Anda di halaman 1dari 16

Pengertian Transisi Epidemiologi

Transisi Epidemiologi merupakan suatu pola perubahan penyakit dalam


masyarakat dimana akan terjadi pergeseran pola penyakit dan pola sebab kematian
dalam masyarakat dengan menurunya angka penyakit menular tertentu dan
meningkatnya angka berbagai penyakit tidak menular.
Dengan semakin berkembangnya kehidupan sosial masyarakat, penyakit dan
status kesehatan mulai dirasakan bukan lagi merupakan masalah perorangan atau
keluarga, melainkan telah menjadi masalah yang erat hubungannya dengan kehidupan
sosial masyarakat dan keadaan lingkungan, maka para pakar ilmu kemasyarakat lain
secara bersama-sama mengembangkan suatu disiplin ilmu yang akhirnya terkenal
dengan Ilmu Kesehatan Masyarakat. Disiplin ilmu ini pada hakikatnya tetap
mempelajari manusia beserta tingkat kesejahteraannya. Berbeda dengan ilmu
kedokteran yang melihat manusia sebagai individu, dan Kesehatan Masyarakat
melihat masyarakat sebagai suatu kesatuan yang menjadi objek formalnya. Ruang
lingkup ilmu kesehatan masyarakt semakin berkembang dan tidak hanya meliputi
sehat dan sakit dalam pengertian sempit, tetapi menyangkut kesejahteraan manusia
dan masyarakat luas.
Epidemiologi sebagai salah satu jurusan pokok dalam bidang kesehatan
masyarakat telah berkembang sedemikian rupa sehingga dengan kemampuannya
dalam analisis permasalahan, analisi faktor penyebab dan hubungan sebab akibat
dalam proses timbulnya masalah serta gangguan kesehatan dalam masyarakat,telah
digunakan untuk mengatasi berbagai masalah kesehatan dalam masyarakat dan telah
berhasil mengangkat derajat kesehatan masyarakat ke tingkat yang lebih baik
sekarang ini.
Pendekatan global dalam bidang kesehatan pada akhir abad yang lalu telah
menghasilkan suatu perubahan yang cukup besar baik secara intensif maupun
ekstensif dalam perjalanan pembangunan kesehatan. Kemajuan serta peningkatan
pengetahuan sebab-akibat terjadinya penyakit dan gangguan kesehatan, kemajuan
yang telah dicapai dibidang sanitasi maupun gizi, pengembangan vaksin serta
berbagai jenis obat-obatan, pengembangan kerjasama dalam penggunaan fasilitasi dan
tenaga kesehatan, perkembangan teknologi bidang kesehatan terutama bidang
kedokteran serta kemajuan dalam bidang ekonomi kesehata maupun kebiasaan hidup
sehat merupakan sebagian dari semua faktor yang secara radikal telah menghasilkan
transformasi status kesehatan peda berbagai negara.
Hasil yang telah dicapai dalam bidang kesehatan antara lain lebih banyak
penduduk dunia yang dapat mengenyam keadaan sehat bila dibandingkan pada waktu
sebelumnya. Namun demikian, kemajuan yang dicapai dalam bidang kesehatan
menimbulkan berbagai masalah baru, disamping berbagai harapan masa depan.
Dengan menurunya secara drastis angka penyakit dan angka kematian akibat infeksi,
memberi kesempatan pada sejumlah besar penduduk untuk memasuki usia lanjut,
berarti bertambahnya jumlah penduduk untuk memasuki penyakit menahun serta
penyakit akibat kecelekaan. Demikian pula dengan ditekannya angka fertilitas dan
mortalitas dapat mendorong meningkatnya proporsi penduduk usia lanjut dengan
masalah kesehatn serta pelayanan kesehatan yang bersifat khusus. Dengan
meningkatnya laju perkembangan industri yang disertai pula dengan urbanisasi dan
moderenisasi menimbulkan berbagai dampak terhadap fasilitas dan sistem pelayanan
kesehatan yang cenderung semakin mahal.
Melihat keadaan kesehatan masyarakat di indonesia sekarang ini dan
membandingkannya dengan masa sebelumnya maka jelas tampak adanya kemajuan
dan peningatan pada berbagai bidang. Dan bila kita melihat kedepan, timbul
pertanyaan bagaimana bentuk keadaan masyarakat pada masa yang akan datang.
Masalah kesehatan masyarakat tidak hanya terkait dengan berbagai faktor yang
berhubungan langsung dengan penyakit, tetapi jauh lebih luas dan hampir berkaitan
erat dengan semua aspek kehidupan manusia. Dengan adanya kemajuan
pembangunan diberbagi bidang yang cukup berpengaruh dalam kehidupan perorangan
dan masyarakat yang disertai dengan timbulnya perubahan-perubahan pada berbagai
sektor sebagai akibat daari hasil pembangunan telah memberikan pula pengaruh bagi
masalah kesehatan masyarakat.
Adanya perubahan yang terjadi pada berbagai aspek kehidupan masyarakat
dapat memberikan pengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap sifat-sifat
epidemiologis penyakit maupun gangguan kesehatan lainnya yang pada dasarnya
memberikan bentuk masalah kesehatan masyarakat pada masa mendatang.
Transisi epidemiologi pada negara berkembang bukanlah suatu proses yang
dapat berlangsung dengan sendirinya dan juga tidaklah merupakan proses yang berdiri
sendiri. Hal ini dapat dilihat dengan adanya perbedaan umur harapan hidup antara
berbagai negara berkembang. Di tahun 1988 masih terdapat 12 Negara Afrika bagian
sub-sahara yang memiliki umur harapan hidup dibawah 50 tahun, sedangkan dilain
pihak, jumlah negara yang sama di Amerika Latin dan Asia (termasuk cina) telah
memiliki umur harapan hidup 70 tahun atau lebih. Selain itu didalam negara
berkembang (dan juga negara maju) biasanya ada kesenjangan umur harapan hidup
yang lebar antara golongan sosial maupun antara tempat yang berbeda. Frank dan
kawan-kawan telah menyebut kesenjangan ini sebagai polarisasi epidemiologi atau
stagnasi epidemiologi. Adanya perbedaan permasalahan ini tidak terbatas hanya
penyakit menular pada bayi dan anak, tetapi juga termasuk penyakit tidak menular
pada kelompok dewasa.
Dengan bertolak dari aspek mortalitas dalam transisi demografi, Omran
mengemukakan bahwa dengan perkembangan keadaan sosial ekonomi serta kemajuan
teknologi kedokteran tidak hanya menimbulkan transisi angka kematian yang
menurun, tetapi juga disertai dengan pergeseran sebab kematian dan pola dalam
masyarakat. Pergeseran ini terjadi melalui tahap-tahap tertentu.
1. Tahap, the era of festilence and famine dengan angka harapan hidup yang
sangat rendah. Sebab kematian terutama karena kelaparan, berbagi wabah
penyakit infeksi serta sebab yang berhubungan dengan proses repsoduksi.
2. Tahap, the era of receding pandemic yang ditandai dengan menurunya
