Anda di halaman 1dari 10

Perbandingan Hukum Pidana Indonesia dengan Korea

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagai akibat dari perkembangan teknologi maupun peradaban masyarakat bangsa di
dunia, rasanya dunia ini semakin sempit, jarak-jarak semakin dekat, hubungan komunikasi
semakin cepat, sehingga tidak satu pun Negara di dunia dapat mengucilkan diri atau
dikucilkan dari pergaulan dunia.
Kelanjutannya ialah masyarakat bangsa atau Negara yang satu cenderung
memperbandingkan dirinya terhadap yang lain, baik sebagai perwujudan dari nalurinya untuk
menyatakan kelebihannya setidak-tidaknya dalam suatu bidang, atau untuk memelihara
keseimbangan, baik dalam arti memelihara keseimbangan, maupun dalam arti memelihara
saling pengertian atau saling meghormati. Selain daripada itu, dengan cara atau usaha
memperbandingkan sesuatu itu diharapkan dapat meningkatkan diri sendiri dengan
mengambil nilai-nilai yang maju dan mengemuka dari dunia luar tanpa menghancurkan
kepribadian sendiri.
Dalam ilmu hukum pidana lazim dikenal tiga sistem hukum pidana di dunia yang paling
mengemuka, yaitu 1. Sistem Eropa Kontinental, 2. Sistem Anglo Saxon dan 3. Sistem
Negara-negara sosial.
Dalam makalah ini, penyusun membandingkan antara sistem hukum Indonesia dengan
sistem hukum Korea yang sama-sama menganut sistem hukum Eropa Kontinental.
Manfaat memperbandingkan hukum pidana kita dengan hukum pidana dari Negara lain
antara lain dapat menambah pemahaman kita mengenai kelebihan dan kelemahan dari dari
hukum pidana kita, sebagaimana yang kita ketahui bahwa hukum pidana yang berlaku
dewasa ini adalah warisan dari penjajahan Belanda dan resminya berbahasa Belanda Belanda.
Sekalipun sudah ditambal-sulam di sana-sini, namun masih perlu pembaharuan.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalahnya antara lain sebagai berikut;
1. Bagaimana kodifikasi dan sistematika hukum pidana Korea?
2. Bagaimana perbandingan Hukum Pidana Indonesia dengan Hukum Pidana Korea dalam hal
penyertaan, perbarengan dan pengulangan, hapusnya hak penuntutan dan hapusnya hak
pelaksanaan pidana, kesalahan, bersifat melawan hukum, dan sebab-akibat?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kodifikasi dan Sistematika Hukum Pidana Korea
Hukum pidana Korea sudah dikodifikasikan sebagaimana terdapat dalam Kitab Undang-
undang Hukum Pidana Korea (Criminal Code of The Republic of Korea yang selanjutnya
disebut CC saja) yang diundangkan berdasarkan Undang-Undang No. 239 tanggal 18
September 1953. Hukum Pidana Indonesia dikodifikasikan dalam KUHP (Undang-undang
No. 1 Tahun 1946 jo. Undang-undang No. 73 Tahun 1958).
Sistematika Hukum Pidana (KUHP) Indonesia berbeda dengan sistematika CC Korea.
Sistematika KUHP terdiri dari tiga buku, yaitu:
Buku I yang memuat Ketentuan Umum
Buku II yang memuat Kejahatan
Buku III yang memuat Pelanggaran
Sedangkan CC terdiri dari dua buku saja, yaitu:
Buku pertama : Ketentuan-ketentuan Umum
Buku Kedua : Ketentuan-ketentuan Khusus yang memuat tindak pidana
Jika diperbandingkan sistematika KUHP dengan CC, maka perbedaan yang sangat mencolok
yang dapat dilihat dalam hal ini adalah bahwa CC tidak membedakan antara Kejahatan
dengan Pelanggaran, sedangkan KUHP masih membedakannya. Kejahatan dan Pelanggaran
dalam CC disatukan dalam satu buku, dalam hal ini buku kedua yang memuat tindak pidana.
