain adalah standard deviasi,


diperoleh dengan mengambil akar varian. Dengan demikian dari fungsi ge-
lombang (x) dapat diperoleh nilai ketakpastian posisi sebesar

x x 2 x 2 , (3. 31)

dengan x dan x 2 masing-masing dihitung dengan menggunakan


Persamaan (3.27) dan (3.30).
Dengan argumen yang sama, ketidakpastian momentum linear sebesar

p p 2 p 2 (3. 32)

dengan
~
p p( p ) dp , (3. 33)

Pengantar Fisika Kuantum


Asas ketakpastian Heisenberg 71

dan
~
p 2 p 2 ( p ) dp , (3. 34)

Berikut diberikan beberapa contoh perhitungan xp berdasarkan cara ter-


sebut.

Contoh soal 3.5

Dapatkan nilai xp bagi partikel yang memiliki momentum linear


konstan sebesar p0.

Analisis

Partikel tersebut merupakan contoh ideal bagi partikel bebas. Secara


klasik, di mana pun dan kapan pun berada, momentum linearnya
selalu sama. Fungsi gelombang yang cocok untuk menyajikan kea-
daan partikel tersebut adalah fungsi gelombang bidang

( x ) C e i p0 x / ,
dengan C suatu tetapan kompleks. (Kita tidak menyatakan keter-
gantungan fungsi gelombang terhadap waktu karena kita hanya
berkepentingan dengan posisi dan momentum partikel).

Fungsi rapat peluang posisi partikel adalah

( x ) * ( x ). ( x ) C * C konstan.

Dengan fungsi rapat peluang tersebut diperoleh


x
x C * C dx 0 ,

C * C dx
2

dan x 2 x C * C dx ,

C * C dx
sehingga diperoleh ketakpastian posisi sebesar

Bab 3: Gelombang Materi &Asas Ketakpastian


72 Asas ketakpastian Heisenberg

x x 2 x 2 .

Fungsi gelombang dalam ruang momentum diperoleh dengan me-


nggunakan Persamaan (3.22). Hasilnya adalah

e -i px / dx
C i p 0 x / C
~( p ) e e
i ( p0 p ) x /
dx C ( p p 0 ).
2 2
Karena fungsi gelombang ~ ( p ) berupa fungsi delta Dirac maka
~ ( p ) juga merupakan fungsi delta Dirac. Akibatnya, berdasarkan

sifat fungsi delta Dirac, diperoleh <p> = p0 dan <p> = p0. Dengan
demikian diperoleh nilai p = 0.

Hasil perhitungan tadi menunjukkan bahwa jika momentum partikel dapat


ditentukan secara pasti (ditunjukkan dengan p = 0) maka ketidakpastian
posisi partikel menjadi tak berhingga besar.

Contoh Soal 3.6

Dapatkan nilai xp bagi osilator harmonis yang memiliki energi


sebesar . Fungsi gelombang untuk menyajikan keadaan tersebut
- 12 2 x2
adalah ( x ) C e dengan m / (ketergantungan fungsi
gelombang terhadap waktu tidak diperhatikan)

Analisis

Fungsi rapat peluang posisi partikel adalah

( x ) C * C e -
2 x2
.
Dengan fungsi rapat peluang tersebut diperoleh
2 x2
C * C x e dx
x 2 2
0

C * C e x dx

dan

Pengantar Fisika Kuantum


Asas ketakpastian Heisenberg 73

2 2 x2

x 2 C *C x e

dx ( 3 / 2 ) ( 1 / 2 )
:
1
2 x2 2 3
2 2 2
C * C e dx

sehingga diperoleh ketakpastian posisi sebesar

1 1
x x 2 x 2 .
2

Penyelesaian integrasi tersebut memanfaatkan tabel integral:

m ax 2 ((m 1)/2))
0 x e dx .
2 a (m 1)/2

Fungsi gelombang dalam ruang momentum diperoleh dengan meng-


gunakan Persamaan (3.22). Hasilnya adalah
1
1 2 x2
~ ( p )
C e 2 e ipx / dx
2
1
2C 2 x2 2 2 2

0 e 2 cos( px / ) dx C e p /( 2 )
2

dengan C suatu tetapan baru.
Integral di atas diselesaikan dengan menggunakan rumus
integral
2 1 b 2 /( 4 a )
e ax cos bx dx e .
0 2 a
Dengan demikian fungsi rapat peluang momentum linear partikel
adalah
~ ( p) C
2 2 2 2
e p /( ) .

Dengan fungsi rapat peluang tersebut diperoleh


2
/ 2 2
C 2 p e p dp

p 2
0,
/ 2 2
C 2 e p dp

dan

Bab 3: Gelombang Materi &Asas Ketakpastian


74 Asas ketakpastian Heisenberg

2 2 p2 / 2 2
2 C p e dp ( 3 / 2 ) ( 1 / 2 ) 2 2
p : .
2 p 2 / 2 2 2 ( 1 /( )) 3 2 /( ) 2
C e dp

sehingga diperoleh ketakpastian momentum linear sebesar


1
p p 2 p 2 .
2

Berdasarkan nilai x dan p tersebut diperoleh nilai xp = / 2 .

Perhitungan tersebut menunjukkan bahwa pengukuran serempak mo-


mentum linear dan posisi partikel yang berperilaku sebagai osilator harmonis
yang berenergi akan menghasilkan ketakpastian sebesar / 2 . Merujuk
pada asas ketakpastian Heisenberg, maka nilai ketakpastian tersebut adalah
yang terkecil.
Marilah kita cermati bentuk fungsi gelombang yang menghasilkan ke-
- 21 x2
takpastian minimum ini, yaitu ( x ) C e . Fungsi gelombang ini meru-
pakan salah satu contoh, atau anggota, dari kelompok fungsi yang disebut
2
fungsi Gaussan. Bentuk umum fungsi Gaussan adalah f ( x ) C e a x dengan a
sebarang bilangan positif. Pada analisis di contoh soal tadi Anda dapat melihat
bahwa transformasi Fourier fungsi Gaussan juga merupakan fungsi Gaussan.
Jika prosedur pada Contoh 3.6 tadi diterapkan pada sebarang fungsi
Gaussan maka akan didapatkan nilai xp = / 2 , berapa pun nilai tetapan a.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa jika fungsi gelombangnya berupa
fungsi Gaussan maka ketakpastian xp akan mencapai minimum, yaitu
sebesar / 2 .

Contoh Soal 3.7

Dapatkan nilai xp untuk osilator harmonis yang berenergi 3 / 2 .


1 2 2
x
Fungsi gelombang partikel ini adalah ( x ) A xe 2 dengan
m / dan A suatu tetapan. (Seperti pada contoh sebelumnya,
ketergantungan fungsi gelombang terhadap waktu tidak diper-
hatikan)

Pengantar Fisika Kuantum


Asas ketakpastian Heisenberg 75

Analisis

Fungsi rapat peluang posisi partikel adalah


2 2 x2
( x ) A 2 x 2 e -
Dengan fungsi rapat peluang tersebut diperoleh
2 2
A 2 2 x 3 e x dx
x 2 2
0

A 2 2 x 2 e x dx

dan
2 2

2 A 2 2 x 4 e x dx (5 / 2) (3 / 2) 3
x 2 2
: ,
5 3

A 2 2 x 2 e x dx 2 2 2 2

sehingga diperoleh ketakpastian posisi sebesar


1 3
x x 2 x 2 .
2

Fungsi gelombang dalam ruang momentum linear diperoleh dengan


menggunakan Persamaan (3.22). Hasilnya adalah
1 1
1 2 x2 2 x2
~ ( p ) A x e 2 e ipx / dx B 0 x e 2 sin( px / ) dx
2
i 2 A
dengan B suatu tetapan baru yang nilainya . Dengan meng-
2
gunakan rumus integral

2 1 b 2 /( 4 a )
e ax cos bx dx e ,
0 2 a

integrasi tadi dapat kita selesaikan sebagai berikut.

Bab 3: Gelombang Materi &Asas Ketakpastian


76 Asas ketakpastian Heisenberg

1
d 2 x2
~ ( p ) B 0 e 2 cos ( px / ) dx
dp
d 1 p2 /( 2 2 2 ) 2 2 2
B e C p e p /( 2 )
dp 2 a

dengan C suatu tetapan baru.

Dengan demikian fungsi rapat peluang momentum partikel adalah


~ ( p) C
2 2 2 2
p 2 e p /( ) .

Dengan fungsi rapat peluang tersebut diperoleh


2
/( 2 2 )
C 2 p3 e p dp

p 2
0,
/( 2 2 )
C 2
p2 e p dp

dan
2 / 2 2
2 C 2 p 4 e p dp ( 5 / 2 ) ( 3 / 2 ) 3 2 2
p :
p2 / 2 2 2 (1 /( )) 2 /( )3
5
2
C 2 p2 e dp

sehingga diperoleh ketakpastian momentum linear sebesar


3
p p 2 p 2 .
2

Berdasarkan nilai x dan p tersebut diperoleh nilai xp = 3 / 2 .

Contoh tadi menunjukkan salah satu kasus di mana ketakpastian posisi


dan momentum linear partikel, jika diukur serempak, nilainya lebih dari / 2 .
Pada Tabel 3.1 berikut disajikan hasil perhitungan xp untuk osilator
harmonis dengan berbagai tingkat energi. Dengan mengamati data ini di-
harapkan Anda lebih meyakini bahwa nilai minimum xp adalah / 2 dan
dicapai jika fungsi gelombang yang dibicarakan berupa fungsi Gaussan.

Pengantar Fisika Kuantum


Rangkuman 77

Tabel 3.1 Nilai xp Untuk Beberapa Fungsi Gelombang Osilator Harmonis

Fungsi Gelombang Nilai xp (dalam satuan )


C0 exp(x2 ) 0,500
C1 x exp(x2) 1,500
C2 (x2 1) exp(x2) 2,500
C3 (2x3 3x) exp(x2) 3,500
C4 (4x4 12x2 +3) exp(x2) 4,500
C5 (4x5 20x3 +15x) exp(x2) 5,500
Catatan:
Cn merupakan tetapan

RANGKUMAN

1. Berdasarkan telaah efek fotolistrik dan radiasi benda-hitam disimpulkan


bahwa cahaya yang semula diyakini sebagai gelombang ternyata juga
berwatak sebagai partikel. Dengan kata lain, cahaya memiliki watak
ganda: sebagai partikel dan juga sebagai gelombang. Watak ganda yang
dimiliki cahaya ini oleh de Broglie diberlakukan pula pada partikel.
Menurut de Broglie, setiap entitas yang dalam kehidupan sehari-hari kita
kenal sebagai partikel juga dapat memiliki watak gelombang.
2. Hipotesis de Broglie menyatakan bahwa terhadap setiap partikel yang
memiliki momentum linear p dan energi total E terdapat gelombang yang
diasosiasikan dengannya. Gelombang ini disebut gelombang materi, atau
gelombang de Broglie. Gelombang ini memiliki panjang gelombang
sebesar h / p dan frekuensi sebesar E / h, dengan h menyatakan
tetapan Planck yang nilainya 6,634 10 J.s.
3. Gelombang de Broglie akan signifikan jika gelombang tersebut memiliki
panjang gelombang minimal dalam orde angstrom. Hal ini tidak mungkin
dicapai untuk partikel makroskopis, atau partikel yang kita kenal sehari-
hari. Tetapi, bagi partikel mikroskopik (yang berskala atomik), seperti
elektron, proton, inti, dan partikel-partikel elementer lainnya, pemunculan
watak gelombang itu sangat dimungkinkan. Percobaan Davisson dan
Germer membuktikan kebenaran munculnya watak gelombang ini.
4. Gelombang de Broglie dapat diungkapkan sebagai fungsi gelombang.
Berdasarkan hipotesis de Broglie, fungsi gelombang tersebut mestinya
berbentuk gelombang monokromatis dengan panjang gelombang dan
frekuensi seperti dinyatakan pada butir 2 di atas. Namun demikian,

Bab 3: Gelombang Materi &Asas Ketakpastian


78 Rangkuman

berdasarkan berbagai pertimbangan yang sangat masuk akal, kita me-


nyimpulkan bahwa fungsi gelombang tersebut tidak mungkin berupa
gelombang monokromatis; melainkan harus berupa grup gelombang.
5. Fungsi gelombang dapat disajikan dalam ruang posisi (koordinat) maupun
dalam ruang momentum linear. Bentuk eksplisit fungsi gelombang dalam
kedua penyajian tersebut saling berkait menurut hubungan
1 ~ i px /
( x) ( p ) e dp ,
2

dan
1 - i px / dx .
~ ( p )
( x ) e
2

6. Fungsi gelombang yang mendeskripsikan gelombang de Broglie tidak


memiliki arti fisis secara langsung. Artinya, tidak ada besaran fisis yang
bergelombang terkait dengan fungsi gelombang itu. Oleh karena itu perlu
cara tertentu untuk menafsirkan fungsi gelombang secara fisis.
7. Max Born menafsirkan fungsi gelombang secara statistik sebagai berikut.
Dari fungsi gelombang ( x, t ) didefinisikan fungsi rapat peluang posisi
partikel, dilambangi ( x , t ) , sebagai ( x, t ) * ( x, t ) ( x, t ) . Fungsi rapat
peluang posisi memberikan informasi tentang berapa peluang pada saat t
partikel berada di posisi x. Pernyataan ini identik dengan ungkapan:
( x , t ) dx menyatakan besarnya peluang bahwa pada saat t partikel
berada dalam interval x sampai x + dx.
8. Penafsiran Born tentang fungsi gelombang yang disajikan dalam ruang
momentum linear serupa dengan butir 7 di atas. Dari fungsi gelombang
~
( p , t ) didefinisikan fungsi rapat peluang momentum linear partikel
~ ~ ~
sebagai ( p, t ) * ( p, t ) ( p, t ) . Fungsi rapat peluang ini memberikan
informasi tentang berapa peluang pada saat t partikel memiliki momen-
tum linear sebesar p. Pernyataan ini identik dengan ungkapan: ~ ( p, t ) dp
menyatakan besarnya peluang bahwa pada saat t partikel memiliki
momentum linear antara p sampai p + dp.
9. Berdasarkan penafsiran Born dapat dideduksi Asas Ketakpastian Hei-
senberg. Asas ini menyatakan bahwa pengukuran serempak terhadap
posisi dan momentum linear tidak mungkin menghasilkan ketelitian
mutlak secara serempak. Ketelitian terbaik adalah yang menghasilkan nilai

Pengantar Fisika Kuantum


Rangkuman 79

x p / 2 dengan menyatakan tetapan Planck dibagi 2. Ketelitian


terbaik ini dicapai jika fungsi gelombangnya berupa fungsi Gaussan.
10. Prosedur penghitungan x p berdasarkan penafsiran Born adalah seba-
gai berikut. Dari fungsi gelombang ( x, t ) dapat ditentukan fungsi gelom-
~
bang ( p , t ) melalui teknik transformasi Fourier. Dari kedua fungsi
gelombang ini selanjutnya didefinisikan fungsi rapat peluang seperti pada
butir 7 dan 8. Akhirnya, dari kedua fungsi rapat peluang itu dapat
dihitung nilai x dan p berdasarkan Persamaan (3.29) sampai (3.34).

PERLATIHAN

Pertanyaan Konsep

1. Perhatikan silogisme berikut. Pernyataan pertama: Partikel adalah segala


sesuatu yang memiliki massa dan memerlukan ruang. Pernyataan kedua:
Foton termasuk partikel. Kesimpulan: Foton memiliki massa dan
memerlukan ruang. Apa yang salah dalam silogisme itu? Bagaimana Anda
memperbaikinya sehingga menjadi silogisme yang benar?
2. Dapatkah hipotesis de Broglie digunakan untuk mendapatkan fungsi
gelombang yang layak? Jika dapat, bagaimana caranya? Jika tidak, lalu apa
peranan hipotesis itu?
3. Menurut Anda, mana yang lebih luas cakupannya antara teori yang di-
bangun berdasarkan anggapan bahwa partikel dan gelombang sebagai
entitas yang sama sekali terpisah dengan teori yang dibangun berdasarkan
anggapan bahwa partikel dan gelombang merupakan dua aspek yang
dapat dimiliki oleh suatu entitas?
4. Berdasarkan hipotesis de Broglie apakah partikel yang diam dapat ber-
watak sebagai gelombang?
5. Kita telah memahami bahwa keadaan diam atau bergerak bersifat relatif.
Berdasarkan kenyataan ini, apakah panjang gelombang de Broglie ber-
gantung pada keadaan gerak pengamat?
6. Sebutkan sekurang-kurangnya dua alasan mengapa fungsi gelombang
materi tidak dapat berupa gelombang monokromatis!
7. (a) Dalam fisika klasik sudah banyak dirumuskan berbagai gejala ge-
lombang. Pada setiap gejala gelombang yang dirumuskan itu kita selalu
dapat menentukan besaran apa yang bergelombang. Besaran apakah yang
bergelombang dalam: (i) gelombang tali? (ii) gelombang bunyi? (iii)
gelombang permukaan air? dan (iv) gelombang elektromagnet? (b). Ber-

Bab 3: Gelombang Materi &Asas Ketakpastian


80 Perlatihan

kaitan dengan gelombang de Broglie, adakah besaran fisis yang berge-


lombang?
8. Menurut dinamika Newtonan, jika kita mengetahui posisi dan momentum
linear partikel pada saat tertentu, maka kita dapat pula mengetahui posisi
dan momentum linear partikel pada saat berikutnya, bahkan di masa
lampau. Dapatkah kesimpulan itu diterapkan dalam alam mikroskopis?
9. Menurut Asas Ketakpastian Heisenberg, dapatkah kita menentukan ke-
adaan gerak suatu partikel secara lengkap, meskipun pada saat tertentu
saja? (Petunjuk: keadaan gerak dapat diketahui secara lengkap berda-
sarkan informasi tentang posisi dan momentum linear partikel).
10. Buat daftar gejala alam yang Anda kenal. Terhadap masing-masing gejala
itu, tentukan entitas apa yang menghasilkannya (gelombang atau
partikel)!
11. Kritisilah pernyataan berikut: Jika panjang gelombang de Broglie suatu
partikel cukup besar maka perilaku partikel tersebut tidak dapat dije-
laskan berdasarkan mekanika Newton.
12. Sering dikatakan bahwa fisika klasik hanya berlaku untuk partikel ma-
kroskopis. Berikan kriteria untuk membedakan partikel mikroskopis dan
partikel makroskopis. Usahakan kriteria Anda tadi selain bersifat kualitatif
juga bersifat kuantitatif.
13. Jika (x ) merupakan fungsi rapat peluang posisi, apa arti pernyataan
x2
berikut: (a) ( x0 ) 0,5 , (b) ( x x0 ) 0,4 ; (c)
x1
( x ) dx 0,6 ?

14. Untuk memasukkan bola bilyard ke dalam lubangnya, kecepatan dan arah
sodokan harus diatur seteliti mungkin. Kritisilah kesahihan asas
ketakpastian Heisenberg berdasarkan kenyataan bahwa jika sodokan kita
tepat maka bola bilyard selalu sukses dimasukkan!
15. Apakah variabel x dalam ungkapan fungsi gelombang ( x, t ) menyata-
kan posisi partikel pada t tertentu?
16. Cermatilah kebenaran pernyataan berikut: Berdasarkan hipotesis de
Broglie, partikel yang bergerak akan menghasilkan gelombang di sekitar
lintasannya
17. Benarkah pernyataan: Nilai fungsi gelombang de Broglie di suatu titik
menyatakan besarnya gangguan yang dihasilkan oleh partikel di titik itu?
18. Jika sebutir batu dijatuhkan ke kolam yang tenang, maka pada permukaan
kolam akan timbul gelombang air (riak). Apakah pasangan batu dan riak
tersebut sepadan dengan pasangan partikel dan gelombang materi
sebagaimana dihipotesiskan de Broglie?

Pengantar Fisika Kuantum


Perlatihan 81

19. Jelaskan bahwa temuan Davisson dan Germer merupakan salah satu bukti
kebenaran hipotesis de Broglie!

Pertanyaan Analitis

1. Berapa gelombang de Broglie bagi elektron yang dipercepat hingga


berenergi 100 eV?
2. (a) Berapa gelombang de Broglie bagi elektron yang berenergi 0,5 keV?
(b) Berapa energi kinetik neutron (massanya 1839 kali massa elektron) agar
memiliki gelombang de Broglie seperti pada pertanyaan (a)?
3. Berapa energi kinetik elektron agar jika dijatuhkan pada suatu kisi difraksi
menghasilkan pola defraksi yang sama dengan yang dihasilkan sinar
kuning ( = 6000)?
4. Gelombang de Broglie yang diasosiasikan dengan partikel yang memiliki
energi kinetik tertentu sebesar 1 . Berapa gelombang de Broglie-nya jika
energi kinetiknya dilipatduakan?
5. Sebuah mikroskop elektron digunakan untuk mengamati objek yang
berukuran sekitar 100 . Berapa energi kinetik minimum berkas elektron
yang digunakan untuk melihat objek tersebut secara jelas?
6. Pada t = 0, posisi partikel bebas diukur dengan ketakpastian x 0 . Berapa
ketakpastian hasil ukur jika dilakukan pada sebarang t berikutnya?
7. Buktikan kebenaran Persamaan (3.29). (Petunjuk: urai dulu bentuk kuadrat
(x <x>) pada Persamaan 3.28 kemudian selesaikan integralnya dan
gunakan definisi rerata pada Persamaan 3.27. Ingat bahwa <x> adalah
bilangan sehingga bisa dikeluarkan dari tanda integral).
p2
8. Dengan menggunakan hubungan E dan definisi kecepatan sebagai
2m
laju perubahan posisi terhadap waktu, turunkan hubungan ketakpastian
energi dan waktu: E t / 2 . (Petunjuk: gunakan asas ketakpastian
Heisenberg untuk posisi dan momentum linear.)
9. Atom dalam keadaan tereksitasi pertama memiliki waktu hidup 12 ns.
Waktu hidup keadaan tereksitasi berikutnya adalah 23 ns. Berapa ketak-
pastian energi yang dipancarkan atom ketika bertransisi dari kedua
keadaan itu?
1
2x2
10. Pada t = 0, fungsi gelombang osilator harmonis adalah ( x ) N xe 2

dengan N tetapan normalisasi. (a) Dapatkan N, (b) dapatkan fungsi rapat


peluang posisinya, (c) hitung peluang partikel berada di x > 0, (d) hitung
peluang partikel berada di x < 0, (e) tentukan titik yang memiliki peluang

Bab 3: Gelombang Materi &Asas Ketakpastian


82 Perlatihan

terbesar ditempati partikel, (f) tentukan titik yang memiliki peluang


terkecil ditempati partikel!
11. Jika fungsi gelombang yang diasosiasikan dengan suatu partikel telah
diketahui dan dinyatakan dalam ruang posisi, bagaimana Anda meng-
hitung perkalian ketakpastian posisi dan momentum linear partikel itu?
12. Seperti soal nomor 11, tetapi fungsi gelombang yang diketahui dinyatakan
dalam ruang momentum linear.
13. Apakah hasil perhitungan pada soal nomor 11 dan 12 tersebut berbeda?
Jelaskan!
14. Jika fungsi gelombang yang diasosiasikan dengan suatu partikel telah
diketahui, manakah dari dua pernyataan berikut yang benar? (a) Hasil kali
ketidakpastian momentum linear dan posisi partikel memiliki nilai
tertentu, dan pasti lebih dari atau sama dengan / 2. (b) Hasil kali
ketidakpastian momentum linear dan posisi partikel tersebut merupakan
sebarang nilai, minimal sebesar / 2.

Pengantar Fisika Kuantum


Perlatihan 83

15.

Gelombang de Broglie 54, 55, 56,


A 58, 77, 78, 80
Apertur terkecil 56 eksistensi 55
Apertur, optik 55, 56, 57 untuk debu 56
Asas ketakpastian Heisenberg untuk elektron 57
berdasarkan penafsiran Born69 untuk neutron termal 57
71 Gelombang monokromatis 59
Germer 58, 77
B Grup gelombang
kecepatan grup 62
Born, Max 53, 65, 68, 69, 70, 78, pembentukan 60, 63
79 sebagai gelombang de Broglie
Born, penafsiran fungsi gelombang 63
dalam ruang momentum 68, 78
dalam ruang posisi 65 H
Born, Penafsiran fungsi
gelombang 6469 Heisenberg, W
asas ketakpastian 53, 69, 70, 78,
D 80, 81
pelopor mekanika kuantum 58
Davisson 58, 77
de Broglie K
hipotesis 53, 54, 77, 80
de Broglie, hipotesis 54 Kecepatan fase 59
Dirac 72 Kecepatan grup 62
Ketakpastian
E momentum linear 70
posisi 70
Efek fotolistrik 54, 77 posisi-momentum, minimum 74
Elektron, massa 57
M
F
Maxwell 64
Foton, partikel tak bermassa 54
Fourier, transformasi 68 N
G Newton 53, 80
Nilai harap 70
Gaussan, fungsi 74, 76, 79

Bab 3: Gelombang Materi &Asas Ketakpastian


84 Perlatihan

O S
Optika fisik 55 Schrdinger
Optika geometri 55 pelopor mekanika kuantum 58
SI 65, 68
P SI (square integrable), definisi 65
Parseval, teorema 69
T
Partikel vs gelombang 54
Planck-Einstein, kaitan 54 Thomson, J.J 58
Thomson, P.G. 58
R
V
Rapat peluang
momentum linear 69 Varians 70
posisi 65 vektor gelombang 55, 58
Relativitas, asas 59
Ruang momentum 68, 75, 78 Y
Ruang posisi 78 Young 55

Pengantar Fisika Kuantum


BAB 4

POKOK-POKOK METODOLOGI
FISIKA KUANTUM

Melalui pembahasan tiga bab sebelum ini, kita mulai menyadari perlunya
teori baru untuk menjelaskan perilaku entitas fisis yang tidak dapat dipas-
tikan apakah sebagai gelombang atau sebagai partikel. Sebab, teori-teori
yang telah ada (mekanika Newton maupun teori gelombang, baik yang di-
turunkan dari mekanika Newton maupun dari teori Maxwell) masing-ma-
sing hanya dapat digunakan untuk entitas fisis yang dapat dipastikan seba-
gai partikel atau sebagai gelombang. Kita juga telah memiliki suatu kriteria
yang jelas untuk menyatakan apakah suatu entitas fisis dapat digolongkan
ke dalam salah satu golongan (gelombang atau partikel) itu atau tidak. Kri-
teria tersebut adalah panjang gelombang de Broglie. Jika suatu entitas yang
mula-mula kita kenali sebagai partikel ternyata memiliki panjang gelom-
bang de Broglie cukup besar (sekurang-kurangnya dalam orde angstrom)
maka entitas tersebut tidak dapat dipastikan sebagai partikel.
Pada Bab 3 kita juga telah mendiskusikan bahwa hipotesis de Broglie
tidak dapat digunakan untuk mendapatkan fungsi gelombang yang diaso-
siasikan dengan partikel. Berdasarkan kenyataan ini maka timbullah suatu
pertanyaan penting tentang bagaimana cara mendapatkan fungsi gelom-
bang itu. Jika fungsi gelombang telah kita dapatkan, pertanyaan penting
berikutnya adalah bagaimana cara mendapatkan informasi tentang keada-
an partikel berdasarkan fungsi gelombang itu. Jawaban atas pertanyaan
pertama akan kita bahas di Bab 5, sedangkan pertanyaan kedua akan kita
diskusikan pada bab ini.
Pada bab ini akan kita pelajari pokok-pokok metodologi dalam fisika
kuantum, atau mekanika gelombang, yaitu suatu cabang fisika teori yang
menelaah perilaku entitas fisis yang tidak dapat dipastikan apakah sebagai
Sutopo Pengantar Fisika Kuantum 83
84 Pendeskripsian keadaan

gelombang ataupun sebagai partikel. Pokok-pokok tersebut meliputi: pen-


deskripsian keadaan sistem, pendeskripsian besaran fisika, dan pendes-
kripsian pengukuran beserta aspek-aspeknya. Pada bagian akhir bab ini ju-
ga akan dibahas bagaimana mendeduksi asas ketakpastian Heisenberg ber-
dasarkan prinsip pengukuran dalam fisika kuantum.

4.1 PENDESKRIPSIAN KEADAAN

Pada bagian akhir Bab 3 kita telah mengkaji makna fungsi gelombang.
Kesimpulan yang kita peroleh adalah: berdasarkan fungsi gelombang ter-
sebut kita dapat mengetahui keberadaan (posisi) partikel dan besarnya mo-
mentum linear yang dimilikinya, meskipun secara probabilistik. Mengingat
semua besaran dinamis yang kita kenal dalam fisika klasik (misalnya ener-
gi kinetik, energi potensial, gaya, momentum sudut, dan sebagainya) selalu
dapat dinyatakan sebagai fungsi momentum linear dan/atau posisi, maka
dapat diharapkan bahwa dari fungsi gelombang tersebut dapat diketahui
berbagai informasi tentang keadaan gerak partikel yang kita bicarakan.
Berdasarkan pemikiran tersebut maka sangatlah masuk akal untuk
mempostulatkan: keadaan gerak sistem dideskripsikan dengan fungsi ge-
lombang. Pernyataan ini harus pula dimaknai secara berbalikan. Artinya,
sebagai pendeskripsi keadaan maka fungsi gelombang tersebut harus me-
muat semua informasi tentang sistem yang dibicarakan; misalnya: posisi,
momentum linear, energi, momentum sudut, dan besaran-besaran dinamis
lain yang kita perlukan.
Sebagaimana telah kita bahas di Bab 3, fungsi gelombang dapat kita
tampilkan dalam dua cara, yaitu dalam ruang posisi (dilambangi ( x , t ) )
~
atau dalam ruang momentum linear (dilambangi ( p , t ) ). Perlu segera di-
catat bahwa variabel x dalam fungsi gelombang tersebut bukan menyatakan
posisi partikel, melainkan menyatakan sederetan posisi yang mungkin ditem-
pati partikel. Demikian pula dengan variabel p, harus dipahami sebagai se-
deretan nilai momentum linear yang mungkin dimiliki partikel.
Berdasarkan postulat tersebut maka pekerjaan penting dalam fisika
kuantum adalah menemukan fungsi gelombang. Sebab dengan mengeta-
hui fungsi gelombang kita dapat mengetahui semua informasi yang kita
perlukan tentang sistem. Peranan fungsi gelombang ini, jika dianalogikan
dengan fisika klasik, analog dengan peranan trayektori partikel. Dengan
diketahuinya trayektori, yaitu posisi partikel pada sebarang waktu, kita da-
pat mengetahui nilai berbagai besaran fisika yang dimiliki partikel itu pada
setiap saat.

Pengantar Fisika Kuantum


Pendeskripsian besaran fisika 85

Mengingat pentingnya fungsi gelombang dalam fisika kuantum, maka


diperlukan cara tertentu untuk mendapatkan fungsi gelombang tersebut.
Salah satu cara untuk mendapatkan fungsi gelombang adalah dengan me-
nyelesaikan Persamaan Schrdinger. Tentang persamaan Schrdinger akan
kita bicarakan lebih lanjut pada Bab 5. Untuk sementara kita lanjutkan dulu
membahas aspek penting lainnya dalam metodologi fisika kuantum.

4.2 PENDESKRIPSIAN BESARAN FISIKA

Jika keadaan sistem dideskripsikan dengan fungsi gelombang, bagai-


manakah kita harus mendeskripsikan besaran fisika dalam fisika kuantum?
Jawaban atas pertanyaan itu dapat kita peroleh berdasarkan definisi
besaran, yaitu segala atribut yang dapat diukur dan dimiliki oleh suatu sis-
tem fisis. Berdasarkan definisi itu, ada dua aspek penting tentang besaran
fisika, yaitu dapat diukur dan dimiliki oleh sistem fisis. Dapat diukur ber-
arti nilainya (hasil ukurnya) harus real. Dimiliki oleh sistem fisis berarti
untuk mendapatkan nilainya kita harus mengerjakan sesuatu pada sistem
itu. Kedua aspek inilah yang akan memandu kita dalam mendeskripsikan
besaran fisika tersebut.
Karena keadaan sistem dideskripsikan sebagai fungsi gelombang, se-
dangkan perangkat yang dapat dikerjakan pada fungsi gelombang adalah
operator, maka satu-satunya pilihan untuk menyajikan besaran fisika ada-
lah operator. Selanjutnya, karena hanya operator Hermitean yang nilai ha-
rapnya pasti real (lihat bagian 4.4.4) maka dipostulatkan bahwa besaran
fisika dinyatakan sebagai operator Hermitean. Lebih lanjut tentang opera-
tor dapat Anda pelajari pada bagian 4.4 bab ini.
Sebagaimana telah disebut, semua besaran dinamis di fisika klasik se-
lalu dapat dinyatakan sebagai fungsi posisi dan/atau momentum linear.
Oleh karena itu perlu segera kita pelajari operator yang mewakili besaran
posisi dan momentum linear.

4.2.1 Operator Posisi


, dan yang me-
Operator yang mewakili besaran posisi r dilambangi R
wakili komponen Cartesannya (yaitu x, y, dan z) masing-masing dilam-
bangi X , Y , dan Z . Mulai sekarang, untuk membedakan operator dengan
besaran padanannya, operator kita lambangi dengan huruf besar bertopi.

Bab 4: Pokok-pokok Metodologi Fisika Kuantum


86 Pendeskripsian besaran fisika

Cara kerja operator posisi bergantung pada ruang penyajian yang kita
gunakan. Dalam ruang posisi, di mana fungsi gelombang berbentuk (r, t ) ,
operasi operator posisi dipostulatkan sebagai berikut.
( r , t ) r ( r , t ) ,
R (4. 1)

yang berarti hanya mengalikan fungsi gelombang dengan posisi r. Dalam


bentuk komponen-komponennya, Persamaan (4.1) identik dengan

X ( r , t ) x ( r , t ) ,
Y ( r , t ) y ( r , t ) , (4. 2)
Z ( r , t ) z ( r , t ) .
Jadi, cara kerja operator komponen vektor posisi dalam ruang posisi adalah
mengalikan fungsi gelombang dengan komponen vektor posisi pada arah
yang bersesuaian.
Bagaimana cara kerja operator posisi di ruang momentum linear? Da-
~
lam ruang momentum linear, fungsi gelombang berbentuk ( p , t ) yang me-
rupakan transformasi Fourier dari ( r , t ). Dengan demikian, operasi opera-
~ ( p, t ). Untuk penye-
tor posisi dalam ruang momentum dituliskan secara R
derhanaan, tanpa mengurangi generalisasinya, kita gunakan kasus satu di-
~
mensi sehingga operasi tersebut dapat dituliskan secara X ( p , t ). Dengan
menggunakan transformasi Fourier, ungkapan yang terakhir ini dapat diu-
bah menjadi

~ 1 i px /
X ( p , t ) X e ( x , t ) dx
2
1 i px /
e X ( x , t ) dx (4. 3)
2
1 i px /
e x ( x , t ) dx .
2
ipx/
Integran dalam integral tersebut dapat diubah menjadi i e (x, t),
p
ipx / ipx /
sebab e ( x , t ) ( i x / ) e ( x , t ). Dengan demikian, Persa-
p
maan (4.3) menjadi

Pengantar Fisika Kuantum


Pendeskripsian besaran fisika 87

~ 1 ipx /
X ( p , t ) i e ( x, t ) dx
p 2 (4. 4)
~
i ( p , t ).
p
Ungkapan itu menunjukkan bahwa, dalam ruang momentum, operator po-

sisi berbentuk i .
p
Penjabaran tersebut dapat diperluas ke dalam kasus 3 dimensi. Hasil-
nya: operator yang mewakili komponen vektor posisi dalam ruang mo-
mentum linear masing-masing berbentuk:

X i
p x

Y i (4. 5)
p y

Z i
p z
atau dalam bentuk vektor:
i ,
R (4. 6)
p

dengan p (i /px + j /py + k /pz).

4.2.2 Operator Momentum Linear


Operator yang mewakili besaran momentum linear p dilambangi P
sedangkan operator yang mewakili komponen Cartesannya (yaitu: px, py,
dan pz) masing-masing dilambangi Px , Py , dan Pz .
Cara kerja operator momentum linear bergantung pada ruang penya-
jian yang kita gunakan. Dalam ruang momentum, di mana fungsi gelom-
~
bang berbentuk ( p , t ), operasi operator momentum linear dipostulatkan
sebagai berikut.
~ ~
P ( p, t ) p ( p, t ), (4. 7)
yang berarti hanya mengalikan fungsi gelombang dengan momentum p.

Bab 4: Pokok-pokok Metodologi Fisika Kuantum


88 Pendeskripsian besaran fisika

Dalam bentuk komponen-komponennya, Persamaan (4.7) identik dengan


~ ~
Px (p, t ) p x (p, t ) ,
~ ~
P (p, t ) p (p, t ) ,
y y (4. 8)
~ ~
Pz (p, t ) p z (p, t ) .
Jadi, cara kerja operator komponen vektor momentum linear dalam ruang
momentum adalah mengalikan fungsi gelombang dengan komponen mo-
mentum linear pada arah yang bersesuaian.
Bagaimana cara kerja operator momentum linear dalam ruang posisi?
Dalam ruang posisi, fungsi gelombang berbentuk ( r , t ). Dengan demikian,
operasi operator momentum dalam ruang posisi dituliskan secara P ( r , t ).
~
Karena (r, t ). merupakan pasangan Fourier dari (p, t ), yaitu
~
( p , t ) 2 3 /2 e i p.r / ( r , t ) d 3 r , (4. 9)

dan
~
( r , t ) 2 3 /2 e i p.r / ( p , t ) d 3 p , (4. 10)

dengan dr dx dy dz dan dp dpx dpy dpz , maka dengan prosedur yang


sama dengan yang kita gunakan untuk mendapatkan operator posisi da-
lam ruang momentum, kita peroleh hubungan

P (r, t ) i r (r, t ), (4. 11)

dengan r (i /x + j /y + k /z). Ini berarti, dalam ruang posisi, ope-


rator momentum linear berbentuk:

P i r , (4. 12)

atau, dalam bentuk komponen-komponen Cartesannya:



Px i ,
x

Py i , (4. 13)
y

Pz i .
z

Pengantar Fisika Kuantum


Pendeskripsian besaran fisika 89

4.2.3 Operator Besaran Lain


Berikut akan kita rumuskan bagaimana menentukan operator besaran-
besaran lain, khususnya yang sudah kita kenal di dalam fisika klasik. Mi-
salnya: energi kinetik, energi potensial, Hamiltonan (jumlahan energi kine-
tik dan energi potensial), dan momentum sudut.
Besaran-besaran tersebut selalu dapat dinyatakan sebagai fungsi posisi
dan/atau momentum linear. Karena kita telah memiliki operator yang me-
wakili posisi dan momentum linear, maka kita dapat merumuskan opera-
tor bagi besaran-besaran tersebut. Prosedur yang kita lakukan adalah
dengan mengikuti kaedah pengkuantuman sebagai berikut.

1. Nyatakan definisi klasik besaran tersebut sebagai fungsi posisi r dan


atau momentum linear p.
2. Jika dalam ungkapan tersebut termuat perkalian skalar antara posisi
dan momentum linear, ganti p.r dengan (p.r + r.p). Setelah itu, ganti
setiap variabel posisi dengan operator posisi, dan setiap variabel mo-
mentum linear dengan operator momentum linear.
3. Jika dalam ungkapan tersebut tidak termuat perkalian skalar antara
posisi dan momentum linear, ganti setiap variabel posisi dengan ope-
rator posisi, dan setiap variabel momentum linear dengan operator
momentum linear.

Contoh soal 4.1

Dapatkan operator energi kinetik dalam: (a) ruang posisi, dan (b)
dalam ruang momentum linear.
Analisis
Definisi energi kinetik, yaitu m v, jika dinyatakan dalam fungsi
2
p
momentum (p mv) berbentuk Ek . Dengan demikian, secara
2m
P 2
umum, operator energi kinetik berbentuk E k .
2m

Dalam ruang posisi, mengingat P i , maka operator energi


kinetik berbentuk

Bab 4: Pokok-pokok Metodologi Fisika Kuantum


90 Pendeskripsian besaran fisika

2 2 2 2 2 2
E k 2 2 2 .
2m 2 m x y z
p2
Dalam ruang momentum, mengingat P p , maka E k .
2m

Contoh soal 4.2

Dapatkan operator momentum sudut dan komponen-komponen-


nya dalam ruang posisi.

Analisis
Definisi momentum sudut L adalah L r p, dengan r menya-
takan vektor posisi dan p momentum linear. Dengan demikian, se-
cara umum, operator yang mewakili momentum sudut adalah
L R
P . Dalam ruang posisi, operator ini berbentuk

L r i i r .

Komponen momentum sudut pada sumbu X, Y, dan Z masing-


masing:
L x yp z zp y , L y zp x xp z , Lz xp y yp x .
Dengan demikian, secara umum, operator yang mewakili kompo-
nen momentum sudut dinyatakan sebagai berikut.

L x Y Pz Z Py , L y Z Px X Pz , L z X Py Y Px .

Dalam ruang posisi, operator-operator tersebut berbentuk:


L x i z y , L y i x z , L z i y x .
y z z x x y

Pengantar Fisika Kuantum


Pendeskripsian pengukuran 91

4.3 PENDESKRIPSIAN PENGUKURAN

Dari uraian tentang pendeskripsian keadaan sistem dan besaran fisika


di depan tampaklah bahwa fisika kuantum bersifat teoretis. Metode yang
dikembangkan didasarkan pada postulat-postulat yang diyakini dapat di-
gunakan untuk membangun teori yang cocok dengan eksperimen. Ban-
dingkan dengan metode fisika klasik yang pada umumnya bersifat induktif
yang didasarkan pada gejala-gejala yang telah teramati. Berdasarkan ke-
nyataan itu, dapatlah diduga bahwa dalam hal pengukuran pun, fisika ku-
antum akan mendeskripsikannya secara teoretis pula.
Ada beberapa aspek yang perlu kita pahami tentang bagaimana fisika
kuantum mendeskripsikan pengukuran. Aspek-aspek yang dimaksud me-
liputi: proses pengukuran, dampak pengukuran, dan hasil pengukuran.

4.3.1 Proses Pengukuran


Dalam laboratorium, mengukur didefinisikan sebagai proses memban-
dingkan nilai (ukuran) suatu besaran dengan besaran sejenis yang ditetap-
kan sebagai satuannya. Bagaimana fisika kuantum mendefinisikan peng-
ukuran?
Mengingat keadaan sistem disajikan dalam bentuk fungsi gelombang,
sedangkan besaran fisika disajikan dalam bentuk operator, maka pengu-
kuran didefinisikan (secara matematis) sebagai proses pengerjaan operator
terhadap fungsi gelombang. Tentu saja operator yang dimaksud haruslah
operator yang mewakili besaran fisika yang diukur. Dengan demikian, jika
menyatakan operator yang mewakili besaran yang diukur A dan
A
menyatakan fungsi gelombang yang mendeskripsikan keadaan sistem saat
pengukuran, maka proses pengukuran tersebut dilambangi A .

Pengukuran besaran fisis A pada saat keadaan sistem


A dideskripsikan dengan fungsi gelombang .

Pengukuran dua besaran atau lebih dapat digolongkan ke dalam dua


kelompok, yaitu pengukuran serempak dan pengukuran tidak serempak.
Pengukuran dikatakan serempak jika pengukuran besaran kedua dilaku-
kan tepat setelah pengukuran besaran pertama. Pengukuran dikatakan tidak
serempak jika pengukuran besaran yang kedua dilakukan setelah selang
waktu yang cukup lama dari pengukuran pertama.

Bab 4: Pokok-pokok Metodologi Fisika Kuantum


92 Pendeskripsian pengukuran

Penulisan proses pengukuran serempak dua besaran, misalnya A dan


B, bergantung pada urutannya. Jika A diukur terlebih dahulu, maka proses
pengukurannya dilambangi

Pengukuran besaran A yang segera diikuti pengukuran besar-


B A
an B pada saat keadaan sistem dinyatakan dengan fungsi .

dengan operator A dan B secara berurutan mewakili besaran A dan B. Jika


B diukur terlebih dahulu, maka proses pengukurannya dilambangi

Pengukuran besaran B yang segera diikuti pengukuran besar-


A B
an A pada saat keadaan sistem dinyatakan dengan fungsi .

Nanti akan kita lihat bahwa kedua proses tersebut tidak sama.

4.3.2 Dampak Pengukuran


Memperhatikan pengungkapan matematis proses pengukuran seba-
gaimana diuraikan di depan segera dapat dipahami bahwa proses pengukur-
an pada umumnya akan mengubah keadaan sistem. Pemahaman seperti itu mu-
dah didapatkan mengingat pengerjaan operator pada fungsi gelombang
pada umumnya akan mengubah fungsi gelombang tadi. Perhatikan pengo-
perasian operator A terhadap fungsi gelombang :

A . (4. 14)
Pada umumnya . Berdasarkan postulat pertama, yaitu fungsi gelom-
bang mendeskripsikan keadaan sistem, dapatlah dipahami bahwa keadaan
tepat setelah pengukuran pada umumnya tidak sama dengan keadaan
tepat sebelum pengukuran.
Perlu dicatat bahwa perbedaan antarfungsi gelombang tidak cukup di-
lihat dari wujud masing-masing fungsi gelombang itu. Dua fungsi gelom-
bang dikatakan berbeda apabila fungsi gelombang pertama tidak dapat
dinyatakan sebagai perkalian fungsi gelombang kedua dengan suatu bi-
langan. Sebagai contoh, ketiga fungsi gelombang berikut ini: 1 e i kx ,
2 e e i kx , dan 3 k e i kx , dengan k dan suatu tetapan, merupakan
fungsi gelombang yang sama; meskipun secara tersurat semuanya berbeda.

Pengantar Fisika Kuantum


Pendeskripsian pengukuran 93

Di lain pihak, fungsi 1 A sin (kx) dan 2 A cos ( kx ) merupakan dua fung-
si yang berbeda, sebab tidak ada cara untuk menyatakan 1 2 dengan
berupa tetapan.

Contoh soal 4.3


Selidikilah apakah pengukuran momentum linear akan mengubah
keadaan partikel jika keadaan partikel saat pengukuran dinya-
takan oleh fungsi gelombang:
i p0 x /
(a) 1 A e ,
(b) 2 A sin ( p 0 x / ) dengan A dan p0 suatu tetapan.
Analisis

Pengukuran momentum linear dinyatakan sebagai P . Karena


fungsi gelombang disajikan dalam ruang posisi satu dimensi maka
d
operator momentum berbentuk P i .
dx
d 1 d
(a) P 1 i
dx
i
dx

A e i p0 x / p 0 A e i p0 x / p 0 1 .

Berarti keadaan partikel setelah pengukuran sama dengan keada-


an partikel sebelum pengukuran. Dengan kata lain, pengukuran
ini tidak mengubah keadaan partikel.
d 2 d
(b) P 2 i i A sin ( p 0 x / ) i p 0 A cos ( p 0 x / ) .
dx dx
Fungsi gelombang setelah pengukuran tersebut berbeda dengan
fungsi gelombang sebelum pengukuran. Ini berarti pengukuran
tadi telah mengubah keadaan partikel.

Jika fungsi gelombang tidak berubah akibat pengoperasian suatu ope-


rator, dikatakan bahwa fungsi gelombang tadi merupakan fungsi eigen
(fungsi karakteristik) bagi operator tersebut. Bilangan yang muncul sebagai
faktor kesebandingan tadi disebut nilai eigen (nilai karakteristik) bagi ope-

Bab 4: Pokok-pokok Metodologi Fisika Kuantum


94 Pendeskripsian pengukuran

rator tersebut. Pada contoh (a) tadi, 1 merupakan fungsi eigen bagi mo-
mentum linear dengan nilai eigen sebesar p0.

Contoh soal 4.4

Tunjukkan bahwa keadaan akhir akibat pengukuran momentum


linear dan posisi partikel secara serempak bergantung pada urut-
an pengukurannya.
Analisis
Tanpa mengurangi generalisasinya, kita asumsikan keadaan par-
tikel disajikan dalam ruang posisi, sehingga operator posisi dan
d
momentum linear masing-masing berbentuk: X x dan P i .
dx
Urutan pertama: pengukuran posisi diikuti pengukuran momentum.
d( x ) d d
P X P x i i x
i 1 x .
dx dx dx
Urutan kedua: pengukuran momentum diikuti pengukuran posisi.
d i x d .
X P X i
dx dx
Jelaslah bahwa keadaan akhir kedua proses pengukuran tadi tidak
sama.

Bahwa keadaan sistem pada umumnya berubah akibat pengukuran,


sesungguhnya telah kita kenal dalam pemikiran klasik maupun dalam
pengukuran praktis di laboratorium. Contoh pengukuran yang tidak me-
ngubah keadaan sistem adalah pengukuran panjang meja dengan mistar.
Contoh pengukuran yang mengubah keadaan sistem adalah pengukuran
suhu suatu zat dengan termometer zat cair. Pada pengukuran ini, kita ha-
rus mencelupkan (jika yang diukur zat cair) atau menempelkan (jika yang
diukur zat padat) termometer pada zat yang diukur. Pada saat pengu-
kuran, pasti terjadi pertukaran panas antara zat yang diukur suhunya de-
ngan zat cair pengisi termometer. Kejadian ini tentu mengubah keadaan
termodinamik zat yang diukur.

Pengantar Fisika Kuantum


Pendeskripsian pengukuran 95

4.3.3 Hasil Pengukuran


Mengingat keadaan sistem pada umumnya berubah akibat pengukur-
an, maka pengukuran berulang-ulang akan menghasilkan hasil ukur yang
berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena keadaan pada pengukuran per-
tama dan keadaan pada pengukuran berikutnya pada umumnya berlainan.
Berkaitan dengan perubahan keadaan sistem akibat pengukuran itu,
ternyata kita tidak memiliki cara untuk mengetahui ke keadaan mana sis-
tem akan berubah akibat pengukuran itu. Dengan demikian, satu-satunya
cara yang paling logis adalah dengan menggunakan prinsip statistik. Da-
lam hal ini, keadaan yang dituju sistem setelah pengukuran dipostulatkan
bersifat probabilistik. Dengan demikian, hasil pengukuran yang kita per-
oleh juga bersifat probabilistik. Akibatnya, jika kita melakukan pengukur-
an secara berulang-ulang, hasil yang kita dapatkan berupa sekumpulan
nilai yang tersebar secara random atau acak.
Dengan menggunakan prinsip statistik maka hasil pengukuran dapat
kita nyatakan sebagai nilai harap (expectation value), atau nilai rata-rata sta-
tistik, beserta ketakpastiannya.

Nilai harap
Nilai harap hasil pengukuran besaran A pada saat keadaan sistem di-
nyatakan sebagai fungsi gelombang didefinisikan sebagai berikut.
Dalam ruang posisi satu dimensi didefinisikan sebagai

A dx ,
*

A
(4. 15)
*
dx

dan dalam ruang momentum satu dimensi didefinisikan sebagai


~* ~
A dp
A ~ . (4. 16)
~* ~
dp
Tanda bintang menyatakan konjugat kompleks dari, artinya * adalah
konjugat kompleks dari . Penulisan lambang nilai harap dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu A atau A .
Karena perbedaan ruang penyajian secara fisik tidak membedakan
keadaan sistem maka hasil penghitungan nilai harap seharusnya tidak ber-
gantung pada ruang penyajian yang kita gunakan. Dengan demikian, ke-

Bab 4: Pokok-pokok Metodologi Fisika Kuantum


96 Pendeskripsian pengukuran

dua cara penghitungan tadi harus menghasilkan nilai yang sama. Pembuk-
tian tentang ini diharapkan dilakukan sendiri oleh pembaca. Lihat bagian
Perlatihan di akhir bab ini.
Jika fungsi gelombang sudah ternormalkan, yaitu integral ke seluruh
ruang dari kuadrat modulusnya bernilai satu, maka penyebut pada kedua
persamaan terakhir tadi bernilai satu. Dengan demikian, jika fungsi gelom-
bang telah ternormalkan, penghitungan nilai harap tadi menjadi

A * A dx , (4. 17)

atau

A ~ ~ * A ~ dp .

Ketakpastian hasil ukur


Ketakpastian hasil ukur didefinisikan sebagai deviasi standar atau
akar varians. Yang dimaksud varian adalah rerata dari kuadrat perbedaan
nilai ukur terhadap nilai harapnya.
Berdasarkan pengertian umum varians di atas, maka varians hasil pe-
ngukuran besaran A pada saat sistem memiliki keadaan adalah:

A2 ( A A ) 2 *( A A ) 2 dx
-

*A 2 dx 2 A *A dx A 2 * dx
- - -
2
A 2 2 A A A

2
A 2 A.

dengan A menyatakan varians hasil ukur A, <A> menyatakan rata-rata


dari kuadrat nilai A, dan <A> menyatakan kuadrat dari nilai harap A.

