Anda di halaman 1dari 5

LO 5

Follow-up setelah perawatan restorasi resin komposit dilakukan dalam jangka waktu, 6 bulan,
1 tahun, 2 tahun, dan 3 tahun. (Celik dkk, 2014)

Pada 6 bulan follow-up, mulai dilakukan pemeriksaan adaptasi tepi restorasi untuk melihat
ada tidaknya perubahan anatomi pada restorasi komposit. Jika tidak ada, pemeriksaan dilanjut
pada 1 tahun follow-up sejak perawatan restorasi komposit. Sama dengan pemeriksaan 6
bulan pertama, pada tahun ini juga melihat adaptasi tepi restorasi. Biasanya pada penggunaan
resin komposit jenis tertentu, pada tahun ini restorasi harus diganti karena telah terjadi
pembentukan karies sekunder. Namun, jika pada restorasi tidak ditemukan kelainan,
pemeriksaan berlanjut pada 2 tahun pasca perawatan restorasi komposit. (Celik dkk, 2014)

Pada 2 tahun sejak perawatan, tetap dilakukan pemeriksaan dalam hal warna, adaptasi tepi
restorasi, pembentukan karies sekunder, dan tekstur permukaan restorasi. Pada komposit jenis
tertentu, pada peemeriksaan 2 tahun ini sudah terdapat penyusutan restorasi terhadap jaringan
gigi. Selain itu, juga terdapat adanya celah kecil atau kebocoran tepi restorasi komposit
sehingga pada tahun kedua restorasi harus diganti. Namun bila tidak ada kelainan yang
ditemukan, pemeriksaan berlanjut untuk tahun ketiga. (Celik dkk, 2014)

Pada tahun ketiga biasanya restorasi komposit sudah menunjukkan perubahan yang cukup
signifikan, misalnya adanya perubahan tekstur permukaan yang awalnya halus menjadi
cekung pada perbatas restorasi komposit dan jaringan gigi (Gambar 1) dan adanya
pembentukan karies sekunder. Oleh karena itu, biasanya pada tahun ketiga ini restorasi
komposit harus diganti apabila ditemukan perubahan-perubahan pada restorasi komposit
tersebut. (Celik dkk, 2014)

Gambar 1. Adanya tekstur permukaan yang tidak rata berupa cekungan pada perbatasan tepi
restorasi komposit (panah merah). (Margeas, 2009)

LO 4

Faktor-faktor yang harus diperhatikan untuk mengoptimalkan restorasi komposit yang estetik
ialah (Margeas, 2009) :

a. Bentuk dan kontur yang menyerupai gigi-geligi yang sebenarnya


b. Kontur yang estetik dan fungsional
c. Penggunaan teknik yang sesuai
d. Menghindari kontaminasi kelembapan.
e. Penggunaan sistem bonding yang sesuai
f. Pemilihan warna komposit yang sesuai
g. Pemolesan bahan restoratif yang digunakan
h. Pertimbangan wear resistance
i. Daya tahan poles dan mengkilap dari permukaan restorasi komposit

LO 2

Flowable and Packable Composites


Resin komposit dapat dikategorikan berdasarkan daya alirnya, yaitu flowable composite
resins dan packable composite resins. Flowable composite resins memiliki bahan pengisi
yang jumlahnya sedikit dan viskositas yang rendah, sehingga membuat komposit ini muda
diaplikasikan langsung ke kavitas yang telah dipreparasi menggunakan syringe khusus.
flowable composites biasanya digunakan sebagai lapisan pertama pada teknik sandwich
karena dapat mengjangkau celah sempit pada kavitas. Namun, untuk kavitas gigi yang
memiliki tekanan pengunyahan yang besar tidak diindikasikan untuk menggunakan restorasi
komposit ini secara keseluruhan..
Packable (universal) composites memiliki kerapatan dan kepadatan yang lebih tinggi
dibandingkan flowable composite resins sehingga memiliki viskositas yang tinggi. Biasanya
komposit jenis ini dapat diaplikasikan ke kavitas menggunakan instrumen plastis.
Packable composites terbukti secara klinis lebih mampu bertahan lama sebagai bahan
restorasi komposit. (Margeas, 2009)

