Anda di halaman 1dari 7

PENGELOLAAN DAERAH PANTAI CANDI DASA

SECARA TERPADU DAN BERKESINAMBUNGAN

I Nyoman Sedana Triadi


Jurusan Teknik Sipil, Politeknik Negeri Bali
Bukit Jimbaran, Po. Box 1064 Tuban Bandung-Bali
Telp. (0361) 701981 fax. 701128

ABSTRAK :
Permasalahan daerah pantai berupa rusaknya kawasan tepi pantai yang ditunjukkan oleh perubahan garis
pantai disebabkan oleh erosi, abrasi maupun sedimentasi, dan penanganan daerah pantai yang belum optimal.
Penanganan masalah pantai tidak hanya dilihat pada garis pantai itu saja, namun mencakup muara sungai yang ada,
masyarakat dan aktivitas di atasnya maupun utilitas serta sejarah kegiatan masyarakat yang mungkin berpengaruh
terhadap kondisi pantai di kawasan tersebut. Oleh karena itu diperlukan sebuah pengelolaan kawasan pantai yang
menyeluruh dan terpadu. Konsep perencanaan dan pengelolaan pantai menyeluruh dan terpadu meliputi aspek-aspek
administrasi, sosial, teknis, ekonomi, hukum, kelembagaan dan lingkungan.
Dari hasil analisa data serta kondisi eksisting, dapat disimpulkan bahwa kondisi Pantai Candidasa saat ini
telah rusak akibat erosi dan dapat dikategorikan sebagai pantai yang tidak lagi berpasir. Dalam rencana pengembangan
kawasan pantai Candidasa dan sekitarnya telah ditetapkan menjadi beberapa kawasan, sesuai dengan potensi atau
sumber daya ungulan yang dimilikinya, seperti untuk kawasan perikanan dan pertanian, kawasan wisata, kawasan
industri kecil dan perdagangan, kawasan permukiman tradisional dan wisata spiritual.
Untuk pengamanan pantai Candidasa telah ditetapkan empat bangunan pelindung pantai yang
memerlukan kegiatan monitoring dan pemeliharaan. Bangunan fisik tersebut antara lain revetment tipe batu armor,
groin tipe batu armor, pemecah gelombang tipe batu armor, dan isian pasir.

Kata kunci : kerusakan pantai, penataan kawasan, pengelolaan terpadu dan berkesinambungan.

ABSTRACT :
The coastal area problems such as coastal line demaged is caused of some reason, namely: erosion,
abrasion or high sedimentation, and inappropriate treatment of the coastal area it self. Coastal recovery therefor not only
concerned to the coastal line it self, but also covering existing river mouth, community and its activity over the area, and
all the infrastructure, and further more ablout the history of previous activities over it. Overcoming the problems, an
holistic and integrated coastal management is needed. A conceipt of holistic and integrated coastal management covering
administrative, socio-economy, technical, laws, institutions, and environment aspects.
Analyze toward data collected and existing reconaisannce found that Candidasa Beach is now have
already demaged caused of erossion. Coastal line is perform by civil construction and its category then grouped into non
sandy beach. In the development plan of Candidasa Beach and beyond, there is a plan to develop some sub-zone
integrates, depend on its specific advantages, such as: fishery and agriculture area, tourism area, small industry and trade
area, settlement area and spiritual tourism area.
In protecting Candidasa beach line, certain type of construction have already pointed for which its need
monitoring and maintaining activity. Those construction are : revetment made of armor, groin made of armor,
breakwater made of armor, and sandfill.

Key words : coastal demaged, area consolidation, holistic and integrated management.

