Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI LINGKUNGAN

BIOAEROSOL

NAMA KELOMPOK:
Brilyana Bela (1406564742)
Margareta Novia A. C. (1406574182)

Tanggal Praktikum : 21 November 2016


Asisten : Ayik Abdillah
Tanggal Disetujui :
Nilai :
Paraf :

LABORATORIUM TEKNIK PENYEHATAN DAN LINGKUNGAN


PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2016
1. Tujuan
Praktikum bioaerosol ini memiliki dua tujuan, yaitu untuk mengetahui jumlah bakteri dan
mikroba pencemar udara per satuan volume dan untuk mengetahui faktor pengaruh jumlah
pencemar mikroorganisme udara pada ruangan di luar unit pengumpul sampah (UPS).
2. Pendahuluan
Udara merupakan komponen yang amat penting di bumi. Udara merupakan sumber bahan
bakar utama proses fotosintesis. Udara juga merupakan lokasi terjadinya segala macam siklus
biogeokimia sebagai penyokong kehidupan di bumi. Udara dapat dikelompokkan menjadi: udara
luar ruangan (outdoor air) dan udara dalam ruangan (indoor air). Kualitas udara dalam ruang
sangat mempengaruhi kesehatan manusia, karena hampir 90% hidup manusia berada dalam
ruangan. Udara terdiri dari 79% nitrogen dan 21% oksigen serta memiliki kandungan aerosol dan
bioaerosol. Aerosol merupakan komponen partikel tersuspensi di udara yang dikenal dengan
particulate meter berukuran lebih kecil dari 10m yaitu PM10 maupun berukuran lebih kecil dari
2,5m yaitu PM2,5. Sementara itu, bioaersol merupakan komponen biotik penyusun udara yang
erat hubungannya dengan kondisi fisik dan kesehatan manusia.

3. Landasan Teori
1.1 Definisi Bioaerosol
Bioaerosol merupakan mikroorganisme, partikel, gas, atau uap di udara yang berasal dari
material biologis hidup atau dilepaskan dari organisme hidup (Macheer, 1999 via Trianda, 2011).
Material biologis dalam bioaerosol pada umumnya merupakan bakteri dan jamur. Selain
mikroorganisme, partikel gas, ataupun uap, di udara juga terkandung sel vegetative dan spora
bakteri, virus dan kista protozoa, jamur, dan ganggang. Mikroorganisme yang dapat bertahan
pada udara merupakan mikroba yang memiliki mekanisme toleran pada kondisi lingkungannya.
Seperti diketahui bahwa udara erat kaitannya dengan sinar matahari, dan selama proses
pemaparan berlangsung maka suhu udara akan naik serta mengalami kelembaban yang terus
berkurang. Hal tersebut merupakan penyebab kandungan mikroorganisme di udara lebih sedikit
dibandingkan mikroorganisme yang berada dalam air ataupun tanah.
Kandungan bioaerosol yang ada di udara akan dipengaruhi kondisi cuaca, keberadaan
ventilasi serta penghangat maupun pendingin ruangan, dan bagaimana kesibukan atau tingkat
aktivitas baik dari manusia maupun hewan yang ada di lingkungan tersebut. Area yang lebih
sering dilewati oleh manusia akan mengandung bioaerosol yang jauh lebih banyak daripada aera
yang jarang dilewat manusia. Hal ini dikarenakan turbulensi udara yang disebabkan aktifitas
manusia seperti berjalan dan berlari dapat menerbangkan mikroorganisme yang ada di tanah
sehingga menjadi melayang-layang di udara. Sebaliknya, kondisi cuaca yang sedang hujan,
bersalju, ataupun hujan es akan cenderung mengurangi jumlah mikroorganisme di udara dengan
membasuh partikel debu dan mengendapkannya di permukaan bumi. Jumlah bioaerosol yang
diambil sebagai contoh atau sample tergantung pada tujuan penelitian dan kondisi area yang akan
diteliti. Jumlah ini juga dipengaruhi oleh alat yang digunakan, volume udara yang akan disampel,
mobilitas atau kemudahan jangkauan area oleh manusia yang berlalu lalang, efisiensi
pengambilan contoh, serta kondisi lingkungan di mana proses pengambilan contoh akan
dilakukan.
Mikroorganisme di udara dibagi menjadi dua yaitu mikroba di luar ruangan dan mikroba di
dalam ruangan. Mikroba yang berada di ruang terbuka berasal dari habitat perairan dan
terrestrial. Mikroba di ruang terbuka pada umumnya disebarkan oleh angin dan dapat menempel
pada daun kering, jerami, ataupun debu. Sementara itu, mikroba yang berada di dalam ruangan
dapat berasal dari cemaran mikroba dari luar ruangan. Hal-hal seperti aktivitas manusia maupun
hewan, system ventilasi, dan pendingin ataupun penghangat ruangan dapat menambah mikroba
di udara ruangna tertutup.

