Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

BAB IV

PEMELIHARAAN BAY LINE

Salah satu kegiatan yang dilakukan selama PKL di Tragi Panakkukang

adalah Pemeliharaan Bay Line, dimana pada GI Panakkukang terdiri atas 2 Bay

Line yakni Bay Line Tello #1 dan Bay Line Tello #2. Namun, untuk jadwal

pemeliharaan tahun ini dilakukan pada Bay Line Tello #2 disesuaikan pada tahun

genap/ganjil. Pemeliharaan Bay Line Tello #2 dilaksanakan pada tanggal 13

Maret 2016 dimana peralatan pada Bay Line Tello #2 yaitu Lightning Arrester

(LA), Trafo Tegangan/Capacitive Voltage Transformer (CVT), Pemisah(PMS),

Trafo Arus/Current Transformer(CT) dan Pemutus Tenaga (PMT)

1) LIGHTNING ARRESTER (LA) 150 KV BAY LINE TELLO #2

Keterangan gambar

Data teknis LA :

Merk : TRIDELTA

Type : S3 144/10.3-0-A

2) Gambar 4.1 Lightning


WAVE TRAP Arrester
BAY LINE (LA) #2
TELLO

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016


LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

Wavetrap adalah peralatan yang

dipasang pada saluran transmisi

yang berfungsi untuk memblockir

atau meredam frekuensi tinggi yang

ditimbulkan oleh peralatan

komunikasi (PLC) agar tidak masuk

ke peralatan Gardu Induk dan

melewatkan frekuensi 50Hz.

Keterangan gambar

1. Wave trap

2. Support insulator, sebagai

penyangga dan media

tahanan antara konduktor

dan ground
Gambar 4.2 Wave Trap

Keterangan gambar

Data teknis CVT :

Merk : MAGRINI

GALILEO

Type : 170 / 5

Rasio : 150 3 / 110 3

Burden : 50

Class : 1-3P

3) TRAFO TEGANGAN/CAPACITIVE VOLTAGE TRANSFORMER


Gambar 4.3 Capacitive Voltage Transformer (CVT)
(CVT) 150 KV BAY LINE TELLO #2

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016


LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

Keterangan gambar

Data teknis PMS :

Merkn : GEC ALSTHOM

Type : S2 DAT

Rated Current : 800A

4) PEMISAH (PMS) LINE 150 KV BAY LINE TELLO #2


Gambar 4.4 Pemisah (PMS)

Keterangan gambar

Data teknis CT :

Merk : MAGRINI GALILEO

Type : ATHA 170

Rasio : 400,800/5A

Burden: 40 VA

Class : 1,0-5P20

5) TRAFO
GambarARUS / CURRENT
4.5 Current TRANSFORMER
Transformer (CT) (CT) 150 KV BAY

LINE TELLO #2

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016


LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

6) PEMUTUS TENAGA (PMT) 150 KV BAY LINE TELLO #2

Keterangan gambar

Data teknis PMT :

Merk : GEC ALSTHOM

Type : FXT 13

Rated Current : 2000A

Breaking Capacity : 31.5kA

Media Pemadam : SF6

Gambar 4.6 Pemutus Tenaga (PMT)


Secara umum peralatan uji yang digunakan dalam melakukan pemeliharaan

Bay Line 150 kV antara lain Alat Uji Tahanan Kontak (CPC 100), Alat Uji

Tahanan Isolasi (Magger), MultiMeter, Tang Ampere, Alat Uji Keserempakan

(CBA1000) dan Alat Uji Rasio (CPC 100).

Adapun alat pelindung diri (APD) dan peralatan K3 yang digunakan antara lain

Helm Pengaman, Sarung Tangan Safety, Sepatu Safety, Grounding local, Tester

tegangan, dan Rambu-rambu/tagging.

A) Pedoman Pemeliharaan

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016


LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

Pemeliharan dilakukan dengan berdasarkan pedoman pemeliharaan.

Adapun pedoman pemeliharan yaitu sebagai berikut:


a) In Service Inspection
In Service Inspection adalah kegiatan yang dilakukan pada saat peralatan

dalam kondisi operasi/bertegangan. Tujuan dilakukannya In Service Inspection

adalah untuk mendeteksi secara dini ketidaknormalan yang mungkin terjadi di

dalam peralatan tanpa melakukan pemadaman.


