Anda di halaman 1dari 11

LTM Metodologi Penelitian Kesehatan CL-2

oleh Nur Rachmat Satria, 1506688645

1. Jelaskan mengenai penelitian Ecological Study:


a. Definisi.
Adalah studi epidemiologi yang meneliti hubungan antara paparan dan tingkat
penyakit dalam serangkaian populasi.

b. Ruang lingkup (rasionalisasi, kelebihan dan kekurangan)


Penelitian Ecological Study biasanya dipakai untuk mengukur prevalensi dan
insidensi penyakit. Kelebihan dari studi ini adalah memerlukan waktu yang
singkat untuk melakukan penelitian, mudah untuk dilakukan, memerlukan biaya
yang lebih murah, dapat menggunakan data yang telah ada, dapat bermanfaat
ketika faktor risiko dari suatu penyakit tidak berubah, dan dapat mengukur
tingkat efektivitas tindakan kesehatan di masyarakat. Kekurangan dari studi ini
antara lain tidak dapat melihat asosiasi kausal antara faktor risiko dengan
penyakit, penelitian yang dilakukan dibatasi wilayah yang ada, dan sifat
penelitian biasanya bersifat sugestif.

c. Variabel yang akan diteliti.


Agregat: berasal dari pengukuran rata-rata data individual

Lingkungan: mengenai semua populasi dalam suatu lingkungan

Global: menyinggung populasi yang dimaksudkan namun dalam faktor


individual yang berbeda.

d. Teknik sampling.
Teknik sampling yang dilakukan dalam studi ini adalah random sampling. Hal
yang perlu diperhatikan adalah semakin homogen nilai variabel yang diteliti
maka akan semakin kecil sampel yang dibutuhkan. Cara penghitungan sampel
dalam studi ini dibagi berdasarkan jenis data yang akan diteliti dalam studi ini.

Jika melakukan penelitian pada data kontinyu, maka rumus penghitungan


sampelnya adalah:
Keterangan: n = besar sampel minimum, Z 1-/2 = nilai distribusi normal
baku (tabel Z) pada tertentu, 2 = nilai varians di populasi, d = kesalahan
(absolut) yang dapat ditolerir atau derajat ketepatan yang diinginkan
umumnya yang dipakai adalah 5% atau 1%, dan N = besar populasi

Jika melakukan penelitian pada data diskrit, maka rumus penghitungan


sampelnya adalah:

Keterangan: n = besar sampel minimum, Z 1-/2 = nilai distribusi normal


baku (tabel Z) pada tertentu, P = nilai proporsi di populasi, d = kesalahan
(absolut) yang dapat ditolerir atau derajat ketepatan yang diinginkan
umumnya yang dipakai adalah 5% atau 1%, dan N = besar populasi

Teknik sampling: makan daging, gak tanya individu satu2. Ngambil data
makan daging di departemen pertanian. Per tahun (2002-2004) atau per
tempat (bekasi, depok) Jadi gak ada teknik sampling

