Anda di halaman 1dari 37

1

2
3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kondisi medis dapat memperburuk kehamilan. Kondisi medis yang paling
sering muncul ialah anemia, khususnya anemia yang disebabkan oleh defisiensi besi
atau asam folat, penyakit atau galur sel sabit (sickle cell trait) dan talasemia. Gangguan
autoimun, pulmoner, saluran cerna, integument, dan neorologi juga dapat ditemukan.
Aspek - aspek terkait kehamilan pada kondisi ini dibahas dalam bagian berikut.

Anemia pada kehamilan di Indonesia masih tinggi, dengan angka nasional


65% yang setiap daerah mempunyai variasi berbeda.Anemia, gangguan medis yang
paling umum ditemui pada masa hamil, mempengaruhi sekurang kurangnya 20%
wanita hamil. Wanita ini memiliki insiden komplikasi puerperal yang lebih tinggi,
seperti infeksi, daripada wanita hamil dengan nilai hematologi normal. Anemia
menyebabkan penurunan kapasitas darah untuk membawa oksigen. Jantung berupaya
mengonpensasi kondisi ini dengan meningkatkan curah jantung. Upaya ini
meningkatkan kebebasan kerja jantung dan menekan fungsi ventricular. Dengan
demikian, anemia yang menyertai komplikasi lain (misalnya, preeklampsia) dapat
mengakibatkan jantung kongestif.

Apabila seorang wanita mengalami anemia selama hamil, kehilangan darah


pada saat ia melahirkan, bahkan kalaupun minimal, tidak ditoleransi dengan baik. Ia
berisiko membutuhkan transfusi darah. Sekitar 80% kasus anemia pada masa hamil
merupakan anemia tipe defisiensi besi (Arias, 1993). Dua puluh persen (20%) sisanya
mencakup kasus anemia herediter dan berbagai variasi anemia didapat, termasuk
anemia defisiensi asam folat, anemia sel sabit dan talasemia.

B. Rumusan Masalah

4
1. Apakah itu anemia?
2. Apa sajakah penyebab anemia pada ibu hamil?
3. Mengapa wanita mudah mengalami defisiensi zat besi (Fe)?
4. Apakah penyebab anemia megaloblastik?

Tujuan

1. Tujuan Umum
a. Mahasiswa dapat menjelaskan mengenai anemia

2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa dapat memahami pengertian anemia
b. Mahasiswa mampu menyebutkan dan menjelaskan klasifikasi anemia
c. Mahasiswa dapat menjelaskan hal hal yang dapat menyebabkan terjadinya
anemia
d. Mahasiswa dapat membuat dan melaksanakan asuhan keperawatan pada
anemia.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Anemia

5
Definisi anemia yang tepat pada wanita dipersulit oleh pelbagai perbedaan yang
terdapat secara normal pada konsentrasi hemoglobin diantara laki-laki dan perempuan, di
antara wanita kulit putih dan wanita kulit hitam, di antara wanita yang tinggal di tempat
tinggi dan di tempat yang mendekati ketinggian permukaan laut, di antara wanita yang hamil
dan tidak hamil, serta di antara wanita hamil yang mendapatkan preparat suplemen zat besi
dan yang tidak mendapatkan preparat ini.

Anemia adalah penurunan kadar hemoglobin (Hb), hematokrit atau hitung eritrosit
(red cell count) berakibat pada penurunan kapasitas pengangkutan oksigen oleh darah. Tetapi
harus diingat terdapat keadaan tertentu dimana ketiga parameter tersebut tidak sejalan dengan
massa eritrosit, seperti pada dehidrasi, perdarahan akut, dan kehamilan. Oleh karena itu
dalam diagnosis anemia tidak cukup hanya sampai pada label anemia tetapi harus dapat
ditetapkan penyakit dasar yang menyebabkan anemia tersebut. (Sudoyo Aru,dkk 2009)

Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang
dari 12 gr% (Wiknjosastro, 2002). Sedangkan anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu
dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar <10,5 gr%
pada trimester II (Saifuddin, 2002).

Dapat disimpulkan bahwa anemia adalah penurunan kadar sel darah merah (Hb)
dibawah rentang normal

Pemeriksaan hematologi pernah dilakukan secara luas pada wanita-wanita tidak hamil
yang sehat; diantara para wanita hamil ini tidak satupun diantaranya yang mengalami
defisiensi zat besi karena masing-masing memiliki cadangan zat besi yang telah dibuktikan
secara biokimia, dan tidak satupun yang mengalami defisiensi asam folat mengingat proses
eritropoisis dalam sumsum tulang tetap normoblastik.

B. Etiologi

Etiologi anemia selama kehamilan sama dengan etiologi yang dijumpai pada wanita
yang tidak hamil, dan semua anemia yang sering terdapat di antara kaum wanita dalam usia
reproduktif dapat mempersulit kehamilan. Sebuah klasifikasi yang dibuat terutama
berdasarkan pada etiologi dan mencakup sebagian besar keadaan yang sering menyebabkan
anemia pada wanita hamil. Meskipun kesalahan laboratorium sebagai penyebab anemia yang
terlihat belum diikutsertakan, hasil-hasil dari laboratorium klinik kadang-kadang tidak akurat.
Sumber kesalahan yang umum terdapat selama kehamilan berasal dari laju pengendapan

6
darah yang cepat yang ditimbulkan oleh hiperfibrinogenemia pada kehamilan normal. Jika
spesimen darah tidak bercampur secara baik segera sesudah pengambilan sampel, hasil
pemeriksaan kemungkinan tidak akurat. Kebanyakan alat otomatis yang digunakan sekarang
mempunyai kemampuan pencampuran yang konstan sehingga permasalahan ini dapat
dihindari.

Sebab-sebab anemia selama kehamilan.

Akuisita

Anemia defisiensi besi


Anemia yang disebabkan oleh kehilangan darah yang akut
Anemia akibat inflamasi atau keganasan
Anemia megaloblastik
Anemia hemolitik akuisita
Anemia aplastik atau hipoplastik

Herediter

Thalasemia
Hemoglobinopati sel sabit.
Hemoglobinopati lainnya
Anemia hemolitik herediter

Perbedaan yang terlihat pada konsentrasi hemoglobin antara wanita hamil dan tidak
hamil yang ditambah lagi dengan fenomena hipovolemia yang sudah dikenal baik oleh
kehamilan normal, telah menyebabkan pemakaian istilah anemia fisiologis. Istilah ini kurang
tepat untuk menjelaskan suatu proses yang normal dan seharusnya sudah disingkirkan
mengingat pada dasarnya tidak ada anemia yang terjadi selama kehamilan yang normal, jika
keadaan anemia didefinisikan sebagaisuatu penurunan massa hemoglobin.

