Anda di halaman 1dari 11

PENILAIAN PERSEDIAAN : PENDEKATAN DASAR

BIAYA
KLASIFIKASI DAN PENGENDALIAN PERSEDIAAN
Klasifikasi
Persediaan (inventory) adalah pos-pos aktiva yang dimiliki oleh perusahaan
untuk dijual dalam operasi bisnis normal, atau barang yang akan digunakan
atau dikonsumsi dalam membuat barang yang akan dijual. Sebuah
perusahaan dagang (merchandising concern) biasanya membeli barang
dagang dalam bentuk siap untuk dijual, perusahaan dagang ini melaporkan
biaya yang terkait dengan unit-unit yang belum terjual dan masih ada di
tangan sebagai persediaan barang dagang (merchandise inventory). Hanya
satu akun persediaan yaitu Persediaan Barang Dagang, yang muncul dalam
laporan keuangan. Perusahaan manufaktur (manufacturing concern) disisi
lain memproduksi barang yang akan dijual kepada perusahaan dagang.
Biaya dibebankan ke barang dan bahan baku yang ada di tangan tetapi
belum dialihkan ke produksi dilaporkan sebagai persediaan bahan baku (raw
materials inventory) dan bahan, bahan ini dapat ditelusuri secara langsung
ke produk akhir. Pada setiap titik dalam proses produksi yang berkelanjutan,
ada sejumlah unit yang belum selesai diproses sepenuhnya. Biaya bahan
baku untuk produk yang telah dibuat tetapi belum selesai, ditambah biaya
tenaga kerja langsung yang diaplikasikan secara khusus ke bahan baku ini,
dan biaya overhead yang dialokasikan merupakan persediaan barang dalam
proses (work in process inventory). Biaya yang berkaitan dengan produk
yang telah selesai tetapi belum terjual pada akhir periode fiskal dilaporkan
sebagai persediaan barang jadi (finished goods inventory).

Pengendalian
Perusahaan harus selalu memonitor tingkat persediaan secara seksama
untuk membatasi biaya pembiayaan akibat banyaknya timbunan persediaan.
Perusahaan menggunakan salah satu dari 2 jenis sistem agar pencatatan
persediaan tetap akurat: sistem perpetual dan sistem periodik.
a. Sistem perpetual
Sistem persediaan perpetual (perpetual inventory system) secara terus-
menerus melacak perubahan akun Persediaan yaitu semua pembelian
dan penjualan (pengeluaran ) barang dicatat secara langsung ke akun
Persediaan pada saat terjadi. Karateristik akuntansi dalam sistem
persediaan perpetual adalah:
- Pembelian barang dagang untuk dijual atau pembelian bahan baku
untuk produksi didebet ke Persediaan dan bukan ke Pembelian.
- Biaya transportasi masuk, retur pembelian dan pengurangan harga,
serta diskon pembelian didebet ke Persediaan dan bukan ke akun
terpisah.
- Harga pokok penjualan diakui untuk setiap penjualan dengan
mendebet akun Harga Pokok Penjualan dan mengkredit Persediaan.
- Persediaan merupakan akun pengendali yang didukung oleh buku
besar pembantu yang berisi catatan persediaan individual. Buku besar
pembantu memperlihatkan kuantitas dan biaya dari setiap jenis
persediaan yang ada di tangan.
Sistem persediaan perpetual menyediakan catatan yang berkelanjutan
tentang saldo baik dalam akun Persediaan maupun akun Harga Pokok
Penjualan.
b. Sistem Periodik
Menurut sistem persediaan periodik (periodic inventory system), kuantitas
persediaan di tangan ditentukan secara periodik. Semua akun pembelian
persediaan selama periode akuntansi dicatat dengan mendebet akun
Pembelian. Total akun Pembelian pada akhir periode akuntansi ditambah
ke biaya persediaan di tangan pada awal periode untuk menentukan total
biaya barang yang terrsedia untuk dijual selama periode berjalan.
Kemudian total biaya barang yang tersedia untuk dijual dikurangi dengan
persediaan akhir untuk menentukan harga pokok penjualan. Perhatikan
bahwa dalam sistem persediaan periodik, harga pokok penjualan adalah
jumlah residu yang tergantung pada hasil perhitungan persediaan akhir
secara fisik. Perhitungan fisik persediaan (physical inventory count) yang
diharuskan oleh sistem persediaan periodik dilakukan sekali setahun pada
setiap akhir tahun. Akan tetapi, sebagian besar perusahaan
membutuhkan informasi mutakhir mengenai tingkat persediaan untuk
melindungi dari stockout atau over-purchasing dan untuk membantu
penyusunan data keuangan bulanan atau kuartalan. Sebagai akibatnya,
banyak perusahaan menggunakan sistem persediaan perpetual yang
dimodifikasi (modify perpetual inventory system), di mana hanya
penurunan dan kenaikan kuantitasbukan jumlah dollaryang disimpan
dalam catatan persediaan yang terinci. Catatan ini hanya merupakan
perangkat memorandung di luar sistem berpasanagan (double entry)
yang membantu menentukan tingkat persediaan pada suatu waktu
tertentu.

