Anda di halaman 1dari 26

BAB II

PEMBAHASAN

A. Garam dan Pengertiannya

Dalam ilmu kimia, garam adalah senyawa ionik yang terdiri dari ion positif

(kation) dan ion negatif (anion), sehingga membentuk senyawa netral (tanpa

bermuatan). Garam terbentuk dari hasil reaksi asam dan basa. Komponen kation

dan anion ini dapat berupa senyawa anorganik seperti klorida (Cl), dan bisa juga

berupa senyawa organik, seperti asetat (CH3COO) dan ion monoatomik seperti

fluorida (F), serta ion poliatomik seperti sulfat (SO42). Natrium klorida (NaCl),

bahan utama garam dapur adalah suatu garam.

Ada banyak macam-macam garam, yaitu garam yang terhidrolisa dan

membentuk ion hidroksida ketika dilarutkan dalam air maka dinamakan garam

basa. Garam yang terhidrolisa dan membentuk ion hidronium di air disebut

sebagai garam asam. Garam netral adalah garam yang bukan garam asam maupun

garam basa. Larutan Zwitterion mempunyai sebuah anionik dan kationik di tengah

di molekul yang sama, tapi tidak disebut sebagai garam. Contohnya adalah asam

amino, metabolit, peptida, dan protein.

Larutan garam dalam air (Misalnya natrium klorida dalam air) merupakan

larutan elektrolit, yaitu larutan yang dapat menghantarkan arus listrik. Cairan

dalam tubuh makhluk hidup mengandung larutan garam, misalnya sitoplasma dan
darah. Tapi, karena cairan dalam tubuh ini juga mengandung banyak ion-ion

lainnya, maka tidak akan membentuk garam setelah airnya diuapkan.

B. Ciri-ciri Garam

1) Warna

Garam dapat berwarna macam-macam, cerah maupun transparan

diantaranya :

a) Kalium dikromat, garam berwarna jingga yang digunakan sebagai

pigmen.
b) Mangan dioksida, garam yang berwarna hitam.
c) Natrium klorida, garam yang berwarna buram.
d) Besi disulfida berwarna metalik dan berkilau.
e) Natrium kromat berwarna kuning.
f) Kalium kromat berwarna jingga.
g) Kalium ferisianida, berwarna merah.
h) Kobalt klorida heksahidrat, berwarna mauve.
i) Tembaga sulfat pentahidrat, ferric hexacyanoferrate berwarna biru.
j) Kalium permanganat berwarna ungu.
k) Nikel klorida heksahidrat berwarna hijau.
l) Natrium klorida/garam dapur berwarna putih.
m) Magnesium Sulfate Heptahidrat tidak berwarna.

(c) (b)
Contoh Gambar : (a) Kalium Dikromat

(b) Mangan Dioksida

2) Rasa

Di semua garam, ada 5 rasa berbeda, yaitu: asin (natrium klorida),

manis (timbal (II) asetat, catatan : beracun kalau sampai tertelan), asam

(kalium bitartrat), pahit (magnesium sulfat), dan gurih (monosodium

glutamat).

3) Bau

Garam yang berasal dari asam kuat dan basa kuat Garam Kuat

biasanya stabil dan tidak berbau, sedangkan garam yang terbentuk dari

asam lemah maupun basa lemah Garam Lemah lebih berbau karena

disebabkan oleh asam konjugasinya (contohnya asam asetat pada cuka

dan sianida seperti hidrogen sianida atau bisa juga karena basa

konjugasinya contohnya garam amonium seperti amonia).

