Anda di halaman 1dari 55

MAKALAH STRUKTUR ALJABAR

GRUP PERMUTASI

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas matakuliah Struktur Aljabar di


ampu oleh :

Nurviana, S.Pd., M.PMat.

Oleh : Kelompok 1

Amiruddin Raja Guk Guk 150601002

Luci Dewi Muliana 150601005

Mahgfirah 150601004
JURUSAN MATEMATIKA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SAMUDRA

LANGSA

2016

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT,


yang telah memberikan segala nikmat dan karunia-Nya kepada kita. Sholawat
beserta salam Allah SWT, semoga tercurahkan keharibaan Nabi kita Muhammad
SAW, kepada keluarga, dan kepada para sahabat-sahabatnya serta semua
pengikut yang selalu setia kepada ajarannya, mudah-mudahan syafaatnya kelak
akan kita peroleh di yaumul akhir, aamiin yaa robbal alaamiin.

Dan penulis bersyukur kepada Allah SWT, sebagaimana penulis didalam


melaksanakan tugas kelompok ini diberi kemampuan untuk menyelesaikan
makalah yang berjudul Grup Permutasi. Penulis menyadari bahwa penulisan
makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.

2
Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman tentang
Integral itu sendiri. Dalam proses pendalaman materi ini, tentunya kami
mendapatkan bimbingan,arahan, koreksi dan saran, untuk itu rasa terima kasih
yang sedalam-dalamnya Penulis ucapkan kepada Ibu Nurviana, S.Pd., M.PMat.
dosen Mipa Matematika yang telah memberikan masukan untuk makalah ini.
Oleh karena itu, penulis juga sangat mengharapkan kepada para pembaca agar
memberikan saran atau kritik yang konstruktif kepada penulis makalah ini, demi
kesempurnaan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen untuk masa yang akan
datang.

Akhir kata, penulis hanya mampu untuk mengucapkan banyak terima


kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan makalah
ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Langsa, 19 Novomber 2016

Penyusun,

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................ ii

DAFTAR ISI.......................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN...................................................................... 1

3
1.1. Latar Belakang............................................................................ 1
1.2. Rumusan Masalah....................................................................... 3
1.3. Tujuan.......................................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN....................................................................... 4

2.1. Fungsi dan Pemetaan................................................................... 4


2.2. Grup Permutasi ........................................................................... 6
2.2.1 Pengertian Grup Permutasi............................................................. 6
2.2.3 Permutasi Komposisi......................................................... 7
2.2.3 Sifat-sifat Grup Permutasi.............................................................. 11
2.2.4 Menentukan Cycle (putaran) dan Orbit.......................................... 12
2.2.5 Teorema-teorema yang Berhubungan dengan
Grup Permutasi............................................................................... 13
2.3. Grup Simetrik.............................................................................. 19
2.4. Grup Dihedral.............................................................................. 21

BAB III PENUTUP............................................................................... 25

3.1 .Kesimpulan................................................................................. 25
3.2 .Saran........................................................................................... 25

DAFTAR PUSTAKA............................................................................. 26

4
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada awal perkembangannya kajian aljabar abstrak hanya meliputi teori


grup, ring, dan lapangan, namun perkembangan ilmu komputasi dan teknologi
informasi yang sangat pesat mengakibatkan peran aljabar abstrak semakin
bertambah penting. Terdapat banyak sekali penerapan aljabar abstrak yang sering
kita temui tanpa kita sadari, contohnya adalah simbol Universal Product Code
(UPC), atau lebih dikenal dengan istilah barcode, karena bentuknya yang berupa
garis-garis berjajar seperti batang.

Selain penerapannya secara langsung, aljabar abstrak juga memegang


peranan penting dalam perkembangan ilmu lain, utamanya dalam perkembangan
ilmu persandian (cryptography) dan teori pengkodean (coding theory). Besarnya
peran aljabar abstrak terhadap perkembangan disiplin ilmu lain mengakibatkan
kajian aljabar abstrak semakin meluas. Aljabar abstrak tidak hanya menjadi kajian
utama dalam perkuliahan mahasiswa jurusan matematika, namun juga pada
jurusan lain diantaranya Sains dan Teknik.

Satu masalah yang sering dihadapi dalam pembelajaran aljabar abstrak


adalah ketika memasuki pembahasan teori grup. Dimana mahasiswa dituntut
untuk memahami konsep matematika yang cenderung abstrak dan sekaligus
dihadapkan pada persoalan pembuktian logis, dua hal yang jarang ditemui pada
pembelajaran matematika tingkat sekolah menengah. Mahasiswa yang mendapati
kesulitan semacam ini akan semakin kehilangan minat belajar teori grup. Padahal
teori grup merupakan salah satu konsep penting yang memiliki banyak penerapan
dalam kehidupan nyata dan dalam perkembangan ilmu lain, sebagaimana
dinyatakan oleh Thomas W. Judson dalam bukunya Abstract Algebra: Theory and
Application,

1
The theory of groups occupies a central potition in mathematics.
Groups now play a central role in such areas as coding theory, counting,
and the study of symmetries; many areas of biology, chemistry, and
physics have benefited from group theory. (Teori grup menempati posisi
utama dalam matematika. Grup memainkan peran utama dalam
berbagai bidang diantaranya teori pengkodean, perhitungan, dan
pembelajaran mengenai simetri; biologi, kimia, dan fisika telah banyak
memanfaatkan teori grup).