Selanjutnya, berbeda dengan Buku I KUHP yang dibagi dalam IX BAB + Aturan Penutup,
maka Buku I CC dibagi dalam empat BAB saja yang terdiri dari:
BAB I. Batas berlakunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
BAB II. Tindak Pidana (Crime)
BAB III. Pidana (Punishment)
BAB IV. Penghitungan waktu.
B. Perbandingan Hukum Pidana Indonesia dengan Korea
B.1. Perbandingan Hukum Pidana Indonesia dengan Korea dalam hal Penyertaan
a. Bentuk penyertaan
Bentuk penyertaan yang dikenal dalam Ketentuan Umum CC ialah:
1. Pelaku peserta (Co-principlas), yaitu dua orang atau lebih bersama-sama melakukan suatu
tindak pidana (Pasal 30).
2. Penghasut (Instigator), yaitu seseorang yang menghasut orang lain untuk melakukan suatu
tindak pidana (Pasal 31).
3. Pembantu (Accessories), yaitu mereka yang membantu atau memberi bantuan kepada kepada
orang lain yang melakukan suatu tindak pidana (pasal 32)
4. Penghasut yang gagal (pasal 30 ayat 3)
Untuk tersebut a.1) di atas dapatlah diperbanding-samakan dengan bersama-sama
melakukan atau turut serta melakukan ala KUHP, tersebut a.2) dengan penggerakan kendati
alat atau cara menggerakkan itu dalam CC tidak diatur; tersebut a.3) dengan pembantuan
pasal 56 KUHP; dan a.4) dengan yang ditentukan pada pasal 163 bis KUHP.
Yang paling menarik di sini ialah:
a) Tidak ditentukannya secara definitif caranya menggerakkan (menghasut) atau membantu
sebagaimana diatur dalam KUHP. Rupanya hal ini cukup dipercayakan kepada tafsir atau
kemampuan hakim saja.
b) Diaturnya penghasutan yang gagal dalam ketentuan umum, yang berarti berlaku pada
umumnya bagi setiap tindak pidana.
b. Ancaman Pidana
Ancaman pidana bagi pelaku peserta ditentukan sama dengan pelaku-utamanya; bagi
penghasut dipandang sebaagi pelaku yang sebenarnya, yang dengan demikian
pertanggungjawaban pidana dari penghasut tergantung pada pelaku yang dihasut; bagi
penghasutan yang gagal baik bagi penghasut maupun yang dihasut dipandang sebagai
permufakatan jahat atau perencana-perencana untuk melakukan tindak pidana tersebut;
bagi pembantu ancaman pidananya dapat dikurangi; sedangkan bagi penghasut yang
memperalat orang lain yang tidak bersalah atau yang alpa dipersamakan dengan ancaman
pidana bagi penghasut.
Selanjutnya ditentukan pula bahwa jika seseorang peserta tidak memenuhi status dari
unsur subyek, maka iapun diancam dengan pidana yang sama, kecuali ditentukan lain oleh
perundangan yang bersangkutan.
B.2. Perbandingan Hukum Pidana Indonesia dengan Korea dalam hal Pebarengan dan Pengulangan
a. Tempat
Menurut sistematika KUHP perbarengan diatur dalam Bab VI Buku I (Ketentuan Umum),
sedangkan pengulangan ada yang diatur dalam Buku II (pasal 486 sampai dengan 488) dan
ada pula yang diatur pada tindak pidana yang bersangkutan.
Menurut sistematika CC perbarengan diatur dalam Buku I Bagian II seksi V (perbarengan
tindak pidana) pasal 37 sampai dengan 40. Selain daripada itu ada juga yang diatur tersendiri
dalam Pasal 19. Pengulangan diatur dalam Buku I Bagian II seksi IV (pengulangan tindak
pidana) pasal 35 sampai dengan 36.