I. PENDAHULUAN berkembang demikian cepatnya untuk berbagai


1.1. Latar Belakang keperluan diantaranya sebagai daerah pemukiman,
Pulau Bali memiliki pantai yang indah serta pelabuhan, industri, perikanan, pertanian dan juga
merupakan aset yang tidak ternilai harganya. Bagi sebagai kawasan rekreasi atau kawasan wisata. Selain
masyarakat Bali sendiri, pantai memiliki fungsi religius itu wilayah pantai merupakan garis depan pertahanan
sebagai tempat ibadah bagi umat Hindu. Pulau Bali juga terhadap bahaya yang mengancam daratan. Pantai
merupakan salah satu pulau tujuan wisata nasional maupun merupakan daerah penyangga terhadap bahaya
internasional, dengan obyek pariwisata yang menarik tsunami, gelombang pasang, banjir dan erosi. Secara
terutama keindahan pantai-pantainya. garis besar wilayah pantai mempunyai aspek
Mengingat posisi geografisnya, daerah pantai penyediaan ekologi, penyangga bahaya dan
merupakan daerah yang sangat strategis. Daerah pantai pemanfaatan oleh manusia. Setiap aspek mempunyai
1
hubungan yang erat satu sama lain. Sebagai konsekuensinya. pemanfaatan dan kemudian merencanakan serta
Manusia harus memonitor dan mengelola ketiga aspek mengelola segenap kegiatan pemanfaatannya; guna
tersebut secara terintegrasi untuk menjaga keharmonisan [1]. mencapai pembangunan yang optimal dan
Akhir-akhir ini, masalah yang muncul di daerah berkelanjutan [3]
pantai tidak hanya rusaknya kawasan tepi pantai dengan
berubahnya garis pantai baik oleh erosi, abrasi maupun 2.2. Tinjauan Kebijakan
sedimentasi, namun juga penanganan daerah pantai yang 1.Undang-Undang RI No 7 Tahun 2004 Tentang
belum optimal. Karena dalam penanganan masalah pantai Sumber Daya Air
tidak hanya dilihat pada pantai itu saja, namun merupakan 2.Undang Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang
suatu sistem kawasan pantai yang mencakup muara sungai Penataan Ruang sebagai pengganti Undang Undang
yang ada, masyarakat dan aktivitasnya maupun utilitas serta Nomor 24 Tahun 1992
sejarah kegiatan masyarakat yang mungkin berpengaruh 3.Undang- Undang RI No. 5 Tahun 60, tentang
terhadap kondisi pantai di kawasan tersebut [2] Agraria
4.Peraturan Pemerintah RI No 26 tahun 2008 tentang
1.2. Rumusan Masalah Rencana Tata Wilayah Nasional.
Berdasarkan latar belakang masalah seperti 5. Keputusan Presiden NO 32/1990 tentang
diuraikan di atas dapat diambil suatu rumusan permasalahan pengelolaan lingkungan.
sebagai berikut : 6. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 63/
a. Apa masalah Pantai Candidasa terkait dengan upaya PRT/ 1993 Tentang Garis Sempadan Sungai
pengelolaan daerah pantai 7.Peraturan Pemerintah : No. 19 Th.97, tentang
b. Apa yang dapat direncanakan untuk mengelola pencemaran
bangunan pengamanan daerah Pantai Candidasa 8. Keputusan Menteri LH : No. 45 Th 96, tentang
c. Seperti apa pengelolaan daerah Pantai Candidasa yang pantai lestari
perlu dikembangkan. 9.Keputusan Menteri PU : No. 128/KPTS/95,
tentang PPS
1.3. Tujuan Penelitian 10.Peraturan Daerah Provinsi Bali No. 3 Th. 2003,
Tujuan dari penelitian ini adalah : tentang RTRW. Prop. Bali
1. Mengidentifiakasi masalah-masalah yang ada, terkait
dengan upaya-upaya pengelolaan Pantai Candidasa saat 2.3. Konsep Pengelolaan Pantai Terpadu
ini. Prinsip-prinsip keterpaduan yang diartikan
2. Melakukan perencanaan pengelolan bangunan sebagai berikut [4]
pengamanan wilayah Pantai Candidasa. 1. Keterpaduan perencanaan sektor secara horisontal
3. Melakukan evaluasi dan monitoring terhadap 2. Keterpaduan perencanaan secara vertikal
pengelolaan bangunan wilayah Pantai Candidasa. 3. Keterpaduan antara ekosistem darat dan laut
4. Keterpaduan antara ilmu pengetahuan dan
1.4. Manfaat Penelitian manajemen
Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut : 5. Keterpaduan antara kepentingan ekonomi,
1. Dapat memberikan informasi mengenai pengelolan lingkungan dan masyarakat
wilayah Pantai Candidasa
2. Memberikan informasi tentang tindakan mitigasi yang Konsep perencanaan dan pengelolaan pantai
diperlukan dalam mengatasi berbagai permasalahan menyeluruh dan terpadu meliputi aspek-aspek
pengelolaan Pantai Candidasa administrasi, sosial, teknis, ekonomi, hukum,
3. Bagi khasanah keilmuan, hasil penelitian ini kelembagaan dan lingkungan. Delapan langkah
diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi penelitian kegiatan berikut ini dapat dipakai sebagai referensi [5]
lain untuk melakukan kajian yang lebih komprehensip yaitu:
dalam rangka pengembangan keilmuan khususnya ilmu 1. Klasifikasi rencana pengelolaan pantai yang
pengelolaan wilayah pantai. meliputi perencanaan strategis dan operasional,
dasar status pengelolaan, derajat integrasi dan
komprehensif,
II. TINJAUAN PUSTAKA
2. Rancangan kerangka kerja pengelolaan,
2.1. Pengelolaan Daerah Pantai 3. Penentuan alternatif dan subjek perencanaan,
Integrated Coastal Zone Management (ICZM) 4. Identifikasi proses produksi perencanaan termasuk
adalah pengelolaan pemanfaatan sumber daya alam dan yang bersifat konsensus, administratif, partisipasi
jasa-jasa lingkungan (environmental services) yang terdapat publik dan output yang diharapkan,
di kawasan pesisir, dengan cara melakukan penilaian 5. Rencana pengelolaan menyeluruh yang diuraikan
menyeluruh (comprehensive assessment) tentang kawasan dalam lingkup geografis yang meliputi
pesisir beserta sumber daya alam dan jasa-jasa lingkungan perencanaan integrasi tingkat internasional,
yang terdapat di dalamnya, menentukan tujuan dan sasaran regional, lokal dan rencana jurisdikasi,

