Anda di halaman 1dari 35

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.
Penyuluhan pertanian sebagai bagian integral pembangunan pertanian
merupakan salah satu upaya pemberdayaan petani dan pelaku usaha pertanian
lain untuk meningkatkan produktivitas, pendapatan dan kesejahteraannya
Untuk itu kegiatan penyuluhan pertanian harus dapat mengakomodasikan
aspirasi dan peran aktif petani dan pelaku usaha pertanian lainnya melalui
pendekatan partisipatif. Pengembangan pembangunan pertanian di masa
mendatang perlu memberikan perhatian yang khusus terhadap penyuluhan
pertanian, karena penyuluhan pertanian merupakan salah satu kegiatan yang
strategis dalam upaya pencapaian tujuan pembangunan pertanian. Melalui
kegiatan penyuluhan, petani ditingkatkan kemampuannya agar dapat
mengelola usaha taninya dengan produktif, efisien dan menguntungkan,
sehingga petani dan keluarganya dapat meningkatkan kesejahteraanya.
Meningkatnya kesejahteraan petani dan keluarganya adalah tujuan utama dari
pembangunan pertanian
Faktor yang tidak kalah penting dalam perkembangan pertanian
adalah bagaimana peran penyuluhan yang ada harus dimaksimalkan. Penyuluh
diharapkan dapat membantu petani untuk dapat memberikan inovasi terbaru
dibidang pertanian. Penyuluh yang ada diharapkan tidak saja mengandalkan
teori yang ada, melainkan juga harus mampu melihat ke lapang. Bagiamana
lapang yang akan mereka hadapi situasi serta kondisinya seperti apa harus
disesuaikan.
Sebagai mahasiswa pertanian yang nantinya akan terjun di masyarakat
dalam memberikan pengarahan kepada petani, haruslah memiliki pengetahuan
dan pengalaman yang cukup sebagaimana cara menyuluh yang baik di
lapangan, sehingga penyuluh itu benar-benar menjadi motivator yang baik di
masyarakat. Mahasiswa disini diikutsertakan dengan cara pelatihan yang bisa
disebut magang. Magang mahasiswa merupakan bagian dari kurikulum yang

4
wajib dilakukan bagi mahasiswa sarjana program strata satu. Kegiatan magang bukan hanya
berdasarkan teori yang didapat dari bangku kuliah saja namun juga sebagai tempat pelatihan dan
penempaan bagi mahasiswa khususnya bagi program studi Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian
untuk nantinya menjadi lulusan yang lebih berkualitas. Pelaksanaan kegiatan magang mahasiswa di
Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah diharapkan dapat mendidik
mahasiswa dan menambah pengalaman baik secara teori maupun praktik di lapangan.

B. Tujuan Kegiatan
1. Tujuan umum kegiatan magang:
a. Memperluas pengetahuan dan wawasan berpikir mahasiswa tentang perencanaan program
maupun evaluasi program penyuluhan pertanian.
b. Mengamati, mempelajari dan memahami secara langsung tentang penyuluhan yang
dilakukan oleh Penyuluh Pertanian Lapangan terkait perencanaan dan evaluasi program
penyuluhan di lapangan.
c. Melatih kepekaan mahasiswa terhadap permasalahan yang terjadi di lapangan dan mencari
solusi dari permasalahan tersebut.
d. Memperoleh pengalaman kerja secara langsung sehingga mendapatkan pengetahuan serta
aplikasinya di lapangan.
e. Meningkatkan hubungan antara perguruan tinggi dengan institusi mitra sehingga dapat
meningkatkan mutu perguruan tinggi.
2. Tujuan khusus kegiatan magang:

Tujuan khusus pelaksanaan magang di Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Sukoharjo


Jawa Tengah adalah sebagai berikut:
a. Bagi mahasiswa, kegiatan magang ini bermanfaat untuk
meningkatkan pemahaman antara teori dan aplikasi lapangan mengenai Kegiatan
Penyuluhan terkait Pangan yang dilakukan di Kabupaten Sukoharjo
b. Bagi Fakultas, kegiatan magang ini merupakan strategi
peningkatan kompetensi dan keterampilan lulusan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas
Maret Surakarta.
c. Bagi Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Sukoharjo
Jawa Tengah, kegiatan magang ini diharapkan dapat menjadi hubungan kerja sama dalam
pengembangan ilmu pertanian yang aplikatif.

C. Manfaat Kegiatan Magang


Manfaat pelaksanaan magang di Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Sukohrjo Jawa Tengah
adalah sebagai berikut:
1 Membiasakan mahasiswa untuk bekerjasama dalam tim, baik antar sesama peserta maupun
dengan staf di institusi mitra dengan latar belakang ilmu berbeda.
2 Melatih mahasiswa agar terbiasa untuk menerima perbedaan pendapat, mampu beradaptasi
di lingkungan baru dan mengurangi egoisme bahkan arogansi yang dilatarbelakangi disiplin
ilmu berbeda.
3 Melatih kepekaan mahasiswa dalam mengidentifikasi permasalahan dan mencari alternatif
solusi melalui pendekatan lintas disiplin ilmu guna meningkatkan kemampuan
intelektualnya.
4 Meningkatkan hubungan antara perguruan tinggi, pemerintah, instansi yang terkait dan
masyarakat sehingga dapat meningkatkan mutu pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi
II. TINJAUAN PUSTAKA