Menurut mochtar (1998) penyebab anemia pada umumnya adalah sebagai berikut :

Kurang gizi (malnutrisi)


Kurang zat besi dalam diit
Malabsorpsi
Kehilangan darah banyak seperti persalinan yang lalu, haid dan lain-lain
Penyakit-penyakit kronik seperti TBC paru, cacing usus, malaria dan lain-lain
C. Klasifikasi anemia dalam kehamilan

Klasifikasi anemia dalam kehamilan menurut Mochtar (1998), adalah sebagai berikut:

7
1. Anemia Defisiensi Zat Besi

Dua penyebab anemia yang paling sering ditemukan selama kehamilan dan masa
nifas adalah defisiensi zat besi dan kehilangan darah yang akut. Tidak jarang kedua
keadaan tersebut berhubungan erat, mengingat kehilangan darah yang berlebihan dengan
disertai hilangnya zat besi hemoglobin dan habisnya simpanan zat besi pada kehamilan
yang satu dapat menjadi penyebab yang penting bagi terjadinya anemia defisiensi besi
pada kehamilan berikutnya.

Kebutuhan zat besi dalam kehamilan cukup besar, namun mayoritas wanita di Amerika
memiliki simpanan sedikit. Pada kehamilan dengan janin tunggal, kebutuhan maternal akan
zat besi yang ditimbulkan oleh kehamilan tersebut, rata-rata mendekati 800 mg. Dari jumlah
ini, sekitar 300 mg diperlukan untuk janin dan plasenta sementara 500 mg lagi, jika tersedia,
digunakan untuk meningkatkan massa hemoglobin maternal. Kurang-lebih 200 mg lebih akan
diekskresikan lewat usus, urin, dan kulit. Jumlah total ini 1000 mg melampaui simpanan zat
besi pada sebagian besar wanita. Anemia defisiensi besi akan terjadi bila perbedaan antara
jumlah besi simpanan yang tersedia pada ibu dan kebutuhan zat besi dalam kehamilan yang
normal seperti disebutkan diatas, tidak diimbangi oleh penyerapan zat besi dari traktus
gastrointestinal.

Dengan penambahan volume darah yang agak cepat selama trimester kedua, kekurangan
zat besi sering mewujudkan kekurangan itu sendiri dengan penurunan nyata konsentrasi
hemoglobin maternal. Meskipun kecepatan penambahan volume darah tidak begitu besar
dalam trimester ketiga, kebutuhan akan zat besi tetap tinggi karena peningkatan massa
hemoglobin maternal terus berlangsung dan zat besi dalam jumlah yang besar kini dibawa
melintasi plasenta dari ibu ke dalam janin. Karena jumlah zat besi yang dialihkan kepada
janin dari ibu yang menderita defisiensi besi tidak banyak berbeda dengan jumlah yang
dipindahkan dalam keadaan normal, maka bayi baru lahir dari ibu dengan anemia berat tidak
akan menderita anemia defisiensi besi (Murray dkk.,1978). Simpanan zat besi dalam janin
jauh lebih banyak dipengaruhi oleh kapan dan bagaimana tali pusat diklem daripada oleh
simpanan zat besi dalam tubuh ibu.

Pengobatannya yaitu, keperluan zat besi untuk wanita hamil, tidak hamil dan dalam
laktasi yang dianjurkan adalah pemberian tablet besi.

8
a. Terapi Oral adalah dengan memberikan preparat besi yaitu fero sulfat, fero glukonat
atau Na-fero bisirat. Pemberian preparat 60 mg/ hari dapat menaikan kadar Hb
sebanyak 1 gr%/ bulan. Saat ini program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg
besi dan 50 nanogram asam folat untuk profilaksis anemia (Saifuddin, 2002).
b. Terapi Parenteral baru diperlukan apabila penderita tidak tahan akan zat besi per oral,
dan adanya gangguan penyerapan, penyakit saluran pencernaan atau masa
kehamilannya tua (Wiknjosastro, 2002). Pemberian preparat parenteral dengan ferum
dextran sebanyak 1000 mg (20 mg) intravena atau 2 x 10 ml/ IM pada gluteus, dapat
meningkatkan Hb lebih cepat yaitu 2 gr% (Manuaba, 2001).
c. Untuk menegakan diagnosa Anemia defisiensi besi dapat dilakukan dengan anamnesa.
Hasil anamnesa didapatkan keluhan cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-
kunang dan keluhan mual muntah pada hamil muda. Pada pemeriksaan dan
pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat sachli, dilakukan minimal
2 kali selama kehamilan yaitu trimester I dan III. Hasil pemeriksaan Hb dengan sachli
dapat digolongkan sebagai berikut:
1) Hb 11 gr% : Tidak anemia
2) Hb 9-10 gr% : Anemia ringan
3) Hb 7 8 gr%: Anemia sedang
4) Hb < 7 gr% : Anemia berat

Kebutuhan zat besi pada wanita hamil yaitu rata-rata mendekatai 800 mg. Kebutuhan ini
terdiri dari, sekitar 300 mg diperlukan untuk janin dan plasenta serta 500 mg lagi digunakan
untuk meningkatkan massa haemoglobin maternal. Kurang lebih 200 mg lebih akan
dieksresikan lewat usus, urin dan kulit. Makanan ibu hamil setiap 100 kalori akan
menghasilkan sekitar 810 mg zat besi. Perhitungan makan 3 kali dengan 2500 kalori akan
menghasilkan sekitar 2025 mg zat besi perhari. Selama kehamilan dengan perhitungan 288
hari, ibu hamil akan menghasilkan zat besi sebanyak 100 mg sehingga kebutuhan zat besi
masih kekurangan untuk wanita hamil (Manuaba, 2001).

a. Gambaran Klinis

Curigai adanya anemia defisiensi zat besi bila terdapat:

1) Satu atau lebih factor-faktor predisposisi anemia


2) Kadar Ht < 30%

Konfirmasi diagnosis sebagai anemia defisiensi zat besi bila terdapat:

1) Morfologi menunjukkan SDM hipokrom mikrositik

9
2) Saturasi zat besi serum <15% setelah terapi zat besi pasien dihentikan selama satu
minggu.
b. Penatalaksaan

Skrining rutin

1) Pada kunjungan awal, tanyakan tentang riwayat anemia atau masalah pembekuan
darah sebelumnya.
2) Minta hitung darah lengkap pada kunjungaan awal.
3) Diskusikan pentingnya mengonsumsi vitamin prenatal (disertai zat besi).
4) Periksa ulang Ht pada 28 minggu kehamilan.
c. Terapi anemia:
1) Terapi oral ialah dengan pemberian : fero sulfat, fero gluconat, atau Na-fero
bisitrat.
2) Bila Hb <10 g/dl dan Ht <30%, lakukan tindakan berikut:

Berikan konseling gizi.

Tinjau diet pasien.


Diskusikan sumber-sumber zat besi dalam diet.
Berikan kepada pasien selebaran mengenai makanan tinggi zat besi.
Rujuk ke ahli gizi.
3) Sarankan suplemen zat besi sebagai tambahan vitamin paranatal. Kebutuhan
zat besi saat kehamilan adalah 60 mg unsure zat besi.

