Anda di halaman 1dari 13

REFERAT

GANGGUAN PSIKOTIK AKUT


(Brief Psychotic Disorder)

Disusun oleh:
Alex
I11109003

Pembimbing:
dr. Lollytha C. Simanjuntak, Sp. KJ

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA


RUMKIT TK. II 03.05.01 DUSTIRA CIMAHI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
2017
LEMBAR PERSETUJUAN
Telah disetujui Referat dengan judul:
Gangguan Psikotik Akut

Disusun sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan


Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa

Telah disetujui,

Cimahi, Maret 2017


Pembimbing Disusun Oleh:

dr. Lollytha C. Simanjuntak, Sp. KJ Alex


NIM: I11109003

BAB I

1
PENDAHULUAN

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi keempat (DSM-IV)


mengombinasikan dua konsep diagnostik menjadi diagnosis gangguan psikotik singkat (brief
psychotic disorder).1 Pertama, gangguan berlangsung singkat, didefinisikan di dalam DSM-IV
sebagai kurang dari satu bulan tetapi sekurangnya satu hari; gejala mungkin memenuhi atau tidak
memenuhi kriteria diagnosis untuk skizofrenia.2 Kedua, gangguan mungkin berkembang sebagai
respons terhadap stresor psikososial yang parah atau kelompok stresor.1,2 Pengelompokan
bersama kedua konsep tersebut di dalam DSM-IV sebagai gangguan psikotik singkat adalah
dengan mengingat kesulitan praktisi dalam membedakan konsep-konsep tersebut di dalam
praktis klinis.1

Pasien dengan gangguan mirip dengan gangguan psikotik akut sebelumnya telah
diklasifikasikan sebagai menderita psikosis reaktif, histerikal, stress, dan psikogenik. Psikosis
reaktif seringkali digunakan sebagai sinonim untuk skizofrenia berprognosis baik; diagnosis
DSM-IV gangguan psikotik akut tidak berarti menyatakan hubungan dengan skizofrenia. 1,3 Di
tahun 1913 Karl Jasper menggambarkan sejumlah ciri penting untuk diagnosis psikosis reaktif,
termasuk adanya stresor traumatis berat yang dapat diidentifikasi, hubungan temporal yang erat
antara stresor dan perkembangan psikosis dan perjalanan episode psikotik yang ringan. 1 Di
samping itu, isi psikosis sering kali mencerminkan sifat pengalaman traumatis, dan
perkembangan psikosis dihipotesiskan sebagai memuaskan tujuan pasien, sering kali suatu tipe
pelepasan diri dari suatu kondisi traumatis.1

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. DEFINISI

Psikotik adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidakmampuan individu menilai
kenyataan yang terjadi, misalnya terdapat halusinasi, waham atau perilaku kacau/aneh.1,2

Gangguan psikotik akut didefinisikan sebagai suatu gangguan kejiwaan yang terjadi
selama 1 hari sampai kurang dari 1 bulan, dengan gejala psikosis, dan dapat kembali ke tingkat
fungsional premorbid.1,2,4

2.2. SEJARAH

Pada umumnya, gangguan psikotik singkat belum dipelajari dengan baik di psikiatri
Amerika. Sekurangnya sebagian masalah di Amerika Serikat adalah seringnya perubahan kriteria
diagnostik yang terjadi selama lebih dari 15 tahun terakhir. Diagnosis telah diterima lebih baik
dan dipelajari lebih lengkap di Skandinavia dan masyarakat Eropa Barat lainnya daripada di
Amerika Serikat. Pasien dengan gangguan yang mirip dengan psikotik singkat sebelumnya telah
diklasifikasikan sebagai menderita psikosis reaktif, histerikal, stres, dan psikogenik.1
Psikosis reaktif sering kali digunakan sebagai sinonim dari skizofrenia dengan prognosis
baik, tetapi diagnosis gangguan psikotik akut tidak berarti ada hubungannya dengan skizofrenia.
Di tahun 1913 Karl Jasper menggambarkan sejumlah ciri penting untuk diagnosis psikosis
reaktif, termasuk adanya stresor traumatis berat yang dapat diidentifikasi, hubungan temporal
yang erat antara stressor dan perkembangan psikosis, dan perjalanan episode psikotik yang
ringan. Di samping itu, isi psikosis sering kali mencerminkan sifat pengalaman traumatis, dan
perkembangan psikosis dihipotesiskan sebagai memuaskan tujuan pasien, sering kali suatu tipe
pelepasan diri dari suatu kondisi traumatis.1

