Anda di halaman 1dari 6

BAB XV

PEMBIAYAAN KESEHATAN
(Pasal 170 Pasal 173)
a. Tujuan Pembiayaan Kesehatan
1) Penyediaan pembiayaan kesehatan yang berkesinambungan dengan
jumlah yang mencukupi
2) Pembiayaan kesehatan teralokasi secara adil
3) Pembiayaan kesehatan termanfaatkan secara hasil guna dan berdaya
guna
4) Menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan agar
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya
b. Unsur-unsur Pembiayaan Kesehatan
1) Sumber pembiayaan
Pemerintah : besar anggaran dialokasikan minimal sebesar
5% dari anggaran pendapatan dan belanja negara di luar gaji
Pemerintah Daerah : besar anggaran dialokasikan minimal
10% dari anggaran pendapatan dan belanja daerah di luar gaji
Masyarakat
Swasta
Sumber lain

Besar anggaran diprioritaskan untuk kepentingan pelayanan publik


yang besarannya sekurang-kurangnya 2/3 dari anggaran kesehatan
dalam anggaran pendapatan dan belanja negara dan anggaran
pendapatan dan belanja daerah.

2) Alokasi
Ditujukan untuk pelayanan kesehatn di bidang pelayanan publik,
terutama penduduk miskin, kelompok lanjut usia dan anak terlantar.
3) Pemanfaatan
BAB XVI
PERAN SERTA MASYARAKAT
(Pasal 174)
Masyarakat berperan serta/aktif secara perseorangan maupun terorganisasi
dalam segala bentuk dan tahapan pembangunan kesehatan dalam membantu
pencapaian derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya.

BAB XVII

BADAN PERTIMBANGAN KESEHATAN

(Pasal 175 Pasal 177)


a. Nama dan Kedudukan
Badan Independen yang memiliki tugas, fungsi dan wewenang di bidang
kesehatan. Badan ini berkedudukan di Pusat (BPKN/Badan
Pertimbangan Kesehatan Nasional) dan daerah (BPKD/Badan
Pertimbangan Kesehatan daerah) dan berada sampai pada tingkat
kecamatan.
b. Peran, Tugas, dan Wewenang
1) Peran

Membantu pemerintah dan masyarakat dalam bidang kesehatan

2) Tugas dan Wewenang


Menginvetarisasi masalah melalui penelaahan terhadap
berbagai informasi dan dta yang relevan atau berpengaruh
terhadap proses pembangunan kesehatan
Memberikan masukan kepada pemerintah tentang sasaran
pembangunan kesehatan selama kurun waktu 5 tahun
Menyusun strategi pencapaian dan prioritas kegiatan
pembangunan kesehatan
Memberikan masukan kepada pemerintah dalam
pengidentifikasi dan penggerakan sumber daya untuk
pembangunan kesehatan
Melakukan advokasi tentang alokasi dan penggunaan
dana dari semua sumber agar pemanfaatannya efektif,
efisien dan sesuai dengan strategi yang ditetapkan
Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan pembangunan
kesehatan
Merumuskan dan mengusulkan tindakan korektif yang
perlu dilakukan dalam pelaksanaan pembangunan
kesehatan yang menyimpang

BAB XVIII

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN

(Pasal 178 Pasal 188)

a. Pembinaan
Pembinaan terhadap masyarakat dan setiap penyelenggaraan kegiatan yang
berhubungan dengan sumber daya kesehatan di bidang kesehatan dan upaya
kesehatan yang dilakukan oleh Pemerintah dan pemerintah daerah. Pembinaan
tersebut diarahkan untuk :
1) Memenuhi kebutuhan setiap orang dalam memperoleh akses atas
sumber daya di bidang kesehatan.
2) Menggerakkan dan melaksanakan penyelenggaraan upaya kesehatan.
3) Memfasilitasi dan menyelenggarakan fasilitas kesehatan dan fasilitas
pelayanan kesehatan.
4) Memenuhi kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan perbekalan
kesehatan, termasuk sediaan farmasi, alat kesehatan, makanan dan
minuman.
5) Memenuhi kebutuhan gizi masyarakat sesuai dengan standar dan
persyaratan.
6) Melindungi masyarakat terhadap segala kemungkinan yang dapat
menimbulkan bahaya bagi kesehatan.

Pembinaan dilaksanakan melalui :

1) Komunikasi, informasi, edukasi dan pemberdayaan masyarakat.


2) Pendayagunaan tenaga kesehatan.
3) Pembiayaan.

