Anda di halaman 1dari 24

Laporan Antara

2.1. BATUBARA
2.1.1. Pengertian Batubara
Batu bara adalah salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah
batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya
adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-
unsur utamanya terdiri dari karbon, hydrogen dan oksigen.Batu bara juga adalah
batuan organik yang memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yang kompleks yang
dapat ditemui dalam berbagai bentuk.Analisis unsur memberikan rumus formula
empiris seperti C137H97O9NS untuk bituminus dan C240H90O4NS untuk antrasit.
Pembentukan batu bara memerlukan kondisi-kondisi tertentu dan hanya
terjadi pada era-era tertentu sepanjang sejarah geologi. Zaman Karbon, kira-kira
340 juta tahun yang lalu (jtl), adalah masa pembentukan batu bara yang paling
produktif dimana hampir seluruh deposit batu bara (black coal) yang ekonomis di
belahan bumi bagian utara terbentuk. Pada Zaman Permian, kira-kira 270 jtl, juga
terbentuk endapan-endapan batu bara yang ekonomis di belahan bumi bagian
selatan, seperti Australia, dan berlangsung terus hingga ke Zaman Tersier (70 -
13 jtl) di berbagai belahan bumi lain. (Krevelen,1993).
Coal gasification adalah sebuah proses untuk mengubah batu bara padat
menjadi gas batu bara yang mudah terbakar (combustible gases), setelah proses
pemurnian gas-gas ini karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO 2), hydrogen
(H), metan (CH4), dan nitrogen (N2) dapat digunakan sebagai bahan bakar.
hanya menggunakan udara dan uap air sebagai reacting-gas kemudian
menghasilkan water gas atau coal gas, gasifikasi secara nyata mempunyai
tingkat emisi udara, kotoran padat dan limbah terendah. Tetapi, batu bara
bukanlah bahan bakar yang sempurna. Terikat di dalamnya adalah sulfur dan
nitrogen, bila batu bara ini terbakar kotoran-kotoran ini akan dilepaskan ke udara,
bila mengapung di udara zat kimia ini dapat menggabung dengan uap air
(seperti contoh kabut) dan tetesan yang jatuh ke tanah seburuk bentuk asam
sulfurik dan nitrit, disebut sebagai hujan asam. Disini juga ada noda mineral kecil,
termasuk kotoran yang umum tercampur dengan batu bara, partikel kecil ini
tidak terbakar dan membuat debu yang tertinggal di coal combustor, beberapa
partikel kecil ini juga tertangkap di putaran combustion gases bersama dengan

II - 1
Laporan Antara

uap air, dari asap yang keluar dari cerobong beberapa partikel kecil ini adalah
sangat kecil setara dengan rambut manusia.
Sulfur adalah zat kimia kekuningan yang ada sedikit di batu bara, pada
beberapa batu bara yang ditemukan di Ohio, Pennsylvania, West Virginia dan
eastern states lainnya, sulfur terdiri dari 3 sampai 10% dari berat batu bara,
beberapa batu bara yang ditemukan di Wyoming, Montana dan negara-negara
bagian sebelah barat lainnya sulfur hanya sekitar 1/100ths (lebih kecil dari 1%)
dari berat batu bara. Penting bahwa sebagian besar sulfur ini dibuang sebelum
mencapai cerobong asap.
Satu cara untuk membersihkan batu bara adalah dengan cara memecah
batu bara ke bongkahan yang lebih kecil dan mencucinya. Beberapa sulfur yang
ada sebagai bintik kecil di batu bara disebut sebagai "pyritic sulfur " karena ini
dikombinasikan dengan besi menjadi bentuk iron pyrite, selain itu dikenal
sebagai "fool's gold. Secara khusus pada proses satu kali, bongkahan batu bara
dimasukkan ke dalam tangki besar yang terisi air, batu bara mengambang ke
permukaan ketika kotoran sulfur tenggelam. Fasilitas pencucian ini dinamakan
"coal preparation plants" yang membersihkan batu bara dari pengotor-
pengotornya. (Geankoplis,2003).
Tidak semua sulfur dapat dibersihkan dengan cara ini, bagaimanapun sulfur
pada batu bara adalah secara kimia benar-benar terikat dengan molekul
karbonnya, tipe sulfur ini disebut "organic sulfur," dan pencucian tak akan
menghilangkannya. Beberapa proses telah dicoba untuk mencampur batu bara
dengan bahan kimia yang membebaskan sulfur pergi dari molekul batu bara,
tetapi kebanyakan proses ini terlalu mahal, ilmuan masih bekerja untuk
mengurangi biaya dari proses pencucian kimia ini.
Kebanyakan pembangkit tenaga listrik modern dan semua fasilitas yang
dibangun setelah 1978 telah diwajibkan untuk mempunyai alat khusus yang
dipasang untuk membuang sulfur dari gas hasil pembakaran batu bara sebelum
gas ini naik menuju cerobong asap. Alat ini sebenarnya adalah "flue gas
desulfurization units," tetapi banyak orang menyebutnya "scrubbers" karena
mereka men-scrub (menggosok) sulfur keluar dari asap yang dikeluarkan oleh
tungku pembakar batu bara (Smith,1959)

2.1.2. Materi Pembentuk Batubara


Hampir seluruh pembentuk batu bara berasal dari tumbuhan. Jenis-jenis
tumbuhan pembentuk batu bara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah
sebagai berikut:
a. Alga, dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal.
Sangat sedikit endapan batu bara dari perioda ini.
b. Silofita, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari
alga. Sedikit endapan batu bara dari perioda ini.
c. Pteridofita, umur Devon Atas hingga Karbon Atas. Materi utama
pembentuk batu bara berumur Karbon di Eropa dan Amerika utara.

II - 2
Laporan Antara

Tetumbuhan tanpa bunga dan biji, berkembang biak dengan spora dan
tumbuh di iklim hangat.
d. Gimnospermae, kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur
Tengah. Tumbuhan heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, semisal pinus,
mengandung kadar getah (resin) tinggi. Jenis Pteridospermae seperti
gangamopteris dan glossopteris adalah penyusun utama batu bara Permian
seperti di Australia, India dan Afrika.
e. Angiospermae, dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan
modern, buah yang menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga,
kurang bergetah dibanding gimnospermae sehingga, secara umum, kurang
dapat terawetkan. (Wahyudiono,2003)

2.1.3. Batubara di Indonesia


Di Indonesia, endapan batu bara yang bernilai ekonomis terdapat di
cekungan Tersier, yang terletak di bagian barat Paparan Sunda (termasuk Pulau
Sumatera dan Kalimantan), pada umumnya endapan batu bara ekonomis
tersebut dapat dikelompokkan sebagai batu bara berumur Eosen atau sekitar
Tersier Bawah, kira-kira 45 juta tahun yang lalu dan Miosen atau sekitar Tersier
Atas, kira-kira 20 juta tahun yang lalu menurut Skala waktu geologi.
Batu bara ini terbentuk dari endapan sisa tumbuhan dan fosil pada iklim
purba sekitar khatulistiwa yang mirip dengan kondisi kini. Beberapa diantaranya
tegolong kubah gambut yang terbentuk di atas muka air tanah rata-rata pada
iklim basah sepanjang tahun. Dengan kata lain, kubah gambut ini terbentuk pada
kondisi dimana mineral-mineral anorganik yang terbawa air dapat masuk ke
dalam sistem dan membentuk lapisan batu bara yang berkadar abu dan sulfur
rendah dan menebal secara lokal. Hal ini sangat umum dijumpai pada batu bara
Miosen. Sebaliknya, endapan batu bara Eosen umumnya lebih tipis, berkadar abu
dan sulfur tinggi. Kedua umur endapan batu bara ini terbentuk pada lingkungan
lakustrin, dataran pantai atau delta, mirip dengan daerah pembentukan gambut
yang terjadi saat ini di daerah timur Sumatera dan sebagian besar Kalimantan
(Sukandarrumidi,2006).