1.2 Mikroorganisme di Udara


1.2.1 Bakteri
Bakteri merupakan mikroorganisme yang paling sederhana di bumi ini, namun memiliki
keanekaragaman yang paling tertinggi di antara mikroorganisme yang lain. Ukuran umum pada bakateri
adalah berdiameter antara 0,05 s.d. 0,1 m. Bakteri memiliki satu kromosom sirkulasi namun tak
memiliki organel sel. Contohnya adalah Aktinomisetes yang dapat membentuk hifa atau filamen. Dalam
kaitannya dengan UPS, keberadaan bakteri merupakan hal yang sangat umum dijumpai baik dalam
maupun luar ruangan UPS. Terlebih lagi pada UPS yang melakukan proses pengomposan karena
setidaknya 1 gram kompos mengandung sekitar 80 s.d. 90% bakteri (Trautmann dan Olynciw via
Trinanda, 2011). Hal ini dikarenakan bakteri merupakan kelompok mikroorganisme yang mampu jauh
lebih cepat mendegradasi material kompos, dibandingkan dengan kelompok mikroorganisme lain. Bakteri
bertanggung jawab dalam dekomposisi serta pelepasan panas dari kompos dengan memecah berbagai
material organik menggunakan berbagai enzim dan bahan kimia.
Bakteri aerosol alami di udara berasal dari tumbuhan, tanah, dan air yang merupakan hal umum
pada sumber-sumber ini. Setiap daun terkolonisasi oleh populasi bakteri dan mungkin saja dibutuhkan
bagi siklus hidup tumbuhan tersebut. Bakteri pada umumnya mungkin terlepas dari permukaan daun, dan
mekanisme utama pelapasan mikroba ini adalah melalui cipratan droplet dan juga angin. Meskipun belum
terkalkulasi, namun diperkirakan bahwa bakteri yang jatuh ketika terjadi hujan lebat hampir sama dengan
jumlah partikel air penyusun awan yang diproduksi bakteri. Butir air atau droplet jatuh ke air dan
menyebabkan terbentuknya gelembung yang membawa bakteri dari air kemudian membawa sel bakteri
yang akan bertahan di udara ketika gelembung pecah.
Mikroba yang biasanya ada di permukaan tanah ternyata masih dapat ditemukan pada keringgian
10.000 kaki dan sejauh 400 mil dari lepas pantai karena terkena tiupan angin. Jenis mikroba pada
pemukiman penduduk pada udara di bawah ketinggian 500 kaki adalah Bacillus, Clostridium,
Micrococcus, Corynebacterium, dll. Sementara, mikroorganisme dalam ruangan yang ditemukan dalam
debu dan udara di sekolah maupun lorong dan kamar tidur di rumah sakit adalah bakteri Turbecullum,
Steptococcus, Pneumococcus, dan Staphylococcus yang menyebar melalui cairan saliva dan mucus
bermikroba dari aktivitas manusia seperti bersin, batuk, tertawa, dan berbicara. Aerosol pada umumnya
dibentuk dari proses bersin, batuk, dan berbicara di mana ssetiap tetes air liur serta lendir dapat
mengandung ribuan mikroba. Untuk sekali proses launching dengan bersin, seorang manusia dapat
menyumbangkan 10.000 s.d. 100.000 bakteri. Infeksi nosokomial merupakan infeksi yang diperoleh
manusia selama menjalani perawatan di rumah sakit dan selama tiga hari terus menunjukkan gejala
penyakit tertentu, atau dengan kata lain datang sehat kemudian pulang dengan keadaan terinfeksi. Bakteri
seperti Haermophillus, Streptococcus pneumonia, Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, dan
anggota Enterobacteriaceae merupakan bakteri yang sering kali ditemukan sebagai penyebab infeksi
nosokomial pada manusia.
1.2.2 Jamur
Jamur merupakan organisme yang dapat mencerna makanannya di luar tubuh, disebut
eukariotik heterotrof, yang kemudian menutrisi sel-selnya dengan penyerapan molekul nutrisi.
Jamur memiliki keanekaragaman yang cukup tinggi yaitu sekitar 69 ribu dari jumlah perkiraan
1,5 juta spesies di dunia. Klasifikasi kelas jamur pada umumnya adalah saprofit karena
merupakan organisme yang mampu hidup pada material hidup maupun tak hidup dengan
memecah material organik untuk mendapatkan energi. Sebagian besar jamur hidup pada lapisan
kompos bersuhu tinggi yaitu pada bagian luar dan dalam fase mesofilik ataupun termofilik.
Jamur yang umumnya ada pada UPS, kaitannya dengan proses pengomposan adalah jamur
jenis mold (khamir) dan kapang. Jamus memiliki peranan penting dalam pengomposan karena
mampu mendekomposisi senyawa polimer kompleks yang terkandung dalam kompos dan tanah.
Kelebihan jamur dibandingkan bakteri ialah merupakan organisme yang mampu bertahan dalam
kondisi kering seiring dengan berkurangnya kandungan air dalam kompos. Selain itu, jamur juga
memiliki kebutuhan kadar nitrogen yang lebih rendah dari bakteri sehingga mampu melakukan
hal yang tidak dapat dilakukan bakteri yaitu mendekomposisi lignin dan selulosa.
Khamir pada umumnya berukuran lebih besar dari bakteri yaitu antara 5 s.d. 10m dan
sepintas terlihaat menyerupai kolobi bakteri namun pada umunya berwarna seperti mentega dan
tidak mengilap. Khamir berbeda dengan ragi, di man aragi merupakan campuran
mikroorganisme berupa kapang, khamir, dan bakteri. Pertunasan pada khamir ditandai dengan
bud scar atau bekas pertunasan yang dapat bersifat monopolar atau satu kutub, bipolar atau dua
kutub, dan mltipolar atau banyak kutub. Bentuk umum khamir ada yang bulat, silindris, oval,
tiga sisi, apikulatm maupum miselium semu atau disebut juga pseudomiselium karena
merupakan tunas-tunas yang tak dapat memisahkan diri sehingga tidak terlihat seperti miselium.
Contoh khamir adalah Saccharomyces cerevisiae.
Kapang merupakan jamur benang atau fungi yang memiliki filament dan merupakan
organisme multiseluler. Kapang mempunyai struktur umum berupa filament atau hifa berbentuk
tabung, dinding sel kaku, dan melakukan pergerakan menggunakan protoplasma. Miselium
merupakan kumpulan dari hifa yang panjangnya tidak terbatas namun memiliki diameter
berukuran konstan yaitu 1 s.d. 2 m atau 5 s.d. 10 m. Panjang hifa terpanjang dapat mencapai
30 m dan tergolong dalam hifa bersekat atau septa serta hifa tak bersekat atau senositik.
Mikroorganisme yang hifanya memiliki sekat pembagi antara kompartemen-kompartemen dalam
tubuhnya adalah golongan Ascomycota dan Basidiomycota. Walaupun bersekat, namun
pergerakan protoplasma masih memungkinkan untuk dilakukan karena pori yang berada pada
sekat atau septa. Basidiomycota memiliki keistimewaan karena tiap kompartemennya dapat
memiliki 1 nukleus (monokaryon) maupun 2 nukleus (dikaryon), memiliki sekat khas dengan
cirri pori sentral sempit berukuran 100 s.d. 150 nm yang disebut dipole septum, memiliki sayap
berpori dengan glukan disekeliling porinya, memiliki membran pada parenthosomnya, dan
memiliki kait penghubung antar kompartemen yang disebut clamp connection.

