Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

RUMAH SEHAT

A. Pengertian
Kriteria rumah sehat adalah rumah yang mempunyai syarat-
syarat tertentu sehingga menimbulkan efek positif bagi
penghuninya. Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok
manusia, disamping kebutuhan sandang dan pangan. Rumah
berfungsi pula sebagai tempat tinggal serta digunakan untuk
berlindung dari gangguan iklim serta makhluk hidup lainnya.
Selain itu rumah juga merupakan tempat berkumpulnya anggota
keluarga untuk menghabiskan sebagian besar waktunya (Depkes
RI, 2002).
Rumah adalah salah satu persyaratan pokok bagi kehidupan
manusia. (Notoatmodjo, 2007). Rumah harus dapat mewadahi
kegiatan penghuninya dan cukup luas bagi seluruh pemakainya,
sehingga kebutuhan ruang dan aktivitas setiap penghuninya
dapat berjalan dengan baik. Rumah sehat dapat diartikan sebagai
tempat berlindung, bernaung, dan tempat untuk beristirahat,
sehingga menumbuhkan kehidupan yang sempurna baik fisik,
rohani maupun sosial (Sanropie, dkk, 1989).
Menurut WHO rumah adalah struktur fisik atau bangunan
untuk tempat berlindung, dimana lingkungan berguna untuk
kesehatan jasmani dan rohani serta keadaan sosialnya baik untuk
kesehatan keluarga dan individu. Perumahan sehat merupakan
konsep dari perumahan sebagai faktor yang dapat meningkatkan
standar kesehatan penghuninya. Konsep tersebut melibatkan
pendekatan sosiologis dan teknis pengelolaan faktor risiko dan
berorientasi pada lokasi, bangunan, kualifikasi, adaptasi,
manajemen, penggunaan dan pemeliharaan rumah di lingkungan
sekitarnya.
Rumah sehat merupakan salah satu sarana untuk mencapai
derajat kesehatan yang optimum. Untuk memperoleh rumah
yang sehat ditentukan oleh tersedianya sarana sanitasi
perumahan. Sanitasi rumah adalah usaha kesehatan
masyarakat yang menitik beratkan pada pengawasan terhadap
struktur fisik dimana orang menggunakannya untuk tempat
tinggal berlindung yang mempengaruhi derajat kesehatan
manusia. Rumah juga merupakan salah satu bangunan tempat
tinggal yang harus memenuhi kriteria kenyamanan, keamanan
dan kesehatan guna mendukung penghuninya agar dapat bekerja
dengan produktif.
B. Syarat-syarat Rumah Sehat
Persyaratan kesehatan perumahan adalah ketentuan teknis kesehatan yang
wajib dipenuhi dalam rangka melindungi penghuni dan masyarakat yang bermukim
di perumahan dan masyarakat sekitar dari bahaya atau gangguan kesehatan.
Persyaratan kesehatan perumahan yang meliputi persyaratan lingkungan perumahan
dan pemukiman serta persyaratan rumah itu sendiri, sangat diperlukan karena
pembangunan perumahan berpengaruh sangat besar terhadap peningkatan derajat
kesehatan individu, keluarga dan masyrakat.
Persyaratan kesehatan perumahan dan lingkungan pemukiman menurut
keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) No. 829/Menkes/SK/VII/1999 meliputi
parameter sebagai berikut:
1. Lokasi
a. Tidak terletak pada daerah rawan bencana alam seperti bantaran sungai, aliran
lahar, tanah longsor, gelombang tsunami, daerah gempa dan sebagainya.
b. Tidak terletak pada daerah bekas tempat pembuangan akhir (TPA) sampah
atau bekas tambang
c. Tidak terletak pada daerah rawan kecelakaan dan daerah kebakaran seperti
jalur pendaratan penerbangan.