1. Ketahanan Pangan
Pendefinisian ketahanan pangan (food security) berubah dalam tiap konteks, waktu dan
tempat. Lebih dari 200 definisi ketahanan pangan (FAO 2003 dan Maxwell 1996) dan
sedikitnya ada 450 indikator ketahanan pangan (Hoddinott 1999). Ketahanan pangan (food
security) merupakan sebuah konsep kebijakan baru yang muncul pada tahun 1974 saat
konferensi pangan dunia (Sage 2002). Maxwell (1996) mencoba menelusuri perubahan-
perubahan definisi tentang ketahanan pangan sejak konferensi pangan dunia 1974 hingga
pertengahan dekade 90an; perubahan terjadi pada level global, nasional, skala rumah tangga dan
individu; dari perspektif pangan sebagai kebutuhan dasar (food first perspective) hingga pada
Perspective penghidupan (livelihood perspective) Dan dari Indikator-Indikator objektif ke
persepsi yang subjektif. (Maxwell & Frankenberger, 1992).
Ketahanan pangan menurut (Suryana, 2003) merupakan suatu sistem ekonomi pangan
terintegrasi yang terdiri atas berbagai subsistem. Terwujudnya ketahanan pangan merupakan
sinergi dan interaksi dari ketiga subsistem tersebut, yaitu: a) Subsistem ketersediaan pangan,
mencakup aspek produksi, cadangan serta keseimbangan antara ekspor dan impor pangan; b)
Subsistem distribusi pangan, mencakup aksesibilitas secara fisik dan ekonomi atas pangan
secara merata; c) Subsistem konsumsi, menyangkut upaya peningkatan pengetahuan dan
kemampuan masyarakat agar mempunyai pemahaman atas pangan, gizi, dan kesehatan yang
baik, sehingga dapat mengelola konsumsinya secara optimal.
Suryana, Achmad. (2003) Kapita Selekta Evolusi Pemikiran Kebijakan Ketahanan Pangan. BPFE,
Yogyakarta.
Ketahanan pangan harus mencakup faktor ketersediaan, distribusi, dan konsumsi. Faktor
ketersediaan pangan berfungsi menjamin pasokan pangan untuk memenuhi kebutuhan seluruh
penduduk, baik dari segi kuantitas, kualitas, keragaman dan keamanannya. Distribusi berfungsi
mewujudkan sistem distribusi yang efektif dan efisien untuk menjamin agar masyarakat dapat
memperoleh pangan dalam jumlah, kualitas dan keberlanjutan yang cukup dengan harga yang
terjangkau. Sedangkan Faktor konsumsi berfungsi mengarahkan agar pola pemanfaatan pangan
secara nasional memenuhi kaidah mutu, keragaman, kandungan gizi, kemananan dan
kehalalannya. Situasi ketahanan pangan di negara kita masih lemah. Hal ini ditunjukkan antara
lain oleh: (a) jumlah penduduk rawan pangan (tingkat konsumsi < 90% dari rekomendasi 2.000
kkal/kap/hari) dan sangat rawan pangan (tingkat konsumsi <70 % dari rekomendasi) masih
cukup besar, yaitu masing-masing 36,85 juta dan 15,48 juta jiwa untuk tahun 2002; (b) anak-
anak balita kurang gizi masih cukup besar, yaitu 5,02 juta dan 5,12 juta jiwa untuk tahun 2002
dan 2003 (Ali Khomsan, 2003).
Menurut Bustanul Arifin (2005) ketahanan pangan merupakan tantangan yang
mendapatkan prioritas untuk mencapai kesejahteraan bangsa pada abad milenium ini. Apabila
melihat Penjelasan PP 68/2002 tersebut, upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional harus
bertumpu pada sumber daya pangan lokal yang mengandung keragaman antar daerah. Sejak
tahun 1798 ketika Thomas Malthus memberi peringatan bahwa jumlah manusia meningkat
secara eksponensial, sedangkan usaha pertambahan persediaan pangan hanya dapat meningkat
secara aritmatika. Dalam perjalanan sejarah dapat dicatat berbagai peristiwa kelaparan lokal
yang kadang-kadang meluas menjadi kelaparan nasional yang sangat parah diberbagai negara
Kebutuhan pangan di dunia semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah
penduduk di dunia. Bertambahnya penduduk bukan hanya menjadi satu-satunya permasalahan
yang menghambat untuk menuju ketahanan pangan nasional. Berkurangnya lahan pertanian
yang dikonversi menjadi pemukiman dan lahan industri, telah menjadi ancaman dan tantangan
tersendiri bagi bangsa Indonesia untuk menjadi bangsa yang mandiri dalam bidang pangan.
Lonjakan penduduk dunia mencapai peningkatan yang tinggi setelah tahun 1960, hal ini dapat
kita lihat dari jumlah penduduk tahun 2000-an yang mencapai kurang lebih 6 miliar orang, tentu
saja dengan pertumbuhan penduduk ini akan mengkibatkan berbagai permasalahan diantaranya
kerawanan pangan. Bahkan dua peneliti AS pernah menyampaikan bahwa pada tahun 2100,
penduduk dunia akan menghadapi krisis pangan (Nasoetion, 2008).
2. Distribusi/Pemasaran Pangan

Sudiyono (2002), mendefinisikan pasar sebagai tempat terjadinya pemenuhan kebutuhan


