Anda di halaman 1dari 108

LIPID

Kelompok 3 :
Ananda Tri Adhityaxena 1506675850
Mustika Sari 1506675882
Nur Widdya Damayanti 1506675863
Putri Ratna Sari 1506675831
Reysa Anggraini Vestiaa Putri 1506675806
OUTLINE STRUKTUR LIPID

FUNGSI LIPID

BIOSINTESIS LIPID

DETEKSI/ANALISIS LIPID

APLIKASI LIPID DI BIDANG KOSMETIK


STRUKTUR LIPID
Memiliki
komposisi yaitu
C, H, dan O
serta
terkadang
memiliki unsur
N dan P

Tidak dapat
Lipid tidak
larut dalam air
memiliki gugus
tetapi larut
dalam pelarut LIPID fungsi khusus
organik

Lipids adalah
senyawa non-
polar
(hydrophobic)
Strukur Golongan Lipid
Golongan Lipid dibagi menjadi:

Lemak
Setiap golongan lipid
memiliki struktur dan
Fosfolipid fungsi yang berbeda.

Steroid
Trigliserida
Dalam makanan, lipid yang
terkandung adalah lemak atau
disebut dengan trigliserida.
Ini berarti bahwa mereka terbuat
dari gliserol dikombinasikan O O
dengan tiga asam karboksilat, OH2C H HO C C17H35 H2C O C C17H35
yang kita sebut asam lemak. O O
Bentuk ester ini melalui dehidrasi. HC H HO C C17H35 HC O C C17H35
O O
OH2C H HO C C17H35
H2C O C C17H35
Asam Lemak
Asam Lemak

Struktur Asam Lemak Jenuh dan Tak Jenuh


(http://www.fungsi.web.id)

Asam lemak mengandung rantai Asam lemak ada dua jenis yaitu
hidrokarbon dengan sebuah asam asam lemak jenuh dan tak jenuh.
karboksilat di akhirnya.
Gliserol

Gliserol adalah sebuah komponen utama


dari semua lemak dan minyak, dalam
bentuk ester yang disebut gliserida.
Fosfolipid

Fosfolipid adalah bagian dari sel, karena


mereka adalah pembentuk membrane.
Terdiri atas dua asam lemak yang
berhubungan dengan gliserol.
Fosfolipid merupakan suatu molekul
amfipatik yang berarti bahwa molekul ini
memiliki daerah hidrofilik maupun daerah
hidrofobik.
Steroid
Salah satu steroid adalah kolesterol. Strutur steroid memiliki kerangka karbon
Contoh lain steroid adalah hormone seks yang memiliki 4 cincin karbon.
pada vertebrata.
Sifat Fisika dari Lipid
Pada suhu kamar, jika berbentuk cair Larut dalam solven semacam alkohol,
cenderung disebut dengan minyak. hidrogen, dan oksigen, tetapi kadar
Jika berbentuk padat disebut sebagai oksigen setiap molekulnya lebih rendah
lemak, dari yang dimiliki karbohidrat.
Tidak larut dalam air sehingga disebut Juga larut dalam pelarut nonpolar, seperti
hidrofobik (takut air), sifat ini sangat kloroform dan eter.
penting dalam pembentukan membran sel. Minyak mempunyai titik leleh dan titik didih
Namun, fosfolipid bersifat ampifatik, yaitu lebih rendah daripada lemak.
dalam satu molekul ada bagian molekul
yang nonpolar dan hidrofob dan di bagian
ada yang polar dan hidrofil (suka air).
Sifat Kimia Lipid
Berdasarkan reaksinya, sifat kimia lipid terbagi menjadi
Oksidasi
Proses oksidasi pada lipid merupakan
proses dimana radikal menyerang lipid
sehingga terjadi proses yang rumit dan
menghasilkan produk berupa aldehid yang
reaktif dan senyawa peroksida
Sifat Kimia Lipid
Hidrogenasi
Hidrogenasi adalah proses yang menggunakan gas
hidrogen untuk mengubah minyak nabati cair
menjadi olesan/margarin. Proses ini menstabilkan
minyak dan mencegah basi akibat oksidasi.
Asam lemak tak jenuh pada lipid dapat diadisi atau
dihidrogenisasi. Proses adisi ini akan membuat
ikatan rangkap terputus dan hidrogen akan masuk
untuk menstabilkan muatan. Proses ini
memerlukan katalis seperti nikel atau platinum.
Sifat Kimia Lipid
Hidrolisis
Lemak dapat dihidrolisis menjadi asam lemak & gliserol
Hidrolisis dapat berlangsung baik secara enzimatik maupun katalik anorganik
Hidrolisis enzimatik bersifat selektif, artinya hanya posisi tertentu saja yang diserang
ex : enzim lipase dari pankreas, akan menghidrolisis ester triasilgliserol pd posisi 1 dan 3 saja,
sedangkan posisi 2 tetap utuh tdk diserang
Hidrolisis triasilgliserol dg katalisator asam banyak dilakukan utk mendptkan AL dan gliserol

