Anda di halaman 1dari 10

1.

Pendahuluan

Seringkali kita melihat tayangan televisi yang memberitakan kecelakaan yang


kerap terjadi belakangan ini. Ada yang disebabkan oleh kelalaian manusia, kondisi
jalanan yang licin dan tidak memadai, dan lain sebagainya. Terlebih pada kasus
kondisi jalan yang licin dan kebiasaan pengemudi yang menjalankan kendaraannya
dengan kecepatan tinggi, terdapat sebuah sistem pengereman yang dapat mengurangi
resiko kecelakaan yang disebabkan oleh hal tersebut. Nama dari sistem tersebut
adalah ABS yang merupakan akronim dari Anti-lock Braking System. Anti-lock
Braking System merupakan sistem pengereman pada kendaraan agar tidak terjadi
penguncian roda ketika terjadi pengereman mendadak/keras. Sistem ini bekerja
apabila pada mobil terjadi pengereman keras sehingga salah sebagian atau semua
roda berhenti sementara kendaraan masih melaju, membuat kendaraan tidak
terkendali sama sekali. Ketika sensornya mendeteksi ada roda mengunci, ia akan
memerintahkan piston rem untuk mengendurkan tekanan, lalu mengeraskannya
kembali begitu roda berputar. Proses itu berlangsung sangat cepat, bisa mencapai 15
kali/detik. Efeknya adalah mobil tetap dapat dikendalikan dan jarak pengereman
makin efektif.

Pada saat kendaraan menurun, laju kendaraan akan bertambah cepat, maka
dari itu peran rem sangat dibutuhkan untuk memperlambat lajunya kecepatan
kendaraan, agar pengemudi dapat mengontrol kendaraan dengan aman. Pada
umumnya fungsi rem untuk memperlambat dan menghentikan laju kendaraan tanpa
memperhitungkan akibat saat pengemudi menginjak pedal rem secara tibatiba yang
dapat mengakibatkan kecelakaan. Pada saat bersamaan roda kendaraan tiba-tiba akan
mengancing. Misalnya di jalan yang bersalju dan licin dibutuhkan pengereman yang
maksimal, karena pada kondisi jalan seperti ini kesetabilan arah kendaraan mudah
hilang. Oleh karena itu, kendaraan perlu dilengkapi sistem rem ABS agar dalam
menghentikan kendaraan pengemudi tidak harus memompa rem terlebih dahulu.

1
Tujuan penyempurnaan sistem rem ini adalah agar hasil pengereman menjadi lebih
stabil dan akurat melalui sistem ABS.

Anti-Lock Brake System adalah sistem pengereman yang dikontrol secara


elektrolik. Sistem ini menggunakan suatu unit komputer actuator yang gunanya untuk
mengendalikan tekanan hidrolik yang menuju ke disc brake caliper semua roda mobil
tersebut. Tanpa ABS manakala pengereman diterapkan dengan cukup kuat untuk
mengunci roda mobil akan meluncur tak terkendali sebab tidak ada daya tarik antara
ban dan permukaan jalan. Selagi roda sedang meluncur, pengendara hilang kendali
juga. Saat Anti-Lock Brake System mengerem, sistem menyediakan keselamatan
kepada pengendara yang lebih tinggi melalui pencegahan roda dari penguncian. Anti-
Lock Brake System dalam pemakaian sistem pengereman normal tidak akan
terpengaruh. Anti-lock Brake System dirancang untuk mencegah terjadinya
penguncian roda (wheel lockup) saat pengereman mendadak di segala medan jalan.
Anti-lock Braking System pertama kali dikembangkan oleh French
Automobile pada tahun 1929, yang mana ABS pada saat itu digunakan sebagai sistem
pengereman yang terdapat pada aircraft. Kemudian sekitar tahun 1958 oleh Road
Research Laboratory, ABS diujicobakan pada sebuah kendaraan bermotor.
Eksperimen terbuat memberikan hasil yang cukup memuaskan, dengan adanya ABS
resiko kecelakaan dapat dikurangi karena sistem pengereman yang terdapat di
dalamnya dapat mengatasi permasalahan yang kerap terjadi pada kendaraan bermotor,
yaitu terjadinya penguncian roda pada saat dilakukan pengereman. Walaupun
hasilnya cukup memuaskan, sistem pengereman yang telah dijelaskan di atas masih
merupakan sistem pengereman yang tradisional. Baru pada tahun 1971, Chrysler
bersama dengan Bendix Corporation, membuat sebuah sistem pengereman yang telah
berfungsi seperti sebagaimana mestinya dan jauh lebih reliable dibandingan dengan
ABS tradisional.

