Anda di halaman 1dari 21

A.

Definisi Manajemen Pemasaran Menurut Para Ahli


1. Philip Kotler/Armstrong (2002:14), yang diterjemahkan Wilhelmus W.
Bakowatun :
Manajemen pemasaran adalah analisis, perencanaan, pelaksanaan,
dan pengendalian atas program yang dirancang untuk menciptakan,
membangun, dan mempertahankan pertukaran yang menguntungkan
dengan pembeli sasaran dengan maksud untuk mencapai sasaran
organisasi
2. Philip Kotler dan Armstrong (2003)
Manajemen pemasaran merupakan kegiatan yang dirancang untuk
menciptakan dan mempertahankan pertukaran yang memberikan
manfaat atau keuntungan melalui suatu analisis, perencanaan,
implementasi dan pengendalian program yang terencana untuk
mencapai target organisasi.
3. Phillip Kotler dan Keller (2006)
Manajemen pemasaran adalah sebuah ilmu yang mempelajari tentang
cara pemilihan dan memperoleh target pasar, mempertahankan dan
mengembangkan pelanggan dengan menciptakan, menyampaikan, dan
mengkomunikasikan keunggulan suatu nilai kepada pelanggan.
4. Philip William J. Shultz (dalam buku Prof. Dr. H. Buchari Alma,
Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa, cetakan-7, 2005, p130):
Manajemen pemasaran adalah merencanakan, pengarahan, dan
pengawasan seluruh kegiatan pemasaran perusahaan ataupun bagian
dari perusahaan.
5. John W. Mullins :
Marketing management is the process of analyzing, implementing,
coordinating, and controlling programs, involving the conception, pricing,
promotion, and distributions of products, services and ideas designed to
create and maintain beneficial exchanges with target market for the
purpose of achieving organizational objectives.
6. Peter R. Dickson :
Marketing management is the many and variate organizational activities
involved in understanding what consumer want and how they behave.
Kesimpulan: Manajemen pemasaran adalah melakukan rangkaian
proses untuk menciptakan suatu nilai guna membantu pencapaian tujuan
organisasi atau perusahaan. Kegiatan pemasaran itu dilakukan melalui
serangkaian proses perencanaan, pengarahan, pengendalian, dan
penetapan harga, pemetaan distribusi, serta kegiatan promosi.
B. Perbedaan Barang dan Jasa

Beberapa perbedaan antara jasa dan barang menurut Edward W.


Wheatley ada delapan perbedaan yaitu:

1) Pembelian jasa, sangat dipengaruhi oleh motif yang didorong oleh emosi.

2) Jasa bersifat tidak berwujud, berbeda dengan barang yang bersifat


berwujud, dapat dilihat, dirasa, dicium, memiliki berat, ukuran dan
sebagainya.

3) Barang bersifat tahan lama, tetapi jasa tidak. Jasa dibeli dan dikonsumsi
pada waktu yang sama.

4) Barang dapat disimpan, sedangkan jasa tidak dapat disimpan.

5) Ramalan permintaan dalam marketing barang merupakan masalah, tidak


demikian halnya dengan marketing jasa. Untuk menghadapi masa-masa
puncak, dapat dilatih tenaga khusus.

6) Adanya puncak yang sangat padats, merupakan masalah tersendiri bagi


marketing jasa.

7) Usaha jasa sangat mementingkan unsur manusia

8) Distribusinya bersifat langsung, dari produsen ke konsumen.

Ada tiga karakteristik jasa menurut Berry, yang dikutip oleh Alma (1998:45):

1. Lebih bersifat tidak berwujud daripada berwujud (more intangible than


tangible).

Benda dan barang yang dibeli atau digunakan sehari-hari adalah sebuah
obyek, sebuah alat atau sebuah benda, sedangkan jasa merupakan
perbuatan, penampilan atau sebuah usaha. Bila membeli suatu barang
maka barang tersebut diapakai dan ditempatkan pada suatu tempat. Tapi
bila membeli jasa, maka pada umumnya tidak ada wujudnya. Konsep
tidak berwujud ini, mempunyai arti bahwa

- Sesuatu yang tidak dapat disentuh atau tidak dapat dipahami.

- Sesuatu yang tidak dapat didefinisikan, tidak mudah diformulasikan.

2. Produksi dan konsumsi berjalan serempak.

Jasa diproduksi dan dikonsumsi dalam jangka waktu yang sama. Pada
umumnya, barang diproduksi dulu kemudian dijual dan dikonsumsi.
Sedangkan jasa biasanya dijual dulu, kemudian diproduksi dan
dikonsumsi secara serempak. Dikatakan produksi dan kosumsi berjalan
serempak artinya si penghasil jasa, sering hadir secara fisik, pada waktu
kosumsi berlangsung. Arti kehadiran produsen jasa, bahwa distribusi jasa
merupakan hal yang sangat penting. Pemasaran jasa yang penting ialah
bagaimana menyalurkannya dalam cara yang tepat.