Dalam In Service Inspection, dilakukan beberapa pemeriksaan dengan

metode:
- Pengecekan dengan panca indera (visual, penciuman, pendengaran),
- Pengecekan dengan alat ukur sederhana (thermogun, termometer, dan lain-

lain).
Untuk In Service Inspection pada pemeliharaan peralatan dilakukan dengan

periode Harian, Bulanan, 3 Bulanan, 2 tahunan. Selain itu ada beberapa

pemeliharaan yang pelaksanaannya bergantung pada kondisi peralatan tersebut

(kondisional).
b) In Service Measurement
In Service Measurement merupakan pengukuran yang dilakukan pada

periode tertentu dalam keadaan peralatan bertegangan. Pengukuran dan/atau

pemantauan yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui/memonitor kondisi

peralatan dengan menggunakan alat ukur yang advanced (seperti Thermal Image

Thermovision).
Untuk In Service Measurement pada Pemeliharaan Peralatan dilakukan

dengan periode Bulanan dan Kondisional.


c) Shutdown Measurement
Shutdown Measurement merupakan pengukuran yang dilakukan pada

periode 2 tahunan dalam keadaan peralatan tidak bertegangan.Pengukuran ini

dilakukan bertujuan untuk mengetahui kondisi peralatan secara lebih rinci.

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016


LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

B) Pemeliharaan Bay Line 150 kV Tello #2


Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan selama PKL di Tragi Panakkukang

adalah pemeliharaan pada peralatan-peralatan yang termasuk dalam Bay Line

Tello #2 seperti: pemeliharaan pemutus tenaga (PMT), pemeliharaan trafo arus

(CT), pemeliharaan trafo tegangan (PT/CVT), pemeliharaan Lightning Arrester

(LA) dan pemeliharaan pemisah (PMS).

Pemeliharaan yang dilakukan selama magang adalah pemeliharaan dalam

keadaan Shutdown Measurement. Sehingga beban pada Bay Line Tello #2

dialihkan, selama proses pemeliharaan dilakukan. Pemeliharaan Bay Line Tello #2

ini dilakukan dengan kurun waktu tertentu sesuai tahun genap/ganjil.

Sebelum melakukan Kegiatan Pemeliharaan, ada beberapa hal yang harus

diketahui dan menjadi dasar pokok dalam kegiatan OpHar Bay Line yang menjadi

langkah kerja awal sebelum kegiatan manuver dilakukan. Diantara ialah Working

Permit Adapun langkah kerja awal sebelum melakukan pemeliharaan Bay Line

ialah :

1. Menyiapkan working permit (izin dari UPB bahwa peralatan tersebut

sudah bisa dipelihara). Working permit ada (kurang dari 1 minggu sblm

jadwal perawatan).
2. Sebelum melakukan perawatan, Team HAR melakukan JSA (job safety

analisa) dimana JSA dilakukan untuk menganalisa peralatan yang ingin

dipelihara.
3. Sebelum melakukan perawatan, Team HAR menyiapkan peralatan uji serta

material-material yang dibutuhkan berdasarkan hasil JSA.

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016


LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

Gambar 4.7 Persiapkan Alat-Alat Yang Digunakan


4. Melapor ke UPB bahwa Team HAR ingin melakukan perawatan pada

peralatan Bay Line.

Gambar 4.8 Pelaporan ke UPB


5. Setelah mendapat izin dari UPB, operator gardu induk melakukan

maneuver (pembebasan tegangan) berdasarkan perintah dari UPB pada

Bay Line tersebut.


6. Setelah peralatan dinyatakan bebas, jangan lupa di grounding pada

keluaran PMT serta DS Line, ini bertujuan untuk menghilangkan induksi

pada perlaatan Bay Line.


Gambar 4.9 Pemasangan Grounding
7. Setelah peralatan Bay Line aman, sebelum melakukan pemeliharan

terlebih dahulu bedoa bersama serta melakukan pembagian tugas terhadap

Team HAR.

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016


LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

Gambar 4.10 Brifing dan Berdoa

Setelah brifing dan berdoa, dilanjutkan dengan pengujian pada

peralatan Bay Line Tello #2 seperti dibawah ini:

LA : Perbersihan, pengencangan pada baut-baut dan pengujian


tahanan isolasi.
CVT/ PT : Perbersihan, pengencangan pada baut-baut dan pengujian
tahanan isolasi
PMS : Perbersihan, pengencangan pada baut-baut, pengujian
tahanan kontak dan pengujian tahanan isolasi.
CT : Perbersihan, pengencangan pada baut-baut, rasio CT
dan pengujian tahanan isolasi.
PMT : Perbersihan, pengencangan pada baut-baut, pengujian
keserempakan, pengujian tahanan kontak dan pengujian

tahanan isolasi.

