Anda di halaman 1dari 43

Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

BAB IV

PERHITUNGAN DAN PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG

Pada perencanaan gedung ini penulis hanya merencanakan gedung bagian atas

bangunan yang direncanakan sebanyak 10 lantai dengan ketinggian gedung 40m.

4.1 Data- data Struktur

Pada bab ini akan menganilisis struktur atas, data-data struktur serta spesifikasi

bahan dan material adalah sebagai berikut :

1. Bangunan gedung digunakan sebagai Perkantoran

2. Lokasi struktur gedung di Jakarta

3. Tingkat daktilitas struktur diambil 3 (penuh)

4. Bangunan 10 lantai

5. Sistim pelat yang digunakan adalah konvensional

6. Beton Kuat tekan ( fc= 30 Mpa = 300 kg/cm2)

7. Tinggi lantai : Lantai 1 - 10 = 4.00 m

8. Tegangan leleh tulangan baja (fy)

a. Untuk balok dan kolom dipakai besi ulir ( fy= 400 Mpa )

b. Untuk sengkang dipakai besi ( fy= 240 Mpa dan 400 Mpa )

9. Modulus elastisitas beton, Ec = 4700

= 25742.96 Mpa = 257429.6 kg/cm2

10. Ratio tulangan tarik / tekan ( ) = As /bd , asumsi didaerah jakarta antara 0,010

0,015

IV-1
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

Beban sendiri bangunan dari komponen gedung yang di gunakan dalam tugas akhir

ini adalah sebagai berikut ini.

1. Beban mati tambah (SDL)

a. Beton bertulang = 2400 kg/m3 = 24 kN/m3

b. Spesi, per cm tebal = 21 kg/m2 = 0,21 kN/m2

c. Tegel, per cm tebal = 24 kg/m2 = 0,24 kN/m2

d. Langit-langit (plafon) = 18 kg/m2 = 0,18 kN/m2

e. Dinding batu pas. Bata = 250 kg/m2 = 2,5 kN/m2

f. Water proofing = 50 kg/m2 = 0,5 kN/m2

g. Mekanikal dan Elektrikal = 15 kg/m2 = 0,15 kN/m2

2. Beban hidup

a. Lantai = 250 kg/m2 = 2,5 kN/m2

b. Atap = 150 kg/m2 = 1,5 kN/m2

c. Air hujan (atap miring) = 20 kg/m2 = 0.2 kN/m2

d. Angin = 40 kg/m2 = 0.4 kN/m2

3. Reduksi beban hidup

Koefisien beban hidup untuk peninjauan gempa = 0,5

4. Beban gempa

Perhitungan beban gempa menyesuaikan dengan peraturan perencanaan tahan

gempa Indonesia untuk gedung 2012.

IV-2
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

Gambar denah dan potongan.

Gambar 4.1 Lay out rencana bangunan.

Gambar 4.2 potongan rencana bangunan.

IV-3
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

Gambar 4.3 tiga dimensi rencana bangunan.

4.2 Perancangan Awal ( Preliminary Design )

Perhitungan prarencana bertujuan untuk menghitung dimensi rencana struktur

seperti pelat, balok dan kolom agar diperoleh suatu nilai yang optimal.

4.2.1 Pra Rencana Pelat

Tinjau pelat dengan bentangan terpanjang, bentangan semua typical dengan

panjang bentangan yaitu 3.6 x 4.8 meter.

Ly = 4800 mm

Lx = 3600 mm

Perkiraaan Dimensi Balok ht = (1/12)*L s.d. (1/10)*L

bo = (1/2) * ht s.d. (2/3) * ht

ly / lx = 4.8 / 3.6 = 1.3

IV-4
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

Langkah 1

a. Mencari 1 & 3

Panjang bentang balok = 7200mm = 7.2m

Sisi kanan balok ( ka ) = 4800 mm = 4.8m

Sisi kiri balok ( ki ) = 4800 mm = 4.8m

Asumsi tebal pelat lantai (ho) = 130 mm

Perkiraan tinggi balok (ht) = L/12

= 7.2/12

= 0.6 m = 600 mm

Perkiraan balok (bo) = 0.5~0.65ht

= 0.5 x 600

= 0.30 = 300 mm

Ukuran balok 1&3 yang di gunakan adalah ht = 600 mm, bo = 300 mm

b. Lebar efektif balok (be)

Berdasarkan analisa sketsa gambar tersebut diatas adalah balok ( T ), maka lebar

efektif balok diambil dari hasil terkecil perhitungan sebagai berikut :

be1 . L = x 3600 = 900 mm

be2 bo + 2 x 8ho = 300 + 2 x 8 x 120 = 2220 mm

be3 bo + (Ln.ki - bo) + ( Ln.ka - bo)

300 + (4800 - 300) + ( 4800 - 300) = 4650 mm

Dari perhitungan diatas maka lebar (be) yang di pakai adalah 900 mm (terkecil)

IV-5
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

c. Menghitung nilai inersia balok

Untuk mengetahui ( I ) dapat di cari dengan menggunakan diagram dengan

langkah sebagai berikut :

Tebal pelat lantai di bagi tinggi balok = ho/ht = 120/600 = 0.2

Lebar efektif balok di bagi lebar balok = be/bo = 900/300 =3

Dari table inersia balok diagram di dapat ( I ) = 0.13

Ib1&3 = I x bo x ht^3 Ip1&3 = 1/12 x x (b1+b2) x ho^3

= 0.13 x 300 x 600^3

= 8424000000 mm4

1 & 3 = Ib / Ip

= 8424000000 / 691200000

= 12.19 mm

1 & 3 = Ib / Ip

= 8424000000 / 691200000

= 12.19 mm
Langkah 2

a. Mencari 2

Panjang bentang balok = 4800mm = 4.8m

Sisi kanan balok ( ka ) = 3600 mm = 3.6m

Sisi kiri balok ( ki ) = 3600 mm = 3.6m

Asumsi tebal pelat lantai (ho) = 120 mm

Perkiraan tinggi balok (ht) = L/14

= 4.8/14

= 0.343 m dibulatkan = 350 mm

IV-6
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

Perkiraan balok (bo) = 0.5~0.65ht

= 0.5 x 0.343

= 0.171 dibulatkan = 200 mm

Ukuran balok 2 yang di gunakan adalah ht = 350 mm, bo = 200 mm

b. Lebar efektif balok (be)

Berdasarkan analisa sketsa gambar tersebut diatas adalah balok ( T ), maka lebar

efektif balok diambil dari hasil terkecil perhitungan sebagai berikut :

be1 . L = x 4800 = 1200 mm

be2 bo + 2 x 8ho = 200 + 2 x 8 x 120 = 2120 mm

be3 bo + (Ln.ki - bo) + ( Ln.ka - bo)

200 + (3600 - 200) + ( 3600 - 200) = 3500 mm

Dari perhitungan diatas maka lebar (be) yang di pakai adalah 1200 mm (terkecil)

c. Menghitung nilai inersia balok

Untuk mengetahui ( I ) dapat di cari dengan menggunakan diagram dengan

langkah sebagai berikut :

