Anda di halaman 1dari 3

Kelompok II

TUGAS
EVALUASI TABLET

1. Uji Organoleptik
Diamati penampilan fisik dari tablet meliputi bau, warna dan bentuk tablet (Kaltiningsih
et al, 2012).

2. Uji Keseragaman Ukuran


Dipilih 20 tablet dari masing-masing formula, diukur tebal dan diameter masing-
masing tablet menggunakan alat ukur jangka sorong. Menurut Farmakope Indonesia III,
syarat keseragaman ukuran kecuali dinyatakan lain, diameter tablet tidak lebih dari 3 kali

1
1
dan tidak kurang dari 3 kali tebal tablet (Dirjen POM, 1995).

3. Uji Keseragaman Bobot


Tablet harus memenuhi uji keseragaman bobot. Keseragaman bobot ini ditetapkan
untuk menjamin keseragaman bobot tiap tablet yang dibuat. Tablet-tablet yang bobotnya
seragam diharapkan akan memiliki kandungan bahan obat yang sama, sehingga akan
mempunyai efek terapi yang sama (Dirjen POM, 1995).
Ditimbang 20 tablet dari masing-masing formula dan dihitung bobot rata-ratanya. Jika
ditimbang satu per satu tidak boleh lebih dari dua tablet yang masing-masing bobotnya
menyimpang dari bobot rata-rata yang ditetapkan kolom A dan tidak satupun tablet yang
bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata yang ditetapkan kolom B sesuai syarat yang
tercantum pada Farmakope Indonesia III (Dirjen POM, 1995).

Tabel Syarat Keseragaman Bobot Tablet


Bobot rata-rata Penyimpangan bobot rata-rata (%)
tablet A B
< 25 mg 15 30
26 150 mg 10 20
151 300 mg 7,5 15
> 300 mg 5 10

4. Uji Kekerasan Tablet


Ketahanan tablet terhadap goncangan pada waktu pembuatan, pengepakan dan
distribusi bergantung pada kekerasan tablet. Kekerasan dinyatakan dalam satuan kg dari
tenaga yang diperlukan untuk memecahkan tablet. Alat yang digunakan ialah hardness
tester. Cara kerjanya yaitu sebuah tablet diletakkan tegak lurus diantara anvil dan punch,
tablet dijepit dengan cara memutar sekrup pengatur sampai tanda lampu stop menyala.
Lalu knop ditekan sampai tablet pecah. Angka yang ditunjukkan jarum penunjuk skala
dibaca. Percobaan ini dilakukan sampai 5 kali. Persyaratan kekerasan tablet: 4-12 kg
(Ansel, 1989).

5. Uji Friabilitas atau Kerapuhan


Kerapuhan merupakan parameter yang digunakan untuk mengukur ketahanan
permukaan tablet terhadap gesekan yang dialaminya sewaktu pengemasan dan
pengiriman. Alat yang digunakan ialah friability tester. Caranya ditimbang 20 tablet,
dicatat beratnya (A gram), lalu dimasukkan ke dalam alat dan alat dijalankan selama 4
menit (100 kali putaran). Setelah batas waktu yang ditentukan, tablet dikeluarkan dan
dibersihkan dari serbuk-serbuk halus lalu ditimbang lagi (B gram). Friabilitas (F) =

AB
100
A . Syarat: kehilangan bobot 1% (Ansel, 1989).

6. Uji Waktu Hancur


Waktu hancur adalah waktu yang dibutuhkan tablet pecah menjadi partikel-partikel
kecil atau granul sebelum larut dan diabsorbsi. Uji waktu hancur dilakukan dengan
menggunakan alat uji waktu hancur. Masing-masing sediaan tablet mempunyai prosedur
uji waktu hancur dan persyaratan tertentu. Uji waktu hancur tidak dilakukan jika pada
etiket dinyatakan tablet kunyah, tablet isap, tablet dengan pelepasan zat aktif bertahap
dalam jangka waktu tertentu (Siregar, 2008).
Alat yang digunakan ialah disintegration tester. Caranya yaitu satu tablet dimasukkan
pada masing-masing tabung dari keranjang lalu dimasukkan cakram pada tiap tabung dan
alat dijalankan. Keranjang diturunnaikkan secara teratur 30 kali tiap menit. Sebagai
medium digunakan air dengan suhu dengan suhu 37C, kecuali dinyatakan lain
menggunakan cairan yang tercantum pada masing-masing monografi. Pada akhir batas
waktu, angkat keranjang dan amati semua tablet. Persyaratan waktu hancur untuk tablet
tidak bersalut adalah kurang dari 15 menit, untuk tablet salut gula dan salut nonenterik
kurang dari 30 menit, sementara untuk tablet salut enterik tidak boleh hancur dalam
waktu 60 menit dalam medium basa. Semua tablet harus hancur sempurna. Bila 1 atau 2
tablet tidak hancur sempurna, ulangi pengujian dengan 12 tablet lainnya, tidak kurang 16
tablet dari 18 tablet harus hancur sempurna (Dirjen POM, 1995).

7. Uji Disolusi
Disolusi adalah proses pemindahan molekul obat dari bentuk padat ke dalam larutan
suatu medium. Uji disolusi digunakan untuk mengetahui persyaratan disolusi yang
tertera dalam monografi pada sediaan tablet, kecuali pada etiket dinyatakan bahwa tablet
harus dikunyah atau tidak memerlukan uji disolusi. Uji ini juga bertujuan untuk
mengetahui jumlah zat aktif yang terlarut dan memberi efek terapi di dalam tubuh.
Pengujian dilakukan untuk menjamin keseragaman satu batch, menjamin bahwa obat
akan memberikan efek terapi yang diinginkan, dan diperlukan dalam rangka
pengembangan suatu obat baru.
Pada tiap pengujian, dimasukkan sejumlah volume media disolusi (seperti yang
tertera dalam masing-masing monografi) ke dalam wadah. Alat dirangkai dan suhu media
disolusi diatur pada 37C. Satu tablet dicelupkan dalam keranjang atau dibiarkan
tenggelam ke bagian dasar wadah, kemudian pengaduk diputar dengan kecepatan seperti
yang ditetapkan dalam monografi. Pada interval waktu yang ditetapkan, diambil cuplikan
pada daerah pertengahan antara permukaan media disolusi dan bagian atas dari keranjang
berputar atau dayung dan tidak kurang dari 1 cm dari dinding wadah untuk analisis
kimia. Tablet harus memenuhi syarat seperti yang terdapat dalam monografi (Ansel,
1989).