Anda di halaman 1dari 15

Nama : Miftakhur Rohmah

NPM : 1606842890
KASUS 1 : Ekstraksi Fe dari Pasir Besi (Kadar 40 % Fe)

Bijih besi ditemukan dalam bentuk pasir besi yang mengandung senyawa magnetite (Fe3O4),
hematite (Fe2O3), geotithe (Fe2O3.H2O), limonite (2Fe2O3.3H2O), siderite (FeCO3), bahkan
ilmenite (FeTiO3). Proses pyrometalurgi dengan Blast Furnace maupun Electric Arc Furnace
melalui proses smelting akan mereduksi pasir besi menjadi pig iron dengan mensyaratkan
minimal kadar Fe sebesar 56% pada pasir besi. Secara umum tahapan pirometalurgi sebagai
berikut [1]:

Crushing Washing Drying Magnetic Separation Pelletizing Smelting

Benefikasi ore dilakukan dengan cara separasi magnetik, flotasi, separasi gravimetri untuk
memisahkan senyawa silika dari konsentrat [1]. Pasir Besi dari Tanjung Bintan Lampung
dicrushing hingga 100 mesh, lalu diseparasi dengan magnet lemah. Konsentrat yang tertarik
magnet digunakan pada tahap selanjutnya. Blast Furnace mensyaratkan ore burden dalam
bentuk pellet yang ukurannya sebesar 4 cm (green pellet) karena memperhitungkan faktor
permittivitas dan permeabilitas reduktor. Pasir Besi direduksi langsung (DRI proses) dengan
menggunakan gas reduktor berupa CO, H2, CH4. Tahapan reduksi seperti pada reaksi 1 [2]

Fe2O3 Fe3O4 FeO Fe (1)

Komposit pellet (80 % iron ore, 15% coke, 5% bentonite) dikeringkan pada temperatur 110-
120 oC selama 72 jam. Ore burden disusun per layer (coke, iron ore, coke, bentonite) pada
blast furnace. Pada saat proses proses reduksi diinjek Pulverised Coke Iron (PCI) untuk
meningkatkan besaran blast di daerah hearth zone. Parameter yang harus dikontrol adalah
basisitas. Pada saat tapping, pig iron dan slag akan terpisah, kemudian masing masing
diidentifikasi dengan XRD dan XRF. Produk akhir Pig Iron dengan kadar 93.62 % Fe [2]

Tabel 1 Perubahan Komposisi Pasir Besi Setelah Benefikasi


SiO2 Fe Total CaO MgO Al2O3 TiO2
Iron Ore 9.95 54.99 2.85 0.85 1.71 0.93
Washing Proses Result 5.74 58.09 1.28 0.49 1.02 0.63
Magnetic Separation Result 3.4 60.57 0.41 0.23 1.00 0.45

Berdasarkan diagram Ellingham, pada saat temperatur proses 1200 oC, terjadi dua reaksi

Fe2O3 + C 2FeO + 3CO (2)

Fe2O3 + 3CO 2 FeO + 3 CO2 (3)

TUGAS 1
S2 - Metalurgi Ekstraksi Lanjut
Departemen Teknik Metalurgi dan Material FT-UI
Nama : Miftakhur Rohmah
NPM : 1606842890
KASUS 2 : Ekstraksi Ti dari Pasir Besi Titan (Kadar 50%TiO2)

Titanium ditemukan dalam bentuk mineral rutil (TiO2), ilmenite (FeTiO3 atau FeO.TiO2), dan
leucoxene (Fe2O3.nTiO2). Mineral ini berdeposit pada senyawa yang terkandung dalam pasir
besi. Untuk mendapatkan produk logam titanium dilakukan dengan metode pyrometalurgi
menggunakan smelting yang menghasilkan by produk berupa slag titanium kadar tinggi dan
besi-mangan dengan kadar rendah yang harus diproses kembali dengan reduksi langsung atau
proses klor, sedangkan untuk mendapatkan produk pigment TiO 2 dilakukan ekstraksi dengan
metode Hidrometalurgi (HCl leaching / H2SO4 Leaching), seperti pada gambar 1 [1]. Separasi
magnetik atau Gravimetri digunakan untuk memisahkan ilmenite dengan senyawa silika
lainnya pada pasir besi (proses benefikasi).

