Anda di halaman 1dari 5

NAMA KELOMPOK:

KELOMPOK 4

1. Fitri Wahyuni
2. Gita Mustika
3. Ira Anggraini
4. Lelita Marizi
5. Reffa Rizkyani Irawan
6. Risca Dwi Jayanti
7. Salsabila Hani R

1. EPISIOTOMI
Episiotomi adalah insisi pada perineum yang dilakukan sebelum kelahiran
bayi. Episiotomi juga suatu tindakan operatif berupa sayatan pada perineum meliputi
selaput lendir vagina, cincin selaput dara, jaringan pd septum rektovaginal, otot2 &
fascia perineum & kulit depan perineum.

INDIKASI
1. Untuk mempercepat kelahiran seperti Pre eklamsia ,Eklamsia , Penyakit
jantung/pernafasan,Perbaikan dasar pelvis sblmnya , Gawat maternal/janin,prolapsus
funiculus umbilicalis,Persiapan kelahiran cunam (forcep)
2. Untuk mencegah trauma yg berlebihan seperti Perineum yg kaku,Perineum yg
mengalami luka,Adanya luka derajat 3 sblmnya,Adanya sikatrik, kelahiran
oksipitoposterior yg persisten,Kelahiran presentasi muka,Arcus pubis yg sempit
3. Untuk mencegah kerusakan otak seperti turunnya kepala fetus yg
lambat,prematuritas,setelah keluarnya kepala pada presentasi bokong
4. Gawat Janin
5. Persalinan pervaginam dengan penyulit
6. Jaringan parut pada perineum atau vagina

KONTRA INDIKASI
1. Bila persalinan tidak pervaginam
2. Bila terdapat kondisi untuk tjd perdarahan yg banyak seperti penyakit kelainan
darah.

KERUGIAN
1. Episiotomi merupakan mutilasi apabila dilakukan tanpa alasan yg sangat jelas
2. Jaringan parut yang terjadi dapat menyebabkan dispareunia apabila jahitanya terlalu
erat
3. Apabila jahitan tdk cukup erat vagina akan mjd kendur
4. Adanya jaringan parut akan menyebabkan episiotomi ulang
5. Semakin nyeri episiotomi ibu nifas semakin tinggi pengaruh status psikologis ibu
nifas

2. PENDAMPING PERSALINAN
Pendamping merupakan keberadaan seseorang yang mendampingi atau

terlibat langsung sebagai pemandu persalinan, dimana yang terpenting adalah dukungan yang

diberikan pendamping persalinan selama kehamilan, persalinan, dan nifas, agar proses

persalinan yang dilaluinya berjalan dengan lancar dan memberi kenyamanan bagi ibu bersalin

(Sherly, 2009).
Kehadiran pendamping persalinan yang dapat memberikan dukungan selama
persalinan (orang terdekat : suami,orang tua). Kehadiran merupakan bentuk tindakan aktif
ketrampilan yang meliputi mengatasi semua kekacauan/ kebingungan, memberikan perhatian
total pada ibu. Bila memungkinkan anjurkan pendamping untuk mengambil peran aktif dalam
asuhan, seperti sentuhan/masase yang nyaman, menyeka wajah dan lehernya dengan kain
dingin, pijatan ganda pada pinggul, penekanan pada lutut, kompres hangat dan dingin yang
dapat mengurangi spasme otot dan meningkatkan ambang nyeri.
Ada tiga jenis peran yang dapat dilakukan oleh suami selama proses persalinan yaitu

peran sebagai pelatih, teman satu tim, dan peran sebagai saksi (Bobak, Lowdermilk dan

Perry, 2004).
Peran sebagai pelatih diperlihatkan suami secara aktif dalam membantu proses

persalinan istri, pada saat kontraksi hingga selesai persalinan. Ibu menunjukkan keinginan

yang kuat agar ayah terlibat secara fisik dalam proses persalinan (Smith, 1999; Kainz dan

Eliasson, 2010). Peran sebagai pelatih ditunjukkan dengan keinginan yang kuat dari suami

untuk mengendalikan diri dan ikut mengontrol proses persalinan. Beberapa dukungan yang

diberikan suami dalam perannya sebagai pelatih antara lain memberikan bantuan teknik

pernafasan yang efektif dan memberikan pijatan di daerah punggung. Suami juga memiliki

inisiatif untuk lebih peka dalam merespon nyeri yang dialami oleh ibu, dalam hal ini ikut

membantu memantau atau mengontrol peningkatan nyeri. Selain itu suami juga dapat

memberikan dorongan spiritual dengan ikut berdoa.


