Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

Penggunaan gamabran radiografi periapikal (PA) konvensional sudah menjadi

tehnik yang sangat umum digunakan oleh dokter gigi untuk mengetahui kondisi

jaringan keras mulut baik tulang alveolar ataupun gigi untuk mengevaluasi proses

pataologis, trauma ataupun membantu dalam penegakan diagnosa dan

menentukan rencana perawatan.1 Namun beberapa tahun belakangan telah

ditemukan metode baru yaitu cone beam computed tomography (CBCT) yang

dinyatakan lebih efisien dan ekonomis dibandingkan dengan metode radiografi

konvensional.1 Cone beam computed tomography (CBCT) merupakan metode lain

yang dinyatalan lebih mutakhir dalam teknologi pencitraan gigi, rongga mulut dan

maksiolofasial dengan memberikan gambaran tiga dimensi.2

Hingga saat ini gambaran radiografis sangatlah dibutuhkan dalam kedokteran

gigi untuk mengevaluasi kedalaman karies gigi, mengetahui kondisi akar untuk

perawatan endodontik, memperkirakan kondisi lesi periapikal, fraktur pada akar

gigi dan mengetahui resorbsi eksternal dan internal pada gigi.2

Resorbsi pada gigi merupakan kondisi dimana hilangnya jaringan keras

sebagai hasil dari proses hancurnya sel sel. 3 Hal ini dapat terjadi baik sebagai

proses fisiologis ataupun patologis.3 Resorbsi akar pada gigi susu merupakan

proses normal yang terjadi secara fisiologis.3 Namun apabila hal ini terjadi pada

1
gigi permanen merupakan suatu proses patologis yang disebabkan oleh karena

adanya inflamasi ataupun infeksi.2,3 Dengan begitu apabila resorbsi pada akar gigi

permanen tidak dirawat atau dibiarkan akan mengakibatkan kehilangan gigi pada

gigi yang terkena resorbsi.3

Secara garis besar, berdasarkan letak terjadinya resorbsi akar, resorbsi akar

dikelompokan menjadi dua yaitu ; resorbsi akar internal dan resorbsi akar

eksternal.3 Apabila dibandingkan dengan resorbsi akar eksternal, resorbsi akar

internal lebih jarang terjadi.3 Etiologi dan patogenesis dari resorbsi akar internal

hingga kini belum diketahui secara keseluruhan.3

Resorbsi internal merupakan suatu kerusakan progresif yang terjadi pada

dentinintrakanal yang terjadi akibat adanya inflamasi atau infeksi pada saluran

akar atau terjadi trauma pada gigi tersebut.2 Resorbsi internal biasanya terjadi

pada regio servical, namun dapat terjadi pada bagian manapun dari gigi. 2

Meskipun jarang terjadi, penatalaksanaan dari resorbsi internal membutuhkan

pendekatan yang berbeda dibandingkan pada resorbsi eksterna.2 Pada gambaran

radiografis resorbsi interna seringkasi disamakan dengan resorbsi eksterna. 2

Dengan demikian dibutuhkan gambaran radiografis yang baik dan detail agar

dapat dilakukan perawatan yang tepat.

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengkaji dan memberi informasi

efektifitas penggunaan cone beam computed tomography (CBCT) dalam

mendiagnosis resorbsi internal. Manfaat penulisan makalah ini diharapkan dapat

menambah wawasan dan pengetahuan bagi pembaca (khususnya praktisi di bidang

2
kedokteran gigi) serta sebagai pertimbangan pembaca dalam cone beam computed

tomography (CBCT) dalam mendiagnosis resorbsi internal.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Tinjauan Umum Cone Beam Computed Tomography (CBCT)

2.1.1 Pengertian Cone Beam Computed Tomography (CBCT)

Cone Beam Computed Tomography (CBCT) atau dikenal juga dengan

digital volume tomography atau cone beam volumetric imaging merupakan

metode radiografi baru yang digunakan secara khusus untuk regio gigi dan

maksilofasial yang dapat membantu dokter gigi dalam menentukan

diagnosa dan mengevaluasi kondisi gigi dan tulang maksilofasial dengan

memberikan gambaran radiografis secara cross sectional tiga dimensi

dengan dosis radias yang lebih sedikit, waktu lebih singkat dan harga yang

lebih murah dibandingkan dengan foto rontgen periapikal (PA).1,4

Gambar 1. Hasil gambaran radiografis Cone Beam Computed Tomography (CBCT).5

Bentuk alat Cone Beam Computed Tomography (CBCT) pada

umumnya menyerupai alat rontgen foto panoramik.4 Semua alat CBCT

4
tidak menggunakan fan-shaped cone beam seperti pada radiografi

konvensional, namun telah menggunakan cone shaped x-ray beam yang

berhubungan langsung dengan suatu bagian bernama charged-couple

device (CCD) dan panel.4

A B

Gambar 2. Contoh mesin Cone Beam Computed Tomography (CBCT).


A. I-CAT (imaging Scianes International, inc., USA).
B. 3-D Accuitomo (J. Morita, Japan).4

CBCT mampu memberikan gambaran radiografis secara tiga dimensi

dan cross sectional atau volumetric imaging yang memiliki berbagai

macam ukuran lapangan pandang atau disebut dengan field of view

(FOV).4 Ukuran FOV dari gambaran CBCT beragam mulai dari lapangan

pandang kecil atau small-limited (berukuran kurang lebih 4cm3) hanya

untuk regio dentoalveolar, medium-maxillofacial (berukuran kurang lebih

5
8cm3) dan large-craniofacial mencakup seluruh bagian tengkorak hingga

basis kranium.4

Gambar 3. Gambaran radiografis CBCT dengan lapangan pandang kecil atau small-limited FOV.6

Gambar 4. Gambaran radiografis CBCT dengan lapangan pandang sedang atau medium-
maxilofacial FOV.6

Gambar 5.Gambaran radiografis CBCT dengan lapangan pandang luas atau large-craniofacial
FOV.6

6
2.1.2 Proses Pembentukan Gambaran Radiografis Pada Cone Beam Computed

Tomography (CBCT)

