Anda di halaman 1dari 49

KEPANITERAAN KLINIK

STATUS ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
RUMAH SAKIT BETHESDA LEMPUYANGWANGI

Nama Mahasiswa : Livia Kurniawan Tanda Tangan :

NIM : 11.2015.281

Dokter Pembimbing : dr. Devie Kristiani, Sp.A, MSc

IDENTITAS PASIEN

Nama : An. ABA Hubungan dengan orang tua : Anak Kandung


Tempat /tanggal lahir : Yogyakarta, 8 Juli 2011 Agama : Katolik
Umur : 4 tahun 11 bulan Suku bangsa : Jawa
Jenis kelamin : Perempuan Pendidikan : -
Alamat : Gempol Kebondalem Prambanan Masuk RS : 20 Juli 2016
RT 01/02

Orang Tua Pasien

Ayah Pasien Ibu Pasien


Nama : Tn. L Nama : Ny. I
Umur : 32 tahun Umur : 30 tahun
Pekerjaan : Karyawan swasta Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan : - Pendidikan : -
ANAMNESA

Tanggal Masuk Rumah Sakit : 20 Juli 2016 pukul 15.30 WIB

Diambil dari : Alloanamnesis dari ibu kandung pasien pada tanggal 24 Juli 2016 pukul 14.00
WIB di Ruang Rawat Inap Umum Parkit 1

Keluhan utama : Demam

Keluhan tambahan : Muntah sebanyak 1 kali

Riwayat penyakit sekarang :

1
Pasien sudah merasakan demam sejak 4 hari yang lalu, pada saat 4 hari yang lalu demam
dirasakan timbul mendadak tinggi sekitar 39C, demam juga dirasakan tinggi terus menerus
sepanjang hari dan tidak menurun setelah meminum obat paracetamol, ibu pasien juga mengaku
setelah minum susu pasien muntah satu kali sebelum masuk rumah sakit, jumlah muntah kurang
lebih setengah gelas aqua, yang berisi susu, tanpa ampas dan tanpa darah. Ibu pasien juga berkata
pasien mengeluh pusing pada bagian belakang kepala, pasien juga mengalami batuk kering sejak
pagi hari. Pasien belum BAB sejak kemarin malam.
Pada saat 3 hari yang lalu, ibu pasien juga masih mengeluhkan pasien demam yang tidak
turun-turun, ibu pasien mengatakan badan pasien juga terasa nyeri di seluruh badan terutama
bagian punggung, pasien juga masih mengeluhkan pusing pada bagian belakang kepala. Ibu
pasien mengatakan anak masih batuk kering, pasien juga muntah satu kali berisi air dengan
jumlah tidak begitu banyak sehabis minum obat. Pasien mengalami diare sebanyak lima kali,
konsistensinya encer, tanpa ampas, tanpa lendir, tanpa bau. Nafsu makan pasien juga menurun.
Ibu pasien mengatakan anak mulai timbul bintik kemerahan disertai gatal-gatal pada seluruh
tubuh.
Pada saat 2 hari yang lalu,ibu pasien mengatakan demam masih naik turun. Ibu pasien
mengatakan pasien masih mengalami diare dua kali dalam satu hari, cair dan banyak, tanpa
ampas, tanpa lendir,tanpa darah, tanpa bau. Badan pasien sudah tidak nyeri dan pegal, namun
masih pusing pada kepala bagian belakang, dan nafsu makan pasien masih menurun. Pasien juga
masih terlihat bintik kemerahan serta gatal-gatal diseluruh tubuh
Pada 1 hari yang lalu, demam pasien sudah turun. Pasien masih diare cair satu kali jam
01.00, badan pasien masih terdapat bintik kemerahan dan terasa gatal, nafsu makan pasien masih
menurun. Jam 02.00 dini hari, ibu pasien mengatakan tiba-tiba anak terlihat lemas sekali, akral
dingin, nadi nya teraba lemah, segera diberi cairan 300 cc dalam 1 jam. Lalu keadaan berangsur
membaik. Sekarang keadaan umum pasien lemas dan nafsu makan masih menurun.

Riwayat Penyakit Dahulu


Tidak ada.

Riwayat Kehamilan dan Kelahiran

Kehamilan
Perawatan antenatal : Rutin cek ke ANC sampai kelahiran
Penyakit kehamilan : Tidak ada

2
Kelahiran
Tempat kelahiran : Rumah Sakit Sadewa
Penolong persalinan : Dokter
Cara Persalinan :SC

Alasan: ibu sudah mengandung sampai 10 bulan


Pasien lahir dari ibu yang sehat, G1P1A0 dengan masa kehamilan lebih bulan (10 bulan). Pasien
merupakan anak tunggal. Kelahiran pasien dibantu oleh dokter di rumah sakit dan dilahirkan
secara SC, dikarenakan usia kandungan sudah 10 bulan. Berat lahir pasien 3700 gram dengan
panjang badan 51 cm. Sewaktu lahir, anak langsung menangis kuat. Ibu dan anak tidak memiliki
kelainan bawaan.

Keadaan bayi
Berat badan lahir : 3700 gram
Panjang badan lahir : 51 cm
Lingkar kepala : 32 cm
Langsung / tidak langsung menangis : langsung menangis
Nilai APGAR :9
Kelainan bawaan : tidak ada
Riwayat Imunisasi
(+) BCG
(+) Hepatitis B
(+) Polio
(+) DPT
(+) Campak
Kesimpulan : imunisasi dasar sesuai usia lengkap.

Riwayat Nutrisi
Usia 0 sampai 3 bulan : ASI ekslusif.
Usia 4 bulan sampai 6 bulan : Susu formula yaitu susu SGM dan ASI, sehari 8-10 kali,
60 cc.

3
Usia 6 bulan- 1 tahun : Mendapatkan makanan padat berupa bubur susu, bubur ayam,
kadang ditambah telur, tahu, tempe, atau ikan. Dalam sehari makan 3 kali. Pasien juga
suka makan biskuit atau roti sebagai camilan sehari-hari.
Usia 1 tahun sampai sekarang : Pasien sudah tidak minum ASI, hanya diberi makanan
padat dan susu formula. Sehari-hari makan nasi ditambah ayam, ikan, telur, tempe atau
tahu. Makanan padat sehari 3 kali dan disela makan berat, pasien juga suka ngemil
biskuit dan chiki

Riwayat Perkembangan (Developmental History)

Usia Motorik Kasar Motorik Halus Bicara Sosial


4 bulan Tengkurap Meraih benda Mengoceh Bereaksi
bolak balik terhadap suara
6 bulan Duduk dibantu Memegang Kata tanpa arti Tepuk tangan
benda kecil
9 bulan Berdiri Memasukkan 2 kata Main ciluk ba
berpegangan benda ke mulut
12 bulan Berjalan Menyusun 2 5 kata Rasa bersaing
balok

Riwayat Sosial Ekonomi

Pasien diasuh oleh ibu kandungnya. Hubungan orang tua dengan anak dekat. Keadaan tempat
tinggal pasien bersih, nyaman dan jauh dari sumber penyakit seperti tempat penampungan
sampah dan bantaran sungai. Orang yang tinggal di dalamnya ada 4 orang yaitu ayah, ibu,
pasien,dan pembantu rumah tangga. Sumber air minum didapatkan dari air PAM.

Riwayat Penyakit Dahulu [Tahun, diisi bila ya (+), bila tidak (-)]

(-) Sepsis (-) Meningoencephalitis (-) Kejang Demam

(-) Tuberculosis (-) Pneumonia (-) ISPA

(-) Asma (-) Alergi Rhinitis (-) Alergi lainnya

(-) Diare akut (-) Diare Kronis (-) Gastritis

4
(-) Disentri (-) Kolera (-) Amoebiasis

(-) Tifus Abdominalis (-) DHF (-) Difteri

(+) Cacar Air (+) Campak (-) Polio

(-) Batuk Rejan (-) Tetanus (-) Penyakit Jantung Bawaan

(-) Demam Rematik Akut (-) Penyakit Jantung Rematik (-) ISK

(-) Glomerulonefritis (-) Sindroma Nefrotik (-) Kecelakaan

Riwayat Penyakit Keluarga

Penyakit Ya Tidak Hubungan


Alergi - Ayah
Asma - -
Tuberkulosis - -
Penyakit paru - -
Hipertensi - -
Diabetes - -
Kejang Demam - -
Epilepsi - -
Hepatitis - -

Silsilah Keluarga ( Familys Tree )

Kakek-nenek
62 71
Ayah-ibu 60
alergi 78
34 30

4
Legenda : usia dalam tahun

5
: pria : anak sakit
: wanita

PEMERIKSAAN FISIK
Dilakukan pada tanggal 24 Juli 2016 jam 14.15 WIB.
Pemeriksaan Umum
o Keadaan umum : tampak sakit ringan
o Kesadaran : Compos Mentis
o Tanda tanda vital :
Nadi : 104 x/menit
Suhu : 36,6
RR : 23 x/menit
TD : 90/60 mmHg
Data Antopometri
- Berat badan : 30,0 kg
- Tinggi Badan : 120,0cm
- IMT : 20,83 kg/m2
Status gizi (menurut kurva WHO)

- BB/U = +3< Z Score

Kesimpulan : Anak dalam kelompok ini mungkin memiliki masalah pertumbuhan, tapi
lebih baik diukur perbandingan BB terhadap PB atau IMT terhadap umur

- TB/U = +3< Z Score

Kesimpulan : Anak dalam kelompok ini berperawakan tubuh tinggi. Hal ini tidak
termasuk normal, singkirkan kelainan hormonal sebagai penyebab perawakan tinggi

