Anda di halaman 1dari 16

Laporan Praktikum ke-1 Hari/Tanggal : Kamis, 23 Februari 2017

Teknik Dasar Nekropsi Hewan Waktu : 08.00-12.00 WIB


Dosen : Drh. Vetnizah Juniantito. Ph.D
Drh. Heryudianto Vibowo

PENATAAN LETAK RUANGAN NEKROPSI

Kelompok 3 ( P1 ) :
Hesty Pusparina J3P115001
Dwiky Ramadhan J3P115009
Shelda Iswara A J3P115016
Wilda Febrianti J3P115023
Frisca Larasati J3P115032
Alfiandi Basyari J3P115035
Indah Elsa Khairunisa J3P115046
Sinta Boru Ginting J3P115056
Anggi Agustian J3P2150
Syifa Fauziah J3P215073

PROGRAM KEAHLIAN PARAMEDIK VETERINER


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017
1 PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Nekropsi untuk melakukan pemeriksaan yang cepat dan tepat dalam


menetapkan diagnosa pada beberapa sebab penyakit atau kematian dari seekor
hewan. Biasanya untuk melengkapi hasil diagnosa yang akurat harus ditunjang
dengan hasil pemeriksaan dari beberapa laboratorium penunjang, seperti
bakteriologi, virologi, parasitologi, patologi klinik, toksikologi, dan sebagainya.
Nekropsi tidak akan dapat mengungkapkan semua penyebab dari suatu penyakit,
penyebab kejadian suatu penyakit, kebanyakan berhubungan dengan manajemen,
termasuk pemenuhan nutrisi yang buruk, kekurangan pakan dan minum, ventilasi
yang tidak mencukupi, sanitasi yang buruk, unggas mengalami kedinginan atau
kepanasan, dan populasi yang berlebihan. Keadaan serupa tadi memerlukan
pemeriksaan lapangan untuk menentukan penyebab masalah. Nekropsi seringkali
dilakukan untuk dapat mengidentifikasi proses penyakit infeksius, defisiensi
nutrisi, keracunan, penyakit parasitik, dan tumor.
Salah satu penunjang keberhasilan hasil pemeriksaaan yaitu penataan dan
sarana ruangan nekropsi secara benar. Hal ini berfungsi untuk mencegah
kegagalan dalam pemeriksaan jangan sampai disebabkan oleh faktor perencanaan
dan perancangan fisik bangunan dan utilitasnya yang tidak memenuhi persyaratan
teknis. Pembangunan ruangan nekropsi bertujuan memperhatikan kaidah-kaidah
pelayanan kesehatan sehingga bangunan yang akan dibangun memenuhi standar
keamanan, kesehatan, kemudahan dan kenyamanan bagi pasien serta pengguna
bangunan lainnya supaya tidak berakibat buruk keduanya.

1.2 Tujuan

Tujuan praktikum penataan letak ruangan nekropsi ini adalah mahasiswa


mampu mengetahui penataan letak ruangan nekropsi dengan baik dan benar.
Mahasiswa mampu merencanakan pembangunan sarana dan prasarana ruang
nekropsi.

2 METODE

Metode yang digunakan dalam pembuatan laporan ini adalah metode


kepustakaan, yaitu mengambil informasi berdasarkan literatur berupa dokumen
seperti jurnal dan buku yang berkaitan dengan penataan letak ruangan nekropsi.
3 PEMBAHASAN

3.1 Ruang Nekropsi


Area ruang nekropsi menyediakan ruang untuk memeriksa hewan
meninggal atau melakukan prosedur terminal. Idealnya terletak baik dekat
laboratorium patologi diagnostik atau rute sirkulasi yang digunakan untuk limbah
keluar fasilitas. Ruang nekropsi memiliki luas sekitar 11.8 m 2 dan dilengkapi
dengan meja kerja nekropsi, counter, tempat cuci tangan, kabinet dinding, kulkas,
freezer, kotak cahaya dan penyalur gas scavenger gas (Library.binus.ac.id).

3.1.1 Dinding
Secara umum dinding harus keras, tidak porous, tahan api, kedap air, tahan
karat, tidak punya sambungan (utuh), dan mudah dibersihkan. Menurut direktorat
bina pelayanan penunjang medik dan sarana kesehatan kementerian kesehatan RI,
komponen dinding memiliki persyaratan yaitu dinding harus mudah dibersihkan,
tahan cuaca, tahan bahan kimia, dan tidak berjamur. Lapisan penutup dinding
harus bersifat non porosif (tidak mengandung pori-pori) sehingga dinding tidak
menyimpan debu. Warna dinding cerah tetapi tidak menyilaukan mata.
Hubungan/pertemuan antara dinding dengan dinding disarankan tidak siku, tetapi
melengkung untuk memudahkan pembersihan dan juga untuk melancarkan arus
aliran udara. Bahan dinding harus keras, tahan api, kedap air, tahan karat,
disarankan tidak punya sambungan (utuh), dan mudah dibersihkan.

