Anda di halaman 1dari 7

PENGENALAN LABORATORIUM DAN ALAT-ALAT KULTUR

JARINGAN TUMBUHAN
(Makalah Praktikum Bioteknologi Pertanian)

Oleh :

Umi Mahmudah
1314121183
Kelompok 3

JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015
A. Pengenalan Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan

Laboratorium yang baik untuk pekerjaan teknik kultur jaringan harus


memenuhi kriteria aman, bersih, memiliki organisasi, dan penataan ruang yang
sesuai. Kondisi bagian dalam laboratorium mutlak harus bersih, mulai dari lantai,
dinding, meja, alat-alat yang digunakan, maupun udara diruangan laboratorium
tersebut. Harus diusahakan semaksimal mungkin bebas dari debu, karena debu
adalah sumber kontaminan yang paling potensial. Kebersihan laboratorium secara
umum sangat menentukan keberhasilan kerja kultur jaringan. Laboratorium
Kultur Jaringan Tumbuhan terdiri dari beberapa ruangan yang dipisahkan
berdasarkan fungsinya. Beberapa ruangan tersebut yaitu ruang persiapan
(preparation area), ruang penanaman (transfer area), serta ruang pertumbuhan
atau inkubasi (growing area). Ketiga ruangan tersebut harus ada di dalam setiap
Laboratorium Kultur Jaringan. Namun, ketiga ruangan tersebut juga harus
terpisah dari kebun bibit dan green house untuk menghindari masuknya
kontaminasi ke dalam ruang kultur (Hartman dkk, 1997 dalam Sugiyarto, 2011).
Berikut ini adalah uraian mengenai ketiga ruangan tersebut :

1. Ruang Persiapan (preparation area)

Ruang persiapan mempunyai tiga fungsi dasar yaitu untuk membersihkan alat-alat
(alat-alat gelas seperti petri, botol, dll), persiapan dan sterilisasi media, serta
penyimpanan alat-alat gelas. Ruang persiapan biasanya dibagi menjadi berberapa
ruangan kecil yang dipergunakan untuk menyimpan medium dan alat- alat yang
sudah steril, untuk menyimpan alat-alat gelas, bahan-bahan kimia dan pembuatan
medium (ruang timbang), dan ruangan untuk mencuci. Persiapan eksplan yang
dilakukan meliputi pencucian, pemotongan/pembuangan bagian-bagian tanaman
yang tidak dipergunakan serta perlakuan awal untuk mengurangi kontaminan yang
ada dipermukaan tanaman. Persiapan medium meliputi penimbangan bahan
kimia medium, pengenceran medium, penuangan kedalam wadah kultur dan
sterilisasi. Sesuai dengan fungsinya, fasilitas yang dibutuhkan didalam ruangan
ini adalah meja tempat meletakkan alat-alat pemanas, meja untuk alat-alat
timbang, meja untuk bekerja dan tempat mencuci, semua meja adalah kongkrit
(statis dari beton) dan beralas porselin. Peralatan selanjutnya yang digunakan
dalam ruang preparasi adalah lemari es untuk menyimpan larutan stok dan
beberapa media, serta timbangan analitik, autoclave, pH meter, magnetic stirrer,
dan destilator. Sebuah bak untuk mencuci yang dilengkapi dengan kran untuk
aliran air mengalir juga diperlukan untuk membersihkan alat-alat berbahan gelas.
Selain alat-alat tersebut, ruangan ini juga dilengkapi dengan alat-alat seperti Hot
plate dengan magnetic stirer, oven, pH meter, kompor gas, labu takar, gelas piala,
erlenmeyer, pengaduk gelas, spatula, petridish, pipet, botol kultur, serta pisau
scalpel.

2. Ruang Penanaman (Transfer area)

Ruang penanaman merupakan ruang yang digunakan untuk isolasi, inokulasi dan
subkultur (penjarangan) pada kondisi steril yang di dalamnya terdapat lemari kaca
atau kabinet yang disebut Laminar Airflow (LAF). LAF ini digunakan untuk
pemotongan eksplan, melakukan penanaman, dan subkultur. Sangat dianjurkan
untuk menggunakan jas laboratorium yang bersih selama tahap persiapan dan
mensterilkan tangan dengan alkohol 96% (Pierik, 1987 dalam Sugiyarto, 2011).
Alat-alat seperti scalpel, gunting dan alat-alat inokulasi lainnya harus disterilkan
dengan alkohol 96% dan dilanjutkan dengan pemanasan di atas api bunsen.
Lampu ultraviolet (UV) juga digunakan untuk mensterilkan ruang, sebelum LAF
digunakan.

