Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Implikasi Geostrategi Pada Masalah Perbatasan


di Indonesia

Dosen: Irton, SE.,M.Si

Disusun Oleh :
1. Rosalia Wahyu Dwi Safitri (12.01.3011)
2. Fajri Agus Santoso (12.01.3020)
3. Yoannes Trias Martono (12.01.3025)
4. Indra Setiawan (12.01.3036)
5. Puja Eka As`ad (12.01.3049)
6. Sapto Priyatno (12.01.3050)
7. Inovani Pramudita (12.01.3058)
Kelas 12-D3TI-01

STMIK AMIKOM YOGYAKARTA


2014
BAB I
PENDAHULUAN

Abstraksi
Setiap bangsa sudah pasti mempunyai cita-cita yang ingin diwujudkan dalam hidup
dan kehidupan nyata. Cita-cita itu merupakan arahan dan atau tujuan yang sebenar-benarnya
dan mempunyai fungsi sebagai penentu arah dari tujuan nasionalnya. Namun demikian,
pencapaian cita-cita dan tujuan nasional itu bukan sesuatu yang mudah diwujudkan karena
dalam perjalanannya kearah itu akan muncul energi baik yang positif maupun negatif yang
memaksa suatu bangsa untuk mencari solusi terbaik, terarah, konsisten, efektif, dan efisien.
Salah satu solusi dalam mencapai tujuan dan cita-cita nasional yang diinginkan yaitu
adanya geostrategi dalam pertahanan nasional, khususnya dalam menjaga stabilitas dengan
negara lain. Dalam era ini sering sekali masalah muncul dalam perbatasan wilayah suatu
negara, dimana dalam perbatasan wilayah sering sekali perebutan atau sengketa suatu
wilayah.

Latar Belakang
Kawasan perbatasan adalah sebuah wilayah yang sangat strategis bagi stabilitas
keamanan sosial dan ekonomi seluruh warga negara bukan hanya bagi masyarakat di
perbatasan. Luasnya kawasan perbatasan Indonesia seharusnya mencerminkan adanya sebuah
kebijakan pengelolaan perbatasan yang efektif dan akuntabel baik itu dari aspek sosial
ekonomi dan keamanan. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa sistem manajemen
perbatasan Indonesia selama ini berada dalam tahap yang mengkhawatirkan.
Meningkatnya tindak kejahatan di perbatasan (border crime) seperti penyelundupan
kayu, barang, dan obat-obatan terlarang, perdagangan manusia, terorisme, serta penetrasi
ideologi asing telah mengganggu kedaulatan serta stabilitas keamanan di perbatasan negara.
Selama ini, kawasan perbatasan Indonesia hanya dianggap sebagai garis pertahanan terluar
negara, oleh karena itu pendekatan yang digunakan dalam mengelola perbatasan hanya pada
pendekatan keamanan (security approach). Padahal, di beberapa negara tetangga, misalnya
Malaysia, telah menggunakan pendekatan kesejahteraan (prosperity) dan keamanan secara
berdampingan pada pengembangan wilayah perbatasannya.
BAB II
PEMBAHASAN MASALAH

Pengertian Geostrategi
Geostrategi berasal dari kata geo yang berarti bumi, dan strategi diartikan sebagai
usaha dengan menggunakan segala kemampuan atau sumber daya baik SDM maupun SDA
untuk melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan. Dalam kaitannya dengan kehidupan
suatu negara, geostrategi diartikan sebagai metode atau aturan-aturan untuk mewujdkan cita-
cita dan tujuan melalui proses pembangunan yang memberikan arahan tentang bagaimana
membuat strategi pembangunan dan keputusan yang terukur dan terimajinasi guna
mewujudkan masa depan yang lebih baik, lebih aman dan bermartabat.
Bagi bangsa Indonesia geostrategi diartikan sebagai metode untuk mewujudkan cita-
cita proklamasi, sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945, melalui proses
pembangunan nasional.
Oleh karena itu geostrategi Indonesia sebagai suatu cara atau metode dalam
memanfaatkan segenap konstelasi geografi negara Indonesia dalam menentukan kebijakan,
arahan serta sarana-sarana dalam mencapai tujuan seluruh bangsa Indonesia dengan berdasar
asas kemanusiaan dan keadilan sosial. Geostrategi Indonesia memberi arahan tentang
bagaimana merancang strategi pembangunan dalam rangka mewujudkan masa depan yang
lebih baik, aman, dan sejahtera. Oleh karena itu, geostrategi Indonesia bukanlah merupak
geopolitik untuk kepentingan politik dan perang, melainkan untuk kepenting kesejahteraan
dan keamanan.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat kita ketahui geostrategi ketahanan nasional
bukan hanya mencakup ketahanan di bidang pertahanan dan keamanan, melainkan di segala
bidang yang dapat mendukung integritas, identitas, kelangsungan hidup dan negara serta
perjuangan mencapai tujuan nasional di antaranya mencakup bidang ideologi, politik, sosial,
budaya, pertahanan dan keamanan negara.