2.1.4. Sumberdaya Batubara


Potensi sumberdaya batubara di Indonesia sangat melimpah, terutama di
Pulau Kalimantan dan Pulau Sumatera, sedangkan di daerah lainnya dapat
dijumpai batubara walaupun dalam jumlah kecil dan belum dapat ditentukan
keekonomisannya, seperti di Jawa Barat, JawaTengah, Papua, dan Sulawesi. Di
Indonesia, batu bara merupakan bahan bakar utama selain solar (diesel fuel)
yang telah umum digunakan pada banyak industri, dari segi ekonomis batu bara
jauh lebih hemat dibandingkan solar, dengan perbandingan sebagai berikut:
Solar Rp 0,74/kilokalori sedangkan batu bara hanya Rp 0,09/kilokalori,
(berdasarkan harga solar industri Rp. 6.200/liter).

II - 3
Laporan Antara

Dari segi kuantitas batubara termasuk cadangan energi fosil terpenting bagi
Indonesia. Jumlahnya sangat berlimpah, mencapai puluhan milyar ton. Jumlah ini
sebenarnya cukup untuk memasok kebutuhan energi listrik hingga ratusan tahun
ke depan. Sayangnya, Indonesia tidak mungkin membakar habis batubara dan
mengubahnya menjadi energi listrik melalui PLTU. Selain mengotori lingkungan
melalui polutan CO2, SO2, NOx dan CxHy cara ini dinilai kurang efisien dan
kurang memberi nilai tambah tinggi. Batu bara sebaiknya tidak langsung dibakar,
akan lebih bermakna dan efisien jika dikonversi menjadi migas sintetis, atau
bahan petrokimia lain yang bernilai ekonomi tinggi. Dua cara yang
dipertimbangkan dalam hal ini adalah likuifikasi (pencairan) dan grasifikasi
(penyubliman) batu bara.
Membakar batu bara secara langsung (direct burning) telah dikembangkan
teknologinya secara kontinu, bertujuan untuk mencapai efisiensi pembakaran
yang maksimum, cara-cara pembakaran langsung seperti: fixed grate, chain
grate, fluidized bed, pulverized, dan lain-lain, masing-masing mempunyai
kelebihan dan kelemahannya (Sukandarrumidi,2006).

2.1.5. Jenis-jenis Batubara


Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan,
panas dan waktu, batubara umumnya dibagi dalam lima kelas: antrasit,
bituminus, sub-bituminus, lignit dan gambut.
1. Antrasit adalah kelas batu bara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan
(luster) metalik, mengandung antara 86% - 98% unsur Karbon (C) dengan
kadar air kurang dari 8
2. Bituminous mengandung 68 - 86% unsur Karbon (C) dan berkadar air 8-10%
dari beratnya. Kelas batu bara yang paling banyak ditambang di Indonesia,
tersebar di pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.
3. Sub-bituminus mengandung sedikit Karbon dan banyak air, dan oleh
karenanya menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan
bituminus.
4. Lignit atau batu bara coklat adalah batu bara yang sangat lunak yang
mengandung air 35-75% dari beratnya.
5. Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang
paling rendah.

2.1.6. Kualitas Batubara


Batubara yang diperoleh dari penambangan pasti mengandung pengotor
(impurities). Keberadaan pengotor ini diperparah dengan kenyataan bahwa tidak
mungkin memilih batubara yang bersih dan terbebas dari mineral. Penambangan
dalam jumlah besar selalu menggunakan alat-alat berat seperti bulldoser,
backhole, tractor, dan lainnya.
Impurities terbagi menjadi dua jenis yaitu :

II - 4
Laporan Antara

1. Inherent Impurities
Merupakan pengotor bawaan yang terdapat pada batubara. Batubara yang
sudah dicuci (washing) yang dikecilkan ukuran butirannya (crushing) kemudian
dibakar dan menyisakan abu. Pengotor ini merupakan pengotor bawaan pada
saat pembentukan batubara, pengotor tersebut dapat berupa gipsum
(CaSO42H2O), anhidrit (CaSO4), pirit (FeS2), silika (SiO2) dapat pula berbentuk
tulang-tulang binatang (diketahui dari senyawa-senyawa fosfor dari analisis
abu). Pengotor bawaan ini tidak mungkin dihilangkan sama sekali, tetapi dapat
dikurangi dengan cara pembersihan. Proses ini dikenal dengan tenologi
batubara bersih.
2. External impurities
Merupakan pengotor yang berasal dari luar, timbul pada saat proses
penambangan.

Dalam menentukan mutu/ kualitas batubara perlu diperhatikan beberapa hal :


a. Heating Value (HV) (Calorific Value/ Nilai kalor)
Dinyatakan dengan kkal/Kg, banyaknya jumlah kalori yang dihasilkan batubara
tiap satuan berat (dalam kilogram).
b. Moisture Content (kandungan lengas/ air)
Batubara dengan jumlah lengas tinggi akan memerlukan lebih banyak udara
primer untuk mengeringkan batubara tersebut agar suhu batubara pada saat
keluar dari gilingan tetap, sehingga hasilnya memiliki kualitas yang terjamin.
Jenis air sulit untuk dilepaskan tetapi dapat dikurangi, dengan cara
memperkecil ukuran butir batubara (Wahyudiono,2006).
c. Ash Content (Kandungan abu)
Komposisi batubara bersifat heterogen ,apabila batubara dibakar maka
senyawa organik yang ada akan di ubah menjadi senyawa oksida yang
berukuran butiran dalam bentuk abu. Abu dari sisa pembakaran inilah yang
dikenal sebagai ash content. Abu ini merupakan kumpulan dari bahanbahan
pembentuk batubara yang tidak dapat terbakar, atau yang di oksidasi oleh
oksigen. Bahan sisa dalam bentuk padatan ini antara lain senyawa SiO2,
Al2O3, TiO2, Mn3O4, CaO, Fe2O3, MgO, K2O, Na2O, P2O, SO3 dan oksida
unsur lainnya.
d. Sulfur Content (kandungan belerang)
Belerang yang terdapat pada batubara dalam bentuk senyawa organik dan
arorganik, dalam senyawa anorganik dapat dijumpai dalam bentuk mineral
pirit (FeS2 bentuk kristal kubus), markasit (FeS2 bentuk kristal orthorombik)

II - 5
Laporan Antara

atau dalam bentuk sulfat. Sedangkan belerang organik terbentuk selama


terjadinya proses coalification. (Krevelen, 1993)
e. Volatile matter (bahan mudah menguap)
Kandungan Volatile matter mempengaruhi kesempurnaan pembakaran dan
intensitas nyala api.
f. Fixed Carbon
Didevinisikan sebagai material yang tersisa, setelah berkurangnya moisture,
volatile matter dan ash. Hubungan ketiganya sebagai berikut: Fixed Carbon
(%) = 100% - Moisture Content Ash Content Fixed Carbon = 100 Volatile
Matter (%)
g. Hardgrove Grindability Index (HGI)
Suatu bilangan yang menunjukkan mudah atau sukarnya batubara digiling
atau digerus menjadi bentuk serbuk. Butiran paling halus < 3 mm, sedangkan
yang paling kasar sampai 50 mm.
h. Ash Fusion Character of coal
Kualitas batubara adalah sifat fisika dan kimia dari batubara yang
mempengaruhi potensi kegunaannya. Kualitas batubara ditentukan oleh
maseral dan mineral matter penyusunnya, serta oleh derajat coalification
(rank).
Umumnya, untuk menentukan kualitas batubara dilakukan analisa kimia
pada batubara yang diantaranya berupa analisis proksimat dan analisis ultimat.
Analisis proksimat dilakukan untuk menentukan jumlah air (moisture), zat
terbang (volatile matter), karbon padat (fixed carbon), dan kadar abu (ash),
sedangkan analisis ultimat dilakukan untuk menentukan kandungan unsur kimia
pada batubara seperti : karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, unsur
tambahan dan juga unsur jarang.
Kualitas batubara ditentukan dengan analisis batubara di laboraturium,
diantaranya adalah analisis proksimat dan analisis ultimat. Analisis proksimat
dilakukan untuk menentukan jumlah air, zat terbang, karbon padat, dan kadar
abu, sedangkan analisis ultimat dilakukan untuk menentukan kandungan unsur
kimia pada batubara seperti : karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen, sulfur, unsur
tambahan dan juga unsur jarang. Kualitas batubara ini diperlukan untuk
menentukan apakah batubara tersebut menguntungkan untuk ditambang selain
dilihat dari besarnya cadangan batubara di daerah penelitian.

