Anda di halaman 1dari 26

MODUL PENGENALAN

MIKE 21 : MODEL HIDRODINAMIKA 2


DIMENSI

Valen Rangga Gerina

Program Studi Oseanografi


Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian
Institut Teknologi Bandung
PERSIAPAN DATA INPUT
Domain model (bathymetric mesh)
Pada file DATA.xls terdapat data koordinat garis pantai dan kedalaman hasil digitasi peta
batimetri DISHIDROS di daerah Muara Bayur, Delta Mahakam. Untuk data garis pantai, susun
data tersebut pada notepad dengan format pada Gambar 1.

Gambar 1

dimana kolom 1-3 secara berurutan menyatakan LONGITUDE, LATITTUDE, KONEKTOR (angka 1
pada konektor menunjukkan bahwa titik tersebut akan tersambung dengan titik berikutnya).
Kemudian simpan file tersebut dengan format garispantai.xyz.
Untuk data kedalaman, susun data tersebut pada notepad dengan format seperti pada Gambar
2.

Gambar 2

dimana kolom 1-4 secara berurutan menyatakan LONGITUDE, LATITTUDE, KEDALAMAN


(bernilai negatif), dan IDENTITAS (angka 3 menunjukkan bahwa titik tersebut merupakan titik
kedalaman). Kemudian simpan file tersebut dengan format batimetri.xyz
Buka program MIKE ZERO, pilih tab File New File, kemudian akan muncul tampilan seperti
Gambar 3.
Gambar 3

Pada folder MIKE Zero, pilih Mesh Generator (.mdf), kemudian pilih projection LONG/LAT.
Pada tampilan Mesh Generator, pilih tab Data Import Boundary, kemudian pilih file
garispantai.xyz, maka akan muncul tampilan Boundary Properties seperti pada Gambar 4.

Gambar 4

Pada bagian Column Sequence pilih X, Y and Connectivity, sedangkan pada Arc definition pilih
Use connectivity information, OK, maka akan muncul tampilan seperti pada Gambar 5.
Gambar 5

Gambar diatas menunjukkan kondisi garis pantai berdasarkan data garispantai.xyz yang telah
diinputkan. Titik biru pada gambar menunjukkan titik awal dan akhir garis yang disebut dengan
nodes, sedangkan titik merah menunjukkan titik belok pada garis yang disebut dengan vertices.
Garis yang tersusun dari 2 nodes dan beberapa vertices ini disebut arc.
Pada tampilan tersebut terlihat bahwa terdapat banyak garis yang melintang yang disebabkan
karena proses digitasi garis pantai yang tidak berurutan sehingga perlu dihapus. Untuk
menghapus garis melintang tersebut langkah pertama adalah mengubah titik-titik vertices yang
membentuk garis-garis melintang tersebut menjadi nodes. Pada command window, pilih

perintah select points , pilih vertices yang ingin diubah, klik kanan, kemudian pilih Vertices-
>Nodes, maka contoh tampilannya akan tampak seperti pada Gambar 6.

Gambar 6
Untuk menghapus garis-garis tersebut, pilih perintah select arcs , pilih garis yang akan
dihapus (garis yang dipilih akan berubah berwarna ungu), kemudian Delete. Jika semua garis
telah dihapus, makan contoh tampilan nya akan tampak seperti pada Gambar 7.

Gambar 7

Gabungkan titik-titik nodes yang masih terpisah pada garis pantai maupun pulau dengan

menggunakan perintah draw arcs , kemudian ubah kembali titik-titik nodes di bagian
tengah menjadi vertices sehingga tampilannya seperti pada Gambar 8.

Gambar 8
Untuk mengatur rapat renggangnya posisi vertices pada masing-masing garis/arc, pilih perintah
select arcs , pilih garis/arc yang ingin diubah, klik kanan, plih Redistribute Vertice, maka
akan muncul tampilan seperti pada Gambar 9.

Gambar 9

Pada redistribution properties terdapat 3 pilihan yaitu mengubah berdasarkan jumlah vertices,
berdasarkan jarak antar vertices (dalam derajat), dan berdasarkan jumlah penambahan di
antara 2 vertices. Pada modul kali ini, redistribusi dilakukan menggunakan pilihan kedua
dengan jarak antar vertice kira-kira 200 meter (0.001797 derajat). Setelah semua vertices pada
garis pantai dan pulau diubah, maka tampilannya akan seperti pada Gambar 10.

Gambar 10

Rapat renggangnya vertices akan mempengaruhi ketelitian hasil model dan waktu yang
dibutuhkan untuk merunning model hingga selesai.
Untuk memasukkan data kedalaman yang tadi telah dibuat, pilih tab Data Manager Scatter
Data, maka akan muncul tampilan seperti pada Gambar 11.