Contoh: curah hujan, jadi curah hujan gbs diteliti sendiri

2. Jelaskan mengenai penelitian Cross Sectional:


Penelitian Cross Sectional merupakan jenis penelitian yang digunakan untuk
menentukan hubungan antara variabel bebas (faktor risiko) dengan variabel terikat
(efek) dengan hanya melakukan penelitian sesaat. Hal ini menunjukan bahwa
penelitian cross sectional tidak melakukan follow up pada sasaran yang ditelitinya.
Lebih lanjut lagi, penelitian cross sectional lebih baik digunakan untuk meneliti
penyakit yang mempunyai masa sakit pendek karena hanya dilakukan dalam kurun
waktu tertentu. Kelebihan dari studi Cross Sectional antara lain termasuk desain
penelitian yang murah, mudah dan cepat untuk memperoleh hasil penelitian,
memungkinkan peneliti menggunakan populasi dari masyarakat umum, dapat
dipakai untuk meneliti banyak variabel sekaligus, tidak terancam loss to follow up,
dan dapat digunakan sebagai dasar untuk penelitian selanjutnya yang bersifat
konklusif dengan syarat jangka waktu yang masih relevan. Kekurangan dari studi
Cross Sectional antara lain sulit menentukan sebab dan akibat karena pengambilan
data faktor risiko dan efek pajanan dilakukan pada waktu yang bersamaan, lebih
banyak menjaring subjek penelitian dengan masa sakit pendek daripada masa sakit
panjang, membutuhkan jumlah subjek yang cukup banyak, tidak dapat
menggambarkan perjalanan penyakit dan insidens, dan tidak praktis jika digunakan
untuk meneliti kasus yang sangat jarang. Terdapat dua variabel penelitian yang
digunakan dalam studi Cross Sectional, yaitu variabel bebas dan variabel terikat.
Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab
perubahan atau timbulnya variabel dependen (variabel terikat). Variabel terikat
merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya
variabel bebas. Teknik sampling dalam studi Cross Sectional dibedakan dalam cara,
yaitu random dan non random. Teknik random dilakukan dalam beberapa cara, yaitu
stratifikasi (digunakan pada populasi dengan karakteristik yang heterogen,
dilakukan dengan cara menentukan strata dari suatu karakteristik populasi lalu
diambil sampel yang mewakili masing-masing strata). Teknik non random
dilakukan dalam berbagai langkah, yaitu purposive (kualitatif, sama dengan
snowball) (peneliti mempertimbangkan sifat populasi yang sebelumnya telah
diketahui oleh peneliti), kuota (peneliti menjatah jumlah sampel dari populasi subjek
penelitian), dan accidental (peneliti mengambil sampel secara kebetulan seiringan
penelitiannya dilakukan namun tetap menyesuaikan dengan konteks penelitian).
Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan rumus:

Variabel dependen dan independen diambil pada waktu yang sama, tidak difollowup
pada suatu populasi tertentu.

Rasionalisasi: alasan kenapa dibutuhkan penelitian tsb. Sama dengan justifikasi.


Crosssec: murah, tidak perlu follow up (banyak digunankan oleh kemenkes) dalam
bentuk survei. Untuk mendapatkan data besar dalam waktu yang singkat. Imunisasi
seluruh indonesia.
Datang ke populasi, kita gatau orang itu sakit atau ngga. Anemia di suatu populasi:
apakah sampling mau melakukan estimasi atau uji hipotesis. Teknik sampling
tergantung bisa bermacam-macam

Random: simpel, sistematik, kluster (kelurahan, desa), dan stratafikasi (kelas 1, 2, 3)

Teknik sampling untuk semua desain sama, tergantung situasinya (mencocokan


dengan dana dan resources). Contoh penelitian untuk satu indonesia, gamungkin
menggunakan simpel random sampling. Di kluster dulu (provinsi, ibu kota, desa,
kelurahan, rt/rw, dst abis itu di simpel random sampling)

3. Jelaskan mengenai penelitian Case Control:


a. Definisi.
Case control adalah studi dengan penelitian yang dimulai dengan identifikasi
pasien dengan efek tertentu (case) yang kemudian dapat diteliti secara
retrospektif untuk mengetahui faktor risiko apa saja yang menyebabkan efek
tersebut.

b. Ruang lingkup (rasionalisasi, kelebihan dan kekurangan)


Studi case control biasa dilakukan dengan arah ke belakang. Kelebihan dari case
control antara lain cocok digunakan untuk penelitian yang frekuensi outcome
dari sebuah faktor risiko jarang terjadi, durasi penelitian singkat, dapat
digunakan untuk menilai beberapa faktor risiko, biaya penelitian relatif murah,
jarang untuk menghadapi kendala etik, jumlah sampel yang dibutuhkan relatif
kecil, dan menghasil odds ratio. Kekurangan dari studi case control antara lain
berpotensi mengalami bias karena pengambilan sampel kasus dari populasi yang
dapat berbeda, tidak efektif untuk menilai keterpaparan yang jarang terjadi, nilai
reliabilitas relatif rendah karena subjek penelitian harus mengingat faktor risiko
yang memungkinkan, memiliki keterbatasan hanya pada satu variabel outcome,
dan tidak dapat menghasilkan prevalens, insidens, rasio relatif, ataupun
atributable risk.

c. Variabel yang akan diteliti.


