Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN NEKROPSI KURA-KURA

Rabu, 2 Maret 2016

Disusun oleh:
Kelompok A
PPDH Gelombang I Tahun 2015/2016

Dosen Penanggung Jawab:


Dr. Drh. Sri Estuningsih, MSi, APVet

Dosen Tentor:
Drh Vetnizah Juniantito, PhD, APVet

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016
PENDAHULUAN

Nomor Protokol : P/15/16


Hari, tanggal : Rabu, 2 Maret 2016
Dosen PJ : Dr. Drh Sri Estuningsih, MSi, APVet
Dosen Tentir/Piket : Drh Vetnizah Juniantito PhD APVet

Sinyalemen
Nama Hewan : Nero
Jenis Hewan : Kura-kura darat (Tortoise)
Bangsa : Manouria emys
Jenis Kelamin : Betina
Umur : > 20 tahun
Tanggal Mati :-
Tanggal Nekropsi : 2 Maret 2016
Anamnesa : Belum pernah sakit selama dipelihara 20 tahun. Dua hari
sebelum mati, tidak mau makan. Ditemukan adanya cacing pada
pemeriksaan feses saudaranya yang sedang dirawat.

Hasil Pemeriksaan Epikrise


ORGAN EPIKRISE DIAGNOSA PA
KEADAAN UMUM LUAR
Tempurung TAK TAK
Mata TAK TAK
Telinga TAK TAK
Lubang kumlah lain TAK TAK
RONGGA TUBUH
Situs viserum TAK TAK
Lain-lain TAK TAK
TRAKTUS RESPIRATORIUS
Sinus hidung TAK TAK
Laring TAK TAK
Trakhea TAK
Paru-paru TAK TAK
TRAKTUS DIGESTIVUS
Rongga mulut TAK TAK
Lidah TAK TAK
Esofagus TAK TAK
Lambung Terdapat sisa makanan yang berwarna hemoragi
kehitaman
Usus halus TAK TAK
Usus besar Terdapat cacing dalam jumlah yang Helminthiasis, Enteritis
sangat banyak di sepanjang usus besar, granulomatosa et
terdapat nodul-nodul dengan berbagai hemoraghika
ukuran yang ketika diinsisi ditemukan
cacing, eksudat berwarna hitam.
Ln. mesenterica TAK TAK
Pankreas TAK TAK
Hati Hati berwarna biru, terdapat krepitasi di Dekomposisi
hati, terdapat nodul-nodul kecil, isi dari
hati rapuh
Kantung empedu TAK TAK
TRAKTUS SIRKULATORIUS
Jantung TAK TAK
Pembuluh darah TAK TAK

SISTEM LIMFORETIKULAR
Limpa TAK TAK
TRAKTUS UROGENITALIA
Ginjal
Ureter TAK TAK
Vesika urinaria TAK TAK
Uretra TAK TAK
Vagina TAK TAK
SISTEM LOKOMOSI
Otot TAK TAK
Tulang TAK TAK
Persendian TAK TAK

PEMBAHASAN

Hewan yang dinekropsi adalah kura - kura kaki gajah (Manouria emys) berumur lebih
dari 20 tahun. Selama 20 tahun dipelihara, kura-kura ini belum pernah jatuh sakit. Namun
dua hari menjelang kematiannya, kura- kura tidak ada nafsu makan. Manouria emys
merupakan jenis kura-kura darat (tortoise). Anatomi kura-kura tentunya berbeda dengan
mamalia. Organ tubuh pada kura-kura dilindungi oleh karapas (tempurung atas) dan plastron
(tempurung bawah). Susunan organ di dalam rongga tubuhnya pun berbeda dengan mamalia
(gambar 1).

Gambar 1 Anatomi tortoise (sumber: id.pinterest.com)

Pengamatan pada keadaan luar kura-kura tidak ditemukan kelainan pada karapas,
plastron, kulit, kuku, dll. Kemudian karapas dibuka melalui bagian tepi untuk mengambil
organ-organ di dalamnya. Situs vicerum tidak teramati dengan baik karena penyayatan
tempurung hanya dilakukan dari tepi.
Kura-kura darat bernafas menggunakan paru-paru. Tidak ditemukan kelainan pada
tractus respiratory pada kura-kura ini. Letak paru-paru pada hewan ini menempel pada
karapasnya, sehingga saat pengeluaran organ, paru-paru tidak terambil. Paru-paru reptil
terlihat seperti paru-paru mamalia yang mengalami emphysema, hanya berupa kantung-
kantung berselaput berisi udara kecil yang bergabung menjadi satu (gambar 2). Tekstur paru-
paru kenyal yang diciptakan oleh jaringan saluran udara, yang disebut faveoli. Kura-kura
dapat mengubah tekanan di dalam paru-paru dengan menggerakkan anggota badan dan keluar
dari tempurung (Kardong 1998).