- BMI/U = +3<Z score

Kesimpulan : Obesitas

PEMERIKSAAN SISTEMATIS

Kulit : tidak sianosis, tidak ikterik, turgor baik, ptekie (-), hematom (-)

Kepala:

6
- Bentuk dan ukuran : Normosefali, tidak ada lesi, tidak ada benjolan
- Rambut dan kulit kepala : Hitam, distribusi merata, tidak mudah rontok, tidak terdapat
alopecia
- Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik,
konjungtiva tidak hiperemis, pupil bulat, isokor,simetris kanan dan kiri, refleks cahaya
langsung dan tidak langsung positif, tidak terdapat sekret pada kedua mata

- Telinga : Bentuk telinga normal, tidak terlihat fistel, liang telinga


terlihat lapang, tidak ada sekret, membran timpani intake tetapi refleks umbo tidak
terlihat jelas dengan penlight
- Hidung : Tidak ada perubahan bentuk dan warna, tidak terlihat deviasi
septum, tidak ada polip, ada sekret bening dan berlendir.
- Bibir :Kering, tidak sianosis
- Gigi geligi :Bersih dan terawat, tidak terdapat karies gigi
- Mulut :Uvula terletak di tengah.
- Lidah :Lidah tidak tampak kotor, tepi lidah tidak hiperemis, tidak
terdapat deviasi lidah
- Tonsil : T1-T1
- Faring : Faring tampak hiperemis
Leher : tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar getah bening

Thoraks
Paru
Inspeksi : simetris thorax kanan kiri, pernapasan abdominothorakal, retraksi dada (-)
Palpasi : gerak napas simetris, sela iga tidak melebar, tidak teraba massa.
Perkusi : redup pada lapang paru dextra
Auskultasi : suara nafas bronkovesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/- melemah

Jantung
Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : ictus cordis teraba pada sela iga V linea midclavicula sinistra, kuat angkat.
Perkusi : sulit dinilai
Auskultasi : bunyi jantung I-II murni regular, murmur (-), gallop (-).

Abdomen :

Inspeksi : Perut membuncit sedikit, tidak terdapat lesi kulit, tidak terdapat massa/benjolan

7
Palpasi :

Hati : Teraba pembesaran hepar, 2-3 cm bac/bpx.

NT(+) kuadran kanan atas, tepi tumpul, konsistensi kenyal

Limpa : Tidak teraba pembesaran limpa

Ginjal : Tes Ballotement dan bimanual tidak teraba ginjal

Turgor kulit : normal

Perkusi : Bunyi timpani

Auskultasi : normoperistaltik

Anus dan rectum :tidak dilakukan

Genitalia :tidak dilakukan

Ekstremitas:

Atas : akral hangat, sianosis -/-, edema -/-, deformitas -/-, ikterik -/-

Bawah : akral hangat, sianosis -/-, edema -/-, deformitas -/-, ikterik -/-

Tulang Belakang :tampak normal, tidak terlihat adanya kifosis, lordosis dan skloliosis

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Tanggal Hemoglobin Hematokrit Leukosit Trombosit


Pemeriksaan
20/7/2016 11,3 g/dl 33,1% 9530/mm3 390.000/mm3
22/7/2016 11,2 g/dl 32,8% 450/mm3 218.000/mm3
23/7/2016 11,9 g/dl 34,3% 2480/mm3 127.000/mm3
24/7/2016 (pagi) 11,8 g/dl 33,8% 3660/mm3 60.000/mm3
24/7/2016 (siang) 14,4 g/dl 40,7% 7040/mm3 71.000/mm3
24/7/2016 (sore) 13,9 g/dl 39,3% 9330/mm3 72.000/mm3
25/7/2016 12,4 g/dl 36,9% 11640/mm3 73.000/mm3

RINGKASAN (RESUME)

8
Seorang anak perempuan berusia 4 tahun datang dengan keluhan demam sejak 4 hari
yang lalu. Pada saat 4 hari yang lalu, demam dirasakan timbul mendadak tinggi, demam tinggi
terus menerus sepanjang hari, pasien juga muntah satu kali setelah minum susu. Pasien juga
mengeluh pusing pada bagian belakang kepala dan batuk kering sejak pagi hari. Saat 3 hari yang
lalu, pasien mengalami demam yang tidak turun-turun, badan pasien juga terasa nyeri di seluruh
badan terutama bagian punggung, pusing pada bagian belakang kepala, masih batuk kering,
Pasien mengalami diare sebanyak lima kali, konsistensinya encer, tanpa ampas, tanpa lendir,
tanpa bau, nafsu makan pasien juga menurun, kulit pasien timbul bintik kemerahan disertai gatal-
gatal pada seluruh tubuh. Saat 2 hari yang lalu,ibu pasien mengatakan demam masih naik turun,
diare dua kali dalam satu hari, cair dan banyak, tanpa ampas, tanpa lendir, tanpa bau, masih
pusing pada kepala bagian belakang, dan nafsu makan pasien masih menurun, bintik kemerahan
serta gatal-gatal diseluruh tubuh. Pada 1 hari yang lalu, demam pasien sudah turun. Pasien masih
diare cair satu kali jam 01.00, badan pasien masih timbul bintik kemerahan dan terasa gatal,
nafsu makan pasien masih menurun. Jam 02.00 dini hari, ibu pasien mengatakan tiba-tiba
anaknya terlihat lemas dan akralnya dingin, nadi nya teraba lemah.
Keadaan umum pasien tampak sakit sedang, dengan keadaan umum compos mentis.
Didapatkan hasil nadi 104 x/menit, suhu 36,6, nafas 23 x/menit, tekanan darah 90/60 mmHg.
Pada saat pemeriksaan thorax didapatkan pada palpasi vokal fremitus sebelah kanan lebih keras
dari sebelah kiri, pada perkursi didapatkan redup pada lapang paru sebelah kanan, pada
auskultasi didapatkan bunyi vesikuler melemah pada lapang paru sebelah kanan. Pada
pemeriksaan fisik abdomen didapatkan perut membuncit, hepar teraba membesar, 2-3 cm
dibawah arcus costae/ dibawah prosesus xyphoideus dengan tepi tumpul, konsistensi kenyal dan
nyeri tekan positif di kuadran kanan atas dan asites (+).

Pemeriksaan penunjang

Hasil Pemeriksaan Darah Laboratorium:

02.00

Hemoglobin: 14,2 g/dL

Hematokrit: 40,5%

Leukosit: 4620

9
Trombosit: 56000

Hasil Pemeriksaan Darah Laboratorium:

02.30

Hemoglobin: 11,8 g/dL

Hematokrit: 33,8%

Leukosit: 3600

Trombosit: 60.000

DIAGNOSIS KERJA

Dengue Syok Sindrom

Dasar diagnosa: demam yang berlangsung beberapa hari, tiba-tiba keadaan umum memburuk.
Ditemukan adanya kegagalan peredaran darah, kulit terasa lembab dan dingin, nadi menjadi
cepat dan lembut. Anak tampak lesu, gelisah, akral dingin, nadi teraba lemah.

Obese

Dasar diagnosa: dari hasil pemeriksaan fisik didapatkan ciri-ciri obesitas dan pemeriksaan
antropometri didapatkan hasil obesitas pada anak usia 4 tahun.

DIAGNOSIS BANDING

Dengue Fever

Dengue Hemmoragic Fever grade III

PEMERIKSAAN ANJURAN

Pemeriksaan darah lengkap

PENATALAKSANAAN

1. Infus RL 300cc/jam (diguyur)


Diberikan 10-20 ml/kgbb
2. Pyrexin supp 320 mg
3. Praxion F 1x5 cc

10
4. Imunos syr 1x5 cc
5. Intrizine drip 1 x 0,4 cc
6. Liprolac 2 x 1 cc

EDUKASI

1. Menjelaskan kepada orang tua mengenai kondisi pasien

2. Memberikan informasi mengenai perjalanan penyakitnya

3. Memberitahukan pentingnya minum air putih dan makan untuk pasien

PROGNOSIS

Ad vitam : ad bonam
Ad fungtionam : ad bonam
Ad sanationam : ad bonam

FOLLOW UP

Rabu, 20 Juli 2016

S Demam (+), nyeri kepala (+), batuk (+), muntah (+)

O KU: Baik, CM

Kepala: normosefal

Mata: CA (-/-), SI (-/-), Mata cekung (-)

Hidung, telinga, tenggorok: dalam batas normal

Mulut: bibir kering (-), lidah kotor (-), faring hiperemis (-), T1-T1

Leher: tidak ada pembesaran KGB

Thorax:

Inspeksi: simetris kiri kanan, tidak ada pelebaran sela iga

Palpasi: nyeri tekan (-), vokal fremitus normal

Perkusi: sonor pada seluruh lapang paru

Auskultasi: wheezing (-/-) ronkhi (-/-)

Abdomen: supel, BU (+) N, Nyeri Tekan (-), Tidak tampak pembesaran hepar dan

11
lien

Ekstremitas: CRT <2 detik, Akral hangat

Hasil Pemeriksaan Darah Laboratorium:

Hemoglobin: 11,3 g/dL

Hematokrit: 33,1%

Leukosit: 9530

Trombosit: 390.000

05.00 08.00 14.00 17.00

Nadi (kali/menit) 93
Pernafasan (kali/menit) 28
Suhu (0C) 38

A Observasi Febris hari I

P - Imunos Syrup 1 x 5 cc
- Infus RL 20 tpm
- Praxion Forte Syrup 1 x 5 ml

Kamis, 21 Juli 2016

S Demam (+), badan terasa nyeri, nyeri kepala (+), batuk (+), muntah 1 kali, tidak mau
makan, BAB cair >5 kali dalam 1 hari, gatal-gatal kaki dan tangan