Konsepsi dan Perkembangan Geostrategi Indonesia


a. Konsepsi Geostrategi Indonesia
Konsep geostrategi Indonesia pada hakekatnya bukan mengembangkan
kekuatan untuk penguasaan terhadap wilayah di luar Indonesia atau untuk ekspansi
terhadap negara lain, tetapi konsep strategi yang didasarkan pada kondisi metode, atau
cara untuk mengembangkan potensi kekuatan nasional yang ditujukan untuk
pengamanan dan menjaga keutuhan kedaulatan Negara Indonesia dan pembangunan
nasional dari kemungkinan gangguan yang datang dari dalam maupun dari luar
negeri. Untuk mewujudkan geostrategis Indonesia akhirnya dirumuskan Bangsa
Indonesia dengan Ketahanan Nasional Republik Indonesia.
b. Perkembangan Konsep Geostrategi Indonesia
Konsep geostrategi Indonesia pertama kali dilontarkan oleh Bung Karno pada
tanggal 10 Juni 1948 di Kotaraja. Namun sayangnya gagasan ini kurang
dikembangkan oleh para pejabat bawahan, karena seperti yang kita ketahui wilayah
NKRI diduduki oleh Belanda pada akhir Desember 1948, sehingga kurang
berpengaruh. Dan akhirnya, setelah pengakuan kemerdekaan 1950 garis
pembangunan politik berupa Nation and character and building yang merupakan
wujud tidak langsung dari geostrategi Indonesia yakni sebagai pembangunan jiwa
bangsa.

Sifat- Sifat Geostrategi Indonesia

Bersifat daya tangkal. Dalam kedudukannya sebagai konsepsi penangkalangeostrategi


Indonesia ditujukan untuk menangkal segala bentuk ancaman,gangguan, hambatan
dantantangan terhadap identitas, integritas,eksistensi bangsa dan negara Indoesia.
Bersifat developmental/pengembangan.yaitu pengembangan potensi kekuatanbangsa
dalam ideologi, politik, ekonomi,sosial budaya, hankam sehingga tercapai
kesejahteraan rakyat.