C. Jenis-jenis Garam
a) Garam yang terbentuk dari reaksi asam kuat dengan basa kuat (misalnya

NaCl, K2SO4 dan lain-lain) tidak mengalami hidrolisis. Untuk jenis garam

yang demikian nilai pH = 7 (bersifat netral)

b) Garam yang terbentuk dari reaksi asam kuat dengan basa lemah (misalnya

NH4Cl, AgNO3 dan lain-lain) hanya kationnya yang terhidrolisis


(mengalami hidrolisis parsial). Untuk jenis garam yang demikian nilai pH

< 7 (bersifat asam)

c) Garam yang terbentuk dari reaksi asam lemah dengan basa kuat (misalnya

CH3COOK, NaCN dan lain-lain) hanya anionnya yang terhidrolisis

(mengalami hidrolisis parsial). Untuk jenis garam yang demikian nilai pH

> 7 (bersifat basa)

d) Garam yang terbentuk dari reaksi asam lemah dengan basa lemah

(misalnya CH3COONH4, Al2S3 dan lain-lain) mengalami hidrolisis total

(sempurna). Untuk jenis garam yang demikian nilai pH-nya tergantung

harga Ka den Kb.

D. Hidrolisis Garam
Reaksi asam dengan basa membentuk garam disebut reaksi penetralan. Akan

tetapi reaksi penetralan tidak membuat larutan garam menjadi netral. Sabun

merupakan contoh garam yang bersifat basa. Bahasan dalam bab ini berkaitan

dengan sifat larutan gararn. Pembahasan pada kali ini menjelaskan sifat larutan

garam tersebut, yaitu konsep hidrolisis. Pada bagian akhir akan dibahas rumus

yang dapat digunakan untuk memperkirakan pH larutan garam berdasarkan

konsentrasi dan tetapan ionisasi asam atau basa pembentuknya. Ada dua macam

hidrolisis pada garam :


1) Hidrolisis parsial/sebagian (jika garamnya berasal dari asam lemah dan

basa kuat atau sebaliknya & pada hidrolisis sebagian hanya salah satu ion

saja yang mengalami reaksi hidrolisis, yang lainnya tidak).

Hidrolisis parsial dibagi menjadi 2 :


a) Hidrolisis parsial yang terjadi dari garam yang bersifat asam.

(kationnya saja yang terhidrolisis menghasilkan senyawa basa lemah).


b) Hidrolisis parsial yang terjadi dari garam yang bersifat basa. (anionnya

saja yang terhidrolisis menghasilkan senyawa asam lemah).

Contoh: NH4Cl, AgNO3, CH3COOK


2) Hidrolisis total (garamnya berasal dari asam dan basa lemah).Garam yang

baik kation maupun anionnya terhidrolisis. Contoh : CH3COONH4, Al2S3


E. Sifat Larutan dan Konsep Hidrolisis
1) Sifat Larutan Garam
Garam merupakan senyawa ion, yang terdiri dari kation logam dan anion

sisa asam. Kation garam dapat dianggap berasal dari suatu basa, sedangkan

anionnya berasal dari suatu asam. Jadi, setiap garam mempunyai komponen

basa (kation) & asam (anion).


Contoh: Natrium klorida (NaCI) terdiri dari kation Na+ yang dapat

dianggap berasal dari NAOH. dan Cl- yang berasal dari HCl di dalam air, NaCl

terdapat sebagai ion-ion yang terpisah.

NaCI(aq) Na+(aq) + C1-(aq)

Sebagaimana diketahui bahwa asam dan basa tergolong elektrolit kuat

sedangkan sebagian lainnya tergolong elektrolit lemah. Di antara asam dan

basa yang biasa kita temukan, yang tergolong elektrolit kuat adalah:
(a) Asam Kuat: H2SO4, HCI, HNO3 (juga HI, HBr, dan HClO4).
(b) Basa Kuat: NaOH, KOH (semua basa logam alkali) dan Ca(OH) 2,

Ba(OH)2 (semua basa logam alkali tanah, kecuali Be(OH)).


Dari hasil percobaan diketahui bahwa sifat larutan garam bergantung pada

kekuatan relatif asam basa penyusunnya.