Meski definisi grup abstrak belum ditetapkan secara jelas hingga akhir
tahun 1800-an, metode-metode dalam teori grup telah digunakan jauh sebelum
tahun ini yakni dalam pengembangan berbagai bidang matematika, termasuk
geometri dan konsep persamaan aljabar. Tahun 1770-1771 Joseph-Louis Lagrange
menggunakan teori grup untuk mempelajari metode penyelesaian persamaan
polinomial. Kemudian pada 1811-1832 variste Galois berhasil menemukan cara
menentukan apakah suatu persamaan polinomial dapat diselesaikan ataukah tidak
dengan melihat koefisien-koefisien persamaan tersebut. Konsep yang
dikemukakan oleh Galois inilah yang pada akhirnya menjadi dasar teori grup.

Teori grup adalah cabang aljabar abstrak yang membahas mengenai grup.
Dalam matematika, grup adalah suatu struktur aljabar yang terdiri dari sebuah
himpunan dan sebuah operasi yang menggabungkan sebarang dua elemen
himpunan tersebut untuk membentuk elemen baru yang juga terdapat pada
himpunan tersebut. Agar dapat digolongkan sebagai grup, himpunan dan operasi
tersebut harus memenuhi beberapa kondisi yang disebut aksioma grup.

Studi grup berawal dari gagasan mengenai himpunan-himpunan permutasi


yang tertutup di bawah operasi perkalian dan melibatkan identitas, serta invers
untuk setiap elemennya. Konsep permutasi yang pertama dikemukaan oleh
Lagrange, yaitu permutasi adalah fungsi yang memetakan sebuah himpunan
kepada himpunan itu sendiri. Namun teorema-teorema dasar permutasi dan notasi-
notasi yang digunakan di dalamnya dikembangkan oleh Cauchy. Cauchy juga
merupakan orang pertama yang menggunakan notasi siklik dalam menyatakan
sebuah permutasi.

2
Tom Davis dalam Group Theory via Rubiks Cube menyatakan, A very
important class of groups are so-called permutation groups. (Bagian yang
sangat penting dari grup adalah grup permutasi). Grup permutasi merupakan
pokok dari studi simetri geometri dan teori Galois, yaitu pencarian penyelesaian
persamaan polinomial. Ironisnya, meskipun memiliki banyak manfaat kajian teori
grup kurang diminati dan seringkali sulit difahami dikarenakan sifatnya yang
abstrak.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana membentuk grup permutasi?

2. Apa saja sifat-sifat grup permutasi?

3. Bagaimana cara menentukan cycle (putaran) dan orbit dalam grup


permutasi?

4. Bagaimana cara menerapkan teorema-teorema yang berhubungan dengan


grup permutasi?

1.3 Tujuan

1. Memahami bentuk grup permutasi

2. Menjelaskan sifat-sifat grup permutasi

3. Menentukan cycle (putaran) dan orbit dalam grup permutasi

4. Menerapkan teorema-teorema yang berhubungan dengan grup permutasi

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 FUNGSI DAN PERMUTASI

4
DEFINISI 2.1 (Fungsi atau Pemetaan)

Suatu fungsi atau pemetaan


dari himpunan A ke himpunan B adalah suatu

aturan yang menentukan untuk setiap elemen


a A tepat satu elemen B. Dikatakan

bahwa
memetakan a pada b dan
memetakan A ke B.

Notasi untuk menunjukkan bahwa


memetakan a pada b adalah

( a) b

Elemen b adalah bayangan a terhadap


. Fungsi
memetakan A ke B dinyatakan
secara simbolik sebagai

: A B
Ilustrasi-nya dapat dilihat pada gambar 1


a b

A B

5
Gambar 1

Jika
dan adalah fungsi-fungsi dengan
: A B dan
:B C
maka ada fungsi dari A ke C, ilustrasi pada gambar 2. Fungsi dari A ke C adalah fungsi

komposit (composite function) yang terdiri dari


diikuti ditulis

( (a)) c

A B C selanjutnya didefinisikan

sebagai
o .

6
b

Gambar 2

DEFINISI 2.2 (satu-satu dan pada)

Suatu fungsi dari himpunan A ke himpunan B adalah satu-satu (one to one) jika
setiap elemen B mempunyai paling banyak satu elemen A yang dipetakan padanya
dan dikatakan pada (onto) B jika setiap elemen B mempunyai sekurang-
kurangnya satu elemen A yang dipetakan padanya.

Kita dapat menunjukkan suatu fungsi


: A B , satu-satu dan pada
dengan mengikuti aturan berikut:

1. Fungsi
: A B satu-satu ditunjukan bahwa

7
(a1 ) (a2 ) a1 a2 a ,a A
untuk setiap 1 2

2. Fungsi
: A B , pada ditunjukkan bahwa

untuk setiap
bB terdapat
a A sedemikian sehingga

(a) b

Diberikan fungsi
: A B . Himpunan A disebut domain (domain) dari

dan himpunan B disebut kodomain (codomain) dari


. Himpunan

( A) { (a) a A}
disebut bayangan (image) dari A terhadap .