3. Kurang memiliki standar dan keseragaman.

C. Konsep dan Ruang Lingkup Manajemen Pemasaran


Dengan batasan pengertian mengenai manajemen pemasaran seperti di atas,
maka akan tercakup ruang lingkup yang sangat luas. Secara singkat dapat
dinyatakan bahwa manajemen pemasaran mencakup seluruh falsafat,konsep,
tugas, dan proses manajemen pemasaran. Pada umumnya ruang lingkup
manajemen pemasaran meliputi:
1. Falsafah manajemen pemasaran yang mencakup konsep dan proses
pemasaran serta tugas-tugas manajemen pemasaran.
2. Faktor lingkungan pemasaran merupakan faktor yang tidak dapat
dikendalikan pimpinan perusahaan.
3. Analisis pasar yang mencakup ciri-ciri dari masing-masing jenis pasar,
analisis produk, analisis produk, analisis konsumen, analisis persaingan
dan analisis kesempatan pasar.
4. Pemilihan sasaran (target) pasar, yang mencakup dimensi pasar
konsumen, perilaku konsumen, segmentasi pasar dan kriteria yang
digunakan, peramalan potensi sasaran pasar dan penentuan wilayah
pasar/penjualan.
5. Kebijakan dan strategi produk, yang mencakup strategi, pengembangan
produk, strategi produk baru, startegi lini produk, dan strategi acuan
produk (product mix).
6. Kebijakan dan strategi penyaluran, yang mencakup strategi penyaluran
distribusi dan strategi distribusi fisik.
7. Organisasi pemasaran, yang mencakup tujuan perusahaan dan tujuan
bidang pemasaran, struktur organisasi pemasaran, proses dan iklim
perilaku organisasi pemasaran.

Konsep pemasaran mengatakan bahwa kunci untuk mencapai tujuan


organisasi terdiri dari penentuan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran
serta memberikan kepuasaan yang diharapkan secara lebih efektif dan
efisien dibandingkan para pesaing.
Konsep pemasaran yang telah diungkapkan dengan berbagai cara:
1. Temukan keinginan pasar dan penuhilah.
2. Buatlah apa yang dapat dijual dan jangan berusaha menjual apa yang
dapat dibuat.
3. Cintailah pelanggan, bukan produk anda.
4. Lakukanlah menurut cara anda (Burger king)
5. Andalah yang menentukan (United Airlines)
6. Melakukan segalanya dalam batas kemampuan untuk menghargai uang
pelanggan yang sarat dengan nilai, mutu dan kepuasan (JC. Penney).
Masih menurut Kotler dan Armstrong, praktik dari konsep pemasaran
seringkali berarti lebih dari sekadar merespon keinginan dan kebutuhan
pelanggan. Trend di masa mendatang adalah pemasaran yang
menggerakkan pelanggan (marketing that drives customers), yang mana
perusahaan melakukan riset mendalam untuk mempelajari kebutuhan
pelanggan, keinginan, permintaan, hasrat, impian, harapan, situasi dan
bahkan problema pelanggan, kemudian mengumpulkan berbagai gagasan
produk/jasa baru, merencanakan dan mengujinya sebelum produk itu
didistribusikan ke pasar. Pada tahap lebih lanjut, pemasaran yang
menggerakkan pelanggan berupaya memahami kebutuhan pelanggan jauh
lebih baik daripada pelanggan memahami diri mereka sendiri, sehingga
tercipta produk yang bukan hanya dibutuhkan saat ini, melainkan juga
dibutuhkan pada masa mendatang.
Dalam pemasaran terdapat enam konsep yang merupakan dasar
pelaksanaan kegiatan pemasaran suatu organisasi yaitu : konsep produksi,
konsep produk, konsep penjualan, konsep pemasaran, konsep pemasaran
sosial, dan konsep pemasaran global.
1. Konsep produksi
Konsep produksi berpendapat bahwa konsumen akan menyukai produk
yang tersedia dimana-mana dan harganya murah. Konsep ini berorientasi
pada produksi dengan mengerahkan segenap upaya untuk mencapai
efesiensi produk tinggi dan distribusi yang luas. Disini tugas manajemen
adalah memproduksi barang sebanyak mungkin, karena konsumen
dianggap akan menerima produk yang tersedia secara luas dengan daya
beli mereka.
2. Konsep produk
Konsep produk mengatakan bahwa konsumen akan menyukai produk
yang menawarkan mutu, performansi dan ciri-ciri yang terbaik. Tugas
manajemen disini adalah membuat produk berkualitas, karena konsumen
dianggap menyukai produk berkualitas tinggi dalam penampilan dengan
ciri ciri terbaik
3. Konsep penjualan
Konsep penjualan berpendapat bahwa konsumen, dengan dibiarkan
begitu saja, organisasi harus melaksanakan upaya penjualan dan
promosi yang agresif.
4. Konsep pemasaran
Konsep pemasaran mengatakan bahwa kunsi untuk mencapai tujuan
organisasi terdiri dari penentuan kebutuhan dan keinginan pasar sasaran
serta memberikan kepuasan yang diharapkan secara lebih efektif dan
efisien dibandingkan para pesaing.
5. Konsep pemasaran sosial
Konsep pemasaran sosial berpendapat bahwa tugas organisasi adalah
menentukan kebutuhan, keinginan dan kepentingan pasar sasaran serta
memberikan kepuasan yang diharapkan dengan cara yang lebih efektif
dan efisien daripasda para pesaing dengan tetap melestarikan atau
meningkatkan kesejahteraan konsumen dan masyarakat.
6. Konsep Pemasaran Global
Pada konsep pemasaran global ini, manajer eksekutif berupaya
memahami semua faktor- faktor lingkungan yang mempengaruhi
pemasaran melalui manajemen strategis yang mantap. tujuan akhirnya
adalah berupaya untuk memenuhi keinginan semua pihak yang terlibat
dalam perusahaan.