dan keinginan dengan menggunakan alat pemuas yang berupa barang atau jasa, dimana terjadi
pemindahan hak milik antara penjual dan pembeli. Secara umum pemasaran dianggap sebagai
proses aliran barang yang terjadi dalam pasar, dari produsen sampai kepada konsumen akhir.
Sedangkan pemasaran pertanian adalah proses aliran komoditi yang disertai perpindahan hak
milik dan penciptaan guna waktu, tempat dan bentuk yang dilakukan oleh lembaga-lembaga
pemasaran dengan melaksanakan satu atau lebih fungsi-fungsi pemasaran.
Kotler (2002), menyatakan bahwa pemasaran adalah suatu proses sosial yang didalammya
individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan
menciptakan, menawarkan dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan
pihak lain. Produk tersebut diciptakan untuk memuaskan kebutuhan atau keinginan manusia,
sehingga terjadi proses pertukaran untuk mendapatkan produk yang diinginkan atau kebutuhan
usaha dari tangan produsen ke tangan konsumen. Konsep pemasaran berdiri diatas empat pilar,
yaitu : pasar sasaran, kebutuhan pelanggan, pemasaran terpadu, dan kemampuan menghasilkan
laba. Pemasaran merupakan salah satu fungsi bisnis yang menghasilkan penerimaan bagi
produsen maupun konsumen. Said dan Intan (2004), mendefinisikan pemasaran sebagai
sejumlah kegiatan bisnis yang ditujukan untuk memberi kepuasan dari barang atau jasa yang
dipertukarkan kepada konsumen atau pemakai dalam bidang pertanian, baik input maupun
produk pertanian. Sedangkan menurut Limbong dan Sitorus (1987), pemasaran adalah suatu
rangkaian kegiatan yang terjadi dalam proses mengalirkan barang dan jasa dari sentra produksi
ke sentra konsumsi guna memenuhi kebutuhan dan memberikan keuntungan bagi produsen.
Konsep ini menunjukkan bahwa peranan pemasaran sangat penting dalam rangka meningkatkan
nilai guna bentuk, nilai guna waktu, nilai guna tempat dan nilai guna hak milik dari suatu
barang dan jasa secara umum serta pada komoditas pertanian.
Said dan Intan (2004), menjelaskan bahwa peranan lembaga pemasaran dan distribusi
menjadi ujung tombak keberhasilan pengembangan agribisnis, karena fungsinya sebagai
fasilitator yang menghubungkan antara deficit units (konsumen pengguna yang membutuhkan
produk) dan surplus units (produsen yang menghasilkan produk). Lembaga pemasaran dan
distribusi juga memegang peranan penting dalam memperkuat integrasi antar subsistem dalam
sistem agribisnis. Dengan demikian, pengembangan agribisnis yang terpadu harus dapat juga
memperkuat peranan serta memberdayakan lembaga pemasaran dan distribusi secara efektif dan
efisien. Pembinaan terhadap lembaga pemasaran dan distribusi sangat diperlukan, karena
serangkaian aktivitasnya menjadi penentu utama besarnya marjin antara harga di tingkat
produsen dan harga di tingkat konsumen. Salah satu ukuran distribusi yang efisien adalah
rendahnya marjin antara harga produsen dan harga konsumen, namun tidak berarti lembaga
pemasaran dan distribusi tersebut tidak mendapatkan untung, tetapi lebih pada upaya pembagian
yang adil dari semua nilai tambah yang tercipta dalam suatu sistem komoditas kepada setiap
pelaku yang terlibat.
3. Perencanaan dan Evaluasi Program
Program adalah pernyataan tertulis tentang keadaan, masalah, tujuan dan cara mencapai
tujuan yang disusun dalam bentuk dan sistematika yang teratur. Program dapat dihasilkan
melalui proses perencanaan program yang diorganisasikan secara sadar dan terus menerus,
untuk memilih kriteria yang terbaik dalam mencapai tujuan. Rencana kerja adalah pernyataan
tertulis yang memuat secara lengkap tentang apa, mengapa, bagiamana, siapa, bilamana,
dimana, dan berapa biaya yang diperlukan untuk melakukan kegiatan penyuluhan (Mardikanto
dan Sutarni, 1993).
Perencanaan program merupakan suatu proses yang berkelanjutan, melalui semua warga
masyarakat, penyuluhdan para ilmuwan memusatkan pengetahuan dan keputusan-keputusan
dalam upaya mencapai pembangunan yang mantap. Di dalam perencanaan program, sedikitnya
terdapat tiga pertimbangan yang menyangkut: hal-hal, waktu, dan cara kegiatan-kegiatan yang
direncanakan itu dilaksanakan. Martinez juga menekankan bahwa perencanaan program
merupakan proses berkelanjutan, melalui mana warga masyarakat merumuskan kegiatan-
kegiatan yang berupa serangkaian aktivitas yang diarahkan untuk tercapainya tujuan-tujuan
tertentu yang diinginkan masyarakat setempat (Dahama dan Bhatnagar, 1980).
Dalam kaitan perencanaan program ini Martinez disitasi dari Mardikanto, (1993)
mengungkapkan bahwa perencanaan program merupakan upaya perumusan, pengembangan,
dan pelaksanaan program-program. Perencanaan progam penyuluhan menyangkut perumusan
tentang: (a) proses perancangan program, (b) penulisan perencanaan program, (c) rencana
kegiatan, (d) rencana pelaksanaan program (kegiatan), dan (e) rencana evaluasi hasil
pelaksanaan program tersebut. Dari beberapa definisi dan pengertian tentang perencanaan
progam penyuluhan tersebut, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa perencanaan
program merupakan proses berkesinambungan tentang pengambilan keputusan menyangkut
situasi, pentingnya masalah, atau kebutuhan, perumusan tujuan, dan upaya pemecahan yang
mungkin dilakukan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Hal inilah yang membedakan
perencanaan dengan peramalan. Perencanaan harus dapat mengukur hasil-hasil yang dicapai
berdasarkan pengetahuan yang tepat tentang kondisi masyarakat (Slamet dan Margono, 1978).
Beberapa pokok pikiran yang perlu diperhatikan dalam perencanaan program
penyuluhan:
1. Merupakan suatu proses yang berkelanjutan. Rangkaian pengambilan keputusan dalam
perencanaan program tidak pernah berhenti sampai tercapainya tujuan (kebutuhan,
keinginan, dan minat) yang dikehendaki.
2. Proses pengambilan keputusan tersebut berdasarkan fakta dan sumber daya yang ada.
3. Dirumuskan secara bersama oleh penyuluh dengan masyarakat sasarannya, dengan
didukung oleh para spesialis, praktisi, dan penentu kebijakan.
4. Meliputi perumusan tentang: keadaan, masalah, tujuan, dan cara pencapaian tujuan,
yang dinyatakan secara tertulis.
5. Harus mencerminkan perubahan kearah kemajuan
(Soekanto, Soerjono, 1982).
Ban dan Hawkins (1999) dalam Kartasapoetra (1994) menyatakan, Evaluasi Kegiatan
Penyuluhan Pertanian adalah upaya penilaian atas sesuatu kegiatan oleh evaluator melalui
pengumpulan dan penganalisaan informasi secara sistematik mengenai perencanaan,
pelaksanaan dan dampak kegiatan untuk menilai relevansi, efektivitas dan efisiensi pencapaian
hasil kegiatan untuk pengembangan selanjutnya. Padmowihardjo (1996) menyatakan bahwa
evaluasi penyuluhan pertanian adalah sebuah proses sistematis untuk memperoleh informasi
yang relevan tentang sejauhmana program tujuan program penyuluhan pertanian disuatu
wilayah dapat dicapai sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan, kemudian digunakan untuk
mengambil keputusan dan pertimbangan-pertimbangan terhadap program penyuluhan yang
dilakukan
Program penyuluhan yang baik sebaiknya dilakukan berdasarkan kebutuhan masyarakat
yang ada di daerah tersebut (sistem bottom up). Pemerintah harus mengetahui apa yang menjadi
kebutuhan masyarakat lalu kemudian menentukan program apa yang cocok dilakukan di daerah
tersebut. Untuk mengetahui keberhasilan program penyuluhan, maka diperlukan penelitian
secara ilmiah. Ada beberapa kegunaan evaluasi dilihat dari berbagai sudut pandang yaitu
sebagai berikut:
Kegunaan bagi kegiatan penyuluhan itu sendiri, yakni:
1. Untuk mengetahui seberapa jauh kegiatan yang telah dicapai.
2. Untuk mencari bukti apakah sekuruh kegiatan telah dilaksanakan seperti yang
direncanakan.
3. Untuk mengetahui segala masalah yang muncul/dijumpai yang berkaitan dengan tujuan
yang diinginkan.
4. Untuk mengukur efektifitas dan efesiensi sistem kerja dan metoda-metoda penyuluhan yang
telah dilaksanakan.
5. Untuk menarik simpati aparat dan warga masyarakat bahwa program tersebut memang
mendapat perhatian yang sungguh-sungguh sehingga diharapkan mereka dapat
berpartisipasi dalam kegiatan penyuluhan berikutnya.
Kegunaan bagi aparat penyuluhan, yakni meliputi:
1. Penyuluh merasa diperhatikan dan tidak dilupakan, sehingga memberikan kepuasan
psikologis yang akan mendorong aktivitas penyuluhannya di masa mendatang.
2. Melalui evaluasi, seringkali juga digunakan untuk melakukan penilaian terhadap aktivitas
atau mutu kegiatan penyuluhan itu sendiri, sehingga berpengaruh dalam menentukan masa
depan bagi pengenbangan karier penyuluh yang bersangkutan.
3. Dengan adanya evaluasi maka penyuluh akan selalu mawas diri dan berusaha agar
kegiatannya berjalan dengan baik sehingga membiasak diri untuk selalu rajin, tekun dan
bertanggung jawab.
Kegunaan bagi pelaksana evaluasi, yakni meliputi:
1. Kebiasaan untuk mengemukakan pendapat berdasarkan data atau fakta dan bukan
didasarkan kepada asumsi atau praduga semata.
2. Kebiasaan bekerja sistematis, sesuai dengan prosedur dan pedoman yang telah ditetapkan.
3. Memperolah peningkatan pengetahuan dan keterampilan. (Mardikanto.T, 1993).
11
11
III. TATA LAKSANA KEGIATAN

A Waktu dan Tempat Pelaksanaan


1. Waktu Pelaksanaan : 13 September 2016 13 Oktober 2016
2. Nama Institusi Mitra : Balai Ketahanan Pangan (BKP) Sukohajo
Jawa Tengah
3. Alamat : Jl. Abu Tholib Sastrotenoyo No 7 Bendosari
Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah
C. Pengumpulan Data
Pelaksanaan kegiatan magang mahasiswa yang berlangsung di Badan
Ketahanan Pangan Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah ini menggunakan
beberapa metode pengambilan data, antara lain:
1 Observasi / survey lapang
Kegiatan survey di lapangan secara langsung terhadap kondisi
institusi mitra selama kegiatan magang dilakukan antara lain mengenai
kegiatan evaluasi program penyuluhan di BKP Kabupaten Sukoharjo,
permasalahan yang dihadapi, solusi dalam pemecahan permasalahan
tersebut, dan hal-hal lain yang relevan dengan tujuan pelaksanaan kegiatan
magang.
2 Wawancara
Data dapat diperoleh melalui wawancara secara langsung terhadap
beberapa pihak terkait baik dari petani langsung maupun pembimbing di
lapang. Meliputi permasalahan yang dihadapi, kondisi institusi mitra, dan
strategi yang dijalankan dan hal-hal lain yang mendukung kegiatan
magang mahasiswa.
3. Dokumentasi
Dokumentasi dilakukan dengan pengambilan gambar terhadap
kegiatan yang dilakukan di institusi tempat magang.Selain itu, dapat
dilakukan dengan pencatatan data-data yang relevan, meliputi data iklim,