2.1.7. Manfaat Batubara


Pada tahun 1800-an, batubara secara harfiah mendorong industrialisasi
dunia. Batubara menjadi sumber daya bagi lebih dari 35% listrik dunia dan
digunakan untuk memproduksi 70% baja dunia. Sampai saat ini batubara
ditambang di berbagai belahan dunia karena merupakan sumber energi.

II - 6
Laporan Antara

Berbagai industri menggunakan batubara untuk kebutuhan energi mereka.


Meskipun banyak kekhawatiran mengenai keselamatan para penambang dan
efeknya pada lingkungan, pertambangan batubara terus tumbuh hingga hari ini.
Berikut adalah berbagai keuntungan yang ditawarkan oleh pertambangan batu
bara:
1. Pertambangan batubara menyediakan ketersediaan energi
Batubara dianggap sebagai salah satu dari banyak mineral yang melimpah di
dunia. Karena kelimpahan, banyak negara dan / atau industri bergantung pada
batubara untuk kebutuhan energi mereka. Batubara dapat ditemukan di
berbagai bagian AS dan di negara lain membuatnya tersedia untuk
dikonsumsi. Hal ini berbeda dengan ketersediaan sumber energi lain seperti
minyak atau gas alam.
2. Batubara menyediakan kemudahan penggunaan
Ini adalah salah satu keuntungan terbesar batubara dibandingkan sumber
energi lainnya. Setelah pertambangan batubara, hanya satu yang secara
harfiah membakar untuk dapat memanfaatkannya. Sumber energi lain harus
diproses atau melalui beberapa tahapan persiapan dan perbaikan sebelum itu
dapat berguna untuk orang. Minyak, misalnya perlu diproses dan
disempurnakan sebelum dapat mencapai tujuannya. Dan karena batubara juga
menyediakan kemudahan penyimpanan, dapat langsung digunakan ketika itu
menjadi kebutuhan.
3. Batubara menyediakan sumber energi yang murah
Bila dibandingkan dengan sumber energi lainnya, batubara dianggap yang
termurah. Itu sebabnya beberapa negara mengandalkan batubara meskipun
ada beberapa efek terhadap lingkungan. Energi merupakan syarat utama
dalam hampir di setiap negara karna apa pun yang muncul lebih murah selalu
diharapkan.
Penduduk bumi semakin besar dari hari ke hari dan dengan kelangkaan dan
biaya sumber energi lainnya, banyak negara telah mendukung pertambangan
batubara menjadi produsen energi utama mereka. Hal ini juga menyatakan
bahwa seluruh industri produksi batubara lebih banyak membuat lapangan
pekerjaan dari pertambangan hingga perdagangan dan distribusi. Semua ini akan
menerjemahkan manfaat dari batubara tidak hanya untuk pengguna akhir
maupun masyarakat tetapi juga untuk seluruh negeri. Beberapa manfaat
batubara bagi manusia :
a. Sebagai bahan untuk produksi baja dan besi
b. Sebagai bahan bakan pembangkit listrik
c. Sebagai bahan bakar cair
d. Sebagai bahan bakar produk semen
e. Untuk pembuatan karbon aktif
f. Sebagai penyerap dalam daur ulang minyak pelumas bekas
g. Sumber bahan untuk tungku hemat energi yang bisa di gunakan sebagai
kebutuhan rumah tangga dan industri kecil

II - 7
Laporan Antara

2.2. STOCKPILE BATUBARA


2.2.1. Pengertian Stockpile
Stockpile adalah merupakan tempat penyimpanan/ penumpukan hasil
tambang batubara. Stockpile juga digunakan untuk mencampur batubara supaya
homogenisasi bertujuan untuk menyiapkan produk dari satu tipe material dimana
fluktuasi di dalam kualitas batubara dan distribusi ukuran disamakan. Stockpile
berfungsi sebagai penyangga antara pengiriman dan proses,sebagai persediaan
strategis terhadap gangguan yang bersifat jangka pendek atau jangka panjang.
Stockpile juga berfungsi sebagai proses homogenisasi dan atau pencampuran
batubara untuk menyiapkan kualitas yang dipersyaratkan.
Dalam proses homogenisasi ada dua tipe yaitu blending dan mixing.
Blending bertujuan untuk memperoleh produk akhir dari dua atau lebih tipe
batubara yang lebih dikenal dengan komposisi kimia dimana batubara akan
terdistribusi secara merata dan tanpa ada lagi jumlah yang cukup besar untuk
mengenali salah satu dari tipe batu bara tersebut ketika proses pengambilan
contoh dilakukan. Dalam proses blending batubara harus tercampur secara
merata. Proses mixing merupakan salah satu tipe batubara yang tercampur
masih dapat dilokasikan dalam kuantitas kecil dari hasil campuran material dari
dua atau lebih tipe batubara.

2.2.2. Manajemen Stockpile


Penimbunan batubara merupakan salah satu tahapan pentng dari kegiatan
penanganan batubara. Apabila sistem penimbunan kurang memadai maka dapat
mengganggu kegiatan pembongkaran timbunan batubara di tempat
penimbunan, terutama bagi batubara yang mudah terbakar dengan sendirinya.
Sehingga dengan adanya upaya perbaikan manajemen timbunan, upaya
menghindari gejala swabakar dan upaya menghindari dan mengatasi timbulnya
genangan air, proses terjadinya swabakar dan genangan air pada penimbunan
batubara dapat dicegah sekecil mungkin. Proses penyimpanan batubara dapat
dilakukan di:
Dekat tambang, biasanya masih berupa lumpy coal.
Dekat pelabuhan.
Ditempat pengguna batubara.
Untuk proses penyiapan diharapkan jangka waktunya tidak lama, karena
akan berakibat pada penurunan kualitas batubara. Proses penurunan kualitas
biasanya lebih dipengaruhi oleh proses oksidasi dan alam.
Manajemen Stockpile berfungsi sebagai penyangga antara pengiriman dan
proses. Juga sebagai persediaan strategis terhadap gangguan yang bersifat
jangka pendek atau jangka panjang. Prinsif dasar pengelolan stockpile adalah
penerapan sistem FIFO (First In First Out), dimana batubara yang terdahulu

II - 8
Laporan Antara

masuk, harus dikeluarkan terlebih dahulu.


Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam Management Stockpile, diantaranya:
1. Monitoring quantity (Inventory) dan movement batubara di stockpile, meliputi
recording batubara yang masuk (coal in) dan recording batubara yang keluar
(coal out) di stockpile, termasuk recording batubara yang tersisa (coal
balance).
2. Menghindari batubara yang terlalu lama di stockpile, dapat dilakukan dengan
penerapan aturan FIFO (First in first out) dimana batubara yang terdahulu
masuk harus dikeluarkan terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk
mengurangi resiko degradasi dan pemanasan batubara.
3. Mengusahakan pergerakan batubara sekecil mungkin di stockpile, termasuk
diantaranya mengatur posisi stock dekat dengan reclaimer, Monitoring
efektivitas dozing di stockpile dengan maksud mengurangi degradasi
batubara.
4. Monitoring kualitas batubara yang masuk dan keluar dari stockpile termasuk
diantaranya kontrol temperatur untuk mengantipasi self heating dan spocom.
5. Pengawasan yang ketat terhadap kontaminasi, meliputi pelaksanaan
housekeeping dan Inspeksi langsung adanya pengotor yang terdapat di
stockpile.
6. Perhatian terhadap faktor lingkungan yang bisa ditimbulkan, dalam hal ini
mencakup usaha :
Contral dust, penerapan dan pengawasan penggunaan spraying dan dust
supressant.
Adanya tempat penampungan khusus (fine coal trap) untuk
buangan/limbah air dari drainage stockpile.
Penanganan limbah batubara (remnant & spilage coal).
7. Tidak dianjurkan menggunakan area stockpile untuk parkir dozer, baik untuk
keperluan maintenance dozer atau over shift operator. Kecuali dalam keadaan
emergency dan setelah itu harus diadakan housekeeping secara teliti.
8. Menanggulangi batubara yang terbakar di stockpile, penanganan yang
dianjurkan sebagai berikut:
Melakukan spreading atau penyebaran untuk mendinginkan suhu
batubara.
Bila kondisi cukup parah, maka bagian batubara yang terbakar dapat
dibuang.
Memadatkan batubara yang mengalami self heating atau sponcom.
Batubara yang mengalami sponcom tidak diperbolehkan langsung di-
loading ke tongkang sebelum didinginkan terlebih dahulu.

II - 9
Laporan Antara

Untuk penyimpanan yang lebih lama bagian atas stockpile harus


dipadatkan guna mengurangi resapan udara dan air ke dalam stokpile.
9. Sebaiknya tidak membentuk stockpile dengan bagian atas yang cekung, hal ini
dimaksudkan untuk menghindari swamp di atas stokpile.
10.Mengusahakan bentuk permukaan basement berbentuk cembung atau
minimal datar, hal ini berkaitan dengan kelancaran sistem drainage.

2.2.3. Pengaturan Penyimpanan (Storage Management)


Pengaturan penyimpanan batubara sangat penting karena hal ini berkaitan
dengan masalah pemeliharaan kuantitas dan kualitas batubara yang ditumpuk di
stockpile. Manajemen penumpukan dimulai dari pembuatan desain stockpile
yang berorientasi terhadap pemeliharaan kuantitas dan kualitas serta pada
lingkungan. Berorientasi terhadap pemeliharaan kuantitas karena suatu
pengaturan penyimpanan harus mempertimbangkan faktor kapasitas stockpile
yang dapat semaksimum mungkin pada area yang tersedia tetapi tetap
memperhatikan faktor kualitas dan lingkungan, sedangkan berorientasi pada
pemeliharaan kualitas karena desain suatu stockpile harus mempertimbangkan
faktor pengaturan kualitas yang effisien sehingga keperluan untuk pengaturan
kualitas seperti blending, segregasi penumpukan yang didasarkan pada kualitas
produk dan lain-lain.

2.2.4. Kapasitas Penyimpanan Batubara


Kapasitas penyimpanan batubara di stockpile menentukan desain suatu
stockpile. Stockpile yang berkapasitas kecil dengan batubara dengan kapasitas
besar mungkin berbeda khususnya dalam penyiapan lahan dan preparasi lahan
tersebut. Pada stockpile dengan kapasitas yang besar, dasar stockpile harus
benar-benar kuat dan kokoh menahan beban yang besar. Kalau tidak, base
stockpile tersebut akan turun di bagian tengah, dan juga akan ikut menurunkan
batubara yang ada di atasnya. Dalam kondisi seperti itu akan terjadi kehilangan
batubara di stockpile.
Jumlah Produk yang Dipisahkan
1. Banyaknya jumlah produk yang akan dipisahkan menentukan luasan stockpile
yang diperlukan.
2. Semakin banyak jumlah produk yang dipisahkan maka semakin pula besar
areal yang diperlukan.
Fasilitas Penumpukan dan Pemuatan
Alat yang digunakan dalam sistem penumpukan dan pemuatan batubara di
stockpile juga mempengaruhi desain atau areal stockpile yang digunakan.
Penggunaan stacker-reclaimer dalam sistem penumpukan serta pemuatan,
membuat desain dan sistem penumpukan memanjang. Stacker-reclaimer juga

II - 10
Laporan Antara

mempermudah dalam pemisahan batubara yang memiliki kualitas yang berbeda


dan sekaligus juga mempermudah dalam blending batubar-batubara tersebut.
Tempat Produksi pada Stockpile
Digunakan untuk menyimpan hasil produksi batubara (crushing) dan
selanjutnya dimuat ke dalam tongkang. Produksi batubara tersebut sudah ter-
sizing pada ukuran 1 sampai 50 mm. Ada 2 stockpile produksi yang mana
masing-masing digunakan untuk setiap fasilitas crushing dan loading barge.

2.2.5. Proses Kontrol Stockpile


Kontrol Debu dan Monitoring Temperatur Envirocoal
Secara umum dust (debu) batubara berasal dari partikel yang berukuran
0.5 mm (fines) yang bersuspensi dengan udara, sehingga dalam usaha
pencegahan debu adalah dengan melakukan antisipasi terhadadap fines (partikel
halus) tersebut. Penggunaan spray air dapat dilakukan untuk mengatisipasi debu,
direkomendasikan spray yang digunakan adalah dalam bentuk fog spray (kabut)
karena lebih maksimal dalam menangkap debu.
Untuk produk batubara envirocoal, dalam proses penyemprotan air
ditambahkan juga bahan surfactan yang diproduksi oleh KAO disebut dengan PIC
103. Bahan surfactan ini dengan air akan terserap dengan cepat kedalam
batubara. Spray larutan ( Air + PIC 103 ) dengan dengan rate 5 ppm/ton
batubara bisa dilakukan saat:
Dumping batubara di hopper
Memasuki screen/ divergator
Dibawah secondary crusher
Dibawah/dibagian belt conveyer
Pemantauan temperatur di stockpile dilakukan setiap hari (daily basis),
menggunakan thermocouple. Setiap pagi temperatur diukur dan dilihat trend-
nya, juga dilihat adanya area-area stockpile yang mempunyai potensial
pemanasan. Bila ditemukan adanya titik pemanasan di area stockpile, maka
batubara di area tersebut akan diambil kemudian ditebar (spreading), setelah
dingin batubara tersebut dikembalikan ke stockpile dan selanjutnya dikompaksi.

Kontrol Terhadap Kontaminasi & Housekeeping


Kontaminasi merupakan sesuatu yang hal sangat tidak diinginkan dalam
suatu proses produksi batubara selain dapat mempengaruhi kualitas batubara
maupun performance daripada miner/ penambang tersebut. Kontaminasi dapat
terjadi mulai dari tambang, proses rehandling, di stockpile maupun di vessel. Hal
ini dapat mengakibatkan klaim atau komplain dari suatu buyer.
Kontaminasi di daerah tambang, kontaminasi yang umum terbawa pada
saat expose batubara antara lain overburden yang berupa clay, tanah atau

II - 11
Laporan Antara

batuan lainnya. Hal ini berakibat akan meningkatnya kandungan abu (ash
content). Kontaminasi proses rehandling, terjadi saat proses pengangkutan
batubara. Kontaminasi ini biasa berupa :
Terdapatnya sparepart kendaraat berat / potongan logam
Kawat, besi, kayu, plastik, kaleng minuman, karet ban, dll
Kontaminasi di daerah stockpile. Stockpile yang kurang bagus dapat
menyebabkan suatu kontaminasi terhadap batubara itu sendiri terutama dari
basement/ dasar dari stockpile akibat manuver-manuver dari suatu dozer/
traktor sehingga akan terangkat dasar stockpile yang berupa tanah, lempung
atau batu splite. Hal-hal yang perlu diperhatikan guna menghindari
kontaminasi dari stockpile antara lain :
a. Supervisi yang ketat semua aktivitas area stockpile
b. Pelaksanaan housekeeping
c. Perawatan rutin peralatan yang digunakan, meliputi perawatan terhadap
alat-alat plant maupun terhadap alat berat yang digunakan di area
stockpile.
d. Metal detector, berfungsi untuk mencegah kontaminasi metal masuk ke
stockpile maupun maupun batubara yang akan dikeluarkan dari stockpile.