3.1.2 Lantai
Lantai harus terbuat dari bahan kedap air, mempunyai kemiringan,
memiliki celah, tidak licin dan mudah dibersihkan. Lantai rungan nekropsi
sebaiknya mempunyai kemiringan + 1-2o yang cukup ke arah saluran pembuangan
air, hal ini supaya air tidak tergenang di permukaan lantai karena lantai ruangan
selalu kontak dengan air. Pertemuan lantai dan dinding harus berbentuk konus
atau lengkung agar mudah dibersihkan, dan tidak meninggalkan sisa kotoran
disela antara lantai dan dinding (hospital plint). Tinggi plint maksimal 15 cm.
Lantai yang digunakan berbahan keramik untuk menanggung beban berat,
biasanya keramik tersebut mempunyai tekstur tersendiri. Tekstur tersebut
berfungsi supaya lantai tidak licin ketika terkena siraman air dan tidak slip apabila
dimasukan eksterior rumah seperti jenis carport. Kelebihan dari bahan ini bila
mobil pada saat penerimaan cadaver. Selain itu lantai harus bersifat anti lumut
dan jamur, memiliki permukaan tanah yang padat tidak keras dan gembur. Hal ini
bertujuan menghindari adanya penurunan permukaan tanah saat menahan beban
berat. Penutup lantai tidak menggunakan warna yang menyilaukan mata.

3.1.3 Pintu
3.1.3.1 Pintu utama (pintu masuk ruang pembedahan)
Disarankan pintu geser (sliding door) dengan rel diatas, yang mampu
membuka dan menutup secara otomatis. Pintu harus dibuat sedemikian rupa
sehingga pintu dibuka dan ditutup dengan menggunakan sakelar injakan kaki atau
siku tangan dan atau menggunakan sensor. Jika keadaan listrik penggerak rusak,
pintu dapat dibuka secara manual. Pintu tidak boleh dibiarkan membukan dalam
keadaan pembedahan maupun diantara pembedahan. Pintu tersebut dilengkapi
dengan kaca jendela pengintai (obsevation glass : double glass fixed windows).
Lebar pintu 3200 mm, dan dicat anti bakteri dan anti jamur. Apabila
menggunakan pintu swing, maka pintu harus dapat dibuka ke arah dalam dan alat
penutup pintu otomatis harus dibersihkan setiap selesai pembedahan.

Gambar 1. Pintu Swing Manual

3.1.3.2 Pintu penghubung ruang pembedahan dan ruang instrumen atau peralatan
Sebaiknya pintu yang digunakan adalah jenis pintu swing, dan mengayun ke
arah ruang pembedahan. Pintu tidak boleh dibiarkan membukan dalam keadaan
pembedahan maupun diantara pembedahan. Lebar pintu 1100 mm, dan dicat
antibakteri dan jamur. Pintu dilengkapi dengan kaca jendela pengintai (obsevation
glass : double glass fixed windows ).

3.1.4 Pencahayaan
Secara umum persyaratan sistem pencahayaan ruang bedah harus
mempunyai pencahayaan alami maupun pencahayaan buatan atau mekanik,
termasuk pencahayaan darurat sesuai dengan fungsinya. Persyaratan teknis rumah
sakit, tempat tinggal, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan bangunan pelayanan
umum harus mempunyai bukaan untuk pencahayaan alami. Pencahayaan alami
harus optimal, disesuaikan dengan fungsi rumah sakit dan fungsi masing-masing
ruang di dalam rumah sakit. Pencahayaan buatan harus direncanakan berdasarkan
tingkat iluminasi yang dipersyaratkan sesuai fungsi ruang dalam rumah sakit
dengan mempertimbangkan efisiensi, penghematan energi yang digunakan, dan
penempatannya tidak menimbulkan efek silau atau pantulan. Pencahayaan di
ruangan harus memenuhi standar kesehatan dalam melaksanakan pekerjaannya
sesuai standar intensitas cahaya.

