Anda di halaman 1dari 43

Best practice

MANAJEMEN PERUBAHAN IHT


UNTUK MEWUJUDKAN SEKOLAH
MENYENANGKAN
DI SMPN 5 BLAMBANGAN UMPU TAHUN 2015

Abstrak: Masalah utama dalam best practice ini adalah sekolah dilihat sebagai

tahanan bukan sebagai taman, suasana sekolah yang menakutkan bukan

menyenangkan. Tujuan best practice ini adalah untuk mewujudkan sekolah yang

menyenangkan agar siswa dapat nyaman belajar dan meningkat prestasinya.

Upaya yang dilakukan adalah dengan menerapkan manejemen perubahan dengan

pendekatan IHT (Intervensi, Habituasi dan Teladan). Perubahan yang dihasilkan

adalah terwujudnya lingkungan fisik dan psikis sekolah yang menyenangkan,

proses pembelajaran yang menyenangkan dan kegiatan sekolah yang

menyenangkan, Hasil dari manajemen perubahan tersebut adalah prestasi sekolah

meningkat.

Kata Kunci : Manajemen perubahan, Intervensi, habituasi, teladan, sekolah

menyenangkan

1
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bulan mei 2016, tepat 3 bulan yang lalu, Surat tugas Dinas Pendidikan dan
Kebudayaan Way Kanan perihal pelatihan peningkatan kompetensi Manajerial
kepala sekolah penulis terima bersamaan dengan 49 orang kepala
sekolah lainnya. Rasa senang dan galau bercampur jadi satu. Senang karena
penulis masih dipercaya untuk mengikuti dan mewakili sekolah. Galau karena
penulis masih Gaptek, sedangkan dalam pelatihan ini pasti sedikit banyak
berhubungan dengan produk teknologi informasi dan komunikasi alias komputer.
Tetapi penulis kesampingkan hal itu demi mewujudkan sekolah yang lebih baik,
dan menyenangkan.

Sekolah sebagai wahana yang aman, nyaman dan menyenangkan merupakan

dambaan masyarakat pembelajar. Kenyataan menunjukkan bahwa selama ini

sekolah dipandang sebagai sebuah ruang yang menakutkan,menegangkan dan

membosankan. Siswa hanya datang, duduk manis mendengarkan, bel pulang

terdengar langsung teriak senang. Agar siswa dapat tumbuh dan berkembang

potensinya perlu adanya Sekolah Menyenangkan. Untuk mewujudkan sekolah

menyenangkan maka harus dapat menciptakan sekolah sebagai taman bukan

sebagai tahanan. Oleh karena itu, semua warga sekolah harus terlibat dan kepala

sekolah harus bertindak sebagai komandannya. Untuk itulah diperlukan adanya

manajemen perubahan demi mewujudkan Sekolah Menyenangkan .

Manajemen perubahan adalah suatu proses, alat dan teknik untuk mengelola

orang-orang untuk berubah dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Tujuan utama dari perubahan itu adalah untuk meningkatkan kinerja organisai

2
atau sekolah dengan cara mengubah bagaimana cara mengerjakan pekerjaan yang

lebih baik.

Hal ini sejalan dengan yang didapat dalam pelatihan kompetensi managerial

kepala sekolah. Dalam mewujudkan suatu perubahan, ada hal-hal yang mesti

diperhatikan meliputi monitoring dan evaluasi sekolah yang diwujudkan mulai

dari evaluasi diri sekolah, manajemen sumber daya meliputi hal apa saja yang bias

mendukung dan menghambat perubahan, pengelolaan pendidik dan tenaga

kependidikan, pengelolaan peserta didik, manajemen informasi, perkembangan

dan pengefektifan organisasi sekolah, dan bagaimana mengajak peran serta

masyarakat dalam pengembangan pendidikan di sekolah.

Hal yang perlu dicermati dalam menghadapi adanya perubahan adalah mengenali

elemen perubahan dengan sikap terbuka, meningkatkan pengetahuan dan

keterampilan agar dapat mengelola perubahan sehingga menjadi sekolah yang

adaptif terhadap perubahan. Menjadi kepala sekolah profesional memerlukan

kompetensi manajerial yang baik, mampu mengelola dan mengefektifkan

komponen-komponen sekolah.

Dalam menyikapi perubahan diperlukan adanya agen perubahan (agent of

change), yaitu individu atau kelompok yang terlibat dalam merencanakan

perubahan dan mengimplementasikannya. Kepala sekolah adalah orang pertama

yang harus menjadi agen perubahan. Adapun peran agen perubahan adalah

sebagai berikut :

3
a. Katalis adalah peran kepala sekolah sebagai pemimpin untuk meyakinkan

pendidik dan tenaga kependidikan di masing-masing sekolah yang dipimpinnya

bahwa perubahan yang dilakukan akan membuat sekolah menjadi lebih baik.

b. Pemberi solusi adalah peran kepala sekolah sebagai pemimpin dapat memberi

jalan keluar untuk pemecahan masalah yang dialami warga sekolah dalam

melakukan perubahan.

c. Mediator adalah peran kepala sekolah sebagai pemimpin untuk menjadi

perantara membantu melancarkan proses perubahan.

d. Penghubung sumber daya adalah peran kepala sekolah sebagai pemimpin untuk

menghubungkan antar warga sekolah untuk berpartisipasi dalam proses perubahan

dengan memanfaatkan potensi yang dimilikinya.

Untuk mempersiapkan adanya tindakan perubahan itu, saya segera melakukan

pendekatan pada warga sekolah untuk mendapatkan masukan-masukan yang

bermanfaat, dan saya sering keliling sekolah untuk melihat kekurangan-

kekurangan sekolah yang akan saya perbaiki. Walaupun saya tidak dapat

menyelesaikan semua masalah yang ada, tapi saya optimis dapat melakukan

perubahan yang lebih baik. Saya berkomitmen akan mulai melakukan perubahan

secepatnya, dari yang paling kecil dan yang paling mendasar. Saya yakin sekecil

apapun tindakan perubahan yang saya lakukan akan lebih penting dari pada saya

hanya melakukan rutinitas atau kebiasaan yang sudah ada walaupun terasa lebih

nyaman. Saya yakin untuk menyongsong kemajuan sekolah sesuai dengan mimpi

4
bersama warga sekolah, lewat visi sekolah membutuhkan masa transisi dan

inovasi. Itulah saatnya saya harus menerapkan manajemen perubahan.

Dari hasil analisis lingkungan yang saya temukan , maka dapat diketemukan

beberapa kekurangan di SMPN 5 Blambangan umpu

1. Belum terwujudnya Sekolah menyenangkan.

2. Belum terlibatnya semua warga sekolah dalam membangun keunggulan

sekolah.

3. Belum tercapainya prestasi-prestasi sekolah.

B. Rumusan Masalah

Dari kekurangan tersebut maka dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut:

1. Bagaimana mewujudkan Sekolah Menyenangkan?

2. Bagaimana memberdayakan warga sekolah?

3. Bagaimana sekolah menyenangkan dapat mewujudkan prestasi sekolah?

5
II. KAJIAN TEORI

A. Intervensi

Pemberian masukan atau perlakuan kepada seluruh warga sekolah. Perlakuan

yang saya bangun adalah dengan memberikan mimpi kepada warga sekolah

tentang kemana sekolah ini mau kita bawa?. Lumpkin (2006:5) mengatakan

bahwa kita harus bergerak maju dan mencapai sesuatu menuju tujuan kita setiap

hari. Hidup kita menjadi lebih bermakna, menyenangkan , dan memuaskan ketika

bertindak untuk mewujudkan mimpi kita. bagaimana mewujudkanSekolah

Menyenangkan? Sekolah impian ini akhirnya berlabuh dengan terbentuknya visi

sekolah yang baru hasil refleksi dan evaluasi visi sekolah yang lama. Kemudian

menanamkan persamaan mindset pada seluruh warga sekolah tentang visi

sekolah melalui rapat/ kegiatan diskusi pada guru dan karyawan, serta siswa

melalui OSIS, PIK dan Pramuka. Pendekatan atau strategi dalam menanamkan

mindset dan sekaligus pemberdayaan (Empowering) warga sekolah, saya

menggunakan pendekatan HADIR (Hati- Dekat-Inovasi-Refleksi).