peristiwa pandemi disertai angka kematian yang terus menurun, peristiwa
endemi semakin jarang dan tidak bersifat fatal. Pada tahap ini angka
harapan hidup meningkat, walaupun pola penyakit masih didominasi oleh
penyakit infeksi dan kurang gizi.
3. Tahap, the era of degenerative and manmade disease yang ditandai
dengan semakin meningkatnya berbagai penyakit dan gangguan
kardiovaskular, kanker, diabetes serta berbagai penyakit degeneratif
lainnya. Tahap ini, umur harapan hidup mencapai puncaknya disertai
dengan angka kematian mencapai kondisi stabil pada tingkat yang rendah.
Penyakit degeneratif dan berbagai penyakit akibat ulah manusia seperti
kanker, penyakit jantung, dan AIDS akan merupakan sebab kematian
utama.
Pada masa yang akan datang, masyarakat kita akan mengalami dua macam
gangguan atau ancaman penyakit secara bersamaan. Gangguan tersebut antara lain ;
1. Masih adanya berbagai kejadian penyakit menular di daerah pedesaan dan terpencil
maupun di daerah pemukiman kumuh perkotaan,
2. Masih ditemukannya penyakit menular lama serta timbulnya penyakit menular baru
merupakan masalah kesehatan yang masih memerlukan perhatian khusus.
Dilain pihak dengan meningkatnya pencemaran air, pencemaran udara, dan
berbagai penggunaan bahan kimia dalam makanan mendorong terjadinya berbagai
penyakit tidak menular seperti penyakti-penyakit kanker, gangguan kejiwaan,
kecelakaan lalu lintas serta berbagai penyakit dan kecelakaan berhubungan erat
dengan pekerjaan.
Disamping itu, kita akan menhadapi juga masalah gizi ganda. Masalah gizi
yang berkaitan dengan penyakit infeksi dan kemiskinan akan tetap merupakan
masalah yang masih mengancam penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan.
Dipihak lain, karena meningkatnya pendapatan dan perubahan gaya hidup sebagai
penduduk akibat keberhasilan pembangunan ekonomi dan pengaruh budaya global,
maka masalah gizi lebih (over nutrition) akan mengacam kehidupan penduduk
golongan menegah ke atas serta kelompo usia lanjut. Ancaman tersebut berupa makin
meningkatnya risiko menderita penyakit tidak menular terutama dalam bentuk
kegemukan, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan penyakit kanker.
Dengan demikian masalah kesehatan masyarakt akan berahli dari masalah
kesehatan pedesaan ke kesehatan perkotaan (urban health problems) yang disertai
dengan perubahan pola penyakit seperti meningkatnya berbagai penyakit akibat kerja
dan penyakit tidak menular lainnya. Perubahan pola hidup dan nilai sosial budaya
dapat mendorong meningkatnya gangguan jiwa, kecanduan, dan penyakit akibat
perubahan perilaku, serta kemungkinan timbulnya penyakit canggih baru dalam
masyarakat.
Hal ini sesuai dengan hasil trend assessment bahwa beberapa penyakit
menular tertentu telah menunjukan penurunan prevelensi yang cukup tajam seperti
infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), diare, dipteri, batuk rejan serta campak pada
bayi dan anak. Dipihak lain, penyakit hepatitis dan beberapa jenis penyakit yang
ditularkan melalui hubungan seksual (Penyakit Kelamin) termasuk AIDS dan HIV
akan meningkat sejalan dengan meningkatnya beberapa aspek kehidupan modern.
Dengan meningkatnya mobilitas penduduk dan komunikasi antarpulau
memingkinkan berbagai penyakit menular endemins pada daerah tertentu yang dapat
menyebar diberbagai daerah lain yang dapat mewabah pada daerah penduduk.
Penyakit malaria, filaria, dan tuberkolosis yang hanya terbatas pada daerah tertentu
atau pada kelompok penduduk tertentu dapat menyebar dengan cepat mengikuti
mobilitas penduduk yang cukup aktif.
Angka kematian bayi, balita, dan angka kematian umum menurun namun akan
terjadi peningkatan angka kematian pada usia produktif dan pada usia lanjut. Dipihak
lain, masih dijumpai berbagai daerah terpencil maupun gugus kepulauan yang masih
belum terjangkau oleh pelayanan kesehatan yang optimal.
Meningkatnya biaya pelayanan kesehatan terutama pelayanan kesehatan
swasta, mendorong masyarakat miskin mencari pelayanan tradisional yang dapat
menimbulkan kantung-kantung penularan penyakit tertentu dalam masyarakat.
Dalam keadaan seperti ini, pelayanan spesialistik akan semakin meningkat, sedangkan
berbagai penyakit pada masyarakat miskin akan mendekam tanpa pelayanan yang
sesuai. Dengan demikian, kita akan menghadapi dua kondisi yang tajam yakni
penyakit menular yang akan tetap meningkat pada kelompok penduduk miskin yang
setiap saat mengancam kesehatan masyarakat secara umum, disertai penyakit canggih
yang mungkin muncul secara bersama-sama dengan meningkatnya berbagai penyakit
tidak menular dan gangguan jiwa akan merupakan gangguan kesehatan pada periode
yang akan datang.
Meningkatnya umur harapan hidup rata-rata akan menimbulkan masalah
kesehatan baru, yakni gangguan kesehatan pada masyarakat jompo, baik fisik, mental,
maupun kehidupan sosial. Beberapa penyakit tidak menular akan mengalami
peningkatan prevelensi seperti angka kecelakaan, kerancunan, dan penyakit akibat
pencemaran lingkungan, gangguan metabolisme serta penyakit kardiovaskular,
penyakit degenerative, penyakit kanker, disamping berbagai bentuk penyakit saraf dan
gangguan jiwa.
Kecenderungan bidang kesehatan, pola penyakit berubah dari penyakit
menular yang lebih muda disembuhkan ke penyakit tidak menular yang bersifat
menahun bahkan dapat seumur hidup sehingga akan menambah beban biaya
pengobatan. Meningkatnya berbagai gangguan jiwa karena keadaan yang tidak
menentu, disertai dengan penyakit akibat perubahan perilaku sehungga dapat
menimbulkan penyakit canggih baru. Terjadi kesenjangan pelayanan kesehatan bagi
yang mampu dengan yang miskin dan timbul kantung-kantung dengan masalah
kesehatan tersendiri daerah kumuh di kota besar.
Bagi pembuat kebijakan kesehatan ialah bahwa sebagian besar negara
berkembang menghadapi permasalahan pre dan post transisi epidemiologi secara
bersamaan. Dalam hal ini Foege dan Henderson telah menyimpulkan bahwa negara
berkembang tidak akan ada pilihan lain dalam masa transisi epidemiologi, mereka
harus menangani dua macam masalah penyakit secara bersamaan pada permulaan
abad ini.