Tablet zat besi time-release merupaka pilihan terbaik, namun lebih mahal.
Setiap sediaan garam zat besi standar sudah mencukupi kebutuhan zat besi.
Minum 1-3 tablet per hari dalam dosis yang terbagi.
Zat besi diabsorbsi lebih baik pada keadaan lambung kosong. Minum 1 jam
sebelum makan atau 2 jam sesudahnya.
Vitamin C membantu absorbs zat besi. Minum zat besi disertai jus yang
tinggi vitamin C atau tablet vitamin C.
Antasid dan produk susu dapat mengganggu absorbs zat besi.
Lebih baik mengkonsumsi zat besi bersama antasid atau makanan daripada
tidak mengkonsumsi sama sekali.

4) Bila Hb <9 g/dl dan Ht <27% pertimbangkan anemia megaloblastik. Kelola


pasien ini menurut panduan terapi anemia.
5) Bila kadar Hb <9 g/dl dan Ht 27% saat mulai persalinan, pertimbangkan
pemberian cairan IV atau heparin lock saat persalinan.

10
6) Pemberian preparat 60 mg/hari dapat menaikkan kadar Hb sebanyak 1 g
%/bulan. Efek samping pada traktus gastrointestinal relatif kecil pada
pemberian preparat Na-fero bisitrat dibandingkan dengan ferosulfat.
7) Kini program nasional mengajukan kombinasi 60 mg besi dan 50g asam folat
untuk profilaksis anemia.
8) Pemberian preparat parenteral yaitu dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg
(20 ml) intravena atau 2 x 10 ml/im pada gluteus, dapat meningkatkan Hb
relatif lebih cepat yaitu 2 g%. Pemberian parenteral ini mempunyai indikasi :
intoleransi besi pada gastrointestinal, anemia yang berat, dan kepatuhan yang
buruk. Efek samping utama ialah reaksi alergi, untuk mengetahuinya dapat
diberikan dosis 0,5 cc/im dan bila tak ada reaksi, dapat diberikan seluruh
dosis.
2. Anemia Megaloblastik

Adalah anemia yang disebabkan oleh karena kekurangan asam folik, jarang sekali karena
kekurangan vitamin B12.

a. Pengobatan :
Asam folik 15 30 mg per hari
Vitamin B12 3 X 1 tablet per hari
Sulfas ferosus 3 X 1 tablet per hari
Pada kasus berat dan pengobatan per oral hasilnya lamban sehingga dapat diberikan
transfusi darah.
b. Gambaran klinis

Gejala

1) Mual dan muntah


2) Anoreksia

Morfologi

1) SDM hipokrom makrositik


2) Kadar Hb dan Ht rendah serta tidak berespon terhadap terapi zat besi

Riwayat diet menunjukkan asupan rendah sayuran segar, protein hewani, atau
keduanya.

c. Penatalaksanaan
1) Suplemen
Vitamin prenatal yang mengandung asam folat dan zat besi

11
Satu sampai dua milligram asam folat per hari untuk memperbaiki defisiens
asam folat.
Suplemen zat besi, dengan pertimbangan bahwa anemia megaloblastik jarang
terjadi tanpa anemia defisiensi zat besi.
2) Konseling gizi
Kaji diet pasien
Rekomendasikan sumber-sumber asam folat dalam diet
Rujuk ke ahli gizi
3) Hitung darah lengkap
Ulangi hitung darah lengkap dalam 1 bulan.
Perhatikan adanya peningkatan hitung retikulosit sebesar 3-4% dalam 2-3 minggu,
dan sedikit peningkatan pada hitung Hb dan Ht.
3. Anemia Hipoplastik

Adalah anemia yang disebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel darah merah
baru. Untuk diagnostik diperlukan pemeriksaan-pemeriksaan diantaranya adalah darah tepi
lengkap, pemeriksaan pungsi ekternal dan pemeriksaan retikulosi.

4. Anemia Hemolitik

Adalah anemia yang disebabkan penghancuran atau pemecahan sel darah merah yang lebih
cepat dari pembuatannya. Gejala utama adalah anemia dengan kelainan-kelainan gambaran
darah, kelelahan, kelemahan, serta gejala komplikasi bila terjadi kelainan pada organ-organ
vital.

Pengobatannya tergantung pada jenis anemia hemolitik serta penyebabnya. Bila disebabkan
oleh infeksi maka infeksinya diberantas dan diberikan obat-obat penambah darah. Namun
pada beberapa jenis obat-obatan, hal ini tidak memberi hasil. Sehingga transfusi darah
berulang dapat membantu penderita ini.

5. Anemia: hemolitik didapat (acquired hemolytic anemia)

adalah suatu defek enzimatik yang terkait-kromosom X dan diturunkan, yang ditandai dengan
ketidak mampuan tubuh memproduksi enzim G6PD, yaitu enzim yang berfungsi sebagai
katalis penggunaan glukosa secara aerob oleh SDM. Anemia ini dapat ditemukan pada
keturunan Afrika-Amerika, Asia, dan Mediterania.

a. Insidens.

12
Dua persen dari semua wanta keturunan Afrika-Amerika menderita penyakit ini.

b. Etiologi.

Infeksi dan beberapa obat oksidik pada kondisi defisiensi G6PD akan memicu
hemolisis SDM yang megakibatkan anemia hemolitik ringan sampai berat.

c. Penatalaksanaan
1) Skrining: Pasien keturunan Afrika-Amerika yang mengalami anemia atau kerap
mengalami infeksi saluran kemih (ISK) berulang harus menjalani skrining G6PD.
d. Terapi
1) Resepkan 1 mg asam folat setiap hari.
2) Berikan daftar obat-obatan yang perlu dihindari.
3) Bila pasien hamil, lakukan kultur dan sensitivitas (culture and sensitivity, C&S)
urine bulanan.
4) Konsultasikan dengan dokter bila pasien dalam keadaan krisis atau mengalami
anemia berat.
e. Pengobatan: Pasien harus menghindari obat-obat berikut:
1) Aldomet
2) Asam askorbat (dosis besar)
3) Asam nalidiksik
4) Asam para-aminosalisilat
5) Aspirin
6) Diafenilsulfon
7) Fenasetin
8) Isoniazid
9) Kloramfenikol
10) Kuinakrin (atabrine)
11) Kuinidin
12) Kuinin
13) Kuinosid
14) Methylene blue

6. Anemia: Pernisiosa

a. Defisiensi dan Etologi

Anemia pernisiosa disebabkan kekurangan faktor intrinsik pada asam lambung, yang
diperlukan untuk absorbsi vitamin B12 dari makanan . karena B12 tidak dapat diabsorbsi,
SDM tidak matang dengan normal. Kasus ini jarang dijumpai pada individu dibawah usia 35
tahun.