2
Anti-lock Brake System dirancang untuk mencegah terjadinya penguncian roda
(wheel lockup) saat pengeman mendadak di segala medan jalan. Hasil saat
pengeraman adalah:
1. Mobil tetap stabil
2. Arah kemudi stabil (Vehicle Stability)
3. Mengerem lebih cepat (jarak pengereman lebih dekat, kecuali jalan tanah, bersalju)
4. Penguasaan kontrol kendaraan menjadi maksimal (tinggat kestabilan)

2. Diagram Blok dan Komponen Penyusun ABS

Adapun diagram blok pada ABS (Anti-lock Braking System) bisa dilihat pada
Sedangkan untuk komponen
penyusunnya sesuai
dengan
gambar di atas

adalah
ABS control
module

Modul
kontrol ABS adalah modul
kontrol yang membandingkan informasi kecepatan roda
dengan kecepatan roda yang lain yang didapat dari sensor. Ketika roda hampir
terkuci, tekanan rem dikurangi sehingga putaran roda menjauh dari keadaan
terkunci. Apabila putaran roda terlalu cepat, tekanan rem dapat dinaikkan untuk
mengurangi kecepatannya. Ketika kecepatan antar roda hampir sama, modul
kontrol akan mangaktifkan mode pressure hold of operation.

3
Solenoid valve assembly
Merupakan valve yang memiliki 3 mode dalam pengoperasiannya yaitu,
1. Increase Pressure, Selama mode pressure increase minyak rem dapat masuk
melewati kedua solenoid sehingga sampai ke Caliper.

2. Hold Pressure Steady, Selama mode Pressure Hold kedua solenoid tertutup
sehingga tidak ada jalur pergerakan minyak rem.

3. Decrease Pressure, Selama mode Pressure Vent solenoid pada jalur pedal rem
tertutup. Dan solenoid ventilasi terbuka, sehingga minyak masuk ke dalam
suatu rungan (accumulator chamber)

Sensor kecepatan (roda)


Untuk mengetahui bagaimana keadaan roda , maka digunakan sensor
kecepatan pada roda. Sensor yang digunakan seperti enkoder.
Wiring, dan tanda status ABS
Terdapat dua tanda yang dapat digunakan untuk mengetahui status dari ABS
tersebut, antara lain :
1. Lampu peringatan ABS
Bila ECU mendeteksi adanya malfungsi pada ABS atau pada sistem bantu
rem, lampu ini menyala untuk memberi peringatan kepada pengemudi.

2. Lampu peringatan sistem rem


Bila lampu ini menyala bersama-sama dengan lampu peringatan ABS, lampu
ini akan memberi peringatan kepada pengemudi bahwa ada malfungsi pada
sistem ABS dan EBD.

Sensor deselerasi (Hanya pada beberapa model.)


Sensor deselerasi merasakan tingkat deselerasi kendaraan dan mengirimkan
signal ke ECU Skid Control. ECU menentukan kondisi permukaan roda yang
sebenarnya menggunakan signal ini dan mengambil ukuran kontrol yang sesuai.

3. Prinsip Kerja

4
Antilock-Braking System (ABS) berfungsi untuk mencegah rem mengunci
(locking) pada saat pengereman mendadak yang dapat mengakibatkan roda tergelincir
(slip). Pada saat pengereman, roda akan slip apabila berdeselerasi/berhenti lebih cepat
dari kendaraan. ABS merupakan closed-loop control system yang bekerja dengan cara
mengatur tekanan hidrolik rem pada roda. Pada roda dipasang wheel-speed sensor
untuk memonitor putaran roda. Sensor ini secara terus-menerus mengirimkan
informasi putaran roda ke ABS control module (controller) yang berfungsi
mengontrol mekanisme hidrolik unit (actuator). Hidrolik unit merupakan suatu
mekanisme hidrolik yang di dalamnya terdapat flow-control valve/solenoid valve,
pompa, reservoir, yang berfungsi mengatur tekanan hidrolik rem pada setiap roda.