Dari fakta ini dapat disimpulkan bahwa:
1) Perbarengan baik menurut KUHP maupun CC merupakan ketentuan umum.
2) Pengulangan menurut CC merupakan ketentuan umum, sedangkan menurut KUHP
merupakan Ketentuan Khusus.
b. Bentuk perbarengan
Baik bangunan perbarengan-tindakan, maupun perbarengan-ancaman-pidana sama-sama
dianut oleh KUHP dan CC.
Perbarengan tindakan yang berupa:
1) Perbarengan tindakan tunggal (concursus idealis)
2) Perbarengan tindakan jamak (concursus realis)
3) Perbarengan berupa tindakan berlanjut.
Berturut-turut tercantum dalam Pasal 40, 37, dan 19 CC perbarengan ancaman pidana sebagai
kelanjutan dari adanya perbarengan tindak-pidana diatur dengan suatu system atau stelsel
untuk penerapannya.
Sistem yang digunakan oleh KUHP dan CC tersebut ialah:
a) Sistem penyerapan (sistem absorsi)
b) Sistem penjumlahan (sistem kumulasi)
c) Sistem antara
Hanya bervariasi caranya sehubungan dengan perbedaan jenis/macam ancaman pidana yang
dugunakan oleh KUHP dan CC
c. Delik tertinggal
Yang diatur dalam Pasal 71 KUHP mengenai delik tertinggal dianut pula dalam CC
sebagaimana dicantumkan dalam Pasal 39 ayat (1). Dengan demikian kedua-duanya sama-
sama memperhitungkan pidana yang sudah dijatuhkan kepada tindak pidana yang tertinggal
yang akan diadili, seolah-olah perkara tersebut bersamaan diadili.
d. Jenis-jenis pengulangan
Secara umum ada dua jenis pengulangan yang dikenal dalam hukum pidana yaitu:
1. Pengulangan umum (tidak dipersoalkan jenis/macam tindak pidana yang diulangi)
2. Pengulangan khusus (tindak pidana yang diulangi itu sejenis atau sama).
Dari kedua jenis pengulangan tersebut yang dianut KUHP adalah jenis yang kedua
(pengulangan khusus), karena dalam Pasal 486 sampai dengan 488 dikelompokkan jenis-jenis
tindak pidana yang dipandang sejenis yang dimasukkan dalam kategori pengulangan apabila
dilakukan dalam tenggang waktu lima (5) tahun. Yang dianut oleh CC adalah pengulangan
umum, karena diatur dalam ketentuan umum dan tidak dipersoalkan tentang tindak pidana
yang terjadi apakah sejenis atau tidak (Pasal 35 ayat 1).
e. Jangka waktu pengulangan (residive)
Jangka waktu pengulangan yang dicantumkan dalam KUHP tidak seragam. Ada yang lima
tahun (pasal 486 sampai dengan 488, pasal 155, 157 dan sebagainya), dua tahun (Pasal 137,
144, dan lain-lain), ada pula yang hanya satu tahun (pasal 489, 492, 495, 536, 544 dan lain-
lain).
Jangka waktu pengulangan menurut CC adalah 3 tahun untuk semua tindak pidana, tanpa
membeda-bedakan yang satu dengan yang lain.
f. Ketentuan pidana pengulangan
Dalam KUHP pada umumnya pemidanaan pengulangan adalah pidana pokok ditambah
sepertiga, akan tetapi dalam pasal-pasal tertentu bukan pidana pokok yang ditambah
melainkan dapatnya pidana tambahan tertentu dijatuhkan.
Dalam CC, pidananya didua-kalikan.
Rupanya di Korea, masalah residive ini dipandang lebih membahayakan kepentingan umum
ketimbang concursus. Hal ini dapat diterima akal, karena seseorang itu sudah pernah dipidana
karena tindak pidana yang sejenis tetapi tidak jera. Tentunya dalam hal ini harus pula
diperhitungkan masalah sosial ekonomi dan masalah-masalah politik.