13
b. Gambaran Klinis

1) Anemia pernisiosa ditandai dengan SDM makrositik, yang bias juga normokrom
atau hipekrom.
2) SDM pada anemia sulit dibedakan dengan SDM pada defisiensi asam folat.
3) Terapi asam folat dapat menyamarkan anemia pernisiosa karena SDM menjadi
normositik, meskipun penyakit ini masih ada.

c. Diagnosis

1) Curigai adanya anemia pernisiosa bila setelah terapi asam folat, morfologi SDM
menjadi normal, namun hematokrit tdak meningkat.
2) Diagnosis ditegakkan bila terjadi perbaikan setelah percobaan terapi dengan 1000
mg vitamin B12 per parenteral selama 3 bulan.

d. Penatalaksanaan

1) Kaji diet pasien terhadap produk hewani. Bila asupan dietnya kurang sumber-
sumber vitamin B12 berikan konseling gizi.
2) Berikan 1 cc (1000 ng) vitamin B12 parenteral per IM setiap bulan.
3) Tawarkan rujukan ke ahli gizi.
4) Ulangi hitung sel darah lengkap dalam 1 bulan.
a) Kondisinya membaik bila:

Morfologi normal
Kadar Ht meningkat
b) Bila tidak ada perubahan, konsultasikan ke dokter.

7. Anemia: Sel Sabit

a. Definisi dan Etiologi

1) Jenis
a) Pada sifat (trait) sel sabit, ada satu gen normal dan satu gen Hb-S. gejala tidak
tampak kecuali pada keadaan deprivasi oksigen berat.
b) Pada penyakit sel sabit, kedua gen adalah Hb-S. penyakit ini kronik dan
melemahkan. Angka morbiditas dan mortalitas penyakit ini tinggi.
2) Insidens
a) Satu dari 12 keturunan Afrika-Amerika membawa sifat sel sabit.
b) Satu dari 500 keturuna Afrika-Amerika menderita penyakit ini.
b. Penatalaksanaan
1) Programkan skrining sel sabit pada semua pasien Afrika-Amerika:
a) Bila uji negatif, kedua gen normal dan tidak ada masalah.
b) Bila uji positif, minta pemeriksaan elektroforesis hemoglobin.
c) Bila gen homozigot,pasien dianggap beresiko tinggi dan harus dirujuk ke dokter.
14
d) Bila gen heterozigot, pasien dianggap beresiko rendah dapat dikelola secara normal
selama kehamilan dan persalinan.
2) Pertimbangkan kultur dan sensitivitas urine bulanan karena peningkatan
resiko ISK selama kehamilan.
3) Beri konseling kepada pasien:
a) Jelaskan kepada pasien mengenai sifat sel sabit yang dibawanya.
b) Sarankan pemeriksaan ayah bayi. Bila gen ayah juga heterozigot, ada kemungkinan
bayinya menderita penyakit ini.
c) Rujuk pasien untuk konseling genetik bila perlu.
D. Patofisiologi

Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sum-sum tulang atau kehilangan


sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sum-sum tulang dapt terjadi akibat
kekurangan nutrisi, pajanan toksik, inuasi tumor, atau kebanyakan akibat penyebab yang
tidak diketahui. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi)
pada kasus yang disebut terakhir, masalah dapat akibat efek sel darah merah yang tidak sesuai
dengan ketahanan sel darah merah normal atau akibat beberapa factor diluar sel darah merah
yang menyebabkan destruksi sel darah merah.

Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam system fagositik atau dalam
system retikuloendotelial terutama dalam hati dan limpa. Sebagai hasil samping proses ini
bilirubin yang sedang terbentuk dalam fagosit akan masuk dalam aliran darah. Setiap
kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direpleksikan dengan meningkatkan
bilirubin plasma (konsentrasi normalnya 1 mg/dl atau kurang ; kadar 1,5 mg/dl
mengakibatkan ikterik pada sclera.

Anemia merupakan penyakit kurang darah yang ditandai rendahnya kadar


hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit). Fungsi darah adalah membawa makanan
dan oksigen ke seluruh organ tubuh. Jika suplai ini kurang, maka asupan oksigen pun akan
kurang. Akibatnya dapat menghambat kerja organ-organ penting, Salah satunya otak. Otak
terdiri dari 2,5 miliar sel bioneuron. Jika kapasitasnya kurang, maka otak akan seperti
komputer yang memorinya lemah, Lambat menangkap. Dan kalau sudah rusak, tidak bisa
diperbaiki (Sjaifoellah, 1998).

E. Gejala anemia pada ibu hamill


a) Ibu mengeluh cepat lelah,
b) Sering pusing,
c) Mata berkunang-kunang,
d) Malaise,

15
e) Lidah luka,
f) Nafsu makan turun (anoreksia),
g) Konsentrasi hilang,
h) Nafas pendek (pada anemia parah); dan
i) Keluhan mual muntah lebih hebat pada hamil muda.
F. Gambaran klinis
a. Riwayat:
1) Mentruasi berlebihan
2) Kehilangan darah kronik
3) Riwayat keluarga
4) Diet yang tidak adekuat
5) Jarak kehamilan yang terlalu dekat
6) Anemia pada kehamilan sebelumnya
7) Pika ( nafsu makan terhadap bahan bukan makanan )

b. Tanda dan Gejala

1) Keletihan, malaise, atau mudah megantuk


2) Pusing atau kelemahan
3) Sakit kepala
4) Lesi pada mulut dan lidah
5) Aneroksia,mual, atau muntah
6) Kulit pucat
7) Mukosa membrane atau kunjungtiva pucat
8) Dasar kuku pucat
9) Takikardi
G. Tes laboratorium

Hitung sel darah lengkap dan Apusan darah: untuk tujuan praktis, maka anemia selama
kehamilan dapat didefinisikan sabagai hemoglobin kurang dari pada 10 atau 11 gr/100 ml dan
hematokrit kurang dari pada 30% sampai 33% .

Apusan darah tepi memberikan evaluasi morfologo eritrosit, hitung jenis leukosit dan
perkiraan keadekutan trombosit.