Gambar 2 Paru-paru pada tortoise (sumber: campus.murraystate.edu)

Pemeriksaan traktus digestivus meliputi rongga mulut, esophagus, lambung, usus


halus, caecum dan colon. Hasil pemeriksaan pada rongga mulut, esophagus, dan usus halus
menunjukkan tidak ada kelainan. Pada lambung ditemukan adanya sisa makanan yang
berwarna kehitaman yang menandakan adanya perdarahan pada lambung. Pada pemeriksaan
caecum dan colon ditemukan banyak cacing dengan bentuk gilig (nematoda), panjang 1-2
cm, dan berwarna merah. Cacing ini termasuk dalam famili Ascarididae, namun spesies
cacing tidak diketahui.
Perubahan patologi yang disebabkan oleh infestasi cacing nematoda dalam jumlah
banyak dapat menyebabkan radang granuloma pada dinding saluran pencernaan. Permukaan
mukosa colon dan caecum ditemukan adanya granuloma dengan ukuran bervariatif 0.1-3 cm.
Infeksi cacing digolongkan dalam infeksi kronis. Granuloma akibat infeksi kronis sering juga
disebut sebagai pseudotumor karena sering dikelirukan dengan tumor (Franco dan de Brito
1994). Namun setelah diinsisi, sarang granuloma tersebut berisi cacing. Granuloma terbentuk
akibat adanya peradangan yang bersifat kronis disertai adanya agregasi sel-sel radang berupa
limfosit dan makrofag serta jaringan ikat (fibroblast). Pada kasus infeksi akibat cacing,
ditemukan pula eosinophil.
Infeksi cacing yang menyebabkan radang granulomatosa, di jaringan interstitial
didominasi oleh sel mononuklear dan sel raksasa (Sahara et al. 2013). Radang granulomatous
terjadi bila neutrofil tidak mampu memfagosit dan menetralkan agen penyebabnya.
Peningkatan sel plasma dan makrofag akan membentuk pola khusus berupa granuloma yang
dapat menyebabkan kerusakan jaringan (Shahab 2016). Dalam hal ini, tubuh berusaha untuk
mengucilkan parasit sehingga membentuk kapsul dari kumpulan sel radang. Reaksi ini
merupakan reaksi selular terhadapan pelepasan antgen kronik setempat.
Hati tortoise telah mengalami pembusukan. Hal ini ditandai dengan adanya krepitasi
atau akmulasi gas pada hati. Bakteri atau mikroorganisme pembusuk, Clostridium
welchii, menghasilkan asam lemak dan gas pembusukan berupa H2S, HCN, dan AA. Bila
Cl.Welchii mulai tumbuh pada satu organ parenchim, maka sitoplasma dari organ sel itu akan
mengalami desintegrasi dan nukleusnya akan dirusak sehingga sel menjadi lisis atau rhexis.
Kemudian sel-sel menjadi lepas sehingga jaringan kehilangan strukturnya. Secara
mikroskopis bakteri dapat dilihat menggumpal pada rongga-rongga jaringan dimana bakteri
tersebut banyak memproduksi gelembung gas. Ukuran gelembung gas yang tadinya kecil
dapat cepat membesar menyerupai honey combed appearance. Lesi ini dapat dilihat pertama
kali pada hati, sehingga hati mempunyai tekstur yang hampir mirip paru-paru.

KESIMPULAN

Kematian kura-kura ini disebabkan karena adanya endoparasitisme parah (severe


endoparasitism) karena kecacingan (helminthiasis).

Daftar Pustaka

Franco MF, de Brito T. 1994. Viewpoint Granulomatous Infalmation. Rev. Ins. Med. Trop.
Sao Paulo. 36(2):185-192.
Sahara Ana, Prastowo Joko, Widodo DP, Rohayati ES, Widyarini S. 2013. Identifikasi cacing
trematoda dan gambaran patologi ginjal burung merpati yang terinfeksi. J. Vet 4: 402-
407.
Shahab Muhammad. 2016. Reaksi imun pada radang kronik spesifik granulomatous. Diakses
dari https://www.academia.edu/18737080/Reaksi_imun_pada_radang_kronik_ spesifik_
granulomatous pada tanggal 3 Maret 2016.

Anda mungkin juga menyukai