O KU: Baik, CM

Kepala: normosefal

Mata: CA (-/-), SI (-/-), Mata cekung (-)

Hidung, telinga, tenggorok: dalam batas normal

Mulut: bibir kering (-), lidah kotor (-), faring hiperemis (-), T1-T1

Leher: tidak ada pembesaran KGB

12
Thorax:

Inspeksi: simetris kiri kanan, tidak ada pelebaran sela iga

Palpasi: nyeri tekan (-), taktil fremistus normal

Perkusi: sonor pada seluruh lapang paru

Auskultasi: wheezing (-/-) ronkhi (-/-)

Abdomen: supel, BU (+) N, Nyeri Tekan (-), Tidak tampak pembesaran hepar dan
lien

Ekstremitas: CRT <2 detik, Akral hangat

05.00 08.00 14.00 18.00

Nadi (kali/menit) 94 90 100 105


Pernafasan (kali/menit) 28 26 30 27
Suhu (0C) 38 37,7 36,7 37,4

A Observasi Febris hari ke 2

P - Besok cek AT/Hct


- Infus RL 20 tpm
- Imunos Syrup 1 x 5cc
- Praxion Forte Syrup 1 x 5cc
- Liprolac 2 x 1 cc

Jumat, 22 Juli 2016

S Demam (+), BAB 2 kali sehari, gatal-gatal (+), masih tidak mau makan

O KU: Baik, CM

Kepala: normosefal

Mata: CA (-/-), SI (-/-), Mata cekung (-)

Hidung, telinga, tenggorok: dalam batas normal

Mulut: bibir kering (-), lidah kotor (-), faring hiperemis (-), T1-T1

13
Leher: tidak ada pembesaran KGB

Thorax:

Inspeksi: simetris kiri kanan, tidak ada pelebaran sela iga

Palpasi: nyeri tekan (-), taktil fremistus normal

Perkusi: sonor pada seluruh lapang paru

Auskultasi: wheezing (-/-) ronkhi (-/-)

Abdomen: supel, BU (+) N, Nyeri Tekan (-), Tidak tampak pembesaran hepar dan
lien

Ekstremitas: CRT <2 detik, Akral hangat

Hasil Pemeriksaan Darah Laboratorium:

Hemoglobin: 11,2 g/dL

Hematokrit: 32,8%

Leukosit: 4500

Trombosit: 218.000

05.00 08.00 14.00 18.00

Nadi (kali/menit) 112 105 114 100


Pernafasan (kali/menit) 25 27 25 26
Suhu (0C) 37,6 38 39,5 37,8

A Observasi Febris hari 3

P - Besok cek AT/Hct


- Infus RL 20 tpm
- Imunos Syrup 1 x 5cc
- Praxion Forte Syrup 1 x 5cc
- Liprolac 2 x 1 cc

Sabtu, 23 Juli 2016

14
S Demam (-), Gatal (+), nafsu makan membaik

O KU: Tampak sakit sedang, CM

Kepala: normosefal

Mata: CA (-/-), SI (-/-), Mata cekung (-)

Hidung, telinga, tenggorok: dalam batas normal

Mulut: bibir kering (-), lidah kotor (-), faring hiperemis (-), T1-T1

Leher: tidak ada pembesaran KGB

Thorax:

Inspeksi: simetris kiri kanan, tidak ada pelebaran sela iga

Palpasi: nyeri tekan (-), taktil fremistus normal

Perkusi: sonor pada seluruh lapang paru

Auskultasi: wheezing (-/-) ronkhi (-/-)

Abdomen: supel, BU (+) N, Nyeri Tekan (-), Tidak tampak pembesaran hepar dan
lien

Ekstremitas: CRT <2 detik, Akral hangat

Hasil Pemeriksaan Darah Laboratorium:

Hemoglobin: 11,9 g/dL

Hematokrit: 34,3%

Leukosit: 2480

Trombosit: 127.000

05.00 08.00 14.00 18.00

Nadi (kali/menit) 100 115 120


Pernafasan (kali/menit) 24 22 26
Suhu (0C) 37,3 37.3 36,4

A Observasi Febris hari ke 4

15
P - Besok cek AT/Hct
- Infus RL 20 tpm
- Imunos Syrup 1 x 5cc
- Praxion Forte Syrup 1 x 5cc
- Liprolac 2 x 1 cc
- Intrizine drip 1 x 0,4 cc

Minggu, 24 Juli 2016

S Demam (-), Gatal (+), nafsu makan meningkat

O Pukul 02.00

KU: Tampak sakit sedang, CM

Kepala: normosefal

Mata: CA (-/-), SI (-/-), Mata cekung (-)

Hidung, telinga, tenggorok: dalam batas normal

Mulut: bibir kering (-), lidah kotor (-), faring hiperemis (-), T1-T1

Leher: tidak ada pembesaran KGB

Thorax:

Inspeksi: simetris kiri kanan, tidak ada pelebaran sela iga

Palpasi: vocal fremitus melemah

Perkusi: redup

Auskultasi: wheezing (-/-) ronkhi (-/-), vesikuler melemah

Abdomen: supel, BU (+) N, Nyeri Tekan (+), Tampak pembesaran hepar 2cm di
bawah arcus costae dan proc. xiphoideus, tepi tajam, permukaan rata, konsistensi
kenyal, Asites (+)

Ekstremitas: CRT >2 detik, Akral dingin

TD: 80/60mmHg, HR: 110x/mnt teraba lemah

16
Hasil Pemeriksaan Darah Laboratorium:

02.00

Hemoglobin: 14,2 g/dL

Hematokrit: 40,5%

Leukosit: 4620

Trombosit: 56000

02.30

Hemoglobin: 11,8 g/dL

Hematokrit: 33,8%

Leukosit: 3600

Trombosit: 60.000

Siang

Hemoglobin: 14,4 g/dL

Hematokrit: 40,7%

Leukosit: 7040

Trombosit: 71.000

Sore

Hemoglobin: 13,9 g/dL

Hematokrit: 39,3%

Leukosit: 9330

Trombosit: 72.000

05.00 08.00 14.00 18.00

Nadi (kali/menit) 100 85 92 127


Pernafasan (kali/menit) 25 25 30 28

17
Suhu (0C) 37,4 36,5 36,3 36,5

A DSS hari ke 5 & Obese

P - Besok cek AT/Hct 3x/hari


- Infus RL 300cc/jam (diguyur)
- Imunos Syrup 1 x 5cc
- Praxion Forte Syrup 1 x 5cc
- Liprolac 2 x 1 cc
- Intrizine drip 1 x 0,4 cc
- Monitor KU, nadi, nafas

Senin, 25 Juli 2016

S -

O KU: Baik, CM

Kepala: normosefal

Mata: CA (-/-), SI (-/-), Mata cekung (-)

Hidung, telinga, tenggorok: dalam batas normal

Mulut: bibir kering (+), lidah kotor (-), faring hiperemis (-), T1-T1

Leher: tidak ada pembesaran KGB

Thorax:

Inspeksi: simetris kiri kanan, tidak ada pelebaran sela iga

Palpasi: vocal fremitus melemah

Perkusi: redup

Auskultasi: wheezing (-/-) ronkhi (-/-), vesikuler melemah

18
Abdomen: supel, BU (+) N, Nyeri Tekan (+), Tampak pembesaran hepar 2cm di
bawah arcus costae dan proc. xiphoideus, tepi tajam, permukaan rata, konsistensi
kenyal, Asites (+)

Ekstremitas: CRT <2 detik, Akral hangat

Hasil Pemeriksaan Darah Laboratorium:

Hemoglobin: 12,4 g/dL

Hematokrit: 36,9%

Leukosit: 11640

Trombosit: 73.000

05.00 08.00 14.00 18.00

Nadi (kali/menit) 104 104 102 100


Pernafasan (kali/menit) 23 23 24 24
Suhu (0C) 37,1 36,6 36,7 37,1

A DHF hari ke 6 & Obese

P - Imunos Syrup 1 x 5cc


- Infus RL 12 tpm
- Praxion Forte Syrup 1 x 5cc
- Liprolac 2 x 1 cc
- Intrizine drip 1 x 0,4 cc

Selasa, 26 Juli 2016

S -

O KU: Baik, CM

Kepala: normosefal

Mata: CA (-/-), SI (-/-), Mata cekung (-)

Hidung, telinga, tenggorok: dalam batas normal

19
Mulut: bibir kering (+), lidah kotor (-), faring hiperemis (-), T1-T1

Leher: tidak ada pembesaran KGB

Thorax:

Inspeksi: simetris kiri kanan, tidak ada pelebaran sela iga

Palpasi: vocal fremitus melemah

Perkusi: redup

Auskultasi: wheezing (-/-) ronkhi (-/-), vesikuler melemah

Abdomen: supel, BU (+) N, Nyeri Tekan (+), Tampak pembesaran hepar 2cm di
bawah arcus costae dan proc. xiphoideus, tepi tajam, permukaan rata, konsistensi
kenyal, Asites (+)

Ekstremitas: CRT <2 detik, Akral hangat

05.00 08.00 14.00 18.00

Nadi (kali/menit) 100 111


Pernafasan (kali/menit) 28 26
Suhu (0C) 36,6 36,4

A DHF hari ke 7 & Obese

P - Infus RL 12 tpm
- Imunos Syrup 1 x 5cc
- Praxion Forte Syrup 1 x 5cc
- Intizine drip 1 x 0,4 cc
- Liprolac 2 x1
Tinjauan pustaka

Sindrom Syok Dengue

Manifestasi syok pada anak terdiri atas:

20
-Kulit pucat, dingin dan lembab terutama pada ujung jari kaki, tangan dan hidung sedangkan
kuku menjadi biru. Hal ini disebabkan oleh sirkulasi yang insufisien yang menyebabkan
peninggian aktivitas simpatikus secara refleks.