MASALAH MENDASAR DALAM PENILAIAN PERSEDIAAN


karena barang dijual (atau digunakan) selama suatu periode akuntansi
jarang tepat sama dengan barang yang dibeli atau diproduksi selama
periode berjalan, maka persediaan fisik akan meningkat atau menurun.
Biaya semua barang yang tersedia untuk dijual atau digunakan harus
dialokasikan di antara barang yang telah terjual atau digunakan dan barang
yang masih ada di tangan. Biaya barang yang tersedia untuk dijual atau
digunakan (cost of goods available for sale or use) adalah jumlah dari (1)
biaya barang yang ada di tangan pada awal periode dan (2) biaya barang
yang dibeli atau diproduksi selama periode berjalan. Harga Pokok Penjualan
(cost of goods sold) adalah perbedaan antara (1) biaya barang yang tersedia
untuk dijual selama periode berjalan dan (2) biaya barang yang ada di
tangan pada akhir periode.
Penilaian persediaan bisa menjadi proses yang kompleks yang memerlukan
penentuan atas:
1. Barang fisik yang harus dimasukkan dalam persediaan (siapa yang
memiliki barang?barang dalam perjalanan, barang konsinyasi,
perjanjian penjualan khusus).
2. Biaya-biaya yang harus dimasukkan dalam persediaan (biaya produk
vs. biaya periode).
3. Asumsi arus biaya yang harus diadopsi (identifikasi khusus, biaya rata-
rata, FIFO, LIFO, ritel, dan sebagainya).
1. BARANG FISIK YANG HARUS DIMASUKKAN DALAM PERSEDIAAN.
Secara teknis, pembelian harus dicatat ketika hak legal atas barang
berpindah ke pembeli. Namun, praktik yang umum adalah mencatat
pembelian pada saat barang diterima karena sulit bagi pembeli untuk
menentukan secara pasti kapan hak legal berpindah untuk setiap pembelian.
Selain itu, praktik semacam ini tidak akan menimbulkan kesalahan yang
material jika diaplikasikan secara konsisten.
a. Barang dalam Perjalanan
Jika barang dikirim atas dasar f.o.b shipping point, maka hak kepemilikan
berpindah ke pembeli ketika penjual menyerahkan barang kepada
perusahaan pengangkut atau pembeli. Jika barang dikirim atas dasar
f.o.b. destination, maka hak kepemilikan belum berpindah sampai pembeli
menerima barang dari perusahaan pengangkut. Aturan akuntansinya
adalah barang yang hak legalnya telah berpindah ke pembeli harus
dicatat sebagai pembelian pada periode fiskal.
b. Barang Konsinyasi
Menurut kesepakatan ini consignor mengirimkan barang dagang ke
consignee yang bertindak sebagai agen consignor dalam menjual barang
konsinyasi. Consignee setuju untuk menerima barang tanpa kewajiban
apapun, kecuali menjaga dan melindunginya dari kehilangan atau
kerusakan, sampai barang terjual kepada pihak ketiga. Ketika consignee
menual barang, pendapatan dikurangi komisi penjualan dan beban
penjualan diserahkan kepada consignor.
c. Perjanjian Penjualan Khusus
Tiga situasi penjualan khusus akan dijelaskan untuk mengindikasikan
jenis-jenis masalah yang dapat ditemukan dalam praktik yaitu:
Penjualan dengan Perjanjian Beli Kembali, sebuah perusahaan
membiayai persediaan tanpa melaporkan kewajiban ataupun
persediaan dalam neraca. Pendekatan semacam ini disebut perjanjian
pembiayaan produk (product financing arrangement) biasanya
melibatkan penjualan dengan perjanjian beli kembali(buyback
agreement) yang implisit atau eksplisit.
Pejualan dengan Tingkat Retur yang Tinggi
Industri-industri seperti penerbitan, musik, mainan, dan alat-alat
olahraga biasanya memiliki perjanjian formal atau informal yang
memungkinkan persediaan dikembalikan dengan menerima seluruh
atau sebagian uang yang telah dibayarkan.
Penjualan Cicilan
Setiap jenis penjualan yang pembayarannya dicicil secara periodik
sepanjang periode waktu tertentu. Karena resiko kerugian dan piutang
tak tertagih lebih besar dalam penjualan cicilan (sales on installment)
dibandingkan dengan transaksi penjualan lain, maka penjual biasanya
menahan hak legal atas barang sampai seluruh pembayaran dilakukan.
Pengaruh Kesalahan Persediaan
Pos-pos yang dimasukkan atau dikeluarkan secara tidak benar dalam
penentuan harga pokok penjualan akibat salah-saji persediaan akan
menyebabkan laporan keuangan tidak tepat.
a. Salah-Saji Persediaan Akhir, apa yang terjadi jika persediaan awal dan
pembelian dicatat secara tepat, tetapi sejumlah pos tidak dimasukkan
dalam persediaan akhir, kita akan memiliki pengaruh terhadap laporan
keuangan pada akhir periode. Jika persediaan akhir kurang saji, maka
modal kerja dan rasio lancar kurang saji. Jika harga pokok penjualan lebih
saji, maka laba bersih kurang saji.
b. Salah-Saji Pembelian dan Persediaan, anggaplah bahwa barang tertentu
tidak dicatat sebagai pembelian dan tidak diperhitungkan dalam
persediaan akhir maka akan menyebabkan pengaruh terhadap laporan
