Anda di halaman 1dari 6

TUGAS MATA KULIAH FILSAFAT ILMU

CRITICAL APPRAISAL FILSAFAT ILMU

OLEH

GDE DEDY ANDIKA


1671111001
ORTHOPAEDI DAN TRAUMATOLOGI

DALAM RANGKA MENJALANI MKDU


PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER SPESIALIS 1 (PPDS-1)
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2016
PENGERTIAN ONTOLOGI, AKSIOLOGI DAN EPISTEMOLOGI

1. Pengertian Ontologi

Ontologi adalah Ontologi berasal dari makna menjadi dan merupakan


salah satu studi filosofis yang paling kuno dan berasal dari Yunani, yaitu On/Ontos
= ada, dan Logos = ilmu. Jadi studi ini membahas tentang eksistensi atau
keberadaan sesuatu yang ada, yang bersifat jasmani/konkret maupun rohani/abstrak
serta menjadi kategori dasar dan hubungan mereka. Kajian yang memusatkan diri
pada pemecahan esensi sesuatu, atau wujud, tentang asas-asas dan realitas. Perihal
kenyataan atau realitas memang dapat mendefinisikan ontologi dengan dua macam
sudut pandang:

a. Kuantitatif, yaitu menyangkut jumlah yang dapat terdiri dari satu atau jamak.
b. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut
memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya langit yang memiliki warna
kebiruan ataupun bunga bangkai yang berbau busuk.

Menurut Suriasumantri (2007), Ontology membahas tentang apa yang ingin


kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau, dengan kata lain suatu pengkajian
mengenai teori tentang ada. Telaah ontologis akan menjawab pertanyaan-
pertanyaan sebagai berikut:
a. Apakah obyek ilmu yang akan ditelaah
b. Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut
c. Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia
(berpikir menggunakan otak, merasakan, dan mengindera) yang membuahkan
pengetahuan.

Sedangkan menurut Soetriono & Hanafie (2007), Ontologi merupakan azas


dalam menerapkan batas atau ruang lingkup wujud yang menjadi obyek penelaahan
(obyek ontologis atau obyek formal dari pengetahuan) serta penafsiran tentang
hakikat realita (metafisika) dari obyek ontologi atau obyek formal tersebut dan
dapat merupakan landasan ilmu yang menanyakan apa yang dikaji oleh
pengetahuan dan biasanya berkaitan dengan alam kenyataan dan keberadaan. Tokoh
Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal
seperti Thales, Plato, dan Aristoteles. Beberapa filsuf, terutama dari sekolah Plato,
berpendapat bahwa semua kata benda (termasuk kata benda abstrak) mengacu
kepada badan. Filsuf lain berpendapat bahwa kata benda tidak selalu merupakan
entitas nama, tetapi beberapa memberikan semacam singkatan untuk referensi
untuk koleksi baik benda atau peristiwa. Dalam pandangan yang terakhir, pikiran,
bukannya merujuk pada suatu entitas, mengacu pada koleksi peristiwa mental yang
dialami oleh seseorang; masyarakat yang mengacu pada kumpulan orang-orang
dengan beberapa karakteristik bersama, dan geometri mengacu pada koleksi dari
jenis yang spesifik intelektual.

Menurut Ensiklopedi Britannica yang juga diangkat dari konsepsi Aristoteles ,


Ontologi merupakan teori atau studi tentang being/wujud seperti karakteristik
dasar dari seluruh realitas. Ontologi bersinonim dengan metafisika yaitu, studi
filosofis untuk menentukan sifat nyata yang asli (real nature) dari suatu benda
untuk menentukan arti, struktur dan prinsip benda tersebut. (Filosofi ini
didefinisikan oleh Aristoteles abad ke-4 SM).

