Anda di halaman 1dari 5

Nama : Bima Mustaqim

NIM : 514 333 1002


Mata Kuliah: Filsafat Pendidikan
SKS : 2 (dua)
Hari/ Tanggal : Kamis, 01 Desember 2016

UJIAN AKHIR MATA KULIAH FILSAFAT PENDIDIKAN


1. Pasal manakah dalam Undang-Undang SISDIKNAS 2003 yang menjelaskan tentang
RSBI/SBI?
Jawab : Pasal 50 ayat (3) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional yang mengatur penyelenggaraan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan
Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)

Pasal 50 ayat (3) Undang-Undang Sistem Pendidikan berbunyi: "Pemerintah dan/atau


Pemerintah Daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua
jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional".

2. Tahun berapa RSBI/SBI mulai dibuka dan ditutup?


Jawab : RSBI/SBI mulai dibuka pada tahun 2006 dan ditutup pada tahun 2013. Alasan MK
(Mahkamah Konstitusi) menutup RSBI/ SBI dikarenakan pendidikan harus juga menanamkan jiwa
dan jati diri bangsa. Pendidikan nasional tidak bisa lepas dari akar budaya dan jiwa bangsa Indonesia
3. Menurut Daoed Joesoef, apa alasan yang kuat untuk menolak RSBI/SBI ?
Jawab : Alasan Daoed Joesoef menolak RSBI/ SBI adalah Pertama, ada cara pembelajaran di
kedua lembaga persekolahan itu yang terang-terangan melanggar Konstitusi, yaitu penggunaan
bahasa asing, dalam hal ini bahasa Inggris, sebagai bahasa pengantar formal dalam pembelajaran
vak-vak eksakta tertentu, antara lain matematika dan fisika. Yang dilanggar adalah Pasal 36 dari
UUD-45 asli, yang berbunyi: Bahasa Negara adalah Bahasa Indonesia

Saya menuntut pembubaran RSBI dan SBI berdasarkan alasan nalariah kedua. Penggunaan
bahasa asing, dalam hal ini bahasa Inggris, sebagai bahasa pengantar pembelajaran, terang-
terangan, tanpa tedeng aling-aling, telah mengkhianati Sumpah Pemuda tahun 1928, yang
secara resmi kita nobatkan dan akui merupakan tonggak sejarah kedua dari perjuangan
kemerdekaan Bangsa Indonesia. Izinkanlah saya mengingat bahwa pada tgl 28 Oktober 1928 itu
sekumpulan pemuda-pemudi terpelajar kita mengadakan sumpah berupa pilihan kesatuan
wilayah (bertumpah darah satu), pilihan kesatuan politis (berbangsa satu) dan pilihan kesatuan
budaya (menjunjunhg tinggi bahasa persatuan), yang semuanya disebut Indonesia dengan
khidmat dan penuh kebanggaan. Perihal peggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di
institusi pendidikan sebenarnya tidak hanya bertentangan dengan Pasal 36 UUD 1945 dan
Semangat Sumpah Pemuda, namun juga UU No. 24 Tahun 2009 Pasal 25 (Ayat 3), Pasal 29
(Ayat 1), Pasal 33 (Ayat 1), Pasal 41 (Ayat 1-3), dan Pasal 44 (ayat 1-3).

Dan remark ini menjadi pengantar bagi alasan nalariah saya yang ketiga, yang mendasari
tuntutan saya untuk membubarkan RSBI dan SBI secepat mungkin sebelum terlambat. Para
perumus dan pengambil keputusan politik untuk menbangun RSBI dan SBI menurut hemat saya
telah keliru, sangat keliru. Orang-orang Inggris dan Amerika maju bukan karena mereka
berbahasa Inggris, tetapi berhubung mereka menghayati nilai-nilai kemajuan zaman dan melalui
jalur pendidikan formal, membiasakan anak didik sedini mungkin menggali, mengenal,
mempelajari, menguasai, menghayati dan menerapkan nilai-nilai yang diakui berguna bagi dia,
bagi keluarganya, bagi masyarakat, bagi bangsa dan negaranya. Dalam pembiasaan kultural yang
konstruktif ini, bangsa Inggris dan Amerika yang bangga pada kenasionalnya masing-masing,
sudah tentu menggunakan bahasa Inggris, bahasa nasional mereka, bahasa sehari-hari mereka,
sebagai media komunikasi. Namun tetap saja, yang membuat anak-anak Inggris dan Amerika
bisa maju, bukan karena penggunaan bahasa Inggris itu, tetapi kemampuan menghayati dan
menerapkan nilai-nilai kemajuan yang dibelajarkan tadi dalam kehidupan sehari-hari. Sambil
lalu perlu saya tambahkan bahwa bahasa Inggris dari orang Inggris, orang Amerika, orang
Australia, sebenarya tidak sama hanya mengesankan serupa, paling sedikit berbeda dalam
ucapan dan tulisan.