7
topografi, keadaan tanah luas areal, sejarah singkat institusi, dan struktur
organisasi
4. Studi Pustaka
Studi pustaka dengan penelusuran referensi sebagai bahan
pelengkap, pendukung dan pembanding serta konsep dalam mencari solusi
permasalahan. Contohnya: data dari internet, buku, atau media lainnya.
D. Kegiatan Magang
Tabel 1. Catatan Harian Kegiatan Magang Mahasiswa Fakultas Pertanian di
Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah
N
Hari, tanggal Kegiatan
o
1. Selasa, Orientasi dan Penerimaan Mahasiswa
13 September Magang di Instansi Magang
2016
2. Rabu, Membantu mengurus surat undangan
14 September untuk Hari Tani (Panen Raya)
2016
3. Kamis, Penyuluhan dan Pembinaan program
15 September PUPM dan LDPM di desa Tempel
2016 Kecamatan Gatak Kabupten Sukoharjo
4. Jumat, Membantu Administrasi Kantor
16 September
2016
5. Senin, Penyuluhan dan Pembinaan P-LDPM di
19 September Desa Kedungwinong Kecamatan Nguter
2016 Kabupaten Sukohaarjo
6. Selasa, Membantu Administrasi Kantor
20 September
2016
7. Rabu, Humas Surat Undangan ke Kantor
21 September Bupati Sukoharjo
2016
8. Kamis, Kroscek Harga Pangan di Pasar
22 September Karatsura Kabupaten Sukoharjo
2016
9. Jumat Humas Surat Undangan Hari Tani ke
23 September dinas-dinas di Kabupaten Sukoharjo
2016
10. Sabtu, Panen Raya dalam rangka memperingati

7
24 September Hari Tani Bersama Gubernur Jawa
2016 Tengah dan Bupati Sukoharjo di desa
Pandean Kecamatan Grogol Kabupaten
Sukoharjo
11. Senin, Penyuluhan dan Pembinaan Tunda Jual
26 September di Desa Ngreco Kecamatan Weru
2016 Kabupaten Sukoharjo
12. Selasa, Pertemuan bersama Gapoktan dalam
27 September pembinaan dan penyuluhan Evaluasi
2016 Lumbung Pangan Masyarakat se-
Kabupaten Sukoharjo di Aula BKP
13. Rabu, Rekap data konsumsi rumah tangga
28 September perkeluarga Kecamatan Bulu dan
2016 Kecamatan Polokarto

14. Kamis, Pertemuan PPL se-Kabupaten Sukoharjo


29 September dalam membahas proposal Optimalisasi
2016 KRPL
15. Jumat, Membantu Rekap nomor surat
30 September
2016
16. Senin, Penyuluhan dan pembinaan Tunda Jual
3 Oktober 2016 di desa Geneng Kecamatan Gatak
Kabupaten Sukoharjo
17. Selasa, Membantu administrasi kantor
4 Oktober 2016
18. Rabu, Penyuluhan dan pembinaan Pra LDPM di
5 Oktober 2016 Desa Puron Kecamatan Bulu Kabupaten
Sukoharjo
19. Kamis, Membantu Administrasi Kantor
6 Oktober 2016
20. Jumat, Membantu Administrasi Kantor
7 Oktober 2016
21. Senin, Penyuluhan dan Pembinaan Tunda Jual
10 Oktober 2016 di Desa Klumprit Kecamatan Mojolaban
Kabupaten Sukoharjo
22. Selasa, Penyuluhan dan Pembinaan Tunda Jual
11 Oktober 2016 di Desa Joho Kecamatan Mojolaban
Kabupaten Sukoharjo
23. Rabu, Pelatihan pendamping desa P2KP tahap
12 Oktober 2016 Penumbuhan di Aula BKP
24. Kamis, Perpisahan dan penyerahan kenang-
13 Oktober 2016 kenangan dari Mahasiswa kepada Badan

7
Ketahanan Pangan Sukoharjo

7
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A Profil Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kabupaten Sukoharjo Jawa


Tengah
1. Sejarah Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kabupaten
Sukoharjo Jawa Tengah
Periode 1999
Badan Urusan Ketahanan Pangan (BUKP) dibentuk melalui Keppres
No. 136 tahun 1999 yang diharapkan dapat terorganisasi dengan lebih
baik. Penjabaran Keppres tersebut terkait dengan kedudukan, tugas, fungsi,
susunan organisasi, dan tata kerja Departemen Pertanian yang diuraikan
melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor: 160/Kpts/OT.210/3/2000
tata kerja Departemen Pertanian, Badan Urusan Ketahanan Pangan pada
Bab XII pasal 140. Melalui Keputusan tersebut dikemukakan bahwa,
badan ini mempunyai tugas melaksanakan pengkajian dan pengembangan
ketahanan pangan berdasarkan kebijakan Menteri dan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Penanganan distribusi pangan
khususnya beras pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid dilakukan
juga oleh BULOG dengan ruang lingkup tugas yang sama untuk
mendukung pemantapan ketahanan pangan.
Periode 2001 2004
BUKP dan Sekretariat Pengendali (Setdal) BIMAS dilebur menjadi
Badan Bimas Ketahanan Pangan (BBKP) yang ditetapkan berdasarkan
Keputusan Presiden Nomor 177 Tahun 2000 pasal 16 tentang susunan
organisasi dan tugas Departemen Pertanian. Keppres tersebut menjelaskan
bahwa BBKP merupakan suatu unit kerja setingkat eselon I dalam struktur
Departemen Pertanian dengan tugas yang diuraikan dalam Keputusan
Menteri Pertanian Nomor 01/Kpts/OT.210/2001 tentang organisasi dan
tata kerja Departemen Pertanian yaitu melaksanakan pengkajian,
pengembangan, dan koordinasi pemantapan ketahanan pangan.
Sedangkan untuk pelaksanaan tugas pemantapan ketahanan pangan di