1. Pengukuran/Pengujian Tahanan Isolasi

Pengukuran tahanan isolasi pada pemutus tenaga yang kami gunakan

adalah megger isolasi merek Hioki , seperti pada gambar dibawah.


Gambar 4.11 Magger Alat Ukur Tahanan Isolasi

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016


LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

Meger adalah Biasa disebut Meger, untuk mengukur tahanan isolasi

instalasi tegangan menengah maupun tegangan rendah. Untuk instalasi

tegangan menengah digunakan Meger dengan batas ukur Mega sampai Giga

Ohm dan tegangan alat ukur antara 5.000 sampai dengan 10.000 Volt arus

searah. Untuk instalasi tegangan rendah digunakan Meger dengan batas

ukur sampai Mega Ohm dan tegangan alat ukur antara 500 sampai 1.000

Volt arus searah. Ketelitian hasil ukur dari meger juga ditentukan oleh cukup

tegangan batere yang dipasang pada alat ukur tersebut.


Proses pengukuran meliputi kesiapan alat ukur dan kesiapan obyek

yang diukur. Kesiapan alat ukur dapat mengacu pada instruksi kerja masing

masing peralatan uji. Sedangkan kesiapan obyek yang diukur adalah

merupakan kegiatan yang tujuannya membebaskan obyek (misal = PMT)

dari tegangan sesuai Prosedur Pelaksanaan Pekerjaan Pada Insatalasi Listrik

Tegangan Tinggi/Ekstra Tinggi (Dokumen K3/Buku Biru) dan dilanjutkan

dengan pelepasan klem-klem terminal atas dan terminal bawah.


Prosedure Pengujian/Pengukuran yang dilakukan sebagai berikut:

1) Brifing sebelum melakukan kegiatan pemeliharaan


Gambar 4.12 Brifing dan Doa

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016


LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

2) Memastikan kembali pelaksanaan Working Permit dan tugas DCC

telah dijalankan, agar Bay Line yang akan dilakukan Pemeliharaannya

telah aman dan bebas dari tegangan.

Gambar 4.13 Pelaporan Working Permit

3) Memasang grounding.

Gambar 4.14 Pemasangan Grounding Magger

4) Memasang kabel pada sisi positif dan negative alat ukur (Magger).
Gambar 4.15 Pemasangan Kabel Magger

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016


LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

5) Memasang jepitan pada titik pengujian pada peralatan, sesuai perintah

yang terdapat pada tabel pengujian.


Gambar 4.16 Pemasangan Jepitan Pada Titik Pengujian

6) Menekan tombol Power ON-OFF selama 5s dengan menginduksi

tegangan 5 kV.
Gambar 4.17 Menekan Tombol Power ON-OFF

7) Mencatat hasil pengujian pada tabel pengujian.

Tabel 4.1 Tabel Pengujian Tahanan Isolasi PMT

Tabel 4.2 Tabel Pengujian Tahanan Isolasi LA

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016


LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

Tabel 4.3 Tabel Pengujian Tahanan Isolasi CT

Tabel 4.4 Tabel Pengujian Tahanan Isolasi PMS

Tabel 4.5 Tabel Pengujian Tahanan Isolasi CVT/PT

8) Pengujian selesai.

2. Pengukuran/Pengujian Tahanan Kontak

Prinsip dasar pengukuran tahanan kontak adalah sama dengan alat ukur

tahanan murni (Rdc), tetapi pada tahanan kontak arus yang dialirkan lebih besar

I=100 Ampere.

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016


LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

Sambungan antara konduktor dengan PMT atau peralatan lain merupakan

tahanan kontak yang syarat tahanannya memenuhi kaidah Hukum Ohm sebagai

berikut:

E=I.R

Jika didapat kondisi tahanan kontak sebesar 1 Ohm dan arus yang

mengalir adalah 100 Amp maka ruginya adalah:


W = I2 . R
W = 10.000 watts
Dengan cara menurunkan tahanan kontak dengan membuat dan

memelihara nilai tahanan kontak sekecil mungkin. Jadi pemeliharaan tahanan

kontak sangat diperlukan sehingga nilainya memenuhi syarat nilai tahanan kontak.

Pengukuran tahanan kontak ini dilakukan dengan menggunakan alat uji

CPC 100 merk Programma Seperti gambar dibawah ini

Gambar 4.18 Alat Ukur Uji Tahanan Kontak

Cara Pengukuran dalam melakukan pengujian tahanan kontak PMT atau

peralatan lainnya digunakan arus sebesar 100 Amp karena pembagi dengan angka

100 akan memudahkan dalan menentukan nilai tahanan kontak dan lebih cepat.