2
6. Implementasi rencana induk yang harus disepakati Amat sangat berat : > 10,0m/th
semua pihak (komitmen), 2. Gerusan di kaki bangunan
7. Operasi dan pemeliharaan yang kontinyu, Ringan : tidak membahayakan konstruksi
8. Monitoring dan evaluasi sesuai dinamika Sedang: tidak begitu berbahaya terhadap
perkembangan. konstruksi
Berat: agak membahayakan stabilitas
III. METODELOGI konstruksi
3.1. Rancangan Penelitian Amat Berat :membahayakan stabilitas konstruksi
Penelitian dilakukan di Pantai Candidasa dan Amat sangat berat : membahayakan stabilitas
sekitarnya dengan metode penelitian deskritif kualitatif. konstruksi dan bangunan lain.
Metode deskritif kualitatif bertujuan untuk membuat 3. Daerah yang terkena erosi/gerusan dan
deskripsi atau gambaran secara sistematis, faktual dan akurat pengaruhnya terhadap daerah lain
mengenai suatu fenomena atau hubungan antar fenomena Ringan : lokal (5 10 m)
yang diselidiki. Metode deskritif kualitatif yang digunakan Sedang: lokal dan sekitarnya (10 100 m)
adalah metode wawancara dan survey yang bertujuan untuk Berat: daerah yang agak luas (100 500 m)
mendapatkan opini dari expert dan responden mengenai Amat Berat : daerah yang cukup luas
pengembangan wilayah Pantai Candidasa. (500 2000 m)
Amat sangat berat: daerah yang luas sekali
3.2.Metode Pengumpulan Data (> 2000 m)
Adapun data-data yang dibutuhkan dalam 4. Sedimentasi
pelaksanaan penelitian ini adalah terdiri dari 2 (dua) jenis, Ringan : lokal
yaitu : Sedang : lokal dan sekitarnya
1. Data Primer yaitu data yang dikumpulkan dari hasil (1 -2 km2)
pengamatan lapangan . Berat : daerah yang agak luas (2
2. Data Sekunder yaitu data yang diperoleh dalam bentuk -3 km2)
yang sudah jadi dan telah ada yang diperoleh dari Amat Berat : daerah yang
berbagai instansi terkait. cukup luas
(3 5 km2)
3.3. Lokasi Penelitian Amat sangat berat : daerah yang luas
Lokasi penelitian terletak di Kabupaten Karangasem sekali
merupakan pantai selatan di Pulau Bali Timur. Pantai (> 5 km2)
Candidasa sepanjang kurang lebih 5.0 km, terbagi menjadi 3 5. Kerusakan lingkungan Pemukiman
wilayah desa administratif, yaitu: Desa Bugbug, Kecamatan Ringan : beberapa rumah (1-5), berada pada
Karangasem dan Desa Nyuhtebel dan Desa Sengkidu, sempadan pantai dan tidak terjangkau oleh
Kecamatan Manggis. gempuran gelombang
Sedang : 5-10 rumah berada pada pada sempadan
3.4.Teknik Analisis Data pantai dan tidak terjangkau oleh gempuran
gelombang
3.4.1. Manajemen Pantai Berat : 5-10 rumah berada pada sempadan pantai
Salah satu metode manajemen adalah penggunaan dan terjangkau oleh gelombang
compatibility matrix. Dalam hal ini diperlukan Amat berat : 10-15 rumah berada pada sempadan
pemahaman/keahlian tentang geologi, biologi, engineering pantai dan terjangkau oleh gelombang
dll. Meskipun coastal management berkaitan dengan Amat sangat berat : pemukiman padat berada pada
berbagai bidang keahlian, adalah para engineer yang sempadan pantai dan terjangkau oleh gelombang.
merupakan penentu dalam keputusan teknis yang penting.