Gambar 1. Skema Proses Untuk Memproduksi Logam Ti dan Pigment TiO2 [1]

HIDROMETALURGI

1. HCl Leaching
Konsentrat ilmenite dari Pantai Rosetta (Proyek Nuclear Material Authority / NMA)
diseparasi magnetik dengan menggunakan cross-belt magnetic separator, dihasilkan 3 bentuk
antara lain fraksi magnetik (magnetit), fraksi moderat (ilmenit), dan fraksi non magnetik
(garnet, silika, rutile, monazite dan zircon). Ilmenite (rasio solid / likuid 1:5 hingga 1:30)
dicrushing hingga ukuran 150 - 325 mesh kemudian dilarutkan dalam HCl (7-12 M) dan
diagitasi (350 rpm) pada beberapa temperatur selama 1-3 jam.

Tabel 1. Komposisi Ilmenit dari Pasir Rosetta [2]


Oksida TiO2 FeO Fe2O3 MnO V2O5 Cr2O3
Kadar 44.01 28.50 21.41 1.15 0.178 0.29
Oksida Al2O3 CaO SiO2 P2O5 MgO Balance
Kadar 0.9 0.44 0.75 0.26 0.80 Fe

TUGAS 1
S2 - Metalurgi Ekstraksi Lanjut
Departemen Teknik Metalurgi dan Material FT-UI
Nama : Miftakhur Rohmah
NPM : 1606842890
Mekanisme pelarutan ilmenit dalam asam klorida mengikuti reaksi berikut :
FeTiO3 + 4 HCl FeCl2 + TiOCl2 + 2H2O (1)

Slurry yang terbentuk dipisahkan kemudian dicuci dengan air, sedangkan filtrat dianalis
untuk menghitung efisiensi Fe/Ti terlarut. Kondisi tersebut mampu mengekstrak 90% Fe dan
Ti dari pasir ilmenit. Pirohidrolis (reaksi 2 dan 3) bertujuan untuk recovery TiO 2 dan MgO
yang terkandung pada filtrat
TiOCl2 + H2O TiO2 + 2HCl (2)
MgCl2 + H2O MgO + 2HCl (3)

Ilmenite mungkin ber-intergrowth dengan hematite sehingga untuk meningkatkan recovery


TiO2 dilakukan proses Stripping pada larutan hematit dengan penambahan serbuk besi (0.07
kg/kg ilmenit) untuk meningkatkan kecepatan pelarutan dari ilmenit melalui reduksi Fe(III),
sehingga terjadi reduksi pada TiO2 , seperti reaksi 4-
Fe + Fe2O3 + 6 HCl 3 FeCl2 + 3 H2O (4)
2TiO2 + H2 Ti2O3 (5)
Ti2O3 + 6 HCl 2TiCl3 + 3H2O (6)

Gambar 2. Mekanisme Ekstraksi TiO2 dari Ilmenite dengan Hidrochloric Acid Leaching [2]

PYROMETALLURGI
Pasir besi di Danau Pipestone, Northern Manitoba didominasi oleh ilmenite (31%) atau
titanomagnetite (60%) dan vanadium (0.66%) . Untuk recovery besi, titanium, dan vanadium
dilakukan separasi magnetik (magnet lemah) karena ilmenite bergabung dengan matriks
magnetit dan vanadium larut dalam magnetit menggantikan posisi hematit. 150 gram ore di-
smelting di Vertikal Tube Furnace 15kVA (argon atmosfer) pada temperatur 1550 oC. Slag di
roasting dengan penambahan oksigen (4 liter / menit), kemudian di leaching di NaOH pada
temperatur 80oC selama 1-3 jam. Hasil leaching difiltrasi kemudian di leaching dengan asam
klorida untuk recovery TiO2 [3]