-Anak yang semula rewel, cengeng dan gelisah lambat laun kesadarannya menurun menjadi
apatis, sopor dan koma. Hal ini disebabkan kegagalan sirkulasi serebral.

-Perubahan nadi, baik frekuensi maupun amplitudonya. Nadi menjadi cepat dan lembut sampai
tidak daapt diraba oleh karena kolap sirkulasi

-Tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang

-Tekanan sistolik pada anak menurun menjadi 80 mmHg atau kurang

-Oliguria sampai anuria karena menurunnya perfusi darah yang meliputi arteri renalis

Pada kira-kira sepertiga kasus DBD setelah demam berlangsung beberapa hari, keadaan
umum pasien tiba-tiba memburuk. Hal ini terjadi pada saat atau setelah demam menurun, yaitu di
antara hari sakit ke 3-7. Pasien seringkali mengeluh nyeri di daerah perut saat sebelum syok
timbul. Syok yang terjadi selama periode demam, biasanya mempunyai prognosis buruk.
Tatalaksana syok harus dilakukan secara tepat oleh karena bila tidak pasien dapat masuk dalam
syok berat (profound syok), tekanan darah tidak dapat diukur dan nadi tidak dapat diraba. Lama
syok singkat; pasien dapat meninggal dalam waktu 12-24 jam atau menyembuh. Tatalaksana
syok yang tidak adekuat akan menimbulkan komplikasi asidosis metabolik, hipoksia, perdarahan
gastroinstestinal hebat dengan prognosis buruk. Sebaliknya, dengan pengobatan tepat masa
penyembuhan cepat sekali terjadi bahkan seringkali tidak kelihatan. Pasien menyembuh dalam
waktu 2-3 hari dan selera makan yang membaik merupakan petunjuk prognosis baik.

Nyeri abdomen seringkali menonjol pada anak besar yang menderita DSS. Ditemukannya
gejala ini pada kasus DSS merupakan canang bahaya oleh karena kemungkinan besar terjadi
perdarahan gastroinstestinal. Terjadinya kejang dengan hiperpireksia disertai penurunan
kesadaran pada beberapa kasus seringkali mengelabui sehingga ditegakkan diagnosis
kemungkinan ensefalitis.

Etiologi

21
Virus dengue termasuk group B arthropod borne virus (arboviruses) dan sekarang
dikenal sebagai genus flavivirus, famili Flaviviridae, yang mempunyai 4 jenis serotipe yaitu den
-1, den-2, den-3 dan den-4. Infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi
seumur hidup terhadap serotipe yang bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap
serotipe yang lain. Seseorang yang tinggal di daerah endemis dengue dapat terinfeksi dengan 3
atau bahkan 4 serotipe selama hidupnya. Keempat jenis serotipe virus dengue dapat ditemukan di
berbagai daerah di Indonesia. Di Indonesia, pengamatan virus dengan yang dilakukan sejak
tahun 1975 di beberapa di rumah sakit menunjukkan bahwa keempat serotipe ditemukan dan
bersirkulasi sepanjang tahun. Serotipe den-3 merupakan serotipe yang dominan dan banyak
berhubungan dengan kasus berat.

Patogenesis
Mekanisme sebenarnya tentang patofisiologi, hemodinamika, dan biokimiawi DBD
belum diketahui secara pasti karena kesukaran mendapatkan model binatang percobaan yang
dapat dipergunakan untuk menimbulkan gejala klinis DBD seperti pada manusia. Hingga kini
sebagian besar sarjana masih menganut the secondary heterologous infection hypothesis atau the
sequential infection hypothesis yang menyatakan bahwa DBD dapat terjadi apabila seseorang
setelah terinfeksi virus dengue pertama kali mendapatkan infeksi kedua dengan virus dengue
serotipe lain dalam jarak waktu 6 bulan sampai 5 tahun.

The Immunological Enhancement Hypothesis


Antibodi yang terbentuk pada infeksi dengue terdiri dari IgG yang berfungsi menghambat
peningkatan replikasi virus dalam monosit, yaitu enhancing-antibody dan neutralizing antibody.
Pada saat ini dikenal 2 jenis tipe antibodi yaitu (1) Kelompok monoklonal reaktif yang tidak
mempunyai sifat menetralisasi tetapi memacu replikasi virus, dan (2) Antibodi yang dapat
menetralisasi secara spesifik tanpa disertai daya memacu replikasi virus. Perbedaan ini
berdasarkan adanya virion determinant spesificity. Antibodi non-neutralisasi yang dibentuk pada
infeksi primer akan menyebabkan terbentuknya kompleks imun pada infeksi sekuder dengan
akibat memacu replikasi virus. Teori ini pula yang mendasari pendapat bahwa infeksi sekunder
virus dengue oleh serotipe dengue yang berbeda cenderung menyebabkan manifestasi berat.

22
Dasar utama hipotesis ialah meningkatnya reaksi immunologis (the immunological enhancement
hypothesis) yang berlangsung sebagai berikut:
Sel fagosit mononuklear yaitu monosit, makrofag, histiosit dan sel Kupffer merupakan
tempat utama terjadinya infeksi virus dengue primer.
Non neutralizing antibody baik yang bebas dalam sirkulasi maupun yang melekat
(sitofilik) pada sel, bertindak sebagai reseptor spesifik untuk melekatnya virus dengue
pada permukaan sel fagosit mononuklear. Mekanisme pertama ini disebut mekanisme
aferen.
Virus dengue kemudian akan bereplikasi dalam sel fagosit mononuklear yang telah
terinfeksi.
Selanjutnya sel monosit yang mengandung kompleks imun akan menyebar ke usus, hati,
limpa dan sumsum tulang. Mekanisme ini disebut mekanisme eferen. Parameter perbedaan
terjadinya DBD dengan dan tanpa renjatan ialah jumlah sel yang terkena infeksi.
Sel monosit yang telah teraktivasi akan mengadakan interaksi dengan sistem humoral dan
sistem komplemen dengan akibat dilepaskannya mediator yang mempengaruhi
permeabilitas kapiler dan mengaktivasi sistem koagulasi. Mekanisme ini disebut
mekanisme efektor.
Aktivasi Limfosit T
Limfosit T juga memegang peran penting dalam patogenesis DBD. Akibat rangsang
monosit yang terinfeksi virus dengue atau antigen virus dengue, limfosit dapat mengeluarkan
interferon (IFN- dan ). Pada infeksi sekunder oleh virus dengue (serotipe berbeda dengan
infeksi pertama), limfosit T CD4 + berproliferasi dan menghasilkan IFN-. IFN- selanjutnya
merangsang sel yang terinfeksi virus dengue dan mengakibatkan monosit memproduksi
mediator. Oleh limfosit T CD4+ dan CD8+ spesifik virus dengue, monosit akan mengalami lisis
dan mengeluarkan mediator yang menyebabkan kebocoran plasma dan perdarahan.

Hipotesis kedua patogenesis DBD mempunyai konsep dasar bahwa keempat serotipe virus
dengue mempunyai potensi patogen yang sama dangejala berat terjadi sebagai akibat
serotipe/galur serotipe virus dengue yang paling virulen.

Manifestasi Klinik

23
Infeksi dengue merupakan penyakit sistemik dan dinamis. Setelah masa inkubasi,
dilanjutkan dengan 3 fase yaitu fase demam, kritis dan resolusi/pemulihan.Fase pertama yang
relatif ringan dengan demam mendadak , malaise, mual, muntah, nyeri kepala, anoreksia. Pada
fase kedua, biasanya terdapat ekstremitas dingin, lembab, badan panas, muka merah, keringat
banyak, gelisah, iritabel, nyeri mid epigastrium. Seringkali ptekie tersebar pada dahi dan tungkai.
Pernafasan cepat dan sering berat. Nadi lemah, cepat, kecil dan suara jantung halus. Hati
mungkin membesar dibawah tepi kosta dan biasanya keras dan agak nyeri. Kurang dari 10%
penderita menderita ekimosis atau perdarahan saluran cerna yang nyata, biasanya pasca masa
syok yang tidak terkoreksi.

1. Fase demam
Demam tinggi mendadak, terus menerus, berlangsung 2-7 hari, naik turun tidak
berpengaruh dengan antipirektik. Suhu tubuh bisa mencapai 40oC dan dapat terjadi
kejang demam. Kadang terdapat muka yang merah, eritema, myalgia, arthralgia, dan
sakit kepala. Pada beberapa pasien pun bisa ada gejala nyeri tenggorok, infeksi pada
konjungtiva. Anoreksia, mual, dan muntah sering juga dikeluhkan. Sulit
membedakan demam karena infeksi dengua dengan demam non dengue pada fase
awal seperti ini, tetapi dengan positifnya uji torniket meningkatkan kemungkinan
demam dengue.
2. Fase kritis
Akhir fase demam merupakan fase kritis , anak terlihat seakan sehat, hati-hati karena
fase tersebut dapat sebagai awal kejadian syok. Hari ke 3-7 adalah fase kritis.
Dimana kebocoran plasma bisa terjadi kurang dari 24-48 jam.
Progresif leukopenia diikuti penurunan jumlah trombosit mendahului terjadinya
kebocoran plasma. Pada fase ini, pasien yang tidak mengalami kebocoran plasma
akan membaik keadaannya, sedangkan yang mengalami kebocoran plasma
sebaliknya karena kehilangan volume plasma. Ascites dan efusi pleura bisa terdeteksi
tergantung dari keparahan kebocoran plasma dan volume terapi cairan.
3. Fase resolusi
bila dalam waktu 24-48 jam pasien berhasil melewati fase kritis, keadaan umum dan
nafsu makan membaik, status hemodinamik stabil.