Tebal pelat lantai di bagi tinggi balok = ho/ht = 120/350 = 0.34

Lebar efektif balok di bagi lebar balok = be/bo = 1200/200 = 6

Dari table inersia balok diagram di dapat ( I ) = 0.168

Ib2 = I x bo x ht^3 Ip2 = 1/12 x x (b1+b2) x ho^3

= 0.168 x 200 x 350^3 = 1/12 x x (3600+3600) x 120^3

= 1440600000 mm4 = 518400000 mm4

IV-7
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

2 = Ib / Ip

=1440600000 / 518400000

= 2.78 mm
Langkah 3

a. Mencari 4

Panjang bentang balok = 4800mm = 4.8m

Sisi kanan balok ( ka ) = 3600 mm = 3.6m

Sisi kiri balok ( ki ) = 3600 mm = 3.6m

Asumsi tebal pelat lantai (ho) = 120 mm

Perkiraan tinggi balok (ht) = L/13

= 4.8/13

= 0.4 m = 400 mm

Perkiraan balok (bo) = 0.5~0.65ht

= 0.5 x 0.4

= 0.2 = 200 mm

Ukuran balok 4 yang di gunakan adalah ht = 400 mm, bo = 200 mm

b. Lebar efektif balok (be)

Berdasarkan analisa sketsa gambar tersebut diatas adalah balok ( T ), maka lebar

efektif balok diambil dari hasil terkecil perhitungan sebagai berikut :

be1 . L = x 4800 = 1200 mm

be2 bo + 2 x 8ho = 200 + 2 x 8 x 120 = 2120 mm

be3 bo + (Ln.ki - bo) + ( Ln.ka - bo)

200 + (3600 - 200) + ( 3600 - 200) = 3500 mm

Dari perhitungan diatas maka lebar (be) yang di pakai adalah 1200 mm (terkecil)

IV-8
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

c. Menghitung nilai inersia balok

Untuk mengetahui ( I ) dapat di cari dengan menggunakan diagram dengan

langkah sebagai berikut :

Tebal pelat lantai di bagi tinggi balok = ho/ht = 120/400 = 0.30

Lebar efektif balok di bagi lebar balok = be/bo = 1200/200 =6

Dari table inersia balok diagram di dapat ( I ) = 0.166

Ib4 = I x bo x ht^3 Ip4 = 1/12 x x (b1+b2) x ho^3

= 0.166 x 200 x 400^3 = 1/12 x x (3600+3600) x 120^3

= 2124800000 mm4 = 518400000 mm4

4 = Ib / Ip

=2124800000 / 518400000

= 4.10 mm
Langkah 4

Mencari m = ( 1 + 2 + 3 + 4 )/4

= (12.19 + 2.78 + 12.19 + 4.10 )/4

= 7.81

m > 0.2

Langkah 5

Mengecek tebal pelat lantai

Ln = bentang terpendek - 0.5 x (bo) - 0.5 x (bo )

= 3600 - 0.5 x 200 - 0.5 x 200

= 3400mm

IV-9
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

fc 30 = 0.85

ho (Ln x ( 0.8 + (fy/1500)) / ( 36 + ( 9 x ))

SNI 03-2847-2002 ( pasal17(11.5.3.2)

(3400 x ( 0.8 + (400/1500)) / ( 36 + ( 9 x 0.85 ))


= 83.09mm

120 83.09 jadi tebal pelat OK

Maka diambil tebal pelat sebagai berikut :


Tebal pelat atap = 130 mm
Tebal pelat lantai = 130 mm

4.3 Pra Rencana Dimensi Balok

Gambar 4.4 denah parsial pembebanan balok.

IV-10
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

Gambar 4.5 area pembebanan balok.

4.3.1 Pra Rencana Dimensi Balok induk (A)

Ditinjau dari luas lantai yaitu pelat 4800 x 7200 mm2

a. Perkiraaan Dimensi Balok dengan bentang 7200mm

ht = (1/12) * L s.d. (1/10) * L

bo = (1/2) * ht s.d. (2/3) * ht

Rencana Dimensi balok 300/600

Cek dimensi balok dengan syarat-syarat:


1. bw*400 250mm
30*400 = 12000 250mm -------------- ok!
2. bw/h 0,3
30/60 = 0,5 0,3 -------------- ok!
3. min < < max

1,4/fy < < 0,75 b--> b = 0,85*1*(fc/fy)*(600/(600+fy))


= 0,85*0.85*(30/400)*(600/(600+400))
b = 0,033
0,0035 < < 0,025

IV-11
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

Mencari nilai
a. Beban mati (DL)
- Pelat (h=12) = 0,12*24 = 2,88 kN/m2
- Plafon = 0,18 kN/m2
- mekanikal dan elektrikal = 0,15 kN/m2
- Spesi t.4cm = 0.04*21 = 0,84 kN/m2
- Keramik = 0,24 kN/m2
Total DL = 4,29 kN/m2
b. Beban hidup (LL)
- Beban hidup lantai = 2,50 kN/m2
c. Beban ultimate (Wu)
Wu = 1,2DL + 1,6LL = (1,2*4,29) + (1,6*2,50) = 9,15kN/m2
d. perhitungan q equivalen area (Eq-1)
qu Eq-1 = 1/3*Wu*Lx
= 1/3*9,15*3,6
= 10,98 kN/m1
qu Eq-1 total = 10,98*4
= 43,92 kN/m1

e. Beban mati balok 30/60 ( DL )


DL = 0,3 * ( 0,60 - 0,12 )*24*1
= 3,46 kN/m1

f. Beban mati ultimate balok qu( b )


qu ( b ) = 1,2*3,46
= 4,15 kN/m2

g. Beban total Equivalen


= 43,92 + 4,15
= 48,07 kN/m

IV-12
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

Untuk balok yang ujungnya menerus memiliki koefisien momen = 1/10 dari tabel
koefisien momen CUR 4

Mu = koef momen*qu*ln2 = 1/10*48,07 *7,22


= 249.194880 kN/m = 249194880 N/mm

Asumsi Tinggi efektif balok (d)


d1 = 40 + 10 + (22/2) = 61
d = h - d1
= 600 - 61 = 539mm

Mu/bd2 = 249194880 / (300*5392) = 2.859


Dari tabel CUR 4 mutu beton fc = 30, fy = 400 dan = 1 didapat --- =
Interpolasi
Dari tabel Mu/bd2 = 2,800 diperoleh = 0,0074
Mu/bd2 = 3,000 diperoleh = 0,0079
Dengan cara interpolasi, maka untuk Mu/bd2 = 2,859 diperoleh
= 0,0074 + ((2,859 - 2,800 ) / ( 3,000 - 2,800 )) x (0,0079 - 0,0074 )
= 0,0075
0,0036 < 0,0075 < 0,025
Jadi dimensi balok 30/60 dapat dipakai.

