Anda di halaman 1dari 23

ANALISIS INTAKE

SULFUR DIOKSIDA (SO2) DAN NITROGEN DIOKSIDA (NO2)


PADA PEDAGANG KAKI LIMA DI TERMINAL X

Oleh :

FAUZI HAMZAH 151411713043

D-III HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA


FAKULTAS VOKASI
UNIVERSITAS AIRLANGGA
2015
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI................................................................................................
DAFTAR TABEL........................................................................................
DAFTAR GAMBAR...................................................................................
BAB I PENDAHULUAN............................................................................ 1
1.1 Latar Belakang........................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah...................................................................... 1
1.3 Tujuan......................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..................................................................
2.1 Pencemaran Udara......................................................................
2.2 Bahan Karsinogen dan Non-Karsinogen...................................
2.1.1 Bahan kimia karsinogen...................................................
2.1.2 Bahan kimia non-karsinogen............................................
2.3 Karakteristik Sulfur Dioksida (SO2)...........................................
2.3 Karakteristik Nitrogen Dioksida (NO2)......................................
BAB III PEMBAHASAN............................................................................
3.1 Karakteristik Responden............................................................
3.2 Perhitungan Intake Bahan Kimia dalam Tubuh.........................
3.2.1 Konsentrasi NO2 dan SO2...........................................
3.3 Tingkat Risiko Non-karsinogenik (RQ)Pada SO2......................
3.4 Tingkat Risiko Non-karsinogenik (RQ)Pada NO2..................................
3.5 Analisis Hasil Perhitungan ........................................................
3.6 Rekomendasi Berdasarkan Waktu Pajanan Aman (Dt)..............
BAB IV PENUTUP.....................................................................................
4.1 Kesimpulan ...............................................................................
4.2 Saran...........................................................................................
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................
LAMPIRAN ..............................................................................................
DAFTAR TABEL

Tabel 1 Efek NO2 pada Konsentrasi Tertentu.............................................


Tabel 2. Distribusi jenis kelamin,Berat Badan, Waktu Pajanan,
Frekuensi Pajanan, dan Duras Pajanan.........................................................
Tabel 3. Hasil pengukuran NO2 dan SO2 di terminal X...............................
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.Sumber Pencemaran Udara .......................................................
Gambar 2. Simbol Bahan Karsinogeni.......................................................
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pencemaran udara kini menjadi masalah utama di dunia, terutama bagi


negara negara yang sedang berkembang (WHO,1997). Tingkat urbanisasi
penduduk sehakin tahun semakin tumbuh pesat, terutama di negara-negara
berkembang. Hal ini juga berdampak pada tingkat pencemaran udara dikota-
kota besar.

Terminal merupakan suatu lokasi yang menghasilkan polusi udara akibat


dari kegiatan transportasi yang dilakukan. Asap kendaraan merupakan salah
satu sumber pencemaran udara di luar ruangan yaitu berasal dari sektor
transportasi. Dimana dalam penggunaan BBM (Bahan Bakar Minyak ) atau
BBG (Bahan Bakar Gas) pada transportasi akan mengemisikan debu SPM
(Suspended Particulate Metter) SO2, NO2, debu TSP, debu PM10, dan Pb.
(Nukman dkk, 2005). Di Indonesia saat ini konsumsi bensin telah lebih dari 12
juta kL per tahun yang menyebabkan udara kota-kota besar semakin tercemar.

Salah satu hasil buang kendaraan bermotor yang patut diwaspadai adalah
NO2 dan SO2. Pada konsentrasi tertentu NO2 dan SO2 dapat memberikan efek
terhadap gangguan kesehatan misalnya gangguan pernafasan, iritasi
tenggorokan dan iritasi mata.

Oleh karena dampak merugikan yang dapat ditimbulkan dari NO 2 dan


SO2tehadap manusia , perlu adanya studi tentang analisis dampak dan resiko
paparan NO2 dan SO2. Terutama pada orang dengan resiko tinggi terpapar
yakni pada pedagang kaki lima di terminal.

