Anda di halaman 1dari 6

Berdasarkan litologi dari batuan dasarnya, endapan bauksit dapat dikategorikan

menjadi 2 kategori yang umum, yakni endapan bauksit karstik dan endapan bauksit laterit
(Bardossy, 1982). Dimana tipe jenis endapan bauksit yang karstik dapat berasal adari
bermacam-macam material yang sangat tergantung daerah mana yang menjadi sumbernya
(Bardossy, 1982). Sedangkan laterit bauksit cenderung terbentuk oleh in-situ laterisasi,
selanjutnya, kualitas dan kadar dari endapan laterit sangat tergantung pada komposisi batuan,
iklim, topografi, drainase. Komposisi kimia, lokasi dari water table, aktivitas
mikroorganisme, dan lama durasi dari pelapukan (Bardossy dan Aleva 1990, Grub 1963,
Price 1997). Meskipun sebagian besar endapan bauksit merupakan jenis laterit, studi
geokimia dan genetik dari bauksit jarang dilakukan. Akibatnya, banyak penelitian yang
kurang mengungkapkan bagaimana pembentukan bijih yang ada di dalam laterit bauksit.

Sumber daya bauksit di China sangat melimpah, menduduki peringkat kelima di


seluruh dunia. Setelah New Guinea, Austalia, Brazil, dan Jamaika. Endapan bauksit banyak
ditemukan di provinsi Shanxi, Guizho, Guangxi, dan Henan. Endapan bauksit dengan
cadangan yang cukup besar baru saja ditemukan di Wuchuan, Zhengan, dan Daozhen (Utara
dari Guizho). Oleh sebabnya, penelitian dan eksplorasi banyak sekali dikembangkan di
Wuchuan-Zhengan-Daozhen (WZD) yang dilakukan oleh lembaga eksplorasi logam milik
pemerintah China. Lebih dari 20 endapan bauksit dengan jumlah lebih dari 0,1 billion tons
telah teridentifikasi pada daerah WZD, dengan beberapa daerah yang belum tereksplorasi
masih menyimbah potensi mineralisasi dari bauksit. Dibutuhkan pengetahuan geologi,
geomorfologi, dan geokimia yang kuat untuk mengetahui daerah lain yang sangat potensial
untuk diendapkannya bauksit pada daerah WZD.

Beberapa penelitian telah tibuat untuk memahami setting geologi dan kondisi dari
formasi pembawa endapan laterit bauksit di WZD, seperti penelitian oleh Jin, 2009; Kiu,
2007; Wu 2006, 2008; X. Liu, 2010; Yin, 2009). Akan tetapu detail dari pembentukan
endapan bijih masih sangat ambigu dan masih mengalami debat yang sangat panjang. Elemen
elemen yang dianalisa secara geokimia akan menjadi sebuah jawaban tentang bagaimana
endapan laterit terbentuk, bagaimana komposisi batuan, diagenesa, dan epigenetik yang
terkait dengan bauksitisasi

Setting Tektonik

Blok Cina bagian selatan terdiri dari Blok Yangtze di bagian timur laut dan Blok
Cathaysia di bagian tenggara (Fig. 1) . Blok tersebut muncul bersamaan dengan pembentukan
blok Cina bagian selatan sekitar 1000-800 Ma selama proses terbentuknya superkontinen
Rodinia (Li dan McCulloch, 1996; Li, 2009; Wang, 2006). Batuan yang tertua yang
tersingkap di Blok Yangtze adalah Kongling TTG Gneiss. Batuan neoproterozoikum, seperti
TTG gneis, granit, diorit, dan gabro tersebear luar di Blok Yangtze. Batuan dasar
metasedimen yang berada di selatan blok Yangtze terdiri dari dua jenis sekuen yang
dipisahkan oleh batas ketidakselarasan, yang menandai boundary antara lapisan
mesoproterozoikum dan neoproterozoikum. Lapisan yang berumuru mesoproterozoikum
termasuk di dalamnya bathial-abysal sandy-argillaceous sedimen terigen dengan
metarmofosa mafik-ultramafik yang berada di Provinsi Guangxi, Lengjiaxi, di bagian barat
Provinsi Hunan. Sedangnkan lapisan neoproterozoikum terletak di Provinsi Hunan
mengandung batupasir, batulanau, konglomerat, pelit, sedikit karbonat dan batuan vulkanik.

Daerah WZD terletak di dekat bagian selatan dari blok Yantze. Stratrigrafi yang
tersingkap umumnya berumur Cambrian, Ordovisian, Silur, Karbbon, Perm, Trias, Jura, dan
Quarter. Selama jaman kambrian hingga pertengahan silur, terjadi transgresi-regresi yang
besar akibat adanya pergerakan dari caledonian yang menghasilkan endapan-endapan yang
berumur cambrian-silurian di daerah WZD. Selanjutnya, tidak ditemukan singkapan pada
lapisan yang berumur silur, devon, dan karbon, dan pertengahan karbon pada area WZD.
Lapisan yang berumur karbon atas pada WZD adalah lapisan batugamping yang terbentuk
pada beberapa bagian dan juga telah mengalami erosi. Transgresi yang terjadi pada awal
pertengahan Perm, menyebabkan air laut merendam material yang berupa endapan laterit
bauksit dari Formasi Liangshan yang memiliki ketebalan 5-17 meter.