D. STP (Segmentation, Targeting dan Position)

Menurut Schnars (1998) yang menjadi fokus strategi pemasaran


khususnya pada tingkat makro adalah variable bauran pemasaran, yang
terdiri atas produk, harga, distribusi, dan promosi. Karenanya dalam
menetapkan strategi harus mencakup proses penetapan dan pemilihan
harga untuk suatu produk, desain, promosi serta alur distribusinya.
Tujuan pemasaran untuk membantu perusahaan dalam upayanya
untuk menggapai tujuan dan target perusahaan secara menyeluruh. Untuk
mencapai tujuan pemasaran maka dirancang suatu strategi pemasaran yang
dilakukan dalam bentuk bauran pemasaran (marketing mix). Strategi
pemasaran terdiri dari STP, yaitu segmenting, targeting dan positioning.
1) Segmenting
Segmentasi merupakan tahapan awal pada strategi pemasaran.
Segmentasi pasar atau segmenting, adalah suatu proses untuk membagi-
bagi pasar ke dalam kelompok tertentu yang berbeda, dimana dalam
setiap kelompok memiliki karakter, kebutuhan dan keinginan yang hampir
sama, dimana membuat mereka memilki perilaku yang mungkin sama
terhadap produk yang ditawarkan (Kotler dan Amstrong, 2003).
Sedangkan menurut Kasali (1998), segmentasi adalah proses
menggolongkan pasar (yang heterogen) ke dalam kelompok potencial,
baik yang memiliki kesamaan kebutuhan maupun kesamaan karakter,
dan juga yang memiliki respon yang sama dalam membelanjakan
uangnya.
Segementasi dapat dilakukan dengan mengkelompokan
konsumen berdasarkan geografi, demografi, psikografi, perilaku dan lain-
lain. Dalam memisahkan pasar tersebut perusahaan memiliki cara yang
berbeda-beda. Profil dan karakteristik yang ada dalam masing-masing
segmen kemudian dikembangkan guna mencari informasi untuk
mengetahui daya tarik konsumen. Menurut Pemasar berada pada posisi
yang lebih baik dalam menentukan dan membandingkan peluang
pemasaran.

2) Targeting
Setelah melakukan analisis segmentasi, tahapan selanjutnya
menetapkan target pasar atau targeting guna memilih sasaran pasar yang
dituju. Menurut Kasali (1998), targeting merupakan satu atau beberapa
segmen pasar yang senantiasa fokus akan menjadi fokus kegiatan
pemasaran serta meninggalkan segmen yang lain.
Menurut Hasan (2009), targeting merupakan kegiatan untuk
menentukan pasar yang disasar, yaitu merupakan tindakan memilih satu
atau beberapa segmen untuk dilayani. Untuk itu diperlukan suatu analisis
atas daya tarik segmen dan kekuatan bisnis untuk pemanfaatan suatu
peluang yang ada. Adapun analisis target pasar adalah kegiatan untuk
melakukan evaluasi daya tarik masing-masing segmen dan kemudian
memilih segmen-segmen sasaran yang dituju.
Dalam menentukan segmen pasar yang ingin dituju, perusahaan
harus terlebih dahulu mengenali seberapa luas pasar yang akan
dimasuki. Dalam melakukan evaluasi segmen yang akan dituju terdapat
beberapa hal yang harus diperhatikan, seperti ukuran segmen,
pertumbuhan segmen, daya tarik struktural, tujuan perusahaan, dan
sumber daya perusahaan guna memastikan penetapan segmen yang
dilakukan oleh perusahaan tetap fokus pada target perusahaan yang
ingin dicapai.
3) Positioning
Positioning merupakan langkah selanjutnya setelah menetapkan sasaran
pasar yang dipilih oleh perusahaan. Tujuan positioning adalah untuk
menenamkan persepsi ke dalam benak konsumen akan posisi suatu
produk. Beberapa ahli juga mendefinisikan sebagai berikut :
a. Menurut Tjiptono (2000), positioning merupakan suatu strategi untuk
menciptakan diferensiasi yang unik di dalam benak konsumen untuk
membentuk suatu citra merek atau keunggulan suatu produk
dibandingkan dengan pesaingnya.
b. Menurut Kotler (2000) positioning merupakan suatu penawaran
perusahaan atas suatu keunikan dan citra yang dimilikinya sehingga
dapat menonjolkan keunggulannya dan memperoleh tempat di hati
konsumen.
c. Kasali (1998), positioning adalah strategi komunikasi untuk memasuki
pikiran konsumen, agar suatu produk/merek/nama memiliki arti tertentu
guna mencerminkan keunggulan terhadap pesaingnya dalam bentuk
hubungan asosiatif.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa positioning merupakan suatu
strategi pemasaran yang menitikberatkan kepada komunikasi perusahaan
untuk menyampaikan suatu keunggulan dan nilai lainnya atas produk
yang di tawarkan melalui suatu keunikan tertentu agar dapat lebih mudah
diingat dan diterima oleh konsumen. Melalui strategi positioning
diharapkan agar produk yang ditawarkan tersebut akan mendapatkan
sambuan positif dibandingkan dengan produk pesaing.