8
DEFINISI 2.3 (Permutasi)

Suatu permutasi pada himpunan A adalah pemetaan


:A A
yang satu-satu ( 11

atau injektif) dan pada (


onto). Dengan kata lain, permutasi untuk A adalah fungsi
satu-satu dari A pada A, kadang ditulis

11
: A B
pada

untuk fungsi satu-satu


dari A pada B.

CONTOH 1

Misalkan himpunan
A {1,2,3,4,5} dengan definisi pemetaan sebagai berikut:

1 :1 2 2 :1 2
2 1 23
32 3 1
43 44
54 55

9
1 1 3 1 (1) 2 (3) 2
maka bukan suatu permutasi karena sedangkan suatu
permutasi.

2.2 GRUP PERMUTASI

2.2.1 Pengertian Grup Permutasi

Permutasi dari sebuah himpunan adalah fungsi dari A ke A yang


berkorespondensi satu-satu dan onto. Permutasi grup dari himpunan A adalah
himpunan permutasi-permutasi dari A yang membentuk sebuah grup dengan
operasi komposisi fungsi.

Contoh 2:

Sebagai contoh, kita daftarkan sebuah permutasi dari himpunan


{1,2,3,4} dengan menetapkan

(1)= 2 (2)=3 (3)=1 (4)=4

Untuk menunjukkan korespondensi ini adalah menuliskan dengan membentuk


barisan sebagai berikut.

10
=
[ ] 1234
2314

Di sini (j) diganti secara langsung di bawah j untuk setiap j. Begitu pun,

permutasi dari dari himpunan ditetapkan (1) = 5,


{1,2,3,4,5,6 }
(2) = 3, (3) = 1, (4) = 6 (5) = 2, (6) = 4

Ditentukan dalam barisan dengan bentuk sebagai berikut

=
[ 123467
531624 ]

2.2.2 Permutasi Komposisi

Kita akan menunjukkan bahwa komposisi fungsi adalah operasi biner pada
himpunan semua permutasi untuk himpunan A, operasi ini disebut Multiplikasi

Permutasi (Permutation Multiplication) Diambil suatu himpunan A dan dan

11
adalah permutasi-permutasi untuk A sedemikian sehingga keduanya merupakan fungsi

satu-satu dan pada untuk A. Fungsi komposit dengan skema


A A A

merupakan pemetaan dari A ke A. Fungsi komposit juga merupakan permutasi,


ditunjukkan sebagai berikut.

( o )(a1 ) ( o )(a2 ) maka,

( (a1 )) ( (a2 ))

Karena satu-satu maka


(a1 ) (a2 ) dan karena satu-satu maka 1
a a2 .

Karena fungsi pada maka untuk setiap


b A , ada 1
x A sedemikian sehingga

( x1 ) b dan karena fungsi pada maka untuk setiap


x2 A , ada
x1 A

12
sedemikian sehingga
( x2 ) x1 . Demikian untuk setiap
b A , ada
x2 A

sedemikian sehingga
( ( x2 )) ( o )( x2 ) b , yaitu fungsi pada.

Jadi fungsi satu-satu dan pada, kesimpulannya merupakan permutasi


untuk A.

CONTOH 3

Misalkan
A {1,2,3,4,5} dan adalah permutasi pada A dengan


1 4
22
35
43
5 1

notasi untuk permutasi A ditulis

1 2 3 4 5

4 2 5 3 1

artinya bahwa
(1) 4, (2) 2, (3) 5, (4) 3, (5) 1 . Jika permutasi lain
untuk A dengan

13
1 2 3 4 5

3 5 4 2 1

multiplikasi permutasi sebagai berikut

( o )(1) ( (1)) (3) 5

( o )(2) ( (2)) (5) 1

( o )(3) ( (3)) (4) 3

( o )(4) ( (4)) (2) 2

( o )(5) ( (5)) (1) 4

maka didapat permutasi untuk A sebagai

1 2 3 4 5
o
5 1 3 2 4

14
Sekarang jika
A , kita bentuk himpunan

S A { : A A 11
dan pada}

yaitu koleksi semua permutasi untuk A. Operasi biner pada


SA adalah multiplikasi

permutasi, terhadap operasi ini


SA merupakan grup. Kita cantumkan dalam teorema
berikut.

TEOREMA 1

Misalkan A suatu himpunan,


A dan
SA koleksi semua permutasi untuk A maka

SA merupakan grup terhadap operasi multiplikasi permutasi.

Bukti

Koleksi A
S merupakan grup ditunjukkan sebagai berikut:

1. Tertutup,
(1, 2 S A )( S A ) 1 o 2
Ditunjukkan operasi multiplikasi permutasi well defined

15
Ambil sebarang 1 2
, S A

o : SA SA SA
nt
(1 , 2 ) a o( 1, 2 ) 1 o 2

2 1

karena
1 , 2 S A , perhatikan bahwa A A A maka
(1 o 2 ): A A

dimana
a a (1 o 2 )(a) A atau
(1 o 2 ) S A
(1)

Dilain pihak
1 S A , sehingga untuk setiap
a A maka
2 (a ) A dan

2 SA untuk setiap 2
(a) A ( (a)) A
maka 1 2
( (a)) S A
atau 1 2

(2)

df

Dari (1) dan (2) didapat


(1 o 2 )(a) 1 ( 2 (a)) . Masih harus ditunjukkan bahwa

(1 o 2 ) merupakan pemetaan, satu-satu, dan pada.