Implikasi Geostrategi Pada Masalah Perbatasan di Indonesia


Di Indonesia masih banyak sekali beberapa kasus yang mengancam perbatasan
wilayah Indonesia. Kasus yang paling banyak menyita perhatian masyarakat adalah kasus
sengketa antara negara Indonesia dan Malaysia atas pulau Sipadan dan Ligitan yang berakhir
dengan lepasnya kedua pulau ini dari wilayah RI pada tahun 2002 lalu. Lepasnya kedua pulau
ini terjadi setelah Mahkamah Internasional di Den Haag memenangkan Malaysia dengan
alasan negara itu terbukti telah melakukan pengelolaan secara serius dan berkesinambungan
di kedua pulau itu.Penambangan pasir laut di perairan sekitar Kepulauan Riau yakni wilayah
yang berbatasan langsung dengan Singapura, telah berlangsung sejak tahun 1970. Kegiatan
tersebut telah mengeruk jutaan ton pasir setiap hari dan mengakibatkan kerusakan ekosistem
pesisir pantai yang cukup parah. Selain itu mata pencaharian nelayan yang semula
menyandarkan hidupnya di laut, terganggu oleh akibat penambangan pasir laut. Kerusakan
ekosistem yang diakibatkan oleh penambangan pasir laut telah menghilangkan sejumlah mata
pencaharian para nelayan.
Masalah perbatasan Indonesia dengan Republik Palau belum sepakat mengenal batas
perairan ZEE Palau dengan ZEE Indonesia yang terletak di utara Papua. Akibat hal ini, sering
timbul perbedaan pendapat tentang pelanggaran wilayah yang dilakukan oleh para nelayan
kedua pihak.
Saat ini Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto sedang
mendata penduduk perbatasan terkait sinyalemen adanya perpindahan warga negara
Indonesia di jalur perbatasan Kalimantan Barat menjadi warga negara Malaysia.
Beberapa kasus tersebut mengindikasikan bahwa pertahanan di Indonesia masih
lemah dan belum sepenuhnya ada kejelasan adanya perbatasan antara wilayah RI dan negara
tetangga. Beberapa kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah saat ini belum bisa
mengatasi masalah-masalah tersebut. Pada Pasal 14 Undang-Undang No. 43 Tahun 2008
tentang Wilayah Negara mengamanatkan pembentukan badan pengelola nasional dan badan
pengelola daerah untuk bertanggung jawab mengelola batas wilayah negara dan kawasan
perbatasan, namun pelaksanaannya belum berjalan dengan baik.
Berdasarkan Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah,
pengaturan tentang pengembangan wilayah perbatasan di kabupaten/kota secara hukum
berada dibawah tanggung jawab pemerintah daerah tersebut. Kewenangan pemerintah pusat
hanya ada pada pintu-pintu perbatasan yang meliputi aspek kepabeanan, keimigrasian,
karantina, keamanan dan pertahanan.
Meskipun demikian, pemerintah daerah masih menghadapi beberapa hambatan dalam
mengembangkan aspek sosial-ekonomi kawasan perbatasan. Beberapa hambatan tersebut
diantaranya, masih adanya paradigma pembangunan wilayah yang terpusat, sehingga
kawasan perbatasan hanya dianggap sebagai halaman belakang, sosialisasi peraturan
perundang-undangan mengenai pengembangan wilayah perbatasan yang belum sempurna,
keterbatasan anggaran, dan tarik-menarik kepentingan pusat-daerah.
Otoritas pengelolaan keamanan di perbatasan sendiri telah lama diserahkan kepada
TNI. Hal ini salah satunya didasarkan pada Undang-Undang No. 34, tahun 2004 mengenai
Tentara Nasional Indonesia (TNI) bahwa wewenang untuk menjaga keamanan di area
perbatasan adalah salah satu fungsi pokok dari TNI. Masih lemahnya motivasi dan peran
pemerintah pusat dan daerah untuk mengelola kawasan perbatasan dengan pendekatan
kesejahteraan (prosperity approach) berimplikasi pada otoritas penuh TNI sebagai pengelola
perbatasan negara dengan penekanan pada keamanan bukan pada kesejahteraan sosial
ekonomi.
Upaya untuk mempertahankan wilayah Indonesia merupakan tanggung jawab kita
semua. Selama ini kita mungkin memandang bahwa penanggung jawab upaya
mempertahankan kedaulatan wilayah RI adalah TNI. Hal tersebut tidak tepat. Kita semua
bertanggung jawab untuk membantu negara dalam mempertahankan kedaulatan wilayah RI.
Kerja sama dan sinergi antar instansi pemerintah, pemerintah pusat dengan pemerintah
daerah, pemerintah dengan swasta, dan pemerintah dengan masyarakat harus diperkuat.
Kita harus menyusun strategi pertahanan wilayah perbatasan. Apabila perlu, kita harus
menyusun sebuah undang-undang khusus untuk itu. Apabila terpilih menjadi anggota dewan
nanti, saya akan memprakarsai hal tersebut.
Beberapa pokok strategi yang dapat dilakukan dalam mempertahankan kedaulatan
wilayah kita antara lain:

1. Pemetaan Kembali Titik-Titik Perbatasan Indonesia


Pemetaan kembali titik-titik perbatasan wilayah Indonesia harus dilakukan.
Hasil pemetaan baru tersebut harus dibandingkan dengan pemetaan yang pernah
dilakukan sebelumnya. Koordinat titik-titik perbatasan sangat penting untuk kita
inventarisir dan dimasukkan dalam sebuah undang-undang mengenai perbatasan
wilayah Indonesia. Apabila perlu, daripada konstitusi diubah-ubanh hanya untuk
keperluan rebutan kekuasaan, masukkan klausul mengenai titik-titik perbatasan
tersebut dalam UUD.