Harus diperhatikan skala yang digunakan jangan sampai arus yang dibangkitkan

sama dengan batasan skala sehingga kemungkinan akan terjadi overload dan hasil

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016


LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

penunjukan tidak sesuai dengan kenyataannya. Dilakukan 3 kali pengukuran

dengan arus yang digunakan sebesar 100 Amp, 200 Amp, hingga 300 Amp.

Prosedure Pengujian/Pengukuran yang dilakukan sebagai berikut:

1. PMT atau peralatan lain harus dalam keadaan ON/Masuk.


Gambar 4.19 PMT Dalam Keadaan ON

2. Menyiapkan alat uji Programma (MOM) atau CPC100 (OMICRON).

Gambar 4.20 Alat Uji CPC100

3. Memasang grounding.
Gambar 4.21 Pemasangan Grounding

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016


LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

4. Memasang kabel suplay.

Gambar 4.22 Pemasangan Kabel Suply

5. Memasang kabel inject pada titik pengujian pada peralatan yang diuji
Gambar 4.23 Pemasangan Kabel Inject

6. Mengatur nilai arus yang diberikan untuk mengetahui apakah peralatan

tersebut masih baik digunakan diberi arus yang berbeda, seperti langkah

dibawah ini :
a. Menekan tombol ON-OFF
Gambar 4.24 Tombol ON-OFF
b. Mengatur kolom 2 menjadi DC 400A
Gambar 4.25 Mengatur Kolom 2 ke DC 400A
c. Mengatur arus menjadi 100A
Gambar 4.26 Mengatur Arus menjadi 100A

d. Menekan tombol Enter

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016


LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

Gambar 4.27 Mengatur Arus menjadi 100A


e. Menekan tombol I/O
Gambar 4.28 Menekan Tombol I/O
f. Mencatat hasil pengujian pada tabel pengujian

Tabel 4.6 Tabel Pengujian Tahanan Kontak PMT

Tabel 4.7 Tabel Pengujian Tahanan Kontak PMS


g. Melakukan kembali langkah b-d, namun mengganti arus dari 100A

menjadi 200A kemudian 300A


7. Pengujian selesai.

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016


LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

3. Pengukuran/Pengujian Keserempakan PMT

Tujuan dari pengujian keserempakan PMT adalah untuk mengetahui

waktu kerja PMT secara individu serta untuk mengetahui keserempakan PMT

pada saat menutup ataupun membuka.

Berdasarkan cara kerja penggerak, maka PMT dapat dibedakan atas jenis

three pole (penggerak PMT tiga fasa) dan single pole (penggerak PMT satu fasa).

Untuk T/L Bay biasanya PMT menggunakan jenis single pole dengan maksud

PMT tersebut dapat trip satu fasa apabila terjadi gangguan satu fasa ke tanah dan

dapat reclose satu fasa yang biasa disebut SPAR (Single Pole Auto Reclose).

Namun apabila gangguan pada penghantar fasa fasa maupun tiga fasa maka

PMT tersebut harus trip 3 fasa secara serempak. Apabila PMT tidak trip secara

serempak akan menyebabkan gangguan, untuk itu biasanya terakhir ada sistem

proteksi namanya pole discrepancy relai yang memberikan order trip kepada

ketiga PMT pahasa R,S,T.

Hal yang sama juga untuk proses menutup PMT maka yang tipe single

pole ataupun three pole harus menutup secara serentak pada fasa R,S,T, kalau

tidak maka dapat menjadi suatu gangguan didalam system tenaga listrik dan

menyebabkan system proteksi bekerja.

Pada waktu PMT trip akibat terjadi suatu gangguan pada system tenaga

listril diharapkan PMT bekerja dengan cepat sehingga clearing time yang

diharapkan sesuai standard SPLN No 52-1 1983 untuk system 70 KV = 150 milli

detik dan SPLN No 52-1 1984 untuk system 150 kV = 120 milli detik, dan final

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016


LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

draft Grid Code 2002 untuk system 500 kV = 90 milli detik dapat terpenuhi.

Prosedure Pengujian/Pengukuran yang dilakukan sebagai berikut:

1. Memasang grounding.
Gambar 4.29 Memasang Grounding

2. Memberi supply ke alat uji.


Gambar 4.30 Memberi Supply Ke Alat Uji

3. Menekan tombol ON/OFF.


Gambar 4.31 Menekan Tombol ON/OFF
4. Setelah alat stand by, selanjutnya memasang kabel pada wiring box PMT

dan alat ukur CBA1000.