2. Kualitas Udara
Kualitas udara di lingkungan perumahan harus bebas dari gangguan gas
beradun dan memenuhi syarat baik mutu lingkungan sebagai berikut:
a. Gas H2S dan NH3 secara biologis tidak terdeteksi
b. Debu dengan diameter kurang dari 10 g maksimum 150 g/m3
c. Gas SO2 maksimum 0,10 ppm
d. Debu maksimum 350 mm3/m2 per hari

3. Kebisingan dan Getaran


a. Kebisingan dianjurkan 45 dB.A, maksimum 55 dB.A
b. Tingkat getaran maksimum 10 mm/detik

4. Kualitas Tanah di Daerah Perumahan dan Pemukiman


a. Kandungan timah hitam (Pb) maksimum 300 mg/kg
b. Kandungan Arsenik (As) total maksimum 100 mg/kg
c. Kandungan Cadmium (Cd) maksimum 20 mg/kg
d. Kandungan Benzo(a)pyrene maksimum 1mg/kg

5. Prasarana dan Sarana Lingkungan


a. Memiliki taman bermain untuk anak, sarana rekreasi keluarga dengan
konstruksi yang aman dari kecelakaan.
b. Memiliki sarana drainase yang tidak menjadi tempat perindukan vektor
penyakit
c. Memiliki sarana jalan lingkungan dengan ketentuan konstruksi jalan tidak
mengganggu kesehatan, konstruksi trotoar tidak membahayakan pejalan kaki
dan penyandang cacat, jembatan harus memiliki pagar pengaman, lampu
penerangan jalan tidak menyilaukan mata.
d. Tersedia cukup air bersih sepanjang waktu dengan kualitas yang memenuhi
persyaratan kesehatan
e. Pengelolaan pembuangan tinja dan limbah rumah tangga harus memenuhi
syarat kesehatan
f. Memiliki akses terhadap sarana pelayanan kesehatan, komunikasi, tempat
kerja, tempat hiburan, tempat pendidikan, kesenian dan lain sebagainya.
g. Pengaturan instalasi listrik harus menjamin keamanan penghuninya
h. Tempat pengelolaan makanan (TPM) harus menjamin tidak terjadi
kontaminasi makanan yang dapat menimbulkan keracunan.

6. Vektor Penyakit
a. Indeks lalat harus memenuhi syarat
b. Indeks jentik nyamuk dibawah 5%

7. Penghijauan
Pepohonan untuk penghijauan lingkungan pemukiman merupakan
pelindung dan juga berfungsi untuk kesejukan, keindahan dan kelestarian alam.
Secara umum rumah dikatakan sehat apabila memenuhi kriteria sebagai
berikut (PPM & PL, 2002) :
a. Memenuhi kebutuhan fisiologis antara lain pencahayaan, penghawaan dan
ruang gerak yang cukup, terhindar dari kebisingan yang mengganggu.
b. Memenuhi kebutuhan psikologis antara lain privacy yang cukup, komunikasi
yang sehat antar anggota keluarga dan penghuni rumah.
c. Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar penghuni rumah
dengan penyediaan air bersih, pengelolaan tinja dan limbah rumah tangga,
bebas vektor penyakit dan tikus, kepadatan hunian yang tidak berlebihan,
cukup sinar matahari pagi, terlindungnya makanan dan minuman dari
pencemaran, disamping pencahayaan dan penghawaan yang cukup.
d. Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik yang timbul
karena keadaan luar maupun dalam rumah, antara lain persyaratan garis
sempadan jalan, konstruksi yang tidak mudah roboh, tidak mudah terbakar,
dan tidak cenderung membuat penghuninya jatuh tergelincir.

Rumah yang sehat harus dapat mencegah dan mengurangi resiko kecelakaan
seperti terjatuh, keracunan dan kebakaran (APHA). Beberapa aspek yang harus
diperhatikan dalam kaitan dengan hal tersebut antara lain :
1. Membuat konstruksi rumah yang kokoh dan kuat
2. Bahan rumah terbuat dari bahan tahan api
3. Pertukaran udara dalam rumah baik sehingga terhindar dari bahaya racun dan
gas
4. Lantai terbuat dari bahan yang tidak licin sehingga bahaya jatuh dan kecelakaan
mekanis dapat terhindari.