Gambar 1. (a) Hifa Bersekat; (b) Hifa Senositik; (c) Proses Pertumbuhan Hifa
Sumber: Rakhmawati, 2010
Dalam kaitannya dengan UPS, jamur seringkali ditemukan dalam proses dekomposisi
ataupun pengomposan. Menurut Anastasi (2005) dalam Trinanda (2011), ditemukan jenis jamur
sebanyak 194 variasi dalam kompos, dengan komposisi 117 di antaranya adalah jamur
mitosporic, 15 jenis berupa zygomycetes, 14 dari golongan morphotypes, dan tiga diantaranya
merupakan jenis Basidio morpotypes. Jumlah terbesar yang mengisi komposisi jamur
dekomposer adalah golongan Aspergillus, Acremonium, Cladosporium, Malbranchea,
Pseudallescheria, Thermomyces, dan Penicillium.

1.3 Faktor Persebaran Mikroorganisme di Udara


Mikroorganisme merupakan salah bagian dari bioaerosol yang merupakan partikel udara
berupa materi hidup ataupun berasal dari organisme hidup, selain juga fragmen, toksin, dan
partikulat lain.
1. Ukuran partikel bioaerosol
2. Transport: launching, disperse, etc
3. Kondisi Lingkungan: cuaca, Arah dan kecepatan angin
4. Tingkat aktifitas
1.3.1 Bakteri
Tingginya tingkat kepadatan bakteri pada udara dalam ruangan diduga kuat memiliki
kaitan dengan suhu, pencahayaan, kelembaban, kepadatan hunian, dan sanitasi ruangan. Suhu
berkaitan erat dengan kondisi cuaca, musim, dan kondisi geografis yang ada pada lokasi tersebut.
Bakteri di bumi rata-rata merupakan bakteri mesofilik yaitu organisme yang akan bertumbuh
dengan optimum pada suhu 20 s.d. 45C dan pada umumnya bertumbuh pesat pada 37C yaitu
pada suhu tubuh manusia. Kelembaban yang terlalu rendah dan menurunkan suhu lingkungan
akan membunuh bakteri karena berkurangnya daya dukung terhadap pertumbuhan bakteri.
Umunya, pertumbuhan bakteri dan ragi diperlukan kelembaban tinggi di atas 85% (Wulandari,
2013). Kepadatan hunian yang semakin banyak penghuni akan menimbulkan kesesakan dan rasa
tidak nyaman penghuninya. Selain itu, semakin banyak manusia dalam ruangan sempit akan
meningkatkan kelembaban yang diakibatkan menguapnya air dari pori-pori kulit manusia
maupun keluarnya uap air dari pernafasan manusia. Nilai kadar air bebas atau a w, yaitu nilai
perbandungan antara tekanan uap air larutan dengan tekanan uap air murni atau 1/100
kelembaban relatif, yang dibutuhkan bakteri pada umumnya berada pada interval 0,9 s.d. 0,99.
Salah satu pengecualian dimiliki oleh bakteri halofilik yang memiliki nilai a w mendekati 0,75
(Wulandari, 2013).
1.3.2 Jamur
Berbeda dengan bakateri, jamur dan aktinomisetes memerlukan kelembaban di bawah 80%
untuk dapat bertumbuh

1.4 EMS Bioaerosol Sampler


EMS atau Environmental Maintenance System merupakan sebuah system pengendalian
lingkungan yang dilakukan dengan melakukan pemantauan dari beberapa titik sampel yang dapat
mewakili kondisi lingkungan dengan melihat dari kandungan mikrobiologi di udara.
Pengambilan sampel dilakukan secara berkala dan beberapa kali untuk tetap menjaga kondisi
lingkungan tetap dalam batas aman. Hal ini merupakan sesuatu yang penting dilakukan
mengingat kandungan mikroorganisme yang tinggi pada udara berpotensi menimbulkan penyakit
dan memicu stress berlebihan kepada manusia di dalam ruangan tersebut. Dengan melakukan
maintenance berkala, maka dapat dilakukan pencegahan preventif yang dapat dilakukan begitu
mengetahui kondisi lingkungan berada dalam kondisi yang tidak kondusif lagi. Pengendalian ini
terkadang juga disebut pengendalian bioaerosol karena sasaran utamanya ialah menmastikan
kondisi udara tetap kondusif dan sehat melalui kandungan mikroorganisme di dalamnya.
Pengendalian bioaerosol terdiri dari perhitungan viable yang terdiri dari mikroorganise
dapat dibiakkan dan tak dapat dibiakkan, serta mikroorganisme nonviable yang terdiri dari
mikroorganisme di lingkungan dalam ruangan seperti pada industri, kantor, atau perumahan, dan
mikroorganime di luar ruangan seperti pada ladag pertanian dan kualitas udara pada umumnya.
Peralatan yang digunakan untuk proses pengambilan contoh di udara terdiri dari teknik
pemisahan partikel dari aliran udara dan mengumpulkannya di dalam atau di atas media
preselektif. Terdapat empat macam alat yang dapat digunakan untuk melakukan pengendalian
lingkungan melalui pengambilan contoh atau disebut juga EMS Bioaerosol Sampler, yaitu:
a. Impaksi
b. Filtrasi
c. Imigement