1.2 Rumusan Masalah

1. Berapa intake NO2 dan SO2 pada pedagang kaki lima di terminal X ?

2. Bagaimana tingkat resiko (RQ) dari orang yang terpapar ?


3. Apa rekomendasi yang dapat diberikan pada orang yang terpapar ?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui Intake NO2 dan SO2 pada pedagang kaki lima di terminal X

2. Mengetahui tingkat resiko (RQ) dari orang yang terpapar

3. Memberikan rekomendasi yang dapat diberikan pada orng yang terpapar


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Pencemaran Udara

Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia,
atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan
manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau
merusak properti. Atau dalam kata lain dapat diartikan sebagai perusakan terhadap
udara karena disebabkan oleh berbagai sumber yang dapat merusak bagi
kesahatan makhluk hidup maupun benda mati. Pencemaran udara dapat
bersumber dari berbagai macam, antara lain : asap kendaraan bermotor, asap
pabrik, limbah indutri, limbah rumah tangga dan lain-lain.
Gambar 2. Sumber Pencemaran udara
(Sumber : irfanprasayulannisarica.files.wordpress.com)
Pencemaran udara pada saat ini sudah mencapai tingkat mengkhawatirkan,
karena didukung oleh perkembangan dunia industri, banyaknya manusia yang
tinggal didunia ini dapat menjadikan pencemaran udara semakin meningkat.
Terlebih-lebih di Indonesia, pencemaran udara di Indonesia sudah sangat
mengkhawatirkan, pencemaran asap kendaraan bermotor menjadi sumber yang
paling utama pencemaran udara di Indonesia, jumlah kendaraan bermotor yang
tidak seimbang dengan jumlah pepohonan yang ada di Indonesia mejadi salah satu
penghambat terjadinya pertukaran udara di Indonesia. Ilegal logging menjadi
salah satu hal yang sangat perngaruh terhadap pencemaran udara di Indonesia,
kasus illegal logging yang meningkat dan juga kurangnya lahan diperkotaan
menjadi sumber utama masalah udara di Indonesia. Efek dari pencemaran udara
juga sudah dapat dirasakan pada saat ini, banyaknya penyakit yang bersumber dari
udara, peningkatan jumlah pengidap ispa dan juga bertambahnya jumlah orang
yang tua sebelum waktunya menjadi efek negatif dari pencemaran udara.

2.2 Bahan Kimia Karsinogenik dan Non-Karsinogenenik

2.2.1 Bahan kimia karsinogenik


Bahan kimia karsinogenik adalah substansi atau zat yang dapat
menyebabkan kanker atau meningkatkan resiko timbulnya kanker. Kanker
sendiri terjadi akibat perubahan (mutasi) gen (DNA) dari sel-sel tubuh sehingga
berkembang menjadi sel abnormal yang tidak akan mati dan tumbuh tanpa bisa
dikendalikan.Menurut Organisasi Kessehatan Dunia (WHO), setiap tahun
jumlah penderita kanker di duni bertambah 6,25 juta orang. Dalam 10 tahun
mendatang diperkirakan 9 juta orang akan meninggal setiap tahun akibat kanker.
Dua pertiga dari penderita kanker di dunia akan berada di negara-negara yang
sedang berkembang.

Gambar 1. Simbol bahan karsinogenik

Menurut Permenakertrans Nomor Per.13/Men/X/2011 Tahun 2011 Tentang


Nilai Ambang Batas Faktor Fisika Dan Faktor Kimia di Tempat Kerja, Bahan-
bahan kimia yang bersifat karsinogen, dikategorikan sebagai berikut :
1. A-1 Terbukti karsinogen untuk manusia (Confirmed Human Carcinogen).
Bahanbahan kimia yang berefek karsinogen terhadap manusia, atas dasar
bukti dari studi-studi epidemologi atau bukti klinik yang meyakinkan,
dalam pemaparan terhadap manusia yang terpajan.

2. A-2 Diperkirakan karsinogen untuk manusia (Suspected Human


Carcinogen). Bahan kimia yang berefek karsinogen terhadap binatang
percobaan pada dosis tertentu, melalui jalan yang ditempuh, pada lokasi-
lokasi, dari tipe histologi atau melalui mekanisme yang dianggap sesuai
dengan pemaparan terhadap tenaga kerja terpajan. Penelitian epidemologik
yang ada belum cukup membuktikan meningkatnya risiko kanker pada
manusia yang terpajan.