E. Dasar-dasar Segmentation

F. Costumer Relationship Marketing


G. Kuesioner Marketing Research
H. Definisi Marketing Mix
Bauran pemasaran atau Marketing mix adalah usaha yang pokok
yang erat hubungannya dengan pasien yang dituju, jadi rumah sakit yang
secara khusus erat dengan perilaku pasien untuk melakukan pemanfaatan
pelayanan (Sabarguna, 2012).
Perusahaan kemudian merancang bauran pemasaran yang
terintegrasi untuk menghasilkan respons yang diinginkan dalam pasar
sasaran.
Menurut Kotler dan Amstrong (2003), bauran pemasaran (marketing
mix) merupakan serangkaian alat pemasaran yang dapat dikendalikan,
dimana di dalamnya termasuk produk, harga, tempat (distribusi), dan promosi
yang dapat satu padukan oleh perusahaan guna menghasilkan tanggapan
yang diinginkan oleh perusahaan dalam mencapai sasaran pasar.
Berdasarkan definisi di atas dapat dikatakan bahwa strategi
penentuan produk, harga, tempat (distribusi), dan promosi akan menentukan
tingkat keberhasilan pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan untuk
mempengaruhi adanya permintaan suatu produk. Kotler dan Keller (2006),
menyebutkan bahwa bauran pemasaran itu sendiri dikelompokan menjadi 4
P, yaitu :
1. Product (produk)
Produk merupakan elemen penting dalam bauran pemasaran.
Besaran suatu harga yang ditetapkan untuk sebuah produk akan sangat
tergantung dari nilai yang dimiliki atas produk tersebut. Nilai tersebut
muncul berdasarkan kekuatan atribut-atribut produk yang melekat,
semakin kuat manfaat dan keunggulan suatu produk, maka semakin
tinggi nilai atas produk tersebut.
Berikut adalah beberapa hal penting yang perlu diperhatikan
mengenai produk: Menurut Buchari dan Alma (2004), produk adalah
seperangkat atribut baik yang diterima oleh pembeli guna memuaskan
keinginan dan kebutuhan. Atribut yang dimaksud adalah baik yang
berwujud maupun tidak berwujud, yang di dalamnya meliputi warna,
harga, nama baik perusahaan, nama baik pengecer, dan pelayanan.
Sedangkan menurut Kotler dan Amstrong (2003), produk adalah
segala sesuatu yang ditawarkan kepada pasar untuk mendapat perhatian,
dapat digunakan, atau dapat dikonsumsi, dan dapat memuaskan
kebutuhan atau keinginan pemakainya.
Kualitas suatu produk yang baik adalah apabila spesifikasi dan
standar yang terdapat pada produk tersebut telah memenuhi keinginan
pasar. Terlebih perkembangan konsep pemasaran saat ini berorientasi
pada pembeli di pasar, oleh karena itu kepuasan pelanggan menjadi
fokus perusahaan. Konsep buyers market yang berorientasi pada
kepuasan pelanggan membawa orientasi perusahaan kepada pasar,
sehingga spesifikasi konsumen sebagai salah satu persyaratan
penentuan kualitas akan menjadi sangat penting, karena yang dapat
menentukan kualitas produk adalah pengguna langsung produk itu sendiri
atau konsumen, sehingga perusahaan harus lebih fokus untuk
menghasilkan produk yang berkualitas baik.
2. Price (harga)
Harga adalah sejumlah nilai yang dipertukarkan guna memperoleh
suatu produk, biasanya diperhitungkan dengan nilai uang. Penetapan
harga harus sesuai dengan manfaat dari produk yang ditawarkan.
Ketidaksesuaian penetapan harga dengan manfaat produk yang
ditawarkan akan berakibat pada turunnya tingkat kepercayaan konsumen
kepada produk, dan dapat berakibat konsumen beralih kepada produk
kompetitor.
Perusahaan harus dapat menetapkan harga secara kompetitif
terhadap harga produk pesaing, dan menyatu padankan unsur harga
dengan unsur 4 P lainnya. Oleh karena itu penetapan tingkat harga
sebuah produk harus mempertimbangkan dengan besarnya biaya
produksi, manfaat produk dan tingkat daya beli konsumen di pasar (cost
to the customer).
Menurut Kotler (1999), tujuan utama dalam melakukan penetapan
harga adalah :
a. Survival, perusahaan berupaya mempertahankan eksistensinya agar
tidak tergerus di tengah persaingan yang dihadapi, misalnya
bagaimana perusahaan dapat mengelola kegiatan operasionalnya
ketika menghadapi permintaan yang melonjak atau ketika menerima
keluhan dari konsumen. Untuk dapat mempertahankan eksistensinya,
perusahaan dituntut agar tidak semata-mata mencari keuntungan
dengan menetapkan harga yang tinggi, tetapi perusahaan juga
dituntut harus cermat dalam penetapan harga, asalkan harga
tersebut dapat menutupi biaya yang dikeluarkannya.
b. Maximum current profit, yaitu perusahaan memprediksi jumlah
permintaan dan besaran biaya yang timbul berkaitan dengan
kegiatan produksi guna merencanakan penetapan harga atas suatu
produk.
c. Maximum current revenue, yaitu perusahaan berupaya
memaksimalkan pendapatan dengan cara meperkirakan jumlah
penerimaan yang diterimanya saat itu. Melalui cara tersebut
perusahaan memiliki acuan dan dasar dalam menentukan besaran
harga yang dapat disesuaikan dengan ekspektasi besaran
pendapatan yang diharapkan saat itu.
d. Maximum sales growth, yaitu dimana perusahaan berupaya untuk
memaksimalkan penjualan, dimana tingginya tingkatpenjualan akan
berdampak pada pengurangan biaya produksi per-unit. Dengan
demikian perusahaan dapat menetapkan harga yang lebih rendah
atas produk tersebut, dengan harapan pasar akan lebih tertarik untuk
membeli produk tersebut.
e. Maximum market skimming, yaitu strategi penetapan harga yang
tinggi pada saat baru memasuki pasar. Hal ini dapat diterapkan jika
produk yang ditawarkan oleh perusahaan memiliki inovasi yang baru
dan belum pernah beredar di pasar.

Harga merupakan unsur tersirat dalam suatu kegiatan pemasaran.