CH2-O-CO-C15H31 CH2 OH
H2O, H+
CH -O-CO-C15H31 CH - OH + 3 C15H31COOH

CH2-O-CO-C15H31 CH2 OH

tripalmitin gliserol asam palmitat


Sifat Kimia Lipid
Saponifikasi
Bila hidrolisis triasilgliseol dengan basa, akan menghasilkan gliserol dan garam alkali dari asam lemaknya --- yang disebut SABUN.
Karena menghasilkan sabun, maka hidrolisis dgn cara ini disebut dgn REAKSI PENYABUNAN ( SAPONIFIKASI )
Basa yang biasa digunakan : NaOH atau KO

Angka Saponifikasi / Angka penyabunan :


Adalah banyaknya miligram KOH/NaOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan 1 gram lemak/minyak
Bila angka penyabunannya rendah ---- BM rata-rata asam lemaknya relatif tinggi
Sifat Kimia Lipid

Esterifikasi
Proses esterifikasi terjadi pada asam lemak yang bereaksi dengan
alkohol.
Reaksi ini merupakan kebalikan dari reaksi hidrolisis atau saponifikasi.
Berdasarkan bilangan, dimana suatu nilai menunjukan sifat/karakteristik molekul lipid dari sifat
kimianya, serta sebagai suatu acuan untuk menunjukan kualitas dari lipid.

Peroksida Asam
Bilangan peroksida atau peroxide value (PV) merupakan Bilangan asam atau Acid Value (AV) merupakan
suatu bilangan yang menunjukan kemungkinan suatu suatu bilangan yang menunjukan karakteristik
molekul lipid (khususnya : asam lemak) untuk molekul lipid yang mengandung asam lemak. Dimana
teroksidasi. bilangan ini menunjukan saat suatu molekul lipid
dipecah dengan proses hidrolisis, seberapa banyak
Dimana proses oksidasi adalah suatu proses yang
asam lemak yang dihasilkan dari reaksi tersebut.
sangat dihindari. Dikarenakan, proses oksidasi dapat
menghasilkan produk-produk yang berbahaya bagi tubuh
seperti aldehid dan peroksida yang bersifat
karsinogenik. Semakin tinggi nilai bilangan peroksida
maka semakin buruk kualitas suatu minyak.
Penamaan Lipid
Sistematik Trivial
Penamaan secara sistematik merupakan penamaan Penamaan lipid secara trivial atau umum tidak
yang dilakukan bedasarkan aturan IUPAC. Penamaan memiliki aturan dan bentuk penamaan secara jelas,
secara sistematik jauh lebih rumit dibandingkan sehingga nama yang dimiliki masing-masing lipid
penamaan lainnya, namun penamaan secara
sisematik bersifat detil dan deskriptif. Sehingga
harus diafalkan. Berikut ini nama trivial dari asam
dapat dikatakan sebagai penamaan paling baik. Pada lemak dan fosfolipid :
lipid yang mengandung asam lemak penamaan
secara IUPAC terdapat aturan seperti penggunaan
penaman cis-trans atau e-z jika terdapat ikatan
rangkap.
Nama Trivial Asam Lemak dan Fosfolipid
Nomenklatur x Nomenklatur n-x
Dalam penamaan secara delta Penamaan yang hampir mirip dengan
nomenclature, penamaan dilakukan penamaan delta, perbedaannya hanya
dengan 3 informasi yang harus terletak pada perhitungan letak ikatan
diketahui, yaitu : rangkap. Hal-hal yang harus diketahui,
1. Jumlah karbon pada asam lemak yaitu :
2. Jumlah ikatan rangkap 1. Jumlah karbon pada asam lemak
3. Letak ikatan rangkap, dimana ikatan 2. Jumlah ikatan rangkap
rangkap pertama dihitung dari ujung 3. Letak ikatan rangkap, dimana ikatan
karbonoat. rangkap pertama dihitung dari ujung metil.
Berikut ini contohnya : Berikut ini contohnya :
Bilangan Lipid
Nomenklatur
Penamaan bedasarkan bilangan lipid merupakan
Penamaan yang memiliki penamaan yang mendasarkan penamaan
kesamaan dengan bedasarkan :
penamaan n-x. 1. Jumlah karbon pada asam lemak
2. Jumlah ikatan rangkap pada asam lemak
Karena penamaan bedasarkan bilangan lipid
kurang spesifik, dimana tidak terdapat letak
ikatan rangkap pertama, maka penamaan
bilangan lipid digabungkan dengan penamaan
lainnya.
Berikut ini contohnya, penamaan pada asam
oleik (penamaan bilangan lipid : 18:1)
FUNGSI LIPID
1. Lipid Sebagai Sumber Energi
Lipid disimpan sebagai cadangan energi yang jauh melebihi energi yang tersimpan di
glikogen, sebab tubuh manusia tidak mampu menyimpan energy di glikogen sebanyak
energy di lipid. Lipid menghasilkan 9 kkal energi per gram sedangkan karbohidrat dan
protein hanya menghasilkan 4 kkal energi per gram.