2.3. EPIDEMIOLOGI

Beberapa penelitian telah dilakukan tentang epidemiologi diagnosis psikosis reaktif singkat
DSM edisi ketiga yang direvisi (DSM-III-R), dan belum ada yang dilakukan dengan

3
menggunakan kriteria DSM-IV.1,2 Dengan demikian, perkiraan yang dapat dipercaya tentang
insidensi, prevalensi, rasio jenis kelamin, dan usia onset rata-rata untuk gangguan tidak terdapat.
Pada umumnya gangguan ini dianggap jarang, seperti yang dinyatakan oleh satu penelitian
tentang perekrutan militer di mana insidensi psikosis reaktif singkat DSM-III-R diperkirakan
adalah 1,4 per 100.000 yang direkrut.1 Dengan memasukkan episode psikotik singkat yang tidak
disertai dengan faktor pencetus yang jelas di dalam DSM-IV, insidensi untuk diagnosis DSM-IV
mungkin lebih tinggi daripada angka tersebut. Hal lain yang menimbulkan kesan pada klinisi
adalah bahwa gangguan lebih sering pada pasien muda daripada pasien lanjut usia, walaupun
beberapa kasus melaporkan adanya riwayat kasus yang memang mengenai orang lanjut usia.1
Beberapa klinisi menyatakan bahwa gangguan mungkin paling sering ditemukan pada
pasien dari kelas sosioekonomi rendah dan pada pasien dengan gangguan kepribadian yang telah
ada sebelumnya (paling sering adalah gangguan kepribadian histrionik, narsistik, paranoid,
skizotipal, dan ambang). Orang yang pernah mengalami perubahan kultural yang besar (sebagai
contoh, imigran) mungkin juga berada dalam risiko untuk menderita gangguan setelah stresor
psikososial selanjutnya. Tetapi, kesan klinis tersebut belum dibuktikan benar di dalam penelitian
klinis yang terkontrol baik.1,2

2.4. KOMORBIDITAS

Gangguan sering terjadi pada pasien dengan gangguan kepribadian (paling sering
gangguan histrionik, paranoid, skizoid, skizotipal, dan kepribadian borderline).1

2.5. ETIOLOGI

Etiologi gangguan psikotik akut tidak diketahui. Pasien dengan gangguan psikotik singkat
yang pernah memiliki gangguan kepribadian mungkin memiliki kerentanan biologis atau
psikologis ke arah perkembangan gejala psikotik.1
Secara psikodinamika terdapat mekanisme menghadapi (coping mechanism) yang tidak
adekuat dan kemungkinan adanya tujuan sekunder pada pasien dengan gejala psikotik. Teori
psikodinamika yang lainnya adalah bahwa gejala psikotik adalah suatu pertahanan terhadap
fantasi yang dilarang, pemenuhan harapan yang tidak tercapai, atau suatu pelepasan dari situasi
psikosial tertentu.2