H. PENATALAKSANAAN
1. Pada saat kunjungan awal, kaji riwayat pasien
a. Telusuri riwayat anemia, masalah pembekuan darah, penyakit sel sabit, anemia
glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G6PD), atau peyakit hemolitik herediter lain.
b. Kaji riwayat kelua
2. Lakukan hitungan darah lengkap pada kunjungan awal.
a. Morfologi
1) Morfologi normal menunjukkan sel darah merah (SDM) yang sehat dan matang
2) SDM mikrositik hipokrom menunjukkan anemia defisiensi zat besi
3) SDM makrositik hipokrom menunjukkan anemia pernisiosa
b. Kadar hemoglobin (Hb) dan hematokrin (Ht) pada kehamilan

16
c. Kadar Hb lebih dari 13 g/dl dengan Ht lebih dari 40% dapat menunjukkan
hipovolemia. Waspada dehidrasi dan preklamsi
d. Kadar Hb 11,5-13 g/dl dengan Ht 34%-40% menunjukkan keadaan yang normal dan
sehat.
e. Kadar Hb 10,5-11,5 g/dl dengan Ht 31%-32% menunjukkan kadar yang rendah,
namun masih normal.
f. Kadar Hb 10 g/dl disertai Ht 30% menunjukkan anemia
Rujuk pasien ke ahli gizi atau konseling gizi,atau keduanya
Berikan suplemen zat besi 1 atau 2 kali/hari, atau satu kapsul time-release, seperti
Slow-Fe setiap hari
g. Kadar Hb < 9-10 g/dl dengan Ht 27%-30% dapat menunjukkan anemia
megaloblastik.

Rujuk pasien ke ahli gizi atau konseling diet.


Rekomendasikan pemberian suplemen ferum-sulfat 325 mg per oral, 2 atau 3
kali/hari.
h. Kadar Hb <9g/dl dengan Ht <27% atau anemia yang tidak berespon terhadap
pengobatan di atas, diperlukan langkah-langkah berikut:

1) Periksa adanya pendarahan samara tau infeksi.


2) Pertimbangkan untuk melakukan uji laboratorium berikut:
Hb dan Ht (untuk meyingkirkan kesalahan laboratorium)
Kadar kosentrasizat besi serum
Kapasitas pegikat zat besi
Hitung jenis sel (SDP dan SDM)
Hitung retikulosit (untuk megukur produksi eritrosit)
Hitung trombosit
uji guaiac pada feses untuk medeteksi pendarahan samar
Kultur feses untuk memeriksa telur dan parasit
Skrining G6PD (lahat panduan untuk anemia: Hemolitik didapat) bila klien
keturunan Afika-Amerika.
Konsultasikan dengan dokter
Rujuk pasien ke ahli gizi atau konseling gizi.
3. Bila pasien hamil, periksa kadar hematokrin pda awal kunjungan , yaitu 28 minggu
kehamilan dan 4 minggu setelah memulai terapi.
a. Atasi tanda-tanda anemia (sesuai informasi sebelumnya pada poin IV-
Penatalaksanaan B2).
b. Konsultasikan ke dokter bila:
1) Terdapat penurunan Ht yang menetap walaupun sudah mendapat terapi
2) Terdapat penurunan yang signifikan, dibandingkan dengan hasil sebelumnya
(singkirkan kesalahan labotaturium).
3) Tidak berespons trhadap terapi setelah 4-6 minggu
4) Kadar Hb <9,0 g/dl atau Ht <27%.

17
I. Akibat lanjutan

Pada ibu hamil yang anemia dapat mengalami:

1. Keguguran.
2. Lahir sebelum waktunya
3. Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).
4. Perdarahan sebelum dan pada waktu persalinan.
5. Dapat menimbulkan kematian.

18
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN IBU HAMIL DENGAN ANEMIA

3.1 PENGKAJIAN

Pengumpulan data klien baik subjektif maupun objektif pada gangguan sistem reproduksi
sehubungan dengan anemia tergantung pada penyebab dan adanya komplikasi pada penderita.
Pengkajian keperawatan anemia meliputi anamnesis riwayat penyakit, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan diagnostik dan pengkajian psikososial.

1. Identitas Klien dan keluarga (penanggung jawab) :


a. Nama
b. Umur
c. Jenis kelamin

Biasanya wanita lebih cenderung mengalami anemia ,disebabkan oleh kebutuhan


zat besi wanita yang lebih banyak dari pria terutama pada saat hamil.

d. Pekerjaan

Pekerja berat dan super ekstra dapat menyebabkan seseorang terkena anemia
dengan cepat seiring dengan kondisi tubuh yang benar-benar tidak fit.

e. Hubungan klien dengan penanggung jawab


f. Agama
g. Suku bangsa
h. Status perkawinan
i. Alamat
j. Golongan darah
2. Keluhan Utama

keluhan utama meliputi 5L, letih, lesu, lemah, lelah lalai, pandangan berkunang-kunang.

19
3. Riwayat Penyakit Sekarang

Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari anemia, yang nantinya
membantu dalam membuat rencana tindakan terhadap klien. Ini bisa berupa kronologi
terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa ditentukan apa yang terjadi. (Ignatavicius,
Donna D, 1995).

4. Riwayat Penyakit Dahulu

Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab anemia. Penyakit-penyakit


tertentu seperti infeksi dapat memungkinkan terjadinya anemia. tulang

5. Riwayat Penyakit Keluarga

Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit darah merupakan salah satu faktor
predisposisi terjadinya anemia yang cenderung diturunkan secara genetik (Ignatavicius,
Donna D, 1995).

6. Riwayat Psikososial

Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan peran klien
dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari-
harinya baik dalam keluarga ataupun dalam masyarakat (Ignatavicius, Donna D, 1995)

7. Riwayat Bio-psiko-sosial-spiritual

Pengkajian pasien dengan anemia (Doenges, 1999) meliputi :

a. Aktivitas / istirahat

Gejala : keletihan, kelemahan, malaise umum. Kehilangan produktivitas ; penurunan


semangat untuk bekerja. Toleransi terhadap latihan rendah. Kebutuhan untuk tidur dan
istirahat lebih banyak.

Tanda : takikardia/ takipnae ; dispnea pada waktu bekerja atau istirahat. Letargi,
menarik diri, apatis, lesu, dan kurang tertarik pada sekitarnya. Kelemahan otot, dan
penurunan kekuatan. Ataksia, tubuh tidak tegak. Bahu menurun, postur lunglai,
berjalan lambat, dan tanda-tanda lain yang menunujukkan keletihan.

b. Sirkulasi

20
Gejala : riwayat kehilangan darah kronik, misalnya perdarahan GI kronis, menstruasi
berat (DB), angina, CHF (akibat kerja jantung berlebihan). Riwayat endokarditis
infektif kronis. Palpitasi (takikardia kompensasi).

Tanda : TD : peningkatan sistolik dengan diastolik stabil dan tekanan nadi melebar,
hipotensi postural. Disritmia : abnormalitas EKG, depresi segmen ST dan pendataran
atau depresi gelombang T; takikardia. Bunyi jantung : murmur sistolik (DB).
Ekstremitas (warna) : pucat pada kulit dan membrane mukosa (konjuntiva, mulut,
faring, bibir) dan dasar kuku. (catatan: pada pasien kulit hitam, pucat dapat tampak
sebagai keabu-abuan). Kulit seperti berlilin, pucat (aplastik, AP) atau kuning lemon
terang (AP). Sklera : biru atau putih seperti mutiara (DB). Pengisian kapiler melambat
(penurunan aliran darah ke kapiler dan vasokontriksi kompensasi) kuku : mudah
patah, berbentuk seperti sendok (koilonikia) (DB). Rambut : kering, mudah putus,
menipis, tumbuh uban secara premature (AP).

c. Integritas ego

Gejala : keyakinanan agama/budaya mempengaruhi pilihan pengobatan, misalnya


penolakan transfusi darah.

