Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN CA GASTER

A. Pengertian
Kanker lambung adalah salah satu penyakit pembunuh manusia dengan jumlah
kematian 14.700 setiap tahun. Kanker lambung terjadi pada kurvatura kecil atau antrum
lambung dan adenokarsinoma. Factor lain selain makanan tinggi asam yang
menyebabkan insiden kanker lambung mencakup Inflamasi lambung, anemia pernisiosa,
aklorhidria (tidak adanya hidroklorida). Ulkus lambung, bakteri H, plylori, dan keturunan
(Smeltzer, 2001).
Kanker lambung ialah suatu neoplasma yang terdapat pada Gaster (Simadibrata,
2000).
Kanker lambung atau tumor malignan perut adalah suatu adeno kararsinoma. Kanker
ini menyebar ke paru-paru, nodus limfe, dan hepar. Faktor risiko meliputi gastritis atrofik
kronis dengan metaplasia usus anemia pernisiosa, konsumsi alkohol tinggi dan merokok
(Nettina, 2001).
B. Tanda dan Gejala
Menurut Davey, 2005, tanda dan gejala pada klien yang menderita Ca Gaster adalah:
a. Anemia, perdarahan samar saluran pencernaan dan mengakibakan defisiensi Fe
mungkin merupakan keluhan utama karsinoma gaster yang paling umum.
b. Penurunan berat badan, sering dijumpai dan menggambarkan penyakit metastasis
lanjut.
c. Muntah, merupakan indikasi akan terjadinya (impending) obstruksi aliran keluar
lambung.
d. Disfagia
e. Nausea
f. Kelemahan
g. Hematemesis
h. Regurgitasi
i. Mudah kenyang
j. Asites perut membesar
k. Kram abdomen
l. Darah yang nyata atau samar dalam tinja
m. Pasien mengeluh rasa tidak enak pada perut terutama sehabis makan
C. Pohon Masalah

Makanan asin, Genetik Infeksi H. pylori alkohol rokok


pengawet

Beradaptasi dgn Mengiritasi Tertelan


Golongan
Meningkatkan suasana asam lambung
darah A
kandungan garam,
nitrat & amin
Nikotin &
aromatic polisiklik Mengeluarkan enzim
kadmium
Imun urease (urea => Mengikis
rendah amoniak & karbamat) mukosa
lambung
Aktivasi p38 MAPK Merusak mukosa
stress pathway lambung
Mudah Karbamat=>amoniak Meningkatkan
terinfeksi & asam karbonat sekresi HCL
H. pylori
Inhibisi Asam lambung
apoptosis akan merusak
Meningkatkan pH dinding lambung
Dinding lambung
lambung
terkikis o/ HCL
Kerusakan DNA

Melekat pd
Replikasi DNA pmukaan epitel
abnormal lambung

Menyalurkan toksin
Pertumbuhan & menginduksi
sel abnormal respon imun
Polip lambung Menyebabkan
kerusakan sel-sel epitel

Tumor
Gastritis kronis

Ulkus gaster

Atrofi lambung

Metaplasia intestinal

Kanker lambung

Stadium lanjut Pengrusakan dinding


lambung

Ancaman kematian
Kurang terpapar informasi Peningkatan HCL Mengenai
mengenai kondisi, reseptor nyeri
prognosis dan pengobatan Merangsang pusat
mual
Nyeri
epigastrium
Ansietas
Mual
Nyeri meningkat

Perubahan nutrisi
kurang dari kebutuhan
tubuh Nyeri akut

Menurunkan fungsi
sensori u/ makan

Anoreksia

(Bresciani, 2003., Fuccio, 2007., NANDA, 2015., Yarbrough, 2005)