2. Bangun Jalan (Prioritaskan Pembangunan) di Sepanjang Perbatasan Darat


Pandangan kita mengenai perbatasan sebagai wilayah terpencil harus kita
ubah. Mulai saat ini kita harus memandang perbatasan sebagai wilayah strategis.
Strategis untuk mempertahankan wilayah kita. Dari perspektif eksternal, wilayah atau
kota-kota/kabupaten di daerah perbatasan adalah etalase NKRI. Artinya, kemajuan
dan kesejahteraan masyarakat di daerah-daerah tersebut akan menjadi nilai jual
positif bagi diplomasi internasional Indonesia. Sebaliknya, keterbelakangan atau
kelambanan ekonomi di daerah-daerah itu akan menjadi makanan empuk bagi pihak-
pihak asing yang berkepentingan untuk melemahkan kredibilitas RI di dunia
internasional. Oleh karena itu, pemerintah pusat dan daerah yang memiliki wilayah
perbatasan darat dengan negara tetangga seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Timur,
Nusa Tenggara Timur dan Papua harus memprioritaskan pembangunan prasarana
jalan di sepanjang perbatasan. Jalan tersebut dihubungkan ke pusat kota atau pusat
pemukiman terdekat. Tujuan pembangunan jalan tersebut adalah untuk merangsang
pembangunan kota atau pemukiman baru di dekat perbatasan. Kelak, sarana
transportasi darat itulah media perkuatan ketahanan ekonomi (juga sosial budaya) di
daerah-daerah tersebut.

3. Bangun Wilayah Baru di Dekat Perbatasan


Setelah di sepanjang perbatasan dibangun jalan yang terhubung ke pusat kota
atau pusat pemukiman terdekat, pemerintah daerah diharuskan membangun wilayah
baru di dekat perbatasan. Pembangunan untuk perluasan kota yang sudah mapan harus
dihambat dan masyarakat dirangsang untuk mengembangkan wilayah baru. Untuk
melakukan hal tersebut, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah harus menyusun
konsep pengembangan wilayah perbatasan secara komprehensif agar wilayah baru
yang dibentuk dapat hidup baik secara ekonomi maupun sosial.
Selain itu, wilayah baru yang dibangun sebaiknya diarahkan untuk memiliki
spesialsisasi. Misalnya, ada blok khusus jeruk Pontianak, blok khusus kebun aren,
blok khusus sawah padi, dll. untuk merangsang masuknya investasi bisnis pendukung
di sana.
4. Pembangunan Pangkalan Militer di Dekat Perbatasan
Saat ini kita melihat gelaran pasukan TNI kita kurang memadai untuk
melakukan upaya menjaga perbatasan negara. Gelaran pasukan justru diletakkan di
wilayah-wilayah padat penduduk yang sudah terbangun. Gelaran pasukan seperti ini
harus diubah. Batalyon-batalyon yang berada di wilayah aman dari gangguan luar
sepantasnya direlokasi ke wilayah perbatasan. Apalagi, urusan keamanan dan
ketertiban saat ini sudah menjadi tanggung jawab kepolisian. Jelas ini tidak mudah
dan akan membutuhkan effort tidak sedikit. Namun, terbukti ini cukup efektif di
perbatasan RI-Papua Nugini.
Bukan karena angkatan perang PNG lebih kecil dibanding TNI (juga
Malaysia), namun penggelaran kekuatan militer akan menghambat perilaku
mencuri negara lain karena konflik senjata (apabila terjadi kontak senjata) relatif
lebih sulit diselesaikan sehingga negara manapun cenderung menghindari kontak
senjata.

5. Galakkan Kembali Transmigrasi


Program transmigrasi yang dulu gencar dilaksanakan pada era Orde Baru
harus digalakkan kembali. Transmigran diarahkan untuk mendiami wilayah-wilayah
baru yang dibentuk di dekat perbatasan. Saya yakin, apabila infrastruktur transportasi
dan komunikasi disiapkan, banyak penduduk dari wilayah-wilayah padat yang
bersedia bertransmigrasi.

6. Pemberian Insentif Pajak


Agar pengusaha dan perbankan mau masuk, pemerintah perlu memberikan
insentif pajak bagi pengusaha yang mau berinvestasi di wialayah baru tersebut.