4
2.6. PATOFISIOLOGI

Hipotesis dopamin pada gangguan psikosis serupa dengan penderita skizofrenia adalah
yang paling berkembang dari berbagai hipotesis, dan merupakan dasar dari banyak terapi obat
yang rasional. Hipotesis ini menyatakan bahwa skizofrenia disebabkan oleh terlalu banyaknya
aktivitas dopaminergik. Beberapa bukti yang terkait hal tersebut yaitu:1,2,3,5
1. Kebanyakan obat-obat antipsikosis menyekat reseptor D2 pascasinaps di dalam sistem
saraf pusat, terutama di sistem mesolimbik frontal;
2. Obat-obat yang meningkatkan aktifitas dopaminergik, seperti levodopa (suatu precusor),
amphetamine (perilis dopamine), atau apomorphine (suatu agonis reseptor dopamin
langsung),baik yang dapat mengakibatkan skizofrenia atau psikosis pada beberapa
pasien;
3. Densitas reseptor dopamin telah terbukti, postmortem, meningkat di otak pasien
skizofrenia yang belum pernah dirawat dengan obat-obat antipsikosis;
4. Positron emission tomography (PET) menunjukkan peningkatan densitas reseptor
dopamin pada pasien skizofrenia yang dirawat atau yang tidak dirawat, saat dibandingkan
dengan hasil pemeriksaan PET pada orang yang tidak menderita skizofrenia; dan
5. Perawatan yang berhasil pada pasien skizofrenia telah terbukti mengubah jumlah
homovanilic acid (HVA), suatu metabolit dopamin, di cairan serebrospinal, plasma, dan
urin.5
Namun teori dasar tidak menyebutkan hiperaktivitas dopaminergik apakah karena terlalu
banyaknya pelepasan dopaminergik, terlalu banyaknya reseptor dopaminergik atau kombinasi
mekanisme tersebut. Neuron dopaminergik di dalam jalur mesokortikal dan mesolimbik berjalan
dari badan selnya di otak tengah ke neuron dopaminoseptif di sistem limbik dan korteks
serebral.3

2.7. DIAGNOSIS1,2,4

Diagnosis DSM-V memiliki rangkaian diagnosis untuk gangguan psikotik, didasarkan


terutama atas lama gejala. Untuk gejala psikotik yang berlangsung sekurangnya satu hari tetapi
kurang dari satu bulan dan yang tidak disertai dengan satu gangguan mood, gangguan yang
berhubungan dengan zat, atau suatu gangguan psikotik karena kondisi medis umum, diagnosis
gangguan psikotik singkat kemungkinan merupakan diagnosis yang tepat. Untuk gejala psikotik
singkat kemungkinan merupakan diagnosis yang tepat. Untuk gejala psikotik yang lebih dari satu
5
hari diagnosis yang sesuai harus dipertimbangkan adalah gangguan delusional (jika waham
merupakan gejala psikotik utama), gangguan skizofreniform (jika waham merupakan gejala
psikotik utama), gangguan skizofreniform (jika gejala berlangsung kurang dari 6 bulan) dan
skizofrenia (jika gejala telah berlangsung lebih dari 6 bulan).1,2
Jadi gangguan psikotik singkat diklasifikasikan di dalam DSM-V sebagai suatu gangguan
psikotik dengan durasi singkat. Kriteria diagnosis menentukan sekurang-kurangnya satu gejala
yang jelas psikotik yang berlangsung selama satu hari sampai satu bulan. DSM-V menentukan
lebih lanjut penentuan tiga ciri: adanya atau tidak adanya satu atau lebih stressor yang jelas dan;
suatu onset pasca persalinan.1,2
Seperti pada pasien psikiatri akut, riwayat yang diperlukan untuk membuat diagnosis
mungkin tidak dapat diperoleh hanya dari pasien. Walaupun adanya gejala psikotik mungkin
jelas, informasi mengenai gejala prodromal, episode suatu gangguan mood sebelumnya, dan
riwayat ingesti zat psikotomimetik yang belum lama mungkin tidak dapat diperoleh dari
wawancara klinis saja. Di samping itu, klinisi mungkin tidak mampu memperoleh informasi
yang akurat tentang ada atau tidaknya stressor pencetus.1,2

Kriteria diagnostik untuk gangguan psikotik singkat menurut DSM-V:1,2


Ada satu (atau lebih) gejala berikut :
o Waham
o Halusinasi
o Bicara terdisorganisasi (misal; sering menyimpang atau inkoherensi).
o Prilaku terdisorganisasi jelas atau katatonik.
Catatan : jangan memasukan gejala jika merupakan pola respons yang diterima secara
kultural.