1.5 Medium
Untuk mendeteksi keberadaan bakteri dan jamur dalam udara, perlu dilakukan sebuah
perlakukan yang berbeda antar objek penelitian. Pada praktikum ini, praktikan melakukan
pembedaan perlakuan melalui media yang digunakan dalam pembiakkan. Terdapat dua jenis
media selektif yang digunakan dalam percobaan kali ini, yaitu:
1.5.1 TSA
TSA atau Trypticase Soy Agar merupakan media yang menganung dua jenis pepton untuk
mendukung pertumbuhan berbagai macam organisme, termasuk organisme aerob maupun
anaerob. Pepton pada TSA memiliki kandungan gula alami yang dapat mendorong pertumbuhan
bakteri. TSA memiliki bentuk solid yang direkomendasikan dalam prosedur kualitatid untuk
isolasi dan pengolahan banyak vasiasi organisme dan dapat digunakan untuk mengolah,
menyimpan, dan mengkultur bakteri. Media ini disiapkan berdasarkan formula Intisari Keledai-
Kasein Agar dan direkomendasikan untuk digunakan dalam prosedur uji seperti uji steril, serta
untuk pemeliharaan persediaan biakkan pada laboratorium mikrobiologi klinis. Prinsip utama
TSA adalah kasein dan pepton kedelai akan menyediakan nitrogen, asam amino, dan kebutuhan
peptide untuk variasi besar pertumbuhan mikroorganisme. Dekstrosa menyiapkan sumber energi,
sementara sodium klorida atau garam klorida menyediakan kebutuhan elektrolit dan
mengendalikan kesetimbangan osmotic. TSA dapat ditambahkan dengan darah untuk
memfasilitasi pertumbuhan agar dari bakteri atau agen antimikroba yang rewel untuk
mengijinkan seleksi variasi besar kelompok mikroba dari campuran flora. pH TSA umumnya
adalah 7,3 0,2 dengan inkubasi dilakukan pada suhu 25C.
TSA digunakan pada prosedur mikrobiologi industri seperti pada uji batar mikroba dan
pada mikrobiologi air dan makanan. TSA tanpa kandungan suplemen seperti antibiotika
digunakan untuk pembudidayaan banyak bakteri yang lebih tidak rewel seperti
Enterobacteriaceae, bakteri Gram negatif berbentuk batang yang tidak memfermentasi seperti
Pseudomonas, enterococci, staphylococci, dan bakteri yang tak membentuk spora seperti
Bacillus serta keluarganya, dan organisme lain dengan kebutuhan pertumbuhan yang hampir
sama. Kekurangna dari meia ini adalah TSA tidak cocok untuk digunakan sebagai pengisolasi
dan pengembangbiakkan bakteri yang sangat rewel seperti Neissera atau spesies Haemophilus,
atau organisme lain dengan kebutuhan nutrisi khusus. Karenanya, penggunaan TSA dalam
mikrobiologis klinis terbatas pada uji-uji tertentu seperti pembedaan antara Haemophilus dengan
faktor strip X, V, dan XV. TSA yang mengandung suplemen seperti darah (contoh: 5% darah
kambing) sering kali digunakan sebagai media pengisolasi utama bagi bakteri aerobic pada
mikrobiologi klinis. Sementara TSA tanpa kandungan suplemen tidak mengandung senyawa
yang secara aktif akan menetralisis desinfektan atau pengawet. Jika material mengandung
senyawa kimia atau permukaan yang harus dipantau dan sebelumnya telah terdesinfeksi, maka
disarankan untuk menggunakan media TSA dengan kandungan Lesitin dan Polisorbat atau
senyawa yang dapat dengan tepat melengkapi kandungan media.
1.5.2 PDA
PDA atau Potato Dextrose Agar merupakan media yang digunakan untuk menunjang
pertumbuhan fungi. Media ini terdiri atas dextrose, dari kentang, dan agar, serta tergolong
selektif karena mengandung asam atau antibiotic yang digunakan untuk menghambat
pertumbuhan bakteri. Antibiotic pada media seperti Kloramfenikol, Asam tartaric, dan
slortetrasiklin dapat ditambahkan sebagai agen penyeleksi. Penggunaan antibiorik jenis
klortetrasiklin disarankan untuk perhitungan mikroba berupa ragi dan kapang dari bidang
kosmetik, sementara PDA dengan kloramfenikol disarankan untuk menyeleksi fungi dari sampel
yang tercampur dan tidak hanya bersal dari satu jenis sumber. PDA memiliki pH 4,5 s.d 5,6 yang
keasamannya akan menghambat pertumbuhan bakteri, di mana bakteri sendiri membutuhkan
lingkungan netral dengan pH sekitar 7,0 dipadukan dengan suhu optimum pertumbuhan yaitu 25
s.d. 30 derajat selsius untuk bertumbuh. Prinsip utama penggunaan PDA adalah media ini
mengandung dextrose sebagai sumber karbohidrat yang berperan sebagai stimulant pertumbuhan
dan pencampuran kentang yang menyediakan dasar nutrient pertumbuhan kesuburan dari
mayoritas jamur. Agar ditambahkan sebagai agen pemadat. Sejumlah spesifik asam tartaric steril
(10%) dapat dikombinasikan untuk menurunkan pH media ke 3,5 yang menyebabkan
pertumbuhan bakteri terhambat. Jika suplemen yang ditambahkan adalah asam tartaric, maka pH
media akan menjadi 3,5 0,3 pada 25C. Sementara apabila suplemen yang ditambahkan
adalah kloramfenikol maka pH akan menjadi 5,6 0,2 pada 25C. Hasil berupa ragi yang akan
tumbuh pada media ini memiliki koloni berwarna krem keputihan sementara kapang akan
tumbuh sesuai variasi warna koloni filamennya. Golongan fungi yang umumnya tumbuh pada
media ini adalah Aspergillus dan Penicillium. Dari Aspergillus ada A. candidus, A. niger, A.
sulphureus, A. versicolor, Penicillium corylophilum, P. expansum, Penicillium spp, serta
tambahan jenis Fusarium oxysporum. Hasil fungi yang muncul akan bergantung pada suhu dan
lama penginkubasian. Kekurangan dari media ini adalah bila dilakukan pemanasan PDA setelah
pengasaman akan menghidrolisis agar dan dapat menghancurkan sifat pemadatannya. Selain itu,
media PDA ini bukanlah media diferensial atau pembeda, sehingga menuntut untuk
dilakukannya pengujian mikroskopis dan uji biokimia untuk mengidentifikasi dengan
mengisolasi genus dan spesies.