Dalam rangka pemberdayaan warga sekolah saya lebih mengedepankan humanis

dengan menggunakan Hati nurani. Dengan hati nurani ini saya dapat Dekat secara

emosional sehingga saya lebih mudah menjalin komunikasi. Dalam rangka untuk

mengubah arah dan perjalanan visi sekolah maka perlu adanya Inovasi. Karena

manajemen perubahan akan selalu melewati masa transisi dan inovasi, sehingga

dapat beradaptasi dengan perubahan itu.

B. Habituasi

6
Merupakan tahap pembiasaan untuk melakukan aksi-aksi yang telah dilakukan

melalui komunitas masing-masing. Semua program aksi yang dilakukan adalah

untuk memberikan suasana sekolah sebagai taman yang menyenangkan.

Pembiasaan ini akan menjadi lebih efektif untuk mempertahankan dan memiliki

efek keberlanjutan terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam setiap aksi yang

dilakukan. Internalisasi nilai merupakan rekayasa mental (mental engineering)

agar peserta didik memiliki kecenderungan positif melalui persepsi, sikap dan

perilaku positif. Nilai-nilai ini menjadi kebiasaan dan kebiasaan menjadi karakter

dan selanjutnya akan menjadi budaya dan kultur sekolah yang menyenangkan.

Aktualisasi nilai merupakan rekayasa sosial (social engenering) dalam interaksi

sosial antar warga sosial yang akan menumbuhkan kultur atau budaya sekolah.

Ada ungkapan yang terkait dengan kebiasaan yaitu: Biasakanlah yang benar, dan

jangan membenarkan kebiasaan, Mendikbud (2014:24).

C. Teladan

Memberi contoh dan menjadi contoh adalah merupakan unsur penting dalam

memberikan keteladanan. Keteladanan ini harus dimiiki oleh komunitas sekolah

untuk mewujudkan sekolah menyenangkan. Mendikbud (2014:24) menyatakan

bahwa kepala sekolah dan guru adalah sebagai model. Itulah sebabnya hal penting

yang harus menjadi penguat dalam membentuk kultur sekolah yang

menyenangkan adalah adanya keteladanan dari warga sekolah. Guru sebagai

model peran (role model) yang paling efektif untuk membentuk karakter siswa,

karena sebenarnya dalam diri guru merupakan kurikulum tersembunyi (hidden

curriculum) yang dapat menjadi sumber inspirasi bagi siswa. Itulah sebabnya

7
Rasulullah Muhammad SAW berhasil memdidik ummatnya dengan suri

tauladannya.

D. Kerangka Pikir

Untuk pemecahan masalah tersebut saya menggunakan strategi manajemen

perubahan IHT (Intervensi-Habituasi-Teladan) untuk mewujudkan sekolah

menyenangkan dan berprestasi. Kerangka pikir yang saya ajukan adalah :

kenyataan selama ini telah terjadi disorientasi sekolah yang menjelma sebagai

lingkungan yang menakutkan, menegangkan dan membosankan bahkan sekolah

dianggap sebagai tahanan sehingga sekolah tidak dapat mengembangkan potensi

siswa. melalui manajemen perubahan dengan pendekatan Intervensi, habituasi dan

keteladanan akan dapat mengubah sekolah menjadi taman bagi peseta didik

sehingga dapat menjadi lingkungan menyenangkan yang dapat mengembangkan

potensi siswa dan warga sekolah . Sekolah yang menyenangkan akan meraih

prestasi yang lebih baik.

8
III. PEMBAHASAN

Menurut Tim Creacev, Direktor of Research and Development Prosci Research

dalam Anderson (2011:7) manajemen perubahan diartikan sebagai berikut,

"Change management: the process, tools and techniques to manage the people-

side of change to achieve a required business outcome. Ultimately, the goal of

change is to improve the organization by altering how work is done".

Manajemen perubahan adalah suatu proses, alat dan teknik untuk mengelola

orang-orang untuk berubah dalam rangka mencapai tujuan bisnis (sekolah) yang

telah ditentukan. Tujuan utama dari perubahan itu adalah untuk meningkatkan

kinerja organisasi dengan cara mengubah bagaimana cara mengerjakan pekerjaan

yang lebih baik.

Untuk mengubah bagaimana orang mau mengubah kebiasaan atau perilaku yang

selama ini mereka anggap tidak ada masalah bahkan mereka beranggapan tidak

perlu berubah itu sulit. Oleh sebab itu dibutuhkan teknik atau strategi tertentu,

agar mereka merasa bahwa perubahan itu merupakan suatu kebutuhan untuk

mencapai suatu kenyamanan di masa yang akan datang. Lingkungan dapat

membentuk karakter manusia untuk berubah, dan manusiapun dapat

mempengaruhi perubahan lingkungan. Otto Soemarwoto mengatakan

bahwa :Hanya dengan lingkungan yang baik manusia akan berkembang secara

optimal, dan hanya dengan manusia yang baik lingkungan akan berkembang kea

rah yang optimal.

9
Dari alasan tersebut, maka saya menggunakan strategi IHT (Intervensi-Habituasi-

Teladan), artinya untuk mengubah manusia untuk mewujudkan sekolah

menyenangkan adalah dengan Intervensi artinya kita harus memberikan perlakuan

atau memanipulasi kondisi untuk mempercepat perubahan. Habituasi adalah

proses pembiasaan terhadap prilaku-prilaku yang menyenangkan sehingga

menjadi sebuah kultur sekolah, sedangkan teladan ditujukan untuk

mempertahanankan nilai-nilai yang ada dalam kultur sekolah menyenangkan.

Hasil yang dicapai dalam melaksanakan manajemen perubahan IHT untuk

menumbuhkan Sekolah Menyenangkan:

1. Intervensi :

a. sosialisasi, pengisian EDS dan angket. Untuk melihat sejauh mana

perubahan yang harus di lakukan.

b. Tesusunnya RKJM, RKTS dan RKAS untuk pengembangan sekolah ke

depannya. Agar program kegiatan yang direncanakan dapat terlaksana dengan

baik.

c. Tersosialisasikannya model pembelajaran yang menyenangkan dan

mencerdaskan berbasis IT melalui manajemen informasi menjadi pembelajaran

yang menyenangkan dan bermakna

d. Ruang guru sebagai Ruang Tainning Center Teknologi Informsi dan

Komunikasi

e. Ruang multimedia, untuk pembelajararn berbasis IT

f. Taman sekolah dengan Gazebo dan free wifi

10
g Ruang kegiatan siswa, yaitu ruang sekretariatan masing-masing kegiatan

kesiswaan / ekstrakurikuler.

f. Kebun sekolah untuk media tanam berbagai jenis tanaman sayur dan buah-

buahan

2. Habituasi

Ala bisa karena biasa. Itulah ungkapan yang tepat untuk membuat kita dapat

melakukan sesuatu yang dianggap sulit sehingga menjadi mudah. Pembiasaan

merupakan rekapitulasi aksi yang dapat menjadikan aksi itu lebih efektif.

Pembiasaan juga dapat menjamin sebuah tindakan itu dapat berkelanjutan atau

Istiqomah. Kebiasaan itu akan dapat menjadi watak, dan watak itu akan menjadi

budaya. Jadi kalau kita biasakan yang baik, maka kita akan berwatak baik, dan

jika kita berwatak baik maka kita akan memiliki budaya yang baik.

Pembiasaan nilai-nilai yang baik, misalnya kedisiplinan, kebersihan, Kerapihan,

keindahan, kesehatan, keramahan, kekeluargaan akan membangun Sekolah

Menyenangkan. Pola pembiasaan ini dapat membuat warga sekolah memiliki

kultur sekolah disiplin, bersih, rapi,indah, sehat dan ramah. Seperti misalnya

budaya salaman sebelum masuk dan sepulang sekolah (budaya 5S), pembacaan

doa dan surat pendek sebelum dan selesai pembelajaran, Sampahmu adalah

sampahku, lingkungan sekolah tertata bersih, rapi, indah , sehat dan warga

sekolah yang ramah.