Cadangan lipid mengandung 100.000 kkal energy, sehingga dapat mempertahankan fungsi
tubuh manusia tanpa makanan selama 30-40 hari dengan air yang cukup.
2. Lipid Sebagai Penyusun Membran Sel
Penyusun membran sel atau biasa disebut
membran plasma terbentuk oleh dua
komponen yaitu lipid dan protein. Membran
Sel tersusun dari 40% Fosfolipid dan sisanya
oleh protein.

Terbentuknya membran sel akibat dari


struktur molekularnya terbantu oleh
kemampuan fosfolipid. Di sini, fosfolipid
adalah salah satu molekul amfipatik yang
memiliki daerah hidrofolik dan hidrofobik atau
daerah dimana cenderung menyukai air dan
takut dengan air.
3. Lipid Sebagai Insulator
Lapisan lemak (Lipid) di bawah kulit
merupakan insulator sehingga tubuh
dapat mempertahankan suhu normal.
Apabila lapisan lemak terlalu tebal, karena
terlalu gemuk, pada cuaca panas orang
akan kegerahan. Sebaliknya pada orang
kurus, lapisan lemak dibawah kulit sangat
tipis, pada cuaca dingin orang kurus akan
kedinginan.
BIOSINTESIS LIPID
Sintesis Asam Lemak
Hewan Tumbuhan
Where ??

Sitosol Kloroplas

Diatur oleh hormon glukagon dan efinerfrin yang dapat menonatifkan asetil Koa karboksilase
Sintesis Asam Lemak

Protein yang berperan pada sintesis asam lemak


Acyl Carrier Protein (ACP)
Acetyl Coa-ACP transacetylase (AT)
-Ketoacyl-ACP sythase (KS)
Malonyl-CoA-ACP-tansferase (MT)
-Ketoacyl-ACP Reductase (KR)
-Hydroaxyacyl-ACP-dehydratase (HD)
Enoyl-ACP Reductase (ER)
Sintesis Asam Lemak

Pembentukan malonil-Koa dengan bantuan asetil-


Koa karboksilase sebagai donor CO2

Aktivasi kompleks sintase asam lemak untuk


memulai sintesis dengan cara penempelan gugus
asetil-Koa ke gugus Cis-SH dibantu oleh acetyl CoA-
ACP transacetylase dan penempelan gugus malonil-
KoA ke gugus SH dari ACP (dikatalis oleh malonyl-
CoA-ACP trasferase
Tahapan Sintesis Asam Lemak

Reduksi gugus karbonil


Reduksi ikatan
rangkap

Kondensasi Dehidrasi
Sintesis Asam Lemak
1. Kondensasi
Asetil-Koa + Malonil-Koa -> Asetoasetil ACP + CO2
Protein : -Ketoacyl-ACP-synthase (KS)
Sintesis Asam Lemak

2. Reduksi Gugus Karbonil


Pelepasan gugus karbonil dari Asetoasetil ACP + e- dari
NADPH D--hidroksi butilil-ACP

Protein : -Ketoacyl-ACP Reductase (KR)


Sintesis Asam Lemak

3. Dehidrasi (membentuk ikatan rangkap)


D--hidroksi butilil-ACP trans-2-butenoil-ACP + H2O

Protein : -Hydroxyacyl- ACP-dehydratase (HD)


Sintesis Asam Lemak

4. Reduksi Ikatan Rangkap


Ikatan rangkapnya tereduksi + e- dari NADPH Butiril-
ACP

Protein : Enoyl-ACP Reduktase (ER)


SINTESIS ASAM LEMAK (contd)
Sintesis Asam Lemak
Setelah terbentuk butiril-ACP (4C), siklus reaksi terjadi lagi. Dimulai dari pemindahan butiril-ACP dari gugus
SH ke Cis-SH dan penempelan malonil-KoA ke gugus SH.

Setiap selesai 1 siklus, akan ada 2C bertambah pada produk akhir.

Siklus berlangsung terus hingga terbentuk palmitat (16 C), kemudian palmitat ini akan lepas dari kompleks
sintase asam lemak.