16

(1 o 2 ) pemetaan, 1
a a2 (1 o 2 )(a1 ) (1 o 2 )(a2 ) a1, a2 A

Ambil sebarang 1
a , a2 A , a1 a2 maka

df a1 a2 df
1 ( 2 (a1 )) (1 o 2 )(a1 ) (1 o 2 )(a2 ) 1 ( 2 (a2 ))

Jadi 1
a a2 (1 o 2 )(a1 ) (1 o 2 )(a2 ) a1, a2 A atau
(1 o 2 ) pemetaan.

(1 o 2 ) satu-satu,
(1 o 2 )(a1 ) (1 o 2 )(a2 ) a1 a2 a1, a2 A

Ambil sebarang 1 2
a ,a A ,

df df
(1 o 2 )(a1 ) 1 ( 2 (a1 )) 1 ( 2 (a2 )) (1 o 2 )(a2 )

df

karena 1 pemetaan maka 2 1
(a ) 2 (a1 )
dan 2 pemetaan maka 1
a a2 .

Jadi
(1 o 2 )(a1 ) (1 o 2 )(a2 ) a1 a2 a1, a2 A atau
(1 o 2 ) satu-satu.

17

(1 o 2 ) pada,
( b A)( a A) b (1 o 2 )(a)

Karena 1
pada, untuk setiap
b A terdapat 1
a A sehingga 1 1
(a ) b dan

karena 2
pada, terdapat 2
a A sehingga 2
(a2 ) a1 .

Jadi untuk setiap


b A terdapat
a2 A sehingga

(1 o 2 )(a2 ) 1 ( 2 (a2 )) b atau


(1 o 2 ) pada.

Kesimpulan operasi multiplikasi permutasi well defined.

(1, 2 , 3 S A ) (1 o 2 ) o 3 1 o( 2 o 3 )
2. Asosiatif,

df df
((1 o 2 ) o 3 )(a) (1 o 2 )( 3 (a)) 1 ( 2 ( 3 (a)))

df df
1 (( 2 o 3 )(a)) (1 o( 2 o 3 ))(a)
untuk setiap
a A

Jadi asiosiatif berlaku pada


SA .

18
3. Ada elemen identitas,
( e S A )( S A ) oe e o

Misalkan elemen identitas itu diwakili oleh i ( ) maka ,

sedemikian hingga
i ( a) a untuk setiap
a A i
. Jelas bahwa 11 dan i pada.

df df
( oi)(a) (i(a)) (a) dan
(i o )(a) i( (a)) (a)

i e SA untuk setiap
SA ,
Jadi terdapat

S
4. Untuk setiap elemen A mempunyai invers,

( S A )( 1 S A ) o 1 1 o e

Misalkan
SA sedemikian sehingga

A A A
uuuuuuuuuuuuuuuuuuru
o

19
( o )(a) ( ( (a)) e(a) a , a A

dan bukan elemen identitas karena


(a) a . Jadi
1
invers dalam

SA .

2.2.3 Sifat-Sifat Grup Permutasi

Dua unsur a, b S berelasi a bfi jika dan hanya jika b = a.f i untuk suatu
bilangan bulat i, maka akan ditunjukkan bahwa relasi ini merupakan relasi
ekivalensi dalam S sebagai berikut:

1. Sifat refleksi : a a fe karena a = afo = ae.

Contoh 4: Simetri Dari Persegi (4)

Pada contoh ke-3, kita menghubungkan setiap pergerakan dalam D4


dengan permutasi dari penempatan-penempatan tiap empat sudut persegi. Sebagai
contoh, jika kita tandai empat posisi sudut seperti dalam gambar di bawah dan
terap menandai ini yang ditetapkan sebagai acuan. Kita dapat menggambarkan
sebuah rotasi 90 hasil prmutasi.

20
[ ]
= 1234
23 41

Sedangkan refleksi dengan garis mendatar sumbu horizontal menghasilkan

[ ]
= 1234
2143

Dua elemen ini secara umum menghasilkan group (bahwa, setiap elemen

adalah kombinasi beberapa dan ). Jika D4 ditampilkan dengan cara ini,

kita katakan bahwa D4 adalah sebuah subgroup dari S4.

2. Sifat simetris: jika a bfi maka b = a. f i, karena i bilangan bulat terdapat i

sehingga a = b f i. Ini berarti b afi.

Contoh 5: Grup Simetri Segitiga sama sisi(


S3 )

21
Misalkan
S3 menyatakan semua himpunan fungsi satu-satu dari
{1,2,3}
untuk himpunan itu sendiri. Kemudian
S3 dalam komposisi fungsi adalah grup

dengan elemen ke-6 elemennya adalah.

[ ] [ ] [ ]
= 123
123
= 123 2
231
= 123
312

=
[ ]
123
132
=
[ ]
123 2
213
=
[ ]
123
321

Catatan bahwa =
[ ]
123
321
sehingga
S3 adalah tidak Abelian.

3. Sifat transitif: jika a bfi dan b cfi berarti b = a. f i dan

c = bf i = (af i)f j = af (i+j), yang berarti a cfi.

2.2.4 Menentukan Cycle (putaran) dan Orbit

22
a. Notasi Cycle

Notasi cycle memiliki teori yang bermanfaat pada sifat-sifat penting dari
sebuah permutasi yang digambarkan, ketika notasi cycle digunakan.