Tabel 1. Indeks Pencahayaan Menurut Jenis Ruang atau Unit

No Intensitas Cahaya
Ruang atau Unit Keterangan
(lux)
1 Ruang bedah 300 - 500 -
umum
2 Meja bedah 10.000 20.000 Warna cahaya
sejuk atau
sedang tanpa
bayangan
3 Toilet Minimal 100 -
4 Ruang alat Minimal 200 -
(Sumber : Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan
Kementerian Kesehatan RI)
3.1.5 Meja Operasi/bedah
Meja operasi/bedah adalah meja yang digunakan untuk membaringkan
pasien bedah dengan posisi yang sesuai, dimana dokter bedah akan melakukan
operasi pembedahan. Biasanya meja bedah terbuat dari beton dan lapisi dengan
alumunium dan mimiliki kemiringan 15 bertujuan agar meja operasi mudah di
bersihkan dan air dapat mengalir.
Secara umum, ada dua jenis meja operasi yaitu meja operasi yang
digerakkan secara hidrolik dan meja operasi yang digerakkan dengan
elektrohidrolik (sebelumnya ada meja operasi yang digerakkan secara mekanik).

Gambar 2. Meja Operasi/bedah

3.1.6 Lampu Operasi/bedah


Lampu operasi umumnya diletakkan menggantung di langit-langit ruang operasi,
dan berada di posisi di atas meja operasi (operating table). Namun untuk keperluan
lainnya, lampu operasi juga ada dari jenis yang diletakkan di lantai (floor mounted) atau
jenis pemasangan di dinding (wall mounted).

Gambar 3. Lampu Operasi/bedah


3.1.7 Dipping
Menurut Jeffrey (1997) pengendalian lalu lintas ini diterapkan pada
manusia, peralatan, barang, dan bahan. Pengendalian ini data berupa penyediaan
fasilitas kolam dipping dan spraying pada pintu masuk untuk kendaraan dan
manusia, penyemprotan desinfektan terhadap peralatan, kandang, dan petugas
lainnya dengan mengganti pakaian ganti dengan yang pakaian khusus.
Pemerikasaan kesehatan hewan yang datang serta adanya Surat Keterangan
Kesehatan Hewan (SKKH). Kolam dipping dibuat dengan membentuk cekungan
kecil yang berada di luar pintu masuk dengan kedalaman 15 cm yang berisi
desinfektan. Desinfektan yang digunakan adalah kresol, fenol, ammonium
kuartener, khlorin, formalin, iodofor.

3.1.8 Saluran Air

Gambar 4. Diagram pengelolaan air limbah rumah sakit


Sumber : http://www.kelair.bppt.go.id

Menurut pedoman teknis sarana dan prasarana rumah sakit kelas c,


persyaratan air bersih adalah harus tersedia air yang cukup dan memenuhi
persyaratan kesehatan, atau dapat mengadakan pengolahan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku. Tersedia air bersih minimal 500 liter/hari. Distribusi air
bersih di setiap ruangan harus menggunakan jaringan perpipaan yang mengalir
dengan tekanan positif. Penyediaan fasilitas air panas dan uap terdiri atas unit
Boiler, sistem inspeksi terhadap sarana air minum dan air bersih minimal 1 tahun
sekali. Kualitas air yang digunakan dalam ruang khusus.
Selain itu, tersedia penampungan air (reservoir) bawah atau atas, dan
sistem perpipaan air yang cukup dengan menggunakan selang plastik atau karet.
Hal ini bertujuan untuk membersihkan lantai sehabis digunakan pemeriksaan.
Saluran air pada permukaan lantai dialirkan ke pembuangan sementara. Limbah
cair dari ruangan nekropsi sebelum dibuang ke saluran umum diolah terlebih
dahulu dengan berbagai macam cara, salah satunya menggunakan sistem pengurai
anaerob. Pengolahan limbah dengan menggunakan sistem penguarai anaerob
dirancang untuk mengolah air limbah sebesar 15 m3/hari. Pengurai dibagi
menjadi empat dimensi yaitu ruang pengendapan awal, zona biofilter anaerob,
zona aerob, dan ruang pengendapan akhir. Tersedia air yang telah didesinfektan
untuk membersihkan lantai.

