Anda di halaman 1dari 7

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Sejak dikumandangkan bilan Mei 1998,reformasi di segala bidang tengah digalakan


oleh bangsa kita dengan semangat untuk menegakkan demokrasi.Tapi apa yang kita
rasakan dan kita lihat dari hasil reformasi ini? Reformasi yang telah berjalan dua belas
tahun inisemula bertujuan menegakkan demokrasi dan HAM,kini kita lihat hasilnya.
Reformasi yang dapat memperbaiki nasib bangsa dan mengangkat harkat martabat
bangsa.
Reformsi merupakan suatu gerakan yang menghendaki adanya perubahan kehidupan
bermasyarakat,berbangsa,dan bernegara ke arah yang lebih baik secara konstitsional.
Artinya, adany perubahan kehidupan dalam bidang politik,ekonomi,hukum,sosial,dan
budaya yang lebih baik,demokratis berdasarkan prinsip kebebasan.persamaan,dan
persaudaraan.Gerakan reformasi lahir sebagai jawaban atas krisis yang melanda berbagai
segi kehidupan.Krisis politik,ekonomi,hukum,dan krisis sosial merupakan faktor-faktor
yang mendorong lahirnya gerakan reformasi.

1.2 RUMUSAN MASALAH


A.Apa pengertian hakikat Reformasi?
B.Apa saja bentuk Reformasi?
C.Kapan munculnya Reformasi?

1.3 TUJUAN PENULISAN


A.Untuk mengetahui hakekat reformasi!
B.Untuk mengetahui bentuk reformasi!
C.Untuk meengetahui munculnya reformasi!
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 HAKIKAT REFORMASI

Reformasi merupakan suatu gerakan yang menghendaki adanya perubahan kehidupan


bermasyarakat,berbangsa,dan bernegara ke arah yang lebih baik secara
konstitusional.Artinya,adanya perubahan kehidupan dalam bidang
politik,ekonomi,hukum,sosial,dan budaya yang lebih baik,demokratis berdasarkan prinsip
kebebasan,persamaan,dan persaudaraan.Gerakan reformasi lahir sebagai jawaban atas krisis
yang melanda berbagai segi kehidupan.Krisis politik,ekonomi, dan krisis sosial,meupakan
faktor-faktor yang mendorong lahirnya gerakan reformasi. Bahkan, krisis kepercayaan telah
menjadi salah satu indikator yang menentukan. Artinya, reformasi dipandang sebagai gerakan
yang tidak boleh tidak ditawar-tawar lagi dan karena itu,hampir seluruh rakyat indonesia
mendukug sepenuhnya gerakan tesebut itu. Dengan semangat reformasi,rakyat indonesia
menghendaki adanya pergantian kepemimpinan nasional sebagai langkah awal. Pergantian
kepemimipiana nasional diharapkan dapat memperbaiki kehiduapn
politik,ekonomi,hukum,sosial,dan budaya. Semua itu merupakan jalan menuju terwujudnya
kehidupan yang aman,tentram,dan damai. Rakyat tidak mempermasalahkan siapa yang akan
menjadi pemimpin nasional, yang penting kehidupan yang adil dalam kemakmuran dan
makmur dalam keadilan dapat segera terwujud. Namun demikian,rakyat indonesia
mengharapkan agar orang yang terpilih menjadi pemimpin nasional adalah orang yang peduli
tehadap kesulitan masyarakat kecil dan krisis sosial.

2.2 BENTUK REFORMASI

Reformasi dibagi dalam tiga bentuk:

1. Reformasi Prosedural
Refomasi prosedural merupakan tuntutan untuk melakukan peubahan pada aturan
normatif atau aturan peundang-undangan dari yang berbentuk otoriter menuju aturan
demokratis. Undang-undang ang mengatur bidang politik harus menjamin adanya
kebebasan bagi masyarakat untuk melakukan aktivitas politik. Undang-undang yang
mengatur bidang sosial budaya harus memberikan kesempatan masyarakat untuk
membentuk kelompok sosial sebagai ekspresi kolektif dari identitas masing-masing.
Undang-undang yang mengatur bidang ekonomi harus melindungi kepintingan
masyarakat umum bukan pengusaha dan penguasa.