Gambar 4.32 Pemasangan Kabel pada Wiring Box PMT dan Alat Ukur CBA1000

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016


LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

5. Memasang kabel pada atas-bawah PMT (ketiga fasa : R, S, T).


Gambar 4.33 Pemasangan Kabel pada Atas-Bawah PMT
6. Melakukan pengujian keserempakan dimana seperti prosedur dibawah ini :
a. Memposisikan sel pada Close (C), dengan menekan tombol SEL
Gambar 4.34 Sel pada Posisi Close (C)
b. Menekan tombol Start, kemudian akan muncul hasilnya pada

monitor CBA1000

Gambar 4.35 Menekan Tombol Start


c. Mencatat hasil pada lembar pengujian

Tabel 4.8 Tabel Pengujian Keserempakan PMT

d. Mengubah posisi sel dari Close (C) menjadi Open (O), dengan

menekan tombol SEL

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016


LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

Gambar 4.36 Sel pada Posisi Open (O)


e. Menekan tombol Start, kemudian akan muncul hasilnya pada

monitor CBA1000
Gambar 4.37 Menekan Tombol Start
f. Mencatat hasil pada lembar pengujian

Tabel 4.9 Tabel Pengujian Keserempakan PMT


7. Pengujian selesai
4. Pengujian/Pengukuran Rasio
Pengukuran ratio bertujuan untuk membandingkan nilai ratio hasil

pengukuran dengan nilai pada nameplate.


POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016
LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

Gambar 4.38 Pengujian Ratio dengan Metode Tegangan

Pada sisi sekunder diinjeksikan tegangan yang sesuai, dibawah tegangan

saturasi (knee voltage) dan pada sisi primer diukur tegangan menggunakan

voltmeter skala rendah dengan impedansi tinggi (20 000 /V atau lebih). Ratio

belitan mendekati sama dengan ratio tegangan yaitu membandingkan tegangan di

sisi primer dengan tegangan disisi sekunder.

Gambar 4.39 Pengujian Ratio dengan Metode Arus


Pengujian ini menggunakan alat uji injeksi arus (high current test injection),

dilakukan dengan mengatur catu daya pada alat uji sesuai dengan nilai yang diinginkan

serta mencatat arus pada sisi sekunder kedua CT. rasio dari CT adalah sama dengan rasio

dari CT referensi yang dikalikan rasio antara arus sisi sekunder CT referensi dengan arus

sisi sekunder CT yang diuji, seperti persamaan :

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016


LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

NT : Rasio CT yang diuji

NR : Rasio CT referensi

IR : Arus CT referensi

IT : Arus CT yang diuji (~ nominal)

Prosedure Pengujian/Pengukuran yang dilakukan sebagai berikut:

1. Memasang grounding.
Gambar 4.40 Pemasangan Grounding

2. Memasang kabel pada titik pengujian peralatan.


Gambar 4.41 Pemasangan Kabel pada Peralatan
3. Mengatur nilai arus primer yang diberikan untuk mengetahui apakah

peralatan masih bekerja.

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016


LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

Gambar 4.42 Pengaturan Nilai Arus yang Akan Diinjeksikan


4. Menekan tombol Enter
Gambar 4.43 Menekan Tombol Enter

5. Menekan tombol I/O


Gambar 4.44 Menekan Tombol I/O
6. Melihat nilai arus sekunder dengan tang ampere pada box CT.
Gambar 4.45 Melihat Nilai Arus Sekunder pada Tang Ampere
7. Mencatat hasil pada tabel pengujian.

Tabel 4.10 Tabel Pengujian Rasio CT


8. Pengujian selesai.

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016


LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

Hasil Pengujian Secara Keseluruhan


1) Pemutus Tenaga (PMT)
Tabel 4.11 Tabel Pengujian PMT
2) Pemisah (PMS)

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016


LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

Tabel 4.12 Tabel Pengujian PMS


3) Lightning Arrester ( LA )

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016


LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

Tabel 4.13 Tabel Pengujian LA


4) Trafo Tegangan/Capacitive Voltage Transformer (CVT/PT)
Tabel 4.14 Tabel Pengujian CVT/PT

5) Trafo Arus/Current Transformer (CT)

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016


LAPORAN MAGANG

PT. PLN (Persero) Unit Transmisi dan


Gardu Induk Panakkukang

Tabel 4.15 Tabel Pengujian CT

POLITEKNIK NEGERI UJUNG PANDANG 2016