3.1.9 Timbangan
Berdasarkan klasifikasinya timbangan dapat dikelompokkan dalam
beberapa kategori sesuai fungsinya dan jenis timbangannya yaitu timbangan
manual, timbangan digital, timbangan analog, timbangan hybrid, timbangan
badan, timbangan gantung, timbangan lantai, timbangan duduk, timbangan emas.
Timbangan manual adalah jenis timbangan yang bekerja secara mekanis
dengan sistem pegas. Biasanya jenis timbangan ini menggunakan indikator berupa
jarum sebagai petunjuk ukuran massa yang telah terskala.
Timbangan digital adalah Jenis timbangan yang bekerja secara elektrolis
dengan tenaga listrik. Umunya timbangan ini menggunakan arus lemah dan
indikatornya berupa angka digital pada layar.
Timbangan analog adalah timbangan yang biasanya digunakan dalam
rumah tangga, timbangan ini juga sering digunakan oleh pedagang.
Timbangan hybrid adalah timbangan yang cara kerjanya merupakan
perpaduan antara timbangan manual dan digital. Timbangan hybrid biasanya
digunakan untuk lokasi yang tidak ada aliran listrik.
Timbangan badan adalah timbangan yang digunakan untuk menimbang
berat badan. Timbangan gantung adalah timbangan yang diletakkan dipermukaan
lantai. Timbangan lantai adalah timbangan yang diletakkan dipermukaan lantai.
Timbangan duduk adalah timbangan dimana benda yang ditimbang dalam
keadaan duduk atau sering disebut platform scale. Timbangan emas adalah jenis
timbangan yang memiliki akurasi tinggi untuk mengukur massa emas.
(Repository.uin-suska.ac.id)
Timbangan yang digunakan untuk menimbang berat badan hewan yang
banyak digunakan yaitu timbangan badan digital. Untuk menimbang berat badan
hewan yang kecil dan besar dibedakan pada ukurannya. Biasanya untuk RSH
terdapat timbangan dalam bentuk meja dan ukurannya untuk hewan besar
sehingga memudahkan dalam melakukan penimbangan berat badan dan terdapat
juga timbangan untuk hewan ukuran kecil.

3.1.10 Ruangan Pendingin


Ruangan pendingin disediakan diruangan nekropsi untuk tempat
penyimpanan cadaver yang akan dinekropsi jika setelah mati cadaver tidak
langsung dinekropsi. Tempat penyimpanan biasanya berupa refrigerator atau
ruangan yang dibuat sebesaar 2x2 meter dengan suhu 2C - 4C. Jika cadaver
ingin dibekukan suhu diturunkan menjadi -10C sampai dengan -50C. Setelah
selesai nekropsi limbah cadaver dibuang dengan cara pembakaran atau kremasi.
Kremasi dibuat disekitar ruangan nekropsi. Lokasi kremesi ini tidak dekat dengan
lingkungan masyarakat karena proses kremasi dapat mengganggu system respirasi
manusia.

3.1.11 Kamar mandi


Kamar mandi disediakan di dalam ruangan bedah untuk membilas bila
dokter atau teknisi terkena darah dari hewan yang sedang di bedah, di kamar
mandi ini terdapat saluran air dengan tegangan tinggi agar semua darah yg
menempel dapat langsung mengalir dan terbuang menuju saluran pembuangan. Di
kamar mandi terdapat sabun serta baju pengganti untuk dokter dan teknisi.

3.1.12 Katrol
Katrol yang digunakan pada ruang nekropsi adalah katrol untuk mengangkat
hewan besar sehingga ukuran penampangnya besar, sesuai dengan ukuran hewan
yang akan diangkat, dan dilengkapi dengan rantai penggantung yang kuat serta
terbuat dari bahan stainless steel atau anti karat.

3.1.13 Ukuran Ruangan

No Ruang Luas area Keterangan


Ruang
1 50 m2 Menyediakan lingkungan steril
pembedahan
untuk melakukan tindakan bedah
yang membutuhkan peralatan
besar dan tempat yang banyak
2 Ruang ganti 9 m2 Menyediakan shower

3 R.Sterilisasi 4 m2 Tempat pelaksanaan sterilisasi


instrumen dan barang lain
4 R. Parkir 2 m2 Untuk pemberhentian mobil
pengiriman cadaver
5 Gudang kotor 4 m2 Pembuangan kotoran bekas
Pelayanan
6 Gudang bersih 4 m2 Penyimpanan alat alat bersih
yang siap dipakai
Gudang alat
7 6 16 m2 Penyimpanan alat medik yang
medik
Diperlukan
2
8 R.Dekontaminasi + 15 m Tempat perendaman dan
pencucian instrumen bekas pakai
3.2 Peralatan
Sebelum pembedahan perlu dilakukan beberapa persiapan terlebih dahulu
yang meliputi persiapan alat, bahan dan pengisian kartu (form) nekropsi. Alat
yang digunakan meliputi spuit, needle, scalpel dengan beberapa jenis blade yang
berbeda jenis, gunting bedah (tajam-tumpul dan tajam-tajam), pinset, tissue
cassete, pot, tube, swab bakteriologis, apron plastik, gloves, masker, labeling
sticker, pen, penggaris dan kamera. Jarum pentul dan styrofoam dibutuhkan pada
diseksi tikus. Tali nilon dibutuhkan saat diseksi unggas sebagai ligasi pemotongan
saluran pencernaan, dan gunting tulang (bone crusher) untuk memotong tulang
rusuk unggas. Bahan yang dibutuhkan meliputi disinfektan, eter, sanitizer, 10%
buffer formalin netral dan detergen.