Palmitat dapat mengalami elongasi (di RE) membentuk stearat, oleat, linoleat (tumbuhan), melalui
mekanisme yang sama seperti pembentukan palmitat.
Sintesis Asam Lemak
Sintesis Triasilgliserol
Where Hati & jaringan adiposa

Precursor Gliserol-3-fosfat (dibentuk dari piruvat melalui gliseroneogenesis


atau glukoneogenesis)
Asil lemak-KoA (dibentuk dari asam lemak oleh asil-KoA sintase)

Diproduksi saat laju konsumsi karbohidrat, protein,


Regulation lemak telah melebihi kapasitas organisme untuk
menyimpannya dalam bentuk glikogen. Dipengaruhi
hormon insulin
Tahapan Sintesis Triasilgliserol
Asilasi gugus hidroksil gliserol-3-fosfat oleh 2 molekul asil lemak-
KoA untuk menghasilkan asam fosfatidik (fosfatidat)
Hidrolisis asam fosfatidik oleh asam fosfatidik fosfatase membentuk
1,2 diasilgliserol
Konversi diasilgliserol menjadi triasilgliserol dengan
transesterifikasi menggunakan asil lemak-KoA
Sintesis Fosfolipid
(ester gliserol + 2 asam lemak + fosfat)
Fosfolipid berfungsi sebagai media transportasi antar sel. Fosfolipid dibentuk dengan esterifikasi alkohol
terhadap Phospatidic Acid (PA). PA dapat digunakan dalam sintesis dengan 2 cara :
1. Hidrolisis gugus fosfat pada PA yang menghasilkan diacylglycerol dengan penggabungan lipid dan PA di
Retikulum Endosplasma.
2. PA untuk menyintesis fosfolipid tambahan dengan menambahkan CTP sebagai sumber energi dan
membentuk CDP-diacylglycerol mengganti grup fosfat dari PA dengan gugus fosfat lainnya.
Sintesis Fosfolipid
Biosintesis Kolesterol
Sintesis kolesterol terdiri dari 4 tahap :

Sintesis Melvalonat

Sintesis Isoprenoid

Sintesis Skualen

Sintesis Akhir Kolesterol


1. Sintesis Mevalonate dari Asetat

1 : Pembentukan asetoasetil-koA yang membutuhkan


3 molekul asetil-koA.

2 : Pembentukan -hidroksi- -metilglutaril-koA. Proses ini melibatkan 3 : Reaksi reduksi -hidroksi- -metilglutaril-koA
katalis thiolase dan HMG-KoA sintase. membentuk Mevalonat
2. Sintesis Isoprenoid

1 : Dengan bantuan ATP dan katalis mevalonate kinase, Mevalonate


akan difosforilasi menjadi 5-fosfomevalonate.

2 : Dengan bantuan dengan ATP dan fosfomevalonat kinase, 5-


fosfomevalonate akan diubah menjadi 5-pirofosfomevalonat.
2. Sintesis Isoprenoid (contd)

3 : Dengan bantuan ATP dan fosfomevalonate


dekarboksilase, akan menghasilkan 3-fosfo-5-
pirofosfomevalonat

4 : 3-fosfo-5-pirofosfomevalonat diubah
menjadi 3-isopentenil pirofosfat

5 : Akan di hasilkan 3-isopentil pirofosfate


atau dimetilalil pirofosfat
2. Sintesis Isoprenoid (contd)

Sebagai senyawa essensial


intermediate dari kolesterol, maka
senyawa isopentenyl pyrophosphate
berperan sebagai prekursor
teraktivasi pada banyak senyawa
biomolekular dengan berbagai macam
peran dalam dunia biologi.
3. Sintesis Skualen

1 : Dimetilalil pirofosfat dan 3-isopentenil


pirofosfat akan berkondensasi membentuk geranil
firofosfat dengan bantuan prenil transferase

2 : Geranil firofosfat akan di transfer


ke 3-isopentenil pirofosfat dan akan
menghasilkan farnesil
3. Sintesis Skualen (contd)

3 : 2 molekul farnesil pirofosftat akan berkondensasi


membentuk preskualen. Dengan bantuan sintase
preskualen akan dibentuk skualen yang sudah simetris
4. Sintesis Akhir Kolesterol

1 : Monooksigenisase dan NADPH


dan oksigen, skualen akan diubah
menjadi skualen 2,3-epoksida
dengan bantuan enzim skualen
ANALISIS LIPID
Isi Bahasan Analisis Lemak:

Uji Kualitatif

Uji Kuantitatif

Teknik Ekstraksi

Teknik Instrumentasi
Uji Kualitatif
Uji ketidakjenuhan

Uji ketengikan

Uji akrolein

Uji kelarutan

Uji Salkowski

Uji Lieberman Buchard


Uji Ketidakjenuhan
Tujuan: menentukan apakah asam lemak sampel merupakan asam lemak jenuh
atau tidak jenuh.
Langkah Kerja :
1. Asam lemak sampel dicampurkan dengan kloroform dengan perbandingan
1:1 dalam tabung reaksi.
2. Tabung dikocok hingga kedua larutan bercampur.
3. Pereaksi Iod Hubl dimasukkan setetes demi setetes sambil dikocok agar
bercampur, dengan mengamati juga perubahan warna yang terjadi.
Parameter :
- Asam lemak jenuh (warna merah tidak pudar)
- Asam lemak tidak jenuh (warna merah yang semakin lama semakin pudar)
.
Hasil Uji Ketidakjenuhan
SAMPEL HASIL KETERANGAN