keuangan. Akan menyebabkan persediaan dan utang usaha kurang-saji
dalam neraca serta pembelian dan persediaan akhir kurang-saji dalam
laporan laba-rugi. Namun laba bersih untuk periode berjalan tidak
dipengaruhi oleh pengabaian seperti itu karena pembelian dan
persediaan akhir sama-sama kurang-saji dengan jumlah yang sama
kesalahan tersebut kemudian akan saling mengoffset dalam harga pokok
penjualan. Modal kerja total juga tidak berubah, tetapi rasio lacar akan
lebih-saji karena persediaan dan utang usaha kurang-saji dengan jumlah
yang sama.
2. BIAYA-BIAYA YANG HARUS DIMASUKKAN DALAM PERSEDIAAN
Salah satu masalah paling penting dalam menangani persediaan
berhubungan dengan berapa jumlah persediaan yang harus dicatat dalam
akun Pembelian (akuisisi) persediaan, seperti aktiva lain, umumnya
diperhitungkan atas dasar biaya.
a. Biaya Produk
Biaya produk (product costs) adalah biaya-biaya yang melekat pada
persediaan dan dicatat dalam akun persediaan. Biaya-biaya ini
berhubungan langsung dengan transfer barang ke lokasi bisnis pembeli
dan pengubahan barang tersebut ke kondisi yang siap dijual. Beban
seperti ini mencakup ongkos pengangkutan barang yang dibeli, biaya
pembelian langsung lainnya dan biaya tenaga kerja serta produksi
lainnya yang dikeluarkan dalam memproses barang ketika dijual.
b. Biaya Periode
Biaya periode (period costs) merupakan biaya-biaya yang terikat secara
tidak langsung dengan akuisisi atau produksi barang. Biaya-biaya periode
seperti beban penjualan (selling expenses) tidak dianggap sebagai
bagian dari biaya persediaan. Biaya bunga (interest costs) merupakan
biaya periode lainnya yang berhubungan dengan penyiapan persediaan
agar siap dijual biasanya dibebankan pada saat dikeluarkan. Pendekatan
ini beranggapan bahwa biaya bunga merupakan biaya pembiayaan.
Namun pihak lainnya berpendapat biaya bunga yang dikeluarkan untuk
membiayai aktivitas yang terkait dengan penciptaan dan pengangkutan
persediaan ke kondisi serta lokasi siap jual merupakan biaya aktiva. FASB
menetapkan bahwa biaya bunga yang berhubungan dengan aktiva yang
dibuat untuk pemakaian internal atau aktiva yang diproduksi sebagai
proyek khusus (seperti kapal atau rill estat) yang akan dijual atau dilease
harus dikapitalisasi.
c. Perlakuan atas Diskon Pembelian
Pemakaian akun Diskon Pembelian (purchase discount) dalam sistem
persediaan periodik menunjukkan bahwa perusahaan melaporkan
pembelian dan utang usaha pada jumlah kotor. Jika perusahaan
menggunakan metode kotor, maka diskon pembelian dilaporkan sebagai
pengurang dan akun pembelian di laporan laba-rugi. Jika perusahaan
menggunakan metode bersih, diskon pembelian yang hilang harus
dipandang sebagai beban keuangan dan dilaporkan dalam bagian Beban
serta kerugian lain-lain pada laporan laba-rugi. Perlakuan ini dianggap
lebih baik karena (1) menyediakan pelaporan yang tepat menyangkut
biaya aktiva dan kewajiban yang terkait, dan (2) menyajikan kesempatan
untuk mengukur inefisiensi manajemen jika diskon tidak diambil.
3. ASUMSI ARUS BIAYA YANG HARUS DIADOPSI.
Selama setiap periode fiskal tertentu, besar kemungkinan suatu barang akan
dibeli dengan beberapa harga berbeda. Jika persediaan akan dinilai pada
biaya perolehan dan beberapa pembelian telah dilakukan dengan biaya per
unit yang berbeda harga mana yang harus digunakan, secara konseptual,
identifikasi khusus atas pos-pos yang terjual dan pos-pos yang belum terjual
terlihat optimal, tetapi cara ini seringkali tidak hanya mahal tetapi juga tidak
mungkin untuk diterapkan. Sebagai akibatnya, beberapa asumsi arus biaya
(cost low asumption) yang bersifat sistematis dapat digunakan. Tidak ada
keharusan bahwa asumsi arus biaya yang dipakai terus konsisten dengan
pergerakan fisik barang. Tujuan utama dari pemilihan asumsi arus biaya
adalah untuk memilih asumsi yang paling mencerminkan laba periodik
sesuai kondisi yang berlaku.
a. Indentifikasi Khusus
Identifikasi khusus (specific identification) digunakan dengan cara
mengidentifikasi setiap barang yang dijual dan setiap barang dalam pos
persediaan. Biaya barang-barang yang telah terjual dimasukkan dalam
harga pokok penjualan, sementara biaya barang-barang khusus yang
masih berada di tangan dimasukkan pada persediaan. Metode ini hanya
bisa digunakan dalam kondisi yang memungkinkan perusahaan
memisahkan pembelian yang berbeda yang telah dilakukan secara fisik.
Secara konseptual metode ini tampak ideal karena biaya aktual
ditandingkan dengan pendapatan aktual, dan persediaan akhir dilaporkan
pada biaya aktual. Dengan kata lain, metode identifikasi khusus
menandingkan arus biaya dengan arus fisik barang.