4.3.2 Pra Rencana Dimensi Balok induk (B)

Ditinjau dari luas lantai yaitu pelat 4800 x 7200 mm2


a. Perkiraaan Dimensi Balok dengan bentang 4800mm
ht = (1/12) * L s.d. (1/10) * L
bo = (1/2) * ht s.d. (2/3) * ht
Rencana Dimensi balok 200/400

Cek dimensi balok dengan syarat-syarat:


3. bw*400 250mm
20*400 = 8000 250mm -------------- ok!
IV-13
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

4. bw/h 0,3
20/40 = 0,5 0,3 -------------- ok!
5. min < < max
1,4/fy < < 0,75 b--> b = 0,85*1*(fc/fy)*(600/(600+fy))
= 0,85*0.85*(30/400)*(600/(600+400))
b = 0,033
0,0035 < < 0,025

Mencari nilai
a. Beban mati (DL)
- Pelat (h=12) = 0,12*24 = 2,88 kN/m2
- Plafon = 0,18 kN/m2
- mekanikal dan elektrikal = 0,15 kN/m2
- Spesi t.4cm = 0.04*21 = 0,84 kN/m2
- Keramik = 0,24 kN/m2
Total DL = 4,29 kN/m2

b. Beban hidup (LL)


- Beban hidup lantai = 2,50 kN/m2

c. Beban ultimate (Wu)


Wu = 1,2DL + 1,6LL = (1,2*4,29) + (1,6*2,50) = 9,15 kN/m2

d. perhitungan q equivalen area (Eq-2)


qu Eq-2 = (3-(lx/ly)^2)*(wu*lx/6)
= (3-(4,8/7,2)^2)*(9,15*4,8/6)
= 18,71 kN/m1
qu Eq-2 total = 18,71*2
= 37,41 kN/m1

IV-14
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

e. Beban mati balok 20/40 ( DL )


DL = 0,2 * ( 0,40 - 0,12 )*24*1
= 1,34 kN/m1

f. Beban mati ultimate balok qu( b )


qu ( b ) = 1,2*1,34
= 1,61 kN/m2
g. Beban total Equivalen
= 37,41 + 1,61
= 39,02 kN/m
Untuk balok yang ujungnya menerus memiliki koefisien momen =1/10 dari tabel
koefisien momen CUR 4

Mu = koef momen*qu*ln2 = 1/10*39,02 *4,82


= 89.902080 kN/m = 89902080 N/mm
Asumsi Tinggi efektif balok (d)
d1 = 40 + 10 + (22/2) = 61
d = h - d1
= 400 - 61 = 339mm
Mu/bd2 = 89902080 / (200*3392) = 3,912
Dari tabel CUR 4 mutu beton fc = 30, fy = 400 dan = 1 didapat --- =
Interpolasi
Dari tabel Mu/bd2 = 3,800 diperoleh = 0,0103
Mu/bd2 = 4,000 diperoleh = 0,0109
Dengan cara interpolasi, maka untuk Mu/bd2 = 3,912 diperoleh
= 0,0103 + ((3,912- 3,800) / (4,000- 3,800)) x (0,0109- 0,0103)
= 0,0106
0,0036 < 0,0106 < 0,025
Jadi dimensi balok 200/400 dapat dipakai.

IV-15
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

4.3.3 Pra Rencana Dimensi Balok Anak

Ditinjau dari luas lantai yaitu pelat 4800 x 7200 mm2


a. Perkiraaan Dimensi Balok dengan bentang 4800mm
ht = (1/12) * L s.d. (1/10) * L
bo = (1/2) * ht s.d. (2/3) * ht
Rencana Dimensi balok 200/350

Cek dimensi balok dengan syarat-syarat:


5. bw*400 250mm
20*400 = 8000 250mm -------------- ok!
6. bw/h 0,3

20/35 = 0,6 0,3 -------------- ok!

7. min < < max


1,4/fy < < 0,75 b --> b = 0,85*1*(fc/fy)*(600/(600+fy))
= 0,85*0.85*(30/400)*(600/(600+400))
b = 0,033

0,0035 < < 0,025

Mencari nilai
a. Beban mati (DL)
- Pelat (h=12) = 0,12*24 = 2,88 kN/m2
- Plafon = 0,18 kN/m2
- mekanikal dan elektrikal = 0,15 kN/m2
- Spesi t.4cm = 0.04*21 = 0,84 kN/m2
- Keramik = 0,24 kN/m2
Total DL = 4,29 kN/m2
b. Beban hidup (LL)
- Beban hidup lantai = 2,50 kN/m2
c. Beban ultimate (Wu)
Wu = 1,2DL + 1,6LL = (1,2*4,29) + (1,6*2,50) = 9,15 kN/m2
IV-16
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

d. perhitungan q equivalen area (Eq-2)


qu Eq-3 = (3-(lx/ly)^2)*(wu*lx/6)
= (3-(4,8/7,2)^2)*(9,15*4,8/6)
= 18,71 kN/m1
qu Eq-3 total = 18,71*2
= 37,41 kN/m1
e. Beban mati balok 20/35 ( DL )
DL = 0,2 * ( 0,35 - 0,12 )*24*1
= 1,104 kN/m1
f. Beban mati ultimate balok qu( b )
qu ( b ) = 1,2*1,104
= 1,32 kN/m2
g. Beban total Equivalen
=37,41+1,32
= 38,73 kN/m
Untuk balok yang ujungnya menerus memiliki koefisien momen = 1/10 dari tabel
koefisien momen CUR 4

Mu = koef momen*qu*ln2 = 1/10*38,73 *4,82


= 89.233920 kN/m = 89233920 N/mm
Asumsi Tinggi efektif balok (d)
d1 = 40 + 10 + (22/2) = 61
d = h - d1
= 350 - 61 = 289mm

Mu/bd2 = 89233920 / (200*2892) = 5,342

Dari tabel CUR 4 mutu beton fc = 30, fy = 400 dan = 1 didapat --- = Interpolasi
Dari tabel Mu/bd2 = 5,200 diperoleh = 0,0147
Mu/bd2 = 5,400 diperoleh = 0,0153
Dengan cara interpolasi, maka untuk Mu/bd2 = 5.342 diperoleh
= 0,0147+ ((5.342 - 5,200) / (5,400- 5,200)) x (0,0153- 0,0147)
= 0,0151
IV-17
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

0,0036 < 0,0151 < 0,025


Jadi dimensi balok 200/350 dapat dipakai.

4.4 Pra Rencana Dimensi Kolom

Luas daerah pembebanan 4.8 x 7.2 = 34.56 m2


Panjang balok untuk G1 adalah 30/60 yang dipikul kolom = 7.2 m
Panjang balok untuk G2 adalah 20/40 yang dipikul kolom = 4.8 m
Dimensi tebal pelat 12 cm

1. Beban vertikal kolom


1.a Pembebanan Lantai 1 s/d 10
a. Beban Mati (DL1)
- Pelat (h=15cm) = 0,12*24 = 2,88 kN/m2
- Plafon = 0,18 kN/m2
- Spesi = 0,21 kN/m2
- M/E = 0,10 kN/m2
- Keramik = 0,24 kN/m2
Total DL1 = 3,61 kN/m2

b. Beban Hidup (LL1)


Beban hidup = 2,50 kN/m2
c. Beban ultimate lantai (qu)
Qu = 1,2DL1 + 1,6LL1 = 1,2*3,61 + 1,6*2,50 = 8,33 kN/m2
d. Beban balok 30/60 ( DL-G1)
DL-G1 = 0,3*(0,60 - 0,12)*24 = 3.46 kN/m2
Qu-G1 = 1,2 x 3,46 = 4,15 kN/m2
e. Beban balok 20/40 ( DL-G2 )
DL-G2 = 0,2*(0,40 - 0,12)*24 = 1.34 kN/m2
Qu-G2 = 1,2 x 1,34 = 1,61 kN/m2