3. Keteladanan

11
Tidak ada pendekatan yang paling tepat dalam membangun sebuah peradaban

melainkan keteladaanan. Rasulullah berhasil mendidik ummatnya dengan

keteladanan. Kepala sekolah mempunyai sejumlah peran yang harus dimainkan

secara bersama, yaitu sebagai educator, manager, administrator, supervisor,

motivator, enterpreuner, dan leader . Dalam memainkan peran tersebut kepala

sekolah harus menjadi contoh yang baik bagi warga sekolah, guru juga harus

menjadi contoh yang baik, bukan sekedar memberi contoh kepada siswanya.

Keteladanan yang saya rintis dan laksanakan untuk membangun karakter melalui

program-program aksi dintaranya :

a. Pada pukul 07.10 yaitu kegiatan guru dan karyawan bersalaman di

halaman sekolah dilanjutkan dengan siraman pagi yang berisi ucapan terima kasih

dari kepala sekolah atas kerja samanya sehingga hari kemarin dapat kita lalui

dengan sukses dan hari ini kita bertekat untuk mensukseskan lebih baik lagi,

kemudian disampaikan prestasi-prestasi dan informasi penting, dilanjutkan berdoa

dan di akhiri dengan yel-yel sekolah yaitu : SMPN 5..Komunitas TANGGUH.

Kemudian Bapak ibu guru dan karyawan masuk kantor dengan berjabatan tangan

dengan kepala sekolah sebagai absen humanis dan disampaikan ucapan terima

kasih atas kehadirannya. Kegiatan ini untuk menumbuhkan karakter sosial, kerja

sama, saling menghargai,menumbuhkan motivasi kerja, dan karakter relegius.

b. Sampahmu adalah sampahku, pemungutan sampah di lingkungan sekolah

oleh warga sekitar lingkungan kelas. Kegiatan ini untuk menumbuhkan karakter

cinta lingkungan dan budaya sehat.

12
c. Lomba kelas berkarakter, lomba ini selain mendesain kelas menjadi kelas

ramah lingkungan sekaligus menjadi kelas berkarakter cinta tanah air. Kegiatan ini

untuk menumbuhkan karakter nasionalisme dan budaya sehat.

d. Sholat Dzuhur berjamaah, kegiatan untuk siswa dan guru muslim sesuai

pembagian kelasnya untuk memperdalam keimanan dan silaturahmi.

Kendala-kendala

Kendala yang banyak saya hadapi dalam mengimplementasikan manajemen


perubahan IHT adalah :
1. Komitmen warga sekolah untuk berubah masih tidak stabil.
2. Masih kurangnya inovator di sekolah.
3. Masih kurangnya warga sekolah yang menjadi agen perubahan.
4. Perbedaan karakter masing -masing warga sekolah.
5. Kerja sama dengan pihak-pihak terkait.

Faktor-faktor Pendukung
Keberhasilan pelaksanaan manajemen perubahan IHT untuk menumbuhkan
Sekolah Menyenangkan adalah :
1. Potensi lingkungan fisik yang cukup besar, yaitu memiliki luas lahan
sekitar 3,8 ha dan fasilitas yang memadai.
2. Budaya sekolah yang cukup kondusif.
3. Integritas warga sekolah yang cukup baik.
4. Kerja sama antar warga sekolah cukup baik.
5. Kemampuan warga sekolah untuk berubah cukup baik.
6. Dukungan dari orang tua dan masyarakat cukup baik.

13
IV. PENUTUP

A. Simpulan

Dari pembahasan tersebut, maka dapat disampaikan kesimpulan, bahwa melalui


manajemen perubahan IHT :
1. Dapat terwujud Sekolah Menyenangkan.
2. Dapat terwujud pemberdayaan komunitas sekolah untuk mewujudkan
Sekolah Menyenangkan
3. Dapat tercapai berbagai prestasi sekolah yang membanggakan.

B. Saran

Sekolah Menyenangkanakan menjamin siswa dapat tumbuh dan berkembang


secara maksimal sehingga dapat menjadi generasi yang berkualitas dan kompetitif
di masa datang. Sekolah Menyenangkan akan bertaburan bintang prestasi.Perlu
adanya revolusi mental melalui revitalisasi Sekolah Menyenangkan dengan :
1. Mendesain tata lingkungan sekolah sebagai taman belajar.
2. Mendesain iklim pembelajaran yang menyenangkan.
3. Mendesain kegiatan-kegiatan sekolah yang menyenangnkan.
4. Mendesain kultur sekolah yang menyenangkan.
5. Menjalin kemitraan dan kerjasama yang saling menguntungkan.

DAFTAR PUSTAKA

Anderson,D.&Anderson,LA. 2011.

Beyon Change Management Advenced Strategies for Todays Transformational


Leader. San Fransisco:Jossey-Bass.

Bawesdan. Anis. 2015. Sekolah Menyenangkan. Jakarta: Kementrian pendidikan


dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Lumpkin, Aaron. 2006. You Can

Change Your Life Aim for Succes. Jakarta: Esensi

Mendikbud. 2016. Pelatihan peningkatan kompetensi manajerial kepala sekolah.

Jakarta: LP2KS

14
BEST PRACTICE

MANAJEMEN PERUBAHAN IHT


UNTUK MEWUJUDKAN SEKOLAH
MENYENANGKAN
DI SMPN 5 BLAMBANGAN UMPU TAHUN 2015

Oleh : BAINA SUPRI, S.Pd

PROGRAM PENINGKATAN KOMPETENSI MANAJERIAL


KEPALA SEKOLAH
LEMBAGA PENGEMBANGAN DAN
PEMBERDAYAAN KEPALA SEKOLAH (LPPKS)
INDONESIA
2016
15
BEST PRACTICE SUDRAJAT

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Bulan Juli 2010, tepat 2 tahun 3 bulan yang lalu, Surat Keputusan Bupati
Kabupaten Merauke perihal pengangkatan sebagai pengawas SMP penulis
terima bersamaan dengan 4 orang Pengawas lainnya. Ditindaklanjuti oleh
Kepala Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Merauke dengan
diterbitkannya SK Pembagian tugas kepengawasan tanggal 11 Agustus 2010,
penulis diberi tugas membina 5 sekolah binaan yaitu; SMP 13, SMP N 10,
SMP N Tamboji, SMP N Kimam dan SMP YAPIS Merauke di tambah dengan
membina 40 orang guru Bahasa Indonesia.
Setelah dua tahun masa kerja penulis sebagai pengawas hingga bulan Juli
2012 ini, penulis baru mendapatkan pelatihan penguatan pengawas yang
dilaksanakan oleh P4TK Matematika Jogja, hasil dari kegiatan di IN Service-1
penulis terapkan di sekolah binaan penulis yaitu di SMP N13, SMP N Urumb
dan SMP Yapis Merauke.
Penyusunan best practice ini penulis berfokus pada satu sekolah binaan,
yaitu SMP N 13 Merauke. Alasan penulis memilih SMP N 13 Merauke karena
sekolah tersebut berdasarkan hasil supervisi manajerial dan supervisi
akademik ditemukan berbagai macam masalah diantaranya; 1)
melaksanakan proses pendidikan tanpa mengacu pada rencana kerja
sekolah, 2) proses pembelajaran berlangsung secara konvensional belum
mengunakan pendekatan PAIKEM dan CTL, 3) administrasi guru belum
lengkap hanya terpenuhi 60%, 4) belum memiliki rencana kerja sekolah baik
rencana kerja jangka panjang ataupun rencana kerja tahunan, 5) Kepala
Sekolah masih beranggapan rencana kerja sekolah cukup dengan RAPBS
saja. Untuk mengatasi berbagai macam permasalahan tersebut penulis
mempelajari berbagai macam metode pembimbingan. Dari berbagai macam
metode pembimbingan yang penulis pelajari, metode pembimbingan diskusi

16
kelompok terfokus (Fokus Group Discussion/FGD) yang paling tepat penulis
gunakan, karena metode FGD dapat dilakukan beberapa putaran sesuai
dengan kebutuhan. Tujuan FGD adalah untuk menyatukan sudut
pandang stakeholder mengenai realitas kondisi (kekuatan dan kelemahan)
sekolah, serta menentukan langkah-langkah strategis maupun oprasional
untuk memajukan sekolah. Peran pengawas dalam hal ini adalah sebagai
fasilitator sekaligus menjadi narasumber apabila diperlukan, untuk
memberikan masukan berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya.
(Supervisi Manajertial. Bahan Ajar Diklat Supervisi Pengawas Sekolah .
2012:8).
Sesuai dengan latar belakang tersebut, maka judul best practice ini adalah
Mensuport kepala sekolah dan guru-guru di SMP N 13 Merauke agar
melaksanakan pendidikan dengan menajemen yang efektif melalui
pembimbingan Diskusi Kelompok Terfokus.