b. Biaya Rata-rata
Metode biaya rata-rata menghitung harga pos-pos yang terdapat dalam
persediaan atas dasar biaya rata-rata barang yang sama yang tersedia
selama suatu periode. Menggunakan metode persediaan periodik,
dimana persediaan akhir dan harga pokok penjualan akan dihitung
menggunakan metode rata-rata tertimbang. metode lainnya adalah
metode rata-rata bergerak yang digunakan dalam sistem persediaan
perpetual. Pemakaian metode rata-rata biasanya dapat dibenarkan dari
sisi praktis, bukan karena alasan konseptual. Metode ini mudah
diterapkan, objektif, dan tidak dapat dimanfaatkan untuk memanipulasi
laba seperti halnya beberapa metode penentuan harga persediaan
lainnya.
c. First-In, First-Out (FIFO)
metode FIFO mengasumsikan bahwa barang pertama yang dibeli adalah
barang pertama yang digunakan (perusahaan manufaktur) atau dijual
(perusahaan dagang). Karena itu, persediaan yang tersisa merupakan
barang yang dibeli paling akhir. Dalam semua kasus FIFO, persediaan dan
harga pokok penjualan akan sama pada akhir bulan terlepas dari apakah
yang dipakai adalah sistem persediaan perpetual ataupun periodik, hal
ini karena yang menjadi bagian dari harga pokok penjualan adalah
barang dagang yang dibeli terlebih dahulu, dan karenanya dikeluarkan
lebih dulu, terlepas dari apakah harga pokok penjualan dihitung seiring
barang dijual sepanjang periode akuntansi (sispem perpetual) atau
sebagai residu pada akhir periode akuntansi (sistem periodik).
d. Last-In, First-Out (LIFO)
Metode LIFO menandingkan biaya dari barang-barang yang paling akhir
dibeli terhadap pendapatan. Jika yang digunakan adalah persediaan
periodik, maka yang diasumsikan bahwa biaya dari total kuantitas yang
terjual atau dikeluarkan selama suatu bulan berasal dari pembelian
paling akhir. Aplikasi metode LIFO akan menghasilkan nilai persediaan
akhir dan harga pokok penjualan yang berbeda.