10
daerah (propinsi maupun kabupaten/kota), telah dibentuk unit kerja
struktural ketahanan pangan di propinsi dan kabupaten/kota dengan tetap
berpedoman kepada Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999 dan Peraturan
Pemerintah Nomor 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan
Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonomi. Undang-undang dan
Peraturan Pemerintah tersebut telah menetapkan mengenai struktur,
organisasi dan tata kerja perangkat pemerintah propinsi dan
kabupaten/kota.
Pencapaian ketahanan pangan meliputi aspek-aspek yang kompleks
dan bersifat multi dimensional, tidak mungkin dilakukan hanya oleh
Departemen Pertanian, apalagi oleh BBKP saja yang berada di bawah
Departemen Pertanian. Untuk itu dibangun payung yang lebih besar agar
aspek-aspek tersebut dapat ditangani secara terintegrasi dan sinerjik
melalui dibentuknya DKP. Pada dasarnya, DKP mengemban fungsi
koordinasi untuk mensinergikan kebijakan dan program ketahanan pangan
lintas sektoral dan lintas pelaku pemerintah, pemerintah daerah, serta
masyarakat. Koordinasi dengan daerah sesuai semangat otonomi,
dilaksanakan dalam koordinasi fungsional melalui DKP Propinsi dan
Kabupaten/Kota (DKP, 2003). Selanjutnya, DKP di propinsi atau
kabupaten/kota juga terbentuk guna mewujudkan ketahanan pangan daerah
sebagai bagian dari ketahanan pangan nasional, dengan struktur organisasi,
susunan keanggotaan, dan tata kerja DKP Propinsi yang ditetapkan oleh
Gubernur dan DKP Kabupaten/Kota oleh Bupati/Walikota.
Berbagai kegiatan ketahanan pangan telah dilaksanakan BBKP
sebagai bentuk pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya, serta memberikan
kontribusi dalam pemantapan ketahanan pangan nasional antara lain
merumuskan kebijakan ketahanan pangan melalui analisis ketersediaan
dan pemenuhan kebutuhan pangan, pola distribusi pangan strategis, dan
situasi konsumsi pangan. BBKP juga telah ikut serta dalam upaya
percepatan diversifikasi pangan, penanganan kerawanan pangan melalui

10
revitalisasi sistem kewaspadaan pangan dan gizi, serta penanggulangan
kerawanan pangan.

Periode 2004 - 2009


Selain dibentuk DKP di Pusat, di daerah juga dibentuk DKP di
propinsi yang diketuai oleh Gubernur, dan di kabupaten/kota diketuai oleh
Bupati/Walikota. Sampai dengan tahun 2009, kelembagaan ketahanan
pangan daerah telah berkembang di 33 propinsi dan 367 kabupaten/kota,
serta DKP daerah di 33 propinsi dan 407 kabupaten/kota. Walaupun hal-
hal yang terkait dengan ketahanan pangan telah dilaksanakan oleh Badan
BKP dan DKP, BULOG tetap memegang peranan penting dalam
penanganan distribusi beras dengan ruang lingkup tugas yang sama dengan
periode-periode pemerintahan sebelumnya.
Pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, BULOG
mengalami perubahan dari LPND menjadi PERUM dengan ruang lingkup
tugas yang juga menyesuaikan kondisi dan perubahan sosial politik yang
terjadi, yaitu: (1) pengamanan harga dasar pembelian gabah; (2)
pendistribusian beras untuk masyarakat miskin yang rawan pangan; (3)
pemupukan stok nasional untuk berbagai keperluan publik untuk
menghadapi keadaan darurat; dan (4) mengendalikan gejolak harga.
Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya, BKP telah ikut
berperan serta dalam merumuskan kebijakan ketahanan pangan antara lain
melalui perubahan konsep Harga Dasar, menjadi Harga Dasar Pemerintah,
kemudian menjadi Harga Pembelian Pemerintah, penetapan HPP yang
ditetapkan hampir setiap tahun disesuaikan dengan situasi dan kondisi
yang berkembang saat itu; program aksi diversifikasi pangan melalui
upaya penyusunan rencana aksi diversifikasi pangan, pemberian makanan
tambahan pada anak sekolah dasar (PMT-AS), diversifikasi pangan
berbasis jagung; penerbitan Peraturan Pemerintah No. 68 tahun 2002
tentang Ketahanan Pangan; pengkajian kemandirian pangan dan ekspor
impor pangan guna menghasilkan kebijakan yang dapat mendukung

10
kemandirian pangan; penyusunan kebijakan penggunaan dan perdagangan
gula kristal mentah pada tahun 2004 guna membatasi peredaran raw sugar
impor di pasar dalam negeri; dan penyusunan Rancangan Peraturan
Presiden tentang kebijakan percepatan penganekaragaman konsumsi
pangan

2. Visi dan Misi


a. Visi
V. BPTP Jawa Timur merupakan penghasil dan penyedia
teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi dalam arti luas untuk
menunjang pengembangan pertanian berwawasan agribisnis bagi
Propinsi Jawa Timur. Untuk mewujudkan hal tersebut, visi BPTP Jawa
Timur ke depan adalah: Institusi penghasil dan penyedia teknologi
pertanian tepat Guna spesifik lokasi Jawa Timur.

b. Misi
1) Menghasilkan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi yang
sesuai dengan ketersediaan sumberdaya
2) Menyediakan, mendiseminasikan dan mempromosikan teknologi
tepat guna untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing hasil-
hasil pertanian yang berwawasan lingkungan dan agribisnis
3) Meningkatkan pendapatan keluarga tani dan kesempatan kerja
produktif yang berkeadilan
4) Menjalin kemitraan dengan stakeholders (instansi terkait, swasta,
LSM dll.) untuk memberdayakan petani dalam mengelola
usahataninya
5) Menumbuhkembangkan peran kelembagaan untuk memantapkan
ketahanan pangan
6) Memberikan masukan untuk penyusunan kebijakan pembangunan
pertanian daerah.

10
3. Tugas Pokok dan Fungsi
Tugas dan Fugsi dari Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kabupaten Sukoharjo
Jawa Tengah adalah :
1) Merumuskan program kegiatan Kantor berdasarkan peraturan
perundang undangan yang berlaku dan sumber data yang tersedia
sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan
2) Mengarahkan tugas bawahan sesuai bidang tugasnya baik secara lisan
maupun tertulis guna kelancaran pelaksanaan tugas
3) Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait baik secara langsung
maupun tidak langsung untuk mendapatkan masukan, informasi serta
untuk mengevaluasi permasalahan agar diperoleh hasil kerja yang
optimal
4) Merumuskan kebijakan Bupati di bidang ketahanan pangan
berdasarkan wewenang yang diberikan dan peraturan perundang-
undangan yang berlaku sebagai bahan arahan operasional Kantor
5) Menyelenggarakan pembinaan, pengendalian dan pengawasan
terhadap berbagai aspek ketahanan pangan
6) Mengkoordinasikan dan memfasilitasi kegiatan di bidang ketahanan
pangan yang meliputi ketersediaan dan distribusi pangan, dan
konsumsi penganekaragaman pangan sesesuai peraturan perundang-
undangan yang berlaku dan kebijakan yang ditetapkan Bupati dalam
rangka terwujudnya ketahanan pangan di Daerah
7) Mengendalikan pelaksanaan kegiatan operasional di bidang ketahanan
pangan yang meliputi ketersediaan dan distribusi pangan, konsumsi
penganekaragaman pangan serta keamanan pangan melalui
pemantauan, kunjungan, dan laporan bawahan agar kegiatan dapat
dilaksanakan secara berhasil guna dan berdaya guna
8) Mengevaluasi pelaksanaan kegiatan operasional di bidang ketahanan
pangan yang meliputi ketersediaan dan distribusi pangan, konsumsi
penganekaragaman pangan serta keamanan pangan dengan cara
mengukur pencapaian program kerja yang telah disusun sebagai bahan
penyusunan laporan

10
9) Melaksanakan monitoring, evaluasi dan menilai prestasi kerja
pelaksanaan tugas bawahan secara berkala melalui sistem penilaian
yang tersedia sebagai cerminan penampilan kinerja
10) Menyampaikan laporan pelaksanaan tugas kepada atasan sebagai
dasar pengambilan kebijakan
11) Menyampaikan saran dan pertimbangan kepada atasan baik secara
lisan maupun tertulis sebagai bahan masukan guna kelancaran
pelaksanaan tugas
12) Melaksanakan tugas lain yang diberikan atasan sesuai dengan tugas
dan fungsinya.