2. Reformasi Struktural
Reformasi struktural merupakan tuntutan perubahan institusional negara dari
birokratik menuju birokrasi. Birokratik merupakan lembaga negara yang
hirarkis,sentralistik dan otoriter. Birokrasi merupakan lembaga negara yang responsif,
penegak keadialan, transparantif, dan demokratis yang menegakkan istialah-istilah
suport sisstem reformasi. Komisi merupakan lembaga ekstra struktural yang memiliki
fungsi pengawasan, mengandung unsur pelakasanaan atau bersentuhan langsung denga
masyarakat atau pihak selain instansi pemrintah, bisanya anggota terdiri dari
masyarakat atau profesional dan kedudukan sekretariat tidak menempel dengan instansi
pemrintah konfensional.

3. Reformasi Kultural
Reformasi kultural merupakan tuntutan melakukan perubahan pola pikir, cara
pandang, dan budaya seluruh elemen bangsa untuk menerima segala perubahan menuju
bangsa yang lebih baik. Reformasi kultural merupakan kata kunci untuk mewujudkan
agenda reformasi, prosedural, dan struktural. Tanap adanya reformasi kultral, reformasi
prosedural dan stuktural hanyalah sebuah simbol yang tidak memeiliki makna apa-apa.

2.3 SEBAB MUNCULNYA REFORMASI

Kesulitan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok merupakan faktor atau penyebab
utama lahirnya gerakan reformasi. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya terutama
ketidakadilan dalam kehidupan politik, ekonomi, dan hukum. Dalam orde baru pelaksanaan
gerakan reformasi tidak berjalan secara konsisten khususnya pada pemerintahan yang
dipimpin oleh presiden Suharto selama 32 tahun. Orde baru merupakan tatanan kehiduapn
bermasyarakat, brebangsa, bernegara berdasarkan pelaksanaan pancasila dan UUD 1945
secara murni dan konsekuen. Namun dalam pelaksanaannya, pemerintahan orde baru banyak
melakukan penyimpangan terhadap nilai-nilai pancasila dan ketentuan-ketentuan yang
tertuang dalam UUD 1945 yang sangat merugikan masyarakat kecil.
Penyimpangan-penyimpangan itu telah melahirkan krisis multidimensional yang menjadi
penyebab umum lahirnya gerakan reformasi, seperti:
Krisis politik
Krisis politik yang tejadi pada tahun 1998 merupakan puncak dari berbagai
kebijakan politik pemerintah orde baru. Berbagai kebijakan politik yang dikeluarkan
pemerintahan orde baru selalu dengan alasan dalam kerangka pelaksanaan demokrasi
pancasila. Namun yang sebenarnya terjadi adalah dalam rangka memepertahankan
kekeuasaan presiden Suharto dan kroni-kroninya. Artinya demokrasi yang
dilaksanakan pemrintahan orde baru bukan demokrasi yang semestinya, melainkan
demokrsi rekayasa. Dengan demikian, yang terjadi bukan demokrasi yang berarti dari,
oleh, dan untuk rakyat, melainkan demokrasi yang beraarti dari, oleh, dan untuk
penguasa.
Pada masa orde baru, kehidupan politik sangat represif, yaitu adanya tekanan yang
kuat dari pemerintah tehadap pihak oposisi atau orang-orarng yang berpikir kristis.
Ciri-ciri kehidupan politik yang represif, di antaranya:
1. Setiap orang atau kelompok yang mengkritik kebijakan pemerintah di
tuduh sebagai tindakn subversif (menentang negara kesatuan Republik
indonesia)
2. Pelaksanaan lima paket UU politik yang melahirkan demokrasi semu atau
demokrasi rekayasa.
3. Terjadinya korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang merajalela dan
masyarakat tidak memiliki kebebasan untuk mengontrolnya.
4. Pelaksanaan Dwi Fungsi ABRI yang memasung setiap warga negara
(sipip) untuk ikut berpartisipasi dalam pemerintahan.
5. Terciptanya masa kekuasaan presiden yang ta terbatas. Meskipun Suharto
dipilih menjadi presiden melalaui sidang umum MPR, tetapi pemilihan itu
merupakan hasil rekayasa dan tidak demokratis.