Kontrol Aspek Quality & Quantity


Kontrol aspek quality batubara di stockpile yang perlu dilakukan berupa :
Penentuan/ analisa kualitas batubara produksi yang ada di stockpile,
kemudian melakukan pengaturan stock sesuai type batubara produksi di
stockpile.
Usaha mininimize resiko degradasi batubara (pengaturan lama stocking,
aktitivitas alat berat distockpile, reclaime pit, dll)
Pengaturan blending ratio batubara.
Control dan monitoring semua faktor yang berdampak terhadap perubahan
yang significan terhadap nilai kualitas batubara selama di stockpile.
Sedangkan terhadap aspek quantity perlu dilakukan sistem recording yang
akurat terhadap inventory batubara dan pergerakan stock batubara (coal
movement).

Limbah padat & cair


Selama pengelolaan stockpile batubara limbah padat dan limbah cair
merupakan resiko yang tidak bisa dihindari. Beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam penangananan stockpile adalah perawatan basement
stockpile, pemukaan stockpile diusahakan bisa mengalirkan air ke arah sistem
drainage yang tersedia. Dalam hal ini bentuk yang ideal permukaan stockpile
adalah sedikit cembung lebih tepatnya seperti punggung kura-kura dan sistem
Drainage, semua air dari stockpile dialirkan ke arah sistem treatment limbah cair/
padat serta memiliki sistem treament limbah yang memadai.

II - 12
Laporan Antara

2.3. PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP (PLTU)


Pembangkit Listrik Tenaga Uap Batubara adalah salah satu jenis instalasi
pembangkit tenaga listrik di mana tenaga listrik didapat dari mesin turbin yang
diputar oleh uap yang dihasilkan melalui pembakaran batubara. Siklus di PLTU
dapat dibedakan menjadi
1. Siklus Udara, sebagai campuran bahan bakar.
2. Siklus Air, sebagai media untuk menghasilkan uap air (steam).
3. Siklus Batubara, sebagai bahan bakar.
PLTU batubara adalah sumber utama dari listrik dunia saat ini. Sekitar 60%
listrik dunia bergantung pada batubara, hal ini dikarenakan PLTU batubara bisa
menyediakan listrik dengan harga yang murah. Kelemahan utama dari PLTU
batubara adalah pencemaran emisi karbonnya sangat tinggi, paling tinggi
dibanding bahan bakar lain.

Untuk menghasilkan energi listrik pada PLTU Batubara ini, awalnya batu
bara yang ditampung dalam bak penampungan dibawa ke dalam mesin
pencacah batubara melalui conveyor belt untuk dipecah menjadi ukuran yang
lebih kecil/ halus, hal ini berguna agar batubara lebih mudah terbakar pada saat
di dalam boiler. Batubara yang telah halus tadi dibawa ke dalam boiler untuk
digunakan sebagai bahan bakar pada proses pembakaran.
Dari proses pembakaran ini akan menghasilkan sisa abu batubara. Abu yang
berukuran relatif besar akan langsung jatuh ke bawah tungku Boiler dan akan
dikumpulkan untuk diangkut ke tempat penyimpanan debu/abu (Ash Storage).
Sedangkan abu ringan yang berterbangan akan ditangani oleh alat penangkap
debu/abu (ESP Electrostatic Precipitator) dan akan dikumpulkan. Asap dan
debu-debu yang sangat kecil yang tidak tertangkap oleh ESP kemudian akan
dialirkan melalui cerobong asap untuk dibuang ke udara/ lingkungan luar.
Kembali lagi pada proses pembakaran, pada boiler ini terjadi proses
pemanasan air yang sebelumnya telah dimurnikan agar tidak mudah
menimbulkan korosi (untuk air laut), air tersebut melalui pipa-pipa boiler dan
dipanaskan sehingga akan berubah menjadi uap panas yang bertekanan tinggi.
Tetapi karena kadar air pada uap masih terlalu tinggi, maka kadar air harus
dihilangkan terlebih dahulu melalui superheater sehingga akan berubah menjadi
uap kering. Kemudian uap kering ini dialirkan menuju ke turbin untuk mendorong
sudu-sudu turbin sehingga poros turbin akan berputar. Setelah digunakan untuk
memutar turbin, maka uap kering akan turun kembali ke lantai dasar. Uap
tersebut akan didinginkan di dalam kondensor, dengan menggunakan air
pendingin (biasanya air laut atau air sungai) yang dialirkan melalui pipa-pipa di
dalam kondensor akan mendinginkan uap sehingga kembali menjadi air,

II - 13
Laporan Antara

kemudian air tersebut dapat disirkulasikan kembali ke Boiler untuk dipanaskan


menjadi uap kembali dan digunakan untuk memutar turbin.
Kembali lagi pada poros turbin yang berputar, karena poros turbin ini sudah
dihubungkan langsung dengan generator sehingga ketika turbin berputar maka
generator juga akan ikut berputar. Karena generator ikut berputar maka akan
menghasilkan energi listrik yang akandikirimkan ke trafo untuk dirubah
tegangannya dan kemudian disalurkan melalui saluran transmisi PLN.
Kebutuhan bangunan penunjang PLTU selain Power house, antara lain
adalah : Gedung Administrasi, Workshop dan storage, Perumahan operator,
Bangunan Balance of Plant, Bangunan sosial dan peribadahan, Rumah keamanan,
Bangunan intake water dan Jetty, dan lain sebagainya.

2.4. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN


2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG PULAU KALIMANTAN
Dikarenakan adanya pembentukan provinsi baru yaitu Provinsi Kalimantan
Utara yang tadinya termasuk kedalam Provinsi Kalimantan Timur dan hingga saat
ini belum tersusun Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Kalimantan Utara, maka
kajian kebijakan untuk pekerjaan ini kemudian merujuk pada produk tata ruang
diatas RTRW provinsi, yaitu RTRW Pulau Kalimantan.
RTRW Pulau Kalimantan ditetapkan pada Peraturan Presiden Republik
Indonesia Nomor 3 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang Pulau Kalimantan,
yang menetapkan bahwa: Kota Tarakan sebagai kawasan peruntukan
pertambangan batubara.

2.5. PERDA NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG


WILAYAH KOTA TARAKAN TAHUN 2012 - 2032
Rencana jaringan Transportasi
Jaringan pelayanan lalu lintas dan angkutan jalan mencakup rencana
pengembangan terminal yang terdiri atas:
1. Pengembangan terminal tipe C meliputi:
a. Terminal Boom Panjang di Kelurahan Pamusian, Kecamatan Tarakan
Tengah, dan
b. Terminal Simpang Tiga di Kelurahan Karanganyarpantai, Kecamatan
Tarakan Barat.
2. Pengembangan sub terminal, meliputi:
a. Sub terminal Pantaiamal di Kelurahan Pantaiamal, Kecamatan Tarakan
Timur,
b. Sub terminal Tanjung Simaya di Kelurahan Juatalaut, Kecamatan Tarakan
Utara, dan