Proses pembentukan gambaran radiografis pada Cone Beam

Computed Tomography (CBCT) secara garis besar dibagi menjadi tiga

rangkaian proses yaitu ; perolehan data atau data acquisition,

rekonstruksi primer atau primary reconstruction dan rekonstruksi

sekunder atau secondary reconstruction.4

Pada tahap perolehan data (data acquisition) pasien diposisikan pada

unit. Alat CBCT akan bergerak mengelilingi pasien dengan membentuk

sudut 1800 , 2700 atau 3600 selama 5-40 detik dalam satu kali putaran

tergantung FOV yang operator inginkan. Semua data yang diinginkan

didapatkan dalam satu kali papar atau scan. Selama proses pemaparan

atau scaning berlangsung, pasien diinstruksikan untuk tetap dalam posisi

diam.4

Gambar 6. Tahap perolehan data (data acquisition) : cone-shaped X-ray beam bergerak
mengelilingi pasien untuk memperoleh data disekitar regio volume silindris.
Pasien diposisikan di dalam volume silinder.4
Setelah memperoleh data, tahap selanjutnya adalah pengolahan data

atau rekonstruksi primer (primary reconstruction) dimana data volume

diubah dan dibagi menjadi bagian-bagian kecil atau disebut dengan voxel

yang setiap voxel berukuran kurang lebih 0,076m3 hingga 0,4m3 dan

7
kemudian dikalkulasi. Setiap voxel dialokasikan menjadi nomor yang

kemudian dialokasikan menjadi warna yang bergradasi dari hitam abu-

abu putih. Dalam satu kali scan terdapat 100 juta voxel.4

Gambar 7. Proses rekonstruksi primer (primary reconstruction) : komputer membagi silinder


menjadi dibagi menjadi bagian-bagian kecil atau disebut dengan voxel.4

Proses selanjutnya setelah rekonstruksi primer (primary

reconstruction) adalah rekonstruksi sekunder (secondary reconstruction).

Pada tahap ini komputer akan membentuk data menjadi gambar yang

dapat dibagi menjadi tiga bidang ortogonal anatomi yaitu ; bidang sagital,

koronal dan aksial yang secara langsung mulcul pada monitor. Bidang

yang diinginkan dapat langsung dipilih oleh operator. Gambar tersebut

dapat dilihat pada monitor dan dapat digerakan dengan kursor untuk

melihat bagian-bagian lain. Setiap gambaran yang dihasilkan oleh CBCT

baik dengan small FOV hingga large FOV memiliki tiga bidang

ortogonal anatomi tersebut.4

8
Gambar 8. Proses rekonstruksi sekunder (secondary reconstruction) : komputer akan membentuk
data menjadi gambar yang dapat dibagi menjadi tiga bidang ortogonal anatomi yaitu ; bidang
sagital, koronal dan aksial yang secara langsung mulcul pada monitor.4
Selain itu pada gambaran CBCT mungkin juga untuk mendapatkan

gambaran cross-sectional atau transaksial pada bagian manapun dengan

aplikasi volume rendered atau surface randered imaging.4

2.1.3 Persiapan Penggunaan Cone Beam Computed Tomography (CBCT)

Gambaran radiografis anatomi gigi dan tulang maksilofasial tiga

dimensi yang dihasilkan oleh CBCT menyebabkan CBCT kini telah

menjadi pilihan para dokter gigi dibandingkan gambaran radiografis PA

konvensional yang memiliki resolusi gambar yang lebih rendah.4

Gambaran tiga dimensi yang dihasilkan CBCT dapat membantu dokter

gigi dalam menentukan diagnosis dengan lebih cepat dan lebih efektif dan

efisien terutama untuk kasus resobsi internal gigi.1

Hasil optimal dari CBCT dapat diperoleh dengan melakukan

rangkaian persiapan sebelum dilakukannya scaning. Rangkaian persiapan

tersebut dirangkum dalam beberapa tahap berikut ;

Persiapan pasien :

9
Pasien diinstruksikan untuk melepaskan semua perhiasan sepeti

anting, kalung, gelang ataupun perhiasan rambut, kacamata, gigi

tiruan ataupun piranti orthodonti.4


Memberikan penjelasan kepada pasien bahwa selama proses scaning

alat akan bergerak mengelilingi pasien dan pasien diinstruksikan

untuk tetap dalam posisi diam.4


Persiapan alat
Untuk mengurangi dosis radiasi, pemilihan FOV diusahakan sekecil

mungkin namun mendapatkan informasi yang operator butuhkan agar

pasien tidak terlalu banyak terpapar radiasi.


Pemilihan FOV yang lebih kecil menghasilkan hasil gambar yang

lebih jelas sehingga diagnosis dapat dilakukan dengan lebih mudah

dan akurat. Rekonstruksi voxel yang optimal harus ditentukan dengan

tepat. Karena semakin besar ukuran voxel maka dosis radiasi semakin

kecil, namun FOV menjadi semakin kecil. Dengan begitu hal ini harus

dipertimbangkan agar dengan gambaran yang kecil dapat memenuhi

kebutuhan diagnosis operator.4


Persiapan Pasien
Posisi pasien pada alat CBCT berbeda pada alat satu dengan yang lain.

Pasien diposisikan pada alat CBCT sesuai dengan panduan yang telah

ditetapkan oleh pabrik agar regio yang diinginkan masuk ke dalam

regio volume silindris.4

10
Gambar 9. Posisi pasien pada alat I-CAT (imaging Scianes International, inc., USA).7

Setelah pasien diposisikan dengan benar, gunakan light beam marker,

chin cup dan head strap untuk menvegah pasien bergerak.4


Untuk rontgen foto cone beam computed tomography (CBCT) pasien

tidak perlu untuk menggunakan apron ataupun pelinding kelenjar

tiroid.4
Dosis radiasi
Tidak seperti alat radiografi konvensional, kebanyakan pada alat