3. A-3 Karsinogen terhadap binatang. Bahan-bahan kimia yang bersifat


karsinogen pada binatang percobaan pada dosis relatif tinggi, pada jalan
yang ditempuh, lokasi, tipe histologik atau mekanisme yang kurang sesuai
dengan pemaparan terhadap tenaga kerja yang terpapar.

4. A-4 Tidak diklasifikasikan karsinogen terhadap manusia. Tidak cukup data


untuk mengklasifikasikan bahan-bahan ini bersifat karsinogen terhadap
manusia ataupun binatang.
5. A-5 Tidak diperkirakan karsinogen terhadap manusia.

2.2.1 Bahan kimia non-karsinogenik


Bahan kimia non-karsinogenik adalah substansi atau zat yang tidak dapat
menyebabkan kanker atau meningkatkan resiko timbulnya kanker. Namun
tetap dapat menimbulkan efek merugikan terhadap manusia yang terpapar
langsung. Seperti gangguan pernafasan, iritasi tenggorokan dan iritasi mata.

2.3 Karakteristik Sulfur Dioksida (SO2)

Sulfur dioksida adalah salah satu jenis dari gas-gas oksida sulfur (SOx). Gas
ini sangat mudah terlarut dalam air, memiliki bau, dan tidak berwarna.
Sebagaimana O3, pencemar sekunder yang terbentuk dari SO2, seperti partikel
sulfat, dapat berpindah dan terdeposisi jauh dari sumbernya. SO 2 dan gas-gas
oksida sulfur lainnya terbentuk saat terjadi pembakaran bahan bakar fosil yang
mengandung sulfur. Sulfur sendiri terdapat dalam hampir semua material mentah
yang belum diolah seperti minyak mentah, batu bara, dan bijih-bijih yang
mengandung metal seperti alumunium, tembaga, seng, timbal, dan besi. Di
daerah perkotaan, yang menjadi sumber sulfur utama adalah kegiatan pemangkit
tenaga listrik, terutama yang menggunakan batu bara ataupun minyak diesel
sebagai bahan bakarnya, juga gas buang dari kendaraan yang menggunakan
diesel dan industri-industri yang menggunakan bahan bakar batu bara dan
minyak mentah.

Pencemaran SOx diudara terutama berasal dari pemakaian batu bara yang
digunakan pada kegiatan industri, transportasi, dan lain sebagainya. Belerang
dalam batu bara berupa mineral besi peritis atau FeS 2 dan dapat pula berbentuk
mineral logam sulfida lainnya seperti PbS, HgS, ZnS, CuFeS 2 dan Cu2S. Dalam
proses industri besi dan baja (tanur logam) banyak dihasilkan SOx karena
mineral-mineral logam banyak terikat dalam bentuk sulfida. Pada proses
peleburan sulfida logam diubah menjadi oksida logam.

2.4 Karakteristik Nitrogen Dioksida (NO2)


Oksida Nitrogen (NOx) adalah kelompok gas nitrogen yang terdapat di
atmosfir yang terdiri dari nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO 2).
Walaupun ada bentuk oksida nitrogen lainnya, tetapi kedua gas tersebut yang
paling banyak diketahui sebagai bahan pencemar udara. Nitrogen monoksida
merupakan gas yang tidak berwarna dan tidak berbau sebaliknya nitrogen
dioksida berwarna coklat kemerahan dan berbau tajam. Nitrogen monoksida
terdapat diudara dalam jumlah lebih besar daripada nitrogen dioksida.
Pembentukan NO dan NO2 merupakan reaksi antara nitrogen dan oksigen
diudara sehingga membentuk NO, yang bereaksi lebih lanjut dengan lebih
banyak oksigen membentuk NO2.
Udara terdiri dari 80% Volume nitrogen dan 20% Volume oksigen. Pada
suhu kamar, hanya sedikit kecendrungan nitrogen dan oksigen untuk bereaksi
satu sama lainnya. Pada suhu yang lebih tinggi (di atas 1210C) keduanya dapat
bereaksi membentuk NO dalam jumlah banyak sehingga mengakibatkan
pencemaran udara. Dalam proses pembakaran, suhu yang digunakan biasanya
mencapai 1210 1.765 C, oleh karena itu reaksi ini merupakan sumber NO
yang penting. Jadi reaksi pembentukan NO merupakan hasil samping dari proses
pembakaran.
Oksida nitrogen seperti NO dan NO2 berbahaya bagi manusia. Penelitian
menunjukkan bahwa NO2 empat kali lebih beracun daripada NO. Selama ini
belum pernah dilaporkan terjadinya keracunan NO yang mengakibatkan
kematian. Diudara ambien yang normal, NO dapat mengalami oksidasi menjadi
NO2 yang bersifat racun. NO2 bersifat racun terutama terhadap paru. Kadar NO 2
yang lebih tinggi dari 100 ppm dapat mematikan sebagian besar binatang
percobaan dan 90% dari kematian tersebut disebabkan oleh gejala
pembengkakan paru ( edema pulmonari ). Kadar NO2 sebesar 800 ppm akan
mengakibatkan 100% kematian pada binatang-binatang yang diuji dalam waktu
29 menit atau kurang. Pemajanan NO2 dengan kadar 5 ppm selama 10 menit
terhadap manusia mengakibatkan kesulitan dalam bernafas.