(a) Garam dari asam kuat dan basa kuat bersifat netral
(b) Garam dari asam kuat dan basa lemah bersifat asam
(c) Garam dari asam lemah dan basa kuat bersifat basa
(d) Garam dari asam lemah dan basa lemah bergantung pada harga

tetapan ionisasi asam dan tetapan ionisasi basanya (Ka dan Kb)
Tetapan Ionisasi Asam dan Basa :

Ka > Kb bersifat asam


K < Kb bersifat basa
Ka = Kb bersifat netral
2) Konsep Hidrolisis

Larutan garam ada yang bersifat asam, basa dan netral contohnya larutan

NH4C1 ternyata bersifat asam. Sifat asam atau basa suatu larutan bergantung

pada perbandingan konsentrasi ion H+ dengan konsentrasi ion OH-. Sifat

larutan garam dapat dijelaskan dengan konsep hidrolisis. Hidrolisis merupakan

istilah yang umum digunakan untuk reaksi zat dengan air (hidrolisis berasal

dari kata hydro yang berarti air dan lysis yang berarti peruraian). Menurut

konsep ini, komponen garam (kation atau anion) yang berasal dari asam lemah

atau basa lemah bereaksi dengan air (terhidrolisis). Hidrolisis kation

menghasilkan ion (H+), sedangkan hidrolisis anion menghasilkan ion

hidroksida (OH-)

Warna merah muda dari fenoltalein dalam larutan Naf menunjukkan

larutan itu bersifat basa, warna kuning dari bromkresol-hijau dalam larutan

NaHSO4 menunjukkan larutan ini bersifat asam.

Hidrolisis garam merupakan reaksi asam-basa Bronsted-Lowry,

sebagaimana telah diketahui bahwa semakin kuat suatu asam semakin lemah

basa konjugasinya dan sebaliknya. Jadi, komponen garam yang berasal dari

asam lemah atau basa lemah merupakan basa atau asam konjugasi yang relatif

kuat yang dapat bereaksi dengan air sedangkan komponen garam yang berasal

dari asam kuat atau basa kuat merupakan basa atau asam konjugasi yang sangat

lemah dan tidak dapat bereaksi dengan air.


Dalam hubungan ini, air dapat berlaku baik sebagai asam maupun sebagai

basa. Garam yang dihasilkan suatu reaksi antara asam dan basa dapat bersifat

asam, basa, ataupun netral. Sifat tersebut bergantung pada jumlah serta jenis

senyawa asam dan basa yang direaksikan. Berdasarkan zat penyusunnya,

garam dapat dibagi menjadi 4:

a) Garam yang Tersusun dari asam kuat dan basa kuat


(1) Jika suatu garam dari asam lemah dan basa kuat dilarutkan dalam

air, maka kation dari basa kuat tidak terhidrolisis sedangkan anion

dari asam lemah akan mengalami hidrolisis.


(2) Jadi garam dari asam lemah dan basa kuat jika dilarutkan dalam

air akan mengalami hidrolisis parsial atau hidrolisis sebagian.


(3) pH larutan garam dapat ditentukan dari persamaan:

pOH = -log [OH-]


pH = 14 pOH

(4) Garam yang tersusun dari asam kuat dan basa kuat bersifat netral.

Mengapa garam bersifat netral? Karena garam yang tersusun dari

asam kuat dan basa kuat tidak memberikan perubahan warna


lakmus, baik lakmus biru maupun lakmus merah. Karena nilai pH

=7
(5) Garam yang tersusun dari asam kuat dan basa kuat . Mengapa

tidak terhidrolisis? Karena garam yang tersusun dari asam kuat

dan basa kuat memiliki kation dan anion garam yang tidak akan

terhidrolisis bila direaksikan dengan air.


b) Garam yang tersusun dari asam kuat dan basa lemah. Mengapa garam

yang tersusun dari asam kuat dan basa lemah bersifat asam? Karena

garam yang tersusun dari asam kuat dan basa lemah dapat mengubah

warna lakmus biru menjadi merah dan tidak mengubah warna lakmus

merah.
c) Mengapa garam yang tersusun dari asam kuat dan basa lemah dapat

terhidrolisis namun hanya terhidrolis parsial? Karena hanya kation(ion

positif/ion basa) yang akan terhidrolisis, sedangkan anion(ion

negatif/ion asam) tidak akan terhidrolisis bila direaksikan dengan air.