IV-18
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

1.b Pembebanan Lantai 10 atap


a. Beban Mati (DL2)
-Pelat (h= 12 cm)= 0.12*24 = 2,88 kN/m2
- Plafon = 0,18 kN/m2
- Spesi = 0,21 kN/m2
- M/E = 0,10 kN/m2
- Water proofing = 0,15 kN/m2
- Air Hujan = (0,05*1,000) = 0,50 kN/m2
- Keramik = 0,24 kN/m2
Total DL2 = 3,81 kN/m2
b. Beban Hidup (LL2)
Beban hidup = 1,00 kN/m2
c. Beban ultimate
qu1 = 1.2DL2 + 1.6LL2 = 1,2*3,81 + 1,6*1,00 = 6,17 kN/m2
d. Beban balok 30/60 ( DL-G1)
DL-G1 = 0,3*(0,60 - 0,12)*24 = 3.46 kN/m2
Qu-G1 = 1,2 x 3,46 = 4,15 kN/m2
e. Beban balok 20/40 ( DL-G2 )
DL-G2 = 0,2*(0,40 - 0,12)*24 = 1.34 kN/m2
Qu-G2 = 1,2 x 1,34 = 1,61 kN/m2
a. Beban mati kolom
- Pelat lantai = 34,56*6,17 = 213,30 kN
- Balok G1 = 30/60 = 4,15*7,2 = 29,86 kN
- Balok G2 = 20/40 = 1,61*4,8 = 7,74 kN +
Pu-10 = 250,91 kN
= 25091 kg
Ag Pu/ [0.2 (fc + fy t)]
Ag 25091 / [0.2 (300+(4900*0.015 ) )]
Ag 25091/ 72
Ag 348.48 cm2
Ag 18.67 x 18.67 cm
Di ambil ukuran kolom 40x60 cm ( asumsi sama dengan lebar balok )
IV-19
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

2. Lantai 9
a. Beban mati kolom
- Pelat lantai = 34,56*8,33 = 287,95 kN
- Balok G1 = 30/60 = 4,15*7,2 = 29,86 kN
- Balok G2 = 20/40 = 1,61*4,8 = 7,74 kN
- Berat sendiri kolom lt. 10 = (0,4*0,6)*4,00*24 = 23,04 kN
- Pu lantai 10 = 250,91 kN +
Pu-10 = 599,50 kN
= 59950 kg

Ag Pu/ [0.2 (fc + fy t)]


Ag 59950 / [0.2 (300+(4900*0.015 ) )] Ag
59950 / 72
Ag 832,64 cm2
Ag 28.86 x 28.86 cm
Di ambil ukuran kolom 40x60 cm
3. Lantai 8
a. Beban mati kolom
- Pelat lantai = 34,56*8,33 = 287,95 kN
- Balok G1 = 30/60 = 4,15*7,2 = 29,86 kN
- Balok G2 = 20/40 = 1,61*4,8 = 7,74 kN
- Berat sendiri kolom lt. 9 = (0,4*0,6)*4,00*24 = 23,04 kN
- Pu lantai 9 = 599,50 kN +
Pu-9 = 948,10 kN
= 94810 kg

Ag Pu/ [0.2 (fc + fy t)]


Ag 94810 / [0.2 (300+(4900*0.015 ) )]
Ag 94810 / 72
Ag 1316,80 cm2
Ag 36,29 x 36,29 cm
Di ambil ukuran kolom 40x60 cm

IV-20
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

4. Lantai 7
a. Beban mati kolom
- Pelat lantai = 34,56*8,33 = 287,95 kN
- Balok G1 = 30/60 = 4,15*7,2 = 29,86 kN
- Balok G2 = 20/40 = 1,61*4,8 = 7,74 kN
- Berat sendiri kolom lt. 8 = (0,4*0,6)*4,00*24 = 23,04 kN
- Pu lantai 8 = 948,10 kN +
Pu-8 = 1296,69 kN
= 129669 kg

Ag Pu/ [0.2 (fc + fy t)]


Ag 129669 / [0.2 (300+(4900*0.015 ) )]
Ag 129669 / 72
Ag 1800,96 cm2
Ag 42,44 x 42,44 cm
Di ambil ukuran kolom 50x70 cm
5. Lantai 6
a. Beban mati kolom
- Pelat lantai = 34,56*8,33 = 287,95 kN
- Balok G1 = 30/60 = 4,15*7,2 = 29,86 kN
- Balok G2 = 20/40 = 1,61*4,8 = 7,74 kN
- Berat sendiri kolom lt. 7 = (0,5*0,7)*4,00*24 = 33,60 kN
- Pu lantai 7 = 1296,69 kN +
Pu-7 = 1655,85 kN
= 165585 kg

Ag Pu/ [0.2 (fc + fy t)]


Ag 165585 / [0.2 (300+(4900*0.015 ) )]
Ag 165585 / 72
Ag 2299,79 cm2
Ag 47,96 x 47,96 cm
Di ambil ukuran kolom 50x70 cm

IV-21
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

6. Lantai 5
a. Beban mati kolom
- Pelat lantai = 34,56*8,33 = 287,95 kN
- Balok G1 = 30/60 = 4,15*7,2 = 29,86 kN
- Balok G2 = 20/40 = 1,61*4,8 = 7,74 kN
- Berat sendiri kolom lt. 6 = (0,5*0,7)*4,00*24 = 33,60 kN
- Pu lantai 6 = 1655,85 kN +
Pu-6 = 2015,00 kN
= 201500 kg

Ag Pu/ [0.2 (fc + fy t)]


Ag 201500/ [0.2 (300+(4900*0.015 ) )]
Ag 201500 / 72
Ag 2798,61 cm2
Ag 52,90 x 52,90 cm
Di ambil ukuran kolom 50x70 cm
7. Lantai 4
a. Beban mati kolom
- Pelat lantai = 34,56*8,33 = 287,95 kN
- Balok G1 = 30/60 = 4,15*7,2 = 29,86 kN
- Balok G2 = 20/40 = 1,61*4,8 = 7,74 kN
- Berat sendiri kolom lt. 5 = (0,5*0,7)*4,00*24 = 33,60 kN
- Pu lantai 5 = 2015,00 kN +
Pu-5 = 2374,16 kN
= 237416 kg

Ag Pu/ [0.2 (fc + fy t)]


Ag 237416/ [0.2 (300+(4900*0.015 ) )] Ag
237416 / 72
Ag 3297,44 cm2
Ag 57,42 x 57,42 cm
Di ambil ukuran kolom 70x90 cm
IV-22
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

8. Lantai 3
a. Beban mati kolom
- Pelat lantai = 34,56*8,33 = 287,95 kN
- Balok G1 = 30/60 = 4,15*7,2 = 29,86 kN
- Balok G2 = 20/40 = 1,61*4,8 = 7,74 kN
- Berat sendiri kolom lt. 4 = (0,7*0,9)*4,00*24 = 60,48 kN
- Pu lantai 4 = 2374,16 kN +
Pu-4 = 2760,19 kN
= 276019 kg

Ag Pu/ [0.2 (fc + fy t)]