Alat yang dipergunakan dalam management pantai 3.4.3. Mitigasi Erosi Pantai
antara lain: zoning, peraturan-peraturan, kepedulian Beberapa cara yang dapat dipakai untuk
masyarakat dan konsultasi. menghilangkan atau mengurangi permasalahan erosi
pantai antara lain:
1. Preventif
- Pengelolaan tata guna lahan dan pembangunan di
areal pantai yang beresiko besar terjadi erosi.
3.4.2. Kriteria Kerusakan Pantai - Regulasi pengembangunan
1. Perubahan garis pantai
Ringan : < 0,50m/th 2. Pengamanan (protection) non structural
Sedang : 0,50 2,00m/th - Pengamanan sistem alamiah dengan mengadakan
Berat : 2,00 5,00m/th suatu daerah penyangga (buffer coastal erosion).
Amat Berat : 5,00 10,0m/th - Relokasi
3
- Menerima dan hidup berdampingan dengan B. Pantai Sengkidu
permasalahan erosi. - Daerah pariwisata dengan beberapa Hotel, Villa,
3. Pengamanan (protection) structural Restaurant dan Bungalows.
- Memodifikasi proses alamiah pantai (engineering - Aktifitas nelayan oleh masyarakat setempat.
modification) seperti revetment dan seawall; beach - Aktifitas keagamaan
nourishment, groin, artificial headland dan detached - Fasilitas peribadatan (Pura Dalem Samudra)
breakwater.
Dua opsi pertama di atas terfokus pada perilaku masyarakat C. Pantai Bugbug (Candidasa)
sedangkan yang terakhir difokuskan pada pengelolaan aspek - Daerah pariwisata dengan beberapa Hotel, Villa,
teknis dengan memperhatikan proses alamiah pantai. Restaurant dan Bungalows.
- Aktifitas nelayan oleh masyarakat setempat.
- Aktifitas keagamaan
IV. PEMBAHASAN
- Fasilitas peribadatan (Pura Dalem Samudra)
4.1. Kondisi Daerah Pantai Candidasa Saat ini
1. Kondisi Geografis, Lahan, Curah Hujan
3. Kondisi Perubahan Garis Pantai
Lokasi pekerjaan terletak di Kabupaten Karangasem,
Dari studi data sekunder, maka didapatkan
Provinsi Bali dengan luas wilayah 839,54 km2, terletak pada
kondisi saat ini, sehingga dapat diambil kesimpulan
8o 0000 sampai 8o 4137,8 Lintang Selatan dan 115o
sementara tingkat keberhasilan konstruksi pengamanan
359,8 sampai 115o 540,89 Bujur Timur, terbagi menjadi
yang sudah ada.
8 kecamatan dan 74 desa.
Dari data pada 2001, 2003 dan 2008 maka dapat
Dari fungsi lahannya, tercatat 7,011 Ha merupakan
diperbandingkan kondisi lapangan dari tahun ke tahun.
areal persawahan, dan 76,943 Ha bukan persawahan yang
Lokasi yang dibandingkan ditunjukkan dengan
terdiri dari kebun (22,389 Ha), pekarangan (2,447 Ha),
memberi lingkaran pada foto di atas. Dari data
hutan rakyat (2,273 Ha), hutan Negara (14,575 Ha),
tersebut, maka didapatkan bahwa secara visual selama
perkebunan (27,428 Ha), lahan kering lainnya (7,794 Ha),
kurun waktu 2001 2008 dpat dikatakan bahwa tidak
kolam/empang (0,035 Ha) dan tambak (0,002 Ha)[5]
terjadi perubahan garis pantai yang berarti sehingga
Curah hujan tercatat beragam menurut bulannya,
dengan jumlah curah hujan tercatat tertinggi adalah pada
bulan Januari - Pebruari dengan rata-rata curah hujan
125mm dengan rata-rata jumlah hari hujan sebanyak 18 hari.