2.2.Transisi Epidemiologi dalam Bidang Gizi.


Epidemiologi gizi merupakan satu-satunya metode dalam Ilmu Gizi yang
dapat memberikan informasi langsung tentang keterkaitan gizi/kesehatan pada
populasi yang mempunyai asupan makanan dan zat gizi secara normal.
Pergeseran pola penyakit dari penyakit infeksi ke penyakit non-infeksi
(degeneratif) adalah akibat terjadinya pergeseran pola makan dan pola hidup. Di sini
terjadi pergeseran dari pola makan tradisional yang tinggi karbohidrat, tinggi serat,
dan rendah lemak ke pola makan modern yang tinggi lemak, tapi rendah serat dan
karbohidrat. Kurangnya mengonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran membuat
tubuh kekurangan serat dan dapat berisiko meningkatkan kadar kolesterol tubuh.
Di Indonesia transisi epidemiologi menyebabkan terjadinya pergeseran pola
penyakit, di mana penyakit kronis degenerative sudah terjadi peningkatan. Penyakit
degenerative merupakan penyakit tidak menular yang berlangsung kronis seperti
penyakit jantung, hipertensi, diabetes, kegemukan dan lainnya.
Kontributor utama terjadinya penyakit kronis adalah pola hidup yang tidak
sehat seperti kebiasaan merokok, minum alkohol, pola makan dan obesitas, aktivitas
fisik yang kurang, stres, dan pencemaran lingkungan. Sehingga Indonesia
menanggung beban ganda penyakit di bidang kesehatan, yaitu penyakit infeksi masih
merajalela dan ditambah lagi dengan penyakit-penyakit kronik degenerative.
Bila kondisi ini tidak segera diperbaiki dengan pola makan yang benar dan
baik, maka dapat berakibat timbulnya berbagai penyakit, terutama penyakit
degeneratif (jantung, diabetes, bahkan kanker colon). Saat ini masyarakat kita
mengarah pada masyarakat modern yang mempunyai kesibukan sangat tinggi,
sehingga sangat wajar apabila terjadi perubahan pola makan di mana mereka tidak
punya waktu untuk mengonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran segar.
Meningkatnya masalah-masalah yang timbul akibat transisi epidemiologi di
bidang gizi, pesatnya pertumbuhan industry pangan, jumlah dan tuntutan mutu
institusi pelayanan gizi dan makanan disamping peningkatan prevalensi penyakit baik
infeksi maupun degeneratif yang berakar pada kurang gizi sejak masa kehamilan, dan
timbulnya masalah obesitas sejak usia dini meningkatkan beragam problematika gizi
kini dan akan datang sehingga memerlukan penanganan yang professional.
Transisi pola hidup berdampak pada perubahan pola konsumsi dan pola
aktifitas, sehingga memengaruhi komposisi tubuh. Saat ini masyarakat cenderung
lebih menyukai makanan cepat saji (fast food) yang tinggi lemak, protein, karbohidrat,
dannatrium yang jika dikonsumsi secara terus menerus dengan porsi yang berlebihan
akan berdampak meningkatnya kecenderungan kelebihan berat badan (over weight)
yang merupakan salah satu faktor resiko kejadian penyakit degenerative.

2.3.Faktor faktor yang mempengaruhi Transisi Epidemiologi Gizi


Berdasarkan analisis kecenderungan kesehatan secara nasional
(Badan Litbangkes, 1996). Indonesia saat ini sedang mengalami transisi epidemiologi.
Selain itu dikatakan pula oleh Wilopo (1995) bahwa Indonesia saat ini sedang
mengalami polarisasi epidemiologi. Penyakit-
penyakit degeneratif mulai menunjukkan peningkatannya.

Penyebab kematian di daerah perkotaan dan pedesaan juga


menunjukkan pola yang berbeda dominasi penyakit infeksi dan kelainan gizi yang
mengakibatkan status gizi buruk sebagai penyebab kematian masih terlihat di daerah
pedesaan. Sebaliknya penyakit pembuluh darah
jantung, degeneratif, penyakit kronis dan kecelakaan menunjukkan angka
yang cukup tinggi sebagai penyebab kematian di daerah perkotaan.