Tabel 1. Efek NO2 pada Konsentrasi Tertentu


Sumber : (http://komposisi.sains.lapan.go.id/htm/so2.htm)
Efek Konsentrasi NO2 waktu terjadi
efek
mg/m3 ppm

batas timbul bau 0.23 0.12 Segera

batas pada adaptasi 0.14 0.075 tidak dilaporkan


gelap

peningkatan resisten 0.5 0.26 tidak dilaporkan


pada udara bebas
1.3-3.8 0.7-2.0 20 menit

3.0-3.8 1.6-2.0 15 menit

2.8 1.5 45 menit

3.8 2 45 menit

5.6 3 45 menit

7.5-9.4 4.0-5.0 40 menit

9.4 5 15 menit

11.3-75.2 6.0-40.0 5 menit

penurunan kapasitas 7.5-9.4 4.0-5.0 15 menit


difusi paru-paru

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Karakteristik Responden

Responden berasal dari pedagang kaki lima yang berjualan di area


terminal. Dalam pengeompokan responden dilihat dari beberapa variabel yakni
jenis kelamin,berat daban, lama bekrja perhari , dan durasi kerja dalam tahun.

Tabel 2.
Distribusi jenis kelamin, Berat Badan, Waktu Pajanan, Frekuensi Pajanan,
dan Durasi Pajanan

Variabel N %
Jenis Kelamin
Laki- Laki 64 76,19
Perempuan 20 23,8

Berat Badan (kg)


65,57 46 54,8
> 65,57 38 45,2
Waktu Pajanan (jam/hari)
8 46 54,8
>8 38 45,2
Frekuensi Pajanan (hari/tahun)
362 83 98,8
> 362 1 1,2
Durasi Pajanan (tahun)
10 48 57,1
> 10 36 42,9
Laju Respirasi (R)
0,83 m3/jam

3.2 Perhitungan Intake NO2 dan SO2 dalam Tubuh

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan perhitungan analisis risiko


untuk mengetahui nilai asupan (Intake) dan besaran tingkat risiko paparan (Risk
Quotient). Asupan paparan Nitrogen Dioksida (NO 2) dan Sulfur Dioksida (SO2)
pada pedagang dapat dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:

C R t e F e Dt
=
W b t Avg

Keterangan :
I : Intake (asupan), jumlah risk agent yang diterima individu per satuan berat
badan setiap hari (m3/Kg/hari)
C: Konsentrasi risk agent, NO2 dan SO2 di udara (mg/m3)
R: Laju (rate) asupan. Untuk inhalasi (0,83 m3/jam)
t e : Waktu pajanan per hari (jam/hari)

Fe : Frekuensi pajanan tahunan (hari/tahun)

Dt: Durasi pajanan, real time atau 30 tahun proyeksi


Wb : Berat badan (Kg)

t Avg : Periode waktu rata-rata, 30 tahun x 365 hari / tahun .(non

karsinogenik) atau 70 tahun x 365 hari / tahun (karsinogenik).