Saya menuntut pembubaran RSBI dan SBI berdasarkan alasan nalariah yang lain lagi, yaitu
yang keempat. Alasan ini tampil di benak saya setelah mengetahui bahwa standar pendidikan
negara maju yang dipakai sebagai pedoman pembelajaran di RSBI dan SBI adalah standar
kompetensi salah satu sekolah terakreditasi dinegara anggota OECD, yaitu Organisation for
Economic Co-operation and Debelopment. Sikap ini sungguh belachelijk, menertawakan.
OECD adalah sebuah organisasi kerjasama ekonomi dan pembangunan. Negara-negara belum
maju (developing countries), termasuk Indonesia .

Masih ada alasan nalariah kelima yang mendasari tuntutan saya untuk membubarkan RSBI
dan SBI. Pendidikan sudah ditetapkan oleh konstitusi dan konsensus nasional sebagai salah satu
jalur pemerataan peningkatan akal budi warga kita, jadi menerapkan azas egaliter dalam
pelaksanaan pendidikan. Sedangkan melalui aneka keistimewaan yang ditopang oleh aneka jenis
penandaan yang sudah mulai dipertanyakan efektivitas penggunaannya, RSBI dan SBI dengan
sengaja menimbulkan kekastaan di kalangan warga yang justru mau dihapus oleh revolusi
kemerdekaan nasional, bahkan telah dirintis ke arah sana sejak sebelum kemerdekaan oleh
beberapa tokoh pendiri NKRI: Willem Iskandar di Tapanuli Selatan dengan sekolah guru
perintisnya, Moh. Sjafei di Minangkabau dengan De Indonesia she Nijerheidschool dan Ki
Hadjar Dewantara dengan Taman Siswanya.

4. Apakah Undang-Undang SISDIKNAS 2003 perlu direvisi terutama pasal pada soal no 1.
Berikan alasan!

Jawab : Pasal 50 ayat (3) Undang-Undang Sistem Pendidikan berbunyi: "Pemerintah dan/atau
Pemerintah Daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua
jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional".

Menurut saya UU tersbut perlu direvisi. Kenapa? Karena, Keberadaan RSBI/SBI yang
mendasarkan seleksi pada intelektual dan keuangan calon peserta didik, adalah bentuk tindakan
penggolongan atau pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara berdasarkan status
sosial dan status ekonomi. Sehingga keberadaan RSBI/SBI merupakan bentuk kebijakan
diskriminatif dari Negara yang dilegalkan melalui Undang-undang. Hal tersebut bertentangan
dengan UUD 1945, UU HAM bahkan UU Sisdiknas sendiri. Selain itu juga bertentangan dengan
Kovenan Internasional Hak Sipol, Kovenan Internasional Hak Ekosob serta Konvensi UNESCO
menentang Diskriminasi dalam Pendidikan (1960). Kebijakan diskriminatif tersebut selanjutnya
dilakukan Kemendiknas dengan menggelontorkan dana dalam jumlah yang signifikan kepada
sekolah-sekolah yang sesungguhnya sejak awal memang sekolah unggulan, ketimbang
mengalokasikan dana secara khusus ke sekolah-sekolah terbelakang. Ini berarti semakin tinggi
standar kualitas suatu sekolah, semakin besar pula peluang sekolah itu mendapatkan privilege
dana khusus dari pemerintah, maupun dari masyarakat (melalui pungutan), serta semakin tinggi
pula kesempatannya untuk menjadi sekolah yang lebih bermutu lagi. Sebaliknya bagi sekolah-
sekolah non RSBI/SBI justru akan makin tertinggal, karena tidak mendapat dukungan dana yang
signifikan dari pemerintah dan ada larangan melakukan pungutan. Bukankah justru sekolah-
sekolah terbelakang-lah yang perlu mendapatkan dana khusus dalam jumlah lebih besar agar
dapat mengejar ketertinggalannya? Ini artinya pendidikan bermutu, disadari atau tidak, hanya
dapat dinikmati oleh sekelompok kecil warga negara tertentu, yang itu terpusat di kota-kota
besar.