C. Parameter Penilaian Rumah Sehat


Terdapat beberapa indicator penilaian rumah sehat yaitu :
1. Komponen Rumah
2. Sarana Sanitasi
3. Perilaku Penghuni

1. Indicator penilaian komponen rumah meliputi beberapa


parameter sebagai berikut :
a. Langit-langit
b. Dinding
c. Lantai
d. Jendela kamar tidur
e. Jendela ruang keluarga
f. Ventilasi
g. Lubang asap dapur
h. Pencahayaan
i. Kandang
j. Pemanfaatan pekarangan
k. Kepadatan penghuni

Bahan bangunan dan kondisi rumah serta lingkunggan yang


tidak memenuhi syarat kesehatan, memenuhi factor resiko dan
sumber penularan berbagai macam penyakit. Penyakit Infeksi
Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan tuberculosis yang erta
kaitannya dengan kondisi higiene bangunan perumahan,
berturut-turut merupakan penyebab kematian no 2 dan 3 di
Indonesia (Pedoman Teknis Penilaian Rumah Sehat, Depkes RI,
2007)
a. Ventilasi
Agar diperoleh kesegaran udara dalam ruangan dengan
cara penghawaan alami, maka dapat dilakukan dengan
memberikan atau mengadakan peranginan silang (ventilasi
silang) dengan ketentuan sebagai berikut:
Lubang penghawaan minimal 5% (lima persen) dari luas
lantai ruangan.
Udara yang mengalir masuk sama dengan volume udara
yang mengalir keluar ruangan.
Udara yang masuk tidak berasal dari asap dapur atau bau
kamar mandi/WC.

Khususnya untuk penghawaan ruangan dapur dan kamar


mandi/WC, yang memerlukan peralatan bantu elektrikal-
mekanikal seperti blower atau exhaust fan, harus memenuhi
ketentuan sebagai berikut:
Lubang penghawaan keluar tidak mengganggu kenyamanan
bangunan disekitarnya.
Lubang penghawaan keluar tidak mengganggu kenyamanan
ruangan kegiatan dalam bangunan seperti: ruangan
keluarga, tidur, tamu dan kerja.
Bagi rumah dengan kelembaban, suhu, dan penerangan
alami yang kurang baik ukuran dan letaknya, diharapkan
bisa menambah genting kaca serta memperbaiki plafon, dan
membuka pintu dan jendela setiap pagi hari.
b. Pencahayaan
Kualitas pencahayaan alami siang hari yang masuk ke
dalam ruangan ditentukan oleh:
i. Kegiatan yang membutuhkan daya penglihatan (mata),
ii. Lamanya waktu kegiatan yang membutuhkan daya
penglihatan (mata),
iii. Tingkat atau gradasi kekasaran dan kehalusan jenis
pekerjaan,
iv. Lubang cahaya minimum sepersepuluh dari luas lantai
ruangan,
v. Sinar matahari langsung dapat masuk ke ruangan minimum
1 (satu) jam setiap hari,
vi. Cahaya efektif dapat diperoleh dari jam 08.00 sampai
dengan jam 16.00

c. Kepadatan Penghuni
Kepadatan penghuni merupakan luas lantai dalam rumah
dibagi dengan jumlah anggota keluarga penghuni tersebut,
kebutuhan ruangan untuk tempat tinggal tergantung pada
kondisi keluarga yang bersangkuta. Menurut Kepmenkes RI
(1999) luas ruangan tidur minimal 8 m2 dan tidak
dianjurkan lebih dari 2 orang. Bangunan yang sempit dan
tidak sesuai dengan jumlah penghuninya akan mempunyai
dampak kurangnya oksigen dalam ruangan sehingga daya
tahan tubuh penghuninya menurun, kemudian cepat
timbulnya penyakit saluran pernafasan seperti ISPA. Ruangan
yang sempit akan membuat nafas sesak dan mudah tertular
penyakit oleh anggota keluarga yang lain.
Kepadatan hunian rumah akan meningkatkan suhu
ruangan yang disebabkan oleh pengeluaran panas badan
yang akan meningkatkan kelembaban akibat uap air dari
pernapasan tersebut.Dengan demikian, semakin banyak
jumlah penghuni rumah maka semakin cepat udara ruangan
mengalami pencemaran gas atau bakteri. Dengan
banyaknya penghuni, maka kadar oksigen dalam ruangan
menurun dan diikuti oleh peningkatan CO 2 ruangan dan
dampak dari peningkatan CO2 ruangan adalah penurunan
kualitas udara dalam rumah.
Kebutuhan ruang per orang dihitung berdasarkan aktivitas
dasar manusia di dalam rumah. Aktivitas seseorang tersebut
meliputi aktivitas tidur, makan, kerja, duduk, mandi, kakus,
cuci dan masak serta ruang gerak lainnya. Dari hasil kajian,
kebutuhan ruang per orang adalah 9 m2 dengan perhitungan
ketinggian rata-rata langit-langit adalah 2.80 m. (Luas
bangunan 3.5 m2 per orang).
2. Indicator penilaian sarana sanitasi rumah meliputi beberapa
parameter sebagai berikut :
a. Sarana air bersih
b. Jamban
c. Sarana pembuangan air limbah
d. Sarana pembuangan sampah