II - 14
Laporan Antara

c. Sub terminal Juatalaut di Kelurahan Juatalaut, Kecamatan Tarakan Utara


3. Jaringan angkutan sungai, danau, dan penyeberangan
a. Pelabuhan Tengkayu I di Kelurahan Sebengkok, Kecamatan Tarakan
Tengah.
b. Pelabuhan Fery di Kelurahan Juatalaut, Kecamatan Tarakan Utara sebagai
pelabuhan penyeberangan.
3. Rencana pembangunan jembatan Tarakan Bulungan sepanjang 5 km
yang akan di bangun pada Kelurahan Karangharapan Kecamatan Tarakan
Barat dan akan melalui Pulau Sadau.
Tatanan kepelabuhanan di Kota Tarakan terdiri atas:
a. Pelabuhan utama yaitu Pelabuhan Malundung di Kelurahan Lingkasujung,
Kecamatan Tarakan Timur;
b. Terminal khusus yaitu pelabuhan pengangkut minyak di Kelurahan
Lingkasujung, Kecamatan Tarakan Timur.
c. Pelabuhan perikanan Pelabuhan Tengkayu II di Kelurahan Karangrejo,
Kecamatan Tarakan Barat.
d. Pelabuhan pengumpul yaitu pelabuhan Tengkayu I di Kelurahan Sebengkok,
Kecamatan Tarakan Tengah.
Sudah dikembangkan pula Pelabuhan Penyeberangan (Fery) di Juatalaut yang
menghubungkan Kota Tarakan dengan Nunukan (Pulau Kalimantan), dan Toli-toli
(Pulau Sulawesi). Adapun pelabuhan lainnya melayani embarkasi dan debarkasi
penumpang dan barang dari Tarakan ke kabupaten/kota sekitarnya yang ada di
Provinsi Kalimantan Timur, seperti ke Tanjung Redep, Sei Nyamuk, Tanjung Selor,
Malinau dan lain-lain.
Angkutan Antar Wilayah
Angkutan umum antar wilayah yang menghubungkan Pulau Tarakan dengan
pulau-pulau di sekitarnya termasuk Pulau Kalimantan dilakukan melalui
Pelabuhan Tengkayu, dimana lalu lintas kapal pada pelabuhan ini melayani
embarkasi dan debarkasi penumpang, barang dan jasa dari Tarakan ke
Kabupaten/Kota di wilayah utara Kalimantan Timur dan Samarinda. Jenis armada
yang beroperasi di Pelabuhan Tengkayu meliputi speed boat cepat (CB), kapal
motor penumpang (KMP) dan barang (KM) serta speed boat kecil.
Angkutan Antar Pulau
Untuk melayani angkutan penumpang, tersedia beberapa kapal besar yang
melintasi Kota Tarakan, yaitu KM Tidar, KM Kerinci, KM Binaiya dan KM Awu.
Pelabuhan pertamina yang merupakan pelabuhan khusus untuk mengangkut
minyak ke Balikpapan yang terdapat di Lingkasujung. Pelabuhan Beringin yang
terdapat di Selumitpantai merupakan Pelabuhan yang digunakan untuk bongkar
muat barang bagi masyarakat.

II - 15
Laporan Antara

Rencana pengembangan pelabuhan rakyat, terdiri atas:


a. Pelabuhan Mamburungan di Kelurahan Mamburungan, Kecamatan Tarakan
Timur,
b. Pelabuhan Sebengkok di Kelurahan Sebengkok, Kecamatan Tarakan Tengah,
c. Pelabuhan Beringin di Kelurahan Selumitpantai, Kecamatan Tarakan Tengah,
d. Pelabuhan Pantaiamal di Kelurahan Pantaiamal, Kecamatan Tarakan Timur,
e. Pelabuhan Tanjungbinalatung di Kelurahan Pantaiamal, Kecamatan Tarakan
Timur,
f. Pelabuhan Tanjungpasir di Kelurahan Mamburungan, Kecamatan Tarakan
Timur,
g. Pelabuhan Juatalaut di Kelurahan Juatalaut, Kecamatan Tarakan Utara,
Bandar Udara Juwata di Tarakan dikembangkan menjadi Bandar Udara Pusat
Penyebaran Tersier, dengan program Pengembangan Bandar Udara Tersier pada
Tahap IV. Bandara Juwata merupakan bandara utama di Kota Tarakan yang saat ini
sedang mengalami beberapa peningkatan pelayanan sepeti penambahan panjang
landas pacu dari 2.250 x 30 m menjadi 2.500 x 45 m yang dibagi menjadi 3 Tahap
Pengembangan. Selain itu sarana terminal bandara juga diperluas agar dapat
menampung penumpang lebih banyak.

Rencana Jaringan Prasarana Energi


Sistem jaringan listrik Kota Tarakan sampai saat ini masih menggunakan sistem
jaringan kabel atas. Namun untuk 15 tahun kedepan idealnya sudah harus
dipikirkan system jaringan kabel listrik bawah tanah khususnya untuk bagian
wilayah pusat kota dan pada jaringan-jaringan utama serta kawasan-kawasan
khusus.
Pola jaringan kabel listrik direncanakan mengikuti pola jaringan jalan yang ada
kecuali untiuk jaringan tegangan tinggi dapat melintasi daerah tertentu. Sedangkan
untuk jaringan kabel listrik tegangan menengah dan rendah direncanakan disisi kiri
jaian satu jalur dengan pipa air bersih dibawah tanah. Untuk jaringan kabel
tegangan tinggi hendaknya diatur pengamanannya terhadap lingkungan yaitu 25
meter kesamping dan disisi jaringan tersebut harus bebas bangunan, dijadikan jalur
hijau tanpa bangunan.
Pengembangan jaringan listrik Kota Tarakan di masa mendatang berupa
peningkatan dan pengembangan jaringan listrik yang diprioritaskan pada
penyediaan sambungan baru melalui penyambungan jaringan yang ada ke wilayah
baru mengikuti jaringan listrik yang sudah ada.
Prinsip dasar perencanaan jaringan listrik di Kota Tarakan dalam
pendistribusiannya ke konsumen dapat dilakukan melalui :

II - 16
Laporan Antara

a. Gardu Tegangan 20 KV yang berfungsi sebagai penurun tegangan, dari


tegangan menengah 70 KY - 150 KV menjadi tegangan rendah 380 V / 220 V,
untuk melayani kebutuhan sehari-hari konsumen domestik;
b. Jaringan Tegangan Rendah, merupakan jaringan distribusi dari GD ke konsumen
langsung yang menggunakan sistem distribusi metingkar dengan sistem
penyaluran melalui kabel tanah yang prioritas pengembangannya dilakukan di
pusat pemerintahan, serta melalui kabel udara dengan biaya yang rendah yang
dikembangakan di permukiman penduduk.
Untuk menunjang realisasi tersebut, maka direncanakan sistem penerangan
listrik dengan penekanan faktor-faktor sebagai berikut :
a. Jumlah pemadaman per tahun yang sekecil mungkin
1) Waktu pemadaman pergangguan yang sependek mungkin.
2) Kualitas tegangan yang baik, tegangan yang stabil pada titik beban.
b. Efesien sistem yang baik, dengan memperkecil kerugian di saluran tegangan
tinggi, menengah dan rendah.
c. Fleksibel sistem yang baik, mampu menampung penambahan beban yang
diakibatkan oleh peningkatan penduduk dan aktivitasnya.
d. Ekonomis, dalam arti sistem yang direncanakan secara ekonomis, dan sejauh
mungkin memanfaatkan sistem yang telah ada.
Rencana pengembangan jaringan listrik untuk memenuhi kebutuhan Kota
Tarakan masa depan akan menggunakan :
a. PLTMG (Pembangkit Listrik Tenaga Minyak dan Gas) di kelurahan Sebengkok.
b. PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) di Kelurahan Juata Laut.
Jaringan pipa minyak dan gas bumi, terdiri atas jaringan pipa pada Jalan P.
Aji Iskandar Jalan Aki Balak Jalan Mulawarman Jalan Yos Sudarso Jalan
Kusuma Bangsa Jalan Mamburungan.
Jaringan transmisi tenaga listrik, terdiri atas jaringan listrik tegangan
menengah dan rendah, meliputi :
1. jaringan feeder 1, meliputi jalan Wijaya Kusuma Kamboja Kenangan
Sudirman Slamet Riyadi Danau Jempang Diponegoro
2. jaringan feeder 2, meliputi jalan Kusuma Bangsa Cendana Yos Sudarso
Sebengkok Tiram Diponegoro Ahmad Dahlan Beringin
3. jaringan feeder 3, meliputi jalan Pasir Putih Mulawarman Cendrawasih
Yos Sudarso Belakang BRI Agus Salim
4. jaringan feeder 4, meliputi Sudirman Gajah Mada Mulawarman Aji
Iskandar
5. jaringan feeder 5, meliputi jalan Flores Kalimantan Sulawesi Teuku Umar
Sudirman Diponegoro Taman Oval Lapangan Golf