radigrafi CBCT dosis radiasi pada sudah ditetapkan oleh pabrik dan

tidak dapat diatur. Namun, pada alat yang dapat diatur, pengaturan

dosis radiasi berkisar antara 60-120kV dan dapat dioptimalkan

menjadi 1-20mA.4
Lama pemaparan berkisar antara 5 hingga 40 detik, namun alat

cenderung memapar dengan pulse beam dibandingkan dengan

pemaparan secara terus menerus. Dengan demikian pada pemaparan

yang berdurasi 20 detik, dengan pulse beam total waktu pemaparan

radiasi yang dialami pasien hanyalah 3,5 detik.4


Dosis radiasi optimal yang dimiliki oleh tiap alat CBCT berfariasi,

tergantung pada ; faktor-faktor pemaparan seperti kV, mA dan waktu

11
pemaparan, kemudian dipangurihi juga dengan field of view (FOV),

jenis mesin yang digunakan dan bagian dari rahang yang ingin di

potret.4
Dosis radiasi CBCT pada umumnya lebih rendah dibandingkan

dengan rontgen foto konvensional.4

2.1.4 Kelebihan dan Kekurangan Cone Beam Computed Tomography (CBCT)

Kelebihan :
Dapat melihat gambaran anatomis dari gigi dan tulang secara tiga

dimensi dari berbagai macam pandangan bidang ortogonal anatomi.4


Radiasi yang lebih sedikit dibandingkan dengan rontgen foto

konvensional.4
Gambaran yang akurat secara geometris.4
Memiliki resolusi ruang yang baik.4
Waktu pemaparan yang singkat.4
Kekurangan ;
Posisi pasien harus benar benar diam dan tidak bergerak selama proses

pemaparan untuk mendapatkan gambaran radiografis yang baik.4


Jaringan lunak tidak terlihat pada hasil gambaran CBCT.4
Pada gambaran radiografis yang dihasilkan CBCT bahan tambalan

atau bahan pengisi saluran akar yang ada pada gigi dapat

menimbulkan gambaran bias berupa cahaya atau disebut dengan star

artefacts.

12
Gambar 10. Contoh gambaran star artefacts pada hasil Cone Beam Computed Tomography

(CBCT).8

2.1.5 Penilaian Keberhasilan Hasil Foto Cone Beam Computed Tomography

(CBCT)

Menurut Health Protection Agencys Guidline dari Inggris tahun 2010

penilaian keberhasilan hasil foto Cone Beam Computed Tomography

(CBCT) dikelompokan menjadi dua kelas atau grade.4


Pada grade 1 atau disebut dengan diagnostically acceptable dimana

pada grade ini tidak terdapat atau sedikit terjadi kesalahan mulai dari

persiapan pasien, selama proses pemaparan, penempatan atau rekonstruksi

gambar dan mendapatkan hasil gambar yang cukup baik untuk menjawab

pertanyaan operator hingga menegakan diagnosis.4


Pada grade 2 atau disebut dengan diagnostically unacceptable

terdapat banyak kesalahan mulai dari persiapan pasien, selama proses

pemaparan, penempatan atau rekonstruksi gambar yang menyebabkan

hasil gambar yang tidak cukup bagus sehingga informasi yang diharapkan

tidak didapat. 4

2.2 Tinjauan Umum Resorbsi Internal

2.2.1 Pengertian Resorbsi Internal

Resorbsi gigi merupakan proses hilangnya jaringan keras gigi seperti

dentin, sementum dan tulang yang terjadi secara fisiologis ataupun

patologis.3,9 Resorbsi akar gigi pada gigi sulung merupakan hal yang

normal terjadi, namun tidak pada gigi permanen.3 Apabila resorbsi terjadi

13
pada gigi permanen hal ini terjadi secara patologis yang disebabkan oleh

karena adanya reaksi inflamasi.3 Dengan demikian gigi permanen yang

mengalami resorbsi harus segera dirawat, apabila tidak akan

menyebabkan terjadinya kehilangan gigi pada gigi yang terkena.3

Secara umum berdasarkan lokasi terjadinya resorbsi, resorbsi gigi

dikelompokan menjadi dua, yaitu; resorbsi internal dan resorbsi

eksternal.3,9 Resorbsi internal pertama kali dilaporkan sekitar pada tahun

1830.3 Apabila dibandingkan dengan resorbsi eksternal, resorbsi internal

lebih jarang terjadi dan etiologi serta patogenesisnya hingga kini belum

diketahui secara pasti.3 Resorbsi internal seringkali sulit dibedakan oleh

para dokter gigi dengan resorbsi eksterna.3 Penegakan diagnosa yang

tepat sangat diperlukan untuk dapat menentukan rencana perawatan yang

tepat.3

Resorbsi internal merupakan proses inflamasi yang mulanya terjadi di

dalam ruang pulpa kemudia menyebabkan hilangnya jaringan-jaringan

dentin dan mungkin untuk menyebar hingga menyebabkan hilanya

jaringan sementum.9 Patologi dari resobsi internal disebabkan oleh

karena terjadinya transformasi jaringan pulpa normal menjadi jaringan

granulomatosis dengan giant cell yang menyebabkan terjadinya resorbsi

pada dentin.9 Resorbsi berjalan dari tengah gigi kearah lateral.9

Resorbsi internal dikelompokan menjadi dua, yaitu ; resorbsi internal

yang disebabkan oleh karena adanya inflamasi dan resorbsi internal yang

disebabkan oleh adanya penggantian sel-sel.9 Pada resorbsi internal yang

14
disebabkan oleh karena inflamasi terjadi karena terbentuknya jaringan

granulomatosis pada pulpa gigi yang menyebabkan resorbsi pada dentin

yang dekat dengan pulpa dan dapat menyebar hingga ke sementum. 9

Resorbsi internal yang disebabkan oleh karena terjadinya pergantian sel-

sel terjadi akibat adanya aktifitas resorbtif pada dentin disekitar pulpa

dengan diiringi deposisi dari sel-sel yang menyerupai tulang pada

wilayang tersebut yang menyebabkan melebarnya ruang pulpa secara

sebagian atau menyeluruh.9

2.2.2 Etiologi Resorbsi Internal

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Caliskan et al., terdapat dua hal