Minyak kelapa + Warna merah

Asam oleat - Warna merah pudar

Mentega + Warna merah

Asam palmitat + Warna merah

Margarin + Warna merah

Lemak hewan + Warna merah

Minyak tengik + Warna merah

(+) Jenuh
(-) Tidak Jenuh
Uji Ketengikan
Tujuan: mengetahui apakah lipid telah tengik atau belum.
Langkah Kerja :

1. Sampel disiapkan dan ditambahkan HCl pekat.


2. Serbuk CaCO3 dimasukkan ke dalam larutan tersebut kemudian ditutup
dengan sumbat karet yang dijepitkan kertas floroglusinol.
3. Percobaan didiamkan selama 10-20 menit sambil diamati perubahan warna
yang terjadi pada kertas.
Parameter :
Jika kertas berubah warna menjadi merah muda, artinya sampel yang diuji sudah
tengik.
Namun apabila bewarna putih berarti sampel tidak tengik.
Gambar Uji Ketengikan Lemak
Uji Akrolein
Tujuan: mengetahui keberadaan gliserin dalam sampel.
Prinsip Kerja:
Uji ini dilakukan dengan mendehidrasi gliserol yang terdapat dalam sampel lipid
menjadi akrolein, yang jika hasilnya positif akan menimbulkan asap putih dan
bau seperti lemak terbakar.
Molekul yang digunakan untuk mendehidrasi gliserol adalah KHSO4.
KHSO4 ini akan menarik air dari gliserol, sehingga gliserol akan
menjadi akrolein.
Reaksi yang terjadi adalah seperti di bawah ini:
Uji Kelarutan
Tujuan: mengetahui kelarutan lipid dalam berbagai macam pelarut.
Prinsip Kerja:
Uji kelarutan ini dilakukan dengan mencampurkan sampel lipid dengan
berbagai macam pelarut.

Jika lipid larut dalam pelarut polar, lipid tersebut bersifat polar, dan begitu pula
sebaliknya.
hasil uji kelarutan

*Hampir semua minyak dan lemak larut pada pelarut non-polar


Uji Salkowski
Tujuan: mengidentifikasi keberadaan kolesterol dalam sampel.
Prinsip Kerja :
Uji ini dilakukan dengan melarutkan sampel dalam kloroform anhidrat dan
ditambahkan asam sulfat dengan jumlah volume yang sama.
Parameter :

Jika dalam sampel terdapat kolesterol, lapisan bagian atas akan berwarna merah
dan asam sulfat (lapisan bagian bawah) akan berwarna kuning dengan
fluoresens hijau.
Hasil Uji Salkowski
Uji Lieberman Buchard
Tujuan: mengidentifikasi keberadaan kolesterol dalam sampel.
Langkah Kerja :

1. 10 tetes asam asetat dilarutkan dalam larutan lipid dengan kloroform


anhidrat.
2. Asam sulfat pekat ditambahkan.
3. Tabung dikocok perlahan dan didiamkan beberapa menit.
Parameter :
Jika hasilnya positif, akan terjadi perubahan warna dari
pink biru keunguan hijau tua.
UJI KUANTITATIF
Penentuan Bilangan Iod
Penentuan Bilangan Peroksida
Penentuan Bilangan Saponifikasi
Penentuan Bilangan Asam Lemak Bebas

Penentuan Bilangan Asam Thiobarbiturat


(TBA)
Penentuan Bilangan Reichert-Meiser
Penentuan Nilai Anasidin
Penentuan Bilangan Iod
Bilangan iodium dinyatakan sebagai gram iodium yang diserap tiap 100 gram sampel.