1.6 Dampak Pencemaran Mikrooganisme di Udara


Dampak pencemaran udara dalam ruangan tertutup terhadap manusia akan nampak
terhadap tubuh terutama yang mengalami kontak langsung dengan mikroorganisme tersebut.
Bebrapa penyakit yang dapat timbul karena terjadinya kontak tersebut ialah iritasi selaput lendir
yang diandari dengan mata terasa perih, berubah warna menjadi merah, berair, dan mengalami
iritasi. Selain iritasi selaput lendir, akibat paparan mikroorganisme terhadap tubuh manusia juga
dapat menimbulkan iritasi hidung seperti gatal, bersin-bersin yang berujung pada iritasi
tenggorokan seperti kesulitan hingga timbul rasa sakit ketika menelan, rasa gatal pada
tenggorokan, batuk kering, dan juga dapat menyebabkan gangguan syaraf atau neurotoksik
seperti sakit kepala, mudah kelelahan atau melemah, lebih emosional dan mudah tersinggung,
serta kesulitan dalam berkonsentrasi. Pencemaran mikroorganisme di udara juga dapat
menyebabkan gangguan paru dan pernafasan seperti batuk, timbulnya bunyi ketika bernafas,
sesak nafas, dan dada terasa berat; gangguan kulit seperti kulit terasa kering dan bahkan gatal;
gangguan saluran cerna seperti diare; dan lain sebagainya seperti gangguan saluran kencing
ataupun mengalami kesulitan dalam belajar ataupun bekerja.
1.6.1 Bakteri
Bioaerosol di dalam ruangan dapat berasal dari lingkungan luar dan juga kontaminasi dari
dalam ruangan itu sendiri. Salah satu contoh bakteri yang berasal dari luar ruangan ialah bakteri
legionella yang berasal dari tanah dan menembus masuk ke dalam ruangan. Salah satu contoh
bakteri pathogen ialah Streptococcus. Bakteri tersebut, yang merupakan salah satu mikroba
polutan di udara yang memiliki korelasi dengan kejadian munculnya penyakit pada manusia, ikut
mengontaminasi udara bersama debu di dalam ruangan. Bakteri ini dapat mengakibatkan
munculnya penyakit endemik seperti penyakit scarlet fever, erysipelas, radang tenggorokan,
febris puerpuralis, rheumatic fever, dan banyak penyakit lainnya.
1.6.2 Jamur
Mikroorganisme yang berasal dari dalam ruangan dapat dipicu melalui kelembaban antara
25 s.d. 75% dan akan mengakibatkan peningkatan spora jamur dan memungkinkan peningkatan
pertumbuhan jamur. Sumber kelembaban dapat berasal dari genangan air maupun bak air di
kamar mandi.

1.7 Baku Mutu Udara


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1077 tahun 2011 mengenai Pedoman
Penyehatan Udara dalam Ruangan Rumah, Terdapat kualitas Fisik, Kimia, dan Biologis.
Persyaratan fisik berupa partikulat di udara, suhu ruangan, tingkat pencahayaan, kelembaban,
serta laju ventilasi atau pertukaran udara. Kualitas kimia terdiri dari beberapa senyawa seperti
sulfur dioksida, nitrogen dioksida, karbon monoksida, karbon dioksida, timbale, asap rokok,
asbes, formaldehid, dan senyawa organik volatile. Sedangkan, kualitas biologi persyaratan udara
terdiri dari bakteri dan jamur yang mengindikasikan kondisi kualitas biologis udara dalam
rumah. Praktikum kali ini lebih ditekankan kepada persyaratan biologis berupa bakteri dan
jamur, yaitu:
Tabel 1. Persyaratan Kontaminan Biologi
No Jenis Parameter Satuan Kadar Maksimal
1. Jamur CFU/m3 0 CFU/m3
2. Bakteri Patogen CFU/m3 0 CFU/m3
3
3. Angka Kuman CFU/m < 700 CFU/m3
Sumber: Permenkes No. 1077/Menkes/Per/V/2011
Catatan: CFU = Coloni Forming Unit; Bakteri pathogen yang harus diperiksa: Legionela,
Streptococcus aureus, Clostridium, dan bakteri pathogen lain bila diperlukan.

1.8 Aplikasi pada Bidang Teknik Lingkungan

Keberadaan bakteri dan jamur erat kaitannya dengan penyebaran penyakit yang dapat
membahayakan manusia. Karenanya data kandungan bakteri per satuan volume ini dapat digunakan untuk
memperkirakan kelayakan sanitasi dan penataan ruang yang ada dalam gedung maupun di luar gedung,
sesuai dengan fungsi atau peruntukkan ruangan. Seperti pada ruangan kantor yang tidak boleh
mengandung jamur sampai 1000 koloni per satuan volume., dan selanjutnya bila jumlah bakteri ataupun
jamurnya melebihi batas aman aktivitas manusia maka harus dipilih sebuah tindakan pengolahan kondisi
udara.
4. Alat dan Bahan
4.1. Alat

Tabel 2. Peralatan yang Digunakan dalam Sampling Bioaerosol


Kaki tiga/tripod Pompa hisap Kabel roll extention

Meteran Plastic Wrap EMS Bioaerosol Sampler

Anemometer Aluminium Foil Botol Semprot

Sumber: dok. Praktikan

4.2. Bahan
Udara di luar ruangan Unit Pengumpul Sampah (UPS) Fakultas Teknik Universitas
Indonesia, Depok.
5. Cara Kerja

Menyesuaikan tinggi Me Menyemprotkan


nyesuaikan tinggi Menyemprotkan foil
tripod tangan dengan
EMS 1,5m dari tanah dengan alkohol 70%
alkohol 70%

Menyusun impaktor Menyeka dengan tisu Menyemprot EMS Mengeringkan


dan menyiapkan dengan alkohol 70% dengan tisu
media

Menaruh media ke Menutup lapisan Membungkus tutup Mengunci impaktor


dalam EMS dengan kedua EMS cawan petri dengan
cepat foil
Memasang impaktor Memasang selang ke Menyalakan pompa Melakukan sampling
pada tripod impaktor selama 1 menit,
mengukur suhu dan
kelembaban

M
Mengeluarkan cawan Membuka impaktor elepas impaktor dari Mematikan pompa
petri dan menutupnya tripod

Menghitung jumlah
Membungkus dengan Menginkubasi koloni bakteri dan
plastic wrap dengan suhu 35 s.d. jamur setelah
37C inkubasi
6. Hasil Pengamatan

7. Lokasi Sampling : Luar Ruang Unit Pengumpul Sampah Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UPS FTUI), Depok
8. Jam Sampling : 09.00 WIB
9. Suhu Inkubasi : 37C (TSA); 25C (PDA)
10. Waktu Inkubasi : 24 jam; 48 jam
11. Jam Pengamatan : 12.30 (TSA); 12.15 (PDA)
12. Tabel 3. Hasil Pengukuran Bioaerosol Kelompok 2

13. Nama Media 14. Jumlah Koloni 15. Kelembaban 17. Suhu 19. Rata-rata 20. Hasil
Tiap Cawan 16. (%) 18. (C) Jumlah Koloni Perhitungan
(CFU/plate) (CFU/plate) Jumlah Koloni
per Volume
(CFU/m3)
21. TSA 22. 1 23. 78,0 24. 31,1 25. 14 26. 483
28. 3 29. 72,0 30. 31,4
34. 37 35. 73,4 36. 31,5
39. PDA 40. N,a, 41. 73,3 42. 31,9 43. 164 44. 5778
46. 41 47. 70,8 48. 31,9
52. 286 53. 72,0 54. 31,0
57. Sumber: Pengamatan dan Perhitungan Praktikan
58. Contoh Perhitungan:

59. k Bakteri=
{(
1CFU / plate x 60 s /min
3
0,0283 m / min x 60
+
3 CFU / plate x 60 s /min
)( 3
0,0283 m /min x 60
+ 3
0,0283 m /minx 60 )}
37 CFU / plate x 60 smin
)( =482,9 483
CFU
3
3 m
60. k Jamur=
{( 0 CFU / plate x 60 s /min
3
0,0283 m /min x 60 ) +(
41 CFU / plate x 60 s /min
3
0,0283m /min x 60 ) +(
286 CFU / plate x 60 s /min
3
0,0283 m /minx 60 ) } 5778 CFU
3
3 m

61.
62. Tabel 4. Hasil Pengukuran Bioaerosol di Fakultas Teknik

63. K 64. Lokasi 65. Koloni Tiap 67. Jumlah Koloni 70. k Bakteri 72. k Jamur
el. Cawan 68. Rerata 71. (CFU/Plate m3) 73. (CFU/Plate m3)
66. (CFU/Plate) 69. (CFU/Plate)
76. TS 77. PD 78. TSA 79. PDA
A A
82. 1 83. Halaman Belakang EC 84. 4 85. 39 86. 6,7 87. 29,3 88. 268 89. 1172
92. 9 93. 28
100. 7 101. 2
1
106. 107. UPS FT Outdoor 108. 1 109. N 110. 14 111. 1 112. 483 113. 5778
2 ,a, 64
116. 3 117. 4
1
124. 3 125. 2
7 86
130. 131. UPS FT Indoor 132. 1 133. 1 134. 11 135. 1 136. 5535 137. 7767
3 14 59 9 67
140. 1 141. 6
54 2
148. 9 149. 2
0 81
154. 155. Musholla Wanita 156. 1 157. 1 158. 13 159. 1 160. 5493 161. 5628
4 Gedung S Lt.3 92 60 7 41
164. 1 165. 1
22 40
172. 9 173. 1
8 22
178. 179. Sekitar Toilet 180. 9 181. 1 182. 90 183. 1 184. 3600 185. 4760
5 gedung Pascasajana 8 03 19
(EC) 188. 1 189. 1
11 35
196. 6 197. N
2 ,a,
202. 203. Lobby gedung S 204. 1 205. 3 206. 14 207. 1 208. 5440 209. 6920
6 25 15 6 73
212. 1 213. 4
10
220. 1 221. 2
72 00
226. 227. Lobby EC 228. 1 229. 1 230. 84 231. 1 232. 3500 233. 6920
7 16 28 06
236. 6 237. 9
7 4
244. 6 245. 9
9 5
250. Sumber: Pengamatan Praktikan, 2016
251. Koloni Bakteri yang Terbentuk:

252.

253. Gambar 2. Hasil Pembentukan Koloni Bakteri pada TSA Setelah Inkubasi 24 jam
254. Sumber: dok. Praktikan
255.
256.
257. Jamur yang Terbentuk:
258.
259. Gambar 3. Hasil Pembentukan Jamur pada PDA setelah Inkubasi 48 jam
260. Sumber: dok. Praktikan
261. Analisis/Pembahasan
261.1. Analisis Percobaan
262. Percobaan pengambilan sampel ini dilakukan dengan pertama-tama membawa
semua peralatan yang dibutuhkan ke depan Unit Pengumpul Sampah Fakultas Teknik Universitas
Indonesia (UPS FTUI). Selanjutnya praktikan menyiapkan kaki tiga atau tripod dan
menyesuaikan tinggi tripod sampai 1,5 meter dari permukaan tanah. Dipilih 1,5 meter karena
tinggi tersebut merupakan tinggi manusia pada umunya sehingga praktikan akan mudah
melakukan pemasangan maupun pelepasan impaktor. Selanjutnya praktikan mensterilkan tangan
terlebih dahulu dengan menyemprotkan alkohol 70% ke tangan yang diikuti dengan pengambilan
impaktor. Impaktor kemudian juga disterilkan disetiap lapisannya untuk meminimalisir
keberadaan mikroorganisme lain yang mungkin menempel pada alat dan dapat memengaruhi
hasil bakteri atau jamur yang terbentuk pada media dengan menyemprotkan alkohol 70% dan
dikeringkan menggunakan tisu. Tidak lupa pula praktikan menyiapkan aluminium foil yang akan
digunakan untuk membungkus tutup cawan petri agar tetap steril dan tidak terkontaminasi
mikroorganisme lain yang mungkin menempel dan ikut terbiakkan. Aluminium foil juga terlebih
dahulu disemprot alkohol 70% agar steril.
263. Kemudian praktikan melanjutkan dengan membuka tutup cawan petri,
memindahkan bagian cawan petri berisi media ke dalam impaktor, membungkus tutup cawan
petri dengan aluminium foil, menutup cawan petri berisi media dengan lapisan saringan
impaktor, menutup impaktor, dan menguncinya. Proses tersebut harus dilakukan dengan cekatan
dan cepat untuk menghindari adanya kontaminasi mikroorganisme lain yang mungkin masuk dan
menempel pada media sehingga akan secara tidak sengaja terbiakkan dan mengintervensi hasil
pembentukan spora maupun koloni setelah masa inkubasi berlangsung. Setelah tersusun dengan
baik dan dikunci, kemudian impaktor dipasang ke atas tripod sampai terbaut dengan kencang
untuk memastikan impaktor tidak terjatuh. Proses ini dilanjutkan dengan menghubungkan selang
dari pompa nozzle ke impaktor agar mikroorganisme dalam udara yang disedot dapat langsung
menempel pada permukaan media.
264. Kemudian proses sampling dilakukan dengan terlebih dahulu memencet tombol
on pada pompa dan menyalakan pompa penghisap. Tidak lupa pula praktikan menghubungkan
kabel pompa dengan sumber listrik pada stop kontak. Penghisapan udara luar UPS dilakukan
selama satu menit dengan tiga kali proses pengambilan untuk setiap jenis media: TSA dan PDA.
TSA atau Trypticase Soy Agar merupakan media yang mengandung dua jenis pepton berisikan
gula alami dan mampu mendorong pertumbuhan bakteri, dan memiliki fasa solid yang dapat
direkomendasikan dalam prosedur kualitatif untuk mengisolasi, mengolah, menyimpan,dan
mengembangbiakkan bakteri. Sementara itu, PDA atau Potato Dextrose Agar merupakan media
yang terdiri atas dextrose, kentang, serta agar yang selektif karena mengandung asam atau
antibiotic untuk menghambat pertumbuhan bakteri dan kompatibel dalam menunjang
pertumbuhan fungi. Dipilih waktu selama satu menit karena pengambilan contoh dilakukan pada
bagian luar dari UPS FTUI yang dmerupakan daerah tercemar proses dekomposisi limbah padat,
sehingga untuk waktu satu menit saja dirasa telah cukup untuk menangkap mikroorganisme di
udara. Pemilihan waktu yang terlalu panjang merupakan hal yang tidak disarankan mengingat
padatnya kandungan mikroorganisme di udara dan bila menempel semua di media akan
menyebabkan hasil biakkan mikroorganisme di cawan petri terlalu banyak sehingga nantinya
tidak dapat dilakukan penghitungan koloni atau spora yang terbentuk. Setelah penghisapan udara
selesai dilakukan selama satu menit, maka praktikan menghentikan kerja pompa dan mencopot
impaktor dari tripod. Kemudian impaktor dibuka dan secara cepat menutup cawan petri berisi
media dan bakteri, kemudian membungkusnya dengan plastic wrap. Pembungkusan ini
dilakukan agar tidak ada mikroorganisme yang mungkin masuk dan ikut berkembang biak dalam
media ketika masa pembiakkan inkubasi dilakukan. Tak lupa pula cawan petri berisi
mikroorganisme pada media diletakkan secara terbalik agar ketika ada perkembangbiakkan
mikroorganisme yang melakukan metabolisme, residu nya tidak jatuh ke media dan
menggagalkan proses biakkan. Inkubasi dilakukan pada suhu 35 s.d. 37C dengan durasi 24 jam
untuk bakteri dan 48 jam untuk jamur. Perbedaan waktu inkubasi ini didasarkan pada laju
pertumbuhan yang dibutuhkan jamur untuk berkembang biak lebih kecil dan lamban dari pada
laju pertumbuhan bakteri. Selain itu, bakteri juga memiliki fase mati di mana bakteri yang telah
tumbuh akan bersaing untuk mendapatkan nutrisi sehingga proses inkubasi tidak boleh terlalu
lama karena akan menimbulkan banyaknya bakteri yang mati dan membuat enumerasi menjadi
tidak representatif.
264.1. Analisis hasil