2. Rumusan Masalah Penulisan Best Practice


Agar penulisan best practice ini lebih mudah dibahas, maka masalah yang
akan dipaparkan dalam artikel ini adalah sebagai berikut.
a. Bagaimana gambaran kondisi awal sekolah pada saat penulis membina di
SMP N 13 Merauke?

b. Bagaimana gambaran hasil analisis dan identifikasi kekuatan, kelemahan,


peluang dan hambatan sekolah pada saat penulis membina di SMP N 13
Merauke?

c. Bagaimana bentuk Rencana Kerja Sekolah di SMP N 13 Merauke?

d.Bagaimana hasil identifikasi dan bentuk perencanaan skala prioritas bidang


pengembangan sekolah di SMP N 13 Merauke?

e. Bagaimana capaian yang dihasilkan melalui implementasi strategi


pembimbingan kelompok di SMP N 13 Merauke?

3. Tujuan Penulisan Best Practice


Adapun tujuan penulisan hasil best practice ini adalah untuk :

17
a. Memberikan gambaran kondisi awal sekolah pada saat penulis membina di
SMP N 13 Merauke.

b. Memberikan gambaran hasil analisis dan identifikasi kekuatan, kelemahan,


peluang dan hambatan sekolah di SMP N 13 Merauke.

c. Memberikan gambaran bentuk Rencana Kerja Sekolah di SMP N 13


Merauke.

d. Memberikan gambaran hasil identifikasi dan bentuk perencanaan skala


prioritas bidang pengembangan sekolah di SMP N 13 Merauke. .

e. Memberikan gambaran capaian program yang dihasilkan melalui


implementasi strategi pembimbingan kelompok.

4. Manfaat Penulisan
Best practice ini disusun sebagai bentuk laporan pengalaman penulis dalam
merealisasikan hasil pelatihan penguatan pengawas, dengan demikian
manfaat yang diperoleh dalam penulisan ini adalah:
a. Sebagai bahan desiminasi bagi pengawas di Merauke tentang arti
penting kegiatan pembinaan di sekolah binaan.

b. Sebagai bahan acuan untuk SMP yang ada di Merauke dalam


mengembangkan manajemen sekolah.

B. LANDASAN TEORI
Beberapa pengertian dari konsep yang dipaparkan dalam artikel ini berkaitan
dengan topik penulisan best practisediantaranya adalah sebagai berikut.
a. Hakekat Pengawas
Pengawas sekolah merupakan salah satu tenaga kependidikan yang
memegang peran strategis dalam meningkatkan profesionalisme guru, kepala
sekolah dan mutu pendidikan di sekolah. Tugas pokok pengawas sekolah
adalah melaksanakan tugas pengawasan akademik dan manajerial pada
satuan pendidikan yang meliputi penyusunan program pengawasan,
pelaksanaan pembinaan terhadap guru dan kepala sekolah, pemantauan
pelaksanaan 8 (delapan) standar nasional pendidikan, penilaian kinerja guru
dan kepala sekolah, pembimbingan dan pelatihan profesional guru, evaluasi

18
hasil pelaksanaan program pengawasan, dan pelaksanaan tugas
kepengawasan di daerah khusus.( Permenpan dan RB No 21 Tahun 2010)
b. Manajemen Sekolah yang Efektif
Manajemen sekolah adalah pengelolaan sekolah yang terkait langsung
dengan peningkatan efisiensi dan efektivitas sekolah yang mencakup
perencanaan, koordinasi, pelaksanaan, penilaian, pengembangan
kompetensi sumber daya manusia (SDM) pendidikan dan sumber
lainnya. (Supervisi Manajertial. Bahan Ajar Diklat Supervisi Pengawas
Sekolah .2012:5).
c. Diskusi Kelompok Terfokus (Focused Group Discussion)
Diskusi kelompok terfokus adalah diskusi kelompok yang melibatkan unsur-
unsur stakeholder sekolah. Diskusi kelompok terfokus ini dapat dilakukan
dalam beberapa putaran sesuai dengan kebutuhan. Tujuan FGD adalah untuk
menyatukan sudut pandang stakeholder mengenai realitas kondisi (kekuatan
dan kelemahan) sekolah, serta menentukan langkah-langkah strategis
maupun oprtasional untuk memajukan sekolah. Peran pengawas dalam hal
ini adalah sebagai fasilitator sekaligus menjadi narasumber apabila
diperlukan, untuk memberikan masukan berdasarkan pengetahuan dan
pengalamannya. (Supervisi Manajertial. Bahan Ajar Diklat Supervisi
Pengawas Sekolah .2012:8).

C. PEMBAHASAN HASIL BEST PRACTICE PENGAWAS

1. Kondisi Awal Sekolah Binaan (SMP N 13 Merauke)


Awal pembinaan penulis melakukan observasi terhadap berbagai hal untuk
mendapatkan data awal tentang kondisi sekolah yang sebenarnya. Agar lebih
fokus, maka proses observasi yang penulis lakukan berdasar kepada
delapan standar nasional sesuai dengan PP 19 Tahun 2005. Hasil observasi
menunjukkan data sebagai berikut.
a. Standar Kelulusan

1) Rata-rata kelulusan peserta didik sudah 100%

2) Nilai rata-rata UN masih rendah

3) Nilai KKM di bawah standar

19
b. Standar Isi

1) Dokumen Kurikulum sekolah belum tersusun lengkap

2) Pengelolaan kegiatan intra kurikuler dan ekstra kurikuler belum optimal

3) Beban belajar, kalender pendidikan, dan muatan kurikulum belum


disosialisasikan secara memadai

c. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan

1) Jumlah tenaga pendidik belum memenuhi ratio banyaknya rombel

2) Kualifikasi akademik S1 baru mencapai 80%

d. Standar Proses

1) Sistem administrasi pembelajaran masih seadanya

2) Pembelajaran belum menyiratkan PAKEM dan Kontekstual

e. Standar Penilaian

1) Pelaporan nilai pada raport belum menggunakan sistem KKM

2) Sistem penilaian terbatas pada bidang kognitif saja

3) Tidak ada data penilaian selain hasil ulangan dan hasil UTS/UAS
f. Standar Pengelolaan