Tanda : depresi.

d. Eleminasi

Gejala : riwayat pielonefritis, gagal ginjal. Flatulen, sindrom malabsorpsi (DB).


Hematemesis, feses dengan darah segar, melena. Diare atau konstipasi. Penurunan
haluaran urine.

Tanda : distensi abdomen.

e. Makanan/cairan

Gejala : penurunan masukan diet, masukan diet protein hewani rendah/masukan


produk sereal tinggi (DB). Nyeri mulut atau lidah, kesulitan menelan (ulkus pada
faring). Mual/muntah, dyspepsia, anoreksia. Adanya penurunan berat badan. Tidak
pernah puas mengunyah atau peka terhadap es, kotoran, tepung jagung, cat, tanah liat,
dan sebagainya (DB).

21
Tanda : lidah tampak merah daging/halus (AP; defisiensi asam folat dan vitamin
B12). Membrane mukosa kering, pucat. Turgor kulit : buruk, kering, tampak
kisut/hilang elastisitas (DB). Stomatitis dan glositis (status defisiensi). Bibir : selitis,
misalnya inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah. (DB).

f. Neurosensori

Gejala : sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinnitus, ketidak mampuan


berkonsentrasi. Insomnia, penurunan penglihatan, dan bayangan pada mata.
Kelemahan, keseimbangan buruk, kaki goyah ; parestesia tangan/kaki (AP) ;
klaudikasi. Sensasi manjadi dingin.

Tanda : peka rangsang, gelisah, depresi cenderung tidur, apatis. Mental : tak mampu
berespons, lambat dan dangkal. Oftalmik : hemoragis retina (aplastik, AP). Epitaksis :
perdarahan dari lubang-lubang (aplastik). Gangguan koordinasi, ataksia, penurunan
rasa getar, dan posisi, tanda Romberg positif, paralysis (AP).

g. Nyeri/kenyamanan

Gejala : nyeri abdomen samara : sakit kepala (DB)

h. Pernapasan

Gejala : riwayat TB, abses paru. Napas pendek pada istirahat dan aktivitas.

Tanda : takipnea, ortopnea, dan dispnea.

i. Keamanan

Gejala : riwayat pekerjaan terpajan terhadap bahan kimia,. Riwayat terpajan pada
radiasi; baik terhadap pengobatan atau kecelekaan. Riwayat kanker, terapi kanker.
Tidak toleran terhadap dingin dan panas. Transfusi darah sebelumnya. Gangguan
penglihatan, penyembuhan luka buruk, sering infeksi.

Tanda : demam rendah, menggigil, berkeringat malam, limfadenopati umum. Ptekie


dan ekimosis (aplastik).

j. Seksualitas

22
Gejala : perubahan aliran menstruasi, misalnya menoragia atau amenore (DB). Hilang
libido (pria dan wanita). Imppoten.

Tanda : serviks dan dinding vagina pucat.

8. Pemeriksaan Fisik

a. Gambaran Umum

Perlu menyebutkan:

1) Kesadaran penderita: apatis, sopor, koma, gelisah, komposmentis tergantung


pada keadaan klien.
2)BB sebelum sakit
3)BB saat ini
4)BB ideal
5)Status gizi
6)Status Hidrasi
7)Tanda-tanda vital:
a) TD
b) Nadi
c) Suhu
d) RR
b. Pmeriksaan head toe toe
1) KepalaTidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak ada penonjolan,
tidak ada nyeri kepala.
2) Leher Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan, reflek menelan ada.
3) MukaWajah terlihat menahan sakit, lain-lain tidak ada perubahan fungsi maupun
bentuk. Tak ada lesi, simetris, tak oedema.
4) MataTidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis (karena tidak terjadi
perdarahan)
5) TelingaTes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi atau nyeri
tekan.
6) Hidung tak ada pernafasan cuping hidung.
7) Mulut dan FaringTak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi perdarahan, mukosa
mulut tidak pucat.
8) ThoraksTak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris.
9) Paru

Inspeksi ; Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung pada riwayat


penyakit klien yang berhubungan dengan paru.

Palpasi ;Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama.

23
Perkusi ;Suara ketok sonor, tak ada erdup atau suara tambahan lainnya.

Auskultasi ; Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara tambahan lainnya
seperti stridor dan ronchi.

10) Jantung

Inspeksi; Tidak tampak iktus jantung.

Palpasi; Nadi meningkat, iktus tidak teraba.

Auskultasi ;Suara S1 dan S2 tunggal, tak ada mur-mur.

11) Abdomen

Inspeksi; Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.

Palpasi; Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak teraba.

Perkusi; Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan.

Auskultasi ; Peristaltik usus normal 20 kali/menit.

12) Inguinal-Genetalia-Anus Tak ada hernia, tak ada pembesaran lymphe, tak ada
kesulitan BAB.
13) Ekstremitas ;

9. Pemeriksaan Diagnostik

a. Jumlah darah rutin. Sampel darah yang diambil dari urat di lengan dinilai untuk
darah hitungan. Anemia terdeteksi jika tingkat hemoglobin lebih rendah daripada
normal.
b. Mungkin ada lebih sedikit sel darah merah daripada normal. Di bawah mikroskop
sel mungkin tampak kecil dan pucat daripada biasanya dalam kasus besi
kekurangan anemia.
c. Ukuran kecil disebut microcytic anemia. Dalam vitamin B12 folat kekurangan sel
mungkin tampak pucat tetapi lebih besar daripada ukuran mereka biasa. Ini
disebut macrocytic anemia.
d. Feritin toko-feritin adalah protein yang toko besi. Jika tingkat darah feritin rendah
menunjukkan rendah besi toko dalam tubuh dan membantu mendeteksi besi
kekurangan anemia.

24
e. Tes darah termasuk berarti sel volume (MCV) dan lebar distribusi sel darah merah
(RDW).
f. Retikulosit adalah ukuran dari sel muda. Ini menunjukkan jika produksi RBC
tingkat normal.
g. Vitamin B12 dan folat tingkat dalam darah-ini membantu mendeteksi jika anemia
jika karena kekurangan vitamin ini.
h. Analisis sumsum tulang untuk mendeteksi sel dewasa terlalu banyak seperti yang
terlihat dalam aplastic anemia atau kanker darah. Kurangnya besi dalam sumsum
tulang juga menunjuk ke arah besi kekurangan anemia.

3.2 Analis Data

No Pengelompokan data Masalah Etiologi


1. DS : Intoleransi aktivitas
Klien mengatakan sesak nafas saat
beraktivitas.
Klien mengatakan lemah dan lesu.
DO :
-TD kurang dari 120/80 mmhg.
-Tampak eritema.
2. DS; Nutrisi
Pasien mengatakan tidak ada nafsu
makan
DO;
-Tampak kurang minat terhadap
makanan
- membran mukosa pucat
- bising usus

3.