Menurut laporan MDGs tahun 2007 terdapat beberapa


kendala yang menyebabkan masih tingginya jumlah orang yang
belum terlayani fasilitas air bersih dan sanitasi dasar. Di
antaranya adalah cakupan pembangunan yang sangat besar,
sebaran penduduk yang tak merata dan beragamnya wilayah
Indonesia, keterbatasan sumber pendanaan. Pemerintah
selama ini belum menempatkan perbaikan fasilitas sanitasi
sebagai prioritas dalam pembangunan. Faktor lain yang juga
menjadi kendala adalah kualitas dan kuantitas sumber air baku
sendiri terus menurun akibat perubahan tata guna lahan
(termasuk hutan) yang mengganggu sistem siklus air. Selain
itu, meningkatnya kepadatan dan jumlah penduduk di
perkotaan akibat urbanisasi.
Masalah kemiskinan juga ikut menjadi penyebab
rendahnya kemampuan penduduk mengakses air minum yang
layak. Terakhir adalah buruknya kemampuan manajerial
operator air minum itu sendiri. Sedangkan dari sisi sanitasi,
selain masih rendahnya kesadaran penduduk tentang
lingkungan, kendala lain untuk terjadinya perbaikan adalah
karena belum adanya kebijakan komprehensif yang sifatnya
lintas sektoral, rendahnya kualitas bangunan septic tank, dan
masih buruknya sistem pembuangan limbah. (Harian Kompas,
Rabu, 19 Maret 2008)
Penyediaan air bersih dan sanitasi lingkungan yang tidak
memenuhi syarat dapat menjadi faktor resiko terhadap
penyakit diare dan kecacingan. Diare merupakan penyebab
kematian nomor 4 sedangkan kecacingan dapat mengakibatkan
produktifitas kerja dan dapat menurunkan kecerdasan anak
sekolah, disamping itu masih tingginya penyakit yang dibawa
vektor seperti DBD, malaria, pes, dan filariasis (Pedoman
Teknis Penilaian Rumah Sehat, Depkes RI, 2007)
Menurut data Bank Pembangunan Asia tahun 2005 hanya
terdapat 69 persen penduduk perkotaan dan 46 persen
penduduk pedesaan (atau rata-rata 55,43) terlayani fasilitas
sanitasi yang layak. Hal ini lebih rendah bila dibandingkan
dengan dengan Singapura (100 persen), Thailand (96 persen),
Filipina (83,06 persen), Malaysia 74,70 persen) dan Myanmar
(64,48 persen).
a. Sarana air bersih
Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan
sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan
dapat diminum apabila telah dimasak. Air minum adalah air
yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat
langsung diminum. Syarat-syarat Kualitas Air Bersih
diantaranya adalah sebagai berikut :
Syarat Fisik : Tidak berbau, tidak berasa, dan tidak
berwarna
Syarat Kimia : Kadar Besi : maksimum yang diperbolehkan
0,3 mg/l, Kesadahan (maks 500 mg/l)
Syarat Mikrobiologis : Koliform tinja/total koliform (maks 0
per 100 ml air)
b. Jamban
Angka kesakitan penyakit diare di Indonesia masih
tinggi. Salah satu penyebab tingginya angka kejadian diare
adalah rendahnya cakupan penduduk yang memanfaatkan
sarana air bersih dan jamban serta PHBS yang belum
memadai. Menurut data dari 200.000 anak balita yang
meninggal karena diare setiap tahun di Asia, separuh di
antaranya adalah di Indonesia. Metode pembuangan tinja
yang baik yaitu dengan jamban dengan syarat antara lain
sebagai berikut :
Tanah permukaan tidak boleh terjadi kontaminasi
Tidak boleh terjadi kontaminasi pada air tanah yang
mungkin memasuki mata air atau sumur
Tidak boleh terkontaminasi air permukaan
Tinja tidak boleh terjangkau oleh lalat dan hewan lain
Tidak boleh terjadi penanganan tinja segar ; atau, bila
memang benar-benar diperlukan, harus dibatasi seminimal
mungkin.
Jamban harus babas dari bau atau kondisi yang tidak
sedap dipandang.
Metode pembuatan dan pengoperasian harus sederhana
dan tidak mahal.