Gambar 11

Pilih Add, setelah itu pilih file batimetri.xyz yang tadi telah dibuat, pilih LONG/LAT pada Map
Projection, kemudian pilih Apply, lalu Zoom, maka tampilan akan berubah menjadi seperti pada
Gambar 12.

Gambar 12

Untuk membuat mesh triangular, domain model yang telah dibuat harus diubah menjadi
domain tertutup terlebih dahulu dengan cara menghubungkan 2 nodes yang terdapat di bagian
kiri, membuat beberapa nodes menggunakan perintah insert nodes di bagian kanan,
danmenghubungkan beberapa nodes di bagian kanan tersebut menjadi arc baru dengan

menggunakan perintah draw arcs sehingga tampilannya akan menjadi seperti pada
Gambar 13.
Gambar 13

Pulau-pulau di dearah domain perlu diubah terlebih dahulu menjadi polygoon dengan
menggunakan perintah insert polygons dan kemudian meng-klik bagian dalam dari pulau-
pulau tersebut sehingga tampilannya akan menjadi seperti pada Gambar 14.

Gambar 14

Hal ini bertujuan agar daerah pulau-pulau tersebut didefinisikan sebagai daerah daratan
sehingga tidak ada perhitungan model didaerah pulau-pulau tersebut.
Pada domain tertutup yang telah dibuat, perlu didefinisikan daerah mana saja yang berfungsi
sebagai daerah batas yang nantinya akan diberikan gaya pembangkit hidrodinamika seperti
pasang surut, debit, flux dll. Untuk mendefinisikan daerah batas, pilih perintah select arcs ,
pilih garis/arc yang ingin digunakan sebagai daerah batas, klik kanan, pilih properties, maka
akan muncul tampilan seperti pada Gambar 15

Gambar 15
Pada gambar diatas terdapat 3 kolom yang digunakan untuk mendefinisikan atribut berupa
angka (dari 2-99) untuk masing-masing daerah batas yang akan dibuat. Pada modul ini, 1
garis/arc di bagian kiri akan didefinisikan sebagai sungai dengan atribut 11 yang nantinya akan
ditambahkan gaya penggerak berupa debit di daerah tersebut. Sedangkan 3 garis/arc di bagian
kanan akan didefinisikan sebagai laut dengan atribut 22, 33, 44 yang nantinya akan
ditambahkan gaya penggerak berupa pasang surut.
Untuk membuat mesh segitiga (triangular mesh) pada domain tertutup yang telah dibuat, pilih
tab Mesh Generate Mesh, maka akan muncul tampilan seperti pada Gambar 16.

Gambar 16

Kolom pertama digunakan untuk menentukan luas maksimum mesh dalam derajat2, kolom
kedua untuk menentukan sudut terkecil mesh, sedangkan kolom ke 3 untuk menentukan
jumlah maksimum titik-titik mesh. Pada modul ini, luas maksimum yang akan dipakai adalah
0.0001 derajat2 dengan sudut terkecil 30 derajat sehingga tampilannya akan tampak seperti
pada Gambar 17.

Gambar 17

Untuk mendapatkan kontur batimetri di domain model, pilih Mesh Interpolate Start,
maka tampilannya akan tampak seperti pada Gambar 18.
Gambar 18

Selanjutnya hasil pembuatan kontur batimetri ini akan dieskpor menjadi file input domain
model dengan cara memilih tab Mesh Export Mesh dan akan muncul tampilan seperti pada
Gambar 19.

Gambar 19

Pada tampilan diatas, pilih Export As Mesh File, kemudian pilih lokasi dan nama pada File Name,
beri nama latihan.mesh. File yang hasil ekspor jika dibuka pada Mike Zero akan tampak seperti
pada Gambar 20

Gambar 20
File batimetri.mesh ini nantinya akan digunakan sebagai input domain model pada pengaturan
model hidrodinamika baik 2 dimensi maupun 3 dimensi.

Gaya pembangkit pasang surut (boundary condition)


Untuk melakukan simulasi hidrodinamika diperlukan gaya pembangkit hidrodinamika (misal:
pasang surut, angin, debit dll) yang bekerja pada domain model yang telah dibuat. Gaya
pembangkit berupa pasang surut dapat diperoleh dari data lapangan maupun data ramalan
pasang surut. Pada modul ini, gaya pembangkit pasang surut akan diperoleh dari hasil ramalan
pasang surut menggunakan global tide model data yang sudah terinstal pada MIKE Zero.
Pada tampilan awal MIKE Zero, pilih tab File New File, kemudian pada folder MIKE 21 pilih
MIKE 21 Toolbox (.21t) seperti pada Gambar 21.