TUGAS 1
S2 - Metalurgi Ekstraksi Lanjut
Departemen Teknik Metalurgi dan Material FT-UI
Nama : Miftakhur Rohmah
NPM : 1606842890
Tabel 2 Perubahan Komposisi Pasir Besi Titan Northern Manitob [3]
SiO2 Fe Total CaO MgO Al2O3 TiO2 V
Iron Ore 2.6 57.5 0.12 1.6 2.6 16.6 0.66
Magnetik 1.3 63.1 0.04 0.8 1.5 8.8 0.81
Non Magnetik 5.5 32.7 0.29 4.9 4.9 38.6 0.16

Slag Filtra
Magnetik
Separasi Magnetik Smelting Roast Leaching S/L Separationt HCl Leaching

Logam Residu

Non Logam
Recovery Vanadium Recovery TiO2
Magnetik

Gambar 3. Recovery Besi, Titanium, dan Vanadium [3]

TUGAS 1
S2 - Metalurgi Ekstraksi Lanjut
Departemen Teknik Metalurgi dan Material FT-UI
Nama : Miftakhur Rohmah
NPM : 1606842890
KASUS 3 : Ekstraksi Cu dari Calcophyrite Ore (CuFeS2)

Bijih tembaga ditemukan dalam mineral sulfida seperti pada Kalkopirit (CuFeS 2), Bornite
(Cu5FeS4), dan Kalkosit (Cu2S), yang berikatan dengan mineral silikat kompleks yang
mengandung kalsium,magnesium, dan besi. Selain itu, tembaga juga ditemukan dalam
mineral oksida (malachitet, azurite, cuprite dan karbonat). Kalkopirit merupakan mineral
dengan struktur konfigurasi stabil (kisi Face Centered Tetragonal) sehingga proses ekstraksi
tembaga dari mineral sulfida umumnya menggunakan pyrometalurgi (lebih ekonomis
dibandingkan pirometalurgi untuk meningkatkan kadar Cu) [1]. Sebelum diekstrak melalui
hidrometalurgi / pirometalurgi, kalkopirit dibenefikasi untuk meningkatkan sifat fisik dan
kimia mineral. Untuk proses benefikasi high grade ore dengan cara crushing sehingga
membentuk fine ore dan lump ore. Sedangkan untuk low grade dengan cara washing,
screening, magnetic separation, concentration[2]

A. HIDROMETALURGI
Hidrometalurgi terdiri dari solvent extraction (leaching) dan electrolytic precipitation
(electrowinning). Proses leaching (atmospheric leaching dan pressure leaching) pada
hidrometalurgi biasanya menggunakan klor (chloride leaching), sulfat (sulfate leaching),
nitrat, dan amonia. Proses ekstraksi tembaga pada kalkopirit secara hidrometalurgi mengacu
pada diagram pourbaix. Pada gambar X, ion Cu2+ dalam mineral kalkopirit bisa larut hanya
pada asam dengan pH lebih dari 4, dan potensial reduksi-oksidasi tinggi yaitu lebih dari
+0.4V, sehingga perlu ditambahkan agen pengoksidasi berupa ion ferric [3]. Dekomposisi
kalkopirit sebagai berikut :
CuFeS2 (aq) = Cu2+(aq) + Fe2+(aq) + S0(s) + 4e- Eo= 0.425V (1)

Gambar 1. (A) Konfigurasi Lattice dari Kalkopirit (Betejtin,1977) (b) Diagram Pourbaix Sistem CuFeS2-
H2O pada 25oC (Garrels and Christ, 1965)

Leaching dengan Pelarut Asam Klorida


Pada proses leaching klor, Kalkopirit akan larut dengan ion ferric atau cupric dari
penambahan pelarut berupa FeCl3, dikarenakan kemampuan oksidasi yang tinggi (valensi

TUGAS 1
S2 - Metalurgi Ekstraksi Lanjut
Departemen Teknik Metalurgi dan Material FT-UI
Nama : Miftakhur Rohmah
NPM : 1606842890
tinggi). Leaching menggunakan Klor ini diterapkan pada Cuprex Process, Outokumpu
HydroCopper Process , Sumitomo and Falconbridge Copper Chloride Process , dan Intec
Prosess[1]. Parameter leaching yang biasa diamati adalah lama reaksi, ukuran partikel
konsentrat, rasio FeCl3/CuFeS2, dan temperatur. Reaksi leaching dari kalkopirit berupa reaksi
oksidasi reduksi sebagai berikut :
CuFeS2 + 4FeCl3 CuCl2 + 5FeCl2 + 2So (2)