c. Sarana pembuangan air limbah


Buruknya kualitas sanitasi juga tercermin dari
rendahnya persentase penduduk yang terkoneksi dengan
sistem pembuangan limbah (sewerage system).
d. Sarana pembuangan limbah
Sampah merupakan sisa hasil kegiatan manusia, yang
keberadaannya banyak menimbulkan masalah apabila tidak
dikelola dengan baik. Apabila dibuang dengan cara ditumpuk
saja maka akan menimbulkan bau dan gas yang berbahaya
bagi kesehatan manusia. Apabila dibakar akan menimbulkan
pengotoran udara. Kebiasaan membuang sampah disungai
dapat mengakibatkan pendangkalan sehingga menimbulkan
banjir. Dengan demikian sampah yang tidak dikelola dengan
baik dapat menjadi sumber pencemar pada tanah, badan air
dan udara.
Berdasarkan asalnya, sampah digolongkan dalam dua
bagian yakni sampah organik ( sampah basah ) dan sampah
anorganik ( sampah kering ). Pada tingkat rumah tangga
dapat dihasilkan sampah domestik yang pada umumnya
terdiri dari sisa makanan, bahan dan peralatan yang sudah
tidak dipakai lagi, bahan pembungkus, kertas, plastik, dan
sebagainya.
Teknik pengelolaan sampah yang baik diantaranya
harus memperhatikan faktor-aktor sebagai berikut :
i. Penimbulan sampah.
Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi sampah
adalah jumlah penduduk dan kepadatanya, tingkat
aktivitas, pola kehidupan/tingkat sosial ekonomi, letak
geografis, iklim, musim, dan kemajuan teknologi.
ii. Penyimpanan sampah.
iii. Pengumpulan, pengolahan dan pemanfaatan kembali.
iv. Pengangkutan
v. Pembuangan

3. Indikator penilaian perilaku penghuni rumah meliputi


beberapa parameter sebagai berikut :
a. Kebiasaan mencuci tangan
b. Keberadaan vektor tikus
c. Keberadaan jentik

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor


1457/MENKES/SK/X/2003 Tentang Standar Pelayanan Minimal
Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota pada jenis pelayanan
Penyuluhan Perilaku Sehat pada indikator Rumah Tangga
Sehat target pencapaian sebesar 65%.
Serangga sebagai reservoir (habitat dan suvival) bibit
penyakit yang kemudian disebut sebagai vektor misalnya pinjal
tikus untuk penyakit pes/sampar, Nyamuk Anopheles sp untuk
penyakit Malaria, Nyamuk Aedes sp untuk Demam Berdarah
Dengue (DBD), Nyamuk Culex sp untuk Penyakit Kaki
Gajah/Filariasis.
Penanggulangan/pencegahan dari penyakit tersebut
diantaranya dengan merancang rumah/tempat pengelolaan
makanan dengan rat prof (rapat tikus), Kelambu yang
dicelupkan dengan pestisida untuk mencegah gigitan Nyamuk
Anopheles sp, Gerakan 3 M (menguras mengubur dan
menutup) tempat penampungan air untuk mencegah penyakit
DBD, Penggunaan kasa pada lubang angin di rumah atau
dengan pestisida untuk mencegah penyakit kaki gajah dan
usaha-usaha sanitasi.
Binatang pengganggu yang dapat menularkan penyakit
misalnya anjing dapat menularkan penyakit rabies, kecoa dan
lalat dapat menjadi perantara perpindahan bibit penyakit ke
makanan sehingga menimbulakan diare. Tikus dapat
menyebabkan Leptospirosis dari kencing yang dikeluarkannya
yang telah terinfeksi bakteri penyebab.