1) Belum melaksanakan manajemnen sekolah secara efektif

2) Komite sekolah belum diberdayakan optimal

g. Standar Sarana dan Prasarana

1) Luas lahan sekolah cukup representative

2) Memiliki lokal kelas meski belum 100% memadai

3) Memiliki ruang perpustakaan

4) Belum memiliki sarana ibadat

5) Masih ada ruang kelas yang tidak layak pakai

6) Suasana sekolah belum nyaman dan kurang terpelihara

20
7) Belum memiliki sarana ICT dan multimedia

h. Standar Pembiayaan

1) Pengelolaan keuangan hanya bersumber dari BOS

2) Masih terdapat utang sekolah yang tak bertuan

3) Masih terdapat pinjaman oleh warga sekolah

2. Kegiatan Analisis dan Identifikasi


Setelah kondisi awal sekolah penulis dapatkan maka tahap selanjutnya
melakukan analisis dan identifikasi dalam berbagai hal baik secara internal
maupun eksternal. Hasil observasi dan identifikasi penulis jadikan bekal untuk
melakukan analisis konteks tentang kekuatan dan kelemahan (SWOT
Analysis) sekolah. Data temuan yang penulis dapatkan dari hasil analisis dan
identifikasi terhadap kondisi sekolah saat penulis melakuakan supervisi
adalah:
a. Kekuatan (strong)
SMP N 13 Merauke secara internal memiliki kekuatan dilihat dari jumlah
peserta didik yang cukup besar, jumlah tenaga pendidik yang memadai, serta
lahan sekolah relatif luas.
b. Kelemahan (weakness)
Meski secara kuantitas jumlah pendidik dan peserta didik cukup besar,
namun kelemahannya komitmen organisasi dari sumber daya manusianya
masih lemah, implementasi delapan standar pendidikan nasional belum
optimal, serta penataan dan arah pengembangan sekolah yang masih belum
jelas.
c. Peluang (opportunity)
Meski masih memiliki banyak kelemahan, namun SMP N 13 Merauke secara
eksternal memiliki peluang yang cukup besar untuk dikembangkan
diantaranya sekolah ini memiliki posisi strategis karena secara geografis
berada di pinggir Jalan Poros. Selain itu adanya dukungan program
pemerintah dalam bidang pendidikan , baik di daerah maupun di pusat yang
cukup besar menjadi peluang yang juga besar untuk dikembangkan.
d. Ancaman (threat)

21
Selain adanya peluang yang cukup besar, kondisi ekonomi orang tua siswa
yang rata-rata kelas menengah ke bawah dapat menimbulkan
ancaman/hambatan yang harus diperhitungkan diantaranya yaitu adanya
orang tua yang masih membawa anak(siswa) untuk bekerja di waktu hari
sekolah sehingga siswa sering bolos, peluang putus sekolah tinggi dan
dukungan masyarakat akan pendidikan masih sangat lemah.
3. Mendampingi Kepala Sekolah Menyusun Rencana Pengembangan
Sekolah
Simpulan dari hasil analisis dan identifikasi terhadap kondisi SMP N 13
Merauke yang akan dijadikan dasar untuk menentukan kebijakan adalah
fokus pengembangan pada Standar Nasional Pendidikan. Tetapi dengan
karakteristik sekolah dengan kondisi sumber daya manusia yang masih relatif
rendah, maka tujuan pengembangan sekolah dan capaian out comes bukan
hanya ditekankan dalam hal academic skill tapi lebih pada competency
skill. Untuk mendapatkan hasil optimal perlu penguatan dalam bidang
manajerial kepala sekolah dengan titik fokus pada implementasi
Manajemen Sekolah dan dalam bidang pembelajaran dengan implementasi
PAIKEM.
Dengan memiliki data hasil analisis dan identifikasi tersebut ditambah dengan
pengetahuan yang penulis dapatkan dari hasil belajar di MKPS dan dari Diklat
Penguatan Pengawas pada In Service-1, maka langkah yang penulis tempuh
dalam memulai upaya pembinaan untuk mengembangkan sekolah adalah
sebagai berikut.
a. Membimbing Menentukan Visi, Misi, Tujuan dan Rencana
Strategis Sekolah

1) Visi SMP Negeri 13 Merauke


Agar sesuai dengan dengan rencana pengembangan sekolah maka visi SMP
N13 Merauke, yaitu Cerdas,
Trampil, Unggul, Bermoral
Serta Berguna Bagi Masyarakat, Bangsa dan Negara
Berdasarkan Pancasila
2) Misi SMP N 13 Merauke yaitu;

1. Tercapainya NEM standar nasional


22
2. Memiliki kemampuan prestasi di segala
bidang
3. Tercapainya suasana lingkungan sekolah
yang harmonis
4. Terwujudnya warga sekolah yang berbudaya
5. Terbentuk keimanan dan ketaqwaan

3) Tujuan SMP N 13 Merauke sesuai dengan visi dan


misi adalah
1. Pada tahun pelajaran 2015/2016
peningkatan nilai UN dan US minimal 2
2. Pada tahun 2015/2016 memiliki kelompok
Olimpiada MIPA
3. Pada tahun 2015/2016 memiliki kelompok tim olah
raga minimal 3 cabang yang mampu msuk pinalis di
tingkat Kabupaten
4) Mendampingi Kepala Sekolah Menentukan Rencana Strategis
Pengembangan Sekolah

Sesuai dengan hasil identifikasi dan analisis peluang sekolah, maka rencana
pengembangan strategis sekolah untuk jangka pendek sampai jangka
panjang adalah :
a) Untuk 1 tahun pertama SMP N 13 Merauke menjadi sekolah berstandar
nasional

b) Untuk 1 tahun kedua SMP N 13 Merauke diarahkan untuk sekolah


unggulan

c) Untuk 1 tahun ketiga SMP N 13 Merauke menjadi SMP Percontohan


PAKEM

23
d) Untuk 1 tahun keempat SMP N 13 Merauke menjadi Sekolah Percontohan
di kabupaten Merauke.

b. Membantu Kepala Sekolah Mengidentifikasi dan Merencanakan Skala


Prioritas Bidang Pengembangan Sekolah.
Dalam rangka merealisasikan rencana pengembangan sekolah maka skala
prioritas dalam mengembangkan sekolah berdasar pada capaian 8 Standar
Nasional Pendidikan sebagai berikut.
1) Standar Isi dan Kelulusan

a) Mensupor kepala sekolah dan guru-guru untuk menyusun dan


mengembangkan perangkat kurikulum yang terintegrasi dengan pendidikan
karakter bangsa

b) Mensupor kepala sekolah dan guru-guru untuk meningkatkan hasil rata-


rata UN dengan mengadakan try out dan tambahan jam pelajaran

c) Mensupor kepala sekolah untuk melakukan kegiatan supervisi akademik


dan pembinaan secara terfokus

d) Mensupor kepala sekolah dan guru-guru untuk mengubah sistem


administrasi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan
2) Standar Proses Pembelajaran

a) Mensupor kepala sekolah untuk membentuk kelas unggulan mulai dari


kelas VII s.d IX

b) Mensupor kepala sekolah dan guru-guru untuk melengkapi media dan


sarana pembelajaran menjadi lebih bernuansa PAKEM dan CTL

c) Melakukan kunjungan kelas

d) Membimbing guru-guru membuat portal fortofolio peserta didik

e) Menganjurkan guru-guru memperbanyak pajangan hasil karya peserta


didik

3) Standar Penilaian

a) Mensupor kepala sekolah untuk melakukan pembinaan terfokus terhadap


penyusunan KKM

24
b) Mensupor kepala sekolah untuk memperbaiki sistem pengisian buku raport
peserta didik dengan mengotimalkan bidang pengembangan diri dan
pendidikan karakter bangsa.

c) Mensupor kepala sekolah untuk memberikan sertifikat kompetensi bagi 10


peserta didik tiap kelas, ditandatangani guru

d) Mensupor kepala sekolah dan guru-guru untuk mengembangkan sistem


penilaian budi pekerti dalam bentuk buku catatan perkembangan budi pekerti

e) Mensupor kepala sekolah dan guru-guru untuk memperbaiki


sistem reward di akhir tahun pelajaran dengan mengikutsertakan orang tua
peserta didik

4) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan

a) Mensupor kepala sekolah untuk melakukan analisis dan perbaikan jam


mengajar/ beban kerja sesuai dengan ketentuan yang berlaku

b) Mensupor kepala sekolah untuk memotivasi dan memberi dukungan guru


untuk melanjutkan kuliah

c) Mensupor kepala sekolah untuk mengikutsertakan guru dalam kegiatan-


kegiatan peningkatan mutu

d) Mensupor kepala sekolah untuk membagi tugas piket guru


e) Mensupor kepala sekolah untuk melakukan penertiban tugas tambahan
guru melalui Surat-surat Keputusan