Maka Garam yang tersusun dari asam kuat dan basa lemah hanya

mengalami hidrolisis parsial. Yaitu, yang terhidrolisis hanya kation

atau anionya saja. Garam tersebut bila direaksikan dengan air akan

menghasilkan senyawa basa lemah. pH larutan garam ini dapat

ditentukan melalui persamaan:


pH = -log [H+]

Reaksi ini mempunyai tetapan hidrolisis (Kh) sebagai berikut:

+
Konsentrasi BH semula, sama dengan konsentrasi garamnya. Jika
+
konsentrasi BH mula-mula sebesar M dan hidrolisis sebesar , maka

konsentrasi semua komponen dalam persamaan tersebut adalah:

Karena nilai sangat kecil, maka besarnya pada M- diabaikan,

sehingga untuk M- = M. Besarnya konsentrasi B dan H 3 O + adalah

sama. Karena H 3 O + dapat diganti H +, persamaan tetapan hidrolisis

dapat ditulis.

Suatu basa dapat mengalami kesetimbangan sebagai berikut:

B (aq) + H 2 O (l) BH +(aq) + OH -(l)


Selanjutnya konsentrasi ion H + dapat ditulis:

d) Garam yang Tersusun dari asam lemah dan basa kuat Mengapa garam

yang tersusun dari asam lemah dan basa kuat bersifat Basa? Karena

garam yang tersusun dari asam lemah dan basa kuat dapat mengubah

warna lakmus merah menjadi biru dan tidak mengubah warna lakmus

biru. Karena nilai pH > 7 den adanya ion OH-.


e) Garam yang tersusun dari asam lemah dan basa kuat Dapat

Terhidrolisis, namun hanya terhidrolis parsial mengapa? Karena

hanya anion(ion negatif/ion asam) yang akan terhidrolisis sedangkan,

kation(ion positif/ion basa) tidak akan terhidrolisis bila direaksikan

dengan air. Maka Garam yang tersusun dari asam lemah dan basa kuat

hanya mengalami hidrolisis parsial. Yaitu, yang terhidrolisis hanya


kation atau anionya saja. Garam tersebut bila direaksikan dengan air

akan menghasilkan senyawa asam lemah. Contoh:

Garam CH3COONa yang tersusun dari CH3COOH (asam lemah) dan

NaOH (basa kuat).


CH3COONa CH3COO- + Na+
CH3COO- akan terhidrolisis, sedangkan Na+ tidak terhidrolisis.
CH3COO- + H2O CH3COOH + OH-
Adanya ion OH- menunjukan bahwa larutan bersifat basa. Contoh

lain: CH3COOK, MSG.


Kw: tetapan kesetimbangan air.
Kb: tetapan kesetimbangan ionisasi basa.
[BH + ] : konsentrasi kation dari garam

Garam yang berasal dari asam lemah dengan basa kuat jika dilarutkan

dalam air maka larutan tersebut bersifat basa (pH > 7). Anion basa (A - )

dari garam bereaksi dalam air yang menghasilkan ion OH - .

A -(aq) + H 2 O (l) HA (aq) + OH -(aq)

Reaksi ini mempunyai tetapan hidrolisis sebagai berikut:

Konsentrasi A - semula sama dengan konsentrasi garamnya. Jika

konsentrasi A - mula-mula sebesar M dan terhidrolisis sebesar , maka

untuk konsentrasi semua komponen dalam persamaan tersebut adalah:


Karena nilai relatif kecil (dapat diabaikan) sehingga nilai (M-)

sama dengan M.

Asam lemah akan terionisasi menjadi:

HA H + + A -

Konsentrasi HA sama dengan konsentrasi OH -, sehingga diperoleh

persamaan tetapan:

Selanjutnya konsentrasi OH - dapat dihitung dengan rumus:


Keterangan:
Kh : tetapan hidrolisis . Ka : tetapan ionisasi asam.
Kw : tetapan kesetimbangan air. [A-] : konsentrasi anion dari garam.