Dengan demikian, ketakpastian hasil pengukuran besaran A adalah:


2
A A2 A2 A . (4. 18)

Contoh soal 4.5


Dapatkan nilai harap beserta ketakpastian hasil pengukuran mo-
mentum linear suatu entitas yang keadaannya dinyatakan sebagai

Pengantar Fisika Kuantum


Pendeskripsian pengukuran 97

fungsi gelombang A e i p0 x / dengan A dan p0 suatu tetapan. Berda-


sarkan hasil pengukuran ini, apa arti fisik dari p0 tersebut?

Analisis
Fungsi gelombang tersebut belum ternormalkan, sebab
i p0 x /

- * dx A * A- (e

) (e i p0 x / ) dx A * A- dx 1 .

Dengan demikian kita harus menggunakan Rumusan (4.15) dalam


semua perhitungan nilai harap.
Berdasarkan Rumusan (4.15) tadi, nilai harap momentum pada pe-
ngukuran ini adalah

- A * e
i po x /
i ddx Ae i po x / dx

A * A dx
P p0 p0 .

A * A dx A * A dx

Jadi nilai harap pengukuran momentum ini sebesar p0.


Untuk mendapatkan ketakpastian hasil ukur, kita harus meng-
hitung dulu <P>, yaitu
2



-
A * e i po x /
i ddx Ae i po x / dx
A * A dx
P2 ( p 0 )2 ( p 0 )2 .

A * A dx A * A dx

Dengan menggunakan Rumusan (4.18) didapatkan


2
P P2 P ( p 0 )2 ( p 0 )2 0 .

Jadi ketakpastian hasil ukur ini sebesar 0. Hal ini menunjukkan


bahwa hasil ukur bersifat pasti. Ini berarti bahwa pada setiap
pengulangan pengukuran selalu didapatkan hasil ukur yang
sama, dan nilai itu sama dengan nilai harapnya. Karena nilai
harapnya sebesar p0, berarti p0 yang ada di ungkapan fungsi
gelombang tadi menyatakan nilai momentum linear partikel.

i p x/
Contoh tadi menunjukkan bahwa fungsi gelombang A e 0 menya-
takan keadaan sistem yang memiliki momentum pasti sebesar p0. Kesim-

Bab 4: Pokok-pokok Metodologi Fisika Kuantum


98 Pokok-pokok matematika

pulan ini cocok dengan pembahasan Contoh Soal 4.3 a. Berdasarkan ana-
lisis Contoh Soal 4.3 a dan 4.5 ini dapat disimpulkan bahwa keadaan eigen
bagi suatu besaran adalah suatu keadaan di mana nilai besaran tadi bersifat
pasti. Dengan demikian, pada keadaan eigen: (a) hasil ukur pada setiap
pengukuran berulang selalu tetap dan nilainya sama dengan nilai harap-
nya, dan (b) ketakpastian hasil ukur sebesar nol.

4.4 POKOK-POKOK MATEMATIKA

Pada bagian ini akan disajikan secara singkat perihal operator dan ope-
rasi-operasi dasar yang melibatkan fungsi gelombang dalam ruang fungsi
kompleks variabel real. Pembahasan singkat ini diharapkan dapat mem-
bantu pembaca memahami berbagai operasi matematika yang diperlukan
dalam fisika kuantum, khususnya yang melibatkan fungsi gelombang dan
operator.

4.4.1 Perkalian Skalar Antarfungsi-Gelombang


Perkalian skalar fungsi gelombang f(x) dengan fungsi gelombang g(x),
dalam urutan yang demikian, didefinisikan sebagai

f , g - f * g dx , (4. 19a)

dengan f (x) menyatakan konjugat kompleks dari f (x). Perkalian skalar


menghasilkan suatu bilangan, yang pada umumnya tergolong bilangan
kompleks. Jika urutan perkalian dibalik, maka hasilnya merupakan kom-
plek konjugate dari hasil semula. Jadi perkalian skalar fungsi gelombang
g(x) dengan fungsi gelombang f(x), dalam urutan yang demikian, adalah
*
g , f g * f dx f * g dx f , g * . (4. 20b)

Perkalian skalar suatu fungsi dengan dirinya sendiri, (f, f), disebut
norm, atau kuadrat modulus fungsi itu, dan biasanya dilambangi |f|.
Norm suatu fungsi selalu berupa bilangan real positif. Jika |f| = 1, dikata-
kan bahwa f(x) telah ternormalkan.
Jika (f, g) = 0, dikatakan fungsi f(x) dan g(x) ortogonal (tegak lurus).
Secara khusus, jika kedua fungsi f(x) dan g(x) keduanya telah ternormalkan
dan (f, g) = 0, maka f(x) dan g(x) dikatakan ortonormal.
Berdasarkan definisi pada Persamaan (4.19) tadi dapat dibuktikan
beberapa hubungan penting berikut:

Pengantar Fisika Kuantum


Pokok-pokok matematika 99

f ( x ), ag ( x ) bh( x ) a f ( x ), g ( x ) b f ( x ), h( x ) (4. 21 a)

ag ( x ) bh( x ), f ( x ) a * g ( x ), f ( x ) b* h( x ), f ( x ) (4. 22b)


dengan a dan b sebarang bilangan kompleks.
Disarankan agar Anda membandingkan konsep-konsep tadi dengan
konsep-konsep serupa yang ada di ruang vektor biasa. Sebagai misal, di
ruang vektor biasa ada konsep: (1) perkalian skalar antara vektor a dan b
yang didefinisikan sebagai a.b ab cos, (2) jika a.b = 0 maka a dan b dika-
takan saling ortogonal, (3) norm a adalah a.a, dan sebagainya.

4.4.2 Ketaksamaan Schwarz


Pada perkalian skalar dalam ruang vektor biasa, kita mengenal ketak-
samaan: |a| |b| (a.b). Serupa dengan itu, dalam ruang fungsi kom-
pleks juga berlaku ketaksamaan |f| |g| |(f, g)|, yang disebut ketak-
samaan Schwarz. Karena komponen real bagi bilangan kompleks (f, g) dapat
diperoleh dari hubungan: Re(f, g) = {(f, g)+(g, f)} dan |(f, g)| |Re(f, g)|
maka ketaksamaan Schwarz tersebut dapat dinyatakan sebagai
|f | |g| | { (f, g) + (g, f) }| (4. 23)

4.4.3 Operator
Operator pada dasarnya merupakan perangkat matematika yang digu-
nakan untuk memanipulasi bilangan dan atau fungsi. Jadi penjumlah (+),
pengurang (), dan penderivatif (d/dx) merupakan beberapa contoh ope-
rator.
Operasi operator terhadap suatu fungsi pada umumnya akan mengha-
silkan fungsi baru. Operator yang tidak mengubah suatu fungsi disebut
operator identitas, dilambangi I . Jadi, terhadap sebarang fungsi f, opera-
tor identitas bersifat

I f f . (4. 24)
Operator yang berfungsi membuat sebarang fungsi menjadi fungsi nol
disebut operator nol, dilambangi O . Jadi, terhadap sebarang fungsi f, ope-
rator nol bersifat

O f 0 . (4. 25)

Bab 4: Pokok-pokok Metodologi Fisika Kuantum


100 Pokok-pokok matematika

4.4.4 Operator Hermitean

Definisi
Perkalian skalar antara fungsi dan A (dalam urutan yang de-
mikian) menghasilkan bilangan kompleks

, A *A dx . (4. 26a)

Jika urutannya dibalik, kita dapatkan bilangan

A , A * dx , (4.24b)

yang selalu merupakan konjugat kompleks bagi bilangan sebelumnya. Jika


kedua bilangan itu sama, operator A yang muncul pada persamaan itu di-
katakan bersifat Hermitean.
Jadi, jika A merupakan operator Hermitean maka berlaku hubungan
*

*A dx A dx (4. 27)

untuk sebarang fungsi yang square integrable.

Contoh Soal 4.6

Selidikilah apakah p x i / x bersifat Hermitean!


Analisis
*
p x i
*
p x i
x x
Jika A pada Persamaan (4.25) kita isikan p x i / x , maka ruas
kiri menghasilkan

* A dx * ( i ) dx i *d , (i)
x

dan ruas kanan menghasilkan


*
( A ) dx ( i
*
) dx i d * . (ii)
x
Melalui teknik integrasi parsial, ruas terakhir Persamaan (ii) dapat

Pengantar Fisika Kuantum


Pokok-pokok matematika 101

diubah menjadi


i d * i *



*
d i

* d

yang ternyata sama dengan hasil di Persamaan (i). Ini berarti


bahwa p x i / x bersifat Hermitean! Kesimpulan ini seharus-
nya memang demikian, sebab p x i / x adalah operator yang
mewakili besaran fisika, yaitu momentum linear.

Nilai Harap Operator Hermitean


Sebagaimana telah kita sebutkan di bagian sebelumnya, nilai harap se-
barang operator A pada sistem yang menduduki keadaan ternormalkan ,
didefinisikan sebagai
*A
A dx . (4. 28a)

-
Konjugat kompleks nilai harap tersebut adalah
*


A
- * A
*
-
dx A * dx . (4. 26b)

Jika A bersifat Hermitean maka, menurut Persamaan (4.25), ruas ter-


akhir Persamaan (4.26b) sama dengan ruas kanan Persamaan (4.26a). Ini
berarti ruas kiri kedua persamaan tersebut harus sama. Jadi
*
Hermitean maka A
jika A
A . (4. 29)

Bilangan yang konjugat kompleksnya sama dengan dirinya sendiri adalah


bilangan real. Dengan demikian disimpulkan bahwa nilai harap operator
Hermitean selalu bersifat real. Atas dasar inilah mengapa operator yang
mewakili besaran fisika harus bersifat Hermitean.

4.4.5 Aljabar Operator


Penjumlahan operator
Dua operator atau lebih dapat dijumlahkan atau saling dikurangkan.
Hasilnya juga merupakan operator. Penjumlahan operator bersifat komu-
tatif.
A B B A
. (4. 30)

Bab 4: Pokok-pokok Metodologi Fisika Kuantum


102 Pokok-pokok matematika

Perkalian operator
Perkalian antara dua sebarang operator akan menghasilkan operator
baru. Pada umumnya perkalian operator bersifat tidak komutatif.

Pada umumnya: A B B A . (4. 31)

Jika A B B A , dikatakan bahwa kedua operator tersebut rukun (kompa-


tibel atau berkomutasi)

4.4.6 Komutator

Komutator antara operator A dan B ,dilambangi [ A , B ], didefinisikan


sebagai berikut

[ A , B ] A B B A . (4. 32)
Berdasarkan definisi tersebut dapat dibuktikan identitas-identitas berikut.
1) [ A , B ] +[ B , A ] = 0
2) [ A , A ] = 0
3) [ A , B + C ] = [ A , B ] + [ A , C ]
4) [ A + B , C ]= [ A , C ] + [ B , C ]
5) [ A , B C ] = [ A , B ] C + B [ A , C ] (4. 33)
6) [ A B , C ] = [ A , C ] B + A [ B , C ]
7) [ A , [ B , C ]] + [ C , [ A , B ]]+ [ B , [ C , A
] = 0

4.5 ASAS KETAKPASTIAN HEISENBERG

Pada Bab 3 kita telah mendeduksi asas ketakpastian Heisenberg untuk


pasangan (x, px) berdasarkan prinsip penafsiran Born. Informasi awal yang
kita perlukan pada saat itu adalah tentang fungsi gelombang. Jika kita telah
mengetahui fungsi gelombang dalam ruang posisi misalnya, maka dengan
menggunakan transformasi Fourier kita dapat mengetahui bentuk fungsi
gelombang tadi dalam ruang momentum. Demikian pula sebaliknya sehi-
ngga kita memiliki fungsi gelombang yang disajikan dalam ruang posisi
dan dalam ruang momentum. Prosedur berikutnya adalah menentukan
fungsi rapat peluang yang diikuti dengan menghitung ketakpastian posisi

Pengantar Fisika Kuantum


Asas ketakpastian Heisenberg 103

dan momentum. Pada bab itu kita juga menyadari bahwa proses penghi-
tungan secara analitik tidak selalu mudah dilakukan.
Pada bab ini, dengan prosedur lain, kita akan mendeduksi lagi asas ke-
takpastian Heisenberg tersebut. Prosedur yang akan kita lakukan adalah
berdasarkan prinsip pengukuran dalam fisika kuantum, yaitu berdasarkan
Persamaan (4.15) sampai Persamaan (4.18). Penerapan prinsip pengukuran
untuk mendeduksi asas ketakpastian Heisenberg ini juga akan memper-
kokoh keyakinan kita tentang kesahihan prinsip pengukuran tersebut. Beri-
kut akan kita gunakan prosedur itu untuk menghitung xp untuk bebe-
rapa keadaan.

4.5.1 Penghitungan xp untuk beberapa keadaan

Keadaan dengan momentum pasti


Pada Contoh Soal 4.5 kita telah mendapatkan fungsi gelombang bagi
partikel yang momentum linearnya pasti, sebesar p0, yaitu (x) = A e i p0 x / .
Kita juga telah menghitung nilai p pada keadaan itu, yaitu sebesar nol.
Berapa nilai x pada keadaan itu?
Untuk menghitung x, kita hitung dulu <x> dan <x> . Karena fungsi
gelombang belum ternormalkan dan dinyatakan dalam ruang posisi maka
untuk menghitung nilai-nilai tersebut kita gunakan Persamaan (4.15). Jadi

* x dx - A * e - ip0 x / x Ae ip0 x / dx

x
-

0,
- ip x / ip x /
- * dx - A * e 0 Ae 0 dx
dan

* x 2 dx - A * e - ip0 x / x 2 Ae ip0 x / dx

x 2 -

.
- ip0x / Ae ip0x /dx
- * dx - A * e
Dengan demikian kita peroleh x, berdasarkan Persamaan (4.18), sebesar
2
x x2 x .

Penghitungan ini menunjukkan bahwa jika momentum dapat diten-


tukan secara pasti maka posisi partikel sama sekali tidak dapat diramalkan.
Hal ini sesuai dengan asas ketakpastian Heisenberg.

Bab 4: Pokok-pokok Metodologi Fisika Kuantum


104 Asas ketakpastian Heisenberg

Keadaan dengan posisi partikel bersifat pasti


Penghitungan untuk keadaan di mana posisi partikel bersifat pasti diha-
rapkan dilakukan sendiri oleh pembaca. Hasilnya: x = 0 dan p = .

Partikel terikat di sumur potensial kotak tak berhingga dalam


Fungsi gelombang yang menyajikan keadaan partikel terikat di sumur
potensial kotak tak berhingga berbentuk:

2
sin ( nx / a ) ;0 x a
( x) a

0 ; x 0 atau x a
dengan a menyatakan lebar sumur dan n bilangan asli {1, 2, 3, }. Penja-
baran fungsi gelombang tersebut diuraikan tersendiri di Bab 6.
Karena fungsi gelombang tersebut sudah ternormalkan maka kita
dapat menggunakan Persamaan (4.17) untuk menghitung nilai harap. Jadi

x - * x dx
0 a
- * x dx 0 * x dx a * x dx

0 0
a
2 /a sin (nx / a) x
2 /a sin ( nx/a) dx 0
2
2 a 2 a a
0 x sin 2 (nx/a) dx ,
a a 4 2

2 1 1
dan x 2 - * x 2 dx - x
2
sin 2 (nx / a) dx a 2 2
,

a 3 2 n 2
sehingga diperoleh

2 1 1
x x2 x a 2 2 . (4. 34)
12 2 n

Ketakpastian momentum dihitung dengan tahapan sebagai berikut.


Menghitung <p> berdasarkan Persamaan (4.17), yaitu
d i n 2
p - * i dx
a

dx a a
0 sin ( 2nx / a ) dx 0 .

Menghitung <p> berdasarkan Persamaan (4.17), yaitu

Pengantar Fisika Kuantum


Asas ketakpastian Heisenberg 105

d2 2 n 2 2 2 a 2n 2 2
p 2 - * 2 2 dx 0 sin
2
( n / a ) dx .
dx a2 a a2

Dengan demikian kita peroleh nilai ketakpastian momentum sebesar


2 n
p p2 p . (4. 35)
a
Akhirnya kita peroleh nilai perkalian xp sebesar

1 1 n 2 2 1
x p n . (4. 36)
12 2n 2 2 12 2

Nilai xp, berdasarkan Persamaan (4.34), hanya bergantung pada n. Kare-


na nilai n terkecil adalah 1, maka nilai minimum xp adalah 0,57 , yang
berarti masih lebih besar dari /2. Kesimpulan ini juga cocok dengan asas
ketakpastian Heisenberg.
Persamaan (4.34) juga menunjukkan bahwa xp tidak bergantung
pada lebar sumur (a), meskipun ketakpastian posisi dan momentum linear
masing-masing bergantung pada lebar sumur (lihat Persamaan (4.32) dan
(4.33)). Untuk n tertentu, berdasarkan kedua persamaan tadi, x berban-
ding lurus terhadap lebar sumur dan p berbanding terbalik terhadap lebar
sumur. Ini berarti: semakin besar nilai x akan menyebabkan semakin ke-
cilnya nilai p, dan sebaliknya. Kesimpulan ini juga cocok dengan asas
ketakpastian Heisenberg.

Osilator harmonis pada keadaan dasar


Fungsi gelombang untuk osilator harmonis pada keadaan dasar ada-
1
2 x2
lah ( x ) A e 2 dengan A suatu tetapan dan m / , m menyatakan
massa osilator, dan menyatakan frekuensi sudut osilator.
Penghitungan x
Berdasarkan Persamaan 4.15 kita peroleh
2 x2

x
* x dx A * A x e

dx
0,
2 2
* dx A * A e x dx
dan

Bab 4: Pokok-pokok Metodologi Fisika Kuantum


106 Asas ketakpastian Heisenberg

2 2 2 x2

x 2 * x dx A * A x e

dx ( 3 / 2 ) ( 1 / 2 )
:
1
2.
2 x2 2 3 /2
2 1 /2
2
* dx A * A e dx

Dengan demikian, berdasarkan Persamaan (4.18), diperoleh

2 2
x x2 x .
2

Penghitungan nilai p
Berdasarkan Persamaan (4.15) diperoleh
d
* i dx dx A * Axe

dx 2 x2

p i 0.
2 x2
* dx A * A e dx

dan

2 d 2
dx 2
* dx 2 2
A * A( 2 2 )( 1 2 x 2 )e x dx
2
p

2 x 2
* dx A * A e dx
2 2 2 x2
( 1 x ) e dx 2 ( 3 /2 ) ( 1 / 2 ) 2 2
2 2 2 2 1 : .
2 x2
dx 2 3 /2 2 1 / 2 2
e

Dengan demikian, berdasarkan Persamaan (4.18) diperoleh


2
p p2 p .
2
Akhirnya kita peroleh nilai perkalian x p sebesar
1
xp 2 2 . (4. 37)
2 2 2
Merujuk pada asas ketakpastian Heisenberg, nilai tersebut merupakan
nilai minimum bagi perkalian xp. Perhatikan bahwa fungsi gelombang
yang menghasilkan nilai terkecil xp ini termasuk kelompok fungsi
Gaussan.
Keseluruhan contoh perhitungan di atas hasilnya sama dengan yang
kita lakukan dengan menggunakan prinsip penafsiran Born sebagaimana

Pengantar Fisika Kuantum


Asas ketakpastian Heisenberg 107

telah kita lakukan di Bab 3. Sangat disarankan kepada pembaca untuk


membandingkan sekali lagi proses dan hasil penghitungan di bab ini de-
ngan yang telah dilakukan di Bab 3. Metode mana yang lebih mudah/
sederhana?

4.5.2 Rumusan umum asas Ketakpastian Heisenberg


Berdasarkan prinsip pengukuran dapat diturunkan rumusan umum
asas ketakpastian Heisenberg untuk pasangan x dan p. Berdasarkan defi-
nisi varians sebagaimana diuraikan di depan kita peroleh hubungan
2
2 d
x2 p2 * x x dx * i
p dx (4. 38)
dx
Untuk penyederhanaan perhitungan, tanpa mengurangi generalisasi-
nya, kita andaikan (x) berupa fungsi genap sehingga <x> dan <p> = 0.
(Lihat pertanyaan analitis di bagian Perlatihan). Dengan demikian Per-
samaan (4.36) menjadi
2
x2 p2 2 - * x dx - * ddx dx .


2
2
(4. 39)

Integran pada integral pertama persamaan ini dapat diubah menjadi
( * x )( x ) , sedangkan integral kedua dapat diubah menjadi


d 2 d d d d d *
- * dx 2
dx - * d dx
*
dx
-
dx
d * -
dx dx
dx .

Dengan demikian, Persamaan (4.37) dapat diubah menjadi

d * d
x2 2p 2 - ( * x)( x ) dx -


dx .
dx dx
(4. 40)

d
Dengan mendefiniskan f x dan g , maka integral pertama Per-
dx
2 2
samaan (4.38) tidak lain adalah f dan integral keduanya adalah g .
Selanjutnya, berdasarkan ketaksamaan Schwarz f
2
g
2

1
2
( f , g) ( g , f )
2

maka Persamaan (4.38) dapat diganti dengan pernyataan

Bab 4: Pokok-pokok Metodologi Fisika Kuantum


108 Rangkuman

2
2 2
2 d d *

x p -
( * x ) dx - x dx
4 dx dx
2
2 d d *
2
* x ) x dx .
4 - dx dx
4
Penyelesaian integral di atas dapat dilakukan dengan teknik integral par-
sial (Lihat pertanyaan analisis no 4). Persamaan terakhir di atas identik
dengan

x p x2 2p / 2 . (4. 41)

Itulah pernyataan umum asas ketakpastian Heisenberg untuk pasangan x


dan px.

RANGKUMAN

1. Fisika kuantum dibangun untuk mendeskripsikan secara teoretis peri-


laku entitas fisis yang memiliki sifat ganda, yaitu sebagai partikel dan
juga sebagai gelombang. Dengan kata lain, fisika kuantum dibangun
untuk menyempurnakan teori-teori dalam fisika klasik yang pada da-
sarnya bersifat parsial, yaitu ada sekelompok teori yang khusus mem-
pelajari perilaku partikel dan ada sekelompok teori yang secara khusus
mempelajari perilaku gelombang.
2. Pada bab ini kita telah membahas tiga postulat dasar dalam fisika ku-
antum, yaitu postulat tentang pendeskripsian keadaan sistem, postulat
tentang pendeskripsian besaran fisika, dan postulat tentang pendes-
kripsian pengukuran beserta aspek-aspeknya.
3. Postulat tentang pendeskripsian keadaan sistem menyatakan bahwa
keadaan sistem disajikan dalam bentuk fungsi gelombang. Sebagai pe-
nyaji keadaan sistem maka fungsi gelombang harus memuat semua
informasi tentang sistem. Artinya, berdasarkan fungsi gelombang itu
kita harus dapat mengetahui berbagai nilai besaran fisika yang dimiliki
oleh sistem yang dibicarakan. Fungsi gelombang dapat disajikan da-
lam ruang posisi maupun dalam ruang momentum. Keduanya meru-
pakan pasangan Fourier.
4. Postulat tentang pendeskripsian besaran fisika menyatakan bahwa be-
saran fisika disajikan dalam bentuk operator Hermitean, yaitu suatu
operator yang nilai harapnya selalu berupa bilangan real. Operator-

Pengantar Fisika Kuantum


Rangkuman 109

operator yang mewakili besaran dinamis fundamental yaitu posisi dan


momentum linear telah kita rumuskan. Bentuk eksplisitnya bergan-
tung pada ruang penyajian yang kita gunakan seperti ditunjukkan
pada tabel berikut.
Lambang dan wujud operator yang mewakili posisi dan momentum linear
Bentuk eksplisit
Lambang
Besaran dalam ruang dalam ruang
operator
posisi momentum linear
Posisi X x
i
r = (x, y, z) p x
y
Y i
p y

Z z i
p z

Px px
Momentum i
linear x

p = (px, py, pz) Py i py
y

Pz i pz
z

5. Berdasarkan kedua operator besaran dinamis fundamental tersebut


dapat dirumuskan operator-operator bagi besaran lainnya, utamanya
yang definisi klasiknya sudah diketahui. Prosedurnya mengikuti kae-
dah pengkuantuman besaran fisika sebagai berikut.
Nyatakan definisi besaran tersebut sebagai fungsi posisi dan/atau
momentum linear.
Jika dalam ungkapan tersebut termuat perkalian skalar antara posi-
si dan momentum linear, ganti p.r dengan (p.r + r.p). Setelah itu,
ganti setiap variabel posisi dengan operator posisi, dan setiap vari-
abel momentum linear dengan operator momentum linear.
Jika dalam ungkapan tersebut tidak termuat perkalian skalar p.r,
langsung ganti setiap variabel posisi dengan operator posisi, dan se-
tiap variabel momentum linear dengan operator momentum linear.

Bab 4: Pokok-pokok Metodologi Fisika Kuantum


110 Rangkuman

6. Postulat tentang pengukuran menyatakan hal-hal berikut.


Mengukur, secara matematis, didefinisikan sebagai proses menger-
jakan operator yang mewakili besaran yang diukur pada fungsi ge-
lombang yang menyatakan keadaan sistem saat pengukuran.
Keadaan sistem pada umumnya berubah akibat pengukuran. Pe-
ngukuran tidak akan mengubah keadaan sistem jika dan hanya jika
keadaan sistem saat pengukuran merupakan keadaan eigen bagi be-
saran itu. Keadaan akhir setelah pengukuran serempak dua besaran
yang berbeda pada umumnya bergantung pada urutan pengukur-
annya. Keadaan akhir akan sama jika dan hanya jika kedua operator
yang mewakili besaran yang diukur itu saling berkomutasi.
Nilai ukur dari suatu proses pengukuran tidak dapat diprediksi se-
belumnya. Hal ini disebabkan karena setiap pengukuran akan me-
ngubah keadaan sistem sehingga hasil dari sederetan pengukuran
berulang tidak akan sama. Karena keadaan akhir setiap pengukuran
bersifat acak, maka hasil ukur berulang-ulang akan membentuk se-
deretan data yang bersifat acak. Dengan demikian, hasil ukur hanya
dapat ditentukan secara probabilistik atau statistik.
Nilai harap pengukuran besaran A pada saat keadaan sistem dinya-
takan dengan fungsi gelombang didefinisikan sebagai berikut.
~ ~
* A dx - * A dp
A - .
~ ~
- * dx - * dp
Ruas kedua digunakan dalam ruang posisi, sedangkan ruas terakhir
digunakan dalam ruang momentum linear.
Ketidakpastian nilai ukur pada pengukuran besaran A pada saat
keadaan sistem dinyatakan dengan fungsi gelombang didefini-
sikan sebagai berikut.
2
A A2 A ,

dengan

* A dx -~ * A ~ dp .
2 2
2
A -

- * dx -~ * ~ dp

Pengantar Fisika Kuantum


Perlatihan 111

7. Berdasarkan postulat pengukuran tersebut dapat dihitung nilai xp


pada berbagai keadaan. Hasilnya ternyata cocok dengan asas ketak-
pastian Heisenberg.
8. Nilai xp akan minimal (yaitu = / 2 ) jika fungsi gelombangnya
berupa fungsi Gaussan.

PERLATIHAN

Pertanyaan Konsep
1. Dalam fisika klasik, bagaimanakah kedaan sistem dideskripsikan?
2. Mengapa dalam fisika kuantum keadaan sistem disajikan dalam ben-
tuk fungsi gelombang? Tidak dapatkah dideskripsikan dengan menye-
butkan semua nilai besaran fisik yang dimiliki?
3. Berdasarkan peranannya sebagai penyaji keadaan sistem, berikanlah
syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh fungsi gelombang! (Petunjuk:
ingatlah bahwa dari fungsi gelombang itu kita dapat mendefinisikan
fungsi rapat peluang, baik untuk posisi maupun untuk momentum li-
near partikel!)
4. Haruskah fungsi gelombang secara lengkap memuat semua informasi
tentang sistem? Apakah informasi itu tampak secara eksplisit dalam
ungkapan matematis fungsi gelombang?
5. Perlukah besaran massa dan waktu dirumuskan operatornya?
6. Dalam perkuliahan fisika dasar kita mengenal 7 besaran pokok, yaitu
massa, waktu, panjang, temperatur, intensitas cahaya, kuat arus listrik,
dan jumlah zat. Mengapa yang diangkat sebagai besaran pokok (fun-
damental) dalam dinamika kuantum adalah posisi dan momentum li-
near? Bukankah momentum linear merupakan besaran turunan?
7. Apakah pandangan dalam fisika kuantum yang menyatakan bahwa
pengukuran pada umumnya mengubah keadaan sistem merupakan pernya-
taan yang mengubah pandangan klasik?
8. Pernyataan: Mengukur merupakan proses mengerjakan operator terhadap
fungsi gelombang, dapat dikatakan sebagai mematematiskan proses pe-
ngukuran. Apakah mematematiskan proses pengukuran juga ada di
fisika klasik, walaupun mungkin dalam bentuk yang berbeda?
9. Menurut fisika kuantum, hasil pengukuran bersifat statistik atau pro-
babilistik. Menurut Anda, apakah cara pandang seperti itu dapat
menghasilkan teori yang dapat diuji kebenarannya di laboratorium?

Bab 4: Pokok-pokok Metodologi Fisika Kuantum


112 Perlatihan

10. Operator yang mewakili besaran fisika harus bersifat Hermitean ka-
rena nilai harap operator Hermitean selalu real. Apakah nilai besaran
fisika itu memang harus real?

Pertanyaan Analisis
1. Tiga fungsi gelombang berikut 1 e i kx , 2 e e i kx , dan 3 k e i kx
dengan k dan suatu tetapan, menyatakan suatu keadaan yang sama.
Ujilah pernyataan itu dengan: (a) menentukan fungsi rapat peluang
posisi partikel, dan (b) menghitung nilai harap momentum linear
partikel.
1
2 x2
2. Hitung tetapan penormalan A pada fungsi gelombang ( x ) A e 2

3. Jika (x ) merupakan fungsi genap, tunjukkan bahwa <x> = <p> = 0.

d
d *
x dx 1 (Petunjuk: lakukan

4. Buktikan bahwa - * x dx
dx
integrasi secara parsial dan ingat bahwa bernilai nol di x serta

- * dx 1 ).
P 2
5. Buktikan bahwa: a) X i , b) X x, dan c) E k Hermitean!
p x 2m

6. (a). Tunjukkan bahwa: (i) X Px dan Px X keduanya tidak Hermitean, te-


tapi (ii) X Px Px X bersifat Hermitean. (b) Berdasarkan pertanyaan (a)
tersebut, jelaskan mengapa dalam merumuskan operator yang mewa-
kili p.r kita harus terlebih dahulu mengubah p.r menjadi (p.r + r.p)?
(Petunjuk: (i) ingat bahwa p.r = xpx + ypy + zpz, (ii) kaitkan persoalan ini
dengan postulat tentang pendeskripsian besaran fisika)
7. (a) Rumuskan bentuk eksplisit operator yang mewakili kuadrat mo-
mentum sudut dalam ruang posisi! (b) Rumuskan bentuk eksplisit
operator yang mewakili energi potensial osilator harmonis dalam
ruang: (i) posisi, dan (ii) dalam ruang momentum linear!

8.
Tunjukkan bahwa: a) X,Px XPx Px X i , b) P 2 , X 2i P
9. Apakah pengukuran momentum linear pada osilator harmonis dalam
keadaan dasar akan mengubah keadaan sistem? Bagaimana jika yang
kita ukur posisinya? energi kinetiknya? energi potensialnya?

Pengantar Fisika Kuantum


Perlatihan 113

10. Tunjukkan bahwa antarkomponen momentum sudut tidak saling ber-


komutasi, yaitu: [ L x , L y ] i L z , [ L y , L z ] i L x , [ L z , L x ] i L y tetapi
setiap komponen momentum sudut komut dengan kuadrat mo-
mentum sudut, yaitu [L 2 , L y ] 0 , [L 2 , L z ] 0 , [ L 2 , L x ] 0 .
11. (a). Buktikan semua identitas komutator pada Persamaan (4.31).
(b). Jika [ A , [ A , B ]] 0 dan B , [ A , B ]] 0 tunjukkan bahwa
(i) [ A , B n] = n B n1 [ A , B ] , (ii) [ A n , B ] = n A n1 [ A , B ]
(c). Kapan berlaku hubungan:

(i) A C A A 2 C ? [A
(ii) A , B ] A
A
2 [A
, B ] ?

12. Persamaan: A a dengan a suatu bilangan, merupakan contoh

persamaan nilai eigen. Dalam hal ini, disebut fungsi eigen bagi A
dengan nilai eigen sebesar a. Berdasarkan peristilahan pada persamaan
nilai eigen tersebut, tunjukkan bahwa jika A dan B saling berkomuta-
si dan merupakan fungsi eigen bagi B dengan nilai eigen b maka
A juga fungsi eigen bagi B dengan nilai eigen b juga.
13. Jika operator A dan B memenuhi hubungan A B B A dengan me-
rupakan sebarang fungsi gelombang, manakah pernyataan-pernyataan
berikut yang benar?
a. Dampak pengukuran serempak besaran A dan B tidak bergantung
pada urutan pengukurannya.
b. Dimungkinkan menghasilkan ketakpastian serempak (A B) = 0
, B ] 0 .
c. [ A
14. Manakah pernyataan-pernyataan berikut yang benar perihal pendes-
kripsian pengukuran dalam fisika kuantum?
a. Pengukuran selalu mengubah keadaan sistem.
b. Hasil ukur bersifat probabilistik.
c. Hasil pengukuran suatu besaran di ruang momentum linear ber-
beda dengan hasil pengukuran di ruang posisi.
15. Operasi matematika berikut melibatkan unsur-unsur: fungsi (dilam-
bangi huruf-huruf yunani, operator (dilambangi huruf besar bertopi),
dan bilangan (dilambangi huruf-huruf biasa). Manakah operasi berikut
yang syah?
a. (,) = c b. A c c. [ A , B ] c

Bab 4: Pokok-pokok Metodologi Fisika Kuantum


114 Perlatihan

definisi 102
A posisi dan momentum 112
Asas ketakpastian Heisenberg
M
berdasar postulat pengukuran
1023 Maxwell 83
rumusan umum 107 Metodologi Fisika Kuantum 84

B N
Born, Max 102, 106 Newton 83
Nilai eigen
D persamaan 113
de Broglie Nilai harap 95
hipotesis 83
O
F Operator
Fungsi eigen 113 besaran lain, kaedah
Fungsi gelombang pengkuantuman 89
norm 98 energi kinetik 89
perkalian skalar 98 Hermitean 85, 108, 112
Fungsi gelombang, analogi Hermitean
dengan trayektori klasik 84 definisi 100
nilai harap 101
G identitas 99
momentum linear
Gaussan, fungsi 106, 111 dalam ruang momentum 87
Gelombang de Broglie 83 dalam ruang posisi 88
momentum sudut 90
H
nol 99
Heisenberg, W operator-operator kompatibel
asas ketakpastian 84, 102, 103, 102
105, 106, 108, 111 penjumlahan 101
posisi
K dalam ruang momentum 86
kaedah pengkuantuman 89, 109 dalam ruang posisi 86
Komutator Ortogonal 98, 99
antarkomponen momentum Ortonormal 98
sudut 113 osilator harmonis 105, 112

Pengantar Fisika Kuantum


Perlatihan 115

P R
Pendeskripsian keadaan 84 Ruang momentum 84, 86, 87, 88,
Pengukuran 89, 90, 95, 102, 108, 109, 110,
dampak 92 112, 113
deskripsi kuantum 91 Ruang posisi 84, 86, 88, 89, 90,
hasil, probabilistik 95 93, 94, 95, 102, 103, 108, 109,
pengukuran serempak 91 110, 112, 113
proses 91
Persamaan Schrdinger 85 S
Postulat Fisika Kuantum Schrdinger
Pendeskripsian besaran 85 persamaan 85
Pendeskripsian keadaan 84 Schwarz
ketaksamaan 99, 107
SI 100

Bab 4: Pokok-pokok Metodologi Fisika Kuantum


BAB 5

PERSAMAAN SCHRDINGER

Dalam bab 4 kita sudah membahas tiga postulat penting dalam fisika ku-
antum, yaitu postulat tentang pendeskripsian keadaan sistem, postulat ten-
tang pendeskripsian besaran fisika, dan postulat tentang pengukuran be-
serta aspek-aspeknya. Ada satu lagi postulat penting dalam fisika kuantum
yang harus kita pahami, yaitu postulat tentang perubahan keadaan sistem
terhadap waktu.
Selain digunakan untuk mengetahui bagaimana keadaan sistem ber-
ubah terhadap waktu, postulat tersebut juga digunakan untuk mendapat-
kan fungsi gelombang. Sebagaimana disinggung di Bab 4, fungsi gelom-
bang tidak dapat dibangun hanya dengan menggunakan hipotesis de Brog-
lie semata. Untuk mendapatkan fungsi gelombang, Edwin Schrdinger, pa-
da tahun 1926, telah berhasil merumuskan caranya. Sebagai penghormatan
atas karya besarnya itu, formula yang dirumuskan Schrdinger tersebut di-
namai Persamaan Schrdinger.
Dalam bab ini kita akan membahas persamaan Schrdinger tersebut
dan menerapkannya pada kasus-kasus sederhana. Melalui contoh-contoh
penerapan pada kasus yang sederhana itu diharapkan Anda dapat memba-
ngun intuisi Anda tentang perilaku sistem mikroskopis sebagaimana Anda
dapat membangun intuisi Anda tentang perilaku sistem makroskopis
melalui penerapan mekanika Newton dalam berbagai kasus. Untuk me-
nunjukkan terpenuhinya asas kesepadanan teori Schrdinger dan mekani-
ka Newton, pada bab ini juga akan kita bahas bagaimana teori Schrdinger
dihubungkan dengan mekanika Newton tersebut.

5.1 PERUMUSAN PERSAMAAN SCHRDINGER

Sebagimana telah disinggung di depan, persamaan Schrdinger diper-


lukan untuk menemukan fungsi gelombang bagi suatu sistem mikroskopis.

Sutopo Pengantar Fisika Kuantum 115


116 Perumusan persamaan Schrdinger

Berikut kita bahas bagaimana bentuk persamaan itu dan bagaimana men-
dapatkannya.
Bentuk paling umum suatu persamaan yang penyelesaiannya berupa
suatu fungsi adalah persamaan diferensial. Karena fungsi yang akan diha-
silkan dari persamaan Schrdinger adalah fungsi gelombang (x,t), yang
merupakan fungsi dua variabel, yaitu x dan t, persamaan Schrdinger ha-
rus merupakan persamaan diferensial parsial. Ini merupakan petunjuk u-
mum yang kita miliki untuk mendapatkan persamaan Schrdinger.
Petunjuk yang lebih khusus dapat kita peroleh dari postulat-postulat
fisika kuantum sebagaimana telah kita bahas di Bab 4. Berdasarkan postu-
lat tentang pendeskripsian keadaan sistem, yaitu keadaan sistem dides-
kripsikan sebagai fungsi gelombang (x,t), kita dapatkan petunjuk bahwa
fungsi gelombang (x,t) yang dihasilkan oleh persamaan Schrdinger ha-
rus dapat digunakan untuk mengetahui nilai berbagai besaran fisika yang
dimiliki sistem.
Cara mengetahui nilai besaran fisika adalah dengan melakukan pengu-
kuran. Menurut postulat tentang pengukuran, mengukur adalah menger-
jakan operator (yang mewakili besaran fisika yang diukur) pada fungsi ge-
lombang yang mendeskripsikan keadaan sistem saat pengukuran. Marilah
kita gunakan petunjuk itu dengan menerapkan pada kasus khusus, yaitu
pengukuran energi total bagi sistem konservatif.
Pada sistem konservatif berlaku hukum kekekalan energi, yaitu jumlah
energi kinetik ditambah energi potensial bersifat kekal: artinya tidak ber-
gantung pada waktu maupun posisi. Sebagaimana kita ketahui, hukum
kekekalan energi tersebut telah dapat dijelaskan secara baik oleh fisika kla-
sik. Dengan demikian, sebagai teori yang lebih baru, persamaan Schrdi-
nger harus konsisten dengan hukum kekekalan energi tersebut.
Secara matematis hukum kekekalan energi dapat diungkapkan dengan
rumusan:

p2
V ( x) E . (5. 1)
2m
Suku pertama ruas kiri menyatakan energi kinetik, suku kedua menyata-
kan energi potensial, dan ruas kanan menyatakan suatu tetapan yang bia-
sanya kita sebut sebagai energi total.
Untuk mendapatkan rumusan kuantum bagi hukum kekekalan energi
tersebut, kita ubah Persamaan (5.1) menjadi persamaan operator. Berdasar-
kan postulat pendeskripsian besaran fisika, khususnya yang berkaitan de-

Pengantar Fisika Kuantum


Perumusan persamaan Schrdinger 117

ngan kaedah pengkuantuman besaran fisika, persamaan operator yang se-


padan dengan Persamaan (5.1) adalah

P 2
V ( X ) E . (5.1b)
2m
Dalam ruang posisi, cara kerja operator P dan V ( X ) sudah kita dapat-
kan di Bab 4, yaitu P i / x dan V ( X ) V ( x) . Jika ungkapan ini kita isi-
kan pada Persamaan (5.1b) kemudian masing-masing ruas persamaan ter-
sebut kita kerjakan pada sebarang fungsi gelombang (x,t) kita dapatkan
persamaan

2 2 (x,t)
V( x ) ( x , t ) E ( x , t ) . (5. 2)
2m x 2
Sejauh ini kita belum mengetahui cara kerja operator E terhadap fung-
si (x,t). Oleh sebab itu kita harus menemukan dahulu cara kerja operator
E tersebut. Untuk keperluan ini kita gunakan postulat pengukuran, khu-
susnya yang berhubungan dengan dampak pengukuran terhadap keadaan
sistem. Menurut postulat ini, fungsi gelombang tidak berubah akibat peng-
ukuran jika fungsi gelombang tersebut merupakan fungsi eigen bagi be-
saran yang diukur. Marilah kita gunakan postulat itu untuk menemukan
cara kerja operator E .
Perhatikan fungsi gelombang ( x , t ) e i ( kx t ). Fungsi gelombang ini
memiliki frekuensi sudut sebesar . Berdasarkan kaitan Planck-Einstein
E (lihat Persamaan 2.5 di Bab 2), dapat disimpulkan bahwa fungsi ge-
lombang tadi mendeskripsikan keadaan partikel yang memiliki energi se-
besar E . Dengan kata lain, fungsi gelombang tadi merupakan fungsi
eigen bagi operator energi E dengan nilai eigen E . Dengan demikian
maka fungsi gelombang tadi harus memenuhi persamaan nilai eigen:

E ( x, t ) ( x, t ) . (5. 3)

Jadi, dengan menggunakan fungsi gelombang ( x, t ) e i (kx t ) ini dapat


disimpulkan bahwa operator E berbentuk E i / t , sebab
( x , t ) i ( kx t )
i
t
i
t

e
e i ( kx t ) ( x , t ) .

Bab 5: Persamaan Schrdinger


118 Perumusan persamaan Schrdinger

Dengan telah ditemukannya cara kerja operator E tadi maka Persama-


an (5.2) menjadi

2 2 ( x, t ) ( x, t )
V ( x) ( x, t ) i . (5. 4)
2m 2 t
x
Persamaan (5.4) merupakan persamaan diferensial parsial yang jika
diselesaikan akan menghasilkan fungsi gelombang (x,t). Persamaan ini te-
lah memenuhi harapan kita sebagaimana diungkapkan di depan. Namun
masih ada keterbatasan yang dimiliki oleh persamaan itu, yaitu hanya ber-
laku untuk sistem yang energi potensialnya secara eksplisit tidak bergan-
tung pada waktu t. Keterbatasan ini dapat dihilangkan dengan mempostu-
latkan bahwa persamaan tersebut juga berlaku untuk sistem yang energi
potensialnya secara eksplisit bergantung pada waktu. Untuk itu, perubah-
an yang kita lakukan cukup mengubah V(x) menjadi V(x,t). Dengan demi-
kian kita dapatkan persamaan akhir:

2 2 ( x, t ) ( x, t )
V ( x, t ) ( x, t ) i . (5. 5)
2m 2 t
x
Inilah persamaan yang kita cari, yaitu persamaan Schrdinger (dalam satu
dimensi). Dalam 3 dimensi, persamaan Schrdinger tersebut berbentuk

2 2 (r , t )
(r, t ) V (r, t ) (r, t ) i , (5. 6)
2m t

dengan 2 merupakan operator Laplacean yang dalam sistem koordinat


2 2 2
Cartesan berbentuk . Sangat disarankan agar Anda menye-
x 2 y 2 z 2
garkan kembali pengetahuan Anda tentang bentuk operator Laplacean pa-
da sistem koordinat lainnya.

5.2 TINJAUAN UMUM

Sekarang marilah kita lakukan tinjauan secara umum terhadap persa-


maan Schrdinger di atas, khususnya dari segi variasi bentuk eksplisitnya
dan struktur matematisnya.

Pengantar Fisika Kuantum


Tinjauan umum 119

5.2.1 Bentuk Eksplisit Persamaan Schrdinger


Bentuk umum persamaan Schrdinger telah kita temukan sebagaima-
na dinyatakan oleh Persamaan (5.5) atau (5.6). Pertanyaan selanjutnya ada-
lah apa yang membedakan persamaan Schrdinger bagi suatu sistem de-
ngan persamaan Schrdinger bagi sistem lainnya?
Untuk menjawab pertanyaan itu, perhatikan semua unsur yang mun-
cul pada Persamaan (5.5) atau (5.6). Unsur i 1 dan keduanya meru-
pakan tetapan. Jadi kedua unsur itu akan selalu muncul pada semua sis-
tem. Unsur-unsur operator matematis (operator derivatif ke posisi, yaitu
2 / x 2 dan operator derivatif ke waktu, yaitu / t ) juga tidak bergan-
tung pada sistem yang dibicarakan. Unsur m (massa partikel) secara nume-
rik memang berbeda antara partikel yang satu dengan partikel lainnya,
tetapi lambangnya tetap sama, yaitu m. Maka unsur m akan muncul dalam
persamaan Schrdinger dengan cara yang sama, apapun sistem/partikel
yang dibicarakan. Dengan demikian, satu satunya unsur yang membeda-
kan satu sistem dengan sistem lainnya adalah V(x,t), yaitu ungkapan mate-
matis energi potensial sistem. Ini berarti bahwa faktor energi potensiallah
yang membedakan bentuk eksplisit persamaan Schrdinger untuk sistem
fisis yang satu dengan persamaan Schrdinger untuk sistem fisis lainnya.
Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa dalam membangun persa-
maan Schrdinger suatu sistem, hal pokok yang perlu kita ketahui adalah
variasi energi potensial terhadap posisi dan waktu. Variasi itu selanjutnya
kita nyatakan dalam bentuk fungsi V(x,t) untuk kasus satu dimensi, atau
V(r,t) untuk kasus 3 dimensi.

Contoh Soal 5.1


Dapatkan persamaan Schrdinger untuk osilator harmonis satu di-
mensi.
Analisis
Osilator harmonis memiliki energi potensial V(x,t) = kx, dengan
k suatu tetapan yang dinamai tetapan pegas.
Subsitusi V(x,t) = kx ke dalam Persamaan (5.5) kita peroleh per-
samaan Schrdinger untuk osilator harmonis:

2 2 ( x, t ) 1 ( x, t )
k x 2 ( x, t ) i .
2m 2 2 t
x

Bab 5: Persamaan Schrdinger


120 Tinjauan umum

Contoh Soal 5.2


Dapatkan persamaan Schrdinger untuk sebuah elektron yang
berada dalam medan listrik yang dihasilkan oleh muatan titik q
yang ditempatkan pada pusat koordinat.
Analisis
Dalam medan listrik tersebut elektron memiliki energi potensial
yang dihasilkan oleh interaksi Coulomb sebagai berikut
qe
V( x , y , z )
4 x2 y 2 z2

dengan e dan secara berurutan menyatakan muatan elektron dan


permitivitas medium di mana elektron berada.
Dengan demikian, persamaan Schrdinger untuk elektron tersebut
adalah

2 2 qe ( x, y , z , t )
( x, y, z , t ) ( x, y, z , t ) i .
2m 4 2
x y z 2 2 t

5.2.2 Struktur Matematis Persamaan Schrdinger


Beberapa aspek penting pada struktur matematis persamaan Schrdi-
nger adalah sebagai berikut.

1. Persamaan Schrdinger merupakan persamaan diferensial dalam


ruang kompleks
Adanya bilangan imajiner i dalam persamaan Schrdinger menunjuk-
kan bahwa persamaan tersebut merupakan persaman diferensial da-
lam ruang kompleks. Akibatnya, penyelesaian persamaan Schrdinger
pada umumnya merupakan fungsi kompleks dengan variabel real (po-
sisi dan waktu). Itulah sebabnya mengapa fungsi gelombang tidak me-
miliki arti fisis secara langsung.
2. Persamaan Schrdinger merupakan persamaan diferensial linear
Persamaan Schrdinger termasuk persamaan diferensial linear, baik
terhadap ruang maupun waktu. Akibatnya, jika fungsi gelombang 1

Pengantar Fisika Kuantum


Tinjauan umum 121

dan 2 merupakan penyelesaian persamaan Schrdinger untuk suatu


sistem tertentu, maka sebarang kombinasi linear kedua fungsi gelom-
bang itu, yaitu 3 = 1 + 2 dengan dan merupakan tetapan,
juga merupakan penyelesaian persamaan Schrdinger untuk sistem
tersebut. Hal ini dengan mudah dapat dibuktikan sebagai berikut.
Subtitusi 3 = 1 + 2 ke ruas kiri Persamaan (5.5) diperoleh
2 2
2 3 2 ( 1 2 )
V ( x , t ) 3 V( x , t )( 1 2 )
2m x 2 2m x2
(5. 7)
2 2 1 2 2 2
2
V( x , t ) 1 2
V( x , t ) 2 .
2m x 2m x
Sekarang perhatikan faktor yang dikurung pada ruas kanan Persama-
an (5.7). Karena 1 dan 2 telah diasumsikan merupakan penyelesaian
persamaan Schrdinger, maka Persamaan (5.7) itu menunjukkan kepa-
da kita bahwa kedua faktor dalam tanda kurung tadi masing masing
memenuhi hubungan

2 2 1 ( x, t ) ( x, t )
V ( x, t ) 1 ( x, t ) i 1 ,
2m x2 t

dan
2 2 2 ( x , t ) 2 ( x, t )
V ( x , t ) 2 ( x , t ) i .
2m 2 t
x
Subsitusi kedua persaman terakhir itu ke dalam Persamaan (5.7)
menghasilkan
2
2 3 2
V ( x, t ) 3 i 1 i
2m x 2 t t

( 1 2 )
i
t
3
i ,
t
yang menunjukkan bahwa 3 benar-benar merupakan penyele-
saian persamaan Schrdinger untuk sistem yang sama.

Bab 5: Persamaan Schrdinger


122 Tinjauan umum

3. Persamaan Schrdinger merupakan persamaan diferensial orde satu


terhadap waktu (variabel t )
Kenyataan ini menunjukkan bahwa perubahan fungsi gelombang ter-
hadap waktu bersifat deterministik. Artinya jika kita mengetahui fung-
si gelombang pada t tertentu, misalnya t = t0, maka fungsi gelombang
pada t berikutnya dapat diketahui secara pasti. Hal penting yang perlu
dicatat adalah: meskipun hasil pengukuran bersifat probabilistik (non
deterministik) dan informasi tentang nilai semua besaran fisika terkan-
dung dalam fungsi gelombang, ternyata perubahan fungsi gelombang
terhadap waktu bersifat deterministik.