24
Semua nilai lab kembali normal secara perlahan.
Patokan diagnosis DBD (WHO, 1975) berdasarkan gejala klinis dan laboratorium

Klinis: demam tinggi mendadak terus menerus selama 2-7 hari, manifestasi perdarahan, minimal
uji tourniquet positif dan salah satu bentuk perdarahan lain ( petekia, purpura, ekimosis,
epitaksis, perdarahangusi) hematemesis melena, pembesaran hati, syok yang ditandai oleh nadi
lemah dan cepat disertai tekanan nadi turun (>20 mmHg), tekanan darah menurun (tekanan
sistolik<80 mmHg) disertai kulit yang teraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung, jari
dan kaki, pasien menjadi gelisah dan timbul sianosis di sekitar mulut.

Laboratorium: trombositopenia (<100.000/ul) dan hemokonsentrasi yang dapat dilihat dari


peningkatan nilai hematokrit > 20% dibandingkan dengan nilai hematocrit pada masa sebelum
sakit atau masa konvalesens.Ditemukan dua atau tiga patokan kilns pertama disertai
trombositopenia dan hemokonsentrasi sudah cukup untuk klinis membuat diagnosis DBD.
Dengan patokan ini 87% kasus tersangka DBD dapat didiagnosis dengan tepat, yang dibuktikan
oleh pemeriksaan serologis, dan dapat didiagnosis berlebihan.

Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium
a. Leukosit
normal, biasanya menurun dengan dominasi sel neutrofil. Akhir fase
demam jumlah leukosit dan neutofil menurun, sehingga jumlah limfosit
relatif meningkat. Peningkatan jumlah limfosit atipikal atau limfosit plasma
biru (LPB >4%) di daerah tepi dijumpai pada hari sakit ke 3-7.

b. Trombosit
jumlah trombosit 100.000/ul atau kurang dari 1-2 trombosit/lpb. Pada
hari ke 3-7

c. Hematokrit
gambaran hemokonsentrasi. Merupakan indikator yang peka akan
terjadinya perembesan plasma, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan secara
berkala. Hemokonsentrasi dengan peningkatan hematokrit 20% atau lebih

25
mencerminkan peningkatan permeabilitas kapiler dan perembesan plasma.
Nilai hematokrit dipengaruhi oleh pergantian cairan atau perdarahan.

Radiologi
Pada foto thoraks DBD grade III / IV dan sebagian grade II didapatkan efusi pleura,
biasanya sebelah kanan. Posisi foto adalah lateral dekubitus kanan.
Serologis
1. IgG dan IgM Elisa
Setelah satu minggu terinfeksi virus dengue, terjadi viremia yang diikuti oleh
pembentukan IgM antidengue. IgM hanya berada dalam waktu yang relatif
singkat dan akan disusul dengan pembentukan igG. Pada kira-kira hari ke 5
terbentuklah antibodi yang bersifat menetralisasi virus. Imunoserologi berupa
IgM (merupakan penanda infeksi saat ini) dan IgG (merupakan penanda
infeksi masa lalu). IgM akan terdeteksi mulai hari ke 3-5, meningkat sampai
minggu ke-3 dan menghilang setelah 60-90 hari setelahnya. Sedangkan IgG
terdeteksi pada hari ke-14 pada infeksi primer dan hari ke-2 pada infeksi
sekunder.
2. NS1-Ag tes
tes yang dapat mendiagnosis DBD dalam waktu demam 8 hari pertama yaitu
antigen virus dengue yang disebut dengan antigen NS1. Keuntungan
mendeteksi antigen NS1 yaitu untuk mengetahui adanya infeksi dengue pada
penderita tersebut pada fase awal demam, tanpa perlu menunggu
terbentuknya antibodi.
Pemeriksaan antigen NS1 diperlukan untuk mendeteksi adanya infeksi virus
dengue pada fase akut, dimana pada berbagai penelitian menunjukkan bahwa
NS1 lebih unggul sensitivitasnya dibandingkan kultur virus dan pemeriksaan
PCR maupun antibodi IgM dan IgG antidengue. Spesifisitas antigen NS1
100% sama tingginya seperti pada gold standard kultur virus maupun PCR.
Antigen NS1 merupakan glikoprotein tersekresi 48 kDa yang tidak
terdapat pada partikel virus yang terinfeksi namun terakumulasi di dalam
supernatan dan membran plasma sel selama proses infeksi. NS1 merupakan

26
gen esensial di dalam sel yang terinfeksi dimana fungsinya sebagai ko-faktor
untuk replikasi virus, yang terdapat bersama di dalam bentuk replikasi RNA
double-stranded (Mackenzie, 1996). Immune recognition dari permukaan sel
NS1 pada sel endotel dihipotesiskan berperan dalam mekanisme kebocoran
plasma yang terjadi selama infeksi virus dengue yang berat. Sampai saat ini,
bagaimana NS1 berhubungan dengan membran plasma, yang tidak berisi
motif sekuens membrane-spanning masih belum jelas.

NS1 terikat secara langsung pada permukaan berbagai tipe sel epitelial dan
sel mesensimal, juga menempel secara kurang lekat terhadap berbagai sel
darah tepi. NS1-Ag tes adalah tes untuk deteksi protein non struktur NS-1 Ag
yang ada dalam sirkulasi dan dapat mendeteksi ke empat serotipe.
Keunggulannya dapat mendeteksi virus lebih awal, mulai dari hari ke-1
demam sampai demam hari ke-9 dan mempunyai sensitivitas DEN-1 : 88,9%,
DEN-2 : 87,1%, DEN-3 : 100%, DEN-4 : 93,35%.

Penanganan Syok Dengue


Sindrom syok dengue adalah DBD dengan gejala gelisah, nafas cepat, nadi teraba kecil,
lembut atau tidak teraba, tekanan nadi menyempit (misalnyasistolik 90 dan diastolic 80
mmHg, jadi tekanan nadi<20 mmHg), bibir biru, tangan kaki dingin, dan tidak ada produksi
urin.

1. Segera beri infuse kristaloid (ringer laktat atau NaCl 0,9%) 20 ml/kgBB secepatnya
(diberikandalam bolus selama 30 menit, dan oksigen 2 liter/menit. Untuk DSS berat
(DBD dengan derajat IV, nadi tidak teraba dan tendi tidak terukur), diberikan ringer laktat
20ml/ kgBB bersama koloid. Observasi tensi dan nadi tiap 15 menit, hematocrit dan
trombosit tiap 4-6 jam. Periksa elektrolit dan gula darah.
2. Apabila dalam waktu 30 menit syok belum teratasi, tetesan ringer laktat belum
dilanjutkan 20ml/kgBB, tambah plasma (fresh frozen plasma) atau koloid (dekstran 40)
sebanyak 10-20 ml/kgBB, maksimal 30 ml/kgBB (koloid diberikan pada jalur infus yang
sama dengan kristaloid , diberikan secepatnya). Observasi keadaan umum, tekanan darah,
keadaan nadi tiap 15 menit dan periksa hematocrit tiap 4-6 jam. Koreksi asidosis,
elektrolit dan gula darah.

27
a. Apabila syok telah teratasi disertai dengan penurunan kadar hemoglobin/
hematocrit, tekanan nadi > 20mmHg, nadi kuat, maka tetesan cairan dikurangi
menjadi 10 ul/kgBB/jam. Volume 10 ml/kgbb/ jam dapat dipertahankan sampai 24
jam atau sampai klinis stabil dan hematocrit menurun <40%. Selanjutnya cairan
diturunkan menjadi 7 ml/kgBB sampai keadaan klinis dan hematocrit stabil,
kemudian secara bertahap cairan diturunkan 5 ml dan seterusnya 3 ml/kgBB/jam.
Dianjurkan pemberian cairan tidak melebihi 48 jam setelah syok teratasi.
Observasi klinik tekanan darah, nadi, jumlah urin dikerjakan tiap jam
(usahajanurin>1 ml/kgBB/jam, BD urin<1,020), dan pemeriksaan hematocrit dan
trombosit tiap 4-6 jam sampai keadaan umum baik.
b. Apabila syok belum teratasi, sedangkan kadar hematocrit menurun tapi masih>40
vol% berikan darah dalam volume kecil 10 ml/kgBB/jam. Apabila tampak
perdarahan massif, berikan darah segar 20 ml/kgBB dan lanjutkan cairan
kristaloid 10 ml/kgBB/jam. Pemasangan CVP (dipertahankan 5-8 cm H20) pada
syok berat kadang-kadang diperlukan, sedangkan pemasangan sonde lambung
tidak dilanjutkan.