Namun harga bukan satu-satunya yang mempengaruhi perilaku
konsumen dalam keputusan pembelian. Faktor lainnya dalam bauran
pemasaran juga memiliki peranan tidak kalah penting yang dapat
mempengaruhi konsumen dalam pengambilan keputusan.
3. Place (distribusi/ tempat)
Distribusi/tempat adalah merupakan rangkaian aktivitas yang
dilakukan oleh perusahaan agar produk yang dijual dapat mudah
diperoleh dan tersedia pada tempat yang tepat, kualitas yang tepat, dan
jumlah yang tepat, yaitu dapat diperoleh dimana konsumen biasanya
membeli produk tersebut. Kemudahan dan kenyamanan tempat dalam
memperoleh barang merupakan salah satu faktor utama untuk
mempertahankan product life cycle (convenience).
Perusahaaan dapat melakukan distribusi dengan menggunakan
pengecer, pedagang besar, ataupun distributor. Proses distribusi memiliki
peranan sangat penting untuk menjamin ketersediaan barang di pasar.
Untuk memperlancar aktivitas distribusi, khususnya dalam dunia bisnis
retail, produsen sangat membutuhkan kerja sama dengan mata-mata
rantai distribusi, misalnya dalam industri koran, penerbit koran sangat
mengandalkan kinerja agen-agen koran untuk menjamin agar korannya
dapat beredar di pasar sesuai pada waktu dan tempat dimana konsumen
membutuhkannya.
4. Promotion (promosi)
Menurut Belch dan Belch (2004) promosi merupakan statu cara
untuk mengkomunikasikan keunggulan produk guna membujuk target
customer untuk melakukan pembelian (communication). Adapun alat
utama dalam bauran promosi adalah:
a. Advertising, yaitu non-personal presentation dan promosi atas suatu
ide, organisasi, produk atau jasa oleh sponsor.
b. Sales promotion, suatu kegiatan jangka pendek untuk menarik
konsumen melalui promosi yang memberikan nilai tambah atau
insentif kepada pembeli untuk mencoba atau membeli suatu produk
atau jasa.
c. Public relations, aktivitas pemasaran yang dirancang untuk
mempromosikan citra dan produk perusahaan
d. Personal selling, yaitu melakukan interaksi secara langsung kepada
satu atau beberapa pembeli yang potensial untuk menjelaskan
keunggulan produk yang ditawarkan dan melakukan tanya jawab
hingga pemesanan pembelian.
e. Direct marketing, yaitu aktivitas pemasaran yang dilakukan dengan
pengunaan surat, telepon, fax, atau hubungan langsung lainnya guna
mengkomuniksikan keunggulan produk atau jasa kepda konsumen
yang spesifik.
Bauran pemasaran memiliki peranan penting baik bagi penjual
maupun pelanggan. Dari sudut pandang penjual, alat pemasaran ini
berfungsi untuk menerapkan nilai-nilai penting yang perlu ditonjolkan
dalam menawarkan produk kepada pelanggan untuk membujuk mereka
membeli produk tersebut. Dari sudut pandang pembeli alat pemasaran ini
dirancang untuk memberikan keuntungan bagi konsumen.

Kelompok keputusan penting bagi pemasaran rumah sakit adalah 10 P,


yaitu :
No Kode Keputusan Contoh
Pemasaran
1 P1 Product/Service Jenis & Jumlah Pelayanan Rs, Data Rekam
Medis
2 P2 Place Lokasi Rs di daerah tertentu, penempatan
lokasi pelayanan
3 P3 Price Penentuan tarif, tarif yang kompetitif
4 P4 Promotion Penyebarluasan keg. Pelayanan RS dan
leaflet, kalender
5 P5 Proffesional Keberadaan dokter spesialis dan keramahan
perawat
6 P6 People Peran karyawan bagian informasi dan bagian
pertamanan
7 P7 Public Peran pasien yang loyal, dan peran pemilik
Rs
8 P8 Power Peran Dep. Kesehatan, dan peran pemilik Rs
9 P9 Pressure Hutang terhadap rekaman dan kewajiban
pada lingkungan
10 P19 Performance Keberhasilan Rs pada kasus menonjol dan
fasi. pelayanan
Sumber : Sabarguna, 2003
Man merujuk pada sumber daya manusia yang dimiliki oleh organisasi.
Dalam manajemen, faktor manusia adalah yang paling menentukan. Manusia
yang membuat tujuan dan manusia pula yang melakukan proses untuk
mencapai tujuan. Tanpa ada manusia tidak ada proses kerja, sebab pada
dasarnya manusia adalah makhluk kerja. Oleh karena itu, manajemen timbul
karena adanya orang-orang yang berkerja sama untuk mencapai tujuan.
Money atau Uang merupakan salah satu unsur yang tidak dapat diabaikan.
Uang merupakan alat tukar dan alat pengukur nilai. Besar-kecilnya hasil
kegiatan dapat diukur dari jumlah uang yang beredar dalam perusahaan.
Oleh karena itu uang merupakan alat (tools) yang penting untuk mencapai
tujuan karena segala sesuatu harus diperhitungkan secara rasional. Hal ini
akan berhubungan dengan berapa uang yang harus disediakan untuk
membiayai gaji tenaga kerja, alat-alat yang dibutuhkan dan harus dibeli serta
berapa hasil yang akan dicapai dari suatu organisasi.
Material terdiri dari bahan setengah jadi (raw material) dan bahan jadi. Dalam
dunia usaha untuk mencapai hasil yang lebih baik, selain manusia yang ahli
dalam bidangnya juga harus dapat menggunakan bahan/materi-materi
sebagai salah satu sarana. Sebab materi dan manusia tidaki dapat
dipisahkan, tanpa materi tidak akan tercapai hasil yang dikehendaki.
Machine atau Mesin digunakan untuk memberi kemudahan atau
menghasilkan keuntungan yang lebih besar serta menciptakan efesiensi
kerja.
Metode adalah suatu tata cara kerja yang memperlancar jalannya pekerjaan
manajer. Sebuah metode daat dinyatakan sebagai penetapan cara
pelaksanaan kerja suatu tugas dengan memberikan berbagai pertimbangan-
pertimbangan kepada sasaran, fasilitas-fasilitas yang tersedia dan
penggunaan waktu, serta uang dan kegiatan usaha. Perlu diingat meskipun
metode baik, sedangkan orang yang melaksanakannya tidak mengerti atau
tidak mempunyai pengalaman maka hasilnya tidak akan memuaskan.
Dengan demikian, peranan utama dalam manajemen tetap manusianya
sendiri.
Market atau pasar adalah tempat di mana organisasi menyebarluaskan
(memasarkan) produknya. Memasarkan produk sudah barang tentu sangat
penting sebab bila barang yang diproduksi tidak laku, maka proses produksi
barang akan berhenti. Artinya, proses kerja tidak akan berlangsung. Oleh
sebab itu, penguasaan pasar dalam arti menyebarkan hasil produksi
merupakan faktor menentukan dalam perusahaan. Agar pasar dapat dikuasai
maka kualitas dan harga barang harus sesuai dengan selera konsumen dan
daya beli (kemampuan) konsumen seni melaksanakan dan mengatur
I. Definisi Marketing Audit