Variabel bebas: merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab
perubahan atau timbulnya variabel dependen (variabel terikat).

Variabel terikat: variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena
adanya variabel bebas.

d. Teknik sampling.
Teknik sampling pada studi ini dapat menggunakan metode random yaitu simple
random sampling dan systemic random sampling. Simple random sampling
digunakan dengan cara melakukan pengundian secara acak pada populasi yang
ada. Sedangkan systemic random sampling dipakai dengan cara membagi jumlah
populasi dengan perkiraan jumlah sampel yang diinginkan, kemudian diambil
sampel dengan membuat daftar elemen anggota populasi secara acak. Sedangkan
jika metode non random yaitu dapat menggunakan purposive sampling,
(menentukan kriteria, subjek untuk exposure banyak digunakan di studi
kualitatif controlnya yang di sampling) (tentukan lokasi, kemudian populasi
(orang di bandara, teknikisi yg terexposure sedangkan aministrator tidak
terexposure), sampel dan teknik sampling (jadi yang disampling teknisinya)
yaitu sampel ditentukan oleh orang yang benar-benar telah mengenal mengenai
populasi yang akan diteliti sehingga sampel tersebut mungkin representataif
untuk populasi yang sedang diteliti. Adapun pengambilan sampel dapat
dilakukan. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan rumus:

Case control: yang dirandom control nya

Insidens: orang sehat kita amati kemudian di sakit. Prevalens bisa diukur dengan
case control. Time : retrospektif, Arah: backward (selalu)

HARUS dilakukan pada penelitian yang outcome nya jarang

Kenapa case control ada RR dan OR. Karena bedanya sedikit. Pada case control kita
mengharapkan OR dan RR dengan kasus yg outcome nya jarang. OR bisa
mengestimasi RR. Karena Case control tidak bisa menghitung RR.

Bias: mungkin sekali karena orang bisa lupa, dilebih2kan. Ditanya nya sekarang
sedangkan ngerokoknya dulu

Variabel: indep, dep, comfounding dan antara

Yang di sampling dalam case control: yg di controlnya. Untuk menghitung kira2


risiko orang sehat untuk menjadi sakit seberapa besar

Untuk mengurangi bias: misal yg sakit case di kolam renang, maka pengamatan
yang dilakukan baik masing2 case dan control ya orang yg berenang di kolam
renang

Jelaskan mengenai penelitian Cohort:


e. Definisi.
Adalah penelitian yang dimulai dengan memilih subjek yang terkena pajanan
dengan subjek yang tidak terkena pajan, yang selanjutnya akan dilihat secara
prospektif dan retrospektif kohort untuk melihat efek hasil dari pajanan.

f. Ruang lingkup (rasionalisasi, kelebihan dan kekurangan)


Studi kohort memiliki dua tujuan yaitu tujuan deskriptif dan tujuan analitik.
Tujuan deskriptif yaitu untuk mendeskripsikan insidens suatu kejadian penyakit
tertentu selama periode tertentu. Sedangkan tujuan analitik yaitu untuk meneliti
hubungan antara suatu faktor risiko dengan kejadian penyakit. Kekurangan studi
kohort antara lain memerlukan waktu lama, memerlukan sarana dan pengelolaan
yang rumit, memiliki kemungkinan adanya subyek yang lose to follow up
sehingga akan mengganggu hasil analisis, dan kurang etis. Kelebihan studi
kohort antara lain dapat mengatur komparabilitas antara dua kelompok, dapat
menetapkan secara langsung besaran angka risiko dari suatu waktu ke waktu
yang lain, dan dapat melihat keseragaman observasi, baik terhadap faktor risiko
ataupun efek pajanan dari waktu ke waktu.

g. Variabel yang akan diteliti.