MASALAH KHUSUS YANG BERHUBUNGAN DENGAN LIFO


1. Cadangan LIFO
Banyak perusahaan menggunakan LIFO untuk tujuan pajak dan pelaporan
eksternal, tetapi menggunakan FIFO, biaya rata-rata, atau sistem biaya
standar untuk tuuan pelaporan internal. Mereka melakukan itu dengan
alasan: (1) Perusahaan seringkali mendasarkan keputusan penentuan
hargapada asumsi FIFO, biaya rata-rata, atau biaya standar, bukan atas
dasar LIFO. (2) Pencatatan yang dilakukan atas beberapa dasar lainnya lebih
mudah karena asumsi LIFO biasanya tidak menyerupai arus fisik produk. (3)
Pembagian labadan perjanjian bonus lain biasanya tidak didasarkan pada
asumsi persediaan LIFO. (4) Pemakaian sistem LIFO murni tidak praktis untuk
periode interim, di mana perusahaan harus membuat estimasi untuk
kuantitas dan harga akhir tahun. Perbedaan antara metode persediaan yang
digunakan untuk tujuan pelaporan internal dengan LIFO disebut sebagai
Penyisihan untuk Mengurangi Persediaan ke LIFO atau cadangan LIFO.
Perubahan saldo penyisihan di atas dari satu periode ke periode berikutnya
dinamakan dampak LIFO. Dampak LIFO adalah penyesuaian yang ahrus
dilakukan atas catatan akuntansi pada suatu tahun tertentu
2. Likuiditas LIFO
Sampai saat ini kita telah membahas pendekatan barang khusus untuk
menkalkulasi biaya persediaan LIFO yang disebut juga LIFO tradisional atau
LIFO unit. Pendekatan ini sering kali tidak realistis karena 2 alasan:
- Jika perusahaan memiliki banyak item persediaan yang berbeda, maka
penelusuran atas setiap item persediaan itu akan membutuhkan
akuntansi yang tinggi.
- Erosi persediaan LIFO dapat terjadi dengan mudah atau disebut
likuidasi LIFO. Hal ini sering kali akan mendistorsi laba bersih dan
pembayaran pajak yang substansial.
Untuk meminimalkan masalah likuidasi LIFO dan menyederhanakan
akuntansi, barang dapat digangkan dalam pool. Sebuah pool didefinisikan
sebagai kelompok item yang bersifat serupa. Jadi, sejumlah unit atau produk
yang serupa, bukan hanya unit-unit yang identik, digabungkan dan
diperlakukan secara sama. Metode ini yang dinamakan dengan specific
goods pooled LIFO approach, biasanya jarang menghasilkan likuidasi LIFO
karena penurunan kuantitas dalam pool bisa ditutupi kengan kenaikan dalam
pool yang lain.
3. LIFO Nilai-Dollar
Untuk mengatasi masalah pengubahan pool dan masalah erosi lapisan
persediaan, dikembangkanlah metode LIFO nilai-dollar. Karakteristik pending
dari metode ini adalah bahwa kenaikan atau penurunan dalam sebuah pool
ditentukan dan diukur dari segi total nilai-dollar, bukan kuantitas fisik barang
dalam pool persediaan. Pendekatan ini memiliki dua keunggulan penting
dibanding pendekatan secific goods pool, pertama, berbagai jenis barang
kini bisa dimasukkan dalam pool LIFO nilai-dollar. Kedua, dalam sebuah pool
LIFO nilai-dollar, penggantian dibolehkan jika penggantinya merupakan
bahan yang sama, atau memiliki tujuan pemakaian yang sama, atau dapat
saling dipertukarkan.
- Pemilihan Indeks Harga
Perubahan harga merupakan hal yang kritis dalam LIFO nilai-dollar.
Perusahaan menggunakan indeks tingkat harga umum yang disusun
dan dipublikasikan secara bulanan oleh pemerintah federal. Banyak
asosiasi dagang membuat indeks untuk lini produk atau industri
tertentu. Semua indeks ini dapat digunakan untuk tujuan LIFO nilai-
dollar. Rumus umum untuk perhitungan indeks adalah sebagai berikut:
Persediaan Akhir Periode pada Biaya Berjalan
Persediaan Akhir Periode pada Biaya Tahun Dasar = Indeks Harga Tahun