Menurut Kothler, Audit Pemasaran merupakan pengujian yang


kompherenshif, sistematis, independent, dan periodic atau berkala dari suatu
perusahaan-perusahaan atau unit usaha lingkungan pemasaran, tujuan strategis,
dan aktifitas dengan maksud untuk menentukan area masalah dan peluang serta
merekomondasikan suatu rencana tindakan untuk memperbaiki kinerja
perusahaan.
Audit pemasaran dilakukan terhadap bagaimana perusahaan
menetapkan strategi pemasarannya apakah sudah sesuai dengan lingkungan
pemasaran yang dihadapi perusahaan, intensitas persaingan, dan berbagai
keterbatasan yang secara internal dihadapi perusahaan. Menurut (IBK
Bayangkara, 2008) Audit pemasaran dapat mencakup enam wilayah utama
dalam pemasaran sebagai berikut:
1. Audit Lingkungan Pemasaran
Audit terhadap lingkungan pemasaran mencakup penilaian terhadap
pelanggan, pesaing, dan berbagai faktor lain yang memiliki pengaruh terhadap
perusahaan. Audit ini meliputi aspek lingkungan makro seperti ekonomi,
teknologi, sosial, dan politik.
2. Audit Strategi Pemasaran
Audit ini bertujuan untuk menentukan bahwa perusahaan telah menetapkan
strategi yang selaras dengan tujuannya, sesuai dengan lingkungan yang
dihadapi. Sering terjadi bahwa tujuan dan strategi perusahaan tidak secara jelas
dinyatakan dan kemudian Auditor harus menentukan pernyataan tujuan untuk
kepentingan pengevaluasiannya.

3. Audit Organisasi Pemasaran


Audit ini menilai kemampuan organisasi pemasaran dalam mencapai tujuan
perusahaan. Audit ini menentukan kemampuan tim pemasaran untuk secara
efektif berinteraksi dengan bagian-bagian lain seperti litbang, keuangan,
pembelian, dan sebagainya.
4. Audit Sistem Pemasaran
Audit ini menganalisis prosedur yang digunakan perusahaan untuk
memperoleh informasi perencanaan dan pengendalian operasi pemasaran. Hal
ini berhubungan dengan penilaian apakah perusahaan telah memiliki metode
yang memadai atau tidak, untuk digunakan mengerjakan tugas-tugas rutin di
bidang pemasaran.
5. Audit Produktivitas Pemasaran
Audit ini menganalisis produktivitas dan profitabilitas produk, kelompok
pelanggan, atau unit analisis yang lain di dalam pemasaran. Analisis biaya
pemasaran adalah salah satu metode untuk menganalisis profitabilitas dan
produktivitas pemasaran.
6. Audit Fungsi Pemasaran
Audit ini merupakan audit vertikal atau analisis secara mendalam terhadap
setiap elemen bauran pemasaran seperti produk, harga, distribusi, tenaga
penjual, periklanan, promosi, dan lain-lain.

J. Definisi Value dari Segi Pemasaran

Value and Satisfaction ???


Produk atau tawaran dikatakan berhasil apabila ia memberikan nilai dan
kepuasan kepada target buyer/target market.
Di pasar, banyak sekali tawaran. Lantas, dengan cara bagaimana pembeli
menentukan pilihan produk yang diinginkan untuk dibeli?

Diantara berbagai tawaran yang ada, pembeli akan memilih berdasarkan, yang
manakah diantara alternatif tawaran2 tersebut yang memberikan Value/nilai yang
paling tinggi?

Apakah value itu?


Value adalah rasio atau perbandingan antara apa yang konsumen peroleh
dengan apa yang telah ia korbankan/berikan/keluarkan.

Dapatkah anda pahami definisi tersebut? Jika belum, bacalah berulang-ulang


hingga anda paham. Setelah itu perhatikan rumusan berikut:
Value = benefit/cost
= functional benefit+emotional benefit /monetary cost+time cost+energy
cost+phisic cost.

Bagaimana ???

Yaa...!!! Value atau nilai bagi konsumen adalah keuntungan/manfaat yang


diperoleh dari membeli suatu produk, dibandingkan dengan seluruh biaya yang
sudah dia keluarkan.
Manfaat yang didapat meliputi manfaat fungsi (produk) dan manfaat emosional
(kepuasan, peningkatan status dll). Sedang biaya yang dikeluarkan meliputi
rupiah, waktu yang dikeluarkan, energi dan biaya fisik.

Pemasar dapat meningkatkan value, melalui beberapa cara antara lain :


meningkatkan benefit, menurunkan biaya, meningkatkan benefits dan
menurunkan biaya-biaya, meningkatkan benefits lebih dari peningkatan biaya
atau menurunkan sedikit benefit tetapi tak lebih besar dari penurunan biaya.