CuFeS2 + 4Fe3+ + 3O2 + 2H2O Cu2+ + 5Fe2+ + 2H2SO4 (3)

Reaksi samping residu berupa ion Sulfur (kurang dari 5%) harus dioksidasi menjadi ion sulfat

So + 6Fe3+ + 4H2O 6Fe2+ + SO42- + 8H+ (4)

So + 6Cu2+ + 4H2O 6Cu+ + SO42- + 8H+ (5)

Tingkatan reaksi tersebut bergantung pada temperatur dan rasio Cu+/Cu2+. Konsentrasi klorida
(redutor) tinggi akan memberikan konsentrasi Cu+ rendah. Ketika konsentrasi Cu(II) dan
Fe(III) sangat rendah, hanya besi yang ter-leaching (menjadi ion Fe3+) dan besi akan
mengalami presipitat kembali menjadi hematit (reaksi 6), sedangkan tembaga secara bertahap
mengalami presipitasi, seperti pada gambar 2. Jika konsentrasi Cu(II) berlebih sangat rendah,
tembaga akan berpresipitasi seperti reaksi 6-7 [4].

4FeCl3 + 4H2O+O2 2Fe2O3 + 8HCl (6)

Pada tahap 1, impuritas (Fe, Ni, Zn, Co, Mg dan Cu(II)) akan dihilangkan dengan
menggunakan larutan CaCO3 dan NaOH pada pH 4-5. Pada Tahap 2, Ag dihilangkan sebagai
amalgam dengan sementasi pada coating copper. Pada Tahap 3, impurities dengan jumlah
banyak (Zn, Pb, Ni) dihilangkan dengan menambahkan Na 2CO3 sehingga pH berkisar 6-7.
Tahapan akhir yaitu impurities dihilangkan menggunakan resin chelating [4].

2Cu+ + So Cu2+ +CuS (7)

Cu2+ + CuFeS2 Fe2+ +CuS (8)

Cu2+ + CuFeS2 Fe2+ +CuS + Cu2S (9)

Mineral kalkopirit dari Tambang Brunswick Kanada memiliki komposisi seperti tabel 1 di-
leaching dengan larutan klor sebanyak 1 liter secara bertahap. Thickener dan Pressure
Filtration berfungsi untuk memisahkan solid dengan likuid dari tahap 1 dan 2 pada slurry
hasil leaching kalkopirit. Temperatur dikontrol pada 95oC. Agitasi sebesar 850 rpm. Untuk
proteksi oksidasi ferrous dan cuprous, semua operasi pada kondisi nitrogen atmosfer [4].

Tabel 1. Komposisi Mineral Kalkopirit [4]


Pyrrhotit
Fasa Kalkopirit Spalerite Pyrite Anglesite Galena Quartzs
e
Kadar 65% 40% 19.3% 4.2% 4.4% 2.1% 5%

TUGAS 1
S2 - Metalurgi Ekstraksi Lanjut
Departemen Teknik Metalurgi dan Material FT-UI
Nama : Miftakhur Rohmah
NPM : 1606842890

Tabel 2. Komposisi Mineral Kalkopirit dan Bornite [4]


Ukuran
Konsentra Cu Fe Stotal S(SO42-) So S2-
Partikel
t (%) (%) (%) (%) (%) (%)
(m)
Kalkopirit 14 22.4 32.5 34.9 0.61 0.57 33.7
Kalkopirit 30 22.2 32.3 36.0 1.96 0.56 33.5
Bornite 14 40.3 18.8 27.4 0.43 0.06 26.9
Bornite 40 40.1 18.9 28.3 1.12 0.05 27.1

Grinding < 14 m dengan rod mill


Ferric Chloride Untuk menghindari overheating
Pencucian dengan 5% HCl hingga tidak berwarna
Reagent , deionized
grade calcium water
chloride dihydrate (165g/L)
Reagent grade cupric chloride dihydrate (120g/L)
Reagent grade hydrochloric acid