utama yang dapat memicu terjadinya resorbsi internal yaitu trauma dan

inflamasi atau infeksi pada pulpa. Menurut penelitian yang telah Caliskan

lakukan pada pasien pasien yang di diagnosa dengan resorbsi interna 43%

memiliki riwayat trauma dan resorbsi internal yang diawali oleh adanya

karies sekitar 25%.9

Menurut Nadim Z., terdapat tiga prinsip penyebab utama terjadinya

proses resorbsi pada gigi, yaitu ; adanya jaringan nekrotik, adanya bakteri

dan trauma yang terjadi langsung pada sementum.10 Jaringan nekrotik

dapat terjadi pada jaringan periodontal, sementum, pulpa atau pada

ketiganya.10 Bakteri dapat ditemukan pada permukaan akar dan pada kamar

pulpa.10 Baik jaringan nekrotik dan bakteri, keduanya akan menyebabkan

terjadinya inflamasi, yangmana merupakan faktor pencetus dan penyebab

terjadinya resorbsi.10

15
Resorbsi gigi internal dapat terjadi dikarenakan pada lapisan terluar

yaitu lapisan pelindung odontoblas dan lapisan pradentin yang dekat

dengan saluran akar mengalami kerusakan, dengan begitu menyebabkan

terbukannya lapisan yang berada dibawahnya sehingga menyebabkan sel

sem termineralisasi dan berubah menjadi odontoklas.3

Menurut Cohen, hal hal yang dapat menginisasi terjadinya resorbsi

internal adalah trauma, adanya karies, infeksi pada jaringan periodontal,

panas yang dihantarkan dari bur saat dilakukannya preparasi pada gigi

yang vital, aplikasi bahan calsium hydroxide, reseksi akar pada gigi vital,

anakoresis, perawatan orthodonti dan gigi yang retak atau patah.3

Pada penelitian yang dilakukan pada 25 gigi dengan resorbsi interna,

trauma merupakan faktor predisposisi utama yang ditemukan yaitu

sebanyak 45%.3 Faktor lain yang ditemukan adalah lesi karies yaitu

sebanyak 25% dan lesi karies-periodontal sebanyak 14%.3 Literatur lain

juga mengatakan bahwa trauma dan ifeksi atau inflamasi pada pulpa

merupakan faktor utama yang dapat menyebabkan terjadinya resorbsi

interna. 3

Wedenberg dan Lindskog melaporkan bahwa resorbsi interna dapat

terjadi secara progresif ataupun sementara.3 Seperti yang telah disebutkan

sebelumnya, kerusakan yang terjadi pada lapisan odontoblas dan lapisan

pradentin disekitar saluran akar merupakan hal utama yang memicu

tejadinya resorbsi akar internal.3 Progresifitas resorbsi tergantung pada

stimulus bakteri pada sel klastik yang menyebabkan terjadinya resorbsi

16
pada jaringan keras.3 Tanpa adanya stimulus bakteri yang cukup kuat maka

resorbsi bersifat terbatas atau self-limiting atau sementara.3 Bakteri dapat

masuk ke dalam saluran pulpa melalui tubuli dentin, kavitas karies, garis

retak atau fraktur ataupun dari saluran akar lateral.3 Apabila tidak ada

stimulasi bakteri yang adekuat, proses resorbsi akan terhenti dan tidak

berlanjut ke tahap yang lebih lanjut sehingga dapat di diagnosis dari

gambaran klinis ataupun gambaran radiografis.3

Resorbsi internal yang terjadi pada gigi, apabila dibiarkan tanpa

perawatan maka proses resorbtif akan berlanjut terus hingga menyebabkan

perforasi ke bagian luar dari akar gigi dan menyebabkan timbulnya

penyakit periodontal hingga resorbsi alveolar sudah tidak dapat dilakukan

perawatan lagi sehingga ekstraksi gigi merupakan perawatan yang

direkomendasikan.3, 9

2.2.3 Gambaran Klinis dan Radiografis Resorbsi Internal

Gigi yang mengalami resorbsi internal dapat tetap vital dan hampir

tidak memiliki keluhan, keluhan seperti adanya rasa tidak nyaman atau

sakit akan timbul apabila resorbsi meluas ke jaringan periodontal hingga

menyebabkan infeksi sekunder.9,10

Pada resorbsi internal terbentuk jaringan granulasi secara klinis

bermanifestasi membentuk jaringan berwarna pink atau merah muda yang

akan terlihat bayangannya pada gigi yang resorbsinya sudah parah. 9 Warna

merah muda tersebut disebabkan oleh karena tingginya vaskularisasi pada

jaringan disekitar daerah resorbsi akibat adanya jaringan granulasi.9

17
Namun hal ini jarang terjadi.3 Hal demikian lebih sering terjadi pada kasus

resorbsi eksterna.3 Disaat jaringan pulpa mulai mengalami nekrosis, maka

warna merah muda tersebut akan berubah menjadi warna abu-abu atau

abu-abu gelap.9

Pada fase akut atau aktif dari resorbsi internal biasanya sebagian dari

pulpa adalah vital.3 Dengan begitu pada pemeriksaan tes thermal masih

memiliki respon normal.3 Dengan adanya invasi bakteri pada gigi,

menyebabkan timbulnya respon inflamasi, sehingga gejala yang timbul

menyerupai gejala pulpitis.3 Apabila proses resorbsi telah menyebabkan

nekrosis pulpa, maka pada thermal test akan berhasil negatif dan gejala

yang timbul adalah periodontitis apikalis akut atau kronis.3

Gigi dengan resorbsi akar internal yang masih vital pada umumnya

memiliki respon terhadap pemeriksaan vitalitas pulpa dan periapikal

normal, namun jika ukuran jaringan granulasi bertambah secara signifikan

hingga menyebabkan perforasi dan nekrotik pulpa, maka gejala klinik akan

menyerupai gejala klinis gigi dengan abses.9

Penyebab terjadinya resorbsi interna beragam yang menyebabkan

terjadinya trauma pada gigi dan lapisan odontoblast.11 Bagian dentin yang

terpapar ter-resorbsi oleh lapisan osteoklast dan menyebabkan destruksi

pada bagian dalam ruang pulpa dan mengakibatkan timbulnya gambaran

radiolusen yang menyerupai balon di dalam saluran akar.11

Setelah gigi didiagnosa dengan resorbsi interna maka rencana

perawatan harus segera ditentukan.9 Pengangkatan jaringan pulpa dapat

18
menghentikan proses resorbsi, maka dengan begitu perawatan saluran akar

atau endodontic treatment sangat disarankan untuk dilakukan.9 Sedangkan