D. Pemeriksaan Diagnostik
Menurut Lumongga, 2008, pemeriksaan diagnostik pada klien dengan Ca Gaster
adalah sebagai berikut:
1. Pemeriksaan radiologi
Pemeriksaan radiologi yang sering digunakan jenis penyakit ini adalah
endoskopi, endoskopi merupakan pemeriksaan yang paling sensitif dan spesifik untuk
mendiagnosa ca lambung. Endoskopi dengan resolusi tinggi dapat mendeteksi
perubahan ringan pada warna, relief arsitektur dan permukaan mukosa gaster yang
mengarah pada karsinoma dini gaster.
2. Pemeriksaan sitologi
Pemeriksaan sitologi pada gaster dilakukan melalui sitologi brushing. Pada
keadaan normal, tampak kelompok sel-sel epitel superfisial yang reguler membentuk
gambaran sepertihoney comb. Sel-sel ini mempunyai inti yang bulat dengan kromatin
inti yang tersebar merata.
Pada keadaan gastritis, sel tampak lebih kuboidal dengan sitoplasma yang
sedikit dan inti sedikit membesar.Pada karsinoma, sel-sel menjadi tersebar ataupun
sedikit berkelompok yang irreguler, inti sel membesarn hiperkromatin dan
mempunyai anak inti yang multipel atau pun giant nukleus.
Pemeriksaan sitologi brushing ini jika dilakukan dengan benar, mempunyai
nilai keakuratan sampai 85% tetapi bila pemeriksaan ini dilanjutkan dengan biopsi
lambung maka nilai keakuratannya dapat mencapai 96%.
3. Pemeriksaan makroskopis
Secara makroskopis ukuran karsinoma dini pada lambung ini terbagi atas dua
golongan, yaitu tumor dengan ukuran < 5 mm disebut dengan minute dan tumor
dengan ukuran 6 10 mm disebut dengan small.
Lokasi tumor pada karsinoma lambung ini adalah pylorus dan antrum (50-60%),
curvatura minor (40%), cardia (25%), curvatura mayor (12%).
4. CT Staging pada karsinoma lambung
a. Stage I : Massa intra luminal tanpa penebalan dinding.
b. Stage II : Penebalan dinding lebih dari 1 cm.
c. Stage III : Invasi langsung ke struktur sekitarnya.
d. Stage IV : Penyakit telah bermetastase.
5. Pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan Fisik pada klien dengan Ca Gaster adalah memeriksa:
a. Status hemodinamik : tekanan darah, nadi, akral dan pernafasan
b. Berat badan kurang, kaheksia, konjungtiva kadangkadang anemis
c. Pemeriksaan Abdomen daerah epigastrium dapat teraba massa, nyeri epigastrium.
Pada keganasan dapat ditemukan hepatomegali, asites.
d. Bila ada keluhan melena, lakukan pemeriksaan colok dubur.
e. Keganasan cari pembesaran kelenjar supraklavikula (Virchows node),
kelenjar aksila kiri (Irishs node), ke umbilikus (Sister Mary Josephs node),
teraba tumor daerah pelvis cul-de-sac pada pemeriksaan colok dobur (Blumers
shelf), pembesaran ovarium (Krukenbergs tumor)