5) Standar Pengelolaan

a) Mensupor kepala sekolah untuk mengembangkan sistem perubahan


secara kontinyu ke arah perbaikan, misalnya dalam hal iklim kerja, budaya
bersih sekolah, penyusunan kalender sekolah

c) Mensupor kepala sekolah untuk menetapkan kebijakan dalam bidang


Sekolah Adiwiyata misalnya mewajibkan tanam dan pelihara satu pohon bagi
tiap satu peserta didik setiap tahun, membentuk piket sekolah dsb.

d) Mensupor kepala sekolah untuk menyusun Rencana Kerja Sekolah untuk


jangka panjang, menengah dan pendek, serta membuat Laporan Tahunan

25
e) Mensupor kepala sekolah untuk melakukan link dan mengajukan proposal
terhadap beberapa instansi yang terkait dan relevan dengan dunia sekolah

f) Mensupor kepala sekolah untuk memperkuat hubungan dengan komite


sekolah dan orang tua murid

6) Standar Pembiayaan

a) Mensupor kepala sekolah untuk mengoptimalkan pemanfaatan dan


pengelolaan BOS pusat dan provinsi dengan membentuk Team Pelaksana

b) Mensupor kepala sekolah untuk membuka koperasi sekolah.

c) Mensupor kepala sekolah untuk memberdayakan kewirausahaan sekolah


misalnya dari penjualan hasil karya anak

7) Standar Sarana Prasarana

a) Mensupor kepala sekolah untuk memasang sarana ICT sekolah seperti


sarana telepon, internet, dan melengkapi sarana multi media, proyektor dan
Slide

b) Mensupor kepala sekolah untuk melakukan penataan lingkungan sekolah


dari dana pemeliharaan BOS

c) Mensupor kepala sekolah untuk menyediakan sudut edukatif berupa sudut


tamu, sudut baca, sudut santai, sudut belajar, dan sudut pajang, lab. alami,
sudut hijau, dll.

d) Mensupor kepala sekolah untuk melengkapi sarana pengembangan diri


peserta didik dengan membentuk Tim Olah Raga

c. Membantu Kepala Sekolah untuk Menentukan Strategi Implementasi


dalam Rencana Pengembangan Sekolah.
Untuk merealisasikan berbagai upaya peningkatan kinerja prestatif sekolah,
maka strategi yang dipilih adalah pembimbingan kelompok mengenai hal-hal
sebagai berikut;
a) Membagi tugas kepada semua unsur sekolah sesuai dengan kemampuan
dan keahliannya masing-masing dalam bentuk team work yang solid.

26
b) Memberikan berbagai pelatihan internal sekolah dalam bentuk diskusi
terbimbing, mengaktifkan guru dalam MGMP dan Kepala Sekola dalam
MKKS, memanggil nara sumber yang kompeten, mendorong guru untuk
mengikuti pelatihan, dan mendayagunakan sarana belajar sekolah seperti
internet dan buku-buku panduan

4) Menggalang dana swadaya dari hasil kewirausahaan sekolah dalam


berbagai bidang dengan mengajak dan melibatkan semua unsur sekolah.

4. Capaian Pembimbingan
Selama kurang lebih dua minggu dilakukan pembimbingan Diskusi Kelompok
Terfokus, maka tersusunlah manajemen sekolah yang efektif dan rencana
kerja sekolah yang terdiri dari rencana kerja empat tahunan dan rencana kerja
tahunan yang efektif berdasarkan delapan (8) standar nasional pendidikan,
yang sebelumnya sekolah belum memiliki manajemen dan rencana kerja
tersebut

D. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

1. Kesimpulan
Tugas pokok pengawas sekolah adalah melaksanakan tugas pengawasan
akademik dan manajerial pada satuan pendidikan yang meliputi penyusunan
program pengawasan, pelaksanaan pembinaan terhadap guru dan kepala
sekolah, pemantauan pelaksanaan 8 (delapan) standar nasional pendidikan,
penilaian kinerja guru dan kepala sekolah, pembimbingan dan pelatihan
profesional guru, evaluasi hasil pelaksanaan program pengawasan, dan
pelaksanaan tugas kepengawasan di daerah khusus.
Berkaitan dengan pembimbingan dan pelatihan kepala sekolah dan guru telah
dilaksanakan dalam kegiatan pembimbingan pengembangan manajemen
sekolah dan penyususnan rencana kerja sekolah dengan hasil mencapai 90
%, yaitu tersusunnya rencana kerja sekolah baik jangka menengah ataupun
jangka pendek.

2. Rekomendasi

27
Setelah tersusunnya rencana kerja sekolah maka penulis rekomendasika
kepada;
a. Kepala Sekolah hendaknya melaksanakan kegiatan pendidikan dan
kependidikan agar beracuan kepada program kerja sekolah yang telah
disusun
b. Guru-guru hendaknya melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan
pendekatan PAIKEM dan CTL.
c. Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Merauke agar mendukung
segala upaya yang dilaksanakan oleh sekolah untuk meningkatkan
kompetensi lulusan.

Kualitas pendidikan suatu bangsa sangat berpengaruh


terhadap kemakmuran bangsa tersebut. Bangsa-bangsa
yang maju seperti Jepang, Turki, mereka sangat
menjunjung tinggi pendidikan dan menghargai guru.
Sebaliknya bangsa-bangsa yang meremehkan guru dan
mencabuli pendidikan mereka sering terpuruk dengan
berbagai kebobrokan di segala bidang. Dalam agama
Islam juga diperintahkan dalam sebuah hadits bahwa
barang siapa ingin selamat di dunia maka bekali dengan
ilmu, barang siapa yang ingin selamat di akhirat, maka
bekali pula dengan ilmu, dan barang siapa ingin bahagia
dunia dan akhirat maka juga berbekallah dengan ilmu.

Kepala sekolah memiliki peranan yang besar terhadap


kualitas pendidikan suatu sekolah. Peran dan pengaruh
kepala sekolah mampu mempengaruhi guru-guru dalam
sekolah tersebut. Ketika kepala sekolah bisa berbuat arif
dan bijaksana serta visioner dalam memimpin sekolah

28
maka guru dan tenaga kependidikan menjadi naik
kinerjanya sehingga sekolah cepat menjadi maju serta
siswa-siswinya menjadi berprestasi.

Kepala sekolah merupakan guru yang mendapat tugas


tambahan sebagai pemimpin sekolah. Jabatan kepala
sekolah merupakan jabatan yang sangat strategis,
karena menjadi salah satu faktor yang sangat
menentukan dalam keberhasilan di satuan
pendidikan.Beberapa pendapat menunjukkan bahwa
sekolah yang berhasil dalam dalam meningkatkan mutu
sekolah merupakan hasil dari tindakan kepala sekolah
sebagai pemimpin pembelajaran. Demikian pula,
keberhasilan peserta didik dalam pembelajaran
ditentukan oleh guru yang prefesional, tidak akan terjadi
sekolah yang berkualitas dipimpin oleh kepala sekolah
yang tidak berprestasi.

Kompetensi tersebut menegaskan bahwa menjadi kepala


yang berhasil perlu ditunjang dengan kepribadian yang
tangguh, ilmu pengetahuan dan keterampilan
menerapkan ilmu pengetahuan yang unggul, serta
memiliki keterampilan dalam merencanakan,
melaksanakan, mensupervisi, dan mengevaluasi
program. Yang tidak kalah penting mejadi kepala sekolah
profesional memiliki kapasitas sebagai pemimpin
pembelajaran.

29
Berdasarkan penjelasan di atas, maka makalah ini akan
membahas bagaimana peranan kepala seolah sebagai
pemimpin pembelajaran.Sebelum membahas tentang
peran kepemimpinan dalam pembelajaran terlebih dahulu
kita akan memaparkan tentang pengertian peran
kepemimpinan itu sendiri. Kepemimpinan adalah adalah
proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah
kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan.
Dalam pengertian lain kepemimpinan adalah kemampuan
dan keterampilan seseorang yang menduduki jabatan
sebagai pimpinan satuan kerja untuk mempengaruhi
orang lain, terutama bawahannya, untuk berfikir dan
bertindak sedemikian rupa sehingga melalui perilaku
yang positif ia memberikan sumbangan nyata dalam
pencapaian tujuan organisasi. Sedangkan pengertian
peran adalah perilaku yang diatur dan diharapkan dari
seseorang dalam posisi tertentu.