Lama suatu epiode gangguan adalah sekurangnya 1 hari tetapi kurang dari 1 bulan, akhirnya
kembali penuh kepada tingkat fungsi pramorbit.
Gangguan tidak lebih baik diterangkan oleh suatu gangguanmood dengan ciri psikotik,
gangguan skizoafektif atau skizofrenia dan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu
zat (misalnya, obat yang disalahgunakan, suatu medikasi) atau kondisi medis umum.
Sebutkan jika :

6
Dengan stresor nyata (psikosis reaktif singkat) : jika gejala terjadi segera setelah dan
tampak sebagai respons dari suatu kejadian yang sendiri atau bersama-sama, akan
menimbulkan stres yang cukup besar bagi hampir setiap orang dalam keadaan yang sama
dalam kultur orang tersebut

Tanpa stresor nyata : jika gejala psikotik tidak terjadi segera setelah, atau tampaknya bukan
sebagai respon terhadap kejadian yang sendirinya atau bersama-sama akan menimbulkan
streas yang cukup besar bagi hampir setiap orang dalam keadaan yang sama dalam kultur
orang tersebut.

Dengan onset pascapersalinan : jika onset dalam waktu 4 minggu setelah persalinan.

Beberapa gangguan psikosis akut atau sementara:3,4


1. Gangguan psikotik polimorfik akut tanpa gejala skizofrenia
2. Gangguan psikotik polimorfik akut dengan gejala skizofrenia
3. Gangguan psikotik Lir-Skizofrenia Akut
4. Gangguan psikotik akut lainnya dengan predominan waham

Kriteria diagnostik gangguan psikotik Lir-Skizofrenia akut menurut PPDGJ-III:4


Untuk diagnosis pasti harus memenuhi:
a. Onset gejala psikotik harus akut (2 minggu atau kurang, dari suatu keadaan
nonpsikotik menjadi keadaan yang jelas psikotik);
b. Gejala-gejala yang memenuhi kriteria untuk skizofrenia (F20.-) harus sudah ada
untuk sebagian besar waktu sejak berkembangnya gambaran klinis yang jelas
psikotik;
c. Kriteria untuk psikosis polimorfik akut tidak terpenuhi.
Apabila gejala-gejala skizofrenia menetap untuk kurun waktu lebih dari 1 bulan lamanya,
maka diagnosis harus dirubah menjadi skizofrenia (F20.-).

2.8. GAMBARAN KLINIS1,2

Gejala gangguan psikotik singkat selalu termasuk sekurangnya satu gejala psikosis utama,
biasanya dengan onset yang tiba-tiba, tetapi tidak selalu memasukkan keseluruhan pola gejala
yang ditemukan pada skizofrenia. Beberapa klinisi telah mengamati bahwa gejala afektif,
konfusi, dan gangguan pemusatan perhatian mungkin lebih sering ditemukan pada gangguan
psikotik singkat daripada gangguan psikotik kronis. Gejala karakteristik untuk gangguan psikotik

7
singkat adalah perubahan emosional, pakaian atau perilaku yang aneh, berteriak-teriak atau diam
membisu, dan gangguan daya ingat untuk peristiwa yang belum lama terjadi. Beberapa gejala
tersebut ditemukan pada gangguan yang mengarahkan diagnosis delirium dan jelas memerlukan
pemeriksaan organik yang lengkap, walaupun hasilnya mungkin negatif.

2.9. STRESOR PENCETUS1,2

Contoh yang paling jelas dari stresor pencetus adalah peristiwa kehidupan yang besar yang
dapat menyebabkan kemarahan emosional yang bermakna pada tiap orang. Peristiwa tersebut
adalah kematian anggota keluarga dekat dan kecelakaan kendaraan yang berat. Beberapa klinisi
berpendapat bahwa keparahan peristiwa harus dipertimbangkan di dalam hubungan dengan
kehidupan pasien. Walaupun pandangan tersebut adalah beralasan, tetapi mungkin memperluas
definisi stresor pencetus dengan memasukkan peristiwa yang tidak berhubungan dengan episode
psikotik. Klinisi lain berpendapat bahwa stresor mungkin merupakan urutan peristiwa yang
menimbulkan stres sedang, bukannya peristiwa tunggal yang menimbulkan stres dengan jelas.
Tetapi, penjumlahan derajat stres yang disebabkan oleh urutan peristiwa memerlukan suatu
derajat pertimbangan klinis yang hampir tidak mungkin.