II - 17
Laporan Antara

6. jaringan feeder 6, meliputi daerah Binalatung Amal Baru Tanjung Batu


Amal Universitas Borneo Mamburungan Datu Adil Medco
7. jaringan feeder 7, meliputi jalan Kusuma Bangsa Ahmad Dahlan Agus
Salim Diponegoro

Rencana Kawasan Industri dan Pergudangan


Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Dinas Perindustrian, Perdagangan,
Koperasi, dan Investasi Kota Tarakan saat ini, terdapat 2 jenis kegiatan industri
yaitu industri menengah dan industri kecil. Hingga tahun akhir perencanaan
diperkirakan industri besar akan berkembang di Kota Tarakan. Pengembangan
industri untuk Kota Tarakan hingga 2030 direncanakan akan menggunakan lahan
seluas 1.115,25 Ha. Pengembang usaha industri kecil akan dikonsentrasikan pada
beberapa lokasi sub pelayanan kota yaitu ;
1. Sub Pusat Pelayanan Kota Lama Barat dikembangkan kegiatan industri dengan
alokasi lahan seluas 4,10 Ha.
2. Sub Pusat Pelayanan Kota Lama Selatan dikembangkan kegiatan industri
dengan alokasi lahan seluas 78,88 Ha.
3. Sub Pusat Pelayanan Kota Baru Utara dikembangkan kegiatan industri dengan
alokasi lahan seluas 354,82 Ha.
4. Sub Pusat Pelayanan Kota Baru Timur dikembangkan kegiatan industri dengan
alokasi lahan seluas 353,04 Ha.
5. Sub Pusat Pelayanan Kota Baru Selatan dikembangkan kegiatan industri
dengan alokasi lahan seluas 324,40 Ha.
Industri Kecil
Industri kecil yang terdapat di Kota Tarakan pada dikelompokan menjadi :
1. Industri pangan/agro sebanyak 57 unit yang menyerap 308 tenaga kerja
dengan nilai investasi sebesar Rp. 4,830,789,000.
2. Industri sandang sebanyak 30 unit yang menyerap 121 tenaga kerja dengan
nilai investasi sebesar Rp. 1,528,313,000.
3. Industri kimia dan bahan bangunan sebanyak 98 unit yang menyerap 467
tenaga kerja dengan nilai investasi sebesar Rp. 5,907,353,000.
4. Industri logam dan elektronik sebanyak 103 unit yang menyerap 386 tenaga
kerja dengan nilai investasi sebesar Rp. 3,667,147,000.
5. Industri kerajinan dan aneka sebanyak 33 unit yang menyerap 38 tenaga
kerja dengan nilai investasi sebesar Rp. 540,552,000
Berdasarkan jumlah usaha yang dilakukan oleh para pelaku bisnis maka total
jumlah usaha di Kota Tarakan sebanyak 310 yang tersebar di
1. Kecamatan Tarakan Timur sebanyak 35 jumlah usaha.

II - 18
Laporan Antara

2. Kecamatan Tarakan Tengah sebanyak 126 jumlah usaha.


3. Kecamatan Tarakan Barat sebanyak 139 jumlah usaha.
4. Kecamatan Tarakan Utara sebanyak 10 jumlah usaha.
Rencana pengembangan usaha industri kecil di masa yang akan datang
akan difokuskan jenis usaha yang sudah ada. Dinas Perindustrian selaku dinas
yang langsung menangani bidang ini akan terus memberikan bimbingan dan
pembinaan pada usaha industi kecil yang ada sehingga dapat berkembang
dengan baik. Lokasi pengembangan industri kecil antara lain tersebar di
Kelurahan Juatalaut, Kelurahan Juatapermai, dan Kelurahan Karangharapan.
Industri Menengah
Industri menengah yang terdapat di Kota Tarakan dikelompokan menjadi :
1. Jasa percetakan sebanyak 1 unit.
2. Reparasi mobil berat sebanyak 2 unit.
3. Penerbitan surat kabar dan lain-lain sebanyak 1 unit.
4. Pengolahan es batu sebanyak 7 unit.
5. Bengkel bubut sebanyak 3 unit.
6. Percetakan sebanyak 1 unit
7. Pembuatan roti sebanyak 1 unit.
8. Konsentrat pakan ternak sebanyak 1 unit.
9. Pembekuan ikan sebanyak 2 unit
10.Bahan bangunan sebanyak 1 unit.
Berdasarkan jumlah usaha yang dilakukan oleh para pelaku bisnis maka total
jumlah usaha di Kota Tarakan sebanyak 24 yang tersebar di
1. Kecamatan Tarakan Timur sebanyak 3 jumlah usaha.
2. Kecamatan Tarakan Tengah sebanyak 6 jumlah usaha.
3. Kecamatan Tarakan Barat sebanyak 14 jumlah usaha.
4. Kecamatan Tarakan Utara sebanyak 1 jumlah usaha.

Jenis industri yang berkembang di masa yang akan datang merupakan jenis
industri yang saling terkait satu sama lain. Perkembangan kegiatan ini tidak
terlepas dari perkembangan kebutuhan perdagangan dan jasa yang ada. Lokasi
pengembangan industri menengah antara lain tersebar di Kelurahan Juatalaut,
Kelurahan Juatapermai, dan Kelurahan Karangharapan.
Industri Besar
Lokasi pengembangan industri besar antara lain tersebar di Kelurahan
Juatalaut, Kelurahan Juatapermai, dan Kelurahan Karangharapan.

II - 19
Laporan Antara

Pergudangan
Kawasan pergudangan yang akan dikembangkan mengikuti lokasi kegiatan
industri yang akan berkembang di Kota Tarakan, sehingga penempatan lokasi
gudang akan berdekatan dengan lokasi industri. Adapun lokasi pergudangan
tersebut adalah
1. Kelurahan Juatalaut
2. Kelurahan Karangharapan
3. Kelurahan Mamburungan
4. Kelurahan Lingkasujung
5. Kelurahan Gununglingkas

Rencana Kawasan Pertambangan


Kawasan Pertambangan Migas
Kawasan pertambangan migas dengan penggunaan lahannya totalnya
seluas 881,67 Ha merupakan kawasan pertambangan yang selama ini
dieksplorasi yang tersebar di beberapa lokasi, yaitu di Kelurahan Juatalaut,
Kelurahan Juatakerikil, Kelurahan Kampungsatuskip, Kelurahan
Karanganyarpantai, Kelurahan Pamusian; Kelurahan Kampungenam; Kelurahan
Mamburungan.
A. Wilayah Pertambangan yang terdapat di Kota Tarakan terdiri atas
1. Wilayah Pertambangan mineral yang terdiri atas :
a. Wilayah Pertambangan 1 seluas 2,03 Ha terletak di Kelurahan
Mamburungan.
b. Wilayah Pertambangan 2 seluas 0,83 Ha terletak di Kelurahan
Karanganyarpantai
c. Wilayah Pertambangan 3 seluas 18,23 Ha terletak di Kelurahan
Mamburungantimur
d. Wilayah Pertambangan 4 seluas 8,44 Ha terletak di Kelurahan Juatalaut
e. Wilayah Pertambangan 5 seluas 1,71 Ha terletak di Kelurahan
Karangharapan
2. Providen terletak di Kelurahan Juatalaut.
B. UPDN Pertamina seluas 24,73 Ha.
C. Kawasan Pertambangan seluas 825,74 Ha.

Pertambangan Mineral

II - 20
Laporan Antara

Kawasan pertambangan mineral atau Galian C yang terdapat di Kota


Tarakan terletak di Kelurahan Juatakerikil, Kelurahan Karangharapan, Kelurahan
Pantaiamal, dan Kelurahan Juatalaut.