Gambar 21

Setelah muncul tampilan MIKE 21 Toolbox, pilih toolbox Tidal Tide Prediction of Heights,
maka akan muncul tampilan setup dari toolbox tersebut. Pada bagian setup name, beri nama
kemudian Next. Pada bagian Constituent Prediction akan terdapat 2 type peramalan pasang
surut yang bisa dipilih seperti pada Gambar 22.

Gambar 22

Pilihan pertama digunakan jika ingin meramalkan pasang surut menggunakan konstituen pasut
yang telah diketahui, sedangkan pilihan kedua digunakan jika ingin meramalkan pasang surut
menggunakan global tide model data yang terdapat pada MIKE. Pada modul ini, pilih pilihan
yang kedua dan akan muncul tampilan seperti pada Gambar 23.

Gambar 23

Pada bagian type of output, terdapat dua pilihan yang bisa digunakan. Pilihan pertama
digunakan untuk meramalkan pasang surut pada satu titik saja, sedangkan pilihan kedua
digunakan untuk meramalkan pasang surut pada suatu garis yang terdiri dari beberapa titik.
Pilih pilihan kedua, kemudian pada prediction period isi rentang tanggal peramalan pasut mulai
dari tanggal 1 Agustus 2014 30 Agustus 2014 untuk interval waktu 1 jam, Next. Tampilan
berikutnya adalah penentuan lokasi dari peramalan pasang surut yang diinginkan. Pada type of
input, pilih Mesh File (.mesh) kemudian buka file latihan.mesh yang telah dibuat sebelumnya
sehingga tampilan nya akan menjadi seperti pada Gambar 24.

Gambar 24

Tabel yang pada tampilan diatas menunjukkan titik awal dan akhir dari garis batas, serta jumlah
titik peramalan pasang surutnya. Pada kolom data file, klik pilihan , beri nama 11, 22, 33,
dan 44 untuk masing-masing garis, Next. Pada tampilan berikutnya, pilih pilihan Execute. Jika
peramalan pasang surut telah berhasil dilakukan, maka akan muncul pemberitahuan seperti
pada Gambar 25.
Gambar 25

Hasil peramalan pasang surut ini dapat dibuka menggunakan MIKE Zero dan tampilannya kira-
kira akan seperti pada Gambar 26.

Gambar 26

File peramalan pasang surut ini akan berisi time series nilai ketinggian muka air dalam meter
untuk masing-masing titik pada garis.

Gaya pembangkit angin


Selain pasang surut, gaya pembangkit hidrodinamika lain yang dapat digunakan dalam MIKE 21
adalah angin. Pada file DATA.xlsx terdapat hasil pengukuran data angin untuk tanggal 15 30
Agustus 2012 yang dapat digunakan (asumsi: kondisi angin tahun 2014 tidak jauh berbeda
dengan tahun 2012). Untuk menggunakan data angin ini sebagai input model dalam MIKE,
format data harus diubah dulu ke dalam bentuk file time series .dfs0.
Pada tampilan MIKE Zero, pilih tab File New File, kemudian pada folder MIKE Zero pilih
Time Series (.dfs0) seperti pada Gambar 27.

Gambar 27
Pada tampilan selanjutnya, pilih Blank Time Series. Tampilan berikutnya adalah File Properties,
isi kolom-kolom dalam file properties sesuai data yang terdapat dalam DATA.xlsx seperti pada
Gambar 28.

Gambar 28

Pada tabel Item Information, pilih insert untuk menambah jumlah item pada time series,
kemudian atur nama, tipe, serta satuannya. Setelah semua kolom telah diisi sesuai data yang
ada, pilih OK. Copy paste data kecepatan dan arah angin pada file DATA.xlsx sehingga hasil
akhirnya akan seperti pada Gambar 29.
Gambar 29

Simpan file tersebut dengan nama anginlatihan.dfs0.


SETTING MODEL HIDRODINAMIKA 3 DIMENSI

Pada tampilan awal MIKE Zero, pilih tab File New File, kemudian pada folder MIKE 3, pilih
Flow Model FM (.m3fm) seperti pada Gambar 30.

Gambar 30

Tampilan berikutnya akan menunjukkan setting model hidrodinamika 3 dimensi. Pada bagian
Domain di tab Mesh dan Bathymetry, klik tanda , kemudian pilih .mesh file yang telah
dibuat sebelumnya sehingga tampilannya akan tampak seperti Gambar 31.