Ag 276019/ [0.2 (300+(4900*0.015 ) )]
Ag 276019 / 72
Ag 3833,60 cm2
Ag 61,92 x 61,92 cm
Di ambil ukuran kolom 70x90 cm
9. Lantai 2
a. Beban mati kolom
- Pelat lantai = 34,56*8,33 = 287,95 kN
- Balok G1 = 30/60 = 4,15*7,2 = 29,86 kN
- Balok G2 = 20/40 = 1,61*4,8 = 7,74 kN
- Berat sendiri kolom lt. 3 = (0,7*0,9)*4,00*24 = 60,48 kN
- Pu lantai 3 = 2760,19 kN +
Pu-3 = 3146,23 kN
= 314623 kg

Ag Pu/ [0.2 (fc + fy t)]


Ag 314623/ [0.2 (300+(4900*0.015 ) )] Ag
314623 / 72
Ag 4369,76cm2
Ag 66,10 x 66,10 cm
Di ambil ukuran kolom 70x90 cm
IV-23
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

10. Lantai 1
a. Beban mati kolom
- Pelat lantai = 34,56*8,33 = 287,95 kN
- Balok G1 = 30/60 = 4,15*7,2 = 29,86 kN
- Balok G2 = 20/40 = 1,61*4,8 = 7,74 kN
- Berat sendiri kolom lt. 2 = (0,7*0,9)*4,00*24 = 60,48 kN
- Pu lantai 2 = 3146,23 kN +
Pu-2 = 3532,26 kN
= 353226 kg

Ag Pu/ [0.2 (fc + fy t)]


Ag 353226/ [0.2 (300+(4900*0.015 ) )]
Ag 353226 / 72
Ag 4905,92 cm2
Ag 70,04 x 70,04 cm
Di ambil ukuran kolom 70x90 cm

12. Kesimpulan Dimensi Kolom


Kolom lantai 10 = 40 x 60 cm
Kolom lantai 9 = 40 x 60 cm
Kolom lantai 8 = 50 x 70 cm
Kolom lantai 7 = 50 x 70 cm
Kolom lantai 6 = 50 x 70 cm
Kolom lantai 5 = 70 x 90 cm
Kolom lantai 4 = 70 x 90 cm
Kolom lantai 3 = 70 x 90 cm
Kolom lantai 2 = 70 x 90 cm
Kolom lantai 1 = 70 x 90 cm

Dari hasil desain pendahuluan ini dapat berubah sesuai dengan hasil running etabs,
untuk penambahan shear wall dan momen kekakuan vertikal gedung.

IV-24
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

4.5 Pemodelan Struktur Gedung Dengan Program Etabs

Dalam tugas akhir ini kami membuat pemodelan struktur gedung dengan
melakukan beberapa macam pemodelan dari dua alternatif gedung yang kami
desain dengan ketinggian shear wall dan letak shear wall yang berbeda dengan
ketebalan shear wall yang sama yaitu 25cm, setelah mendapatkan permodelan yang
paling optimal, maka kami memilih salah satu pemodelan gedung untuk melakukan
desain penulangan.
Pada Permodelan yang kami analisis pada gedung ini adalah sebagai berikut :
a. Pemodelan struktur gedung dengan shear wall dari lantai 1 lantai 10, dengan
memodifikasi betuk shearwall dan ketebalan shearwal seminimal mungkin.

Tabel 4.5 Beban kombinasi SNI-2012

IV-25
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

Combination Casename Scalefactor


SNI01 DEAD 1,4
SDL 1,4
SNI02 DEAD 1,2
SDL 1,2
LIVE 1,6
SNI03 DEAD 1,321
SDL 1,321
LIVE 1
EX 0,39
EY 1,3
SNI04 DEAD 1,321
SDL 1,321
LIVE 1
EX 0,39
EY 1,3
SNI05 SDL 1,321
DEAD 1,321
LIVE 1
EX 0,39
EY 1,3
SNI06 SDL 1,321
DEAD 1,321
LIVE 1
EX 0,39
EY 1,3
SNI07 SDL 1,321
DEAD 1,321
LIVE 1
EX 1,3
EY 0,39
SNI08 SDL 1,321
DEAD 1,321
LIVE 1
EX 1,3
EY 0,39
SNI09 SDL 1,321
DEAD 1,321
LIVE 1
EX 1,3
EY 0,39
SNI10 SDL 1,321
DEAD 1,321
LIVE 1
EX 1,3
EY 0,39
SNI11 SDL 0,779
DEAD 0,779
EX 0,39
EY 1,3
SNI12 SDL 0,779
DEAD 0,779
EX 0,39
EY 1,3
SNI13 SDL 0,779
DEAD 0,779
EX 0,39
EY 1,3
SNI14 SDL 0,779
DEAD 0,779
EX 0,39
EY 1,3
SNI15 SDL 0,779
DEAD 0,779
EX 0,39
EY 1,3
SNI16 SDL 0,779
DEAD 0,779
EX 1,3
EY 0,39
SNI17 SDL 0,779
DEAD 0,779
EX 1,3
EY 0,39
SNI18 SDL 0,779
DEAD 0,779
EX 1,3
EY 0,39

IV-26
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

4.6 Pemodelan Struktur Gedung Dengan Shearwall dari lantai 1 lantai 10

Dalam pemodelan struktur gedung dengan shear wall ini menggunakan dimensi kolom
dan balok sebagai berikut :

Kolom lantai 10 = 40 x 60 cm
Kolom lantai 9 = 40 x 60 cm
Kolom lantai 8 = 50 x 70 cm
Kolom lantai 7 = 50 x 70 cm
Kolom lantai 6 = 50 x 70 cm
Kolom lantai 5 = 70 x 90 cm
Kolom lantai 4 = 70 x 90 cm
Kolom lantai 3 = 70 x 90 cm
Kolom lantai 2 = 70 x 90 cm
Kolom lantai 1 = 70 x 90 cm

Dimensi Balok ( Gedung )


Dimensi balok dari lantai 2 sampai lantai Atap adalah
Balok induk dengan bentang 7.2m = 30 x 60 cm
Balok induk dengan bentang 4.8m = 20 x 40 cm

Dimensi shear wall


Dimensi shear wall dari lantai 1 sampai lantai 10 adalah
P1, P2, P3 & P4 = 2000 x 250 cm

4.7 Perhitungan Koordinat Pusat Massa Terhadap Pusat Rotasi Bangunan.

Menurut SNI 03-1726-2002, pusat massa (CM) merupakan titik tangkap beban
gempa statik ekivalen maupun beban gempa dinamik yang bekerja pada masingmasing
tingkat bangunan.
Sedangkan pusat rotasi bangunan (CR) adalah suatu titik pada lantai suatu tingkat
bangunan itu yang bila suatu beban horisontal bekerja padanya, lantai tingkat
tersebut tidak berotasi, tetapi hanya bertranslasi, sedangkan lantai-lantai tingkat

IV-27
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

lainnya yang tidak mengalami beban horisontal semuanya berotasi dan


bertranslasi.
Pada perhitungan ini, untuk menentukan pusat massa (CM) dan pusat rotasi (CR)
dihitung dengan bantuan program ETABS.