Contoh 6:

Sebagai ilustrasi dari notasi cycle, mari kita lihat permutasi di bawah ini :

[
= 123 456
214653 ]
Nilai permutasi di atas dapat ditampilkan secara skematis seperti dibawah ini :

Sehingga dapat ditulis (1,2)(3,4,6)(5) dari notasi cycle. Sebuah gambaran

dari barisan (
a1, a 2., am ) disebut panjang cycle m atau perputaran m cycle.

b. Orbit dari grup permutasi

23
Misalkan f suatu permutasi pada himpunan S sehingga f A(S), klas
ekivalen yang terbentuk dalam S yang disebabkan adanya relasi ekivalensi diatas

disebut orbit dari a oleh f untuk suatu a S dan orbit dari a oleh f ini terdiri atas
unsur-unsur.

Contoh 7:

Misalkan dalam S6 suatu permutasi f A(S6) berbentuk

f=
( 1 2 3 4 5 6
1 5 3 4 6 2 )
Perhatikan

orbit dari 1 hanya terdiri dari : 1 = 1f

Orbit dari 2 diperoleh : 2f = 5, 2f 2 = 5f = 6, dan 2f3 = 6f = 2, sehingga


orbit dari 2 terdiri dari (2,5,6)

Orbit dari 3, terdiri dari 3 sendiri karena 3=3f.

Orbit 4, juga terdiri dari 4 sendiri.

Sehingga putaran dari f adalah : (1), (2,5,6),(3), (4). Putaran f diatas sering
ditulis sebagai f = (2,5,6) dimana orbit terdiri dari satu unsur sering tidak
dituliskan.

24
2.2.5 Teorema-Teorema yang Berhubungan Dengan Grup Permutasi

Teorema 2. Produk disjoint cycles

Setiap permutasi dari himpunan terbatas dapat ditulis sebagai cycles atau
sebagai produk dari disjoint cycles.

BUKTI. menjadi permutation = . Untuk menulis siklik


{1,2,3,,n }

disjoint, kita memulai dengan memilih anggota A, katakan


a1 , dan biarkan

a1
a 2
a2 =

),
a3 = ()= (a1 )

dan seterusnya, sampai kita dapatkan


1 = m
(a1 ) untuk beberapa m. Kita

a1 2
tahu ada beberapa karena deretan
a1 , ),
( a 1) , harus tidak

berhingga, jadi pada akhirnya terjadi pengulangan, i j , untuk i dan


( a 1 )= ( a1 )

25
j dengan i < j. Kemudian 1 = m , dimana m = j i. Dan kita sebut
a (a1 )

a
hubungan diantara
a1 ,a2 ,a3 ,..am seperti
( 1, a2 ,a 3 ,..am )
=

Contoh 8:

Jika urutan notasi untuk dan , masing-masing adalah

[ ]
= 123 45
21354
dan =
[ ]
12345
5 4123

Kemudian, dalam notasi cycle, = (12)(3)(45), = (153)(24), dan =


(12)(3)(45)(153)(24).

Untuk menempatkan dalam bentuk disjoint cycle amati bahwa (24)


menentukan 1; (153) mengirimkan 1 ke 4.kemudian dengan cara ini. Kemudian
dengan cara ini kita mendapatkan = (14)(253).

Teorema 3. Disjoint Cycles Commute

26
Jika dua buah siklik

(emua elemen A , permutasiakanterli hat sepertidi penglangan ,katakan,a1 ,a2 ,a3 ,..am )
=

dan
b=( b1 ,b2 ,b3 ,..bn ) tidak memiliki isi yang sama, kemudian .

BUKTI. dan dari permutasi

S=
{a1 ,a2 ,a3 ,..am, (b1,b2 ,b3 ,..bn ) ,c1 ,c2 ,c3 ,..ck }
Dimana cs anggota S yang tersisa dari . Untuk membuktikan

, maka ditunjukan untuk semua x di S. Jika x


( )( x )=( )( x )
adalah elemen a maka:

( ) ( ai ) = ( ( a i ))= ( ai ) =ai +1

Sehingga ditafsirkan
ai +1sebagaiai jikai=m

( ) ( ai )= ( ( ai ) )= ( ai+1 ) =ai+ 1

27
Karenanya, fungsi dari di dalam eleman. Argumen yang mirip

menunjukan bahwa sedang itu b elemen sama baiknya. Akhirnya,

katakan x adalah elemen dari c, atau


c1 . Kemudian di dapatkan

( ) ( c i )= ( ( c i ) )= ( c i )= c i

( ) ( c i )= ( ( c i ) )= ( c i ) =ai
Dalam contoh perkalian siklik, kita menunjukan produk (1 3) (2 7) (4 5 6) (8) (1 2
3 4) (6 4 8) (5) dapat ditulis dengan (1 7 3 2) (4 8) (5 6). Apakah ekonomi
dalam rumus keuntungan hanya untuk menulis permutasi dalam
bentuk menguraikan siklus? Tidak. Yang nantinya akan ditunjukan
dalam theorema selanjutnya, order dari permutasi.

Teorema 4. Order Suatu Permutasi (Ruffini-1799)

Order suatu permutasi suatu yang ditulis dalam di set terbatas memisah format
siklik adalah yang umum yang terakhir berbagai panjang siklik.