Gambar 5. Peralatan Bedah

Enterotome adalah alat digunakan untuk membuka usus, dengan bola diujungnya
untuk dimasukkan ke dalam lumen (lubang usus) sehingga tidak merusak jaringan
dalamnya.
Skull chisel adalah alat pahat untuk menyelesaikan pembukaan tengkorang kepala.
Hagedorn needle adalah jarum besar untuk mejahit tubuh setelah selesai kegiatan
nekropsi
Rib cutters adalah pemotong yang terlihat seperti gunting pemangkasan kecil
yang digunakan untuk memotong melalui tulang rusuk sebelum pencabutan pelat
dada. Beberapa prosektor benar-benar menggunakan gunting pemangkasan dari
toko perangkat keras yang mana lebih murah
Scalpel yang digunakan berbeda dengan scalpel bedah. Scalpel ini pegangannya
lebih panjang untuk mencapai bagian tubuh yang lebih dalam. Mata pisaunya
biasa dipakai dengan ukuran 22 dimana ukuran terbesar yang tersedia.
Toothed forceps adalah alat yang digunakan untuk pengambilan organ atau
jaringan dengan cengkraman yang lebih kuat dibandingkan dengan anatomy
forceps
Scissors adalah gunting yang biasa digunakan untuk membuka organ berongga
(seperti kantong empedu) dan pemotongan dari jaringan.
Bone saw adalah gergaji untuk memotong tulang.
Hammer with hook adalah palu yang digunakan untuk memisahkan calvarium dari
tengkorak yang lebih rendah. hook berguna untuk menarik calvarium.

Gambar 6. Hammer with Hook dan Breadknife


Breadknife disebut juga sebagai pisau panjang, ini digunakan untuk memotong
organ padat menjadi irisan untuk pemeriksaan, display, dan fotografi.

Gambar 7. Vibrating Saw


Vibrating saw adalah alat untuk memotong tulang dan tengkorak kepala.
Kerugiannya adalah dapat menyipratkan aerosols saat memotong.

3.3 Sterilisasi Alat


Sterilisasi yaitu proses membunuh semua mikroorganisme termasuk spora
bakteri pada benda yang telah didekontaminasi dengan tepat. Sterilisasi dalam
mikrobiologi adalah suatu proses untuk mematikan semua organisme yang
terdapat pada atau didalam suatu benda (Hadioetomo 1993). Tujuan sterilisasi
yaitu untuk memusnahkan semua bentuk kehidupan mikroorganisme patogen
termasuk spora, yang mungkin telah ada pada peralatan kedokteran dan perawatan
yang dipakai. Hal yang perlu dipertimbangkan dalam memilih metode sterilisasi
yaitu sifat bahan yang akan disterilkan. Sterilisasi dapat dilakukan dengan cara
sterilisasi pemanasan kering

3.3.1 Pemijaran/flambir
Cara ini merupakan cara yang sederhana, cepat, dapat dipakai langsung,
dan dapat menjamin sterilisasinya, namun penggunaannya terbatas pada beberapa
alat saja. Misalnya benda-benda dari logam (instrument), benda-benda dari kaca,
benda-benda dari porselen.
Caranya yaitu siapkan bahan yang disterilkan, baskom besar yang bersih,
brand spritus, dan korek api. Kemudian brand spritus dituangkan secukupnya ke
dalam baskom tersebut, dan dinyalakan dengan api. Setelah itu alat-alat instrumen
dimasukkan ke dalam nyala api.
3.3.2 Udara panas kering
Cara ini pada dasarnya merupakan suatu proses oksidasi yang
memerlukan suhu lebih tinggi bila dibandingkan dengan sterilisasi pemanasan
basah. Alat yang dapat dilakukan dengan cara ini yaitu benda-benda dari logam,
zat-zat seperti bubuk, talk, vaselin, dan kaca.
Caranya yaitu alat bahan harus dicuci, sikat dan desinfeksi terlebih dahulu.
Kemudian dikeringkan dengan lap dan diset menurut kegunaannya. Berilah
indikator pada setiap set. Bila menggunakan pembungkus, dapat memakai
aluminium foil. Oven harus dipanaskan dahulu sampai temperatur yang
diperlukan. Kemudian alat dimasukkan dan diperhatikan derajat pemanasannya.