Gambar 31

Masih pada bagian Domain, pilih tab Domain Specification. Pada kolom minimum depth cut off,
masukkan nilai 0 yang artinya tidak ada kedalaman minimal yang dihilangkan dari domain
model. Pada kolom datum shift, masukkan nilai 0. Tab Domain Specification ini juga
menunjukkan berapa jumlah titik dan elemen mesh triangular (Gambar 32).
Gambar 32

Pada tab selanjutnya, Vertical Mesh, berisi setting yang akan digunakan untuk mendefinisikan
kondisi vertikal dari domain model (pembagian grid kedalaman) karena model akan dijalankan
dalam 3 dimensi. Terdapat 2 tipe pembagian grid kedalaman, tipe pertama adalah
menggunakan koordinat sigma sedangkan tipe kedua merupakan gabungan dari koordinat
sigma dan koordinat kartesian z. Pada modul ini hanya akan digunakan koordinat sigma untuk
pembagian grid kedalaman. Pada setting koordinat sigma, kolom number of layer menunjukkan
berapa jumlah lapisan sigma yang akan digunakan. Jumlah layer dari koordinat sigma ini akan
mempengaruhi ketelitian hasil model dan lamanya waktu running model. Pada kolom type of
distribution, terdapat tipe 3 distribusi lapisan sigma yang bisa digunakan. Tipe pertama adalah
equidistant yaitu membagi lapisan sigma pada rentang kedalaman yang sama tiap lapisannya,
tipe kedua membagi berdasarkan rentang kedalaman yang berbeda-beda yang bisa diatur
sendiri, sedangkan tipe ke tiga membagi berdasarkan beberapa parameter distribusi vertikal.
Pada modul ini jumlah layer yang akan digunakan adalah 5 dengan tipe distribusi lapisan sigma
equidistant (Gambar 33).

Gambar 33
Tab Boundary Name menunjukkan berapa jumlah daerah batas dan namanya (nama bisa
diubah-ubah) yang terdapat pada mesh yang telah dibuat. Daerah batas akan muncul pada
setting model ini jika garis/arc pada daerah batas telah didefinisikan sebelumnya menggunakan
perintah Properties pada saat pembuatan mesh. Untuk mengingat posisi dari daerah batas, beri
nama Sungai untuk batas dengan kode 11, Pasut Atas untuk kode 22, Pasut Samping
untuk kode 33, dan Pasut Bawah untuk kode 44 (Gambar 34).

Gambar 34

Bagian Time pada setting model menunjukkan untuk berapa lama model akan dijalankan.
Kolom no of time steps menunjukkan berapa jumlah time step pada model, time step interval
menunjukkan rentang waktu untuk tiap time step, sedangkan simulation start/end date
menunjukkan tanggal dan jam simulasi mulai/berakhir. Pada modul ini, model hanya akan
dijalankan selama 5 hari dari tanggal 18 Agustus 23 Agustus 2003 untuk interval waktu 1 jam
(Gambar 35).

Gambar 35

Pada bagian Module Selection, terdapat modul lain yang bisa dijalankan selain modul
hidrodinamika, antara lain: modul transpor, modul tumpahan minyak, modul jejak partikel, dan
modul transpor sedimen (sand & mud). Pada modul kali ini hanya dijalankan modul
hidrodinamika saja (Gambar 36).
Gambar 36

Pada modul hidrodinamika, bagian Solution Technique menunjukkan tingkat orde persamaan
hidrodinamika yang akan digunakan serta syarat kestabilannya. Semakin tinggi ordenya, tingkat
ketelitian hasil perhitungan juga akan semakin baik namun waktu running model akan semakin
lama. Pada modul ini akan digunakan high order untuk persamaan hidrodinamika sedangkan
nilai CFL numbernya tetap akan memakai default 0,8 (Gambar 37).

Gambar 37

Bagian Flood and Dry digunakan untuk mengaktifkan fungsi tersebut yang berguna jika ada
daerah dengan kedalaman yang lebih kecil dari range pasang surut sehingga daerah tersebut
akan menjadi kering (tidak blow up). Pada modul kali ini fungsi flood and dry ini akan diaktifkan
karena domain model adalah daerah perairan dangkal (Gambar 38).
Gambar 38

Pada bagian Density, terdapat 4 tipe perhitungan densitas. Tipe pertama adalah barotropik
yaitu densitas air hanya merupakan fungsi dari tekanan, sedangkan tipe kedua hingga keempat
adalah baroklinik yaitu densitas air merupakan fungsi dari temperatur atau salinitas atau
keduanya. Pada modul kali ini hanya akan digunakan tipe barotropik karena kurangnya
informasi mengenai nilai temperatur dan salinitas di daerah ini (Gambar 39).