D. Komponen Rumah Sehat


Komponen rumah sehat meliputi:
1. Langit-langit
Di bawah kerangka atap atau kuda-kuda biasanya
dipasang penutup yang disebut langit-langit yang tujuannya
antara lain :
a. Untuk menutup seluruh konstruksi atap dan kuda-kuda
penyangga, agar tidak terlihat dari bawah, sehingga ruangan
terlihat rapi dan bersih
b. Untuk menahan debu yang jatuh dan kotoran yang lain juga
menahan tetesan air hujan yang menembus melalui celah-
celah atap
c. Untuk membuat ruangan antara yang berguna sebagai
penyekat sehingga panas atas tidak mudah menjalar
kedalam ruangan dibawahnya.
Adapun persyaratan untuk langit-langit yang baik adalah :
a. Langit-langit harus dapat menahan debu dan kotoran lain
yang jatuh dari atap,
b. Langit-langit harus menutup rata kerangka atap kuda-kuda
penyangga dengan konstruksi bebas tikus
c. Tinggi langit-langit sekurang-kurangnya 2,40 dari
permukaan lantai kecuali,
d. Dalam hal langit-langit/kasau-kasaunya miring sekurang-
kurangnya mempunyai tinggi rumah 2,40 m dan tinggi ruang
selebihnya pada titik terendah titik kurang dari 1,75 m, dan
e. Ruang cuci dan ruang kamar mandi diperbolehkan sekurang-
kurangnya sampai 2,40 m.

2. Dinding
Adapun syarat-syarat untuk dinding antara lain :
a. Dinding harus tegak lurus agar dapat memikul berat sendiri,
beban tekanan angin dan bila sebagai dinding pemikul harus
pula dapat memikul beban diatasnya,
b. Dinding harus terpisah dari pondasi oleh suatu lapisan air
rapat air sekurang-kurangnya 15 cm dibawah permukaan
tanah sampai 20 cm di atas lantai bangunan, agar air tanah
tidak dapat meresap naik keatas, sehingga dinding tembok
terhindar dari basah dan lembab dan tampak bersih tidak
berlumut, dan
c. Lubang jendela dan pintu pada dinding, bila lebarnya kurang
dari 1 m dapat diberi susunan batu tersusun tegak di atas
batu, batu tersusun tegak di atas lubang harus di pasang
balok lantai dari beton bertulang atau kayu awet.
Untuk memperkuat berdirinya tembok bata digunakan
rangka pengkaku yang terdiri dari plester-plester atau balok
beton bertulang setiap luas 12 meter.

3. Lantai
Lantai harus cukup kuat untuk menahan beban diatasnya.
Bahan untuk lantai biasanya digunakan ubin, kayu plesteran,
atau bambu dengan syarat-syarat tidak licin, stabil tidak lentur
waktu diinjak, tidak mudah aus, permukaan lantai harus rata
dan mudah dibersihkan. Macam-macam lantai :
a. Lantai tanah stabilitas.
Lantai tanah stabilitas terdiri dari tanah, pasir, semen,
dan kapur. Contoh : tanah tercampur kapur dan semen.
Untuk mencegah masuknya air kedalam rumah sebaiknya
lantai dinaikkan 20 cm dari permukaan tanah

b. Lantai papan
Pada umumnya lantai papan dipakai di daerah
basah/rawa. Yang perlu diperhatikan dalam pemasangan
lantai adalah :
Sekurang-kurangnya 60 cm di atas tanah dan ruang
bawah tanah harus ada aliran tanah yang baik.
Lantai harus disusun dengan rapid an rapat satu sama
lain, sehingga tidak ada lubang-lubang ataupun lekukan
dimana debu bisa bertepuk. Lebih baik jika lantai seperti
ini dilapisi dengan perlak atau kampal plastik ini juga
berfungsi sebagai penahan kelembaban yang naik dari di
kolong rumah.
Untuk kayu-kayu yang tertanam dalam air harus yang
tahan air dan rayap serta untuk konstruksi di atasnya
agar lantai kayu yang telah dikeringkan dan diawetkan.