B = volume titran blanko (mL)


S = volume titran sampel (mL)
N = normalitas Na2S2O3 (mol/1000 mL)
126.9 = berat molekul I2 (g/mol)
W = massa sampel (g)
Penentuan Bilangan Iod (cont)
Metode Metode Hanus, Metode Wijjs, atau metode Kaufmann
dan Von Hubl.
Langkah Kerja :
1. Menimbang sampel ditambah kloroform dan reagen.
2. Campuran didiamkan dalam tempat gelap selama 1 jam.
3. Larutan KI ditambahkan ke dalam campuran dan kemudian
dikocok.
4. Titrasi hasil tahap 3 dengan Na2S2O3 dan ditambahkan
indikator pati.
5. Titrasi dilakukan hingga warna berubah dari biru menjadi
putih bening.
6. Membuat blanko dan membandingkan dengan sampel.
Reaktan untuk Uji Bilangan Iod
Reagen Hanus : Larutan I2 dalam asam asetat glacial dan Br2
Reagen Wijjs : Larutan I2 yang dilewatkan Cl2
Reagen Kaufmann : campuran larutan Br2 dengan methanol, dan dijenuhkan dengan
natrium bromide (NaBr).
Reagen Von Hubl : larutan iodium dalam methanol dan larutan merkuri klorida
dalam etanol.
Penentuan Bilangan Peroksida
Bilangan peroksida adalah miliequivalen (mEq) peroksida per kg sampel.

S = volume titran sampel (mL)


B = volume titran blanko (mL)
N = normalitas Na2S2O3 (mEq/mL)
W = massa sampel (g)
1000 = factor konversi (g/kg)
Penentuan Bilangan Peroksida
(cont)

Langkah Kerja :
1. Asam asetat glacial dan isooktan dengan perbandingan 3:2.
2. Ditambahkan kalium iodide (KI) berlebih.
3. Larutan tersebut dititrasi dengan natrium thiosulfat standar dengan indicator
amilum. Titrasi dilakukan hingga warna biru indicator berubah menjadi putih
bening.
4. Membuat blanko dan membandingkan dengan sampel.
Penentuan Bilangan Saponifikasi
Bilangan penyabunan adalah milligram KOH yang dibutuhkan
untuk menyabunkan 1 gram sampel.

S = volume titran sampel (mL)


B = volume titran blanko (mL)
N = normalitas HCl (mmol/mL)
W = massa sampel (g)
56.1 = berat molekul KOH (mg/mmol)
Penentuan Bilangan Penyabunan
(cont)

Langkah Kerja:
1. Sampel ditambahkan KOH berlebih dan dipanaskan agar proses penyabunan
berlangsung.
2. Larutan tersebut ditirasi dengan HCl standar dengan indikator PP
(fenolftalein). Titrasi ini dilakukan untuk mengetahui jumlah KOH yang
berlebih pada campuran nomor 1.
3. Buat blanko dan bandingkan dengan sampel.
Penentuan Bilangan Asam Lemak Bebas
Bilangan asam lemak bebas adalah jumlah mg KOH yang
dibutuhkan untuk menetralkan asam lemak yang berada dalam
1 gram lemak atau minyak.

%FFA = persen asam lemak bebas (g/100 g)


V = volume KOH yang dititrasi (mL)
N = normalitas KOH yang dititrasi (mol/1000 mL)
W = massa sampel (g)
Mr = berat molekul asam lemak yang dihitung (g/mol)
Bilangan Asam Lemak Bebas
Bilangan asam ini digunakan sebagai indicator kualitas minyak goreng dengan batasan
2 mg KOH/g minyak.
Langkah Kerja :
1. Sampel lemak atau minyak yang cair dicampurkan dengan etanol 95% netral.
2. Larutan ini kemudian dititrasi dengan KOH dengan indicator PP.
Penentuan Bilangan TBA
Penentuan bilangan TBA biasanya digunakan untuk mengukur tingkat oksidasi lipid.
Jika senyawa direaksikan dengan pereaksi TBA, akan menghasilkan pigmen warna
merah (dengan = 530 nm).
Jadi, semakin tinggi bilangan TBA maka tingkat oksidasi lipid tersebut juga semakin
tinggi.
Penentuan Bilangan Reichert-Meissel

Bilangan Reichert-Meissel adalah jumlah mL NaOH 0.1 N yang digunakan untuk


menetralkan asam lemak yang menguap dan larut dalam air yang diperoleh dari
penyulingan 5 gram lemak atau minyak dalam kondisi tertentu.

S = volume NaOH 0.1 N titrasi sampel (mL)


B = volume NaOH 0.1 N titrasi blanko (mL)
Penentuan Nilai Anasidin
Nilai anasidin digunakan untuk mengukur oksidasi sekunder lipid.
Untuk menentukannya dengan percobaan, sampel direaksikan dengan pereaksi para-
anasidin pada pelarut asam asetat.
Hasil dari percobaan ini adalah warna larutan menjadi kuning yang absorbansinya
dapat diukur pada panjang gelombang 350 nm.
TEKNIK EKSTRAKSI SAMPEL
TEKNIK EKSTRAKSI SAMPEL
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyiapkan sampel yang akan diekstraksi,
yaitu:
Pengeringan sampel.
Mengecilkan ukuran partikel sampel.
Hidrolisis asam.
Pemilihan solven.
Jenis-Jenis Teknik Ekstraksi Lipid dengan
Solvent:
Batch Solvent Extraction
Semi-continuous Solvent Extraction
Continuous Solven Extraction
Accelerated Solven Extraction
Supercritical Fluid Extraction
Batch Solvent Extraction
Sampel dan solvent
dimasukkan