ABS belum bekerja pada kondisi pengereman normal. Pada pengereman


mendadak dimana roda akan berdeselerasi dengan cepat, sesaat sebelum locking ABS
control module akan mengirimkan sinyal ke solenoid valve untuk menutup aliran oli
dari master cylinder. Dalam kondisi ini tekanan hidrolik di rem menjadi konstan.
Apabila roda masih cenderung untuk locking, control module segera memerintahkan
solenoid valve untuk mengurangi tekanan hidrolik rem dengan membuka aliran oli ke
arah reservoir. Selanjutnya oli akan dipompa kembali menuju master cylinder. Selama
pompa ini bekerja, pedal rem akan sedikit bergerak naik turun. Beberapa kendaraan
juga dilengkapi dengan ABS yang dapat menaikkan tekanan hidrolik rem.

Untuk melakukan hal ini, ABS didesain untuk mengoptimalkan kinerja rem
dengan menggunakan slip ratio 10-30% apapun kondisi jalannya, pada saat yang
sama juga menjaga gaya belok setinggi mungkin untuk mempertahankan stabilitas
arah pengemudian

1. Pada jalan licin, permukaan jalan mempunyai koefisien gesek rendah (),
sehingga jarak pengereman bertambah bila dibandingkan dengan pengereman
pada permukaan jalan mempunyai nilai tinggi, meski saat itu ABS diaktifkan.
Oleh karena itu dikurangi kecepatan bila berjalan di atas permukaan jalan basah.

5
2. Pada jalan kasar, atau pada jalan berbatu atau jalan dengan salju baru, kerja ABS
akan menyebabkan jarak henti lebih panjang dibandingkan dengan kendaraan
yang tidak dilengkapi dengan ABS.

Kesimpulannya, prinsip utama dari sistem ABS adalah mengontrol kecepatan


putaran roda dengan cara mengontrol tekanan pada jalur sistem pengereman. Dengan
demikian dicapai kondisi dimana roda sedang tepat sebelum terkunci, yang mana
akan menghasilkan pengereman yang paling efektif.
Ditinjau dari sistem kontrolnya, sistem kontrol traksi merupakan sistem yang
mampu mempertahankan ratio slip diantara ban dan permukaan jalan dengan cara
mengontrol peralatan-peralatan guna memberikan perlawanan percepatan terhadap
perubahan kondisi permukaan jalan. Peralatan itu tersebut, yaitu:
a. Kontrol Torsi Engine, berfungsi mempertahankan kondisi steady state plant.
b. Kontrol Torsi Pengereman, mencegah keberadaan torsi dengan memberikan
gaya gesek yang berbeda di antara kedua roda penggerak.

Sistem kontrol traksi direncanakan untuk mencegah roda melintir dengan gaya
akseleratif yang tinggi, dan pemasarannya telah mulai dilakukan sejak tahun 1987.
Kraf (1990), Rittmanssberger (1998), Kiyotaka (1991), menyatakan bahwa antiskid
controller mengatur roda slip dengan torsi pengereman, biasanya pada keempat
rodanya. W Shields Neeley (1994), menyatakan bahwa peren canaan kontrol slip
dengan NeuFuz dapat dilakukan untuk sistem kontrol traksi dan sistem ABS.
Armin Czinczel (1991) dalam penelitiannya menyatakan bahwa kebutuhan akan
sistem kontrol traksi untuk kendaraan FWD merupakan optimisasi traksi. Oleh karena
itu sistem torsi pengereman sangat diperlukan. Tatsuhiko Abe (1996) melakukan
penelitian sistem kontrol traksi dengan HTCS (Hybrid Traction Control System) yang
menawarkan kinerja dalam hal memperbaiki TCS dengan EIB (Engine Inertia Brake).
Komponen-Komponen Kontrol Traksi tersebut meliputi :

1. Wheel Speed sensor, sensor yang memberikan informasi kepada ABS untuk ditindak
lanjuti.

6
2. ECU (Electronic Control Unit) Input amplifier IC menerima sinyal dari wheel speed
sensor, sinyal frekuensi tersebut memberi perintah tentang kecepatan roda
penggerak. Microcontrollernya akan memproses sinyal-sinyal percepatan dan
kecepatan roda penggerak. Data-data ini akhirnya akan menyiapkan basis
perhitungan dalam menentukan nilai akhir yang dibutuhkan untuk kendali slip.
3. Hydraulic Unit
4. Electronic throttle control actuator
5. Simplified throttle control actuator
6. Fuel injection dan ignition control (Pengurangan tekanan pompa mesin secara
perlahan-lahan).
Semua komponen tersebut terletak pada bagian-bagian mobil dan terpasang dengan
cukup kuat untuk menghindari terjadinya copotnya soket penghubung antar sensor.