Berdasarkan uraian diatas dapat dibuat simpulan bahwa


kepemimpinan pembelajaran adalah tindakan yang
dilakukan kepala dengan maksud untuk mempengaruhi,
menggerakan, dan mengembangkan lingkungan kerja
yang produktif dan memuaskan bagi guru, serta pada
akhirya mampu menciptakan kondisi belajar peserta didik
meningkat. Secara implisit definisi ini mengandung
maksud bahwa kepemimpinan pembelajaran merupakan
tindakan yang mengarah pada terciptanya iklim sekolah

30
yang mampu mendorong terjadiya proses pembelajaran
yang optimal

B. Program Peningkatan Kompetensi Kepala


Sekolah
Syarat mutlak terciptanya organisasi pembelajar adalah
terwujudnya masyarakat pembelajar di tubuh organisasi
tersebut. Hal ini mudah dipahami, mengingat kinerja
suatu organisasi adalah merupakan produk kinerja
kolektif semua unsur di dalamnya, termasuk sumber daya
manusia. Dalam konteks sekolah, guru secara individu
maupun secara bersama-sama dengan masyarakat
seprofesinya, harus menjadi bagian dari organisasi
pembelajar melalui keterlibatannya secara sadar dan
sukarela serta terus menerus dalam berbagai kegiatan
belajar guna mengembangkan profesionalismenya.

Salah satu bentuk aktualisasi tugas guru sebagai tenaga


profesional adalah diterbitkannya Undang-Undang Nomor
20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
Undang Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan. Undang-undang
dan peraturan pemerintah ini diharapkan dapat
memfasilitasi guru untuk selalu mengembangkan
keprofesiannya secara berkelanjutan. Pelaksanaan
program pengembangan keprofesian berkelanjutan ini

31
diharapkan dapat meningkatkan kompetensi pedagogik,
profesional, sosial dan kepribadian untuk memenuhi
kebutuhan dan tuntutan masa depan yang berkaitan
dengan profesinya sebagai guru.

Kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan


dikembangkan atas dasar profil kinerja guru sebagai
perwujudan hasil penilaian kinerja guru dan didukung
dengan hasil evaluasi diri. Apabila hasil penilaian kinerja
guru masih berada di bawah standar kompetensi yang
dipersyaratkan dalam penilaian kinerja guru, maka guru
diwajibkan untuk mengikuti program pengembangan
keprofesian berkelanjutan yang diorientasikan sebagai
pembinaan dalam pencapaian standar kompetensi guru.
Sementara itu, guru yang hasil penilaian kinerjanya telah
mencapai standar kompetensi yang dipersyaratkan
dalam penilaian kinerja guru, kegiatan pengembangan
keprofesian berkelanjutan diarahkan kepada
pengembangan kompetensi untuk memenuhi layanan
pembelajaran berkualitas dan peningkatan karir guru.

Pengembangan keprofesian berkelanjutan adalah


pengembangan kompetensi guru yang dilaksanakan
sesuai dengan kebutuhan, secara bertahap,
berkelanjutan untuk meningkatkan profesionalitas guru.
Dengan demikian, guru dapat memelihara,
meningkatkan, dan memperluas pengetahuan dan

32
keterampilannya untuk melaksanakan proses
pembelajaran secara profesional. Pembelajaran yang
berkualitas diharapkan mampu meningkatkan
pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik.

Dalam sistem Pembinaan dan Pengembangan Profesi


Guru, sebagai langkah awal pelaksanaan pembinaan dan
pengembangan profesionalisme guru, akan dilakukan
pemetaan profil kinerja guru dengan menggunakan
instrumen evaluasi diri pada awal tahun pelajaran, yang
hasilnya digunakan sebagai acuan dalam merencanakan
program pengembangan keprofesian berkelanjutan yang
akan dilaksanakan sepanjang tahun pelajaran.
Pelaksanaan pengembangan keprofesian berkelanjutan
dilakukan terhadap guru yang telah maupun belum
mencapai standar yang ditetapkan. Setiap akhir tahun
pelajaran, dilakukan penilaian kinerja guru, dimana
hasilnya merupakan gambaran peningkatan kompetensi
yang diperoleh guru setelah melaksanakan
pengembangan keprofesian berkelanjutan pada tahun
berjalan dan sekaligus digunakan sebagai dasar
penetapan angka kredit unsur utama dari sub-unsur
pembelajaran/bimbingan pada tahun tersebut. Hasil
penilaian kinerja guru tahun sebelumnya dan dilengkapi
hasil evaluasi diri tahun berjalan, selanjutnya digunakan
sebagai acuan perencanaan pengembangan keprofesian
berkelanjutan untuk tahun berikutnya.

33
BEST PRACTICE
MANAJEMEN
PERUBAHAN
KEPALA SEKOLAH SEBAGAI PELOPOR PERUBAHAN
Strategi Pencapaian Perubahan Mengatasi Kesenjangan Sekolah dalam
Menyelenggarakan Pendidikan Bermutu Pada SMPN 5 Blambangan Umpu

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Judul di atas seolah menagih janji kepada penulis atau bisa jadi siapapun yang

menyandang profesi guru pengemban tugas tambahan sebagai kepala sekolah.

Sebagai guru kita mestinya mampu menjadi agen perubahan, ujung tombak

34
pendidikan, profesional dan pribadi yang dapat digugu dan ditiru. Sebagai kepala

sekolah harusnya kita mampu menjadi pemimpin yang dapat membawa

perubahan, Sebagaimana diatur dalam Permendiknas Nomor 28 Tahun 2010

tentang Penugasan Guru sebagai Kepala Sekolah/Madrasah.

Kapala sekolah sebagai pelopor perubahan budaya sekolah, sejatinya siap

memimpin dan melayani komponen sekolah, pemimpin yang selalu berpikir

mewujudkan sekolahnya sebagai sekolahnya anak manusia. Kepala sekolah yang

mampu menghadirkan guru hebat di kelas yang inspiratif. Kelas yang efektif

melaksanakan pembelajaran yang bermakna bagi peserta didiknya. Sekolah yang

ideal adalah sekolah yang mampu dan cermat menyikapi perubahan yang terjadi.

Baik perubahan dalam konteks mengatasi masalah pada masa transisi maupun

melakukan inovasi serta membuat keputusan pada proses pembelajaran yang

berkualitas, adil yang memahami perbedaan potensi peserta didik. Jika sebagai

guru, kepala sekolah semestinya mampu menjadi agen perubahan, ujung tombak

pendidikan, pribadi yang dapat digugu dan ditiru. Maka sebagai kepala sekolah,

peran tersebut menjadi bertambah yakni sebagai pembawa perubahan.

35
Kepala sekolah sebagai pelopor perubahan budaya sekolah, merupakan

pemimpin yang siap melayani komponen sekolah, pemimpin yang selalu berpikir

mewujudkan sekolah sebagai sekolahnya anak manusia. Kepala sekolah yang

mampu menghadirkan guru hebat di kelas yang inspiratif. Kelas yang efektif

melaksanakan pembelajaran yang bermakna bagi peserta didiknya. Kepala

sekolah merupakan pihak utama yang bertanggung jawab meyiapkan kelas sehat

dan menyenangkan. Kelas yang dipimpin oleh guru yang mampu menginspirasi

peserta didiknya dalam menemu-kenali potensi sehingga dapat bertumbuh dan

berkembang menghasilkan perubahan perilaku.