265. Hasil yang perhitungan bakteri menunjukkan bahwa rata-rata koloni


bakteri yang terbentuk di ruangan luar UPS FTUI adalah 483 CFU/m3, sedangkan jumlah
rata-rata koloni jamur terbentuk adalah 5778 CFU/m3. Pada TSA, pengambilan sampel
pertama, kedua, dan ketiga menghasilkan 1 CFU/cawan, 3 CFU/cawan, dan 37
CFU/cawan. Sedangkan pada PDA, pengambilan sampel kedua dan ketiga menghasilkan
jumlah jamur 41 CFU/cawan dan 286 CFU/cawan. Dapat dilihat bahwa pembentukan
koloni bakteri terbanyak adalah pada pengambilan ketiga yang dapat dipicu oleh
hembusan angin ketika pengambilan sampel. Faktor lain seperti gerakan manusia yang
saat itu mengambil sampel pun dapat menyebabkan mikroorganisme di tanah terbang ke
udara dan ikut terhisap pompa. Sementara, untuk cawan pertama PDA tidak terbentuk
satupun koloni jamur di cawan petri yang dapat diakibatkan oleh kegagalan proses
inkubasi di mana ketika pengambilan sampel dilakukan, media masih basah ataupun
lembab. Bila dihubungkan dengan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor
1077 tahun 2011 mengenai jumlah cemaran jamur dan bakteri memaparkan bahwa angka
kuman disarankan adalah di bawah 700 CFU/m3, maka jumlah bakteri terukur telah
memenuhi persyaratan ini sedangkan jumlah koloni jamurnya masih melebihi ambang
batas disarankan. Kelembaban yang terukur pun berada pada sekitaran 70 s.d. 78% di
mana menurut Permenkes yang sama, kadar yang disyaratkan untuk kelembaban dalam
ruangan adalah 40 s.d. 60%. Hal ini merupakan sebuah keadaan normal karena yang
diukur adalah ruangan terbuka yaitu di luar UPS. Suhu terukur pun masih dapat dikatakan
berada dalam interval normal iklim Indonesia yang hangat yaitu 18 s.d. 30 3C.
Perbandingan kontaminasi mikroorganisme antara rungan di luar UPS dan di dalam UPS
memiliki beda yang sangat signifikan, di mana jumlah koloni bakteri terbentuk di dalam
UPS adalah 5535 CFU/m3 dan jumlah koloni jamur terbentuk adalah 7767 CFU/m 3. Titik
tersebut pun merupakan titik yang memiliki kontaminasi mikroorganisme terbanyak
dibandingkan dengan titik pengambilan sampel yang lain. Hal tersebut merupakan
kondisi yang dapat dipahami mengingat cemaran mikrobiologis dapat berasal dari
timbulan sampah yang ada di ruangan dan juga dari proses dekomposisi sampah yang
pasti membutuhkan peranan bakteri maupun jamur untuk menguraikan zat organik.