2. Kondisi Fasilitas Sosial Ekonomi


A. Pantai Buitan
- Daerah pariwisata dengan beberapa hotel, villa dan
bungalows. Dalam bentang pantai ini terdapat hotel/resort
seperti Alila Manggis, Royal Hotel, Cangkrim Beach
Resort dll.

Gambar 2. Lokasi Penelitian Garis Pantai

dapat disimpulkan bahwa struktur yang ada dapat


berfungsi untuk menjaga kestabilan garis pantai.

4. Kondisi Muara Sungai


Berdasarkan hasil survey pengamatan lapangan
dan pengumpulan data, terdapat beberapa sungai yang
bermuara di lokasi penelitian. Sungai tersebut adalah
Tukad Samuh, Tukad Buwatan, dan Tukad Karangan.
Gambar 1. Aktifitas Keagamaan (Hindu)
Pada musim kemarau, sebagian besar sungai
mengalami pembelokan dan penutupan muara
- Aktifitas keagamaan umat Hindu (upacara-upacara adat)
(persentase pembukaan 30 50%) dengan
- Fasilitas peribadatan ( Pura Dalem Buitan, Pura Desa dan
Beberapa pura kecil) kecenderungan membentuk gosong pasir (sand spit) ke
- Aktifitas nelayan oleh masyarakat setempat. arah Barat. Hal ini diakibatkan debit sungai yang kecil
- Perkebunan Kelapa atau bahkan kering sehingga tidak mampu

4
memrpertahankan pembukaan muara dan arah datang 6. Diberikan ruang yang seluas-luasnya untuk aktifitas
gelombang dominan dari arah Tenggara. nelayan dengan membuatkan tempat menaikan dan
menurunkan perahu pada titi-titik yang telah
4.2. Identifikasi Permasalahan disepakati.
Selama melakukan kajian awal di lapangan dan studi
permulaan maka dapat disimpulkan beberapa permasalahan
di daerah studi antara lain : 4.4. Pengembangan Daerah Pantai Candidasa dan
1. Bentuk Tembok Pantai (Seawall) yang ada terbuat dari Sekitarnya
pasangan batu dengan kemiringan yang relatif tegak 1. Untuk Kawasan Wisata
(900). Kondisi ini mengakibatkan energi gelombang Daerah pantai Candidasa dapat dikembangkan menjadi
yang mengenai bangunan direfleksikan 90% dan pasir kawsan wisata bahari yang menarik, akibat pada
di dasar bangunan mengalami turbulensi hingga tererosi daerah tersebut mempunyai objek yang menawan,
ke laut. seperti: teluk yang indah, pasir pantai yang bersih, air
2. Posisi seri groin dan breakwater yang dibangun di yang jernih dengan gelombang yang spsifik (wave
lokasi pekerjaan kurang mampu menahan pasir yang surfing, wind surfing), pantai berterumbu karang,
berada di antara bangunan tersebut. tanaman laut yang indah ataupun bukit pasir yang aktif
3. Elevasi dari breakwater dan seri groin yang ditempatkan (active sand dunes). Kegiatan wisata bahari yang dapat
di lokasi pekerjaan dapat terlampaui dengan mudah saat dikembangkan didaerah pantai diantaranya adalah:
kondisi HWL, sehingga keeffektifan bangunan a. Wisata taman laut dengan kegiatan utamanya
diragukan untuk melindungi daratan. adalah diving, snorkling, dan submarine touring,
4. Penanganan yang dilakukan tidak komprehensif b. Wisata pantai dengan kegiatan utamanya adalah
terutama di Pantai Buitan hingga Sengkidu. sun-bathing, para-sailing, fising, selancar dan
berlayar.
c. Wisata kuliner dengan mengutamakan menu ikan
laut (sea food), dengan alam pedesaan
dikombinasikan dengan suasana pantai, dan
aktifitas nelayan setempat.
Kawasan pantai yang dikembangkan untuk pariwisata
biasanya dilengkapi dengan fasilitas perhotelan,
transportasi yang baik dan berbagai fasilitas
pendukung wisata lainnya.