LO 1

Indikasi restorasi dengan resin komposit yaitu (Mackenzie dkk, 2009)

a. Sebagai restorasi resin preventif, resin komposit dapat dipertimbangkan untuk pilihan
bahan restorasi preventif pada pit dan fissure gigi posterior
b. Adanya lesi awal yang meluas, resin komposit dapat digunakan sebagai bahan untuk
perawatan awal lesi karies
c. Sebagai restorasi estetik di kedokteran gigi, banyaknya kasus restorasi yang gagal
atau cacat membuat resin komposit dapat digunakan sebagai bahan restorasi yang
dapat dipertimbangakan.
d. Perawatan gigi yang fraktur, penggunaan komposit untuk tindakan cepat gigi yang
patah telah terbukti dengan efektif..

Kontraindikasi restorasi dengan resin komposit yaitu (Mackenzie dkk, 2009):

a. Pasien dengan tingkat karies yang tinggi harus dihindari, karena dapat memicu
timbulnya lesi karies sekunder pasca restorasi komposit
b. Untuk daerah dengan isolasi yang sulit juga harus dihindari dengan alasan
kontaminasi saliva, yang dapat menurunkan kualitas restorasi komposit, seperti
perlekatan gigi dengan bahan bonding yang tidak optimal.

LO 3
Alat

1. Wedges digunakan untuk mengurangi resiko ekstrusi servikal komposit. Wedges juga
berguna untuk sedikit menyibak proksimal gigi untuk mengimbangi ketebalan dari
matriks. Untuk jenis flexi-wedges (Gambar 2), lebih mudah dan efektif digunakan
karena tidak merusak matriks (Gambar 3). (Mackenzie dkk, 2009)

Gambar 2. Flexi-wedges.

Gambar 3. Contoh penggunaan flexi-wedges (panah merah)

2. Instrumen pengaplikasian komposit


Instrumen yang berfungsi untuk meletakkan komposit ke dalam kavitas. Dapat juga
digunakan untuk membentuk oklusal atau insisal gigi. (Mackenzie dkk, 2009):

3. Shaping/finishing/polishing instrument

Instrumen untuk shaping/finishing/polishing dapat terdiri atas burnisher (Gambar 4), bur
diamond (Gambar 5) dan finishing/polishing disc (Gambar 6). Burnisher rerupakan instrumen
untuk meletakkan komposit ke dalam kavitas. Dapat juga digunakan untuk membentuk
oklusal atau insisal gigi. Bur diamond merupakan bur finishing composite untuk membentuk
fissure dan fossa pada oklusal gigi. Finishing and polishing disc merupakan disc yang
digunakan untuk menghasilkan permukaan yang halus terutama bagian marginal ridges.
Setelah penggunaan disc ini sebaiknya diikuti untuk penggunaan rubber/silicone disc/cups
atau brush yang diberi tambahan bahan tertentu untuk menghasilkan permukaan yang lebih
mengkilap. Saat memoles restorasi sebaiknya diikuti dengan water-cooling untuk mengurangi
peningkatan suhu akibat gesekan. (Mackenzie dkk, 2009):

Gambar 4. (a) Burnisher P.K.T. 2. (b) Burnisher P.K.T. 3 (c,d) Instrumen komposit
multifungsi.

Gambar 5. Bur diamond Bertolotti Top Spin.

Gambar 6. Super-snap finishing and polishing disc

Dapus
Celik, C., Arhun, N., Yamanel, K. 2014. Clinical Evaluation of Resin-Based Composites in
Posterior Restorations: A 3-Year Study. Med Princ Pract(23):453459
Mackenzie, L., Shortall, A. C. C., Burke, F. J. T. 2009. Direct Posterior Composites: A
Practical Guide. Dent Update (36): 7195
Margeas, R. C. 2009. Composites Restorationn Estetics: A Peer-Reviewed Publication.
Academy of Dental Therapeutics and Stomatology: 1-8