Setelah diperoleh nilai asupan paparan, maka dilakukan perhitungan


kembali untuk menghitung besaran tingkat risiko (risk quotient) yang diterima
pekerja akibat paparan (SO2) sulfur dioksida. Sesuai dengan karakteristik sulfur
dioksida yang tidak menyebabkan kanker, maka data disebut tingkat risiko non-
karsinogenik. Perhitungan menggunakan rumus berikut:


RQ= RfC

I = Intake hasil perhitungan penilaian pajanan (mg/kg/hari)

RfC = Dosis zat kimia yang memajani manusia melalui jalur inhalasi
(mg/kg/hari)

3.2.1 Konsentrasi Nitrogen Dioksida (NO2) dan Sulfur Dioksida (SO2)

Konsentrasi Nitrogen Dioksida (NO2) dan Sulfur Dioksida (SO2) diperoleh


melalui pengukuran di 4 titik yang telah ditentukan. Pengukuran Nitrogen
Dioksida (NO2) yang dilakukan di Terminal X mengacu pada SNI 19-7119.2-
2005 yang mengatur tentang cara uji kadar nitrogen dioksida (NO 2), yakni
pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat Midget Impinger dan
menggunakan metode Griess Saltzman, serta teknik analisis spectrophotometer.
Nilai rata rata konsentrasi Nitrogen Dioksida (NO2) di Terminal X adalah
46,637 g/Nm3 atau setara dengan 0,0466 mg/m3.
Sedangkan untuk pengukuran Sulfur Dioksida (SO2) dilakukan di Terminal
X mengacu pada SNI 19-7119.7-2005 yang mengatur tentang cara uji kadar
Sulfur Dioksida (SO2), yakni pengukan dilakukan dengan menggunakan alat
Midget Impinger dan menggunakan metode pararosanilin, serta teknik
analisis spectrofotometer. Nilai rata rata konsentrasi Sulfur Dioksida (SO 2) di
X adalah 229,8g/Nm3 atau setara dengan 0,2298 mg/m3.
Tabel 3.

Hasil pengukuran NO2 dan SO2 di terminal X

Konsentrasi NO2 46,637 g/Nm3 0,0466 mg/m3


Konsentrasi SO2 229,8g/Nm3 0,2298 mg/m3

3.3 Tingkat Risiko Non-karsinogenik (RQ) Pada SO2

Besaran tingkat risiko non-karsinogenik ini diperoleh melalui perhitungan


asupan yang kemudian dibandingkan dengan nilai References of
Concentration (RQ).

Contoh Perhitungan RQ pada salah satu responden :

Wb
Diketahui responden dengan berat badan ( ) sebesar 64 kg,

te
konsentrasi sulfur dioksida (C) 0,2298 mg/m3, yang bekerja selama ( ) 10

Fe
jam/hari, ( ) 362 hari/minggu dan sudah berdagang selama (Dt) 42 tahun,

dengan nilai Rfc SO2 0,026 mg/kg-hari, maka intake paparan sulfur dioksida
pada pedagang tersebut adalah :

C R t e F e Dt
=
W b t Avg
3
mg m jam hari
0,22298 3 0,83 10 362 42tahun
m jam hari minggu
I=
64 Kg(30 tahun365 hari)

I = 0,04138 mg/kg/hari


RQ= RfC

0,04138mg /Kg/hari
RQ = 0,026 mg/Kg/hari

RQ = 1,5915

3.4 Tingkat Risiko Non-karsinogenik (RQ) Pada NO2

Wb
Diketahui responden dengan berat badan ( ) sebesar 64 kg,

te
konsentrasi sulfur dioksida (C) 0,0466 mg/m3, yang bekerja selama ( ) 10

Fe
jam/hari, ( ) 362 hari/minggu dan sudah berdagang selama (Dt) 42 tahun,

dengan nilai Rfc NO2 2 102 mg/kg-hari, maka intake paparan sulfur

dioksida pada pedagang tersebut adalah :

C R t e F e Dt
=
W b t Avg
3
mg m jam hari
0,0466 3 0,83 10 362 42tahun
m jam hari minggu
I=
64 Kg(30 tahun365 hari)

5
I = 2,31 10 mg/kg/hari


RQ= RfC

2,31 105
RQ = 2 10
2

3
RQ = 1,15 10

3.5 Analisis Hasil Perhitungan

Tingkat risiko non-karsinogenik dinyatakan dengan istilah risk quotient


(RQ) mempunyai kategori level yang menyatakan responden berisiko atau
tidak berisiko non-karsinogenik akibat paparan agen risiko. Kategori ini
dinotasikan dalam bentuk RQ 1 untuk yang tidak berisiko, dan kategori
berisiko yang dinyatakan dalam RQ >1.