Filtrat CuCl
Cooled to 70oC + Iron Addition
Solvent Extraction dan Purification
Preparation
(reduksi Cu(II) menjadi cupric cuprous
Hot
Slurry
Resid Filtrasi
u
Drying Cement
at 110oC Copper

Menghilangkan sulfur (CS2) di residu 62%


Sulfur pada kalkopirit akan membentuk Washing + Drying
CaSO4.2H2O at 110 oC

Melting 1150oC

Fire Refining

Gambar 2. Diagram Alir untuk Ekstraksi Tembaga melalui Chloride Leaching [4,5]

TUGAS 1
S2 - Metalurgi Ekstraksi Lanjut
Departemen Teknik Metalurgi dan Material FT-UI
Nama : Miftakhur Rohmah
NPM : 1606842890

Gambar 3 Detail Leaching Chloride[4]

B. PYROMETALURGY
Rute Pirometalurgi terdiri dari 4 tahapan utama yaitu [1] :
a. Pengkonsetrasian dengan menggunakan Froth Flotation (jika ore tembaga berupa
oksida tidak perlu dilakukan proses froth flotation)
b. Roasting (opsional)
c. Matte Smelting (menggunakan Blast / Electric / Flash Furnace)
d. Converting menjadi tembaga blister dan slag (untuk menghilangkan Fe dan S dari matte
sehingga produk akhir dengan kemurnian 99%)

Froth Flotation
Froth Flotation digunakan dalam proses separasi untuk mineral kompleks (ukuran 10-100
m) dengan kadar sangat rendah untuk mendapatkan konsentrat tembaga dengan cara
menambahkan reagent sesuai sifat hidrofobik / aerofilic pada permukaan mineral terhadap
gelembung udara. Flotation agent (garam organik, asam amin) akan menyerap mineral yang
direcoveri (hidrofobik), dan mineral lainnya dalam bentuk slurry karena sifatnya yang
hidrofilik. Konsentrat (30% Cu) terbawa oleh gelembung udara akan mengapung ke
permukaan batch kemudian dikumpulkan dan dibersihkan dengan aquades. Impurities dalam
bentuk tailing akan mengendap di dasar batch[6].

Roasting
Konsentrat yang mengandung 10-56% air dipanaskan hingga temperatur 590oC. Reaksi yang
terjadi pada saat roasting sebagai berikut [2]:

2CuFeS2 + 2SiO2 + 4O2 Cu2S + 2FeSiO3 + 3SO2 (10)

2CuFeS2 + 3O2 2 FeO + 2CuS + 2SO2 (11)

Cu2S + O2 2Cu (blister) + SO2 (12)

TUGAS 1
S2 - Metalurgi Ekstraksi Lanjut
Departemen Teknik Metalurgi dan Material FT-UI
Nama : Miftakhur Rohmah
NPM : 1606842890

Gambar 4 Rute Pirometalurgi untuk Proses Ekstraksi Tembaga [2]

TUGAS 1
S2 - Metalurgi Ekstraksi Lanjut
Departemen Teknik Metalurgi dan Material FT-UI
Nama : Miftakhur Rohmah
NPM : 1606842890
KASUS 4 : Ekstraksi Ni dari Limonite Ore

Bijih nikel diklasifikasikan menjadi bijih nikel sulfida dan bijih nikel laterit (Kadar rendah
~1.5 % Ni yaitu Saprolit dan Kadar tinggi ~ 3.5% Ni yaitu Limonite). Saprolit sangat cocok
sebagai bahan baku ferronikel, sedangkan laterit untuk bahan baku logam nikel.. Secara
Hidrometalurgi, High Pressure Acid Leaching (HPAL) diikuti proses solvent extraction
digunakan untuk recovery nikel dan kobalt dari bijih nikel limonit. Atmospheric Leaching
terdiri dari leaching dengan asam organik / anorganik yang diikuti oleh solvent extraction dan
electrowinning / presipitasi. Sedangkan, ekstraksi nikel laterit secara pyrometalurgi
menghasilkan nikel pig iron adalah sebagai berikut [1]:

Crushing Drying Roasting Smelting Purification

Bijih nikel yang berasal dari Daerah Anatolian Timur di crushing dengan menggunakan
crusher, cone crusher, roller crusher dan vibratory cup mill hingga ukuran 303 m.
Homogenisasi dilakukan untuk memperoleh ukuran yang seragam dengan prinsip screen
analysis. Laterit dan kokas dikeringkan pada temperatur 105 oC selama 2 jam. 100 gram ore
ditambahkan 5-35 % kokas dipanaskan dalam Induksi Furnace pada temperatur 1600 1650
o
C selama 25 menit, sehingga diperoleh fasa logam dan fasa slag [1]. Recovery nikel dan
kobalt hingga 83.23 %

Gambar 1. Skema Proses Ekstraksi Ni dari Nikel laterite dengan metode Pirometalurgi[1]

Proses reduksi yang terjadi di Induksi Furnace disebut Proses Reduksi Karbothermik, karena
menggunakan kabon. Karbon direaksikan dengan oksigen sehingga terjadi pembakaran

TUGAS 1
S2 - Metalurgi Ekstraksi Lanjut
Departemen Teknik Metalurgi dan Material FT-UI
Nama : Miftakhur Rohmah
NPM : 1606842890
menghasilkan gas CO, yang digunakan sebagai reduktor sehingga terjadi reaksi reduksi
sebagai berikut [2]:

NiO + CO(g) = Ni + CO2(g) (1)

3Fe2O3 + CO(g) 2Fe3O4 + CO2 (2)

Fe3O4 + 4CO 3FeO + CO2 (3)

FeO + CO (g) Fe + CO2(g) (4)

Nikel dan kobalt bersubstitusi dengan besi di dalam matriks geotite dari bijih limonit
sehingga harus diolah secara hidrometalurgi, contohnya atmospheric acid leaching. Leaching
menggunaka asam klorida (2.5-3 mol/L HCl) sehingga rasio solid/likuid sebesar 6-11ml/g
selama 20-120 menit. Pemisahan solid likuid hasil leaching menggunakan centrifuge
dengan diputar 4500 rpm selama 10 menit. Filtrat ditambahkan NaOH supaya pH netral dan
dipanaskan pada temperatur 105 oC, sehingga terjadi presipitasi. 3.75% NiO dan 0.39%
Co2O3 berhasil direcovery pada produk presipitasi dengan adanya impuritas berupa
Mg2Fe3O4, sehingga diperlukan metode lanjut untuk meningkatkan kemurnian Ni dan Co [3]

Gambar 2. Skema Recovery Ni dan Co melalui metode Atmospheric Leaching [3]

TUGAS 1
S2 - Metalurgi Ekstraksi Lanjut
Departemen Teknik Metalurgi dan Material FT-UI
Nama : Miftakhur Rohmah
NPM : 1606842890
KASUS 5 : Ekstraksi Logam Tanah Jarang dari Bijih Nikel

Endapan laterit mengandung unsur tanah jarang tipe ion-adsoprtion yang terbentuk dari
batuan asal berupa batuan granitik, yang kemudian mengalami pelapukan. Sebagai contoh
laterit di Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah, Keterdapatan cerium (140 ppm),
Lantanum(54 ppm), Lutetium (10 ppm), Neodimium, Praseodimium, Gadolinium, Scandium
lebih cenderung pada lapisan laterit permukaan yang masih kaya dengan oksida besinya
(berasosiasi dengan ultramafic mafic igneous rock), dan tidak ditemukan dalam lapisan
saprolit. Pada lapisan saprolit hanya ditemukan Disproium (<10 ppm), Tuliumm (<10 ppm),
Ytterbium (<10 ppm) , Samarium (22 ppm) [1]

Scandium sebagai by product proses ekstraksi nikel-kobalt dari laterit secara hidrometalurgi.
High Pressure Acid Leaching (asam sulfida) dapat mengekstraksi 80.6% scandium yang
terikut dalam filtrat (pregnant leach solution) berupa Sc(III) Sulfat Oktahidrat. Larutan
diproses dengan metode Mixed Sulphide Precipitate (MSP) dan Mixed Hydroxide Precipitate
(MHP) untuk recoveri nikel dan kobalt sebagai produk intermediate. Pada metode MSP,
larutan ditambahkan gas hidrogen sulfid sehingga terhadi presipitasi selektif, sedangkan pada
metode MHP, pH (2.5-3) dan temperatur (80-95oC) larutan diatur untuk mendapatkan
presipitat nikel-kobal hidroksida[2].