E. Struktur Organisasi

F. Perencanaan dan Evaluasi Program Penyuluhan


VI. Menurut Mardikanto. T (1993), peran penyuluh hanya dibatasi
pada kewajibannya untuk menyampaikan inovasi dan mempengaruhi sasaran
penyuluhan melalui metode dan teknik-teknik tertentu sampai sasaran
penyuluhan itu dengan kesadaran dan kemampuannya sendiri mengadopsi
inovasi yang disampaikan. Berbicara mengenai pengembangannya, peran
penyuluh tidak hanya terbatas pada fungsi menyampaikan inovasi dan
mempengaruhi proses pengambilan keputusan yang dilakukan oleh sasaran
penyuluhannya, akan tetapi, ia harus mampu menjadi jembatan penghubung
antara pemerintah atau lembaga penyuluhan yang diwakilinya dengan
masyarakat sasaran, maupun untuk menyampaikan umpan balik atau
tanggapan masyarakat kepada pemerintah/lembaga penyuluhan yang
bersangkutan. Menempatkan diri pada kedudukan atau posisi seperti itulah ia
akan mampu melaksanakan tugasnya dengan baik. Sehingga perlu adanya
perencanaan dalam menyusun suatu program untuk mengetahui permasalahan
yang sedang dihadapi serta tujuan yang hendak dicapai dalam suatu program
atau kegiatan. Selain itu juga perlu adanya evaluasi, guna mengetahui tingkat
kereberhasilan suatu kegiatan melalui tujuan yang telah dicapai.

10
4. Perencanaan Program Penyuluhan Bidang
Distribusi Pangan
VII. a. Tunda Jual
VIII. Fokus program ini adalah komoditi yang mengalami fluktuasi harga
yang sangat tajam, pada saat panen dan tidak panen. Badan Ketahanan
Pangan melihat upaya menunda jualkan hasil panen yang harganya
rendah dan menjualnya pada harga tinggi, dapat dilakukan
olehkekelompok-kelompok yang memang sudah memiliki pengalaman
b. LDPM (Lembaga Distribusi Pangan Masyrakat)
Dalam rangka perlindungan dan pemberdayaan petani,
kelompoktani, dan/atau Gapoktan terhadap jatuhnya harga gabah, beras
dan/atau jagung di saat panen raya dan masalah aksesibilitas pangan,
pemerintah melalui Kementerian Pertanian melalui Badan Ketahanan
Pangan melaksanakan kegiatan Penguatan Lembaga Distribusi Pangan
Masyarakat (Penguatan-LDPM). Melalui kegiatan Penguatan-LDPM,
sejak tahun 2009-2015. Pemerintah menyalurkan Dana Bantuan Sosial
dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kepada
Gapoktan dalam rangka memberdayakan kelembagaan tersebut agar
mereka mampu dan berdaya dalam melakukan aktivitas pendistribusian
pangan, serta penyediaan cadangan pangan.
Kegiatan tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan
kesejahteraan petani melalui wadah yang disebut Gapoktan. Gapoktan
diharapkan akan dapat memperkuat kelembagaan petani yang ada,
sehingga pembinaan pemerintah terhadap petani akan terfokus dengan
sasaran yang jelas. Kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah melalui
Kementerian Pertanian dalam pelaksanaan kegiatan Penguatan-LDPM
merupakan untuk mewujudkan stabilisasi harga pangan di tingkat petani
dan Ketahanan Pangan di tingkat rumah tangga petani melalui: a)
pengembangan unit-unit usaha (unit usaha distribusi atau pemasaran
atau pengolahan dan pengelolaan cadangan pangan); dan b)

10
pembangunan sarana penyimpanan milik Gapoktan agar dapat
meningkatkan posisi tawar petani, meningkatkan nilai tambah produksi
petani dan mendekatkan akses masyarakat terhadap sumber pangan
Pada tahun 2016 kegiatan Penguatan-LDPM bukan lagi berbentuk
dana bansos akan tetapi dana bantuan pemerintah yang diatur
mekanisme pelaksanaannya dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor
168 Tahun 2015. Sejalan dengan proses pemberdayaan, kegiatan
Penguatan-LDPM Tahun 2016 dilakukan melalui beberapa tahapan
yaitu: Penumbuhan, Pengembangan dan Kemandirian
Dukungan Dana Bantuan Pemerintah yang bersumber dari APBN
untuk kegiatan Penguatan-LDPM hanya diberikan ke Gapoktan Tahap
Penumbuhan dan Pengembangan, yaitu pada tahun pertama dan tahun
kedua. Sementara itu pada tahun ketiga, Gapoktan hanya menerima
pembinaan dari pendamping, Tim Teknis maupun Tim Pembina.
Pada Tahap Penumbuhan dan Tahap Pengembangan, Tim
Pembina provinsi dan Tim Teknis kabupaten/kota melakukan verifikasi,
identifikasi bagi calon Gapoktan yang akan ditumbuhkan dan siap atau
layak menerima tambahan Dana Bantuan Pemerintah tahun 2016
sebesar Rp 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah) serta
melakukan evaluasi dan seleksi terhadap Gapoktan yang sudah
ditumbuhkan tahun 2015 untuk dinilai apakah siap atau layak untuk
menerima tambahan Dana Bantuan Pemerintah tahun 2016 sebesar Rp
50.000.000,00 (tujuh puluh lima juta rupiah) sebagai tambahan modal
usaha.
Bagi Gapoktan yang sudah masuk Tahap Penumbuhan pada tahun
pertama tetapi belum juga memenuhi persyaratan masuk ke Tahap
Pengembangan, maka provinsi dan kabupaten/kota wajib melakukan
pembinaan teknis dan administrasi sehingga Gapoktan dinyatakan layak
masuk ke Tahap Pengembangan. Selama masih dalam proses
pembinaan, Dana Bantuan Pemerintah sebesar Rp 50.000.000,00 (lima
puluh juta rupiah) belum dapat dicairkan. Apabila sampai dengan akhir

10
tahun pelaksanaan, Gapoktan belum juga layak untuk dapat masuk ke
Tahap Pengembangan maka provinsi segera mengembalikan Dana
tersebut ke Kas Negara. Pada tahun berikutnya, Gapoktan tidak akan
lagi mendapat Dana Bantuan Pemerintah sebesar Rp. 50.000.000 (lima
puluh juta rupiah), namun daerah tetap harus melakukan pembinaan
lanjutan terhadap Gapoktan agar aset yang telah diberikan oleh
pemerintah masih dapat terus berkembang. Pada Tahap Kemandirian,
pendamping, Tim Teknis kabupaten/kota, dan Tim Pembina provinsi
melanjutkan pembinaan teknis dan administrasi terhadap Gapoktan
Tahap Kemandirian agar mereka dapat terus mengembangkan unit
usahanya sehingga akumulasi Dana Bantuan Pemerintah yang
dikelolanya akan terus meningkat.
c. Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat (PUPM)
Kegiatan Pengembangan Usaha Pangan Masyarakat merupakan salah satu
upaya Pemerintah yang dilakukan untuk menjaga stabilitas harga baik
di tingkat petani/produsen dan di tingkat konsumen. Melalui kegiatan
ini, Gapoktan atau Lembaga Usaha Pangan Masyarakat (LUPM) dan
Toko Tani Indonesia diberdayakan untuk dapat menjalankan fungsi
sebagai lembaga distribusi dalam suatu rantai distribusi yang lebih
efisien sehingga dapat mengurangi disparitas harga antara produsen dan
konsumen. Bantuan pemerintah yang diberikan kepada
Gapoktan/LUPM dalam kegiatan ini digunakan untuk memperkuat
permodalan untuk menyerap gabah yang diproduksi petani dengan
harga minimal sama dengan HPP sehingga Gapoktan/LUPM dapat
berperan untuk menjaga stabilitas harga di tingkat petani terutama pada
saat panen raya. Bantuan pemerintah juga digunakan untuk mendukung
pengolahan pasca panen sehingga Gapoktan dapat menyediakan beras
berkualitas baik dengan harga yang wajar dan lebih terjangkau bagi
masyarakat