1. Peningkatan sosial-ekonomi, adanya persiapan untuk globalisasi dan


pengaruh kemajuan teknologi menyebabkan banyaknya makanan kurang
berserat dalam bentuk fast food yang menyerbu pasar Indonesia baik
dikot kota besar maupun sekitarnya. Persiapan globalisasi dan pengaruh
informasi menyebabkan peningkatan perilaku tidak sehat yang akan banyak
berpengaruh pada manusia di masa mendatang terutama penduduk di
perkotaan
2. Kesibukan kerja, stress dan kurang kesempatan berolahraga, lingkungan
kerja yang kurang sehat akan mempengaruhi pula keadaan kesehatan pada
calon pra lansia dan lansia.
Dalam hubungan masalah gizi terdapat kecenderungan-kecenderungan
yang perlu diperhatikan sebagai berikut;
1) Di Indonesia masalah kesehatan masalah xeropthalmia kekurangan
vitamin A bukan merupakan masalah kesehatan masyarakat lagi.
Sedangkan untuk masalah GAKI terutama di derita oleh penduduk
di daerah pegunungan dan terisolir, walaupun sudah terjadi
penurunan 37.2% (hasil surveo 1980-1982) menjadi 27.7% (hasil
survey 1987-1990) masalah ini masih membutuhkan perhatian
khusus.
2) Seiring dengan kemajuan social ekonomi masyarakat, masalah gizi
lebih sebagai resiko timbulnya berbagai penyakit degeneratif sudah
mulai muncul ke permukaan. Observasi pada 205 orang dewasa
diatas 18 tahun (73 orang laki-laki dan 132 orang perempuan)
pengunjung konsultasi gizi pada pameran hari pangan sedunia di
Jakarta memberikan satu contoh situasi kecenderungan masalah
overweight dikota besar seperti Jakarta. Hasil pengumpulan data
berat badan, tinggi badan dan umur yang diterjemahkan ke body
mass index (BMI) membuktikan bahwa prevalensi overweight
pada wanita adalah 24% dan laki-laki 18%. Kecenderungan gizi
lebih ini juga mulai dirasakan pada anak balita, obsErvasi yang
dilakukan dengan menggunakan data susenas 1998 dan 1992,
menyatakan adanya kecenderungan meningkatnya prevalensi gizi
lebih pada laki-laki maupun pada perempuan.
3) Secara mutlak konsumsi total energy meningkat dari 1794
Kkal/orang/hari tahun 1980 menjadi 1901 Kkal/orang/hari pada
tahun 1990.
Kecenderungan-kecenderungan masalah gizi tersebut diatas dapat diduga
dengan menganalisis berbagai factor baik yang secara langsung maupun tidak
langsung berpengaruh terhadap masalah gizi. Banyak ahli yang menyimpulkan
bahwa factor-faktor tersebut antara lain adalah factor-faktor demografi, social
ekonomi, perkembangan iptek dan hasil-hasil pembangunan tahap PJP 1
terutama bidang pangan dan gizi.

2.4.Dampak Transisi Epidemiologi dalam Bidang Gizi


Penyakit-penyakit gizi yang berhubungan dengan gizi, dapat dibagi dalam beberapa
golongan:
a. Penyakit Gizi Lebih (obesitas)
Biasanya penyakit ini bersangkutan dengan kelebihan energi didalam
hidangan yang dikonsumsi relatif terhadap kebutuhan atau penggunaannya
(energi expenditure). Ada tiga zat makanan penghasil energi utama, ialah
karbohidrat, lemak dan protein. kelebihan energi dalam tubuh diubah
menjadi lemak dan ditimbun pada tempat-tempat tertentu. Jaringan lemak
ini merupakan jaringan yang relatif inaktif, tidak langsung berperan serta
dalam kegiatan kerja tubuh.
Orang yang kelebihan berat badan, biasanya karena kelebihan jaringan
lemak yang tidak aktif tersebut. Ada ahli gizi yang membandingkan
kelebihan jaringan lemak pada orang yang kegemukan ini sebagai karung
beras yang harus dipikul kemana-mana, tanpa mendapat mamfaat dari
padanya. Ini akan meningkatkan beban kerja dari organ-organ tubuh,
terutama kerja jantung.
b. Penyakit Gizi Kurang (malnutrition, undernutrition)
Penyakit ini sering dijadikan satu kelompok dan disebut penyakit gizi salah
(malnutrition). Pada penyakit gizi salah, kesalahan pangan terutama terletak
dalam ketidakseimbangan komposisi hidangan. Pada penyakit gizi lebih,
susunan hidangan mungkin seimbang, hanya kuantum keseluruhannya tidak
mencukupi kebutuhan tubuh.
Penyakit gizi salah diIndonesia yang terbanyak termasuk gizi kurang yang
mencakup susunan hidangan yang dikonsumsi juga masih seimbang, hanya
kuantum keseluruhannya tidak mencukupi kebutuhan tubuh.
Penyakit gizi salah terutama diderita oleh anak-anak yang sedang tumbuh
pesat, ialah yang disebut kelompok anak BALITA (bawah lima tahun).
Yang menonjol kurang pada kondisi ini, ialah kurang kalori dan kurang
protein, sehingga disebut penyakit kurang kalori dan protein (KKP). Nama
asingnya ialah protein calorie malnutrition (PCM) atau akhir-akhir ini
disebut Protein Energi Malnutrition (PEM).

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Gizi


Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara
normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan metabolism dan
pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan,
pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ serta menghasilkan energi, (Supriadi
dkk, 2001).

2.2 Masalah Gizi Utama di Indonesia


Sampai saat ini di Indonesia ada lima masalah gizi utama yaitu Kurang Energi Protein
(KEP), Anemia Gizi Besi (AGB), Kurang Vitamin A (KVA) , Gangguan Akibat
Kekurangan Iodium (GAKI) dan Obesitas. Energi dan protein merupakan zat gizi
makro, sedangkan zat besi, vitamin A dan Iodium merupakan zat gizi mikro. Pada
tulisan ini akan dibahas masalah gizi mikro yang utama terjadi di Indonesia. Zat gizi
mikro merupakan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah sedikit, namun
esensial untuk tubuh. Kekurangan salah satu zat ini akan mempengaruhi pertumbuhan
dan perkembangan anak dan dampaknya tidak akan dapat diperbaiki pada tahapan
kehidupan selanjutnya.