Pemotongan eksplan juga dilakukan di dalam LAF yang kemudian dilanjutkan


dengan beberapa tahapan sterilisasi sebelum ditanam pada media kultur. Selama
inokulasi atau penanaman, botol yang berisi media padat pada prinsipnya pada
kondisi horisontal, hal ini dilakukan untuk mengurangi kontaminasi, terutama
ketika tidak bekerja dalam LAF.

Subkultur atau tahap penjarangan juga dilakukan dalam LAF, dan merupakan
tahapan yang perlu dilakukan pada metode kultur jaringan. Ada beberapa alasan
perlu dilakukannya subkultur, diantaranya yaitu nutrisi media yang semakin lama
semakin berkurang, munculnya browning atau media agar menjadi kecoklatan
karena jaringan tanaman kadang mengeluarkan senyawa toksik, atau eksplan
membutuhkan tahap perkembangan lebih lanjut.

3. Ruang pertumbuhan atau Inkubasi (Growing area)

Growing area merupakan ruang pertumbuhan atau ruang penyimpanan hasil


kultur pada kondisi cahaya dan temperatur yang terkontrol. Ruang pertumbuhan
ini terdiri dari rak-rak yang biasanya terbuat dari kaca dan digunakan untuk
meletakkan botol-botol kultur setelah proses penanamanan pada ruang isolasi di
dalam LAF. Rak-rak yang digunakan untuk inkubasi dilengkapi dengan lampu
neon di atasnya sebagai sumber cahaya. Cahaya putih merupakan cahaya yang
baik untuk pertumbuhan kultur. Lampu fluorescent (neon/TL) biasa digunakan
sebagai sumber cahaya dalam ruang kultur. Keseimbangan spektrum lampu
fluorescent sangat baik dan efisien dalam penggunaan energi bila dibandingkan
dengan lampu pijar. Bentuk lampu memungkinkan penyebaran cahaya yang baik,
dengan panas yang dikeluarkan relatif rendah, bila transformer dapat diletakkan
diluar ruang kultur. Pada lampu pijar hampir 90% merupakan energi panas
sehingga mempengaruhi temperatur-temperatur ruangan. Pada ruang kultur juga
dapat diberikan campuran lampu pijar dan fluorescent secara bersamaan.

Sedangkan ruang pertumbuhan dalam kultur jaringan dilengkapi dengan Air


conditioner (AC) untuk mengontrol suhu ruangan tersebut. Temperatur didalam
ruang kultur yang baik adalah pada suhu normal yaitu antara 25-28C. Beberapa
perlakuan khusus kadang-kadang memerlukan suhu rendah (18-20C), sehingga
diperlukan adanya growth chamber yang dapat diatur suhu dan pencahayaannya
Sugiyarto, 2011).

B. Alat-alat dalam Metode Kultur Jaringan Tumbuhan

Gelas ukur, erlenmeyer, petridish, hotplate, timbangan analitik, botol-botol gelas,


oven, magnetic stirrer, destilator, autoclave, lemari es, laminar airflow, pinset,
scalpel, spatula, rak inkubasi, bunsen, aluminium foil, karet, plastik gulung,
batang pengaduk kaca.
Tabel pengenalan alat-alat kultur jaringan
No Nama Alat Gambar Fungsi
1. LAF
Kabinet yang digunakan
untuk isolasi, inokulasi dan
subkultur.

2. Oven Untuk mengeringkan alat-


alat setelah disterilkan.

3. Autoclave Untuk mensterilkan alat-


alat seperti botol kultur,
pinset, scalpel, dan media
kultur.

4. Destilator Untuk destilasi air


sehingga diperoleh
aquadest.

5. Hot plate Bersama dengan stirrer


berperan untuk
menghomogenkan
senyawa-senyawa dalam
media kultur dan untuk
memanaskan media padat
(agar).
6. Kulkas Untuk menyimpan stok-
stok media kultur agar
tidak cepat rusak.

7. Rak inkubasi Untuk meletakkan botol-


botol kultur setelah proses
penanaman (dilengkapi
dengan lampu neon sebagai
sumber cahaya, diletakkan
pada ruang berAC
sehingga suhu terkontrol).

8. Shaker Alat penggojog botol


kultur dan digunakan untuk
mengocok eksplan yang
ditanam pada media kultur
cair.

9. Botol-botol Botol-botol tempat media


media dan untuk menanam
eksplan kultur jaringan.
Ukuran botol bervariasi
dan disesuaikan dengan
kebutuhan kultur jaringan.
DAFTAR PUSTAKA

Sugiyarto, Lili. 2011. Pengenalan Laboratorium Kultur Jaringan Tumbuhan,


Pembuatan Media dan Metode Sterilisasi. Jurdik Biologi FMIPA UNY.
Yogyakarta.