2. Untuk Kawasan Permukiman Tradisional, dan


Wisata Spiritual
Daerah pantai Candidasa merupakan daerah yang
pemandangannya indah dan udaranya segar, serta di
Gambar 3 Kondisi Bangunan di Pantai Candidasa dukung adanya obyek pura dan mata air (laguna), serta
ditunjang oleh obyek wisata desa tradisional Tenganan,
5. Adanya kesulitan masyarakat untuk menyandarkan sehingga dapat dikembangkan pemukiman tradisional
perahu dalam aktifitas nelayan setempat. di wilayah tersebut.. Permukiman tradisional tersebut
biasanya dilengkapi dengan berbagai fasilitas wisata
4.3. Konsep Penanganan yang Diusulkan spiritual (panggung pertunjukan, lokasi nunas tirta,
1. Untuk jenis dan tipe konstruksi, secara umum dapat tempat meditasi, pusat perdagangan yang menyediakan
disimpulkan sistem pengamanan pantai yang ada masih fasilitas spiritual, dll)
dapat bertahan sampai 10 tahun ke depan.
2. Penanganan pantai skala besar, perlu dilakukan kajian
terhadap sistem pengamanan yang sudah ada dan bila 4.5. Rencana Fisik Penanganan Pantai
diinginkan untuk mengembalikan kondisi pantai berpasir. 1. Kriteria Pemilihan Batu
3. Pantai Candidasa dan Sengkidu secara alami memiliki Perencanaan revetment, groin dan breakwater dari
pantai dengan pasir putih yang diproduksi oleh gugusan rubble mound atau batu lepas ketiganya menggunakan
karang di lepas pantainya. Untuk itu penanganan yang formula yang sama, yaitu formula Hudson.
sesuai adalah memberikan pasir putih seperti kondisi awal
dari pantai ini. 2. Berat Batu Lapis Utama
4. Breakwater, groin yang ada di pantai Candidasa akan Disain diambil dengan gelombang maksimum yang
ditata letak letaknya sehingga dapat lebih effektif dalam bisa terjadi dalam keadaan pecah. Dari hasil analisa
menjaga pasir isian. yang dilakukan, maka besar batu yang diperlukan
5.Untuk mengurangi laju kehilangan pasir lebih besar akibat untuk lapis utama (armour rock) adalah 1500 Kg atau
tidak adanya breakwater, maka dilokasi ini akan diisi 1,5 Ton/Unit. Lapis antara diambil 10% dari lapis
dengan pasir yang lebih besar atau berat.
5
utama sehingga diambil 200 Kg/unit. Sedangkan untuk inti overfill RA dan renourishment rasio Rj sekitar 1,10.
bangunan ditetapkan 1-40 Kg. Artinya pasir yang diambil akan 10% lebih banyak dari
pada yang diperlukan, baik untuk cadangan kehilangan
3. Analisa Tinggi Bangunan selama proses pengisian maupun terbawanya lumpur
1. Revetment yang dibelakangnya tidak ada bangunan dan pengisian pasir harus dilakukan setiap tahun
bernilai ekonomis ( memperbolehkan terjadi run up ) sebesar 10%.
maka diambil ketinggian + 5.00 dari LWL. Dengan Prinsipnya pasir akan di isi sampai dengan
ketinggian ini diharapkan biaya yang diperlukan tidak tinggi elevasi berm alam yang ada, jika saat ini garis
terlalu besar dan secara structural masih sangat aman pantai di lokasi pengisian secara keseluruhan telah
karena ini merupakan bangunan yang didesain ditutup dengan bangunan perlindungan pantai, maka
overtopping. tinggi pengisian setidaknya sama dengan elevasi
2. Untuk revetment yang dibelakangnya pasang tertinggi ditambah tinggi run up dan jagaan,
melindungi fasilitas yang bernilai ekonomis, maka yaitu 3,00 + 1,20 + 0,80 = + 5,00 m.
elevasi aman yang tidak akan terjadi overtopping