2.2.1 Anemia Gizi Besi (AGB)


Anemia sangat umum dijumpai di Indonesia, prevalensinya masih sangat tinggi pada
kelompok-kelompok tertentu. Anemia didefinisikan sebagai suatu keadaan kadar
hemoglobin didalam darah lebih rendah dari nilai normal untuk kelompok orang yang
bersangkutan. Menurut WHO (1996), anak umur 6 bulan 5 tahun dikatakan anemia
jika mempunyai kadar hemoglobin darah kurang 110 g/L.

a. Prevalensi Anemia Gizi Besi


Organisasi kesehatan dunia (WHO) memperkirakan sekitar 40% dari penduduk di
dunia (lebih dari 2 milyar jiwa) terkena anemia. Kelompok yang paling tinggi
prevalensinya adalah wanita hamil dan orang tua yaitu sekitar 50%, bayi dan anak
sampai umur 2 tahun 48%, anak sekolah 40%, wanita tidak hamil 35%, adolescent 30-
55%, dan anak prasekolah 25%. Prevalensi anemia di negara-negara berkembang
sekitar empat kali lebih besar dibandingkan dengan negara-negara maju. Diperkirakan
prevalensi anemia untuk anak sekolah di negara berkembang dan maju adalah 53%
dan 9%, anak prasekolah 42% dan 17% (Allen and Gillespie, 2001). Prevalensi AGB
di Indonesia pada satu tahun pertama kehidupan masih diatas 60%, walaupun
angkanya menurun sejalan dengan bertambahnya usia anak, namun prevalensinya
masih tinggi yaitu 32.1 % pada anak usia 48-59 bulan. Menurut WHO anemia
dikatakan menjadi masalah kesehatan masyarakat jika prevalensi di suatu negara yaitu
< 15% adalah rendah, 15-40% adalah sedang dan >40% adalah tinggi (Direktorat Gizi
Mayarakat, 2003)

b. Penyebab Anemia Gizi Besi


Umur sel darah merah sekitar 120 hari, sumsum tulang akan mengganti sel darah
merah yang tua dengan membuat sel darah merah yang baru. Kemampuan membuat
sel darah merah baru sama cepatnya dengan banyaknya sel darah merah tua yang
hilang, sehingga jumlah sel darah merah selalu dipertahankan cukup banyak didalam
darah. Penyebab AGB utama yang terjadi terutama di negara-negara yang sedang
berkembang adalah penyerapan zat besi. Sumber terbaik dari besi adalah makanan
yang berasal dari daging, ikan dan telur, namun konsumsinya rendah pada masyarakat
yang berpenghasilan rendah. Jumlah zat besi yang diserap dari makanan hewani
adalah sekitar 25%, sedangkanjumlah besi yang diserap dari biji-bijian dan kacang-
kacangan hanya 2-5%. Faktor risiko terjadi anemia adalah pada bayi yang lahir
premature atau kekurangan zat besi pada masa kehamilan. Bayi yang lahir dengan
berat badan yang rendah mempunyai simpanan zat besi yang rendah, yang akan habis
pada umur 2-3 bulan.Sehingga diperlukan suplementasi zat besi ketika mereka
berumur 2 bulan. Suatu studi perbandingan yang dilakukan di Honduras dan Swedia
pada bayi umur 6 bulan yang diberi ASI eksklusif menunjukkan bahwa konsentrasi
ferritin (yang menunjukkan cadangan zat besi) dari bayi-bayi di Honduras setengah
dari bayi di Swedia. Hal ini menggambarkan rendahnya akumulasi dari zat besi ketika
masih didalam kandungan. Pada anak-anak, AGB diperberat keadaannya oleh
infestasi cacing tambang. Cacing tambang menempel pada dinding usus dan
memakan darah. Akibat gigitannya sebagian darah hilang dan dikeluarkan dari badan
bersama tinja. Setiap hari diperkirakan satu ekor cacing tambang memakan 0.03
0.15 ml darah, jika didalam tubuh terdapat 100 ekor cacing tambang, akan
menyababkan kehilangan darah sekitar 3 15 ml per hari.

c. Konsekuensi dari Anemia Gizi Besi


Gejala dari kekurangan zat besi pada individu tidak spesifik. Kekurangan zat besi
pada tingkat sedang biasanya didiagnosis dari penilaian di laboratorium. Kekurangan
zat besi pada tingkat berat sama dengan jenis anemia lainnya yaitu mudah capek,
nafsu makan menurun, atau terlihat pucat. Konsekuensi dari AGB adalah menurunnya
produktifitas pada orang dewasa dan pada anak-anak terhadap perkembangan
mentalnya. Ulasan dari berbagai hasil penelitian menunjukkan anak balita yang
menderita AGB mempunyai skor mental dan motor pada uji Bayley lebih rendah dari
anak yang tidak menderita AGB. Setelah disuplementasi dengan zat besi terdapat
kenaikan skor mental dan motor yang cukup berarti. Pada anak prasekolah (usia 3-6
tahun) yang menderita AGB menyebabkan pemusatan perhatian dan proses belajar
rendah. Setelah disuplementasi dengan zat besi anak yang AGB pemusatan perhatian
dan proses belajarnya menjadi lebih baik Penelitian yang dilakukan pada binatang
menunjukkan bahwa AGB mempengaruhi isi dan distribusi besi otak dan
menyebabkan perubahan prilaku. Walaupun penelitian pada binatang dapat
misleading, namun berbagai penelitian secara konsisten menunjukkan bayi yang
menderita AGB terlambat perkembangan psikomotornya, terutama pada kemampuan
berbicara dan keseimbangan tubuh. Pada bayi-bayi ini suplementasi zat besi tidak
cukup untuk mengembalikan pengaruh negatif akibat kekurangan zat besi, walaupun
kadar hematologi darah sudah kembali normal. Hal ini menunjukkan dampak dari
AGB pada masa bayi mungkin berhubungan dengan kemampuan kognitif pada masa-
masa selanjutnya.