Aset pemimpin yang paling penting menurut Bill Welter dan Jean

Egman(2009) dalam bukunya,The Prepared Mind of a Leader

(Kecakapan Berpikir Bagi Pemimpin) adalah kemampuan mengantisipasi

perubahan di lingkungan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan itu secara

cepat. Dari pernyataan Walter danEgman kita dapat menarik sebuah

kesimpulan bahwa hal terpenting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin

adalah kemampuan yang efektif untuk berpikir fleksibel tentang sebuah perubahan

baik dalam konteks transisi maupun inovasi. Kemampuan memilih strategi untuk

36
mengatasi masalah dan pengambilan keputusan dalam menuju perubahan.

Melakukan sedikit perubahan untuk menghasilkan perubahan yang berdampak

lebih besar yakni perubahan mindset.

Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum

sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka

sendiri. (QS, Ar-Rad [13]:11)

Pembelajaran, kita pahami sebagai sebuah proses yang menghubungkan

pelayanan tugas utama guru dengan kebutuhan utama belajar peserta didik.

Belajar adalah proses interaksi individu secara sadar dengan lingkungannya yang

menghasilkan perubahan tingkah laku. Proses belajar hakikatnya kegiatan mental

karena itu sulit diamati. Proses perubahan yang terjadi dalam diri individu yang

tidak dapat kita saksikan. Paling mungkin kita dapat menyaksikannya melalui

gejala-gejala perubahan perilaku yang tampak saja.

Ada beberapa tema yang menjadi perhatian penulis sebagai kepala sekolah

dalam konteks proses pembelajaran berkualitas, adil dan tidak diskriminatif pada

kelas inklusif secara utuh. Karena itu setidaknya ada tiga tema besar yang menjadi

37
aspek perubahan dalam kurun waktu tiga tahun ke depan yaitu Bagaimana

Manusia Belajar?; Belajar Cara Belajar; dan Belajar Berbeda.

Dijadikan ia oleh Allah makhluk yang berbeda dari yang lain,

yaitu dengan jalan menghembuskan ruh Ilahi kepadanya.

(QS.Muminun .[23]:12-14).

Kelas Inklusif, merupakan kelas yang tumbuh dari sekolah yang

menyelenggarakan pendidikan inklusif. Suatu sistem penyelenggaraan pendidikan

yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki

kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk

mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara

bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya. Sebagaimana diatur

Permendiknas No 70 tahun 2009 , tentang pendidikan inklusif.

Janganlah engkau memaksa anak-anakmu sesuai dengan

pendidikanmu, karena sesungguhnya mereka diciptakan untuk

zaman yang bukan zaman kalian. Cetaklah selagi masih basah

dan tanamlah kayu selagi masih lunak.(Ali bin Abi Thalib.ra).

38
Atas dasar itulah SD Negeri Banjang 2 merasa perlu melakukan upaya

perubahan budaya sekolah dari sekolah reguler menjadi sekolah inklusi sebagai

penyelenggara pendidikan inklusif. Melalui pendidikan inklusi, anak berkelainan

dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang

dimilikinya (Freiberg,1995). Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di SD Negeri

Banjang 2 terdapat anak normal dan anak berkelainan yang tidak dapat dipisahkan

sebagai suatu komunitas kelas yaitu kelas inklusi.

Hasil identifikasi terhadap kesenjangan yang terjadi di kelas bahwa

terdapatnya beberapa peserta didik yang diklasifikasikan sebagai Anak

Berkebutuhan Khusus (ABK). Kondisi kelas inklusi yang idealnya didampingi

oleh Guru Pendamping Khusus (GPK) sesuai dengan jumlah kekhususan atau

ketunaan yang terdapat di kelas. Kurangnya tenaga pendidik, apalagi tenaga ahli

sebagai guru pendamping khusus untuk melayani ABK (Anak Berkebutuhan

Khusus). Kesenjangan tersebut diperparah dengan tiadanya tenaga kependidikan

(operator, pustakawan dan arsiparis), terbatasnya sarana prasarana, lemahnya

hubungan sekolah dengan orang tua dan masyarakat sekitar. Proses pembelajaran

yang tidak efektif berdampak pada hasil belajar yang tidak optimal.

39
Kesenjangan yang terjadi sekaligus menjadi masalah utama yang dihadapi

SD Negeri Banjang 2 adalah hasil Ujian Nasional Tahun 2011 yang berada pada

posisi juru kunci tingkat kecamatan. Hal ini diasumsikan sebagai dampak dari

kurangnya efektifnya pelaksanaan proses pembelajaran, lebarnya kesenjangan

kelas terkait kebebasan gaya belajar dan perbedaan kebutuhan belajar peserta

didik. Sebagai sekolah yang menduduki posisi juru kunci pada hasil Ujian

Nasional tingkat kecamatan Tahun 2011 banyak kendala yang dihadapi,

munculnya perasaan risau atas kondisi yang ada, sulitnya mengatasi kesenjangan

kelas yang disebabkan oleh perbedaan kemampuan, kecepatan, kecenderungan

bahkan kelainan fisik, mental dan emosional peserta didik.

Jika kondisi di atas dibiarkan, dampaknya dapat dibayangkan. Budaya

sekolah yang semakin melemah dan berdampak pada menurunnya kualitas proses

pembelajaran, terbukanya kesenjangan kelas dan juga kesenjangan sekolah.

Proses pembelajaran yang tidak memperhatikan perbedaan dan cenderung

mengabaikan anak yang berkebutuhan khusus sebagai bentuk diskriminasi dalam

pembelajaran. Proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif dan

menyenangkan hanya akan menjadi slogan.

40
Semenjak mengantongi ijin operasional, Sekolah memang berbenah.

Namun sebagai sekolah yang baru penyelenggarakan pendidikan inklusif kendala

lain pun bermunculan. Kendala utamanya justru terletak pada sebagian besar guru

yang belum melakukan perubahan cara pandang dan kinerja sebagai guru di

sekolah penyelenggara pendidikan inklusif termasuk dampak perubahannya.

Sulitnya mengatasi kesenjangan kelas yang disebabkan perbedaan kebutuhan

khusus belajar, kurangnya tenaga pendidik karena mutasi tak terkendali; tidak ada

tenaga ahli sebagai guru pendamping khusus untuk melayani ABK (Anak

Berkebutuhan Khusus). Kesenjangan tersebut diperparah dengan tiadanya tenaga

kependidikan (operator, pustakawan dan arsiparis), terbatasnya sarana prasarana,

lemahnya hubungan sekolah dengan orang tua dan masyarakat sekitar. Proses

pembelajaran yang tidak efektif berdampak pada hasil belajar yang tidak optimal

Di latar belakangi oleh masalah di atas penulis sebagai guru yang

mendapat tugas tambahan menjadi kepala sekolah merasa terpanggil untuk

mempelopori perubahan budaya sekolah. Perubahan yang mengadopsi model

perubahan Kurt Lewin dan model ADKAR diharapkan dapat mengatasi

41
kesenjangan sekolah melalui modifikasi enam strategi pencapaian perubahan pada

SD Negeri Banjang 2.

Upaya atau tindakan perubahan pertama yang dilakukan kepala sekolah

menulis Mars SDN Banjang 2 yang disuplemen dari visi dan misi sekolah.

Dilanjutkan dengan tindakan kedua mengajukan permohonan ijin

operasional. Ketiga,mendelegasikan wewenang kepada empat guru PNS sebagai

pembantu kepala sekolah bidang, Keempat, menulis beberapa artikel ilmiah dan

beragam buku bertema edukasi, religi, pluralisme dan motivasi bagi guru serta

program In-House Training.Kelima, memfasilitasi semua guru mengikuti

seleksi program S1 PLB dan program Sendratasik; Menyiapkan tenaga operator

dan arsiparis sekolah; Keenam, merancang regulasi sekolah yang bersifat

mengikat tetapi tidak menjerat, membalut tetapi tidak membelit; dan membangun

suasana kekeluargaan yang menghangatkan.

Kelas Inklusif, merupakan kelas yang tumbuh dari sekolah yang

menyelenggarakan pendidikan inklusif. Suatu sistem penyelenggaraan pendidikan

yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki

kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk

42
mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara

bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.

43