BUKTI. Pertama, mengamati suatu siklus panjangnya n yang mempunyai order

n. (memverifikasi sendiri). Kemudian, memisalkan dan dengan

memisahkan siklus panjangnya m dan n, dan membiarkan k, maka jadilah yang


umum yang mengalikan berbagai m dan n. Itu mengikuti dari Teorema 4.1 yang

28
kedua-duanya k dan k adalah permutasi identitas dan, karena m dan

n berubah, k = k k adalah juga identitas. kemudian, kita mengetahui


()

dengan kesimpulan ke Teorema 4.1 ( k =e menyiratkan bahwa suatu membagi


k) bahwa order -membiarkan kita menyebutkannya t-harus membagi k.

Akan tetapi t = t t = , sedemikian sehingga t = t .


()

Bagaimanapun, itu harus jelas bahwa jika dan tidak punya simbol,

umum yang sama adalah benar untuk t dan t , karena peningkatan suatu

siklus bagi suatu kuasa tidak memperkenalkan lambang baru. Tetapi, jika t

dan t adalah sama dan tidak punya simbol, mereka umum harus kedua-

duanya jadi akan menjadi identitas, sebab tiap-tiap lambang didalam t


29
ditetapkan, perbaiki oleh t dan sebaliknya (tidak ingat bahwa suatu lambang

muncul adalah suatu permutasi ditetapkan dan diperbaiki oleh permutasi).
Mengikuti itu, kemudian, itu kedua-duanya m dan n harus membagi t. Ini berarti
k, paling sedikit itu yang umum berbagai m dan n, dibagi t juga. menunjukkan ini
bahwa k= t.

Dengan begitu jauh, kita sudah membuktikan bahwa teorema adalah benar kasus
di mana permutasi adalah siklik tunggal atau suatu produk dua memisah siklik.
Kasus yang umum yang menyertakan lebih dari dua siklik dapat ditangani dengan
suatu cara yang sepadan.

Ketika kita akan segera melihat, yang terutama sekali macam penting permutasi
adalah suatu siklik panjangnya 2-itu adalah, suatu permutasi tentang format (ab).
Banyak orang pengarang menyebutkan permutasi ini perubahan, karena efek ab)
adalah untuk mempertukarkan atau mengubah urutan suatu a dan b.

Teorema 5. Produk 2 Siklus

Tiap-tiap permutasi di (dalam) n>1,adalah suatu produk 2-siklus.

BUKTI. Pertama, catat bahwa identitas itu dapat dinyatakan ketika (1 2)(1 2), dan
ini merupakan suatu produk 2-siklus. Dengan Teorema 5.1, kita mengetahui
bahwa tiap-tiap permutasi dapat ditulis dalam format

(a1a2...ak)(b1b2...bt)...(c1c2...cs).

suatu perhitungan langsung menunjukkan bahwa ini adalah sama sebagai

(a1ak)(a1ak-1)...(a1a2)(b1bt)(b1bt-1)...(b1b2)(c1cs)(c1cs-1)...(c1c2)

Ini tanda bukti.

30
Penghapusan yang pertama di dalam contoh yang berikut mempertunjukkan
teknik ini. Produk lain di dalam contoh 4 pertunjukan bahwa penghapusan suatu
permutasi ke dalam suatu produk 2-siklus tidaklah unik.

CONTOH 9

(1 2 3 4 5) = (1 5) (1 4) (1 3) (1 2)

= (4 5) (5 3) (2 5) (1 5)

= (2 1) (2 5) (2 4) (2 3)

= (5 4) (5 2) (2 1) (2 5) (2 3) (1 3)

Contoh 4 genap pertunjukan bahwa banyaknya 2-siklus boleh bertukar-tukar dari


satu penghapusan kepada yang berikutnya. Teorema 5.5 (dalam kaitan dengan
Cauchy) mengatakan bagaimapun itu ada satu aspek suatu penghilangan yang
tidak pernah bervariasi. Kita mengisolasikan suatu spesial kasus Teorema 5.5
sebagai lemma.

LEMMA

1 2 r

Jika = ... , dimana s adalah 2-siklik, kemudian r adalah

BUKTI. Dengan jelas, r 1, karena suatu 2-siklus bukanlah identitas. Jika

r = 2,kita adalah yang dilaksanakan.jadi,kita mengira bahwa r > 2 dan kita

berproses dengan induksi. Karena (i j) = (j i),hasil


1 2 dapat dinyatakan salah

satu dari format yang berikut menunjukkan pada sisi kiri:

31
(a b)(a b) =

(a b)(a c) = (b c)(a b)

(a b)(c d) = (c d)(a b)

(a b)(b c) = (b c)(a c).