Berjalan
Pendekatan ini secara umum disebut dengan double-extension
methode karena nilai unit persediaan diperbesar menurut harga tahun
dasar beerbasis harga tahun berjalan. Pemakaian metode ini
membutuhkan banyak waktu dan sulit dalam kondisi yang melibatkan
perusahaan teknologi yang signifikan atau banyak item.

Perbandingan Pendekatan LIFO


Penggunaan LIFO barang-khusus adalah tidak realistik karena sebagian besar
perusahaan memiliki berbagai jenis barang dalam persediaan pada akhir
periode, dan penentuan harga persediaan ini atas dasar per unit
membutuhkan banyak biaya dan waktu. Pendekatan LIFO pool barang-
khusus lebih baik karena mengurangi biaya pencatatan dan biaya klerikal.
Selain itu, lapisan persediaannya menjadi lebih sulit mengalami erosi karena
penurunan suatu kuantitas dalam satu pool bisa dioffset oleh kenaikan
kuantitas lain. Meskipun demikian, pendekatan pool yang menggunakan
kuantitas sebagai dasar pengukuran bisa menyebabkan likuidasi LIFO yang
prematur. Akibatnya LIFO nilai-dollar adalah metode yang dipakai oleh
sebagian besar perusahaan yang menggunakan sistem LIFO, walaupun
pendekatan ini tampak rumit, namun logika dan cara perhitungannya
sebetulnyan sangat sederhana, jika indeks yang tepat telah diperoleh. Hal ini
tidak menyatakan bahwa metode LIFO nilai-dollar tidak memiliki kelemahan.
Pemilihan item-item yang akan dimasukkan ke dalam sebuah pool bisa
bersifat subjektif. Akan tetapi, penentuan seperti itu sangan penting karena
dapat mempengaruhi laba bersih yang dilaporkan.

Keunggulan Utama Pendekatan LIFO


Salah satu keunggulan nyata dari pendekatan LIFO adalah bahwa, dalam
situasi tetentu, arus biaya LIFO menyerupai arus fisik barang yang keluar
masuk persediaan. Oleh karena itu sebagian besar penganut LIFO
mengguanakan argumen lain untuk mendukung pemakaiannya, yaitu:
a. Penandingan
Dalam LIFO, biaya paling akhir ditandingkan dengan pendapatan berjalan
untuk menghitung ukuran laba berjalan yang lebih baik. Selama periode
inflasi, banyak pihak mempertanyakan kualitas dari laba non-LIFO,
dengan menyatakan bahwa kegagalan untuk menandingkan biaya
berjalan mengguanakn pendapatan berjalan akan meciptakan laba
transitori atau laba kertas(laba persediaan). Laba persediaan terjadi
apabila biaya dari persediaan yang ditandingkan dengan penjualan lebih
kecil dari biaya penggantinya. Karena itu, harga pokok penjualan akan
kurang-saji dan laba bersih lebih-saji. Dengan menggunakan LIFO (bukan
metode lain seperti FIFO) biaya berjalan akan ditandingkan dengan
pendapatan, sehingga mengurangi laba persediaan
b. Manfaat Pajak/Memperbaiki Arus Kas
Manfaat pajak adalah alasan utama mengapa LIFO sangat populer.
Sepanjang tingkat harga terus naik dan kuantitas persediaan tidak
menurun, pemakaian LIFO akan menagguhkan pajak penghasilan, karena
item-item yang dibeli paling akhir dengan harga yang lebih tinggi
ditandingkan dengan pendapatan. UU Pajak mewajibkan bahwa jika
sebuah perusahaan menggunakan LIFO untuk tujuan perpajakan, maka
perusahaan tersebut juga harus menggunakan LIFO untuk tujuan
pelaporan keuangan. Persyaratan ini seringkali disebut dengan aturan
keselarasan LIFO. Metode penilaian persediaan lainnya tidak memiliki
aturan ini
c. Pembendung atas Laba di Masa Depan
Jika memakai LFO, laba masa depan perusahaan yang dilaporkan tidak
akan dipengaruhi secara signifikan oleh penurunan harga. Jadi LIFO
menghilangkan atau meminimalkan secara substansial write-downs to
market sebagai akibat dari penurunan harga karena persediaan yang
dibeli paling akhir dijual terlebih dahulu, maka tidak banyak persediaan
berbiaya tinggi yang tersisa, yang rentan terhadap penurunan harga.
Sebaliknya, persediaan yang dinilai menurut FIFO lebih rentan terhadap
penurunan harga, yang bisa menurunkan laba bersih secara substansial.