Krisis hukum
Rekayasa-rekayasa yang dibangun pemerintah orde baru tidak terbatas pada bidang
politik. Dalam bidang hukum pun, pemerintah melakukan intervensi. Artinya,
kekeuasaan peradilan harus dilaksanakan untuk melayani kepentingan para penguasa
dan bukan untuk melayani masyarakat dengan penuh keadilan. Bahkan hukum sering
dijadikan alat pembenaran para penguasa. Kenyataan itu bertetangan dengan
ketentuan pasal 24 UUD 1945 yang menyatakan bahwa kehakiman memiliki
keuasaan yang merdeka dan terlepas dari kekuasaan pemerintah (eksekutif).
Sejak munculnya gerakan reformasi yang dimotori oleh para mahasiswa, masalah
hukum telah menjadi salah satu tuntutannya. Masyarakat menghendaki adanya
reformasi dibidang hukum agar setiap persoalan dapat ditempatkan pada posisinya
secara proposional. Terjadinya ketidakadilan dalam kehidupan masyarakat, salah
satunya disebabkan oleh sistem hukum atau peradilan yang tidak berfungsi
sebagaimana mestinya. Kekuasaan kehakiman yang merdeka merupakan salah satu
pilar terwjudnya kehidupan yang demokratis, sekaligus sebagai wahana untuk
mengadili seseorang sesuai dengan kesalahannya.

Krisis ekonomi
Krisis moneter yang melanda negara-negara Asia Tenggara sejak Juli 1996
mempengaruhi perkembangan perekonomian Indonesia. Ternyata ekonomi Indonesia
tidak mampu menghadapi krisis global yang melanda dunia. Krisis ekonomi di
indonesia diawali dengan melemahnya nilai tukar rupiah trhadap dolar Amerika
Serikat. Melemahnya niali tukar rupiah mengakibatkan pertumbuhan ekonomi
indonesia menjadi 0% dan iklim bisnis semakin menurun. Keadaan ini mengakibatkan
pemrintah harus menanggung beban hutang yang besar. Di samping, kepercayaan
dunia internasional tehadap indonesia semakin menurun dan gairah investasipun
semakin melemah.
Krisis ekonomi yang melandah indonesia tidak dapat dipisahkan dari berbagai
kondisi, seperti:
1. Hutang Luar Negeri Indonesia
2. Pelaksanaan Pasal 33 UUD 1945
3. Pemrintahan Sentralistik

Krisis sosial
Krisis politik, hukum, dan ekonomi merupakan penyebab terjadinya krisis sosial.
pelaksanaan politik yang represif dan tidak demokratis mnyebabkan terjadinya
konflik politik maupun konflik antar etnis atau agama. Semua ini berakhir setelah
meletusnya berbagai kerusuhan di beberapa daerah. Pelaksanaan hukum yang
berkeadilan sering mnimbulkan ketidakpuasaan yang mengarah pada terjadinya
demonstrasi-dmonstrasi maupun kerusuhan. Sementara, ketimpangan perekonomian
indonesia memberikan simbangan terbesar tehadap krisis sosial, pengangguran,
persedian sembako yang tebatas, tingginya harga-harga sembako, rendahnya daya beli
masyarakat merupakan faktor yang rentan terhadap krisis sosial.
Krisis sosial dapat tejadi dimana-dimana tanapa mengenal waktu dan tempat.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Reformasi merupakan suatu gerakan yang menghendaki adanya perubahan kehidupan


bermasyarakat, berbangsa, bernegara ke arah yang lebih baik secara konstitusional. Artinya
adanya perubahan kehidupan dalam bidang ekonomi, politik, hukum, sosial, dan budaya yang
lebih baik, demokratis berdasarkan prinsip kebebasan, persamaan, dan persaudaraan. Gerakan
reformasi lahr sebagai jawaban atas krisis yang melanda berbagai segi kehidupan.

3.2 Saran
Sebaiknya sebagai warga negara yang baik setidaknya kita bisa menerapkan
perubahan sederhana guna membuat reformasi kecil dalam kehidupan seperti menaati
hukum atau peraturan yang berlaku.