Contoh Soal 5.3

Tunjukkan bahwa fungsi gelombang berikut

2 nx i E n t / ; x a /2
sin e
( x, t ) a a
0 ; x a/2

dengan n = 1, 2, 3, , merupakan penyelesaian persamaan Schr-
dinger bagi partikel bermasa m yang hanya bebas bergerak dalam
interval a/2 x a/2. Tentukan batasan nilai En yang diijinkan!
Analisis
Pernyataan bahwa partikel hanya dapat bergerak bebas dalam in-
terval a/2 x a/2 memiliki arti bahwa partikel tidak mungkin
berada di luar interval itu. Dengan kata lain, peluang mendapat-
kan partikel di luar interval itu sebesar nol. Hal ini hanya dipenuhi
jika fungsi gelombang di luar interval a/2 x a/2 bernilai nol.
Partikel bebas bergerak dalam interval a/2 x a/2 menunjuk-
kan bahwa partikel tidak mengalami gaya apapun dalam interval
itu. Jadi, energi potensialnya konstan. Jika potensial ini dilambangi
V0 maka persamaan Schrdinger dalam interval a/2 x a/2
berbentuk

2 2 ( x, t ) ( x, t )
V 0 ( x, t ) i .
2m x 2 t

Pengantar Fisika Kuantum


Tinjauan umum 123

Untuk menguji apakah benar fungsi gelombang yang diketahui ta-


di merupakan penyelesaian persamaan Schrdinger, kita subtitu-
sikan fungsi gelombang itu ke dalam persamaan terakhir di atas.
Subsitusi ke ruas kiri menghasilkan

2 2 ( x , t ) n2 2 2 2 nx iEnt /
2
V0 ( x , t ) 2
V0 sin e
2m x 2 ma a a
n2 2 2
2
V0 ( x , t ).
2ma
Subsitusi ke ruas kanan menghasilkan

( x , t ) 2 nx iEnt /
i i - i En / sin e

t a a
2 nx iEnt /
En sin e En ( x , t ) .
a a
Dengan demikian kita dapat hubungan
n 2 2 2
V0 ( x, t ) E n ( x, t ) .
2ma 2

Persamaan terakhir ini menunjukkan bahwa fungsi gelombang ta-


di dijamin sebagai penyelesaian persamaan Schrdinger bagi par-
tikel yang bebas bergerak dalam interval a/2 x a/2 asalkan
tetapan En dalam fungsi gelombang itu memenuhi hubungan

n 2 2 2
En V0 .
2ma 2
Ungkapan ini sekaligus memberikan batasan nilai yang harus
dipenuhi oleh En.

5.3 PERUBAHAN NILAI HARAP TERHADAP WAKTU

Perubahan fungsi gelombang terhadap waktu telah terumuskan, yaitu


mengikuti persamaan Schrdinger. Mengingat fungsi gelombang berkaitan
erat dengan hasil pengukuran, maka timbul pertanyaan tentang bagaimana
hasil pengukuran berubah terhadap waktu. Perlu dicatat bahwa hasil peng-

Bab 5: Persamaan Schrdinger


124 Perubahan nilai harap terhadap waktu

ukuran di sini harus kita artikan sebagai nilai harap (rerata) pengukuran.
Hal ini disebabkan karena hasil pengukuran bersifat probabilistik sehingga
tidak mungkin bagi kita untuk menyelidiki perilaku hasil ukur secara indi-
vidual.
Dengan menggunakan persamaan Schrdinger, kita akan menemukan
jawaban atas pertanyaan tadi. Selanjutnya, untuk penyederhanaan penulis-
an, kita definisikan

2 2
H V ( x ,t ) . (5. 8 )
2 m x 2
Dengan menggunakan definisi di atas, persamaan Schrdinger dapat ditu-
lis dalam bentuk

H i , (5. 9)
t
dengan merupakan penyingkatan dari (x,t).
Nilai harap pengukuran besaran A pada saat keadaan sistem dinyata-
kan oleh fungsi gelombang ternormalkan adalah, lihat Persamaan (4.17)
di Bab 4,

A * A dx . (5. 10)

Untuk mengetahui bagaimana nilai harap berubah terhadap waktu, ki-


ta ambil derivatif Persamaan (5.10) terhadap waktu, yaitu
d
dt
A
d *

A dx .
dt
(5. 11)

Karena integrasi dilakukan terhadap x maka operator derivatif terhadap t


dapat dimasukkan ke dalam integral. Jadi ruas kanan Persamaan (5.11) da-
pat diubah menjadi


d *
dt

t
*

A dx A dx . (5. 12)

Perhatikan bahwa kita telah mengubah derivatif biasa (d/dt) menjadi


derivatif parsial (/t). Ini harus kita lakukan mengingat pengambilan de-
rivatif dilakukan terhadap t saja sedangkan , *, dan A pada umumnya
merupakan fungsi x dan t. Selanjutnya, dengan menggunakan aturan deri-

Pengantar Fisika Kuantum


Perubahan nilai harap terhadap waktu 125

vatif untuk perkalian dua fungsi atau lebih, integral di ruas kanan Persa-
maan (5.12) dapat diubah menjadi
*
A


t

*
A dx
t

A dx *
t

dx
(5. 13)

* A dx .
t
Berdasarkan persamaan Schrdinger, derivatif fungsi gelombang pada
suku pertama dan suku terakhir ruas kanan persamaan tersebut masing-
masing dapat diganti dengan ungkapan
*
* 1 1
t

i
H
i
*
H . (5. 14a)

dan
1
H , (5.14b)
t i
Subtitusi Persamaan (5.14) ke dalam Persamaan (5.13) menghasilkan

1
A 1
t A dx i H A dx
*
* * H
dx * A dx.
t i
Karena H
Hermitean maka berlaku H * A dx * H A dx (lihat

pertanyaan 12) sehingga persamaan terakhir tadi dapat diubah menjadi





t
* A dx 1 *
i


AH HA dx
* A
t

dx . (5. 15)

Suku pertama ruas kanan Persamaan (5.15) menyatakan nilai harap bagi

komutator [ A , H ] A H H A dan suku kedua menyatakan nilai harap
dari A / t . Dengan demikian, Persamaan (5.15) tadi dapat diubah lagi
menjadi

A



t

* A dx
1
i

[ A , H ]
t
. (5. 16)

Bab 5: Persamaan Schrdinger


126 Perubahan nilai harap terhadap waktu

Subtitusi Persamaan (5.16) ke Persamaan (5.12) kemudian hasilnya disubti-


tusikan ke Persamaan (5.11) menghasilkan ungkapan akhir rumusan peru-
bahan nilai harap terhadap waktu sebagai berikut.

d 1 A
A [ A , H ] . (5. 17)
dt i t

Persamaan (5.17) menunjukkan bahwa perubahan terhadap waktu ni-


lai harap hasil ukur besaran A bergantung pada dua hal, yaitu: hubungan
komutasi [ A , H ] dan kebergantungan secara eksplisit A terhadap waktu.
Jika A secara eksplisit tidak bergantung waktu, maka suku terakhir persa-
maan itu bernilai nol. Kebergantungan terhadap fungsi gelombang bersifat
implisit dan baru nampak ketika kita menghitung [ A , H ] dan A / t .
Persamaan (5.17) sering disebut sebagai Persamaan Gerak Heisenberg.

Contoh Soal 5.4

Dapatkan cara nilai harap: (a) posisi x, dan (b) momentum linear p
berubah terhadap waktu!
Analisis
Untuk mengetahui bagaimana nilai harap posisi dan momentum
linear berubah terhadap waktu kita gunakan rumusan umum se-
bagaimana dinyatakan pada Persamaan (5.17). Untuk pertanyaan
(a), kita ganti A dengan X dan untuk pertanyaan (b) kita ganti A
dengan P . Sekarang kita selesaikan persoalan tadi satu per satu.
(a) Perubahan nilai harap posisi terhadap waktu
Berdasarkan Persamaan (5.17), perubahan nilai harap posisi terha-
dap waktu mengikuti hubungan

d 1 X
X [ X , H ] . (5. 18)
dt i t

Komutator yang dibentuk oleh operator posisi dan hamiltonan a-


dalah

Pengantar Fisika Kuantum


Perubahan nilai harap terhadap waktu 127

X , H X , 2Pm V( X ) X , 2Pm X , V(X ) .


2 2
(5. 19a)

Komutator suku terakhir merupakan operator nol, sebab [ X , X ] 0
sehingga [ X ,V( X )] 0 . Komutator suku pertama dapat diselesaikan
sebagai berikut.
P 2 1 2 1 i P
X ,
2m 2 m
X, P
2m

X , P P P X , P m
.

Dengan demikian, Persamaan (5.19a) dapat diubah menjadi

X , H i mP . (5.19b)

Selanjutnya, karena X secara eksplisit tidak bergantung waktu


maka X / t 0 sehingga X / t 0. Subtitusi nilai ini dan Persa-

maan (5.19b) ke dalam Persamaan (5.18) diperoleh ungkapan ten-


tang perubahan nilai harap posisi terhadap waktu sebagai berikut

d 1 i P P
X . (5. 20)
dt i m m

a) Perubahan nilai harap momentum linear terhadap waktu


Berdasarkan Persamaan (5.17), perubahan nilai harap momentum
linear terhadap waktu mengikuti hubungan

d 1
P
P [ P , H
] . (5. 21)
dt i t

Komutator yang dibentuk oleh operator momentum linear dan ha-


miltonan adalah
2 2
P , H P , P2m V ( X ) P , P2m P , V ( X ) . (5. 22a)

Komutator suku pertama merupakan operator nol, sebab [ P , P ] 0


sehingga [ P , P 2 ] 0 . Komutator suku terakhir dapat diselesaikan

Bab 5: Persamaan Schrdinger


128 Perubahan nilai harap terhadap waktu

sebagai berikut. Jika komutator tersebut dikerjakan pada sebarang


fungsi gelombang (x), maka diperoleh hubungan

P , V ( X ) P V ( X ) V ( X )P i x V ( x) V ( x) i x

V( x ) V( x )
i V( x ) V( x ) i .
x x x x
V( x )

Ini berarti bahwa P , V( X ) i x
.

Dengan demikian, Persamaan (5.22a) menjadi

P , H i Vx( x) . (5.22b)

Selanjutnya, karena P secara eksplisit tidak bergantung pada wak-


tu maka P / t 0 sehingga nilai harap P / t 0 .Subtitusi nilai
ini dan Persamaan (5.22b) ke Persamaan (5.21) diperoleh ungkap-
an tentang perubahan nilai harap momentum linear terhadap
waktu sebagai berikut.
d 1 dV ( x) dV ( x )
P i . (5. 23)
dt i dx dx

Marilah kita telaah sejenak Persamaan (5. 20) dan (5.23) di atas. Persa-

maan (5.20) dapat diubah menjadi P m d dXt . Jika setiap operator da-
lam persamaan ini kita ganti dengan besaran fisik yang diwakilinya, kita
dapatkan hubungan p m d dxt . Dalam fisika klasik, momentum linear
didefinisikan sebagai p m ddxt , yang ternyata sangat mirip dengan yang
kita dapatkan tadi.
Sekarang kita perhatikan Persamaan (5.23). Dalam fisika klasik terda-
pat hubungan F dp / dt (Hukum ke-2 Newton) dan untuk gaya konser va-
tif berlaku hubungan F dV / dx . Jadi dalam fisika klasik, khususnya un-
tuk sistem konservatif, berlaku hubungan

Pengantar Fisika Kuantum


Perubahan nilai harap terhadap waktu 129

dp dV
. (5. 24)
dt dx
Jika kita bandingkan Persamaan (5.23) dan (5.24) maka dapat kita sim-
pulkan bahwa Persamaan (5.23) merupakan pernyataan Hukum ke-2 New-
ton dalam formulasi fisika kuantum.
Telaah tadi menunjukkan kepada kita adanya kesepadanan antara fisi-
ka kuantum dengan fisika klasik. Kesepadanan rumusan kuantum dan ru-
musan klasik tentang Hukum ke-2 Newton ini dikenal sebagai Teorema
Ehrenfest.

Contoh Soal 5.5

Tunjukkan bahwa persamaan Schrdinger menjamin tetap berla-


kunya hukum kekekalan energi.
Analisis
Hukum kekekalan energi menyatakan bahwa hamiltonan (energi
kinetik ditambah energi potensial) sistem konservatif bersifat ke-
kal. Dengan kata lain, hamiltonan sistem tidak berubah terhadap
waktu. Oleh sebab itu, untuk menguji apakah persamaan Schr-
dinger menjamin berlakunya hukum kekekalan energi atau tidak,
kita selidiki bagaimana nilai harap hamiltonan sistem berubah
terhadap waktu.
Berdasarkan Persamaan (5.17), perubahan nilai harap hamiltonan
terhadap waktu mengikuti formulasi dasar sebagai berikut.

d 1 H
H [ H , H ] . (5. 25)
dt i t

Karena [ H , H ] 0 dan untuk sistem konservatif H / t 0 maka


Persamaan (5.25) menjadi
d
H 0, atau H konstanta. (5. 26)
dt
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa nilai harap hamiltonan
sistem konservatif bersifat kekal. Ini berarti bahwa persamaan
Schrdinger menjamin tetap berlakunya hukum kekekalan energi..

Bab 5: Persamaan Schrdinger


130 Rapat arus peluang

5.4 RAPAT ARUS PELUANG

Pada Bab 3 telah didefinisikan fungsi rapat peluang yang diasosiasi-


kan dengan fungsi gelombang sebagai( r , t ) * ( r , t ) ( r , t ) sedemikian ru-
pa sehingga (r , t ) d 3 x menyatakan besarnya peluang menemukan parti-
kel di dalam unsur volume d3x di sekitar r pada saat t (lihat Persamaan
3.12). Kita juga sudah menyatakan bahwa untuk (r , t ) yang telah ternor-
malkan berlaku
3
V (r, t ) d x 1 , (5. 27)

dengan integrasi meliputi seluruh ruang V (Lihat Persamaan 3.13).


Persamaan (5.27) menunjukkan bahwa jika kita melacak kehadiran
partikel meliputi seluruh ruang maka peluang untuk mendapatkannya
adalah 1, artinya kita pasti menemukan partikel tersebut. Persamaan itu ju-
ga menunjukkan bahwa rapat peluang global (dihitung meliputi seluruh
ruang) bersifat konstan, tidak bergantung pada waktu. Ini berarti bahwa
rapat peluang global bersifat kekal. Bagaimana jika rapat peluang tersebut
dihitung secara lokal (meliputi ruang yang terbatas)? Apakah juga tidak
bergantung pada waktu?
Untuk menjawab pertanyaan itu, marilah kita selidiki apa yang terjadi
jika rapat peluang lokal, yaitu(r , t ) * (r , t ) (r , t ) , kita ambil derivatif-
nya terhadap waktu t. Hasilnya adalah

(r, t ) (r, t ) * (r, t )


* . (5. 28)
t t t
Menurut persamaan Schrdinger (Persamaan 5.6), kedua derivatif fungsi
gelombang terhadap waktu di ruas kanan Persamaan (5.28) tersebut ma-
sing-masing bernilai
(r, t ) i 2 i
(r, t ) V (r, t ) (r, t ) , (5. 29a)
t 2m
dan

* (r , t ) - i 2 * i
(r, t ) V (r, t ) * (r, t ) . (5. 29b)
t 2m
Subtitusi Persamaan (5.29) ke dalam Persamaan (5.28) menghasilkan

Pengantar Fisika Kuantum


Rapat arus peluang 131

( r , t ) i i
t

2m
* 2 2 *
2m

* * , (5. 30)
dengan menyatakan vektor operator (nabla) yang dalam sistem koordi-

nat Cartesan berbentuk i j k .
x y z
Persamaan (5.30) dapat diubah menjadi
( r , t )
J( r , t ) 0 , (5. 31)
t
dengan vektor rapat arus peluang J(r,t) didefinisikan sebagai

J (r, t )
i 2m
* * . (5. 32)

Persamaan (5.31) memiliki bentuk yang sama dengan persamaan kon-


tinuitas yang sudah kita kenal dalam fisika klasik. Sebagai misal, dalam
( r , t )
elektrodinamika, adalah J( r , t ) 0 , dengan rapat muatan
t
(per satuan volume) dan J vektor rapat arus muatan (per satuan luas).
Persamaan kontinuitas ini menyatakan bahwa jika rapat muatan listrik da-
lam suatu volume tertutup berubah (berkurang atau bertambah) terhadap
waktu maka harus ada aliran muatan listrik (keluar atau masuk) yang me-
nembus luasan yang membatasi ruang tertutup tersebut secara tegaklurus.
Persamaan kontinuitas dalam elektrodinamika ini merupakan manifestasi
dari hukum kekekalan muatan listrik.
Pemaknaan secara fisik Persamaan (5.31) tersebut dapat dilakukan de-
ngan mengambil analogi dengan persamaan kontinuitas dalam elektrodi-
namika. Jika dalam elektrodinamika sebagai rapat muatan dan J sebagai
vektor rapat arus muatan, maka dalam konteks Persamaan (5.31): seba-
gai rapat peluang (sudah didefinisikan sebelumnya) dan J sebagai vektor
rapat arus peluang (sebagai hasil analogi).
Kembali ke pertanyaan awal kita, yaitu apakah rapat peluang secara
lokal bergantung pada waktu. Jawaban atas pertanyaan ini sudah kita da-
patkan sebagaimana dinyatakan pada Persamaan (5.31), yaitu bahwa rapat
peluang lokal bergantung pada waktu. Lebih lanjut, Persamaan (5.13) me-
nunjukkan bahwa jika rapat peluang dalam suatu volume terbatas berubah
terhadap waktu maka harus ada aliran peluang yang menembus secara
tegaklurus luasan yang membatasi volume tadi. Analog dengan persamaan

Bab 5: Persamaan Schrdinger


132 Rapat arus peluang

kontinuitas dalam elektrodinamika, Persamaan (5.31) dapat juga dimaknai


sebagai hukum kekekalan rapat peluang secara lokal.
Apakah besaran J yang didefinisikan menurut Persamaan (5.32) terse-
but sungguh-sungguh memiliki arti sebagai rapat arus? Untuk menjawab
ini, marilah kita ungkap kembali makna J dalam elektodinamika. Dalam
elektrodinamika, J didefinisikan sebagai rapat kuat arus listrik (I) per satu-
dengan n
an luas (A): J = I/A n menyatakan vektor satuan pada arah tegak
lurus luasan. Dengan mengganti I dQ/dt = A dx/dt diperoleh hubung-
an J = v, dengan menyatakan rapat muatan dan v dx/dt n menya-
takan rerata kecepatan hanyut (drift velocity) partikel-partikel pembawa
muatan yang menghasilkan arus listrik tersebut.
Berdasarkan uraian tersebut, jika benar bahwa J yang didefinisikan
menurut Persamaan (5.32) tersebut sungguh-sungguh memiliki arti sebagai
rapat arus maka harus dapat ditunjukkan bahwa J (r , t ) (r ,t ) v dengan v
menyatakan kecepatan grup gelombang yang diasosiasikan dengan parti-
kel yang dibicarakan. Contoh berikut memberikan bukti untuk itu.

Contoh Soal 5.6

Dapatkan rapat arus peluang yang diassosiasikan dengan fungsi


gelombang bidang ( r , t ) A e i ( k.r - t ) , dengan A merupakan tetap-
an penormalan.
Analisis
Dengan fungsi gelombang seperti itu kita dapatkan:

(r , t ) i k A e i (k.r - t ) i k (r, t )
sehingga * (r, t ) (r , t ) i k(r, t ) ,
dan * (r, t ) i k A e i ( k.r t ) i k * (r, t )
sehingga (r, t ) * (r, t ) i k(r, t ) .
Subtitusi kedua hasil perhitungan ini ke dalam Persamaan (5.32)
menghasilkan
k
J (r, t )
i 2m
* *
i 2m

2 ik(r, t ) (r, t )
m
. (5. 33)

Karena k / m adalah kecepatan gelombang, maka kita peroleh


hubungan J (r ,t ) (r , t ) v .

Pengantar Fisika Kuantum


Persamaan Schrdinger bebas waktu 133

5.5 PERSAMAAN SCHRDINGER BEBAS WAKTU

5.5.1 Penjabaran Persamaan Schrdinger Bebas Waktu


Persamaan Schrdinger merupakan persamaan diferensial parsial. Per-
samaan diferensial parsial dapat diubah menjadi sistem persamaan dife-
rensial biasa melalui teknik pemisahan variabel. Untuk itu, fungsi gelom-
bang (x,t) kita nyatakan sebagai perkalian fungsi posisi, misalnya (x),
dan fungsi waktu, misalnya F(t). Jadi (x,t) = (x)F(t). Dengan cara ini
maka persamaan Schrdinger menjadi

2 d 2 ( x) dF (t )
F (t ) V ( x , t ) F (t ) ( x ) i ( x ) (5. 34)
2m dx 2 dt

Jika kedua ruas kita bagi dengan (x) F(t) diperoleh

2 1 d 2 ( x) 1 dF (t )
V ( x, t ) i (5. 35)
2m ( x ) dx 2 F (t ) dt
Ruas kanan Persamaan (5.35) merupakan fungsi t, sedangkan ruas kiri
merupakan fungsi x dan t. Satu-satunya suku yang memuat x dan t adalah
V(x,t). Ini berarti bahwa pemisahan variabel hanya akan berhasil jika V ha-
nya bergantung pada x saja, atau hanya bergantung pada t saja. Mengingat
x merupakan variabel dinamis fundamental dalam fisika kuantum, kita
pilih yang pertama.
Jika V hanya bergantung pada x maka Persamaan (5.28) dapat dinyata-
kan sebagai berikut.

2 1 d 2 ( x) 1 dF (t )
V ( x) i (5. 36)
2m ( x ) dx 2 F ( t ) dt
Ruas kiri persamaan ini merupakan fungsi x saja, sedangkan ruas kanan-
nya merupakan fungsi t saja. Jadi persamaan tersebut menyatakan kesa-
maan antara suatu fungsi yang hanya bergantung pada x dengan fungsi
lain yang hanya bergantung pada t. Kesamaan semacam itu hanya akan
terpenuhi untuk semua x dan t jika masing-masing ruas berupa suatu te-
tapan, yaitu suatu bilangan yang tidak bergantung pada x maupun t.
Arti fisik dari tetapan tersebut dapat dideduksi sebagai berikut. Suku
kedua di ruas kiri adalah energi potensial. Oleh karena itu, suku-suku lain-
nya, baik yang di ruas kiri maupun yang di ruas kanan, juga harus berdi-
mensikan energi. Lebih lanjut, karena ruas kiri persamaan tersebut menya-

Bab 5: Persamaan Schrdinger


134 Persamaan Schrdinger bebas waktu

takan jumlah energi kinetik ditambah energi potensial, maka tetapan yang
kita gunakan nanti memiliki arti fisik sebagai energi total, atau hamiltonan,
sistem. Selanjutnya tetapan itu kita lambangi E.
Dengan menggunakan tetapan E tersebut Persamaan (5.36) dapat di-
nyatakan sebagai sistem persamaan diferensial biasa sebagai berikut.

2 1 d 2 ( x )
V ( x) E , (5. 37)
2m ( x ) dx 2
dan
1 dF (t )
i E. (5. 38)
F (t ) dt

Persamaan (5.37) menghasilkan penyelesaian (x) sedangkan Persama-


an (5.38) menghasilkan penyelesaian F(t ) e i E t / . Dengan demikian penye-
lesaian akhir Pesamaan Schrdinger berbentuk

( x,t ) ( x) e i E t / . (5. 39)


Persamaan (5.37) dapat diubah menjadi

2 d 2 ( x)
V ( x ) ( x ) E ( x ) . (5. 40)
2 m dx 2
Persamaan tersebut identik dengan persamaan Schrdinger, bedanya
bahwa persamaan itu tidak bergantung pada t. Oleh karena itu, persamaan
tersebut sering disebut sebagai persamaan Schrdinger bebas waktu (time-
independent Schrdinger equation).
Persamaan (5.40) dapat pula ditulis dalam bentuk
2 d 2
V ( x) ( x) E ( x) (5. 41)
2m dx 2

Faktor dalam kurung di ruas kiri tidak lain menyatakan operator hamil-
tonan sistem, yaitu operator yang mewakili jumlahan energi kinetik (suku
pertama) dan energi potensial (suku kedua). Jika operator itu kita lambangi
H maka Persamaan (5.41) dapat ditulis menjadi
H ( x) E ( x) . (5. 42)

Pengantar Fisika Kuantum


Persamaan Schrdinger bebas waktu 135

Persamaan (5.42) merupakan contoh dari persamaan nilai eigen (eigen-


value equation), sebab operasi H terhadap fungsi (x ) tidak menghasilkan
fungsi baru melainkan hanya mengalikan fungsi itu dengan suatu bilangan
(E). Dengan menggunakan peristilahan dalam persamaan nilai eigen, Per-
samaan (5.42) dapat diungkapkan sebagai berikut: (x) merupakan fungsi
eigen (fungsi karakteristik) bagi operator H dengan nilai eigen (nilai karakteristik)
sebesar E.
Adanya persyaratan bahwa E harus memenuhi persamaan nilai eigen
mengakibatkan bahwa E tidak boleh bernilai sebarang. Dikatakan bahwa
energi total (E) bersifat diskret. Uraian lebih lanjut tentang hal ini disajikan
di bagian 5.6, yaitu di sub-bab Pengkuantuman Energi.
Pada umumnya terdapat sejumlah besar pasangan (x) dan E yang
memenuhi Persamaan (5.42) untuk H tertentu. Oleh karena itu, untuk
membedakan antara pasangan yang satu dengan lainnya kita gunakan in-
deks diskret n. Jadi Persamaan (5.42) dapat diperluas menjadi

H n( x ) E n n( x) , (5. 43)
dan penyelesaian umum persamaan Schrdinger (Persamaan 5.39) diper-
luas menjadi

n ( x , t ) n ( x) e iEn t / . (5. 44)

Bilangan n disebut bilangan kuantum (quantum number). Nilai terendah n,


biasanya 0, menyatakan keadaan dasar (ground state). Nilai berikutnya: 1, 2,
dst, menyatakan keadaan tereksitasi (terbangkit) pertama, kedua, dan sete-
rusnya.
Persamaan (5.44) menunjukkan bahwa ada sejumlah fungsi gelombang
yang semuanya merupakan penyelesaian persamaan Schrdinger untuk
sistem yang sama. Mengingat persamaan Schrdinger merupakan persa-
maan diferensial linear maka kombinasi linear dari semua fungsi gelom-
bang itu juga merupakan penyelesaian persamaan Schrdinger untuk sis-
tem tersebut. Kombinasi linear tersebut merupakan penyelesaian umum
yang dapat diungkapkan secara

( x, t ) c n n ( x, t ) c n n ( x) e i En t / . (5. 45)
n n

dengan cn merupakan tetapan.

Bab 5: Persamaan Schrdinger


136 Persamaan Schrdinger bebas waktu

Penting untuk dicatat bahwa persamaan Schrdinger bebas waktu bu-


kan merupakan versi (jenis) lain persamaan Schrdinger. Melainkan hanya
merupakan persamaan yang digunakan sebagai tahapan untuk menyele-
saikan persamaan Schrdinger. Ingat bahwa persamaan Schrdinger meng-
hasilkan fungsi gelombang ( x, t ) sedangkan persamaan Schrdinger be-
bas waktu menghasilkan fungsi eigen (x) . Penting pula untuk dicatat
bahwa persamaan Schrdinger bebas waktu hanya dapat digunakan jika
potensial sistem secara eksplisit tidak bergantung waktu. Pada bab beri-
kutnya kita akan membahas lebih lanjut penerapan persamaan Schrdinger
bebas waktu.

5.5.2 Keadaan stasioner


Jika potensial sistem secara eksplisit tidak bergantung pada waktu ma-
ka bagian ruang dan waktu penyelesaian persamaan Schrdinger memiliki
bentuk seperti dinyatakan pada Persamaan (5.44). Fungsi gelombang itu
2 2
menghasilkan fungsi rapat peluang posisi: ( x, t ) n ( x, t ) n ( x) ,
yang ternyata tidak bergantung pada waktu. Oleh karena itu, fungsi ge-
lombang seperti dinyatakan pada Persamaan (5.44) tersebut disebut seba-
gai fungsi gelombang stasioner atau penyelesaian stasioner persamaan Schr-
dinger, dan sistem yang bersangkutan dikatakan dalam keadaan stasioner.
Segera akan kita lihat bahwa keadaan stasioner merupakan keadaan de-
ngan energi pasti. Sesungguhnya, sifat kepastian energi inilah yang biasa
dipakai untuk mencirikan keadaan stasioner.
Perhatikan bahwa fungsi gelombang tersebut hanya memuat satu nilai
E. Karena hanya ada satu macam nilai E maka pengukuran berulang
terhadap energi sistem selalu menghasilkan nilai ukur yang sama, yaitu
sebesar E tadi. Ini berarti bahwa keadaan stasioner merupakan keadaan di
mana energi sistem bernilai pasti (tertentu).

Contoh soal 5.7


Fungsi gelombang yang menyatakan keadaan dasar suatu partikel
yang terkungkung di dalam potensial kotak 1 dimensi adalah
2
2 x i 2 ma 2 t ; 0 x a
sin e
( x, t ) a a

0 ; x 0 atau x a

Pengantar Fisika Kuantum


Persamaan Schrdinger bebas waktu 137

dengan m dan a suatu tetapan (lihat Persamaan (6.56) di Bab 6).


Selidikilah apakah fungsi gelombang tersebut menyatakan kea-
daan stasioner atau tidak. Hitung nilai harap energi total partikel
beserta ketakpastiannya.
Analisis
Fungsi rapat peluang posisi partikel adalah
2 2 x
a sin a ; 0xa
( x , t )

0 ; x 0 atau x a

Ternyata fungsi rapat peluang posisi tersebut tidak bergantung


pada waktu. Dengan demikian disimpulkan bahwa fungsi gelom-
bang tersebut menyatakan keadaan stasioner
Nilai harap energi total
Karena fungsi gelombang tersebut sudah ternormalkan maka nilai
harap energi total dihitung dengan prosedur sebagai berikut.

E - * E dx

2 2
x i 2 ma 2 t
2 2 x i 2 ma 2 t
sin

e i a sin a e dx
a a t

2 2 x 2 22 a 22
i i 2
sin 2 dx
a 2ma a a 2ma 2 2 2ma 2

Ketakpastian energi total


Untuk mendapatkan ketakpastian ini kita hitung dulu nilai harap
kuadrat energi total, yaitu

E 2 - * E 2 dx

2 2
x i 2 ma 2 t 2
2 2 x i 2 ma 2 t

sin
a
e i t a sin a e dx
a

Bab 5: Persamaan Schrdinger


138 Persamaan Schrdinger bebas waktu

2 2 2 2
2 22 a 2 2

2

2 2ma2
x
sin 2 dx
a 2ma 2
2


a a 2 2 ma
Dari nilai harap energi total dan nilai harap kuadrat energi total
tersebut didapatkan nilai ketakpastian energi total sebagai berikut.
2
E E 2 E 0.

2 2
Jadi nilai harap energi total pada keadaan itu adalah de-
2ma 2
ngan ketakpastian sebesar nol, Karena ketakpastiannya nol berarti
nilai energi total partikel bersifat pasti. Contoh ini kiranya dapat
memperjelas pernyataan sebelumnya bahwa keadaan stasioner
merupakan keadaan di mana energi partikel bernilai pasti.
5.5.3 Kombinasi linear beberapa fungsi gelombang stasioner
Untuk sebarang nilai n, fungsi gelombang pada Persamaan (5.44) me-
rupakan fungsi gelombang stasioner. Sekarang marilah kita selidiki apakah
kombinasi linear fungsi-fungsi gelombang stasioner tersebut akan meng-
hasilkan fungsi gelombang stasioner pula.
Sebagai contoh, marilah kita kombinasikan dua fungsi gelombang sta-
sioner n(x,t) dan m(x,t) dengan m dan n = 1, 2, 3, yaitu

( x, t ) c n n ( x) e i Ent / c m m ( x ) e i Emt / . (5. 46)


Fungsi gelombang tersebut menghasilkan fungsi rapat peluang posisi
( x , t ) * ( x , t ) ( x , t ) { c n n ( x ) e i En t / c m m ( x) e i Em t / } kk
2 2
c n n c m m c *n c m n ( x ) e i ( Em En )t / (5.47)
c n c *m n ( x ) e i ( Em En )t /
(kk, pada baris pertama, menyatakan penyingkatan dari kompleks
konjugate dari faktor yang ditulis di dalam kurung besar). Persamaan
(5.47) menunjukkan bahwa fungsi rapat peluang posisi bergantung pada
waktu (ditunjukkan oleh dua suku terakhir). Lebih lanjut, kedua suku
terakhir tersebut menunjukkan bahwa peluang posisi partikel tersebut
berosilasi terhadap waktu dengan frekuensi sudut
E E
m n , (5. 48)

Pengantar Fisika Kuantum


Persamaan Schrdinger bebas waktu 139

yang ternyata mirip dengan frekuensi foton yang dipancarkan atau yang
diserap atom ketika ada transisi elektron dari keadaan bertingkat energi Em
ke keadaan bertingkat energi En.
Perhatikan lagi fungsi gelombang hasil kombinasi (Persamaan 5.46)
tersebut. Dalam fungsi gelombang itu terdapat dua macam nilai energi yai-
tu En dan Em. Berarti fungsi gelombang tersebut mendeskripsikan keadaan
partikel yang energinya tidak pasti, apakah En ataukah Em.
Analisis tadi menunjukkan bahwa kombinasi linear dua fungsi gelom-
bang stasioner tidak menghasilkan fungsi gelombang yang stasioner.

5.5.4 Persyaratan Fungsi eigen (x)


Di depan telah kita pelajari bahwa fungsi eigen (x) membentuk fung-
si gelombang (x,t) menurut Persamaan (5.39) atau (5.44). Dengan demi-
kian, sebagai pembentuk fungsi gelombang maka fungsi eigen tersebut ha-
rus memenuhi beberapa persyaratan santun (well-behaved) sebagai berikut.
d ( x )
( x ) dan harus bernilai berhingga di semua x
dx
d ( x )
( x ) dan harus bernilai tunggal di semua x
dx
d ( x )
( x ) dan harus kontinu di semua x
dx
(x) bukan fungsi nol (tidak bernilai nol meliputi seluruh x)
Untuk memperjelas makna persyaratan tersebut, dalam Gambar 5.1
berikut disajikan beberapa contoh fungsi yang tidak memenuhi persyarat-
an tersebut. Khususnya tiga persyaratan pertama.

f(x) f(x)

X X

Bernilai takhingga di x Bernilai takhingga di x

Gambar 5.1a Beberapa contoh fungsi yang tidak memenuhi syarat sebagai
fungsi eigen

Bab 5: Persamaan Schrdinger


140 Pengkuantuman energi

f(x) f(x)

X X
x1 x2

Tidak bernilai tunggal di x1 x x2 Tidak kontinu di x = 0

Gambar 5.1b Beberapa contoh fungsi yang tidak memenuhi syarat sebagai
fungsi eigen

5.6 PENGKUANTUMAN ENERGI

Salah satu konsep penting dalam fisika kuantum adalah pengkuan-


tuman energi, yaitu bahwa energi partikel pada umumnya tidak boleh se-
barang. Khusus pada keadaan terikat, energi partikel harus terkuantisasi.
Pada bagian ini, melalui penerapan persamaan Schrdinger bebas waktu,
akan kita temukan konsep itu.
Perhatikan sekali lagi persamaan Schrdinger bebas waktu (Persamaan
5.40). Secara matematis, parameter E pada persamaan tersebut dapat berni-
lai sebarang, artinya berapapun nilai E yang kita isikan, persamaan terse-
but selalu dapat kita selesaikan untuk menghasilkan (x). Namun demi-
kian, fungsi (x) yang dihasilkan belum tentu memenuhi persyaratan seba-
gaimana disebutkan di depan. Sebaliknya, jika (x) harus memenuhi per-
syaratan tersebut maka E tidak boleh bernilai sebarang. Dengan kata lain,
untuk menghasilkan (x) yang memenuhi syarat maka E harus bernilai
tertentu. Untuk memahami penalaran ini, perhatikan contoh berikut.

Contoh Soal 5.8

Sebuah partikel bermassa m memiliki energi potensial sebagai ber-


ikut.
0 ;0 x a
V ( x)
; x a atau x 0

Pengantar Fisika Kuantum


Pengkuantuman energi 141

Dapatkan energi total yang mungkin dimiliki partikel tersebut.


Analisis
Keadaan partikel tersebut secara kualitatif dideskripsikan sebagai
berikut. Partikel tidak mungkin berada di luar interval: 0 x a,
sebab di daerah itu energi kinetik partikel bernilai negatif. Ingat
bahwa energi kinetik sama dengan energi total dikurangi energi
potensial, sehingga jika energi potensialnya tak berhingga maka
energi kinetiknya pasti negatif. Padahal, jika energi kinetik negatif
maka kecepatannya imajiner. Ini jelas melanggar definisi besaran.
Berdasarkan argumen itu maka fungsi gelombang di luar interval
0 x a harus selalu nol. Demikian pula dengan fungsi eigennya.
Fungsi eigen di dalam interval 0 x a dapat ditemukan dengan
menyelesaikan persamaan Schrdinger bebas waktu di daerah itu.
Karena potensial partikel nol maka persamaan Schrdinger bebas
waktunya berbentuk

2 d 2 ( x )
0 E ( x) ,
2m dx 2
atau

d 2 ( x) 2mE
k 2 ( x) 0 ; dengan k 2 . (i)
dx 2
2
Penyelesian umum persamaan tersebut adalah
( x ) A sin ( kx ) (ii)

dengan A dan suatu tetapan yang dapat ditentukan nilainya de-


ngan cara sebagai berikut. Agar fungsi eigen tersebut kontinu di
semua tempat, sedangkan kita tahu bahwa fungsi eigen (x) berni-
lai nol di x = 0 dan di x = a, maka nilai A dan harus dipilih se-
hingga (x) bernilai nol di x = 0 dan di x = a.
Agar (x) bernilai nol di x = 0 maka harus sama dengan nol. Se-
lanjutnya agar (x) bernilai nol di x = a maka haruslah k = n /a
dengan n = 1,2,3 (nilai n = 0 tidak dipakai sebab akan mengha-
silkan (x) = 0 di semua x).
Dengan menggunakan nilai k tersebut maka nilai E yang mungkin

Bab 5: Persamaan Schrdinger


142 Pengkuantuman energi

adalah

n 2 2 2
E . (iii)
2 ma 2
Jadi energi yang mungkin dimiliki partikel harus memenuhi Per-
samaan (iii) tersebut.

Untuk lebih memahami analisis pada Contoh Soal 5.8 tadi, perhatikan
Gambar 5.2 berikut. Pada gambar tersebut ditunjukkan empat macam nilai
2 2
E yang berkisar dari E = E0 sampai E = 4 E0 dengan E 0 . Terlihat bah-
2 ma 2
wa untuk menghasilkan fungsi eigen yang kontinu di mana-mana, nilai E
tidak boleh sebarang. Dalam rentang nilai E tersebut, hanya dua nilai E
yang memenuhi syarat, yaitu E = E0 dan E = 4 E0. Perhatikan bahwa dua ni-
lai E tersebut menghasilkan fungsi yang kontinu di mana-mana, sedangkan
dua nilai E lainnya menghasilkan fungsi yang tidak kontinu di x = a.

(x)
E = E0

E = 1,2 E0

0 a
E = 4E0

E = 1,5 E0

Gambar 5.2 Grafik fungsi (x) yang dihasilkan oleh persamaan Schrdinger
bagi partikel terikat pada potensial sumur tak berhingga untuk 4
macam nilai parameter E. Terlihat bahwa hanya E yang merupa-
kan kelipatan bulat dari E0 yang menghasilkan fungsi yang konti-
nu di mana-mana.

Pengantar Fisika Kuantum


Rangkuman 143

RANGKUMAM

1. Persamaan Schrdinger merupakan perangkat utama dalam fisika ku-


antum. Peran penting persamaan Schrdinger dalam fisika kuantum
setara dengan peran penting hukum kedua Newton dalam fisika kla-
sik.
2. Persamaan Schrdinger, dalam sistem koordinat Cartesan, berbentuk
2 2 ( x, t ) ( x, t )
V ( x, t ) ( x, t ) i ,
2m 2 t
x
(untuk kasus 1 dimensi), sedangkan untuk 3 dimensi berbentuk

2 2 (r , t )
(r, t ) V (r , t ) (r, t ) i ,
2m t

dengan m massa partikel, tetapan Planck dibagi 2 dan V(x,t)


energi potensial partikel.
3. Bentuk eksplisit persamaan Schrdinger ditentukan oleh fungsi energi
potensial partikel yang dibicarakan. Oleh sebab itu, untuk merumus-
kan persamaan Schrdinger bagi suatu sistem, kita harus mengetahui
terlebih dahulu energi potensial sistem. Rumusan klasik dapat kita gu-
nakan untuk keperluan ini. Misalnya, untuk osilator harmonis:V(x,t)
kx2 .
4. Persamaan Schrdinger merupakan persamaan diferensial parsial da-
lam ruang fungsi kompleks variabel real. Akibatnya, fungsi gelombang
yang dihasilkan pada umumnya berupa fungsi kompleks variabel real.
5. Persamaan Schrdinger merupakan persamaan diferensial linear. Aki-
batnya, kombinasi linear beberapa fungsi penyelesaiannya juga meru-
pakan penyelesaian persamaan Schrdinger untuk sistem yang sama.
6. Dengan persamaan Schrdinger kita dapat melakukan berbagai hal,
antara lain seperti tersebut di bawah ini.
Mendapatkan fungsi gelombang. Sebagaimana telah dibahas di Bab
4, dari fungsi gelombang itu kita dapat mengetahui berbagai hal
tentang keadaan sistem yang dibicarakan.
Mengetahui bagaimana fungsi gelombang (keadaan sistem) beru-
bah terhadap waktu.
Mengetahui bagaimana nilai harap besaran fisis berubah terhadap
waktu. Formulasi yang telah kita rumuskan untuk keperluan ini
adalah

Bab 5: Persamaan Schrdinger


144 Rangkuman

d 1 A
A [ A , H ]
dt i t

dengan A menyatakan besaran fisika yang dibicarakan dan [ A , H ]


adalah komutator yang dibentuk oleh A dan H , yaitu operator
yang mewakili besaran A dan hamiltonan sistem H. Persamaan itu
dikenal sebagai persamaan gerak Heisenberg.
Mengetahui spektrum energi (kumpulan nilai energi) yang dimiliki
partikel.
7. Penerapan formula perubahan nilai harap besaran fisis terhadap
waktu pada besaran posisi, momentum linear, dan hamiltonan sistem
konservatif menunjukkan bahwa persamaan Schrdinger memenuhi
asas kesepadanan dengan fisika klasik. Perhatikan tabel berikut.

Konsep Rumusan Klasik Rumusan Kuantum


Momentum dan dx d x
kecepatan pm p m
dt dt
Hukum ke-2 dp x dV ( x ) d px dV ( x)
Newton
dt dx dt dx
dp dp
V (r )
dt V (r )
dt
Hukum H Ek + Ep = konstanta H = konstanta
Kekekalan Energi

8. Jika energi potensial sistem secara eksplisit tidak bergantung pada


waktu, maka penyelesaian umum persamaan Schrdingernya merupa-
kan kombinasi linear dari fungsi-fungsi gelombang stasioner yang
masing-masing berbentuk

( x, t ) ( x) e i E t / ,

dengan (x) dan E harus memenuhi persamaan Schrdinger bebas


waktu:

Pengantar Fisika Kuantum


Rangkuman 145

2 d 2 ( x)
V ( x) ( x) E ( x) .
2 m dx 2
9. Persamaan Schrdinger bebas waktu hanya dapat digunakan jika po-
tensial sistem secara eksplisit tidak bergantung pada waktu. Persama-
an ini bukan versi lain dari persamaan Schrdinger, melainkan hanya-
lah suatu persamaan yang diperlukan untuk mendapatkan bagian ru-
ang bagi fungsi gelombang lengkap pada keadaan stasioner.
10. Persamaan Schrdinger bebas waktu disebut juga sebagai persamaan
nilai eigen (eigenvalue equation) bagi hamiltonan sistem, dan dapat ditu-
lis dalam bentuk
H ( x) E ( x )
2
d2
dengan H V ( x) . Dalam hal ini, (x) disebut fungsi eigen
2 m dx 2
dan E disebut nilai eigen

11. Fungsi eigen (x) harus memenuhi syarat: (1) (x) dan derivatifnya
terhadap x harus kontinu di mana-mana (di semua x), (2) (x) dan
derivatifnya terhadap x harus berhingga di mana-mana (di semua x),
(3) (x) dan derivatifnya terhadap x harus bernilai tunggal di mana-
mana (di semua x), dan (4) (x) dan derivatifnya harus dapat dinor-
malkan (jadi harus tergolong fungsi SI).
12. Dengan adanya persyaratan yang harus dipenuhi fungsi eigen tersebut
maka nilai E (dalam hal ini menyatakan energi total sistem) tidak boleh
bernilai sebarang.
13. Fungsi gelombang ( x, t ) ( x) e iEt / menghasilkan rapat peluang
posisi yang tidak bergantung pada waktu. Oleh karena itu, fungsi ge-
lombang itu dikatakan sebagai fungsi gelombang stasioner. Keadaan
sistem yang dideskripsikan disebut keadaan stasioner.
14. Pengukuran energi pada fungsi gelombang stasioner menghasilkan ke-
tidakpastian sebesar nol. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
keadaan stasioner merupakan keadaan dengan energi pasti.
15. Hasil kombinasi linear beberapa fungsi gelombang stasioner dengan
energi berbeda bukan merupakan fungsi gelombang stasioner.

Bab 5: Persamaan Schrdinger


146 Perlatihan

PERLATIHAN

Pertanyaan konsep
1. Bandingkan struktur persamaan Schrdinger dengan persamaan-per-
samaan gelombang yang Anda kenal dalam fisika klasik. Adakah per-
bedaan atau kesamaannya? Daftar dan deskripsikan perbedaan dan
kesamaan yang Anda temukan itu.
2. Dalam fisika klasik seringkali kita menggunakan fungsi kompleks un-
tuk menyelesaikan persamaan fisika yang berupa persamaan diferen-
sial, misalnya pada persoalan osilator, arus bolak-balik, atau gelom-
bang elektromagnet. Tetapi ketika memaknai fungsi tersebut kita tidak
menggunakannya secara utuh melainkan hanya mengambil bagian
real atau bagian imajinernya saja. Mengapa demikian? Menurut Anda,
apakah cara tersebut juga harus kita gunakan dalam memaknai fungsi
gelombang hasil penyelesaian persamaan Schrdinger?
3. Dapatkah persamaan Schrdinger digunakan untuk partikel immaterial
(partikel tak bermassa) seperti foton misalnya?
4. Dapatkah persamaan Schrdinger digunakan untuk sistem non kon-
servatif? (Petunjuk: Pecahkan dulu pertanyaan dapatkah Anda men-
definisikan/merumuskan energi potensial bagi sistem non konserva-
tif?).
5. Apakah persamaan Schrdinger mengakomodasi prinsip superposisi
gelombang seperti halnya persamaan gelombang lainnya?
6. Dalam mekanika Newton, keadaan gerak partikel dapat diketahui dari
trayektorinya (biasanya diwujudkan dalam bentuk fungsi yang me-
nyatakan bagaimana posisi partikel berubah terhadap waktu), dan
trayektori itu didapatkan dengan menyelesaikan hukum ke-2 Newton:
d2 x
F m 2 .
dt
Jadi, untuk mendapatkan trayektori kita harus mengetahui terlebih da-
hulu gaya yang bekerja pada partikel itu. Apakah untuk mengetahui
fungsi gelombang yang diasosiasikan dengan suatu partikel kita juga
harus mengetahui gaya yang bekerja pada partikel itu?
7. Informasi apakah yang nilainya tetap (tidak bergantung pada waktu)
yang terkandung dalam fungsi gelombang stasioner?
8. Kapan Anda diperbolehkan menggunakan persamaan Schrdinger be-
bas waktu?

Pengantar Fisika Kuantum


Perlatihan 147

9. Suatu partikel bermassa m berada pada medan gravitasi yang diha-


silkan oleh benda lain yang bermassa M. Dapatkah Anda menggu-
nakan persamaan Schrdinger bebas waktu untuk kasus itu? Adakah
persyaratan yang harus dipenuhi?
10. Kesepadanan (kesetaraan) antara rumusan fisika kuantum dan rumus-
an mekanika Newton akan dicapai jika ungkapan-ungkapan dalam ru-
musan kuantum tersebut dinyatakan dalam nilai harap. Mengapa de-
mikian?

Pertanyaan Analisis
1. Tuliskan persamaan Schrdinger dalam sistem koordinat (a) bola, (b)
silinder!
2 - i Et /
2. Diketahui fungsi gelombang ( x , t ) A x e x e dengan A suatu
tetapan. (a) Jika fungsi gelombang tersebut merupakan penyelesaian
persamaan Schrdinger, dapatkan potensial partikel yang dideskripsi-
kan oleh fungsi gelombang itu. (b) Adakah hubungan antara E dan ?
3. Selidikilah apakah fungsi gelombang pada soal nomor 2 di atas meme-
nuhi syarat sebagai fungsi gelombang yang menyajikan keadaan suatu
sistem? (Petunjuk: Selidiki apakah fungsi gelombang tersebut kontinu,
bernilai tunggal, dan berhingga di mana-mana)
4. Selidikilah apakah fungsi gelombang pada nomor 2 tersebut mendes-
kripsikan keadaan stasioner?
5. Dengan menggunakan fungsi gelombang pada nomor 2 di atas hitung:
(a) nilai harap posisi partikel, (b) nilai harap momentum linear parti-
kel, dan (c) nilai harap energi total partikel.
6. Selidiki apakah fungsi gelombang pada nomor 2 di atas menyatakan
keadaan sistem konservatif?
7. (a) Tuliskan persamaan Schrdinger untuk partikel yang dipengaruhi
1 1
oleh potensial Lenard-Jones V( r , t ) k 6 12 . (b) Dapatkah Anda
r r
menggunakan persamaan Schrdinger bebas waktu pada kasus itu?
8. Tuliskan persamaan Schrdinger bagi partikel yang dipengaruhi oleh
potensial periodik dengan periode (a + b) jika dalam interval 0 < x < b
potensial tersebut berbentuk
0 ; 0 x a
V(x) .
V0 ; a x b

Bab 5: Persamaan Schrdinger


148 Perlatihan

9. Selidikilah apakah setiap fungsi gelombang (untuk nilai n tertentu)


berikut
2 nx i Et /
sin e ; x a/2
a a
( x, t )

0 ; x a/2
(n merupakan bilangan asli) menyatakan keadaan stasioner? Apakah
kombinasi 2 atau lebih fungsi gelombang itu (misalnya antara n = 1
dan n = 2) menyatakan keadaan stasioner?
10. Dengan menggunakan fungsi gelombang pada nomor 9 di atas, dapat-
kan rumusan tentang (a) kebergantungan nilai harap posisi terhadap
waktu, (b) kebergantungan nilai harap momentum linear terhadap
waktu.
11. Tunjukkan bahwa pada osilator harmonis satu dimensi dengan freku-
d2 x
ensi sudut berlaku hubungan 2 x 0 .
dt2
12. Mengingat operator hamiltonan H bersifat Hermitean, tunjukkan bah-
*
wa H A dx * H A dx .
2 m
13. Jika fungsi ( x ) A e ax dengan A suatu tetapan dan a merupa-
2
kan penyelesaian persamaan Schrdinger bebas waktu bagi osilator
harmonis, tentukan berapa energi E osilator harmonis tersebut!
m 2 m
14. Jika fungsi ( x ) x e ax dengan a merupakan penyelesaian

persamaan Schrdinger bebas waktu bagi osilator harmonis, tentukan
berapa energi E osilator harmonis tersebut!
15. Untuk merumuskan persamaan Schrdinger bagi suatu sistem, apakah
yang harus Anda ketahui terlebih dahulu tentang sistem itu? (Petun-
juk: apakah fungsi gelombangnya, atau energi kinetiknya, atau energi
totalnya, atau energi potensialnya, atau massanya?)