2.10. DIAGNOSIS BANDING1

Diagnosis lain yang dipertimbangkan di dalam diagnosis banding adalah gangguan buatan
(factitious disorder) dengan tanda dan gejala psikologis yang menonjol, berpura-pura
(malingering), gangguan psikotik karena kondisi medis umum, dan gangguan psikotik akibat zat.
Seorang pasien mungkin tidak mau mengakui penggunaan zat gelap, dengan demikian membuat
pemeriksaan intoksikasi zat atau putus zat sulit tanpa menggunakan tes laboratorium. Pasien
dengan epilepsi atau delirium dapat juga datang dengan gejala psikotik dengan yang ditemukan
pada gangguan psikotik singkat. Gangguan psikiatrik tambahan yang harus dipertimbangkan di
dalam diagnosis banding adalah gangguan identitas disosiatif dan episode psikotik yang disertai
dengan gangguan kepribadian ambang dan skizotipal.

2.11. PERJALANAN PENYAKIT DAN PROGNOSIS1,2,3

8
Berdasarkan definisinya, perjalanan penyakit gangguan psikotik singkat berlangsung
kurang dari satu bulan. Namun demikian, perkembangan gangguan psikiatrik bermakna tertentu
dapat menyatakan suatu kerentanan mental pada pasien. Sejumlah pasien dengan presentasi yang
tidak diketahui yang pertama kali diklasifikasikan menderita gangguan psikotik singkat
selanjutnya menunjukkan sindroma psikiatrik kronis, seperti skizofrenia dan gangguan mood.
Tetapi, pada umumnya pasien dengan gangguan psikotik singkat memiliki prognosis yang baik,
dan penelitian di Eropa telah menyatakan bahwa 50 sampai 80 persen dari semua pasien tidak
memiliki masalah psikiatrik berat lebih lanjut.
Lamanya gejala akut dan residual sering kali hanya beberapa hari. Kadang-kadang, gejala
depresif mengikuti resolusi gejala psikotik. Bunuh diri adalah suatu keprihatinan pada fase
psikotik maupun fase depresif pascapsikotik. Sejumlah indikator telah dihubungkan dengan
prognosis yang baik. Pasien dengan ciri-ciri tersebut kecil kemungkinannya untuk menderita
episode selanjutnya dan kecil kemungkinannya kemudian akan menderita skizofrenia atau suatu
gangguan mood.

Gambaran Prognostik Baik untuk Gangguan Psikotik Sementara1


Penyesuaian yang baik sebelum sakit
Sedikit ciri skizoid sebelum sakit
Stresor pemicu berat
Awitan gejala mendadak
Gejala afektif
Bingung dan limbung selama psikosis
Sedikit penumpulan afektif
Durasi gejala singkat
Tidak ada keluarga skizofrenik
2.12. TERAPI

Rawat inap. Seorang pasien psikotik akut mungkin memerlukan rawat inap yang singkat baik
untuk evaluasi maupun proteksi. Evaluasi memerlukan pemantauan gejala yang ketat dan
penilaian tingkat bahaya pasien terhadap diri sendiri dan orang lain. Selain itu, rawat inap yang
tenang dan terstruktur dapat membantu pasien mendapatkan kembali kesadarannya terhadap

9
realita. Sementara klinisi menunggu efek perawatan atau obat-obatan, mungkin diperlukan
pengasingan, pengendalian fisik, atau pemantauan satu pasien oleh satu pemeriksa.1,2

Psikoterapi. Meskipun rawat inap dan farmakoterapi cenderung mengendalikan situasi jangka
pendek, bagian pengobatan yang sulit adalah integrasi psikologis pengalaman (dan kemungkinan
trauma pemicu, jika ada) ke dalam kehidupan pasien dan keluarganya. Psikoterapi digunakan
untuk memberikan kesempatan membahas stresor dan episode psikotik. Eksplorasi dan
perkembangan strategi koping adalah topik utama psikoterapi. Masalah terkait meliputi
membantu pasien menangani rasa harga dirinya yang hilang dan mendapatkan kembali rasa
percaya diri. Setiap strategi pengobatan didasarkan pada peningkatan keterampilan
menyelesaikan masalah, sementara memperkuat struktur ego melalui psikoterapi tampaknya
merupakan cara yang paling efektif. Keterlibatan keluarga dalam proses pengobatan mungkin
penting untuk mendapatkan keberhasilan.1,2,5