Jika kasus yang pertama terjadi, kita boleh menghapus


1 2 dari produksi

untuk memperoleh =
3 ...
r dan oleh karena itu, dengan prinsip

Induksi Matematika, r-2 yang kedua menjadi genap. Di dalam lain tiga kasus,

kita menggantikan format


1 2 pada sisi kiri oleh counterpantnya pada sisi

kanan untuk memperoleh suatu produksi baru r 2-siklik itu masih identitas,
hanyalah dimana kejadian pertama bilangan bulat adalah di dalam yang kedua 2-
siklik produk sebagai ganti yang dulu. Kita sekarang mengulangi prosedur itu

hanya uraikan dengan


2 3 , dan, sama seperti sebelunnya,kita memperoleh

suatu produk (r-2) 2-siklus sepadan dengan identitas itu atau suatu produksi baru
r 2-siklik, di mana kejadian yang pertama suatu adalah di (dalam) yang ketiga 2-
siklik. Melanjutkan proses, kita ini harus memperoleh suatu produk (r-2) 2-
beredar sama kepada identitas, sebab jika tidak kita mempunyai suatu produk
sepadan dengan identitas dimana kejadian yang pertama bilangan bulat adalah
didalam 2-siklik yang terakhir, dan produk seperti itu tidak menentukan suatu
sedangkan mengerjakan identitas. Karenanya, dengan induksi, r-2 bahkan dan r
bahkan juga.

32
Teorema 6. Selalu Genap atau Selalu Ganjil

Jika pada permutasi dapaat dinyatakan sebagai perkalian yang berjumlah 2

siklik, maka setiap penguraian akan menjadi perkalian dari 2 siklik yang

bahkan harus memiliki jumlah 2 siklik. Seperti yang ada di bawah; jika

1 2 r dan 1 2 s

dimana dan adalah 2 siklik, maka r dan s keduanya genap atau ganjil.

BUKTI. Amati bahwa

1 2 r = 1 2 s menyiratkan

-1 -1 -1
1 2 s r ... 2 1

= 1 2 s r 2 1 ,

karena 2 siklik adalah inversnya sendiri. Demikian, seperti yang di atas menjamin
bahwa s + r adalah genap. Sehingga terjadi r dan s keduanya adalah genap dan
ganjil.

Teorema 7. Permutasi Genap Membentuk Group

Himpunan permutasi genap di Sn membentuk subgroup Sn.

33
BUKTI. Bukti ini diserahkan kepada pembaca.

Pada permutasi genap subgroup dalam Sn akan jadi sering muncul yang kita
berikan nama khusus dan notasi.

DEFINISI: Group Bertukar dari Tingkat n

Group permutasi genap n adalah simbol yang dilambangkan oleh An dan disebut
group bertukar dari tingkat n.

Hasil berikutnya menunjukkan bahwa tepat setengah dari unsure-unsur Sn (n > 1)


menjadi permutasi genap.

Teorema 8

Untuk n > 1, An adalah order yang mempunyai n!


2

BUKTI.

Untuk setiap permutasi ganjil , permutasi (12) adalah permutasi genap.

Demikian, setidaknya ada sebagai permutasi ganjil yang banyak karena ada yang

aneh. Di sisi lain, untuk setiap permutasi genap , permutasi (12) permutasi

ganjil. Jadi, setidaknya ada banyak maupun sedikit pada permutasi ganjil sebagai

34
permutasi genap. Itu terjadi karena sebuah angka sama dari permutasi genap dan

ganjil. Karena Sn= n!, sedangkan yang kita miliki An= n! .


2

2.3 GRUP SIMETRIK

Misalkan A adalah himpunan berhingga


{1,2,3,L , n} . Grup semua permutasi untuk A
disebut Grup Simetrik pada n huruf (Symmetric group n letters), sering ditulis sebagai

Sn Sn n !
. Jika A mempunyai n elemen maka dimana

n! n(n 1)(n 2) L (3)(2)(1) .

CONTOH 3

A {1,2,3} S 3! 6
Misalkan maka grup 3 elemen.

S3 { 0 , 1 , 2 , 1 , 2 , 3 }
Semua permutasi untuk A sebagai berikut

35
1 2 3 1 2 3
0 1
1 2 3 , 1 3 2

1 2 3 1 2 3
1 2
2 3 1 , 3 2 1

1 2 3 1 2 3
0 3
3 1 2 , 2 1 3

( 0 o1 )(1) 0 ( 1 (1)) 0 (2) 2 ( 1 o1 )(1) 1 (1 (1)) 1 (1) 2


,

( 0 o1 )(2) 0 ( 1 (2)) 0 (3) 3 ,

( 1 o1 )(2) 1(1 (2)) 1 (3) 1

( 0 o1 )(3) 0 ( 1 (3)) 0 (1) 1 ,


( 1 o1 )(3) 1 (1 (3)) 1 (2) 3

(1 o2 )(1) 1 (2 (1)) 1 (3) 2 ,


(2 o1 )(1) 2 ( 1 (1)) 2 (2) 2

36
(1 o2 )(2) 1 (2 (2)) 1 (2) 3 ,

(2 o1 )(2) 2 ( 1 (2)) 2 (3) 1

(1 o2 )(3) 1 (2 (3)) 1 (1) 1 ,


(2 o1 )(3) 2 ( 1 (3)) 2 (1) 3

1 2 3 1 2 3
0 o1 1 1 o1 3
Jadi 2 3 1 , 2 1 3 ,

1 2 3 1 2 3
1 o2 1 2 o1 3
2 3 1 , dan 2 1 3 .

S3
Hasil semua permutasi multiplikasi pada diberikan dalam tabel 1 di bawah.

0 1 2 1 2 3

0 0 1 2 1 2 3

1 1 2 0 3 1 2

2 2 0 1 2 3 1

37
1 1 2 3 0 1 2

2 2 3 1 2 0 1

3 3 1 2 1 2 0

Tabel 1

Perhatikan bahwa grup ini tidak komutatif tetapi untuk sebarang grup dengan
paling banyak 4 elemen adalah komutatif.