Story Diaphragm MassX MassY XCM YCM CumMassXCumMassY XCCM YCCM XCR YCR
LT.2 D1 1286,6309 1286,6309 18,348 18,05 1286,631 1286,6309 18,348 18,05 18,35 18,05
LT.3 D2 1286,6309 1286,6309 18,348 18,05 1286,631 1286,6309 18,348 18,05 18,35 18,05
LT.4 D4 1288,4724 1288,4724 18,359 18,059 1288,472 1288,4724 18,359 18,059 18,35 18,05
LT.5 D5 1260,2196 1260,2196 18,359 18,059 1260,22 1260,2196 18,359 18,059 18,35 18,05
LT.6 D6 1232,1431 1232,1431 18,348 18,05 1232,143 1232,1431 18,348 18,05 18,35 18,05
LT.7 D7 1232,1431 1232,1431 18,348 18,05 1232,143 1232,1431 18,348 18,05 18,35 18,05
LT.8 D8 1221,0438 1221,0438 18,348 18,05 1221,044 1221,0438 18,348 18,05 18,35 18,05
LT.9 D9 1211,2418 1211,2418 18,348 18,05 1211,242 1211,2418 18,348 18,05 18,35 18,05
LT.10 D10 1149,7186 1149,7186 18,348 18,05 1149,719 1149,7186 18,348 18,05 18,35 18,05
Tabel 4.7 Perhitungan koordinat pusat massa dan pusat rotasi bangunan (output etabs )

4.7.1 Eksentrisitas Rencana

SNI 03-1726-2002 mengatur eksentrisitas (ed) pada pasal 5.4.3 dan 5.4.4 :

Antara pusat massa dan pusat rotasi lantai tingkat (e) harus ditinjau suatu
eksentrisitas rencana (ed). Bila ukuran horisontal terbesar denah struktur gedung
pada lantai tingkat itu, diukur tegak lurus pada arah pembebanan gempa,
dinyatakan dengan b, maka eksentrisitas rencana (ed) harus ditentukan sebagai
berikut :

Untuk 0 < e < 0.3 b


Ed =1.5e+0.05b
atau

ed = e - 0.05 b
dan dipilih diantara keduanya yang pengaruhnya paling menentukan untuk unsur atau
subsistem struktur gedung yang ditinjau :

IV-28
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

Untuk e > 0.3 b


Ed=1.33e+0.1b
atau

ed = 1.17e - 0.1 b
dan dipilih diantara keduanya yang pengaruhnya paling menentukan untuk unsur atau
subsistem struktur gedung yang ditinjau.
Berikut contoh perhitungan koordinat eksentrisitas desain untuk lantai 2 Eksentrisitas
teoritis :

Koordinat x :

ex = XCR - XCM

= 9.60 - 9.56
= 0.04m = 40mm
Koordinat y :

ey = YCR - YCM
=28.80-28.75
= 0.05 m = 50mm
Maka nilai eksentrisitas desain (ed) dapat dihitung sebagai berikut : Eksentrisitas sumbu x :

Edx = 1.5ex + 0.05bx


=(1.5x0.04)+(0.05x19.2)
= 1.02 m = 1020 mm

Atau

Edx = ex - 0.05bx
=0.04-(0.05x19.2)
= -0.92 m = -920 mm

Diambil nilai eksentrisitas sumbu x (edx) yang paling besar yaitu 1020 mm

IV-29
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

Eksentrisitas sumbu y :

Edy = 1.5ey + 0.5by


=(1.5x0.05)+(0.05x57.6)
= 2.954m = 2954 mm

Atau

Edy = ey - 0.05by
=0.05-(0.05x57.6)
= -2.83 m = -2830 mm

Diambil nilai eksentrisitas sumbu y (edy) yang paling besar yaitu 2954 mm
Untuk selanjutnya perhitungan eksentrisitas desain tiap lantai (ed) dihitung dalam
bentuk tabel sebagai berikut :
koordinatpusatmassa koordinatpusatrotasi lebargedung eksentrisitasteoritis eksentrisitasdesign pusatmasadesign
story diaphragm
xcm ycm xcr ycr bx by ex ey edx edy xcm ycm
a b c d e f g h i=e+c j=f+d k l m n
LT.2 D1 18,348 18,050 18,350 18,050 34,200 34,200 0,300 0,000 2,160 1,710 20,510 19,760
LT.3 D2 18,348 18,050 18,350 18,050 34,200 34,200 0,300 0,000 2,160 1,710 20,510 19,760
LT.4 D4 18,359 18,059 18,350 18,050 34,200 34,200 0,291 0,009 2,147 1,697 20,497 19,747
LT.5 D5 18,359 18,059 18,350 18,050 34,200 34,200 0,291 0,009 2,147 1,697 20,497 19,747
LT.6 D6 18,348 18,050 18,350 18,050 34,200 34,200 0,300 0,000 2,160 1,710 20,510 19,760
LT.7 D7 18,348 18,050 18,350 18,050 34,200 34,200 0,300 0,000 2,160 1,710 20,510 19,760
LT.8 D8 18,348 18,050 18,350 18,050 34,200 34,200 0,300 0,000 2,160 1,710 20,510 19,760
LT.9 D9 18,348 18,050 18,350 18,050 34,200 34,200 0,300 0,000 2,160 1,710 20,510 19,760
LT.10 D10 18,348 18,050 18,350 18,050 34,200 34,200 0,300 0,000 2,160 1,710 20,510 19,760
Tabel 4.7-1 Eksentrisitas Rencana

4.7.2 Perhitungan Koordinat Pusat Massa Desain (XCM dan YCM).

Koordinat pusat massa desain (XCM dan YCM) merupakan titik untuk
menempatkan / meletakkan gaya gempa statik ekivalen yang bekerja pada setiap lantai
bangunan. Karena faktor eksentrisitas antara pusat massa (CM) dan pusat kekakuan
(CR), maka titik tangkap gaya gempa bukan di koordinat pusat massa (CM) hasil
running ETABS, melainkan koordinat pusat massa desain (XCM dan YCM) yang telah
dihitung berdasarkan koordinat pusat massa awal (CM) dan eksentrisitas desain (ed).

Sedangkan untuk contoh perhitungannya adalah sebagai berikut, dengan


mengambil contoh perhitungan untuk koordinat pusat massa desain lantai 2.

IV-30
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

XCM= XCR + edX

= 9.600 + 1.019

= 10.619 m = 10619mm

YCM= YCR + edY

= 28.800 + 2.954

= 31.754 m = 31754 mm

Selanjutnya perhitungan koordinat pusat massa desain untuk setiap lantainya dibuat
dalam bentuk tabel seperti berikut ini untuk masing-masing model alternatif :
koordinatpusatmassa koordinatpusatrotasi lebargedung eksentrisitasteoritis eksentrisitasdesign pusatmasadesign
story diaphragm
xcm ycm xcr ycr bx by ex ey edx edy xcm ycm
a b c d e f g h i=e+c j=f+d k l m n
LT.2 D1 18,348 18,050 18,350 18,050 34,200 34,200 0,300 0,000 2,160 1,710 20,510 19,760
LT.3 D2 18,348 18,050 18,350 18,050 34,200 34,200 0,300 0,000 2,160 1,710 20,510 19,760
LT.4 D4 18,359 18,059 18,350 18,050 34,200 34,200 0,291 0,009 2,147 1,697 20,497 19,747
LT.5 D5 18,359 18,059 18,350 18,050 34,200 34,200 0,291 0,009 2,147 1,697 20,497 19,747
LT.6 D6 18,348 18,050 18,350 18,050 34,200 34,200 0,300 0,000 2,160 1,710 20,510 19,760
LT.7 D7 18,348 18,050 18,350 18,050 34,200 34,200 0,300 0,000 2,160 1,710 20,510 19,760
LT.8 D8 18,348 18,050 18,350 18,050 34,200 34,200 0,300 0,000 2,160 1,710 20,510 19,760
LT.9 D9 18,348 18,050 18,350 18,050 34,200 34,200 0,300 0,000 2,160 1,710 20,510 19,760
LT.10 D10 18,348 18,050 18,350 18,050 34,200 34,200 0,300 0,000 2,160 1,710 20,510 19,760

Tabel 4.7-2 pusat massa desain

4.8 Analysis Statik Ekivalen

Keterangan :
Project : perkantoran
Lokasi : jakarta
Zona gempa : 3 (peta gempa SNI 2002 )

Cx : 0.317 ( zona 3 tanah sedang )


Cy : 0.317

IV-31
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

Menghitung waktu getar alami fundamental ( T1 ) struktur :


Tinggi gedung (h) : 45m
T1 : 0.06 x h^3/4
: 1.042
C : 33/T = 33/1.042 = 0.317

Gambarl 4.6 pusat massa desain

Struktur beton bertulang dengan daktilitas penuh ( SRPMK )

Dari SNI gempa 2003 didapat

Faktor daktilitas ( ) = 5.3

Faktor reduksi ( R ) = 8.5

I = 1 ( fungsi untuk perkantoran )

beban geser nominal statik ekivalen :


Vi = ((Ci x I ) / R) x Wt x g
= ((0.317 x 1,0 ) / 8,5) x 8441,67 x 9,81 = 3084.12 Kn (Vi x)
= 3084.12 Kn (Vi y)

IV-32
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

Distribusi gaya horizontal total akibat gaya sepanjang tinggi bangunan


Arah x = H/A = 45/19.2 = 2.34 < 3
Arah y = H/B = 45/57.6 = 0.78 < 3

Dimana :
T : waktu getar alami struktur dalam detik
C : faktor respon gempa
I : faktor keutamaan
R : faktor reduksi gempa
WT : berat total struktur
V : beban geser dasar nominal statik ekivalen
F : beban gempa nominal statik ekivalen
g : percepatan gravitasi (9810 mm/det2 = 9.81 m/det2)

Tabel.4.8 Beban tiap lantai ( output dari etabs )

Story Diaphragm MassX MassY XCM YCM CumMassXCumMassY XCCM YCCM XCR YCR
LT.2 D1 1286,6309 1286,6309 18,348 18,05 1286,631 1286,6309 18,348 18,05 18,35 18,05
LT.3 D2 1286,6309 1286,6309 18,348 18,05 1286,631 1286,6309 18,348 18,05 18,35 18,05
LT.4 D4 1288,4724 1288,4724 18,359 18,059 1288,472 1288,4724 18,359 18,059 18,35 18,05
LT.5 D5 1260,2196 1260,2196 18,359 18,059 1260,22 1260,2196 18,359 18,059 18,35 18,05
LT.6 D6 1232,1431 1232,1431 18,348 18,05 1232,143 1232,1431 18,348 18,05 18,35 18,05
LT.7 D7 1232,1431 1232,1431 18,348 18,05 1232,143 1232,1431 18,348 18,05 18,35 18,05
LT.8 D8 1221,0438 1221,0438 18,348 18,05 1221,044 1221,0438 18,348 18,05 18,35 18,05
LT.9 D9 1211,2418 1211,2418 18,348 18,05 1211,242 1211,2418 18,348 18,05 18,35 18,05
LT.10 D10 1149,7186 1149,7186 18,348 18,05 1149,719 1149,7186 18,348 18,05 18,35 18,05

4.9 Waktu Getar Struktur Dengan Cara T Rayleigh

Dengan melakukan analisa struktur menggunakan program ETABS (lihat


Lampiran Analisa Struktur dengan Program ETABS), dapat dihitung besarnya
simpangan (deformasi lateral total) akibat beban gempa tadi untuk portal arah X
maupun arah Y.
Waktu getar struktur sebenarnya untuk tiap arah dapat dihitung berdasarkan besar
simpangan tadi dengan rumus T Rayleigh:

IV-33
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

Untuk mengetahui simpangan struktur pada setiap lantai gedung, maka harus
dilakukan input semua beban-beban yang bekerja pada setiap elemen struktur,
termasuk beban gempa statik ekivalen pada masing-masing lantai sesuai dengan lokasi
titik tangkap gaya gempa tersebut.
Untuk mengetahui nilai simpangan struktur dilakukan dengan running analisis pada
program ETABS.

Dibawah ini adalah nilai simpangan struktur (di) hasil dari analisis ETABS .
Maka selanjutnya perlu ditinjau nilai waktu getar alami fundamental (T) terhadap waktu
getar alami koreksi (Ti), dengan perhitungan sebagai berikut :

- Untuk arah sumbu X = (Tx - T) / Tx

= (0.20 - 1.042)/ 0.20

= -4.16 % < 20 %

- Untuk arah sumbu Y = (Ty - T) / Ty

= (0.25 - 1.042)/ 0.25

= -3.18 % < 20 %

Karena nilai T koreksi kurang dari 20% terhadap waktu getar alami fundamental, maka
tidak perlu dilakukan perhitungan ulang terhadap beban gempa statik ekivalen pada
struktur tersebut.

4.10 Analysis dinamik

Dalam perhitungan analisis dinamik, untuk mendapatkan gaya arah x dan arah y
dan untuk mendapatkan gaya arah x dan arah y, memasukkan respons spektrum
gempa ke dalam program etabs, dan memasukkan 18 kombinasi pembebanan.
Dan setelah di run analisis akan mendapatkan data output dari etabs.

IV-34
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

Tabel 4.10-1 periode dan akselerasi.

Period Acceleration
0,00 0,24
0,20 0,61
0,92 0,61
1,02 0,50
1,12 0,46
1,22 0,42
1,32 0,39
1,42 0,37
1,52 0,35
1,62 0,33
1,72 0,31
1,82 0,29
1,92 0,28
2,02 0,26
1,12 0,25
2,22 0,24
2,32 0,23
2,42 0,22
2,52 0,21
2,62 0,21
2,72 0,20
2,82 0,19
2,92 0,19
3,02 0,18
3,12 0,17
3,22 0,17
3,32 0,16
3,42 0,16
3,52 0,15
3,62 0,15
3,72 0,15
3,82 0,14
4,00 0,14

IV-35
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

IV-36
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

Story Item Load Point X Y Z DriftX DriftY


LT.10 DiaphD10X SNI01 190 35,45 33,95 37,8 0,000001
LT.10 DiaphD10Y SNI01 300 35,45 2,15 37,8 0,000001
LT.10 DiaphD10X SNI02 190 35,45 33,95 37,8 0,000001
LT.10 DiaphD10Y SNI02 300 35,45 2,15 37,8 0,000001
LT.10 DiaphD10X SNI03 190 35,45 33,95 37,8 0,000001
LT.10 DiaphD10Y SNI03 300 35,45 2,15 37,8 0,000001
LT.10 DiaphD10X SNI04 190 35,45 33,95 37,8 0,000001
LT.10 DiaphD10Y SNI04 300 35,45 2,15 37,8 0,000001
LT.10 DiaphD10X SNI05 190 35,45 33,95 37,8 0,000001
LT.10 DiaphD10Y SNI05 300 35,45 2,15 37,8 0,000001
LT.10 DiaphD10X SNI06 190 35,45 33,95 37,8 0,000001
LT.10 DiaphD10Y SNI06 300 35,45 2,15 37,8 0,000001
LT.10 DiaphD10X SNI07 190 35,45 33,95 37,8 0,000001
LT.10 DiaphD10Y SNI07 300 35,45 2,15 37,8 0,000001
LT.10 DiaphD10X SNI09 190 35,45 33,95 37,8 0,000001
LT.10 DiaphD10Y SNI09 300 35,45 2,15 37,8 0,000001
LT.10 DiaphD10X SNI10 190 35,45 33,95 37,8 0,000001
LT.10 DiaphD10Y SNI10 300 35,45 2,15 37,8 0,000001
LT.10 DiaphD10X SNI11 190 35,45 33,95 37,8 0
LT.10 DiaphD10Y SNI11 300 35,45 2,15 37,8 0,000001
LT.10 DiaphD10X SNI12 190 35,45 33,95 37,8 0
LT.10 DiaphD10Y SNI12 300 35,45 2,15 37,8 0,000001
LT.10 DiaphD10X SNI13 190 35,45 33,95 37,8 0
LT.10 DiaphD10Y SNI13 300 35,45 2,15 37,8 0,000001
LT.10 DiaphD10X SNI14 190 35,45 33,95 37,8 0
LT.10 DiaphD10Y SNI14 300 35,45 2,15 37,8 0,000001
LT.10 DiaphD10X SNI15 190 35,45 33,95 37,8 0
LT.10 DiaphD10Y SNI15 300 35,45 2,15 37,8 0,000001
LT.10 DiaphD10X SNI16 190 35,45 33,95 37,8 0
LT.10 DiaphD10Y SNI16 300 35,45 2,15 37,8 0,000001
LT.10 DiaphD10X SNI17 190 35,45 33,95 37,8 0
LT.10 DiaphD10Y SNI17 300 35,45 2,15 37,8 0,000001
LT.10 DiaphD10X SNI18 190 35,45 33,95 37,8 0
LT.10 DiaphD10Y SNI18 300 35,45 2,15 37,8 0,000001

Tabel.4.10-2 Contoh Tabel Analysis Dinamik ( Output Dari Program Etabs )

IV-37
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

4.11 Cek Periode Getar Awal ( Mode - Mode ) Pada Analisis

Untuk mencegah penggunaan struktur gedung yang terlalu fleksibel, nilai waktu getar
alami fundamental T1 dari struktur harus dibatasi, bergantung pada koefisien
untuk wilayah gempa tempat struktur gedung berada dan jumlah tingkatnya n
menurut persamaan :

T1 < .n

Dimana koefisien ditetapkan untuk wilayah zona gempa jakarta

Waktu Getar Alami ( T1 )


a. Tinggi struktur ( H ) = 45 m
b. Jumlah lantai ( n ) = 11 lantai
c. Wilayah gempa = 3
Dari SNI gempa 2003 di dapat = 0.18 T1 < *H
T1<0.18*45
T1 < 1.98
Dari tabel didapat
T1 = 0.7916
= 0.7916 detik < 1.98 detik ======> OK

4.12 Kinerja Batas Layan (s)

Kinerja batas layan struktur gedung ditentukan oleh simpangan antar tingkat akibat
pengaruh gempa rencana, yaitu untuk membatasi pelelehan baja dan peretakan
beton yang berlebihan disamping untuk mencegah kerusakan non struktur dan
ketidak nyamanan penghuni. Simpangan antar tingkat ini harus di hitung dari simpangan
struktur gedung tersebut akibat pengaruh gempa nominal yang telah dibagi faktor skala.
Untuk memenuhi persyaratan Kinerja batas layan struktur gedung, dalam segala
hal simpangan antar - tingkat yang dihitung dari simpangan struktur gedung, menurut
pasal 8.1.2 tidak boleh melampaui ( 0.03/R) kali tingkat yang bersangkutan atau 30mm
bergantung mana yang nilainya terkecil.

IV-38
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

Syarat :
0,03
Drift s < x hi
R
Dimana tinggi bangunan ( h ) = 4000
R = 8,5

0,03
Drift s < x 4000 = 0.00352941 mm
8,5

Simpangan = drift x H
= 0.00352941 x 4000
= 14.12 mm
Dimana
Drift s = simpangan antar lantai
Hi = tinggi lantai ke i
R = faktor reduksi gempa

4.13 Kinerja batas ultimate (m)

Sesuai Pasal 4.3.3 simpangan dan simpangan antar-tingkat ini harus dihitung dari
simpangan struktur gedung akibat pembebanan gempa nominal, dikalikan dengan suatu
faktor pengali sebagai berikut :
Untuk gedung beraturan :

= 0,7 R

Untuk gedung tidak beraturan :

= 0,7 R / Faktor skala

di mana R adalah faktor reduksi gempa struktur gedung tersebut dan Faktor Skala adalah
seperti yang ditetapkan dalam Pasal 7.2.3.

Menurut SNI - 1726 - 2002 pasal 8.2.2 persyaratan kinerja batas ultimit struktur
gedung dalam hal simpangan antar tingkat yang dihitung dari simpangan struktur
gedung tidak boleh melampaui 0.02 kali tinggi tingkat lantai yang bersangkutan.
IV-39
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

Karena tinggi tingkat tiap lantai gedung ini adalah sama yaitu 4 m, maka besarnya syarat
kinerja batas ultimit adalah :

Drift m = 0.02 x hi
= 0.02 x 4 m
= 0.08 m
= 80 mm
R = 8,5
= 0,7R = 0,7 x 8,5 = 5,95
m = 5,95 x max drift

4.14 prosentase gaya open frame + shear wall

Pasal 5.2.3 SNI 03-1726-2002


dalam suatu sistem struktur yang terdiri dari kombinasi dinding - dinding geser
dan rangka-rangka terbuka, beban geser dasar nominal akibat pengaruh gempa
rencana yang dipikul oleh rangka-rangka terbuka tidak boleh kurang dari 25%
dari beban geser nominal total yang bekerja dalam arah kerja beban gempa
tersebut.
TotalGaya GayaGeserTotal DindingGeser Portal
Arah X 9864.94 1736.28 8128.66
Arah Y 10264.88 3167.94 7096.94
100% 18% 82%
Prosentase
100% 31% 69%

Tabel.4.14 Prosentase Gaya Open Frame + Shear Wall

IV-40
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

4.15 Grafik Gaya Geser Tingkat Pada Area Gedung

IV-41
Bab 4 Perhitungan dan Perancangan Struktur Gedung

4.16 Pemodelan Struktur Gedung dengan Shear Wall dari lantai 1 sampai

lantai 10

Gambar 4.7 Denah pemodelan struktur dengan shear wall yang paling optimum

IV-42