1. Garam yang Tersusun dari asam lemah dan basa lemah


Garam yang tersusun dari asam lemah dan basa lemah dapat bersifat

asam, basa, ataupun netral. Mengapa? Karena Kedua Ionya dapat

terhidrolisis (hidrolisis total). Karena adanya kedua ionOH - dan H+ yang

dihasilkan saat garam tersebut bereaksidenganair dan mempunyai nilai pH

yang tidak menentu.


Garam yang tersusun dari asam lemah dan basa lemah Dapat

Terhidrolisis secara sempurna, mengapa? Karena anion(ion negatif/ion

asam) dan kation(ion positif/ion basa) keduanya akan terhidrolisis bila di

reaksikan dengan air. Maka Garam yang tersusun dari asam lemah dan

basa lemah akan mengalami hidrolisis total (sempurna). Yaitu, kation

dan anionya terhidrolisis. Garam tersebut bila direaksikan dengan air akan

menghasilkan senyawa asam lemah dan basa lemah.


Sifat asam, basa, atau netral garam yang tersusun dari asam lemah dan

basa lemah bergantung pada Nilai pH. Nilai pH bergantung pada Ka

(tetapan ionisasi asam lemah) dan Kb (tetapan ionisasi basa lemah).

Bila Ka > Kb maka, [H+] > [OH-] dan maka nilai pH < 7 dan sifat larutan

adalah asam.
(a) Bila Ka = Kb maka, [H+] = [OH-] dan maka nilai pH = 7 dan sifat

larutannya adalah netral.


(b) Bila Ka < Kb maka, [H+] < [OH-] dan maka nilai pH > 7 dan sifat

larutan adalah basa.


Contoh : Garam CH3COONH4 yang tersusun dari CH3COOH (asam

lemah) dan NH4OH (basa lemah).


CH3COONH4 CH3COO- + NH4+

CH3COO- dan NH4+ akan terhidrolisis.


CH3COO- + NH4+ + H2O CH3COOH + NH4OH
CH3COO- + H2O CH3COOH + OH-
NH4+ + H2O NH4OH + H+

Adanya ion H+ dan OH- menunjukan bahwa larutan garam tersebut

Terhidrolisis Total(sempurna)

Tetapan hidrolisis (Kh) dari hidrolisis di atas dapat ditulis sebagai berikut:

Selanjutnya untuk menghitung [H + ] adalah sebagai berikut.


Keterangan:

Kh : tetapan hidrolisis

Kw : tetapan kesetimbangan air

Ka : tetapan ionisasi asam

Kb : tetapan ionisasi basa

E. Penentuan pH

Untuk dapat menentukan pH larutan garam yang berasal dari asam lemah dan

basa lemah, secara kuantitatif sukar dikaitkan dengan harga Ka dan Kb maupun

dengan konsentrasi garamnya. pH yang tepat hanya dapat ditentukan dengan cara

pengukuran.

Namun pH larutan garam ini dapat diperkirakan dengan menggunakan rumus


[H+] = Kw.Ka ; Kh = Kw
Kb Ka.Kb
F. Menghitung pH (Asam dan Basa)
1) Konsep pH dan pOH

pH atau derajat keasaman digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman

atau ke basaan yang dimiliki oleh suatu larutan. Yang dimaksudkan

keasaman di sini adalah konsentrasi ion hidrogen dalam pelarut air. Nilai pH

berkisar dari 0 hingga 14. Derajat atau tingkat keasaman larutan bergantung

pada konsentrasi H+ dalam larutan. Semakin besar konsentrasi

ion H+ makin asam larutan.

Nilai pH 7 dikatakan netral karena pada air murni ion H + terlarut dan ion

OH- terlarut (sebagai tanda kebasaan) berada pada jumlah yang sama, yaitu 10-

7 pada kesetimbangan. Penambahan senyawa ion H+ terlarut dari suatu asam

akan mendesak kesetimbangan ke kiri (ion OH- akan diikat oleh H+ membentuk

air). Akibatnya terjadi kelebihan ion hidrogen dan meningkatkan

konsentrasinya.