Dikocok

Didiamkan

Lipid dipisahkan

Pelarut diuapkan
Semi-continuous Solvent Extraction

Metode Soxhelt
Prinsip kerja metode ini adalah pelarut
mengekstraksi lipid (yang terlarut) ke
dalam wadah. Lipid akan tetap terlarut
dalam pelarut karena tidak mudah
menguap.
Continuous Solven Extraction
Metode Goldfisch
Pelarut diuapkan dan
kemudian terkondensasi
sehingga embunnya jatuh ke
sampel yang akan melarutkan
lipid dan membawa lipid
tersebut ke bawah ke suatu
tempat yang terpisah dari
sampel dan pelarut.

Kelemahan dari metode ini


adalah tidak semua bagian
sampel dilalui pelarut.
Accelerated Solven Extraction
Ekstraksi solven dapat dipercepat dengan menaikan tekanan atau suhu sistem
metode yang digunakan.
Keuntungan dari perlakuan ini adalah jumlah pelarut yang dibutuhkan lebih sedikit
daripada perlakuan normal.
Supercritical Fluid Extraction
Teknik ini menggunakan fluida superkritis yang berupa CO2.
CO2 superkritis ini akan mengekstraksi lipid dari sampel dan membentuk lapisan
pelarut yang berbeda dari komponen aqueous.
Ekstraksi Non-Solven
Sejumlah ekstraksi cair tidak menggunakan pelarut organik untuk memisahkan lemak
dari bahan lain dalam makanan, contohnya dengan metode Babcock, Gerber dan
Deterjen, yang sering digunakan untuk menentukan kadar lemak dalam susu dan
produk olahan (dairy product).
1. Metode Babcock
Sejumlah sampel susu dipipet secara akurat ke dalam botol
Babcock.
Asam sulfat dicampur dengan susu, yang akan mendigesti protein>
menghasilkan panas dan merusak lapisan yang mengelilingin
droplet lemak> melepaskan lemak.
Sampel > disentrifuse saat masih panas (55-60oC) > menyebabkan
lemak cair naik ke leher botol.
Leher botol telah diberi skala yang menunjukkan persen lemak.
membutuhkan waktu 45 menit,presisi - 0,1%. Metode ini tidak
menentukan kadar fosfolipid dalam susu, karena berada di fase air
atau di antara fase lemak dan air.
Yuk Lanjut..
2. Metode Gerber

Menggunakan asam sulfat da isoamil alkohol

Lebih cepat dan sederhana dibandingkan metode Babcock

Isoamil alkohol -> mencegah pengarangan gula karena panas dan


asam sulfat (pada metode babcock menyebabkan kesulitan
pembacaan skala.

Metode ini tidak menetukan fosfolipid


3 Metode Deterjen
Sampel dicampur dengan kombinasi surfaktan dalam botol
Babcock.

Surfaktan akanmenggantikan membran yang menyelubungi droplet


emulsi dalam sampel susu,menyebabkan lemak terpisah.

Sampel disentrifugasi sehingga lemak akan berada di leher botol


sehingga kadar bisa ditentukan.
TEKNIK INSTRUMENTASI
Instrumentasi
HPLC
HPLC dapat digunakan untuk memisahkan zat-zat yang tidak mudah menguap,
memiliki berat molekul yang besar, dan dapat dilakukan pada suhu kamar. HPLC
memiliki 5 komponen dasar, yaitu fase gerak, pompa, injector, kolom, dan detector.
HPLC Asam Lemak
Jenis kolom HPLC yang digunakan :
Normal dan Reversed
Asam lemak jenuh dan tak jenuh dapat dipisahkan sebagai metil ester
Asam lemak dengan gugus OH dapat dideteksi 254 nm tanpa derivatisasi
HPLC Gliserida
Banyak dilakukan pemisahan trigliserida berdasarkan jumlah atom C
Terdapat hubungan liner antara log waktu retensi dengan atom C kejenuhan
Setiap tambahan ikatan rangkap 2 atom memperpendek waktu retensi
Instrumentasi (cont)
FAMEs-GC (Fatty Acid Methyl Esters Gas Chromatography)
Teknik ini digunakan untuk membentuk metil ester yang dapat dilewatkan di GC
untuk analisis GC-MS.