Penggantian volume plasma segera

Pengobatan awal cairan intravena dengan larutan kristaloid 20 ml/kg berat badan dengan
tetesan secepatnya (diberikan secara bolus selama 30 menit). Apabila syok belum dapat teratasi
dan/atau keadaan klinis memburuk setelah 30 menit pemberian cairan awal, cairan diganti
dengan koloid (dekstran 40 atau plasma) 10-20 ml/kg berat badan/ jam, dengan jumlah maksimal
30 ml/ kg berat badan. Setelah terjadi perbaikan, segera cairan ditukar kembali dengan kristaloid
dengan tetesan 20 ml/kg berat badan. Apabila setelah pemberian cairan resusitasi kristaloid dan
koloid syok masih menetap sedangkan kadar hematokrit turun, diduga telah terjadi perdarahan;
maka dianjurkan pemberian transfusi darah segar. Apabila kadar hematokrit tetap> 40 vol%,
maka berikan darah dalam volume kecil (10 ml/kg berat badan / jam, tetapi apabila terjadi
perdarahan masif berikan 20 ml/ kg berat badan. Setelah klinis membaik, tetesan cairan
dikurangi bertahap sesuai dengan keadaan klinis dan kadar hematokrit.

Kadar hematokrit untuk memantau penggantian volume plasma

28
Pemberian cairan harus tetap diberikan walaupun tanda vital telah membaik dan kadar
hematokrit turun. Tetesan cairan segera diturunkan menjadi 10 ml/kg berat badan/ jam dan
kemudian disesuaikan tergantung dari kehilangan plasma yang terjadi selama 24-48 jam.
Pemasangan CVP kadangkala diperlukan pada pasien DSS berat, untuk mengetahui kebutuhan
cairan.

Cairan intravena dapat dihentikan apabila hematokrit telah turun, sekitar 40%. Jumlah
urin 12 ml/kg berat badan/ jam atau lebih merupakan indikasi bahwa keadaan sirkulasi membaik.
Pada umumnya cairan tidak perlu diberikan lagi setelah 48 jam sejak syok teratasi. Apabila
cairan tetap diberikan pada saat terjadi reabsorpsi plasma dari ekstravaskular akan menyebabkan
hipervolemia dengan akibat terjadi edema paru dan gagal jantung. Penurunan hematokrit pada
saat reabsorpsi plasma ini jangan dianggap sebagai tanda perdarahan tetapi disebabkan oleh
hemodilusi. Nadi yang kuat, tekanan darah normal, diuresis cukup, tanda vital baik, merupakan
tanda terjadinya fase reabsorpsi

Koreksi gangguan metabolik dan elektrolit


Hiponatremia dan asidosis metabolik sering menyertai pasien DSS, maka pemeriksaan
analisis gas darah dan kadar elektrolit harus selalu diperiksa pada DBD berat. Apabila asidosis
tidak dikoreksi, akan memacu terjadinya DIC(disseminated intravascular coagulation) sehingga
tatalaksana pasien menjadi lebih kompleks. Pada umumnya, apabila penggantian cairan plasma
diberikan secepatnya dan dilakukan koreksi pada asidosis dengan natrium bikarbonat, maka
perdarahan sebagai akibat DIC tidak akan terjadi sehingga heparin tidak diperlukan.

Pemberian oksigen
Terapi dengan 2 liter per menit harus selalu diberikan pada semua pasien syok.dianjurkan
pemberian oksigen dengan mempergunakan masker, tetapi harus diingat pula pada anak
seringkali menjadi makin gelisah apabila dipasang masker oksigen.

Obesitas

Obesitas atau kegemukan adalah kelainan atau penyakit yang ditandai dengan
penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan. Penderita obesitas berpotensi mengalami

29
berbagai penyebab kesakitan dan kematian antara lain penyakit kardiovaskular, hipertensi,
gangguan fungsi hari, diabetes mellitus,dll. Prevalensi obesitas meningkat tidak saja di negara
maju tetapi juga di negara berkembang.

Anamnesis

Jika seorang anak datang dengan keluhan obesitas, maka pertama-tama perlu dipastikan
apakah kriteria obesitas terpenuhi secara klinis maupun antropometris. Selanjutnya perlu
ditelusuri faktor risiko obesitas serta dampak yang mungkin terjadi. Riwayat obersitas dalam
keluarga serta pola makan dan aktivitas perlu ditelusuri.

Dampak obesitas pada anak harus dievaluasi sejak dini, meliputi penilaian faktor risiko
kardiovaskular, sleep apnea, gangguan fungsi hati, masalah ortopedik yang berkaitan dengan
kelebihan beban, kelainan kulit serta potensi gangguan psikiatri. Faktor risiko kardiovaskular
terdiri dari riwayat anggota keluarga dengan penyakit jantung vaskular atau kematian mendadak
dini (<55 tahun), dislipidemia (peningkatan kadar LDL-kolesterol >160 mg/dl, HDL kolesterol
<35 mg/dl) dan peningkatan tekanan darah, merokok, adanya diabetes melitus dan rendahnya
aktivitas fisik. Anak gemuk yang mempunyai minimal tiga dari faktor-faktor risiko tersebut,
dianggap berisiko tinggi. Skrining dianjurkan pada setiap anak gemuk setelah usia 2 tahun.

Pemeriksaan Fisis

Secara klinis obesitas dengan mudah dapat dikenali karena mempunyai tanda dan gejala yang
khas, antara lain:

-wajah yang membulat

-pipi yang tembem

-dagu rangkap

-leher relatif pendek

-dada yang membusung dengan payudara yang membesar mengandung jaringan lemak

-perut membuncit disertai dinding perut yang berlipat-lipat

30
-kedua tungkai umumnya berbentuk X

- pada anak lelaki penis tampak kecil karena tersembunyi dalam jaringan lemak suprapubik

-kulit: ruam panas, intertrigo, dermatitis moniliasis dan acanthosis nigricans, jerawat

-terbatasnya gerakan panggul

-distribusi jaringan lemak yang dibedakan menjadi:

1. apple shape body (distribusi jaringan lemak lebih banyak dibagian dada dan pinggang)

2. pear shape body (distribusi jaringan lemak lebih banyak dibagian pinggul dan paha)

Pemeriksaan Penunjang

Berdasarkan antropometri umumnya obesitas pada anak ditentukan berdasarkan tiga metode
pengukuran sebagai berikut:

-mengukur berat badan dan hasilnya dibandingkan dengan berat badan ideal sesuai tinggi badan
(BB/TB). Obesitas didefinisikan bila BB/TB > 120% dan superobesitas apabila BB/TB >140%

-WHO pada tahun 1997, NIH pada tahun 1998 dan The Expert Committee on Clinical
Guidelines for Overweight in Adolescent Preventive Services telah merekomendasikan BMI
sebagai bahan pengukuran obesitas pada anak dan remaja di atas usia 2 tahun. Saat itu batasan
umur penggunaan IMT adalah dengan menggunakan usia diatas 2 tahun karena batasan angka
terendah dari IMT yang tersedia adalah umur 2 tahun. Saat ini telah tersedia IMT mulai dari 0
bulan.

-IMT merupakan petunjuk untuk menentukan kelebihan berat badan berdasarkan indeks quatelet.
Interpretasi IMT tergantung pada umur dan jenis kelamin anak karena anak lelaki dan perempuan
memiliki kadar lemak tubuh yang berbeda. IMT adalah cara termudah untuk memperkirakan
obesitas serta berkorelasi tinggi dengan massa lemak tubuh, selain itu juga penting untuk
mengidentifikasi pasien obesitas yang mempunyai risiko mendapat komplikasi medis. Klasifikasi
IMT terhadap umur untuk anak usia lebih dari 2 tahun adalah berdasarkan kurva CDC-NCHS
2000, yaitu presentil ke 85 hingga kurang dari presentil ke 95 adalah overweight dan diatas
presentil ke 95 adalah kegemukan atau obesitas kecuali untuk remaja lanjut. Adapun untuk anak

31
usia 2 tahun atau kurang IMT dinilai berdasarkan kurva WHO 2005 dan diklasifikasikan sebagai
berikut: z score IMT>1 tetapi <2 adalah possible risk of overweight, z score >2 dan <3 adalah
overweight, sedangkan z score >3 adalah obesity.

-pengukuran langsung lemak subkutan dengan mengukur tebal lipatan kulit (TLK). TLK triseps
diatas sentil ke 85 merupakan indikator adanya obesitas.

Tabel WHO

32
33
Tata Laksana

Tata laksana komprehensif obesitas mencakup penanganan obesitas dan dampak yang
terjadi. Tujuan utama tata laksana obesitas adalah perbaikan kesehatan fisik jangka panjang
melalui kebiasaan hidup yang sehat secara permanen. Untuk mencapai tujuan tersebut, terdapat
empat tahap tata laksana dengan intensitas yang meningkat. Prinsip tata laksana obesitas adalah
mengurapi asupan energi serta meningkatkan keluaran energi.

Tahap I: Pencegahan Plus

34
Pada tahap ini, pasien overweight dan obesitas serta keluarga memfokuskan diri pada kebiasaan
makan yang sehat dan aktivitas fisik sebagai strategi pencegahan obesitas. Kebiasaan makan dan
beraktivitas yang sehat adalah sebagai berikut:

- mengonsumsi 5 porsi buah-buahan dan sayur-sayuran setiap hari. setiap keluarga dapat
meningkatkan jumlah porsi menjadi 9 porsi per hari

- kurangi meminum minuman manis, seperti soda, punch

- kurangi kebiasaan menonton televisi hingga 2 jam per hari. jika anak berusia < 2 tahun maka
sebaiknya tidak menonton sama sekali. untuk membantu anak beradaptasi maka televisi
sebaiknya dipindahkan dari kamar tidur anak.

- tingkatkan aktivitas fisik >1 jam per hari. bermain adalah aktifitas fisik yang tepat untuk anak-
anak yang masih kecil, sedangkan pada anak yang lebih besar dapat melakukan tindakan yang
mereka sukai seperti olahraga, menari, bela diri, naik sepeda dan berjalan kaki.