3.3.3 Pemanasan basah


3.3.3.1 Dimasak dalam air biasa
Suhu tertinggi 100C, tapi pada suhu ini bentuk vegetatif dapat
dibinasakan, dan bentuk spora masih bertahan. Oleh karna itu untuk membunuh
spora dapat ditambahkan natrium nitrat 1% dan phenol 5%. Caranya yaitu alat
atau bahan instrumen dicuci bersih dari sisa-sisa darah, nanah atau kotoran lain.
Kemudian dimasukkan langsung ke dalam air mendidih, tambahkan nitrit 1% dan
phenol 5% agar bentuk sporanya mati. Waktu pensterilan 30-60 menit (menurut
pharmacopeRusia). Seluruh permukaan harus terendam.

3.3.3.2 Dengan uap air


Cara ini cukup efektif dan sangat sederhana. Dapat dipakai dengan
dandang/panci dengan penangas air yang bagiannya diberi lubang/sorongan, agar
uap air dapat mengalir bagian alat yang akan disterilkan.waktu sterilisasi 30
menit. Caranya yaitu alat-alat yang akan disterilkan dicuci, dibersihkan, disikat
serta didesinfeksi. Kemudian dibungkus dengan kertas perkamen dan dimasukkan
dalam dandang.

3.3.3.3 Sterilisasi dengan uap air bertekanan tinggi


Jenis sterilisasi ini merupakan cara yang paling umum digunakan dalam
setiap rumah sakit dengan menggunakan alat yang disebut autoclave. Caranya
yaitu alat-alat atau bahan-bahan yang akan disterilkan dicuci, disikat, dan
didesinfeksi. Kemudian diset menurut penggunaannya dan diberi indikator.
Kemudian dibungkus kain/kertas. Masukkan alat/bahan yang telah dibungkus ke
dalam autoclave.

3.3.3.4 Sterilisasi dengan penambahan zat-zat kimia


Cara ini tidak begitu efektif bila dibandingkan dengan cara pemanasan
kering. Cara ini digunakan pada bahan-bahan yang tidak tahan pemanasan atau
cara lain yang tidak bisa dilaksanakan karena keadaan. Contoh zat kimia
Formaldehyda, hibitane, Cidex.

3.3.3.5 Sterilisasi dengan radiasi ultraviolet


Hal ini karena disemua tempat itu terdapat kuman, maka dilakukan
sterilisasi udara. Biasanya dilakukan di tempat-tempat khusus misalnya di kamar
operasi, kamar isolasi, dan sebagainya. Udaranya harus steril dan dapat dilakukan
dengan sterilisasi udara (air sterilization) yang memakai radiasi ultraviolet.
3.3.3.6 Sterilisasi dengan filtrasi
Cara ini digunakan untuk udara atau bahan-bahan berbentuk cairan.
Filtrasi udara disebut HEPA (Hight Efficiency Paticulate Air). Tujuannya untuk
filtrasi cairan secara luas hanya digunakan dalam produksi obat-obatan atau pada
sistem irigasi dalam ruang operasi, maupun dalam perawatan medik lainnya yang
membutuhkan adanya cairan steril. Jenis filternya yang penting ialah pori-porinya
harus lebih kecil dari jenis kuman. Pori-pori filter ukurannya minimal 0,22
micron.

3.4 Alat Pelindung Diri


Alat pelindung diri mencakup sarung tangan, masker, alat pelindung mata
(pelindung wajah dan kaca mata), topi, apron dan pelindung lainnya. Di negara
lain topi, masker, apron dan duk sering terbuat dari kain atau kertas, namun
pelindung yang paling baik adalah yang terbuat dari bahan yang telah diolah atau
bahan sinetik yang tidak tembus air atau cairan lain (darah atau cairan tubuh).
Bahan yang tahan air ini tidak banyak tersedia karena harganya yang mahal. Di
banyak negara, kain katun ringan (dengan jumlah benang 140/inci 2) adalah bahan
yang paling umum digunakan untuk pamakaian bedah (masker, topi dan gaun)
serta duk. Sayangnya, katun yang ringan tersebut tidak merupakan penghalang
yang efektif, karena cairan dapat tembus dengan mudah sehingga memungkinkan
terjadinya kontaminasi. Denim, kanvas dan bahan berat lainnya, disisi lain, terlalu
tebal untuk ditembus oleh uap pada waktu pengukusan sehingga tidak dapat di
sterilkan, sulit dicuci dan memerlukan waktu yang terlalu lama untuk kering.
Sebaliknya bahan kain yang digunakan berwarna putih atau terang kotoran dan
kotaminasi dapat terlihat dengan mudah. Topi atau masker yang terbuat dari kertas
tidak boleh digunakan ulang karena tidak ada cara untuk membersihkannya
dengan baik. Jika tidak dapat dicuci jangan digunakan lagi (Depertemen
Kesehatan 2009).