Gambar 4. Analisa Perubahan Garis Pantai Pasca Isian di Pantai Candidasa


merupakan elevasi yang dipilih. Untuk kondisi ini 4.8. Rencana Operasi Dan Pemeliharaan
ditetapkan elevasi +6,00 hingga +6,50 sehingga limpasan Sehingga kegiatan operasi dan pemeliharaan
tidak mengenai bangunan maupun aktifitas di lebih tepat disebut kegiatan monitoring dan
belakangnya. pemeliharaan pantai yang difokuskan pada
Beberapa catatan yang diperlukan dalam perencanaan monitoring kondisi pantai termasuk
revetment ini antara lain : bangunan/struktur pengamannya. Hasil yang
1. Dibangun di depan seawall yang ada tanpa diharapkan dari kegiatan ini adalah memonitor
pembongkaran. kondisi pantai dan perubahannya, penggunaan areal
2. Alignment mengikuti yang ada dengan pengaturan agar pantai sesuai dengan aturan dan hukum yang ada serta
smooth. mencatat kerusakan yang mungkin terjadi pada
3. Penempatan tangga mengikuti yang ada. bangunan untuk dilakukan kegiatan pemeliharaan.
4. Bahan revetment dari andhesit. Sesuai dengan hasil kajian yang telah
dilakukan, di lokasi studi ditetapkan 4 (empat)
4.6. Pemecah Gelombang Type Tenggelam (Submerged bangunan pelindung pantai yang memerlukan
Breakwater) kegiatan monitoring dan pemeliharaan. Bangunan
Berdasarkan beberapa alternatif penentuan tinggi dan fisik tersebut antara lain :
lebar dari submerged breakwater di lokasi pekerjaan, maka 1. Revetment tipe batu armor
ditetapkan elevasi +1,50 dari datum dan lebar 20 m 2. Groin tipe batu armor
ditetapkan untuk menghasilkan koefisien transmisi (Kt) = 3. Breakwater / Pemecah Gelombang tipe batu
0,55 ( atau 55 % dari tinggi gelombang awal sebelum armor
melintasi breakwater). Dengan penempatan konstruksi 4. Isian pasir
breakwater berdimensi tersebut, tinggi gelombang setelah
melimpas maksimum adalah 0,68 m dan dari analisa yang
dilakukan, tinggi gelombang ini tidak beresiko terhadap 4.9. Monitoring dan Evaluasi
isian pasir yang ditempatkan. Monitoring dilakukan untuk aspek-aspek berikut:
Untuk meminimalkan biaya konstruksi, maka berat
batu di bagian offshore dari bangunan ditetapkan berat 1500 1. Aspek Fisik
Kg dan setelah itu digunakan batu 1000 Kg. - Perubahan terhadap garis pantai
- Perubahan muka air di muara sungai
- Perubahan terhadap bangunan pengaman pantai
4.7. Pengisian Pasir ( Beach Fill Works ) - Perubahan terhadap tingkat sedimentasi
Untuk lokasi dimana masih dimungkinkan dipasang - Kualitas Air
breakwater, akan dipilih pasir yang memberikan nilai - Perkembangan kekuatan tanah