Sorensen (1868 1939), seorang ahli kimia dari Denmark mengusulkan

konsep pH untuk menyatakan konsentrasi ion H+, yaitu sama dengan negatif

logaritma konsentrasi ion H+. Secara sistematis diungkapkan dengan

persamaan sebagai berikut :

pH = - log [H+]

Analog dengan di atas, maka :

pH = - log [OH-]

Sedangkan hubungan antara pH dan pOH adalah :


Kw = [H+] [OH-]

Kw = - log [H+] + - log [OH-]

Maka :

pKw = pH + pOH

Pada temperatur kamar : pKw = pH + pOH = 14

Atas dasar pengertian ini, maka :

(a) Netral : [H+] = 1,0 x 10-7 M atau PH = 7 dan


[OH-] = 1,0 x 10-7 M atau PH = 7
(b) Asam : [H+] > 1,0 x 10-7 M atau PH < 7 dan
[OH-] < 1,0 x 10-7 M atau POH > 7
(c) Basa : [H+] < 1,0 x 10-7 M atau PH > 7 dan
[OH-] > 1,0 x 10-7 atau POH < 7

Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan beberapa rumus sebagai berikut :

Jika [H+] = 1 x 10-n, maka pH = n

Jika [H+] = x x 10-n, maka pH = n - log x

Sebaliknya, jika pH = n, maka [H+] = 10-n

Contoh soal menyatakan hubungan pH dengan [H+]

1. Berapa pH larutan jika konsentrasi ion [H+] sebesar :

a. 1 x 10-3 b. 5 x 10-6

Jika diketahui log 2 = 0,3

Jawab :

b. [H+] = 1 x 10-3 pH = - log (1 x 10-3)

=3
c. [H+] = 5 x 10-6 pH = -log (5 x 10-6)
= 6 log 5
= 6 log 10/2
= 6 ( log 10 log 2)
= 5 + log 2
= 5,3
3) Penghitungan pH

Telah disinggung dalam pembahasan sebelumnya bahwa asam terbagi

menjadi dua, yaitu asam kuat dan asam lemah. Begitu juga pada larutan

basa terbagi menjadi dua, yaitu basa kuat dan basa lemah. Pembagian ini

sangat membantu dalam penentuan derajat keasaman (pH).

(a) Asam kuat

Disebut asam kuat karena zat terlarut dalam larutan ini mengion

seluruhnya ( = 1). Untuk menyatakan derajat keasamannya, dapat

ditentukan langsung dari konsentrasi asamnya dengan melihat

valensinya. Rumus :

[H+] = x . [HA]

pH = - log [H+]

Contoh : a) Hitung pH larutan dari 100 ml larutan 0.01 M HCl!

Jawab :

HCL H+ + Cl-

[H+] = x . [HA] pH = - log 10-2

= 1 x 0.01 M pH =2

= 10-2 M

b) Berapa pH dari :

a. Larutan HCL 0,1 M

b. Larutan H2SO4 0,001 M


Jawab:

a. HCL H+ + Cl- b. H2SO4 2 H+ + SO42-

[H+] = x . [HA] [H+] = x . [HA]

= 1 . 0,1 = 0,1 M = 2 . 0,001 = 2 x 10-3 M

pH = - log 0,1 = - log 10-1 pH = - log 2 x 10-3

=1 = 3 log 2

c) Hitung pH larutan dari 2 liter larutan 0.1 mol asam sulfat!

Jawab :

Molaritas = mol/v = 0,1 / 2 = 0.05 M

H2SO4 2 H+ + SO42-

[H+] = x . [HA] pH = - log 10-1

= 2 . 0.05 =1

= 0,1 = 10-1 M

a. Asam lemah

Disebut asam lemah karena zat terlarut dalam larutan ini tidak mengion

seluruhnya, 1, (0 < < 1). Penentuan besarnya derajat keasaman tidak

dapat ditentukan langsung dari konsentrasi asam lemahnya (seperti halnya

asam kuat).

Penghitungan derajat keasaman dilakukan dengan menghitung

konsentrasi [H+] terlebih dahulu dengan rumus :

[H+] = Ka . [HA] atau [H+] = M x

pH = - log [H+]
Ket : Ka = tetapan ionisasi asam lemah

[HA] = konsentrasi asam lemah

Contoh :

1. Hitunglah pH dari 0,025 mol CH3COOH dalam 250 mL larutannya,

jika Ka =10-5 !