K. Customer Behavoiur

Perilaku konsumen merupakan tindakantindakan yang terlibat secara


langsung dalam memperoleh, mengkonsumsi, dan membuang suatu produk
atau jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan mengikuti
tindakan tindakan tersebut.
Menurut Mowen (1995), Consumer behavior is defined as the study of the
buying units and the exchange processes involved in acquiring, consume,
disposing of goods, services, experiences, and ideas (p.5).
Perilaku konsumen adalah aktivitas seseorang saat mendapatkan,
mengkonsumsi, dan membuang barang atau jasa (Blackwell, Miniard, &
Engel, 2001). Sedangkan The American Marketing Association
mendefinisikan perilaku konsumen sebagai interaksi dinamis dari pengaruh
dan kesadaran, perilaku, dan lingkungan dimana manusia melakukan
pertukaran aspek hidupnya. Dalam kata lain perilaku konsumen mengikutkan
pikiran dan perasaan yang dialami manusia dan aksi yang dilakukan saat
proses konsumsi (Peter & Olson, 2005). Perilaku konsumen menitikberatkan
pada aktivitas yang berhubungan dengan konsumsi dari individu. Perilaku
konsumen berhubungan dengan alasan dan tekanan yang mempengaruhi
pemilihan, pembelian, penggunaan, dan pembuangan barang dan jasa yang
bertujuan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan pribadi (Hanna &
Wozniak, 2001).

Tipe Tipe Perilaku Pembelian


Menurut Wilkie (1990), tipe perilaku konsumen dalam melakukan pembelian
dikelompokkan menjadi empat berdasarkan tingkat keterlibatan pembeli dan
tingkat keterlibatan diferensiasi merek, yang dijelaskan sebagai berikut :
a. Budget Allocation (Pengalokasian budget)
Pilihan konsumen terhadap suatu barang dipengaruhi oleh cara bagaimana
membelanjakan atau menyimpan dana yang tersedia, kapan waktu yang
tepat untuk membelanjakan uang dan apakah perlu melakukan pinjaman
untuk melakukan pembelian.
b. Product Purchase or Not (Membeli produk atau tidak)
Perilaku pembelian yang menggambarkan pilihan yang dibuat oleh
konsumen, berkenaan dengan tiap kategori produk atau jasa itu sendiri.
c. Store Patronage (Pemilihan tempat untuk mendapatkan produk)
Perilaku pembelian berdasarkan pilihan konsumen, berdasarkan tempat atau
di mana konsumen akan melaksanakan pembelian produk atau jasa tersebut.
Misalnya, apakah lokasi bakery menjadi salah satu faktor yang menentukan
konsumen dalam melakukan proses pembelian.
d. Brand and Style Decision (Keputusan atas merek dan gaya)
Pilihan konsumen untuk memutuskan secara terperinci mengenai produk apa
yang sebenarnya ingin dibeli.

sifat dari perilaku konsumen yaitu:


1. Consumer Behavior Is Dynamic
Perilaku konsumen dikatakan dinamis karena proses berpikir, merasakan,
dan aksi dari setiap individu konsumen, kelompok konsumen, dan
perhimpunan besar konsumen selalu berubah secara konstan. Sifat yang
dinamis demikian menyebabkan pengembangan strategi pemasaran menjadi
sangat menantang sekaligus sulit. Suatu strategi dapat berhasil pada suatu
saat dan tempat tertentu tapi gagal pada saat dan tempat lain. Karena itu
suatu perusahaan harus senantiasa melakukan inovasi-inovasi secara
berkala untuk meraih
konsumennya.

2. Consumer Behavior Involves Interactions


Dalam perilaku konsumen terdapat interaksi antara pemikiran, perasaan, dan
tindakan manusia, serta lingkungan. Semakin dalam suatu perusahaan
memahami bagaimana interaksi tersebut mempengaruhi konsumen semakin
baik perusahaan tersebut dalam memuaskan kebutuhan dan keinginan
konsumen serta memberikan value atau nilai bagi konsumen.
3. Consumer Behavior Involves Exchange
Perilaku konsumen melibatkan pertukaran antara manusia. Dalam kata lain
seseorang memberikan sesuatu untuk orang lain dan menerima sesuatu
sebagai gantinya.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Pelanggan


Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku pelanggan. Faktor-faktor
tersebut dibedakan menjadi 2 bagian yaitu faktor-faktor yang berasal dari
dalam diri pribadi seorang konsumen dan faktor-faktor yang berasal dari
lingkungan sekitar seorang konsumen.