prognosis dan fungsi gigi dalam jangka panjang tergantung pada ukuran

lesi.9 Menurut The American Assosiation of Endodontic (AAE) acuan

umum prognosis gigi dengan resorbsi internal diringkas dalam tabel

sebagai berikut :9

Baik Dipertanyakan Tidak Baik


Kerusakan besar
Kerusakan besar
Kerusakan kecil disertai dengan
belum terjadi
hingga medium perforasi ke bagian
perforasi akar
luar akar
Lesi kecil di daerah
- -
apikal atau tengah akar
Tabel 1 : Prognosis gigi dengan resorbsi akar internal menurut The American Assosiation
of Endodontic (AAE).9

Pada kasus resorbsi internal disertai perforasi ke bagian luar gigi

biasanya ditemukan pocket periodontal yang dalam dan ditemukan adanya

kegoyangan gigi.9 Pada kasus ini sudah terjadi kehilangan tulang dan

adanya kerusakan pada jaringan periodontal disekitar gigi, maka dengan

begitu perawatan yang disarankan adalah ekstraksi gigi karena prognosa

dari kondisi tersebut tidak baik.9

Karena pada dasarnya resorbsi interna tidak menimbulkan gejala, maka

diagnosis resorbsi Internal biasanya dapat diketahui pada pemeriksaan

radiografis rutin.9 Resorbsi internal dapat terjadi pada bagian manapun dari

akar gigi, namun daerah yang paling sering terjadi adalah pada daerah

servikal gigi.9

19
Pada gambaran radiografis PA, lesi resorbsi interna terlihat menyerupai

leso resorbsi eksterna.3 Pada lesi resorbsi interna, terdapat gambaran

radiografis yang khas yaitu adanya batas tegas dari ruang pulpa yang

berbentuk oval.3,9 Apabila batas kamar pulpa terdapat di dalam lesi itu

sendiri, maka itu merupakan lesi resorbsi internal. 9 Apabila batas kamar

pulpa jelas dengan dikelilingi garis putih, maka lesi tersebut diduga

resorbsi eksterna.3

Gambar 11. Gambaran radiografis PA resorbsi interna disertai dengan perforasi dinding akar.9
Menurut Gartner et al., gambaran radiogafis resorbsi internal berupa

lesi radiolusen dengan densitas yang homogen dengan outline yang jelas

dan simetris.3 Resorbsi internal dapat terjadi pada bagian manapun dari

akar gigi dengan lesi radiolusen dengan ukuran, radiodensiti, batas dan

simetri yang beragam.3 Bentuk lesi resorbsi internal biasanya mengikuti

bentuk ruang pulpa.3

Resorbsi internal yang disebabkan oleh karena inflamasi pada

umumnya memiliki lesi radiolusen yang rata disekitar kamar pulpa. 3

Sedangkan pada resorbsi interna yang disebabkan oleh karena pergantian

sel-sel (metaplastik), lesi radiolusen tidak beraturan dan buram akibat

adanya deposit sel-sel yang terkalsifikasi.3

20
Pada gigi dengan akar ganda yang mengalami resorbsi interna,

gambaran radiografis PA pada saluran pulpa yang tidak mengalami

resorbsi interna mungkin untuk mengalami superimposed.3 Dengan

demikian dalam kasus ini perlu untuk dilakukan tehnik radiografi parallax

agar gambaran lesi dapat diketahui secara tepat.3 Melalui tehnik radiografi

parallax ini, gambaran lesi dari resorbsi internal tetap pada posisinya yaitu

di dekat saluran akar dan tidak berubah-ubah meskipun sudut pengambilan

gambar berubah.3 Sedangkan pada resorbsi eksternal letak gambaran

radiografis PA akan berubah-ubah seiring perubahan sudut pengambilan

gambar.3 Dengan demikian, tehnik ini merupakan tehik yang paling tepat

untuk membedakan diagnosis resorbsi internal ataupun eksternal dengan

menggunakan gambaran radiografi konvensional periapikal.3 Meskipun

demikian, informasi yang didapatkan dari radiografi PA tetap terbatas.3

Penggunaan tehnik radiografi Cone Beam Computed Tomography

(CBCT) dalam menentukan diagnosis resorbsi internal dan menentukan

rencana perawatan merupakan tehnik yang paling tepat. Pada hasil

gambaran radiografi CBCT didapatkan informasi posisi, ukuran dan

dimensi dari lesi resorbsi, bahkan keterlibatan perforasi dapat diketahui.3

Dengan demikian dapat mengurangi kerancuan antara resorbsi interna dan

resorbsi eksterna serta dapat menentukan rencana perawatan dan prognosis

yang tepat.9

21
2.3 Efektifitas Cone Beam Computed Tomography (CBCT) Untuk

Membantu Diagnosis Resorbsi Akar Internal.

Dalam bidang kedokteran gigi penggunaan radografi konvensional

atau computed tomography (CT) sudah menjadi alat diagnosis utama

karena mampu memberikan informasi mengenai keadaan anatomi

danjaringan tulang. Namun permasalahan yang timbul dalam penggunaan

radiografi konvensional computed tomography (CT) seperti dosis paparan

radiasi yang tinggi, harga yang mahal dan resolusi gambar yang rendah

menyebabkan tehnik ini kurang diminati.3

Cone Beam Computed Tomography (CBCT) atau dikenal juga dengan

digital volume tomography atau cone beam volumetric imaging merupakan

metode radiografi baru yang digunakan secara khusus untuk regio gigi dan

maksilofasial yang dapat membantu dokter gigi dalam menentukan

diagnosa dan mengevaluasi kondisi gigi dan tulang maksilofasial dengan

memberikan gambaran radiografis secara cross sectional tiga dimensi

dengan dosis radias yang lebih sedikit dibandingkan dengan foto rontgen

periapikal (PA).1,4

Cone Beam Computed Tomography (CBCT) merupakan tehnik

radiografi yang memberikan kemajuan besar dalam bidang kedokteran gigi

dengan kemampuannya memberikan informasi gambaran tiga dimensi

(3D) secara cross sectional yang dapat dilihat dari berbagai bidang

ortogonal anatomi dengan dosis paparan yang lebih kecil, waktu

pemaparan yang lebih singkat, sedikit kesalahan dan harga yang lebih

22
murah dibandingkan dengan radografi konvensional atau computed

tomography (CT).2,4

Gambar 12 ; Hasil gambaran CBCT a. Potongan sagital dari gigi caninus dengan resorbsi
internal. b. Potongan axial dari jaringan sekitar gigi caninus tersebut.11