2.2.2 Kurang Vitamin A (KVA)


Vitamin A dibutuhkan untuk memelihara fungsi penglihatan, pertumbuhan,
reproduksi, perkembangan tulang, kekebalan, mengurangi kesakitan dan kematian
anak. Tanda-tanda klinis dari kekurangan vitamin A adalah rabun senja, bintik Bitot,
dan xeropthalmia.

a. Prevalensi kurang vitamin A


Prevalensi dari defisiensi klinis diperkirakan dari rabun senja, bintik Bitot, dan
xeropthalmia. Prevalensi klinis KVA di Asia cukup rendah, berkisar antara 0.5% di
Srilangka sampai 4.6% di Bangladesh pada anak-anak (Allen and Gillespie, 2001).
Prevalensi lebih dari 1% dianggap menjadi masalah kesehatan masyarakat. Di
Indonesia prevalensi kekurangan vitamin A pada tahun 1970 adalah berkisar antara 2-
7%, turun menjadi 0.33% pada tahun 1992, dan dinyatakan bebas masalah
xeropthalmia, namun tetap perlu waspada karena 50% balita masih menunjukkan
kadar vitamin dalam serum <20mcg/dl (Direktorat Gizi Mayarakat, 2003). b.
Penyebab kurang vitamin A Faktor-faktor penyebab kekurangan vitamin A yang
umum ditemukan pada anakanak diilustrasikan dalam Tabel. Faktor penyebab dibagi
atas tiga yaitu langsung, tidak langsung dan akar masalah (Unicef 1990 dalam
ACC/SCN, 1994). Penyebab utama kekurangan vitamin A adalah konsumsi makanan
hewani yang banyak mengandung retinol masih rendah. Minyak ikan, hati dan ginjal,
susu merupakan sumber vitamin A. Sedangkan sayur-sayuran yang berwarna hijau
dan buah-buahan berwarna kuning banyak mengandung beta karoten yang merupakan
provitamin A. Betakaroten yang berasal dari buah-buahan dan umbi yang berwarna
kuning, seperti ubi jalar merah lebih mudah diserap dibandingkan dari sayur-sayuran.
Vitamin A merupakan salah satu vitamin A yang larut dalam lemak, konsumsi lemak
yang rendah dapat menyebabkan vitamin A dalam makanan susah untuk diserap.
Konsumsi sayur-sayuran dengan cara ditumis dapat meningkatkan absorbsi dari
vitamin A yang terdapat pada sayur-sayuran. Air susu ibu (ASI) merupakan sumber
utama vitamin A pada bayi. Tabel. Faktor-faktor penyebab kekurangan vitamin A pada
anak-anak. Faktor-faktor Penyebab Penyebab langsung - Vitamin A dan lemak rendah
dalam konsumsi - Kejadian diare dan campak tinggi - Berat bayi lahir rendah -
Kekurangan vitamin A pada ibu - Meneteki dalam waktu singkat dan pemeberian ASI
tidak eksklusif - MP ASI tidak cukup dan cara pemberian makan tidak benar
Penyebab tidak langsung - Infrastruktur kesehatan yang tidak memadai - Produksi
makanan sumber vitamin A rendah - Tidak ada tanaman pekarangan -
Pemasaran/distribusi/penyimpanan makanan sumber vit. A buruk - Pola pengasuhan
anak tidak benar - Distribusi makanan, kesehatan dalam keluarga salah - Pendidikan
dan kesadaran ibu Akar masalah - Kemiskinan - Sedikit atau tidak ada tanah yang
produktif - Pengaruh musim pada penyakit dan ketersediaan makanan - Pengaruh
lingkungan lainnya - Pengaruh social budaya lainnya - Status wanita - Pengaruh
system politik Gejala klinis KVA dari bayi yang mendapat ASI jarang ditemukan,
namun status vitamin A yang tidak baik pada ibu merupakan faktor risiko mulai
terjadinya KVA pada bayi. Pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang tidak
cukup atau cara pemberian makanan yang salah dapat menyebabkan kekurangan
vitamin A. Penyebab tidak langsung dari kekurangan vitamin A berpengaruh terhadap
kejadian penyebab langsung. Contohnya produksi makanan vitamin A yang rendah
menyebabkan ketersediaan makanan tersebut juga rendah sehingga konsumsi
makanan sumber vitamin A menjadi rendah. Akar masalah dari kekurangan vitamin A
mempengaruhi penyebab langsung dan tidak langsung, misalnya kemiskinan
membuat keluarga tidak dapat membeli makanan sumber vitamin A dan tidak dapat
memproduksi makanan sumber vitamin A. c. Konsekuensi kurang vitamin A Berbagai
penelitian menunjukan kekurangan vitamin A meningkatkan angka kesakitan dan
kematian pada bayi, anak, dan ibu hamil; mempengaruhi pertumbuhan pada anak; dan
berpengaruh terhadap kejadian anemia dengan cara mempengaruhi transpor zat besi
dan sintesis hemoglobin. Beberapa hasil penelitian yang berhubungan dengan
kekurangan vitamin A dan hubungannya dengan hasil dari suplementasi yang
diberikan adalah: 1. Mortalitas (angka kematian). Suplementasi vitamin A mencegah
perkembangan terjadinya Xeropthalmia dan konsekuensinya juga untuk mencegah
kematian pada individu yang rentan. 2. Morbiditas (angka kesakitan). Hasil-hasil
penelitian menunjukkan pengaruh suplementasi vitamin A pada morbiditas pada
populasi yang kekurangan vitamin A secara sub klinis. Hasil meta analisis
menunjukkan suplementasi vitamin A dosis tinggi mengurangi angka kesakitan diare
dan campak 23% untuk bayi dan anak umur 6 bulan sampai 5 tahun Diare yang parah
dapat dikurangi dengan suplementasi vitamin A dosis rendah pada anak-anak gizi
buruk 3. Kekebalan tubuh. Bukti-bukti menunjukkan suplementasi vitamin A pada
anak-anak dengan nilai serum vitamin A yang rendah dapat meningkatkan kekebalan
tubuh, termasuk respon terhadap vaksinasi. 2.2.3. Gangguan Akibat Kekurangan
Iodium (GAKI) Gangguan akibat kurang iodium adalah kekurangan gizi paling tua.
Di China, antara tahun 2838 2698 sebelum masehi gondok endemik sudah
diketahui. GAKI mempunyai bermacam-macam efek yang serius pada kesehatan
seperti gondok, kretin, gangguan perkembangan kognitif dan pertumbuhan yang tidak
dapat diperbaiki, kematian bayi, berat bayi lahir rendah, dan kematian pada saat lahir.
a. Prevalensi Gangguan Akibat Kekurangan Iodium WHO, UNICEF dan International
Coordinating Committee on Iodine Deficiency Disorders (ICCIDD)
mengklasifikasikan dari 191 negara, 68.1 % dengan masalah GAKI, 10.5% sudah
dapat mengatasi masalah GAKI dan sisanya tidak diketahui masalah besarnya
masalah GAKI (Allen and Gillespie, 2001). Prevalensi secara nasional pada tahun
1980 sekitar 30% menurun menjadi 9.8% pada tahun 1998. Namun prevalensi pada
propinsi-propinsi tertentu masih cukup tinggi, misalnya di NTT 38.1%, Maluku
33.3%, Sulawesi Tenggara 24.9%, dan Sumatra Barat 20.5%. Propinsi NTT dan
Maluku dikategorikan mempunyai masalah GAKI yang berat, Sulawesi Tenggara dan
Sumatra Barat dikategorikan mempunyai masalah GAKI sedang, sedangkan propinsi-
propinsi yang lain mempunyai masalah GAKI ringan atau tidak mempunyai masalah
GAKI (Direktorat Gizi Mayarakat, 2003). b. Penyebab Gangguan Akibat Kekurangan
Iodium Penyebab utama GAKI adalah karena air, makanan yang berasal dari
tumbuhtumbuhan dan binatang pada daerah tertentu sedikit mengandung Iodium.
Iodium yang terdapat pada tanah tersebut tercuci oleh gletsier, banjir atau hujan.
Kekurangan Iodiumdapat disebabkan oleh banjir, sebagai contoh di sepanjang sungai
Gangga di Banglades dan India. Pada daerah ini terjadi defisiensi kekurangan Iodium
yang endemik karena air, tanaman dan binatang yang hidup disini sedikit
mengandung Iodium. Penyebab lain dari kekurangan Iodium adalah banyak makanan
yang dikonsumsi di negara-negara berkembang mengandung zat goitrogenik yaitu
suatu zat yang menghambat penyerapan Iodium oleh tiroid. Contohnya adalah zat
goitrogenik yang terdapat didalam ubi kayu, untuk menghilangkan zat tersebut ubi
kayu harus direndam dahulu di dalam air. Di Sarawak Malaysia, konsumsi ubi kayu