- persiapkan makanan rumah lebih banyak ketimbang membeli makanan dari restoran.

- biasakan makan di meja makan bersama keluarga minimal 5 atau 6 kali per minggu.

-mengonsumsi sarapan bergizi setiap hari

- libatkan seluruh anggota keluarga dalam perubahan gaya hidup

- biarkan anak untuk mengatur sendiri makanannya dan hindari terlalu mengekang perilaku
makan anak, terutama pada anak < 12 tahun

- bantu keluarga mengatur perilaku sesuai kultur masing-masing

Tahap II: Manajemen Berat Badan Terstruktur

Tahap ini berbeda dari tahap I dalam hal lebih sedikitnya target perilaku dan lebih banyak
dukungan kepada anak dalam mencapai perubahan perlaku. Beberapa tujuan yang hendak
dicapai, disamping tujuan-tujuan pada tahap I adalah sebagai berikut:

- diet terencana atau rencana makan harian dengan makronutrien seimbang sebanding dengan
rekomendasi pada dietary reference intake, diutamakan pada makanan berdensitas energi rendah

35
-jadwal makan terencana beserta snack (3 kali makan disertai 2 kali snack, tanpa makanan
ataupun minuman mengandung kalori lainnya diluar jadwal)

-pengurangan waktu menonton televisi dan kegiatan menonton lainnya hingga 1 jam per hari

-pemantauan perilaku ini sebaiknya tercatat

-reinforcement terencana untuk mencapai target perilaku

Tahap III: Intervensi Multidisipliner Menyeluruh

Pendekatan ini meningkatkan instensitas perubahan perilaku, frekuensi kunjungan dokter, dan
dokter spesialis yang terlibar untuk meningkatkan dukungan terhadap perubahan lingkungan
perilaku. Untuk implementasi tahap ini, hal-hal berikut harus diperhatikan:

-program modifikasi perilaku dilaksanakan terstruktur meliputi pemantauan makanan diet jangka
pendek dan penetapan target aktivitas fisik

-pengaturan keseimbangan energi negatif, hasil dari perubahan diet dan aktivitas fisik

-partisipasi orang tua dalam teknik modifikasi perilaku dibutuhkan oleh anak <12 tahun

-orang tua harus dilatih untuk memperbaiki lingkungan rumah

-evaluasi sistemik, meliputi pengukuran tubuh, diet, aktifitas fisik harus dilakukan pada awal
program dan dipantau pada interval tertentu

-tim multidisipliner yang berpengalaman dalam hal obesitas anak saling bekerja sama, meliputi
pekerja sosial, psikologi, perawat terlatih, dietiesien, physicial therapist, dokter spesialis anak
dengan berbagai subspeialisasi seperti nutrisi, endokrin, pulmonologi, kardiologi, hepatologi, dan
tumbuh kembang, ahl gizi, dokter spesialis olah raga, psikolog, guru, dokter spesialis bedah
ortopedi, dan ahli kesehatan masyarakat.

-kunjungan ke dokter yang reguler harus dijadwalkan tiap minggu selama minimum 8-12 minggu
paling efektif

-kunjungan secara berkelompok lebih efektif dalam hal biaya dan bermanfaat terapeutik

36
Tahap IV: Intervensi Pelayanan Tersier

Intervensi tahap IV ditujukan untuk anak remaja yang obesitas berat. Intervensi ini adalah tahap
lanjutan dari tahap III. Anak-anak yang mengikuti tahap ini harus sudah mencoba tahap III dan
memiliki pemahaman tentang risiko yang muncul akibat obesitas dan mau melakukan aktivitas
fisik berkesinambungan serta diet bergizi dengan pemantauan.

-obat-obatan yang telah dipakai pada remaja adalah sibutramine yaitu suatu inhibitor reuptake
serotonin yang meningkatkan penurunan berat badan pada remaja yang sedang menjalani
program diet dan pengaturan aktivitas fisik dan orlistat yang menyebabkan malabsorpsi lemak
melalui inhibisi lipase usus. Manfaat obat-obatan ini cukup baik. FDA telah menyetujui
penggunaan orlistat pada pasien > 12 tahun.

-diet sangat rendah kalori, yaitu pada tahap awal dilakukan pembatasan kalori secara ekstrim lalu
dilanjutkan dengan pembatasan kalori secara moderat.

-bedah: mengingat semakin meningkatnya jumlah remaja dengan obesitas berat yang tidak
berespons terhadap intervensi perilaku, terdapat beberapa pilihan terapi bedah, baik gastric
bypass atau gastric banding. Tata laksana ini hanya dilakukan dengan indikasi yang ketat karena
terdapat risiko perioperatif , pascaprosedur, dan perlunya komitmen pasien seumur hidup.
Kriteria seleksi meliputi BMI >40 kg/m3 dengan masalah medis atau >50 kg/m3, maturitas fisik.

Hingga kini belum ada bukti ilmiah yang menyatakan keamanan terapi intensif ini jika
diterapkan pada anak

Langkah Promotif/Preventif

WHO (1998) membagi pencegahan menjadi tiga tahap:

- pencegahan primer yang bertujuan mencegah terjadinya obesitas

-pencegahan sekunder untuk menurunkan prevalensi obesitas

- pencegahan tersier yang bertujuan mengurangi dampak obesitas

Pencegahan primer dilakuakn menggunakan dua strategi pendekatan yaitu strategi


pendekatan populasi untuk mempromosikan cara hidup sehat pada semua anak dan remaja

37
beserta orang tuanya, serta strategi pendekatan pada kelompok yang berisiko tinggi mengalami
obesitas. Anak yang berisiko mengalami obesitas adalah seorang anak yang salah satu atau kedua
orangtuanya menderita obesitas dan anak yang memiliki kelebihan berat badan semenjak masa
kanak-kanak. Usaha pencegahan dimulai dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan di
pusat kesehatan masyarakat.

Pencegahan sekunder dan tersier lebih dikenal sebagai tata laksana obesitas serta
dampaknya. Prinsip tata laksana obesitas pada anak berbda dengan orang dewasa karena pada
anak faktor tumbuh kembang harus dipertimbangkan. Caranya dengan pengaturan diet,
peningkatan aktifitas fisik, mengubah pola hidup dan yang terpenting adalah melibatkan keluarga
dalam proses terapi. Penggunaan bermacam-macam diet rendah kalori serta lemak dapat
menghambat tumbuh kembang anak terutama di masa emas pertumbuhan otak. Sulitnya
mengatasi obesitas meningkatkan kecenderungan untuk memakai jalan pintas antara lain dengan
penggunaan obat-obatan. Perlu diinformasikan kepada masyarakat bahwa sampai saat ini belum
ada obat antiobesitas yang diperbolehkan penggunaannya pada anak dan remaja kecuali dua obat
yang telah disebutkan diatas. Oleh sebab itu, maraknya penawaran obat anti obesitas yang ampuh
dan dijual secara bebas perlu diwaspadai.

Diare akut

Diare akut adalah buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan konsistensi cair
dan berlangsung kurang dari 1 minggu. Diare merupakan penyebab kematian pada 42% bayi dan
25,2% pada anak usia 1-4 tahun.

Anamnesis

-lama diare berlangsung, frekuensi diare sehari, warna dan konsentrasi tinja, lendir dan darah
dalam tinja

-muntah, rasa haus, rewel, anak lemah, kesadaran menurun, buang air kecil terakhir, demam,
sesak, kejang, kembung

-jumlah cairan yang masuk selama diare

38
-jenis makanan dan minuman yang diminum selama diare, mengonsumsi makanan yang tidak
biasa

-penderita diare disekitarnya dan sumber air minum

Pemeriksaan Fisis

-keadaan umum, kesadaran dan tanda vital

-tanda utama: keadaan umum gelisah/cengeng atau lemah/letargi/koma, rasa haus, turgor kulit
abdomen menurun

-tanda tambahan: ubun-ubun besar, kelopak mata, air mata, mukosa bibir, mulut dan lidah

-berat badan

- tanda gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit, seperti napas cepat dan dalam (asidosis
metabolik), kembung (hipokalemia), kejang (hiponatremia atau hipernatremia)

Penilaian derajat dehidrasi dilakukan sesuai kriteria berikut:

1.Tanpa dehidrasi (kehilangan cairan <5% berat badan)

-tidak ditemukan tanda utama dan tanda tambahan

-keadaan umum baik, sadar

-ubun-ubun besar tidak cekung, mata tidak cekung, air mata ada, mukosa mulut dan bibir basah

-turgor abdomen baik, bising usus normal

-akral hangat

2. Dehidrasi ringan sedang/tidak berat (kehilangan cairan 5-10% berat badan)

-apabila didapatkan 2 tanda utama ditambah dengan 2 atau lebih tanda tambahan

-keadaan umum gelisah atau cengeng

39
-ubun-ubun besar sedikit cekung, mata sedikit cekung, air mata kurang, mukosa mulut dan bibir
sedikit kering

-turgor kurang, akral hangat

3. Dehidrasi berat (kehilangan cairan >10% berat badan)

-apabila didaptkan 2 tanda utama ditambah dengan 2 atau lebih tanda tambahan

-keadaan umum lemah, letargi atau koma

-ubun-ubun sangat cekung, mata sangat cekung, air mata tidak ada, mukosa mulut dan bibir
sangat kering

-turgor sangat kurang dan akral dingin

-pasien harus rawat inap

Pemeriksaan Penunjang

-pemeriksaan tinja tidak rutin dilakukan pada diare akut kecuali apabila ada tanda intoleransi
laktosa dan kecurigaan amubiasis

-hal yang dinilai pada pemeriksaan tinja:

-makroskopis: konsistensi, warna, lendir, darah, bau

-mikroskopis:leukosit, eritrosit, parasit, bakteri

-kimia: PH, clinitest, elektrolit (Na, K, HCO3)

-biakan dan uji sensitivitas tidak dilakukan pada diare akut

-analisis gas darah dan elektrolit bila secara klinis dicurigai adanya gangguan keseimbangan
asam basa dan elektrolit

Tata Laksana

Lintas diare: (1) cairan, (2) seng, (3) nutrisi, (4) antibiotik yang tepat (5) edukasi

40
Tanpa dehidrasi

-cairan rehidrasi oralit dengan menggunakan new oralit diberikan 5-10 mL/kg BB setiap diare
cair atau berdasarkan usia yaitu umur < 1 tahun sebanyak 50-100 mL umur 1-5 tahun sebanyak
100-200 mL dan umur diayas 5 tahun semaunya. Dapat diberi cairan rumah tangga sesuai
kemauan anak. ASI harus terus diberikan.