266. Namun, jika hasil pengukuran di luar ruangan UPS FTUI dibandingkan
dengan hasil pengukuran mikroorganisme di titik lain FTUI yang erat kaitannya dengan
aktifitas manusia, dapat terlihat bahwa jumlah mikroorganisme di luar ruangan UPS
FTUI justru lebih sedikit dibandingkan jumlah mikroorganisme pada mushola wanita di
lantai 3 gedung S ataupun pada lobi gedung S. Hasil pengukuran jumlah mikroorganisme
di mushola wanita lantai 3 gedung S adalah 5493 CFU/m 3 bakteri dan 5626,8 CFU/m3
jamur, sedangkan pada lobi gedung S adalah 5440 CFU/m 3 bakteri dan 6920 CFU/m3
jamur. Jumlah koloni jamur terbentuk pada hasil pengukuran di lobi S sama dengan
jumlah koloni jamur terbentuk hasil pengukuran di lobi engineering center (EC). Hal ini
dapat diakibatkan oleh kedekatan letak akses masuk lobi S dan lobi EC yang sama-sama
terhubung langsung dengan parkiran mobil. Sementara itu, banyaknya jumlah
mikroorganisme pada mushola wanita dan lobi di gedung S dapat disebabkan oleh
tingginya intensitas kegiatan manusia pada kedua ruangan tersebut. Seperti kita ketahui
bahwa lobi gedung S merupakan tempat mahasiswa berkegiatan seperti mengerjakan
tugas dan mengadakan rapat, serta juga merupakan jalur tercepat lalu-lalang manusia
yang menuju dari atau ke gedung EC. Selain itu, lobi gedung S juga mendapat pasokan
mikroorganisme dari aktifitas luar ruangan yang masuk ke dalam gedung baik melalui
pintu maupun ventilasi seperti jendela, khsusunya karena lobi gedung S sendiri langsung
terhubung dengan parkiran mobil di mana tanah merupakan reservoir mikroorganisme.
Untuk tingginya jumlah mikroorganise di ruang mushola, hal tersebut dapat dimaklumi
mengingat aktivitas di ruang mushola yang paling sedikit digunakan 3 s.d. 4 kali sehari
untuk minimal menunaikan ibadah sholat dzuhur, ashar, maghrib, serta ibadah sunnah
lainnya. Namun, sebearnya jumlah bakteri dan jamur sebanyak itu tidak disarankan.
Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 261 tahun 1998 mengenai Persyaratan
Lingkungan Kerja Perkantoran menyebutkan bahwa batas maksimum cemaran
mikroorganisme dalam ruangan tertutup adalah 700 CFU/m3, terlebih pembaharuan yang
dimuat dalam Permenkes Nomor 1077 tahun 2011 mengenai jumlah cemaran jamur dan
bakteri memaparkan bahwa persyaratan kontaminan biologi berupa jamur serta bakteri
pathogen adalah 0 CFU/m3 dan angka kuman disarankan adalah di bawah 700 CFU/m3.
Keberadaan mikroorganisme yang melebihi ambang batas keamanan ini dapat
mengakibatkan SBS atau sindrom stress dalam gedung di mana manusia menjadi sakit
karena terkena paparan mikroorganisme yang ada di udara. Untuk itu, disarankan bahwa
mushola lebih sering dibersihkan untuk mengurangi jumlah mikroorganisme yang
mungkin menempel pada sajadah ataupun mukena yang dikenakan secara bergantian.

267.
267.1. Analisis Kesalahan
268. Dalam melakukan percobaan, perlu diperhatikan beberapa tindakan yang dapat
memengaruhi validitas hasil pengukuran. Kesalahan manusia atau human error yang dapat
memengaruhi hasil pembentukan bakteri dalam sampling bioaerosol ini ialah:
1. Pengambilan sampel sambil bicara dapat mengakibatkan bakteri maupun jamur yang
terhidap pompa dapat berasal dari manusia dan bukan murni dari kondisi udara. Hal
ini akan mengakibatkan proses sampling tak dapat mewakili populasi sesungguhnya.
2. Proses pembukaan cawan petri dan pemindahan agar yang dilakukan kurang cekatan
sehingga membuat mikroorganisme lain yang berasal dari baju atau tubuh manusia
dapat ikut masuk dan terbiakkan. Hal ini akan membuat bakteri yang terukur pada agar
menjadi tidak valid karena terdapat intervensi bakteri atau jamur yang bukan berasal
dari udara luar UPS. Jenis bakteri yang tertangkap pada ketinggian 1,5 kaki s.d. 4,5
kaki di atas permukaan tanah ialah bakteri jenis Alcaligenes bacillus. Sedangkan, pada
ketinggian 500 kaki di atas permukaan tanah pada pemukiman penduduk, jenis spora
yang umumnya terdeteksi ialah ragi, fragmen miselium, serbuk sari, spora Bacillus
dan Clostridium. Terdapat pula jenis Micrococcus, Corynebacterium, alga, dan kista
protozoa.
269.
270. Kesimpulan

271. Setelah melakukan perobaan pengambilan contoh ini, maka dapat


dismpulkan:
1. Jumlah mikroorganisme pencemar tertinggi per satuan volume adalah pada ruangan
Unit Pengumpul Sampah Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UPS FTUI) dengan
jumlah koloni bakteri 5535 CFU/m3 dan koloni jamur 7767 CFU/m3.
2. Jumlah mikroorganisme di luar ruang UPS FTUI (483 CFU/m 3 bakteri dan 5778
CFU/m3) tidak lebih banyak dari pada jumlah mikroorganisme di tempat yang padat
orang berlalu-lalang seperti di lobby geadung S (5440 CFU/m 3 bakteri dan 6920
CFU/m3 jamur), ataupun tempat yang sering didatangi manusia seperti pada mushola
wanita di lantai 3 gedung S FTUI (5493 CFU/m3 bakteri dan 5626,8 CFU/m3 jamur).
3. Terbukti bahwa faktor yang memengaruhi jumlah pencemar mikroorganisme di udara
adalah aktivitas manusia, suhu, penghawaan, serta kelembaban dan pada ruangan di
luar UPS FTUI, keberadaan mikroba merupakan pengaruh dari proses dekomposisi
sampah serta hembusan angin.
4. Jenis bakteri yang terdeteksi pada percobaan kali ini adalah Alcaligenes bacillus yang
merupakan organisme bersifat pathogen serta merupakan jenis bakteri gram positif.
Sementara spora jamur yang terdeteksi pada percobaan ini adalah Penicillium,
Aspergillus, spora Bacillus, dan Clostridium.
272. Lampiran
273. [LKS], terlampir di akhir.
274.
275. Referensi
276. Becton, Dickinson and Co. 2003. Tryptic Soy Agar. Le Pont de Claix:
BD Diagnostic Systems
277. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1077 tahun 2011. Pedoman
Penyehatan Udara dalam Ruang Rumah: BNRI.
278. Rakhmawati, Anna. 2010. Keanekaragaman Hayati:
Keanekaragaman Jamur. Yogyakarta: FMIPA UNY.
279. Remel. 2010. Tryptic Soy Agar (TSA). SantaFe: ATCC.
280.
281. Trinanda, Nandia Gresita. 2011. Analisis Kualitas Udara
Mikrobiologis di Fasilitas Pengomposan dan Wilayah Sekitarnya. Depok:
Universitas Indonesia