Kelurusan yang diakibatkan dari kompresi diakibatkan karena adanya antiklinorium,


sinklinorium, dan sesar yang memiliki arah NNE (Fig. 2). Lapisan yang mengandung bauksit
dikontrol oleh sinklin dan bijih-bijih yang ada terdapat pada sayap lipatan.

Setting Geologi dan Struktur

Studi geologi dan geokimia dari endapan bauksit yang berada pada daerah WZD
dipilih dari 4 endapan berharga (Wachangping, Xinmin, Sanjiang, dan Xinmu-Yanxi) dari
empat sinklin (Luchi, Nongqiao, Anchang, dan Danping). Endapan Wachangping yang
berada di sinklin Luchi merupakan yang terbesar dan merupakan endapan bauksit yang paling
penting di WZD. Dengan perkiraan cadangan 44 juta ton bauksit dengan kadar 40-79 wt.%
Al2O3 (Jin, 2009). Sinklin Nongqiao merupakan batuan induk dari 4 wilayah deposit dengan
endapan bauksit di Xinmin merupakan cadangan yang paling besar dengan estimasi 16 juta
ton. Sinklin Anchang menjadi batuan induk dari 5 endapan bauksit, dimana endapan bauksit
yang berada di Sanjiang dipilih untuk tujuan analisa.

Peta Geologi Daerah Endapan WZD

Endapan Xinmu-Yanxi yang berada di sayap lipatan bagian barat daya dari sinklin
Danping memiliki komposisi dari endapan yang berada Xinmu, Wujiasi, Yanxi. Endapan
bijih bauksit yang berada di Xinmu-Yanxi memiliki panjang 1000-2500 meter dan tebal 3-10
meter. Sinklin dan lapisan bauksit yang berada pada wilayah studi memiliki karakter geologi
dan stratigrafi yang hampir sama. Dari dasar hingga atas, sinkiln terdiri dari lumpur-lanau
bagian dari Janjiadian Group, batugamping dari Formasi Liangsham, batugamping maring
dari Formasi Qixia dan Maokou, batugamping dan marmer dari Formasi Wujiaping dan
Changxing. Tubuh bijih dikontrol oleh lapisan, litologi, dan struktur.

Metode Analisa

Dalam studi ini, 48 sampel dari bauksit laterit (UB, MB, LB simbol yang
merupakan karakter dari masing-masing tubuh bijih), batugamping Huanglong (HL) dan
Hanjiadian mud shale (HS) dianalisa secara mineralogi dan geokimianya. Sampel X-1 hingga
X-13 diambil dari endapan di Xinmin; sampel W1-W15 diambil dari endapan di
Wachangping; sampel S-2 hingga S-9 diambil dari endapan di Sanjiang; dan sampel Y-1
hingga Y-11 diambil dari endapan di Xinmu-Yanxi.

Semua analisa batuan secara geokimia dimasukkan ke mesh yang berukuran 200
menggunakan agate mill. Semua analisa sampel di analisa di State Key Laboratory of Ore
Deposit Geochemistry (SKLODG), Institute of Geochemistry, Chinese Academyof Sciences
(IGCAS). Major elemen ditentukan parallel sampel dan standar internasional sampel untuk
kontrol kualitas, dengan presisi lebih dari 5%. Trace elemen dianalisa menggunakan ELAN-
DRC e ICP-MS. Powdered sample dilarutkan dalam teflon bom bertekanan tinggi selama 48
o
jam pada suhu 196 C menggunakan HF + HNO3. Rh digunakan untuk memonitor sinyal
selama perhintungan. Standar internasional GBPG-1, OU-6, dan standar nasional China
GSR-3 dugunakan untuk analisa kontrol kualitas, dengan presisi yang lebih baik dari 5%.
Studi mineralogi menggunakan X-ray Diffraction atau XRD dan Scanning Electron
Miscroscope (SEM) di SKLOFG. XRD digunakan untu menentukan komposisi mineralogi.
Analisa SEM menggunakan EPMA-1600.

Hasil dan Pembahasan

a. Afinitas Batuan Induk

Elemen seperti Ti, Zr, Nb, Th, Ta, Hf, Ga, Cr dan Ni digunakan utnuk mengindetifikasi
batuan induk dari bauksit yang mengikuti berbagai tingkatan proses bauktisisasi, dikarenakan
elemen tersebut merupakan elemen yang bersifat immobile ketika proses pelapukan. Rasio
dari elemen immobile dalam bauksit dapat membantu dalam proses indentifikasi batuan
induk. Caranya adalah, rasio tersebut diplotkan dalam garis linier, kemudian melalui garis
linier tersebut dapat ditentukan sumber batuan induknya.