3.4.1 Jenis-Jenis Alat Pelindung Diri


3.4.1.1 Sarung tangan
Sarung tangan berfungsi melindungi tangan dari bahan yang dapat
menularakan penyakit dan melindungi pasien dari mikroorganisme yan berada
ditangan petugas kesehatan. Sarung tangan merupakan penghalang (barrier) fisik
paling penting untuk mencegah penyebaran infeksi. Sarung tangan harus diganti
antara setiap kontak dengan satu pasien dengan pasien lainnya, untuk menghidari
kontaminasi silang.

3.4.1.2 Masker
Masker digunakan untuk menahan cipratan yang sewaktu petugas
kesehatan atau petugas bedah berbicara, batuk atau bersin serta untuk mencegah
percikan darah atau cairan tubuh lainnya memasuki hidung atau mulut petugas
kesehatan. Masker harus cukup besar untuk menutupi hidung, mulut, bagian
bawah dagu, dan rambut pada wajah (jenggot). Bila masker tidak terbuat dari
bahan yang tahan dari cairan, maka masker tersebut tidak efektif untuk mencegah
kedua hal tersebut.
3.4.1.3 Alat pelindung mata
Alat ini berfungsi untuk melindungi petugas dari percikan darah atau
cairan tubuh lainnya dengan cara melindungi mata. Pelindung mata mencakup
kacamata (goggles) plastik bening, kacamata pengaman, pelindung wajah dan
visor. Kacamata koreksi atau kacamata dengan lensa polos juga dapat digunakan,
tetapi hanya jika ditambahkan pelindung pada bagian sisi mata. Petugas kesehatan
harus menggunakan masker dan pelindung mata atau pelindung wajah, jika
melakukan tugas yang memungkinkan adanya percikan cairan secara tidak
sengaja kearah wajah. Bila tidak tersedia pelindung wajah, petugas kesehatan
dapat menggunakan kacamata pelindung atau kacamata biasa serta masker.

3.4.1.4 Topi
Topi digunakan untuk menutup rambut dan kulit kepala sehingga serpihan
kulit dan rambut tidak masuk kedalam luka selama pembedahan. Topi harus cukup
besar untuk menutup semua rambut. Tujuan utama topi ini adalah untuk
melindungi pemakainya dari darah atau cairan tubuh yang terpercik.

3.4.1.5 Gaun pelindung


Gaun pelindung digunakan untuk menutupi atau mengganti pakaian biasa
atau seragam lain, pada saat merawat pasien yang diketahui atau dicurigai
menderita penyakit menular melalui droplet/airbone. Pemakain gaun pelindung
terutama adalah untuk melindungi baju dan kulit petugas kesehatan dari sekresi
respirasi.
Ketika merawat pasien yang diketahui atau dicurigai menderita penyakit
menular tersebut, petugas kesehatan harus menggunakan gaun pelindung setiap
masuk ruangan untuk merawat pasien karena ada kemungkinan percikan atau
semprotan darah cairan tubuh, sekresi atau eksresi. Pangkal sarung tangan harus
menutupi ujung lengan gaun sepenuhnya.
Lepaskan gaun sebelum meninggalkan area pasien. Setelah gaun dilepas
pastikan bahwa pakaian dan kulit tidak kontak dengan bagian potensial tercemar,
lalu cuci tangan segera untuk berpindahnya organisme. Kontaminasi pada pakaian
yang dipakai saat bekerja dapat diturunkan 20-100 kali dengan memakai gaun
pelindung. Perawat yang menggunakan apron plastik saat merawat pasien bedah
abdomen dapat menurunkan transmisi S. Aureus 30 kali dibandingkan dengan
perawat yang memakai baju seragam dan ganti tiap hari.

3.4.1.6 Apron
Apron yang terbuat dari karet atau plastik yang merupakan penghalang
tahan air untuk sepanjang bagian depan tubuh petugas kesehatan. Petugas
kesehatan harus menggunakan apron dibawah gaun penutup ketika melakukan
perawatan langsung pada pasien, membersihkan pasien, atau melakukan prosedur
dimana ada resiko tumpahan darah, cairan tubuh atau sekresi. Hal ini sangat
penting bila gaun pelindung tidak tahan air apron akan mencegah cairan tubuh
pasien mengenai baju dan kulit petugas kesehatan.