Gambar 1. Ekstraksi Scandium dengan Metode Presipitasi Hidroksida (MHP)[3]


TUGAS 1
S2 - Metalurgi Ekstraksi Lanjut
Departemen Teknik Metalurgi dan Material FT-UI
Nama : Miftakhur Rohmah
NPM : 1606842890
Laju presipitasi Fe(III) > Al(III) > Sc(III) > Cr(III) > Cu(II) > Fe(II) > Zn(II) > Ni(II) >
Co(II) > Mn(II) > Mg(II) > Ca(II). Peningkatan pH dapat menyebabkan reaksi hidrolisis pada
larutan sehingga laju presipitasi. Larutan leaching berupa asam sulfat ditambahkan CaCO 3
(25g/100cc air), slurry yang terbentuk dipisahkan dengan menggunakan pompa vakum.
Padatan pada pompa vakum kemudian dicuci dengan air de-ionised pada pH tertentu (untuk
meminimalisir presipitasi selama proses pencucian). Likuid dan solid dianalisa dengan
metode ICP-OES. Proses precipitasi ini diulangi dua kali (rasio S/L 0.2 , 60 oC, selama 1 jam)
untuk menghilangkan nikel kobalt co-presipitasi. Kondisi ini berhasil meningkatkan Sc
hingga 153 ppm[3].

Selain itu, scandium bisa diekstrak dengan menambahkan senyawa organik fosfor pada
proses solvent extraction seperti Ionquest 290 (Bis(2,4,4-trimethylpenthyl) phosphonic acid),
DEHPA (Di(2-ethylhexyl) phosphoric acid), Cyanex 272 ((Bis(2,4,4-trimethylpentyl)
phosphinic acid) which are acidic organophosphorus compounds, and Cyanex 923
(Trialkylphosphine oxide). Senyawa DEHPA memberikan efisiensi paling tinggi dengan
ekstraksi besi rendah pada pH 0.55 dan rasio S/L 10:1[4]

Filtrat
Leaching Selective Precipitation
Solid/ Liquid Separation Solid/ Liquid Separation Leaching
Sulfuric Acid

pH 2.5- Adding NaCO3,


3.5 Flocullant NaOH, MgO, Solid/ Liquid Separation
(basa) Mg(OH)2
pada pH 4.5-6
Gambar 2 Prinsip Ekstraksi Scandium dari Lateritic Ore [5]

TUGAS 1
S2 - Metalurgi Ekstraksi Lanjut
Departemen Teknik Metalurgi dan Material FT-UI
Nama : Miftakhur Rohmah
NPM : 1606842890
DAFTAR PUSTAKA

CASE 1 : Ekstraksi Fe dari Pasir Besi (Kadar 40 % Fe)


[1] M. Benvenuti, A. Orlando, D. Borrini, L. Chiarantini, P. Costagliola, C. Mazzotta, dan V. Rimondi.
2016. Experimental smelting of iron ores from Elba Island (Tuscany, Italia) Results and
Implications for the reconstruction of ancient metallurgical Processes and Iron Provenance. Journal
of Archaeological Science Vol 70 pp 1-14
[2] Inugroho, Kusno dan Birawidha,David. 2016. The Production of Pig Iron from Crushing Plant
waste using Hot Blast Cupola. Alexandria Engineering Journal.

CASE 2 : Ekstraksi Ti dari Pasir Besi Titan (Kadar 50%TiO2)


[1] Wensheng Zhang, Zhaowu Zhu, Chu Yong Cheng. (2011). A Literature Review of Titanium
Metallurgical Processes. Hydrometalurgi Vol 108 pp 177-188
[2] N El Hazek, T.A Lashen, R. El-Sheikh, Salah A Zaki. 2007. Hydrometallurgical criteria for TiO2
Leaching from Rosetta Ilmenite by hydrochloric acid. Hydrometallurgy vol 87 pp 45-50

CASE 3 : Ekstraksi Cu dari Calcophyrite Ore (CuFeS2)