6. CT Scan
Pemeriksaan CT Scan dilakukan sebagai evaluasi praoperatif dan untuk
melihat stadium dengan dan penyebaran ekstrak lambung yang penting untuk
penentuan intervensi bedah radikal dan pemberian informasi prabedah pada pasien.
7. Pemeriksaan darah pada tinja
Pada ca lambung sering didapatkan perdarahan dalam tinja (occult blood)
untuk itu perlu dilakukan pemeriksaan tes benzidin.
E. Penatalaksanaan Medis
Menurut Smeltzer, 2001, penatalaksanaan medis yang dapat dilakukan pada klien
dengan Ca Gaster adalah:
1. Bedah
Jika penyakit belum menunjukkan tanda penyebaran, pilihan terbaik adalah
pembedahan. Walaupun telah terdapat daerah sebar, pembedahab sudah dapat
dilakukan sebagai tindakan paliatif. Reaksi kuratif akan berhsil bila tidak ada tanda
metastasis di tempat lain, tidak ada sisa Ca pada irisan lambung, reseksi cairan sekitar
yang terkena, dari pengambilan kelenjar limfa secukupnya.
2. Radiasi
3. Pengobatan dengan radiasi memperlihatkan kurang berhasil.
4. Kemoterapi
Pada tumor ganas dapat dilakukan pemberian obat secara tunggal atau kombinsi
kemoterapi. Di antara obat yang di gunakan adalah 5 FU, trimetrexote, mitonisin C,
hidrourea, epirubisin dan karmisetin dengan hasil 18 30 %.
F. Pengkajian Keperawatan
Menurut pola fungsi Gordon (1982) dalam Potter, P. A., 1996, adapun lingkup
pengkajian yang dilakukan pada klien dengan penyakit kanker lambung adalah sebagai
berikut :
1. Identitas pasien meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan , agama, alamat,
status perkawinan, suku bangsa
2. Persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan
a. Apakah ada riwayat kanker pada keluarga
b. Status kesehatan dan penyakit yang diderita, upaya yang dilakukan
c. Lingkungan tempat tinggal klien
d. Tingkat pengetahuan dan kepedulian pasien
e. Hal-hal yang membuat status kesehatan pasien berubah : merokok, alkohol, obat-
obatan, polusi, lingkungan, ventilasi.
3. Nutrisi metabolik
a. Jenis, frekuensi dan jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari
b. Adanya mual, muntah, anorexia, ketidakmampuan memenuhi kebutuhan nutrisi
c. Adanya kebiasaan merokok, alkohol dan mengkonsumsi obat-obatan tertentu.
d. Ketaatan terhadap diet, kaji diet khusus
e. Jenis makanan yang disukai (pedas, asam, manis, panas, dingin)
f. Adanya makanan tambahan
g. Nafsu makan berlebih/kurang
h. Kebersihan makanan yang dikonsumsi
4. Eliminasi
a. Pola BAK dan BAB seperti frekuensi, karakteristik, ketidaknyamanan, masalah
pengontrolan
b. Adanya mencret bercampur darah
c. Adanya Diare dan konstipasi
d. Warna feses, bentuk feses, dan bau
e. Adanya nyeri waktu BAB
5. Aktivitas dan latihan
a. Kebiasaan aktivitas sehari hari
b. Kebiasaan olah raga
c. Rasa sakit saat melakukan aktivitas
6. Tidur dan istirahat
a. Adanya gejala susah tidur/insomnia
b. Kebiasaan tidur per 24 jam
7. Persepsi kognitif
a. Gangguan pengenalan (orientasi) terhadap tempat, waktu dan orang
b. Adanya gangguan proses pikir dan daya ingat
c. Cara klien mengatasi rasa tidak nyaman(nyeri)
d. Adanya kesulitan dalam mempelajari sesuatu
8. Persepsi dan konsep diri
a. Penilaian klien terhadap dirinya sendiri
9. Peran dan hubungan dengan sesame
a. Klien hidup sendiri/keluarga
b. Klien merasa terisolasi
c. Adanya gangguan klien dalam keluarga dan masyarakat
10. Reproduksi dan seksualitas
a. Adanya gangguan seksualitas dan penyimpangan seksualitas
b. Pengaruh/hubungan penyakit terhadap seksualitas
11. Mekanisme koping dan toleransi terhadap stess
a. Adanya perasaan cemas,takut,tidak sabar ataupun marah
b. Mekanisme koping yang biasa digunakan
c. Respon emosional klien terhadap status saat ini
d. Orang yang membantu dalam pemecahan masalah
e. Sistem kepercayaan
12. Agama yang dianut,
a. apakah kegiatan ibadah tergangu

G. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut b.d adanya gangguan pada impuls saraf lambung.
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia.
3. Ansietas b.d kurang terpapar informasi mengenai kondisi, prognosis dan pengobatan
mengenai kondisi, prognosis dan pengobatan.
H. Rencana Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Intervensi
No Diagnosa Rasional
Hasil (NOC) (NIC)
1 Nyeri akut b.d Setelah dilakukan Pemberian Pemberian
adanya asuhan keperawatan Analgesik: Analgesik:
gangguan pada 1. Tentukan lokasi, 1. Mengetahui
impuls saraf selama 3 X 24 jam karakteristik, lokasi,
lambung. diharapkan nyeri akut kualitas, dan karakteristik,
keparahan nyeri kualitas, dan
pada px menurun sebelum keparahan nyeri
dengan KH : mengobati sebelum
1. Mampu mengenali
pasien. dilakukan
kapan nyeri terjadi 2. Cek adanya pengobatan.
riwayat alergi 2. Mengetahui ada
secara konsisten
obat. tidaknya alergi
(skala 5). 3. Monitor tanda obat pada pasien.
2. Mampu vital sebelum 3. Mengetahui
menggambarkan dan sesudah adanya
pemberian perubahan tanda
faktor penyebab analgesik. vital pasien
nyeri secara sebelum dan
sesudah
konsisten (skala 5). 4. Tentukan
3. Mengenali apa pemberian
analgesik yang analgesik.
yang terkait akan digunakan, 4. Agar nyeri
rute pemberian berkurang
dengan gejala
dan dosis untuk dengan optimal.
nyeri secara mencapai hasil
konsisten (skala 5). pengurangan
4. Mampu nyeri yang
optimal.
melaporkan nyeri
yang terkontrol
Manajemen Nyeri: Manajemen Nyeri:
secara konsisten 1. Lakukan 1. Mengetahui
(skala 5). pengkajian lokasi,
5. Mampu nyeri yang karakteristik,
komprehensif. frekuensi,
menggunakan
2. Gunakan kualitas,
jurnal harian untuk strategi intensitas, faktor
memonitor gejala komunikasi pencetus, dan
terapeutik. durasi nyeri.
dari waktu ke 3. Gali bersama 2. Mengetahui
waktu secara pasien faktor- pengalaman
faktor yang nyeri dan
konsisten (skala 5). dapat menyampaikan
menurunkan penerimaan
atau pasien terhadap
memperberat nyeri.
nyeri. 3. Mengetahui
faktor pencetus
4. Libatkan dan faktor
keluarga dalam penghilang rasa
modalitas nyeri.
penurun nyeri. 4. Agar pasien
merasa nyaman.
Nutrisi kurang Setelah dilakukan Manajemen Manajemen
dari kebutuhan asuhan keperawatan Nutrisi: Nutrisi:
b.d anoreksia. 1. Tentukan status 1. Mengetahui
selama 3 X 24 jam gizi pasien dan status gizi dan
diharapkan nutrisi kemampuan kemampuan
[pasien] untuk pasien untuk
kurang dari kebutuhan memenuhi memenuhi
pada px menurun kebutuhan gizi. kebutuhan gizi.
dengan KH : 2. Identifikasi 2. Mengetahui ada
1. Asupan gizi tidak [adanya] alergi tidaknya alergi
atau intoleransi yang dimiliki
menyimpang dari
makanan yang pasien.
rentang normal dimiliki pasien
(skala 5). 3. Tentukan 3. Menentukan
2. Asupan cairan jumlah kalori jumlah kalori dan
dan jenis nutrisi jenis nutrisi yang
tidak menyimpang yang dibutuhkan.
dari rentang dibutuhkan
2 untuk
normal (skala 5). 4. Memberikan
3. Asupan makanan memenuhi
persyaratan gizi. posisi yang
tidak menyimpang 4. Anjurkan pasien nyaman pada
untuk duduk pasien saat
dari rentang
pada posisi makan.\
normal (skala 5). tegak di kursi, 5. Mengetahui
4. Hidrasi tidak perubahan berat
jika
menyimpang dari memungkinkan. badan sebelum
5. Monitor dan sesudah
rentang normal diberikan
kecendrungan
(skala 5). terjadinya perawatan.
5. Rasio berat penurunan dan
badan/tinggi badan kenaikan berat
badan.
tidak menyimpang
dari rentang
normal (skala 5).