-pasien dapat dirawat dirumah, kecuali apabila terdapat komplikasi lain (tidak mau minum,
muntah terus menerus, diare frekuen dan profus)

Dehidrasi Ringan-Sedang

-cairan rehidrasi oral (CRO) hipoosmolar diberikan sebanyak 75 mL/kgBB dalam 3 jam untuk
mengganti kehilangan cairan yang telah terjadi dan sebanyak 5-10 mL/kgBB setiap diare cair.

-rehidrasi parenteral (iv) diberikan bila anak muntah setiap diberi minum walaupun telah
diberikan dengan cara sedikit demi sedikit atau melalui pipa nasogastrik. Cairan intravena yang
diberikan adalah ringer laktat atau KaEN 3B atau NaCl dengan jumlah cairan dihitung
berdasarkan berat badan. Status hidrasi dievaluasi secara berkala.

- berat badan 3-10 kg: 200 mL/kgBB/hari

- berat badan 10-15 kg: 175 mL/kgBB/hari

- berat badan > 15 kg: 135 mL/kgBB/hari

-pasien dipantau di Puskesmas/Rumah Sakit selama proses rehidrasi sambil memberi edukasi
tentang melakukan rehidrasi kepada orang tua

Dehidrasi Berat

-diberikan cairan rehidrasi parenteral dengan ringer laktat atau ringer asetat 100 mL/kgBB
dengan cara pemberian:

-umur kurang dari 12 bulan: 30 mL/kgBB dalam 1 jam pertama, dilanjutkan 70 mL/kgBB dalam
5 jam berikutnya

41
-umur diatas 12 bulan: 30 mL/kgBB dalam setengah jam pertama, dilanjutkan 7-mL/kgBB dalam
2,5 jam berikutnya

-masukan cairan peroral diberikan bila pasien sudah mau dan dapat minum, dimulai dengan 5
mL/kgBB selama proses rehidrasi

42
43
44
45
Koreksi gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit

-Hipernatremia (Na>155 mEq/L)

Koreksi penurunan Na dilakukan secara bertahap dengan pemberian cairan dekstrose 5%


setengah salin. Penurunan kadar Na tidak boleh lebih dari 10 mEq per hari karena bisa
menyebabkan edema otak

-Hiponatremia (Na<130 mEq/L)

Kadar natrium diperiksa ulang setelah rehidrasi selesai, apabila masih dijumpai hiponatremia
dilakukan koreksi sbb:

Kadar Na koreksi (mEq/L): 125- kadar Na serum x 0,6 x berat badan; diberikan dalam 24 jam

-Hiperkalemia ( K>5 mEq/L)

Koreksi dilakukan dengan pemberian kalsium glukonas 10% sebanyak 0,5-1 ml/ kgBB i.v secara
perlahan-lahan dalam 5-10 menit sambil dimonitor irama jantung dengan EKG.

-Hipokalemia (K<3,5 mEq/L)

Koreksi dilakukan menurut kadar Kalium

Kadar K 2,5-3,5 mEq/L berikan KCl 75 mEq/kgBB per oral per hari dibagi 3 dosis

Kadar K <2,5 mEq/L, berikan KCl melalui drip intravena dengan dosis:

- 3,5- kadar K terukur x BB (kg) x 0,4 + 2 mEq/kgBB/24 jam dalam 4 jam pertama

-3,5 kadar K terukur x BB (kg) x 0,4 + 1/6 x 2 mEq x BB dalam 20 jam berikutnya

- Seng

Seng terbukti secara ilmiah terpecaya dapat menurunkan frekuensi buang air besar dan volume
tinja sehingga dapat menurunkan risiko terjadinya dehidrasi pada anak. Sengzink elemental
diberikan selama 10-14 hari meskipun anak ttelah tidak mengalami diare dengan dosis:

-umur dibawah 6 bulan: 10 mg per hari

46
- umur diatas 6 bulan: 20 mg per hari

- Nutrisi

ASI dan makanan dengan menu yang sama saat anak sehat sesuai umur tetap diberikan untuk
mencegah kehilangan berat badan dan sebagai pengganti nutrisi yang hilang. Adanya perbaikan
nafsu makan menandakan fase kesembuhan. Anak tidak boleh dipuasakan, makanan diberikan
sedikit-sedikit tapi sering (lebih kurang 6x sehari), rendah serat, buah buahan terutama pisang.

-Medikamentosa

-tidak boleh diberikan obat anti diare

Antibiotik

Antibiotik diberikan bila ada indikasi misalnya disentri (diare berdarah) atau kolera. Pemberian
antibiotik yang tidak rasional akan menganggu keseimbangan flora usus sehingga dapat
memperpanjang lama diare dan Clostridium difficile akan tubuh yang menyebabkan diare sulit
disembuhkan. Selain itu, pemberian antibiotik yang tidak rasional dapat mempercepat resistensi
kuman terhadap antibiotik. Untuk disentri basiler, antibiotik diberikan sesuai dengan data
sensitivitas setempat, bila tidak memungkinkan dapat mengacu kepada data publikasi yang
dipakai saat ini, yaitu kotrimoksazol sebagai lini pertama, kemudian sebagai lini kedua. Bila
kedua antibiotik tersebut sudah resisten maka lini ketiga adalah sefiksim.

Antiparasit

Metronidazol 50 mg/kgBB/ hari dibagi 3 dosis merupakan obat pilihan untuk amuba vegetatif

Edukasi

Orang tua diminta untuk membawa kembali anaknya ke pusat pelayanan kesehatan bila
ditemukan hal sebagai berikut: demam, tinja berdarah, makan atau minum sedikit, sangat haus,
diare makin sering, atau belum membaik dalam 3 hari. Orangtua dan pengasuh diajarkan cara
menyiapkan oralit dengan benar.

47
Langkah promotif/ preventif:

(1) ASI tetap diberikan (2) kebersihan perorangan, cuci tangan sebelum makan (3)kebersihan
lingkungan, buang air besar di jamban (4) memberikan makanan penyapihan yang benar (5)
penyediaan air minum yang bersih (6) selalu memasak makanan

Kesimpulan

Demam berdarah dengue adalah demam berdarah yang disebabkan oleh Virus dengue
yang ditularkan oleh nyamuk betina Aedes aegypti. Manifestasi klinis dari penyakit ini mulai
dari asipmtomatis sampai demam berdarah dengue yang disertai syok atau yang disebut sebagai
dengue shock syndrome (DSS). Infeksi primer oleh Virus Dengue mungkin memberi gejala
demam dengue, apabila terjadi re-infeksi oleh Virus Dengue dengan serotipe yang berbeda maka
reaksi yang terjadi sangat berbeda. Teori patogenesis demam berdarah dengue yang banyak
dianut saat ini adalah secondary heterologous infection. Menurut teori ini re-infeksi akan
menyebabkan suatu reaksi anamnestik antibodi. Patofisiologi utama yang membedakan demam
dengue dengan DBD adalah peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah, penurunan
volume plasma, serta diatesis hemoragik. Dasar penatalaksanaan DSS yang utama adalah
penggantian volume plasma secepat mungkin untuk memperbaiki kehilangan volume plasma.

Obesitas merupakan suatu penyakit multifaktorial yang terjadi akibat akumulasi jaringan
lemak yang berlebihan dan dapat mengganggu kesehatan. Obesitas terjadi bila ukuran dan
jumlah sel lemak bertambah. WHO menyatakan bahwa obesitas telah menjadi masalah dunia.
Data yang dikumpulkan dari seluruh dunia memperlihatkan bahwa terjadi peningkatan prevalensi
overweight dan obesitas pada 10-15 tahun terakhir, saat ini diperkirakan sebanyak lebih dari 100
juta penduduk dunia menderita obesitas.

48
Daftar Pustaka

1. Soedarmo SSP, Garna Harry, Hadinegoro SSR, Satari HI. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri
Tropis. Ed.2. Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia ; 2015. h. 155-181

2. Behrman RE, Kliegman RM, Alvin. Nelson: Ilmu Kesehatan Anak. Ed.6. Wahab AS, editor.
Jakarta: EGC; 2004.h. 122-123, 481-5.

3. WHO. Pocket Book of Hospital Care for Children, Guidelines foe the Management of
Common Illnesses with Limited Resources. Jakarta; 2005. h.133-142

4. Pudjiadi AH, Hegar B. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia jilid II.
Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2009. h. 58-62, 197-204

49