Tingkatan peran yang kedua adalah peran sebagai teman satu tim, ditunjukkan dengan

tindakan suami yang membantu memenuhi permintaan ibu selama proses persalinan dan

melahirkan. Dalam peran ini suami akan berespon terhadap permintaan ibu untuk mendapat

dukungan fisik, dukungan emosi, atau keduanya (Bobak, Lowdermilk, & Perry, 2004). Peran

suami sebagai teman satu tim biasanya sebagai pembantu dan pendamping ibu, dan biasanya

suami dingatkan atau diberitahukan tentang perannya oleh bidan. Smith (1999) dan Kainz

Eliasson (2010) menjelaskan bentuk dukungan fisik yang dapat diberikan yaitu dukungan

secara umum seperti memberi posisi yang nyaman, memberikan minum, menemani ibu
ketika pergi ke kamar kecil, memegang tangan dan kaki, atau menyeka keringat yang ada di

dahi ibu, dan membantu ibu dalam pemilihan posisi yang nyaman saat persalinan. Bentuk

dukungan fisik yang menggunakan sentuhan, menunjukkan ekspresi psikologis dan

emosional suami yaitu rasa peduli, empati, dan simpati terhadap kondisi ibu yang sedang

merasakan nyeri hebat dalam proses persalinan (Smith, 1999).


Suami berperan sebagai saksi menunjukkan keterlibatan yang kurang dibandingkan

peran sebagai pelatih atau teman satu tim. Dalam berperan sebagai saksi, suami hanya

memberi dukungan emosi dan moral saja (Bobak, Lowdermilk, & Perry, 2004). Biasanya

suami tetap memperhatikan kondisi ibu bersalin, tetapi sering kali suami hanya menunggu

istri di luar ruang persalinan, dan melakukan aktivitas lain seperti tertidur, menonton tv, atau

meninggalkan ruangan dalam waktu yang agak lama. Perilaku ini ditunjukkan suami karena

mereka yakin tidak banyak yang dapat mereka lakukan, sehinga menyerahkan sepenuhnya

pada penolong persalinan. Alasan suami memilih peran hanya sebagai saksi karena

kurangnya kepercayaan diri atau memang kehadirannya kurang diinginkan oleh istri.

Bagi suami yang siap mental mendampingi istrinya selama proses persalinan dapat

memberikan manfaat seperti :


a) Ikut bertanggung jawab mempersiapkan kekuatan mental istri dalam menghadapi persalinan
b) Memberi rasa tenang dan penguat psikis pada istri
c) Selalu ada bila dibutuhkan
d) Kedekatan emosi suami istri bertambah
e) Menumbuhkan naluri kebapakan
f) Suami akan lebih menghargai istri
g) Membantu keberhasilan IMD
h) Pemenuhan nutisi
i) Membantu mengurangi rasa nyeri saat persalinan
j) Ibu yang memperoleh dukungan emosional selama persalinan akan mengalami waktu

persalinan yang lebih singkat, intervensi yang lebih sedikit, sehingga hasil persalinan akan

lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/58791/4/Chapter%20II.pdf

http://opac.unisayogya.ac.id/1843/1/laporan_penelitian_sarwinanti.pdf.2015

http://bidan.fk.ub.ac.id/wp-content/uploads/2013/08/AMNIOTOMY-EPISIOTOMI.pdf

http://eprints.ums.ac.id/27198/27/NASKAH_PUBLIKASI.pdf