Dalam Pembinaan tersebut, Pemerintah memberikan penghargaan kepada


orang atau badan yang telah berjasa dalam tiap kegiatan mewujudkan tujuan
kesehatan.

b. Pengawasan
Pengawasan terhadap masyarakat dan setiap penyelenggaraan kegiatan yang
berhubungan dengan sumber daya kesehatan di bidang kesehatan dan upaya
kesehatan yang dilakukan oleh Menteri dengan memberikan izin terhadap setiap
penyelenggaraan upaya kesehatan. Dalam pelaksanaannya, Menteri dapat
mendelegasikan kepada lembaga pemerintah non kementerian, kepala dinas
diprovinsi dan kabupaten/kota yang tugas pokok, dan fungsinya di bidang
kesehatan serta mengikutsertakan masyarakat dalam pengawasan tersebut.
Dalam pelaksanaan tugasnya, diangkatlah tenaga pengawas yang
mempunyai fungsi :
1) Memasuki setiap tempat yang diduga digunakan dalam kegiatan yang
berhubungan dengan penyelenggaraan upaya kesehatan
2) Memeriksa perizinan yang dimiliki oleh tenaga kesehatan dan fasilitas
kesehatan

Akan tetapi, apabila tenaga pengawas yang bersangkutan tidak dilengkapi


dengan tanda pengenal dan surat perintah pemeriksaan, maka setiap orang yang
bertanggung jawab atas tempat dilakukannya pemeriksaan dapat menolak
pemeriksaan. Selain itu, tenaga pengawas wajib melaporkan kepada penyidik
hasil pemeriksaan yang menunjukkan adanya dugaan atau patut diduga adanya
pelanggaran hukum di bidang kesehatan. Kemudian Menteri akan mengambil
tindakan administratif terhadap tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan
kesehatan yang melanggar ketentuan. Tindakan administratif tersebut daat
berupa :

1) Peringatan tertulis
2) Pencabutan izin sementara atau izin tetap

BAB XIX

PENYIDIKAN

(Pasal 189)

Penyidik mempunyai wewenang :

a. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan serta keterangan tentang


tinda pidana di bidang kesehatan
b. Melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak
pidana di bidang kesehatan
c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orng atau badan hukum
sehubungan dengan tindak pidana di bidang kesehatan
d. Melakukan pemeriksaan surat dan/atau dokumen lain tentang tindak
pidana di bidang kesehatan
e. Melakukan pemeriksaan atau penyitaanbahan atau barang bukti dalam
perkara tindak pidana di bidang kesehatan
f. Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak
pidana di bidang kesehatan
g. Menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti yang
membuktikan adanya tindak pidana di bidang kesehatan

BAB XX

KETENTUAN PIDANA

(Pasal 190 Pasal 201)

a. Pimpinan fasilitas pelayanan kesehatan dan/atau tenaga kesehatan yang


melakukan praktik/pekerjaan pada fasilitas pelayanan kesehatan dengan
sengaja tidak memberikan pertolongan pertama pada pasien gawat darurat,
dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 tahun dan denda Rp
200.000.000,00. Apabila hingga mengakibatkan terjadinya
kecacatan/kematian, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 tahun
dan denda Rp 1.000.000.000,00.
b. Setiap orang yang tidak memiliki izin parktik pelayanan kesehatan
tradisional yang menggunakan alat dan teknologi hingga megakibatkan
kerugian harta benda, luka berat atau kematian dipidana dengan pidana
penjara paling lama 1 tahun dan denda Rp 100.000.000,00.
c. Setiap orang yang dengan sengaja memperjualbelikan organ/jaringan tubuh
dengan alasan apapun, setiap orang yang dengan sengaja melakukan bedah
plastik dan rekonstruksi untuk tujuan mengubah identitas seseorang, dan
setiap orang yang sengaja melakukan aborsi tidak sesuai dengan ketentuan,
dipidana dengan pidana paling lama 10 tahun dan denda Rp
1.000.000.000,00.
d. Setiap orang yang dengan sengaja memperjualbelikan darah dengan alasan
apapun, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda Rp
500.000.000,00.
e. Setiap orang yang sengaja memproduksi/mengedarkan sediaan farmasi
dan/atau alat kesehatan yang tidak memenuhi standar dan/atau persyaratan
keamanan, khasiat/kemanfaatan, dan mutu dipidana dengan pidana penjara
10 tahun dan denda Rp 1.000.000.000,00.
f. Setiap orang yang sengaja memperoduksi atau mengedarkan sediaan farmasi
dan/atau alat kesehatan yang tidak memiliki izin edar dipidana dengan
pidana penjara 15 tahun dan denda Rp 1.500.000.000,00.
g. Setiap orang yang tidak memiliki keahlian dan kewenangan untuk
melakukan praktik kefarmasian dipidana denda Rp 100.000.000,00.
h. Setiap orang yang sengaja memproduksi/memasukkan rokok ke dalam
wilayah NKRI dengan tidak mencantumkan peringatan kesehatan berbentuk
gambar dipidana penjara 5 tahun dan denda Rp 500.000.000,00. Dan untuk
setiap orang yang sengaja melanggar kawasan tanpa rokok dipidana denda
Rp 50.000.000,00.
i. Setiap orang yang sengaja menghalangi program pemberian ASI eksklusif
dipidana penjara 1 tahun dan denda Rp 100.000.000,00.
j. Dalam hal tindak pidana yang dilakukan oleh korporasi, selain tindak pidana
penjara dan denda terhadap pengurusnya, pidana yang dapat dijatuhkan
terhadap korporasi berupa pidana denda dengan pemberatan 3 kali dari
pidana denda. Selain pidana denda, korporasi dapat dijatuhi pidana tambahan
berupa :
1) Pencabutan izin usaha; dan/atau
2) Pencabutan status badan hukum