Bersarkan hasil perhitungan yang sudah dilakukan terhadap salah satu


responden yang terpapar oleh SO2 dan NO2 diperoleh nilai RQ dari SO2 1,5915
3
dan RQ NO21,15 10 . Artinya, kawasan Terminal X yang mengandung

0,2298 mg/m3 sulfur dioksida dan 0,0466 mg/m3konsentrasi NO2 tidak aman
(non-karsinogenik) karena nilai RQ yang diperoleh dari hasil perhitungan
yakni RQ >1 , bagi pedagang dengan laju inhalasi 0,83 /jam selama 362
hari/tahun dalam jangka waktu 42 tahun dan miliki berat badan 62 Kg.
3.6 Rekomendasi Berdasarkan Durasi Pajanan Aman (Dt)

Untuk menentukan batas pajanan aman bagi responden dapat diperoleh


dengan menggunakan rumus Dt aman yakni :

RfC W b t Avg
Dt=
C R t e F e

0,026 mg / Kg/ hari 64 30 365


Dt= 3
mg m jam hari
0,22298 3 0,83 10 362
m jam hari minggu

18220,8
Dt=
669,96

Dt=27,19 tahun

Berdarkan perhitungan batas pajanan aman (Dt aman) bagi pekerja dengan

Wb
dengan berat badan ( ) sebesar 64 kg, konsentrasi sulfur dioksida (C) 0,2298

te Fe
mg/m3, yang bekerja selama ( ) 10 jam/hari, ( ) 362 hari/minggu dan

sudah berdagang selama 42 tahun, dengan nilai Rfc SO2 0,026 mg/kg-hari.
Diperoleh waktu pajanan aman selama 27,19 tahun.
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Hasil pegukuran yang telah dilakukan di terminal X diperoleh konsentrasi


NO2 sebesar 46,637 g/Nm3 atau setara dengan 0,0466 mg/m3. Dan konsentrasi
SO2 sebesar 229,8g/Nm3 atau setara dengan 0,2298 mg/m3. Jika dibandingkan
dengan Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1999 tentang baku mutu lingkungan
udara ambien, baik nilai konsentrasi tertinggi maupun nilai konsentrasi rata
rata yang diperoleh, secara keseluruhan masih berada dibawah baku mutu
lingkunganyaitu 400 g/Nm3 untuk pengukuran NO2 yang dilakukan selama
satu jam. konsentrasi Sulfur Dioksida (SO2) yang paling tinggi adalah 368,2
g/Nm3 yang berasal dari titik pengukuran. Dengan responden sebanyak 84
orang yang terdiri dari 64 laki-laki dan 20 orang permpuan dengan berat badan
rata rata 60-65 Kg ,laju respirasi 0,83 m3/jam.
Diperoleh intake SO2 pada salah satu responden 0,04138 mg/kg/hari dan RQ
(risk quotient) sebesar 1,5915. Artinya, kawasan Terminal X yang
mengandung 0,2298 mg/m3 sulfur dioksida tidak aman (non-karsinogenik)
karena nilai RQ yang diperoleh dari hasil perhitungan yakni RQ >1. Intake NO 2
dari 84 responden diperoleh 0,00132 sebanyak 42 orang dan > 0,00132
sebanyak 42 orang.
.
4.2 Saran

Dalam analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL) ada beberapa cara


yang dapat dilakukan untuk meminimalisirkan nilai tingkat risiko, yakni dengan
cara memodifikasi konsentrasi dan memodifikasi lama waktu pajanan. Saran lain
yang dapat diberikan yakni :

1. Dapat dilakukannya penelitian lebih lanjut mengenai pemeriksaan kapasitas


paru terutama pada pedagang yang berisiko.
2. Diharapkan dapat mengadakan program rutin untuk melakukan pengukuran
gas emisis kendaraan secara gratis.
3. Melakukan pengadaan alat pantau pencemaran udara otomatis yang
diletakkan di titik titik keramaian di Kota Palembang.
4. Mensosialisasikan dampak negatif dari paparan gas NO2 dan SO2 kepada
pedagang kaki lima.
LAMPIRAN