DS;

25
Pasien mengatakan.

DO;

Resiko infeksi

DS;

Klien mengatakan

DO;

-tampak warna kulit membiru

- tampak kuku tumbuh lambat

-ekstremitas dingin

-TD menurun

-Nadai lemah tidak teraba

Ketidaefektifan perfusi jaringan perifer

A. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan


kebutuhan oksigen.

26
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
yang kurang, anoreksia

3. Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh sekunder yang tidak adekuat
(mis: penurunan hemoglobin, eukopenia, supresi/penurunan respon inflamasi)

4. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan konsentrasi Hb dan


darah, suplai oksigen berkurang.

B. INTERVENSI KEPERAWATAN

Dx1: Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan


kebutuhan oksigen

Tujuan/Kriteria hasil: Melaporkan peningkatan toleransi aktivitas(termasuk aktivitas sehari-


hari.

Intervensi:

1. Kaji kemampuan pasien untuk melakukan untuk melakukan tugas/AKS normal.

2. Kaji kehilangan/gangguan keseimbangan gaya jalan, kelemahan otot.

3. Awasi tekanan darah, nadi, pernapasan selama dan sesudah aktivitas.

4. Berikan lingkungan tenang

5. Ubah posisi pasien dengan perlahan dan pantau terhadap pusing.

6. Anjurkan pasien untuk menghentikan aktivitas bila palpitasi.

Rasional:

1. Mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan

2. Menunjukkan perubahan neurologi karena defesiensi vitamin B12 mempengaruhi


keamanan pasien/resiko cedera.

3. Manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah
oksigen adekuat ke jaringan.

27
4. Meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh dan menurunkan
regangan jantung dan paru.

5. Hipotensi postural atau hipoksia serebral dapat menyebabkan pusing, berdenyut dan
peningkatan resiko cedera.

6. Regangan/stres kardiopulmonal berlebihan/stres dapat menimbulkan kegagalan.

Dx2: Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


ketidakmampuan untuk mencerna makanan.

Tujuan/Kriteria hasil: Menunjukkan peningkatan berat badan atau berat badan stabil dengan
nilai laboratorium normal.

Intervensi:

1. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai.

2. Observasi dan catat masukan makanan pasien.

3. Timbang berat badan tiap hari.

4. Berikan makan sedikit dan frekuensi sering dan/atau makan diantara waktu makan.

5. Observasi dan catat kejadian mual/muntah, flatus dan gejala lain yang berhubungan.

6. Berikan dan bantu hygiene mulut yang baik sebelum dan sesudah makan, gunakan sikat
gigi halus untuk penyikatan yang lembut. Berikan pencuci mulut yang diencerkan bila
mukosa oral luka.

7. Kolaborasi :

1. Berikan obat sesuai indikasi, mis.Vitamin dan suplemen mineral, seperti


sianokobalamin (vitamin B12), asam folat (Flovite); asam askorbat (vitamin C),

2. Besi dextran (IM/IV.)

Rasional:

1. Mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi.

2. Mengawasi masukan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan.

28
3. Mengawasi penurunan berat badan atau efektivitas intervensi nutrisi.

4. Makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan pemasukan juga


mencegah distensi gaster.

5. Gejala GI dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ.

6. Meningkatkan nafsu makan dan pemasukan oral, menurunkan pertumbuhan bakteri,


meminimalkan kemungkinan infeksi. Teknik perawatan mulut khusus mungkin diperlukan
bila jaringan rapuh/luka/perdarahan dan nyeri berat.

7. Kolaborasi :

1. Kebutuhan penggantian tergantung pada tipe anemia dan/atau adanya masukan oral
yang buruk dan defisiensi yag diidentifikasi.

2. Diberikan sampai defisit diperkirakan teratasi dan disimpan untuk yang tak dapat
diabsorpsi atau terapi besi oral, atau bila kehilangan darah terlalu cepat untuk penggantian
oral menjadi efektif.

Dx3: Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh sekunder yang tidak adekuat
(mis: penurunan hemoglobin, eukopenia, supresi/penurunan respon inflamasi).

Tujuan/Kriteria hasil: Mngidentifikasi perilaku untuk mencegah/menurunkan resiko infeksi.

Intervensi:

1. Tingkatkan cuci tangan yang baik oleh oemberi perawatan dan pasien.

2. Pertahankan teknik aseptic ketat pada prosedur/ perawatan luka.

3. Tingkatkan masukan cairan adekuat.

4. Pantau suhu, catat adanya menggigil dan takikardia dengan atau tanpa demam

5. Kolaborasi: berikan antiseptic topical, antibiotic sistemik.

Rasional:

1. Mencegah kontaminasi silang.

2. Menurunkan resiko infeksi bakteri.

29
3. Membantu dalam pengenceran secret pernafasan untuk mempermudah pengeluaran dan
mencegah statis cairan tubuh.

4. Adnya proses inflamasi/infeksi membutuhkan evaluasi/pengobatan.

5. Mungkin digunakan secara propilaktik untuk menurunkan kolonisasi atau untuk


pengobatan proses infeksi local.

Dx4: Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan konsentrasi Hb dan


darah, suplai oksigen berkurang.

Tujuan/Kriteria hasil:

Intervensi:

1. Adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap panas/dingin/tajam/tumpul.

2. Monitor adanya paretase

3. Instruksikan keluarga untuk mengobservasi kulit jika ada isi atau laserasi

4. Gunakan sarung tangan untuk proteksi

5. Batasi gerakan pada kepala, leher dan punggung

6. Kolaborasi pemberian analgetik

C. IMPLEMENTASI

Dx1: Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan


kebutuhan oksigen

Tujuan/Kriteria hasil: Melaporkan peningkatan toleransi aktivitas(termasuk aktivitas sehari-


hari.

IMPLEMENTASI

RASIONAL

1. Mengkaji kemampuan pasien untuk melakukan untuk melakukan tugas/AKS normal.

2. Mengkaji kehilangan/gangguan keseimbangan gaya jalan, kelemahan otot.

30
3. Mengawasi tekanan darah, nadi, pernapasan selama dan sesudah aktivitas.

4. Memberikan lingkungan tenang

5. Mengubah posisi pasien dengan perlahan dan pantau terhadap pusing.

6. Menganjurkan pasien untuk menghentikan aktivitas bila palpitasi.

1. Mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan

2. Menunjukkan perubahan neurologi karena defesiensi vitamin B12 mempengaruhi


keamanan pasien/resiko cedera.

3. Manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah
oksigen adekuat ke jaringan.

4. Meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh dan menurunkan


regangan jantung dan paru.