Cone Beam Computed Tomography (CBCT) menggunakan cone-

shaped beam yang tidak digunakan pada alat radiografi konvensional

periapikal sehingga memungkinkan untuk dilakukannya rekonstruksi

gambar menjadi gambaran tiga dimensi.11

Penggunaan tehnik radiografi Cone Beam Computed Tomography

(CBCT) dalam menentukan diagnosis resorbsi internal dan menentukan

rencana perawatan merupakan tehnik yang paling tepat. Pada hasil

gambaran radiografi CBCT didapatkan informasi posisi, ukuran dan

dimensi dari lesi resorbsi, bahkan keterlibatan perforasi dapat diketahui.3

Dibandingkan dengan hasil gambaran dari radiografi konvensional

periapikal, hasil gambaran dari CBCT dapat memberikan informasi

mengeni posisi, ukuran dan dimensi dari lesi resorbsi, bahkan keterlibatan

perforasi dalam satu kali pemaparan.3 Pada penggunaan radiografi

konvensional periapikal untuk mendapatkan informasi tersebut diperlukan

23
beberapa kali pemaparan dengan beberapakali perubahan sudut

pengambilan gambar ataun disebut dengan tehnik Parallax.3

Lesi resorbsi internal merupakan lesi tiga dimensi. Apabila

pemeriksaan secara radiografis menggunakan tehnik radiografi periapikal

dua dimensi, maka informasi yang didapatkan dari hasil gambaran

radiografi akan sangat terbatas menyangkut ukuran lesi dan level ekstensi

dari lesi tersebut.3 Dengan begitu tingkat arurasi diagnosis dipengaruhi

pada superimposisi anatimik, sudut pengambilan gambar dan tahap tahap

lain dari perolehan gambar.3

Gambar 13 : Gambaran lesi resorbsi internal pada bagian tengan mahkota menggunakan PA
radiografi.12

Penggunaan gambaran radiografis tiga dimensi (3D) pada resorbsi

internal sangat membantu dalam menegakan diagnosis karena hasil yang

didapatkan lebih presisi menyangkut jenis lesi baik itu internal ataupun

eksternal, lokasi lesi (servical, mid-root atau apikal), ukuran lesi dan letak

lesi terhadap apikal dan jaringan periodontal yang akan mempengaruhi

pemilihan perawatan.3

Menurut penelitian Ezzodini et al. yang membandingkan tingkat

akurasi antara gambaran yang dihasilkan CBCT dengan PA radiografi

24
dalam mendeteksi fraktur fertikal akar gigi, menyatakan bahwa secara

keseluruhan sensitifitas CBCT jauh lebih tinggi secara signifikan

dibandingkan dengan PA radiografi.2 Dinyatakan juga bahwa banyak bukti-

bukti lain yang menyatakan bahwa efisiensi CBCT dalam mendiagnosis

resorbsi internal.2

Padan penelitian yang dilakukan Zahrasadat Madani menyatakan

bahwa hasil sensitifitas, spesifikasi kemungkinan prediksi positif dan

negatif dari gambaran CBCT jauh lebih tinggi dibandingkan hasil dari PA

radiografi.2 Pada diagnosis resorbsi internal dengan lesi berukuran kecil,

hasil gambaran CBCT memiliki sensitifitas dan akurasi yang jauh lebih

tinggi dibandingkan dengan PA radiografi.2 Sedangkan pada resorbsi

internal dengan lesi berukuran besar gambaran CBCT dan PA radiografi

memiliki sensitifitas dan akurasi yang hampir sama.2

Menurut hasil penelitian Zahrasadat Madani et al. resorbsi interna

yang lesinya terletak pada sepertiga apikal merupakan yang tersulit untuk

di diagnosis, sedangkan lesi yang berlokasi pada sepertiga servikal

memiliki rasio akurasi doagnosis yang lebih tinggi.2 Beliau menyebutkan

juga bahwa semakin besar ukuran lesi resorbsi internal maka semakin

meningkatkan juga kemampuan untuk terdiagnosa secara efektif.2

25
Gambar 12. Gambaran CBCT pada gigi dengan lesi resorbsi internal multipel. 2

Ozen et al. menyatakan bahwa CBCT memiliki tingkat akurasi yang

lebih baik dalam mendeteksi lesi periapikal dibandingkan PA radiografi.