Terkadang, lapisan regional dapat menyumbang material dari bauksit. Meskipun


berdasarkan data geokimia bijih bauksit yang berada di kawasan Hanjiadian lebih condong ke
batuan beku sebagai komponen utama dari material suber, tidak ada pengaruh dari daerah
sekitar.

b. Faktor yang mengontrol Distribusi Trace Elemen


Pengkayaan dari trace element sangat dipengaruhi oleh mineral fase pada batuan sumber.
Elemen yang bersifat sangat mobile dapat memperkaya bauksit apabila host mineral tidak
terlarut. Pada umumnya, proses pelapukan dari mineral pada batuan induk dapat
mempengaruhi mobilisasi dari elemen dan fraksinasi pada LREE dan HREE, sama seperti
anomail Ce dan Eu. REE dilepaskan dari mineral primer dan terabsorsi pada seluruh
permukaan mineral (carier mineral) pada proses kaolinisasi dan laterisasi. Banyak mineral
yang dapat dikatergorikan sebagai mineral potensial dari REE seperti mineral lempung,
mineral fosfat, Mn-Oksida, dan hiroksida.

Sifat dasar dari REE, presipitasi pH cenderung menurun dari La ke Lu (Ph 8.4 ke 6.0). pH
merupakan faktor yang utama dalam proses fraksinasi REE ke siklus sedimen. Dalam
lingkungan asam, REE mudah hilang akibat produk dari pelapukan. Setelah dilakukan
analisa, dapat disimpulakan bahwa carier mineral terkandung dalam bauksit akibat larutan
yang diakibatkan pelapukan, konsentrasi Fe selama proses pelapukan, dan kareakteristik
geokimia dari element (kepadatan, ion potensial, Ph,presipitasi hidroksida).

c. Proses Pembentukan Bijih

Berdasarkan data yang telah diteliti, dapat disimpulkan bahwa endapan bauksit di daerah
WZD berasal dari Hanjiadian mud shale dan fase argilik di batugamping Huanglong yang
sebelumnya telah mengalami proses intrusi pada Neoproterozoikum dan Mesoproterozoikum.
Berdasarkan mineralogi, petrografi, dan analisa geokimia, pembentukan bijih dapat dibagi
menjadi:

1. Stage 1: Mineral primer (Feldspar, ferromagnesian, logam berat, dll) dari batuan
dasar yang lapuk menjadi kaolinit, serisit, kuarsa, dan sedikit kalsit; hematit; geotit;
rutil; antase. Selama proses ini, elemen seperti Al, Fe, Ti, Cr, Nb, Ga, Ta, Hd, dan
REE sedikit mengalami pengkayaan akibat zat alkali terlarukan dari sistem. Selama
masa Kambrian hingga pretengahan Silur, daerah tersebut mengalami transgresi dan
regresi akibat adanya pergerakan dari Caledonian, yang menyebabkan material sedikit
terlapukan di Laut Paleotethys sehingga membentuk batuan karbonat ordovisian dan
Hanjidian mud shale.
2. Stage 2: Selama akhir dari Silur hingga pada akhir karbon daerah tersebut
mengalami penurunan muka air laut dan menyebabkan fase epirogenetik sehingga
menyebabkan tereksposnya Hanjadian Grup dan terhentinya proses sedimentasi. Pada
waktu yang sama, Hanjiadian mud shale rich in aluminum dan besi yang disebutkan
sebagai pelapukan lateriit pada kondis iklim subtropis hingga tropis, membentuk
lapisan paleo-weathering yang tebal. Selama proses awal dari pelapukan lateritik,
elemen alkali terlarutkan oleh larutan yang bersifat sama, sedangkan element yang
tidak terlarut mengalami presipitasi dan menyebabkan akumulasi dari material
bauksit, Fe dan Ti oksida, dan mineral lempung.
3. Stage 3: Pada akhir dari jaman karbon, batugamping Huangling diendapkan hanya
pada cekungan Hanjiadian. Pengamatan lapangan, mineralogi, dan data geokimia
menunjukkan batugamping di Huanglong disuplai dari Hanjiadian mud shale. Pada
awal dari Perm, proses transgresi menyebabkan material bauksit tertransportasi pada
jarak yang dekat dan akhirnya terendapkan pada cekungan Hanjiadian yang berumur
Silur. Iklim yang hangat menyebabkan terbentuknya formasi dari bauksit laterit pada
waktu itu. Selama proses tersebut, jumlah yang besar dari alkali dan silika terlarut dari
sistem.
4. Stage 4: Lapisan bauksit laterit mengalami subsidens, metamorfisme derajat rendah
dan pengaruh suhu dari erupsi Emeishan basalts ( Xu, 2001). Lipatan dan sesar pada
akhir dari Trias menyebabkan lapisan laterit bauksit tereskpos pada bagian sayap dari
lipatan, kemudian mengalami pelapukan lagi sehingga terbentuk endapan bauksit
dengan kadar yang tinggi. Beberapa kaolin terbentuk pada stage ini via epigenetic
replacement dari alumina dalam diaspor.