Jawab :

Molaritas = mol/v = 0,025/0,25 = 0.1

[H+] = Ka . [HA] pH = - log 10-3

= 10-5 . 0,1 =3

= 10-6

= 10-3 M

Cat : Semakin besar konsentrasi ion H+, semakin kecil nilai pH. Larutan

dengan pH = 1 adalah 10 kali lebih asam dari larutan dengan pH = 2.

2. Hitunglah pH larutan dari HCOOH 0,05 M (Ka = 1,8 x 10-4)

Jawab :

[H+] = Ka . [HA] pH = - log 3 x 10-3

= 1,8 x 10-4 . 0,05 = 3 log 3

= 9 x 10-6

= 3 x 10-3 M

3. Hitunglah pH larutan H2S 0,01 jika diketahui Ka1 = 8,9 x 10-8 dan

Ka2 = 1.2 x 10-13 !

Jawab
[H+] = Ka . [HA]

= 8,9 x 10-8 x 0,01

= 3 x 10-5 M

pH = -log 3 x

= 5 log 3

= 4,52

Cat : Perhatikan bahwa asam yang dinyatakan ( S) mempunyai nilai yang

relatif kecil (kurang dari 1 x , maka konsentrasi ion praktis hanya

ditentukan oleh ionisasi tahap pertama. Oleh karena itu, tinggal

memasukkan data yang ada (konsentrasi dan ) ke dalam rumus yang

digunakan untuk asam lemah.

4. Hitunglah pH dari HCOOH 0,1 M ( = 0,01)

Jawab

[H+ ] =M x

= 0,1 x 0,01

= 0,001 = 10-3 M

pH = - log 10-3

=3

b. Basa kuat

Disebut basa kuat karena zat terlarut dalam larutan ini

mengion seluruhnya ( = 1). Pada penentuan derajat keasaman dari


larutan basa terlebih dulu dihitung nilai pOH dari konsentrasi

basanya. Rumus :

[OH-] = x. [M(OH)] pOH = - log [OH-]

pH = 14 - pOH

pH larutan basa kuat dapat ditentukan dengan alur sebagai

berikut.

a) Tentukan [OH-] berdasarkan perbandingan koefisien


b) Tentukan pOH dengan rumus pOH = - log [OH-]
c) Tentukan pH berdasarkan pH = 14 pOH

Contoh :

1) Hitung pH dari :

a. 100 mL larutan KOH 0,1 M ! b. Larutan Ca(OH)2 0,001 !

Jawab :

a. KOH K+ + OH-

[OH-] = x. [M(OH)]

= 1 . 0,1 M = 10-1 M

pOH = - log 10-1 pH = 14 pOH

=1 = 14 1

b. Ca(OH)2 Ca2+ + 2OH-

[OH-] = x. [M(OH)]

= 2 . 0,001 = 2 x 10-3 M

pOH = - log 2 x 10-3


= 3 log 2

pH = 14 - pOH

= 14 (3-log 2)

= 11 + log 2

c. Basa lemah
Disebut basa lemah karena zat terlarut dalam larutan ini tidak

mengion seluruhnya, 1, (0 < < 1). Penentuan besarnya

konsentrasi OH- tidak dapat ditentukan langsung dari konsentrasi

basa lemahnya (seperti halnya basa kuat), akan tetapi harus

dihitung dengan menggunakan rumus :

[OH-] = Kb . [M(OH)] atau [OH-] = M x

pOH = - log [OH-] pH = -14 - pOH

Contoh:

1. Hitung pH dari larutan 500 mL amonia 0,1M (Kb= 4 x 10-5

Jawab: NH4OH NH4+ + OH-

[OH- ]= Kb . [M(OH)]

= 4x 10-5 . 0,1

= 4 x 10-6

= 2 x 10-3 M

pOH = - log 2 x 10-3

= 3 log 2

pH = 14 pOH

= 14 (3 - l0g 2)

= 11 + log 2