berhubungan dengan kejadian gondok dan kretin. Beberapa zat gizi diindikasikan
berhubungan dengan kekurangan Iodium yaitu Selenium dan Besi. Selenium
merupakan komponen yang penting untuk enzim yang merubah tiroksin (T3) menjadi
triiodotironin (T4), sehingga kekurangan Selenium dan Iodium dapat menyebabkan
gondok. Kekurangan besi dapat menyebabkan kerusakanmetabolisme hormon tiroid,
sehingga orang yang menderita gondok dan anemia kurang responsif jika diberikan
Iodium. c. Konsekuensi dari Gangguan Akibat Kekurangan Iodium Beberapa
konsekuensi dari kekurangan Iodium adalah kretin, gondok, kerusakan perkembangan
kognitif yang tidak dapat diperbaiki, meningkatkan angka kesakitan dan kematian. 1)
Kretin adalah hasil dari kekurangan Iodium selama kehamilan, yang mempengaruhi
fungsi tiroid janin. Kerusakan otak janin diperkirakan terjadi ketika kekurangan
Iodium pada trisemester I kehamilan. Ciri-ciri kretin karena kerusakan saraf adalah
kemampuan kognitif yang rendah, tuli, dan ganguan bicara. 2) Gondok merupakan
pembesaran kelenjar tiroid pada leher. Gondok biasanya tidak menyakitkan, namun
adanya gondok menunjukkan bahwa sedang terjadi kerusakanlain dari kekurangan
Iodium. 3) Kerusakan fungsi kognitif. Kekurangan Iodium merupakan penyebab
nomor satu kerusakan otak dan kemunduran mental yang sebenarnya dapat dicegah.
Masalahnya berkisar dari perubahan saraf sampai kerusakan fungsi kognitf. Hasil dari
meta analisis dari 18 penelitian yang meliputi 2214 subjek menunjukkan ratarata
kognitif dan psikomotor anak-anak yang kekurangan Iodium lebih redah 13.5 IQ poin
dibandingkan anak yang normal. Masalahnya diperberat dengan lingkungan yang
terdiri dari orang-orang tidak cerdas, apatis, tidak ada motivasi sebagai akibat dari
kekurangan Iodium. 4) Meningkatkan kesakitan dan kematian. Kekurangan Iodium
pada masa hamil berhubungan dengan kejadian bayi lahir mati, aborsi dan kelainan
congenital. 2.2.4 Kurang Energi Protein (KEP) Adalah penyakit gizi akibat
defisiensi energi dalam jangka waktu yang cukup lama. Prevalensi tinggi terjadi
pada balita, ibu hamil (bumil) dan ibu menyusui/meneteki (buteki) Pada derajat
ringan pertumbuhan kurang, tetapi kelainan biokimiawi dan gejala klinis (marginal
malnutrition) Derajat berat adalah tipe kwashiorkor dan tipe marasmus atau tiep
marasmik-kwashiorkor Terdapat gangguan pertumbuhan, muncul gejala klinis dan
kelainan biokimiawi yang khas. a. Penyebab Masukan makanan atau kuantitas dan
kualitas rendah Gangguan sistem pencernaan atau penyerapan makanan
Pengetahuan yang kurang tentang gizi Konsep klasik diet cukup energi tetapi kurang
pprotein menyebabkan kwashiorkor Diet kurang energi walaupun zat gizi esensial
seimbang menyebabkan marasmus Kwashiorkor terjadi pada hygiene yang buruk ,
yang terjadi pada penduduk desa yang mempunyai kebiasaan memberikan makanan
tambahan tepung dan tidak cukup mendapatkan ASI Terjadi karena kemiskinan
sehingga timul malnutrisi dan infeksi b. Gejala klinis KEP ringan Pertumbuhan
mengurang atau berhenti BB berkurang, terhenti bahkan turun Ukuran lingkar
lengan menurun Maturasi tulang terlambat Rasio berat terhadap tinggi normal atau
menurun Tebal lipat kulit normal atau menurun Aktivitas dan perhatian kurang
Kelainan kulit dan rambut jarang ditemukan c. Pembagian 1. Marasmus 2.
Kwashiorkor 3. Marasmus-kwashiorkor 1. Marasmus Marasmus adalah kekurangan
energi pada makanan yang menyebabkan cadangan protein tubuh terpakai sehingga
anak menjadi kurus dan emosional. Sering terjadi pada bayi yang tidak cukup
mendapatkan ASI serta tidak diberi makanan penggantinya, atau terjadi pada bayi
yang sering diare. a. Penyebab Ketidakseimbangan konsumsi zat gizi atau kalori
didalam makanan Kebiasaan makanan yang tidak layak Penyakit-penyakit infeksi
saluran pencernaan b. Tanda dan gejala Wajah seperti orang tua, terlihat sangat kurus
Mata besar dan dalam, sinar mata sayu Mental cengeng Feces lunak atau diare
Rambut hitam, tidak mudah dicabut Jaringan lemak sedikit atau bahkan tidak ada,
lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit menghilang Kulit keriput, dingin,
kering dan mengendur Torax atau sela iga cekung Atrofi otot, tulang terlihat jelas
Tekanan darah lebih rendah dari usia sebayanya Frekuensi nafas berkurang Kadar
Hb berkurang Disertai tanda-tanda kekurangan vitamin 2. Kwashiorkor Kwashiokor
adalah penyakit yang disebabkan oleh kekurangan protein dan sering timbul pada usia
1-3 tahun karena pada usia ini kebutuhan protein tinggi.Meski penyebab utama
kwashiorkor adalah kekurangan protein, tetapi karena bahan makanan yang
dikonsumsi kurang menggandung nutrient lain serta konsumsi daerah setempat yang
berlainan, akan terdapat perbedaan gambaran kwashiorkor di berbagai negara. a.
Penyebab Kekurangan protein dalam makanan Gangguan penyerapan protein
Kehilangan protein secara tidak normal Infeksi kronis Perdarahan hebat b. Tanda
dan gejala Wajah seperti bulan moon face Pertumbuhan terganggu Sinar mata
sayu Lemas-lethargi Perubahan mental (sering menangis, pada stadium lanjut
menjadi apatis) Rambut merah, jarang, mudah dicabut Jaringan lemak masih ada
Perubahan warna kulit (terdapat titik merah kemudian menghitam, kulit tidak keriput)
Iga normal-tertutup oedema Atrofi otot Anoreksia Diare Pembesaran hati
Anemia Sering terjadi acites Oedema Kwashiorkor-marasmik memperlihatkan
gejala campuran antara marasmus dan kwashiorkor Penatalaksanaan a. Secara umum
Ruangan cukup hangat dan bersih Posisi tubuh diubah-ubah (karena mudah terjadi
dekubitus) Pencegahan infeksi nosokomial Penimbangan BB tiap hari b. Secara
khusus Resusitasi dan terapi komplikasi Koreksi dehidrasi dan asidosis (pemberian
cairan oralit atau infus) Mencegah atau mengobati defisiensi vitamin A Terapi Ab
bila ada tanda infeksi atau sakit berat Dietetik Prinsip TKTP dan suplemen vitamin
mineral Bentuk makanan disesuaikan secara individual (cair, lunak, biasa, makanan
dengan porsi sedikit-sedikit tapi sering) Pemantauan masukan makanan tiap hari
(perubahan diet biasanya dilakukan setiap saat) Persiapan pulang Gejala klinik tidak
ada Nafsu makan baik Pembekalan terhadap orang tua tentang gizi, perilaku hidup
dan lingkungan yang sehat Komplikasi Infeksi saluran pencernaan Defisiensi
vitamin Depresi mental Program pemerintah penanggulangan KEP Diprioritaskan
pada daerah-daerah miskin dengan sasaran utama Ibu hamil Bayi Balita Anak-
anak sekolah dasar Keterpaduan kegiatan Penyuluhan gizi Peningkatan pendapatan
Peningkatan pelayanan kesehatan Keluarga berencana Peningkatan peran serta
masyarakat Kegiatan Peningkatan upaya pemantauan tumbuh kembang anak melalui
keluarga, dasawisma dan posyandu Penanganan secara khusus KEP berat Rujukan
pelayanan gizi di posyandu Peningkatan gerakan sadar pangan dan gizi ASI
eksklusif 2.2.5 OBESITAS adalah penyakit gizi yang disebabkan kelebihan kalori
dan ditandai dengan akumulasi jaringan lemak secara berlebihan diseluruh tubuh.
Merupakan keadaan patologis dengan terdapatnya penimbunan lemak yang berlebihan
dari yang diperlukan untuk fungsi tubuh Gizi lebih (over weight) dimana berat
badan melebihi berat badan rata-rata, namun tidak selalu identik dengan obesitas BB
>>> tidak selalu obesitas