Kamburoglu et al. juga menyatakan akurasi diagnosis dari CBCT dalam

mendiagnosis resorbsi internal sangatlah tinggi.2

Peter et al. menyatahan hasil dari penelitiannya pada pasien dengan

resorbsi internal dan eksternal menyimpulkan bahwa meskipun dengan

gambaran PA radiografis dirasa cukup untuk memperoleh informasi

diagnostik, namun penggunaan CBCT memberikan hasil yang jauh lebih

baik dan dapat meningkatkan ketepatan dan keberhasilan perawatan.2

Pada penelitian serupa yang dilakukan pada kasus resorbsi internal

inflamatori ditinjau menggunakan CBCT dan PA radiografi pada bagian

apikal, tengah, dan servikal dari sisi mesial, distal, lingal, palatal, bukal

dan apikal. Hasilnya dari keseluruhan yang terobservasi menggunakan PA

radiografi didapatkan 68,8%, sedangkan menggunakan CBCT 100%

terobservasi. Sebagai tambahan, ekspansi lesi inflamatori resorbsi interna

26
lebih besar dari 1-4mm yang terobservasi menggunakan CBCT sebanyak

95,8% dan yang terobservasi menggunakan PA radiografi adalah sebanyak

52,1%. Dengan demikian disimpulkan bahwa ekspansi dari resorbsi

internal dapat di diagnosis lebih presisi dengan menggunakan CBCT

bahkan pada fase awal.2

Menurut Trope et al. frekuensi ketepatan rencana perawatan untuk

resorbsi interna didapatkan dari hasil gambaran CBCT jauh lebih tinggi

dibandingkan dari PA radiografi.2 Ahlowalia et al. juga menyatakan

kelebihan lain dari CBCT yaitu hasil gambaran CBCT sangat mendekati

kesamaan dengan kondisi anatomis yang sesungguhnya.2

Pada penelitian yang dilakukan oleh Estrela et al. 48 PA radiografi dan

CBCT dilakukan pada 40 pasien dengan resorbsi internal. Resorbsi

internal terdeteksi sebanyak 68,8% dengan menggunakan PA radiografi

dan terdeteksi 100% dengan menggunakan CBCT.3 Kemampuan radiografi

konvensional mendeteksi lesi berukuran 1-4mm hanya sekitar 52,1%,

sedangkan kemampuan CBCT dalam mendeteksi lesi tersebut adalah

95,8%. 3

Keunggulan dari CBCT dibandingkan PA radiografi dalam

mendiagnosis resorbsi interna yang telah disebutkan diatas, mampu

meningkatkan ketepatan dalam menentukan rencana perawatan. Dengan

demikian mampu meningkatkan keberhasial perawatan yang dilakukan.

Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa secara garis besar CBCT

memiliki kemampuan, efektifitas dan akurasi yang lebih baik dalam

27
mendiagnosis resorbsi internal dibandingkan dengan radiografi

konvensional periapikal.

28
BAB III

KESIMPULAN

Penggunaan gamabran radiografi periapikal (PA) konvensional sudah

menjadi tehnik yang sangat umum digunakan oleh dokter gigi untuk mengetahui

kondisi jaringan keras mulut baik tulang alveolar ataupun gigi untuk

mengevaluasi proses pataologis, trauma ataupun membantu dalam penegakan

diagnosa dan menentukan rencana perawatan.1 Namun beberapa tahun belakangan

telah ditemukan metode baru yaitu cone beam computed tomography (CBCT)

yang dinyatakan lebih efisien dan ekonomis dibandingkan dengan metode

radiografi konvensional.1 Cone beam computed tomography (CBCT) merupakan

metode lain yang dinyatalan lebih mutakhir dalam teknologi pencitraan gigi,

rongga mulut dan maksiolofasial dengan memberikan gambaran tiga dimensi.2

Hingga saat ini gambaran radiografis sangatlah dibutuhkan dalam

kedokteran gigi untuk mengevaluasi kedalaman karies gigi, mengetahui kondisi

akar untuk perawatan endodontik, memperkirakan kondisi lesi periapikal, fraktur

pada akar gigi dan mengetahui resorbsi eksternal dan internal pada gigi.2

Resorbsi pada gigi merupakan kondisi dimana hilangnya jaringan keras

sebagai hasil dari proses hancurnya sel sel. 3 Hal ini dapat terjadi baik sebagai

proses fisiologis ataupun patologis.3 Secara garis besar, berdasarkan letak

terjadinya resorbsi akar, resorbsi akar dikelompokan menjadi dua yaitu ; resorbsi

akar internal dan resorbsi akar eksternal.3 Apabila dibandingkan dengan resorbsi

29
akar eksternal, resorbsi akar internal lebih jarang terjadi. 3 Etiologi dan patogenesis

dari resorbsi akar internal hingga kini belum diketahui secara keseluruhan.3

Resorbsi internal merupakan suatu kerusakan progresif yang terjadi pada

dentinintrakanal yang terjadi akibat adanya inflamasi atau infeksi pada saluran

akar atau terjadi trauma pada gigi tersebut.2 Resorbsi internal biasanya terjadi

pada regio servical, namun dapat terjadi pada bagian manapun dari gigi. 2

Meskipun jarang terjadi, penatalaksanaan dari resorbsi internal membutuhkan

pendekatan yang berbeda dibandingkan pada resorbsi eksterna.2 Pada gambaran

radiografis resorbsi interna seringkasi disamakan dengan resorbsi eksterna. 2

Dengan demikian dibutuhkan gambaran radiografis yang baik dan detail agar

dapat dilakukan perawatan yang tepat.

Dalam bidang kedokteran gigi penggunaan radografi konvensional atau

computed tomography (CT) sudah menjadi alat diagnosis utama karena mampu

memberikan informasi mengenai keadaan anatomi danjaringan tulang. Namun

permasalahan yang timbul dalam penggunaan radiografi konvensional computed

tomography (CT) seperti dosis paparan radiasi yang tinggi, harga yang mahal dan

resolusi gambar yang rendah menyebabkan tehnik ini kurang diminati.3

Cone Beam Computed Tomography (CBCT) atau dikenal juga dengan

digital volume tomography atau cone beam volumetric imaging merupakan

metode radiografi baru yang digunakan secara khusus untuk regio gigi dan

maksilofasial yang dapat membantu dokter gigi dalam menentukan diagnosa dan

mengevaluasi kondisi gigi dan tulang maksilofasial dengan memberikan

30
gambaran radiografis secara cross sectional tiga dimensi dengan dosis radias yang

lebih sedikit dibandingkan dengan foto rontgen periapikal (PA).1,4

Cone Beam Computed Tomography (CBCT) merupakan tehnik radiografi

yang memberikan kemajuan besar dalam bidang kedokteran gigi dengan

kemampuannya memberikan informasi gambaran tiga dimensi (3D) secara cross

sectional yang dapat dilihat dari berbagai bidang ortogonal anatomi dengan dosis

paparan yang lebih kecil, waktu pemaparan yang lebih singkat, sedikit kesalahan

dan harga yang lebih murah dibandingkan dengan radografi konvensional atau

computed tomography (CT).2,4

Penggunaan tehnik radiografi Cone Beam Computed Tomography (CBCT)