Pengantar Fisika Kuantum


Perlatihan 149

energi pasti 136


B Keadaan stasioner, energi pasti 138
Keadaan tereksitasi 135
Bilangan kuantum 135
Kecepatan hanyut (drift velocity) 132
D Komutator
mometum dan Hamiltonan 127
Deterministik 122 posisi dan Hamiltonan 126

E L
Ehrenfest, teorema 129 Laplacean 118
Lenard-Jones 147
F
Fisika kuantum N
kesepadanan dengan fisika klasik Newton 115, 128, 129, 143, 144, 146,
129 147
kesepadanan dgn mekanika nilai eigen 135
Newton 147 Nilai harap
fungsi eigen 135 perubahan terhadap waktu 123,
Fungsi eigen 126
persyaratan 139
Fungsi eigen, persyaratan santun 139 O
Fungsi kompleks 120
Operator energi total 117
G Operator Hermitean 148
Operator Laplacean 118
Gelombang stasioner
kombinasi linear 138 P

H Pengkuantuman energi 135, 140


berdasarkan Pers. Schrdinger 140
Hamiltonan 126, 127, 129, 134, 144, persamaan nilai eigen
145, 148 Hamiltonan 135
Heisenberg Persamaan nilai eigen
persamaan gerak 126 energi total 117
hukum kekekalan energi 116 Persamaan Schrodinger
Hukum kekekalan energi bebas waktu
persamaan operator 116 syarat berlakunya 136
Hukum kekekalan muatan listrik 131 dan Hukum Newton 143
Persamaan Schrdinger
K 3 dimensi 118
keadaan dasar (ground state) 135 bebas waktu 133, 134
Keadaan stasioner 136, 137 dan hukum kekekalan energi 129

Bab 5: Persamaan Schrdinger


150 Perlatihan

kesepadanan dengan mekanika kekekalan lokal 132


Newton 115 Persamaan kontinuitas 131
satu dimensi 118 Rapat peluang
untuk elektron dalam medan kekalan global 130
Coulomb 120
untuk osilator harmonis 119 S
Perubahan nilai harap
Schrodinger, Persamaan
momentum 127
bentuk eksplisit 119
posisi 126
Schrdinger, persamaan
Planck-Einstein, kaitan 117
bebas waktu 13334
penjabaran 11518
R
Schrdinger, Persamaan
Rapat arus peluang 131, 132 struktur matematis 120
definisi 131

Pengantar Fisika Kuantum


BAB 6

KEADAAN STASIONER
PARTIKEL DALAM POTENSIAL KOTAK
SATU DIMENSI

Pada Bab 5 telah kita bicarakan persamaan Schrdinger bebas waktu. Kita
telah mendapati bahwa persamaan tersebut sangat berguna untuk menda-
patkan penyelesaian persamaan Schrdinger, khususnya dalam kasus di
mana potensial sistem secara eksplisit tidak bergantung waktu. Dalam bab
itu juga telah kita definisikan apa yang dimaksud dengan keadaan stasio-
ner.
Pada bab ini kita akan berlatih menyelesaikan persamaan Shrdinger
bebas waktu dan menelaah arti fisik dari penyelesaian yang didapatkan
tersebut. Persamaan Schrdinger bebas waktu pada umumnya sulit disele-
saikan secara analitik. Namun untuk potensial yang nilainya konstan, pe-
nyelesaian analitik itu tidak sulit dilakukan. Oleh sebab itu, pada bab ini
kita akan membatasi diri pada potensial semacam itu. Dengan cara ini di-
harapkan Anda mulai akrab dengan teknik penyelesaian persamaan Schr-
dinger. Setelah Anda akrab dengan persoalan tersebut, pada bab berikut-
nya Anda akan diajak berlatih menyelesaikan persaman Schrdinger yang
potensialnya bukan merupakan konstanta.

6.1 TINJAUAN UMUM

Jika energi potensial partikel merupakan suatu konstanta, artinya tidak


bergantung pada posisinya, maka partikel tersebut dalam keadaan bebas
dalam arti tidak mengalami gaya. Dalam hal ini ada dua kemungkinan
keadaan gerak partikel, yaitu diam atau bergerak lurus beraturan. Kasus
pertama, yaitu partikel dalam keadaan diam tidak penting untuk ditelaah

Sutopo Pengantar Fisika Kuantum 149


150 Tinjauan Umum

lebih lanjut sehingga kita hanya akan membicarakan kasus kedua saja,
yaitu partikel dalam keadaan bergerak lurus beraturan.
Tidak ada partikel yang dalam keadaan bebas di seluruh ruang. Yang
ada adalah ia bebas dalam ruang yang terbatas. Ini berarti bahwa potensial
konstan hanya ada dalam interval ruang tertentu. Potensial yang dalam
interval tertentu berupa suatu konstanta dan dalam interval lainnya berupa
konstanta lain disebut potensial kotak. Jika hanya ada satu kali perubahan
(misal di x < 0 bernilai V0 dan di x > 0 bernilai V1 ) disebut potensial undak.
Jika ada dua kali perubahan disebut potensial tanggul atau potensial sumur,
bergantung apakah plotnya berupa tanggul atau berupa sumur.
Potensial kotak seperti disebutkan tadi sebenarnya tidak ada di alam.
Namun potensial semacam itu merupakan penghampiran yang sangat baik
bagi potensial yang berubah secara mendadak dari suatu konstanta ke kon-
stanta yang lain. Gambar 6.1 berikut memperjelas pernyataan ini. Peng-
hampiran potensial nyata (Gambar 6.1a) menjadi potensial undak (Gambar
6.1b) tidak berdampak besar jika interval jarak di mana potensial berubah
secara mendadak itu sangat kecil.

V(x) V(x)

V1 V1

V0 V0

0 X 0 X

Gambar 6.1a Energi potensial sistem Gambar 6.1b Plot potensial undak
berubah secara mendadak di yang merupakan hampir-
sekitar x = 0 dari V0 ke V1 an potensial pada Gambar
6.1a

Dalam kasus potensial undak seperti pada Gambar 6.1b, persamaan


Schrdinger bebas waktunya dapat ditulis sebagai berikut.

d 2 ( x)
k 2 ( x) 0 (6. 1a)
2
dx

Pengantar Fisika Kuantum


Tinjauan Umum 151

2m
dengan k 2 ( E V ) merupakan suatu konstanta positif.
2
atau

d 2 ( x)
2 ( x) 0 (6.1b)
2
dx
2m
dengan 2 (V E ) merupakan suatu konstanta positif.
2
Nilai V dalam k atau di atas harus diisikan sesuai dengan nilai potensial
pada daerah yang diperhatikan. Sebagai misal, menurut Gambar 6.1b, un-
tuk x > 0 maka V = V1, dan untuk x < 0 maka V = V0 .
Persamaan (6.1a) cocok untuk kasus di mana E>V, sedangkan Persa-
maan (6.1b) cocok untuk kasus di mana E<V. Kedua persamaan diferensial
tersebut sangat mudah diselesaikan. Penyelesaian umum Persamaan (6.1a)
adalah
( x ) A e ik x B e - ik x (6. 2a)

atau
( x ) C sin k x D cos k x (6. 2b)

sedangkan penyelesaian umum Persamaan (6.1b) adalah


( x) E e x F e x (6.3a)

atau
( x ) G sinh x H cosh x (6. 3b)

dengan A, B, H merupakan tetapan integrasi.


Berikut diajukan langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk menye-
lesaikan persamaan Schrdinger bebas waktu untuk potensial undak.
1. Bagi sumbu-X menjadi beberapa daerah sesuai dengan variasi nilai po-
tensial. Sebagai contoh, untuk potensial seperti pada Gambar 6.1b, bagi
sumbu-X menjadi dua daerah, yaitu x < 0 dan x > 0.
2. Isikan nilai potensial yang sesuai ke dalam persamaan Schrdinger be-
bas waktu sesuai masing-masing daerah. Maka kita memiliki beberapa
bentuk eksplisit persamaan Schrdinger bebas waktu. Sebagai contoh,
untuk potensial seperti Gambar 6.1b, kita memiliki dua bentuk ekspli-
sit persamaan Schrdinger bebas waktu, yaitu

Bab 6: Keadaan stasioner partikel


152 Tinjauan Umum

d 2 ( x ) 2m
( E V0 ) ( x) 0 ; di x 0 , (6. 4a)
2
dx 2
dan

d 2 ( x) 2m
( E V1 ) ( x) 0 ; di x 0 . (6.4b)
2
dx 2
3. Tentukan parameter E. Karena E menyatakan energi total maka nilai E
minimal sama dengan nilai terendah energi potensial sistem. Sebab, ji-
ka E kurang dari nilai itu maka energi kinetik partikel akan negatif di
mana-mana. Negatifnya energi kinetik ini menyebabkan momentum
linear partikel berupa bilangan imajiner. Suatu hal yang melanggar de-
finisi suatu besaran. Hal penting lain yang harus diperhatikan dalam
menentukan parameter E adalah bahwa nilai yang kita isikan nanti ha-
rus mencakup semua nilai yang mungkin dimiliki partikel, yaitu E
Vmin .
Jika perkiraan nilai E telah kita tetapkan, isikan nilai itu pada per-
samaan Schrdinger bebas waktu di setiap interval yang sudah kita
tetapkan sesuai langkah nomor 2. Maka ada dua kemungkinan yang
terjadi, yaitu E < V, atau E > V.
Pada daerah di mana E > V, persamaan Schrdinger bebas waktu-
nya memiliki bentuk yang sama dengan Persamaan (6.1a) dengan pe-
nyelesaian umum seperti dinyatakan pada Persamaan (6.2). Pada dae-
rah di mana E < V, persamaan Schrdinger bebas waktunya memiliki
bentuk yang sama dengan Persamaan (6.1b) dengan penyelesaian
umum seperti dinyatakan pada Persamaan (6.3).
4. Hilangkan komponen fungsi gelombang yang dapat bernilai tak ber-
hingga dengan cara memberi nol pada koefisien (tetapan) yang terkait.
5. Gunakan syarat kontinuitas (x) dan d (x)/dx di setiap titik di mana
energi potensial diskontinu. Maka kita akan mendapatkan (x) yang
berlaku di semua x.
Sekarang marilah kita gunakan prosedur tersebut untuk menelaah pe-
rilaku partikel yang plot energi potensialnnya berbentuk kotak. Kita mulai
dengan potensial yang paling sederhana, yaitu potensial undak, kemudian
secara bertahap kita lanjutkan untuk potensial yang lebih rumit.

Pengantar Fisika Kuantum


Potensial Undak 153

6.2 POTENSIAL UNDAK

Kita telaah perilaku partikel yang bergerak di bawah pengaruh poten-


sial undak:
0, x 0 (daerah I)
V ( x)
V0 , x 0 (daerah II)
Dalam hal ini partikel tidak mungkin memiliki energi total E < 0, sebab jika
E < 0 energi kinetiknya negatif di mana-mana. Jadi hanya ada dua macam
nilai E yang mungkin dimiliki partikel, yaitu E > V0 dan 0 < E < V0. Marilah
kita telaah satu per satu dua kemungkinan keadaan ini.
a. Energi Total Kurang dari V0
Gambar 6.2 menyajikan plot fungsi energi potensial dan energi total E
terhadap posisi x untuk 0 < E < V0. Persamaan Schrdinger bebas waktu di
daerah I memiliki bentuk seperti Persamaan (6.1a), sedangkan di daerah II
seperti Persamaan (6.1b).
V(x)

V0
E
I II

0 X

Gambar 6.2 Plot potensial undak V(x) dan energi total E terhadap x

Dengan demikian, penyelesaian umum persamaan Schrdinger bebas wak-


tu di daerah I berbentuk:

2mE
I ( x ) A1 e ik x A2 e ik x , k , (6. 5)
2
dan penyelesaian umum persamaan Schrdinger bebas waktu di daerah II
berbentuk

2m
II ( x) B1 e x B2 e x , (V0 E ) . (6. 6)
2

Bab 6: Keadaan stasioner partikel


154 Potensial Undak

Penyelesaian umum di daerah I sudah memenuhi syarat kelayakan


(berhingga dan kontinu). Perhatikan bahwa meskipun e ikx = e i di x = ,
fungsi ini masih berhingga, sebab nilai maksimum fungsi ini adalah 1.
Ingat bahwa fungsi e ikx merupakan kombinasi sinus dan cosinus. Sekarang
perhatikan penyelesaian umum di daerah II. Karena di daerah ini nilai x
merupakan bilangan positif dari 0 sampai tak berhingga, maka suku per-
tama ( e x ) dapat menyebabkan (x) bernilai tak berhingga. Karena (x )
harus berhingga di mana-mana maka suku ini tidak boleh muncul dalam
penyelesaian. Dengan demikian kita harus memilih B1 = 0. Jadi, penyele-
saian di daerah II adalah ( x ) B2 e x .
Kombinasi penyelesaian di daerah I dan II harus menghasilkan fungsi
yang kontinu di mana-mana, dari sampai + . Untuk sebarang nilai A
dan B, fungsi tersebut telah memenuhi syarat kontinuitas kecuali di x = 0.
Dengan memaksa (x ) dan d (x) /dx kontinu di x = 0 kita dapatkan hu-
bungan
A1 + A2 = B2 , (6. 7a)

ik (A1 A2) = B2 . (6.7b)

Persamaan (6.7a) diperoleh dari pengkontiuan (x ) , yaitu I ( 0) II ( 0) ,


sedangkan Persamaan (6.7b) diperoleh dari pengkontinuan d (x ) /dx, ya-
d I ( x ) d II ( x )
itu . Dari kedua Persamaan (6.7) tersebut diperoleh
dx x 0
dx x 0

hubungan
A2 k i B2 2k
, dan . (6. 8)
A1 k i A 1 k i
Dengan demikian penyelesaian akhir persamaan Schrdinger bebas waktu
sistem ini adalah
ikx k i
A1 e e ikx , x 0
k i
( x) (6. 9)
A 2 k x
e , x0
1 k i

Pengantar Fisika Kuantum


Potensial Undak 155

Tetapan integrasi A1 dapat ditentukan dengan menormalkan (x ) , yaitu


2
membuat ( x ) dx 1 . Gambar 6.3 berikut menyajikan plot komponen
real fungsi eigen tersebut.

(x)
V0

0 X

Gambar 6.3 Plot komponen real fungsi eigen (x) bagi partikel berenergi
E < V0 yang bergerak di bawah pengaruh potensial undak
yang tingginya V0.

Fungsi eigen di x 0 merupakan kombinasi linear gelombang bidang


yang merambat ke kanan ( e ikx ) dan gelombang bidang yang merambat ke
kiri ( e i kx ). Jika diandaikan partikel datang dari kiri (dari x<0) maka fungsi
e ikx menyajikan keadaan gerak partikel saat menuju undakan potensial (di
x = 0) dan fungsi e i kx menyajikan keadaan gerak partikel akibat terpantul
oleh undakan potensial. Dalam kedua keadaan gerak ini partikel memiliki
momentum linear yang sama besar yaitu p k .
Fungsi eigen di daerah II, x 0 berbentuk e x . Fungsi seperti ini
sering disebut sebagai fungsi gelombang sekejab (evanescent wave). Dikata-
kan demikian karena fungsi ini segera bernilai nol akibat bertambahnya x.
Kehadiran gelombang di daerah ini menarik untuk dibicarakan mengingat
secara klasik partikel tidak mungkin sampai di x 0 .
Berdasarkan fungsi eigen (Persamaan 6.9) di depan dapat disimpulkan
bahwa ada peluang bagi partikel untuk menembus daerah yang secara kla-
sik terlarang, yaitu x 0 . Besarnya peluang kehadiran partikel di titik x se-
banding dengan e 2 x , yang berarti bahwa semakin besar nilai x semakin

Bab 6: Keadaan stasioner partikel


156 Potensial Undak

kecil peluangnya. Untuk x > 1/, peluang tersebut menjadi sangat kecil
(kurang dari 1 / e dari nilai maksimumnya). Selanjutnya, nilai x=1/ dise-
but jarak penembusan (skin depth) dan dilambangi x. Dengan mengganti
sebagaimana didefinisikan di Persamaan (6.6) diperoleh hubungan antara
besarnya jarak penembusan dengan energi partikel sebagai berikut.

x . (6. 10)
2m(V0 E )
Menurut persamaan itu, semakin besar energi partikel semakin besar jarak
penembusannya. Suatu prediksi yang sangat logis.
Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah partikel dapat berada di daerah
terlarang itu untuk selamanya? Pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan
menghitung terlebih dahulu peluang partikel dipantulkan oleh undakan
potensial. Argumentasinya adalah sebagai berikut. Jika peluang partikel di-
pantulkan adalah 1 (berarti partikel pasti dipantulkan) maka jawaban per-
tanyaan tadi adalah tidak. Dalam hal ini berarti kehadiran partikel di da-
erah terlarang tersebut hanya sementara, sebab akhirnya ia harus kembali
lagi ke x < 0. Sebaliknya, jika peluang partikel dipantulkan kurang dari 1
berarti partikel dapat berada di daerah terlarang untuk selamanya.
Besarnya peluang partikel dipantulkan dinyatakan oleh suatu besaran
yang dinamai koefisien refleksi (koefisien pantul), dilambangi R. Koefisien
refleksi didefinisikan sebagai perbandingan rapat arus peluang partikel ter-
pantul terhadap rapat arus peluang partikel datang. (Tentang rapat arus
peluang, lihat bagian 5.4, khususnya Persamaan 5.32 dan Contoh Soal 5.6).
Rapat arus peluang partikel datang kita hitung dengan menggunakan
fungsi gelombang A1 e ikx , hasilnya adalah ( k / m ) A1 2 . Rapat arus pelu-
ang partikel pantul kita hitung dengan menggunakan fungsi gelombang
2
A2 e i kx , hasilnya adalah ( k / m ) A2 . Dengan demikian besarnya koe-
fisien refleksi pada persoalan kita tadi adalah
2 2 2
( k / m) A 2 A k i
R 2
2 1 (6. 11)
( k / m) A1 A1 k i

Karena R = 1 berarti partikel pasti dipantulkan. Dengan kata lain, kehadir-


an partikel di daerah terlarang hanyalah sementara.

Pengantar Fisika Kuantum


Potensial Undak 157

b. Energi Total Lebih dari V0


Gambar 6.4 menyajikan plot fungsi energi potensial dan energi total E
terhadap posisi x untuk E>V0 .

V(x)
E
V0

I II

0 X

Gambar 6.4 Plot potensial undak V(x) dan energi total E untuk E>V0

Persamaan Schrdinger bebas waktu di daerah I maupun di daerah II me-


miliki bentuk seperti Persamaan (6.1a). Dengan demikian penyelesaian
umum di daerah I berbentuk:
2 mE
I ( x) A1 e i k x A2 e i k x , k , (6.12)
2
dan penyelesaian umumnya di daerah II berbentuk

2m
II ( x) B1 e i x B2 e i x , ( E V0 ) . (6.13)
2
Semua suku yang muncul dalam kedua persamaan tersebut merupa-
kan fungsi gelombang bidang. Andaikan gelombang yang bereksponen po-
sitif menyatakan keadaan partikel yang bergerak ke kakan maka gelom-
bang yang bereksponen negatif menyatakan keadaan partikel yang berge-
rak ke kiri. Selanjutnya kita asumsikan bahwa partikel bergerak ke kanan
dari suatu titik di x < 0.
Kehadiran gelombang pantul di daerah I, yaitu A2 e ikx , dapat dijelas-
kan sebagai berikut. Ketika partikel sampai di dekat x = 0, partikel menda-
pat gaya pembalik sebesar

Bab 6: Keadaan stasioner partikel


158 Potensial Undak

dV V (x ) V ( x ) V 0 V
F lim lim 0 lim 0 .
dx 0 0 0

Akibatnya, walaupun energi partikel cukup untuk mengatasi tinggi poten-


sial di x > 0, ada peluang bagi partikel itu untuk dipantulkan.
Bagaimana dengan kehadiran gelombang yang bergerak ke kiri di dae-
rah II? Karena di sepanjang x > 0 tidak ada perubahan potensial maka par-
tikel tidak mungkin dipantulkan. Dengan demikian di daerah ini harus ti-
dak ada gelombang yang merambat ke kiri. Oleh sebab itu kita harus mem-
buang gelombang ini dari penyelesaian di daerah II. Caranya adalah de-
ngan memilih B2 = 0.
Selanjutnya, untuk mendapatkan penyelesian yang kontinu di mana-
mana, kita paksa penyelesaian di kedua daerah tersebut kontinu di x = 0.
Pemaksaan ini menghasilkan hubungan
A1 + A2 = B1 , (6.14a)

k (A1 A2) = B1 . (6.14b)

Persamaan (6.14a) diperoleh dari pengkontiuan (x ) , yaitu I (0) II (0) ,


sedangkan Persamaan (6.14b) diperoleh dari pengkontinuan d (x) /dx,
d I ( x ) d II ( x)
yaitu . Dari kedua Persamaan (6.14) tersebut
dx dx
x 0 x 0
diperoleh hubungan
A2 k B1 2k
, dan (6.15)
A1 k A1 k
Dengan demikian penyelesaian akhir persamaan Schrdinger bebas waktu
sistem ini adalah
ikx k i kx
A1 e e , x 0
k
( x) (6. 16)
A 2 k i x
e , x0
1 k

Tetapan integrasi A1 dapat ditentukan dengan menormalkan (x) , yaitu


2
membuat ( x) dx 1 . Gambar 6.5 berikut menyajikan plot komponen
real fungsi eigen tersebut.

Pengantar Fisika Kuantum


Potensial Undak 159

(x)
E
V0

0 X

Gambar 6.5 Plot komponen real Fungsi eigen (x) bagi partikel ber-
energi E > V0 yang bergerak di bawah pengaruh poten-
sial undak yang tingginya V0.

Sekarang kita hitung berapa peluang partikel dipantulkan. Untuk itu


kita hitung koefisien refeksinya. Dengan argumen seperti sebelumnya, be-
sarnya koefisien refleksi pada sistem ini adalah
2 2
(k / m) A 2 A 4k
R 2 1 (6. 17)
2
(k / m) A1 A1 k 2
Perhitungan tersebut menyatakan bahwa koefisien refleksi tidak sama de-
ngan 1. Ini berarti ada peluang bagi partikel untuk diteruskan.
Patut diduga bahwa besarnya koefisien transmisi tersebut adalah sebe-
sar suku yang mengurangkan angka 1 tadi, yaitu suku terakhir Persamaan
(6.17). Marilah kita hitung besarnya koefisien transmisi tersebut dengan
prosedur yang sama dengan yang kita gunakan untuk menjabarkan koe-
fisien refleksi di depan.
Koefisien transmisi (T) didefinisikan sebagai perbandingan rapat arus
peluang bagi pertikel terteruskan terhadap rapat arus peluang bagi partikel
datang. Dalam kasus ini rapat arus peluang bagi partikel terteruskan ada-
2
lah ( / m) B1 dengan ( / m) menyatakan kecepatan gelombang terterus-
2
kan dan B1 menyatakan rapat peluang yang diasosiasikan dengan gelom-
bang terteruskan itu. Dengan demikian besarnya koefisien transmisi adalah

Bab 6: Keadaan stasioner partikel


160 Potensial Undak

2 2
( / m) B1 B1 4k
T , (6. 18)
2
(k / m) A1 k A1 k 2
yang ternyata sama dengan yang telah kita duga. Pada perhitungan tadi ki-
ta telah menggunakan Persamaan (6.15) untuk nilai B1/A1.
Persamaan (6.17) menunjukkan bahwa ada peluang bagi partikel un-
tuk dipantulkan kembali ke daerah I. Adanya peluang partikel dipantulkan
ini tentu bertentangan dengan fisika klasik. Sebab, menurut fisika klasik
partikel pasti diteruskan karena gaya pembalik yang dirasakan partikel ter-
lalu kecil dibandingkan energi totalnya.
Pertentangan itu dapat dipertemukan pada kasus E >> V0. Untuk me-
nunjukkan hal ini kita ubah Persamaan (6.17) ke dalam bentuk yang secara
eksplisit memuat E. Dengan menggunakan definisi k dan sebagaimana
dinyatakan pada Persamaan (6.12) dan (6.13), maka Persamaan (6.17) men-
jadi
2
1 1 V0 / E
R . (6. 19)
1 1 V / E
0
Ungkapan itu menunjukkan bahwa semakin besar E semakin kecil nilai R.
Jika E >> V0 sehingga V0/E 0, maka R = 0. Dengan demikian dapat disim-
pulkan bahwa tinjauan kuantum sama dengan tinjauan klasik jika energi
partikel jauh lebih besar daripada tinggi potensial undak.

6.3 POTENSIAL TANGGUL

Sekarang kita telaah gerak partikel di bawah pengaruh potensial kon-


stan yang memiliki diskontinuitas di dua titik. Lebih khusus kita pilih po-
tensial yang berbentuk tanggul seperti dilukiskan pada Gambar 6.6 berikut.
Berdasarkan gambar itu, hanya ada dua kemungkinan perkisaran nilai
E yang memiliki arti fisis, yaitu E > V0 atau 0 < E < V0, sebab jika E < 0 ma-
ka energi kinetik partikel akan negatif di mana-mana. Marilah kita telaah
masing-masing rentangan nilai E itu.

Pengantar Fisika Kuantum


Potensial Tanggul 161

V(x)
0, x 0 (daerah I)
V0
V ( x) Vo , 0 x a (daerah II)
I II III 0, x a (daerah III)

I
0 a X

Gambar 6.6 Plot potensial V(x) yang berbentuk tanggul kotak, lebar tanggul
a dan tinggi tanggul V0

a. Energi Total Lebih dari V0 : Resonansi Transmisi


Untuk E > V0, persamaan Shrdinger bebas waktu di daerah I, II, dan
III sama bentuknya, yaitu seperti Persamaan (6.1a). Dengan demikian pe-
nyelesaian umum persamaan Shrdinger bebas waktu di daerah I, II, dan
III semuanya merupakan fungsi harmonis kompleks sebagai berikut.

I ( x) A1 e i k1x A2 e i k1x ; x 0
II ( x ) B1 e i k 2 x B 2 e i k 2 x ; 0 x a (6. 20)
III
( x) C1 e i k1x C 2 e i k1x ; xa
dengan
2mE 2 m ( E V0 )
k1 dan k2 . (6. 21)
2
2
Jika diandaikan partikel bergerak ke kanan dari x < 0 maka, dengan ar-
gumen seperti yang kita gunakan pada kasus potensial undak, kita harus
mengisikan C2 = 0. Selanjutnya, dengan menerapkan syarat kontinuitas
(x) dan d (x ) /dx di x = 0 diperoleh
A1 + A2 = B1 + B2 (6. 22a)
k1(A1 A2) = k2 (B1 B2) (6.22b)
dan di x = a diperoleh

B1 e i k 2 a B2 e i k2 a C1 e i k 1 a , (6. 23a)


k 2 B1 e i k2 a B 2 e i k 2 a k1 C1 e i k 1 a . (6.23b)

Bab 6: Keadaan stasioner partikel


162 Potensial tanggul

Dari Persamaan (6.22a) sampai (6.23b) tersebut diperoleh hubungan

k 2 k22 ik a
A1 C1 cos k 2 a i 1 sin k 2 a e 1 , (6. 24a)
2 k1 k 2

k k12 2 ik a
A 2 C1 i 2 sin k 2 a e 1 , (6.24b)
2 k1 k 2

k k i k k a
B 1 C1 2 1 e 1 2 , (6.24c)
2 k2
k k
B 2 C1 1 2 1 e
ik1a
e

i k 1 k2 a
. (6.24d)
2 k2
Persamaan (6.24) memberikan batasan untuk nilai A sampai C, semua
tetapan dinyatakan dalam C1. Dengan menggunakan Persamaan (6.24) ter-
sebut penyelesaian umum (Persamaan 6.20) berubah menjadi penyelesaian
khusus sebagai berikut.
A A
C 1 1 e i k1x 2 e i k1x ; x 0
C
1 C 1
B B
( x ) C1 1 e i k2 x 2 e i k2x ; 0 x a (6. 25)
C1 C1
C 1 e i k1x ; xa
dengan A1/C1, A2/C1, B1/C1, dan B2/C1 berturut-turut mengikuti Persa-
maan 6.24a, 6.24b, 6.24c, dan 6.24d. Gambar 6.7 menyajikan plot komponen
real fungsi eigen, Persamaan (6.25), tersebut.

(x)
(x)
E
V0

a X

Gambar 6.7 Plot komponen real fungsi eigen bagi partikel di bawah peng-
aruh potensial tanggul kotak, tinggi tanggul V0, lebar tanggul a,
energi total partikel E > V0

Pengantar Fisika Kuantum


Potensial Tanggul 163

Sekarang kita hitung koefisien transmisi dan refleksinya. Dari Persa-


maan (6.24a) dan (6.24b) diperoleh koefisien refleksi sebesar

R
A2
2

k 1
2
k22 sin
2 2
k2a
, (6. 26)
A1
2
4 k1 2 k 2 2 k12 k 2 sin
2 2 2
k2a
dan koefisien transmisi sebesar
2
C1 4 k1 2 k 2 2
T . (6. 27)
A1
2 2
4 k1 k 2 2
2
k1 k 2 2 2
sin 2
k2a
Dengan mengisikan nilai k1 dan k2 sebagaimana didefinisikan pada
Persamaan (6.21) diperoleh
4 E ( E V0 )
T . (6. 28)
a
4 E ( E V0 ) V0 2 sin 2 2 m ( E V0 )

Persamaan (6.28) menunjukkan bahwa, untuk nilai E dan V0 tertentu,
koefisien transmisi bergantung secara periodik terhadap lebar tanggul a.
n
Nilai maksimum T adalah 1, dan ini terjadi jika a 2m (E V0 ) dengan

n sebarang bilangan bulat positif. Dikatakan bahwa pada kondisi ini terjadi
resonansi dalam arti bahwa partikel yang datang mengenai tanggul dengan
mudah (pasti) diteruskan. Nilai minimum koefisien transmisi sebesar
4 E ( E V0 )
,
4 E (E V0 ) V0 2
yang menunjukkan bahwa selalu ada peluang bagi partikel untuk dite-
ruskan.
Ketika tidak terjadi resonansi transmisi, gelombang yang merambat ke
kanan (yang diteruskan dari x = 0) dan gelombang yang merambat ke kiri
(yang dipantulkan di titik x = a) saling melemahkan. Akibatnya amplitudo
gelombang yang sampai di daerah III menjadi berkurang. Perhatikan
Gambar 6.7 di depan.
Gambar 6.8 berikut melukiskan bagaimana koefisien transmisi T beru-
bah terhadap lebar tanggul a tersebut.

Bab 6: Keadaan stasioner partikel


164 Potensial tanggul

T
1

4E(EV0)
.
4E(EV0) V02
a/k2
0 /2 3 /2 2 5/2
Gambar 6.8 Variasi koefisien transmisi T terhadap lebar tanggul a

b. Energi Total Kurang Dari V0: Efek Penerowongan


Penyelesaian persamaan Shrdinger bebas waktu di daerah I dan III
sama dengan untuk kasus E > V0. Di daerah II, karena di daerah ini E < V0,
penyelesaiannya seperti penyelesaian di daerah II pada kasus potensial
undak dengan E < V0, yaitu Persamaan (6.6). Untuk kasus yang kita bicara-
kan sekarang, kedua suku pada Persamaan (6.6) tersebut semuanya berhi-
ngga, sebab daerah berlakunya hanya dibatasi dalam interval 0 < x < a.
Dengan demikian penyelesaian umum persamaan Shrdinger bebas
waktu di daerah I, II, dan III adalah sebagai berikut.

I ( x) A1 e i k1 x A2 e i k1 x ; x 0
x x
(6. 29)
II ( x) B1 e B2 e ; 0 x a
III ( x) C1 e i k1x ; xa
dengan

2 mE 2 m (V0 E )
k1 2
dan . (6. 30)
2
Selanjutnya, dengan menerapkan syarat kontinuitas ( x ) dan d ( x ) /dx
di x = 0 diperoleh
A1 + A2 = B1 + B2 (6. 31a)
i k1(A1 A2) = (B1 B2) (6.31b)

Pengantar Fisika Kuantum


Potensial Tanggul 165

dan di x = a diperoleh

B1 e a B2 e a C1 e i k 1 a , (6. 32a)


B1 e a B2 e a i k1 C1 e i k 1 a . (6.32b)
Dari keempat Persamaan (6.31a) sampai (6.32b) di atas diperoleh hubungan

k 2 2 ik 1a
A1 C 1 cosh a i 1 sinh a e
, (6. 33a)
2 k1
2 k 12 ik1 a
A 2 C 1 i sinh a e
, (6.33b)
2 k1
i k1 i k1 a a
B 1 C1 e e , (6.33c)
2

a i k1 i k1 a
B 2 C1 e 1 e . (6.33d)
2
Persamaan (6.33) memberikan batasan untuk nilai A sampai C. Pada
persamaan itu telah ditunjukkan bahwa semua tetapan telah dinyatakan
dalam C1. Dengan menggunakan Persamaan (6.24) tersebut, penyelesaian
umum (Persamaan 6.29) menjadi penyelesaian khusus sebagai berikut.
A1 i k1x A2 i k1x
C1 e e ; x 0
C1 C1
B1 x B 2 x
( x ) C1 e e ; 0 x a (6. 34)
C1 C1
C e i k1 x xa
1

dengan A1/C1, A2/C1, B1/C1, dan B2/C1 berturut-turut mengikuti Persa-


maan 6.33a, 6.33b, 6.33c, dan 6.33d. Gambar 6.9 berikut menyajikan plot
komponen real fungsi eigen, Persamaan (6.34), tersebut.

Bab 6: Keadaan stasioner partikel


166 Potensial tanggul

(x)
V0

X
0 a

Gambar 6.9 Plot komponen real fungsi igen bagi partikel di bawah pe-
ngaruh potensial tanggul kotak, energi total partikel kurang
dari tinggi tanggul (E<V0)

Berikutnya marilah kita hitung besarnya koefisien refleksi dan trans-


misi partikel. Dari Persamaan (6.33a) dan (6.33b) diperoleh koefisien reflek-
si sebesar

R
A2
2

k1 2 2 sinh 2 a
2
, (6. 35)
A1
2 2 2

4 k1 k1 2

2 2 2
sinh k 2 a
dan koefisien transmisi sebesar
2
C1 4 k1 2 2
T . (6. 36)
A1
2 2
4 k1 2
k1 2
sinh
2 2 2
a
Persamaan ini menunjukkan adanya peluang bagi partikel untuk sampai di
daerah III melalui daerah II, suatu daerah yang secara klasik tidak mung-
kin dilewati partikel. Gejala suksesnya partikel menembus daerah yang
secara klasik terlarang ini disebut efek penerowongan (tunneling effect).
Seperti pada kasus E > V0, berdasarkan Persamaan (6.36) tersebut kita
juga mendapati bahwa besarnya koefisien transmisi juga bergantung pada
lebar tanggul, meskipun cara bergantungnya kini secara hiperbolis. Untuk
memudahkan menafsirkan arti fisik Persamaan (6.36) tersebut, kita perha-

Pengantar Fisika Kuantum


Potensial Tanggul 167

tikan kasus di mana nilai sangat besar. Dalam kasus ini, nilai sinha akan
bernilai sangat besar sehingga sumbangan suku pertama pada penyebut
persamaan tersebut dapat diabaikan. Selain itu, pada limit ini nilai fungsi

sinh a 12 e a e a menjadi 21 e a dan k 12 2 2 . Dengan demikian
pada kasus ini koefisien transmisinya sebesar
2m
16 k12 2 a 16 E (V0 E ) 2 a 2 (V0 E )
T e e . (6. 37)
2
V0 2
Ruas terakhir pada persamaan tersebut diperoleh dengan mengisikan
nilai k dan sebagaimana didefinisikan pada Persamaan (6.30). Persama-
an (6.37) menunjukkan bahwa nilai koefisien transmisi berkurang secara
eksponensial terhadap bertambahnya lebar tanggul.
Dalam banyak kasus, nilai memang besar. Ingat bahwa E dan V0 da-
lam orde eV ( 10 J), m dalam orde 10 kg, dan h dalam orde 10 J.s, se-
hingga nilai dalam orde 10/m. Bagi sistem yang energi dan massanya
lebih dari nilai-nilai tadi, nilai akan lebih besar lagi.
Secara kualitatif, kebergantungan peluang penerobosan terhadap lebar
tanggul tersebut dapat dipaparkan sebagai berikut. Fungsi gelombang di
daerah II merupakan kombinasi fungsi-fungsi hiperbolis e x dan e x se-
bagaimana dinyatakan pada baris kedua ruas kanan Persamaan (6.34). Da-
lam persamaan itu, fungsi e x lebih dominan daripada fungsi e x . Se-
bab, berdasarkan Persamaan (6.33 c) dan (6.33d) kita peroleh hubungan
B2 i k 1 2 a
e (6. 38)
B1 i k1

yang menunjukkan bahwa amplitudo fungsi e x (yaitu B2) lebih besar da-
ripada amplitudo fungsi e x (yaitu B1 ). Karena fungsi e x lebih dominan
daripada fungsi e x maka perilaku fungsi gelombang di daerah II ditentu-
kan oleh perilaku fungsi e x . Kehadiran fungsi ini hanya efektif di daerah
x < 1/, sebab untuk x > 1/ amplitudonya dapat diabaikan.
Jika lebar tanggul a kurang dari 1/ maka amplitudo gelombang di te-
pi kanan tanggul masih cukup besar. Akibatnya fungsi gelombang di dae-
rah III juga memiliki amplitudo yang cukup besar. Hal ini berdampak pada
besarnya peluang bagi partikel untuk sampai di daerah III. Sebaliknya, jika
lebar tanggul cukup besar dibandingkan 1/ maka amplitudo gelombang

Bab 6: Keadaan stasioner partikel


168 Potensial tanggul

di tepi kanan tanggul menjadi kecil. Akibatnya fungsi gelombang di daerah


III juga memiliki amplitudo yang kecil. Hal ini berdampak pada kecilnya
peluang bagi partikel untuk sampai di daerah III. Perhatikan Gambar 6.10
berikut.

V0 V0
III III
E E
a a

(a) (b)
Gambar 6.10 Komponen real fungsi eigen partikel di bawah pengaruh potensial
tanggul. Lebar tanggul di gambar (a) kurang dari yang di gambar
(b). Perhatikan amplitudo gelombang di daerah III pada (a) dan (b)

6.4 POTENSIAL SUMUR: KEADAAN TERIKAT

a. Kedalaman Sumur Berhingga


Sekarang kita telaah perilaku partikel yang bergerak di bawah penga-
ruh potensial kotak yang berbentuk sumur seperti dilukiskan pada
Gambar 6.11.

V(x)

a/2 a/2
X
I II III
V ; 1 a x 1 a
V ( x) 0 2 2
V0 0; di x lainnya

Gambar 6.11 Potensial sumur kotak: bernilai nol di luar interval [a/2, a/2]
dan bernilai V0 di dalam interval [a/2, a/2]

Pengantar Fisika Kuantum


Potensial Sumur 169

Telaah kita batasi pada keadaan terikat, artinya gerak partikel dibatasi
pada ruang tertentu. Berdasarkan plot potensial di Gambar 6.11, keadaan
terikat terjadi jika energi total partikel memenuhi ketaksamaan V0 < E < 0.
Dalam hal ini partikel hanya mungkin bergerak di sekitar interval x = a/2
sampai x = a/2. Jika energi partikel lebih dari nol maka partikel dapat
bergerak dari sampai dengan +, dan partikel dikatakan dalam keada-
an bebas.
Persamaan Schrdinger bebas waktu di masing-masing daerah adalah
sebagai berikut. Di daerah I dan III:

d 2 ( x) 2mE
2 ( x) 0 ; 2 . (6. 39)
dx 2 2
Di daerah II:

d 2 ( x) 2m
k 2 II ( x) 0 ; k 2
II
( E V0 ) . (6. 40)
2
dx 2
Penyelesaian umum kedua persamaan tersebut adalah

I ( x) A1 e x A2 e x ; x a / 2 , (6. 41a)

II ( x) B1 e i k x B2 e i k x ; a / 2 x a / 2 , (6.41b)

III ( x ) C1 e x C 2 e x ; x a / 2 . (6.41c)

Agar fungsi eigen yang didapat berhingga di mana-mana maka kita harus
menetapkan A2 = C1 = 0. Selanjutnya, dari syarat kontinuitas di x = a/2 di-
dapatkan hubungan

A1 e a / 2 B1 e i k a / 2 B 2 e ik a/ 2
, (6. 42a)


A1 e a / 2 i k B1 e i k a / 2 B2 e ik a/2
, (6.42b)
dan dari syarat kontinuitas di x = a/2 didapatkan hubungan

B1 e ika/2
B2 e ik a / 2
C 2 e a / 2 , (6. 43a)


i k B1 e ik a/2
B2 e ik a / 2
C 2 e a / 2 . (6.43b)
Dari Persamaan (6.42) didapatkan hubungan

Bab 6: Keadaan stasioner partikel


170 Potensial Sumur

ik i k a / 2 ik
1 B1 e 1 B2 e i k a / 2 0 , (6. 44)

dan dari Persamaan (6.43) didapatkan hubungan

ik ik a/ 2 ik
1 B1 e 1 B2 e i k a / 2 0 . (6. 45)

Akhirnya, dari Persamaan (6.44) dan (6.45) diperoleh hubungan
2
i k
e 2ika . (6. 46)
ik
Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa agar penyelesaian persamaan
Schrdinger memenuhi syarat sebagai fungsi eigen (bernilai berhingga dan
kontinu di mana-mana) maka tetapan dan k harus memenuhi Persamaan
(6.46). Karena kedua tetapan itu bergantung pada E maka ungkapan tadi
juga menunjukkan bahwa energi total partikel tidak boleh sebarang. Seka-
rang marilah kita hitung berapa saja energi yang diijinkan tersebut.
Pesamaan (6.46) memiliki dua penyelesian (akar), yaitu
ik
e ika , (6. 47)
ik
dan
ik
e ika . (6.47b)
ik
Marilah kita uraikan lebih lanjut masing-masing pnyelesaian tersebut.

ik
Untuk e ika .
ik
Ungkapan itu dapat diubah menjadi
i k 1 i / k 1 i / k
e ika e ika ln ika
ik 1 i /k 1 i /k
atau

1 1 i / k ka
ln . (6. 48)
2 i 1 i /k 2

Pengantar Fisika Kuantum


Potensial Sumur 171

1 1 i z
Dengan menggunakan identitas bilangan kompleks ln tan 1 z ,
2i 1 i z
Persamaan (6.48) identik dengan

tan ( 21 ka ) . (6. 49)
k
1
Dengan menggunakan identitas trigonometri cos 2 A 2
, dari Per-
tan A 1
samaan (6.49) diperoleh
k
cos ( 12 ka ) (6. 50)
k0

2 mV0
dengan k 0 k 2 2 . Selanjutnya, karena dan k keduanya po-
2
sitif maka nilai tan(ka/2) juga positif. Dengan demikian Persamaan (6.47b)
identik dengan sistem persamaan
k
cos ( 12 ka ) , (6. 51a)
k0
dan

tan ( 12 ka ) 0 . (6.51b)

Nilai k yang memenuhi sistem Persamaan (6.51) dapat ditemukan secara


grafik atau dengan program numerik berbantuan komputer. Secara grafik,
Ditentukan dengan mencari titik potong antara grafik G(k) k/k0 dengan
grafik F (k ) cos ( 12 ka ) pada daerah di mana tan ( 12 ka ) 0 . Gambar 6.12
menyajikan contoh penyelesaian secara grafik untuk k0 tertentu, yaitu
4 5
k0 . Perhatikan bahwa, dalam contoh ini, terdapat 3 nilai k yang
a a
memenuhi sistem Persamaan (6.51).

Bab 6: Keadaan stasioner partikel


172 Potensial Sumur

tan (ka/2)< 0
1
G(k) = k/k0

F(k) = |cos(ka/2)|

k
0 k1 /a 2/a k3 3/a 4/a k5 k0 5/a

Gambar 6.12a Penyelesaian secara grafik untuk mendapatkan nilai k yang


4 5
memenuhi sistem Persamaan (6.51) untuk k0
a a

ik
Untuk e ika
ik
Dengan prosedur seperti sebelumnya dapat ditunjukkan bahwa persamaan
ik
e ika identik dengan sistem persamaan
ik
k
sin ( 12 ka ) , (6. 52a)
k0

dan

tan ( 12 ka ) 0 . (6.52b)

Penyelesaian secara grafik dilakukan dengan mencari titik potong antara


k
grafik k/k0 dan grafik sin ( 12 ka ) di daerah di mana tan ( 12 ka ) 0 . Un-
k o
tuk k0 yang digunakan pada Gambar 6.12a terdapat 2 nilai k seperti ditun-
jukkan pada Gambar 6.12b berikut.

Pengantar Fisika Kuantum


Potensial Sumur 173

tan (ka/2)< 0
1

G(k) = k/k0

F(k) =|sin (ka/2)|

k2 2 /a k4 k
0 /a 3 /a 4/a k0 5/a

Gambar 6.12b Penyelesaian secara grafik untuk mendapatkan nilai k yang


4 5
memenuhi sistem Persamaan (6.52) untuk k0
a a

Berdasarkan analisis secara grafik tadi terlihat bahwa terdapat 5 nilai k


(yang berarti juga nilai E) yang diizinkan jika nilai k berada dalam interval
4 5
k0 .
a a
Gambar 6.13 berikut melukiskan contoh diagram tingkat energi beserta
fungsi eigen untuk dua keadaan terendah pertama.

a/2 a/2
-a/2
a/2
(c)

-a/2 a/2
(a) (b)

Gambar 6.13 (a) Diagram tingkat energi, (b) Komponen real fungsi eigen
untuk keadaan berenergi terendah pertama, (c) Komponen
real fungsi eigen untuk keadaan berenergi terendah kedua.

Bab 6: Keadaan stasioner partikel


174 Potensial Sumur

Pada contoh tadi terdapat 5 tingkat energi. Pertanyaan yang pantas


diajukan adalah: besaran apakah yang menentukan cacah tingkat energi
pada partikel terikat dalam sumur potensial kotak? Untuk menjawab
pertanyaan ini, perhatikan Gambar 12 (a dan b). Menurut gambar itu, ada
dua hal yang menentukan cacah titik potong, yaitu gradien (kelandaian)
garis G(k) = k/k0 dan ukuran lebar sumur a.
Pada gambar tersebut ditunjukkan bahwa semakin landai (semakin ke-
cil gradien) garis G(k) = k/k0 semakin banyak titik potong yang terjadi. Ini
berarti semakin banyak pula tingkat energinya. Karena gradien garis itu
1 2
adalah berarti semakin besar V0 (semakin dalam sumur) se-
k0 2 mV0
makin landai garis itu. Dengan kata lain, semakin besar V0 semakin banyak
cacah tingkat energi.
Bagaimana pengaruh lebar sumur? Berdasarkan Gambar 12 (a) dan (b)
terlihat bahwa semakin besar a semakin cepat pengulangan fungsi F(k). Ini
berarti semakin banyak titik potong. Dengan kata lain semakin lebar sumur
semakin banyak tingkat energinya.
Gambar 6.14 berikut memperjelas uraian tersebut. Gambar (a) dan (b)
berbeda dalam hal lebar sumur tetapi sama dalam hal kedalaman sumur.
Terlihat bahwa cacah tingkat energi pada Gambar (b) lebih banyak dari-
pada pada Gambar (a). Gambar (c) dan (d) berbeda dalam hal kedalaman
sumur tetapi sama dalam hal lebar sumur. Terlihat bahwa cacah tingkat
energi pada Gambar (d) ebih banyak daripada pada Gambar (c).

Gambar 6.14 Kebergantungan cacah tingkat energi terhadap lebar sumur a


dan kedalaman sumur V0

Pengantar Fisika Kuantum


Potensial Sumur 175

b. Kedalaman Sumur Tak Berhingga


Jika V(x) bernilai nol dalam interval 0 < x < a dan tak berhingga di luar
interval itu maka partikel praktis hanya dapat bergerak di dalam interval
itu. Coba jelaskan mengapa demikian! Di dalam sumur, penyelesaian per-
samaan Schrdinger bebas waktu berbentuk

( x ) A e ikx B e ikx , (6. 53)

2 mE
dengan k . Penyelesaian di luar sumur harus memiliki amplitudo
2
nol sebab potensial di luar sumur tak berhingga besar. Dengan demikian
Persamaan (6.53) juga harus bernilai nol di x = 0 dan x = a.
Agar (0) = 0 maka A = B. Dengan demikian fungsi eigen (Persamaan
6.53) menjadi
( x ) N sin kx , (6. 54)

dengan N i2A. Selanjutnya agar (a) = 0 maka harus dipenuhi hubungan


n
k , (6. 55)
a
dengan n merupakan bilangan asli (1, 2, 3 .). Nilai N dapat ditentukan
dengan menormalkan (x), hasilnya adalah 2 / a . Akhirnya, dengan me-
masukkan Persamaan (6.55) ke dalam Persamaan (6.54) diperoleh fungsi
eigen

2 n x
n ( x) sin . (6. 56)
a a
Indeks n digunakan untuk membedakan suatu fungsi eigen dengan
fungsi eigen lainnya. Setiap fungsi eigen itu menyatakan keadaan partikel
saat energinya sebesar
n 2 2 2
En , (6. 57)
2ma 2
yang diperoleh dengan mengisikan Persamaan (6.55) ke dalam definisi
2 mE
k . Indeks n tadi juga untuk menandai keadaan kuantum partikel.
2
Jika n = 1, dikatakan dalam keadaan dasar (ground state), dan jika n = m >1
dikatakan dalam keadaan tereksitasi tingkat m.

Bab 6: Keadaan stasioner partikel


176 Rangkumam

RANGKUMAN

1. Potensial kotak didefinisikan sebagai potensial yang nilainya berubah


dari suatu konstanta dalam suatu interval tertentu ke konstanta lain
dalam interval lainnya. Jika perubahan itu terjadi hanya sekali disebut
potensial undak, jika berubah dua kali disebut potensial tanggul atau
potensial sumur, bergantung pada bentuknya. Potensial kotak meru-
pakan penghampiran dari potensial fisis yang memiliki sifat: (1) ber-
nilai konstan dalam interval tertentu, dan (2) berubah secara sangat
cepat di sekitar titik tertentu.
2. Untuk potensial undak, persamaan Schrdinger bebas waktu berben-
d 2 ( x ) 2m
tuk k 2 ( x) 0 dengan k 2 2 (E V ) merupakan konstan-
dx 2
ta positif, atau

d 2 ( x ) 2m
2 ( x) 0 dengan 2 (V E) merupakan konstanta
dx 2 2
positif.
Penyelesaian umum kasus pertama adalah

( x) A e ik x B e i k x atau ( x) A sin k x B cos k x


sedangkan penyelesaian umum kasus kedua adalah

( x) A e x B e x atau ( x) A sinh x B cosh x


dengan A dan B merupakan tetapan integrasi.
Penyelesaian khusus persamaan Schrdinger bebas waktu diperoleh
dengan menerapkan syarat kontinuitas dan keberhinggaan fungsi (x)
beserta derivatif pertamanya terhadap x.
3. Penerapan persamaan Schrdinger pada kasus potensial undak yang
tingginya kurang dari energi total partikel menghasilkan kesimpulan bah-
wa ada peluang bagi partikel untuk dipantulkan. Menurut tinjauan
klasik, seharusnya partikel tidak mungkin dipantulkan.
4. Penerapan persamaan Schrdinger pada kasus potensial undak yang
tingginya lebih dari energi total partikel menghasilkan kesimpulan bahwa
ada peluang untuk menemukan partikel di daerah yang secara klasik
tidak mungkin ditempati partikel. Namun demikian peluang partikel
dipantulkan adalah 1, artinya partikel pasti dipantulkan.

Pengantar Fisika Kuantum


Rangkumam 177

5. Penerapan persamaan Schrdinger pada kasus potensial tanggul yang


tingginya lebih dari energi total partikel menghasilkan kesimpulan bahwa
ada peluang bagi partikel untuk lolos menerowong tanggul. Gejala ini
dikenal sebagai efek penerowongan (tunneling effect).
6. Penerapan persamaan Schrdinger pada kasus potensial tanggul yang
tingginya kurang dari energi total partikel menghasilkan kesimpulan bah-
wa peluang partikel diteruskan bergantung secara periodik terhadap
lebar tanggul. Pada lebar tangggul tertentu, peluang partikel diterus-
kan adalah 1. Gejala ini disebut resonansi transmisi.
7. Penerapan persamaan Schrdinger pada kasus partikel terikat pada po-
tensial sumur kotak yang kedalamannya berhingga menghasilkan kesim-
pulan bahwa energi partikel terkuantumkan. Banyaknya tingkat energi
bergantung pada kedalaman sumur dan lebar sumur. Semakin lebar
sumur semakin banyak cacah tingkat energi itu. Semakin dalam sumur
semakin banyak cacah tingkat energi itu.
8. Penerapan persamaan Schrdinger pada kasus partikel terikat pada
potensial sumur kotak yang kedalamannya tak berhingga menghasilkan ke-
simpulan bahwa energi partikel harus memenuhi hubungan
n 2 2 2
En dengan n = 1, 2, 3 , dan a menyatakan lebar sumur.
2ma 2
9. Fungsi eigen yang berkaitan dengan masing-masing energi En tersebut
2 n x
adalah n ( x) sin .
a a

PERLATIHAN

Pertanyaan Konsep
1. Jelaskan mengapa fungsi eigen berupa fungsi harmonis di daerah di
mana V(x) = V0 < E, dan berupa fungsi hiperbolis di daerah di mana
V(x) = V0 > E.
2. Jelaskan mengapa kita harus membuang fungsi yang berbentuk e x ,
dengan sebarang bilangan real positif, di daerah yang memuat x =
dan juga membuang fungsi yang berbentuk e x di daerah yang me-
muat x = + .