3.4.1.7 Pelindung kaki


Pelindung kaki digunakan untuk melindung kaki dari cedera akibat benda
tajam atau benda berat yang mungkin jatuh secara tidak segaja ke atas kaki. Oleh
karena itu, sandal sandal jepit atau sepatu yang terbuat dari bahan lunak (kain)
tidak boleh dikenakan. Sepatu boot karet atau sepatu kulit tertutup memberikan
lebih banyak perlindungan, tetapi harus dijaga tetap bersih dan bebas kontaminasi
darah atau tumpahan cairan tubuh lain.
Penutup sepatu tidak diperlukan jika sepatu bersih. Sepatu yang tahan
terhadap benda tajam atau kedap air harus tersedia di kamar bedah, sebuah
penelitian menyatakan bahwa penutup sepatu dari kain atau kertas dapat
meningkatkan kontaminasi karena memungkinkan darah merembes melalui sepatu
dan sering kali digunakan sampai diruang operasi. Kemudian di lepas tanpa
sarung tangan sehingga terjadi pencemaran (Summers 1992).

3.4.2 Faktor-faktor penting yang harus diperhatikan pada pemakaian alat


pelindung diri
- Kenakan APD sebelum kontak dengan pasien, umumnya sebelum memasuki
ruangan
- Gunakan dengan hati-hati jangan menyebarkan kontaminasi
- Lepas dan buang secara hati-hati ke tempat limbah infeksius yang telah
disediakan di ruangan ganti khusus
- Lepas masker di luar ruangan
- Segera lakukan pembersihan tangan dengan langkah-langkah membersihkan
tangan sesuai pedoman

Tabel. Pemilihan Alat Pelindung Diri


Pilihan Alat Pelindung
Jenis Pajanan Contoh
Diri
Resiko Redah :
Kontak dengan Kulit Injeksi Sarung tangan
Tidak terpajan darah Perawatan luka ringan esensial
langsung
Resiko Sedang :
Kemungkinana terpajan darah Pemeriksaan pelvis Sarung tangan
namun tidak ada cipratan Insersi IUD Mungkin perlu gaun
Melepas IUD pelindung atau Celemek
Pemasangan kateter intra
vena
Penanganan spesimen
laboratorium
Perawatan luka berat
Ceceran darah
Resiko Tinggi :
Kemungkinan terpajan Tidakan bedah mayor Sarung tangan
darah dan kemungkinan Bedah mulut Celemek
terciprat Persalinan pervagina Kacamata pelindung
Perdarahan massif Masker
Sumber : Depertemen Kesehatan, 2009
4 SIMPULAN

Laporan ini dapat disimpulkan bahwa penataan letak ruangan nekropsi


harus ditata secara baik dan benar, hal ini dimaksudkan untuk memenuhi standar
keamanan keamanan dan kenyamanan pasien dan pengguna serta tidak merugikan
keduanya. Ruang nekropsi harus memiliki sarana dan prasarana yang terkendali
sehingga limbah dari ruangan nekropsi dapat dibuang ke penampungan sementara
kemudian disambungkan kepenampungan umum. Pembangunan ruangan nekropsi
strukturnya harus direncanakan kuat/kokoh dan memenuhi persyaratan pelayanan
selama umur layanan yang direncanakan dengan mempertimbangkan fungsi
bangunan, lokasi, keawetan dan kemungkinan pelaksanaan kontruksinya.
DAFTAR PUSTAKA

American Society of Heating, Refrigerating and Air Conditionign Engineers,


Handbook, Applications, 1974 Edition, ASHRAE.
American Society of Heating, Refrigerating and Air Conditionign Engineers,
HVAC Design Manual for Hospitals and Clinics, 2003 edition,
ASHRAE.
Anonimous. 2014. Patologi Sistemik. Surabaya(ID): Unair.
Fuller JR. Surgical Technology, Principles and Pratice, Saunders.
Hadioetomo. 1993. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta(ID): Gramedia.
Kunders GD. 2004 Facilities Planning and Management. Tata McGraw-Hill
Publishing Company Limited.
Peraturan Pemerintah Repupblik Indonesia No. 36 Tahun 2005, tentang Peraturan
pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2001, tentang
Bangunan
Gedung.
Uthman E. 1999. Autopsy Tools. Texas(US).