Rencana Kawasan Strategis Aspek Ekonomi


Kawasan Strategis Ekonomi yang diutamakan dalam program
pengembangan kawasan diprioritaskan, terutama terkait dengan kontribusi
pengembangan kawasan yang diprioritaskan dalam strategi pengembangan
wilayah yang lebih luas. Strategi dasar pengembangan Kawasan Strategis
Ekonomi tersebut, pada dasarnya mengalami perkembangan kebutuhan ekonomi
yang dipengaruhi oleh perubahan sosial ekonomi dan modernisasi yang
mendorong terciptanya kegiatan ekonomi yang lebih berkembang.
Berdasarkan pengaruh dan perkembangan serta dampak yang
ditimbulkannya, dikenal adanya tingkat kepentingan perekonomian pada tingkat
regional dengan sub serta regional dengan nasional, yang berpotensi terhadap
pengembangan simpul-simpul jasa ekonomi, permukiman perkotaan,
pengembangan industri, pertanian, pariwisata.
1. Kawasan Pengembangan Kota Baru Tarakan (New Town)
Kawasan pengembangan ini dikategorikan sebagai kawasan strategis karena
memiliki skala pelayanan Kota Tarakan yang mampu melayani wilayah Utara
Kota Tarakan. Kawasan ini terdiri dari Kawasan Pemerintahan dan Kawasan
Permukiman dengan kepadatan penduduk sedang hingga rendah.
2. Kawasan Pengembangan Pelabuhan
Kawasan pengembangan yang dikategorikan sebagai Kawasan strategis
adalah Kawasan Pelabuhan Kota Tarakan sebagai sarana dan prasarana
perdagangan dan jasa di Lingkasujung dan Karang rejo.
3. Kawasan Pengembangan Industri dan Pergudangan
Kawasan pengembangan yang dikategorikan sebagai Kawasan strategis
adalah Kawasan Industri dan Pergudangan Kota Tarakan sebagai sarana dan
prasarana perindustrian yang memiliki nilai tambah bagi pendapatan daerah
Kota Tarakan; khususnya di Juata laut.
4. Kawasan Pengembangan Pariwisata
Karakter wilayah dan potensi geografis Pantai amal yang menghadap ke Selat
Makasar dengan kekayaan alam dan budaya lokal, merupakan aset pariwisata
yang sangat potensial dikembangkan dan menjadi andalan pembangunan
wilayah yang berada Kota Tarakan.
5. Kawasan Pengembangan Budidaya Perikanan
Dengan dukungan potensi lautan, kawasan pengembangan Budidaya
perikanan laut dan Pusat Pengembangan Budidaya Perikanan di Sub
Pelayanan Kota Baru Utara. Khususnya di Juata laut.

II - 21
Laporan Antara

Rencana Tata Ruang Pesisir


Rencana Struktur Tata Ruang Pesisir
Rencana sistem transportasi di wilayah pesisir didasarkan untuk
meningkatkan keoptimalan akses pada masing-masing pusat pelayanan sehingga
dapat mendorong pertumbuhan pembangunan sektor-sektor potensial yang ada
di pusat pelayanan berdasarkan daya dukung lahan. Rencana pengembangan
sistem transportasi di wilayah pesisir meliputi :
a. Rencana sistem transportasi darat meliputi :
Penataan manajemen sistem transportasi wilayah pesisir
dengan mengoptimalkan sarana prasarana yang ada saat ini;
Peningkatan dan pembangunan jalan dalam jangkauan
pelayanan sistem angkutan umum, untuk melayani pergerakan penduduk
dan mengakses aktivitas-aktivitas baru pada masing-masing pusat
pelayanan.
b. Rencana pengembangan transportasi laut diarahkan untuk lebih
meningkatkan pelayanan pergerakan manusia, barang dan jasa melalui laut
yang meliputi :
Penanganan ketertiban perairan pantai dan mencegah maraknya
perdagangan illegal melalui laut di Pulau Tarakan;
Peningkatan pelayanan sistem transportasi laut berskala regional,
nasional dan internasional.
c. Rencana pengembangan transportasi udara diarahkan melalui
upaya :
Peningkatan pelayanan sistem transportasi udara skala domestik dan
internasional;
Peningkatan Bandar Udara Juwata seluas 324 Ha.
Rencana Pemanfaatan Ruang Industri
Kawasan Industri adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama
sebagai tempat pemusatan kegiatan industri beserta prasarana dan sarana
pendukungnya. Rencana zonasi pemanfaatan ruang untuk kawasan industri di
wilayah pesisir Kota tarakan meliputi :
a. Penetapan kawasan industri berdasarkan jenisnya
1. Industri Besar
Industri pengolahan udang di Mamburungan

Industri pengolahan udang di Juatalaut

II - 22
Laporan Antara

Industri pembibitan udang di Pantaiamal


2. Industri Menengah
Kawasan industri di Tanjungsimaya
3. Industri kecil
Kelurahan Juatapermai;

Kelurahan Juatalaut;

Kelurahan Mamburungan;
b. Pengembangan sarana dan prasarana industri
c. Pengendalian kegiatan industri untuk mengurangi dampak
terhadap ekosistem pesisir
Rencana Pemanfaatan Ruang Pelabuhan
Rencana zonasi pemanfaatan ruang untuk kawasan pelabuhan adalah meliputi:
a. Penetapan Kawasan pelabuhan berdasarkan fungsinya adalah
meliputi:
Pelabuhan rakyat di Tanjungjuata
Pelabuhan rakyat di Tanjungselayung
Pelabuhan rakyat di Tanjungsimaya
Pelabuhan rakyat di Pantaiamal
Pelabuhan rakyat di Tanjungpasir
Pelabuhan Malundung sebagai pelabuhan nusantara untuk bongkar
muat barang.
Pelabuhan Tengkayu I sebagai pelabuhan penumpang
Pelabuhan di Pantai Barat Juatalaut sebagai pelabuhan nusantara
untuk angkutan penumpang.
b. Pengembangan pelabuhan sesuai dengan kemampuan lahan
darat dan perairan. Berdasarkan kemampuan lahan dan perairan yang ada
maka arahan pengembangan pelabuhan di wilayah pesisir adalah sebagai
berikut:
Pengembangan pelabuhan industri dengan aktivitas padat pada
pelabuhan di Tanjungjuatalaut, Tanjungpasir, Malundung dan Tengkayu.
Pengembangan pelabuhan untuk kegiatan pariwisata dengan
aktivitas rendah dan peruntukan untuk armada berukuran kecil pada
pelabuhan di Tanjungsimaya dan Pantaiamal.
c. Pengembangan sarana prasarana pendukung pelabuhan sesuai
dengan fungsi dan peranan.

II - 23
Laporan Antara

d. Pemanfaatan ruang kawasan pelabuhan yang tetap


memperhatikan kelestarian lingkungan.
e. Pembatasan pemanfaatan ruang dan aktivitas pelabuhan dalam
rangka mitigasi bencana di wilayah pesiisr dan laut Kota Tarakan.
f. Pembatasan pemanfaatan ruang dan aktivitas industri dalam
rangka mitigasi bencana di wilayah pesisir dan laut Kota Tarakan.

Rencana Kawasan Prioritas


Kawasan pesisir Pulau Tarakan yang dijadikan sebagai kawasan pemicu
perkembangan ekonomi adalah :
a. Kawasan prioritas pertama sebagai pusat pelayanan kawasan
pesisir yang berada di sebelah barat dekat kawasan pusat Kota Tarakan
dengan kegiatan utama di sektor perikanan dan kelautan yang berupa
pelabuhan perikanan, Pasar Beringin.
b. Kawasan prioritas kedua sebagai sub pusat pelayanan 2 Lokasi,
yaitu :
Sub Pusat Pelayanan di bagian Utara sebagai Kawasan Industri Perikanan
dan Permukiman Juatalaut;
Sub Pusat Pelayanan di bagian Timur sebagai kawasan campuran (Mix
Use Area) Komersial wisata di sekitar Pantaiamal.

II - 24