c. Lantai ubin
Lantai ubin adalah lantai yang terbanyak digunakan
pada bangunan perumahan karena lantai ubin murah/tahan
lama, dapat mudah dibersihkan dan tidak dapat mudah
dirusak rayap.

4. Jendela kamar tidur, jendela ruang keluarga dan ruang tamu


Jendela dibuka pada siang hari agar cahaya matahari
dapat masuk dan udara dapat berputar sehingga akan
memperkecil resiko penularan penyakit infeksi. Untuk
memperoleh jumlah cahaya matahari pada pagi hari secara
optimal sebaiknya jendela kamar tidur menghadap ke timur.
Luas jendela yang baik paling sedikit mempunyai luas 10-20%
dari luas lantai. Apabila luas jendela melebihi 20% dapat
menimbulkan kesilauan dan panas, sedangkan sebaliknya kalau
terlalu kecil dapat menimbulkan suasana gelap dan pengap.
Dalam ruang kediaman, sekurang-kurangnya terdapat satu
atau lebih banyak jendela/lubang yang langsung berhubungan
dengan udara dan bebas dari rintangan-rintangan, jumlah luas
bersih jendela/lubang itu harus sekurang-kurangya sama 1/10
dari luas lantai ruangan, dan setengah dari jumlah luas
jendela/lubang itu harus dapat dibuka. Jendela/lubang angin itu
harus meluas kearah atas sampai setinggi minimal 1,95 di atas
permukaan lantai. Diberi lubang hawa atau saluran angin pada
ban atau dekat permukaan langit-langit ( ceiling ) yang luas
bersihnya sekurang-kurangnya 5% dari luas lantai yang
bersangkutan. Pemberian lubang hawa/saluran angin dekat
dengan langit-langit beguna sekali untuk mengeluarkan udara
panas dibagian atas dalam ruangan.
Ketentuan luas jendela/lubang angin tersebut hanya
sebagai pedoman yang umum dan untuk daerah tertentu hanya
sebagai pedoman yang umum dan untuk daerah tertentu, harus
disesuaikan dengan keadaan iklim daerah tersebut. Untuk
daerah pegunungan yang berhawa dingin dan banyak angin,
maka luas jendela/lubang angin dapat dikurangi sampai
dengan 1/20 dari luas ruangan. Sedangkan untuk daerah
pantai laut dan daerah rendah yang berhawa panas dan basah,
maka jumlah luas bersih jendela, lubang angin harus
diperbesar dan dapat mencapai 1/5 dari luas lantai ruangan.