Bab 6: Keadaan stasioner partikel


178 Perlatihan

3. Menurut fisika klasik, partikel tidak mungkin berada di daerah di mana


V(x) > E; sedangkan menurut fisika kuantum masih ada peluang untuk
mendapatkan partikel di tempat itu. Bagaimana pendapat Anda ten-
tang hal itu?
4. Ketika partikel menembus suatu daerah yang secara klasik dilarang, (a)
tepatkah jika kita katakan bahwa pada saat itu partikel memiliki energi
kinetik negatif? (b) tepatkah jika kita katakan bahwa pada saat itu parti-
kel kehilangan sifat kepartikelannya?
5. Perhatikan penyelesaian persamaan Schrdinger bebas waktu untuk
partikel yang bergerak di bawah pengaruh potensial undak yang ting-
ginya V0 > E. Dalam kasus ini ternyata koefisien refleksinya sebesar 1,
tetapi fungsi glombang di daerah di mana V(x) = V0 tidak beramplitudo
nol. Jelaskan bagaimana keberadaan partikel di daerah tersebut!
6. Apakah ada tafsiran probabilistik tentang koefisien transmisi dan koefi-
sien refleksi (pantulan). ?Jika ada, bagaimana tafsiran itu?
7. Andaikan koefisien transmisi partikel yang bergerak di bawah penga-
ruh potensial undak adalah 0,6. (a)Apa yang dapat Anda simpulkan
tentang perkiraan energi total partikel dibandingkan dengan tinggi un-
dakan potensial? (b) Jika ada 1000 partikel identik datang pada poten-
sial itu, tafsirkan berapa banyak partikel yang dipantulkan dan berapa
banyak partikel yang diteruskan!
8. Gambar berikut adalah plot komponen real fungsi eigen bagi partikel
yang bergerak di bawah
pengaruh potensial
tanggul yang tingginya E
V0
kurang dari energi total
partikel. Perhatikan
gelombang di daerah I, II,
dan III. Bagaimana I II III
perbandingan periode
gelombang di ketiga
daerah itu? Mengapa
demikian?
9. Berdasarkan gambar pada pertanyaan 8 di atas, bandingkan besarnya
momentum partikel di ketiga daerah itu! Jelaskan temuan Anda berda-
sarkan hukum kekekalan energi.
10. Amatilah analisis penghitungan energi partikel yang terikat dalam po-
tensial sumur kotak, baik yang kedalamannya berhingga maupun tidak
berhingga, sebagaimana diuraikan dalam naskah. (a) Dengan meng-

Pengantar Fisika Kuantum


Perlatihan 179

amati sederetan energi yang mungkin dimiliki partikel, bagaimana nilai


terendah energi total partikel dibandingkan dengan nilai minimum dari
V(x)? (b) Jelaskan secara kualitatif bahwa tidak mungkin energi partikel
kurang dari atau sama dengan nilai minimum dari V(x) tersebut.

Pertanyaan Analisis
1. Jika E dan V0 dinyatakan dalam satuan elektron-volt (eV), tunjukkan
bahwa jarak penembusan elektron dan proton (massa proton kira-kira
1840 massa elektron) ke dalam daerah yang secara klasik terlarang ada-
lah:
1, 96
untuk elektron: x A dan
V0 E
1, 96
untuk proton: x A
1840 V0 E
2. Sebuah elektron dan sebuah proton, masing-masing berenergi 1 eV,
mencoba menembus potensial undak yang tingginya 2 eV. Perkirakan
jarak penembusan masing-masing partikel tersebut.
3. Sebuah proton dan sebuah deutron mencoba menembus potensial tang-
gul yang tingginya 10 MeV dan tebalnya 10 m. Jika masing-masing
partikel tersebut memiliki energi yang sama, misalnya 3 MeV, (a) jelas-
kan partikel mana yang lebih berpeluang sukses menembus tanggul
tersebut! (b) Hitung peluang kesuksesan masing-masing!
4. Elektron yang berenergi 2 eV bergerak ke kanan dari x < 0 melalui po-
tensial: V(x) = 1 eV di 0 < x < x0 dan nol di tempat lainnya. Tentukan (a)
momentum linear elektron di: (i) x < 0, (ii) 0 < x < x0, dan (iii) x > x0; (b)
nilai x0 agar elektron pasti diteruskan sampai di x > x0, (c) peluang mi-
nimum elektron diteruskan sampai x > x0.
5. Perhatikan penyelesaian secara grafik untuk mendapatkan energi parti-
kel terikat dalam sumur potensial kotak sebagaimana diuraikan dalam
naskah. Lebih khusus, amati Gambar 6.12. Berdasarkan gambar itu, (a):
tentukan besaran yang menentukan cacah tingkat energi partikel. (b)
untuk lebar sumur tertentu, bagaimana pengaruh kedalaman sumur
terhadap cacah tingkat energi? (c) untuk kedalaman sumur tertentu,
bagaimana pengaruh lebar sumur terhadap cacah tingkat energi? (d)
22
jika V0 , berapa cacah tingkat energi partikel?
2ma 2

Bab 6: Keadaan stasioner partikel


180 Perlatihan

6. Berdasarkan Gambar 6.12, (a) tentukan cacah tingkat energi untuk nilai-
nilai k0 berikut: (i) /a k0< 2/a, (ii) 2/a k0< 3/a, (iii) 3/a k0< 4/a.
(b) Berdasar jawaban Anda pada pertanyaan (a) tadi, jelaskan bagai-
mana kebergantungan cacah tingkat energi partikel terhadap k0. (c) Per-
hatikan bahwa jika k0 sangat besar maka garis G(k) = k/k0 hampir men-
datar sehingga absis titik-titik potong antara G(k) dan F(k) hampir sama
dengan n/a dengan n = 1, 2, 3, , dst. Tunjukkan bahwa, dalam hal

ini, energi partikel memenuhi hubungan E n


n 2
V0 .
2 ma 2
7. Dapatkan, secara grafik, tingkat-tingkat energi yang mungkin dimiliki
partikel yang bermassa m dan terikat dalam sumur potensial
6 2
2
; x a
ma
V( x )
0 ; x a


(Petunjuk: nyatakan fungsi eigen di dalam sumur sebagai fungsi sinus
(paritas ganjil) dan fungsi cosinus (paritas genap) kemudian dapatkan
tingkat-tingkat energi untuk masing-masing paritas itu).
8. Perhatikan pasangan fungsi eigen dan nilai eigen partikel dalam poten-
sial sumur sebagaimana dinyatakan pada Persamaan (6.56) dan (6.57).
Tunjukkan bahwa fungsi-fungsi eigen tersebut saling ortonormal. (Pe-
tunjuk: selidiki bahwa antar-fungsi eigen tersebut memenuhi hubungan
n , m 0 jika n m dan bernilai 1 jika n=m)
9. Berdasarkan soal nomor 8 tersebut, jika sebarang fungsi (x ) dapat di-
nyatakan dalam fungsi eigen tersebut melalui hubungan
( x ) i c i i ( x ) ,
2 2
tunjukkan bahwa i , c i , dan i c i .
10. Jika energi terendah partikel terikat dalam potensial sumur yang sangat
dalam sebesar 4 eV, berapa energi partikel itu jika dalam keadaan ter-
eksitasi tingkat 5?
11. Elektron yang berenergi total 3,1 eV mencoba menerowong potensial
tanggul yang tingginya 6 eV dan tebalnya 10 m. (a) Untuk menghi-
tung koefisien transmisi pada kasus ini, dapatkah kita menggunakan
Persamaan (6.37)? (b) Jika dapat, berapa besarnya koefisien transmisi
itu?

Pengantar Fisika Kuantum


Perlatihan 181

tafsiran probabilistik 178


E koefisien transmisi
efek penerowongan 166 pada potensial undak 159
Koefisien transmisi
G definisi 159
pada potensial tanggul 163
gelombang sekejab (evanescent pada potensial undak 159
wave) 155 tafsiran probabilistik 178
J L
Jarak penembusan skin depth 156 Tingkat energi
potensial sumur 174
K
Keadaan dasar 175 O
Keadaan kuantum 175 Ortonormal 180
Keadaan stasioner
dalam potensial kotak 14975 R
Keadaan tereksitasi 175
Koefisien refleksi Rapat arus peluang 159
definisi 156 Resonansi transmisi 161
pada potensial tanggul 163
pada potensial undak 156, 159

Bab 6: Keadaan stasioner partikel


BAB 7

OSILATOR HARMONIS

Pada Bab 6 kita telah berlatih menggunakan persamaan Schrdinger bebas


waktu untuk sistem yang potensialnya sangat sederhana, yaitu berupa su-
atu konstanta dalam interval tertentu dan konstanta lain dalam interval la-
innya. Pada bab ini kita akan berlatih menggunakan persamaan Schrdi-
nger untuk sistem yang potensialnya tidak lagi berupa suatu konstanta,
namun masih cukup mudah diselesaikan secara analitik. Sistem yang kita
maksud adalah osilator harmonis sederhana (simple harmonic oscillator).
Osilator harmonis adalah suatu entitas fisis yang memiliki energi po-
tensial
1
V ( x) k x 2 (7. 1)
2
dengan k suatu konstanta (biasanya disebut konstanta pegas), dan x me-
nyatakan posisi partikel terhadap kedudukan setimbangnya. Entitas seperti
itu akan bergerak secara harmonis dengan frekuensi k / m dengan m
menyatakan massa (inersial) partikel.
Ada beberapa alasan pentingnya membahas osilator harmonis secara
kuantum, antara lain sebagai berikut.
Osilator harmonis merupakan penghampiran (pendekatan) yang sa-
ngat wajar bagi gerakan sebarang benda di sekitar posisi setimbang-
nya, yaitu posisi di mana potensial partikel bernilai minimum.
Perilaku sebagian besar sistem fisis kontinu, seperti getaran atom-atom
pada medium kontinu (misalnya dinamika fonon dalam kristal, dan
perambatan bunyi dalam zat padat maupun zat cair); dan medan elek-
tromagnet dalam rongga, dapat dideskripsikan dengan teori osilator
harmonis.

Sutopo Pengantar Fisika Kuantum 181


182 Tinjauan klasik

Osilator harmonis memainkan peran penting dalam pendeskripsian


suatu himpunan partikel identik yang secara kuantum semuanya me-
miliki keadaan yang sama. Kita akan melihat bahwa tingkat-tingkat
energi osilator harmonis terpisah secara seragam: beda antartingkat
energi yang berurutan selalu sama yaitu sebesar . Osilator yang
berenergi n , dengan n bilangan bulat, dapat kita pandang sebagai
sekumpulan n buah partikel identik yang masing-masing memiliki
energi .
Prosedur penyelesaian persamaan nilai-eigen osilator harmonis mem-
beri kita suatu ilustrasi bagaimana mendapatkan nilai-nilai eigen de-
ngan memanfaatkan perilaku yang harus dipenuhi oleh fungsi eigen di
tempat yang sangat jauh (di x ).
Postulat Planck tentang pengkuantuman energi osilator harmonis telah
mengantarkan lahirnya fisika kuantum di mana persamaan Schrdi-
nger sebagai alat utamanya. Kita akan melihat bahwa penerapan per-
samaan Schrdinger pada osilator harmonis akan menghasilkan ke-
simpulan yang sama dengan yang dipostulatkan oleh Planck. Ini me-
nunjukkan kepada kita betapa kokohnya metode yang dikembangkan
dalam fisika kuantum.

7.1 TINJAUAN KLASIK

Secara klasik, persamaan gerak osilator harmonis mengikuti hukum


Newton:
d2 x
F m (7. 2)
dt 2
Karena osilator harmonis merupakan sistem konservatif maka gaya F da-
lam persamaan di atas dapat diturunan dari energi potensialnya. Untuk
osilator harmonis kita dapatkan
dV d
F (1 / 2 kx 2 ) kx . (7. 3)
dx dx
Dengan demikian Persamaan (6.2) menjadi

d2 x
m kx 0 . (7. 4)
dt 2
Penyelesaian persamaan tersebut adalah

Pengantar Fisika Kuantum


Tinjauan klasik 183

x(t ) A sin( t ) , (7. 5)

dengan A menyatakan tetapan, biasanya dipilih sebagi amplitudo osilasi,


dan k /m .
Berdasarkan Persamaan (7.5) kita dapat merumuskan energi osilator
harmonis pada sebarang t sebagai berikut.
Energi kinetik osilator pada sebarang waktu t adalah
2
1 1 dx 1
T (t ) m v 2 m m 2 A 2 cos 2 ( t ) . (7. 6)
2 2 dt 2
Energi potensial osilator pada sebarang waktu t adalah
1 2 1
V (t ) k x ( t ) m 2 A 2 sin 2 ( t ) . (7. 7)
2 2
Energi total osilator pada sebarang waktu t adalah
1
E( t ) T( t ) V(t ) m 2 A 2 . (7. 8)
2
Ternyata energi total sistem tidak bergantung waktu. Dengan kata lain,
energi total osilator harmonis adalah konstan. Ini sesuai dengan kenyataan
bahwa osilator harmonis merupakan sistem konservatif.
Untuk osilator tertentu, artinya massa dan konstanta pegasnya terten-
tu, Persamaan (7.8) menunjukkan bahwa energi total osilator harmonis ha-
nya bergantung pada amplitudo osilasi A. Karena A dapat bernilai seba-
rang, artinya berapapun amplitudo yang diberikan sistem tetap berosilasi,
maka energi total osilator harmonis dapat memiliki nilai sebarang, dari nol
sampai takhingga, bergantung nilai amplitudonya. Inilah kesimpulan pen-
ting dari analisis secara klasik. Kita akan melihat bahwa kesimpulan ini
akan dikoreksi oleh fisika kuantum.

7.2 PERSAMAAN SCHRDINGER

Karena energi potensial osilator harmonis secara eksplisit hanya ber-


gantung pada posisi x, lihat Persamaan 7.1, maka kepadanya berlaku per-
samaan Schrdinger bebas waktu.
Persamaan Schrdinger bebas waktu osilator harmonis dapat ditulis
dalam bentuk

Bab 7: Osilator Harmonis


184 Persamaan Schrdinger

2
d 2 ( x) 2mE m 2
2
2 ( x ) x ( x) 0 . (7. 9)
dx
Persamaan tersebut dapat disederhanakan dengan mendefinisikan va-
riabel-variabel tak berdimensi dan sebagai berikut.
x (7. 10)

dengan suatu tetapan yang dimensinya berbalikan dengan posisi x.


E0 E (7. 11)

dengan E0 suatu tetapan yang dimensinya berbalikan dengan dimensi ener-


gi E.
Subtitusi Persamaan (7.10) dan (7.11) ke dalam Persamaan (7.9) dipero-
leh
2
d 2 ( ) 2 m m 2
( ) ( ) 0 . (7. 12)
d 2 2
E0 2
2
Jika tetapan-tetapan E0 dan masing-masing diberi nilai

m
(7. 13)

dan
2
E0 (7. 14)

maka Persamaan (7.12) menjadi

d 2 ( )
( 2 ) ( ) 0 . (7. 15)
2
d
Persamaan (7.15) merupakan persamaan Schrdinger bebas waktu osi-
lator harmonis yang akan kita pecahkan selanjutnya. Bandingkan persama-
an hasil modifikasi ini dengan persamaan semula, yaitu Persamaan (7.9).
Dalam Persamaan (7.9), variabel x dan E merupakan variabel berdimensi;
sedangkan dalam Persamaan (7.15), variabel dan parameter semuanya
tidak berdimensi.
Dengan menggunakan nilai tetapan pada Persamaan (7.13) dan (7.14)
maka variabel dan parameter yang didefinisikan di Persamaan (7.10)
dan (7.11) tadi masing-masing menjadi

Pengantar Fisika Kuantum


Persamaan Schrdinger 185

m
x (7. 16)

dan
2
E. (7. 17)

Selanjutnya, persamaan Schrdinger osilator harmonis yang akan kita pe-


cahkan adalah yang dinyatakan dalam Persamaan (7.15). Tentu saja untuk
menafsirkan secara fisik berbagai kesimpulan yang didapatkan kita harus
mengolahnya kembali. Untuk mendapatkan E kita harus mengolahnya dari
dengan menggunakan Persamaan (7.17), seagai contoh lihat Persamaan
(7.32). Demikian juga jika kita ingin mendapatkan fungsi eigen dalam x,
yaitu (x) kita harus mengolahnya dari (). Bagaimana cara mendapat-
kan (x) dari () akan diuraikan kemudian di bagian lain bab ini.
Marilah kita telaah lebih lanjut persamaan Schrdinger sebagaimana
dinyatakan pada Persamaan (7.15) di depan. Perlu diingat bahwa persa-
maan tersebut merupakan persamaan nilai-eigen bagi hamiltonan (energi
total) osilator harmonis. Fungsi () disebut fungsi eigen dan parameter
disebut nilai eigen. Selanjutnya, kita fokuskan telaah kita pada fungsi eigen
dan nilai eigen tersebut.

7.3 PENYELESAIAN PERSAMAAN SCHRDINGER

Untuk menyelesaikan Persamaan (7.15) kita gunakan kenyataan bah-


wa gerakan osilator adalah terbatas di sekitar titik setimbangnya. Ini berarti
bahwa peluang kehadiran partikel di x haruslah nol. Kesimpulan
ini memberi petunjuk bahwa ( x ) 0 , atau setara dengan pernyata-
an bahwa ( ) 0 .
Kita andaikan bahwa ( ) dapat dinyatakan sebagai perkalian dua
fungsi F ( ) dan H ( ), yaitu:
( ) F ( ) H ( ) . (7. 18)
Bentuk kedua fungsi itu haruslah sedemikian rupa sehingga dipenuhi per-
syaratan ( ) 0 . Dengan demikian, kedua fungsi itu juga harus nol
di meskipun kecepatannya menuju nol tidak harus sama.

Bab 7: Osilator Harmonis


186 Penyelesaian persamaan Schrdinger

Jika F( ) kita pilih lebih cepat menuju nol dibandingkan H( ), maka


perilaku ( ) di lebih banyak ditentukan oleh F( ) . Jika pilihan
ini yang kita ambil maka di Persamaan (7.15) menjadi

d 2 F( )
( 2 ) F ( ) 0 . (7. 19)
d 2


Karena pada berlaku 2 2 maka Persamaan (7.19) dapat
disederhanakan lagi menjadi
d 2 F( )
2 F ( ) . (7. 20)
d 2
2
Penyelesaian persamaan itu berbentuk F( ) e c dengan c merupakan
suatu tetapan yang nilainya dapat ditentukan sebagai berikut. Subtitusi
2
F ( ) e c ke Persamaan (7.20) menghasilkan

2c (1 2c 2 ) 2 . (7. 21)

Karena pada limit berlaku 1 2c 2 2 c 2 maka Persamaan


(7.21) setara dengan ungkapan
1
4c 2 2 2 c . (7. 22)
2
Kita tidak mungkin menggunakan nilai c = , sebab hal ini menyebabkan
F ( ) bernilai tak hingga di . Dengan demikian hanya nilai c =+
yang akan kita gunakan.
Dengan nilai c tersebut maka kita dapatkan bentuk akhir dari F ( )
sebagai
1
2
F ( ) e 2 (7. 23)
Selanjutnya, fungsi H ( ) dapat kita temukan dengan cara sebagai be-
rikut. Subtitusi Persamaan (7.23) ke dalam (7.18), kemudian hasilnya disub-
titusikan ke dalam Persamaan (7.15), akan menghasilkan persamaan
d 2 H( ) dH( )
2 ( 1 ) H ( ) 0 . (7. 24)
d 2 d

Pengantar Fisika Kuantum


Penyelesaian persamaan Schrdinger 187

Jadi H( ) harus memenuhi Persamaan (7.24) dengan syarat tambahan ha-


rus bernilai nol di .
Persamaan (7.24) dapat diselesaikan dengan metode deret sebagai be-
rikut. Andaikan H ( ) dinyatakan dalam bentuk deret pangkat

j
H( ) a j (7. 25)
j 0

maka
d
H( ) a 1 2 a 2 3 a 3 2
..... j 1a j 1 j
d j0

sehingga
d H( )
j 1

j
2 2 ( j 1) a j 1 2 j aj (7. 26)
d j 0 j 0

dan
d2 2
H( ) 2 a 2 3 2 a 3 4 3 a 4 .....
d 2
(7. 27)

( j 2)( j 1) a j 2 j .
j 0

Subtitusi Persamaan (7.25 s.d 7.27) ke dalam Persamaan (7.24) mengha-


silkan

( j 1)( j 2 ) a j 2 j 2 j a j j ( 1) a j j 0 ,
j0 j0 j 0

atau

( j 1)( j 2) a j 2 2 j 1 a j j 0 . (7. 28)
j0

Agar Persamaan (7.28) berlaku untuk semua j maka harus dipenuhi hu-
bungan
2 j 1
a j 2 aj (7. 29)
( j 1)( j 2)

Persamaan (7.29) memberikan resep hubungan antarkoefisien dalam deret


pangkat pada H( ) agar fungsi H( ) tersebut memenuhi Persamaan (7.24).
Dengan demikian, penyelesaian umum Persamaan (7.15) adalah

Bab 7: Osilator Harmonis


188 Penyelesaian persamaan Schrdinger

1
2
( ) H( ) e 2 , (7. 30)

dengan H ( ) berupa polinom (deret pangkat) yang hubungan antar-koefi-


sien sukunya mengikuti Persamaan (7.29).

7.3.1 Nilai Eigen


Ada beberapa hal penting yang dapat dikemukakan dari penyelesaian
persamaan Schrdinger di atas.
1. Persamaan (7.29) menghubungkan koefisien suku berpangkat genap
dengan koefisien suku berpangkat genap berikutnya, atau antara koe-
fisien suku berpangkat ganjil dengan koefisien suku berpangkat ganjil
berikutnya. Jadi, antara koefisien suku berpangkat ganjil dan koefisien
suku berpangkat genap tidak ada hubungan sama sekali.
2. Koefisien suku berpangkat genap, yaitu aj dengan j bilangan genap, se-
muanya dapat dihubungkan dengan a0. Jadi jika a0 = 0 maka semua
koefisien suku berpangkat genap bernilai nol. Berarti H ( ) merupakan
deret berpangkat ganjil dan H( ) bersifat sebagai fungsi ganjil. Karena
F( ) merupakan fungsi genap maka fungsi eigen ( ) merupakan
fungsi ganjil. Dalam hal ini ( ) disebut fungsi eigen varitas ganjil.
3. Koefisien suku berpangkat ganjil, yaitu aj dengan j bilangan ganjil, se-
muanya dapat dihubungkan dengan a. Jadi jika a = 0 maka semua ko-
efisien suku berpangkat ganjil bernilai nol dan H ( ) merupakan deret
berpangkat genap. Akibatnya ( ) merupakan fungsi genap dan
selanjutnya disebut fungsi eigen varitas genap.
4. Dalam setiap varitas, fungsi H ( ) merupakan deret divergen. Oleh ka-
rena itu harus dihentikan sampai suku tertentu agar menghasilkan
( ) yang bernilai nol di . Prosedur penghentiannya diurai-
kan pada butir-butir berikut.
5. Untuk menghentikan deret sampai suku tertentu, misalnya suku yang
memuat n, maka kita harus menetapkan aj = 0 untuk j > n. Hal ini
dapat kita lakukan dengan membuat koefisien aj+2 = 0 untuk j = n. Jadi,
berdasarkan Persamaan (7.29), agar deret berhenti di suku n, maka
harus dipenuhi hubungan
2n 1 n
a n 2 an 0 ,
(n 1)( n 2)
atau

Pengantar Fisika Kuantum


Penyelesaian persamaan Schrdinger 189

2n + 1 = n. (7. 31)
Indeks n perlu kita bubuhkan pada sebab untuk memenuhi hubung-
an 2n+1 = maka nilai harus disesuaikan dengan nilai n.
6. Berdasarkan catatan nomor 2 dan 3 di depan, Persamaan (7.31) hanya
dapat menghentikan salah satu dari deret yang berpangkat ganjil saja
atau deret yang berpangkat genap saja; jadi tidak dapat menghentikan
keduanya sekaligus. Jika n merupakan bilangan genap, maka deret
yang dapat dihentikan dengan persamaan itu adalah deret yang ber-
pangkat genap. Sebaliknya jika n merupakan bilangan ganjil, deret
yang dapat dihentikan adalah deret yang berpangkat ganjil. Oleh se-
bab itu untuk menjamin agar ( ) bernilai nol di kita guna-
kan ketentuan tambahan: jika n genap maka a harus diberi nilai nol
sehingga semua koefisien berpangkat ganjil pada H ( ) bernilai nol;
sebaliknya jika n ganjil maka a harus diberi nilai nol sehingga semua
koefisien berpangkat genap pada H ( ) bernilai nol.

Marilah kita telaah lebih lanjut ungkapan dalam Persamaan (7.31).


Berdasarkan persamaan itu, agar ( ) berhingga maka parameter tidak
boleh bernilai sebarang, melainkan harus memenuhi hubungan n = 2n+1
dengan n sebarang bilangan cacah (0, 1, 2, ). Subtitusi nilai ke dalam
Persamaan (7.17) menghasilkan ungkapan
1
En n n (7. 32)
2 2
Persamaan (7.32) menunjukkan bahwa energi total osilator harmonis
yang berfrekuensi anguler tidak boleh sebarang, melainkan harus meru-
pakan kelipatan bulat (tepatnya kelipatan ganjil) dari . Kesimpulan ini
berbeda dengan kesimpulan klasik yang menyatakan bahwa energi osilator
dapat bernilai sebarang. Perhatikan pula bahwa energi terendahnya bukan
nol, melainkan di atas nilai terendah energi potensialnya, yaitu . .
Gambar 7.1 berikut menyajikan diagram tingkat energi yang diijinkan
pada osilator harmonis. Plot fungsi potensialnya juga ditunjukkan.

6 V(x)
5
4
Bab 7: Osilator Harmonis
3
2
1

Gambar 7.1 Plot energi potensial dan tingkat energi osilator harmonis.
190 Penyelesaian persamaan Schrdinger

7.3.2 Fungsi eigen


Berdasarkan Persamaan (7.29) sampai (7.31) dapat disimpulkan bahwa
setiap nilai n tertentu akan menghasilkan fungsi ( ) yang tertentu pula.
Selanjutnya, fungsi ( ) yang diasosiasikan dengan nilai n tertentu ter-
sebut kita lambangi dengan n ( ) . Mengingat adanya keterkaitan yang sa-
ngat erat antara n dan n ( ) , maka akan lebih menguntungkan jika Persa-
maan (7.15) kita modifikasi menjadi

d 2 n ( )
( n 2 ) n ( ) 0 . (7. 33)
2
d

Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa n dan n ( ) merupakan pa-


sangan antara fungsi eigen dan nilai eigen, yaitu n merupakan nilai eigen
dan n ( ) merupakan fungsi eigen. Untuk memperjelas pernyataan itu,
perhatikan contoh-contoh berikut.

Contoh Soal 7.1


Dapatkan fungsi eigen osilator harmonis yang memiliki energi
total .
Analisis
Berdasarkan Persamaan (7.32), energi tersebut bersesuaian dengan
nilai n = 0. Karena n merupakan bilangan genap, maka berdasar-

Pengantar Fisika Kuantum


Penyelesaian persamaan Schrdinger 191

kan catatan nomor 6 di depan, a1 harus kita beri nilai nol sehingga
semua koefisien suku berpangkat ganjil bernilai nol. Selanjutnya,
berdasarkan Persamaan (7.31), jika n = 0 maka = 1. Dengan me-
ngetahui nilai ini kita dapat menentukan nilai koefisien-koefisien
berpangkat genap yang tidak nol dengan menggunakan Persa-
maan (7.29).
Untuk j = 0, kita dapatkan
2 0 1 1
a2 a0 0 .
(0 1)(0 2)
Karena a2 = 0 maka koefisien suku berpangkat genap di atasnya ju-
ga bernilai nol. Dengan demikian, polinom H() yang cocok de-
ngan keadaan ini adalah H() = a0 = konstanta, dan fungsi eigen
yang kita cari (lihat Persamaan 7.30) adalah
1
2
0 ( ) a 0 e 2 .

Tetapan a0 biasanya dipilih sedemikian rupa sehingga fungsi eigen


0 ternormalkan. Nilainya dapat ditentukan sebagai berikut.
Agar 0 ternormalkan maka harus dipenuhi:

2
0 ( ) d 1 .

Atau
2 2
2 2 2 ( 1 / 2 ) 2
a 0 e d 2 a0 e d 2 a 0 a0 1.
0 2
1/ 4
1
Jadi a0 .

Dengan demikian, kita dapatkan fungsi eigen yang telah ternormal-
kan:
1/ 4 1 2
1
0 ( ) e 2 .

Gambar berikut adalah plot fungsi eigen untuk tingkat nol (terendah)

Bab 7: Osilator Harmonis


192 Penyelesaian persamaan Schrdinger

tersebut.

0()
V()

nilai eigen

Contoh Soal 7.2


Dapatkan fungsi eigen osilator harmonis yang memiliki energi to-
tal 3/2 .
Analisis
Berdasarkan Persamaan (7.32), energi tersebut bersesuaian dengan
nilai n = 1. Karena n merupakan bilangan ganjil, maka berdasar-
kan catatan nomor 6 di depan, a0 harus kita beri nilai nol sehingga
semua koefisien suku yang berpangkat genap bernilai nol. Selan-
jutnya, berdasarkan Persamaan (7.31), jika n = 1 maka = 3. De-
ngan mengetahui nilai ini kita dapat menentukan nilai koefisien-
koefisien berpangkat ganjil yang tidak nol dengan menggunakan
Persamaan (7.29).
2 1 1 3
Untuk j = 1, kita dapatkan a 3 a1 0 .
(1 1)( 1 2 )

Karena a = 0 maka koefisien suku berpangkat ganjil di atasnya


akan bernilai nol. Dengan demikian, polinom H() yang cocok
dengan keadaan ini adalah H() = a, dan fungsi eigen yang kita
cari adalah
1
2
1 ( ) a1 e 2 .

Pengantar Fisika Kuantum


Penyelesaian persamaan Schrdinger 193

Tetapan a1 biasanya dipilih sedemikian rupa sehingga fungsi eigen


() ternormalkan. Nilainya ditentukan sebagai berikut. Agar
() ternormalkan maka harus dipenuhi:
2
1 ( ) d 1

Atau

2 2 2 2 2 (3 / 2) 2
a1 2 e d 2 a1 2 e d 2 a1 a1 1 .
0
2 2
1 /4
4
Jadi a1 .

Dengan demikian kita dapatkan fungsi eigen yang telah ternor-
malkan:
1/ 4 1
4 2
1 ( ) e 2 .

Gambar berikut menyajikan plot fungsi eigen untuk tingkat energi
tersebut.

1()
V()

nilai eigen

Contoh Soal 7.3


Dapatkan fungsi eigen osilator harmonis yang memiliki energi to-
tal 5/2 .

Bab 7: Osilator Harmonis


194 Penyelesaian persamaan Schrdinger

Analisis
Energi tersebut bersesuaian dengan nilai n = 2. Karena n meru-
pakan bilangan genap, maka a1 harus kita beri nilai nol sehingga
semua koefisien suku berpangkat ganjil bernilai nol. Selanjutnya,
berdasarkan Persamaan (7.31), jika n = 2 maka = 5. Dengan
mengetahui nilai ini kita dapat menentukan nilai koefisien-
koefisien berpangkat genap yang tidak nol dengan menggunakan
Persamaan (7.29).
Untuk j = 0, kita dapatkan
2 0 1 5
a2 a0 2 a0 .
(0 1)(0 2)
Untuk j = 2, kita dapatkan
2 2 1 5
a4 a2 0 .
(2 1)(2 2)
Karena a4 = 0 maka koefisien suku pangkat genap di atasnya akan
bernilai nol. Dengan demikian, polinom H() yang cocok dengan
keadaan ini adalah


H 2 ( ) a 0 (1 2 2 ) N 2 2 1 ,
dan fungsi eigen yang kita cari adalah
1
2
2
2 ( ) N ( 2 1) e 2 .

Tetapan N dipilih sedemikian rupa sehingga 2() ternormalkan.


Dengan prosedur seperti pada contoh sebelumnya, besarnya
1 /4
1
tetapan normalisasi ini adalah N .
4
Perhatikan bahwa nilai a0 pada contoh ini berbeda dengan nilai a0
pada contoh sebelumnya.
Dengan demikian, fungsi eigen yang sudah ternormalkan adalah
1/4 1
1 2
2 ( ) 2 2

1 e 2 .
4

Pengantar Fisika Kuantum


Penyelesaian persamaan Schrdinger 195

Gambar berikut menyajikan plot fungsi eigen ternormalkan tersebut.

2()

V()


nilai eigen

Contoh Soal 7.4


Dapatkan fungsi eigen osilator harmonis yang memiliki energi to-
tal 7/2 .
Analisis
Energi tersebut bersesuaian dengan nilai n = 3. Karena n merupa-
kan bilangan ganjil, maka a = 0 sehingga semua koefisien suku
berpangkat genap bernilai nol.
Koefisien suku berpangkat ganjil ditentukan sebagai berikut. Ber-
dasarkan Persamaan (7.31), jika n = 3 maka = 7. Subtitusi = 7 ke
dalam Persamaan (7.29) kita dapatkan koefisien suku berpangkat
ganjil sebagai berikut.
2 11 7
Untuk j = 1, kita dapatkan a 3 a1 4 / 6 a 1 .
(1 1)(1 2 )

2 31 7
Untuk j = 3, kita dapatkan a 5 a1 0 .
( 3 1)( 3 2 )

Karena a = 0 maka koefisien suku pangkat ganjil di atasnya akan


bernilai nol. Dengan demikian, polinom H() yang cocok dengan
keadaan ini adalah

Bab 7: Osilator Harmonis


196 Penyelesaian persamaan Schrdinger


H 3 ( ) a 1 ( 23 3 ) N 2 3 3 ,

dan fungsi eigen yang kita cari adalah


1
2
3
3 ( ) N 2 3 e 2 .

Tetapan N dipilih sebagai tetapan normalisasi bagi 3(). Berda-


sarkan contoh-contoh sebelumnya diharapkan pembaca mencari
sendiri berapa nilai tetapan normalisasi ini.
Berikut adalah plot fungsi eigen tersebut.

V()

nilai eigen

3()

Contoh Soal 7.5

Dapatkan fungsi eigen osilator harmonis yang memiliki energi to-


tal 9/2 .

Analisis
Energi tersebut bersesuaian dengan nilai n = 4, dan = 9. Karena n
merupakan bilangan genap maka aj = 0 untuk j ganjil. Nilai aj un-
tuk j genap dicari dengan menggunakan Persamaan (7.29) sebagai
berikut.
2 01 9
Untuk j = 0, kita dapatkan a 2 a0 4 a0 .
(0 1)( 0 2 )

Pengantar Fisika Kuantum


Penyelesaian persamaan Schrdinger 197

221 9
Untuk j = 2, kita dapatkan a 4 a 2 13 a 2 43 a 0 .
( 2 1)( 2 2 )

2 41 9
Untuk j = 4, kita dapatkan a6 a4 0
( 4 1)( 4 2 )

Karena a = 0 maka koefisien suku pangkat genap di atasnya akan


bernilai nol. Dengan demikian polinom H() yang cocok dengan
keadaan ini adalah
H 4 ( ) a0 ( 1 4 2 43 4 ) N ( 3 12 2 4 4 )

dan fungsi eigen yang kita cari adalah

1
2
4 2
4 ( ) N ( 4 12 3) e 2 .

Tetapan N dipilih sebagai tetapan normalisasi bagi 4(). Berikut


adalah plot fungsi eigen tersebut.

nilai eigen V()

4()

7.4 POLINOM HERMITE

Fungsi eigen osilator harmonis merupakan perkalian fungsi polinom


orde tertentu, yaitu Hn(), dan fungsi eksponensial exp( ). Beberapa

Bab 7: Osilator Harmonis


198 Polinom Hermite

polinom sudah kita dapatkan melalui contoh-contoh di depan. Seperti yang


Anda lihat, polinom-polinom tersebut tidak lain adalah polinom Hermite.
Untuk itu, ada baiknya kita menelaah kembali secara singkat tentang poli-
nom tersebut.

7.4.1 Definisi Polinom Hermite


Polinom Hermite merupakan penyelesaian persamaan diferensial:
d 2 H n ( ) dH n ( )
2 2 n H n ( ) 0 , (7. 34)
d 2 d
dengan n merupakan bilangan cacah (0, 1, 2, ). Perhatikan bahwa persa-
maan diferensial tersebut sama dengan Persamaan (7.24) setelah kita gan-
tikan n dengan 2n +1 seperti dinyatakan pada Persamaan (7.31).
Polinom Hermite orde n dapat ditemukan dengan menggunakan ru-
mus pembangkit polinom Hermite sebagai berikut.
2 dn 2
H n ( ) (1) n e e . (7. 35)
d n
(Lihat, misalnya: Spiegel, M.R. 1968: Mathematical Handbook Formula and
Tables, hal. 151. Schaum Outline Series). Berikut beberapa contoh polinom
yang didapat dari rumus tersebut.

H 0 ( ) 1 , H 1 ( ) 2 ,

H 2 ( ) 4 2 2 , H 3 ( ) 8 3 12 ,

H 4 ( ) 16 4 48 2 12 , H 5 ( ) 32 5 160 3 120 .

Perhatikan bahwa fungsi-fungsi tersebut semuanya sama dengan yang te-


lah kita dapatkan di depan asalkan nilai koefisiennya kita bagi dengan fak-
tor persekutuan terbesarnya. Misalnya, jika koefisien pada H () di atas kita
bagi dengan 4 (yaitu faktor persekutuan terbesar dari bilangan 8 dan 12) ki-
ta dapatkan polinom yang sama dengan yang kita dapatkan pada Contoh
7.4 di depan.
Mengingat faktor Hn() dalam fungsi eigen osilator harmonis ternyata
merupakan polinom Hermite, kita dapat menemukan fungsi Hn() tersebut
tanpa melalui prosedur menghitung koefisien n seperti yang kita lakukan
di depan. Sebagai gantinya, kita dapat menggunakan Persamaan (7.35).

Pengantar Fisika Kuantum


Polinom Hermite 199

7.4.2 Beberapa Sifat Polinom Hermite


Berikut beberapa sifat penting polinom Hermite yang akan kita gu-
nakan dalam pembahasan berikutnya.
Hubungan antarpolinom yang berdekatan ordenya:
H n 1 ( ) 2 H n ( ) 2n H n 1 ( ) . (7. 36)

Derivatif polinom Hermite


d
H n ( ) 2n H n 1 ( ) . (7. 37)
d
Keortogonalan Polinom Hermite
Hal penting lainnya yang berkaitan dengan polinom Hermite adalah
sifat keortogonalannya. Antara dua sebarang polinom Hermite, misalnya
Hn() dan Hm(), berlaku hubungan:

0 ; nm

2
H n ( ) H m ( ) e d . (7. 38)
2 n n! ; n m

7.5 FUNGSI EIGEN OSILATOR HARMONIS

Setelah kita melihat adanya hubungan antara fungsi eigen osilator har-
monis dengan polinom Hermite, dan mengingat kembali beberapa sifat
penting polinom tersebut, marilah kita kembali menelaah fungsi eigen osi-
lator harmonis. Hal-hal yang akan kita bahas lebih lanjut adalah sifat keor-
togonalan fungsi eigen osilator dan bagaimana mendapatkan fungsi eigen
dalam variabel x, yaitu n(x), berdasarkan fungsi eigen yang dinyatakan
dalam variabel tak berdimensi , yaitu n().

Bab 7: Osilator Harmonis


200 Fungsi eigen osilator harmonis

Jika Persamaan (7.38) kita ubah cara penulisannya menjadi

1 1 0 ; nm
2 2
H n ( ) e 2 H m ( ) e 2 d (7. 39)
2 n n! ; n m

maka dapat kita maknai sebagai keortogonalan antara sebarang pasangan
fungsi eigen n() dan m(). Baris kedua Persamaan (7.39) tersebut juga
menunjukkan bahwa fungsi eigen n() yang polinom Hn()-nya kita dapat-
kan dari Persamaan (7.35) adalah belum ternormalkan.
Untuk mendapatkan fungsi eigen yang ternormalkan, fungsi eigen
yang belum ternormalkan tersebut kita tuliskan sebagai berikut.
1
2
n ( ) N H n ( ) e 2 , (7. 40)

dengan N tetapan normalisasi bagi n(). Norm fungsi tersebut adalah


2
2 2 2
n ( ) d N H n ( ) e d . (7. 41)

Berdasarkan baris kedua Persamaan (7.39), integral di ruas kanan Persama-


an (7.41) di atas bernilai 2 n n! . Jadi agar norm dari n() bernilai 1 maka

tetapan N harus kita beri nilai 2 n n! 1/ 2 . Dengan demikian fungsi


eigen yang telah ternormalkan adalah
1
2
n
n ( ) 2 n! 1 / 2
H n ( ) e 2 . (7. 42)
Tabel 7.1 berikut menyajikan beberapa fungsi eigen ternormalkan yang di-
dapat dari Persamaan (7.42) tersebut.

Pengantar Fisika Kuantum


Fungsi eigen osilator harmonis 201

Tabel 7.1. Beberapa Fungsi Eigen Ternormalkan Osilator Harmonis


n n = 2n+1 n()

1/4 1
1 2
0 1 e 2

1/4 1 1/4 1
1 2 4 2
1 3
4

2 e 2 e 2

1/4 1 1/4 1
1 2 1 2
2
2 5
64

( 4 2 ) e 2 =
( 2 2 1) e 2

1 /4 1 1/4 1
1 2 1 2
3 7
2304

8 3
12 e 2 2 3

3 e 2

Bagaimanakah cara mendapatkan fungsi n (x ) yang telah ternormal-


kan? Apakah cukup dengan menggantikan setiap variabel pada Persama-
an (7.42) dengan x sebagaimana didefinisikan di Persamaan (7.10)? Tentu
saja tidak, sebab tetapan normalisasi n (x) dihitung melalui proses peng-
integralan terhadap x , lihat Persamaan (7.39), sedangkan tetapan nor-
malisasi untuk n (x) harus dihitung melalui proses pengintegralan terha-

2
dap x, yaitu: n ( x) dx.

Jika n (x ) ternormalkan maka berlaku hubungan

2
n ( x) dx 1. (7. 43)

Di pihak lain, jika n ( x) ternormalkan maka juga berlaku



2 2
n ( ) d n ( x) d x 1.

Bab 7: Osilator Harmonis


202 Fungsi eigen osilator harmonis

atau
2
n ( x) dx 1 . (7. 44)

Dengan membandingkan Persamaan (7.44) terhadap Persamaan (7.43) kita


peroleh kesimpulan bahwa

n ( x) n ( x ) . (7. 45)
Persamaan (7.45) itulah yang menghubungkan fungsi eigen ternormalkan
dalam variabel dengan fungsi eigen ternormalkan dalam variabel x. Seca-
ra eksplisit, fungsi eigen yang telah ternormalkan tersebut berbentuk
1/ 2 1
x 2
n ( x) H n (x) e 2 . (7. 46)
2 n n!

Antara dua fungsi eigen ternormalkan berlaku hubungan
0 , n m

n ( x ) m ( x) dx (7. 47)
1, n m

7.6 KETAKPASTIAN POSISI DAN MOMENTUM

Pada Bab 3 kita telah menghitung perkalian ketakpastian posisi dan


momentum linear osilator harmonis berdasarkan penafsiran Born tentang
fungsi gelombang. Pada Bab 4, dengan prosedur yang berbeda, kita juga
telah melakukan penghitungan serupa meskipun hanya untuk beberapa
keadaan eigen (untuk beberapa fungsi eigen) saja. Pada bab ini, dengan
menggunakan beberapa sifat polinom Hermite, kita akan melakukan lagi
penghitungan itu. Prosedur yang kita gunakan sama dengan yang kita
pakai di Bab 4. Namun demikian, jika pada Bab 4 kita hanya dapat meng-
hitung untuk setiap keadaan eigen, pada bab ini kita akan dapat meng-
hitung sekaligus untuk semua keadaan eigen, yaitu untuk sebarang fungsi
eigen n (x) dengan n sebarang.

Pengantar Fisika Kuantum


Ketakpastian posisi-momentum 203

7.6.1 Ketakpastian Posisi


Ketakpastian posisi dihitung dari nilai harap posisi dan nilai harap
kuadrat posisi sebagai berikut.
2
x n x2
n
x .
n
(7. 48)

Nilai harap posisi pada sebarang keadaan eigen, x adalah


n

x n n ( x ) x n ( x) dx 0 . (7. 49)

Perhitungan tersebut mudah dilakukan mengingat kuadrat n (x ) merupa-


kan fungsi genap sehingga x n (x) 2 merupakan fungsi ganjil. Akibatnya,
karena integrasi meliputi daerah yang simetris terhadap x=0 maka hasilnya
nol.
Nilai harap kuadrat posisi pada sebarang keadaan eigen, x2
n
adalah

x 2 n n ( x) x 2 n ( x) dx
1/ 2
2 1 1 / 2(x ) 2 2
e H n (x) x 2 e 1 / 2(x ) H n (x) dx (7. 50)
2 n n!

1/ 2
2 1 1 (x ) 2



n 3
e x H n (x )2 dx .
2 n!

Integral pada persamaan di atas bernilai n! 2n (n + 1/2). (Lihat perta-


nyaan 6 pada bagian Pertanyaan Analisis di akhir bab ini.) Dengan demiki-
an kita dapatkan:
1
x2 n 1 / 2 n 1 / 2 . (7. 51)
n 2 m

(Lihat Persamaan (7.13) tentang definisi ). Subtitusi Persamaan (7.49) dan
(7.51) ke dalam Persamaan (7.48) menghasilkan

( x ) n n 1 / 2 (7. 52)
m
Jadi, ketakpastian posisi berbanding lurus terhadap akar n, yaitu keadaan
kuantum osilator harmonis.

Bab 7: Osilator Harmonis


204 Ketakpastian posisi-momentum

7.6.2 Ketakpastian Momentum


Ketakpastian momentum dihitung dari nilai harap momentum dan
nilai harap kuadrat momentum sebagai berikut.
2
p n p2
n
p n
. (7. 53)

Nilai harap momentum pada sebarang keadaan eigen, p adalah


n

d
n ( x) i n ( x ) dx 0 .

p n (7. 54)
dx
(Lihat pertanyaan 7 pada bagian Pertanyaan Analisis di akhir bab ini.)
Nilai harap kuadrat momentum pada sebarang keadaan eigen, p2
n
adalah
d2
p2 n ( x ) 2 n ( x ) dx (7. 55)
dx 2
n

= 2 2 ( n 1 /2 ) m( n 1 / 2 )

(Lihat pertanyaan 8 pada bagian Pertanyaan Analisis di akhir bab ini.)


Subtitusi Persamaan (7.55) dan (7.54) ke dalam Persamaan (7.53) meng-
hasilkan

(p) n m n 1 / 2 . (7. 56)

Jadi ketakpastian momentum juga berbanding lurus terhadap n, seperti


halnya dengan ketidakpastian posisi.

7.6.3 Perkalian Ketakpastian Posisi dan Momentum


Berdasarkan hasil perhitungan tentang ketakpastian posisi dan mo-
mentum di depan kita peroleh hubungan


( px ) n m n 1 / 2 n 1 / 2 n 1 / 2 (7. 57)
m
Bandingkan hasil tersebut dengan tabel nilai ( p x) untuk osilator harmo-
nis sebagaimana dinyatakan pada bagian akhir Bab 3.

Pengantar Fisika Kuantum


Rangkuman 205

Karena n 0 maka ( p x ) / 2 . Kesimpulan ini cocok dengan asas


ketakpastian Heisenberg. Lebih lanjut, nilai terkecil ( p x ) dicapai untuk
n = 0, pada saat fungsi eigen osilator harmonis tergolong sebagai fungsi
Gaussan. Suatu kesimpulan yang juga cocok dengan yang sudah kita
dapatkan pada bab sebelumnya.

RANGKUMAN

1. Analisis klasik tentang osilator harmonis menyimpulkan bahwa energi


osilator harmonis dapat bernilai sebarang.
2. Analisis kuantum terhadap osilator harmonis didasarkan pada persa-
maan Schrdinger bebas waktu yang berbentuk:
2
d 2 n ( x) 2mE n m 2
n ( x) x n ( x) 0 . .
dx 2 2
dengan m = massa osilator, = frekuensi sudut osilator, En energi total
osilator, dan n(x) = fungsi eigen osilator yang memiliki energi total En.
3. Penyelesaian persamaan Schrdinger bebas waktu tersebut mengha-
silkan kesimpulan bahwa energi total osilator harmonis harus meme-
nuhi hubungan
En ( n 1 / 2 ) , n = 0, 1, 2, . .

Jadi, spektrum nilai energi total bersifat diskret. Hal ini berbeda sekali
dengan kesimpulan klasik sebagaimana disebutkan sebelumnya.
4. Penyelesaian persamaan Schrdinger bebas waktu tersebut juga meng-
hasilkan kesimpulan bahwa keadaan eigen osilator harmonis yang
berenergi total En dinyatakan oleh fungsi eigen .
1 /2 1
x 2 m
n ( x) n
H n (x) e 2 , dengan
2 n!

dan Hn adalah polinom Hermite orde n yang dapat diturunkan dengan


menggunakan rumus
2 d n 2
H n ( ) ( 1)n e e ,
d n
atau dengan menentukan bentuk eksplisit polinom

Bab 7: Osilator Harmonis


206 Rangkuman

n
j
H n ( ) a j
j 0

berdasarkan ketentuan sebagai berikut.


o Antarkoefisien suku yang berdekatan mengikuti hubungan
2 j 1 n
a j 2 aj .
( j 1)( j 2 )

o Nilai n bergantung pada n berdasarkan hubungan


n = 2n + 1
o Jika n berupa bilangan genap maka a diberi nilai nol dan jika n
berupa bilangan ganjil maka a diberi nilai nol
5. Himpunan fungsi eigen seperti dinyatakan pada rangkuman nomor 4
tersebut bersifat ortonormal dalam arti bahwa .

0 , n m


n

( x ) m ( x ) d x
1 , n m

5. Berdasarkan fungsi eigen tersebut, pengukuran posisi dan momentum
partikel akan menghasilkan nilai ukur sebagai berikut.
Pengukuran posisi
6. Nilai harap posisi: <x> = 0 untuk semua keadaan.

o Ketakpastian posisi: ( x ) n n 1 / 2 .
m
Pengukuran momentum linear
o Nilai harap: <p> = 0 untuk semua keadaan
7. Ketakpastian momentum linear: ( p ) n m( n 1 /2 ) . .

Perkalian ketakpastian posisi dan momentum:


( p x) n n 1 /2 , yang sepenuhnya cocok dengan asas ketak-
pastian Heisenberg ( p x ) / 2 .

Pengantar Fisika Kuantum


Perlatihan 207

PERLATIHAN

Pertanyaan Konsep
1. Berikan contoh-contoh gejala fisika yang berperilaku sebagai osilator
harmonis!
2. Menurut fisika klasik, energi total terendah osilator harmonis sama
dengan energi potensial terendahnya. Sementara itu, menurut fisika
kuantum, nilai tersebut adalah 1 / 2 di atas nilai terendah energi po-
tensialnya. Apa komentar Anda tentang hal ini?
3. Menurut postulat Planck, energi yang dimiliki oleh osilator harmonis
haruslah memenuhi hubungan En n , dengan n = 0, 1, 2, . Di lain
pihak, berdasarkan persamaan Schrdinger, hubungan tersebut adalah
En ( n 1 / 2) . Apa komentar Anda terhadap perbedaan ini?
4. Jika energi terendah osilator harmonis sama dengan energi potensial
terendahnya, prinsip apa yang terlanggar?
5. Menurut Anda, apakah kesimpulan yang didapatkan oleh fisika kuan-
tum tentang osilator harmonis ini memiliki kesepadanan dengan hasil
analisis yang diperoleh oleh fisika klasik? Jika ya, tunjukkan letak ke-
sepadanan itu.
6. Selama partikel berperilaku sebagai osilator harmonis, mungkinkah
partikel itu dalam keadaan bebas sehingga dapat memiliki sebarang
energi?
7. Masing-massing ketakpastian posisi maupun momentum linear osila-
tor harmonis sebanding dengan n . Berarti semakin besar ketakpas-
tian posisi semakin besar pula ketakpastian momentum linearnya.
Apakah kesimpulan ini tidak bertentangan dengan asas ketakpasian
Heisenberg?

Pertanyaan Analisis:
1. Jika V(x) menyatakan variasi energi potensial suatu partikel terikat ter-
hadap posisinya, dan a adalah posisi setimbangnya, tunjukkan bahwa
di sekitar posisi setimbang itu partikel berperilaku sebagai osilator har-
monis. (Petunjuk: ekpansikan (uraikan) V(x) ke dalam bentuk deret
pangkat dalam x dan tunjukkan bahwa di sekitar x = a berlaku peng-
hampiran V(x) bx2, dengan b bilangan positif).
2. Dengan menggunakan metode deret, dapatkan fungsi eigen osilator
harmonis yang memiliki energi: a) 5,5 , b) 6,5 , c) 7,5 .