a. Penyebab
Perilaku makan yang berhubungan dengan faktor keluarga dan lingkungan
Aktifitas fisik yang rendah
Gangguan psikologis (bisa sebagai sebab atau akibat)
Laju pertumbuhan yang sangat cepat
Genetik atau faktor keturunan
Gangguan hormon
b. Gejala
Terlihat sangat gemuk
Lebih tinggi dari anak normal seumur
Dagu ganda
Buah dada seolah-olah berkembang
Perut menggantung
Penis terlihat kecil
Terdapat 2 golongan obesitas
Regulatory obesity, yaitu gangguan primer pada pusat pengatur masukan makanan
Obesitas metabolik, yaitu kelainan metabolisme lemak dan karbohidrat
c. Resiko/dampak obesitas
Gangguan respon imunitas seluler
Penurunan aktivitas bakterisida
Kadar besi dan seng rendah

d. Penatalaksanaan
Menurunkan BB sangat drastis dapat menghentikan pertumbuhannya. Pada obesitas
sedang, adakalanya penderita tidak memakan terlalu banyak, namun aktifitasnya
kurang, sehingga latihan fisik yang intensif menjadi pilihan utama
Pada obesitas berat selain latihan fisik juga memerlukan terapi diet. Jumalh energi
dikurangi, dan tubuh mengambil kekurangan dari jaringan lemak tanpa mengurangi
pertumbuhan, dimana diet harus tetap mengandung zat gizi esensial.
Kurangi asupan energi, akan tetapi vitamin dan nutrisi lain harus cukup, yaitu
dengan mengubah perilaku makan
Mengatasi gangguan psikologis
Meningkatkan aktivitas fisik
Membatasi pemakaian obat-obatan yang untuk mengurangi nafsu makan
Bila terdapat komplikasi, yaitu sesak nafas atau sampai tidak dapat berjalan, rujuk
ke rumah sakit
Konsultasi (psikologi anak atau bagian endokrin)