10
Pelaksanaan kegiatan PUPM dilaksanakan melalui dukungan dana APBN.
Kegiatan ini dilaksanakan melalui alokasi dana Badan Ketahanan
Pangan, Kementerian Pertanian dalam bentuk dana dekonsentrasi yang
diberikan kepada Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang
melaksanakan urusan di bidang ketahanan pangan Provinsi. Dana yang
dialokasikan tersebut disalurkan kepada Gapoktan/LUPM yang
bergerak di bidang pangan dalam bentuk dana Bantuan Pemerintah
untuk melakukan pembelian pangan pokok dan strategis dari
petani/mitra dan selanjutnya memasok pangan pokok dan strategis
tersebut kepada TTI untuk dijual kepada konsumen dengan harga yang
layak. Dalam hal ini TTI yang dimaksud adalah pedagang yang menjadi
mitra Gapoktan/LUPM yang bergerak di bidang pangan yang terkait
melalui kerjasama antara kedua belah pihak

5. Evaluasi Program Penyuluhan

IX. Ban dan Hawkins (1999) dalam Kartasapoetra (1994)


menyatakan, Evaluasi Kegiatan Penyuluhan Pertanian adalah upaya
penilaian atas sesuatu kegiatan oleh evaluator melalui pengumpulan dan
penganalisaan informasi secara sistematik mengenai perencanaan,
pelaksanaan dan dampak kegiatan untuk menilai relevansi, efektivitas dan
efisiensi pencapaian hasil kegiatan untuk pengembangan selanjutnya.
Tujuan evaluasi pertanian adalah untuk menentukan arah penyempuranaan
kegiatan penyuluhan, memberikan gambaran kemajuan pencapaian tujuan,
perbaikan program dan rencana kerja, mengukur efektifitas metode
penyuluhan yang digunakan. Tujuan tersebut nantinya dapat mengarahkan
pencapaian penyuluhan dengan lebih baik lagi kedepannya sebagai bahan
pertimbangan.

10
X. Sebuah kegiatan yang tengah berlangsung ataupun yang
telah usai perlu dilakukan evaluasi. Evaluasi ini bertujuan untuk mencari
tahu sejauhmana kegiatan ini berjalan. Hal ini dapat dilihat dari tingkat
keberhasilan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Untuk itu
evaluasi memegang peranan penting dalam suatu program penyuluhan.
Karena evaluasi bermanfaat dalam mengukur keberhasilan yaitu berkaitan
dengan perubahan perilaku petani sasaran. Padmowihardjo (1996)
menyatakan bahwa evaluasi penyuluhan pertanian adalah sebuah proses
sistematis untuk memperoleh informasi yang relevan tentang sejauhmana
program tujuan program penyuluhan pertanian disuatu wilayah dapat
dicapai sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan, kemudian digunakan
untuk mengambil keputusan dan pertimbangan-pertimbangan terhadap
program penyuluhan yang dilakukan.

XI. Kegiatan evaluasi yang dilakukan di Lab. Diseminasi


Wonocolo disetiap programnya melibatkan masyarakat sebagai sasaran
secara langsung. Hal ini dikarenakan dalam keberlangsungan suatu
program yang terlibat bukan hanya penyuluh, melainkan juga petani
sebagai sasaran. Keterlibatan petani ini dengan cara penyebaran kuisioner
baik yang berkaitan dengan kegiatan maupun kinerja penyuluh selama
dilapang. Kuesioner merupakan daftar pertanyaan yang akan digunakan
untuk memperoleh data dari sumbernya secara langsung melalui proses
komunikasi atau dengan mengajukan pertanyaan. Data yang diperoleh
lewat penggunaan kuesioner adalah data yang kita kategorikan sebagai
data faktual. Kuesioner yang didesain dengan baik dapat mengumpulkan
informasi sesuai dengan hasil yang diinginkan. Kuesioner ini
menggunakan jenis pertanyaan terbuka dan tertutup. Pertanyaan terbuka
berisi dengan jenis-jenis pertanyaan yang memuat jawaban panjang dan
esai. Biasanya pertanyaan terbuka digunakan untuk mengetahui suatu
topik secara mendalam melalui indeep interview. Sedangkan untuk

10
wawancara tertutup biasanya responden diberikan pilihan secara langsung
untuk menjawabnya (multiple choice).

XII. Kegiatan evaluasi di Lab. Diseminasi Wonocolo pembuatan


kuisionernya mengguakan jenis pertanyaan tertutup dimana daftar
pertanyaan dibuat langsung beserta pilihan jawaban. Kuesioner dibuat
secara tertutup agar petani leih mudah dalam pengisiannya karena
terkadang mereka bingung harus menjawab apa jika jenis pertanyaan yang
digunakan adalah pertanyaan terbuka. Pertanyaan yang dibuat untuk
kuesioner ini tidak boleh menggunakan kata-kata yang sulit dimengerti
oleh petani, karena akan membuat mereka bingung ketika pengisiannya.
Sehingga ketika membuat daftar pertanyaan harus menggunakan bahasa
yang sederhana dan mudah dimengerti. Pada saat pengisian kuesioner
nanti, petani harus dibimbing dengan penyuluh/petugas lapang agar
mereka tidak bingung pada saat pengisian. Salah satu agenda magang kami
adalah membuat kuesioner yang digunakan untuk mengevaluasi kegiatan
Gelar Lapang Inovasi Pertanian (GLIP) yang dilaksanakan di Kecamatan
Guluk-Guluk, Kabupaten Sumenep, Kabupaten Madura yang telah
dilaksanakan periode April-Juli 2016. Kuesioner ini dibuat dengan tujuan
mengevaluasi program Gelar Lapang Inovasi Pertanian (GLIP) mulai dari
kinerja penyuluh, kebermanfaat program sampai dengan keberlangsungan
program seperti penyemaian bibit hingga panen dan pasca panen.

XIII. Selain evaluasi menggunakan kuesioner, Lab. Diseminasi


Wonocolo juga melakukan follow up kegiatan. Follow up ini dilakukan
untuk mengevaluasi suatu kegiatan untuk menentukan keberlanjutan
program tersebut, apakah perlu dilakukan kegiatan lanjutan atau tidak.
Kegiatan evaluasi tidak hanya dilakukan diakhir program, tetapi juga dapat
dilakukan diawal dan ditengah kegiatan. Kegiatan evaluasi di awal dan di
tengah ini bertujuan untuk mengontrol keberlangsungan suatu kegiatan.