Variabel bebas: merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab
perubahan atau timbulnya variabel dependen (variabel terikat).

Variabel terikat: variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena
adanya variabel bebas.

h. Teknik sampling.
Teknik sampling dalam studi kohort dapat dilakukan dengan cara randomisasi,
yaitu berupa memberikan pemahaman bahwa individu-individu dalam sampel
memiliki kesempatan yang sama untuk mendapat exposure (E+) atau tidak
mendapat exposure (E-). Penghitungan sampel dapat dilakukan dengan cara:
Lebih lanjut lagi, dalam studi kohort harus disertakan dengan jumlah subyek
yang loss to follow up, pada umumnya 15%. Contohnya: n = (1+0.15)

Sampling tidak tergantung jenis retro atau prospek

Prospektif: Orang dikelompokan berdasarkan exposure (lab tinggi, normal) 10


tahun lagi lihat dia struk atau gak masing2 lab normal dan tinngi

Retrospektif: datang ke perusahaan, lihat hasil lab dulu 10 tahun lalu yg expose
(lab tinggi dan normal) jadi gaboleh tau outcome nya nanti bisa bias

4. Jelaskan mengenai penelitian Eksperimental:


a. Definisi.
Adalah studi yang melibatkan intervensi terhadap subjek penelitian untuk
menyelidiki hubungan sebab akibat.

b. Ruang lingkup (rasionalisasi, kelebihan dan kekurangan)


Studi eksperimental akan menghasilkan data penelitian berupa kelompok kontrol
(tidak diberi perlakuan) dan kelompok kasus (diberi perlakuan) yang selanjutnya
akan dibandingkan antara dua kelompok tersebut. Penelitian eksperimental
membutuhkan populasi yang relatif homogen. Hal yang harus diperhatikan
antara kelompok kasus dan kontrol adalah masing-masing harus setara dalam
perjalanan alamiah, perlakuan selama penelitian, dan setara dalam kriteria dan
hasil pengukuran intervensi. Kekurangan dari studi eksperimental antara lain
memerlukan biaya dan waktu penelitian yang tinggi, pertanyaan dalam
penelitian eksperimental tidak semuanya dapat dijawab karena terkait masalah
etika dan frekuensi outcome yang jarang, studi ini cenderung membatasi scope,
dan standar intervensi exposure dalam studi ini mungkin dapat berbeda dengan
keadaan sesungguhnya dalam populasi. Kelebihan studi eksperimental antara
lain dapat membuktikan hubungan sebab-akibat yang kuat, dapat digunakan
untuk pengujian obat-obat baru, dan jika dibandingkan dengan studi
observasional, studi ini dapat menghasilkan data yang lebih cepat dan murah.

c. Variabel yang akan diteliti.


Variabel bebas: merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab
perubahan atau timbulnya variabel dependen (variabel terikat).

Variabel terikat: variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena
adanya variabel bebas.

d. Teknik sampling.
Teknik sampling yang dapat digunakan pada studi eksperimental yaitu
randomisasi blok, di mana teknik ini digunakan untuk menghindari adanya
ketidakseimbangan subyek pada masing-masing kelompok. Adapun cara
pengambilan sampel dalam studi ini yaitu menggunakan rumus yang
menggunakan dua kelompok saat dua kelompok tersebut dipilih secara
randomisasi blok, yaitu:

5. Jelaskan mengenai penelitian Kualitatif:


a. Definisi.
Adalah penelitian yang dilakukan ketika subjek yang diteliti berorientasi pada
fenomena yang bersifat alami dan tidak dapat dilakukan di laboratorium.

b. Ruang lingkup (rasionalisasi, kelebihan dan kekurangan)