5. Ventilasi
Ventilasi adalah proses penyediaan udara segar kedalam
suatu ruangan dan pengeluaran udara kotoran suatu ruangan
tertutup baik alamiah maupun secara buatan. Ventilasi harus
lancar diperlukan untuk menghindari pengaruh buruk yang
dapat merugikan kesehatan manusia pada suatu ruangan
kediaman yang tertutup atau kurang ventilasi. Pengaruh-
pengaruh buruk itu adalah ( Sanropie, 1989 ) :
a. Berkurangnya kadar oksigen diudara dalam ruangan
kediaman,
b. Bertambahnya kadar asam karbon ( CO2 ) dari pernafasan
manusia,
c. Bau pengap yang dikeluarkan oleh kulit, pakaian dan mulut
manusia
d. Suhu udara dalam ruang ketajaman naik karena panas yang
dikeluarkan oleh badan manusia dan
e. Kelembaban udara dalam ruang kediaman bertambah karena
penguapan air dan kulit pernafasan manusia.
Dengan adanya ventilasi silang ( cross ventilation ) akan
terjamin adanya gerak udara yang lancar dalam ruang
kediaman. Caranya ialah dengan memasukkan kedalam
ruangan udara yang bersih dan segar melalui jendela atau
lubang angin di dinding, sedangkan udara kotor dikeluarkan
melalui jendela/lubang angin di dinding yang berhadapan.
Tetapi gerak udara ini harus dijaga jangan sampai terlalu besar
dan keras karena gerak angina atau udara angin yang
berlebihan meniup badan seseorang, akan mengakibatkan
penurunan suhu badan secara mendadak dan menyebabkan
jaringan selaput lendir kan berkurang sehingga mengurangi
daya tahan pada jaringan dan memberikan kesempatan kepada
bakteri-bakteri penyakit berkembang biak, dan selanjutnya
menyebabkan gangguan kesehatan, yang antara lain : masuk
angin, pilek atau kompilasi radang saluran pernafasan. Gejala
ini terutama terjadi pada orang yang peka terhadap udara
dingin. Untuk menghindari akibat buruk ini, maka jendela atau
lubang ventilasi jangan terlalu besar/banyak, tetapi jangan pula
terlalu sedikit.
Jika ventilasi alamiah untuk pertukaran udara dalam
ruangan kurang memenuhi syarat, sehingga udara dalam
ruangankyrang memenuhi syarat, sehingga udara dalam
ruangan akan berbau pengap, maka diperlukan suatu sistem
pembaharuan mekanis. Untuk memperbaiki keadaan ruang
dalam ruangan, system mekanis ini harus bekerja terus
menerus selama ruangan yang dimaksud digunakan. Alat
mekanis yang biasa digunakan/dipakai untuk sistem
pembaharuan udara mekanis adalah kipas angin ( ventilating,
fan atau exhauster ), atau air conditioning.

6. Sarana pembuangan asap dapur


Harus memiliki tempat pembuangan asap dapur seperti
cerobong asap atau terdapat ventilasi yang sesuai untuk
penyaluran asap pada saat memasak di dapur.

7. Pencahayaan
Sanropie ( 1989 ) menyatakan bahwa cahaya yang cukup
kuat untuk penerangan di dalam rumah merupakan kebutuhan
manusia. Penerangan ini dapat diperoleh dengan pengaturan
cahay buatan dan cahaya alam.
a. Pencahayaan alamiah
Pencahayaan alamiah diperoleh dengan masuknya sinar
matahari ke dalam ruangan melalui jendela celah-celah atau
bagian ruangan yang terbuka. Sinar sebaiknya tidak
terhalang oleh bangunan, pohon-pohon maupun tembok
pagar yang tinggi. Kebutuhan standar cahaya lami yang
memenuhi syarat kesehatan untuk kamar keluarga dan
kamar tidur menurut WHO 60-120 Lux. Suatu cara untuk
menilai baik tau tidaknya penerangan alam yang terdapat
dalam rumah, adalah sebagai berikut :
Baik, bila jelas membaca koran dengan huruf kecil;
Cukup, bila samar-samar bila membac huruf kecil ;
Kurang, bila hanya huruf besar yang terbaca dan
Buruk, bila sukar membaca huruf besar.
Pemenuhan kebutuhan cahaya untuk penerangan
alamiah sangat ditentukan oleh letak dan lebar jendela.
b. Pencahayaan buatan
Untuk penerangan pada rumah tinggal dapat diatur
dengan memilih sistem penerangan dengan suatu
pertimbangan hendaknya penerangan tersebut dapat
menumbuhkan suasana rumah yang lebih menyenangkan.
Lampu Flouresen ( neon ) sebagai sumber cahaya dapat
memenuhi kebutuhan penerangan karena pada kuat
penerangan yang relative rendah mampu menghasilkan
cahaya yang bila dibandingkan dengan penggunaan lampu
pijar. Bila ingin menggunakan lampu pijar sebaiknya dipilih
yang warna putih dengan dikombinasikan beberapa lampu
neon.
Untuk penerangan malam hari dala ruangan terutama
untuk ruang baca dan ruang kerja, penerangan minimum
adalah 150 Lux sama dengan 10 watt lampu TL, atau 40 watt
dengan lampu pijar.