Alasan saya berpendapat seperti itu, saya berpendapat pendidikan indonesia jangan bersifat
pragmatis yaitu sifat yang tergantung dari hubungannya dengan apa yang dia lakukan. Indonesia
harus memiliki ciri khas tersendiri, jangan mengikuti apa yang menjadi trend saat ini .
Pendidikan Indonesia harus mempertahankan kebudayaan Indonesia tersebut. Karena menurut
John Dewey (Sadulloh:2003) pendidikan perlu didasarkan pada tiga pokok pemikiran, yakni:
pendidikan merupakan kebutuhan untuk hidup, pendidikan sebagai pertumbuhan, dan pendidikan
sebagai fungsi sosial. Dari ketiga pokok pemikiran tersebut kita dapat menarik kesimpulan
bahwa pendidikan harus dimiliki oleh semua orang, tidak boleh adanya diskriminasi antar semua
masyarakat di Indonesia.

5. Apakah anda setuju dengan penghapusan Ujian Nasional? Jika setuju berikan alasan
berdasarkan filosofi!

Jawab : Menurut saya, Ujian nasional memang harus dihapuskan sejak dari dulu. Kenapa?

1) Guru hanya sia- sia mengajar karena yang memberi keputusan lulus adalah pemerintah.

2) Terjadi ketidakadilan dalam dunia pendidikan Indonesia karena tiap sekolah memiliki
standar mutu yang berbeda- beda sehingga evaluasi yang diberikan seharusnya
menyesuaikan.

3) UN bukan menjadi saran untuk mengontrol mutu pendidikan. Mutu pendidikan tidak bisa
hanya berdasar pada jumlah siswa yang mendapat nilai UN 100 dan lulus, ada juga
sebagian siswa yang sebenarnya pandai justru tidak lulus begitu juga sebaliknya.

4) UN bukan membentuk watak kerja keras, namun malah membentuk watak- watak
pembohong dan licik karena UN sifatnya memaksa harus lulus maka tak jaraang yang
berbuat curang.

5) Hanya menilai siswa dari nilai- nilai kognitif yang tertulis dengan angka di hasil lembar
jawaban, sementara nilai dari sikap dan perilaku untuk membentuk siswa yang berbudi
pekerti serta berkarakter bangsa justru dikesampingkan.

6) UN dijadikan syarat kelulusan siswa, pada saat itulah fungsi UN telah menyimpang.
Meski persen dari nilai kelulusan 50% dari nilai UN dan 50% dari nilai Ujian Sekolah
namun nilai UN tetap menentukan hasil akhir.

7) UN yang digembar gemborkan bukan meningkatkan semangat belajar malah membuat


siswa merasa diteror yang menyebabkan penurunan semangat belajar karena diberbagai
media dan pemberitaan nampak sekali UN sebagai momok pelajar sehingga banyak
tempat les yang penuh di waktu mendekati UN tiba.
Ujian Nasional berdasarkan filosofi pendidikan yang berpedoman dengan falsafah Pancasila
menunjukkan adanya kepentingan menyelamatkan ciri khas dan budaya (salah satu) bangsa
Indonesia, dengan alasan keterkaitan atau tidak terpisahkannya antara ujian nasional dengan
tujuan pendidikan nasional. Apabila terjadi permasalahan tentang Ujian Nasional yang patut
disalahkan itu adalah sistem dan pelaksanaannya serta personal-personal yang tidak
profesional, bukan ujiannya. Karena ujian dimaksudkan untuk membantu peserta didik
meningkatkan dan mengembangkan pembelajarannya. Ujian nasional lebih tepat jika
berkomplementer dengan Ujian Sekolah. Ujian Nasonal hanya sebagai gagasan dan tetap
hanya sebagai pemetaaan SNP jangan sampai dijadikan standar kelulusan.

6. Apakah pemerintah harus meminta maaf/tidak terhadap korban UN yang tidak


lulus ? berikan alasan ?

Jawab : Menurut saya, pemerintah harus meminta maaf. Karen pemerintah secara tidak langsung
telah menghancurkan masa depan siswa yang tidak lulus. Melihat fakta dilapangan banyak siswa
yang tidak mau melanjutkan sekolahnya lagi ketika dia dinyatakan tidak lulus ujian, dia merasa
malu kepada teman- temannya. Ini membuat mental mereka menjadi turun dan mereka tidak mau
melanjutkan sekolah lagi. Sebaiknya pemerintah melakukan permintaan maaf secara baik- baik dan
memberikan motivasi kembali ke mereka agar mereka mau melanjutkan sekolah lagi dan dapat
membangun masa depan mereka kembali.