10
Contoh kegiatan evaluasi yang dilakuakan diawal dan akhir di Lab
Diseminasi Wonocolo adalah kegiatan penyuluhan Karang Kitri pada ibu-
ibu PKK Jombang. Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui dan
membandingkan pengetahuan ibu-ibu terkait karang kitri sebelum dan
sesudah dilakuakan penyuluhan. Evaluasi ini merupakan evaluasi tingkat
dasar, karena kita hanya dapat mengetahui dari segi pengetahuannya saja.
Sedangkan indikasi keberhasilan penyuluh dilihat dari seberapa besar
perubahan sikap yang dilakukan oleh petani atau sasaran penyuluhan.

10
G. Identifikasi Permasalahan dan Solusi
1. Identifikasi Permasalahan
a. Permasalahan dalam Proses Perencanaan Program Penyuluhan
XIV. Permasalahan yang terkait dengan Proses
Perencanaan Program Penyuluhan yaitu:
1) Minimnya anggaran dana disetiap kegiatan, hal ini
dikarenakan adanya potongan anggaran yang dilakukan oleh
pusat.
b. Permasalahan dalam Proses Evalusi Program Penyuluhan
XV. Permasalahan yang terkait Proses Evalusi Program
Penyuluhan yaitu :
1) Belum terlaksananya rapat evaluasi rutinan di akhir minggu.
Hal ini dikarenakan padatnya kegiata lapang yang dilakukan
para penyuluh sehingga sulit untuk mengadakan rapat
evaluasi rutinan.
2. Solusi Permasalahan
a. Solusi dalam Proses
Perencanaan Program Penyuluhan
1) Meminimalisir pengeluaran disetiap program penyuluhan
tanpa mengurangi esensi dalam kegiatan tersebut.
b. Solusi dalam Proses Perencanaan Program Penyuluhan
1) Melakukan rapat yang sifatnya kondisional dengan
mempertimbangkan jumlah penyuluh dan staf yang ada. Hal
ini perlu dilakukan mengingat pentingnya evaluasi kegiatan
untuk mengetahui sejauhmana kegiatan tersebut memberikan
pengaruh kepada sasaran.
XVI.

43
XVII.

45
XVIII. PENUTUP

A Kesimpulan

XIX. Berdasarkan pembahasan di atas, dapat diambil kesimpulan


sebagai berikut:

1. Programa berbeda dengan RDHP (Rencana Diseminasi Hasil


Pengkajian), karena programa disusun oleh pusat, propinsi, kabupaten
dan kecamatan. Penyusunan programa disusun dari tingkatan bawah,
mulai dari desa, kecamatan, kabupaten, propinsi dan terakhir tingkat
pusat. Programa Bakorluh membawahi semua pihak yang berkaitan
dengan penyuluhan, sehingga Balit (Balai Penelitian) tidak termasuk
dalam programa karena tidak memiliki penyuluh didalamnya. Sedangkan
RDHP (Rencana Diseminasi Hasil Pengkajian) disusun sendiri oleh
penyuluh BPTP. RDHP (Rencana Diseminasi Hasil Pengkajian) ini
berisikan rencana program yang akan dijalankan oleh Lab Diseminasi
Wonocolo selama 1 tahun.

2. Evaluasi penyuluhan pertanian adalah sebuah proses sistematis untuk


memperoleh informasi yang relevan tentang sejauhmana program tujuan
program penyuluhan pertanian disuatu wilayah dapat dicapai sehingga
dapat ditarik suatu kesimpulan, kemudian digunakan untuk mengambil
keputusan dan pertimbangan-pertimbangan terhadap program
penyuluhan yang dilakukan. Kegiatan evaluasi yang dilakukan di Lab.
Diseminasi Wonocolo disetiap programnya melibatkan masyarakat
sebagai sasaran secara langsung.

H. Saran

23
XX. Saran yang dapat diberikan mengenai kegiatan penyuluhan
pertanian di Badan Ketahanan Pangan Kabupaaten Sukoharjo Jawa
Tengahadalah :

1. Sebaiknya sarana dan prasarana di Radio Pertanian Wonocolo


diperbaharui dan dilengkapi agar kegiatan penyiaran berjalan lebih
lancar.

2. Perlu adanya perbaikan fasilitas gedung dan peralatan yang ada di Lab.
Diseminasi Pertanian, terlebih saat ini sudah memasuki era digital dan
moderenisasi.

3. Sebaiknya bapak ibu penyuluh dan pegawai di Laboratorium Diseminasi


Wonocolo juga memperhatikan kondisi perpustakaan karena kondisi
perpustakaan kotor dan kurang terawat.

4. Sebaiknya penyuluh diberikan latihan multimedia, sehingga sumber daya


penyuluh yang memiliki kemampuan multimedia semakin meningkat.

5. Perlu adanya penambahan tenaga kerja khususnya penyuluh di Lab.


Diseminasi karena pentingnya peranan penyuluh dan tingginya
kebutuhan terhadap informasi.

6. Perlu adanya pembagian tugas pokok dan fungsi yang jelas antara
Laboratorium Diseminasi Wonocolo dan BPTP Jawa Timur dalam hal
pembuatan dan penyebaran informasi.

7. Perlu adanya rapat rutin tetap dalam interval waktu tertentu antar
pegawai di kantor Laboratorium Diseminasi Wonocolo.

XXI.

23
XXII. DAFTAR PUSTAKA

XXIII. Dahama, D.P. and D.P. Bhatnagar. 1980. Education and Communicatjon
for Development. New Delhi : Oxford & IBH Publishing CO.
XXIV. Mardikanto, Totok. 1993. Penyuluhan Pembangunan Pertanian.
Surakarta : Universitas Sebelas Maret.
XXV. Muhariyanto, A. T. Siniati dan B. Siswanto, N. Pangarsa, 2015. Laporan
Akhir Tahun. Peningkatan Kapasitas Komunikasi Dalam Rangka
Akselerasi dan Efektivitas Pemasyarakatan Hasil Litkaji
XXVI. Nasution, Z.1989. Prinsip-PrinsipKomunikasi untuk Penyuluhan. Jakarta :
FE UI Press.
XXVII. Setiana et all .1997. Petunjuk Praktikum Penyuluhan Peternakan.
Purwokerto :Universitas Jendral Soedirman.
XXVIII. Slamet, Margono. 1978. Kumpulan Bacaan Penyuluhan Pertanian
Bogor. Bogor : Institut Pertanian Bogor.
XXIX. Soekanto, Soerjono. 1982. Pengantar Sosiologi. Jakarta : Rajawali Pers.
XXX. Watson R, J. and Wesley B.. 1958. The Dynamics of Planned Change.
New York: Harcourt, Brace and World, Inc.
XXXI.
XXXII.
XXXIII.
XXXIV.
XXXV.

XXXVI.
XXXVII.
XXXVIII.
XXXIX.
XL.
XLI.
XLII.
XLIII.
XLIV. Fakultas Pertanian
XLV. Universitas Sebelas Maret
XLVI. Jl. Ir. Sutami 36A Kentingan Surakarta 57126 Telp./Fax. (0271)
637457. psw. 110

XLVII. E-mail: kmm_fp@uns.ac.id

XLVIII.
XLIX.