3 Ansietas b.d Setelah dilakukan Pengurangan Pengurangan


kurang asuhan keperawatan Kecemasan: Kecemasan:
terpapar 1. Gunakan 1. Agar pasien
informasi selama 3 X 24 jam pendekatan
mengenai diharapkan ansietas yang tenang dan tenang.
kondisi, pada px menurun meyakinkan.
prognosis dan 2. Nyatakan 2. Agar tujuan yang
dengan KH :
pengobatan 1. Distress tidak ada dengan jelas hendak dicapai
mengenai harapan jelas terhadap
kondisi, (skala 5). terhadap perilaku pasien.
prognosis dan 2. Perasaan gelisah perilaku pasien. 3. Mengetahui
pengobatan. tidak ada (skala 5). 3. Jelaskan semua semua prosedur
3. Peningkatan prosedur yang yang akan
akan dilakukan. dilakukan.
tekanan darah 4. Mengetahui
4. Dengarkan klien
tidak ada (skala 5). 5. Ciptakan keluhan pasien.
4. Wajah tegang tidak atmosfer rasa 5. Meningkatkan
aman. kepercayaan
ada (skala 5).
5. Kesulitan
Peningkatan Peningkatan
berkonsentrasi Koping: Koping:
tidak ada (skala 5). 1. Gunakan 1. Agar pasien
pendekatan merasa aman dan
yang tenang dan nyaman.
memberikan
jaminan. 2. Untuk
2. Dukung pasien mengetahui
untuk meng kekuatan dan
identifikasi kemampuan diri
kekuatan dan pasien.
kemampuan
diri. 3. Membantu
3. Bantu pasien pasien dalam
dalam meng mengidentifikasi
identifikasi respon orang
respon positif lain.
dari orang lain. Terapi Relaksasi:
Terapi Relaksasi: 1. Agar pasien
1. Gambarkan dapat memilih
rasionalisasi dan relaksasi yang
manfaat mana yang akan
relaksasi serta diterapkan.
jenis relaksasi
yang tersedia. 2. Agar tercipta
2. Ciptakan rasa aman dan
lingkungan nyaman.
yang tenang 3. Untuk
tanpa distraksi. menurunkan
3. Minta klien stressor pada
untuk rileks dan pasien.
merasakan
sensasi yang 4. Agar pasien
terjadi. dapat meniru
4. Tunjukkan dan teknik relaksasi
praktikkan yang dilakukan.
teknik relaksasi 5. Apabila ansietas
pada klien. itu muncul,
5. Dorong klien terapi relaksasi
untuk dapat dilakukan
mengulang tanpa instruktur.
praktik teknik
relaksasi, jika
memungkinkan.

I. Referensi
Bresciani, J. 2003. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.

Bulechek, Gloria M., dkk. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC) Ed. 6. United

Kingdom: Elsevier.

Davey, P. 2005. Medicine At A Glance. Alih Bahasa: Rahmalia, A. dkk. Jakarta: Erlangga.

Fuccio, L. 2007. Dyspeptic Symptoms and Endoscopic Findings in the Community.

Amerika: The American Journal of Gastroenterology.

Lumongga, F. 2008. Invasi Sel Kanker. Medan: Departemen Patologi Anatomi Fakultas

Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Moorhead, Sue., dkk. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC) Ed. 5. United

Kingdom: Elsevier.

NANDA International. 2015.Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2015-

2017. Jakarta: EGC.

Nettina, S. M. 2001. Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta: EGC.

Potter, Patricia. A. 1996. Pengkajian Kesehatan. Ed. 3. Jakarta: EGC.

Simadibrata, M. 2000. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Interna Publishing.

Smeltzer, Suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner and Suddarth Ed.8

Vol.3. Jakarta: EGC.


Yarbrough, L.D. 2005. Medicine of Ca Gaster. Alih Bahasa: Rahmalia, A. dkk. Jakarta:

Erlangga.

Denpasar, Desember 2016


Nama Pembimbing / CI: Nama Mahasiswa

..... .....
NIP. NIM.

Nama Pembimbing / CT:

.....
NIP.