[1] Wang, Shijie.(2005). Copper Leaching from Chalcopyrite Concentrates. Journal of the Minerals,
Metals, and Material Society Vol 57 Issue 7. Pp 48
[2] Babich, A., Senk, D., Gudenau, W.H., Mavrommatis, K.Th., (2008), Iron Making Textbook, 1st
edition, Institut fur Eisenhuttenkunde der RWTH Aachen, Aachen
[3] E.M Cordoba, J.A Munoz, M.L Blazquez, F.Gonzales and A. Ballester. (2008). Leaching of
Chalcopyrite with Ferric Ion. Part 1: General Aspect . Hydrometallurgy Vol 93. pp 81-87
[4] Lu, Jianming and Dreisinger,David. 2013. Copper Chloride Leaching from Chalcopyrite and
Bornite Concentrates Containing High Level of Impurities and Minor Elements. Hydrometallurgy
Vol 138 pp 40-47
[5] F.P Haver and M.M Wong.1971. Recovery of Copper, Iron, and Sulfur from Chalcopyrite
Concentrate using a Ferric Chloride Leach. Journal of Metal Vol 23 issue 2 pp 25-29
[6] Reza M Rahman, Seher Ata, Graeme J. Jameson. (2012). The Effect of Flotation Variables on the
recovery of different Particle Size Fraction in the froth and The Pulp. International Journal of
Mineral Processing. Vol 106-109 pp 70-77

CASE 4 : Ekstraksi Ni dari Limonite Ore


[1] Halil Yidrim, Hakan Morcali, Ahmet Turan, dan Onuralp Yucel. 2013. Nikel Pig Iron Production
From Lateritic Nickel Ore. Ferronickel Production And Operation. The Thirteent International
Ferroalloys Congress Efficient Technologies in Ferroalloy Industri.
[2] Mingjun Rao, Guanghui Li, Tao Jiang, Jun Luo, Yuanbo Zhang, dan Xiaohui Fan. 2013.
Carbothermic Reduction of Nikeliferous Lateritic Ore for Nickel Pig Iron Production in China : A
Review. Journal of the Minerals, Metal & Material Society. Vol 66 No 11
[3] Jian Ming Gao, Zhi Kai Yan, Jing Liu, Mei Zhang, Min Guo. 2014. A Novel Hydrometallurgical
approach to Recover Valuable metals from Laterite Ore. Hydrometallurgy Vol 150 pp 161-166

CASE 5 : Ekstraksi Logam Tanah Jarang dari Bijih Nikel


[1] Kisman, KPP Mineral Logam. 2015. Prospeksi Unsur Tanah Jarang / Rare Earth Element (REE) di
Kabupaten Banggai Provinsi Sulawesi Tengah. Kementrian Energi Sumber Daya dan Mineral

TUGAS 1
S2 - Metalurgi Ekstraksi Lanjut
Departemen Teknik Metalurgi dan Material FT-UI
Nama : Miftakhur Rohmah
NPM : 1606842890
[2] Serif KAYA, Yavuz TOPKAYA, dan Carsten DITTRICH. 2015. Hydrometallurgical Extraction of
Scandium From Lateritic Nickel Ores. Bauxite Residue Valorisation and Best Practices. Leuven
[3] Ece Ferizoglu, Serif kaya, Yavuz Topkaya. 2016. Recovery of Scandium from Lateritic Nickel
Ores. UCTEA Chamber of Metallrurgical & Materials Engineers. Proceeding Book
[4] Ece Ferizoglu, Serif kaya, Yavuz Topkaya. 2016. Solvent Extraction of Scandium from Lateritic
Nickel- Cobalt Ore using different organic reagents. Mineral Engineering Conference , Vol 8,
Artikel Number 01043
[5] Vale S.A , Rio de Janeiro, Indje Mihaylov, Ryan Peterson, Avinush Singhai, Christoper. 2014.
Method For Recovering Scandium From Intermediate Products Formed In The Hydrometallurgical
Processing of laterite Ores. US Patent 20140314639A1

TUGAS 1
S2 - Metalurgi Ekstraksi Lanjut
Departemen Teknik Metalurgi dan Material FT-UI