4. Macam-Macam Sitem ABS


a. 4-SENSOR 4-CHANNEL
Jenis ABS ini mempunyai empat wheel sensor dan 4 hydraulic control channel
dan masing-masing mengontrol secara tersendiri. Sistem ini mempunyai tingkat
keamanan dan jarak pemberhentian yang lebih pendek di berbagai macam kondisi
jalan. Namun apabila permukaan jalannya licin, besar gaya rem antara kanan dan kiri
yang tidak rata akan mengakibatkan terjadi gerakan Yawing pada bodi kendaraan
sehingga bisa mengurangi kestabilan. Karena itulah, kebanyakan mobil yang
dilengkapi dengan tipe 4 channel ABS memasukkan satu select low logic pada roda
belakang agar mobil tetap stabil, di berbagai macam kondisi jalan.
b. 4-SENSOR 3-CHANNEL
Dipakai untuk mobil FF (Front engine Front driving), kebanyakan berat
kendaraan terpusat di roda depan dan berat titik tengah kendaraan saat direm juga
berpindah ke depan hampir 70%, gaya pengereman ini dikontol oleh roda depan.
Artinya adalah kebanyakan tenaga pengereman dibangkitkan oleh roda depan,
sehingga agar ABS bisa efektif, maka diperlukan pengaturan tersendiri (independent
control) pada roda depan. Namun demikian, roda belakang yang gaya pengeremannya

7
lebih sedikit, juga sangat penting untuk memastikan kendaraan aman saat dilakukan
pengereman.
Karena itulah apabila saat ABS roda belakang bekerja di permukaan jalan yang
licin, maka independent control pada roda belakang mengatur agar gaya pengereman
roda2 belakang tidak merata sehingga mobil mengalami yawing. Untuk menhindari
gerakan yawing ini dan untuk menjaga agar mobil tetap aman saat ABS bekerja di
berbagai kondisi jalan, maka tekanan rem roda belakang diatur berdasarkan
kecenderungan roda mana yang mengalami lock-up. Konsep pengaturan ini dikenal
dengan Select-low control.
c. 3-SENSOR 3-CHANNEL
Mobil yang dilengkapi dengan H-brake line system mempunyai sistem kontrol
ABS jenis ini. 2 channel untuk roda depan dan satunya lagi untuk roda belakang.
Roda belakang dikontrol bersama dengan select low control logic. Untuk X-brake
line system, diperlukan 2 channels (2 brake port di dalam unit ABS) untuk mengatur
roda belakang dikarenakan masing-masing roda belakang mempunyai jalur rem yang
berbeda.

8
7. Kesimpulan

Kesimpulan yang didapat dari penjelasan mengenai ABS (Anti-lock braking


System) ialah :
1. ABS (Anti-lock Braking System) menjadi solusi yang tepat dalam upaya
pengurangan tingkat kecelakaan yang sering terjadi pada kendaraan bermotor
terutama pada kendaraan bermotor yang sedang melaju dengan kecepatan
tinggi dimana kondisi jalannya licin atau bersalju.
2. Komponen yang digunakan pada ABS adalah modul control ABS, solenoid
valve, sensor kecepatan, dan tanda untuk status ABS.
3. Konfigurasi yang terdapat pada ABS terdiri dari 3 bagian tergantung dari
jumlah dan peletakan sensor yang digunakan, yaitu 1 channel, 3 channel, dan
4 channel.

9
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, mengenal ABS system rem anti terkunci, http://tips-


otoqita.blogspot.com/2012/05/mengenal-abs-sistem-rem-anti-terkunci.html,
diakses tanggal 29 november 2012
Mitiqo, Panji, Rem ABS (Anti-Lock Braking Sistem),
http://panjimitiqo.wordpress.com/2010/05/22/rem-abs-anti-lock-braking-
sistem/, diakses tanggal 29 November 2012

10