7. Pilih Pemimpin yang Kuat dan Tegas


Pemimpin yang kuat dan tegas sangat penting. Terlepas dari segala
kekurangan yang dituduhkan, kita pernah memiliki dua sosok pemimpin yang tegas
sehingga dihormati kawan dan disegani lawan. Kedua pemimpin yang kuat dan tegas
itu adalah Soekarno dan Soeharto. Pada saat kedua orang itu memimpin, tidak ada
yang berani melecehkan negara kita. Akan tetapi, setelah berganti pemimpin, negara
kita menjadi bulan-bulanan pelecehan terutama oleh Malaysia dan kadang-kadang
Singapura.

8. Perkuat Diplomasi Internasional


Diplomasi internasional tidak semata-mata menyampaikan pendapat atau
pembelaan di forum-forum internasional. Diplomasi ini bersifat multidimensional.
Kita harus aktif mensosialisasikan kebijakan pembangunan NKRI beserta hasil-
hasilnya. Dunia pariwisata kita harus proaktif memasarkan produk-produk wisata di
wilayah-wilayah perbatasan itu kepada negara-negara terdekat (misalnya potensi
wisata Kalimantan ke Malaysia, Sumatera ke Singapura, Sulawesi ke Filipina, Papua
dan Nusa Tenggara ke Australia, dst). Secara geografis, kedekatan produk wisata itu
ke negara yang berbatasan dengannya akan menghasilkan wisata murah, namun
masuknya wisatawan asing ke daerah-daerah tersebut akan memberi akselerasi
pembangunan dan perputaran uang yang tidak sedikit. Konsekuensinya, aset wisata di
daerah-daerah tersebut harus dibangun dan dibenahi terlebih dahulu. Sekali lagi, ini
dapat dimanfaatkan sebagai selling point kita di mata internasional.

9. Pembangunan Sistem Pendidikan yang Nasionalis


Dunia pendidikan kita juga harus membangun sebuah konsep pendidikan yang
menanamkan secara kuat nasionalisme dan patriotisme masyarakat di perbatasan,
sehingga mereka tidak mudah tersusupi ideologi-ideologi dan paham-paham yang
membahayakan keutuhan NKRI (infiltrasi ideologi dan budaya adalah bentuk invasi
yang efektif untuk meruntuhkan sebuah negara dari dalam. Ingat kisah runtuhnya Uni
Sovyet).
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Geostrategi merupakan strategi dalam memanfaatkan kondisi geografi negara
untuk menentukan tujuan dan kebijakan negara. Geostartegi merupakan pemanfaatan
lingkungan untuk mencapai tujuan nasional. Geostrategi Indonesia dirumuskan dalam
wujud ketahanan nasional, sehingga bisa dikatakan geostartegi adalah ketahanan nasional
itu sendiri.
Masih lemahnya Geostrategi dan Geopolitik di negara Indonesia dalam hal perbatasan
negara. Sehingga perlu adanya suatu penguatan terhadap ketahanan negara khususnya
konteks perbatasan agar tidak banyak kasus-kasus yang muncul mengenai perbatasan negara
di Indonesia.
Kawasan perbatasan merupakan kawasan yang rawan akan tindak kejahatan di
perbatasan (border crime) seperti penyelundupan kayu, barang, dan obat-obatan terlarang,
perdagangan manusia, terorisme, serta penetrasi ideologi asing telah mengganggu kedaulatan
serta stabilitas keamanan di perbatasan negara. Maka dari itu untuk meminimalisir tindak
kejahatan dan untuk lebih memberdayakan dan mensejahterakan masyarakat di daerah
perbatasan maka digunakanlah Geostrategi dalam pengelolaan keamanan di perbatasan dan
strategi dalam mempertahankan kedaulatan wilayah NKRI.
DAFTAR PUSTAKA

Muresky Wahami Purnamasari. 2011. Peranan IPTEK Dalam Implementasi Geostrategi


Indonesia, (Online), (http://geostrategi-indonesia.blogspot.com/), diakses 19 Februari
2014.

Yosef Nursyamsi. 2012. Geostrategi Indonesia, (Online),


(http://tapalbatasnegeri.wordpress.com/2013/06/30/implikasi-geopolitik-dan-geostrategi-
pada-masalah-perbatasan-di-indonesia/), diakses 19 Februari 2014.