dalam menentukan diagnosis resorbsi internal dan menentukan rencana perawatan

merupakan tehnik yang paling tepat. Pada hasil gambaran radiografi CBCT

didapatkan informasi posisi, ukuran dan dimensi dari lesi resorbsi, bahkan

keterlibatan perforasi dapat diketahui.3

Dibandingkan dengan hasil gambaran dari radiografi konvensional

periapikal, hasil gambaran dari CBCT dapat memberikan informasi mengeni

posisi, ukuran dan dimensi dari lesi resorbsi, bahkan keterlibatan perforasi dalam

satu kali pemaparan.3 Pada penggunaan radiografi konvensional periapikal untuk

mendapatkan informasi tersebut diperlukan beberapa kali pemaparan dengan

beberapakali perubahan sudut pengambilan gambar ataun disebut dengan tehnik

Parallax.3

Penggunaan gambaran radiografis tiga dimensi (3D) pada resorbsi internal

sangat membantu dalam menegakan diagnosis karena hasil yang didapatkan lebih

31
presisi menyangkut jenis lesi baik itu internal ataupun eksternal, lokasi lesi

(servical, mid-root atau apikal), ukuran lesi dan letak lesi terhadap apikal dan

jaringan periodontal yang akan mempengaruhi pemilihan perawatan.3

Menurut penelitian Ezzodini et al. yang membandingkan tingkat akurasi

antara gambaran yang dihasilkan CBCT dengan PA radiografi dalam mendeteksi

fraktur fertikal akar gigi, menyatakan bahwa secara keseluruhan sensitifitas CBCT

jauh lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan PA radiografi.2

Dinyatakan juga bahwa banyak bukti-bukti lain yang menyatakan bahwa efisiensi

CBCT dalam mendiagnosis resorbsi internal.2

Peter et al. menyatahan hasil dari penelitiannya pada pasien dengan resorbsi

internal dan eksternal menyimpulkan bahwa meskipun dengan gambaran PA

radiografis dirasa cukup untuk memperoleh informasi diagnostik, namun

penggunaan CBCT memberikan hasil yang jauh lebih baik dan dapat

meningkatkan ketepatan dan keberhasilan perawatan.2

Pada penelitian serupa yang dilakukan pada kasus resorbsi internal

inflamatori ditinjau menggunakan CBCT dan PA radiografi pada bagian apikal,

tengah, dan servikal dari sisi mesial, distal, lingal, palatal, bukal dan apikal.

Hasilnya dari keseluruhan yang terobservasi menggunakan PA radiografi

didapatkan 68,8%, sedangkan menggunakan CBCT 100% terobservasi. Sebagai

tambahan, ekspansi lesi inflamatori resorbsi interna lebih besar dari 1-4mm yang

terobservasi menggunakan CBCT sebanyak 95,8% dan yang terobservasi

menggunakan PA radiografi adalah sebanyak 52,1%. Dengan demikian

32
disimpulkan bahwa ekspansi dari resorbsi internal dapat di diagnosis lebih presisi

dengan menggunakan CBCT bahkan pada fase awal.2

Keunggulan dari CBCT dibandingkan PA radiografi dalam mendiagnosis

resorbsi interna yang telah disebutkan diatas, mampu meningkatkan ketepatan

dalam menentukan rencana perawatan. Dengan demikian mampu meningkatkan

keberhasial perawatan yang dilakukan. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa

secara garis besar CBCT memiliki kemampuan, efektifitas dan akurasi yang lebih

baik dalam mendiagnosis resorbsi internal dibandingkan dengan radiografi

konvensional periapikal.

33
DAFTAR PUSTAKA

1. Stuart C. White, DDS, PhD. Oral Radiology. Principles and Interpretation.

Fifth Edition. 2014. Missouri : Mosby Elsevier.

2. Zahrasadat Madani. Diagnostic Accuracy of Cone-Beam Computed

Tomography and Periapical Radiography in Internal Root Resorbtion. Irian

Endodontic Journal. May 2015.

3. Cohen S, Hargreaves KM. Pathaway Of The Pulp : Eleventh Edition. 2011.


Missouri : Mosby Elsevier.

4. Eric Whaites, Nicolas Drage. Essentials of Dental Radiography and

Radiology. Fifth Edition. 2013. Churchill Livingstone. Elsivier.


5. Morita Corporation. Tecnical Report Cone Beam Compurted Tomography.

News and Event 8 Agustus 2016. Diakses melalui :

http://www.jmoritaeurope.de/west-asia/en/news-events/latest-

news/technical-report-cone-beam-computed-tomography/18611/
6. RX Digital Dental. PaX-Reve-3D. Product Detail. 27 Februari 2017.

Diakses melalui :
http://www.rxdigitalschick.com/productos/panoramicos/paxreve3d.html#page
7. Creater Montreal Maxillofacial 3D. Patiance Corner. 1823 Sherbrooke

East, Montreal, suite 105, H2K 1B4. 27 Februari 2017. Diakses Melalui :
http://www.maxillofacial3dmontreal.com/patient-cbct-faq_eng.php
8. Quizlet. ChomperZ. RADD : Advanced Imaging in Dentistry Flashcards.

Februari 2017. Diakses melalui : https://quizlet.com/22476047/radd-

advanced-imaging-in-dentistry-flash-cards/
9. Stacey L. Simmons, DDS. Internal Resorption : A Brief Review and Cae

Report. 15 September 2014.


10. Nadim Z. Baba, DMD., MSD. Contemporary Restoration of

Endodontically Treared Teeth. Evidance-Based Diagnosis and Treatment

Planning. 2013. Quintessence Publishing Co, Inc. Chicago.

34
11. A. Maini., P Duning., D. Drage. Resorption : with or without? The benefit

of Cone-Beam Computed Tomography when Diagnosing a case of an

Internal / External Resorption Defect. 3 Januari 2008. British Dental

Journal 2008 ; 204 : 135-137.


12. Karla de Faria. Diagnosis of Incisive Cervical Resorption by Using Cone-

Beam Computed Tomography : Report of Two Case. Department of oral

Diagnosis, Division of oral radiology, Piracicaba Dental School,

University of Campinas, Piracicaba, SP, Brazil. Braz Dent J (2012) 23(5) :

602-607.

35