2. Pengertian Aksiologi
Secara etimologis, aksiologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu axios yang
berarti nilai dan logos yang berarti teori. Jadi aksiologi adalah ilmu tentang nilai
dalam berbagai bentuk. Nilai digunakan sebagai kata benda abstrak, Dalam
pengertian yang lebih sempit seperti baik, menarik dan bagus. Sedangkan dalam
pengertian yang lebih luas mencakup sebagai tambahan segala bentuk kewajiban,
kebenaran dan kesucian. Aksiologi merupakan bagian dari filsafat ilmu yang
memberikan fokus pada mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan
ilmunya. Menurut Bramel, aksiologi terbagi dalam 3 bagian, yaitu:
a. Moral conduct
Adalah tindakan moral dan bidang ini melahirkan disiplin khusus yaitu etika.
b. Estetic expression
Adalah ekspresi keindahan dan bidang ini melahirkan estetika.
c. Socio-political life

Adalah kehidupan sosial politik dan bidang ini melahirkan filsafat sosial
politik.
Pembahasan aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Ilmu tidak
bebas nilai. Artinya pada tahap-tahap tertentu kadang ilmu harus disesuaikan
dengan nilai-nilai budaya dan moral suatu masyarakat; sehingga nilai kegunaan
ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya meningkatkan
kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya malahan menimbulkan bencana.

Menurut Jujun S. Sumantri dalam Suatu Pengantar Filsafat ilmu, aksiologi


merupakan teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang
diperoleh. Sejalan dengan hal ini, Wibisono mengatakan bahwa aksiologi adalah
nilai-nilai yang merupakan tolak ukur kebenaran (ilmiah), etik, dan moral sebagai
dasar normatif dalam penelitian dan penggalian, serta penerapan ilmu. Ahmad
Tafsir dalam bukunya berpendapat bahwa aksiologi ilmu sekurang-kurangnya
memiliki tiga garapan yaitu :
- Ilmu sebagai alat eksplanasi
Ilmu sebagai alat eksplanasi, dapat menjelaskan tentang berbagai peristiwa,
baik hubungan antar peristiwa, sebab-sebabnya dan gejala-gejala/tanda-
tandanya, ataupun sebab akibatnya.
- Ilmu sebagai alat memprediksi
Ilmu sebagai alat memprediksi, dapat memperkirakan atau melakukan suatu
cara pendekatan-pendekatan untuk mengetahui tentang akan terjadinya suatu
peristiwa/kejadian/keadaan.
- Ilmu sebagai alat pengontrol
Ilmu sebagai alat pengontrol, dapat menghindari atau mengurangi akibat-
akibat atau akan datangnya suatu peristiwa/kejadian yang berbahaya atau tidak
menyenangkan

3. Pengertian Epistemologi
Epistemologi atau teori pengetahuan adalah cabang filsafat yang berurusan
dengan hakikat dan linkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasar-
dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang
dimiliki.
Epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). Secara
etimologi, istilah epistemologi berasal dari kata Yunani yaitu episteme yang
berarti pengetahuan, dan logos yang berarti teori. Dengan demikian epistemologi
dapat diartikan sebagai pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan.
Epistemologi atau teori pengetahuan ialah cabang filsafat yang berurusan dengan
hakekat dan lingkungan pengetahuan, pengandaian - pengandaian, dan dasar
-dasarnya serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang
dimiliki.
Menurut William S.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian, 1965, dalam Jujun
S.Suriasumantri, 2005, epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana
kita mendapatkan pengetahuan, apakah sumber-sumber pengetahuan? Apakah
hakikat, jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana
pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manusia. Beberapa metode untuk
memperoleh ilmu pengetahuan antara lain :
- Empirisme
- Rasionalisme
- Fenomenalisme
- Intusionisme
- Dialektis
- Metode ilmiah

Daftar Pustaka
Salam, Burhanuddin. 2003. Logika Materiil Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: PT Rineka
Cipta.

Tim Dosen Filsafah Ilmu, Filsafat Ilmu (Yogyakarta, 1996)

Jujun S. Suriasuantrim Filsafah Ilmu, Sebuah Pengembangan Populasi. Pustaka Sinar Harapan,

Sumarna, Cecep. 2004. Filsafat Ilmu dari Hakikat Menuju Nilai. Bandung: Pustaka Bani
Quraisy.

Saunders M, Lewi P, Thrnhill A. Research methods fo Business Student 5 ed. Pearson Educatin
Limited. Italy. 2009