A. Individual Determinants of Consumer Behavior


1. Demografis, psikografis, dan kepribadian
Demografis berhubungan dengan ukuran, struktur, dan pendistribusian
populasi. Demografis berperan penting dalam pemasaran. Demografis
membantu peramalan trend suatu produk bertahun-tahun mendatang serta
perubahan permintaan dan pola konsumsi.
Psikografis adalah sebuah teknik operasional untuk mengukur gaya hidup.
Dalam kata lain psikografis adalah penelitian mengenai profil psikologi dari
konsumen. Psikografis memberikan pengukuran secara kuantitatif maupun
kualitatif. Bila demografis menjelaskan siapa yang membeli suatu produk,
psikografis menekankan pada penjelasan mengapa produk tersebut dibeli.
Sangat penting untuk meneliti faktor psikografis termasuk kepercayaan dan
nilai karena kesuksesan industri organik akan bergantung pada tingkat
kemampuan memobilisasi konsumen untuk menerima produk organik (Lea &
Worsley, 2005).
Kepribadian dalam bidang pemasaran memiliki arti sebagai respon yang
konsisten terhadap pengaruh lingkungan. Kepribadian adalah tampilan
psikologi individu yang unik dimana mempengaruhi secara konsisten
bagaimana seseorang merespon lingkungannya.
2. Motivasi konsumen
Dalam menjawab pertanyaan mengenai mengapa seseorang membeli
produk tertentu, hal ini berhubungan dengan motivasi seorang konsumen.
Motivasi konsumen mewakili dorongan untuk memuaskan kebutuhan baik
yang bersifat fisiologis maupun psikologis melalui pembelian dan
penggunaan suatu produk.
3. Pengetahuan konsumen
Pengetahuan konsumen dapat diartikan sebagai himpunan dari jumlah total
atas informasi yang dimemori yang relevan dengan pembelian produk dan
penggunaan produk. Misalnya apakah makanan organik itu, kandungan
nutrisi yang terdapat di dalamnya, manfaatnya bagi kesehatan, dan lain-lain.
4. Intensi, sikap, kepercayaan, dan perasaan konsumen
Intensi adalah pendapat subjektif mengenai bagaimana seseorang bersikap
di masa depan. Ada beberapa jenis intensi konsumen. Intensi pembelian
adalah pendapat mengenai apa yang akan dibeli. Intensi pembelian kembali
adalah apakah akan membeli barang yang sama dengan sebelumnya. Intensi
pembelanjaan adalah dimana konsumen akan merencanakan sebuah produk
akan dibeli. Intensi pengeluaran adalah berapa banyak uang yang akan
digunakan. Intensi pencarian mengindikasikan keinginan seseorang untuk
melakukan pencarian. Intensi konsumsi adalah keinginan seseorang untuk
terikat dalam aktifitas konsumsi.
Sikap mewakili apa yang disukai maupun tidak disukai oleh seseorang. Sikap
seorang konsumen mendorong konsumen untuk melakukan pemilihan
terhadap beberapa produk. Sehingga sikap terkadang diukur dalam bentuk
preferensi atau pilihan konsumen. Preferensi itu sendiri dapat dikatakan
sebagai suatu sikap terhadap sebuah objek dan relasinya terhadap objek
lain. Kepercayaan dapat didefinisikan sebagai penilaian subjektif mengenai
hubungan antara dua atau lebih benda. Suatu kepercayaan dibentuk dari
pengetahuan. Apa yang telah seseorang pelajari mengenai suatu produk
mendorong timbulnya kepercayaan tertentu mengenai produk tersebut.
Perasaan adalah suatu keadaan yang memiliki pengaruh (seperti mood
seseorang) atau reaksi. Perasaan dapat bersifat positif maupun negatif
tergantung kepada setiap individu. Perasaan juga memiliki pengaruh
terhadap penentuan sikap seorang konsumen.

B. Environmental Influences on Consumer Behavior


1. Budaya, etnisitas, dan kelas sosial
Budaya adalah kumpulan nilai, ide, artefak, dan simbol-simbol lain yang
membantu seseorang untuk berkomunikasi, mengartikan, dan mengevaluasi
sebagai bagian dari suatu lingkungan. Budaya terbagi menjadi dua yaitu
abstrak dan elemen material yang memberikan kemampuan bagi seseorang
untuk mendefinisikan, mengevaluasi, dan membedakan antarbudaya.
Elemen abstrak terdiri atas nilai-nilai, sikap, ide, tipe kepribadian, dan
kesimpulan gagasan seperti agama atau politik. Material komponen terdiri
atas benda-benda seperti buku, komputer, gedung, peralatan, dan lain-lain.
Etnisitas adalah suatu elemen penting dalam menentukan suatu budaya dan
memprediksi keinginan dan perilaku konsumen. Perilaku konsumen adalah
suatu fungsi dari perasaan etnisitas sebagaimana dengan identitas budaya,
keadaan sosial, dan tipe produk.
Kelas sosial dapat didefinisikan sebagai divisi yang bersifat relatif permanen
dan homogenus dalam suatu kumpulan sosial dimana individual atau
keluarga saling bertukar nilai, gaya hidup, ketertarikan, kekayaan, status,
pendidikan, posisi ekonomi, dan perilaku yang sama. Penelitian pemasaran
seringkali berfokus pada variabel-variabel kelas sosial karena penentuan
produk apa yang akan dibeli oleh konsumen ditentukan oleh kelas sosial.
2. Keluarga dan pengaruh rumah tangga
Secara ilmiah keluarga dapat diartikan sebagai sekelompok yang terdiri dari
dua atau lebih individu yang berhubungan darah, pernikahan, atau adopsi
yang tinggal berdampingan. Sedangkan rumah tangga adalah semua orang,
baik yang berelasi maupun tidak berelasi yang menempati sebuah unit
rumah. Keluarga maupun pengaruh rumah tangga mempengaruhi sikap
pembelian konsumen. Misalnya kelahiran anak mempengaruhi suatu
keluarga untuk menambah perabotan, bahan makanan bayi, dan lain-lain.
3. Kelompok dan pengaruh personal
Suatu perilaku konsumen tak lepas dari pengaruh kelompok dan personal
yang dianutnya. Reference group adalah seseorang atau sekelompok orang
yang mempengaruhi perilaku individu secara signifikan. Reference group
dapat berupa artis, atlit, tokoh politik, kelompok musik, partai politik, dan lain-
lain. Reference group mempengaruhi dalam beberapa cara. Pertama-tama
reference group menciptakan sosialisasi atas individu. Kedua reference
group berperan penting dalam membangun dan mengevaluasi konsep
seseorang dan membandingkannya dengan orang lain. Ketiga, reference
group menjadi alat
untuk mendapatkan pemenuhan norma dalam sebuah kelompok sosial.