6
- Perubahan kondisi dari perairan pesisir yang akan 1. Studi investigasi sumber pasir termasuk studi
kembangkan, terutama untuk kepentingan umum. kesesuaian jenis dan karakteristik pasir dengan
2.Aspek Ekologis kondisi aslinya.
- Keanekaragaman hayati 2. Studi terhadap metode pelaksanaan pengisian pasir
- Kelimpahan spesies yang harus memperhatikan dampak yang mungkin
timbul terhadap kondisi lingkungan di Pantai
3. Aspek Sosial Ekonomi Candidasa
- Tingkat pendapatan masyarkat 3. Studi AMDAL, RKL dan RPL.
- Hasil perikanan
- Perilaku sosial VI. DAFTAR PUSTAKA
- Pelaksanaan kegiatan pengembangan kawasan pantai
yang dinilai merusak kepentingan umum [1]. Siladharma, IGB, 2003. Strategi Mitigasi dan
4. Aspek Hukum Pengamanan Erosi Pantai, Lokakarya
- Ijin pemanfaatan lahan kegiatan pengembangan Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-pulau
- Konflik pemanfaatan dan kepentingan Kecil, Bali, 8 Juli 2003
- Pihak yang memperoleh ijin kegiatan pengembangan [2]. Balai Wilayah Sungai Bali-Penida, 2008. Studi
yang melanggar ketentuan perundangan Detail Desain Pantai Candidasa di Kabupaten
- Pihak yang mendapatkan ijin kegiatan pengembangan Karangasem. PT Arthacons.
atau keuntungan lain dengan cara yang tidak dapat [3].Sorensen, J.C. and S.T. McCreary. 1990.
dibenarkan. Institutional Arrangement for Managing
Resources and Environment 2nd ed. Coastal
5. Lembaga Publication No. 1. Renewable Resources
Kegiatan monitoring dan evalusai dilaksanakan oleh Information Series. US National Park Services
pemerintah daerah yang mengeluarkan ijin kegiatan di and US Agency for International Development,
kawasan pantai. Untuk melaksanakan kegiatan mulai Washington DC.
dari perencanaan, masterplan, studi kelayakan, [4]. Yuwono, N., 2001, Perlindungan Pantai dan
perencanaan detail, konstruksi, dan monitoring dan Tangul Laut, Prosiding Seminar dan Workshop,
evaluasi perlu dibentuk Badan Pengelola Kegiatan oleh Polder System in Waterfront Cities, Univ.
pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan Parahiyangan, Jakarta.
kewenangannya. [5]. Kay, R. And J. Alder. 1999. Coastal Planning and
Management. E & FN Spon. London.
V. PENUTUP [6]. BPS Kabupaten Karangasem, 2009. Karangasem
5.1. Kesimpulan Dalam Angka 2009. Karangasem Bali.
1 Dari hasil analisa kondisi eksisting dan data, maka dapat
disimpulkan bahwa kondisi Pantai Candidasa saat ini telah
rusak akibat erosi dan dapat dikategorikan menjadi pantai
yang tidak lagi memiliki pantai berpasir.
2. Untuk pengamanan pantai Candidasa telah ditetapkan
empat bangunan pelindung pantai yang memerlukan
kegiatan monitoring dan pemeliharaan, bangunan fisik
tersebut antara lain revetment tipe batu armor, groin tipe
batu armor, pemecah gelombang tipe batu armor, dan isian
pasir.
3.Daerah pantai Candidasa dan sekitarnya diprioritaskan
dikembangkan menjadi beberapa kawasan, seperti untuk
kawasan, perikanan dan pertanian, wisata, industri kecil,
perdagangan, permukiman tradisional dan wisata spiritual.
Kegiatan wisata bahari yang dapat dikembangkan
didaerah pantai diantaranya adalah:
- Wisata taman laut dengan kegiatan utamanya adalah
diving, snorkling, dan submarine touring,
- Wisata pantai dengan kegiatan utamanya adalah sun-
bathing, para-sailing, fising, selancar dan berlayar.

5.2. Saran-saran
Sehubungan dengan keterbatasan lingkup penelitian
ini, maka beberapa aspek belum dapat tercakup, maka
diperlukan studi lanjutan sebagai berikut: