Anda di halaman 1dari 119

Pembangunan Sektor Swasta

Studi Kelayakan Usaha Pengolahan


Produk Berbahan Baku Gambir
di Kabupaten Lima Puluh Kota
Hak cipta 2013
Deutsche Gesellschaft fr Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH
- German Internationale Cooperation

Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)


- Direktorat Perkotaan dan Pedesaan -

Semua hak dilindungi undang-undang/dicetak di Indonesia

Penerbit
Deutsche Gesellschaft fr Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH
- Regional Economic Development (RED) -
Wisma Bakrie 2, Lantai 5
Jl. H.R. Rasuna Said Kav. B2
Jakarta 12920
Indonesia
Tel. +62 21 579 45740
Faks. +62 21 579 45740
Email. jakarta@red.or.id
Internet. www.red.or.id

Penyusun
Srie Jayamahe

Pendukung Dana

Reproduksi
Dilarang mereproduksi publikasi ini baik seluruhnya maupun sebagian dalam bentuk apa
pun tanpa izin dari pemegang hak cipta, kecuali untuk tujuan pendidikan atau nirlaba,
dengan ketentuan bahwa pengakuan sumber harus dibuat dan salinannya diberikan kepada
GIZ.

Disclaimer
Informasi yang terdapat dalam publikasi ini diambil dari sumber-sumber yang diyakini dapat
diandalkan. Namun, tidak ada pernyataan atau jaminan yang diberikan sehubungan dengan
keakuratan, kelengkapan atau keandalannya. GIZ tidak bertanggung jawab atas setiap
akibat/kerugian karena penggunaan isi publikasi ini
KAJIAN KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN
PRODUK BERBAHAN BAKU GAMBIR
DI SUMATERA BARAT

KATA PENGANTAR
Dalam upaya meningkatkan nilai tambah produk gambir yang sudah lama
menjadi mata pencaharian masyarakat di berbagai daerah di Sumatera Barat,
khususnya di Kabupaten Lima Puluh Kota, dan meningkatkan perekonomian
daerah, maka dibutuhkan kehadiran industri hilir bagi produk gambir Sumatera
Barat. Untuk itu, pendirian pabrik pengolahan produk berbahan baku gambir
merupakan salah satu upaya yang harus dilakukan dengan dukungan pemerintah
dan masyarakat.

Dalam rangka memberikan informasi awal bagi calon investor maka perlu
dilakukan suatu kajian tentang kelayakan usaha pengolahan produk berbahan
baku gambir di wilayah Sumatera Barat. Untuk itu, BAPPEDA Sumatera Barat
bekerjasama dengan GIZ (Deutsche Gesellschaft fr Internationale
Zusammenarbeit) melakukan kajian ini. Adapun aspek yang dianalisis dalam
studi ini mencakup potensi sumber daya bahan baku, potensi pasar, potensi
tekhnis dan finansial serta aspek lingkungan.
Berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan ini, tim kerja penyusunan kajian
mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah memberikan
masukan dan sumbangan pemikiran sehingga kajian ini dapat diselesaikan
sebagaimana mestinya.

Pertama-tama ucapan terimakasih ditujukan untuk Ketua BAPPEDA


Sumatera Barat beserta jajarannya yang telah memberikan kepercayaan dan
dukungan pada Tim untuk melaksanakan kajian ini serta memfasilitasi
pelaksanaan kegiatan diskusi terfokus dengan berbagai pihak yang terkait dengan
aktivitas ini. Selanjutnya usapan terima kasih juga disampaikan untuk
Pemerintah daerah Kabupaten Lima Puluh Kota yang telah memberikan
dukungan dan bantuan dalam pelaksanaan kegiatan kajian ini.

Akhirnya tim kerja berharap semoga kajian ini dapat menjadi bahan
rujukan dan referensi untuk lebih mendorong minat investor untuk berinvestasi
di Sumatera Barat, khususnya pada pendirian usaha pengolahan produk berbahan
baku gambir agar produk unggulan ini mampu memberikan nilai tambah yang
lebih besar bagi masyarakat dan perekonomian di wilayah ini.

Padang, November 2012

Tim Peneliti

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. Maksud dan Tujuan 3
1.3. Lingkup Pekerjaan 4
1.4. Kerangka Konsep 4
1.5. Lingkup Analisis Kajian 5
1.6. Data dan Sumber Data 6
1.7. Sistematika Laporan 7

BAB II ASPEK SUMBER DAYA 9


2.1. Pendahuluan 9
2.2. Perkembangan Produksi Gambir Indonesia 9
2.3. Perkembangan Produksi Gambir Sumatera Barat 12
2.4. Perkembangan Produksi Gambir Kabupaten Lima 16
Puluh Kota
2.5. Kendala Produksi Gambir di Sumatera Barat 21
2.6. Proyeksi Produksi Gambir, Luas Lahan Perkebunan dan 22
Jumlah KK Petani Gambir Sumatera Barat

BAB III ANALISIS POTENSI PASAR 24


3.1 Pendahuluan 24
3.2 Perkembangan Pasar Gambir Indonesia 24
3.3 Permintaan Dunia Terhadap Gambir Sumatera Barat 30
3.4 Potensi Pasar Produk Berbahan Baku Gambir 34
(Agroindsutri Gambir)
3.5 Kondisi Persaingan Pasar: Pendekatan Teoritis 35
3.6 Struktur Pasar Gambir Indonesia 36
3.7 Hambatan Masuk dan KeluarPasar 38
3.8 Strategi Pemasaran Gambir 39
3.9 Peramalan Permintaan (Demand Forecasting) 42

BAB IV ASPEK TEKHNIS DAN TEKHNOLOGI PRODUKSI 44


4.1. Pendahuluan 42
4.2. Aspek Tekhnis Produksi Gambir 42
4.3. Aspek Manajemen Produksi 45

ii
4.4. Aspek Lokasi Pabrik 47
4.5. Aspek Legalitas 48

BAB V ANALISIS KEUANGAN 53


5.1. Pendahuluan 53
5.2. Pabrik Pengolahan Katekin dan Tanin 53
5.3. Produk turunan berbahan dasar Gambir 64

BAB VI ANALISIS LINGKUNGAN 67


6.1. Pendahuluan 67
6.2. Pengembangan Agroindustri Gambir Dan Aspek 67
Lingkungan
6.3. Analisis Dampak Lingkungan Agroindustri Gambir 69

BAB VII PENUTUP 71


7.1. Kesimpulan 71
7.2. Rekomendasi untuk Investor 72
7.3. Rekomendasi untuk Kebijakan 73

LAMPIRAN

iii
DAFTAR TABEL

NO JUDUL TABEL HAL


TABEL
1.1. Daerah Penghasil Gambir di Indonesia 3
2.1. Luas Area Tanaman Perkebunan Gambir di Pulau Sumatera 10
Tahun 2007
2.2. Luas Tanam dan Produksi Tanaman Gambir Perkebunan 11
Rakyat Provinsi Sumatera Utara Tahun 2009
2.3. Perkembangan Luas Tanaman dan Produksi Gambir 11
Tanaman Perkebunan Rakyat Provinsi Sumatera Utara
Tahun 2006-2009
2.4. Luas Area Tanaman Perkebunan di Provinsi Riau, Sumatera 12
Barat, Sumatera Utara, Sumatera Selatan Tahun 2007.
2.5. Luas Tanaman Perkebunan Provinsi Sumatera Barat 13
Tahun 2006-2010
2.6. Produksi Tanaman Perkebunan Provinsi Sumatera Barat 14
Tahun 2006-2010
2.7. Luas Lahan Perkebunan Menurut Kepemilikan di Propinsi 15
Sumatera Barat Tahun 2006 2010
2.8. Luas Areal dan Produksi Tanaman Gambir Perkebunan 16
Rakyat di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2011
2.9. Luas dan Produksi Perkebunan Gambir di Kabupaten 18
Limapuluh Kota Tahun 2008-2011
2.10. Jumlah Penduduk, Jumlah Keluarga dan Jumlah Keluarga 20
Petani Gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota
2.11. Prediksi Tingkat Produksi, Luas Lahan dan Jumlah KK Petani 23
Gambir di Sumatera Barat tahun 2012-2031
3.1 Eksport Gambir Indonesia menurut Negara Tujuan Tahun 26
2010-2011
3.2 Perkembangan Ekspor Gambir Indonesia Tahun 2000-2009 28
3.3 Permintaan Impor Tanin Dunia Tahun 2000-2008 29
3.4 Perkembangan Ekspor dan Harga Gambir Sumatera Barat
Tahun 2001-2010 31
3.5 Produk Berbahan Baku Gambir Laboratorium Andalas
Farma Universitas Andalas 33
3.6 Produk Berbahan Baku Gambir yang Sebaiknya
dikembangkan Masuk Pasar 35
3.7 Proyeksi Permintaan terhadap Produk Gambir Indonesia
Tahun 2012-2031 (Ton) 43
4.1 Kandungan Katekin di Sentra Produksi Gabir Indonesia 46
4.2 Persentase Kadar Katekin Empat Tipe Tanaman Gambir 46
5.1 Perkiraan Biaya Investasi Awal Pabrik Katekin dan Tanin dan
Mobiler Unit Pengolahan 54
5.2 Kebutuhan Operasional Unit Produksi Katekin dan Tanin 56
iv
5.3 Nilai Produk dan Biaya Operasi Unit Produksi Katekin dan
Tanin (Rp) 57
5.4 Kebutuhan Sumberdaya Manusia Selain Operator 57
5.5 Permodalan, Pengembalian Modal dan Bagi Hasil 58
5.6 Arus Kas Unit Produksi Katekin Tahun-0 dan Tahun-1 (Juta
Rupiah) 59
5.7 Arus Kas Produksi Katekin Tahun-0 dan Tahun-1 (oz emas) 60
5.8 Arus Kas Mobile Unit (dalam oz Emas) 61
5.9 Arus Kas PAbrik Tetap (dalam oz Emas) 62
5.10 Arus kas bersih dan arus kas kumulatif unit produksi Katekin
dan Tanin (oz emas) 63
5.11 Nilai-nilai Variabel dan Hasil Analisis Sensitivitas Kelayakan
Finansial 64
5.12 NVP Hasil Analisis Sensivitas (oz emas) 65
5.13 Jenis-Jenis Produk Turunan Gambir 66
5.14 Produk Hilir Berbahan Baku Gambir 67
5.15 Perkiraan Kebutuhan Investasi Awal Produk Hilir Berbahan
Baku Gambir 68

v
DAFTAR GAMBAR

NO JUDUL GAMBAR HAL


GAMBAR

2.1. Daerah Penghasil Gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota 19


3.1. Jenis-Jenis Produk Gambir Indonesia 27
3.2. Gambir Lumpang 31
4.1. Pengolahan Gambir Asalan 44
4.2 Rancangan Struktur Organisasi Perusahaan Pengolahan
Gambir 48
5.3 Tahapan Perizinan Pembangunan Pabrik 51
6.1 Prosedur Pelaksanaan AMDAL 69

vi
EXECUTIVE SUMMARY

KAJIAN KELAYAKAN USAHA


PENGOLAHAN PRODUK BERBAHAN BAKU GAMBIR I DI SUMATERA
BARAT

PENDAHULUAN

Tanaman gambir di Sumatera Barat termasuk dalam sepuluh


komoditas ekspor utama di provinsi ini, meskipun demikian
ternyata tanaman ini masih diusahakan dalam skala usahatani
perkebunan rakyat. Disamping sebagai penyumbang devisa,
usahatani gambir juga merupakan mata pencaharian bagi
125.000 kepala keluarga petani atau sekitar 15 persen
penduduk Sumatera Barat. Dalam perkembangannya, hingga
saat ini harga gambir sangat ditentukan oleh pembeli. Gambir
yang diolahpun juga tidak mengalami perubahan baik dari segi kualitas maupun bentuk
produk berbahan dasar gambir lainnya.Oleh sebab itu diperlukan upaya ubtuk melakukan
peningkatan nilai tambah gambir, hal ini akan sangat bermanfaat bagi masyarakat dalam
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan mereka, dan pada akhirnya peningkatan
perekonomian masyarakat dan daerah.

Salah satu upaya untuk meningkatkan nilai tambah produk gambir yang sudah lama
menjadi mata pencaharian masyarakat di berbagai daerah di Sumatera Barat, khususnya di
Kabupaten Lima Puluh Kota, dan meningkatkan perekonomian daerah adalah dengan
mendorong adanya industri intermediary (katekin dan tannin) dan industri hilir bagi produk
gambir Sumatera Barat. Untuk itu, pendirian pabrik pengolahan produk berbahan baku
gambir merupakan upaya yang harus dilakukan dengan dukungan pemerintah dan
masyarakat, selain industri pengolahan farmasi maupun makanan berbahan dasar gambir.

Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prospek bidang usaha pengolahan


produk berbahan baku gambir (produk turunan gambir) di Sumatera Barat serta prospeknya
terhadap peningkatan ekonomi masyarakat dan perkembangan ekonomi Propinsi Sumatera
Barat. Selanjutnya, tujuan studi ini adalah untuk memberikan informasi tentang potensi
sumberdaya, potensi pasar dan aspek teknis dan finansial, sehingga investor akan
mendapatkan informasi untuk mengambil keputusan dalam melakukan investasi dan
pengembangan usahanya di wilayah ini.Kegiatan ini dilaksanakan oleh BAPPEDA Sumatera
Barat bekerjasama dengan GIZ (Deutsche Gesellschaft fr Internationale Zusammenarbeit).

vii
Metode yang dipergunakan dalam kajian ini adalah metode deskriptif kuantitatif.
Dimana kajian potensi didasarkan pada data historis dan observasi. Untuk itu, data yang
digunakan dalam kajian ini meliputi data sekunder dan data primer. Data sekunder meliputi
angka-angka historis yang diperoleh dari instansi terkait serta literatur yang terkait
sedangkan data primer didapatkan langsung dengan melakukan pengamatan dan
wawancara di lapangan kepada pelaku usaha dan instansi pemerintah terkait. Pengumpulan
data primer dilakukan dengan wawancara dan interview dan untuk melengkapi informasi
dilakukan FGD (Focus Group Discussion) dengan para pakar di bidang terkait serta pimpinan
instansi terkait.

ASPEK SUMBER DAYA

Pendekatan ini menitik beratkan pada ketersediaan bahan


baku, karena bahan baku merupakan faktor utama yang harus
dimiliki dalam setiap proses produksi. Tanaman gambir
banyak terdapat di Sumatera seperti Aceh, Sumatera Utara,
Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Sumatera Barat
dengan tingkat produksi gambir terbesar adalah di Sumatera
Barat yakni 80 % dari total gambir nasional.

Luas area tanaman perkebunan gambir di Propinsi Sumatera Barat adalah 66% dari
total area gambir nasional dan disusul oleh provinsi Riau. Sedangkan provinsi Sumatera
Utara berada pada urutan ke tiga. Tetapi di masa mendatang tidak tertutup kemungkinan
Sumatera Utara akan menjadi penghasil gambir yang besar di wilayah Sumatera khususnya
dan Indonesia pada umumnya, karena di Sumatera Utara khususnya kabupaten Pakpak
Bharat sejak tahun 2011 telah dicanangkan gerakan sejuta gambir yaang didanai oleh APBD.
Pemkab Pakpak Bharat bahkan juga akan mendirikan BUMD (Badan Usaha Milik Daerah)
yang dikhususkan untuk menangani masalah gambir secara luas dengan penyertaan modal
sebesar Rp 1, 5 miliar dari APBD. BUMD ini akan menampung hasil penggiat tanaman
gambir dan bertanggung jawab memberi pembekalan terkait industri hilir guna
meningkatkan nilai tambah bagi penggiat tanaman gambir. Hal ini menunjukkan bahwa
gambir akan dikembangkan menjadi icon di daerah ini. Tingkat pertumbuhan lahan dan
produksi gambir di Sumatera Utara selama 4 tahun terakhir menunjukkan angka yang cukup
fantastis, dimana luas lahan bertumbuh dengan 10,34% sedangkan produksi bertumbuh
dengan 36,68%.

Komoditas gambir merupakan komoditas strategis dan penting di Indonesia namun


secara nasional produk gambir belum tercatat sebagai produk unggulan nasional. Untuk
tingkat propinsi, Gambir sudah termasuk dalam 10 komoditi unggulan di Sumatera Barat.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 viii


Penetapan gambir sebagai produk unggulan daerah didukung oleh hasil studi yang dilakukan
oleh Bank Indonesia Padang bekerjasama dengan Fakultas Ekonomi UNP pada tahun 2011
tentang KPJU (Komodisi/ Produk/ Jenis Usaha) Unggulan UMKM Sumatera Barat, yang
menemukan bahwa usaha perkebunan yang mempunyai prospek yang sangat baik untuk
dikembangkan di kawasan ini adalah coklat dan gambir. (Bank Indonesia Padang, 2011).
Hasil studi ini semakin mendukung pentingnya pengembangan usaha gambir di kabupaten
Lima Puluh Kota khususnya dan provinsi Sumatera Barat pada umumnya.

Di tengah pertumbuhan perkebunan kelapa sawit yang sangat signifikan di Provinsi


Sumatera Barat terlihat tanaman gambir masih tetap dipilih untuk dikembangkan oleh
masyarakat. Luas tanaman gambir di Sumatera Barat baru mencapai 3% dari total luas
tanaman perkebunan yang ada di Sumatera Barat. Akan tetapi pertumbuhan luas tanaman
gambir ini menempati urutan kedua setelah kakao dengan angka pertumbuhan mencapai
10,89% pertahun, sedangkan pertumbuhan lahan tanaman kakao menempati urutan
pertama dengan tingkat pertumbuhan rata-rata mencapai 28,52%. Hal ini diantaranya
disebabkan oleh dicanangkannya kakao sebagai komoditas unggulan nasional. Dengan
dicanangkannya Gerbang Gambir pada tahun 2012 ini tentunya juga akan semakin
mendorong masyarakat untuk meningkatkan luas lahan gambir di masa mendatang. Jika
dilihat dari segi laju pertumbuhan produksi gambir, maka tampak bahwa pertumbuhan
jumlah produksi masih relatif kecil yaitu hanya 3,01%. Kondisi ini mengindikasikan dua hal,
pertama bahwa penanaman gambir di lahan baru belum cukup umur untuk dipanen dan
kedua bahwa produkstivitas masih relatif rendah.

Untuk komoditi perkebunan gambir, kabupaten Lima Puluh Kota merupakan


penghasil terbesar dengan luas lahan dan jumlah produksi yang terbesar dibandingkan
daerah lain di Sumatera Barat, demikian juga dengan tingkat produkstivitas/ha dan jumlah
KK (Kepala Keluarga) yang terlibat dalam aktivitas produksinya. Selain Kabupaten lima Puluh
Kota, Kabupaten Pesisir Selatan juga memiliki areal tanam gambir yang cukup luas.
Sedangkan di daerah lainnya masih relatif kecil dibandingkan kedua daerah ini.

Sebagai daerah penghasil terbesar gambir di Indonesia, maka tidak diragukan lagi
potensi produksi gambir di wilayah ini, akan tetapi jika ditinjau dari aspek ketersediaan lahan
dan peruntukannya, ternyata di wilayah kabupaten Lima Puluh Kota ditemui adanya
penanaman gambir pada lahan yang termasuk areal kawasan lindung. Perkebunan gambir
terutama terdapat di Kecamatan Kapur IX, Mahat, Pangkalan Koto Baru dan Suliki Gunung
Mas. Kapur IX merupakan kecamatan penghasil gambir terbesar (hampir 2/3 total produksi)
dengan wilayah utama yaitu Nagari Sialang.Areal penanaman gambir tersebut sebahagian
besar berada pada Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Kampar Kanan dan DAS Mahat.
Berdasarkan peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK), fungsi kawasan hutan kedua Sub
DAS tersebut adalah 64,30% sebagai kawasan lindung dan 35,70 % sebagai kawasan yang
boleh diusahakan (kawasan eksploitasi). Kawasan lindung tersebut terdiri dari 61,37%
(20.4412 Ha) sebagai hutan lindung dan 2,93 % sebagai hutan suaka alam. Hal ini berarti
bahwa perkebunan gambir di kawasan ini berada pada kawasan konservasi alam.

Usaha tani gambir di kabupaten Lima Puluh Kota mayoritas dilaksanakan secara
tradisional dalam bentuk perkebunan rakyat dengan dukungan teknologi yang masih
sederhana. Pengusahaannya dilakukan oleh keluarga-keluarga dengan jumlah kepala
keluarga berjumlah 8.002 KK dari 86.009 KK atau 9,30%. Bila diasumsikan 1 KK terdiri dari 4
orang, maka jumlah orang yang terlibat dalam usaha tani gambir ini mencapai 32.008 orang
atau 9,65% dan total penduduk yang berjumlah 331.674 jiwa. Persentase KK terbanyak yang
berusaha di bidang perkebunan gambir adalah di Kecamatan Kapur IX dengan porsi 47,07%
dari total penduduknya, selanjutnya adalah di kecamatan Pangkalan Koto Baru (20,07%), dan
kecamatan Bukik Barisan (19,50%).

Salah satu kendala yang dihadapi dalam usaha tani gambir di wilayah ini adalah
produktivitas gambir yang masih rendah dan besarnya kehilangan hasil dalam pengolahan.
Produktivitas gambir rata-rata di Indonesia berkisar antara 400-600 kg getah kering per ha,
sementara produktivitas optimal bisa mencapai 2.100 kg getah kering per ha. Rendahnya
produktivitas gambir diduga karena teknik budidaya yang masih tradisional dan penggunaan
input produksi yang tidak optimal. Dimana petani masih menggunakan bibit seadanya dan
belum menggunakan varietas unggul serta sistem pemeliharaan yang juga belum memadai.
Metode dan alat panen serta pengolahan hasil yang belum efektif dan efisien juga menjadi
faktor rendahnya produktivitas gambir di Sumatera Barat khususnya dan Indonesia pada
umumnya.

Ada 4 (empat) tipe gambir yang tumbuh di Indonesia, dan di sentra gambir Sumatera
Barat, tipe tersebut adalah: udang, riau mancik, riau gadang dan cubadak. Dari hasil riset
ditemukan bahwa gambir tipe udang memiliki kandungan katekin paling tinggi dibandingkan
dengan tipe lainnya. Hasil dari 8 (delapan) kali pengulangan percobaan dalam penelitian
dapat dilihat pada tabel 1 berikut.

Tabel 1. Persentase Kadar Katekin Empat Tipe Tanaman Gambir


Ulangan Persentase Kadar Katekin (%)
Udang Riau Mancik Riau Gadang Cubadak
Kisaran 14-45 % 3 33 % 9 27 % 9 17%
Rata-rata 25,89% 16,95% 18,11% 12,81%
Sumber: Ferita, dkk; 2011.

Terkait dengan perluasan lahan, dengan asumsi bahwa pertumbuhan tingkat


produksi, lahan tanam dan jumlah KK petani gambir adalah konstan, maka hasil estimasi

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 x


terhadap variabel-variabel produksi ini untuk periode waktu tahun 2012-2021 dengan
asumsi ceteris paribus , dan tidak ada
halangan dalam melakukan perluasan lahan
maka dapat dilihat bahwa produksi gambir di
daerah ini akan terus dapat ditingkatkan, akan
tetapi mengingat lahan adalah faktor produksi
yang sangat terbatas, dimana luas keseluruhan
wilayah Sumatera Barat adalah 42.297,30 km,
maka akan sangat rasional jika peningkatan
produksi gambir di masa depan lebih
ditekankan pada pola intensifikasi dalam
bentuk perbaikan kualitas bibit, pemeliharaan dan pengolahan.

Berdasarkan hasil kajian, maka hal yang dapat disimpulkan dan perlu dilakukan
terkait dengan aspek sumber daya ini diantaranya adalah:
1. Sumbar memiliki ketersediaan bahan baku dan luas lahan yang layak dan
memadai untuk produksi berbagai komoditi berbahan baku gambir.
2. Strategi yang terkait dengan perluasan perkebunan bagi penyediaan bahan baku
gambir. Propinsi Sumatera Barat memiliki lahan yang cocok untuk perkebunan
gambir, namun beberapa lahan menggunakan hutan lindung. Untuk mengatasi
hal ini, maka diperlukan ekstensifikasi lahan diluar lahan yang sudah ada dan
tidak menggunakan hutan lindung.
3. Petani sebaiknya menggunakan varietas unggul sebagai bibit gambir untuk
menghasilkan mutu yang dibutuhkan oleh pasar. Pola intensifikasi dalam bentuk
perbaikan kualitas bibit, pemeliharaan dan pengolahan mutlak dilakukan.
4. Perlu dilakukan pemetaan lahan perkebunan, sehingga hal ini akan memberikan
kejelasan berinvestasi di Sumatera Barat terkait dengan lahan yang dapat
digunakan sebagai areal perkebunan gambir.
5. Perlunya kebijakan pemerintah yang mengatur larangan ekspor daun gambir dan
gambir asalan yang tidak memenuhi persyaratan standar yang telah ditetapkan.

ANALISIS ASPEK PASAR

Pada bagian ini akan dibahas tentang aspek potensi pasar dari produk agroindustri gambir di
pasar lokal, nasional dan internasional.

Teknologi yang sederhana merupakan kelemahan utama dalam agroindustri gambir


Indonesia selama ini di samping pasar internasional yang sangat dikuasai oleh negara
pengimpor terutama India. Herryandie (2011) membandingkan agroindustri gambir
Sumatera Barat dengan agroindustri gambir di negara lain yaitu India, Malaysia, Singapura
dan RR China, dan ditemukan bahwa Indonesia memiliki keunggulan pada dua faktor yaitu
ketersediaan lahan yang cocok untuk budidaya tanaman gambir dan penyediaan bahan baku
industri gambir. Di samping kedua faktor tersebut, dibandingkan dengan India, maka India
lebih baik dari Indonesia dalam semua hal kecuali dari segi sumberdaya manusia. Jumlah
penduduk Indonesia yang besar menyebabkan posisi Indonesia dalam bisnis gambir tidak
terlalu berbeda dengan India dari sisi sumberdaya manusia. Dibandingkan dengan Singapura,
keunggulan Indonesia terletak pada kedua hal tersebut serta ketersediaan sumberdaya
manusia untuk bisnis gambir dan potensi pasar domestik. Dibandingkan dengan Malaysia,
maka posisi Indonesia hampir sama karena dalam beberapa hal Malaysia unggul, sedang
dalam hal lain Indonesia lebih baik. Hampir sama dengan India, posisi RR Cina lebih baik
dalam banyak hal kecuali dalam potensi pasar domestik dan dukungan pemerintah yang
relatif sama. Dengan membandingkan kelima negara, meskipun Indonesia unggul dalam
ketersediaan dan kesesuaian lahan sehingga unggul dalam penyediaan bahan baku, namun
India merupakan negara terkuat dalam bisnis gambir dunia. Faktor-faktor penentu kekuatan
bisnis yang dilakukan dalam studi Herryandie ini adalah berdasarkan empat komponen
dalam Model Berlian Porter; yaitu: kondisi faktor, keterkaitan dan industri pendukung,
kondisi permintaan serta strategi perusahaan dan struktur persaingan .

Kegiatan pengembangan agroindustri gambir di Indonesia hingga saat ini masih


sangat sederhana karena baru sampai pada tahap barang setengah jadi dari kegiatan
pengambilan ekstrak daun gambir yang sudah direbus. Produk yang dijual petani saat ini
hanyalah daun gambir dan gambir asalan saja dan aktivitas seperti ini telah berlangsung
berabad-abad. Petani belum mendapatkan nilai tambah yang signifikan dari proses
pengolahan tersebut, sedangkan nilai tambahnya didapatkan oleh negara pengimpor yang
mengolah lebih lanjut gambir menjadi produk akhir yang dapat dikonsumsi oleh konsumen
akhir dalam berbagai bentuk dan fungsinya.

Pasar domestik utama produk gambir Sumatera Barat saat ini terdapat di Sumatera
dan Jawa. Gambir yang berasal dari Sumatera Barat selain dipasok untuk konsumsi lokal di
wilayah Sumatera juga dikirimkan ke beberapa daerah di Jawa terutama Jawa Tengah dan
Jawa Timur. Untuk pasar internasional ekspor gambir Indonesia sebagian besar berasal dari
Sumatera Barat dan sebagian kecil dari Sumatera Selatan dan Bengkulu. Dengan 80 %
pangsa pasar gambir dunia yang dikuasai, Indonesia termasuk negara pengekspor gambir
terpenting di dunia dengan negara tujuan utama India yakni sekitar 84% dari total gambir
yang diekspor. Negara pengimpor gambir lainnya yaitu Singapura.Pakistan. Nepal dan
Banglades.

Saat ini gambir yang dijual berdasarkan nama produk dan bentuknya saja. Tidak ada
merek dagang dan identitas produk lainnya yang akan membedakan merek gambir Sumatera
Barat dengan lainnya. Hal inilah diantaranya yang membuat kondisi daya tawar petani di
pasar menjadi lemah, karena produk yang cenderung homogen akan sangat mudah
disubstitusi oleh produk sejenis yang berasal dari daerah atau negara lainnya. Selain itu,

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 xii


meskipun telah ada sertifikasi produk namun produk yang dihasilkan oleh petani tidak
mengacu pada standarisasi yang ada. Sehingga posisi petani sebagai produsen pertama
produk gambir tetap dalam kondisi price taker dan bukan price maker.

Jika dilihat dari fluktuasi volume dan nilai ekspor gambir Indonesia selama sepuluh
tahun terakhir tampak bahwa harga rata-rata tertinggi komoditas ini adalah $ 2.08/kg
sedangkan harga terendah mencapai $0,42 /kg. Harga pasar komoditas ini sangat ditentukan
oleh permintaan para importir khususnya dari India. oleh sebab itu upaya mengolah lebih
lanjut produk ini sangat penting artinya untuk menciptakan pasar baru di dalam maupun luar
negeri. sehingga tidak tergantung lagi sepenuhnya pada pasar India.

Meskipun permintaan gambir asalan Indonesia


cenderung meningkat, namun usaha untuk
mengembangkan produk hilir sangat perlu dilakukan,
seperti pengolahan katekin dan tannin, karena
pengolahan gambir menjadi katekin dan tanin yang
terstandarisasi memiliki prospek bisnis yang lebih baik
dan mampu memberikan keuntungan yang sangat
besar baik bagi manajemen, tenaga kerja, petani, serta
berpeluang meningkatkan devisa negara karena harga
ekspornya yang relatif tinggi.

Katekin dan tanin banyak dibutuhkan oleh dunia industri, seperti industri farmasi,
industri kosmetik, industri makanan, maupun industri lainnya. Katekin dimanfaatkan dalam
pembuatan berbagai ragam produk kosmetika, diantaranya krim anti penuaan, krim anti
jerawat, anti ketombe, kosmetik perawatan rambut rusak, sabun mandi, dan sebagainya.
Sedangkan dalam industri minuman, katekin digunakan sebagai bahan dalam pembuatan
minuman tersebut. Selanjutnya,pada industri pewarna alami, katekin dimanfaatkan sebagai
bahan untuk mewarnai kain wool dan sutra. Selain itu, katekin juga digunakan untuk
pewarna kulit samak, pewarna rambut, dan pewarna makanan. Volume kebutuhan katekin
untuk produk-produk kosmetik mencapai 1.078.582,65 kg, untuk produk sabun mandi
mencapai 15.362,61 kg, produk minuman mencapai 3.755,77 kg, sedangkan produk pasta
gigi dan obat untuk kanker masing-masing sebesar 4.357,27 kg dan 4.776,10 kg. Penggunaan
katekin yang relatif cukup besar memberikan peluang besar untuk pengembangan produk
tersebut.

Kebutuhan tanin juga dapat dihitung berdasarkan produk potensial pengguna tanin.
Pada produk penyamak kulit misalnya,volume kebutuhan tanin mencapai 53.166,3066 kg,
produk desinfektan mencapai 47.920 kg, sedangkan insektisida mencapai 41.943 kg.

Walaupun gambir Sumatera Barat sudah lama diperdagangkan secara lokal, nasional
dan bahkan internasional; akan tetapi, hal ini tidaklah menjamin kesejahteraan petani.
Penjualan produk yang sangat dominan dalam bentuk "gambir mentah", atau gambir
asalan dengan pengolahannya yang masih sangat sederhana. Pasar eksporpun bersifat
monopsony dimana posisi tawar menawar (bargaining power) petani gambir cenderung
sangat lemah atau sangat rendah. Kondisi ini sangat tidak menguntungkan bagi para petani
karena harga yang dinikmati jauh lebih rendah dibandingkan harga yang berlaku di pasar
international. Kondisi ini tentunya tidak dapat dibiarkan berlangsung terus menerus. Oleh
sebab itu upaya diversifikasi produk gambir dan pemanfaatannya mutlak dilakukan agar nilai
tambah gambir dapat dinikmati oleh pelaku usaha di daerah, khususnya di kawasan sentra
gambir Sumatera Barat.

Saat ini belum ada kontrol dan intervensi pemerintah daerah maupun pusat dalam
perdagangan gambir, baik dalam bentuk peraturan yang membatasi ataupun mengatur
mekanisme perdagangan gambir. Dalam upaya mengembangkan agroindustri gambir di
wilayah Sumatera Barat, maka pola pemasaran yang ada saat ini harus dirubah menjadi pola
pemasaran yang memiliki nilai tambah bagi pelaku usaha, salah satu model yang dapat
dikembangkan adalah strategi Supply Chain Management (SCM).

Supply Chain Management (SCM)


adalah jaringan perusahaan yang secara
bersama-sama bekerja untuk menciptakan
dan menghantarkan suatu produk ke tangan
pemakai akhir. Perusahaan-perusahaan
tersebut termasuk supplier, pabrik,
distributor, toko atau ritel, sertu perusahaan
pendukung seperti jasa logistik. Ada 3 (tiga)
hal yang harus dikelola dalam supply chain
yaitu pertama, aliran barang dari hulu ke hilir
contohnya bahan baku yang dikirim dari
supplier ke pabrik, setelah produksi selesai dikirim ke distributor, pengecer, kemudian ke
pemakai akhir, kedua adalah aliran uang dan sejenisnya yang mengalir dari hilir ke hulu dan
ketiga adalah aliran informasi yang bisa terjadi dari hulu ke hilir atau sebaliknya.

Untuk melihat kondisi permintaan gambir maka dalam studi ini dilakukan estimasi
permintaan gambir untuk memprediksi permintaan selama 20 tahun ke depan dengan
asumsi bahwa faktor penentu utama permintaan adalah harga dan variabel selain harga
dianggap tetap. Dengan menggunakan data 10 tahun terakhir dan tahun dasar adalah tahun
2001; maka diperoleh persamaan permintaan gambir di Sumatera Barat adalah sebagai
berikut;

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 xiv


Qd = 206,510 + 0,546P R2 = 0,95
(2,199) (11,677)
Dimana: Qd = Permintaan Gambir Sumatera Barat
Pi = Harga rata-rata /kg

Dari persamaan hasil estimasi di atas tampak bahwa permintaan gambir


berhubungan positif dan signifikan dengan harga. Hal ini berbeda dengan teori permintaan
yang menyatakan bahwa jumlah barang yang diminta berhubungan negatif dengan tingkat
harga. Hasil estimasi ini menunjukkan bahwa permintaan dunia terhadap gambir akan tetap
meningkat meskipun terjadi kenaikan harga. Dari koefisien estimasi dapat dilihat bahwa jika
harga gambir naik $1 maka jumlah permintan akan meningkat sebesar 0,546 ton; dengan
asumsi ceteris paribus.

Jika diamati kondisi pasar yang ada saat ini, maka produk yang paling memungkinkan
untuk dikembangkan dan masuk pasar adalah produk yang dikonsumsi secara massal dan
kontiniu oleh konsumen, yang sering disebut dengan convenient product yaitu produk
yang dicoba dulu oleh masyarakat untuk kemudian memutuskan apakah produk ini akan
terus dikonsumsi atau tidak. Jenis produk ini diantaranya adalah produk makanan, minuman
dan kosmetika serta obat herbal. Beberapa produk yang sudah dikembangkan oleh Andalas
Farma diantaranya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Produk Yang Siap Masuk Pasar Produk Yang Sedang Dalam Pembuatan
Produk Bahan baku (industri hulu)
Gambir Terstandardisasi, Katekin Gambir granul, Gambir serbuk , Gambir roti ,
Antioksidan (Katevit), Zat warna kain Alkaloid gambir , Proantosianidin , Tanin gambir
Serbuk kalincuang,Senyawa biotransformasi,Tablet
Antiulcer, Hepatoprotektor, Suspensi ED,
Pengomplek Fe , Antinematoda. antioksidan
minyak,Pereaksi logam berat
Produk Obat-obatan (Industri Farmasi)
Kapsul obat wasir, Tablet hisap Tablet Permen gambir; Pastilles gambir, Zat warna lipstik ,
antidiare, obat luka dan obat kumur. Gel luka bakar, Antidiabetes, Radang gusi
Produk Kosmetika (Industri Hilir)
Masker anti aging , Sabun transparan, Gel anti acne/jerawat
Shampo antiketombe, Pasta gigi, Lulur,
Teh gambir
Industri Aneka
Pengawet kayu, Tinta pemilu, dan Zat Kertas gambir, Kap lampu, Papan catur, Filter AC,
warna kain. Cat antikorosi,Kertas gambir, Boneka, Jilbab gambir
dan Batik gambir
Disamping produk yang sudah berhasil dikembangkan oleh Andalas Farma
(Universitas Andalas) juga ada produk yang dikembangkan oleh SMKN 1 Pangkalan
kabupaten Lima Puluh Kota yakni kerupuk gambir, risoles gambir dan pestisida gambir.

Berdasarkan kajian aspek pasar di atas, maka diperlukan strategi sebagai berikut:
1. Meningkatkan mutu gambir untuk mencari pasar dalam negeri agar sama baiknya
dengan hasil yang diperoleh dari luar negeri.
2. Menciptakan pengolahan produk hilir untuk mendifersifikasi produk gambir.
3. Menciptakan produk bernilai tinggi dari gambir yang dibutuhkan pasar dalam dan
luar negeri yakni katekin dan tanin.
4. Meningkatkan penggunakan katekin dan tannin untuk berbagai industri dalam negeri
seperti industri batik, kosmetik dan lainnya.
5. Mendorong diproduksinya produk-produk hilir yang aman dan sehat berbahan baku
gambir sehingga akan tercipta pasar baru ditengah masyarakat.
6. Perlunya adanya kebijakan pemerintah yang lebih baik dan adil bagi bisnis dalam
negeri. Hal ini akan mendorong iklim berinvestasi dalam negeri bagi investor.
7. Perluasan pasar dalam negeri dan luar negeri seiring dengan upaya diversifikasi
produk gambir sehingga mampu menjangkau berbagai segmen pasar.
8. Membangun kerjasama dalam pemasaran produk gambir. Hal ini dilakukan karena
Indonesia belum mampu mengjangkau akses pasar.
9. Promosi, Merk dan pencitraan. Selama ini ekspor gambir ke berbagai Negara tanpa
merk dan promosi. Hal ini berdampak konsumen produk gambir tidak mengetahui
bahwa produk yang mereka konsumsi berasal dari Indonesia. Untuk mendorong agar
mutu terjaga, pemerintah harus mewajibkan gambir yang diekspor harus memenuhi
standar mutu yang telah ditetapkan.

ASPEK TEKNIS DAN TEKNOLOGI

Pada bagian ini dibahas tentang aspek pemilihan lokasi pabrik


serta teknis pengolahan, dari mulai daun gambir dipetik
sampai pada gambir diolah dan siap untuk dipasarkan. Selain
itu, dalam bab ini juga dijelaskan tentang alternatif teknologi,
peralatan, sarana serta aspek legalitas yang harus diperhatikan
dalam upaya pengembangan usaha agroindustri gambir di
Sumatera Barat
Pengembangan Agroindsutri gambir dengan
pendekatan SCM membutuhkan keterkaitan industri dari hulu
hingga hilir, untuk itu tipe bibit yang akan dikembangkan

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 xvi


harus disesuaikan dengan kebutuhan industri yang akan dikembangkan. Secara teknis,
kualitas bahan baku akan sangat menentukan kualitas produk dan tentunya juga biaya
produksi dari proses pengolahan produk tersebut.

Saat ini hampir semua aktivitas produksi dan penanganan gambir dilakukan secara
manual dan teknologi sederhana. Dampaknya adalah rendahnya mutu, tidak efisien dan
rendahnya produktifitas. Untuk itu, perbaikan dalam pola produksi dan teknologi yang
dihasilkan mutlak dilakukan.

Dari studi yang dilakukan Herryandie (2011) ditemukan bahwa dari berbagai
alternatif metode introduksi teknologi yang ada seperti perbaikan teknologi pada setiap
rumah kempa, pengadaan peralatan portable, unit pengolahan bergerak (mobile) dan
pengembangan pabrik gambir mandiri, maka alternatif unit pengolahan bergerak (mobile)
merupakan alternantif yang terbaik diantara alternatif lainnya. Kriteria ini didasarkan pada
lapangan kerja untuk pengempa, pemanfaatan kembali ampas daun gambir sebagai pupuk,
kemungkinan utilitas peralatan dan kesinambungan kegiatan.

Untuk pengeringan gambir disarankan dilakukan dengan menggunakan spray dryer


yang mampu menghasilkan katekin sampai diatas 90% (Gumbira-Said, 2009). Untuk
efektifitas dan efisiensi, diusulkan dalam kajian ini agar pengolahan katekin dan tanin
menggunakan pabrik tetap dan mobile unit. Hal yang membedakan keduanya selain
mengenai kemudahan dipindah-pindah untuk mobile unit adalah ukuran dan skala dari spray
dryer itu sendiri.

Dalam kajian ini, diusulkan investor untuk berinvestasi pada pabrik pengolahan
katekin dan tanin. Semua produk gambir asalan yang diproduksi oleh petani ditampung dan
dibeli sesuai dengan kualitas. Dengan hal ini diharapkan perekonomian masyarakat tidak
mati dan diharapkan masyarakat tani memiliki alternatif penjualan dengan biaya transportasi
rendah. Tahapan proses produksi katekin dan tanin dari gambir asalan pada prinsipnya
terdiri dari pelarutan, pemisahan kotoran, pemisahan padatan dari cairan, pelarutan kembali
padatan dan pengeringan hingga diperoleh bubuk katekin dan tanin.

Sedangkan untuk produk hilir atau turunan lainnya yang saat ini telah dihasilkan oleh
beberapa lembaga penelitian, hendaknya pemerintah mendorong dengan memfasilitasi
kerjasama industri/investor dengan peneliti dalam memproduksi secara massal produk yang
dihasilkan. Lebih dari 40 produk hilir yang dapat dihasilkan dari gambir, namun diperlukan
skala prioritas yang akan dikembangkan. Berdasarkan analisa kebutuhan pasar, produk yang
telah dihasilkan dan diujicobakan dan teknologi yang digunakan maka yang dapat
dikembangkan untuk tahap awal ada sebanyak 14 produk hilir yakni:
No Keterangan Estimasi Satuan
Harga (Rp)
1 Antioksidan (Katevit) 20,000 Bungkus
2 Masker peel off 25,000 Bungkus
3 Anti Ane Gel 25,000 Bungkus
4 Obat kumur Gartevit 15,000 Botol
5 Obat Luka (Oka Tinctur) 15,000 Botol
6 Masker anti aging 5,000 Bungkus
7 Kapsul obat wasir 1,000 Tablet
8 Tablet hisap 500 Tablet
9 Tablet antidiare 2,000 Tablet
10 Sabun transparan 5,000 Batang
11 Shampo antiketombe 15,000 Botol
12 Lulur 15,000 Bungkus
13 Tinta pemilu 20,000 Botol
14 Teh gambir 10,000 Kotak

Dari kajian aspek teknis dan teknologi dapat diambil beberapa kesimpulan:
1. Teknologi pengeringan daun gambir yang akan diusulkan adalah dengan
menggunakan spray dryer.
2. Pabrik yang diusulkan adalah pabrik pengolahan katekin dan tanin yang berasal dari
gambir asalan.
3. Pabrik pengolahan katekin dan tanin dirancang dengan pabrik tetap dan mobile unit.
4. Produksi produk hilir sebagai diversifikasi produk gambir harus segera dikembangkan
dan diproduksi secara masal dengan melibatkan kerjasama Akademisi, Pelaku Bisnis
dan Pemerintah. Hal ini disebabkan karena produk gambir ini harus bersaing dengan
produk yang memiliki manfaat yang sama (substitusi) sehingga produk gambir harus
menciptakan pasar.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 xviii


ASPEK KEUANGAN

Pendekatan ini menitik beratkan pada kebutuhan investasi awal untuk pengolahan katekin
dan tanin, kelayakan investasi pengolahan pabrik katekin dan tanin serta analisis produk
turunan berbahan dasar gambir lainnya. Analisis finansial berkaitan rasio antara jumlah
pendapatan dengan jumlah biaya yang dikeluarkan dalam pembangunan dan operasional
pabrik katekin dan tanin. Secara umum ukuran dari kelayakan finansial terdiri atas beberapa
indikator keuangan, diantaranya (1) Net Present Value (NPV), (2) Benefit Cost Ratio (BCR) dan
(3) Payback Period (PP).

Analisis Pabrik pengolahan katekin dan tanin akan menggunakan dasar nilai bobot
emas (oz) sebagai dasar perbandingan pendapatan dan biaya dengan standar harga emas
dunia.

Pabrik Pengolahan Katekin dan Tanin

Pendekatan dalam analisis finansial dalam pendirian pabrik


pengolahan katekin dan tanin ini mengacu kepada hasil
riset yang dilakukan oleh Herryandi (2011). Dalam analisa
keuangan ini akan menggunakan standarkan pada nilai uang
dengan harga emas. Pertimbangan menggunakan harga
emas karena emas mengacu kepada harga internasional dan
memiliki harga yang relatif stabil sebagai alat tukar.

Dari perhitungan investasi awal diperoleh hasil yang


memperlihatkan bahwa untuk pendirian pabrik tetap dan
mobile unit dibutuhkan biaya sebesar Rp. 5.763.666.666,-
(Lima Milyar Tujuh Ratus Enam Puluh Tiga Juta Enam Ratus Enam Puluh Enam Ribu Enam
Ratus Rupiah).

Dari arus kas yang dihasilkan dalam kajian ini dapat disimpulkan bahwa:
1. NPV untuk pabrik tetap yakni 135,99 dan 527,14 untuk mobile unit. Jika Nilai NPV
lebih besar dari 0 (nol) maka usulan investasi dapat diterima. Dari perhitungan diatas
diperoleh hasil usulan investasi dinyatakan layak/diterima baik untuk pabrik tetap
maupun mobile unit.
2. Benefit Cost Rasio (Rasio B/C) diperoleh hasil bahwa untuk pabrik tetap 1,16
sedangkan untuk rasio B/C mobile unit sebesar 1,39. Hal ini mengindikasikan bahwa
usulan investasi dapat diterima baik pabrik tetap maupun mobile unit karena bernilai
lenih dari 1. Hal ini dapat diartikan penerimaan yang diperoleh mampu menutupi
biaya-biaya yang timbul.
3. Payback Period (PP) merupakan suatu periode yang diperlukan untuk menutup
kembali pengeluaran investasi dengan
menggunakan aliran kas. Dari perhitungan
diperoleh hasil bahwa Payback period untuk
mobile unit adalah selama 2,73 tahun dan
untuk pabrik tetap adalah selama 6,58 tahun.

Berdasarkan kajian aspek keuangan diatas,


maka dapat diambil kesimpulan bahwa pendirian
industri pengolah katekin dan tannin yang berasal dari gambir asalan di kabupaten
Limapuluh Kota adalah layak untuk lakukan. Kondisi tersebut berlaku jika variabel yang
digunakan sebagai asumsi dalam perencanaan ini sesuai dengan besaran perencanaan.

Dalam kajian ini juga dilakukan uji sensitifitas dengan hasil semua variabel masih
memberikan nilai NPV yang lebih besar dari nol selain harga dan rendemen katekin. Variabel
harga, rendemen katekin, rendemen tanin dan harga tanin menunjukkan rentang NPV yang
sangat lebar. Hal ini menunjukkan NPV sangat sensitif terhadap perubahan empat variabel
tersebut. Jika katekin dan tanin dapat dijual pada tingkat harga yang lebih tinggi dari harga
minimal tertentu dan rendemen lebih tinggi dari nilai minimal maka unit produksi katekin
dan tanin layak dikembangkan. Atas hal tersebut, sangat penting adanya pengendalian yang
cermat terhadap kadar katekin dan tanin yang diperoleh dari masyarakat.

ANALISIS LINGKUNGAN

Ditinjau dari faktor iklim, curah hujan di wilayah


Barat Pulau Sumatera cukup tinggi. Hal ini perlu
diwaspadai dalam pemilihan lahan untuk
penenaman gambir. Budidaya gambir pada di
kawasan Limapuluh Kota belum mengikuti
kaedah-kaedah konservasi lahan, kondisi ini
dapat mengancam munculnya lahan kritis baik
pada bagian hulu maupun bagian hilir aliran
sungai. Keadaan semakin diperparah oleh
kebiasaan petani menggunakan kayu sebagai
bahan bakar dalam pengolahan hasil gambir sehingga juga dapat mengancam kerusakan
lingkungan hutan.

Gambir dibudidayakan pada lahan dengan ketinggian 200-800 m di atas permukaan


laut. Mulai dari topografi agak datar sampai di lereng bukit. Biasanya ditanam sebagai
tanaman perkebunan di pekarangan atau kebun di pinggir hutan. Budidaya biasanya

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 xx


dilakukan dengan sistem semiintensif, jarang diberi pupuk tetapi pembersihan dan
pemangkasan dilakukan secara berkala.

Dari segi budidaya penanaman gambir pada lahan yang berfotografi tidak datar atau
berlereng ternyata masih belum mengikuti kaedah-kaedah konservasi, dimana sistem jarak
tanam yang dipakai tidak beraturan dan tidak mengikuti baris kontur.Pola tanamnya secara
monokultur. Sistem budidaya yang semacam ini akan memberi peluang terjadinya erosi yang
dapat merusaka lingkungan sekitarnya.

Oleh sebab itu, usaha pengembangan komoditas gambir pada lahan yang mempunyai
tingkat kemiringan tinggi perlu penerapan teknologi budidaya konservasi, yaitu dengan
menerapkan:
1) Pembuatan Teras; tujuan dari pembuatan teras ini adalah untuk mengurangi terjadinya
erosi sebelum penananam gambir maka harus dibuat teras menurut baris kontur guna
memperlambat laju erosi.
2) Pengaturan sistem jarak tanam menurut baris kontur; tujuan penanaman menurut
baris kontur adalah untuk mengurangi erosi, penanaman menurut baris kontur akan
dapat membentuk teras alami yang sangat efektif untuk mengurangi erosi permukaan.
Material-material yang terbawa oleh aliran permukaan akan tertahan pada barisan
tanaman sehingga membentuk lapisan yang lebih tebal sehingga membentuk teras
alami.
3) Intercropping; merupakanpenanaman tumbuhan atau komoditas lain di sela tanaman
gambir yang dapat dimanfaatkan sebagai penyanggaerosi. Tanaman yang dimanfaatkan
sebagai penyangga erosi adalah tanaman yang dapat memberikan hasil tambahan antara
lain, petai, jengkol dan lain-lain. Serta tanaman yang tidak menganggu pertumbuhan
tanaman gambir. Tajuk tanaman tidak terlalu lebar sehingga intensitas cahaya tidak
terhalang.

Rekomendasi

Adapun rekomendasi yang disarankan dalam kajian ini adalah sebagai berikut:
A. Rekomendasi untuk Pemerintah
1) Perlunya pemerintah mengeluarkan kebijakan terkait dengan mutu gambir yang
boleh diekspor dan persyaratan lainnya seperti merk dan promosi.
2) Perlunya pemerintah memberikan insentif kepada investor yang bersedia bergerak
dalam pengolahan produk turunan dari gambir.
3) Perlunya mendorong industri yang ada baik skala besar maupun rumah tangga untuk
memproduksi secara massal berbagai produk hilir dari bahan dasar gambir.
4) Perlunya sinergisitas antar lembaga dalam mengembangkan gambir di Indonesia.
5) Perlunya mendorong perguruan tinggi ataupun lembaga penelitian lainnya dalam
mengembangkan produk hilir dari gambir sehingga dapat diproduksi oleh
masyarakat.
6) Perlunya pemerintah memfasilitasi masyarakat tani dalam memperoleh varietas
unggul sebagai bibit gambir.
7) Perlunya dilakukan pembinaan kepada masyarakat tani dalam mengolah gambir
sehingga mutu terjaga dan produktifitas meningkat.
8) Pemerintah perlu mendorong industri dalam negeri menggunakan katekin dan
tanin hasil produksi dalam negeri sehingga diharapkan dapat mengurangi
ketergantungan dari India.

B. Rekomendasi untuk Investor


1) Langkah awal yang harus dilakukan dalam pengembangan produk berbahan
dasar gambir adalah pendirian industri katekin dan tanin baik bersifat pabrik
tetap maupun mobile unit.
2) Agroindsutri gambir untuk produk kosmetika, makanan & minuman serta obat-
obatan memiliki potensi untuk dikembangkan
3) Hal penting yang harus diperhatikan oleh calon investor adalah keberanekaan
sektor usaha telah menjadikan adanya ke beranekaan peraturan dan undang-
undang yang berbeda pula, hampir seluruh sektor usaha di Indonesia diatur oleh
ketentuan-ketentuan dan peraturan serta perundang-undangan. Namun
demikian, tidak semua peraturan perundang-undangan sektoral yang ada telah
dilengkapi dengan Peraturan Pemerintahnya, untuk itu para investor harus
mencermati status keberlakuan atas peraturan pada sektor yang diminatinya,
oleh karena peraturan-peraturan tambahan sering kali baru diterbitkan kemudian
dan untuk peraturan-peraturan yang adapun sering kali masih dilakukan
beberapa perubahan dalam pelaksanaannya.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 xxii


EXECUTIVE SUMMARY
FEASIBILITY STUDY FOR INVESTMENT IN GAMBIER MANUFACTURE IN
WEST SUMATERA

BACKGROUND
Gambier plant in West Sumatera included in the ten
major export commodities in the province, although it is still
cultivated crops in smallholder farming scale. Not only as a
foreign exchange earner, gambier farming also a livelihood for
family farmers head 125,000 or about 15 percent of the
population of West Sumatera. During its development, until
now the price is determined by the buyer gambier. Gambier
processed also unchanged in terms of both quality and F IGURE GAMBIER FLOWER

gambier-based products. Required effort to increase value-


added of gambier, one effort to increase the value-added of gambier is development and
utilization of gambier in industry with the support of government and gambier businesses
community.

The aims of this study to identify the prospects of the business of processing
products made from Gambier (Gambier derived products) and its prospects for economic
improvement and economic development in West Sumatera. Furthermore, the purpose of
this study is to provide information about the resource potential, market potential and
technical and financial aspects, so that the investor will get sufficient information to make
decisions in the investment and business development of gambier and its derived product.

The method used in this study was descriptive quantitative method. Where the
assessment of potential based on historical data and observations. Therefore, the data used
in this study include secondary data and primary data. Secondary data consists of historical
figures obtained from the relevant authorities as well as related literature, while primary
data obtained by direct observation and field interviews to businesses and government
agencies. Primary data were collected by interview and interview and to complete the

xxiii
information carried FGD (Focus Group Discussion) with experts in related fields as well as
the leaders of relevant institutions.

RESOURCES ASPECT

This approach focuses on the availability of


raw materials, as raw materials are the main factors
that should be provided continuously in production
process. Gambier plants widely available in Sumatera
such as Aceh, North Sumatera, Riau, South Sumatera,
Bengkulu and West Sumatera West Sumatra is the
biggest producer in Indonesia which is 80% of the
FIGURE 2 GAMBIER PLANT
total national gambier product.

The area of gambier plantation area in West Sumatra province is 66% of the total
area of national gambier. it followed by the Riau province and the province of North
Sumatera. But in the future, there is a possibility of North Sumatera will be producing a
larger gambier, because in Pakpak Bharat regency has been proclaimed a million gambier
movement funded by local budgets since the year 2011. The local goverment also develop
BUMD (Regional-Owned Enterprises) which is devoted to supporting the efforts gambier
program, within the equity of Rp 1, 5 billion sourced from local budget. The growth rate and
production of gambier in North Sumatera during the last 4 years shows quite a fantastic
number, where the land area grew by 10.34%, while production grew by 36.68%. This
suggests that the gambier plant will develop into an excellent products in this area.

Although gambier plant is strategically important commodities in Indonesia but not


listed as a national flagship product. Gambier included in the 10 leading commodities in
West Sumatra based on the results of a study conducted by Bank Indonesia in collaboration
with the Faculty of Economics of Padang State University in 2011. The results of this study
support the importance of gambier business development in the West Sumatera.

Gambier plant area in West Sumatera reached only 3% of the total planted area of
existing plantations in West Sumatera with gambier plant growth area reached 10.89% per

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 xxiv


`

year. With the launching of the "Gateway Gambier" in 2012, it will more encourage the
community to increase the land area and gambier production in the future.

The Lima Puluh Kota district is the largest producer with land area and the largest
amount of production than any other region in West Sumatera, as well as the level of
productivity / ha and the number of KK (Head of Family) is engaged in production activities.
In addition, the Pesisir Selatan District also has gambier planting area is quite large, whereas
in other areas is still relatively small compared to these two regions. However, other areas
also have the potential for growing gambier especially the highlands in West Sumatera.

Gambier farming in the Lima Puluh Kota district traditionally held the majority in the
form of smallholders with simple technology support. The main problems encountered in
farming gambier in the region is the low productivity and a high level of yield loss in
processing. The Low productivity due to traditional cultivation techniques and use of
production inputs that are not optimal. The farmers tend to use potluck seedsings rather
than flagship seeds and their maintenance system is also very simple. Harvesting methods
and tools as well as the processing results have not been effective and efficient are also
factors to low productivity of gambier farming in this region.

Based on its kind, there are four (4) types of gambier which are grew up in Indonesia,
and in the center of Gambier West Sumatera, the type are udang, riau mancik, riau gadang
and cubadak. From the research found that the type of udang has the highest content of
catechins compared with other types. The results can be seen in the following table.

Table 1. Percentage Levels Of Catechins According to Plant Type of Gambier

Content Levels of Catechins Percentage (%)


size Udang Riau Mancik Riau Gadang Cubadak
Ranges 14-45 3 33 9 27 9 17
Averages 25,89 16,95 18,11 12,81
Source: Ferita, at al; 2011.

Based on the results of the study on the potential resource, it can be concluded:
1. West Sumatra has the availability of raw materials and land to produce various
commodities made from raw gambier.
2. Expansion strategy for increasing the supply of raw materials gambier should not
use the protected forest.
3. Farmers should use seed high yielding
varieties of gambier to produce the
quality required by the market.
4. Intensification in the form of seed
quality improvement, maintenance and
processing must be carried out.
5. Government should be able to prevent
FIGURE 3 CUBE GAMBIER
export of gambier leaves and gambier
cubes which does not meet the requirements of established standards.

MARKET ANALYSIS ASPECT

Lacking in technology and limited market access is a major weakness in the


Indonesian gambier agro-industry especially for the international market which is
dominated by major importing countries, such as India.

Herryandie (2011) compared the gambier agro-industry in West Sumatra with


gambier agro-industry in other countries such as India, Malaysia, Singapore and China; the
study found that Indonesia has advantages on two factors: the availability of suitable land
for cultivation of gambier and supply of industrial raw materials gambier .

Although Indonesia has the advantage in availability of suitable land and sources of
raw materials but gambier agro-industry development activities still very simple because it
only reached the stage of semi-finished goods taking operations gambier leaf extract that
has been boiled.

Up to now, the products sold by farmer are leaf gambier and simple mold gambier
which is the activity has been going on for centuries, this condition causes the farmer does
not get a significant value added from gambier, and the value added obtained by the
importing country that succeed cultivate gambier into a final product that can be consumed
by the end users in a variety of forms and functions.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 xxvi


`

The main domestic markets of West Sumatra gambier products currently found in
Sumatra and Java. Gambier from West Sumatra not only supplied for local consumption in
the region of Sumatra but also sent to several areas in Java, especially Central Java and East
Java.

For the international market, export Indonesian gambier mostly from West Sumatera
and a small portion of South Sumatera and Bengkulu. According to BPS; 80% share of the
gambier world market is dominated by Indonesian gambier, so Indonesia the most
important exporting country in the world with the main destination country India which is
about 84% of the total exported gambier. Other importing countries, such as Singapore,
Pakistan. Nepal and Bangladesh.

Up to now, gambier products of West Sumatera sold based on the name and shape
alone. No trade mark and the identity of the products that will differentiate from other
products in the world. This condition weakens the bargaining power of farmers gambier in
the market, because the products tend to be very simple and homogeneous, it will easier
substituted by similar products from other regions or countries. Although there has been
certified products standards but the products produced by the farmers do not refer to the
existing standards. So that the position of farmers as the first manufacturer gambier
products remain in a "price taker" and not a "price maker".

Seen from fluctuations in the volume and value of exports of Indonesian gambier
over the last ten years it appears that the highest average price of this commodity is $
2.08/kg, while the lowest price reached $ 0.42 / kg. The market price of this commodity is
determined by the demand for particular importers from India. therefore further efforts to
cultivate this product is very important to create new markets at home and abroad. so it
does not depend only on the Indian market.
Although the Indonesian gambier demand is likely to increase, but the effort to
develop downstream products are needed, such as catechins and tannins processing,
because processing of gambier became standardized catechins and tannins have better
business prospects and can provide a huge advantage for the management, labor, farmer,
and will increase foreign exchange due to the relatively high export prices.
Catechins and tannins needed in many industries, such as pharmaceutical industry,
cosmetic industry, food industry, and other industries. Catechin used in the manufacture of a
wide range of cosmetic products, including anti-aging cream, anti acne cream, anti-dandruff,
damaged hair care cosmetics, soap, and so on. While in the beverage industry, catechins
used as an ingredient in the manufacture of the drink.

Furthermore, in natural coloring


industry, catechins used as material for
dyeing wool and silk fabrics. In addition,
catechins are also used to dye leather, hair
colorants, and food coloring. Volume
catechin need for cosmetic products reached
1,078,582.65 kg, for body reached 15362.61
kg and beverage products reached 3755.77
kg, while the toothpaste products and drugs
FIGURE 4 SUPPLY CHAIN MANAGEMENT (SCM)
for cancer amounted to 4357.27 kg and
4776.10 kg. The use of relatively large catechins provide great opportunities for the
development of the product.

Use of tannins can be calculated based on potential product users tannins. At the
tanner products for example, the volume needs reached 53166.3066 kg tannins, disinfectant
products reached 47 920 kg, while the insecticide reached 41 943 kg.

Although Gambier West Sumatra have long traded locally, nationally and even
internationally; however, this does not improve the welfare of farmers. This is caused by the
sale of which is dominated by a very simple gambier products, such as "raw gambier", or
"cubes gambier" Furthermore, the export market is "monopsony" where the bargaining
power of gambier farmers tend to be very weak or very low. This condition is not favorable
for the farmers because the buyers set the price lower than the prevailing price in the
international market. This condition must not be allowed to take place continuously.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 xxviii


`

Therefore, efforts to diversify gambier products and their use must be carried out to increase
the value added of gambier for businesses in the area, particularly in the central Gambier of
West Sumatra.

There is no control and intervention of local and central government in trade


gambier, either in the form of regulations that restrict or regulate trading mechanism
gambier. One of the efforts in developing gambier agro-industry in West Sumatra, the
pattern of existing marketing must be converted into a pattern of marketing that have value
added for the business, and one of the models that can be developed is the Strategy of
Supply Chain Management (SCM).

Supply Chain Management (SCM) is a network of companies that work together to


create and deliver the product into the hands of end users. Those companies include
suppliers, manufacturers, distributors, or retail stores, as well as companies such as logistics
support. There are three (3) things that have to be managed in the supply chain: first, the
flow of goods from upstream to downstream, eg raw materials delivered from suppliers to
the plant, after production is complete shipped to distributors, retailers, and then to the end
user, the second is the flow of money in various forms and types that flow from downstream
to upstream, and the third is the flow of information that can occur from upstream to
downstream or vice versa.

To see the potential future demand gambier, these studies estimate the demand
gambier to predict demand for the next 20 years, assuming that the main determinants of
the demand is price, factors other than the price is considered fixed. Using data from the last
10 years and the base year is 2001; estimated demand equation gambier in West Sumatra as
follows;

Qd = 206,510 + 0,546P R2 = 0,95


(2,199) (11,677)
Where: Qd = Quantity demanded for West Sumatera Gambier
Pi = Average Price /kg
From the above equation it can be seen that the price has a positive effect and
significan on demand gambier. This condition is different from demand theory which is
states that prices negatively affect the quantity of goods demanded. The estimation results
indicate that the global demand for gambier will continue to rise although the price increase.
From the estimated coefficients can be seen that if the price gambier increase $ 1 then the
number of quantity demanded will increase by 0.546 tons; assuming ceteris paribus.

By considering the development of the world market gambier, potential product to


be developed is a product that consumed continuously by many consumers, known as
"convenient product '; products tried first by the consumer before deciding whether the
product will continue to be consumed or not. These types of products such as food
products, beverages and cosmetics and herbal medicines. Some products have been
developed by Farma Andalas which can be seen in the table below..
Table 2: Developing Gambier Product by Andalas Farma
Product Ready To Enter The Market Product In Process of Development And
Manufacturing
Raw materials Products (Upstream Industry)
Standardized Gambier, Catechins Granules gambier, powders Gambier, bread
Antioxidant ("Katevit"), fabric dye gambier Alkaloids gambier, proanthocyanidin,
Tanin gambier wastewater gambier, compound
biotransformation, Antiulcer Tablet,
hepatoprotective, Suspension "ED",
Antinematoda. antioxidant oil, heavy metal
reagents
Medicines Products (Pharmaceutical Industry)
Hemorhoids medicine capsules, Gambier gum; Pastilles gambier, dye lipstick, gel
suction tablets, anti diarrheal tablet, burns, Antidiabetic, and Gingivitis drug
wound medicine and mouthwash.
Cosmetics Products (Downstream Industry)
Anti aging mask, transparent soap, anti Gel anti acne / pimples
dandruff Shampoo, Toothpaste, Body
Scrub, Tea gambier
Various Industry
Wood preservatives, election ink and Gambier paper, Lampshades, chess boards, AC
dye wood Filters, anticorrosive paint, dolls, Gambier Hijab
and Batik gambier

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 xxx


`

In addition to products that have been successfully developed by Andalas Farma


(Universitas Andalas), there are several products developed by SMK 1 Limapuluh Kota
district such as gambier crackers, rolls Gambier and pesticides.

Based on the study of aspects of the potential market, it would require the following
strategies:
1. Improvement of Gambier quality for the domestic market in order to find as good as
the results obtained from abroad.
2. Develop downstream processing products for variety of products gambier.
3. Creates downstream processing products for diversifying gambier.product
4. Create high value products from gambier required by the industry in the domestic
and overseas markets such as catechins and tannins.
5. Encourage the use of catechin and tannin to various domestic industries such as
batik industry, cosmetics and others.
6. Encourage the production of downstream gambier products that are safe and
healthy to use and will create a new market in economic activity.
7. There should be an expansion of markets both domestically and abroad with the
efforts to diversify gambier products to reach various market segments.
8. Establishing cooperation in product marketing gambier, It is necessary because
Indonesia does not have good market access, especially for the international market
9. Required effort for promotion, brand and imagery products so that consumers know
that the comes from Indonesia.
10. To ensure the quality of products, the government should require that gambier
traded meet established quality standards.
11. Need for better government policies and support for businesses in the country. This
will encourage domestic investment climate for investors.

TECHNICAL ASPECTS AND TECHNOLOGY


Factory location choice and technical processing is the
main discussion issuet at this point. Begin with gambir
leaves picking to the ready processed gambier and then
distribution to the market. Besides that, alternative
technology, equipment, and other facilities along with
legal aspect become an important ideas to discuss here,
as an integral unit for West Sumatera agro-bussiness

FIGURE 5 TRADITIONAL PROCESSING


GAMBIER
development.

The development of Agroindsutry with SCM approach requires industry linkages


from upstream to downstream industries; henceforth, the type of seeds that will be
developed should be tailored to the needs of the industry that will be developed.
Technically, the quality of raw materials is greatly determine the quality of the product along
with production cost from product processing.

Today almost all production activities and gambier handling is conducted manually
and simple technology. The impact of such work is the quality of the product followed is low
or not optimal, inefficiency and low productivity. Therefore, improvement in production
form and technology is absolutely necessary.

From Herryandie research (2011) found that from a number alternatives of current
technology introduction method such as technology improvements in every clamp house,
portable equipment procurement, mobile unit processing and the development of gambier
independent plant, then alternative mobile processing units is the best alternative among
the other. This criteria is based on employment for the workers, reusing of waste from
gambier leaves as fertilizer, the possibility of utility equipment and sustainability of activities.

For the drying of the gambier, it is recommended to use dryer spray therefore the
production of catechins up to more than 90% (Gumbira-Said, 2009). For effectiveness and
efficiency reason, it is suggested in this study that for the catechins and tannins processing is
better to work with fixed and mobile units plants; as the mobile unit is removable so that it
will makes the work easier, besides the size and scale of the dryer spray.
GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 xxxii
`

In this study, the investor is suggested to invest in catechins and tannins processing
plants. All pure gambier that is produced by the farmers accommodated and purchased
based on quality. Accordingly, the gambier farmers having an alternative for selling their
product within minimum transportation costs; likewise, this bussiness will help those
community to perpetuates their income.

For downstream products or other derivative, which has been produced by several
research institutes, government should encourage to facilitate cooperation between industry
/ investor with researchers in producing mass-produced products. More than 40
downstream products that can be produced from Gambier, but the priorities needed to be
developed. Based on the analysis of market requirements, products that have been
produced, tested and used the technology can be developed as downstream products in
early stage such as ;
Table 3. Price Estimation of Derived Gambier Product
No The Type of Product Price Estimate (Rp) Unit

1 Antioxidants (Katevit) 20,000 Package


2 Masker peel off 25,000 Package
3 Anti Ane Gel 25,000 Package
4 Mouthwash Gartevit 15,000 Bottle
5 Drug Injury (Oka 15,000 Bottle
Tinctur)
6 Anti-aging masks 5,000 Package
7 Hemorrhoid medication 1,000 Tablet
8 Lozenges 1,000 Tablet
9 Antidiarrheal tablets 2,000 Tablet
10 Transparent Soap 5,000 Bar
11 Anti Dandruff Shampoo 15,000 Bottle
12 Beauty Scrub 15,000 Package
13 Election Ink 20,000 Bottle
14 Gambier Tea 10,000 Box
Based on the technical and technological aspects of the study can be drawn some
conclusions:
1. Gambier leaves drying technology that will be
proposed is a spray dryer.
2. The proposed plant is processing plant
catechins and tannins derived from pure/cube
gambier.
3. Catechin and tannin processing plants are
designed with fixed plant and mobile units.
4. Production of downstream products as
FIGURE 6 MONEY FLOWER
diversify gambier products must be developed
and mass produced with collaboration involving academics, business and
government actors. This is very important because gambier products must be able to
compete with similar products (substitution) in the national and international
markets

FINANCIAL ASPECTS

This approach focuses on the initial investment requirement for processing the
catechins and tannins, catechins investment feasibility of processing plants and tannin as
well as analysis of other derivatives gambier products .

Financial analysis basically is the ratio between the total revenue by the amount of
the costs incurred in the construction and operation of the plant catechins and tannins.
Indicators of financial feasibility, which is used in this study were (1) Net Present Value
(NPV), (2) Benefit Cost Ratio (BCR) and (3) Payback Period (PP).

Analysis of catechins and tannins processing plants will use a base value of gold
weight (oz) as a basis for comparison of revenue and expenses by the standards of the world
gold price.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 xxxiv


`

Processing Plant Catechins and Tanin

Approach to financial analysis in the establishment of processing plants catechin and


tannin refers to the results of research conducted by Herryandi (2011), financial analysis in
this study using the standard price of gold as money. Consideration using the price of gold
because gold refers to the international prices and have relatively stable prices as a medium
of exchange.

From the calculation of the initial investment, the estimation results show that for
the establishment of fixed and mobile plant unit cost of Rp. 5,763,666,666, -
Calculation based on estimated cash flow generated in this study it can be concluded
that:
1. NPV for fixed plant is 135.99 and 527.14 for the mobile unit. If the NPV is greater
than 0 (zero), the investment proposal is acceptable. based on the results of these
calculations concluded that the investments are feasible / acceptable for both fixed
and mobile plant unit.
2. The value of Benefit Cost Ratio (Ratio B / C) obtained for the fixed plant 1.16 while
for mobile units is 1.39. This indicates that the investment plan is acceptable both
fixed and mobile plant unit, it is shown by the BCR value greater than 1. This value
indicates that the income will be able to cover the costs incurred.
3. Payback Period (PP) is a period required to cover capital expenditures using cash
flow. Based on the estimation results obtained payback period for the mobile unit is
2.73 years and for fixed plant is 6.58 years.

Based on the analysis of the financial aspects, it can be concluded that the
establishment of processing industries catechins and tannins derived from pure/cube
gambier in district of Lima Puluh Kota is feasible. The condition is true if the variable is used
as an assumption in this plan in accordance with the amount of planning.
The sensitivity testof this study was found that all the variables gives NPV greater
than zero in addition to the price and yield of catechins. Variable pricing, yield catechins,
tannins yield and price tannins show a very wide range of NPV. This shows that the NPV is
very sensitive to changes in the four variables. If catechins and tannins can be sold at a
higher price level than a certain minimum price
and the yield is higher than the minimum value,
then the units of catechin and tannin production
feasible. Based on that, it is important to have a
careful control of the content of catechins and
tannins derived from gambier products produced
by farmers
FIGURE 8 GAMBIER PLANT

ANALISIS LINGKUNGAN

The gambier cultivation in the Limapuluhkota district have not followed the rules of
conservation land, this can be seen from the pattern of cultivation that does not pay
attention to the slope steepness, while rainfall in West Sumatra is quite high. This needs to
be aware in the selection of land for encouraging critical areas both on the upstream and
downstream parts of the river flow. The situation is aggravated by the habit of farmers who
use wood as fuel in the processing of gambier, this action can also threaten damage to the
forest environment.

Gambier cultivated on land 200-800


meters above sea level. Gambier usually grown as
a plantation crop in the yard or garden at the edge
of the forest. Cultivation is usually done with a
semi-intensive system, rarely given fertilizer but
cleaning and trimming done regularly.
Gambier cultivation on land that is not flat
or sloping do not follow the rules of conservation, FIGURE 7 LEAVES AND CUBES GAMBIER
where the plant spacing system is irregular and do
not follow the contour lines. It planted in monoculture. This kind of farming system will
provide opportunities for erosion that can damage the environment
Therefore, the system gambier cultivation on land that has a high slope should use
conservation farming technology, by applying:

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 xxxvi


`

1) Terracing; purpose of terracing is to reduce erosion; before planting gambier terrace


shall be made according to contour lines to slow the rate of erosion.
2) Settings plant spacing system according to the contour lines; purposes of applying this
cropping system is to reduce erosion, cultivation according to the contour lines will be
able to form a natural terrace which is very effective to reduce surface erosion. Materials
carried by surface runoff will be held on row crops and will form a layer of natural
terraces.
3) Intercropping; cultivation plants or other commodities on the sidelines gambier plants
that can be used as an erosion buffer and can provide additional income such as petai,
jengkol and others. As well as plants that do not disturb growth of gambier. Plant
canopy is not too wide so that the intensity of the light is not blocked.

RECOMMENDATION

Recommendations suggested based on the results of this study are as follows:

A. Recommendations for Government


1) Government policies are needed to regulate the quality of exported gambier and
other requirements such as brand and promotion.
2) Government should provide incentives to investors who are willing to invest for
processing products derived from gambier.
3) Government should encourage existing industries both large-scale and household to
mass-produce a variety of downstream products from raw material gambier.
4) There should be a synergy between institutions in developing gambier in Indonesia.
5) The Government is expected to provide financial support and facilities at universities
or other research institutions in developing downstream products of gambier so it
can be produced by the community.
6) Government is expected to facilitate the farmers to use the seeds of superior varieties
gambier
7) Necessary to provide guidance to the farmers in processing gambier so that the
quality and productivity can be improved
8) Local governments should make planting map so that people no longer use the
protected forests to plantations.
9) Government should encourage domestic industry using catechins and tannins
produced by domestic production to reduce dependence on products of
catechins and tannins from abroad.

B. Recommendations for Investors

1) The first step that must be done in the development of gambier derivative
products is the establishment of catechin and tannin factory; both fixed and
mobile units.
2) Agroindsutri gambier for cosmetic products, food & beverage and
pharmaceuticals have the potential to be developed
3) The important thing that should be considered by prospective investors is the
diversity of business sectors have led to the diversity of rules and laws; both at
central and local levels.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 xxxviii


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Tanaman gambir (Unicaria gambir) adalah komoditas spesifik lokasi Sumatera Barat.
Artinya komoditas ini tumbuh dan berkembang secara baik di daerah ini dan merupakan
mata pencaharian pokok yang memegang peran penting dalam menentukan tingkat
pendapatan masyarakat serta pendapatan daerah dan negara, karena produk ini adalah
komoditas ekspor yang mampu memberikan sumbangan besar bagi pendapatan
masyarakat, dan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah serta devisa untuk
negara.

Tanaman gambir merupakan tanaman perdu, termasuk salah satu di antara famili Rubiace
(kopi-kopian) yang memiliki nilai ekonomi tinggi, yang berasal dari ekstrak (getah) daun
dan ranting karena mengandung asam katechu tannat tanin), katechin, pyrocatecol,
florisin, lilin, fixed oil. Thorper dan Whiteley (l921) mengemukankan bahwa kandungan
utama gambir adalah asam katechu tannat (20-50%), katechin (7-33%), dan pyrocatechol
(20-30%), serta zat kimia lainnya dalam jumlah terbatas. Sedangkan Bachtiar (1991)
menyatakan bahwa kandungan kimia gambir yang paling banyak dimanfaatkan adalah
katechin dan tanin. (Azmi Dhalimi,2006)

Kegunaan utama gambir secara tradisional pada umumnya adalah sebagai bahan
pelengkap makan sirih dan obat-obatan, seperti di Malaysia gambir digunakan untuk obat
luka bakar, disamping itu rebusan daun muda dan tunasnya digunakan sebagai obat diare
dan disentri serta obat kumur-kumur pada sakit kerongkongan. Secara moderen gambir
banyak digunakan sebagai bahan baku industri farmasi dan makanan, diantaranya adalh
sebagai bahan baku obat penyakit hati dengan paten catergen, bahan baku permen yang
melegakan kerongkongan bagi perokok di Jepang karena gambir mampu menetralisir
nikotin. Sedangkan di Singapura gambir digunakan sebagai bahan baku obat sakit perut
dan sakit gigi (Suherdi dkk, l99l; Nazir, 2000) dalam Dhalimi,2006).

Berbagai potensi yang dimiliki gambir telah banyak dipelajari dan diteliti keampuhannya
,antara lain sebagai anti nematode dengan melakukan isolasi senyawa bioefektif anti
nematoda Bursapeleucus xyphylus dari ekstrak gambir (Alen et al., 2004), bahan infuse dari
gambir untuk penyembuhan terhadap gangguan pada pembuluh darah (Sukati dan
Kusharyono, 2004), perangsang sistem syaraf otonom (Kusharyono, 2004) dan gambir

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 1


sebagai obat tukak lambung (Tika et al., 2004). Selain itu juga telah diteliti tentang
kemampuan ekstrak gambir sebagai anti mikroba (Rahayuningsih et al., 2004), sebagai
bahan tosisitas terhadap organ ginjal,hati dan jantung (Armenia et al., 2004), bahan anti
feedan terhadap hama Spodoptera litura Fab. (Handayani et al., 2004), anti bakteri
(Lisawati, 2004), tablet hisap gambir murni ( Firmansyah etal., 2004), gambir sebagai bahan
baku sampho (Shanie et al., 2004) dan gambir sebagai bahan perekat kayu lapis dan papan
partikel (Kasim, 2004, dalam Dhalimi,2006).

Gambir juga digunakan sebagai bahan baku dalam industri tekstil dan batik, yaitu sebagai
bahan pewarna yang tahan terhadap cahaya matahari (Risfaheri et al., l995), di samping itu
gambir juga digunakan sebagai bahan penyamak kulit agar tidak terjadi pembusukan dan
membuat kulit menjadi lebih renyah setelah dikeringkan (Bachtiar, l991; Suherdi et al,
l991). Sedangkan industri kosmetik menggunakan gambir sebagai bahan baku untuk
menghasikkan astrigen dan lotion yang mampu melembutkan kulit dan menambah
kelenturan serta daya tegang kulit. (Dhalimi,2006).

Tanaman gambir termasuk jenis tanaman iklim tropis, tanaman ini oleh para ahli
diperkirakan berasal dari wilayah Sumatera dan Kalimantan, tanaman ini diketahui juga
tumbuh di Malaysia dan Singapura, dimana di Malaysia dan Singapura, tanaman gambir
dibudidayakan sebagai tanaman perkebunan penting hingga awal abad 20 akan tetapi
seiring dengan perkembangan industrialisasi yang sangat berpengaruh terhadap
perkebangan tanaman gambir yang bergeser ke tanaman gambir dan nenas (Thulaja,
2003). Saat ini tanaman gambir di Indonesia dapat ditemui di Kepulauan Riau, pantai timur
Sumatera, Indragiri, Bangka, Belitung, Sumatera Barat, dan Kalimantan Barat (Nuryeti et
al., 1995). Al Hendry (2009)
Di pulau Sumatera daerah yang memiliki perkebunan gambir adalah: Provinsi Aceh,
Sumatera Utara, Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Sumatera Selatan dan daerah lain yang
memiliki gambir rakyat adalah pulau Bangka Belitung. Provinsi Sumatera Barat merupakan
provinsi dengan luas areal perkebunan gambir rakyat terbesar di Indonesia. Adapun sentra
perkebunan gambir di Sumatera Barat terdapat di Kabupaten Limapuluh Kota dan
Kabupaten Pesisir Selatan. Di daerah Kabupaten Limapuluh Kota, daerah perkebunan
gambir utama adalah Kecamatan Kapur IX, Kecamatan Pangkalan Koto Baru, Kecamatan
Bukit Barisan dan Kecamatan Lareh Sago Halaban. Beberapa Kabupaten lain yang memiliki
perkebunan gambir di Sumatera Barat adalah Kabupten Padang Pariaman, Pasaman,
Sawah Lunto Sijunjung dan Kabupaten Agam.

Indonesia merupakan pemasok utama gambir dunia (80%), dimana sebagian besar gambir
ini berasal dari daerah Provinsi Sumatera Barat (Djanun, 1998) dengan negara tujuan
ekspornya Banglades, India, Pakistan, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Perancis dan Swiss
(Denian, 2002) dengan permintaan ekspor yang terus meningkat sepanjang tahun.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 2


Tabel 1.1. Daerah Penghasil Gambir di Indonesia

No Provinsi Kabupaten/ Kota

1 Aceh Aceh Tenggara; Kecamatan Bandar (Desa Tengku Kute, Kute


Ujung; Kecamatan Kotakace

2 Sumatera Kabupaten Agam; Kabupaten Pasaman; Kabupaten Limapuluh


Barat Kota; Kabupaten Tanah Datar; Kabupaten Padang Pariaman;
Kabupaten Solok; Kabupaten Pesisisr Selatan; Kabupaten
Sijunjung; Kabupaten Sawah Lunto danKota Padang

3 Sumatera Kabupaten Dairi; Kabupaten Phakpak


Utara

4 Riau Kabupaten Kampar

5 Bangka Kabupaten Sunggailat Bangka


Belitung

6 Sumatera Desa Toman, Kecamatan Babatan Toman Kabupaten Musi


Selatan Banyuasin

7 Papua Kabupaten Merauke


Sumber: Amos et al., 2005 dalam Al Hendry (2009)

Di Sumatera Barat gambir banyak diusahakan dalam skala usahatani perkebunan rakyat
dan termasuk dalam sepuluh komoditas ekspor utama di provinsi ini. Disamping sebagai
penyumbang devisa, usahatani gambir juga merupakan mata pencaharian bagi lebih
kurang 125.000 kepala keluarga petani atau sekitar 15 persen penduduk Sumatera Barat
(Ermiati, 2004). Oleh sebab itu upaya peningkatan nilai tambah gambir akan sangat
bermanfaat bagi masyarakat untuk dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan
mereka, dan akan bermuara pada peningkatan perekonomian masyarakat dan daerah.

1.2.Maksud dan Tujuan

Kegiatan penyusunan studi kelayakan ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi


prospek bidang usaha pembuatan produk berbahan baku gambir (produk turunan
gambir) di Sumatera Barat serta prospeknya terhadap peningakatan ekonomi
masyarakat dan perkembangan ekonomi Propinsi Sumatera Barat.
Selanjutnya, tujuan studi ini adalah untuk memberikan informasi tentang potensi
sumberdaya, potensi pasar dan aspek tekhnis dan finansial, sehingga investor akan

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 3


mendapatkan informasi untuk mengambil keputusan dalam melakukan investasi dan
pengembangan usahanya di wilayah ini.
Dengan semakin meningkatnya investasi dan perkembangan dunia usaha di Propinsi
Sumatera Barat jelas akan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah dan juga
penerimaan pendapatan masyarakat di wilayah ini.

1.3.Ruang Lingkup Pekerjaan

Kajian yang akan dilakukan ini adalah untuk mengidentifikasi kelayakan proyek atau
potensi pendirian pabrik pengolahan produk berbahan baku gambir sebagai usaha
potensial yang akan dikembangkan di Propinsi Sumatera Barat. Adapun ruang lingkup
yang akan menjadi titik berat dalam kajian ini nantinya adalah:
(1) Analisis potensi ketersediaan sumber daya di daerah
(2) Analisis potensi pasar baik lokal, nasional maupun internasional
(3) Analisis aspek tekhnis dan pengelolaan produksi; terutama terkait dengan
kebutuhan alternative technologi
(4) Analisis finansial untuk pendirian usaha
(5) Analisis Regulasi, perizinan dan daya dukung infrastruktur Lingkungan. Lokasi
Pabrik.

Berdasarkan analisis terhadap aspek di atas akan dikaji kelayakan dan potensi
pendirian pabrik pengolahan produk berbahan baku gambir ini di Sumatera Barat.

1.4.Kerangka Konsep

Metode yang akan dipergunakan dalam kajian ini adalah metode deskriptif
kuantitatif. Dimana kajian potensi didasarkan pada data historis dan observasi. Untuk
itu, data yang diperlukan dalam kajian ini meliputi data sekunder dan data primer. Data
sekunder meliputi angka-angka historis yang diperoleh dari instansi terkait sedangkan
data primer didapatkan langsung dengan melakukan pengamatan dan wawancara di
lapangan kepada pelaku usaha dan instansi pemerintah terkait. Pengumpulan data
primer dilakukan dengan wawancara dan interview dan untuk melengkapi informasi
dilakukan FGD (Focus Group Discussion) dengan para pakar di bidang terkait serta
kepala instansi terkait.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 4


Hasil yang diharapkan dari kajian ini adalah:

1. Tersedianya informasi tentang potensi pendirian pabrik Pengolahan Produk


Berbahan Baku Gambir bagi pengusaha atau investor baik lokal, nasional maupun
internasional.
2. Informasi tentang daya dukung bahan baku, potensi pasar dan lokasi usaha yang
strategis, aspek finansial serta aspek tekhnis lainnya.
3. Alternatif kebijaksanaan yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan usaha
ke depan.

1.5.Lingkup Analisis Kajian

Kajian terhadap studi kelayakan usaha pendirian pabrik Pengolahan Produk Berbahan
Baku Gambir di Propinsi Sumatera Barat ini dilakukan dengan beberapa pendekatan:
1. Pendekatan Sumber Daya

Kegiatan pada tahapan ini merupakan pendekatan yang didasarkan kepada


pendekatan penawaran (Supply Based Approach) yaitu didasarkan atas
potensi sumber daya di daerah. Berbagai katagori sumberdaya antara lain :

a. Sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan secara ekonomis : bahan


mentah/bahan baku lokal, dan ketersediaan lahan
b. Potensi Sumber Daya Manusia (SDM) misalnya: ketersediaan dan
keterampilan serta keahlian tenaga kerja yang dapat dipekerjakan di sektor
usaha ini.
c. Kegiatan produksi yang telah ada sebagai input dari permintaan pasar serta
kebutuhan pengembangannya, dan kemungkinan untuk menciptakan
peluang-peluang usaha baru ke arah hulu maupun hilir, usaha perdagangan,
atau usaha jasa penunjang lainnnya.
d. Keunggulan komparatif dari aspek geografis, misalnya: kedekatan dengan
pasar, kesesuaian untuk menjadi lokasi produksi, ketersediaan infrastruktur,
dan kemudahan aksesibilitas

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 5


e. Keunggulan kompetitif (Competitive Advantage) dimaksudkan untuk
menghasilkan produk yang mempunyai daya saing yang tinggi, melalui
kreatifitas, teknologi dan kualitas sumber daya manusia.

2. Pendekatan Aspek Pasar

Setelah kajian sumber daya memperlihatkan potensi untuk dikembangkan ,


selanjutnya dilakukan kajian dengan mempertimbangkan prospek dan potensi
peluang pasar, baik pasar lokal, nasional, maupun internasional.

Data peluang pasar dapat didasarkan pada hasil survey atau analisa pasar
(supply-demand) baik di tingkat daerah/lokal maupun nasional termasuk
pemanfaatan data statistik tertentu. Apabila permintaan dapat mencapai skala
ekonomis untuk diusahakan, maka usaha tersebut layak untuk dilakukan
sedangkan yang tidak atau belum memenuhi skala ekonomi tidak akan
menguntungkan untuk dilakukan.
3. Pendekatan Tekhnis dan Pengelolaan Produksi

Pendakatan ini bertujuan untuk mengkaji potensi produksi secara tekhnis,


terkait komposisi input yang digunakan serta berbagai fasilitas pendukung yang
dibutuhkan dalam menunjang aktivitas produksi, seperti aspek legalitas usaha
dan regulasi.

4. Pendekatan Finansial

Pendekatan ini memberikan gambaran kebutuhan modal untuk investasi usaha,


potensi pendapatan dan keuntungan serta pengembangan usaha. Juga
sensitivitas usaha terhadap perubahan harga dan tingkat bunga perekonomian.

5. Pendekatan Lingkungan

Dengan pendekatan ini akan dapat dilihat dampak pengembangan usaha ini
terhadap lingkungan dan bagaimana daya dukung lingkungan untuk
pengembangan usaha tersebut.

1.6.Data dan Sumber Data

Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya, jenis data yang digunakan dalam kajian
ini adalah data primer dan data sekunder, dimana bentuk data berupa data kuantitatif
dan data kualitatif yang meliputi data-data yang memberikan informasi produksi

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 6


gambir, potensi pasar dan produksi serta distribusi gambir secara lokal maupun
internasional.

Metode yang dipergunakan untuk memperoleh data-data yang akan digunakan dalam
penelitian ini adalah melalui:

a. Metode Dokumentasi

Metode ini dilaksanakan dengan pengumpulan data sekunder berbagai instansi


terkait seperti; Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Barat, Bappeda
Sumatera Barat, Dinas Perkebunan dan instansi lainnya.

b. Metode Studi Pustaka

Metode ini dilaksanakan dengan melakukan studi kepustakaan melalui


berbagai publikasi, literatur, jurnal, dan informasi online yang mendukung bagi
tercapainya tujuan kajian ini.

c. Metode Survey Lapangan

Metode ini digunakan untuk pengumpulan data primer yaitu dengan


wawancara dan melakukan pengamatan di lapangan kepada pelaku usaha dan
instansi pemerintah terkait dan untuk melengkapi informasi juiga akan
dilakukan wawancara dengan para pakar di bidang terkait serta pejabat
instansi terkait.

1.7.Sistematika Laporan

Sistematika laporan akhir dari kajian ini mencakup:

BAB I PENDAHULUAN: bagian ini mencakup Latar Belakang, maksud dan Tujuan
dilakukannya kajian, Lingkup Pekerjaan, Kerangka Konsep, Lingkup Analisis Kajian,
Data dan Sumber Data serta gambaran sistematika laporan

BAB II ANALISIS ASPEK SUMBER DAYA: bagian ini akan mengungkapkan tentang
Perkembangan Produksi Gambir baik di Indonesia maupun Sumatera Barat, Potensi
Produksi Gambir Daerah di Sekitar Sumatera Barat, Proyeksi Produksi Gambir
Sumatera Barat dan Hambatan Produksi Gambir di Sumatera Barat

BAB III ANALISIS ASPEK PASAR: pada bagian ini akan dipaparkan tentang potensi
pasar gambir yang mencakup perkembangan Pasar Gambir dan Produk turunannya di
Indonesia, Perkembangan Ekspor Gambir Indonesia, Permintaan Gambir Dunia dan

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 7


Kondisi Persaingan Pasar gambir di Indonesia serta Peramalan Permintaan (Demand
Forecasting), serta berbagai hambatan Pasar yang dihadapi oleh pelaku usaha.

BAB IV ASPEK TEKNIS PRODUKSI: kajian pada aspek ini mencakup Aspek Tekhnis
pendirian pabrik pengolahan produk berbahan baku gambir, Aspek Manajemen
Produksi dan aspek legalitas untuk pendirian pabrik gambir di Sumatera Barat.

BAB V ANALISIS ASPEK FINANSIAL: bagian ini merupakan kajian finansial kelayakan
usaha pendirian pabrik pengolahan produk berbahan baku gambir yang potensial
untuk dikembangkan di Sumatera Barat, yang mencakup aspek Kebutuhan Investasi
Awal dan Analisa Keuangan, serta Asumsi yang Digunakan dalam melakukan Analisis
Kelayakan Usaha.

BAB VI . ASPEK LINGKUNGAN: pada bagian ini akan dibahas tentang Dampak Positif
dan Dampak Negatif dari pendirian pabrik pengolahan produk berbahan baku gambir
di wilayah Sumatera Barat

BAB VII . PENUTUP: berisikan kesimpulan dan rekomendasi kebijakan untuk


pendirian usaha pengolahan produk berbahan baku gambir di Sumatera Barat.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 8


BAB II
ASPEK SUMBER DAYA

2.1.Pendahuluan

Pendekatan ini menitik beratkan pada ketersediaan bahan baku, karena


bahan baku merupakan faktor utama yang harus dimiliki dalam setiap proses
produksi. Untuk itu perlu dikaji potensi produksi yang ada dan prospek
pengemproduk berbahan baku gambirnya di masa mendatang. Ketersediaan
lahan sebagai faktor utama dalam usaha tani gambir, serta aspek tenaga kerja
selaku faktor produksi yang menentukan bagaimana usaha tani gambir ini
dijalankan, dan selanjutnya juga akan dikaji kendala yang dihadapi dalam
penyediaan bahan baku yang akan turut mempengaruhi nilai ekonomi komoditas
di masa mendatang.

2.2. Perkembangan Produksi Gambir Indonesia

Indonesia terletak di daerah tropis yang merupakan negara agraris dan


sektor pertanian menjadi andalan utama penghasil devisa negara diluar migas.
Sektor pertanian menopang sebagian besar perekonomian penduduknya melalui
penyediaan pangan dan juga memberikan lapangan pekerjaan. Hingga saat ini,
sektor pertanian masih memegang peranan penting dalam perekonomian
nasional, karena sektor ini didukung oleh ketersediaan potensi sumberdaya alam
yang sangat baik dan beragam. Namun demikian, ketersediaan berbagai
sumberdaya hayati yang produk berbahan baku gambiryak tidak lansung dapat
menjamin kondisi ekonomi masyarakat menjadi lebih baik, kecuali bilamana
keunggulan tersebut dapat dikelola secara profesional, berkelanjutan dan
memiliki nilai tambah ekonomi, sehingga keunggulan komparatif (comparative
advantage) akan dapat diubah menjadi keunggulan kompetitif (competitive
adventage) yang menghasilkan nilai tambah (value added) yang lebih besar.

Salah satu produk pertanian sub sektor perkebunan yang menjadi bahan
ekspor semenjak dahulu adalah gambir. Gambir (Uncaria Gambir (Hunter) Roxb)
merupakan tanaman perdu setengah merambat. Pemanfaatannya adalah sebagai
bahan obat-obatan, pewarna alami dan lain-lain. Tanaman gambir produk

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 9


berbahan baku gambiryak terdapat di Sumatera seperti Aceh, Sumatera Utara,
Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Sumatera Barat. Produksi gambir paling
produk berbahan baku gambiryak adalah di Sumatera Barat bahkan 80 %
produksi gambir nasional berasal dari daerah ini.

Luas area tanaman perkebunan gambir di pulau Sumatera dapat dilihat


pada tabel 2.1. di bawah ini, dimana tampak bahwa 66% area tanaman gambir
berada di Sumatera Barat dan disusul oleh provinsi Riau. Sedang provinsi
Sumatera Utara ada pada urutan ke tiga. Tetapi di masa mendatang tidak
tertutup kemungkinan daerah ini akan menjadi penghasil gambir yang besar di
wilayah Sumatera khususnya dan Indonesia pada umumnya, karena di Sumatera
Utara khususnya kabupaten Pakpak Bharat pada tahun 2011 telah dicanangkan
gerakan sejuta gambir yaang didanai oleh APBD daerah. Pemkab Pakpak Bharat
bahkan juga merencanakan mendirikan BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) yang
dikhususkan untuk menangani masalah gambir secara luas. Untuk pendirian
sekaligus penyertaan modal bagi BUMD yang akan dibentuk itu, telah juga
dialokasikan dana sebesar Rp 1, 5 miliar dari APBD 2011. BUMD ini akan
menampung hasil penggiat tanaman gambir. Juga bertanggung jawab memberi
pembekalan terkait industri hilir guna menyumproduk berbahan baku gambirg
nilai tambah bagi penggiat tanaman gambir, Hal ini menunjukkan bahwa gambir
akan dikemproduk berbahan baku gambirgkan menjadi icon di daerah ini.

Tabel 2.1. Luas Area Tanaman Perkebunan Gambir di Pulau Sumatera


Tahun 2007
No Provinsi Luas Perkebunan (ha) Persentase Luas Tanam (%)

1 Sumatra Barat 13.115,0 66

2 Sumatra Utara 1.481,5 7

3 Riau 4.901,0 24

4 Sumatra Selatan 512,0 3

Total luas tanam 20.009,50 100


Sumber : BPS (2008) dalam Gumbira-Said et al. (2009)

Selanjutnya pada tabel 2.2. dapat dilihat luas tanam dan produksi
tanaman gambir di wilayah Sumatera Utara yang menunjukkan bahwa kabupaten
Pakpak Bharat merupakan produsen terbesar gambir di wilayah ini dan diikuti
oleh jkabupaten Dairi. Dengan dicanangkannya gerakan penanaman gambir yang
pembelian bibitnya dibiayai oleh APBD maka budidaya tanaman ini akan semakin

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 10


meningkat luas tanam dan produksinya di masa mendatang. Hal ini juga berarti
bahwa produksi gambir Indonesia akan meningkat di masa yang akan datang.

Tabel 2.2. Luas Tanam dan Produksi Tanaman Gambir Perkebunan Rakyat
Provinsi Sumatera Utara Tahun 2009
No Kabupaten Luas Tanaman (Hektar) Produksi
TBM TM TTM Jumlah (Ton)
1 Mandailing - 7,8 2,0 9,8 3,00
2 Natal - 10,0 - 10,0 3,63
3 Tapanuli 90,0 571,0 90,0 751,0 321,20
4 Tengah - 27,5 15,0 42,5 9,73
5 Dairi 140,0 909,0 1,0 1.050,1 1.523,00
Deli Serdang
Pakpak Bharat
Total 230,0 1.525,3 108,0 1.863,3 1.860,58
Sumber: Sumatera Utara Dalam Angka, BPS, Tahun 2010.

Tingkat pertumbuhan lahan dan produksi gambir di Sumatera Utara


selama periode 2006-2009 menunjukkan angka yang cukup fantastis, dimana luas
lahan bertumbuh dengan 10,34% sedangkan produksi bertumbuh dengan
36,68%. Hal ini menunjukkan bahwa Sumatera Utara akan menjadi sentra gambir
yang cukup besar di Indonesia setelah Sumatera Barat.

Tabel 2.3. Perkembangan Luas Tanaman dan Produksi Gambir Tanaman


Perkebunan Rakyat Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2009
No Tahun Luas Tanaman (Hektar) Produksi
TBM TM TTM Jumlah (Ton)
1 2006 290 1.079,00 18 1.387,0 728,72
2 2007 210 1.399,61 3 1.613,3 542,16
3 2008 249 1.430,61 3 1.683,3 1.558,12
4 2009 230 1.525,30 108 1.863,3 1.860,58
Pertumbuhan Rata-Rata (%) 10,34 36,68
Sumber: Sumatera Utara Dalam Angka, BPS, Tahun 2010
Keterangan: TBM : Tanaman Belum Menghasilkan
TM : Tanaman Menghasilkan
TTM : Tanaman Tidak Menghasilkan

Komoditas gambir merupakan komoditas strategis di Indonesia, karena


mampu menciptakan devisa yang besar, selain karena serapan tenaga kerja dan
pangsa pasarnya yang besar di pasar global. (Gumbira, 2009). Untuk itu upaya
peningkatan kualitas dan kuantitas produksi gambir menjadi hal yang harus
diperhatikan dalam menghadapi persaingan pasar global di masa mendatang.
Tanel 2.4. memperlihatkan bahwa tanaman gambir merupakan komoditas
penting di wilayah Sumatera, meskipun secara nasional produk gambir belum

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 11


tercatat sebagai produk unggulan nasional. Untuk di empat wilayah yang
menjadi sentra gambir nasional yaitu Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau dan
Sumatera Selatan peran tanaman gambir sudah sangat dirasakan oleh
masyarakat, terutama petani gambir, namun demikian harga gambir yang
fluktuatif di pasar internasional tentunya juga berdampak pada pendapatan
petani gambir yang pada akhirnya mepengaruhi tingkat kesejahteraan dan
kondisi ekonomi masyrakat perkebunan gambir di wilayah ini khusunya dan
Indonesia pada umumnya.

Tabel 2.4. Luas Area Tanaman Perkebunan di Provinsi Riau, Sumatera Barat,
Sumatera Utara, Sumatera Selatan Tahun 2007. (Ha)
No Tanaman Sumatera Sumatera Riau Sumatera
Barat Utara Selatan
1. Karet 87,286.00 362,084.95 512,900.79 928,075.00
2. Kelapa Sawit 326,580.0 372,153.00 1,611,381.6 506,124.00
0 0
3. Kelapa Dalam 79,829.00 123,201.89 552,021.69 58,354.00
4. Kayu Manis 35,232.00 6,970.37 0.50 1,708.25
5. Kopi Robusta 28,788.00 53,869.36 10,192.46 276,855.00
6. Kopi Arabika - 25,086.98 563.30 -
7. Lada 126.00 183.80 - 12,001.35
8. Cengkeh 1,602.00 3,364.68 19.30 373.00
9. Kakao 1,814.90 56,258.78 9,265.28 4,826.73
10. Pinang 517.00 4,575.80 5,777.55 1,543.95
11. Kemiri - 11,211.88 2.00 -
12. Kapuk 93.00 483.15 7.20 905.25
13. Aren 1,158.00 5,031.14 98.54 1,610.10
14. Vanili - 162.10 - 350.00
15. Tebu 14,576 711.00 - -
16. Tembakau 1,033 302.12 - 112.00
17. Nilam - 2,728.40 - 877.00
18. Pala 1,233.00 228.85 - -
19. Saga - - 62,342.93 -
20. Kemenyan - 24,077.95 - -
21. Gambir 13,115.00 1,481.50 4,901.00 512.00
Sumber: Sumatera Barat Dalam Angka 2009; dalam Herryandie (2012)

2.3. Perkembangan Produksi Gambir Sumatera Barat

Di tengah pertumbuhan perkebunan kelapa sawit yang sangat signifikan


di Provinsi Sumatera Barat terlihat tanaman gambir masih tetap dipilih untuk
dikembangkan oleh masyarakat. Dari laporan Dinas Perkebunan Provinsi
Sumatera Barat pada tahun 2010 luas tanaman gambir di Sumatera Barat tahun
2010 baru mencapai 3% dari total luas tanaman perkebunan yang ada di

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 12


Sumatera Barat. Akan tetapi pertrumbuhan luas tanaman gambir ini menempati
urutan kedua setelah kakao dengan angka pertumbuhan selama periode 2006-
2010 mencapai 10,89% pertahun, sedangkan pertumbuhan lahan tanam kakao
menempati urutan pertama dengan tingkat pertumbuhan rata-rata selama
periode yang sama mencapai 28,52%. Hal ini diantaranya disebabkan oleh
dicanangkannya kakao sebagai komoditas unggulan nasional. Dengan
dicanangkannya Gerbang Gambir pada tahun 2012 ini tentunya juga akan
semakin mendorong masyarakat untuk meningkatkan luas lahan gambir di masa
mendatang. Data luas tanaman komoditi perkebunan Provinsi Sumatera Barat
pada tahun 2006-2010 dapat dilihat pada Tabel 2.5.

Tabel 2.5. Luas Tanaman Perkebunan Provinsi Sumatera Barat


Tahun 2006-2010
No. Komoditi Tahun (ha) Pertum-
2006 2007 2008 2009 2010 buhan
Rata-rata
(%)
1 Kelapa Sawit 281.410 291.734 327.653 344.351 353.300 5,85
2 Karet 148.618 149.759 151.032 159.039 175.985 4,32
3 Kelapa 90.683 90.760 91.272 91.367 91.672 0,27
4 Kakao 37.028 49.743 65.103 82.450 101.014 28,52
5 Gambir 19.121 19.350 19.663 28.335 28.910 10,89
6 Cassiavera 41.818 38.300 38.566 38.741 38.701 (1,92)
7 Kopi 48.714 47.511 47.907 47.413 47.764 (0,49)
8 Nilam 2.799 2.965 2.976 2.997 3.880 8,51
9 Pinang 8.679 9.022 9.035 9.007 9.077 1,13
10 Cengkeh 6.989 6.892 6.954 6.987 6.997 0,03
Sumber: Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Barat 2011
Ket : (.....) = nilai negatif

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa luas lahan tanaman gambir dalam
lima tahun terakhir di Provinsi Sumatera Barat memperlihatkan pertumbuhan
rata-rata sebesar 10,89% setiap tahun, pertumbuhan yang relatif tinggi ini
menunjukkan bahwa animo masyarakat masih sangat besar untuk melakukan
budi daya tanaman ini. Hal ini diantaranya dikarenakan oleh potensi pendapatan
yang juga besar dari usaha perkebunan ini. Akan tetapi jika dilihat dari segi laju
pertumbuhan produksi gambir, maka tampak bahwa pertumbuhan jumlah
produksi masih relatif kecil yaitu hanya 3,01%. Kondisi ini mengindikasikan dua
hal, pertama bahwa penanaman gambir di lahan baru belum cukup umur untuk
dipanen dan kedua bahwa produkstivitas masih relatif rendah. Data produksi
tanaman perkebunan Provinsi Sumatera Barat dapat dilihat pada Tabel 2.6.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 13


Tabel 2.6. Produksi Tanaman Perkebunan Provinsi Sumatera Barat
Tahun 2006-2010
No. Komoditi Tahun (ton) Pertum-
2006 2007 2008 2009 2010 buhan
Rata-Rata
(%)
1 Kelapa 720.234 771.406 794.167 931.720 850.237 4,24
Sawit
2 Karet 89.631 89.714 103.880 133.816 134.401 10,66
3 Kelapa 79.678 79.829 82.595 85.715 86.459 2,06
4 Kakao 16.244 18.381 32.376 40.250 49.769 32,30
5 Gambir 13.249 13.315 13.930 13.932 14.919 3,01
6 Cassiavera 37.508 32.232 22.648 19.827 19.782 (14,78)
7 Kopi 29.909 29.576 33.339 27.991 37.621 5,90
8 Nilam 211 343 396 397 416 18,50
9 Pinang 3.937 4.655 4.655 4.834 4.894 5,59
10 Cengkeh 1.518 1.602 1.741 1.749 1.717 3,13
Sumber: Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Barat 2011
Ket : (.....) = nilai negatif

Secara tekhnis, tanaman gambir dapat dipanen pertama kalinya pada saat
tanaman sudah berumur 1,5 2 tahun, panen berikutnya tidak ada kriteria
tertentu, biasanya petani hanya melihat jumlah daun yang cukup banyak dengan
usia daun berkisar antara 6 8 bulan setelah panen. Pada umumnya gambir
dapat dipanen 2 hingga 4 kali dalam setahun selama 15 tahun sejak pertama
dipanen.

Jika dilihat dari luas tanam dan produksi tanaman gambir di Sumatera
Barat tampak bahwa potensi produksi masih cukup besar karena pertumbuhan
lahan yang masih tinggi. Akan tetapi untuk dapat meningkatkan produktivitas
produksi tentunya perlu dilakukan berbagai upaya agar produk yang dihasilkan
dapat ditingkatkan dari segi kuantitas dan kualitasnya.

Dari keseluruhan lahan perkebunan gambir di wilayah provinsi Sumatera


Barat merupakan perkebunan rakyat, dan secara keseluruhan lahan perkebunan
di wilayah ini mayoritas adalah perkebunan rakyat, namun pertumbuhan
lahannya paling rendah dan sangat kecil jika dibandingkan dengan pertumbuhan
lahan perkebunan yang dikelola oleh PT.Perkebunn (PTP) dan Perkebunan Besar
Swasta (PBS), dimana pertumbuhan lahan perkebunan rakyat adalah 6,23%
sedangkan pertumbuhan lahan PTP mencapai 24,01%. Pertumbuhan PTP yang
tinggi mengindikasikan bahwa Sumatera Barat merupakan wilayah yang potensial
bagi BUMN untuk mengembangkan usahanya, demikian juga halnya dengan
perkebunan swasta yang lahannya bertumbuh 9,02% selama periode waktu
2006-2010. Kondisi ini mencerminkan bahwa usaha perkebunan masih terus
tumbuh dan berkembang di kawasan Sumatera Barat dengan potensi produksi

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 14


yang akan terus meningkat karena luas lahan yang juga masih terus meningkat
dengan rata-rata pertumbuhan pertahun selama periode 2006-2010 adalah
7,50%.

Tabel 2.7. Luas Lahan Perkebunan Menurut Kepemilikan di Propinsi Sumatera


Barat Tahun 2006 2010
Pertum-
Jenis buhan
No satuan 2006 2007 2008 2009 2010
Perkebunan Rata-
rata (%)
1 Perkebunan Ha
Rakyat ( 579.845 621.109 679.969 720.453 738.412
PR ) % 62,70 57,75 59,94 59,77 59,86 6,23
2 PT. Ha
Perkebunan 8.413 22.246 19.059 19.610 19.897
( PTP ) % 0,91 2,07 1,68 1,53 1,62 24,01
3 Perkebunan Ha
Besar 336.467 432.169 435.380 465.256 475.250
Swasta % 36,39 40,18 38,40 38,61 38,53 9,02
(PBS)
4 JUMLAH Ha
924.725 1.075.524 1.134.408 1.205.319 1.233.559
% 100 100 100 100 100 7,50
Sumber: Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, 2011.

Untuk komoditi perkebunan gambir, kabupaten Lima Puluh Kota


merupakan penghasil terbesar dengan luas lahan dan jumlah produksi yang
terbesar dibandingkan daerah lain di Sumatera Barat, demikian juga dengan
tingkat produkstivitas/ha dan jumlah KK (Kepala Keluarga) yang terlibat dalam
aktivitas produksinya. Hal ini menunjukkan bahwa di kabupaten Lima Puluh Kota
komoditas Gambir menjadi tumpuan hidup masyarakat karena pendapatan yang
menjanjikan secara ekonomi.

Sebagaimana telah diungkapkan di atas, bahwa daerah penghasil gambir


di Sumatera Barat adalah Kabupaten Lima Puluh Kota dan Kabupaten Pesisir
Selatan, dimana kedua daerah ini memiliki luas areal tanam dan produksi serta
tingkat produkstivitas gambir yang terbesar di wilayah Sumatera Barat.
Kabupaten Lima Puluh Kota berada di posisi pertama dan kabupaten Pesisir
Selatan di peringkat berikutnya dan di daerah lainnya masih relatif kecil
dibandingkan kedua daerah ini.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 15


Tabel 2.8. Luas Areal dan Produksi Tanaman Gambir Perkebunan Rakyat
di Provinsi Sumatera Barat Tahun 2011
Luas (Ha) Produksi Produk-
N0 TBM TM TR (Ton) tivitas Jumlah
Kabupaten/Kota Jumlah Kg/Ha KK
Tani
Kabupaten
1. Pesisir Selatan 511 4,512 5,023 2,894.0 641.4 3,693
2. Sijunjung 147 75 9 231 54.0 720.0 128
3. Padang 71 146 7 224 108.0 739.7 12
Pariaman
4. A g a m 166 280 - 446 211.0 753.6 1,150
5. Lima Puluh Kota 825 13,752 14,577 10,153.0 738.3 7,437
6. Pasaman 16 615 10 641 445.0 723.6 80
7. Pasaman Barat 17 140 - 157 102.0 728.6 -
Kota
8. Padang 16 74 5 95 54.0 729.7 139
9. Sawahlunto - 6 4 10 4.0 666.7 1
SUMATERA BARAT 2011 1,769 19,600 35 21,404 14,025 715.6 12,640
2010 1,765 19,634 1 21,400 13,845 705.0 10,466
2009 1,064 18,271 - 28,335 13,932 762.5 9,727
2008 1,332 18,271 60 19,663 13,930 762.4 9,727
2007 2,135 17,197 18 19,350 13,115 762.6 9,674
Sumber : Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, 2012
Ket : TBM = Tanaman Belum Menghasilkan
TM = Tanaman Menghasilkan
TR = Tanaman Rusak

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa 9 dari 19 atau 47,47% daerah kota
kabupaten di wilayah Sumatera Barat menghasilkan gambir, dimana dari waktu
ke waktu terjadi peningkatan luas areal, jumlah produksi dan kepala keluarga
(KK) tani yang melakukan aktivitas budi daya gambir. Selanjutnya, jika dilihat dari
kondisi tanaman maka tampak bahwa jumlah lahan yang berisi tanaman rusak
cenderung meningkat, hal ini tentunya perlu mendapat perhatian agar potensi
produksi tidak terganggu di masa mendatang. Upaya peremajaan tanaman perlu
segera dilakukan oleh petani dan para pelaku usaha perkebunan gambir di daerah
ini, tentunya dengan tetap memperhatikan kualitas bibit dan keseimbangan
lingkungan.

2.4. Perkembangan Produksi Gambir Kabupaten Lima Puluh Kota

Sebagai daerah penghasil terbesar gambir di Indonesia, maka tidak


diragukan lagi potensi produksi gambir di wilayah ini, akan tetapi jika ditinjau dari
aspek ketersediaan lahan dan peruntukannya, ternyata di wilayah kabupaten
Lima Puluh Kota ditemui adanya penanaman gambir pada lahan yang termasuk

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 16


areal kawasan lindung dengan salah satu ciri kelerangan berada di atas 400,
kondisi ini tentunya perlu diwaspadai agar perkebunan gambir jangan sampai
menjadi penyebab menurunnya kualitas lingkungan di wilayah ini.

Kabupaten Lima Puluh Kota terdiri dari 13 kecamatan yaitu: Akabiluru,


Bukik Barisan, Guguak, Gunuang Omeh, Harau, Kapur IX, Lareh Sago Halaban,
Luak, Mungka, Pangkalan Koto Baru, Payakumbuh, Situjuh Limo Nagari dan
Suliki. Dari 13 kecamatan ini 9 diantaranya (70%) adalah penghasil gambir di
kabupaten ini. Perkebunan gambir terutama terdapat di Kecamatan Kapur IX,
Mahat, Pangkalan Koto Baru dan Suliki Gunung Mas. Kapur IX merupakan
kecamatan penghasil gambir terbesar (hampir 2/3 total produksi) dengan wilayah
utama yaitu Nagari Sialang. Areal penanaman gambir tersebut sebahagian besar
berada pada Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) Kampar Kanan dan DAS Mahat.

Berdasarkan peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK), fungsi kawasan


hutan kedua Sub DAS tersebut adalah 64,30 % sebagai kawasan lindung dan
35,70 % sebagai kawasan yang boleh diusahakan (kawasan eksploitasi). Kawasan
lindung tersebut terdiri dari 61,37 % (20.4412 Ha) sebagai hutan lindung dan 2,93
% sebagai hutan suaka alam. Hal ini berarti bahwa perkebunan gambir di kawasan
ini berada pada kawasan konservasi alam.

Berdasarkan luas tanam dan produksi di kabupaten Lima Puluh Kota pada
tahun 2008 dan 2011 dapat dilihat bahwa luas tanam gambir bertumbuh dengan
2,42% sedangkan produksinya bertumbuh dengan laju rata-rata 12,74%. Kondisi
berbeda dengan pertumbuhan lahan dan produksi yang terjadi di wilayah
Sumatera Barat, dimana pada bagian terdahulu telah dikemukakan bahwa
pertumbuhan lahan gambir di Sumatera Barat bertumbuh jauh lebih besar
dibandingkan dengan pertumbuhan produksi gambir. Dari data ini dapat
dikatakan bahwa besarnya laju pertumbuhan produksi di daerah kabupaten Lima
Puluh Kota didorong oleh tingginya produktivitas tanaman gambir di wilayah ini.
Kondisi ini juga mencerminkan bahwa produksi gambir masih memiliki potensi
untuk meningkat dimasa mendatang.

Luas lahan dan produksi perkebunan gambir menurut Kecamatan di


kabupaten Lima Puluh Kota berserta laju pertumbuhan luas lahan dan produksi
selama periode 2008- 2011 dapat dilihat pada tabel 2.9.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 17


Tabel 2.9. Luas dan Produksi Perkebunan Gambir di Kabupaten Limapuluh
Kota Tahun 2008-2011
Luas Luas Lahan (ha) Produksi (ton)
N
Kecamatan Kec
o 2008 2011 2008 2011
(km2)
1 Kapur IX 723.36 5.870 5.597 5.031 5.764
2 Pangkalan 712.06 2.644 3.740 2.287 5.148
Koto Baru
3 Suliki 136.94 274 354 192 Na
4 Guguak 106.2 48 69 41 37
5 Lareh Sago 394.85 413 488 351 792
Halaban
6 Mungka 83.76 811 585 580 316
7 Harau 416.8 797 749 618 834
8 Payakumbuh 99.47 120 609 101 427
9 Bukit Barisan 294.2 2.555 2.645 2.172 3.975
Total 13.552 14.561 11.371 16.293
Pertumbuhan luas lahan (%) 2,42
Pertumbuhan Produksi (%) 12,74
Sumber : Bappeda Kabupaten Lima Puluh Kota, 2011.
Ket : na= data tidak tersedia

Usaha tani gambir di kabupaten Lima Puluh Kota masih dilaksanakan


secara tradisional dalam bentuk perkebunan rakyat dengan dukungan teknologi
yang masih sederhana. Pengusahaannya dilakukan oleh keluarga-keluarga
dengan jumlah kepala keluarga pada tahun 2008 berjumlah 8.002 KK dari 86.009
KK atau 9,30% . Bila diasumsikan 1 KK terdiri dari 4 orang, maka jumlah orang
yang terlibat dalam usaha tani gambir ini mencapai 32.008 orang atau 9,65% dan
total penduduk yang berjumlah 331.674 jiwa (Biro Pusat Statistik Kabupaten
Lima Puluh Kota, 2008).
Persentase KK terbanyak yang berusaha di bidang perkebunan gambir
adalah di Kecamatan Kapur IX dengan porsi 47,07% dari total penduduknya,
selanjutnya adalah di kecamatan Pangkalan Koto Baru (20,07%), dan kecamatan
Bukik Barisan (19,50%). Dan bagi Kecamatan Kapur IX dapat dikatakan bahwa
usaha perkebunan gambir merupakan usaha utama yang mendominasi usaha tani
masyarakat di wilayah ini serta menjadi andalan bagi masyarakat dalam mencari
nafkah dan meningkatkan pendapatan.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 18


Gambar 2.1. Daerah Penghasil Gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota

Jika dilihat dari laju pertumbuhan lahan dan produksi yang meningkat
selama empat tahun terakhir, maka dapat diperkirakan bahwa 4 kecamatan yang
belum melakukan penanaman gambir, yaitu Kecamatan Luak, Akabiluru, Situjuah
Limo Nagari dan Gunung Omeh pada dasarnya merupakan kawasan yang
potensial untuk melakukan usaha tani gambir, sehingga tidak tertutup
kemungkinan bahwa masyarakat di kawasan ini akan mulai melakukan usaha tani
gambir. Dengan dicanangkannya program GERBANG GAMBIR dan menjadikan
gambir sebagai produk unggulan maka tentunya komoditas ini semakin memiliki

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 19


magnet bagi masyarakat untuk dijadikan sumber usaha dan pendapatan di masa
depan.

Penetapan gambir sebagai produk unggulan daerah juga didukung oleh


hasil studi yang dilakukan oleh Bank Indonesia Padang bekerjasama dengan
Fakultas Ekonomi UNP pada tahun 2011 tentang KPJU (Komodisi/ Produk/ Jenis
Usaha) Unggulan UMKM Sumatera Barat, yang menemukan bahwa usaha
perkebunan yang mempunyai prospek yang sangat baik untuk dikembangkan di
kawasan ini adalah coklat dan gambir. (Bank Indonesia Padang, 2011). Hasil studi
ini semakin mendukung pentingnya pengembangan usaha gambir di kabupaten
Lima Puluh Kota khususnya dan provinsi Sumatera Barat pada umumnya.

Tabel 2.10. Jumlah Penduduk, Jumlah Keluarga dan Jumlah Keluarga Petani
Gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota
Jumlah Jumlah Keluarga Petani
No Kecamatan Penduduk Keluarga Gambir (KK)
(Jiwa) (KK) Jumlah %
1 Kapur IX 26,300 6,128 3,497 57,07
2 Pangkalan Koto Baru 27,665 6,536 1,312 20,07
3 Suliki 14,098 4,012 192 4,79
4 Guguak 33,383 8,668 28 0,32
5 Lareh Sago Halaban 32,805 8,630 341 3,95
6 Mungka 23,059 5,959 467 7,84
7 Harau 42,019 10,175 715 7,03
8 Payakumbuh 29,568 7,001 65 0,93
9 Bukit Barisan 21,921 7,102 1,385 19,50
Sumber: Bahan Presentasi Dinas Perkebunan Kabupaten Lima Puluh Kota, 2008

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa di daerah Kapur IX terdapat 57,07%
kepala keluarga di kawasan ini berusaha dalam budidaya gambir, hal ini
mendukung fakta bahwa kawasan ini sebagai penghasil terbesar gambir di
kabupaten Limapuluh Kota. Selanjutnya kecamatan Pangkalan Koto Baru
mempunyai 20,07% KK yang bekerja sebagai petani gambir dan di urutan ketiga
adalah kecamatan Bukit Barisan dengan 19,5% KK sebagai petani gambir.

Studi yang dilakukan oleh Afrizal 2009, menemukan bahwa 44.79 %


petani gambir di Limapuluh Kota memiliki pendidikan hanya sampai tingkat dasar
dan sisanya 55.21 % menamatkan SD dan melanjutkan ke jenjang pendidikan
yang lebih tinggi. Umumnya para petani gambir di wilayah ini memiliki pekerjaan
lain selain berusaha tani untuk mendapatkan pendapatan tambahan dengan
mengusahakan komoditas pertanian lain selain gambir. Sebanyak 79.17 % petani
gambir bekerja sampingan sebagai buruh tani dengan menerima upah harian
atau dari sektor jasa lainnya, sebanyak 12.5 % berdagang dan sisanya memiliki
usaha pertanian tambahan seperti di subsektor tanaman pangan, peternakan dan
perikanan air tawar. Rata-rata pengalaman responden dalam berusahatani gambir
adalah 14 tahun lebih. Usia petani gambir didominasi oleh usia produktif yakni
GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 20
77.08 % berada pada kisaran 15 54 tahun. Sisanya sebesar 22.92 % sudah
tergolong lanjut usia, yaitu berumur 55 tahun ke atas. Para petani yang sudah
berkeluarga mayoritas memiliki tanggungan rata-rata 3 orang, yaitu 98.96 %.
Sedangkan dari sisi status kepemilikan lahan 97.92 % lahan petani adalah lahan
milik sendiri dan 2.08 % sisanya adalah lahan tanah ulayat milik bersama
kelompok tani, dengan rata-rata luas kepemilikan lahan adalah 1,4 Ha dan jarak
rata-rata dari rumah ke ladang sejauh 1,5 km.

Dari kondisi perkebunan gambir yang tersebar di Kabupaten Lima Puluh


Kota menunjukkan bahwa usahatani gambir, teknik budidaya dan pengolahan
pascapanen yang dilakukan petani masih bersifat tradisional. Usahatani gambir
yang dilakukan di daerah ini merupakan warisan dari generasi sebelumnya dan
hingga kini usahatani gambir menjadi salah satu andalan untuk menopang hidup
keluarga petani di wilayah ini. Afrizal juga menemukan bahwa produksi rata-rata
gambir/KK petani gambir di daerah Lima Puluh Kota adalah sebesar 1.053,38 kg
per tahun.

Dari paparan di atas, dapat dikatakan bahwa potensi sumberdaya bahan


baku gambir di Indonesia dan Sumatera Barat pada umumnya, serta Kabupaten
Lima Puluh Kota khususnya masih sangat berpotensi untuk dikembangkan di
masa mendatang, terutama dengan intensifikasi dalam budidaya gambir.

2.5. Kendala Produksi Gambir di Sumatera Barat

Sebagai pemasok utama gambir di pasar dunia, Indonesia berharap


gambir menjadi komoditas ekspor yang dapat diandalkan. Sejalan dengan
berkembangnya industri yang memerlukan bahan baku gambir dalam teknologi
yang semakin canggih, maka kebutuhan gambir dalam beberapa industri semakin
meningkat, akan tetapi peningkatan produksi gambir melalui ekstensifikasi sudah
sangat terbatas. Hal ini disebabkan karena keterbatasan lahan yang dapat
ditanami oleh tanaman ini dimana tanaman ini dapat tumbuh dengan baik jika
berada pada ketinggian 800 meter di atas pemukaan laut. Bahkan lahan gambir
yang ada saat ini sebagian berada di kawasan hutan lindung, atau daerah aliran
sungai yang masuk daerah konservasi. Hal ini tentunya perlu perhatian khusus
dari pihak terkait agar perluasan lahan gambir tidak berdampak negatif terhadap
kelestarian alam dan kesinambungan aktivitas kehidupan di wilayah yang
bersangkutan.

Di Sumatera Barat usaha pengembangan komoditas gambir yang


berhubungan dengan aspek lingkungan belum banyak mendapat perhatian dari
para petani dan pihak pemerintah daerah. Penanaman gambir masih banyak di
ditempat-tempat yang berlereng yang merupakan kawasan hutan atau
penyangga. Kawasan seperti ini pada dasarnya merupakan lahan marginal yang
miring dengan reaksi masam, kesuburan fisik dan kimia sangat rendah, solum

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 21


dangkal dan rentan terhadap erosi karena memiliki erosibilitas tinggi.(Ridwan
2012)

Ditinjau dari faktor iklim, curah hujan di wilayah Barat Pulau Sumatera cukup
tinggi. Budidaya gambir pada daerah lereng yang tidak mengikuti kaedah-kaedah
konservasi lahan, akan mengancam munculnya lahan kritis baik pada bagian hulu
maupun bagian hilir aliran sungai. Keadaan ini semakin diperparah oleh kebiasaan
petani menggunakan kayu sebagai bahan bakar dalam pengolahan hasil gambir
sehingga juga dapat mengancam kerusakan lingkungan hutan.

Dari segi budidaya penanaman gambir pada lahan yang berfotografi tidak
datar atau berlereng belum mengikuti kaedah-kaedah konservasi, dimana system
jarak tanam yang dipakai tidak beraturan dan tidak mengikuti baris kontur. Pola
tanamnya secara monokultur. Sistem budidaya yang semacam ini akan memberi
peluang terjadinya erosi yang dapat merusak lingkungan sekitarnya.

Selain itu, kendala yang dihadapi saat ini adalah produktivitas gambir yang
masih rendah dan besarnya kehilangan hasil dalam pengolahan. Produktivitas
gambir rata-rata di Indonesia berkisar antara 400-600 kg getah kering per ha,
sementara produktivitas optimal bisa mencapai 2.100 kg getah kering per ha.
Rendahnya produktivitas gambir diduga karena teknik budidaya yang masih
tradisional dan penggunaan input produksi yang tidak optimal. Dimana petani
masih menggunakan bibit seadanya saja dan belum menggunakan varietas
unggul serta sistem pemeliharaan yang juga belum memadai. Metode dan alat
panen serta pengolahan hasil yang belum efektif dan efisien juga menjadi faktor
rendahnya produktivitas gambir di Indonesia.

2.6. Proyeksi Produksi Gambir, Luas Lahan Perkebunan dan Jumlah KK


Petani Gambir Sumatera Barat

Dalam upaya pengembangan produk berbahan baku gambir (agroindustri


gambir) di wilayah Sumatera Barat pada dasarnya ketersediaan bahan baku tidak
hanya dapat disuplai oleh gambir lokal, tetapi juga dapat didatangkan dari daerah
disekitar Sumatera Barat seperti daerah Kabupaten Kampar di provinsi Riau dan
Sumatera Utara yang saat ini tengah gencar melakukan penanam sejuta gambir.
Namun untuk lebih dapat memberikan dampak positif bagi petani gambir di
wilayah ini tentunya sebaiknya penyedia utama gambir sebagai bahan baku
produk adalah petani di wilayah Sumatera Barat. Sehingga keberadaan pabrik
produk agroindustri gambir di wilayah ini akan dapat menciptakan multiplier
effect terhadap perekonimian masyarakat.
Sebagaimana telah dilihat pada bagian terdahulu pertumbuhan produksi
gambir di Sumatera Barat masih cukup tinggi yakni sebesar 14,29% rata-rata
pertahun. Jika angka ini dapat dipertahan dengan baik hingga 20 tahun ke depan

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 22


maka produksi gambir lokal akan cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan
bahan baku pembuatan produk berbahan baku gambir di wilayah ini.
Untuk dapat menjaga tingkat pertumbuhan tentunya perlu dilakukan
berbagai upaya seperti: mempertahankan lahan yang sudah ada, menyisip
tanaman yang sudah tua dan menggunakan bibit yang terbaik (unggul). Dari hasil
FGD bersama instansi dan pihak terkait diperoleh informasi bahwa ada komitmen
pemerintah daerah untuk melakukan perluasan lahan tanam dan penyisipan
tanaman tua, yakni dari pemerintah kabupaten Lima Puluh Kota sebagai sentra
utama gambir di Sumatera Barat. Bahkan pemerintah daerah akan mengupayakan
sertifikasi produk gambir asalan untuk menjamin kualitas agar sesuai dengan
kebutuhan industri hilir pengguna gambir.

Secara umum dapat dikatakan bahwa pemerintah daerah kota dan


kabupaten di provinsi Sumatera Barat sangat mendukung didirikannya pabrik
produk berbahan baku gambir (agroindusstri gambir) di wilayah ini. Untuk itu
akan dilakukan berbagai upaya dan kebijakan agar lahan dan produksi
perkebunan gambir akan terus ditumbuhkembangkan sesuai dengan kebutuhan
agroindustri gambir yang akan dikembangkan di daerah ini.

Dengan asumsi bahwa pertumbuhan tingkat produksi, lahan tanam dan


jumlah KK petani gambir adalah konstan, maka hasil estimasi terhadap variabel-
variabel produksi ini untuk periode waktu tahun 2012-2031 dapat dilihat pada
tabel 2.11.

Tabel 2.11. Prediksi Tingkat Produksi, Luas Lahan dan Jumlah KK Petani
Gambir di Sumatera Barat tahun 2012-2031
Tahun Produksi Luas Jumlah Tahun Produksi Luas Jumlah
(ton) Lahan KK (ton) Lahan KK
(Ha) Tani (Ha) Tani
Gambir Gambir
2012 14280 21673 12136 2022 16026 25524 17520
2013 14454 22058 12674 2023 16200 25909 18058
2014 14629 22443 13213 2024 16375 26294 18596
2015 14804 22828 13751 2025 16550 26679 19135
2016 14978 23213 14289 2026 16724 27064 19673
2017 15153 23598 14828 2027 16899 27449 20212
2018 15327 23983 15366 2028 17073 27834 20750
2019 15502 24368 15904 2029 17248 28219 21288
2020 15677 24753 16443 2030 17423 28604 21827
2021 15851 25138 16981 2031 17597 28989 22365
Sumber: Pengolahan data berdasarkan data BPS tahun 2005-2011.

Dari hasil estimasi di atas dengan asumsi ceteris paribus , dan tidak ada
halangan dalam melakukan perluasan lahan maka dapat dilihat bahwa produksi
gambir di daerah ini akan terus dapat ditingkatkan, akan tetapi mengingat lahan

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 23


adalah faktor produksi yang sangat terbatas, dimana luas keseluruhan wilayah
Sumatera Barat adalah 42.297,30 km, maka akan sangat rasional jika
peningkatan produksi gambir di masa depan lebih ditekanklan pada pola
intensivikasi dalam bentuk perbaikan kualitas bibit, pemeliharaan dan
pengolahan.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 24


BAB III
ANALISIS ASPEK
PASAR
3.1.Pendahuluan

Agroindustri merupakan industri yang mengolah komoditas primer


pertanian menjadi produk olahan. baik produk antara maupun produk akhir. Hal
ini meliputi penanganan pascapanen. industri pengolahan makanan dan
minuman. industri biofarmaka. bioenergi. pengolahan hasil ikutan. serta
agrowisata.

Pengembangan usaha berbahan baku gambir di Sumatera Barat berarti


adalah mengembangkan agroindustri gambir di wilayah ini. Masyarakat
Indonesia pada umumnya dan Sumatera Barat khususnya telah memahami
berbagai manfaat dan kegunaan gambir yaitu sebagai komponen menyirih. yang
sudah dikenal masyarakat kepulauan Nusantara. dari Sumatera hingga Papua
sejak 2500 tahun yang lalu. Diketahui. gambir merangsang keluarnya getah
empedu sehingga membantu kelancaran proses di perut dan usus. Fungsi lain
adalah sebagai campuran obat. seperti sebagai luka bakar. obat sakit kepala. obat
diare. obat disentri. obat kumur-kumur. obat sariawan. serta obat sakit kulit
(dibalurkan); penyamak kulit; dan bahan pewarna tekstil untuk industri batik.

Pada bagian ini akan dibahas tentang aspek potensi pasar dari produk
agroindustri gambir di pasar lokal dan nasional dan internasional.

3.2.Perkembangan Pasar Produk Gambir Indonesia

Kegiatan pengembangan agroindustri gambir di Indonesia hingga saat ini


masih sangat sederhana karena baru menjadi barang setengah jadi dari kegiatan
pengambilan ekstrak daun gambir yang sudah direbus. Petani belum
mendapatkan nilai tambah yang signifikan dari proses pengolahan tersebut.
sedangkan nilai tambahnya didapatkan oleh negara yang pengimpornya yang
mengolah lebih lanjut gambir menjadi produk akhir yang dapat dikonsumsi oleh
konsumen akhir dalam berbagai bentuk dan fungsinya.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 24


Potensi gambir sebagai salah satu dari produk strategi perkebunan dalam
negeri karena merupakan 80% pasokan gambir dunia berasal dari Indonesia.
Namun pengolahan gambir dalam negeri masih sangat sederhana dan tidak
mengalami perubahan yang berarti sejak sekitar tahun 150 tahun yang lalu. yang
hanya baru menghasilkan gambir asalan dengan mutu rendah dan tidak seragam.
sehingga menekan harga di pasar ekspor. Permasalahan mutu gambir juga
menghambat pemasaran gambir ke negara importir yang relatif baru. terutama
yang digunakan dalam industri farmasi. kosmetik dan senyawa-senyawa kimia
baru yang bernilai tambah tinggi.

Berkaitan dengan era globalisasi yang melanda dunia secara nyata


menyebabkan bermunculan berbagai norma dan aturan baru yang satu sama lain
saling tergantung dan kadang-kadang tidak terpisahkan. Saling ketergantungan
antar negara dicirikan dengan semakin terbukanya pasar dalam negeri terhadap
produk-produk negara lain. Perubahan kondisi perdagangan dunia menyebabkan
semakin ketatnya persaingan antar unit-unit bisnis di masing-masing negara
untuk merebut pangsa pasar global yang semakin terbuka. Konsekuensi dari
perubahan-perubahan kondisi perdagangan tersebut menuntut dunia
agroindustri Indonesia untuk tidak hanya memiliki keunggulan komparatif.
melainkan juga keunggulan kompetitif yang tinggi. yang tercermin dengan mutu
produk yang tinggi dan harga yang dapat bersaing. walaupun mutu produk tinggi
tidak harus disertai dengan teknologi yang canggih. melainkan dengan disiplin
sumberdaya manusia industrial yang tinggi. Elemen mutu dan harga merupakan
dua hal yang saling berkaitan. Mutu produk yang tinggi akan mengakibatkan
harga produk menjadi tinggi dan lebih mampu bersaing di pasar global.

Pasar domestik utama produk gambir Sumatera Barat saat ini terdapat di
Sumatera dan Jawa. Gambir yang berasal dari Sumatera Barat selain dipasok
untuk konsumsi lokal di wilayah Sumatera juga dikirimkan ke beberapa daerah di
Jawa terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk pasar internasional ekspor
gambir Indonesia sebagian besar berasal dari Sumatera Barat dan sebagian kecil
dari Sumatera Selatan dan Bengkulu. Dengan 80 % pangsa pasar gambir dunia
yang dikuasai. Indonesia termasuk Negara pengekspor gambir terpenting di
dunia. Berdasarkan data BPS (2008). dengan negara tujuan utama India yang
mengimpor gambir Indonesia terbanyak yaitu sekitar 84% dari total gambir yang
diekspor. Negara pengimpor gambir lainnya yaitu Sinagpura. Pakistan. Nepal dan
Banglades.
Walaupun Indonesia merupakan pengekspor gambir utama di dunia.
namun volume dan nilai ekspor gambir Indonesia mengalami fluktuasi dan tidak
seluruh ekspor gambir ke negara tujuan menunjukan kondisi stabil ataupun
GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 25
pertumbuhan yang baik setiap tahunnya. Penyebab utama kondisi tersebut
diantanya dipengaruhi oleh kondisi mutu produk gambir yang rendah sehingga
harga di pasar juga menjadi rendah. Volume dan nilai ekspor gambir Indonesia
tahun 2010-2011 dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 3.1. Ekspor Gambir Indonesia menurut Negara Tujuan


Tahun 2010-2011
Tahun

2010 2011
Negara Tujuan
Bobot Nilai FOB Bobot Nilai FOB
(ton) (1000US$) (ton) (1000US$)

India 19.267.7 44.792 27.999.9 12.029.3

Nepal 546 1.622.8 407.8 130

Pakistan 612.1 687.2 701.5 584.7

Singapura 520.6 289.2 301.6 150.9

Bangladesh 352.2 281.2 453.4 331.6

Saudi Arabia 57.3 19 - -

Jepang 37.6 4.6 99.7 25.2

Malaysia 35.8 75.1 58.6 106.3

Italia 28.1 19.9 26.4 13

Negara asia lainnya 16.6 6 - -

USA 16.6 20 25.5 12.5

Thailand 7.3 2.7 - -

Uni Emirat Arab 2.6 3 20 9.3

China. Hongkong SAR 0.3 0.1 - -

Myanmar - - 24.8 12

Polandia - - 24.7 26

China - - 0.4 0.013

Timor leste - - 0.012 0.05

Sumber: Bahan Presentasi Direktorat IKM Kementrian Perindustrian. 2012.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 26


Dari tabel di atas tampak bahwa India. Pakistan. Nepal dan Bangladesh
menjadi negara tujuan utama ekspor gambir Indonesia. Adapun bentuk produk
gambir yang diekspor ke luar negeri oleh pelaku usaha di Indonesia dapat dilihat
pada gambar di bawah ini.

Gambar 3.1. Jenis-jenis Produk Gambir Indonesia

Gambir Bootch Gambir Lumpang Gambir Coin

Gambir Biskuit Gambir Brown cube Gambir Black Cube

Sumber: Amri. 2012

Gambar di atas hanya menunjukkan nama produk berdasarkan


bentuknya. tidak ada merek dagang dan identitas produk lainnya. Hal inilah
diantaranya yang membuat kondisi daya tawar petani di pasar menjadi lemah.
karena produk yang cenderung homogen akan sangat mudah disubstitusi oleh
produk sejenis. Meskipun ada upaya kebijakan sertifikasi produk. jika masih
dalam bentuk gambir asalan maka posisi petani sebagai produsen pertama
produk gambir akan tetap dalam kondisi proci taker dan bukan price maker.

Ketidak stabilan harga gambir jelas mempengaruhi tingkat pendapatan


dan kondisi ekonomi masyarakat yang menjadi pelaku usaha khususnya petani
gambir. Berikut ini dapat dilihat perkembangan ekspor gambir Indonesia selama
periode tahun 2000-2009. Dari data ini dapat dilihat fluktuasi volume dan nilai
ekspor dari gambir Indonesia. Selama sepuluh tahun terakhir harga rata-rata
tertinggi komoditas ini adalah $ 2.08/kg sedangkan harga terendah mencapai
$0,42 /kg. Harga pasar komoditas ini sangtat ditentukan oleh permintaan para
importir khususnya dari India. oleh sebab itu upaya mengolah lebih lanjut produk

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 27


ini sangat penting artinya untuk menciptakan pasar baru di dalam maupun luar
negeri. sehingga tidak tergantung lagi sepenuhnya pada pasar India.

Tabel 3.2. Perkembangan Ekspor Gambir Indonesia Tahun 2000-2009


Tahun Ekpor Gambir Harga Rata2/kg ($
Volume (000 Ton) Nilai ($ US000) US)
2000 2,44 1,52 0,62
2001 3,23 1,87 0,58
2002 3,12 1,51 0,48
2003 4,95 2,06 0,42
2004 4,47 2,52 0,56
2005 22,67 16,15 0,71
2006 7,98 8,28 1.04

2007 13,60 22,87 1.68

2008 16,47 33,58 2.04

2009 18,30 38,04 2,08


Sumber: BPS Sumatera Barat; beberapa edisi.

Meskipun permintaan gambir asalan Indonesia cenderung meningkat,


namun usaha untuk mengembangkan produk hilir sangat perlu dilakukan karena
pengolahan gambir menjadi katekin dan tanin yang terstandarisai memiliki
prospek bisnis yang baik dan mampu memberikan keuntungan yang sangat besar
baik bagi manajemen, tenaga kerja, petani serta berpeluang meningkatkan devisa
negara dari nilai ekspornya yang tinggi. Saat ini, industri pengolahan gambir
menjadi katekin dan tanin masih sangat sedikit (Gumbira-Said et al., 2009).
Berdasarkan kenyataan tersebut, besar peluang bagi pengusaha-pengusaha baru
untuk menjalankan bisnis ekstrak gambir terutama dalam produksi katekin dan
tanin di masa yang akan datang, sehingga peningkatan ekonomi masyarakat
pelaku usaha gambir khususnya dan perekonomian daerah pada umumnya dapat
diwujudkan.

Produk agroindustri gambir yang sangat banyak digunakan oleh industri


hilir adalah katekin dan tanin. Permintaan pasar produk katekin relatif cukup
besar dan banyak. Besarnya kebutuhan katekin juga dapat dihitung berdasarkan
produk potensial pengguna katekin. Menurut Gumbira, dkk; 2009; dan Amri,
2012, katekin dimanfaatkan dalam pembuatan ragam produk kosmetika,
diantaranya krim anti penuaan, krim anti jerawat, anti ketombe, kosmetik
perawatan rambut rusak, sabun mandi, dan sebagainya. Sedangkan dalam
industri minuman, katekin digunakan sebagai bahan dalam pembuatan minuman,

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 28


dan pada industri pewarna alami, katekin dimanfaatkan sebagai bahan untuk
mewarnai kain wool dan sutra. Selain itu, katekin juga digunakan untuk pewarna
kulit samak, pewarna rambut, dan pewarna makanan. Volume kebutuhan katekin
untuk produk-produk kosmetik mencapai 1.078.582,65 kg, untuk produk sabun
mandi mencapai 15.362,61 kg, produk minuman mencapai 3.755,77 kg,
sedangkan produk pasta gigi dan obat untuk kanker masing-masing sebesar
4.357,27 kg dan 4.776,10 kg (Pratama, 2010; dalam Mauldian 2010). Penggunaan
katekin yang relatif cukup besar memberikan peluang besar untuk
pengembangan produk tersebut.

Berdasarkan data UN Comtrade, 2008 (dalam Mauldian; 2010), kebutuhan


tanin juga dapat dihitung berdasarkan produk potensial pengguna tanin. Pada
produk penyamak kulit misalnya volume kebutuhan tanin mencapai 53.166,3066
kg, produk desinfektan mencapai 47.920 kg, sedangkan insektisida mencapai
41.943 kg (Pratama, 2010).

Penggunaan katekin dan tanin yang relatif cukup besar ini memberikan
peluang besar bagi perusahaan untuk melakukan pengembangan produk
tersebut di Indonesia pada umumnya dan di Sumatera Barat khususnya.
Permintaan impor tanin di pasar dunia dapat dilihat pada tabel 3.3.

Tabel 3.3. Permintaan Impor Tanin Dunia Tahun 2000 2008


No Tahun Impor (Kg)

1 2000 71.175.852

2 2001 75.805.956

3 2002 81.974.490

4 2003 99.278.144

5 2004 97.498.667

6 2005 110.237.058

7 2006 119.725.195

8 2007 134.798.482

9 2008 12.314.530
Sumber : UN Comtrade (2008); dalam Mauldian 2010.

Jika dilihat dari harga jual produk turunan gambir maka dapat dilihat
bahwa agroindustri gambir mampu memberikan nilai tambah yang signifikan bagi
perekonomian dan pendapatan serta kesejahteraan masyarakat pelaku usaha
khususnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa usaha ini pada dasarnya memiliki

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 29


nilai ekonomi yang menjanjikan untuk dikembangkan oleh para pelaku usaha dan
masyarakat di Sumatera Barat.

Tabel 3.3. Harga Gambir Dan Turunannya

1. Gambir ekspor Rp 20.000/kg

2. Gambir cube Rp 50.000/kg

3. Gambir biskuit Rp 75.000/kg

4. Gambir terstandardisasi Rp 150.000/kg

5.Katekin Rp 1.000.000/g

6. Katekin (marker) Rp 1.000.000/10 mg

Sumber : Amri, 2012.

Jika dilihat dari perkembangan ekspor gambir Indonesia dan harga produk
gambir di atas, maka dapat dikatakan bahwa aspek pasar gambir masih potensi
untuk terus tumbuh dan berkembang sejalan dengan berkembangnya tekhnologi
yang memanfaatkan gambir sebagai bahan baku industri.

3.3.Permintaan Dunia Terhadap Gambir Sumatera Barat

Permintaan dunia terhadap suatu produk disebut dengan ekspor. Secara


konsep teoritis ekspor merupakan penjualan barang yang dihasilkan oleh suatu
negara ke negara lain. Suatu negara dapat mengekspor barang-barang yang
dihasilkannya ke negara-negara lain yang tidak dapat menghasilkan sendiri
barang-barang yang dihasilkan oleh negara pengekspor. Dalam perdagangan
internasional khususnya ekspor mempunyai peranan penting. yakni sebagai
motor penggerak perekonomian nasional. Sebab ekspor dapat menghasilkan
devisa. yang selanjutnya dapat digunakan untuk membiayai impor dan
pembiayaan pembangunan sekor-sektor dalam negeri (Handoyo. 2009:8).

Sumatera Barat mempunyai 10 komoditi utama ekspor yang terdiri dari,


CPO, dan olahannya, karet, batubara, semen, biji kakao, Cassia Indonesia, minyak
pala, produk olahan kelapa dan gambir. Untuk ekspor gambir terjadi peningkatan
volume dan nilai ekspor dimana tahun 2010 volume ekspor sebesar 1960 ton
dengan nilai US$ 3.590 sedangkan tahun 2009 hanya 630 ton volume ekspor
dengan nilai US$ 1.250 yang di ekspor melalui pelabuhan Teluk Bayur. Dari

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 30


informasi yang diperoleh ekspor gambir juga dilakukan melalui pelabuhan diluar
pelabuhan Sumatera Barat seperti, Belawan, Dumai dan Tanjung Priok.

Tabel 3.4. Perkembangan Ekspor dan Harga Gambir Sumatera Barat Tahun
2001-2010.
Tahun Volume Nilai Harga rata-
(ton) ($ 000) rata/kg
2001 984 1.168 1,187
2002 959 1.164 1,214
2003 589 669 1,136
2004 850 967 1,138
2005 622 700 1,125
2006 496 562 1,133
2007 1.117 1.992 1,783
2008 2.696 4.120 1,528
2009 630 1.250 1,984
2010 1.960 3.590 1,832
Pertumbuhan 7,96 13,29 4,94
rata-rata (%)
Sumber: BPS Sumatera Barat.

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa baik volume maupun nilai ekspor
gambir cenderung berfluktuasi, hal ini dikarenakan harga gambir juga
berfluktuasi. Kondisi ini jelas sangat mempengaruhi pendapatan para pelaku
usaha terutama petani gambir. Apalagi produksi gambir Sumatera Barat
diperkirakan 90% diekspor sehingga pendapatan petani gambir juga berfluktuasi.
Hanhya sekitar 10% sisa dari ekspor yang dikirim keluar Propinsi Sumatera Barat
antara lain: Yogyakarta, Semarang dan Jakarta, untuk proses batik dan bahan
baku obat obatan. Adapun negara tujuan ekspor gambir Sumatera Barat adalah
India, Pakistan, Bangladesh, China, Singapura, Jepang, Malaysia, dan
Nepal. Beberapa negara lain yang juga berpotensi untuk produk gambir ini
adalah Afrika Selatan, Uni Emirat Arab dimana saat ini Sumatera Barat belum
bisa ekspor langsung ke negara tersebut.

Meskipun volume ekpor dan tingkat harga cenderung berfluktuasi, jika


dilihat secara rata-rata ternyata baik volume ekspor maupun nilai produksi dan
tingkat harga rata-rata mengalami pertumbuhan yang positif selama sepuluh
tahun terakhir, dimana pertumbuhan nilai ekspor lebih tinggi dibandingkan
dengan pertumbuhan volume ekspor, nilai ekspor bertumbuh dengan 13,29%
pertahun sedangkan volume ekspor bertumbuh dengan 7, 96% secara rata-rata
pertahun. Hal ini mengindikasikan bahwa harga gambir secara rata-rata
meningkat dari waktu ke waktu, dimana pertumbuhan rata-rata selama periode
waktu 2001-2010 adalah 4,94% pertahun.
Meskipun demikian perlu diwaspadai oleh pelaku usaha gambir bahwa di
negara lain juga ada produk sejenis gambir yang ditawarkan seperti Tannin dari

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 31


kulit kayu Acacia mearnsii, kayu Schinopsis balansa. Pada tahun 1983 diproduksi
10.000 ton perekat berbasis Tannin Acacia mearnsii di Afrika Selatan. Di New
Zealand juga telah dimulai produksi tiap tahunnya 8000 ton perekat berbasis
tannin dari kulit kayu Pinus radiata. Di Peru diproduksi Tara tannin dari kulit buah
Caesalpinia spinosa yang juga akan dijadikan bahan baku perekat.
Walaupun gambir Sumatera Barat sudah lama diperdagangkan secara
lokal, nasional dan bahkan internasional, akan tetapi mayoritas gambir masih
dijual dalam bentuk "gambir mentah", atau gambir asalan sebagaimana telah
dikemukan di atas. Pengolahan produk gambir ini masih sangat sederhana, dan
karena pasar ekspor bersifat monopsony maka posisi tawar menawar
(bargaining power) petani gambir masih rendah. Menurut Linkenheil (1998)
harga gambir yang dinikmati petani jauh lebih rendah dibandingkan harga yang
berlaku di pasaran international. Kondisi ini tentunya tidak dapat dibiarkan
berlangsung terus menerus. Maka dari itu upaya diversifikasi produk gambir dan
pemanfaatannya mutlak dilakukan agar nilai tambah gambir dapat dinikmati oleh
pelaku usaha di daerah, khususnya di kawasan sentra gambir Sumatera Barat.

3.4.Potensi Pasar Produk Berbahan Baku Gambir (Agroindsutri Gambir)


Jika dilihat dari teknologi pengolahan gambir
yang ada di Indonesia pada umumnya dan Sumatera
Barat khususnya, maka tampak bahwa teknologi
yang digunakan masih sangat sederhana dengan
kapasitas dan kualitas produk yang masih relatif
rendah, hal ini dikarenakan pengolahan gambir
banyak dilakukan secara tradisional, yang
menyebabkan mutu dan nilai ekonomi gambir juga
menjadi rendah. Oleh karena itu, diperlukan upaya
Gambar 3.2. Gambir Lumpang pengembangan pengolahan dan pemanfaatan
gambir secara luas dalam bidang industri untuk
dapat meningkatkan nilai tambah gambir bagi petani khususnya dan
perekonomian Sumatera Barat umumnya.
Aplikasi teknologi dalam usaha pengolahan gambir terutama untuk
produk obat-obatan dan kosmetik sudah banyak dipasarkan di dunia. Ada banyak
produk berbahan baku gambir yang sudah dijual secara komersial dan global
yang bisa diakses secara online melalui internet. Dari seluruh produk tersebut
belum ada satu produk Indonesia pun yang sudah dipasarkan secara komersial.
Hal ini merupakan tantangan yang harus dicermati oleh para pelaku usaha
gambir untuk dapat meningkatkan nilai ekonomi gambir dan peningkatan
pendapatan serta stabilitas usaha mereka di masa mendatang. (Nazir, 2008).

Beberapa produk gambir yang sudah ditemukan oleh para peneliti


Universitas Andalas (Prof. Amri Bachtiar dkk), telah dibuat dalam bentuk
prototype produk dan mulai dipasarkan di lingkungan terbatas, serta rencana
pengembangan produk yang sedang dalam penelitian. Produk-produk ini masih

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 32


terus dikembangkan untuk dapat menghasilkan produk hilir gambir yang
potensial.

Jika diamati kondisi pasar yang ada saat ini, maka produk yang paling
memungkinkan untuk dikembangkan dan masuk pasar adalah produk yang
dikonsumsi secara massal dan kontiniu oleh konsumen, yang sering disebut
dengan convenient product yaitu produk yang dicoba dulu oleh masyarakat
untuk kemudian memutuskan apakah produk ini akan teurs dikonsumsi atau
tidak. Jenis produk ini diantaranya adalah produk makanan, minuman dan
kosmetika serta obat herbal. Beberapa produk yang sudah dikembangkan oleh
Andalas Farma diantaranya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3.5. Produk Berbahan Baku Gambir Laboratorium Andalas Farma


Universitas Andalas
Produk Yang Siap Masuk Pasar Produk Yang Sedang Dalam
Pembuatan
Produk Bahan baku (industri hulu)
Gambir Terstandardisasi, Katekin Gambir granul, Gambir serbuk , Gambir
Antioksidan (Katevit), Zat warna kain roti , Alkaloid gambir , Proantosianidin ,
Tanin gambir Serbuk kalincuang,Senyawa
biotransformasi,Tablet Antiulcer,
Hepatoprotektor, Suspensi ED,
Pengomplek Fe , Antinematoda.
antioksidan minyak,Pereaksi logam berat
Produk Obat-obatan (Industri Farmasi)
Kapsul obat wasir, Tablet hisap Tablet Permen gambir; Pastilles gambir, Zat
antidiare, obat luka dan obat kumur. warna lipstik , Gel luka bakar, Antidiabetes,
Radang gusi
Produk Kosmetika (Industri Hilir)
Masker anti aging , Sabun transparan, Gel anti acne/jerawat
Shampo antiketombe, Pasta gigi, Lulur,
Teh gambir
Industri Aneka
Pengawet kayu, Tinta pemilu, dan Zat Kertas gambir, Kap lampu, Papan catur,
warna kain. Filter AC, Cat antikorosi,Kertas gambir,
Boneka, Jilbab gambir dan Batik gambir
Sumber: GambieNet.com.2012.

Disamping produk yang sudah berhasil dikembangkan oleh Laboratorium


Farmasi Universitas Andalas juga ada produk yang dikembangkan oleh SMKN 1
Pangkalan kabupaten Lima Puluh Kota. Sebagai sekolah juruan yang memiliki
program studi PHP (Pengolahn Hasil Pertanian), sekolah ini dibawah bimbingan
Husni, SP. Salah seorang staf pengajar di sekolah ini dan didukung penuh oleh
Kepala sekolah serta segenap civitas akademika di sekolah ini telah berhasil
membuat produk berbahan baku gambir berupa: kerupuk gambir, risoles gambir
dan pestisida gambir.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 33


Menurut Heryandrie; 2011, dalam upaya meningkatkan manfaat ekonomi
gambir, maka perlu dikembangkan berbagai produk, baik produk antara maupun
produk konsumsi (produk akhir) yang bernilai tambah tinggi. Untuk tujuan itu,
aktivitas pengembangan produk diarahkan kepada penciptaan berbagai macam
produk hilir yang potensinya sebenarnya sangat beragam. Gambir memiliki
peluang yang besar untuk menumbuhkan berbagai industri baru yang mengolah
gambir asalan, produk olahan gambir asalan maupun bahan baku dari tanaman
gambir menjadi berbagai produk yang bermanfaat. Peluang tersebut menjadi
semakin terbuka karena kecenderungan konsumen dunia untuk mengkonsumsi
produk-produk alami.

Selanjutnya kajian Heryandrie, 2011 juga mengungkapkan bahwa


diversifikasi produk dilakukan dengan menggali potensi produk bernilai tambah
tinggi dari pohon industri gambir (Gumbira,dkk, 2009). Diversifikasi produk ini
dilakukan sejalan dengan pengembangan pasar baru bagi gambir dan berbagai
produk turunan gambir. Pengembangan produk hilir gambir diawali dengan
kegiatan produksi Katekin dan Tanin. Untuk produksi katekin dan tanin,
penerimaan bahan baku dari masyarakat dapat berupa gambir asalan, pasta
gambir ataupun filtrat hasil ekstraksi. Di samping itu, dapat dilakukan
pemanfaatan cairan sisa proses untuk produksi tanin, perekat, pestisida dan
sebagainya.

Produk-produk yang telah dikembangkan ini jelas memiliki barang


subsitusi di pasar, untuk itu disamping tingkat harga yang harus mampu bersaing
tentunya faktor kualitas dan jaminan kesehatan serta keamanan produk perlu
diperhatikan. Hal inilah yang harus dilakukan untuk dapat masuk pasar ke dalam
pasar. Sebagai langkah awal pengembangan agroindsutri gambir di Sumatera
Barat maka produk yang sebaiknya dikembangkan untuk industri hulu adalah
katekin dan tani, sedangkan untuk industri hilir sebaiknya diarahkan pada produk
makanan, minuman, kosmetika dan obat-obatan yang cenderung mudah
diterima oleh masyarakat dengan tingkat intensitas penggunaan yang relatif
tinggi sebagai produk konsumsi.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 34


Tabel 3.6. Produk Berbahan Baku Gambir yang Sebaiknya dikembangkan
Masuk Pasar
Produk Yang Siap Masuk Produk Subsitusi di Perkiraan Daya Saing
Pasar Pasar
Produk Bahan baku (industri hulu)
Gambir Terstandardisasi,
Katekin Antioksidan
(Katevit), Zat warna kain
Produk Obat-obatan (Industri Farmasi)
Kapsul obat wasir, Tablet
hisap Tablet antidiare, obat
luka dan obat kumur.
Produk Kosmetika (Industri Hilir)
Masker anti aging , Sabun
transparan, Shampo
antiketombe, Pasta gigi,
Lulur, Teh gambir
Industri Aneka
Pengawet kayu, Tinta
pemilu, dan Zat warna kain.
Sumber: GambieNet.com.2012. dan FGD 9 Nov 2012

3.5.Kondisi Persaingan Pasar: Pendekatan Teoritis

Untuk menentukan tingkat persaingan dalam pasar perlu adanya


kombinasi antara elemen-elemen pada struktur pasar. yaitu pangsa pasar,
konsentrasi, serta baries to entry. Apabila pangsa pasar empat perusahaan
terbesar berkisar antara 20-50 persen maka pasar cenderung menjadi oligopoli.
Menurut pendekatan teori ekonomi mikro, tingkat persaingan pasar dapat
dikategorikan ke dalam tiga kategori utama yaitu perusahaan dominan, oligopoli
dan persaingan monopolistik (Jaya. 2001).

3.5.1. Perusahaan Dominan

Suatu perusahaan dikatakan dominan bila menguasai 40 persen pangsa


pasar. Sementara pangsa pasar perusahaan lainnya kurang dari setengah pangsa
pasar perusahaan tersebut. Semakin besar pangsa pasar perusahaan dominan
maka semakin dekat dengan monopoli murni.

Perusahaan dominan memiliki dua pengaruh terhadap harga. yaitu:


mereka menaikkan tingkat harga dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan
murni. Kedua. mereka menggunakan diskriminasi harga. Ciri-ciri ini umumnya
lemah dibandingkan monopoli murni, karena dominasi merupakan bentuk
penambahan dari monopoli.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 35


3.5.2. Pasar Oligopoli

Ada dua kategori oligopoli yaitu oligopoli ketat dan oligopoli longgar.
Dalam oligopoli terdapat beberapa perusahaan terkemuka ditambah sekelompok
pesaing-pesaing kecil. Yang menjadi ciri utama dari kelompok oligopoli adalah
hadirnya beberapa kelompok perusahaan terkemuka.

Oligopoli ketat dapat dikatakan seperti halnya permainan catur atau


perang. Setiap tindakan perusahaan tergantung pada apa yang dilakukan pesaing.
Pilihan tindakannya sendiri, sering kali tergantung pada kebijaksanaan yang
diambil oleh pesaing mereka. Pada pasar oligopoli terdapat banyak dorongan
untuk bergabung, adapun kemungkinan-kemungkinan tersebut diantaranya:
pertama, perusahaan-perusahaan akan menempatkan diri dalam kerjasama yang
rapi dan bertindak seperti perusahaan monopoli dengan menetapkan harga jual
yang tinggi serta sedikit inovasi. Kedua; perusahaan-perusahaan akan terlibat
dalam perang harga yang berkepanjangan serta inovasi yang semakin menggila.
Ketiga; perusahaaan berada di antara kedua kemungkinan di atas.

Selain terdapat banyak dorongan untuk bergabung, pada oligopoli juga


sering kali timbul kesepakatan-kesepakatan yang berbentuk kolusi. Kolusi ini
dimaksudkan agar mereka dapat mempertahankan keuntungan yang sudah
didapat selama ini. Oligopoli ketat lebih banyak merealisasikan kerjasama tak
langsung dibandingkan oligopoli longgar. Ketika sejumlah pesaing hampir
menguasai seluruh industri, kolusi tersamar bisa mengantisipasinya sebaik kartel
(atau bahkan layaknya monopoli murni). Oligopoli longgar. sebaliknya terlalu
banyak perusahaan yang menonjol serta pangsa pasar gabungannya kurang dari
40 persen. Jadi oligopoli longgar selalu sebagai suatu gambaran perselisihan
kronis antara perusahaan, penurunan fleksibilitas dan tindakan-tindakan
persaingan harga.

3.5.3. Persaingan Monopolistik

Jenis srtuktur pasar ini merupakan tingkat persaingan yang lebih rendah
dibandingkan oligopoli. Pada persaingan ini terdapat taraf pemusatan atau
konsentrasi pasar yang rendah, tetapi perusahaan memiliki sedikit tingkat
monopoli terhadap konsumen. Pada jenis pasar ini pangsa pasar empat
perusahaan terbesar tidak lebih dari 10 persen.

3.6.Struktur Pasar Gambir Indonesia

Struktur pasar gambir yang terbentuk di Indonesia khususnya di Sumatera


Barat adalah pasar oligopsoni dari sisi pembeli. Hal ini dikarenakan jumlah petani
jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah pedagang pengumpul.
Akibatnya petani cenderung menjadi pihak penerima harga (price taker) sesuai
dengan harga yang telah ditetapkan oleh pedagang pengumpul, daya tawar

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 36


petani dalam menentukan harga relatif rendah. Perbandingan antar jumlah
pedagang pengumpul dengan pedagang besar bila dilihat lagi di level pasar
berikutnya juga berbanding jauh sehingga juga cenderung mengarah pada pasar
oligopsoni. Hal ini disebabkan oleh terbatasnya jumlah pedagang besar yang ada
di suatu wilayah. Umumnya pedagang besar memiliki daerah operasional yang
tidak hanya terbatas di daerah domisilinya saja, tetapi juga masuk ke daerah atau
kecamatan sentra produksi lainnya baik secara langsung dengan armada sendiri,
maupun melalui perantara pedagang pengumpul yang telah dimodali. ( Al
Hendry, 2012)

Praktek jual beli yang dilakukan oleh petani dan pedagang di Sumatera
Barat, khususnya kabupaten Lima Puluh Kota adalah bahwa petani cenderung
menjual hasil panennya kepada pedagang lokal yang sudah dikenal baik atau
minimal sudah pernah bertransaksi sebelumnya. Hal ini terjadi karena: (1) adanya
hubungan baik dengan pedagang yang bersangkutan, (2) terbatasnya akses petani
dengan pedagang yang berasal dari daerah di luar wilayahnya, dan (3) adanya
ketergantungan modal kerja dengan pedagang yang bersangkutan terutama
dalam kegiatan pengolahan. Selain pertimbangan kenal atau tidaknya dengan
siapa petani akan bertransaksi, pertimbangan lain adalah harga yang ditawarkan
pedagang, serta pemotongan kadar air yang ditawarkan pedagang, atau dengan
kata lain pertimbangan rasional dan memberikan keuntungan tertinggi tetap
menjadi acuan petani dalam melakukan transaksi, terutama petani yang tidak
memiliki keterikatan dan perjanjian dengan pedagang tertentu.

Penetapan harga gambir dalam negeri dipengaruhi oleh harga yang


ditetapkan oleh pengekspor. Terdapat tiga tingkatan harga jual gambir sesuai
dengan tingkat rantai pemasarannya yaitu harga ditingkat petani pengolah, harga
di tingkat pedagang dan harga ditingkat eksportir. Eksportir telah terlebih dahulu
menentukan harga dengan pihak pembeli atau importer. Harga yang ditetapkan
oleh eksportir kepada pedagang pengumpul yang memasok gambir kepada
eksportir tersebut akan tetap sesuai dengan harga dalam kontrak perdagangan
dengan pengimpor selama kontrak tersebut belum terpenuhi. Bila waktu kontrak
yang disepakati mendekati waktunya, tetapi kuota gambir yang dipesan belum
mencukupi, biasanya eksportir secara mendadak menaikan harga pembelian
gambir. Harga gambir yang tinggi di pasar internasional tidak akan berpengaruh
terhadap peningkatan harga gambir disetiap rantai pemasaran gambir dalam
negeri.
Ketentuan harga ditingkat pedagang akan menjadi patokan pengumpul
untuk menetapkan harga gambir yang dibelinya kepada petani pengolah. Petani
gambir tidak dapat menentukan harga jual gambir yang diproduksinya. Walaupun

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 37


demikian petani tetap menjual gambirnya kepada pedagang pengumpul desa
dengan alasan lebih praktis dan harganya tidak jauh berbeda dengan harga pasar
lokal, serta tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan berupa ongkos transportasi
ke pasar untuk menjual gambir.
Sulitnya petani menentukan harga jual gambir disebabkan oleh karena
minimnya informasi yang dimiliki petani pengolah terkait perkembangan harga
perdagangan gambir domestik maupun internasional. Akses terhadap informasi
harga gambir hanya dimiliki oleh pedagang besar atau eksportir, sehingga
pedagang besar maupun eksportir memiliki kekuatan yang lebih besar dalam
menetukan harga jual gambir yang dipasok oleh pengumpul.

Dari studi yang dilakukan oleh Afrizal 2009, dengan menggunakan


indikator CR4 untuk mengukur tingkat konsentrasi pasar ditemukan bahwa
struktur pasar gambir di wilayah Kabupaten Lima Puluh Kota berada dalam
kondisi weak oligopsony market structure. Sedangkan pada tingkat eksportir
struktur pasar yang terbentuk juga mengarah pada oligopsony atau lebih dekat ke
monopsony dari sudut pembeli, dimana daya tawar pedagang besar relatif kecil.
Eksportirlah yang bertindak sebagai penentu harga dalam pemasaran gambir. Jadi
tampak bahwa struktur pasar gambir adalah persaingan tidak sempurna yang
mengarah pada oligopsony dan monopsony.

3.7.Hambatan Masuk dan KeluarPasar

Hambatan masuk pasar bisa diartikan sebagai segala sesuatu yang


memungkinkan terjadinya penurunan kesempatan atau kecepatan masuknya
pesaing baru. Masuknya perusahaan baru akan menimbulkan sejumlah implikasi
bagi perusahaan yang sudah ada, misalnya kapasitas yang menjadi bertambah,
terjadinya perebutan pasar (market share) serta perebutan sumberdaya produksi
yang terbatas. Kondisi ini menimbulkan ancaman bagi perusahaan yang sudah
ada (Firdaus et al, 2008; dalam Afrizal 2009).

Sampai saat secara spesifik dapat ikatakan tidak ada ini kontrol dan
intervensi pemerintah daerah maupun pusat dalam perdagangan gambir, baik
dalam bentuk peraturan yang membatasi ataupun mengatur mekanisme
perdagangan gambir. Hambatan keluar masuk pasar dalam pemasaran gambir
sangat dipengaruhi oleh besarnya modal yang dimiliki oleh lembaga pemasaran
yang terlibat, misalnya untuk akses pada fasilitas penyimpanan/gudang dan
transportasi, serta yang tidak kalah pentingnya adalah adanya hubungan
kepercayaan di antara para pelaku pasar. Umumnya lembaga pemasaran yang
terlibat dalam proses pemasaran gambir di Sumatera Barat telah memiliki
pengalaman yang cukup lama (lebih dari 10 tahun), memiliki modal yang besar
dan bankable, serta memiliki hubungan kepercayaan yang baik dengan lembaga
pemasaran lainnya sehingga memiliki akses informasi yang baik. Kondisi inilah
yang akan menyulitkan pemain baru untuk masuk ke dalam pasar, terutama

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 38


untuk pemasaran gambir ke luar negeri. Disamping itu hambatan lain untuk
masuk pasar adalah adanya persyaratan tertentu terutama menyangkut
standarisasi yang dibutuhkan baik terhadap kualitas, kuantitas dan kontiniutas
dari komoditas gambir yang akan di ekspor.

Salah satu yang dapat menjadi hambatan masuk pasar adalah keberadaan
perusahaan terbesar yang telah ada sebelumnya dalam sebuah industri. Hal ini
dapat dilihat dari nilai Minimum Efficiency Scale (MES). Dari kajian yang dilakukan
Afrizal, 2009; dihasilkan nilai sebesar sebesar 17.869 persen. Hal ini
mengindikasikan bahwa hambatan untuk masuk ke pasar gambir di Kabupaten
Lima Puluh Kota khususnya dan Sumatera Barat pada umumnya relatif besar
karena nilai MES > 10. Tidak mudah bagi pendatang baru untuk masuk ke dalam
pasar. Pendatang baru disamping harus memiliki modal yang sangat besar untuk
dapat melakukan transaksi jual beli gambir, membeli peralatan, mengupah buruh,
mempekerjakan karyawan, memiliki armada untuk pembelian dan penjualan,
perizinan dan gudang serta lokasi penjemuran yang memadai, ia juga harus
memiliki jaringan yang kuat dengan partisipan pasar lainnya.

3.8.Strategi Pemasaran Gambir

Pemasaran komoditas pertanian idealnnya sudah dimulai pada saat petani


merencanakan produknya untuk memenuhi permintaan pasar, demikian juga
halnya dengan gambir. Sebelum dipasarkan gambir harus melalui terlebih dahulu
proses pengolahan di ladang petani yang tersebar dan relatif jauh dari lokasi
pemukiman. Jauhnya jarak antara pusat produksi dengan konsumen gambir serta
lokasi ladang yang umumnya terpencar dan berjauhan membutuhkan peran serta
lembaga pemasaran dalam pemasarannya.

Lembaga pemasaran yang terlibat dalam saluran pemasaran gambir di


sentra penghasil gambir Sumatera Barat adalah: petani, pedagang pengumpul,
pedagang besar dan eksportir. Dimana terdapat terdapat empat saluran
pemasaran yang digunakan petani dalam memasarkan gambir, yaitu: (Afrizal,
2009)

1) Saluran pemasaran I: adalah saluran pemasaran yang digunakan


petani dengan melibatkan pedagang pengumpul; pedagang besar,
kemudian ke pedagang yang berada di luar Provinsi Sumatera Barat.
2) Saluran pemasaran II: adalah saluran pemasaran yang digunakan
petani dengan melibatkan pedagang pengumpul, pedagang besar,
kemudian ke eksportir lokal yang berada di Provinsi Sumatera Barat
3) Saluran pemasaran III: adalah saluran pemasaran yang digunakan
petani dengan langsung melibatkan pedagang besar, kemudian ke
pedagang yang berada di luar Provinsi Sumatera Barat

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 39


4) Saluran pemasaran IV: adalah saluran pemasaran yang digunakan
petani dengan melibatkan pedagang besar, kemudian ke eksportir
lokal yang berada di Provinsi Sumatera Barat

Kecenderungan saluran pemasaran yang digunakan petani diantaranya


dipengaruhi oleh jenis gambir yang diproduksi oleh petani. Saluran I dan II
digunakan oleh petani jika di daerah tempatnya berdomisili tidak terdapat
pedagang besar dikarenakan:
(1) keadaan atau kondisi spesifik daerah yang relatif terisolir
dibandingkan daerah sentra produksi lain dan letaknya tersebar
(2) keadaan infrastruktur yang tidak memungkinkan armada
pedagang besar menjangkau daerah ini dikarenakan tingginya
biaya transportasi untuk mengumpulkan hasil panen dari lokasi
yang terpisah-pisah;
(3) telah ada kerjasama antara pedagang pengumpul di daerah
tersebut dengan pedagang besar yang berada di daerah lainnya.

Saluran pemasaran III dan IV memang lebih pendek jika dibandingkan


dengan saluran I dan II. Tetapi harga yang diterima petani relatif tidak jauh
berbeda antara menjual langsung ke pedagang besar ataupun lewat pedagang
pengumpul. Hal ini menggambarkan bahwa terjadi kolusi antara pedagang
pengumpul dengan pedagang besar dalam menetapkan harga gambir ke petani
karena sebagian besar dari pedagang pengumpul merupakan armada atau kaki
tangan dari pedagang besar yang sudah terikat perjanjian dan sudah dimodali
untuk melakukan pembelian gambir ke petani. Kondisi ini semakin menegaskan
bahwa tidak ada harga terbaik bagi petani dalam kondisi pasar tidak bersaing
sempurna atau oligopsoni, karena petani harus menerima harga yang ditentukan
oleh pembeli.

Dalam upaya mengembangkan agroindustri gambir di wilayah Sumatera


Barat, maka pola pemasaran yang ada saat ini harus dirubah menjadi pola
pemasaran yang memiliki nilai tambah bagi pelaku usaha, salah satu model yang
dapat dikembangkan adalah strategi Supply Chain Management (SCM), dengan
penerapan startegi ini struktur yang tersekat dan terpisah harus
ditransformasikan kepada struktur integrasi yang vertikal. Hal itu diperlukan
untuk memudahkan memadukan subsistem hulu sampai dengan hilir dalam satu
kesatuan manajemen. Pembangunan sistem yang terintegrasi dalam industri
gambir merupakan upaya untuk meningkatkan daya saing dan nilai tambah.
Upaya tersebut dilakukan dengan mengakomodasi pelaku-pelaku industri gambir
dari setiap subsitem yang ada dari hulu hingga ke hilir.

Supply Chain Management (SCM) diartikan sebagai manajemen rantai


suplai adalah sebuah proses payung dimana produk diciptakan dan disampaikan
kepada konsumen dari sudut struktural. Sebuah supply chain (rantai suplai)
GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 40
merujuk kepada jaringan yang kuat dari hubungan yang mempertahankan
organisasi dengan rekan bisnisnya untuk mendapatkan sumber produksi dalam
menyampaikan kepada konsumen.(Kalakota, 2000). Tujuan yang hendak dicapai
dari setiap rantai suplai adalah memaksimalkan nilai yang dihasilkan secara
keseluruhan (Chopra, 2001). Rantai suplai yang terintegrasi akan meningkatkan
keseluruhan nilai yang dihasilkan oleh rantai suplai tersebut. (Al Hendry, 2012).

Pendekatan SCM menempatkan pabrik sebagai sentral penggerak utama


aktivitas agroindustri gambir dan memodifikasi aktivitas rantai suplai hulu.
Petani yang selama ini melakukan hampir seluruh kegiatan agroindustri gambir,
dari menanam, pemanenan sampai pengolahan, disederhanakan fungsinya
menjadi penyedia bahan baku industri saja, sedangkan fungsi pengolahan dari
bahan baku menjadi gambir olahan menjadi tanggung jawab pabrikan.
Pembagian pola kerja yang lebih jelas ini akan menyebabkan semua lini dalam
agroindustri gambir bergerak lebih fokus kepada keahlian dan kapasitas
utamanya.

Penerapan SCM pada agroindustri gambir pada tahap awal akan


merupakan sesuatu yang sangat kompleks, dimana akan banyak hambatan yang
dihadapi dalam implementasinya, sehingga dalam implementasinya
membutuhkan persisapan yang matang mulai dari tahap perancangan sampai
tahap evaluasi dan continuous improvement. Selain itu implementasi SCM
membutuhkan dukungan dari berbagai pihak mulai dari internal dalam hal ini
seluruh jajaran pemerintah yang terkait, petani gambir, manajemen pabrik dan
eksternal, dalam hal ini seluruh industri pendukung yang diperlukan.

Berikut ini beberapa kemungkinan hambatan yang akan dialami dalam


implementasi SCM pada agroindustri gambir yang semakin menguatkan argumen
bahwa implementasi SCM sangat membutuhkan dukungan berbagai pihak
(Chopra&Meindl,2001):

1) Incerasing Variety of Products. Produsen harus mampu meningkatan


keanekaramagan produk untuk memberikan kepuasan pada konsumen,
sehingga konsumen seakan dimanjakan oleh produsen.

2) Decreasing Product Life Cycles. Menurunnya daur hidup sebuah produk;


disini perusahan harus mampu mengatur strategi pasokan barang, karena
umur produk tersebut di pasar akan semakin pendek dengan semakin
beragamnya produk yang ada di pasar.

3) Increasingly Demand Customer. Supply chain management berusaha


mengatur (manage) peningkatan permintaan secara cepat, karena

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 41


sekarang customer/pelanggan semakin menuntut pemenuhan
permintaan yang secara cepat, meskipun permintaan itu sangat
mendadak dan bukan produk yang standart (customize).

4) Fragmentation of Supply Chain Ownership. Hal ini menggambarkan


supply chain akan melibatkan banyak pihak yang masing-masingnya
mempunyai kepentingan, sehingga hal ini membuat SCM semakin rumit
dan kompleks ketika masing-masing pihak mengutamakan kepentingan,
untuk itu kerjasama yang baik antar pihak terkait akan mengurangi
terjadinya konflik atau fragmen.

5) Globalization. Globalisasi membuat supply chain semakin rumit dan


kompleks karena pihak-pihak yang terlibat dalam supply chain akan
semakin banyak dan luas karena mencakup pihak-pihak di berbagai
negara yang mungkin mempunyai lokasi usaha di berbagai pelosok dunia.

Menurut Kuncoro, 2007, aktivitas produktif dalam perekonomian tidak


berdiri sendiri. Masing-masing proses memerlukan input dari pihak lain. Pada
gilirannya, industri yang memproduksi input memerlukan pula input dari sektor
lain untuk proses produksinya. Demikian pula yang yang ada di industri gambir,
keterkaitan antara satu bagian dengan bagian yang lain sangatlah penting. Hal
itu memerlukan kerjasama tim yang baik disemua lini industri, mulai dari hulu
hingga ke hilir.

Dengan telah dikembangkannya agroindustri gambir secara lebih


profesional, maka produk gambir nantinya akan memiliki merek dagang yang
menjadi karakteristik produk, sehingga kegiatan promosi penjualan oleh pra
produsen akan semakin penting artinya. Sehingga persaingan pasar tidak lagi
didominasi oleh persaingan harga tetapi akan muncul persaingan bukan harga;
mulai dari merek dagang, kemasaan hingga atribut kualitas produk lainnya.

3.9.Peramalan Permintaan (Demand Forecasting).

Permintaan terhadap gambir pada dasarnya tercermin dari penjualan


gambir di pasar lokal, nasional dan internasional. Kinerja penjualan industri
gambir Sumatera Barat selama sepuluh tahun terakhir dijadikan dasar dalam
melakukan ramalan permintaan untuk 20 tahun mendatang.

Untuk estimasi permintaan gambir selama 20 tahun ke depan


diasumsikan bahwa faktor penentu utama permintaan adalah harga dan variabel
selain harga dianggap tetap. Dengan menggunakan data 10 tahun terakhir dan

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 42


tahun dasar adalah tahun 2001; maka diperoleh persamaan permintaan gambir
di Sumatera adalah sebagai berikut;

Qd = 206,510 + 0,546P R2 = 0,95


(2,199) (11,677)

Dimana: Qd = Permintaan Gambir Sumatera Barat


Pi = Harga rata-rata /kg

Dari persamaan hasil estimasi di atas tampak bahwa permintaan gambir


berhubungan positif dan signifikan dengan harga. Hal ini berbeda dengan teori
permintaan yang menyatakan bahwa jumlah barang yang diminta berhubungan
negatif dengan tingkat harga. Hasil estimasi ini menunjukkan bahwa permintaan
dunia terhadap gambir akan tetap meningkat meskipun terjadi kenaikan harga.
Dari koefisien estimasi dapat dilihat bahawa jika harga gambir naik $1 maka
jumlah permintan akan meningkat sebesar 0,546 ton; dengan asumsi ceteris
paribus.

Dengan menggunakan hasil estimasi di atas maka hasil prediksi untuk 20


tahun ke depan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3.7. Proyeksi Permintaan terhadap Produk Gambir Indonesia


Tahun 2012-2031 (Ton)
Tahun Permintaan Tahun Permintaan
2012 207,552 2022 2,824

2013 207,602 2023 2,916

2014 207,652 2024 3,007

2015 207,702 2025 3,099

2016 207,752 2026 3,190

2017 207,802 2027 3,282

2018 207,852 2028 3,373

2019 207,902 2029 3,465

2020 207,952 2030 3,556

2021 208,002 2031 3,648

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 43


BAB IV
ASPEK TEKNIS DAN
TEKNOLOGI

4.1.Pendahuluan

Pada bagian ini dibahas tentang aspek pemilihan lokasi pabrik serta teknis pengolahan, dari
mulai daun gambir dipetik sampai pada gambir diolah dan siap untuk dipasarkan. Selain itu,
dalam bab ini juga dijelaskan tentang alternatif teknologi, peralatan, sarana serta aspek legalitas
yang harus diperhatikan dalam upaya pengembangan usaha agroindustri gambir di Sumatera
Barat.

4.2. Aspek Teknis Produksi Gambir

Aktivitas pengembangan agroindustri


gambir di Sumatera Barat pada umumnya masih
dilakukan dengan cara yang sangat sederhana,
dimana kegiatan pengolahan masih terbatas
pada pengambilan ekstrak dari daun gambir
yang sudah direbus. Dari hasil usaha ini secara
ekonomi, petani belum mendapatkan nilai
tambah yang signifikan, dan nilai tambah yang
lebih besar didapatkan oleh Negara yang
mengimpor gambir asalan ini dengan
mengolahnya menjadi produk hilir yang bernilai
ekonomi tinggi.
Gambar 4.1. Pengolahan Gambir Asalan Sumber: E. Gumbira
Said, 2010

Proses pengolahan gambir menjadi gambir asalan dapat dilihat pada gambar 4.1. Bagian
tanaman gambir yang memiliki nilai ekonomi relatif tinggi terdapat pada bagian daun dan

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 44


ranting. Produk turunan yang paling dikenal dari tanaman gambir adalah ekstrak atau getah
daun dan ranting yang telah dikeringkan. Dalam perdagangan dunia dikenal sebagai gambier,
cutch, catechu atau pale catechu. (Gumbira-Said et al., 2009). Terdapat beberapa senyawa yang
terkandung di dalam ekstrak daun dan ranting tanaman gambir yang memiliki potensi beragam
untuk dimanfaatkan. Berbagai keperluan yang menggunakan bahan baku gambir asalan
seperti pengikat pelet kayu, campuran dalam pakan ternak sapi potong, serta untuk menginang.
Produk turunan yang dapat dihasilkan dari tanaman gambir yaitu gambir murni, gambir
terstandarisasi, katekin, tanin, serta alkoloid. Selain itu, gambir dapat pula digunakan untuk
membuat produk farmasi, senyawa kimia, antioksidan, serta berbagai produk dari nano gambir
(Gumbira-Said et al., 2009).

Dari studi yang dilakukan oleh Amos, 2010; ditemukan bahwa kandungan katekin dari
daun gambir di sentra gambir Indonesia beragam, perbedaan ini diantaranya disebabkan oleh
proses pengolahan yang berbeda dan sifat katekin yang rentan terhadap panas. Apabila katekin
dipanaskan pada temperatur 1100 C atau dengan cara memanaskan pada larutan alkali karbonat,
maka akan kehilangan satu molekul air dan berubah menjadi asam kateku tanat (Thorpe,JF., and
Whiteley, M.A. 1921). Katekin jika mengalami pemanasan atau pemasakan yang lama dengan
larutan bersifat basa akan melakukan kondensasi sendiri sehingga berubah menjadi asam kateku
tanat yang berjumlah 24% (Leung,1980), Amos 2010.

Menurut Amos, 2010; kandungan katekin pada produk gambir yang dihasilkan di
Indonesia antara 2,5% sampai dengan 95%. Dalam penelitiannya Amos hanya melakukan
perhitungan persentasi pada kandungan katekin, dengan hasil yang dapat dilihat pada tabel 4.1.
Dari tabel dapat dilihat bahwa kandungan katekin tertinggi adalah gambir di sentra produksi
Sumatera Selatan sedangkan yang terendah adalah gambir dari sentra produksi Riau. Untuk
sentra gambir di Sumatera Barat kandungan katekinnya berada pada interval 40-80%. Hal ini
mengindikasikan bahwa perlu upaya pengembangan usaha agroindastri gambir di Sumatera
Barat agar produksi katekin lebih dapat ditingkatkan kualitasnya dengan sistem produksi yang
standar dan teruji.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 45


Tabel 4.1. Kandungan Katekin di Sentra Produksi Gabir Indonesia

No. Sentra Produksi Kadar katekin


(%) berat bobot
1 Daerah Istimewa Aceh 70 80
2 Sumatera Utara 70 85
3 Sumatera Selatan 70 95
4 Bangka Belitung 70 80
5 Sumatera Barat 40 80
6 Riau 50 70
7 Kepulauan Riau 2,5 12,5
25 35
Sumber: Amos, 2010.

Selanjutnya jika dilihat dari tipe gambir, ada 4 (empat) tipe gambir yang tumbuh di
Indonesia, dan di sentra gambir Sumatera Barat, tipe tersebut adalah: udang, riau mancik, riau
gadang dan cubadak. Dari hasil studi yang dilakukan oleh Ferita, ddk; 2011, ditemukan bahwa
gambir tipe udang memiliki kandungan katekin paling tinggi dibandingkan dengan tipe lainnya.
Hasil dari 8 (delapan) kali pengulangan percobaan dalam penelitian dapat dilihat pada tabel 4.2.

Tabel 4.2. Persentase Kadar Katekin Empat Tipe Tanaman Gambir

Ulangan Persentase Kadar Katekin (%)


Udang Riau Mancik Riau Gadang Cubadak
1 22,95 17,60 18,79 9,02
2 27,74 15,75 27,39 12,69
3 24,07 3,18 17,05 12,00
4 20,00 27,50 9,72 17,22
5 14,15 33,88 19,50 13,04
6 17,22 12,01 25,10 10,40
7 35,17 16,35 12,69 17,03
8 45,87 9,37 14,70 11,09
Kisaran 14-45 % 3 33 % 9 27 % 9 17%
Rata-rata 25,89% 16,95% 18,11% 12,81%
Sumber: Ferita, dkk; 2011.

Pengembangan Agroindsutri gambir dengan pendekatan SCM membutuhkan


keterkaitan industri dari hulu hingga hilir, untuk itu; menurut Jamsari (FGD, 9/11/2012) maka
tipe bibit yang akan dikembangkan harus disesuaikan dengan kebutuhan industri yang akan

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 46


dikembangkan. Secara tekhnis; kualitas bahan baku akan sangat menentukan kualitas produk
dan tentunya juga biaya produksi dari proses pengolahan produk tersebut.

Pelaku dalam agroindustri gambir di Indonesia terdiri dari petani/pengempa, pedagang


pengumpul dan eksportir. Petani/pengempa merupakan produsen gambir yang memasok
pedagang pengumpul sampai gambir diekspor oleh eksportir. Dari hasil studi yang dilakukan
oleh Herryandie (2011) memperlihatkan bahwa hampir semua aktivitas produksi dan
penanganan gambir dilakukan secara manual dan teknologi sederhana. Teknologi yang
sederhana tersebut merupakan kelemahan utama dalam agroindustri gambir Indonesia selama
ini di samping pasar internasional yang sangat dikuasai oleh negara pengompor terutama India.

Herryandie (2011) juga membandingkan agroindustri gambir Sumatera Barat dengan


agroindustri gambir di negara lain yaitu India, Malaysia, Singapu dan RR China, dan ditemukan
bahwa Indonesia memiliki keunggulan pada dua faktor yaitu ketersediaan lahan yang cocok
untuk budidaya tanaman gambir dan penyediaan bahan baku industri gambir. Di samping kedua
faktor tersebut, dibandingkan dengan India, maka India lebih baik dari Indonesia dalam semua
hal kecuali dari segi sumberdaya manusia. Jumlah penduduk Indonesia yang besar
menyebabkan posisi Indonesia dalam bisnis gambir tidak terlalu berbeda dengan India dari sisi
sumberdaya manusia. Dibandingkan dengan Singapura, keunggulan Indonesia terletak pada
kedua hal tersebut serta ketersediaan sumberdaya manusia untuk bisnis gambir dan potensi
pasar domestik. Dibandingkan dengan Malaysia, maka posisi Indonesia hampir sama karena
dalam beberapa hal Malaysia unggul, sedang dalam hal lain Indonesia lebih baik. Hampir sama
dengan India, posisi RR Cina lebih baik dalam banyak hal kecuali dalam potensi pasar domestik
dan dukungan pemerintah yang relatif sama. Dengan membandingkan kelima negara, meskipun
Indonesia unggul dalam ketersediaan dan kesesuaian lahan sehingga unggul dalam penyediaan
bahan baku, namun India merupakan negara terkuat dalam bisnis gambir dunia. Faktor-faktor
penentu kekuatan bisnis yang dilakukan dalam studi Herryandie ini adalah berdasarkan empat
komponen dalam Model Berlian Porter; yaitu: kondisi faktor, keterkaitan dan industri
pendukung, kondisi permintaan serta strategi perusahaan dan struktur persaingan .

Untuk itu, dalam upaya meningkatkan manfaat ekonomi gambir, maka perlu
dikembangkan berbagai produk, baik produk antara maupun produk konsumsi (produk akhir)
yang bernilai tambah tinggi. Untuk tujuan itu, aktivitas pengembangan produk diarahkan
kepada penciptaan berbagai macam produk hilir yang potensinya sebenarnya sangat beragam.
Gambir memiliki peluang yang besar untuk menumbuhkan berbagai industri baru yang
mengolah gambir asalan, produk olahan gambir asalan maupun bahan baku dari tanaman
gambir menjadi berbagai produk yang bermanfaat. (Herryandie;2011). Peluang tersebut
menjadi semakin terbuka karena kecenderungan konsumen dunia untuk mengkonsumsi
produk-produk alami semakin meingkat dan pilihan tekhnologi pengolahan juga semakin
beragam dan sudah tersedia di pasar saat ini.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 47


4.3.Aspek Manajemen Produksi

Kemampuan manajemen sangat berperan penting dalam menentukan skala usaha


perusahaan untuk mendukung hal tersebut, diperlukan suatu struktur organisasi yang efektif
dan efisien, struktur organisasi yang dipilih adalah struktur organisasi garis dan staff.

Perusahaan pengolahan gambir dirancang dan direncanakan dipimpin oleh seorang


Direktur Utama yang membawahi 3 bidang/devisi yang maing-masingnya akan dipimpim oleh
seorang Direktur, yaitu Direktur Umum, Direktur Operasi dan Direktur Penjualan. Masing-
masing direktur membawahi dua atau lebih manager sesuai kebutuhan dan perkembangan
usaha. Struktur lengkap organisasi ini dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 4.2. Rancangan Struktur Organisasi Perusahaan Pengolahan Gambir

Sumber: Ariyanto, 2011.

Kriteria tingkat pendidikan bagi jabatan Direktur Utama dianjurkan berpendidikan


minimal sarjana dengan pengalaman kerja selama 5 tahun atau seseorang dengan pendidikan S2
dengan pengalaman minimal 3 tahun. Untuk Jabatan Direktur dianjurkan memiliki pendidikan
Sarjana dengan pengalaman minimal 3 tahun atau seorang sarjana muda dengan pengalaman
minimal 5 tahun. Untuk Jabatan Manager dianjurkan berpendidikan sarjana muda dengan
pengalaman minimal lima tahun atau tamatan Sekolah Menengah Atas dengan pengalaman
kerja selama 7 tahun. Adapun deskripsi tugas masing-masing jabatan adalah sebagai berikut;
(Ariyanto,2012)

1. Direktur Utama
Seorang Direktur Utama membawahi 3 orang direktur kepala bagian. Tugas direktur
utama adalah untuk mengawasi kerja dan menerima laporan pertanggung jawaban dari
ketiga direktur dibawahnya, disamping harus bertanggung jawab atas kelangsungan
hidup perusahaan, menentukan dan mengendalikan perusahaan.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 48


2. Direktur Umum

Direktur umum membawahi seorang Manajer Administratif, Manajer Personalia dan


Manajer Keuangan. Adapun tugas dan tanggung jawab seorang direktur umum adalah :

Mengawasi kerja dan menerima laporan dari ketiga manajer yang dibawahinya
Mengawasi masalah kepegawaian ,mulai dari penggajian sampai kesejahteraan
karyawan dan pekerjanya
Membina hubungan baik dengan Pemerintah dan Instansi terkait
Mengawasi maslah administrasi dan keuangan perusahaan
Mengawasi hal-hal yang bersifat administrasi umum terkait aktivitas perusahaan.

3. Direktur Operasi

Direktur operasi membawahi manajer produksi, pengawasan mutu dan seorang manajer
teknik. Tugas dan tanggung jawab seorang direktur operasi adalah sebagai berikut :

Mengawasi hal-hal yang berhubungan dengan produksi


Mengawasi mutu produk yang dihasilkan
Mengawasi berbagai hal yang mempengaruhi kondisi produksi, terutama bahan
baku, bahan penolong serta kondisi peralatan mesin yang digunakan.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 49


4. Direktur Penjualan

Direktur penjualan membawahi seorang manajer penjualan. Tugas seorang direktur


penjualan adalah melakukan penjualan produk yang dihasilkan dan mengamati kondisi
perkembangan pasar.

Selanjutnya kebutuhan Sumber daya manusia sebagai tenaga kerja dalam organisasi
merupakan aset krusial yang akan menentukan keunggulan bersaing organisasi. Untuk itu dalam
penggunaan jumlah sumber daya perlu dipertimbangkan secara terencana agar organisasi dapat
beroperasi dalam skala yang efisien. Kelebihan atau kekurangan jumlah personel akan berakibat
terhadap kinerja perusahaan. Kebutuhan tenaga kerja dalam proses industri dihitung
berdasarkan proses produksi, jenis mesin atau peralatan yang dipakai dan bagian
kantor/administrasi. Secara umum karyawan antinya dapat dibedakan atas karyawan tetap dan
karyaawan lepas. Karyawan atau pekerja tetap adalah mereka yang telah lolos seleksi dan
bekerja untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kontrak kerja yang disepakati. Karyawan
ditempatkan di bagian kantor dan laboratorium dan operator mesin, satpam serta petugas
kebersihan. Karyawan dan pekerja ini tidak dapat meninggalkan pekerjaannya tanpa alasan atau
izin yang diterima perusahaan. Sedangkan pekerja lepas adalah pekerja yang bekerja secara
temporer, tidak harus melalui tahapan seleksi formal, karena pekerjaan yang dilakukan tidak
membutuhkan keahlian atau pendidikan khusus. Meskipun demikian mereka harus tetap
mendaftar ke bagian personalia untuk terikat bekerja dalam jangka waktu tertentu. Pekerja
lepas dibutuhkan pada bagian pencucian dan pembersihan daun gambir.

4.4. Aspek Lokasi Pabrik

Menurut Sjafrizal (2008), pemilihan lokasi pabrik didasarkan dua kemungkinan, pertama
pabrik dibangun mendekati pasar dan yang kedua adalah mendekati sumber bahan baku. Pada
dasarnya dalam pemilihan lokasi pabrik, dilakukan atas dasar keuntungan komparatif
(comparative advantage) lokasi pabrik. Jika ongkos transportasi produk yang dihasilkan lebih
mahal dibandingkan dengan ongkos sumber bahan baku, maka penempatan pabrik seyogyanya
dilakukan mendekati pasar, dan begitu juga sebaliknya. Selain daripada faktor ongkos
transportasi, faktor-faktor lain juga perlu menjadi pertimbangan dalam pemilihan lokasi pabrik.
Diantaranya adalah ketersediaan sumber bahan baku dan daya tahannya, jika bahan baku
cenderung mudah rusak maka sebaiknya lokasi pabrik mendekati bahan baku, disamping itu
pemilihan lokasi pabrik juga harus meperhatikan infrastruktur yang tersedia. Atas dasar itu,
terdapat 3 daerah yang berpotensi dalam pendirian pabrik pengolahan gambir di Sumatera
Barat yaitu Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan serta Kabupaten Lima Puluh Kota.

Dilihat dari sisi ketersediaan infrastruktur di ketiga wilayah tersebut, Kota Padang adalah
wilayah yang paling siap dengan dengan infrastruktur yang paling baik. Walaupun demikian,
tidak dapat diabaikan bahwa besarnya potensi gambir di kedua wilayah lainnya perlu menjadi
pertimbangan mengingat industri pengolahan gambir sangat rentan terhadap ketersediaan
GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 50
sumber bahan baku. Melihat dari potensi produksi gambir serta dukungan produksi wilayah
sekitarnya, maka Kabupaten Lima Puluh Kota berpotensi sebagai tempat pendirian industri
pengolahan gambir. Selanjutnya, kedekatan dengan kota Padang yang memiliki infrastruktur
paling baik disamping dukungan sumberdaya bahan baku maka kabupaten Pesisir Selatan juga
layak diperhitungkan sebagai lokasi pabrik pengolahan gambir (Agroindustri gambir)

4.5. Aspek Legalitas Pendirian Pabrik

Dalam melakukan investasi pambangunan pabrik serta pengolahan gambir (agroindustri


gambir), tentunya dibutuhkan legalitas usaha. Untuk itu perlu diperhatikan tahapan legalitas
usaha yang harus dilakukan agar investor mendapatkan kemudahan tata cara pengurusan
administrasi perizininan. Adapun tahapan yang harus dilalui oleh investor seperti terlihat pada
gambar di bawah ini.

Gambar 5.3. Tahapan Perizinan Pembangunan Pabrik

Sumber: Ariyanto, 2011.

Guna memberikan kemudahan pelayanan dan akurasi data terhadap para investor,
semenjak tahun 2010 Badan Koordinasi Penanaman Modal Provinsi (BKPMP) Sumatera Barat
mulai menerapkan Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi Secara Elektronik
(SPIPISE). Dengan menggunakan sistem pelayanan perizinan secara online ini, diharapkan
investor akan memperolah pelayanan yang mudah, cepat, tepat, transparan dan akuntabel.

Dalam melakukan pendaftataran, calon investor harus melengkapi persyaratan


diantaranya adalah (1) Surat rekomendasi dari negara terkait atau surat yang dikeluarkan oleh
Kedutaan Besar / Kantor Perwakilan negara yang bersangkutan di Indonesia, oleh pemohon
dari pemerintah negara lain; (2) Rekaman paspor yang masih berlaku, jika pemohon adalah
perorangan warga asing; (3) Rekaman Anggaran Dasar Perusahaan dalam bahasa Inggris atau
terjemahan dalam Bahasa Indonesia dari penerjemah tersumpah, jika pemohon adalah
perusahaan asing; (4) Rekaman Kartu Identitas (KTP) yang masih berlaku, jika pemohon adalah
perorangan Warga Negara Indonesia (WNI); (5) Rekaman Artikel Pendirian Perusahaan beserta
GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 51
setiap amandemennya dan persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia jika
pemohon mendirikan perusahaan berdasarkan hukum Republik Indonesia; (6) Rekaman Nomor
Pokok Wajib Pajak (NPWP) bagi pemohon, baik untuk perorangan atau perusahaan Indonesia
yang didirikan berdasarkan hukum Republik Indonesia; (7) Aplikasi yang ditandatangani dengan
meterai oleh seluruh pemohon (jika perusahaan belum terdaftar) atau oleh perusahaan Dewan
Direksi (jika perusahaan sudah terdaftar), dilampiri dengan Surat Kuasa dengan materai dari
pihak yang bertanda tangan dan/atau mengajukan aplikasi.

Setelah melakukan pendaftaran, investor harus memperoleh izin-izin untuk persiapan


dan konstruksi (jika investasi yang dilakukan memerlukan lahan dan bangunan). Izin-izin
tersebut dikeluarkan oleh daerah (propinsi, kabupaten/kota) tempat dimana investasi akan
dilakukan.

Berdasarkan Peraturan Kepala BKPM No. 12 tahun 2009 dinyatakan bahwa izin prinsip
diperlukan oleh perusahaan yang membutuhkan fasilitas fiskal. Bagi penanaman modal asing
(PMA), izin prinsip dapat diajukan setelah perusahaan membentuk badan hukum Indonesia
yaitu berbentuk perseroan terbatas (PT). Jika perusahaan PMA tidak membutuhkan fasilitas
fiskal (pembebasan bea masuk, PPN dan PPh), penanam modal asing tidak perlu memiliki izin
prinsip.

Khusus untuk PMA, pengajuan permohonan izin prinsip diajukan kepada PTSP BKPM,
sedangkan PMDN mengajukan kepada PTSP Kabupaten bila proyek berlokasi di satu
kabupaten. Adapun kelengkapan yang dibutuhkan diantaranya adalah; (1) bukti Pendaftaran
bagi badan usaha yang telah melakukan pendaftaran; (2) Rekaman akta Pendirian Perusahaan
dan perubahannya; (3) Rekaman Pengesahan Anggaran Dasar Perusahaan dari Kementerian
Hukum dan HAM dan (4) Rekaman NPWP. (5) keterangan rencana kegiatan yang meliputi
uraian proses produksi dengan mencantumkan jenis bahan baku yang dilengkapi dengan
diagram alir (flow chart) dan uraian kegiatan usaha.

Sedangkan untuk PMDN, prosedur yang dilalui lebih sederhana, dimana waktu yang
dibutuhkan sekitar 3 hari kerja. Dalam hal ini, calon investor melampirkan bukti diri pemohon
yang terdiri dari (1) bukti pendaftaran (2) rekaman akta pendirian perusahaan dan perubahannya
untuk PT, CV, Fa atau rekaman Anggaran Dasar bagi Badan Usaha Koperasi; (3) rekaman
pengesahan Anggaran Dasar Perusahaan dari Kementerian Hukum dan HAM atau pengesahan
Anggaran Dasar Badan Usaha Koperasi oleh instansi yang berwenang; (4) rekaman KTP untuk
perseorangan serta (5) rekaman NPWP. Selain daripada itu, pengajuan juga harus melampirkan
keterangan rencana kerja yang berisi uraian proses produksi yang mencantumkan jenis bahan
baku dan dilengkapi dengan diagram alir (flow chart) serta uraian kegiatan usaha sektor jasa
serta rekomendasi dari instansi pemerintah terkait (sesuai syarat bidang usaha) yang diatur
dalam Perpres No. 36 tahun 2010.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 52


BAB V
ANALISIS
KEUANGAN

5.1.Pendahuluan
Pendekatan ini menitik beratkan pada kebutuhan investasi awal untuk
pengolahan katekin dan tanin, kelayakan investasi pengolahan pabrik katekin dan
tanin serta analisis produk turunan berbahan dasar gambir lainnya. Analisis
finansial berkaitan rasio antara jumlah pendapatan dengan jumlah biaya yang
dikeluarkan dalam pembangunan dan operasional pabrik katekin dan tanin.
Secara umum ukuran dari kelayakan finansial terdiri atas beberapa indikator
keuangan, diantaranya (1) Net Present Value (NPV), (2) Benefit Cost Ratio (BCR)
dan (3) Payback Period (PP).
Dalam menganalisa aspek keuangan ini, akan dibedakan menjadi 2
kelompok hasil produk yakni analisis produk antara (Pabrik pengolahan katekin
dan tanin) dan analisis produk akhir/hilir yakni produk-produk turunan dari
bahan dasar gambir. Analisis Pabrik pengolahan katekin dan tanin akan
menggunakan dasar nilai bobot emas (oz) sebagai dasar perbandingan
pendapatan dan biaya dengan standar harga emas dunia.

5.2.Pabrik Pengolahan Katekin dan Tanin


Pendekatan dalam analisis finansial dalam pendirian pabrik pengolahan katekin
dan tanin ini mengacu kepada hasil riset yang dilakukan oleh Alexie Herryandi
Bronto Adi (2011). Dalam analisa keuangan ini akan menggunakan standarkan
pada nilai uang dengan harga emas. Pertimbangan menggunakan harga emas,

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 53


karena emas mengacu kepada harga internasional dan memiliki harga yang relatif
stabil sebagai alat tukar.
Berdasarkan hasil analisis ketersediaan bahan baku, lokasi, pola produksi
masyarakat dan keberlanjutan operasional usaha maka pengembangan unit
produksi katekin dan tanin akan menggunakan mobile unit sebanyak 5 unit dan
pendirian pabrik pengolah katekin dan tanin. Proses pengolahan katekin dan
tanin akan menggunakan metode yang dikembangkan oleh Alexie Herryandie
Bronto Adi dan E.Gumbira Said (2011) yakni dengan menggunakan teknik spray
dryer baik untuk mobile unit maupun pabrik tetap. Perbedaannya terdapat ada
ukuran spray dryernya saja.

5.2.1. Kebutuhan Investasi Awal dan Arus Kas


Adapun kebutuhan investasi awal dalam pendirian Pabrik tetap pengolahan
Katekin dan Tanin dan mobile unit dijelaskan dalam tabel 5.1 berikut ini.

Tabel 5.1
Perkiraan Biaya Investasi Awal Pabrik Katekin dan Tanin dan Mobiler Unit
Pengolahan
Pabrik Tetap

Harga
No Uraian Jumlah Satuan Jumlah Harga (Rp)
Satuan (Rp)

1 Lahan m2 5000 50,000 250,000,000


2 Bangunan m2 500 1,500,000 750,000,000
3 Peralatan Produksi paket 1 995,000,000 995,000,000
Peralatan Penunjang paket 1 50,000,000 50,000,000
4 Peralatan Laboratorium paket 1 100,000,000 100,000,000
5 Kendaraan Operasional unit 2 150,000,000 300,000,000
6 Biaya Persiapan
Legalitas paket 1 50,000,000 50,000,000
Konsultansi paket 1 100,000,000 100,000,000
7 Utilitas:
Instalasi Listrik paket 1 10,000,000 10,000,000
Penyambungan Listrik kVA 6 1,000,000 6,000,000
Sumber air dan instalasi air paket 1 10,000,000 10,000,000
8 Lain-lain (10%) 291,222,222

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 54


TOTAL INVESTASI PABRIK TETAP 2,912,222,222

Mobile Unit

Harga
No Uraian Jumlah Satuan Jumlah Harga
Satuan

1 Lahan m2 1000 50,000 50,000,000


2 Bangunan m2 300 1,500,000 450,000,000
3 Mobile Unit unit 5 190,500,000 952,500,000
4 Peralatan Prenunjang paket 1 50,000,000 50,000,000
5 Peralatan Laboratorium paket 1 100,000,000 100,000,000
6 Kendaraan Operasional unit 5 100,000,000 500,000,000
Kendaraan Operasional unit 2 150,000,000 300,000,000
7 Biaya Persiapan
Legalitas paket 1 50,000,000 50,000,000
Konsultansi paket 1 100,000,000 100,000,000
8 Utilitas:
Instalasi Listrik paket 1 2,500,000 2,500,000
Penyambungan Listrik kVA 1.3 1,000,000 1,300,000
Sumber air dan instalasi air paket 1 10,000,000 10,000,000
9 Lain-lain (10%) 285,144,444
TOTAL INVESTASI MOBILE UNIT 2,851,444,444
Total Investasi Pabrik tetap dan Mobile Unit 5,763,666,666
Sumber: ker (2011) diolah

Dari tabel 5.1 diatas, jumlah investasi awal yang dibutuhkan untuk
pendirian pabrik tetap dan mobile unit adalah Rp. 5.763.666.666,- (Lima Milyar
Tujuh Ratus Enam Puluh Tiga Juta Enam Ratus Enam Puluh Enam Ribu Enam
Ratus Rupiah). Dalam komponen rincian biaya investasi tersebut, diasumsinya
biaya kontinjensi (biaya lain-lain) adalah 10% dari total biaya investasi.

Proses produksi katekin dan tanin dari gambir asalan membutuhkan air
dan pelarut serta memisahkan kotoran dari bahan yang akan dikeringkan lebih
lanjur dengan spray dryer. Selanjutnya, pengeringan akan melepaskan uap air
ataupun uap pelarut dari padatan kering dan menghasilkan produk berupa

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 55


katekin dan tanin. Adapun perkiraan kebutuhan operasional unit produksi katekin
dan tanin dijelaskan dalam tabel 5.2. berikut ini.

Tabel 5.2
Kebutuhan Operasional Unit Produksi Katekin dan Tanin
Uraian Mobile Unit Pabrik Tetap
Bahan Proses
Gambir Asalan 7 Kg/hari 35 Kg/hari
Pelarut 14 Liter 70 Liter
Air Demineralisasi 35 Liter 175 Liter
Bahan Bakar dan Energi
Listrik
Jumlah Jam Operasi 8 Jam 8 Jam
Kebutuhan BBM Genset 8 Liter/Jam - Liter/Jam
64 Liter/Jam - Liter/Jam
Energi Listrik - 80 kWh/hari
Kebutuhan Gas 7 Tabung/hari 35 Tabung/hari
Tenaga Kerja 3 Orang 6 Orang

Dalam pengolahan katekin dan tanin terdapat perbedaan biaya yang timbul
antara pabrik tetap dan mobile unit yakni komponen biaya bahan bakar minyak
dan sopir. Dari perhitungan kebutuhan operasional unit produksi katekin dan tanin
yang dijelaskan dalam tabel 5.2 dapat disusun perkiraan nilai produk dan biaya
operasi unit produksi katekin dan tanin yang dijelaskan pada tabel 5.3 berikut ini.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 56


Tabel 5.3.
Nilai Produk dan Biaya Operasi Unit Produksi Katekin dan Tanin (Rp)
Uraian Mobile Unit Pabrik Tetap
Nilai Produk Katekin 3,150,000 15,750,000
Nilai Produk Tanin 1,575,000 7,875,000
Total Penerimaan 4,725,000 23,625,000
Biaya Bahan
Gambir Asalan 210,000 1,050,000
Pelarut 350,000 1,750,000
Air Demineralisasi 70,000 350,000
Biaya Bahan Bakar dan Energi Listrik
Kebutuhan BBM gen set 288,000 225,000
Energi Listrik 120,000
Kebutuhan gas 560,000 2,800,000
Biaya Tenaga kerja 300,000 600,000
Biaya Kendaraan Penarik Trailer
BBM 90,000 -
Sopir 100,000 -
Total Biaya Operasi 1,968,000 6,895,000
Sumber: Adi, Alexis (2011) diolah

Dalam tabel 5.3 terlihat bahwa dalam pengelolaan dan pelaksanaan


aktifitas pendukung diperlukan sumberdaya manusia selain operator. Mobile unit
ditangani oleh satu tim pengelola. Pada tabel 5.4 dijelaskan mengenai kebutuhan
sumber daya manusia selain operator untuk pabrik tetap dan mobile unit.
Tabel 5.4
Kebutuhan Sumberdaya Manusia Selain Operator
Pabrik Tetap

Jumlah Gaji per orang Jumlah Gaji


No Jabatan
(orang) (Rp./bulan) (Rp./bulan)
1 Direktur 1 15,000,000 15,000,000
2 Sekretaris 1 4,000,000 4,000,000
3 Manajer 4 7,500,000 30,000,000
4 Staf 10 3,000,000 30,000,000
5 Pelaksana 20 2,000,000 40,000,000
Total Gaji Per Bulan 119,000,000

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 57


Mobile Unit

Jumlah Gaji per orang Jumlah Gaji


No Jabatan
(orang) (Rp./bulan) (Rp./bulan)
1 Direktur 1 15,000,000 15,000,000
2 Sekretaris 1 4,000,000 4,000,000
3 Manajer 4 7,500,000 30,000,000
4 Staf 10 3,000,000 30,000,000
5 Pelaksana 15 2,000,000 30,000,000
Total Gaji Per Bulan 109,000,000

Dari perhitungan biaya investasi dan biaya operasi 1 tahun diperoleh nilai
besarnya permodalan, tingkat pengembalian modal dan bagi hasil dengan
penyandang dana yang dijelaskan dalam tabel 5.5 berikut ini.
Tabel 5.5.
Permodalan, Pengembalian Modal dan Bagi Hasil
Mobile Pabrik
Uraian
Unit Tetap
Kebutuhan
Investasi 2,851.44 2,912.22
Biaya Operasi (1 Tahun) 590.4 2,068.50
Total Kebutuhan Modal 3,441.84 4,980.72
Lama Bagi Hasil 10 10
Pengembalian Pokok Modal 344.184 498.072
Proporsi Bagi Hasil Bagi Pemodal 40% 40%
Sumber: Adi, Alexis (2011)

Dari tabel 5.5 diatas diasumsikan proporsi bagi hasil bagi pemodal adalah
sebesar 40%, maka perhitungan arus kas unit produksi katekin dan tanin pada
tahun awal kegiatan investasi dan tahun pertama operasi akan dijelaskan dalam
tabel 5.6 berikut.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 58


Tabel 5.6
Arus Kas Unit Produksi Katekin Tahun-0 dan Tahun-1 (Juta Rupiah)
Mobile Unit Pabrik Tetap
Uraian
Tahun-0 Tahun-1 Tahun-0 Tahun-1
Total Penerimaan 7,088 7,088
Investasi
Biaya Operasi 2,851 2,912
1,559 2,952
Biaya Lainnya 2,659 2,812
Laba Kotor (2,851) 2,870 (2,912) 1,323
Pengurangan
Bagi hasil 1,148 529
Penyusutan 185 176
Laba Sebelum Pajak (2,851) 1,537 (2,912) 618
Pengurangan
PPh (25%) 384 154
Laba Bersih (2,851) 1,152 (2,912) 463

Sumber: Adi, Alexis (2011) diolah

Dalam perencanaan pengolahan pabrik pengolahan katekin dan tannin ini


diasumsikan selama 10 tahun dan dalam beberapa periode akan dilakukan
perbaikan terhadap peralatan yang ada dan bernilai signifikan sehingga dalam
tahun berjalan akan terdapat investasi tambahan. Arus kas pada tabel 5.6 diatas
akan digunakan sebagai dasar dalam perhitungan aspek finansial dengan
pendekatan nilai emas. Penggunaan pendekatan nilai emas didasarkan pada
emas sebagai komoditi alat tukar internasional dan harga relatif stabil. Uraian
berikut akan menjelaskan analisa finansial dengan pendekatan nilai emas dalam
menilai kelayakan usaha pabrik katekin dan tannin berikut.

5.2.2. Analisis Finansial Dengan Pendekatan Nilai Emas


Perhitungan aspek finansial ini didasarkan pada rancangan pengolahan metode
spray dryer yang dikembangkan oleh Adi dan Gumira (2011). Asumsi harga emas
yang digunakan adalah sebesar Rp.13.189.300,00 per oz. berdasarkan informasi
GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 59
arus kas pada tabel 5.6 maka dapat disajikan perhitungan arus kas dengan
pendekatan bobot emas (oz) pada tabel 5.7 berikut ini.
Tabel 5.7.
Arus Kas Produksi Katekin Tahun-0 dan Tahun-1 (oz emas)
Mobile Unit Pabrik Tetap
Uraian
Tahun-0 Tahun-1 Tahun-0 Tahun-1
Total Penerimaan 537 537
Investasi 216 221
Biaya Operasi 0 118.164 0 223.82
Biaya Lainnya 202 213
Laba Kotor (216) 218 (221) 100
Pengurangan
Bagi hasil 87 40.13
Penyusutan 14.05 13.34
Laba Sebelum Pajak (216) 116 (221) 47
Pengurangan
PPh (25%) 17 7
Laba Bersih (216) 1152 (221) 40

Sumber: Adi, Alexis (2011) diolah

Berdasarkan informasi pada tabel 5.7 diatas yang menggunakan asumsi


harga emas per oz sebesar Rp.13.189.300,00, maka dapat disajikan informasi
arus kas kumulatif mulai dari tahun-0 hingga tahun ke-10 yang disajikan
dalam tabel 5.8, tabel 5.9 dan tabel 5.10 berikut ini.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 60


Tabel 5.8.
Arus Kas Mobile Unit (dalam oz Emas)

Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Total Penerimaan 537 537 537 537 537 537 537 537 537 537
Investasi 216 58
Biaya Operasi 0 156.83 156.83 156.83 156.83 156.83 156.83 156.83 156.83 156.83 156.83
Biaya Lainnya 202 202 202 202 202 202 202 202 202 202
Laba Kotor (216) 179 179 179 179 120 179 179 179 179 179
Pengurangan
Bagi hasil 71.57 71.57 71.57 71.57 71.57 71.57 71.57 71.57 71.57 71.57
Penyusutan 14.05 14.05 14.05 14.05 14.05 14.05 14.05 14.05 14.05 14.05
Laba Sebelum Pajak (216) 93 93 93 93 35 93 93 93 93 93
Pengurangan
PPh (15%) 14 14 14 14 5 14 14 14 14 14
Laba Bersih (216) 79 79 79 79 30 79 79 79 79 79
Arus Kas Kumulatif (216) (137) (58) 22 101 131 210 289 369 448 527.14

NPV 527.14 oz emas


Payback Period 2.73 tahun
B/C Ratio 1.39

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 61


Tabel 5.9
Arus Kas Pabrik Tetap (dalam oz Emas)

Tahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Total Penerimaan 537 537 537 537 537 537 537 537 537 537
Investasi 221 49
Biaya Operasi 0 223.82 223.82 223.82 223.82 223.82 223.82 223.82 223.82 223.82 223.82
Biaya Lainnya 213 213 213 213 213 213 213 213 213 213
Laba Kotor (221) 100 100 100 100 52 100 100 100 100 100
Pengurangan
Bagi hasil 40.13 40.13 40.13 40.13 40.13 40.13 40.13 40.13 40.13 40.13
Penyusutan 13.34 13.34 13.34 13.34 13.34 13.34 13.34 13.34 13.34 13.34
Laba Sebelum Pajak (221) 47 47 47 47 (2) 47 47 47 47 47
Pengurangan
PPh (15%) 7 7 7 7 (0) 7 7 7 7 7
Laba Bersih (221) 40 40 40 40 (2) 40 40 40 40 40
Arus Kas Kumulatif (221) (181) (141) (101) (62) (63) (23) 17 56 96 135.99

NPV 135.99 oz emas


Payback Period 6.58 tahun
B/C Ratio 1.16

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 62


Tabel 5.10.
Arus kas bersih dan arus kas kumulatif unit produksi Katekin dan Tanin (oz
emas)
Mobile Unit Pabrik Tetap
Tahun Arus Kas Arus Kas Arus Kas Arus Kas
Bersih Kumulatif Bersih Kumulatif
0 -216.19 -216.19 -220.8 -220.8
1 79.3 -136.89 39.82 -180.98
2 79.3 -57.59 39.82 -141.16
3 79.3 21.72 39.82 -101.34
4 79.3 101.02 39.82 -61.52
5 29.6 130.62 -1.59 -63.11
6 79.3 209.93 39.82 -23.29
7 79.3 289.23 39.82 16.53
8 79.3 368.54 39.82 56.35
9 79.3 447.84 39.82 96.17
10 79.3 527.14 39.82 135.99

Nilai arus kas kumulatif pada tahun ke-10 merupakan nilai Net Present
Value (NPV) dari unit pengolahan katekin dan tannin dengan satuan bobot emas
(oz). Dari tabel 5.8, tabel 5.9 dan tabel 5.10 tersebut diatas maka dapat
disimpulkan sebagai berikut.
1. NPV merupakan selisih antara Present Value dari investasi dengan nilai
sekarang dari penerimaan kas bersih dimasa yang akan datang. Jika Nilai
NPV lebih besar dari 0 (nol) maka usulan investasi dapat diterima. Dari
perhitungan diatas diperoleh hasil usulan investasi dinyatakan
layak/diterima baik untuk pabrik tetap maupun mobile unit. Nilai NPV
untuk pabrik tetap lebih rendah daripada nilai NPV untuk mobile unit
yakni 135,99 untuk pabrik dan 527,14 untuk mobile unit.
2. Benefit Cost Rasio (Rasio B/C) diperoleh hasil bahwa untuk pabrik tetap
1,16 sedangkan untuk rasio B/C mobile unit sebesar 1,39. Hal ini
mengindikasikan bahwa usulan investasi dapat diterima baik pabrik tetap

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 63


maupun mobile unit karena bernilai positif. Hal ini dapat diartikan
penerimaan yang diperoleh mampu menutupi biaya-biaya yang timbul.
3. Payback Period (PP) merupakan suatu periode yang diperlukan untuk
menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan aliran kas.
Dari perhitungan diatas diperoleh hasil bahwa Payback period untuk
mobile unit adalah selama 2,73 tahun dan untuk pabrik tetap adalah
selama 6,58 tahun.

Dari hasil-hasil yang diperoleh diatas, maka dapat diambil kesimpulan


bahwa pendirian industri pengolah katekin dan tannin yang berasal dari gambir
asalan layak untuk didirikan di kabupaten 50 Kota. Kondisi tersebut berlaku jika
variabel yang digunakan sebagai asumsi dalam perencanaan ini sesuai dengan
besaran perencanaan.

5.2.3. Analisa Sensitivitas


Untuk mengevaluasi pengaruh perubahan terhadap variabel-variabel dari nilai
acuan tersebut, maka akan digunakan analisa sensitivitas dengan mengubah nilai
maksimum dan nilai minimum. Nilai maksimum dan nilai minimum serta variabel
perubah mengacu kepada hasil penelitian Adi (2011) dan diuraikan dalam tabel
5.11 sebagai berikut.
Tabel 5.11
Nilai-nilai Variabel dan Hasil Analisis Sensitivitas Kelayakan Finansial

Nilai Nilai Nilai


Variabel
Minimum Dasar Maksimum
Harga Katekin Rp. 1,500,000 3,000,000 4,000,000
Harga Tanin Rp. 750,000 1,500,000 2,000,000
Rendemen Katekin 10% 15% 20%
Rendemen Tanin 10% 15% 20%
Harga Gambir Asalan Rp. 25,000 30,000 100,000
Harga Pelarut Rp. 25,000 25,000 30,000
Harga BBM Rp. 4,500 4,500 9,000
Harga Gas Elpiji Rp. 80,000 80,000 100,000

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 64


Gaji Tenaga Kerja Rp. 80,000 100,000 150,000
Biaya Promosi 8% 10% 15%
Biaya Asuransi 3% 5% 10%
Biaya Perawatan 3% 5% 10%
Proporsi Bagi Hasil
(untuk Pemilik Modal) 30% 40% 50%
Sumber: Adi (2011) diolah

Dari perubahan nilai minimum dan maksimum dari variabel-variabel yang


akan mempengaruhi investasi pengolahan katekin dan tannin untuk pabrik tetap
dan mobile unit maka dapat diperoleh perhitungan NPV hasil analisa sensitivitas
dalam oz emas dalam tabel 5.12 berikut ini.

Tabel 5.12
NVP Hasil Analisis Sensivitas (oz emas)
NPV Minimum NPV Maksimum
Variabel Mobile Pabrik Mobile Pabrik
Unit Tetap Unit Tetap
Harga Katekin -285.89 -677.05 1,069.17 678.01
Harga Tanin 120.63 -270.53 798.16 407
Rendemen Katekin -14.88 -406.04 1,069.17 678.01
Rendemen Tanin 256.13 -135.03 798.16 407
Harga Gambir Asalan 242.94 -148.22 547.45 156.29
Harga Pelarut 486.54 95.38 527.14 135.99
Harga BBM 501.04 -83.26 527.14 135.99
Harga Gas Elpiji 445.94 54.78 527.14 135.99
Gaji Tenaga Kerja 492.34 19.98 541.06 182.39
Biaya Promosi 376.41 -14.75 587.44 196.28
Biaya Asuransi 483.49 89.3 544.6 154.66
Biaya Perawatan 493.06 105.25 540.78 148.28
Proporsi Bagi Hasil
375.07 50.72 679.22 221.25
(untuk Pemilik Modal)

Dari tabel hasil uji sensitivitas tersebut diatas, semua variabel masih
memberikan nilai NPV yang lebih besar dari nol selain harga dan rendemen

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 65


katekin. Variabel harga, rendemen katekin, rendemen tanin dan harga tanin
menunjukkan rentang NPV yang sangat lebar. Hal ini menunjukkan NPV sangat
sensitif terhadap perubahan empat variabel tersebut. Jika katekin dan tanin dapat
dijual pada tingkat harga yang lebih tinggi dari harga minimal tertentu dan
rendemen lebih tinggi dari nilai minimal maka unit produksi katekin dan tanin
layak dikembangkan. Atas hal tersebut, sangat penting adanya pengendalian yang
cermat terhadap kadar katekin dan tanin yang diperoleh dari masyarakat.

5.3.Produk Turunan Berbahan dasar Gambir


Untuk mengurangi ketergantungan terhadap pembeli yang berasal dari luar
negeri yang mampu menentukan harga pembeliannya, salah satu strategi yang
dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan jumlah konsumsi dalam negeri
dalam bentuk berbagai produk turunan berbahan baku gambir. Saat ini telah
banyak diciptakan berbagai produk turunan gambir seperti dalam tabel 5.13
berikut ini.
Tabel 5.13
Jenis-Jenis Produk Turunan Gambir
Produk Yang Siap Masuk Pasar Produk Yang Sedang Dalam Pembuatan
Produk Bahan baku (industri hulu)
Gambir Terstandardisasi, Katekin Antioksidan Gambir granul, Gambir serbuk , Gambir roti ,
(Katevit), Zat warna kain Alkaloid gambir , Proantosianidin , Tanin
gambir Serbuk kalincuang,Senyawa
biotransformasi,Tablet Antiulcer,
Hepatoprotektor, Suspensi ED, Pengomplek
Fe , Antinematoda. antioksidan
minyak,Pereaksi logam berat
Produk Obat-obatan (Industri Farmasi)
Kapsul obat wasir, Tablet hisap Tablet Permen gambir; Pastilles gambir, Zat warna
antidiare, obat luka dan obat kumur. lipstik , Gel luka bakar, Antidiabetes, Radang
gusi
Produk Kosmetika (Industri Hilir)
Masker anti aging , Sabun transparan, Shampo Gel anti acne/jerawat
antiketombe, Pasta gigi, Lulur, Teh gambir
Industri Aneka
Pengawet kayu, Tinta pemilu, dan Zat warna Kertas gambir, Kap lampu, Papan catur, Filter
kain. AC, Cat antikorosi,Kertas gambir, Boneka,
Jilbab gambir dan Batik gambir
Sumber: GambieNet.com.2012.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 66


Berbagai produk diatas merupakan produk yang dikembangkan oleh lembaga
penelitian Universitas Andalas maupun dari lembaga lainnya. Namun semua produk
tersebut masih dibuat dalam skala labor dan belum ada dalam bentuk produksi masal.
Kendala yang dihadapi diantaranya adalah (1) harus menciptakan pasar, (2) Banyaknya
perizinan terkait dengan obat dan makanan, (3) belum tuntasnya penelitian dampak
konsumsi produk berbahan baku dasar gambir untuk kadar-kadar tertentu.
Berdasarkan hasil observasi dan berbagai riset, maka produk yang layak untuk
dikembangkan adalah produk yang telah pernah dibuat walaupun masih dalam skala
laboratorium. Hal ini didasarkan dari hasil riset yang ada, tidak menimbulkan dampak
negatif terhadap konsumen yang mengkonsumsi produk tersebut.
Pada tabel Berikut akan dijelaskan produk dan harga produk yang dikategorikan
layak secara ekonomis untuk diproduksi oleh industri farmasi maupun industri rumah
tangga di Sumatera Barat.

Tabel 5.14
Produk Hilir Berbahan Baku Gambir

No Keterangan Harga (Rp) Satuan


1 Antioksidan (Katevit) 20,000 Bungkus
2 Masker peel off 25,000 Bungkus
3 Anti Ane Gel 25,000 Bungkus
4 Obat kumur Gartevit 15,000 Botol
5 Obat Luka (Oka Tinctur) 15,000 Botol
6 Masker anti aging 5,000 Bungkus
7 Kapsul obat wasir 1,000 Tablet
8 Tablet hisap 500 Tablet
9 Tablet antidiare 2,000 Tablet
10 Sabun transparan 5,000 Batang
11 Shampo antiketombe 15,000 Botol
12 Lulur 15,000 Bungkus
13 Tinta pemilu 20,000 Botol
14 Teh gambir 10,000 Kotak
Sumber: Andalas Farma (2012) diolah

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 67


Adapun kebutuhan investasi awal untuk masing-masing produk hilir berbahan
baku gambir diuraikan dalam table 5.15 sebagai berikut

Tabel 5.15
Perkiraan Kebutuhan Investasi Awal Produk Hilir Berbahan Baku Gambir

Investasi
No Keterangan
Awal (Rp)
1 Antioksidan (Katevit) 20.000.000
2 Masker peel off 7.000.000
3 Anti Ane Gel 10.000.000
4 Obat kumur Gartevit 30.000.000
5 Obat Luka (Oka Tinctur) 7.000.000
6 Masker anti aging 3.000.000
7 Kapsul obat wasir 6.000.000
8 Tablet hisap 12.000.000
9 Tablet antidiare 10.000.000
10 Sabun transparan 15.000.000
11 Shampo antiketombe 25.000.000
12 Lulur 10.000.000
13 Tinta pemilu 25.000.000
14 Teh gambir 2.000.000
Sumber: Data Diolah (2012)

Dari tabel 5.15 terkait dengan kebutuhan investasi awal, diketahui bahwa besaran nilai
investasi awal antara 3 juta hingga 30 Juta rupiah. Pada umumnya besarnya biaya
investasi awal sangat ditentukan oleh nilai peralatan dalam pengolahan produk tersebut.
Selain itu dalam pengolahan produk hilir berbahan baku gambir, perizinan dari lembaga
terkait sangat penting untuk menciptakan jaminan kesehatan produk. Izin dapat berasal
dari BPOM ataupun dari Depkes untuk izin Industri Rumah Tangga (IRT).

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 68


BAB VI
ANALISIS
LINGKUNGAN

6.1.Pendahuluan

Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, setiap upaya pembangunan


harus memperhatikan aspek lingkungan karena lingkungan berfungsi sebagai
penopang pembangunan secara berkelanjutan. Jika pembangunan secara terus-
menerus tidak memperhatikan faktor lingkungan maka lingkungan hidup akan
rusak dan keberkelanjutan pembangunan itu sendiri akan terancam.
Pembangunan berwawasan lingkungan adalah upaya peningkatan kualitas
manusia secara bertahap dengan memperhatikan faktor lingkungan. Pada
prosesnya, pembangunan ini mengoptimalkan manfaat sumber daya alam,
sumber daya manusia, dan ilmu pengetahuan dengan menserasikan ketiga
komponen tersebut sehingga dapat berkesinambungan.

Pengembangan usaha agroindustri gambir di Sumatera Barat adalah salah


satu upaya pembangunan ekonomi daerah agar mampu memberikan nilai
tambah ekonomi yang lebih besar dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Sebagai usaha yang berbasis sumberdaya alam maka usaha ini harus
memperhatikan aspek lingkungan untuk menjaga keberkanjutan usaha dan
pembangunan daerah.

6.2.Pengembangan Agroindustri Gambir Dan Aspek Lingkungan

Ditinjau dari faktor iklim, curah hujan di wilayah Barat Pulau Sumatera
cukup tinggi. Budidaya gambir pada daerah ini belum mengikuti kaedah-kaedah
konservasi lahan, akan mengancam munculnya lahan kritis baik pada bagian hulu
maupun bagian hilir aliran sungai. Keadaan semakin diperparah oleh kebiasaan
petani menggunakan kayu sebagai bahan bakar dalam pengolahan hasil gambir
sehingga juga dapat mengancam kerusakan lingkungan hutan.

Gambir dibudidayakan pada lahan dengan ketinggian 200-800 m di atas


permukaan laut. Mulai dari topografi agak datar sampai di lereng bukit. Biasanya
ditanam sebagai tanaman perkebunan di pekarangan atau kebun di pinggir hutan.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 67


Budidaya biasanya dilakukan dengan sistem semiintensif, jarang diberi pupuk
tetapi pembersihan dan pemangkasan dilakukan secara berkala.

Dari segi budidaya penanaman gambir pada lahan yang berfotografi tidak
datar atau berlereng ternyata masih belum mengikuti kaedah-kaedah konservasi,
dimana sistem jarak tanam yang dipakai tidak beraturan dan tidak mengikuti baris
kontur. Pola tanamnya secara monokultur. Sistem budidaya yang semacam ini
akan memberi peluang terjadinya erosi yang dapat merusaka lingkungan
sekitarnya.

Oleh sebab itu, usaha pengembangan komoditas gambir pada lahan yang
mempunyai tingkat kemiringan tinggi perlu penerapan teknologi budidaya
konservasi, yaitu dengan menerapkan: (Ridwan, 2012).

1) Pembuatan Teras; tujuan dari pembuatan teras ini adalah untuk mengurangi
terjadinya erosi sebelum penananam gambir maka harus dibuat teras
menurut baris kontur guna memperlambat laju erosi.
2) Pengaturan sistem jarak tanam menurut baris kontur; tujuan penanaman
menurut baris kontur adalah untuk mengurangi erosi, penanaman menurut
baris kontur akan dapat membentuk teras alami yang sangat efektif untuk
mengurangi erosi permukaan. Material-material yang terbawa oleh aliran
permukaan akan tertahan pada barisan tanaman sehingga membentuk
lapisan yang lebih tebal sehingga membentuk teras alami.
3) Intercropping; merupakan penanaman tumbuhan atau komoditas lain di sela
tanaman gambir yang dapat dimanfaatkan sebagai penyangga erosi. Tanaman
yang dimanfaatkan sebagai penyangga erosi adalah tanaman yang dapat
memberikan hasil tambahan antara lain, petai, jengkol dan lain-lain. Serta
tanaman yang tidak menganggu pertumbuhan tanaman gambir. Tajuk
tanaman tidak terlalu lebar sehingga intensitas cahaya tidak terhalang.

Penerapan tekonologi budidaya konservasi ini sebagian besar hanya dapat


dilakukan pada pertanaman awal karena semua dapat diatur sedemikian rupa
sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Sedangkan pada pertanaman yang sudah
ada, tindak konservasi tidak banyak yang bisa dilakukan karena kondisi
lingkungan sudah terbentuk sebelumnya. Untuk itu pada pembukaan lahan baru
untuk pengembangan tanaman gambir harus memperhatikan aspek lingkungan
demi keberlansungan produksi dan kelestarian lingkungan.

Selanjutnya dalam pengolahan gambir menjadi produk turunan pada


industri hilir perlu diperhatikan dampak lingkungan dari limbah industri. Dari
pengolahan gambir tradisional yang dilakukan oleh masyarakat saat ini telah
menghasilkan limbah baik limbah cair maupun padat. Selama ini limbah dari hasil

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 68


pengempaan daun gambir kurang dimanfaatkan. Limbah dari kempaan gambir,
memerlukan tempat luas untuk pembuangannya. Umumnya limbah dalam
bentuk sisa kempaan dibuang langsung begitu saja atau dibakar bila sudah
banyak. Adanya proses pembakaran ini menimbulkan dampak pada areal
produksi berupa polusi asap.

Limbah kempaan daun gambir dapat dimanfaatkan menjadi kompos


sebagai pupuk organik bagi tanaman gambir. Menurut Endy (2010), pembuatan
kompos dari limbah kempaan ini sangat sederhana, yaitu hanya dengan
mencampurkan ampas kempaan gambir dengan pupuk kandang, kapur
pertanian, SP 36 serta urea. Setelah tercampur rata, campuran bahan ini ditutup
rapat. Waktu pengolahannya pun tidak terlalu memakan waktu 2 3 bulan. Akan
tetapi banyak petani dan pengolah gambir yang enggan melakukan hal ini karena
lebih praktis membeli pupuk anorganik. Dalam upaya pengembangan usaha
industri gambir yang berwawasan lingkungan maka pembuatan kompos ini perlu
dikembangkan dan diterapkan oleh para pelaku usaha dengan dukungan lembaga
terkait pemerintah daerah.

6.3.Analisis Dampak Lingkungan Agroindustri Gambir

Pendirian pabrik pengolahan produk berbahan baku gambir (agroindustri)


bertujuan untuk menciptakan nilai tambah produk gambir khususnya dan
perekonomian pada umumnya. Keberadaan pabrik ini tentunya akan membawa
dampak baik positif maupun negatif bagi perekonomian dan lingkungan di
wilayah disekitar dimana pabrik tersebut berada. Untuk itu, dalam pendirian
pabrik perlu dilakukan analisa dampak lingkungan dari pendirian pabrik tersebut
(AMDAL)

Gambar.6.1. Prosedur Pelaksanaan AMDAL

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 69


Tujuan secara umum dilakukannya AMDAL adalah menjaga dan
meningkatkan kualitas lingkungan serta menekan tingkat pencemaran sehingga
dampak negatifnya menjadi serendah mungkin. Dengan demikian AMDAL
diperlukan dalam proses pengambilan suatu keputusan tentang pelaksanaan
rencana kegiatan yang mempunyai dampak terhadap lingkungan hidup. Untuk
proses pelaksanaan AMDAL dapat dilihat pada gambar 6.1.

Menurut PP No. 27/1999 pasal 3 ayat 1 Usaha dan/atau kegiatan yang


kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap
lingkungan hidup meliputi :
a. pengubahan bentuk lahan dan bentang alam
b. eksploitasi sumber daya alam baik yang terbaharui maupun yang tidak
terbaharui
c. proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan
pemborosan, pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, serta
kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya;
d. proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan
alam, lingkungan buatan, serta lingkungan sosial dan budaya;
e. proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi
pelestarian kawasan konservasi sumber daya dan/atau perlindungan
cagar budaya;
f. introduksi jenis tumbuh -tumbuhan, jenis hewan, dan jenis jasad renik;

Aktivitas AMDAL mencakup 2 aktivitas utama yaitu:


1) Laporan tertulis yang menjelaskan dampak-dampak tersebut. Biasanya ini
menjadi tanggung jawab perusahaan yang mengelola proyek dan bisa
melibatkan atau tidak melibatkan partisipasi komunitas.
2) Pertemuan-pertemuan publik yang memungkinkan komunitas terkena
dampak mengevaluasi proyek sebelum proyek mulai berjalan

Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam proses AMDAL adalah Komisi


Penilai AMDAL, pemrakarsa, dan masyarakat yang berkepentingan. Dengan
penjelasannya sebagai berikut:
1) Komisi Penilai AMDAL adalah komisi yang bertugas menilai dokumen
AMDAL. Di tingkat pusat berkedudukan di Kementerian Lingkungan Hidup,
di tingkat Propinsi berkedudukan di Bapedalda/lnstansi pengelola
lingkungan hidup Propinsi, dan di tingkat Kabupaten/Kota berkedudukan
di Bapedalda/lnstansi pengelola lingkungan hidup Kabupaten/Kota. Unsur
pemerintah lainnya yang berkepentingan dan warga masyarakat yang
terkena dampak diusahakan terwakili di dalam Komisi Penilai ini. Tata kerja
dan komposisi keanggotaan Komisi Penilai AMDAL ini diatur dalam
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup, sementara anggota-anggota

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 70


Komisi Penilai AMDAL di propinsi dan kabupaten/kota ditetapkan oleh
Gubernur dan Bupati/Walikota.

2) Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggungjawab atas


suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan.

3) Masyarakat yang berkepentingan adalah masyarakat yang terpengaruh atas


segala bentuk keputusan dalam proses AMDAL berdasarkan alasan-alasan
antara lain sebagai berikut: kedekatan jarak tinggal dengan rencana usaha
dan/atau kegiatan, faktor pengaruh ekonomi, faktor pengaruh sosial
budaya, perhatian pada lingkungan hidup, dan/atau faktor pengaruh nilai-
nilai atau norma yang dipercaya. Masyarakat berkepentingan dalam proses
AMDAL dapat dibedakan menjadi masyarakat terkena dampak, dan
masyarakat pemerhati.

Jadi dengan dilaksanakannya Amdal maka lingkungan dan sumber daya


yang merupakan suatu sistem dapat terjaga dan dipelihara dengan baik.
Selanjutnya kesejahteraan masyarakat yang hidup di sekitar lingkungan tersebut
akan tetap terjaga seiring terjaganya lingkungan sekitar mereka.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 71


BAB VII
PENUTUP
7.1. Kesimpulan

Kajian Kelayakan Usaha Pengolahan Produk Berbahan Baku Gambir di Sumatera


Barat ini dilihat dari aspek: Sumber daya, Potensi Pasar, Tehknis dan Tekhnologi
Produksi, Kelayakan Finansial dan aspek Lingkungan.

Dari hasil kajian dapat disimpulkan bahwa dari semua aspek yang dikaji maka
pengembangan Agroindustri gambir layak dilakukan di Sumatera Barat, adapun
keunggulan utama Indonesia pada umumnya dan Sumatera Barat khususnya
dalam pengembangan Agroindustri gambir adalah pada ketersediaan lahan dan
bahan baku.

Permasalahan dalam agroindustri gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota adalah


keterbatasan teknologi, mutu produk gambir asalan yang rendah dan sangat
beragam, ketergantungan yang tinggi terhadap pasar India, kelemahan dalam
pengembangan pasar, kurangnya diversifikasi produk, terbatasnya kualitas
sumberdaya manusia, lemahnya akses pemodalan, terbatasnya akses informasi
oleh para UMK Gambir maupun pedagang pengumpul di sentra-sentra produksi
gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota. Semua permasalahan tersebut terjadi
karena lemahnya kelembagaan dalam bisnis gambir.

Usaha pengolahan yang paling potensial adalah pengolahan gambir asalan yang
diproduksi oleh masyarakat menjadi Katekin dan Tanin yang berkualitas ekspor.
Untuk usaha pengolahan ini dapat dilakukan dengan pabrik tetap dan pabrik
mobile (bergerak); kajian kelayakan finansial memperlihatkan bahwa kedua
metode pengolahan layak untuk dilakukan namun demikian pabrik mobile
(bergerak) lebih efisien untuk dilakukan karena dapat menjangkau rumah kempa
masyarakat yang tersebar di sentra gambir di wilayah kabupaten Lima Puluh Kota
dan dapat mendorong pelaku usaha lokal untuk lebih produktif.

Masih terdapat banyak hambatan dan masalah dalam melakukan investasi di


daerah, untuk itu para pengambil kebijakan di daerah harus mampu mengatasi
masalah yang menghambat investasi secara komprehensif.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 71


7.2. Rekomendasi untuk Investor

Hasil kajian ini adalah dalam rangka memberikan informasi awal bagi calon
investor tentang kelayakan usaha pengolahan produk berbahan baku gambir di
wilayah Sumatera Barat. Sebagai produsen utama gambir dunia maka investasi
untuk pengembangan agroindustri gambir di kabupaten Limapuluh Kota
khususnya dan Sumatera Barat pada umumnya adalah layak secara finansial dan
memiliki keunggulan pada ketersediaan lahan dan bahan baku.

Untuk menjaga kelansungan dan profitibilitas usaha dengan memperhatikan


peningkatan ekonomi masyarakat lokal, maka peluang investasi paling potensial
yang dapat dilakukan dalam usaha agroindustri gambir adalah pendirian pabrik
pengolahan / pemurnian Gambir asalan menjadi senyawa katekin dan tanin, baik
dengan pabrik tetap maupun dengan mobile unit (pabrik/ unit pengolahan
bergerak)

Dengan semakin berkembangnya pasar produk herbal dewasa ini, maka


agroindsutri gambir untuk produk kosmetika, makanan & minuman serta obat-
obatan memiliki potensi untuk dikembangkan. Hal ini dapat dilihat dari
maraknya permintaan terhadap produk herbal baik di pasar lokal, nasional
maupun internasional.

Dalam hal pemilihan lokasi untuk pabrik, bagi calon investor dapat juga
mempertimbangkan kawasan industri Padang Industrial Park (PIP) yang
berlokasi di kawasan by pass Padang - Padang Paraman; lokasi ini akan lebih
mendukung jika produk yang dihasilkan berorientasi pada pasar internasional.
Keuntungan yang diperoleh investor yang menanamkan modalnya di dalam
kawasan industri antara lain adalah investor dapat melakukan konsultasi dan
meminta penjelasan secara cuma-cuma kepada pengelola kawasan industri
tentang tata cara berinvestasi, dibebaskan dari perizinan prinsip, izin lokasi, izin
Amdal , dan izin undang-undang gangguan (HO), dalam pembelian kavling
industri pembayarannya dapat diatur secara ringan, investor tidak perlu
membiayai infrastruktur lingkungan pabrik, tersedianya fasilitas pendukung yang
diperlukan investor. Meskipun PIP belum sepenuhnya dapat beroperasi secara
optimal, namun pemerintah Provinsi Sumatera Barat berupaya untuk
mengoptimalkan kawasan ini.

Hal penting lainnya yang harus diperhatikan oleh calon investor adalah
keberanekaan sektor usaha telah menjadikan adanya peraturan dan undang-
undang yang berbeda pula, hampir seluruh sektor usaha di Indonesia diatur oleh
ketentuan-ketentuan dan peraturan serta perundang-undangan. Namun
demikian, tidak semua peraturan perundang-undangan sektoral yang ada telah
dilengkapi dengan Peraturan Pemerintahnya, untuk itu para investor harus
mencermati status keberlakuan atas peraturan pada sektor yang diminatinya,
oleh karena peraturan-peraturan tambahan sering kali baru diterbitkan kemudian

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 72


dan untuk peraturan-peraturan yang adapun sering kali masih dilakukan
beberapa perubahan dalam pelaksanaannya.

7.3. Rekomendasi untuk Pemerintah Daerah

Pemerintah daerah merupakan aktor kunci bagi penciptaan iklim investasi yang
kondusif dan pengembangan investasi daerah. Kebijakan yang tepat, peraturan
dan regulasi yang jelas, pelayanan yang responsif, merupakan sejumlah aspek
yang perlu mendapat perhatian serius oleh pemerintah daerah di masa yang akan
datang. Amat sulit mengharapkan adanya arus investasi ke daerah sekiranya
sejumlah aspek tersebut tidak ditangani atau dibenahi secara sungguh-sunguh
oleh pemerintah daerah.

Untuk mendorong minat investor menanamkan modal di daerah beberapa hal


penting yang harus dilakukan daerah dalam hal ini pemerintah provinsi atau
kabupaten adalah:

1) Kejelasan Hukum, Birokrasi dan Regulasi; Kejelasan hukum dan regulasi


merupakan faktor utama yang menyebabkan investor berpikir dua kali untuk
melanjutkan suatu investasi di daerah. Adanya tumpang tindih peraturan dari
pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Ini harus menjadi perhatian yang
utama bagi pemerintah daerah dalam memberikan kepastian yang jelas untuk
investor dapat terus berinvestasi di daerah. Harus dilakukan pembenahan dan
sosialisasi secara terbuka informasi yang terkait dengan hukum dan regulasi.

2) Sumber Daya Manusia (SDM); masalah SDM ini sangat kompleks dan yang
dibahas dalam hal ini adalah aparat dan pelaku yang menanggani investor
masuk ke daerah. Investor seringkali menjadi sapi perahaan bagi beberapa
aparat dan pejabat. Uang suap dan pelicin serta punggutan liar begitu banyak,
jumlahnya tidak sedikit. Inilah yang membuat investor mulai mundur ketika
dia sudah melakukan investasi di daerah tersebut. Untuk itu, mental SDM
pengelola investasi didaerah harus diubah, mereka harus melayani dengan
baik investor yang datang. Beberapa dearah sudah melakukan perubahaan
drastis dengan membangun satu pintu pelayanan investasi (PTSP= Pelayanan
Terpadu Satu Pintu) sesuai dengan amanat UU No 25/2007 tentang
penanaman modal.

3) Infrastruktur; Investor mempunyai standar ketika memulai investasi disuatu


daerah, misalnya akses jalan, pelabuhan, lapangan terbang, dan fasilitas lain
yang jauh dari standar. Dearah harus melakukan perbaikan dan pembenahan
dalam upaya peningkatan investasi masuk ke daerah, khususnya perbaikan
infrastruktur.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 73


4) Insentif; Seringkali pemerintah pusat dan pemerintah daerah melihat faktor
ini adalah faktor yang penting bagi investasi di bangsa ini. Tetapi faktanya
tidak semua investor menginginkan hal ini sebagai prioritas utama. Insentif
harus ditunjang juga dengan beberapa faktor dan fasilitas lainnya pendukung
sehingga investor tidak meninggalkannya. Insentif yang diberikan memang
ada berupa pengurangan pajak, dan sebagainya. Pemerintah harus dapat
dengan jeli melihat kebutuhan investor dalam melakukan investasi sehingga
insentif yang diberikan memang tepat sasaran kepada investor yang benar.

5) Merumuskan kebijakan investasi; Pemerintah daerah perlu merumuskan


kebijakan investasi daerah, khususnya yang terkait dengan peningkatan iklim
investasi. Kebijakan tersebut sebaiknya ditetapkan dengan standarisasi yang
baku, dan selanjutnya dipublikasikan agar investor dapat mempelajarinya.
Rumusan kebijakan investasi daerah, hal ini sangat penting agar daya tarik
investasi daerah yang bersangkutan bisa dipelajari oleh investor dengan baik.

6) Mengembangkan promosi daerah; Untuk mendorong investasi, daerah


dituntut untuk aktif menggali potensi daerahnya dan menginformasikannya
kepada publik melalui berbagai media. Keberadaan informasi yang cepat
akses, akurat, dan mutakhir, akan membantu pihak investor dalam
menganalisis potensi daerah dan melakukan keputusan investasi

7) Membangun business networking; Salah satu pendekatan yang patut


dipertimbangkan untuk mengoptimalkan investasi daerah adalah
pengembangan jaringan bisnis dan investasi (investment and business
networking). Untuk efektifnya suatu jaringan bisnis dan investasi di daerah,
maka perlu dilakukan pembinaan yang lebih intensif terhadap pihak-pihak
yang terlibat secara langsung dalam jaringan dimaksud, yaitu: (i) aparatur
pembina bisnis (misalnya BKPMD); dan (ii) para pelaku ekonomi dan bisnis.

GAMBIR SUMATERA BARAT 2012 74


Deutsche Gesellschaft fr
Internationale Zusammenarbeit (GIZ)
GmbH

- German International Cooperation -

Regional Economic Development (RED)


Wisma Bakrie 2, 5th Floor
Jl. H.R. Rasuna Said Kav. B2
Jakarta 12920
T +62 21 5794 5740
F +62 21 5794 5740
E jakarta@red.or.id