5. Hipotensi postural atau hipoksia serebral dapat menyebabkan pusing, berdenyut dan
peningkatan resiko cedera.

6. Regangan/stres kardiopulmonal berlebihan/stres dapat menimbulkan kegagalan.

Dx2: Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


ketidakmampuan untuk mencerna makanan.

Tujuan/Kriteria hasil: Menunjukkan peningkatan berat badan atau berat badan stabil dengan
nilai laboratorium normal.

IMPLEMENTASI

RASIONAL

1. Mengkaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai.

2. Mengobservasi dan catat masukan makanan pasien.

3. Menimbang berat badan tiap hari.

4. Memberikan makan sedikit dan frekuensi sering dan/atau makan diantara waktu makan.

31
5. Mengobservasi dan catat kejadian mual/muntah, flatus dan gejala lain yang
berhubungan.

6. Memberikan dan bantu hygiene mulut yang baik sebelum dan sesudah makan, gunakan
sikat gigi halus untuk penyikatan yang lembut. Berikan pencuci mulut yang diencerkan bila
mukosa oral luka.

7. Kolaborasi :

a. Memberikan obat sesuai indikasi, mis.Vitamin dan suplemen mineral, seperti


sianokobalamin (vitamin B12), asam folat (Flovite); asam askorbat (vitamin C),

b. Besi dextran (IM/IV.)

1. Mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi.

2. Mengawasi masukan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan.

3. Mengawasi penurunan berat badan atau efektivitas intervensi nutrisi.

4. Makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan pemasukan juga


mencegah distensi gaster.

5. Gejala GI dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ.

6. Meningkatkan nafsu makan dan pemasukan oral, menurunkan pertumbuhan bakteri,


meminimalkan kemungkinan infeksi. Teknik perawatan mulut khusus mungkin diperlukan
bila jaringan rapuh/luka/perdarahan dan nyeri berat.

7. Kolaborasi :

a. Kebutuhan penggantian tergantung pada tipe anemia dan/atau adanya masukan oral
yang buruk dan defisiensi yag diidentifikasi.

b. Diberikan sampai defisit diperkirakan teratasi dan disimpan untuk yang tak dapat
diabsorpsi atau terapi besi oral, atau bila kehilangan darah terlalu cepat untuk penggantian
oral menjadi efektif.

32
Dx3: Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan tubuh sekunder yang tidak adekuat
(mis: penurunan hemoglobin, eukopenia, supresi/penurunan respon inflamasi).

Tujuan/Kriteria hasil: Mngidentifikasi perilaku untuk mencegah/menurunkan resiko infeksi.

IMPLEMENTASI

RASIONAL

1. Meningkatkan cuci tangan yang baik oleh oemberi perawatan dan pasien.

2. Memoertahankan teknik aseptic ketat pada prosedur/ perawatan luka.

3. Meningkatkan masukan cairan adekuat.

4. Memantau suhu, catat adanya menggigil dan takikardia dengan atau tanpa demam

5. Kolaborasi: Memberikan antiseptic topical, antibiotic sistemik.

1. Mencegah kontaminasi silang.

2. Menurunkan resiko infeksi bakteri.

3. Membantu dalam pengenceran secret pernafasan untuk mempermudah pengeluaran dan


mencegah statis cairan tubuh.

4. Adnya proses inflamasi/infeksi membutuhkan evaluasi/pengobatan.

5. Mungkin digunakan secara propilaktik untuk menurunkan kolonisasi atau untuk


pengobatan proses infeksi local.

Dx4: Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan konsentrasi Hb dan


darah, suplai oksigen berkurang.

Tujuan/Kriteria hasil:

IMPLEMENTASI

RASIONAL

1. Adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap panas, dingin, tajam, tumpul.

33
2. Memonitor adanya paretase

3. Menginstruksikan keluarga untuk mengobservasi kulit jika ada isi atau laserasi

4. Menggunakan sarung tangan untuk proteksi

5. Membatasi gerakan pada kepala, leher dan punggung

6. Kolaborasi pemberian analgetik

D. EVALUASI

Evaluasi adalah perbandingan yang sistemik atau terencana tentang kesehatan pasien dengan
tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara berkesinambungan, dengan melibatkan
pasien, keluarga dan tenaga kesehatan lainnya. (Lynda Juall Capenito, 1999:28)

Untuk memudahkan perawat mengevaluasi atau memantau perkembangan klien dugunakan


komponen SOAP. Yang dimaksud dengan SOAP adalah:

S : data subyektif

Perawat menuliskan keluhan pasien yang masih dirasakan setelah dilakukan tindakan
keperawatan

O : data obyektif

Yaitu data berdasarkan hasil pengukuran atau observasi perawat secara langsung kepada
klien, dan yang dirasakan klien setelah dilakukan tindakan keperawatan.

A : analisis

Interpretasi dari data sunyektif dan data obyektif. Merupakan suatu masalah atau diagnosis
keperawatan yang masih terjadi, atau juga dapat dituliskan masalah/diagnosis baru yang
terjadi akibat perubahan status kesehatan klien yang telah teridentifikasi datanya dalam data
subyektif dan obyektif.

34
P : planing

Perencanaan keperawatan yang akan dilanjutkan, dihentikan, dimodifikasi, atau ditambahkan


dari rencana tindakan keperawatan yang telah ditentukan sebelumnya.

EVALUASI

Masalah Keperawatan

Catatan Perkembangan

Intoleransi aktifitas

S : klien mengatakan lemas

O: keluhan utama lemah

A: masalah belum teratasi

P: Intervensi dilanjutkan

Masalah Keperawatan

Catatan Perkembangan

Intoleransi aktifitas

S : klien mengatakan lemas

O: keluhan utama lemah

A: masalah belum teratasi

P: Intervensi dilanjutkan

35
Masalah Keperawatan

Catatan Perkembangan

Intoleransi aktifitas

S : klien mengatakan lemas

O: keluhan utama lemah

A: masalah belum teratasi

P: Intervensi dilanjutkan

Masalah Keperawatan

Catatan Perkembangan

Intoleransi aktifitas

S : klien mengatakan lemas

O: keluhan utama lemah

A: masalah belum teratasi

P: Intervensi dilanjutkan

BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Anemia adalah suatu keadaan di mana jumlah eritrosit yang beredar atau konsentraisi
hemoglobin menurun. Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin (Hb) dalam
darahnya kurang dari 12 gr% (Wiknjosastro, 2002). Sedangkan anemia dalam kehamilan
adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau

36
kadar <10,5 gr% pada trimester II (Saifuddin, 2002). Anemia dalam kehamilan yang
disebabkan karena kekurangan zat besi, jenis pengobatannya relatif mudah, bahkan murah.

B. SARAN

Hendaknya pelajar selalu menggali ilmu pengetahuan yang baru tentang ilmu keperawatan
lainnya yang menunjang bidang keperawatan serta dapat memanfaatkan buku-buku yang ada
di perpustakaan untuk menambah ilmu dan wawasan akan dunia keperawatan.

37