Kelemahan Utama Pendekatan LIFO


a. Berkurannya Laba
Banyak manajer korporasi memandang penurunan laba yang dilaporkan
menurut metode LIFO selama periode inflasioner sebagai kelemahan
yang nyata, dan lebih memilih melaporkan laba yang lebih tinggi
daripada pajak yang lebih rendah.
b. Persediaan Kurang-Saji
LIFO mungkin memiliki pengaruh yang mendistorsi terhadap neraca
perusahaan. Penilaian persediaan biasanya ketinggalan zaman karena
biaya yang paling tua masih ada dalam persediaan. Kurang-saji ini
membuat posisi modal kerja perusahaan tampak lebih buruk dari kondisi
aktualnya.
c. Arus Fisik
LIFO tidak menyerupai arus fisik item-item persediaan kecuali dalam
situasi tertentu. Pada awalnya, LIFO hanya dapat digunakan dalam situasi
tertentu. Situasi ini berubah dari tahun ke tahun sampai titik di mana
karakteristik arus fisik tidak lagi memainkan peran penting dalam
menentukan apakah LIFO layak dipakai atau tidak
d. Likuidasi Terpaksa/Kebiasaan Pembelian yang Buruk
Jika lapisan atau dasar biaya lama dieliminasi, maka hasil yang ganjil bisa
terjadi karena biaya lama yang tidak relevan dapat ditandingkan dengan
pendapatan berjalan. Laba yang dilaporkan untuk periode berjalan bisa
terdistorsi, serta perusahaan akan mengalami konskuensi pajak yang
merugikan dari sudut pandang pajak penghasilan. Selain itu, penggunaan
LIFO selalu memunculkan kemungkinan bahwa perusahaan akan
berupaya untuk memanipulasi laba bersih pada akhir tahun degan hanya
mengubah pola pembelian.

DASAR PEMILIHAN METODE PERSEDIAAN


Kecendrungan untuk memilih LIFO biasanya dapat disebabkan oleh kondisi-
kondisi berikut: (1) harga jual dan pendapatan telah meningkan lebih cepat
dibanding biaya, sehingga mendistorsi laba, dan (2) dalam situasi di mana
LIFO sudah menjadi tradisi, seperti tokok swalayan dan industri yang
dicirikan oleh stok dasar konstan seperti industri penyulingan, kimia, dan
kaca. Sebaliknya, LIFO mungkin tidak akan tepat dalam situasi: (1) harga
cenderung menurun terhadap biaya; (2) pemakaian metode identifikasi
khusus sudah merupakan tradisi, seperti dalam bisnis mobil, peralatan
pertanian, barang seni, dan perhiasan antik; atau (3) biaya per unit
cenderung menurun seiring dengan meningkatnya produksi, sehingga
meniadakan manfaat pajak yang mungkin disediakan oleh LIFO. Konsekuensi
pajak adalah pertimbangan yang lain. Peralihan dari FIFO ke LIFO biasanya
akan langsung menyediakan manfaat pajak. Sementara itu, peralihan dari
LIFO ke FIFO bisa menimbulkan beban pajak yang signifikan. Meskipun
perusahaan dapat menggunakan bebagai metode persediaan untuk
membantu menghitung laba bersih secara akurat, namun sekali perusahaan
memilih metode penetapan harga yang paling cocok, metode itu harus
diterapkan secara konsisten dari waktu ke waktu. Jika kondisi yang muncul
kemudian menunjukkan bahwa metode penetapan harga persediaan yang
digunakan tidak lagi cocok, perusahaan harus mempertimbangkan semua
kemungkinan lain secara serius sebelum beralih ke motede lain. Peralihan ke
metode lain harus dijelaskan secara sekasama dan dampaknya diungkapkan
dalam laporan keuangan.