Anda di halaman 1dari 4

Pengertian Promosi Kesehatan

Menurut WHO (1947), pengertian kesehatan secara luas tidak hanya


meliputi aspek medis, tetapi juga aspek mental dan sosial, dan bukan hanya suatu
keadaan yang bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan (Maulana, 2009),
sedangkan pengertian kesehatan menurut UU Kesehatan No. 36 tahun 2009
adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang
memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Hal ini berarti, kesehatan tidak hanya diukur dari aspek fisik mental dan sosial
saja, tetapi juga diukur dari produktivitasnya dalam mempunyai pekerjaan atau
menghasilkan sesuatu secara ekonomi (Notoatmodjo, 2010).

Hasil rumusan Konferensi Internasional Promosi Kesehatan di Ottawa,


Canada menyatakan bahwa promosi kesehatan adalah suatu proses untuk
memampukan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan
mereka. Dengan kata lain, promosi kesehatan adalah upaya yang dilakukan
terhadap masyarakat sehingga mereka mau dan mampu untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan mereka sendiri (Notoatmodjo, 2010).

Menurut WHO, promosi kesehatan adalah proses mengupayakan individu-


individu dan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan mereka mengandalkan
faktor- faktor yang mempengaruhi kesehatan sehingga dapat meningkatkan
derajat kesehatannya. Bertolak dari pengertian yang dirumuskan WHO, Indonesia
merumuskan pengertian promosi kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan
kemampuan masyarakat melalui pembelajaran dari, oleh, untuk dan bersama
masyarakat agar mereka dapat menolong dirinya sendiri serta mengembangkan
kegiatan bersumber daya masyarakat sesuai sosial budaya setempat dan didukung
oleh kebijakan publik yang berwawasana kesehatan (Depkes RI, 2005).

Batasan promosi kesehatan yang dirumuskan oleh Yayasan Kesehatan


Victoria (Victorian Health Foundation-Australia, 1997) dalam Notoatmodjo
(2010) menekankan bahwa promosi kesehatan adalah suatu program perubahan
perilaku masyarakat yang menyeluruh dalam konteks masyarakatnya. Bukan
hanya perubahan perilaku (within people), tetapi juga perubahan lingkungannya.
Perubahan perilaku tanpa diikuti perubahan lingkungan tidak akan efektif,
perubahan tersebut tidak akan bertahan lama.

Visi dan Misi Promosi Kesehatan

Visi promosi kesehatan (khususnya di Indonesia) tidak terlepas dari visi


pembangunan kesehatan di Indonesia, seperti yang tercantum dalam Undang-
Undang Kesehatan Republik Indonesia No. 36 tahun 2009 yakni meningkatkan
kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi sumber daya manusia yang
produktif secara sosial ekonomi. Oleh sebab itu, promosi kesehatan sebagai
bagian dari program kesehatan masyarakat di Indonesia harus mengambil bagian
dalam mewujudkan visi pembangunan kesehatan di Indonesia tersebut. Sehingga
visi promosi kesehatan dapat dirumuskan sebagai masyarakat mau dan mampu
memelihara dan meningkatkan kesehatannya (Notoatmodjo, 2010).

Mewujudkan visi promosi kesehatan tersebut, maka diperlukan upaya-


upaya. Upaya-upaya untuk mewujudkan visi ini disebut sebagai misi promosi
kesehatan. Secara umum misi promosi kesehatan ini, seperti yang termuat dalam
Ottawa Charter (1984) sekurang-kurangnya ada tiga hal yakni :

a. Advokat (Advocate)

Kegiatan advokat ini dilakukan terhadap para pengambil keputusan dari


berbagai tingkat, dan sektor terkait dengan kesehatan. Tujuan kegiatan ini adalah
meyakinkan para pejabat pembuat keputusan atau penentu kebijakan, bahwa
program kesehatan yang dijalankan tersebut penting. Oleh sebab itu, perlu
dukungan kebijakan atau keputusan dari para pejabat tersebut.

b. Menjembatani (Mediate)

Promosi kesehatan juga mempunyai misi sebagai mediator atau


menjembatani antara sektor kesehatan dengan sektor yang lain sebagai mitra.
Dengan perkataan lain promosi kesehatan merupakan perekat kemitraan di bidang
pelayanan kesehatan. Kemitraan sangat penting, sebab tanpa kemitraan, niscaya
sektor kesehatan mampu menangani masalah-masalah kesehatan yang begitu
kompleks dan luas.

c. Memampukan (Enabling)

Sesuai dengan visi promosi kesehatan, yakni masyarakat mau dan mampu
memelihara dan meningkatkan kesehatannya, promosi kesehatan mempunyai misi
utama untuk memampukan masyarakat. Hal ini berarti, baik secara langsung atau
melalui tokoh-tokoh masyarakat, promosi kesehatan hanya memberikan
keterampilan-keterampilan kepada masyarakat agar mereka mandiri di bidang
kesehatan.

Tujuan Promosi Kesehatan

Pada dasarnya tujuan utama promosi kesehatan adalah untuk mencapai 3


hal, yaitu :

1. Peningkatan pengetahuan atau sikap masyarakat

2. Peningkatan perilaku masyarakat

3. Peningkatan status kesehatan masyarakat

Menurut Green,1991 dalam Maulana,2009,tujuan promosi kesehatan


terdiri dari tiga tingkatan yaitu:

a. Tujuan Program
Refleksi dari fase social dan epidemiologi berupa pernyataan tentang apa yang
akan dicapai dalam periode tertentu yang berhubungan dengan status
kesehatan. Tujuan program ini juga disebut tujuan jangka panjang, contohnya
mortalitas akibat kecelakaan kerja pada pekerja menurun 50 % setelah
promosi kesehatan berjalan lima tahun.
b. Tujuan Pendidikan
Pembelajaran yang harus dicapai agar tercapai perilaku yang diinginkan.
Tujuan ini merupakan tujuan jangka menengah, contohnya : cakupan angka
kunjungan ke klinik perusahaan meningkat 75% setelah promosi kesehatan
berjalan tiga tahun.

c. Tujuan Perilaku
Gambaran perilaku yang akan dicapai dalam mengatasi masalah kesehatan.
Tujuan ini bersifat jangka pendek, berhubungan dengan pengetahuan, sikap,
tindakan, contohnya: pengetahuan pekerja tentang tanda-tanda bahaya di
tempat kerja meningkat 60% setelah promosi kesehatan berjalan 6 bulan

Sumber:

Maulana HDJ. 2009. Promosi Kesehatan. Jakarta: EGC.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Promosi Kesehatan: Teori dan Aplikasi. Jakarta :


Rineka cipta