Bab 7: Osilator Harmonis


208 Perlatihan

3. Carilah tetapan normalisasi N untuk: a) 3 () pada contoh soal 7.4 dan


b) 4 () pada contoh soal 7.5 .
4. Selidikilah bahwa semua polinom Hermite yang didaftar di bagian
7.4.1, setelah Persamaan (7.35), merupakan penyelesaian Persamaan
(7.34)! (Petunjuk: subtitusikan masing-masing fungsi ke ruas kiri Per-
samaan (7.34) kemudian selidikilah apakah semuanya menghasilkan
nol!)
5. Berdasarkan Persamaan (7.36) dan atau (7.37) tunjukkan bahwa
a. Hn(x) = 2x Hn 1(x) 2 (n 1) Hn 2(x)
d
b. H n ( x) 2x Hn (x) Hn + 1(x)
dx
d2
c.
dx 2

H n ( x ) 4 x 2 2 n H n ( x ) 2 x H n1 ( x )
2
6. Buktikan bahwa e (x ) x H n (x )2 d x = n! 2n (n+1/2). (Pe-
tunjuk: (1) lakukan perubahan variabel x y , (2) gunakan Persama-
an (7.36) untuk mengubah yHn(y) menjadi {Hn+1(y) + 2nHn1 (y)}, (3)
gunakan Persamaan (7.38) untuk menyelesaikan integralnya.)
7. Buktikan perhitungan pada Persamaan (7.54). (Petunjuk: hitung dulu
derivatif pertama dari n (x) (gunakan Persamaan (7.37) untuk men-
dapatkan derivatif dari Hn), kemudian selesaikan integralnya (gunakan
Persamaan (7.38) dan ingat bahwa x(Hn (x) ) merupakan fungsi gan-
jil).
8. Buktikan hasil penghitungan integral pada Persamaan (7.55). Petunjuk:
hitung dulu derivatif kedua dari n (x ) (bisa menggunakan pertanya-
an 5c di depan), kemudian selesaikan integralnya (gunakan Persamaan
(7.38) dan ingat bahwa x(Hn (x) ) merupakan fungsi ganjil).
9. Dalam fisik klasik, untuk osilator harmonis berlaku hubungan
d2 x
2 x 0. Apakah dalam fisika kuantum ada hubungan yang sa-
dt 2
ma, atau mirip, dengan itu? Jika ada, tunjukkan. (Petunjuk: lihat Bab 4)
10. Tetapan pegas yang diasosiasikan dengan getaran molekul diatomik
berkisar pada orde 10 N/m. Jika massa molekul diatomik tersebut pa-
da orde 10kg, perkirakan berapa energi terendah getaran molekul
tersebut.

Pengantar Fisika Kuantum


Perlatihan 209

O
F
Osilator harmonis
fonon ..................................... 181 energi klasik ............... 183, 205
energi kuantum .......... 189, 205
G fungsi eigen........ 200, 205, 206,
Gaussan 19097
fungsi................................. 205 ketakpastian momentum .... 204,
206
H ketakpastian posisi ..... 203, 206
pengertian .......................... 181
Heisenberg
persamaan Schrodinger
Asas ketakpastian............... 205
penjabaran ................ 18385
K solusi........................ 18588
Persamaan Schrodinger ...... 205
konservatif ...................... 182, 183
konstanta pegas...................... 181 P
kristal .................................... 181
partikel identik ....................... 182
M polinom Hermite .................... 205
Polinom Hermite
medium kontinu ..................... 181 dan fungsi eigen O.H.......... 199
definisi ............................... 198
N sifat-sifat penting ............... 199
Newton .................................. 182
S
sistem konservatif .......... 182, 183

Bab 7: Osilator Harmonis


BAB 8
MOMENTUM SUDUT
DAN
ATOM BERELEKTRON TUNGGAL

Sejauh ini kita baru membicarakan gerak partikel dalam satu dimensi. Me-
ngingat gerak di alam ini umumnya dalam ruang tiga dimensi, maka kita
perlu mempersiapkan diri untuk menerapkan pokok-pokok metode fisika
kuantum pada gerak tiga dimensi ini.
Besaran dinamis (observable) yang memegang peranan penting dalam
analisis gerak tiga dimensi adalah momentum sudut (anguler momentum).
Oleh sebab itu, pada bab ini kita akan membahas bagaimana fisika kuan-
tum mendeskripsikan momentum sudut.
Sebagai ilustrasi betapa pentingnya peranan momentum sudut dalam
pembahasan gerakan tiga dimensi, marilah kita ingat kembali beberapa
temuan besar yang berhasil dirumuskan berdasarkan telaah momentum
sudut. Contoh dalam khasanah makroskopis kita jumpai hukum Kepler
tentang gerakan tata surya, sedangkan dalam khasanah mikroskopis kita
jumpai teori Bohr tentang atom hidrogen.
Ada dua hal pokok yang akan kita bahas dalam bab ini terkait dengan
momentum sudut, yaitu tentang operator yang mewakili vektor momen-
tum sudut beserta hubungan komutasi yang melibatkan komponen-kom-
ponennya, dan tentang nilai eigen beserta fungsi eigen momentum sudut.
Sebelum membahas dua pokok besar tersebut, bahasan akan dimulai de-
ngan tinjauan singkat definisi klasik momentum sudut beserta sifat-sifat
pentingnya.
Untuk memberi contoh salah satu penerapan Persamaan Schrdinger
dalam ruang tiga dimensi, bab ini juga memaparkan tinjauan kuantum
untuk atom berelektron tunggal. Hasilnya kemudian diterapkan pada
atom hidrogen dan selanjutnya diperbandingkan dengan teori Bohr untuk
melihat kesepadanannya.

Sutopo Pengantar Fisika Kuantum 209


210 Tinjauan klasik

8.1 TINJAUAN KLASIK MOMENTUM SUDUT

Momentum sudut suatu partikel terhadap titik pusat koordinat O di-


definisikan sebagai hasil perkalian silang (cross product) antara vektor posi-
si r dan momentum linear p sebagai berikut
L=rp. (8. 1)
Beradasarkan definisi tersebut diperoleh tiga komponen Cartesan momen-
tum sudut sebagai berikut.
Lx = ypz zpy , (8. 2a)

Ly = zpx xpz , (8. 2b)

Lz = xpy ypx . (8. 2c)

r
r
O Y
X

Gambar 8.1 Definisi momentum sudut partikel terhadap titik pusat


koordinat O ketika partikel berada di posisi r dan bergerak
dengan momentum linear p.

Perubahan momentum sudut, jika ada, disebabkan oleh momen gaya


(torka) N terhadap pusat koordinat O menurut hubungan
dL
N , (8. 3)
dt
(lihat pertanyaan nomor 1 pada bagian Pertanyaan Analisis), dengan N
didefinisikan sebagai momen gaya terhadap O:
N = r F. (8. 4)

Pengantar Fisika Kuantum


Operator momentum sudut 211

Jika gaya yang bekerja pada partikel merupakan gaya sentral, yaitu
besarnya hanya bergantung pada jarak terhadap pusat dan arahnya ber-
impit dengan vektor posisi, maka N bernilai nol. Dalam hal ini, menurut
Persamaan (8.3), momentum sudut partikel bersifat kekal. Hukum Kepler,
khususnya tentang kecepatan sapu vektor radius, merupakan konsekuensi
dari berlakunya kekekalan momentum sudut tersebut. (Lihat, misalnya,
buku Mechanics edisi 3, oleh Symon, terbitan Addison Wesley 1971, hala-
man 135).
Berdasarkan Persamaan (8.1) sampai (8.4) dapat disimpulkan bahwa
momentum sudut, berdasarkan tinjauan klasik, dapat bernilai sebarang.
Kita akan meninjau, secara kuantum, apakah spektrum momentum sudut
bersifat kontinu atau diskret. Kita juga akan meninjau apakah momentum
sudut partikel yang bergerak di bawah pengaruh potensial sentral juga
bersifat sebagai tetapan gerak seperti dinyatakan dalam fisika klasik.

8.2 OPERATOR MOMENTUM SUDUT

8.2.1 Perumusan Operator


Di Bab 4 kita sudah menyatakan kaidah pengkuantuman besaran fi-
sika. Kita juga sudah merumuskan bagaimana menetapkan operator be-
saran fisika yang definisi klasiknya sudah ditetapkan. Sekarang marilah
kita rumuskan operator momentum sudut.
Komponen Cartesan momentum sudut, secara klasik, dinyatakan oleh
Persamaan (8.2). Kita lihat bahwa semua komponen tersebut telah dinyata-
kan sebagai fungsi koordinat (x, y, dan z) dan momentum linear (px, py,
dan pz). Selain itu, kita juga melihat bahwa semua suku di ruas kanan
persamaan itu merupakan perkalian dua besaran (misalnya xpy) yang ope-
ratornya merupakan pasangan operator yang saling komut (lihat perta-
nyaan nomor 2 pada bagian Pertanyaan Analisis). Dengan demikian, ope-
rator yang mewakili komponen Cartesan momentum sudut dapat kita
peroleh dengan mengganti semua besaran dalam Persamaan (8.2) itu de-
ngan operator yang mewakilinya. Jadi kita dapatkan:

L x YPz ZPy , (8. 5a)

L y ZPx XPz , (8. 5b)

L z XPy YPx . (8. 5c)

Bab 8: Momentum Sudut


212 Operator momentum sudut

Untuk membantu Anda menghindari kesalahan urutan, perhatikan bahwa


antara x, y, dan z, yang muncul sebagai indeks dan besaran, mengikuti
urutan siklis: x y z x.
Ada besaran lain, selain komponen, yang penting untuk kita temukan
operatornya. Besaran itu adalah kuadrat momentum sudut L. Definisi be-
saran itu adalah

L2 L.L L2x L2y L2z . (8. 6)

Semua operator yang mewakili komponen Cartesan momentum


sudut yang muncul di ruas kanan Persamaan (8.6) sudah kita dapatkan.
Dengan demikian, operator yang mewakili kuadrat momentum sudut kita
definisikan berdasarkan operator-operator komponen Cartesannya itu.
Jadi kita dapatkan
L2 L2 L2 L2 .
x y z (8. 7)

Dalam sistem koordinat Cartesan, bentuk eksplisit operator-operator


komponen momentum sudut tersebut adalah (lihat Contoh Soal 4.2):

L x i z y , (8. 8a)
y z

L y i x z , (8. 8b)
z x

L z i y x . (8. 8c)
x y

Operator tersebut dapat dinyatakan dalam sistem koordinat bola r, , ,


melalui hubungan
x r sin cos , y r sin sin , z r cos , (8. 9)
seperti ditunjukkan pada Gambar 8.2 berikut. Z
z

P

r
y
O
Gambar 8.2 Definisi koordinat bola (r, , ) dan Y
koordinat Cartesan (x, y, z) untuk x
sebarang titik P X

Pengantar Fisika Kuantum


Operator momentum sudut 213

Dengan menggunakan Persamaan (8.9), maka operator-operator pada Per-


samaan (8.8) dapat diubah menjadi
cos
L x i sin , (8. 10a)
tan

sin
L y i cos , (8.10b)
tan

L z i , (8.10c)

dan bentuk eksplisit operator L 2 L x2 L y2 L z2 dalam sistem koordinat bola


adalah
2 1 1 2
L 2 2 2 .
(8. 11)
tan sin 2
2

Berdasarkan ungkapan pada Persamaan (8.10) dan (8.11) terlihat bah-
wa operator-operator momentum sudut tidak memuat derivatif terhadap
r. Dengan demikian, analisis momentum sudut akan lebih mudah diker-
jakan dengan menggunakan sistem koordinat bola daripada
menggunakan sistem koordinat Cartesan. Sebab, jika menggunakan sistem
koordinat bola kita hanya berhadapan dengan dua macam derivatif
parsial, sedangkan jika menggunakan sistem Cartesan kita harus
berhadapan dengan tiga macam derivatif parsial. Selain itu, dengan sistem
koordinat bola kita segera melihat bahwa operator momentum sudut
berkomutasi dengan sebarang fungsi r.

8.2.2 Hubungan Komutasi


Hal penting untuk kita selidiki adalah apakah hasil kali antar-operator
komponen momentum sudut bersifat komutatif atau tidak. Sifat ini pen-
ting diketahui untuk menetapkan apakah pengukuran serempak terhadap
komponen-komponen momentum sudut dapat menghasilkan ketelitian
mutlak atau tidak. Ingat bahwa ketidakpastian pengukuran serempak ter-
hadap dua observabel yang berbeda bergantung pada hubungan komutasi
antar-observabel itu.
Kita selidiki hubungan komutasi antarkomponen momentum sudut,
misalnya antara L x dan L y .

Bab 8: Momentum Sudut


214 Operator momentum sudut

L x
, L y Y Pz Z Py , Z Px X Pz
(8. 12)

Y Pz , Z Px Y Pz , X Pz Z Py , Z Px Z Py , X Pz .

Komutator di suku kedua dan ketiga pada ruas kanan baris kedua Persa-
maan (8.12) menghasilkan operator 0 . (Lihat pertanyaan nomor 2 pada ba-
gian Pertanyaan Analisis). Dengan demikian Persamaan (8.12) dapat dise-
derhanakan menjadi

L x , L y YPz , ZPx ZPy , XPz


Y Pz , Z Px X Z , Pz P y (8. 13)
Y i Px X i P y
i L z .
Pada penjabaran tersebut, suku pertama dan kedua pada baris kedua seca-
ra berurutan didapatkan dari suku pertama dan kedua pada baris perta-
ma. Perhatikan Contoh Soal 8.1.
Dengan prosedur yang serupa kita dapatkan hubungan komutasi an-
tarpasangan komponen momentum sudut lainnya, yaitu
[ L y , L z ] = i L x , (8. 14)

[ L z , L x ] = i L y . (8. 15)

Untuk memudahkan menghafal hubungan komutasi tersebut, perhatika


urutan siklis pada indeks x y z x. Hubungan komutasi antarkom-
ponen tersebut dapat dirangkum menjadi satu ungkapan

[ L k , L l ] = klm i L k , (8. 16)

dengan indeks k, l, dan m masing-masing dapat bernilai 1, 2, atau 3, klm


menyatakan epsilon Kronecker. (Sesuai kelaziman, angka-angka tersebut
mewakili x, y, dan z dengan ketentuan sebagai berikut: 1 x, 2 y, dan 3
z).
Contoh Soal 8.1

Buktikan bahwa [YPz , ZPx ] Y [ Pz , Z ] Px i YPx .

Pengantar Fisika Kuantum


Operator momentum sudut 215

Analisis

Berdasarkan identitas komutator: [ A B , C ] A


[ B , C ] [ A
, C ]B dan
[ A, B C ] B [ A ,C ] [ A , B] C (Lihat Persamaan 4.31) serta hubungan
komutasi antara komponen vektor posisi dan momentum linear
pada sumbu yang sama, misalnya [ X , P x ] i , kita peroleh hu-
bungan:

[Y P z , Z P x ] Y [P z , Z P x ] [Y , Z P x ] P z

Y Z P z , P x Y P z , Z P x Z Y , P x P z Y , P x Z P z
0 Y i P x 0 0
iY P .
x

Hubungan komutasi operator L 2 dengan salah satu komponen L


, mi-
salnya L z , dapat diturunkan sebagai berikut.

[ L 2 , L z ] = [ L2x L2y L2z , L z ] [ L2x , L z ] [ L2y , L z ]

= L x [ L x , L z ] [ L x , L z ]L x L y [ L y , L z ] [ L y , L z ]L y
= L (i L ) (i L ) L L (i L ) (i L ) L 0.
x y y x y x x y

Dengan cara yang sama dapat ditunjukkan: [L 2 , L ] 0 , dan [L 2 , L ] 0 .


y x
2
Jadi kita dapatkan hubungan komutasi antara L dengan komponen dari
L sebagai berikut.

2 , L ] 0 ,
[L 2 , L ] 0 ,
[L 2 , L ] 0 .
[L (8. 17)
x y z

8.3 PERSAMAAN NILAI EIGEN MOMENTUM SUDUT

Kita telah melihat bahwa antarkomponen momentum sudut tidak sa-


ling berkomutasi (Persamaan 8.16) sedangkan setiap komponen momen-
tum sudut berkomutasi dengan kuadrat momentum sudut (Persamaan
8.17). Ini berarti bahwa pengukuran serempak terhadap komponen mo-
mentum sudut yang berbeda pada umumnya tidak akan menghasilkan

Bab 8: Momentum Sudut


216 Persamaan nilai eigen momentum sudut

nilai ukur yang pasti pada masing-masing komponen tersebut. Nilai ukur
hanya akan pasti jika nilai semua komponen itu adalah nol. Di lain pihak,
pengukuran serempak kuadrat momentum sudut dengan salah satu (se-
barang) komponen momentum sudut dapat menghasilkan nilai ukur yang
pasti pada masing-masing besaran.
Ditinjau dari sudut pandang persamaan nilai eigen, keadaan di atas
menghasilkan konsekuensi sebagai berikut.
1. Masing-masing komponen momentum sudut memiliki fungsi eigen
yang berbeda. Tidak ada satupun fungsi yang merupakan fungsi eigen
bersama bagi semua komponen momentum sudut.
2. Terdapat suatu fungsi yang merupakan fungsi eigen bersama bagi
kuadrat momentum sudut dan bagi salah satu komponen momentum
sudut. Fungsi eigen bersama antara L 2 dan L z (misalnya) harus berbeda
dengan fungsi eigen bersama bagi L 2 dan L x maupun bagi L 2 dan L y .

Berdasarkan konsekuensi di atas maka pembahasan tentang pengku-


antuman momentum sudut cukup dilakukan terhadap L 2 dan salah satu
komponen dari L 2 . Mengingat penempatan sumbu-sumbu koordinat X, Y,
maupun Z bersifat bebas, maka kita dapat memilih salah satu dari ketiga
komponen tersebut. Untuk memudahkan analisis dipilih L z , sebab opera-
tor ini hanya bekerja pada satu variabel, yaitu . (Lihat Persamaan 8.10c)

2
8.3.1 Persamaan Nilai Eigen Bagi L

Dalam sistem koordinat bola, operator L 2 hanya bekerja pada dan


(lihat Persamaan (8.11)). Dengan demikian, fungsi eigen bagi L 2 cukup di-
nyatakan oleh fungsi dan , selanjutnya kita beri lambang Y(,), dan
persamaan nilai eigen bagi L 2 dapat dinyatakan sebagai

2 Y ( , ) 2Y ( , ) ,
L (8. 18)
dengan merupakan besaran tak berdimensi yang nilainya merupakan
bilangan real positif atau nol. Ketentuan bahwa harus tidak berdimensi
disebabkan karena 2 sudah berdimensikan kuadrat momentum sudut.
Penetapan bahwa harus merupakan bilangan real positif atau nol dida-
sarkan pada kenyataan bahwa L merupakan operator Hermitean (dengan
2 harus positif atau nol.
demikian nilai eigennya real) sehingga nilai eigen L
Dengan menggunakan Persamaan (8.11), Persamaan (8.18) dapat diu-
bah menjadi

Pengantar Fisika Kuantum


Persamaan nilai eigen momentum sudut 217

2 1 1 2
2 Y ( , ) Y ( , ). (8. 19)
tan sin 2 2

2 yang selanjutnya akan kita pecahkan
Inilah persamaan nilai eigen bagi L
untuk mendapatkan spektrum nilai eigen beserta fungsi eigennya.
Persamaan diferensial parsial (8.19) tersebut dapat diubah menjadi
sistem persamaan diferensial biasa melalui teknik pemisahan variabel. An-
daikan Y(,) dinyatakan sebagai perkalian fungsi ( ) dan ( ) , yaitu
Y(,) = ( ) ( ) , (8. 20)
maka Persamaan (8.19), setelah dikalikan dengan sin/(), menjadi

1 d 2 sin 2 d2 1 d
(8. 21)

d 2

d 2 tan d .

Masing-masing ruas pada persamaan itu merupakan fungsi dengan vari-


abel yang berbeda. Ruas kiri sebagai fungsi saja dan ruas kanan sebagai
fungsi saja. Oleh sebab itu, kesamaan antarkedua ruas tersebut dijamin
berlaku untuk sebarang dan jika masing-masing ruas tersebut berupa
konstanta. Jika konstanta tersebut diberi lambang m maka Persamaan
(8.21) dapat diubah menjadi sistem persamaan
d 2
m 2 0, (8. 22a)
d 2
dan
d 2 1 d m2
0. (8.22b)
d 2 tan d sin 2

Penyelesaian Persamaan (8.22a) adalah

( ) e i m . (8. 23)
Karena Y(,) harus bernilai tunggal maka () juga harus bernilai tung-
gal. Oleh sebab itu () harus memenuhi syarat batas: ( =0) = (
=2), sebab kedua nilai tersebut menyatakan titik yang sama.
Berdasarkan syarat ini maka nilai m haruslah merupakan bilangan bulat
(negatif atau positif) atau nol. Jadi
m = 0, 1, 2, 3, (8. 24)

Bab 8: Momentum Sudut


218 Persamaan nilai eigen momentum sudut

Untuk mendapatkan penyelesaian Persamaan (8.22b), kita sederhana-


kan terlebih dahulu persamaan diferensial tersebut dengan mengubah va-
riabel menjadi berdasarkan definisi
cos , (8. 25)
sehingga
d d
() F( ) dan 1 2 .
d d
Dengan menggunakan variabel baru ini, Persamaan (8.22b) dapat diubah
menjadi

m2
d

d

1 2 dF

d 1 2
F F 0. (8. 26)

Kita akan menyelesaikan persamaan itu secara bertahap. Mula-mula kita


gunakan m = 0 kemudian kita selesaikan untuk m 0.
Untuk m = 0, Persamaan (8.26) menjadi

d

1
d
2 dF

F 0.
d
(8. 27)

Persamaan itu tidak lain adalah Persamaan diferensial Legendre. Penyele-


saian persamaan itu dapat dinyatakan sebagai deret pangkat:

F( ) a k k , (8. 28)
k 0

dengan koefisien ak memenuhi hubungan rekursi:


k ( k 1)
a k 2 ak . (8. 29)
( k 1) (k 2)

Deret pangkat (8.28) tersebut merupakan deret divergen untuk =1.


Karena =1 merupakan nilai yang mungkin dimiliki (ingat cos )
maka deret tersebut harus dipaksa berhenti sampai suku tertentu, misal-
nya sampai suku berpangkat . Jadi, deret pangkat (8.28) harus dibatasi
menjadi polinom

F ( ) a k k dengan = 0, 1, 2, . . . (8. 30)
k 0

Penghentian tersebut dapat dilakukan dengan menetapkan nilai se-


demikian rupa sehingga pembilang Persamaan (8.29) bernilai nol. Berda-

Pengantar Fisika Kuantum


Persamaan nilai eigen momentum sudut 219

sarkan hubungan rekursi tersebut, untuk menghentikan deret sampai


suku berpangkat , nilai harus memenuhi hubungan
( 1) . (8. 31)
Selain persyaratan = (+1), untuk menjamin deret tidak divergen maka
diperlukan syarat tambahan: a0 = 0 untuk ganjil dan a = 0 untuk genap.
Tambahan syarat ini diperlukan mengingat hubungan rekursi (Persamaan
8.29) tersebut hanya menghubungkan antarkoefisien suku berpangkat
ganjil saja atau antarkoefisien suku berpangkat genap saja.

Contoh Soal 8.2

Dapatkan Fungsi F() untuk (a) = 4 dan (b) = 5.

Analisis

(a) Karena genap maka a = 0 sehingga ak = 0 untuk k ganjil. Ka-


rena = 4 besesuaian dengan = 20 maka pada Persamaan
(8.29) harus diberi nilai 20. Berdasarkan Persamaan (8.29) kita
peroleh:
0 1 20
a2 a0 10 a 0 , (untuk k = 0),
12
2 3 20 14 70
a4 a 2 ( 10) a 0 a0 , (untuk k = 2),
34 12 6
ak = 0, (untuk k 4).

Dengan demikian kita peroleh


a0
F() = a (1 10 + 70/6 ) = (3 30 + 35 )
3

(b) Karena ganjil maka a = 0 sehingga ak = 0 untuk k genap. Ka-


rena = 5 besesuaian dengan = 30 maka pada Persamaan
(8.29) harus diberi nilai 30. Berdasarkan Persamaan (8.29) kita
peroleh:

1 2 30 14
a3 a1 a1 , (untuk k = 1),
23 3

Bab 8: Momentum Sudut


220 Persamaan nilai eigen momentum sudut

3 4 30 9 14 42
a5 a 3 a 1 a1 , (untuk k = 3),
45 10 3 10
ak = 0, (untuk k 5).

Dengan demikian kita peroleh

a1
F() = a1( 14/3 + 42/10 ) = (15 70 + 63 )
15

Polinom Persamaan (8.30) dengan koefisien sebagaimana didefinisi-


kan pada Persamaan (8.29) itu dikenal sebagai polinom Legendre. Beberapa
polinom yang kita dapatkan dalam Contoh Soal 8.2 tadi semuanya belum
ternormalkan. Kita dapat mengubahnya menjadi ternormalkan dengan
memilih nilai a atau a yang sesuai.
Ada cara lain untuk mendapatkan polinom Legendre yang sudah ter-
normalkan, yaitu dengan menggunakan rumusan:

d
P ( )
1

2 ! d
2 1 . (8. 32)

Berikut beberapa contoh polinom yang didapatkan dari Persamaan (8.32)


tersebut.

P0() = 1 P3 () = (5 3)
1
P1() = P4 () = (35 30 + 3) (8. 33)
8
1
P2() = (3 1) P5 () = (63 70 + 15)
8
Perhatikan bahwa polinom yang kita dapatkan pada Contoh Soal 8.2 tadi
semuanya sesuai dengan polinom yang didapatkan dari Persamaan (8.32).
(Bandingkan P4 dan P5 pada Persamaan (8.33) dengan yang kita dapatkan
di Contoh Soal 8.2).
Mengingat fungsi F() pada Persamaan (8.27) ternyata merupakan
polinom Legendre orde , dengan memenuhi hubungan (+1) = , maka
Persamaan (8.27) dapat diganti dengan

2 dP ( )
d

1
d

d
( 1) P ( ) 0 . (8. 34)

Pengantar Fisika Kuantum


Persamaan nilai eigen momentum sudut 221

Kembali ke Persamaan (8.26). Untuk m = 0, penyelesaian persamaan


tersebut adalah polinom Legendre P ( ). Untuk memperoleh
penyelesaian Persamaan (8.26) bagi semua m, kita perhatikan suatu
polinom Pm ( ) yang diturunkan dari polinom P ( ) berdasarkan
rumusan:
d m P ( ) 1 d m

Pm ( ) 1 2 m/2

d m

1 2
2 !
m/2

d m
2 1 , (8. 35)

dengan 0 m . Polinom tersebut dikenal sebagai polinom Legendre se-


kawan jenis pertama (assosiated Legendre function of the first kind) dan meru-
pakan penyelesaian reguler bagi persaman diferensial
m
d 2 dP ( ) m2

1
d

d 1 2
Pm ( ) ( 1) Pm ( ) 0 . (8. 36)

Persamaan (8.36) ini identik dengan Persamaan (8.26) jika = (+1).


Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa polinom Pm ( ) merupakan
penyelesaian Persamaan (8.26). Ini juga berarti bahwa penyelesaian Per-
samaan (8.22b), yaitu persamaan pokok yang sedang kita selesaikan,
adalah
( ) Pm (cos ) , (8. 37)

dengan Pm (cos ) merupakan polinom Legendre sekawan jenis pertama,


Persamaan (8.35), untuk cos.
Jika Persamaan (8.23) dan (8.37) disubtitusikan ke dalam Persamaan
(8.20) menghasilkan penyelesaian akhir Persamaan (8.19) sebagai

Ym ( , ) e i m Pm (cos ) . (8. 38)

Fungsi Ym ( , ) tersebut identik dengan fungsi harmonis bola (sphe-


rical harmonics) yang didefinisikan sebagai

2 1 ( m)!
Ym ( , ) ( 1)m e i m Pm (cos ) , (8. 39a)
4 ( m)!

untuk m 0, dan untuk m negatif diperoleh dari fungsi untuk m positif


melalui hubungan

Bab 8: Momentum Sudut


222 Persamaan nilai eigen momentum sudut


Ym ( 1)m Y m .

(8.39b)
Fungsi harmonis bola ini telah ternormalkan terhadap integrasi meliputi
seluruh sudut ruang dalam sistem koordinat bola, yaitu

Y Y
m m
sin d d m ,m , , (8. 40)

dengan ij adalah delta kronecker yang nilainya nol jika indeknya berbeda
dan 1 (satu) jika indeksnya sama.
Berdasarkan uraian tersebut maka akan lebih menguntungkan jika
m
Y ( , ) pada Persamaan (8.38) ganti dengan fungsi harmonis bola (Persa-
maan 9.39) tersebut.

8.3.2 Persamaan Nilai Eigen Bagi L z

Karena kita telah mendapatkan fungsi eigen bagi L 2 , sementara itu


kita sudah menyimpulkan bahwa terdapat suatu fungsi yang merupakan
fungsi eigen bersama bagi L 2 dan L z , (lihat uraian awal Bagian 8.3 di
depan) maka ada baiknya kita menguji apakah fungsi eigen bagi L 2 tadi
benar-benar merupakan fungsi eigen bagi L z .
Menurut Persamaan (8.10c), operasi L pada Y m ( , ) menghasilkan
z
2 1 ( m)! d im
L zYm ( , ) i Ym ( , ) i ( 1)m Pm (cos ) e
4 ( m)! d (8. 41)
m
m Y , ) .
(

Persamaan tersebut menunjukkan bahwa Ym ( , ) juga merupakan fungsi


eigen bagi L , dengan nilai eigen m .
z

8.3.3 Spektrum Nilai Eigen L 2 dan L


z
2 dan L , yaitu:
Kita nyatakan sekali lagi persamaan nilai eigen bagi L z

L 2Ym ( , ) ( 1) 2 Ym ( , ), (8. 42a)

L z Ym ( , ) m Ym ( , ) . (8.42b)
Sejauh yang sudah kita uraikan sampai saat ini, nilai sudah kita
dapatkan secara tegas, yaitu salah satu dari deretan nilai diskret: 0, 1, 2,
dst. Tetapi, batasan untuk nilai m belum kita tentukan secara tegas.

Pengantar Fisika Kuantum


Persamaan nilai eigen momentum sudut 223

Menurut Persamaan (8.35), nilai m dibatasi oleh ketaksamaan 0 m


sedangkan menurut Persamaan (8.24), nilai m haruslah merupakan salah
satu dari deretan nilai diskret: 0, 1, 2, 3, dst. Ketidakjelasan batasan
ini dapat kita pecahkan sebagai berikut.
Munculnya persyaratan 0 m pada Persamaan (8.35) karena
indeks m tersebut untuk menyatakan penderivatifan P ( ) sebanyak m
kali. Dengan demikian maka m haruslah dipilih bilangan bulat positif.
Jadi, pokok yang penting dalam persoalan ini adalah bahwa m yang mun-
cul pada Pm ( ) , jadi juga dalam Ym ( , ) , harus merupakan bilangan
bulat positif atau nol. Sekarang marilah kita amati Persamaan (8.22b) yang
merupakan dasar mendapatkan Pm ( ) . Pada persamaan itu, jika kita me-
ngubah m dengan m maka persamaan tersebut tidak berubah. Ini berarti
bahwa m boleh negatif. Karena tujuan utama dari persyaratan m adalah
agar m merupakan bilangan positif, sedangkan di pihak lain m boleh
negatif, maka persyaratan 0 m dapat diubah menjadi |m| . Dengan
demikian, m boleh negatif asalkan nilai mutlaknya kurang dari atau sama
dengan .
Dengan telah ditemukannya batasan nilai m dan maka pencarian
spektrum nilai eigen bagi L 2 dan L segera dapat kita lakukan. Berdasar-
z
kan Persamaan (8.42) dan batasan nilai untuk m dan , nilai-nilai eigen
bagi L 2 dan L secara berurutan adalah (+1) 2 dan m , dengan
z
merupakan bilangan bulat positif atau nol (0, 1, 2, ) dan m harus
merupakan bilangan bulat yang memenuhi hubungan |m| atau
m .
Dengan kata lain, menurut fisika kuantum, besarnya momentum su-
dut yang dimiliki suatu benda tidak boleh sebarang, melainkan harus
memenuhi hubungan

L ( 1) (8. 43a)

dengan = 0, 1, 2, ;
dan arahnya juga harus sedemikian rupa sehingga komponen ke salah
satu sumbu yang dipilih, misalnya sumbu-Z, sebesar

Lz = m , (8.43b)
dengan m = , 1, ..., -1, 0, 1, ... , .

Bab 8: Momentum Sudut


224 Orientasi vektor momentum sudut

2 dan L
8.3.4 Kemerosotan Nilai Eigen L z

Berdasarkan Persamaan (8.43b), untuk setiap nilai tertentu terdapat


2 hanya ditentukan oleh
(2+1) macam nilai m. Karena nilai eigen bagi L
maka terdapat sebanyak (2+1) macam fungsi eigen bagi L 2 untuk nilai
eigen yang sama. Dengan demikian, setiap nilai eigen bagi L 2 merosot
(terdegenerasi) lipat (2+1).
Di lain pihak, karena nilai eigen bagi L z hanya ditentukan oleh m
maka hanya terdapat satu fungsi eigen bagi L dengan nilai eigen
z
2 dan L untuk
tertentu. Tabel 8.1 berikut menyajikan fungsi eigen bagi L z
beberapa nilai .
2 dan L
Tabel 8.1 Contoh fungsi eigen dan nilai eigen bagi L z

Nilai 2
Nilai dan fungsi eigen bagi L Nilai dan fungsi eigen bagi L z
Nilai eigen Fungsi eigen Nilai eigen Fungsi eigen

0 0 Y00 ( , ) 0 Y00 ( , )

1 2 2 Y11 ( , ) Y11 ( , )
Y10 ( , ) 0 Y10 ( , )
Y11 ( , ) Y11 ( , )

2 6 2 Y22 ( , ) 2 Y22 ( , )

Y21 ( , ) Y21 ( , )
Y20 ( , ) 0 Y20 ( , )
Y21 ( , ) Y21 ( , )
Y22 ( , ) 2 Y22 ( , )

8.4 ORIENTASI VEKTOR MOMENTUM SUDUT

Berdasarkan Persamaan (8.43), magnitudo momentum sudut adalah


( 1) , dengan merupakan bilangan bulat positif atau nol, dan pro-
yeksi L pada sumbu Z harus bernilai m dengan m merupakan bilangan

Pengantar Fisika Kuantum


Orientasi vektor momentum sudut 225

bulat antara sampai . Gambar 8.3 berikut mengilustrasikan bagaimana


nilai-nilai tersebut menentukan orientasi L terhadap ruang.

Z Z

2
L2
L1 2
1
1

0 0

1
1
2

(a) (b)

Gambar 8.3 Contoh orientasi vektor momentum sudut dengan bilangan kuan-
tum = 1 (gambar a) dan = 2 (gambar b). Untuk = 1, ada 3
kemungkinan arah L (gambar a), dan untuk = 2 terdapat 5
kemungkinan arah L (gambar b).

Gambar 8.3 tersebut hanya memperhatikan komponen L terhadap


sumbu-Z saja, sedangkan komponen pada arah sumbu-X dan sumbu-Y
belum diperhatikan. Untuk mendapatkan gambaran yang lengkap, kita
perlu mendapatkan informasi pengaruh Lx dan Ly tersebut.
Informasi yang dimaksud dapat diperoleh dengan mengoperasikan
operator L x dan L y pada fungsi eigen Ym ( , ) . Sayang sekali, penghitung-
annya memerlukan tempat yang lebar untuk disajikan di sini. Oleh karena
itu kita tuliskan hasilnya saja.
Operasi L x , lihat Persamaan (8.10a), pada fungsi eigen Ym ( , ) meng-
hasilkan

L xYm

2

( m)( m 1) Ym 1 ( , ) ( m)( m 1) Ym 1 ( , ) , (8. 44a)

Bab 8: Momentum Sudut


226 Orientasi vektor momentum sudut

dan operasi L y , lihat Persamaan (8.10b), pada fungsi eigen Ym ( , ) meng-


hasilkan

L yYm
i
2

( m)( m 1) Ym 1 ( , ) ( m)( m 1) Ym 1 ( , ) . (8.44b)

Kedua operasi itu menunjukkan bahwa Ym ( , ) bukan fungsi eigen bagi


L x maupun L y . Karena itu, alih-alih mencari jawab berapa saja nilai ma-
sing-masing komponen itu, kita akan menghitung nilai harapnya.
Nilai harap L x adalah

L x YmL xYm sin d d 0 . (8. 45)


Dalam penghitungan itu kita telah menggunakan Persamaan (8.44a)


kemudian memperhatikan sifat keortonormalan Ym ( , ) sebagaimana
dinyatakan pada Persamaan (8.40). Nilai harap L dapat dihitung dengan
y

cara serupa, tentu saja sekarang harus menggunakan Persamaan (8.44b).


Hasilnya adalah

L y YmL yYm sin d d 0 . (8. 46)


Karena nilai harapnya nol, berarti Lx maupun Ly bernilai acak dan


sebarang, dari suatu nilai maksimum tertentu sampai negatifnya. Nilai
maksimum itu, tentu saja, sebesar proyeksi L pada bidang X-Y.
Berdasarkan nilai Lz, Lx, dan Ly tersebut kita dapat melukiskan gam-
baran tiga dimensi orientasi vektor momentum sudut untuk keadaan ter-
tentu. Gambar 8.4 berikut melukiskan orientasi momentum sudut untuk
bilangan kuantum = 1 dan untuk semua bilangan kuantum m yang
mungkin. Untuk m 0, seluruh orientasi vektor L yang mungkin mem-
bentuk permukaan kerucut lingkaran yang tingginya m , sedangkan un-
tuk m = 0 membentuk lingkaran yang terletak di bidang X-Y dengan jari-
jari sebesar |L| 2 .
Gambar 8.4 menunjukkan bahwa vektor momentum sudut me-
ngalami pengkuantuman ganda, yaitu besar dan orientasinya.
Pengkuantuman orientasi momentum sudut ini biasa disebut pengkuan-
tuman ruang (space quantization). Kesimpulan ini berbeda dengan yang kita
dapati di ranah fisika klasik di mana momentum sudut dapat memiliki
sebarang nilai dan orientasinya pun juga bebas.

Pengantar Fisika Kuantum


Orientasi vektor momentum sudut 227

Y11 1

0
Y1
Y

X 1
Y01

Gambar 8.4. Orientasi vektor L untuk = 1. Ada 3 kemungkinan keadaan


orientasi, masing-masing untuk m = 1, m = 0, dan m = 1.

Berdasarkan nilai-nilai yang mungkin dimiliki oleh momentum sudut,


dan juga ilustrasi pada Gambar 8.4, dapat disimpulkan bahwa panjang
proyeksi L pada sumbu Z selalu kurang dari besarnya L. Ini juga berbeda
dengan tinjauan klasik.
Apakah kesimpulan secara kuantum selalu berbeda dengan kesim-
pulan klasik? Berdasarkan asas korespondensi, jawaban atas pertanyaan
itu mestinya tidak. Untuk menunjukkan adanya korespondensi, marilah
kita lihat apa yang terjadi jika kita mengambil yang sangat besar.
Untuk yang sangat besar, maka beda antarnilai L z yang berurutan,
yaitu , sangat kecil dibandingkan nilai maksimum L , yaitu , sehingga
z

lim 0 .
L z
lim (8. 47)
L z max

Dengan demikian, untuk yang sangat besar, pengkuantuman nilai L z ti-
dak lagi signifikan dan spektrum nilai L dapat dianggap kontinu. Demi-
z
kian pula halnya dengan spektrum nilai L.
Korespondensi klasik dapat pula dilihat dengan memperhatikan
sudut yang dibentuk oleh vektor L dengan vektor Lz. (Lihat Gambar 8.5).
Untuk nilai tertentu, sudut antara kedua vektor itu mencapai minimum
pada saat nilai L z maksimum, yaitu . Jika sudut terkecil tersebut kita
beri lambang , maka

Bab 8: Momentum Sudut


228 Hukum kekekalan momentum sudut


cos 1 . (8. 48)
( 1)

Untuk kita dapatkan cos = 1, atau = 0. Ini berarti bahwa vektor L
berimpit dengan vektor Lz.

Lz L

( 1)

0
Gambar 8.5 Definisi sudut , yaitu sudut terbesar yang dibentuk oleh L dan Lz

Uraian tadi menunjukkan bahwa untuk terdapat kecocokan kesim-


pulan antara tinjauan klasik dan tinjauan kuantum terhadap momentum
sudut. Kesimpulan ini memperkaya bukti adanya kesepadanan antara
fisika kuantum dengan fisika klasik.

8.5 HUKUM KEKEKALAN MOMENTUM SUDUT

Di depan telah kita sebutkan bahwa pada partikel yang bergerak di


bawah pengaruh potensial sentral, secara klasik, berlaku hukum
kekekalan momentum sudut. Pada bagian akhir pembahasan momentum
sudut ini, kita akan menguji apakah rumusan kuantum tentang
momentum sudut juga mendapatkan kesimpulan yang sama.
Untuk menguji apakah momentum sudut berubah terhadap waktu,
kita gunakan persamaan gerak Heisenberg seperti yang telah kita
temukan di Bab 5, yaitu
d A 1 A
[ A, H ] . (8. 49)
dt i t
Jika persamaan itu kita gunakan untuk L , dan mengingat bahwa L
secara
eksplisit tidak bergantung waktu (L hanya bergantung pada r dan p),
maka perubahan L terhadap waktu hanya ditentukan oleh komutator
[L , H ] .

Pengantar Fisika Kuantum


Hukum kekekalan momentum sudut 229

Untuk mendapatkan [L , H ] pertama-tama kita ingat bentuk eksplisit


2 dalam koordinat bola.
(yang diwakili oleh L , L dan L ) dan L
operator L x y z
Menurut Persamaan (8.10) dan (8.11), operator-operator tersebut tidak
memuat derivatif terhadap r. Ini berarti bahwa L dan L 2 keduanya berko-
mutasi dengan sebarang fungsi r.
Di pihak lain, Hamiltonan sistem adalah jumlah energi potensial di-
tambah energi kinetik. Dalam gerak tiga dimensi, energi kinetik partikel
dapat dinyatakan dalam bentuk
2
1 L2 r . p
Ek . (8. 50)
2m r 2 r

Dengan menggunakan sistem koordinat bola, operator energi kinetik ter-
sebut berbentuk
1 L 2 2 2
E k 2 r . (8. 51)
2m r 2 r r r

Mengingat L berkomutasi dengan L 2 dan juga terhadap semua fungsi r,


maka menurut Persamaan (8.51), L juga berkomutasi dengan E . Dengan
k
demikian, [L , H ] kini hanya bergantung pada hubungan komutasi antara
L dan operator energi potensial.
Untuk partikel dalam potensial sentral (bersimetri bola), energi po-
tensialnya hanya bergantung pada r. Dengan demikian, pada gerak di ba-
wah pengaruh potensial sentral, L berkomutasi dengan energi potensial
partikel.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada gerak di
bawah pengaruh potensial sentral berlaku [L , H ] = 0 . Subtitusi nilai ini
pada Persamaan (8.49) menghasilkan kesimpulan bahwa L tidak bergan-
tung waktu. Dengan kata lain, nilai harap momentum sudut bersifat kekal.
Jadi dapat disimpulkan bahwa secara kuantum pun berlaku hukum keke-
kalan momentum sudut bagi partikel yang bergerak di bawah pengaruh
potensial sentral sebagaimana dinyatakan dalam fisika klasik.

8.6 ATOM BERELEKTRON TUNGGAL

Yang dimaksud atom berelektron tunggal adalah atom yang memiliki


sebuah elektron. Contoh, atom Hidrogen netral. Elektron dan inti atom

Bab 8: Momentum Sudut


230 Atom berelektron tunggal

membentuk sistem dua partikel yang saling berinteraksi mengikuti Hu-


kum Coulomb. Dalam hal ini, energi potensial interaksi itu adalah
Ze 2
V( r ) , (8. 52)
4 0r

r adalah jarak relatif elektron terhadap inti, Ze merupakan perkalian


jumlah muatan listrik dalam inti (yaitu Ze) dengan muatan listrik elektron
(yaitu e), 0 menyatakan permitifitas dalam vakuum (8,910
C.N.m, dan Z menyatakan jumlah proton dalam inti.

8.6.1 Persamaan Schrdinger


Karena energi potensial sistem hanya bergantung pada jarak elektron
ke pusat koordinat (dengan asumsi inti atom di pusat koordinat), maka
kita akan menggunakan sistem koordinat bola seperti telah didefinisikan
pada Gambar 8.2. Selain itu, karena energi potensial tersebut secara eks-
plisit tidak bergantung waktu maka kita dapat menggunakan Persamaan
Schrdinger Bebas Waktu.
Persamaan Schrdinger Bebas Waktu pada kasus tersebut berbentuk
2 2
( r , , ) V ( r ) ( r , , ) E ( r , , ) , (8. 53)
2

dengan menyatakan massa tereduksi bagi sistem dua partikel (elektron


dan inti atom) yang didefinisikan sebagai
M
m, (8. 54)
Mm
dengan m massa elektron dan M massa inti atom. Kita harus
menggunakan massa tereduksi mengingat elektron dan inti atom
merupakan sistem dua partikel yang saling berinteraksi dan bersama-
sama bergerak terhadap sistem pusat massanya. Dengan menggunakan
massa tereduksi ini, gerakan sistem dapat diwakili oleh sebuah partikel semu
yang massanya sama dengan massa teredukti itu, posisinya sama dengan
jarak relatif antarpartikel sebenarnya, dan energi potensialnya sama
dengan energi potensial interaksi antarpartikel sebenarnya. Mengingat
massa elektron jauh lebih kecil daripada massa inti, massa tereduksi
tersebut praktis sama dengan massa elektron, dan pusat massa sistem
praktis berimpit dengan posisi inti atom. Jadi, partikel semu tersebut
secara praktis adalah elektron dan jarak relatif r tadi adalah jarak elektron
ke inti pada situasi sebenarnya.

Pengantar Fisika Kuantum


Atom berelektron tunggal 231

Dalam sistem koordinat bola, operator Laplacean dapat dinyatakan


dalam bentuk:

1 2 1 2 1 1 2
2 r 2

2
. (8. 55)
r 2 r r r 2 tan r sin 2
2

Dengan menerapkan operator itu pada Persamaan (8.53) kita dapat mem-
peroleh fungsi gelombang (r,,) beserta nilai E yang cocok. Namun
demikian, alih-alih menggunakan cara itu kita akan menggunakan cara
lain yang modalnya sudah kita dapatkan pada pembahasan sebelumnya.

8.6.2. Penyelesaian Persamaan Schrdinger


Suku pertama ruas kiri Persamaan (8.53) tidak lain adalah operator
energi kinetik yang dikerjakan pada fungsi gelombang (r,,). Dengan
menggunakan operator energi kinetik seperti dinyatakan pada Persamaan
(8.51), dan dengan modifikasi m, maka Persamaan (8.53) dapat diubah
menjadi

1 L 2 2 2
r ( r , , ) V( r )( r , , ) E ( r , , ). (8. 56)
2 r 2 r 2 r r

Karena operator L 2 hanya bekerja pada fungsi dan (lihat Persamaan


8.11), maka akan sangat menguntungkan jika fungsi gelombang (r,,)
kita asumsikan merupakan perkalian fungsi Y(,) dan fungsi R(r) sebagai

(r,,) = Y(,)R(r). (8. 57)

Subtitusi Persamaan (8.57) ke Persamaan (8.56) dan mengingat bahwa L 2


hanya bekerja pada Y(,) menghasilkan

1 R L Y
2
2 d 2 d R
Y 2 r V( r )YR E YR , (8. 58)
2 r 2
r d r d r

atau, setelah dikalikan dengan (2r RY), menjadi

L 2 Y 2 d 2 d R
r 2 r 2 V( r ) E 0. (8. 59)
Y R d r dr

Suku pertama persamaan itu merupakan fungsi dan saja, sedangkan


suku kedua merupakan fungsi r saja. Oleh karena itu, masing-masing
suku tersebut haruslah suatu konstanta. Jika konstanta tersebut kita

Bab 8: Momentum Sudut


232 Atom berelektron tunggal

nyatakan sebagai 2 , persamaan tersebut identik dengan sistem


persamaan:
L 2 Y 2 Y , (8. 60 a)
dan
d 2 d R 2 r 2
r 2 E V( r )R R. (8. 60b)
d r d r

Penyelesaian Persamaan (8.60a)


Persamaan (8.60a) persis dengan Persamaan (8.18) yang memiliki pe-
nyelesaian berupa fungsi harmonis bola seperti dinyatakan pada Persama-
an (8.39). Jadi penyelesaian Persamaan (8.60a), yaitu Y yang tidak lain
merupakan komponen sudut bagi fungsi eigen, adalah

2 1 ( m)!
Ym ( , ) ( 1)m e i m Pm (cos ) , (8. 61)
4 ( m)!
dengan Pm (cos ) merupakan polinom Legendre sekawan jenis pertama,
lihat Persamaan (8.35). Nilai dan m pada fungsi harmonis bola itu ma-
sing-masing adalah: merupakan sebarang bilangan bulat positif atau nol
dan m merupakan bilangan bulat dari sampai +. Nilai yang meme-
nuhi Persamaan (8.60) adalah ( 1).