Farmakoterapi1,2
Dua kelas utama obat yang perlu dipertimbangkan di dalam pengobatan gangguan psikotik
adalah obat antipsikotik antagonis reseptor dopamin dan benzodiazepin. Jika dipilih suatu
antipsikotik, suatu antipsikotik potensi tinggi, misalnya haloperidol biasanya digunakan.
Khususnya pada pasien yang berada pada resiko tinggi untuk mengalami efek samping
ekstrapiramidal, suatu obat antikolinergik kemungkinan harus diberikan bersama-sama dengan
antipsikotik sebagai profilaksis terhadap gejala gangguan pergerakan akibat medikasi. Selain itu,
benzodiazepin dapat digunakan dalam terapi singkat psikosis. 7Walaupun benzodiazepin memiliki
sedikit kegunaan atau tanpa kegunaan dalam pengobatan jangka panjang gangguan psikotik, obat
dapat efektif untuk jangka singkat dan disertai dengan efek samping yang lebih jarang daripada
antipsikotik. Pada kasus yang jarang benzodiazepin disertai dengan peningkatan agitasi dan pada
kasus yang lebih jarang lagi dengan kejang putus obat yang hanya biasanya terjadi pada
penggunaan dosis tinggi terus-menerus.6Medikasi hipnotik sering kali berguna selama satu
sampai dua minggu pertama setelah resolus episode psikotik. Pemakaian jangka panjang
medikasi harus dihindari dalam pengobatan gangguan ini.1,7

10
BAB III

KESIMPULAN

Gangguan psikotik akut adalah gangguan yang berlangsung kurang dari satu bulan tetapi
sekurangnya satu hari; gejala mungkin memenuhi atau tidak memenuhi kriteria diagnosis untuk
skizofrenia. Insidensi psikosis reaktif singkat DSM-III-R diperkirakan adalah 1,4 per 100.000
yang direkrut.
Gangguan psikotik akut penyebabnya tidak diketahui dan diagnosis kemungkinan
termasuk kelompok gangguan yang heterogen. DSM-IV memiliki rangkaian diagnosis untuk
gangguan psikotik, didasarkan terutama atas lama gejala. Untuk gejala psikotik yang
berlangsung sekurangnya satu hari tetapi kurang dari satu bulan dan tidak disertai dengan suatu
gangguan mood, gangguan berhubungan zat, atau suatu gangguan psikotik karena kondisi medis
umum, diagnosis psikosis akut kemungkinan merupakan diagnosis yang tepat. Pada umumnya
pasien dengan gangguan psikotik akut memiliki prognosis yang baik.

11
DAFTAR PUSTAKA

1. Gangguan Psikotik Singkat. Editor : I. Made Wiguna S. Kaplan - Sadock, Sinopsis


Psikiatri - Ilmu Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Jilid 1. Tanggerang : Binarupa
Aksara Publisher. 2010:785-789.
2. Gangguan Psikotik Akut. Editor : Husny Muttaqin dan Tiara Mahatmi Nisa. Kaplan &
Sadock - Buku Ajar Psikiatri Klinis. Edisi 2. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. 2014:179-
181.
3. Psikiatri : Skizofrenia (F2). Editor : Chris Tanto, Frans Liwang, dkk. Kapita Selekta
Kedokteran. Edisi 4. Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius. 2014:910-3.
4. Gangguan Psikotik Akut dan Sementara : Schizophrenia like (F23.2). Editor : Rusdi
Maslim. Diagnosis Gangguan Jiwa : Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III dan DSM-5.
Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya. 2013:53-55.
5. Skizofrenia dan Gangguan Waham (Paranoid). Editor : Husny Muttaqin dan Frans Dany.
Buku Ajar Psikiatri. Edisi 2. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. 2013:147-50.
6. Penatalaksanaan Skizofrenia. Editor: Irwan M, dkk. Faculty of Medicine-University of
Riau. RSJ Tampan. 2008. diunduh dari https://yayanakhyar.
files.wordpress.com/2008/06/penatalaksanaan-skizofrenia_files-of-drsmedpdp.pdf
7. Obat Anti-psikosis. Editor : Rusdi Maslim. Penggunaan Klinis Obat Psikotropik
(Psychotropic Medication). Edisi 3. Jakarta : Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika
Atma Jaya (PT. Nuh Jaya). 2007:14-22.

12