Anda di halaman 1dari 4

TEORI-TEORI MEDIA

Dalam kehidupan sehari-hari, sangat erat kaitannya dengan media. Seperti, media
cetak, media elektronik, media massa, media film, media pendidikan, dan sebagainya.
Di sisi lain, masyarakat hanya mengetahui tentang media tersebut saja dan masih
ambang dengan tujuan adanya penggunaan media.
Media merupakan suatu alat/ perantara komunikasi yang menghubungkan antara
pihak yang satu dengan pihak yang lain dengan tujuan agar informasi dapat
tersampaikan.
Media merupakan sesuatu yang menjadi titik pusat perhatian masyarakat dalam
menerima informasi. Dengan adanya media yang menarik dan sesuai tentu akan
mempermudah tersampainya informasi kepada masyarakat.
Dalam memahami sebuah media tentunya ada banyak teori-teori yang
menjelaskan tentang media-media dalam kehidupan. Beberapa teori-teori tentang media
adalah sebagai berikut :
1. Teori Uses and Gratifications (Kegunaan dan Kepuasan)
Teori ini pertama diperkenalkan oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz pada
tahun 1974. Pada teori ini, berarti pengguna media aktif dalam mencari informasi
yang dianggap perlu bagi mereka dan dapat memenuhi serta dapat memberikan
kepuasan dalam diri mereka.
Seperti halnya, seorang mahasiswa, mereka akan mencari informasi atau bahan
pelajaran yang sesuai dengan mata kuliahnya agar dapat menambah wawasan
mereka dengan cara membaca di buku, internet atau yang lainnya dengan tujuan
agar mereka tidak tertinggal dan dapat memberi argumen-argumen yang sesuai
dengan mata kuliahnya.

2. Teori Uses and Effects


Teori yang dikemukakan oleh Sven Windahl tahun 1979. Maksud teori ini
adalah penggunaan media akan memberikan pemahaman dan perkiraan tentang hasil
dari suatu proses komunikasi massa. Jadi, dalam teori ini pengguna akan sangat
mudah dipengaruhi oleh penggunaan media.
Contohnya, tuduhan kasus penistaan agama. Kebanyakan dari masyarakat
pengguna media akan men-judge bahwa pelakunya adalah orang yang tidak baik.
Padahal belum tentu masyarakat mengetahui seluk beluk kasus tersebut.

3. Teori Agenda Setting


Teori ini diperkenalkan oleh McCombs dan DL Shaw, tahun 1972. Pada teori
ini, menjelaskan bahwa peranan media sangatlah penting. Media bertugas
memberikan penekan terhadap suatu informasi sehingga pengguna media akan
menganggap bahwa informasi tersebut adalah penting. Bisa jadi karena
diinformasikan secara berulang-ulang dan sebagainya. Sehingga apa yang ada
dimedia itu adalah informasi yang penting bagi masyarakat. Dalam teori ini
berkaitan dengan proses belajar bukan dengan perubahan sikap dan pendapat.
Misalnya, kasus yang belum lama tayang di televisi yaitu kasus kopi sianida.
Kasus tersebut dianggap penting karena media sering menginformasikan kelanjutan
dari sidang-sidangnya. Jadi, siapa saja yang tidak menyaksikan kasus tersebut akan
dikatakan kurang up-date. Dengan adanya kasus tersebut masyarakat menjadi tahu
tentang sianida dan bahayanya.
4. Teori Media Klasik
Dikemukakan oleh Mcluhan dan Inis. Maksud dari teori ini yaitu media
menjadi sebuah pikiran manusia yang diciptakan untuk memaksakan manusia
dikuasai oleh manusia media.
Belakang ini sedang digemparkan oleh artis bollywod salah satunya dalam
sinetron Uttaran. Tokoh Icha dan Feer sangat dikagumi oleh banyak masyarakat
karena media selalu menyorot kehidupan dan karirnya.

5. Teori Media Baru


Teori ini memiliki dua pandangan; pertama, pandangan interaksi social. Kedua,
pandangan integritas social.
Media menayangkan berita tentang Malaysia yang akan meminta hak paten
batik sebagai kebudayaannya, yang kemudian menggugah masyarakat Indonesia
tentang kepemilikan batik. Batik adalah kebudayaan Indonesia dan masyarakat
menentukan hari pemakaian batik supaya adanya rasa memiliki kebudayaan batik.

6. Teori Pengharapan Nilai (The Expectacy-Value Theory)


Diciptakan oleh Phillip Palmgreen. Kepuasan yang dicari dalam media
ditentukan oleh sikap terhadap media, kepercayaan tentang apa yang medium
berikan dan evaluasi terhadap hal tersebut.
Masyarakat akan gemar menonton film action jika menyukainya, namun
sebaliknya masyarakat akan mencari bahan media yang lain jika mereka tidak
menyukainya.

7. Teori Pendekatan Social (Social Scientific Theory)


Berdasarkan pada pernyataan yang berkaitan dengan sifat dasar, cara kerja, dan
pengaruh komunikasi massa, dengan sumber observasi objektif.
Anak-anak akan meniru gaya idolanya. Misalnya, film anak Syifa mereka
akan gemar bersepeda dengan berbagai atraksi-atraksi yang dilakukan oleh Syifa
dalam filmnya.

8. Teori Ketergantungan (Dependency Theory)


Diutarakan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin Defleur. Masyarakat
memiliki ketergantungan terhadap suatu informasi yang berasal dari media massa,
namun rasa ketergantungannya sesuai dengan kondisi sosial masing-masing. Rasa
ketergantungan tersebut bertujuan untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Masyarakatlah yang memilih ketergantungan tersebut, bukan lagi sumber media
yang menciptakan rasa ketergantungannya.
Si kaya dan si miskin akan berbeda ketika mereka ingin mencari informasi/
berita harian. Si kaya lebih suka membaca koran sebagai sumber beritanya dan si
miskin akan mencari berita di televisi.

9. Teori Persamaan Media


Teori ini masih relatif baru. Dalam teori ini, secara tidak langsung masyarakat
terbawa ke dalam media.
Masyarakat dapat berkomentar secara langsung melalui situs yang disediakan
media, agar seolah-olah masyarakat terbawa dalam media dan media menjadi lawan
bicaranya.

10. Teori Kultivasi


Pada teori ini media dianggap mampu mengirimkan pesan ke setiap pengguna
media yang dikandung di dalamnya. Salah satunya adalah media televisi. Dengan
adanya media televisi masyarakat bisa menyaksikan berita, sinetron, iklan, dan
sebagainya kapanpun dan dimanapun mereka berada.

Oleh : Manusatul Khaoro/ 15115562/ Media Pembelajaran/ Tema 1/ Fak.Tarbiyah/


IAINU KEBUMEN/ 2017.
Sumber :
https://qoechil.wordpress.com/2012/05/06/teori-teori-media/ Minggu/13:08/05-03-2017
http://reginaprafitasari.blogspot.co.id/2012/12/normal-0-false-false-false-en-us-x-
none.html?m=1/ Minggu/14:48/05-03-2017