Penyelesaian Persamaan (8.60b)


Persamaan (8.60b) dapat dinyatakan dengan cara lain sebagai
2 d 2 d ( 1) 2
2
r 2
V( r ) R E R. (8. 62)
2 r d r d r 2 r
Dengan mengubah fungsi R(r) menjadi (r) melalui hubungan
(r)
R( r ) , (8. 63)
r
Persamaan (8.62) menjadi
2 d2 ( 1) 2
2
2
V( r ) ( r ) E ( r ). (8. 64)
2 d r 2 r

Pengantar Fisika Kuantum


Atom berelektron tunggal 233

Persamaan terakhir ini setara dengan persamaan Schrdinger bebas waktu


satu dimensi (seperti dinyatakan pada Bab 5) dengan potensial efektif
( 1) 2
Vef ( r ) V( r ) . (8. 65)
2 r 2
Persamaan (8.64) memuat bilangan kuantum yang nilainya sudah
kita ketahui berupa bilangan bulat positif atau nol. Karena itu, sangat ma-
suk akal jika kita menduga bahwa E yang memenuhi persamaan tersebut
tidak boleh sebarang. Kita tandai sebarang E yang memenuhi syarat
beserta fungsi (r) yang terkait dengan indeks n (yang patut diduga juga
berupa bilangan bulat seperti halnya dan ada hubungannya dengan itu
sendiri). Kita tulis lagi Persamaan (8.64), sekaligus mengisikan V(r) dari
Persamaan (8.52), menjadi
2 d 2 ( 1) 2 Ze 2
2
n ( r ) En n ( r ). (8. 66)
2 d r 2 r 2 4 0 r

Melalui penggantian dengan variabel-variabel berikut:


4 0 2
a0 , (8. 67a)
Z e2

r / a0 , (8.67b)

n2 En /EI , (8.67c)

Z 2 e 4
EI , (8.67d)
2 ( 4 0 )2
Persamaan (8.66) menjadi

d 2 ( 1) 2 2
d 2 2 n n ( ) 0. (8. 68)

Untuk , suku kedua dan ketiga persamaan itu dapat diabaikan ter-
hadap suku lainnya sehingga persamaan itu menjadi

d2 2
d 2 n n ( ) 0, (8. 69)

Bab 8: Momentum Sudut


234 Atom berelektron tunggal

n
dan memiliki penyelesaian umum berbentuk e . Selanjutnya, karena
di fungsi eigen harus nol maka kita hanya memilih penyelesaian
yang berpangkat negatif. Berdasarkan argumen itu maka penyelesaian
Persamaan (8.68) dapat diasumsikan berbentuk
n ( ) y n ( ) e n . (8. 70)
Subtitusi persamaan itu ke dalam Persamaan (8.68) menghasilkan
d2 d 2 ( 1)
2 2 n y n ( ) 0, (8. 71)
d d 2

yang dapat diselesaikan dengan teknik deret pangkat. Misal, penyelesai-


annya kita nyatakan dengan ungkapan

yn ( ) s ci i , (8. 72)
i0

dengan c 0. Subtitusi Persamaan (8.72) ke dalam (8.71) menghasilkan


( i s)( i s 1) ( 1)c 2 ( i s 1) 1 c i s 2
0. (8. 73)
i i n i 1

Karena ci terendah adalah c0, maka suku kedua hanya muncul untuk i > 0.
Agar ruas kiri Persamaan (8.73) bernilai nol untuk sebarang maka
semua koefisien dalam deret itu harus bernilai nol. Untuk membuat nol
koefisien suku berpangkat terendah (yaitu untuk i = 0) harus dipenuhi hu-
bungan
s ( s 1) ( 1)c 0 0. (8. 74)

Karena c 0 maka harus berlaku ( 1) s( s 1). Nilai s yang memenuhi


persamaan ini adalah s atau s 1.
Nilai s tidak mungkin kita pakai karena akan membuat fungsi
yn() bernilai tak berhingga di mendekati nol. Jadi hanya s 1 yang
kita pakai. Dengan menggunakan nilai s terpilih ini semua koefisien deret
pada Persamaan (8.73) dapat dibuat nol melalui hubungan rekursi
2[ n ( i ) 1]
ci c i1 ,
( i 1)( i ) ( 1)
atau setelah disederhanakan menjadi

Pengantar Fisika Kuantum


Atom berelektron tunggal 235

2 [ n ( i ) 1 ]
ci c i 1 . (8. 75)
i ( i 2 1)
Jadi, agar Persamaan (8.72) merupakan penyelesaian Persamaan (8.71) ma-
ka koefisien ci harus memenuhi Persamaan (8.75) dan s harus bernilai
s 1 . Namun demikian, bukan berarti upaya kita mencari fungsi radial
sudah tuntas. Sebab, sesungguhnya deret (Persamaan 8.72) itu merupakan
deret divergen, ingat bahwa nilai menjangkau . Untuk mendapatkan
fungsi radial yang berhingga, deret itu harus dipaksa berhenti sampai
suku tertentu.
Andaikan kita ingin menghentikannya sampai suku ke q (tentu saja q
harus lebih dari nol sebab c 0) maka kita harus memaksa cq = 0. Berda-
sarkan Persamaan (8.75), usaha ini pasti berhasil asalkan pembilang pada
persamaan itu dibuat nol untuk i = q. Maka kita peroleh hubungan
n (q ) 1 0 ,
atau
1
n . (8. 76)
( q )
Subtitusi nilai itu ke dalam Persamaan (8.67c) menghasilkan
EI
En . (8. 77)
( q )2
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa nilai En tidak bergantung
pada q dan secara terpisah, melainkan bergantung pada jumlahan q +.
Selanjutnya, karena q merupakan bilangan bulat: 1, 2, 3, (ingat bahwa q
berasal dari indeks i dan harus lebih dari nol) dan merupakan bilangan
bulat positif atau nol: 0, 1, 2, , maka (q +) harus merupakan bilangan
bulat: 1, 2, 3, . Karena (q +) nilainya seperti itu, dan fungsinya untuk
menunjukkan hubungan En terhadap EI, maka akan lebih baik jika bilang-
an (q+) itu kita nyatakan dengan suatu bilangan n. Dengan demikian,
ungkapan (8.77) kita ubah menjadi:
EI
En , n = 1, 2, 3, . (8. 78)
n2
Perlu dicatat bahwa nilai n tersebut berkaitan erat dengan . Oleh
karena itu, untuk menghindari hilangnya informasi penting ini, indeks n
pada En kita ganti dengan n,; sehingga En diubah menjadi En,.
Dengan notasi baru ini, kita tuliskan lagi Persamaan (8.66) menjadi

Bab 8: Momentum Sudut


236 Atom berelektron tunggal

2 d2 ( 1) 2 Ze 2
2
n , ( r ) En , n , ( r ) , (8. 79)
2 d r 2 r 2 4 0 r

Persamaan (8.76) menjadi


1
n , , (8. 80)
n
dan Persamaan (8.75) menjadi
2 [ ( ( i ) / n) 1 ]
ci c i 1 . (8. 81)
i ( i 2 1)

Bentuk akhir n, (r ) diperoleh dengan menggabungkan Persamaan (8.70),


(8, 72), (8.80), dan (8.67b). Hasilnya
i n
( r /( n a0 ))
n , ( r ) ( r / a 0 ) 1 c i ( r / a 0 ) i e . (8. 82)
i 0

dengan ci mengikuti Persamaan (8.81). Perhatikan bahwa batas atas deret


yang seharusnya q kita ganti dengan n , karena q = n .
Subtitusi Persamaan (8.82) ke dalam (8.63) menghasilkan bentuk akhir
penyelesaian radial
1 i
1 i n r ( r /( n a ))

R n , ( r ) r ci e 0
. (8. 83)
a0 i0 a
0
Bentuk eksplisit Rn, (r) bergantung pada nilai n dan . Di depan telah
disinggung bahwa n berkaitan erat dengan . Sekarang kita cari kaitan itu.
Dari hubungan = n q serta berbagai kemungkinan nilai untuk masing-
masing bilangan itu, maka untuk nilai n tertentu akan terdapat sejumlah
nilai yang tertentu pula. Nilai terkecil adalah nol yang dicapai saat q = n
sedangkan nilai terbesarnya adalah n yang dicapai ketika q = . Perha-
tikan sejumlah contoh dalam Tabel 8. 2 berikut.

Tabel 8.2 Berbagai nilai yang mungkin untuk n tertentu


n keterangan
1 0 (q = 1)
2 1 (q = 1)
0 (q = 2)
3 2 (q = 1)

Pengantar Fisika Kuantum


Atom berelektron tunggal 237

1 (q = 2)
0 (q = 3)
n n1 (q = 1)
n2 (q = 2)

1 (q = n1)
0 (q = n)
Berdasarkan tabel tersebut dapat disimpulkan kaitan antara nilai n dan
sebagai berikut.
Untuk n tertentu, maka = , , (n). (8. 84)

Contoh Soal 8.3

Dapatkan fungsi radial Rn, (r) untuk: (a) n = 1, (b) n = 2, dan (c) n
sebarang tetapi = n 1.

Analisis

(a) Untuk n = 1, nilai yang mungkin hanyalah = 0. Dari Persa-


maan (8.83) diperoleh

c 0 r /a0 r /a0
R 1, 0 ( r ) e A10 e , dengan A tetapan normalisasi
a0
bagi R(r).

(b) Untuk n = 2, nilai yang mungkin adalah 0 atau 1.

Untuk n = 2 dan = 0, dari Persamaan (8.83) diperoleh:

1 r /2 a0
R 2 ,0 ( r ) e
a

c 0 c 1 ( r / a 0 ) c 2 ( r / a 0 )2 .
0
Dari Persamaan (8.81) diperoleh hubungan: c= c/2, dan c=
0. Dengan demikian diperoleh
1 r /2 a0 r r /2 a0
R2 ,0 ( r ) e c0 c 0 / 2 ( r / a0 ) A20
1 e
a0 2 a0
dengan A tetapatan normalisasi bagi R(r).

Bab 8: Momentum Sudut


238 Atom berelektron tunggal

Untuk n = 2 dan = 1, dari Persamaan (8.83) diperoleh:

r
R2 ,1 ( r ) 2
c0 c1 (r / a 0 ) e r /2 a0 .
a0
Dari Persamaan (8.81) diperoleh hubungan: c=0. Dengan
demikian diperoleh
r r / 2 a0 r /2 a0
R2 ,1 ( r ) c0 e A21 r e
a 02
dengan A tetapatan normalisasi bagi R(r).
(c) Untuk n sebarang dan = n 1, Persamaan (8.83) menjadi

1 n1
r / a0 c0 c 1 ( r / a0 ) e r /n a0 .Tetapi, karena
Rn ,( n1 ) ( r )
a0
menurut Persamaan (8.81), c= maka

n 1 n 1
c0 r r /n a0 r r /n a0
R n , ( n 1 ) ( r ) e An ,( n1 ) e ,
a0 a0 a0

dengan An,(n1) merupakan tetapan normalisasi bagi Rn,(n1) (r).

8.6.3 Rapat Peluang Posisi


Jika semua proses penyelesaian Persamaan Schrdinger (Persamaan
8.53) tadi kita rangkum, maka kita peroleh penyelesaian akhir fungsi eigen
sebagai
n , ,m ( r , , ) Rn , ( r )Ym ( , ), (8. 85)

dengan Ym ( , ) merupakan fungsi harmonis bola (Persamaan 8.61) dan


Rn, (r) merupakan fungsi radial (Persamaan 8.83). Karena Persamaan
Schrdinger merupakan persamaan nilai eigen bagi Hamiltonan sistem,
maka fungsi tersebut merupakan fungsi eigen bagi H :

H n , ,m En n , ,m , (8. 86a)

Pengantar Fisika Kuantum


Atom berelektron tunggal 239

dengan
EI
En . (8.86b)
n2
Fungsi eigen tersebut juga merupakan fungsi eigen bagi L 2 :
L 2 n , ,m ( 1) 2 n , ,m (8. 87)

serta fungsi eigen bagi L z :


Lz n , ,m m n , ,m . (8. 88)
Berdasarkan fungsi eigen tersebut kita dapat memperoleh besarnya
peluang posisi elektron dalam suatu unsur volume dV = r2 d sebagai
2

( r , , ) dV n , ,m r 2 dr d |R n , |2 r 2 dr .|Ym |2 d . (8. 89)

Faktor pertama pada ruas terakhir dapat dimaknai sebagai besarnya pe-
luang elektron berada pada jarak antara r sampai r+dr, dalam suatu sudut
ruang tertentu yang diperhatikan; dan faktor kedua sebagai besarnya pe-
luang elektron berada dalam suatu unsur sudut ruang d, pada jarak r
tertentu. Dengan demikian kita dapatkan informasi rapat peluang posisi
secara radial sebagai
( r ) r 2 |Rn , ( r )|2 , (8. 90)

dan rapat peluang posisi berdasarkan sudut sebagai


( , ) |Y m ( , )|2 . (8. 91)

Kebergantungan terhadap sudut


Berdasarkan Persamaan (8.61) dan Persamaan (8.91) kita peroleh
hubungan |Ym ( , )|2 { Pm (cos )} 2 sehingga

( , ) { Pm (cos )} 2 . (8. 92)

Berarti (, ) tidak bergantung pada sudut asimut . Dengan kata lain,


semua titik pada sudut polar tertentu memiliki peluang yang sama
untuk ditempati elektron, berapa pun sudut asimut titik itu.
Untuk mendapatkan gambaran visualisasi dalam tiga dimensi, kita
lukis(, )dalam sistem koordinat polar melalui tahapan sebagai berikut.

Bab 8: Momentum Sudut


240 Atom berelektron tunggal

(1) Buat suatu sumbu yang dibentuk oleh dan tertentu, misal =
dan =.
(2) Hitung (, ) untuk 1dan 1tersebut, misalnya sebesar u.
(3) Buat titik pada sumbu (1,) pada jarak u dari pusat. Titik tersebut
adalah titik( 1, 1). Lihat Gambar 8.6.

Sumbu (1,1 )

Gambar 8.6. Cara menggambarkan (1, 1)


nilai(1, 1) pada sis- 1
u
tem koordinat polar O y
1

(4) Ulangi langkah tadi sehingga semua nilai (, ), yaitu untuk dari 0
sampai dan dari 0 sampai 2, sudah digambar.

Kusus untuk kasus kita, di mana (, ) tidak bergantung , dapat


digambar dengan lebih mudah. Caranya seperti langkah tadi, tetapi kini
kita dapat mengisikan = /2 sehingga sumbu (,) terletak pada bidang
y-z. Hitung nilai ( ) mulai dari = 0 sampai = (yaitu rentangan nilai
). Untuk setiap nilai ( ), hitung komponen y dan z dengan rumus: y( )
= ( ) sin dan z () = ( ) cos . Lihat Gambar 8.7. Plot semua titik
(y,z) pada bidang yz. Setelah itu, putar terhadap sumbu Z sebesar 2,
yaitu meliputi semua rentangan nilai .

Gambar 8.7 Persiapan cara melukis nilai z ( )


( ) pada sistem koordinat
polar. Perhatikan bahwa
y = ( ) sin dan O y y
z = ( ) cos

Pengantar Fisika Kuantum


Atom berelektron tunggal 241

Contoh Soal 8.4.

Gambarkan kebergantungan (terhadap sudut) peluang posisi


elektron pada keadaan kuantum dengan = 0 dan m = 0.

Analisis
Berdasarkan Persamaan (8.35) diperoleh P0 (cos ) P (cos ) , dan
berdasarkan data di Persamaan (8.33) kita dapatkan P(cos) =
konstanta. Oleh sebab itu (, ) = konstanta. Akibatnya, kurva
( ) yang dibuat pada bidang y-z berupa setengah lingkaran
yang berpusat di O. Perhatikan Gambar 8.8a. Jika kurva tersebut
diputar pada sumbu Oz sejauh 2 diperoleh kulit bola yang ber-
pusat di O seperti Gambar 8.8b.

z z

1 1

O
O 1 1
y y

1 x

(a) (b)

Gambar 8.8 Plot (, ) untuk =0 dan m = 0. (a) Plot ( ) pada = /2


(b) Plot lengkap (, ) yang diperoleh dengan memutar kur-
va Gambar (a) terhadap sumbu OZ sejauh 2. Catatan: ()
belum ternormalkan.

Contoh Soal 8.5.


Gambarkan kebergantungan (terhadap sudut) peluang posisi
elektron pada keadaan kuantum dengan = 1 dan m = 0.
Analisis
Berdasarkan Persamaan (8.35) diperoleh P0 (cos ) P (cos ) , dan
berdasarkan Persamaan (8.33) kita dapatkan P(cos)= cos. Jadi,

Bab 8: Momentum Sudut


242 Atom berelektron tunggal

( , ) cos 2 . Seperti pada contoh sebelumnya, kita buat dulu


plot( , ) cos 2 pada = /2. Hasilnya ditunjukkan pada
Gambar 8.9a. Perhatikan titik-titik istimewa (y,z): (0,1), (0,0), dan
(0,1). Titik (0,1) diperoleh pada saat = 0 (yaitu nilai minimum
), titik (0,0) diperoleh pada saat = /2, dan titik (0,1) diperoleh
pada saat = (yaitu nilai maksimum ). Perhatikan pula bahwa
nilai maksimum y (sekitar 0,38), terjadi pada z sekitar 0,54,
bukan pada z = 0,50. Titik (0,38 , 0,54) ini diperoleh saat tan2 =
0,5 atau = 35,3o. Jika kurva itu diputar terhadap sumbu OZ
sejauh 2 kita peroleh Gambar 89.b, yang merupakan plot
( , ) cos 2 meliputi semua nilai yang mungkin. Perhatikan
bahwa bentuknya seperti bola terpilin.
z
z
1,0

0,5

y
0,0
O y
0,5 1,0
x
-0,5

(a) -1,0 (b)

Gambar 8.9 Kebergantungan peluang posisi terhadap sudut untuk =1 dan


m = 0. (a) Plot (, /) (b) Plot lengkap (,) yang diperoleh
dengan memutar kurva Gambar (a) terhadap sumbu OZ.
Catatan: () belum ternormalkan.

Contoh Soal 8.6.


Gambarkan kebergantungan (terhadap sudut) peluang posisi
elektron pada keadaan kuantum dengan =2 dan m = 0.

Analisis

Berdasarkan Persamaan (8.33) kita dapatkan

Pengantar Fisika Kuantum


Atom berelektron tunggal 243

1
P(cos)= (3 cos 1) sehingga ( , ) ( 3 cos 2 1)2
4
Seperti pada contoh sebelumnya, kita buat dulu plot (,) untuk
= /2. Hasilnya ditunjukkan pada Gambar 8.10a. Kemudian kita
putar kurva itu terhadap sumbu OZ untuk menghasilkan plot
(,) meliputi semua nilai . Hasilnya ditunjukkan pada Gam-
bar 8.10b.

0,5

0
0 0,4 0,8

-0,5

(a) (b)
-1

Gambar 8.10 Kebergantungan peluang posisi terhadap sudut untuk =2 dan


m = 0. (a) Plot (,/2) (b) Plot lengkap (,) yang diperoleh
dengan memutar kurva Gambar (a) terhadap sumbu OZ sebesar
2. Catatan: (,) belum ternormalkan.

Ketiga gambaran tiga dimensi di depan dibuat dengan mengandalkan


seni melukis. Gambaran yang lebih teliti dapat diperoleh dengan bantuan
program komputer yang mampu menghasilkan grafik dari masukan yang
berupa fungsi. Gambar 8.11 berikut menyajikan beberapa hasil pengolahan
dengan program komputer (Maple 6).
z
z z

Bab 8: Momentum Sudut


=0 =1 =2
m=0 m=0 m=0
244 Atom berelektron tunggal

Gambar 8.11 Distribusi peluang posisi elektron terhadap sudut pada keadaan
kuantum dengan bilangan kuantum dan m seperti ditunjukkan
pada gambar.
Kebergantungan terhadap jarak
Pada Contoh Soal 8.3 kita sudah mendapatkan beberapa fungsi radial
sebagai berikut.
r /a0
R1,0 ( r ) A10 e , (8. 93)

r r /2 a0
R 2 ,0 ( r ) A20 1 e , (8. 94)
2 a0
r / 2 a0
R2 ,1 ( r ) A21 r e , (8. 95)

n 1
r r /n a0
Rn ,( n1 ) ( r ) An ,( n1) e . (8. 96)
a0
Berdasarkan beberapa fungsi radial itu, marilah kita pelajari bagaimana
kebergantungan peluang posisi elektron terhadap jaraknya ke inti.
Berdasarakan Persamaan (8.90), rapat peluang posisi elektron secara
radial bergantung pada kuadrat jarak dan fungsi radial:
( r ) r 2 |Rn , ( r )|2 .
Gambar 8.12 berikut menyajikan rapat peluang posisi yang sebagian besar
fungsi radialnya sudah kita dapatkan
(r)

n=1
=0

n=2
=0
n=3
=0

Pengantar Fisika Kuantum


r/a0
Atom berelektron tunggal 245

Gambar 8.12a. Distribusi radial rapat peluang posisi elektron untuk =0


pada n = 1, 2, dan 3. Garis putus-putus ditambahkan untuk
menunjukkan tempat terjadinya puncak.

(r)

n=2
=1

n=2
=0

r/a

Gambar 8.12b. Distribusi radial rapat peluang posisi elektron untuk n = 1


dan meliputi semua nilai yang mungkin. Garis putus-putus
ditambahkan untuk menunjukkan tempat terjadinya
puncak.

(r)

n=3
=0
n=3
=2
n=3
=1

Bab 8: Momentum Sudut


r/a0
246 Atom berelektron tunggal

Gambar 8.12c. Distribusi radial rapat peluang posisi elektron untuk n = 3


meliputi semua yang mungkin. Garis putus-putus ditam-
Berdasarkan gambar
bahkan tersebut,
untuk ada informasi
menunjukkan yang menarik
tempat terjadinya puncak.terkait de-
ngan letak titik-titik maksimum. Pada n = 1, = 0 puncak terjadi di r = a;
pada n = 2, = 1 puncak terjadi di r = 4a; dan pada n = 3, = 2 puncak
terjadi di r = 9a. Tampaknya ada hubungan antara n dan a, khususnya
untuk = n1; hubungan tersebut adalah rn = na.
Untuk menguji kebenaran dugaan itu, kita hitung tempat distribusi
peluang untuk Rn,n-1(r) mencapai maksimum. Dari Persamaan (8.96) kita
peroleh:
2
r n 1 r 2n
r /n a0 2 r /n a0
n , ( n1 ) ( r ) r 2 e e . (8. 97)
a0 a0

Fungsi distribusi rapat peluang tersebut memiliki puncak maksimum


yang terjadi pada
rn r maks = n a . (8. 98)
Berarti benar bahwa ada hubungan tertentu antara n dan a, khususnya
untuk = n1 tadi.
Karena nilai n juga berkait erat dengan energi elektron (lihat Persa-
maan (8.78), maka Persamaan (8.98) menunjukkan bahwa ketika elektron
memiliki energi sebesar En, posisi elektron yang paling mungkin saat itu
adalah suatu tempat yang berjarak rn = n a dari inti atom.
Akhirnya, dengan mengalikan rapat peluang posisi berdasar jarak
radial dan rapat peluang posisi berdasar sudut kita peroleh rumusan leng-
kap tentang rapat peluang posisi pada keadaan tertentu. Tabel 8.3 menya-
jikan fungsi rapat peluang posisi yang fungsi eigennya sebagian besar
sudah kita dapatkan.
Berdasarkan fungsi rapat peluang itu kita dapat menduga tempat-
tempat yang memiliki peluang besar ditempati elektron. Caranya adalah
dengan memperhatikan tempat-tempat di mana rapat peluang posisi men-
capai nilai maksimum. Untuk mendapatkan informasi itu, perhatikan
jarak r yang menyebabkan rapat peluang posisi radial mencapai maksi-
mum dan sudut polar yang menyebabkan rapat peluang posisi sudut
mencapai maksimum. Maka, tempat-tempat di sekitar (rmaks, maks, ) itulah

Pengantar Fisika Kuantum


Atom berelektron tunggal 247

elektron sangat mungkin berada. Sebagai contoh, perhatikan Gambar 8.13


di halaman berikut.

Bab 8: Momentum Sudut


248 Atom berelektron tunggal

Tabel 8.3 Beberapa fungsi eigen beserta rapat peluang posisi yang dihasilkan.
Fungsi eigen n, , m (r, , ) Rapat peluang posisi n , ,m ( r , , )

r /a0 2
1,0 ,0 e r 2 r /a0
1 ,0 ,0 e
a0
2 2
r r / 2 a0 r r r /a0
2 ,0 ,0 1 e 2 , 0 , 0 1 e
2 a 0 a0 2 a0

r r /2 a0 4
2 , 1 , 1 e sin e i 2 ,1 , 1
r

r /a0
e sin 2
a0
a0
r r / 2 a0 4
2 , 1, 0 e cos r r /a0
a0 2 , 1 , 0 e cos 2
a0
r r /2 a0 4
2 ,1,1 e sin e i r r /a0
a0 2 ,1 ,1 e sin 2
a0

2 2 r /3 a0
r r /3 a0 3 , 2 , 0 r 6 e ( 3 cos 2 1)2
3 , 2 ,0 e ( 3 cos 2 1)
a0
Catatan: Semua fungsi eigen dan rapat peluang tersebut belum ternormalkan.

z
a 4a

y
O

4a

n=1 n=2
=0 =1
m=0 m=0

Gambar 8.13. Perkiraan posisi yang sangat mungkin ditempati elektron pada
keadaan kuantum dengan bilangan kuantum sebagaimana ditun-
jukkan di gambar.

Pengantar Fisika Kuantum


Atom berelektron tunggal 249

Mengingat sudut asimut tidak menentukan besarnya rapat peluang


posisi elektron, tempat-tempat yang memiliki peluang besar ditempati
elektron dapat diperkirakan dengan membuat plot rapat peluang posisi
terhadap r dan . Perhatikan gambar-gambar berikut.

( r , )

n=2
=0

Gambar 8.14a. Plot distribusi peluang posisi elektron terhadap r dan untuk n =
2 dan = 0. Jarak r dalam satuan a, dan dalam satuan rad.

(r,)
n=2
=1
m = 1

Gambar 8.14b. Plot distribusi peluang posisi elektron terhadap r dan untuk n = 2,
= 1, dan m = 1. Jarak r dalam satuan a, dan dalam satuan
rad.

Bab 8: Momentum Sudut


250 Bilangan kuantum

( r , )

n=1
=0


r
( r , )

n=2
=1

r
(r,)

n=3
=2

Gambar 8.15. Plot distribusi peluang posisi elektron terhadap r dan untuk nilai
(n,,m) = (1,0,0), (2,1,0), dan (3,2,0). Jarak r dalam satuan a, dan
dalam satuan radian. Perhatikan bahwa jarak elektron ke inti me-
menuhi hubungan rn = n a .

Pengantar Fisika Kuantum


Bilangan kuantum 251

8.7. BILANGAN KUANTUM

8.7.1 Makna Bilangan Kuantum n, , dan m


Selama perjalanan menyelesaikan Persamaan Schrdinger untuk atom
berelektron tunggal tadi, kita telah menemukan tiga bilangan penting
yang saling terkait yaitu
n = 1, 2, 3, ,
= 0, 1, , n1,
m = , +1, , 1, 0, 1, , 1, ;
namun kita belum menelaah makna bilangan-bilangan itu kecuali hanya
menyatakan misalnya: untuk setiap nilai n tertentu, bernilai dari 0 sam-
pai n1; dan untuk setiap nilai tertentu, m bernilai dari sampai +. Ma-
rilah sekarang kita diskusikan makna masing-masing bilangan kuantum
tersebut.
Berdasarkan Persamaan (8.86) kita melihat bahwa bilangan n berkait
erat dengan (bahkan menentukan) besarnya energi atom. Di pihak lain
kita tahu bahwa Persamaan Schrdinger Bebas Waktu pada prinsipnya
merupakan persamaan nilai eigen bagi energi. Oleh karena itu sangat
beralasan jika bilangan n dinamai bilangan kuantum utama, sebab
bilangan ini menentukan besarnya energi atom, atau tingkat (level) energi
atom. Energi terendah (energi dasar) bersesuaian dengan n = 1, energi
pada keadaan tereksitasi pertama (E) bersesuaian dengan n = 2, dan
seterusnya.
Bagaimana dengan bilangan kuantum ? Untuk mendapatkan nama
yang dapat menggambarkan maknanya, perhatikan peranan bilangan itu
dalam menentukan besarnya momentum sudut elektron, juga dalam me-
nentukan posisi radial yang paling mungkin ditempati elektron (atau jari-
jari orbit elektron). Terhadap hal yang pertama, jelas bahwa bilangan
merupakan satu-satunya bilangan kuantum yang menentukan. Terhadap
hal yang kedua, ternyata harus bersama-sama dengan n dalam menentu-
kan jari-jari orbit elektron. Namun demikian bilangan tetap memegang
peranan yang sangat penting. Perhatikan bahwa jari-jari orbit elektron ha-
nya akan sebesar na jika = n1. Untuk yang lain jari-jari orbit tidak
lagi sebesar itu. (Untuk memperkokoh argumen ini, lihat Gambar 8.12b
untuk n = 2, dan Gambar 8.12c untuk n = 3). Dengan demikian, sangatlah
masuk akal jika bilangan dinamai bilangan kuantum orbital, sebab ia
sangat berperan dalam menentukan besarnya momentum sudut dan jari-
jari orbit elektron.

Bab 8: Momentum Sudut


252 Bilangan kuantum

Bagaimana dengan bilangan kuantum m? Sejauh ini masih sangat


sedikit informasi yang kita peroleh tentang m. Salah satu dari informasi
yang sedikit itu adalah: m bersama-sama menentukan bagian sudut
fungsi eigen. Lihat Persamaan (8.61) dan contoh fungsi eigen di Tabel 8.3.
Bahkan jika dirunut lebih ke belakang, pengaruh m terhadap fungsi eigen
itu bersifat umum dalam arti tidak bergantung pada bentuk eksplisit ener-
gi potensial sistem. Jadi pengaruh itu tidak hanya pada fungsi gelombang
bagi atom berelektron tunggal, tetapi bagi semua gerak tiga dimensi dalam
pengaruh potensial sentral. Informasi lainnya adalah yang terkait dengan
arah momentum sudut di mana bilangan m menyatakan besarnya kom-
ponen momentum sudut pada arah sumbu Z.
Marilah kita telaah lebih lanjut informasi terakhir itu. Dalam elektro-
dinamika kita mengenal apa yang disebut momen dipol magnet. Suatu
simpal arus listrik (current loop), yaitu arus yang melingkari suatu luasan,
dapat dipandang sebagai sebuah momen dipol magnet yang memenuhi
hubungan:
= iAn (8. 99)
dengan i menyatakan kuat arus listrik, A luasan yang dilingkupi arus (luas
simpal), dan n vektor satuan pada arah tegaklurus luasan. Jika simpal arus
listrik itu dihasilkan oleh sebuah elektron yang bergerak melingkar
dengan laju tangensial v dan orbitnya berupa lingkaran yang berjari-jari r
(lihat Gambar 8.16), maka i = ev/(2r) dan A = r sehingga momen dipol
magnetnya sebesar = erv.

Gambar 8.16. Momen dipol magnet yang di-


hasilkan oleh elektron yang berge-
v rak dalam orbit lingkaran yang ber-
e jari-jari r. Karena elektron bermuat-
an negatif maka arah arus listrik
r
berlawanan dengan arah gerak
elektron.
i

Di lain pihak, elektron tersebut juga memiliki momentum sudut terhadap


pusat orbit sebesar merv yang arahnya berlawanan dengan . Dengan
demikian momentum sudut dan momen dipol magnet elektron tersebut
memiliki hubungan
= e/(2me) L (8. 100)

Pengantar Fisika Kuantum


Bilangan kuantum 253

Hal ini menunjukkan bahwa momen dipol magnet yang dihasilkan oleh
gerakan berputar elektron sebanding dengan momentum sudut elektron,
dengan faktor kesebandingan sebesar e/(2me) yang dikenal sebagai rasio
giromagnetik.
Jika momen dipol magnet itu ditempatkan dalam suatu medan mag-
net luar B maka momen dipol tersebut akan terarahkan sejajar dengan B.
Energi untuk mengarahkan momen dipole dari arah semula menuju arah
medan magnet disebut energi potensial momen dipol magnet. Besarnya
energi potensial tersebut adalah
Ep = .B = e/(2me) L.B (8. 101)
Jika medan magnet dipilih sejajar sumbu-Z maka Persamaan (8.101)
menjadi
Ep = B .z = eB/(2me) Lz. (8. 102)
Penetapan arah medan magnet pada sumbu tertentu ini tidak akan
mengurangi generalisasi hasil yang diperoleh, sebab pemilihan sumbu-
sumbu X, Y, dan Z pada prinsipnya adalah bebas. Lihat bagian awal bab
ini. Dalam praktek, sumbu Z dipilih searah medan magnet yang
digunakan.
Rumusan klasik (Persamaan 8.102) tersebut dapat kita ubah menjadi
rumusan kuantum dengan cara mengubah besaran-besaran dinamis yang
muncul menjadi operator, yaitu Ep E p dan Lz L z :

eB
E p Lz . (8. 103)
2m e
Marilah kita padukan hasil di atas dengan pokok bahasan kita sebe-
lumnya, yaitu atom berelektron tunggal. Jika atom tersebut kini ditempat-
kan dalam medan magnet homogen Bz maka kita harus menambahkan
energi potensial momen dipol magnet (Persamaan 8.102) ke dalam rumus-
anV(r). Dengan demikian operator Hamiltonan sistem berubah menjadi
+ E dan persamaan nilai eigen (Persamaan 8.86a) berubah menjadi
H p

E ) eB eB
(H p H 2m Lz n , ,m En 2m m n , ,m . (8. 104)
n , ,m
e e
Persamaan tersebut menunjukkan bahwa kehadiran medan magnet
tidak mengubah keadaan sistem (fungsi eigen) melainkan hanya meng-
geser energi sistem sebesar m(eB/2me). Besaran e/(2me) memiliki satuan
yang sama dengan satuan momen dipole magnet (lihat Persamaan

Bab 8: Momentum Sudut


254 Bilangan kuantum

(8.100)). Besaran itu disebut magneton Bohr, karena muncul dalam teori
atom Bohr khususnya terkait dengan momen dipol magnet elektron ketika
mengitari inti atom hidrogen pada orbit pertama. Jika magneton Bohr
dilambangi B maka
e
B 0 ,93 10 23 J/T. (8. 105)
2m e
Besarnya pergeseran energi tersebut ternyata bergantung pada bilang-
an kuantum m. Jika m = 0, tidak terjadi pergeseran. Jika m = 1, level energi
En akan bergeser ke En+BB dan jika m = 1, level energi En akan bergeser
ke EnBB, dst. Oleh karena itu, bilangan kuantum m dinamai bilangan
kuantum magnetik, sebab bilangan itu mentukan besarnya pergeseran
level energi atom jika atom itu ditempatkan dalam medan magnet.

8.7.2 Bilangan Kuantum dan Lambang Spektroskopi


Spektroskopi (spectroscopy) adalah cabang fisika yang mempelajari
spektrum gelombang elektromagnet (radiasi) yang dipancarkan maupun
yang diserap suatu bahan. Sebarang perangkat yang dipakai untuk meng-
urai dan mengukur panjang gelombang suatu berkas radiasi elektromag-
net disebut spektrometer; contoh: spektrometer prisma, spektrometer kisi,
dan sebagainya. Suatu perangkat yang dipakai untuk mengurai fotografi
spektrum disebut spektrograf. Perangkat yang khusus mengurai cahaya
untuk menghasilkan spektrum pada daerah cahaya tampak disebut spek-
troskop.
Sebelum kuantum dikembangkan secara lebih sistematis, yaitu sebe-
lum terumuskannya persamaan Schrdinger, sudah tersedia cukup
banyak data terkait dengan spektrum yang dipancarkan atom. Sebagai
contoh, untuk atom hidrogen kita mengenal deret Lymann, deret Balmer,
dan deret Paschen. Lihat Bagian 8.8. Data spektroskopi menjukkan bahwa
setiap atom memiliki spektrum yang khas. Karena itu, spektroskopi
merupakan metode yang sangat peka untuk mengidentifikasi suatu unsur.
Dalam spektroskopi, bilangan kuantum utama digunakan untuk me-
nandai apa yang disebut kulit elektron. Kulit elektron dinyatakan dengan
huruf besar yang dimulai dari K. Jadi kulit K bersesuaian dengan n = 1,
kulit L bersesuaian dengan n = 2, dan seterusnya.
Pada setiap kulit elektron terdapat sub kulit elektron yang jumlahnya
bergantung pada tingkatan kulit, sesuai dengan variasi bilangan kuantum
orbital untuk kulit yang dibicarakan. Sub kulit dilambangkan dengan hu-
ruf kecil mulai dari s. Jadi, sub kulit s berseduaian dengan = 0, sub kulit p
berseduaian dengan = 1, dan seterusnya.

Pengantar Fisika Kuantum


Bilangan kuantum 255

Untuk menghindari kerancuan sub kulit pada kulit yang satu dengan
sub kulit yang sama pada kulit yang lain, misalnya sub kulit s pada kulit K
dengan sub kulit s pada kulit L, spektroskopi menandai sub kulit dengan
mencantumkan angka yang menunjukkan kulit yang bersesuaian. Jadi,
sub kulit s pada kulit K dinyatakan dengan 1s, kulit s pada kulit L
dinyatakan dengan 2s, dan seterusnya.
Mengingat tingkat energi atom hanya ditentukan oleh bilangan kuan-
tum utama, jadi oleh nama kulit elektron, maka semua sub kulit dalam
kulit yang sama akan memiliki energi yang sama. Gambar 8.17 berikut
mengilustrasikan tingkat-tingkat energi sub kulit pada beberapa kulit per-
tama.
E/EI

0
(n = 4) 1/16 4s 4p 4d 4f

3s 3p 3d
(n = 3) 1/9

2s 2p
(n = 2) 1/4

1s
(n = 1) 1

n ( = 0) ( = 1) ( = 2) ( = 3)

Gambar 8.17. Diagram tingkat-tingkat energi sub kulit pada kulit K, L, M, dan N

8.8 ATOM HIDROGEN

Marilah kita terapkan apa yang sudah kita peroleh dari pembahasan
atom berelektron tunggal tadi pada atom yang paling sederhana, yaitu
hidrogen.

Bab 8: Momentum Sudut


256 Atom Hidrogen

Atom hidrogen terdiri atas sebuah proton, yang sekaligus merupakan


partikel pembentuk inti atom, dan sebuah elektron. Proton memiliki
massa sebesar 1,7 10 kg dan elektron memiliki massa sebesar 9,1
10 kg. Proton dan elektron memiliki muatan listrik yang sama besar
tetapi berlawanan tanda. Proton bermuatan listrik +1,6 10 Coulomb
sedangkan elektron bermuatan listrik 1,6 10 Coulomb. Proton dan
elektron berinteraksi mengikuti hukum Coulomb dengan potensial
interaksi seperti dinyatakan pada Persamaan (8.52) setelah Z diberi nilai 1.
Karena massa proton jauh lebih besar daripada massa elektron, dengan
perbandingan sekitar 1800, maka massa tereduksi sistem elektron-proton
ini praktis sama dengan massa elektron, lihat Persamaan (8.54). Oleh
karena itu, keadaan gerak atom hidrogen dapat diwakili oleh gerakan
elektron. Dengan kata lain, dengan memberi nilai 1 pada Z berarti semua
rumusan yang kita peroleh pada pembahasan atom berelektron tunggal
merupakan teori yang mendeskripsikan atom hidrogen.
Sebelum lebih lanjut membicarakan atom hidrogen terlebih dahulu
kita hitung nilai besaran a dan EI yang kita definisikan pada Persamaan
(8.67a) dan (8.67 b) di depan. Untuk Z = 1, kita peroleh
o
a 0 5 ,2 10 11 m 0,52 A ,
(8. 106)
EI 2 ,58 10 18 J 13,6 eV .

8.8.1 Model Atom Bohr


Sebelum Persamaan Schrdinger dirumuskan telah dikembangkan be-
berapa model atom hidrogen. Salah satu model atom itu, dan ini yang me-
miliki banyak kecocokan dengan data eksperimen, adalah model atom
Bohr. Oleh karena itu untuk menguji kebenaran semua hasil yang telah
kita peroleh di depan kita ulas secara singkat model atom Bohr tersebut.
Model atom Bohr dirumuskan berdasarkan argumen sebagai berikut.
1. Elektron bergerak mengitari inti atom (proton) dalam orbit yang ber-
bentuk lingkaran di bawah pengaruh interaksi Coloumb dengan poten-
sial interaksi sebesar
V(r) = ke /r (8. 107)
dengan k 1/4
2. Agar elektron tidak jatuh ke dalam inti (akibat tarikan proton) dan tetap
stabil pada orbit tertentu maka momentum sudut putarnya tidak boleh
sebarang, melainkan harus merupakan kelipatan bulat . Jadi, kecepat-
an dan jari-jari orbit harus memenuhi hubungan

Pengantar Fisika Kuantum


Atom Hidrogen 257

m e v n rn n ; n = 1, 2, 3, dst. (8. 108)

(kita tambahkan indeks n pada v dan r untuk menandai bahwa kecepat-


an tangensial dan jari-jari orbit tersebut menghasilkan momentum su-
dut putar yang diijinkan, yaitu n )
3. Gaya sentripetal pada saat mengorbit dihasilkan oleh gaya interaksi
Coulomb elektron-proton, yaitu F(r) = ke /r , sehingga pada sebarang
orbit yang diijinkan harus berlaku hubungan

e2 v 2n
k m e (8. 109)
rn2 rn
(ruas kanan persamaan itu adalah hasil kali massa elektron dengan per-
cepatan sentripetal).
4. Karena interaksi elektron-proton merupakan sistem konservatif maka
jumlah energi kinetik ditambah energi potensial harus konstan, yaitu
sebesar E elektron. Jadi berlaku pula hubungan
1 ke
En me v 2n . (8. 110)
2 rn
Bersarkan hubungan-hubungan tersebut dapat kita peroleh rumusan
untuk En dan rn yang dinyatakan dalam besaran-besaran yang berupa
tetapan. Jika Persamaan (108) kita selesiakan untuk vn kemudian hasilnya
disubtitusikan ke Persamaan (109) kita peroleh hubungan
2
2 2 4 0
rn n 2 n (8. 111)
ke 2 me e 2 me
Subtitusi vn dan rn ke dalam Persamaan (8.110) menghasilkan

1 k 2 me 4 1 me 4
En (8. 112)
n 2 2 2 n 2 2( 4 0 ) 2
Jika definisi a dan EI yang kita nyatakan pada Persamaan (8.67a) dan
(8.67 b) di depan kita pakai, tentu saja setelah mengganti Z dengan 1,
maka Persamaan (8.111) dan (8.112) secara berurutan menjadi
rn = n a, (8. 113)

En = EI/n (8. 114)


dengan nilai a dan EI seperti dinyatakan pada Persamaan (8. 106).

Bab 8: Momentum Sudut


258 Atom Hidrogen

Berdasarkan Persamaan (8.114) tersebut maka syarat kestabilan orbit


sebagaimana dinyatakan pada Persamaan (8. 108) setara dengan persyarat-
an: agar atom dalam keadaan stabil maka jari-jari orbit elektron harus me-
menuhi Persamaan (113) dan energinya harus memenuhi Persamaan (114).
Setiap tingkat energi yang diijinkan berkaitan dengan keadaan stasio-
ner pada mana atom dapat hadir tanpa harus meradiasikan gelombang
elektromagnet. Atom yang dalam keadaan tereksitasi cenderung turun ke
keadaan stasioner yang lebih rendah. Jika terjadi transisi dari suatu tingkat
energi ke tingkat energi lain yang lebih rendah atom akan memancarkan
radiasi elektromagnet (foton). Sesuai dengan hukum kekekalan energi,
energi foton yang dipancarkan ini harus sama dengan selisih tingkat
energi transisi tersebut.
Dengan demikian panjang gelombang yang dipancarkan atom ketika
terjadi transisi dari tingkat energi Ei menuju tingkat energi Ef yang lebih
rendah memenuhi hubungan
hc E E
Ei E f 2I 2I , (8. 115)
n f ni

dengan hc/ menyatakan energi foton yang dipancarkan akibat transisi


tersebut. Persamaan (8.115) dapat diubah menjadi

1 EI 1 1 1 1
,
R (8. 116)
hc n2f ni2 n2f ni2

dengan R = EI/hc = 1,097 10 .
Persamaan (8.116) sama dengan persamaan Rydberg, yaitu persama-
an empiris yang dirumuskan berdasarkan data spektrum atom hidrogen
dan telah ditemukan sebelum Bohr merumuskan teori atom hidrogen. Te-
tapan R disebut tetapan Rydberg. Jika Persamaan (8.116) digunakan untuk
menghitung berbagai panjang gelombang yang dihasilkan atom ketika
bertransisi dari ni > 1 ke nf = 1 diperoleh sederetan panjang gelombang
spektrum atom hidrogen yang dikenal sebagai deret Lyman. Jika ni > 2
dan nf = 2 diperoleh deret Balmer, dan untuk ni > 3 dan nf = 3 diperoleh
deret Paschen. Ini menunjukkan bahwa teori Bohr cocok dengan eksperi-
men.
Masih ada satu besaran yang belum kita bahas maknanya, yaitu EI.
Berdasarkan Persamaan (8.114), tingkat energi atom hidrogen pada keada-
an dasar (n = 1) adalah E1 = EI.. Jika pada keadaan dasar ini atom hidro-
gen diberi energi dari luar sebesar EI maka energinya kini menjadi nol. Ini
berarti elektron dalam keadaan bebas. Ingat bahwa energi potensial V(r)

Pengantar Fisika Kuantum


Atom Hidrogen 259

selalu bernilai negatif. Konsekuensinya, jika elektron memiliki energi nol


atau positif, ia bisa berada di mana-mana bahkan sampai di luar atom. Di
sisi lain, jika elektron suatu atom telah terlepas dari ikatannya, atom dika-
takan dalam keadaan terionisasi (kekurangan elektron dan menjadi ion po-
sitif). Oleh sebab itu EI tidak lain adalah energi ionisasi, yaitu energi yang
diperlukan untuk membuat atom netral menjadi ion positif.

8.8.2 Diskusi Hasil Penerapan Persamaan Schrdinger


Di depan telah disebutkan bahwa dengan mengisi Z = 1 maka semua
rumusan yang diperoleh pada pembahasan atom berelektron tunggal me-
rupakan teori yang layak untuk mendeskripsikan atom hidrogen. Kita
juga baru saja melihat bahwa hasil itu sama persis dengan apa yang diha-
silkan Bohr, tepatnya; semua yang dihasilkan Bohr cocok dengan yang
telah kita. Berdasarkan kenyataan ini dapat dikatakan bahwa teori Bohr
tentang atom hidrogen merupakan salah satu bukti kebenaran persamaan
Schrdinger.
Pertanyaan selanjutnya adalah: cukupkah jika hanya dikatakan bahwa
persamaan Schrdinger cocok dengan teori atom Bohr? Untuk menjawab
pertanyaan ini, marilah kita kembali sejenak ke teori Bohr dan memban-
dingkannya dengan teori yang dirumuskan dari persamaan Schrdinger.
Memang benar bahwa tingkat-tingkat energi atom hidrogen yang di-
rumuskan Bohr cocok dengan eksperimen dan juga cocok dengan
rumusan yang diperoleh melalui persamaan Schrdinger. Tetapi, teori
atom Bohr belum mampu menggambarkan lebih rinci bagaimana struktur
atom itu. Teori ini juga tidak bisa menjelaskan efek Zemann, suatu gejala
di mana suatu tingkat energi akan terpecah menjadi beberapa sub tingkat
energi jika atom hidrogen ditempatkan dalam medan magnet luar. Di lain
pihak, teori yang dihasilkan dari persamaan Schrdinger telah mampu
menjelaskan efek itu (lihat Bagian 8.7.1).
Memang benar bahwa rumusan rn = na0 yang dihasilkan Bohr juga
dihasilkan oleh teori yang dirumuskan dari persamaan Schrdinger. Teta-
pi rumusan itu hanya berlaku pada keadaan dengan bilangan kuantum
orbital = n1. Dengan demikian, asumsi yang dipakai Bohr bahwa elek-
tron mengorbit dalam suatu lingkaran yang berjari-jari rn = na0 tidak
dapat diberlakukan umum, melainkan hanya cocok untuk keadaan terten-
tu saja, yaitu ketika = n1.
Berdasarkan uraian tersebut jelaslah bahwa teori atom hidrogen yang
dirumuskan melalui penerapan persamaan Schrdinger tidak sekedar
cocok dengan teori Bohr, tetapi lebih dari itu adalah menyempurnakan
teori atom Bohr.

Bab 8: Momentum Sudut


260 Atom Hidrogen

RANGKUMAN

1. Momentum sudut didefinisikan sebagai L = r p, dengan r menyata-


kan vektor posisi partikel dan p menyatakan vektor momentum linear
partikel. Komponen Cartesan momentum sudut adalah
Lx = ypz zpy ,

Ly = zpx xpz ,

Lz = xpy ypx .
2. Dalam sistem koordinat bola, operator yang mewakili komponen-
komponen momentum sudut itu adalah:
cos
L x i sin ,
tan

sin
L y i cos ,
tan

L z i

dan operator yang mewakili kuadrat momentum sudut adalah
2 2
2 2 1
L


1
.
2 tan sin 2 2

3. Hubungan komutasi antarkomponen momentum sudut adalah
[ L i , L j ] = i L k ,

dengan indeks i, j, dan k masing-masing dapat bernilai 1, 2, atau 3.


(Angka-angka tersebut mewakili x, y, dan z dengan ketentuan: 1 x,
2 y, dan 3 z).
4. Hubungan komutasi antara L 2 dengan komponen dari L adalah

2 , L ] 0 ,
[L 2 , L ] 0 ,
[L 2 , L ] 0 .
[L
x y z

5. 2 dan L berbentuk
Persamaan nilai eigen bagi L z

Pengantar Fisika Kuantum


Rangkuman 261

L 2 Ym ( , ) ( 1) 2 Ym ( , ),

L z Ym ( , ) m Ym ( , ) ,
dengan merupakan bilangan bulat positif dan m merupakan bilang-
an bulat antara sampai . Bilangan disebut bilangan kuantum or-
bital sedangkan bilangan m disebut bilangan kuantum magnetik.
6. Fungsi eigen bersama bagi L 2 dan L , yaitu Y m ( , ) , merupakan
z
fungsi harmonis bola:

2 1 ( m)!
Ym ( , ) (1) m e i m Pm (cos ) ,
4 ( m)!

untuk m 0, sedangkan untuk m < 0 merupakan konjugat kompleks


dari Ym ( , ) . Polinom Pm (cos ) didapatkan dari fungsi Legendre:

d m Pm ( ) 1 d m

Pm ( ) 1 2 m /2

d m

1 2
2 !

m /2

d

m
2 1
dengan mengganti = cos .
7. Momentum sudut mengalami pengkuantuman ganda, yaitu terhadap
nilai dan terhadap orientasinya. Pengkuantuman orientasi momentum
sudut ini biasa disebut pengkuantuman ruang (space quantization).
8. Magnitudo (modulus) vektor momentum sudut harus memenuhi hu-
bungan ( 1) dengan bilangan bulat positif. Proyeksi L pada
sumbu Z (yaitu Lz) juga harus bernilai m dengan m bilangan bulat
antara sampai . Inilah makna pengkuantuman nilai. Pada sebarang
keadaan kuantum, nilai mutlak Lz selalu kurang dari magnitudo L.
9. Bersarkan pernyataan nomor 8, arah vektor momentum sudut tidak
pernah berimpit dengan sumbu Z. Pembatasan nilai Lz ini sekaligus
membatasi orientasi vektor momentum sudut. Inilah makna pengku-
antuman ruang tersebut.
10. Tinjauan kuantum terhadap momentum sudut bagi partikel yang ber-
gerak di bawah pengaruh potensial sentral menghasilkan kesimpulan
bahwa momentum sudut partikel yang begerak di bawah pengaruh
potensial bersimetri bola bersifat kekal sebagaimana dinyatakan da-
lam fisika klasik.

Bab 8: Momentum Sudut


262 Rangkuman

11. Untuk , pengkuantuman L dan Lz tidak lagi signifikan. Akibat-


nya pengkuantuman ruang tidak lagi signifikan. Ini menunjukkan
adanya korespondensi antara fisika kuantum dan fisika klasik.
12. Atom berelektron tunggal adalah atom yang memiliki sebuah elek-
tron, contoh: atom hidrogen netral. Elektron dan proton berinteraksi
mengikuti interaksi Coulomb dengan potensial interaksi sebesar
Ze 2
V( r ) ,
4 0r
dengan r adalah jarak elektron terhadap inti, e muatan listrik elemen-
ter yang nilainya 1,6 10 C, 0 permitifitas vakuum yang nilainya
8,854 10 C.N.mdan Z menyatakan jumlah proton dalam inti.
13. Elektron bergerak relatif terhadap inti, sedangkan elektron dan inti
bersama-sama bergerak terhadap titik pusat sistem massanya. Gerak-
an sistem elektron-inti dapat diwakili oleh gerakan sebuah partikel
semu yang massanya sama dengan massa tereduksi () sistem elek-
tron-inti:
M
m
m M
dengan M dan m secara berurutan menyatakan massa inti dan massa
elektron. Karena massa inti jauh lebih besar daripada massa elektron
maka massa tereduksi sistem elektron-inti praktis sama dengan massa
elektron.
14. Persamaan Schrdinger Bebas Waktu untuk atom berelektron tunggal
adalah
2 2
( r , , ) V ( r ) ( r , , ) E ( r , , ) ,
2
dengan V(r) seperti dinyatakan pada nomor 12 di atas.
15. Penyelesaian Persamaan Schrdinger tersebut menghasilkan fungsi
eigen
n , ,m ( r , , ) Rn , ( r )Ym ( , ),
dengan Ym ( , ) sebagaimana dinyatakan pada nomor 6, dan
1 i
1 r ( r /( n a ))

i n
R n , ( r ) r ci e
0

a0
i 0 a
0
dengan koefisien ci memenuhi hubungan rekursi
2 [ ( ( i ) / n) 1 ]
ci c i 1 ,
i ( i 2 1)
dan

Pengantar Fisika Kuantum


Rangkuman 263

4 0 2
a0 .
Z e2
16. Nilai eigen yang bersesuaian dengan tiap fungsi eigen tersebut adalah
E
En 2I , n = 1, 2, 3, ,
n
dengan
Z 2 e 4
EI
2 ( 4 0 )2

menyatakan energi atom pada keadaan dasar, yang tidak lain adalah
energi ionisasi atom.
17. Berdasarkan fungsi eigen diperoleh peluang posisi elektron dalam
suatu unsur volume dV = r d sebesar

( r , , ) dV |R n , |2 r 2 dr .|Ym |2 d ,
rapat peluang posisi secara radial sebesar
( r ) r 2 |Rn , ( r )|2 ,

dan rapat peluang posisi berdasarkan sudut sebesar



( , ) |Y m ( , )|2 Pm (cos ) .
Rapat peluang posisi terhadap sudut ternyata tidak bergantung pada
sudut asimut .
18. Berdasarkan rapat peluang posisi secara radial, jarak yang memiliki
peluang terbesar ditempati elektron pada keadaan kuantum dengan
bilangan kuantum = n1 mengikuti hubungan rn = na0 .
19. Penerapan persamaan Schrdinger untuk atom hidrogen menghasil-
kan semua rumusan yang telah ditemukan oleh Bohr. Untuk Z = 1,
diperoleh
o
a 0 5 ,2 10 11 m 0,52 A ,
EI 2 ,58 10 18 J 13,6 eV .
Bilangan a0 dan EI tersebut masing-masing disebut jari-jari Bohr orbit
pertama dan energi ionisasi atom hidrogen.
20. Teori atom hidrogen yang dirumuskan berdasarkan persamaan Schr-
dinger lebih lengkap daripada teori atom Bohr, sebab selain mampu
memberikan rapat peluang posisi, teori yang disebut pertama juga
mampu menjelaskan efek Zemann, yaitu gejala terpecahnya suatu

Bab 8: Momentum Sudut


264 Perlatihan

tingkat energi menjadi beberapa sub tingkat energi jika atom hidrogen
ditempatkan dalam medan magnet luar.
21. Indeks-indeks diskret n, , dan m yang muncul pada fungsi eigen bagi
energi atom berelektron tunggal masing-masing disebut sebagai bi-
langan kuantum utama, bilangan kuantum orbital, dan bilangan
kuantum magnetik. Bilangan n disebut sebagai bilangan kuantum
utama karena peran utamanya adalah menentukan besarnya energi
yang dimiliki atom, selaras dengan peran utama persamaan
schdinger bebas waktu yaitu untuk mendapatkan energi sistem.
Bilangan disebut sebagai bilangan kuantum orbital karena bilangan
itu menentukan besarnya momentum sudut orbital elektron. Bilangan
m disebut sebagai bilangan kuantum magnetik karena bilangan itu
menentukan besarnya pemisahan suatu tingkat energi jika atom
ditempatkan dalam medan magnet.
22. Dalam bidang spektroskopi, bilangan kuantum utama bersama-sama
dengan bilangan kuantum orbital digunakan untuk menandai suatu
sub kulit elektron. Suatu sub kulit dilambangkan dengan angka arab
(mulai dari 1) diikuti dengan huruf latin kecil mulai dari s. Contoh 3p.
Angka 3 menandakan bilangan kuantum utama n bernilai 3 sedang-
kan huruf s menandakan bilangan kuantum orbital bernilai nol.