Rasionalisasi studi kualitatif antara lain dapat menjelaskan permasalahan di luar
studi kuantitatif dapat mengarahkan penelitian sesuai apa yang dibutuhkan, dan
jika diteliti dengan studi kuantitatif dapat membantu peneliti untuk lebih
memahami data penelitian kuantitatif berupa angka. Kelebihan studi kualitatif
yaitu dapat menghasilkan informasi yang lebih mendalam dan komprehensif,
bersifat lebih fleksibel, mendapatkan data penelitian dari sasaran yang subjektif
sehingga memungkinkan untuk munculnya jawaban tidak terduga, dan dengan
studi ini kegiatan penelitian dapat diarahkan sesuai kebutuhan penelitian.
Adapun kekurangan dari studi ini antara lain penilaian yang didapatkan biasanya
subjektif, berpotensi lebih tinggi untuk mengalami bias, sulit atau bahkan tidak
bisa menentukan standar penelitian, menghabiskan banyak waktu, memiliki
ruang lingkup yang lebih terbatas, penggunaan teori yang dihasilkan masih
rendah karena hasil dari studi ini belum tentu dapat dimanfaatkan, dan pada
umumnya hasil penelitian studi kualitiatif kurang dapat untuk diterima kalangan
akademisi.

c. Variabel yang akan diteliti.


Variabel bebas: merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab
perubahan atau timbulnya variabel dependen (variabel terikat).

Variabel terikat: variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena
adanya variabel bebas.

Variabel lain yang biasanya sulit untuk terukur seperti tingkat kesejahteraan,
tingkat kepuasan, dsb

d. Teknik sampling.
Teknik sampling dalam studi ini dapat dilakukan dengan metode random dan
cara snowball, yaitu memilih responden yang akan terkumpul sedikit demi
sedikit atas usul responden sebelumnya.
Referensi

1. Alexander, LK. dkk. (2015). Cross-sectional Studies. Chape Hill: The University of
North Carolina Department of Epidemiology [Available at:
https://sph.unc.edu/files/2015/07/nciph_ERIC8.pdf ]
2. Alexander, LK. dkk. (2015). Ecologic Studies. Chape Hill: The University of North
Carolina Department of Epidemiology [Available at:
https://sph.unc.edu/files/2015/07/nciph_ERIC9.pdf ]
3. Budijanto, Didik. (2015). Populasi, Sampling, dan Besar Sampel. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI Badan Penelitian dan Pengembangan.[Available at:
http://www.risbinkes.litbang.depkes.go.id/2015/wp-
content/uploads/2013/02/SAMPLING-DAN-BESAR-SAMPEL.pdf ]
4. Hancock, B. Ockleford, E. Winridge, K. (2009). An Introduction to Qualitative
Research. East Midlands: Yorkshire and the Humber [Available at: https://www.rds-
yh.nihr.ac.uk/wp-content/uploads/2013/05/5_Introduction-to-qualitative-research-
2009.pdf ]
5. International Agency for Research on Cancer. (2015). Cohort Studies. [Available at:
http://www.iarc.fr/en/publications/pdfs-online/epi/cancerepi/CancerEpi-8.pdf ]
6. International Agency for Research on Cancer. (2015). Case-control Studies.
[Available at: http://www.iarc.fr/en/publications/pdfs-
online/epi/cancerepi/CancerEpi-9.pdf ]
7. Jasaputra, DK. Santosa, S. 2008. Metodologi Penelitian Biomedis Edisi 2. Bandung:
Danamartha Sejahtera Utama. [Available at:
http://repository.maranatha.edu/1818/1/Bab%2013_Metode%20Penarikan
%20Sampel.pdf ]
8. Kusumah, YS. (2015). Pengertian Variabel Penelitian. Bandung: Universitas
Pendidikan Indonesia [Available at:
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND._MATEMATIKA/195909221983
031-YAYA_SUKJAYA_KUSUMAH/Pengertian_Variabel_Penelitian.pdf ]
9. Shrout, PE. Bolger, N. (2002). Mediation in Experimental and Nonexperimental
Studies: New Procedures and Recommendations. New York: American
Psychological Association, Inc. [Available at:
http://www.nyu.edu/classes/shrout/G89-2247/ShroutBolger2002.pdf ]