2.4 GRUP DIHEDRAL

Secara umum kita mengambil sebarang himpunan dengan 3 elemen

sehingga kita mempunyai grup


S3 seperti pada contoh 5 di atas. Kita dapat
mengambil contoh untuk keadaan tersebut misal segitiga sama sisi dengan titik-

titik 1, 2, dan 3. (gambar-3). Terhadap segitiga sama sisi ini kita definisikan
i


untuk rotasi dan i untuk bayangan cermin pada garis-garis bagi sudut-sudut.

38
3

1 2

Gambar 3

39
D3
Dengan demikian kita memperoleh grup simetris untuk segitiga

D3 Dn
sama sisi . Notasi untuk menyebutkan grup dihedral ke-3 sehingga
Grup Dihedral ke-n, adalah grup yang terdiri dari simetri-simetri n-segibanyak
(n-poligon).

1 2 Grup 3
D
simetris untuk segitiga sama sisi adalah

D3 { 0 , 1, 2 , 1, 2 , 3 }
. Perhatikan proses mendapatkan permutasi-permutasi

i dan
i .

40
3

1 2

1 2

1 2 3 1 2 3 1 2 3
0 1 3
1 2 3 2 3 1 3 1 2

41
3 3 3

1 2 1 2 1 2

1 2 3 1 2 3 1 2 3
1 2 3
1 3 2 3 2 1 2 1 3

42
CONTOH 4

Misalkan
D4 , grup dihedral ke-4, dengan segiempat yang mempunayi titik-titik

sudut 1, 2, 3, dan 4 seperti dalam gambar 4, dengan definisi fungsi


i adalah

rotasi-rotasi,
i adalah bayangan cermin terhadap bisektor-bisektor sisi-sisi

tegak lurus, dan i


adalah bayangan cermin terhadap diagonal-diagonal.

4 3

1 2

Gambar 4

43
4
3

1 2

4 3

1 2 Kita peroleh

grup simetris segiempat


D4 {0 , 1, 2 , 3 , 1, 2 , 1, 2} juga disebut Grup
Octic.

44
4

1 2

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
0 1 2
1 2 3 4 2 3 4 1 3 4 1 2

4 3

1 2

45
1 2 3 4
3
4 1 2 3

4 3

1 2

4 3

1 2

4 3 4 3

1 2 1 2

46
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 2 1
2 1 4 3 , 4 3 2 1 , 3 2 1 4 ,

1 2 3 4
2
1 4 3 2

D4 {0 , 1 , 2 , 3 , 1, 2 , 1, 2}
Operasi setiap elemen dalam diperlihatkan
dalam tabel 2.

0 1 2 3 1 2 1 2

0 0 1 2 3 1 2 1 2

1 1 2 3 0 1 2 2 1

2 2 3 0 1 2 1 2 1

3 3 0 1 2 2 1 1 2

1 1 2 2 1 0 2 3 1

2 2 1 1 2 2 0 1 3

1 1 1 2 2 1 3 0 2

2 2 2 1 1 3 1 2 0

47
Tabel 2

D4

{0 , 2 , 1 , 2 } { 0 , 1 , 2 , 3} { 0 , 2 , 1 , 2 }

{ 0 , 1} {0 , 2 } { 0 , 2 } { 0 , 1} { 0 , 2 }

{ 0 }
Diagram kekisi

untuk subgrup-subgrup
D4 sebagai berikut:

Gambar 5. Diagram Kekisi

48
49
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Permutasi grup dari himpunan A adalah himpunan permutasi-permutasi


dari A yang membentuk sebuah grup dengan operasi komposisi fungsi, yang
bersifat onto dan pada. Notasi cycle memiliki teori yang bermanfaat pada sifat-
sifat penting dari sebuah permutasi yang digambarkan, ketika notasi cycle
digunakan. Notasi cycle dapat memudahkan dalam pembahasan Grup Permutasi
ditambah dengan menggunaan permutasi komposisi. Selain Grup Permutasi ,
terdapat juga Grup Simetrik dan Grup Dihedral, yang menggunakan notasi cycle
dan permutasi komposisi.

3.2 Saran

Pembaca diharapkan agar terlebih dahulu memahami tentang fungsi dan


permutasi sebelum melanjutkan ke Grup Permutasi karena pembahasan didalam
Grup Permutasi menyinggung tentang fungsi dan permutasi untuk memudahkan
pembaca dalam memhami Grup Permutasi

50
DAFTAR PUSTAKA

Fraleigh J.B.,1994, A First Course in Abstract Algebra, Fifth Edition, Addison-

Wesley Publising Company, New York.

Gallian J.A,2010,Contemporary Abstract Algebra, Belmont: Brooks

Ibid., hal. 37

Ibid., hal. 42

Muchkisah, Nurul.2005.Teori Grup dan Terapannya.Surakarta : LPP UNS dan

UNS Press.

Soehakso R.M.J.T, 1980, Pengantar Teori Grup, Edisi Ketiga, terbitan Jurusan

Matematika FMIPA UGM

Thomas W. Judson, Abstract Algebra: Theory and Applications. (Austin: Stephen

F. Austin State University, 2011), hal. iii

Tom Davis, Group Theory via Rubiks Cube, diunduh dari

http://www.geometer.org pada 19 November 2016

51