PERLATIHAN

Pertanyaan Konsep
1. Selidiki kebenaran masing-masing pernyataan berikut: (1) Semua
fungsi eigen bagi L 2 juga merupakan fungsi eigen bagi L z . (2) Se-
mua fungsi eigen bagi L juga merupakan fungsi eigen bagi L 2
z
2. Dalam membuat salib sumbu X, Y, dan Z pada umumnya kita memi-
lih sumbu Z sebagai sumbu vertikal. Mengingat kita telah menyim-
pulkan bahwa Lz bernilai m, apakah ini berarti bahwa komponen
mumentum sudut ke arah vertikal mesti bernilai m?
3. Pada gerak melingkar beraturan dalam suatu bidang datar, momen-
tum sudut partikel selalu tegaklurus terhadap bidang edarnya. Ber-
dasarkan fisika klasik, jika bidang edar itu dipilih pada bidang X-Y, ke
arah sumbu apakah momentum sudutnya? Pertentangkan jawaban
Anda berdasarkan konsep pengkuantuman ruang pada momentum
sudut!
4. Pengukuran komponen momentum sudut pada arah sumbu Z pasti
menghasilkan nilai ukur sebesar m. Apakah pengukuran komponen

Pengantar Fisika Kuantum


Perlatihan 265

pada arah lainnya (sumbu X atau Y) akan menghasilkan nilai ukur


yang serupa?
5. Pembahasan kita tentang momentum sudut menghasilkan dua
macam bilangan kuantum, yaitu m dan , padahal momentum sudut
muncul pada gerak tiga dimensi. Mengapa kita hanya memerlukan
dua macam bilangan kuantum, tidak tiga macam?
6. Adakah atom berelektron tunggal selain atom hidrogen netral? Jika
ada, berikan contohnya.
7. Dalam kondisi netral, atom Li (yang memiliki nomor atom Z = 3) me-
miliki 3 elektron dan 3 proton. Berapa jumlah masing-masing elektron
dan proton pada ion Li? Apakah ion Litersebut dapat digolong-
kan sebagai atom berelektron tunggal? Jika ya, berapa energi ionisasi-
nya? Berapa jari-jari orbit elektron pada keadaan dasar?
8. Atom-atom yang dalam sistem periodik digolongkan sebagai logam
alkali, misalnya 11Na, 19K, dan 55Cs, semuanya memiliki satu elektron
valensi dan secara kimia juga memiliki sifat yang sangat mirip. Elek-
tron yang berada di sub kulit paling luar pada atom-atom itu terikat
lemah sehingga atom mudah sekali melepaskannya dan berubah men-
jadi ion positif. Tepatkah jika kita memandang atom-atom itu sebagai
atom hidrogen, atau setidaknya sebagai atom mirip hidrogen, berda-
sarkan pemikiran berikut ini? Jumlah elektron yang berada di sebelah
dalam elektron valensi sebanyak (Z1) elektron sehingga total muatan listrik-
nya sebesar (Z1)e. Karena di dalam inti terdapat Z proton dengan muatan
total sebesar +Ze maka elektron valensi tersebut secara efektif hanya berha-
dapan dengan muatan listrik sebesar +e, persis muatan inti atom hidrogen.
9. Menurut Bohr, lintasan elektron dalam mengelilingi inti berupa ling-
karan dengan jari-jari rn = na0. Rumusan jari-jari itu juga muncul
pada teori atom yang diturunkan dari persamaan Schrdinger.
Apakah menurut teori yang baru itu lintasan elektron juga berupa
lingkaran?
10. Perhatikan nilai maksimum rapat peluang posisi secara radial yang
disajikan pada Gambar 8.12a sampai 8.12c. Nilai itu ternyata relatif
kecil terhadap 1. Mengingat nilainya sekecil itu, tepatkah jika tempat-
tempat di mana rapat peluang posisi mencapai maksimum itu kita
katakan sebagai posisi yang paling mungkin ditempati elektron?

Pertanyaan Analisis
1. Tunjukkan kebenaran Persamaan (8.3). (Petunjuk: gunakan definisi L
dan N seperti dinyatakan pada Persamaan (8.1) dan (8.4)).
2. Buktikan bahwa:

Bab 8: Momentum Sudut


266 Perlatihan


a) X , Py 0 ,
b) X , Pz 0 ,

c) Y , P 0 ,
x
d) Y , P 0 ,
z

e) Z , P 0 ,
y f) Z , P 0 ,
x

g) Y P , X P 0 ,
z z h) Z P , Z P 0 .
y x

3. a) Jabarkan Persamaan (8.10) berdasarkan Persamaan (8.8). Petunjuk:


Gunakan Persamaan (8.9) dan bentuk eksplisit operator dalam
koordinat bola dan koordinat Cartesan berikut:
1 1
r , (dalam sistem koordinat bola)
r r sin r

i j k , (dalam sistem koordinat Cartesan)
x y z

dengan r, , dan secara berurutan menyatakan vektor satuan


pada arah pertambahan koordinat r, dan . Kemudian ganti
semua vektor satuan dalam sistem koordinat bola dengan vektor
satuan dalam sistem Cartesan berdasarkan hubungan berikut:
r sin cos i sin sin j cos k ,
sin i cos j ,
cos cos i cos sin j sin k .
dengan i, j, dan k menyatakan vektor satuan pada arah pertam-
bahan koordinat x, y, dan z pada sistem koordinat Cartesan
b) Buktikan kebenaran Persamaan (8.11) dengan menggunakan Persa-
maan (8.10). Petunjuk: dapatkan operator-operator L2 , L 2y , dan L2
x z
berdasarkan Persamaan (8.10) kemudian jumlahkan. Setelah itu,
kerjakan terhadap sebarang fungsi Y(r,, ).
4. a) Dapatkan fungsi F() berdasarkan Persamaan (8.30) dan (8.29)
untuk = 0, 1, 2, dan 3 kemudian bandingkan hasil Anda dengan
contoh fungsi Legendre sebagaimana dinyatakan pada Persamaan
(8.33). b) Pada setiap F( ) yang Anda temukan tersebut, dapatkah
Anda menemukan a atau a sehingga fungsi yang Anda dapatkan tadi
sama persis dengan yang dinyatakan pada Persamaan (8.33)?
5. Dapatkan polinom Legendre untuk = 6, 7, dan 8. (Petunjuk: gunakan
Persamaan (8.32).

Pengantar Fisika Kuantum


Perlatihan 267

6. a) Dapatkan beberapa polinom Pm ( ) dengan menggunakan Persama-


an (8.35) untuk: i) = 1 dan m = semua nilai yang mungkin, ii) = 2
dan m = semua nilai yang mungkin, iii) = 3 dan m = semua nilai yang
mungkin. b) Uji hasil Anda dengan menderivatifkan P ( ) sebanyak
|m| kali sesuai dengan nilai m yang Anda gunakan).
7. a) Dapatkan Ym ( , ) berdasarkan Persamaan (8.39) untuk = 1 dan
2, m menyesuaikan nilai yang Anda gunakan. b) Setelah itu, selidiki
apakah masing-masing fungsi itu merupakan fungsi eigen bagi L 2
dan L z dengan nilai eigen masing-masing sebesar (+1) 2 dan m .
8. Buktikan Persamaan (8.50). Petunjuk: (1) nyatakan dulu L dalam ung-
kapan yang memuat r, p, dan r.p; (2) gunakan hubungan Ek = p /2m
sehingga diperoleh Persamaan (8.50). Saat melakukan tahap (1) terse-
but, ingat hubungan-hubungan: r.p = rp cos, |r p|= rp sin , dan
sin + cos = 1.
9. Buktikan Persamaan (8.51). Petunjuk: gunakan Persamaan (8.45) dan
kaidah pengkuantuman, khususnya terhadap besaran yang memuat
p.r. Pada proses ini, gunakan bentuk eksplisit operator R dan
P dalam ruang koordinat sebagaimana dijelaskan di Bab 4, dan
gunakan sistem koordinat bola. Ingat pula bahwa r adalah vektor
posisi.
10. Buktikan bahwa:
a) Lx Ly Lz ,
b) Ly Lz L x ,
c) Lz Lx Ly .
Petunjuk: gunakan rumusan asas ketakpastian umum Heisenberg:
1
A B [ A, B] .
2i
11. a) Hitunglah sudut terkecil yang dibentuk oleh vektor L dan Lz pada
keadaan kuantum dengan bilangan kuantum orbital: i) 2, ii) 4, iii) 8, iv)
10, v) 20. b) Buatlah kesimpulan tentang hubungan antara besarnya
sudut minimal tersebut dengan besarnya bilangan kuantum orbital .
12. Buktikan kedua persamaan pada Persamaan (8.44).
13. Berikut diberikan nilai fungsi ( ) = cos untuk beberapa nilai .

0 /8 /6 /4 /3 /2 2/3 3/4 5/6 7/8

Bab 8: Momentum Sudut


268 Perlatihan

( ) 1 0,85 0,75 0,5 0,25 0 0,25 0,5 0,75 0,85 1

Berdasarkan prosedur menggambar suatu titik pada sistem koordinat


polar, lihat Gambar 8.7 dan Contoh Soal 8.4 sampai 8.6, buatlah kurva
( ) = cos tersebut pada sistem polar. Apakah hasil yang Anda
dapatkan seperti pada Gambar 8.9a?
14. Hitung tetapan normalisasi pada semua fungsi eigen yang didata pada
Tabel 8.3.
15. Buktikan Persamaan (8.73).
16. (a) Dapatkan fungsi radial untuk n = 3 dan meliputi semua nilai yang
mungkin untuk n = 3. (b) Setelah itu cari rapat peluang posisi radial
untuk masing-masing fungsi radial yang Anda peroleh. (c) tentukan r
yang menyebabkan fungsi rapat peluang posisi mencapai maksimum.
Bandingkan hasil Anda dengan data yang ada di Gambar 8.12c.
17. Apakah semuan nilai eigen energi (En) atom berelektron tunggal me-
ngalami kemerosotan (degenerate)?
18. Berapa panjang gelombang maksimum spektrum atom hidrogen? Ter-
letak di deret apakah itu?
19. Berapakah panjang gelombang terbesar pada deret Balmer? Berdasar-
kan hasil itu, pada bagian spektrum cahaya manakah deret Balmer
berada?
20. Berdasarkan nilai energi ionisasi atom hidrogen, tentukan energi ioni-
sasi ion Li2+!

Pengantar Fisika Kuantum


Perlatihan 269

A C
asas korespondensi 227 Coulomb
atom berelektron tunggal 264 hukum 230, 255
pengertian 229
Atom berelektron tunggal E
fungsi eigen 238, 261
komponen radial 236 Elektron
komponen sudut 232 massa 254
persamaan Schrodinger 230 muatan 255
potensial 230 elektron valensi 264
rapat peluang posisi 239, 247 energi ionisasi 258, 262
visualisasi rapat peluang posisi energi kinetik
248, 249 dan momentum sudut 229
visualisasi rapat peluang radial operator dlm koordinat bola 229
244
visualisasi rapat peluang sudut F
239 foton
atom hidrogen 264 dlm teori atom Bohr 257
spektrum 267 fungsi eigen
Atom hidrogen 254 momentum sudut 216
spektrum 257 fungsi eigen bersama 222
Fungsi eigen bersama 216
B fungsi harmonis bola 221, 222, 232,
Balmer 260
deret 257, 267
Balmer, deret 253 G
bilangan kuantum gaya sentral 211
magnetik 260, 263 Gaya sentripetal 256
orbital 260, 263
Bilangan kuantum
H
magnetik 253
orbital 250 Heisenberg
utama 250 asas ketakpastian umum 266
Bohr persamaan gerak 228
jari-jari 258, 262, 264 Hidrogen 229
model atom hidrogen 255 hukum kekekalan energi 257
teori atom hidrogen 209
teori Bohr sebagai bukti I
persamaan Schrodinger 258
inti 230

Bab 8: Momentum Sudut


270 Perlatihan

K operator
dlm koordinat bola 213
kaidah pengkuantuman 266 dlm koordinat Cartesan 212
keadaan stasioner operator Lx 225
teori Bohr 257 operator Ly 226
Kepler orientasi 225
hukum 209, 211 pengkuantuman ruang 226
kronecker
delta 222
N
kulit elektron 253. See Bilangan
kuantum utama Nilai harap
Lx 226
L Ly 226
Legendre
P
persamaan diferensial 218
polinom 220, 260 Paschen
polinom sekawan 232 deret 257
logam alkali 264 Paschen, deret 253
Lyman proton 230
deret 257 Proton
Lymann, deret 253 massa 254
muatan 255
M
R
magneton Bohr 252
massa tereduksi 230, 261 rasio giromagnetik 252
momen dipol magnet 251 Rydberg
energi potensial 252 tetapan 257
momen gaya 210
momentum sudut 209 S
hubungan komutasi 259, 21315
kekekalan 229, 260 sistem konservatif 256
operator 21113 sistem koordinat
operator dalam koordinat bola 259 polar 239, 266
pengkuantuman ruang 260 Sistem koordinat
persamaan nilai eigen 21522 bola 212, 213
teori Bohr 255 Cartesan 213
Momentum sudut sistem koordinat bola 265
definisi 210 sistem koordinat Cartesan 265
kekekalan 228 sistem periodik 264
kemerosotan nilai eigen 224 spektrograf 253
kesepadanan klasik 228 spektrometer 253
korespondensi klasik 260 spektroskop 253
nilai eigen 222 spektroskopi 263
Spektroskopi 253

Pengantar Fisika Kuantum


Perlatihan 271

sudut ruang 222

T
torka 210

Z
Zemann, efek 258, 262

Bab 8: Momentum Sudut


GLOSSARIUM

Aksi
Besaran yang didefinisikan sebagai perkalian usaha (kerja) dengan wak-
tu. Bandingkan dengan konsep-konsep yang terkait berikut: (1) usaha
(kerja), yang didefinisikan sebagai perkalian skalar antara gaya dan per-
pindahan, (2) daya, yang didefinisikan sebagai usaha tiap satuan waktu,
atau laju melakukan usaha. Jadi, aksi dapat diartikan sebagai lamanya
usaha telah dilaksanakan. Contoh besaran aksi adalah h (tetapan Planck)
Asas deterministik
Jika keadaan awal suatu entitas diketahui secara lengkap, maka keadaan
berikutnya dapat ditentukan secara pasti, demikian pula dengan
keadaan sebelumnya
Asas ketakpastian
Asas dalam Fisika Kuantum yang menyatakan bahwa tidak mungkin
untuk memperoleh informasi yang pasti tentang nilai sepasang besaran
yang tidak kompatibel. Semakin tinggi tingkat kepastian besaran per-
tama, semakin rendah tingkat kepastian besaran kedua. Contoh dua
besaran yang tidak kompatibel adalah posisi dan momentum linear.
Asas ini merupakan lawan dari asas deterministik.
Asas Korespondensi (kesepadanan)
Suatu asas dalam fisika teori yang menyatakan bahwa setiap teori baru
harus menghasilkan kesimpulan yang sama dengan teori lama yang se-
padan ketika teori baru itu diterapkan pada suatu situasi di mana teori
lama telah menunjukkan kesahihannya. Contoh: pada kecepatan yang
jauh lebih kecil daripada kecepatan cahaya, kaedah penjumlahan kece-
patan menurut teori Relativitas Einstein harus sama dengan kaedah
penjumlahan kecepatan menurut kinematika Newton; sebab pada kece-
patan rendah kinematika Newton telah diyakini kesahihannya.

Sutopo Pengantar Fisika Kuantum 269


270 Glossarium

Atom
Bagian terkecil suatu zat yang terdiri atas inti dan sejumlah elektron
yang mengelilingi inti pada orbit tertentu. Inti atom terdiri atas proton
dan neutron.
Atom berelektron tunggal
Atom yang hanya memiliki sebuah elektron. Contoh: atom hidrogen
netral, ion Li 2+, dsb.
Bencana ultraviolet (ultraviolet catastrophe)
Suatu ungkapan dalam fisika untuk menggambarkan kegagalan fisika
klasik dalam menjelaskan gejala radiasi benda-hitam. Teori klasik me-
nunjukkan kegagalan pada frekuensi ultraviolet dan yang lebih tinggi
dari itu. Jika teori klasik ini benar, maka alam semesta akan hancur aki-
bat hebatnya radiasi ultraviolet yang dihasilkan semua benda panas di
alam semesta ini. Untung saja teori itu salah.
Benda-Hitam (Blackbody)
Benda yang menyerap semua gelombang elektromagnet yang menge-
nainya. Oleh karena itu, jika tidak memancarkan radiasi maka ia akan
terlihat hitam. Benda-hitam dapat dilihat jika berada di lingkungan
yang tidak hitam. Benda-hitam ideal adalah lubang kecil di dinding
benda berongga.
Bilangan kompleks
Bilangan yang bentuk umumnya merupakan kombinasi bilangan real
dan bilangan imajiner. Bentuk umum bilangan kompleks z dilambang-
kan dengan z = x + i y, dengan x komponen real, y komponen
imajiner, dan i 1 .

Bilangan kuantum
Sebuah, atau sekumpulan, bilangan diskret yang digunakan untuk me-
nandai keadaan kuantum. Bilangan kuantum umumnya muncul pada
proses penyelesaian persamaan nilai eigen. Lihat juga: bilangan kuantum
utama, bilangan kuantum orbital, dan bilangan kuantum magnetik.
Bilangan kuantum utama
Bilangan kuantum untuk menandai keadaan eigen bagi Hamiltonan
sistem, atau untuk menandai tingkat energi sistem. Bilangan ini muncul
pada proses penyelesaian persamaan Schrodinger bebas waktu, yang
pada prinsipnya merupakan persamaan nilai eigen bagi Hamiltonan

Pengantar Fisika Kuantum


Glossarium 271

sistem. Bilangan ini biasanya dilambangi n, nilainya berupa bilangan


asli (1, 2, 3, dst.). Lihat juga: Persamaan nilai eigen.
Bilangan kuantum magnetik
Bilangan kuantum untuk menandai besarnya pemecahan tingkat energi
atom ketika atom ditempatkan dalam medang magnet. Bilangan ini
muncul pada proses penyelesaian persamaan nilai eigen bagi komponen
momentum sudut pada arah sumbu Z. Bilangan ini biasanya dilam-
bangi m, nilainya berupa bilangan bulat positif atau negatif yang diba-
tasi oleh nilai bilangan kuantum orbital: untuk setiap tertentu, m ber-
nilai dari sampai +. Lihat juga: Bilangan Kuantum Orbital dan Efek
Zemann.
Bilangan kuantum orbital
Bilangan kuantum untuk menandai besarnya momentum sudut par-
tikel. Bilangan ini muncul pada proses penyelesaian persamaan nilai
eigen bagi kuadrat momentum sudut, atau pada penyelesaian kompo-
nen sudut fungsi eigen Hamiltonan atom berelektron tunggal. Bilangan
ini biasanya dilambangi nilainya berupa bilangan bulat positif (0, 1, 2,
dst.). Khusus pada atom berelektron tunggal, nilainya dibatasi oleh
bilangan kuantum utama n: untuk setiap n tertentu, bernilai 0, 1, ,
n1). Lihat Bab 8.
Dualisme Gelombang-partikel
Faham dalam fisika kuantum yang menyatakan bahwa tidak ada perbe-
daan antara partikel dan gelombang. Partikel kadang-kadang berwatak
sebagai gelombang, sebaliknya gelombang kadang-kadang berwatak
sebagai partikel.
Efek Compton
Peristiwa munculnya foton baru (yang bergerak pada arah yang lain)
ketika sebuah foton ditumbukkan ke elektron bebas. Energi foton baru
tersebut lebih kecil daripada energi foton semula (yang menumbuk
elektron). Energi yang dikurangkan ini diberikan kepada elektron.
Efek fotolistrik
Peristiwa lepasnya elektron dari suatu logam ketika logam itu disinari
gelombang elektromagnet. Efek fotolistrik memberikan bukti adanya
watak partikel yang dimiliki gelombang elektromagnet (cahaya). Berbe-
da dengan efek Compton, elektron yang dilepaskan pada efek fotolistrik
merupakan elektron terikat. Lihat juga: Efek Compton.

Glossarium
272 Glossarium

Efek penerowongan (tunneling effect)


Peristiwa lolosnya partikel melewati daerah yang secara klasik terla-
rang, yaitu suatu daerah di mana partikel akan memiliki energi kinetik
negatif jika berada di dalamnya.
Efek Zemann
Peristiwa pecahnya suatu tingkat energi atom menjadi beberapa sub
tingkat energi ketika atom itu ditempatkan dalam medan magnet. Besar-
nya pemecahan tingkat energi ini dipengaruhi oleh bilangan kuantum
magnetik. Lihat juga: Bilangan kuantum magnetik.
Elektron
Partikel bermuatan listrik negatif, sebesar 1,9 10 C, yang mengitari
inti suatu atom.
Elektron-foto
Elektron yang dilepaskan logam pada gejala efek fotolistrik.
Elektron-volt (eV)
Satuan energi yang besarnya sama dengan 1,9 10J.
Entitas Fisis (physical entity)
Makna kata entitas adalah satu kesatuan yang utuh dan lengkap. Entitas
fisis berarti suatu pernyataan yang lengkap tentang suatu objek fisis.
Contoh: gabungan pegas-massa yang digetarkan dengan amplitudo x m. Da-
lam konteks ini, pegas maupun massa secara terpisah belum dapat dika-
takan sebagai entitas. Gabungan pegas-massa (tanpa penjelasan
sedang digetarkan dengan amplitudo tertentu) juga belum dapat dikatakan
sebagai entitas, ia lebih tepat disebut sistem dengan pegas dan massa
sebagai komponennya.
Foton
Partikel yang diasosiasikan dengan gelombang elektromagnet. Partikel
tersebut berupa bundel (paket) energi yang besarnya hv, dengan h te-
tapan Planck dan v frekuensi gelombang elektromagnet yang diaso-
siasikan dengan foton yang dimaksud. Dengan demikian, foton yang
satu dibedakan dengan foton lainnya oleh v. Foton merupakan partikel
tak bermassa sehingga bergerak dengan kecepan cahaya c (dalam
vakum). Foton juga memiliki momentum yang besarnya hv/c atau h/
dengan panjang gelombang bagi gelombang elektromagnet yang di-
asosiasikan dengan foton tersebut.

Pengantar Fisika Kuantum


Glossarium 273

Frekuensi ambang
Frekuensi minimal gelombang elektromagnet yang digunakan untuk
menyinari logam agar terjadi efek fotolistrik
Fungsi kompleks variabel real
Fungsi yang nilainya merupakan bilangan kompleks, tetapi variabelnya
berupa bilangan real.
Gelombang de Broglie (gelombang materi)
Gelombang yang diasosiasikan dengan partikel yang bergerak. Pada
umumnya gelombang de Broglie tidak memiliki arti fisik secara lang-
sung. Gelombang ini diwujudkan dalam bentuk fungsi gelombang yang
dalam fisika kuantum dipostulatkan sebagai perangkat untuk mendes-
kripsikan keadaan gerak partikel. Fungsi gelombang ini diperoleh me-
lalui Persamaan Schrdinger. Lihat juga: Persamaan Schrdinger.
Gelombang grup (grup gelombang)
Gelombang yang dibentuk oleh superposisi beberapa gelombang mono-
kromatis. Gelombang grup memiliki suatu kecepatan yang disebut kece-
patan grup. Masing-masing komponen (gelombang monokromatis yang
membentuknya) memiliki kecepatan sendiri-sendiri yang disebut
kecepatan fase. Kecepatan fase tidak harus sama dengan kecepatan
grup. Lihat juga: kecepatan fase.
Gelombang monokromatis
Gelombang yang panjang gelombangnya bernilai tunggal dan tetap
(tidak berubah oleh tempat dan waktu). Contoh, cahaya kuning adalah
gelombang yang memiliki panjang gelombang 500 nm. Ungkapan mate-
matis gelombang monokromatis dapat dinyatakan sebagai fungsi sinus,
misalnya ( x , t ) sin ( kx t ) , dengan k 2 / . Lihat juga: kecepatan fase.

Jari-jari Bohr
Jari-jari orbit elektron menurut teori atom Bohr. Menurut Bohr, elektron
mengitari inti dalam orbit berbentuk lingkaran dengan jari-jari rn = n a0
dengan a0 jari-jari orbit pertama, dan n =1, 2, 3, dst.
Kaedah pengkuantuman (Quantisation law)
Prosedur mendapatkan operator bagi suatu besaran yang definisi klasik-
nya telah diketahui.
Keadaan dasar (ground state)
Keadaan partikel saat memiliki energi terendah.

Glossarium
274 Glossarium

Keadaan kuantum (Quantum state)


Salah satu konsep dalam fisika kuantum yang berkaitan dengan pendes-
kripsian keadaan gerak suatu partikel. Keadaan kuantum dikaitkan
dengan energi yang dimiliki partikel.
Keadaan stasioner
Keadaan kuantum di mana energi partikel bersifat pasti (tidak berubah
terhadap waktu). Fungsi gelombang yang menyatakan keadaan stasio-
ner menghasilkan rapat peluang yang tidak bergantung waktu.
Keadaan tereksitasi
Keadaan partikel saat energinya di atas energi terendah. Lihat juga Kea-
daan dasar.
Kecepatan fase
Kecepatan rambat gelombang monokromatis. Kata fase merujuk pada
ukuran (bilangan) untuk menandai bagian tertentu pada gelombang,
apakah sebagai puncak, lembah, simpul, atau di antaranya. Contoh, fase
gelombang pada gelombang ( x , t ) sin ( kx t ) adalah kx t . Kece-
patan fase gelombang ini sebesar /k. Lihat juga: Gelombang monokromatis
Kemerosotan (degeneration) nilai eigen
Suatu konsep dalam fisika kuantum untuk mendeskripsikan ketidak-
tunggalan fungsi eigen yang dikaitkan dengan suatu nilai eigen tertentu.
Jika suatu nilai eigen berkaitan dengan n fungsi eigen yang saling bebas,
nilai eigen itu dikatakan merosot lipat n (n-fold degeneration). Jika suatu
nilai eigen dikaitkan dengan hanya satu fungsi eigen yang khas, nilai
eigen itu dikatakan tidak merosot (non degenerate)
Kemerosotan (degeneration) fungsi eigen
Predikat merosot (degenerate) juga melekat pada fungsi gelombang da-
lam pengertian yang dapat diuraikan sebagai berikut. Dalam fisika ku-
antum, fungsi gelombang berperan sebagai penyaji keadaan. Dalam
kontek demikian, idealnya ada korespondensi satu-satu antara fungsi
gelombang dengan keadaan yang dideskripsikan. Jika ternyata keadaan
suatu entitas tidak menjadi monopoli suatu fungsi eigen tertentu, arti-
nya ada fungsi eigen lain yang juga dapat mendeskripsikan keadaan itu,
maka fungsi eigen tersebut dikatakan merosof (fungsi atau perannya).
Semakin banyak cacah fungsi eigen lain yang dapat mendeskripsikan
keadaan yang sama itu, semakin tinggi tingkat kemerosotan (degene-
ration) fungsi eigen tersebut.

Pengantar Fisika Kuantum


Glossarium 275

Pengertian ini sedikit mirip dengan pengertian umum. Misalnya, dalam


bidang farmasi kita mengenal obat (de)generate. Idealnya, suatu obat
hanya diproduksi oleh sebuah perusahaan yang memegang lisensi un-
tuk itu, sehingga obat tersebut dikatakan sebagai obat berlisensi. Jika
suatu obat boleh dibuat oleh perusahaan farmasi mana pun maka obat
tersebut dikatakan sebagai obat generate, atau obat tanpa lesensi.
Komplementaritas gelombang-partikel
Saling melengkapinya dua watak (sebagai gelombang dan sebagai par-
tikel) yang dimiliki cahaya. Lihat juga: Dualisme gelombang-partikel
Magneton Bohr
Momen dipol magnet yang dihasilkan oleh elektron saat mengitari inti
atom hidrogen, besarnya 0 ,93 10 23 J/T. Besaran itu pertama kali mun-
cul pada teori Bohr tentang atom hidrogen.
Pembentukan pasangan (pair production)
Peristiwa lenyapnya sebuah foton diikuti terbentuknya dua partikel ber-
massa yang keduanya merupakan pasangan partikel-antipartikelnya.
Lihat juga: Pemusnahan partikel
Pemusnahan (annihilation) partikel
Peristiwa lenyapnya sebuah partikel bermassa, diikuti munculnya sebu-
ah foton, ketika partikel itu bertemu antipartikelnya. Lihat juga: Pemben-
tukan pasangan
Pengkuantuman energi
Suatu konsep dalam fisika kuantum bahwa energi bernilai diskret (ter-
kuantisasi).
Pengkuantuman ruang
Suatu konsep dalam fisika kuantum bahwa besar dan arah momentum
sudut tidak dapat sebarang.
Persamaan gerak Heisenberg
Persamaan dalam fisika kuantum yang mendeskripsikan bagaimana ni-
lai harap suatu besaran berubah terhadap waktu. Persamaan ini dapat
diturunkan dari Persamaan Schrdinger.
Persamaan nilai eigen
Persamaan yang mendeskripsikan pengerjaan operator pada fungsi ge-
lombang di mana fungsi gelombang itu tidak mengalami perubahan.
a . Persamaan itu perlu
Secara matematis dilambangkan sebagai A

Glossarium
276 Glossarium

dibaca secara: fungsi gelombang merupakan fungsi eigen bagi ope-


rator A dengan nilai eigen a. Pengerjaan operator A pada fungsi eigen
yang lain, misalnya , pada umumnya akan menghasilkan nilai eigen
yang berbeda. Oleh karena itu, kata eigen dapat dimaknai sebagai pribadi
(dalam arti kepemilikan seperti dalam kata: rumah pribadi), atau swa
(seperti dalam kata: swadaya), atau karakteristik. Lihat juga: Kemerosotan
nilai eigen.
Persamaan Schrdinger
Persamaan diferensial parsial yang digunakan untuk mendapatkan
fungsi gelombang bagi suatu partikel. Jika diibaratkan mesin, persama-
an ini mengolah masukan yang berupa energi potensial (dinyatakan
sebagai fungsi x dan t) dan menghasilkan keluaran yang berupa fungsi
gelombang. Persamaan ini juga dapat digunakan untuk mendeskrip-
sikan bagimana fungsi gelombang berubah terhadap waktu.
Radiansi (Radiancy)
Banyaknya energi radiasi yang dipancarkan tiap satu satuan luas per-
mukaan benda tiap satu satuan waktu. Radiansi dapat juga diartikan
sebagai daya radiasi per satuan luas. Definisi tersebut sangat mirip de-
ngan intensitas. Bedanya: intensitas merujuk pada besarnya energi yang
melewati (atau diterima oleh) satu satuan luas permukaan tiap satu sa-
tuan waktu, sedangkan radiansi merujuk pada energi yang dipancarkan
oleh satu satuan luas permukaan tiap satu satuan waktu. Kata lain yang
sangat dekat artinya dengan radiansi adalah kecemerlangan atau
kebersinaran (brightness)
Ragam gelombang
Kata ragam merujuk pada kesatuan ciri yang membedakan setiap unsur
(anggota) dalam himpunan (kelompok) entitas fisis sejenis. Sebagai con-
toh, perhatikan entitas: gelombang tegak pada tali yang kedua ujungnya
terikat kuat. Gelombang tersebut dibedakan oleh panjang gelombang-
nya sehingga ada berbagai ragam gelombang yang terbentuk, antara
lain: ragam gelombang dengan 2L, ragam gelombang dengan L,
ragam gelombang dengan L, dan seterusnya. Amplitudo gelom-
bang tidak dipakai untuk membedakan. Jadi ragam gelombang diciri-
kan oleh panjang gelombangnya.
Untuk membantu memahami makna ragam gelombang tersebut, laku-
kan analogi dengan pakaian seragam sekolah sebagai berikut. Ragam pa-
kaian sekolah dicirikan oleh warna (kombinasi warna) dan model-nya,
sedangkan ukuran pakaian tidak digunakan sebagai penciri. Dalam

Pengantar Fisika Kuantum


Glossarium 277

konteks ini kita mengenal penyataan: ragam putih-putih, ragam biru-


putih, atau ragam pramuka.
Analog dengan semua pakaian biru-putih yang dipakai siswa suatu sekolah
adalah seragam, berapa pun ukurannya, maka semua gelombang tegak dengan
tertentu adalah seragam, berapa pun amplitudonya.
Rapat arus
Jumlah entitas yang menembus satu satuan luas secara tegaklurus tiap
satu satuan waktu. Rapat arus merupakan besaran vektor, arahnya seja-
jar dengan vektor satuan luasan yang ditembus entitas itu. Rapat arus
suatu entitas berkaitan erat dengan rapat entitas per satuan volume.
Rapat arus muncul dalam berbagai topik fisika, misalnya rapat arus
(muatan) listrik, rapat arus partikel, dan rapat arus peluang. Jika rapat
arus dilambangi J dan rapat entitas dilambangi maka kedua besaran

itu memenuhi hubungan: .J . Perhatikan keajegan kaitan-kaitan
t
berikut.
Jika rapat muatan listrik, maka J rapat arus muatan listrik
rapat partikel, J rapat arus partikel
rapat peluang, J rapat arus peluang
Suhu nol mutlak (absolute zero)
Suhu terendah yang mungkin terjadi di alam, pada suhu ini tidak ada
entitas fisik yang memiliki energi panas.
Vektor-4
Vektor yang didefinisikan dalam ruang-waktu 4 dimensi. Vektor-4 me-
miliki empat komponen yang saling bebas, satu komponen disebut
komponen waktu, dan tiga komponen lainnya disebut komponen ru-
ang. Konsep ini muncul dalam teori relativitas

Glossarium
278 Glossarium

Efek Zemaan ............................ 272


A
Elektron .................................... 272
Aksi ........................................... 269
Elektron-foto ............................ 272
Asas deterministik .................. 269
Elektron-volt ............................ 272
Asas ketakpastian .................... 269
Entitas ....................................... 272
Asas Korespondensi................ 269
Atom.......................................... 270 F
Atom berelektron tunggal ...... 270 Foton ......................................... 272
Frekuensi ambang ................... 273
B
Fungsi kompleks variabel real
Benda-Hitam ............................ 270
............................................... 273
Bilangan kompleks ................. 270
G
Bilangan kuantum
magnetik .............................. 271 Gelombang
orbital ...................................271 de Broglie ............................. 273
pengertian ............................ 270 grup ...................................... 273
utama....................................270 monokromatis ..................... 273
Bohr Gelombang vs materi
jari-jari ..................................273 komplementaritas .............. 275
magneton ............................. 275
Gelombang vs partikel
dualisme............................... 271
C
Compton H
Efek ....................................... 271
Heisenberg
persamaan gerak ................. 275
D
de Broglie K
Gelombang ........................... 273
Keadaan kuantum
Keadaan dasar ..................... 273
E
keadaan stasioner ................ 274
Efek fotolistrik ......................... 271 keadaan tereksitasi .............. 274
Efek penerowongan ................ 272 pengertian ............................ 274

Pengantar Fisika Kuantum


270 Glossarium

Kecepatan fase ......................... 274 R


Kemerosotan (degeneration) Radiansi
fungsi eigen.......................... 274 pengertian ............................ 276
nilai eigen ............................. 274
Ragam gelombang
pengertian ............................ 276
M
Rapat arus
Magneton Bohr ........................ 275
pengertian ............................ 277
P
S
Pembentukan pasangan (pair
Suhu nol mutlak ...................... 277
production) ........................... 275
Pemusnahan (annihilation) ....275 U
pengkuantuman ultraviolet
Kaedah .................................273 bencana ................................ 270
Pengkuantuman
V
energi ....................................275
ruang ....................................275 Vektor-4
pengertian ............................ 277
Persamaan nilai eigen ............. 275
Persamaan Schrdinger .......... 276

Pengantar Fisika Kuantum


Indeks

A B
Aksi 10, 12, 269
Apertur, optik 5557 Balmer, deret 253, 257, 267
Arus fotoelektrik 32-34, 36, 37, 40, Bencana ultraviolet 9, 270
44, 47, 49 Benda-hitam
Asas deterministik 122, 269 contoh terbaik 2
Asas ketakpastian Heisenberg, 84, definisi 2, 270
105108, 205, 269 grafik spektrum 35
berdasar penafsiran Born 6971 spektrum 25, 28
berdasar postulat pengukuran 102,103 Bilangan kompleks 270
ketakpastian minimum 74 Bilangan kuantum 135, 270
rumusan umum 107 magnetik 253, 260, 263, 271
Asas korespondensi 227, 269 orbital 250, 260, 263, 271
Asas relativitas 59 utama 250,270
Atom berelektron tunggal 209, 270 Bohr
energi potensial 230 jari-jari 258, 262, 264, 273
fungsi eigen 238, 261 teori atom hidrogen 209, 255
komponen radial 236 bukti persamaan Schrdinger 258
komponen sudut 232 magneton, 275. Lih. Magneton Bohr
persamaan Schrdinger 230 Boltzmann
pengertian 229 tetapan 7
rapat peluang posisi 239, 247 statistika 8
visualisasi 248, 249 fungsi distribusi 8
komponen radial 244 Born, Max 53, 70, 79, 102, 106
komponen sudut 239 penafsiran fungsi gelombang 6469
Atom hidrogen 229, 254, 264 dalam ruang momentum 68, 78
spektrum 257, 267 dalam ruang posisi 65
C
Compton, efek 44, 271
Coulomb, hukum 230, 255

Sutopo Pengantar Fisika Kuantum 279


280 Indeks

Energi kinetik 89
D dan momentum sudut 229
Davisson 58, 77 operator dlm koordinat bola 229
de Broglie 31, 47
F
hipotesis 53, 54, 77, 80, 83
gelombang 273 Fisika kuantum, kesepadanan dgn
Deterministik, Lih. Asas deterministik fisika klasik 129
Dirac, fungsi delta 72 mekanika Newton 147, 182
Doppler, efek 45, 46, 47 Fonon 181
Foton
E definisi 41, 54, 272
Efek fotolistrik 54, 77 dlm teori atom Bohr 257
definisi 31, 271 intensitas cahaya 43
fakta eksperimen 34 interaksi dengan partikel 41
set percobaan 33 momentum 44, 48
teori Einstein 4044 pada efek fotolistrik 42
teori klasik 3840 Fourier, transformasi 68
tonggak fisika kuantum 31 Frekuensi ambang 34, 40, 42, 43, 47, 272
Efek penerowongan 166, 271 Fungsi eigen 113, 135
Ehrenfest, teorema 129 Fungsi gelombang
Einstein 32, 40, 42, 43, 48, 49 analogi dgn trayektori klasik 84
kaitan Planck-Einstein 47 keortogonalan: lih. ortogonal
pengkuantuman cahaya 41 norm 98
Elektron valensi 264 perkalian skalar 98
Elektron, 272 Fungsi kerja, lih. Energi ikat 43, 50
massa 57, 254 Fungsi kompleks 120, 272
muatan 255
Elektron-foto 3238, 4751, 272
G
energi kinetik 43, 49 Gaussan, fungsi 74, 76, 79, 106, 111, 205
Elektron-volt 272 Gaya sentripetal 211, 256
Entitas 272 Gelombang de Broglie 54, 77, 78, 80,
Emisi lanjutan, secondary emission 32 83, 273
Emisi medan, lucutan elektrik 32 eksistensi 55
Emisi termionik 32 untuk debu 56
Energi ikat 32, 42, 43, 51 untuk elektron 57
Energi ionisasi 258, 262 untuk neutron termal 57
Gelombang monokromatis 59, 273
Gelombang sekejab (evanescent wave) 155

Pengantar Fisika Kuantum


Indeks 281

Gelombang stasioner 138 Keadaan stasioner 137, 273


kombinasi linear 138 energi pasti 136, 138
Gelombang tegak 12, 15, 21-25 dalam teori Bohr 257
cacah ragam 20 dalam potensial kotak 14975
energi rata-rata tiap ragam 7, 8, 11, 24 Kecepatan fase 59, 274
energi tiap ragam 9 Kecepatan grup 62
ragam gelombang 6, 276 Kecepatan hanyut (drift velocity) 132
Gelombang-partikel 44, 54 Kemerosotan (degeneration)
Komplementaritas 44, 274 fungsi eigen 274
dualisme 271 nilai eigen 274
Germer 58, 77 Kepler, hukum 209, 211
Giromagnetik, rasio 252 Koefisien refleksi
Grup gelombang 273 definisi 156
kecepatan grup 62 pada potensial tanggul 163
pembentukan 60, 63 pada potensial undak 156, 159
sebagai gelombang de Broglie 63 tafsiran probabilistik 178
Koefisien transmisi
H definisi 159
Hamiltonan 126, 145, 148 pada potensial tanggul 163
Harmonis bola, fungsi 221, 222, 232, 260 pada potensial undak 159
Heisenberg, W. Lih. Asas ketakpastian tafsiran probabilistik 178
asas ketakpastian umum 266 Komutator
persamaan gerak 126, 228, 275 definisi 102
pelopor mekanika kuantum 58 posisi dan momentum 112
Hertz, Heinrich 32 mometum dan Hamiltonan 127
Hukum kekekalan energi 257 posisi dan Hamiltonan 126
persamaan operator 116 Konstanta pegas 181
Hukum kekekalan muatan listrik 131 Kristal 181
Kronecker, delta 222
J Kulit elektron 253
Lih. bilangan kuantum utama
Jarak penembusan (skin depth) 156
L
K
Laplacean, operator 118
Kaidah pengkuantuman 89, 109, 266, 273 Legendre
Keadaan kuantum persamaan diferensial 218
Keadaan dasar (ground state) 135, 175, 273
polinom 220, 260
keadaan tereksitasi 135, 175, 274
polinom sekawan 232
pengertian 273
Lenard-Jones 147

Indeks
282 Indeks

Logam alkali 264 Nilai eigen, persamaan 113, 117, 135, 275
Lorentz 45 Nilai harap 70, 95
Lucutan elektrik 32 perubahan terhadap waktu 123, 126
Lymann, deret 253, 257 momentum linear 127
posisi 126
M komp. momentum sudut Lx 226
Magneton Bohr 252, 275 komp. momentum sudut Ly 226
Massa tereduksi 230, 261
Maxwell 5, 6, 8, 48, 49,64, 83
O
Medium kontinu 181 Operator
Metodologi Fisika Kuantum 84 identitas 99
Lih. Postulat Fisika Kuantum nol 99
Momen dipol magnet 251 penjumlahan operator 101
energi potensial 252 perkalian operator, lih. komutator
Momen gaya 210 Operator energi total 117
Momentum sudut, 209 Operator Hermitean 85, 108, 112, 148
definisi 210 definisi 100
fungsi eigen bersama 216, 222 nilai harap 101
hubungan komutasi 213115, 259 Operator momentum linear
kekekalan 228, 229, 260 dalam ruang momentum 87
kemerosotan 224 dalam ruang posisi 88
korespondensi klasik 228, 260 Operator posisi
nilai eigen 222 dalam ruang momentum 86
operator 211113 dalam ruang posisi 86
dlm koordinat bola 213, 259 Optika fisik, geometri 55
dlm koordinat Cartesan 212 Ortogonal, ortonormal 98, 99, 180
Lx 225 Osilator harmonis
Ly 226 energi klasik 183, 205
orientasi 225 energi kuantum 189, 205
pengkuantuman ruang 226, 260, 275 fungsi eigen 200, 205, 206, 19097
persamaan nilai eigen 215222 ketakpastian momentum 204, 206
teori Bohr 255 ketakpastian posisi 203, 206
N pengertian 181
persamaan Schrdinger 205
Newton 53, 80, 83, 115, 144, 146 penjabaran 183185
Nilai eigen 135 solusi 185188
momentum sudut 222
osilator harmonis 205

Pengantar Fisika Kuantum


Indeks 283

Postulat Fisika Kuantum:


P pendeskripsian besaran 85
P. Lenard 32 pendeskripsian keadaan 84
Parseval, teorema 69 pendeskripsian pengukuran
Partikel identik 182 dampak 92
Paschen, deret 253, 257 hasil, probabilistik 95
Pembentukan pasangan 44, 275 pengukuran serempak 91
Pemusnahan (annihilation) 275 proses 91
Pengkuantuman energi 135, 140, 275 Potensial penghalang 34, 36, 49
berdasarkan Pers. Schrdinger 140 Potensial penghenti 3336, 50
berdasarkan postulat Planck 9 Proton 230
Persamaan Schrdinger 85, 275 massa 254
3 dimensi 118 muatan 255
1 dimensi 118
R
penjabaran 115118
struktur matematis 120 Radiansi spektral 3, 6, 23
bentuk eksplisit 119 benda-hitam 3, 5
Persamaan Schrdinger bebas waktu definisi 36, 23
penjabaran 133134 Radiansi, pengertian 276
syarat berlakunya 136 Radiasi rongga 3, 5, 24
Persamaan Schrdinger, dan Radiasi termal
hukum kekekalan energi 129 benda-hitam 2
kesepadanan dgn mek. Newton 115 definisi 1
Persamaan Schrdinger, untuk: Rapat arus peluang 159
elektron dlm medan Coloumb 120 Definisi, pengertian 131, 276
osilator harmonis 119 kekekalan lokal 132
Planck, postulat, 9, 14, 26, 28 dan persamaan kontinuitas 131
entitas fisis yang tunduk pada 13 Rapat energi spektral
kesepadanan klasik 15 definisi 5, 6, 9
Planck, hubungannya dgn radiansi spektral 6
teori radiasi benda-hitam 9, 12 teori Rayleigh-Jeans 7
tetapan 1, 12, 25, 35, 41, 48 Rapat peluang
Planck-Einstein, kaitan 47, 54, 117 kekalan global 130
Polarisasi 20 lih. rapar arus peluang, dan Born
Polinom Hermite 205 Rayleigh-Jeans,
dan fungsi eigen osilator harmonis 199 teori radiasi benda-hitam 7, 8
definisi 198 Resonansi transmisi 161
sifat-sifat penting 199 Rydberg, tetapan 257

Indeks
284 Indeks

S energi-momentum-4 46
gelombang-4 46
Schrdinger
pelopor mekanika kuantum 58 W
lih. Persamaan Schrdinger
Waktu tunda, efek fotolistrik 34, 37, 47
Schwarz, ketaksamaan 99, 107
contoh hitungan 39
SI (square integrable) 65, 68, 100
Wien
Sinar-X 44
hukum pergeseran 3, 4, 12, 27
Sistem konservatif 182, 183, 256
tetapan 4
Sistem koordinat
polar 239, 266 Y
bola 212, 213, 265
Young 55
Cartesan 213, 265
Sistem periodik 264 Z
Spektrograf 253
Zemann, efek 258, 262, 272
Spektrometer 253
Spektroskop 253
Spektroskopi 253, 263
Stefan-Boltzmann 3, 12
hukum 5
Sudut ruang 222
Suhu nol mutlak 277

T
Thomson, J.J 58
Thomson, P.G. 58
Tingkat energi
potensial sumur 174
osilator harmonis 189, 205
Torka, 210. Lih. Momen gaya

U
Ultraviolet, bencana 9, 270

V
Varians 70
Vektor gelombang 55, 58
Vektor-4 45, 46, 277

Pengantar Fisika Kuantum


DAFTAR PUSTAKA

PUSTAKA CETAK

Anderson, J.L., 1967. Principles of Relativity Physics. New York: Academic


Press.
Boas, M.L., 1983. Mathematical Method in The Physical Sciences. New York:
John Wiley & Sons.
Eisberg, R. dan Resnick, R., 1985. Quantum Physics of Atom, Molecules, Solids,
Nuclei, and Particles. New York: John Wiley & Sons
Goldstein, H., 1980. Classical mechanics 2nd edition. Singapore: Addison-
Wesley
Guillemin, V., 1968.The story of Quantum Mechanics. New York: Charles
Scribners Sons.
Hawking, W.S., 1988. A Brief History Of Time, From The Big Bang To Black
Holes. London: Bantam Press
Kittel, C., 1980. Thermal Physics. San Francisco:Freeman and Company.
Merzbacher, E., 1970. Quantum Mechanics. New York: John Wiley & Sons
Messiah, A., 1961. Quantum Mechanics. New York: Interscience
Muhardjito, Sutopo, Handayanto, S.K. 2000. Deduksi Asas Ketakpastian
Heisenberg Berdasarkan Asas Pengukuran Dalam Fisika Kuantum. Malang:
Lembaga Penelitian Universitas Negeri Malang.
Schiff, L. I., 1959. Quantum Mechanics. New York: McGraw-Hill.
Spiegel, M.R. 1969. Mathemathical Handbook: Formulas and Tables. New York:
Mc Graow-Hill, Schaums Outline Series
Sutopo. 2000. Swacocokan Antara Postulat Pertama Fisika Kuantum, Penafsiran
Born, dan Asas Ketakpastian Heisenberg. Malang: Jurnal MIPA
Symon. 1971. Mechanics. Addison Wesley.

Pengantar Fisika Kuantum Daftar Pustaka 285


286 Daftar Pustaka

Tannoudji, C.C., Diu, N., dan Laloe, F. 1979. Quantum Mechanics. New
York: John Wiley & Sons
Wangsness, R.K. 1979. Electromagnetic Fields. New York: John Wiley & Sons
Weidner, R.T., dan Sells, R.L. 1980. Elementary Modern Physics. Boston:
Allyn & Bacon Inc.
Yariv, A., 1989. Quantum Electronics. New York: John Wiley & Sons.

PUSTAKA ELEKTRONICS DAN SOFTWARE

Nave, C.R., 2003. Hyperphysics.


http://www.gsu.edu/multimedia/campusmap/campusmap.html
Jarecki, J., 1996. Graphical Schrodinger's Equation (GSE, Windows Version. The
American Institute of Physics.
____, 2000. MAPLE (6). Waterloo Maple Inc

Pengantar Fisika Kuantum


LAMPIRAN

Tetapan-Tetapan
Yang Digunakan Dalam Buku Ini
Tetapan Lambang Nilai
Permitivitas 0 8,854 10 C.N.m
Tetapan Planck h 6,626 10J.s
1,055 10 J.s
Tetapan Boltzmann KB 1,381 10 J.K
Tetapan Stefan-Boltzmann 5,670 10 W.m .K
Muatan listrik elementer e 1,602 10 C
Tetapan Rydberg R 1,097 10 m
Jari-jari pertama Bohr a0 5,292 10 m
Magneton Bohr B 9,274 10 J.T
Tetapan Coulomb 1 8,984 10 N.C.m2
k
4 0
Massa (diam) elektron me 9,110 10 kg
Tetapan Wien 2,898 10 m.K
Massa (diam) proton mp 1,673 10kg
Laju cahaya dalam vakuum c 2,998 10 m.s

Keterangan
C Coulomb
N Newton
K Kalvin
J Joule
T Tesla
W Watt
kg kilogram
m meter
s sekon

Pengantar Fisika Kuantum Lampiran 287