Asam lemak
Trigliserida Disaponifikasi
dimetilasi
jadi asam
diekstraksi menjadi metil
lemak
ester
Sebelum masuk ke GC, perlu dilakukan metilasi agar:
kepolarannya berkurang
meningkatkan kemampuan menguap molekul
GC-MS
Prinsip kerja dari instrumen GC adalah memisahkan senyawa dalam sampel
berdasarkan titik didih, ukuran, dan kepolaran. Senyawa-senyawa ini haruslah
bersifat volatile (mudah menguap) karena akan dianalisis dalam fasa gasnya.
Prinsip kerja dari instrument MS adalah mengukur perbandingan massa terhadap
muatan ion yang muatannya diketahui dengan mengukur jari-jari orbitnya dalam
medan magnet yang seragam.
Penggunaan lipid dalam pembuatan kosmetik
pelembab wajah
PENGERTIAN KOSMETIK PELEMBAB
Pada umumnya kosmetika pelembab terdiri dari berbagai minyak nabati, hewan, maupun
sintetis yang dapat membentuk lemak permukaan kulit buatan untuk melenturkan lapisan
kulit yang kering dan kasar dan mengurangi penguapan air di kulit.

Bahan dasar yang paling banyak digunakan dalam kosmetika pelembab adalah lemak, air,
dan alkohol
ALASAN KULIT DILEMBABKAN
Kerusakan pada epidermis kulit menyebabkan kulit menjadi retak-retak dan iritasi

Jika terus dibiarkan maka akan berkembang dan sisa-sisa sabun, kotoran akan
memasuki lapisan kulit tersebut dan menimbulkan peradangan yang melemahkan
kulit

Karena itu dibutuhkan pelembab untuk menghindari terjadinya kekeringan dan retak
pada kulit
FUNGSI LIPID (MINYAK) PADA KULIT
Lemak/minyak dapat membentuk lapisan tipis di permukaan kulit sehingga berfungsi
sebagai pelindung (ptotective film).

Lemak/minyak memiliki sifat pembasah (wetting effect) bagi keratin.

Jenis lemak/minyak tertentu seperti lemak hewani dan nabati mudah diabsorpsi oleh kulit.

Lemak hewani dan nabati tertentu mengandung bahan aktif seperti vitamin, hormon, dan
lestin yang bermanfaat bagi kulit.
PRODUK KOSMETIK
STRUKTUR KULIT

Pelembab di gunakan pada lapisan epidermis kulit, walau terkadang terdapat


pelembab yang dapat memasuki lapisan dermis pada kulit
KOSMETIK PELEMBAB DENGAN MINYAK NABATI

Minyak nabati tergolong senyawa lipid yang mempunyai komponen utama


senyawa gliserida dan asam lemak.

Minyak nabati terdiri dari 95-98% senyawa trigliserida, yaitu 3 molekul asam
lemak yang terikat pada gliserol.

Salah satu minyak nabati yang dapat digunakan sebagai bahan pelembab
adalah minyak kelapa (VCO)
Minyak kelapa (VCO)
Mengandung 93 % Asam lemak Jenuh ( 50.33 % asam laurat, 14,32 % asam kaproat,
10.25% asam kaprat, 12.91% asam miristat, dan 4,92% asam palmitat)

Asam laurat tersebut berfungsi sebagai anti bakteri, antiviral dan anti protozoa

Senyawa yang mengandung gugus C=C dan C=O dapat menyerap radiasi sinar uv
(Supratman, 2010)

Minyak kelapa terdiri dari asam lemak jenuh yang mengandung unsur C=O dan asam
lemak tidak jenuh mengandung unsur C=C dan C=O sehingga cocok untuk dijadikan
bahan kosmetik.
PROSES MANUFAKTUR DAN PENGEMBANGAN KOSMETIK

FORMULASI

IDENTIFIKASI

RISET & PENGEMBANGAN


PRODUK
PROSES PEMBUATAN KOSMETIK

PENCAMPURAN/MIXING PEMOMPAAN HEAT TRANSFER

PENGISIAN/FILLING FILTRASI
Referensi
Bintang, Maria. 2010. Biokimia : Teknik Penelitian. Jakarta: Erlangga.

http://artikeltop.xyz/struktur-dan-fungsi-lipid.html. [ONLINE]. (Accessed 18 September 2016).

Wildan, Farihah. 2016. PENENTUAN BILANGAN PEROKSIDA DALAM MINYAK NABATI DENGAN
CARA TITRASI. [ONLINE] Available at:
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:EMoyWUKyXbsJ:balitnak.litbang.perta
nian.go.id/index.php%3Foption%3Dcom_phocadownload%26view%3Dcategory%26id%3D67:3%2
6download%3D1063:3%26Itemid%3D1+&cd=2&hl=id&ct=clnk. [Accessed 17 September 2016].

Abdullah, Ilyas. 2016. Penentuan Angka Penyabunan CPO (Crude Palm Oil) | Ilyas Abdullah -
Academia.edu. [ONLINE] Available at:
https://www.academia.edu/9258116/Penentuan_Angka_Penyabunan_CPO_Crude_Palm_Oil_.
[Accessed 17 September2016].