ANALISIS RISIKO KESEHATAN PAPARAN NITROGEN DIOKSIDA


(NO2) DAN SULFUR DIOKSIDA (SO2) PADA PEDAGANG KAKI LIMA
DI TERMINAL X TAHUN 2015
Gita Arista1, Elvi Sunarsih2, Rini Mutahar3
1Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya
2 Dosen Pengajar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sriwijaya
e-mail: gitaaristasalim@gmail.com

ABSTRAK

Latar Belakang : Terminal merupakan suatu lokasi yang menghasilkan polusi


udara akibat dari kegiatan transportasi yang dilakukan. Penggunaan transportasi
kendaraan bermotor akan menghasilkan berbagai macam gas diantaranya NO2
dan SO2. Pada konsentrasi tertentu NO2 dan SO2 dapat memberikan efek
terhadap gangguan kesehatan misalnya gangguan pernafasan, iritasi tenggorokan
dan iritasi mata
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode Analisis
Risiko Kesehatan Lingkungan. Pedagang yang menjadi sampel dalam penelitian
ini ada sebanyak 84 orang pedagang. Teknik pengambilan sampel secara simple
random sampling. Teknik analisa data secara univariat. Dan kemudian data
disajikan dalam bentuk tabel serta narasi untuk menginterpretasikan data tersebut.
Hasil Penelitian : Hasil penelitian menunjukkan bahwa pedagang kaki lima di
Terminal X memiliki berat badan kurang dari 65,57 kg sebesar 54,8%, waktu
pajanan 8 jam/hari sebesar 54,8%, frekuensi pajanan 362 hari/tahun sebesar
98,8%, durasi pajanan 10 tahun sebesar 57,1%, intake NO2 0,00132
mg/kg/hari sebesar 50%, intake SO2 0,00677 mg/kg/hari sebesar 50%, RQ NO2
>1 sebesar 0%, RQ SO2 >1 sebesar 11,9%, RQ SO2 >1 bejenis kelamin laki
laki sebesar 80%, dan RQ SO2 >1 berasal dari titik pengukuran keempat sebesar
40%.
Kesimpulan : paparan Nitrogen Dioksida (NO2) pada pedagang kaki lima di
Terminal X tidak memberikan risiko, sedangkan paparan Sulfur Dioksida (SO2)
memberikan risiko terhadap 10 orang pedang kaki lima di Terminal X. Saran
penelitian ini sebaiknya pedagang mengurangi jam kerja per hari.

Kata Kunci : Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan, Nitrogen Dioksida (NO2),


Sulfur Dioksida (SO2), Pedagang Kaki Lima, Terminal

DAFTAR PUSTAKA

1. International Agency for Research on Cancer (IARC). Monograph: Overall


Evaluations of Carcinogenicity to Humans. 2008. Available at:
http://monographs.iarc.fr/ENG/Classification/crthall.php.(akses 12 Desember
2015)

2. Nukman, Atrisman. dkk. 2005, Analisis dan Manajemen Risiko Kesehatan


Pencemaran Udara: Studi Kasus di Sembilan Kota Besar Padat Transportasi,
Jurnal Ekologi Kesehatan, vol. 4, no. 2, hal. 270 289. (online) (akses 11
Desember 2015)

3. Peraturan Mentri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Per.13/Men/X/2011 Tahun


2011 (online) Dari : http://betterwork.org/in-labourguide/wp-
content/uploads/PERMENA.pdf (akses 11 Desember 2015)

4. Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1999 (online) Dari :


blh.jogjaprov.go.id/wp-content/uploads/PP_No.14_Tahun_1999.pdf (Akses
16 Desember 2015)
5. Standar Nasional Indonesia 19-7119.2-2005. Udara Ambien Bagian 2:
Cara Uji Kadar Nitrogen Dioksida (NO2) dengan Metoda Griess Saltzman
Menggunakan Spektrofotometer, [online]. Dari:
https://www.google.com/search/ (akses 11 Desember 2015)

6. Standar Nasional Indonesia 19-7119.7-2005. Udara ambient Bagian 7:


Cara Uji Kadar Sulfur Dioksida (SO2) dengan Metoda Pararosanilin
menggunakan Spektrofotometer, [online]. Dari:
https://www.google.com/search (akses 11 Desember 2015)

7. World Health Organization. 1997, Health and Environmental in Sustainable


Development: Five Years after the Earth Summit, Geneva , WHO