Gambar 39

Pada modul ini di bagian Eddy Viscosity dan Bed Resistance akan digunakan nilai default saja
karena keterbatasan pengetahuan tentang berapa nilai konstanta untuk persamaan-persamaan
tersebut di daerah ini. Pada bagian Coriolis Forcing akan dipakai no coriolis force karena kondisi
domain model yang tidak terlalu luas dan dekat khatulistiwa sehingga tidak terpengaruh gaya
coriolis (Gambar 40).

Gambar 40

Bagian Wind Forcing digunakan untuk menambahkan gaya pembangkit hidrodinamika berupa
angin. Pada modul ini pengaruh angin akan dimasukkan dengan format varying in time constant
in boundary karena data time series angin yang diperoleh hanya terdapat pada satu titik saja.
Pilih select , kemudian pilih file anginlatihan.dfs0 yang telah dibuat sebelumnya
(Gambar 41).

Gambar 41

Bagian Ice Coverage (Gambar 42), Tidal Potential (Gambar 43), Precipitation Evaporation
(Gambar 44), Wave Radiation (Gambar 45) pada modul ini tidak perlu dimasukkan karena
domain berada di daerah tropis (tidak ada es), pengaruh pasang surut tidak luar biasa (cari info
tentang Bay of Fundy, Kanada), serta tidak ada data curah hujan maupun gelombang.

Gambar 42
Gambar 43

Gambar 44

Gambar 45

Pada modul ini bagian Source juga tidak ditambahkan (Gambar 46). Bagian ini baru
ditambahkan jika diperoleh informasi bahwa terdapat mata air/semburan air di tengah-tengah
domain model.
Gambar 46

Bagian Structure juga tidak ditambahkan karena kurangnya informasi mengenai struktur seperti
bendungan, pintu air, dermaga dll yang bisa mempengaruhi kondisi hidrodinamika di daerah ini.
Pada bagian Initial Condition (Gambar 47) diasumsikan pada modul ini kondisi awal perairan
berada dalam keadaan tenang (nilai elevasi dan kecepatan arusnya nol).

Gambar 47
Bagian Boundary Condition terdiri dari daerah-daerah batas yang telah didefinisikan
sebelumnya. Pada daerah batas sungai (Gambar 48), pilih tipenya adalah specified discharge
dengan nilai yang terus konstan (asumsi nilai debit di daerah tersebut 100 m3/s).

Gambar 48

Sedangkan pada daerah batas pasang surut (laut), pilih tipenya adalah specified level dengan
nilai yang bervariasi pada masing-masing titik di sepanjang garis batas (varying in time and
along boundary). Pilih , kemudian pilih file hasil peramalan pasut yang telah dibuat
sebelumnya untuk masing-masing daerah batas pasang surut (Gambar 49).

Gambar 49
Langsung skip ke bagian Output, pilih New Output, kemudian Go To. Pada tab Output
Specification, kolom field type dapat digunakan untuk menentukan tipe output apakah ingin 2
dimensi atau 3 dimensi. Kolom Output Format digunakan untuk menentukan bagaimana
format output yang diinginkan, apakah hanya di suatu titik, di suatu garis, atau di suatu luasan
daerah tertentu (volume untuk 3 dimensi). Kolom Output File digunakan untuk memberikan
nama dan format dari hasil output yang akan disimpan. Pada bagian time step digunakan untuk
menentukan pada time step ke berapa hingga berapa output akan dikeluarkan. Pada modul ini
tipe output yang diinginkan adalah dalam bentuk 3 dimensi untuk suatu volume domain dan
akan disimpan dengan nama hasillatihan3d.dfsu (Gambar 50).

Gambar 50

Tab Output Items digunakan untuk menentukan parameter apa saja yang akan ditampilkan
dalam output model. Pada modul ini parameter yang akan ditampilkan (Gambar 51) yaitu
parameter basic (kecepatan U, V, dan W) serta parameter tambahan (besaran kecepatan arus
dan arah horizontal).
Gambar 51

Simpan setting running model hidrodinamika 3 dimensi ini dengan nama latihan3d.m3fm,
kemudian pilih tab Run Start Simulation.

Gambar 52

Pada setting simulasi (Gambar 52) bisa diatur tingkat prioritasnya. Semakin tinggi tingkat
prioritasnya proses perhitungan akan semakin cepat namun dengan konsumsi kemampuan CPU
yang semakin besar (bisa membuat komputer/laptop lag). Clik OK and Happy running!!!!!!