Anda di halaman 1dari 2

Ekologi Budaya; Adaptasi

oleh;
Deby Hermawan
15407141052

Kemungkinan adanya pengaruh dari lingkungan terhadap kebudayaan merupakan


pemikiran yang secara relatif baru akhir-akhir ini digarap secara sungguh-sungguh. Untuk
banyak ahli antropologi, lingkungan hanya dilihat sebagai faktor yang mempunyai pengaruh
yang membatasi kebudayaan yaitu bahwa aktivitas tertentu mustahil terjadi pada iklim-iklim
tertentu (seperti kebudayaan pertanian di daerah kutub). tapi jangkauan yang lebih jauh tidak ada
sehingga lingkungan hanya dilihat sebagai sesuatu yang tak mempunyai pengaruh langsung
terhadap kebudayaan. Julian Steward adalah salah seorang yang mula-mula menyarankan
pengkajian tentang ekologi kebudayaan, yaitu analisa mengenai hubungan antara suatu
kebudayaan alam dengan sekitarnya atau lingkungannya. Steward merasa bahwa penjelasan
untuk beberapa aspek-aspek variasi-variasi kebudayaan dapat dicari dalam adaptasi masyarakat
terhadap lingkungannya. Yang Steward hendak lakukan bukan saja mengajukan hipotesa bahwa
lingkungan menentukan atau tidak menentukan perbedaan antara kebudayaan-kebudayaan, tapi
Steward juga ingin menjawab pertanyaan itu secara empiris, yaitu, dia ingin melakukan
penelitian-penelitian untuk menunjang pembuktian pandangannya. Namun Steward juga
mengatakan bahwa ekologi kebudayaan harus dipisahkan dari ekologi biologi (yaitu pengkajian
terhadap hubungan antara organisme dengan lingkungannya). Penganut-penganut ekologi
kebudayaan yang lebih baru seperti Andrew P. Vayda dan Roy A. Rappaport ingin
menggabungkan prinsip-prinsip dari ekologi biologi ke dalam studi ekologi kebudayaan agar
dapat merangkumnya menjadi satu ilmu tentang ekologi. Menurut pandangan ini, unsur-unsur
kebudayaan seperti juga unsur-unsur biologis, tunduk juga pada proses seleksi oleh alam dan
dapat dianggap bersifat mampu atau tidak mampu menyesuaikan diri. Jadi lingkungan, termasuk
lingkungan fisik dan sosial, berpengaruh terhadap perkembangan dari kebudayaan, yaitu dalam
arti bahwa individu-individu dan bangsa-bangsa berperilaku menurut cara yang berbeda,
mencapai keberhasilan yang berbeda tingkatnya dalam perjuangannya untuk mempertahankan
kelompoknya dan jumlah mereka dan sebagai konsekuensinya, berbeda juga mengenai cara
penyampaian atau transmisi pola-pola perilakunya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Perhatikanlah misalnya bagaimana kebudayaan dan lingkungan saling berkaitan di antara
orang-orang Tsembaga yang hidup di pedalaman Irian. Orang-orang Tsembaga berbudaya
horticulture yaitu terutama hidup dari hasil tanaman akar-akaran dan sayur-sayuran yang mereka
tanam di kebun mereka; mereka juga memelihara babi-babi yang dipakai untuk memenuhi
beberapa fungsi yang berguna. Meskipun babi jarang dimakan, namun babi itu menjaga
kebersihan halaman karena memakan sampah-sampah, dan karena tanah untuk perkebunan
dikorek-korek oleh babi, maka pengolahan tanah itu dibantu persiapannya. Pemeliharaan babi
dalam jumlah kecil mudah dilaksanakan: babi itu berlarian bebas sepanjang hari, kemudian
kembali di malam hari dan memakan apa saja yang dibuang manusia. Jadi babi yang
membutuhkan pemeliharaan yang minimal ini, berguna sebagai pembersih sampah dan juga
sebagai mesin pengolah tanah

Tetapi berbagai masalah timbul jika jumlah babi menjadi terlalu banyak. Sering kali sisa
makanan, sampah danr kotoran tidak cukup lagi sehingga harus ditambah makanannya yang
diambil dari jatah makanan manusia. Dan akhirnya terpaksa juga orang bekerja untuk
menyediakan makanan bagi babi. Sama halnya bila sejumlah kecil babi piaraan memang berjasa
sebagai pembersih halaman dan sebagai pengolah tanah perkebunan, jumlah ternak yang besar
tampaknya malah memakan hasil kebun. Babi bahkan dapat merusak kerukunan dalam
masyarakat, misalnya jika seekor babi masuk ke kebun tetangga, pemilik kebun sering kali
membunuh babi tersebut, isteri pemilik kebun atau seekor babi pemilik kebun. Jika perselisihan
demikian semakin banyak, diusahakanlah supaya babi benar-benar tidak mendekati kebun orang-
orang lain.

Demikianlah untuk mengatasi masalah kelebihan ternak babi, maka rupanya orang-orang
Tsembaga telah mengembangkan serentetan upacara yang rumit, dan penyembelihan sejumlah
besar babi yang kelebihan, merupakan unsur yang penting dalam upacara itu. Babi sembelihan
itu dapat dibagikan dagingnya (merupakan barang berharga) kepada teman-teman dan kepada
nenek moyang (orang Tsembaga percaya bahwa nenek moyang akan mengaruniai mereka
dengan kekuatan, keberanian, sebagai balasan persembahan daging babi tersebut). Jadi suatu
praktek kebudayaan (upacara pesta babi), dapat dilihat sebagai adaptasi terhadap faktor
lingkungan yang menghasilkan babi secara berlebihan (surplus); pesta-pesta demikian juga
mengurangi konflik dalam masyarakat.