B.3. Perbandingan Hukum Pidana Indonesia dengan Korea dalam hal Hapusnya Hak Penuntutan
dan Hapusnya Hak Pelaksanaan Pidana
a. Hapusnya hak penuntutan
Menurut Buku I KUHP, hak penuntutan hapus apabila terjadi:
1) Nebis in idem (Pasal 76)
2) Tersangka/terdakwa meninggal (Pasal 77)
3) Daluwarsa (Pasal 78)
4) Penyelesaian di luar sidang (Pasal 82)
Dari keempat ketentuan tersebut, tidak ada yang diatur secara tegas dalam CC Yang dikenal
(disinggung) adalah amnesti, yang dapat disimpulkan dari Pasal 39 (3) CC yang berbunyi:
Jika seorang yang telah dipidanan untuk perbarengan tindak pidana menerima Amnesti
atau remisi untuk pelaksanaan pidana itu, maka pidana bagi tindak pidana yang tersisa dapat
ditentukan secara de novo. Dengan perkataan lain, hapusnya hak penuntutan tidak diatur
dalam CC
b. Hapusnya hak pelaksanaan pidana
Hapusnya hak pelaksanaan pidana menurut KUHP dapat ditemukan dalam Pasal 83 sampai
dengan Pasal 85, antara lain:
1. Terpidana meninggal (Pasal 83)
2. Daluwarsa (Pasal 84)
Yang menghapuskan pelaksanaan pidana menurut ketentuan umum CC:
1. Daluwarsa (Pasal 77 sampai dengan Pasal 80)
2. Pembatalan putusan (Pasal 81)
3. Pemulihan hak-hak (Pasal 82).
Perbandingan mengenai ketentuan-ketentuan yang menghapuskan pelaksanaan pidana antara
KUHP dan CC dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Meninggalnya terpidana rupanya tidak dipandang perlu diaur dalam CC (kemungkinan hal itu
dapat dipandang sudah dengan sendirinya).
2. Pembatalan putusan tidak dianut oleh KUHP, sedangkan dalam CC dikatakan bahwa: Bagi
seseorang yang dipidana skorsing atas hak-hak tertentu atau pidana yang lebih berat, jika
telah menjalani 7 tahun, atau setelah memberi ganti rugi pada korban atas kerusakan-
kerusakan yang dideritanya; tanpa dijatuhi lagi pidana penskorsan atau yang lebih berat,
maka dia dapat mengajukan pembatalan putusan secara langsung atau lewat penuntut umum.
3. Pemulihan hak-hak juga tidak dianut oleh KUHP, sedangkan dalam Pasal 82 CC dikatakan
bahwa: Dalam hal separuh dari masa percobaan pidana telah dilewati, seseorang yang telah
dipidana skorsing atas hak-hak tertentu tanpa pidana skorsing lebih lanjut atau pidana yang
lebih berat, setelah memberikan ganti rugi pada si korban atas kerusakan-kerusakan yang
dideritanya, pemulihan hak-haknya dapat diberikan atas permohonannya sendiri, atau lewat
penuntut umum.
c. Kedaluarsaan hak perjalanan pidana
Hak menjalankan pidana dapat daluarsa. Masa (tenggang/periode) kedaluarsaan itu dalam
Pasal 85 KUHP pada dasarnya ditentukan berdasarkan berat/ringannya pidana yang
diancamkan dikombinasikan dengan jenis tindak pidana yang dilakukan. Masa daluarsa
tersebut diatur sebagai berikut:
Untuk semua pelanggaran, setelah 2 tahun.
Untuk kejahatan yang dilakukan dengan alat pencetak, setelah 5 tahun
Untuk kejahatan yang diancam dengan denda, pidana kurungan, atau pidana penjara paling
lama 3 tahun, setelah 8 tahun.
Untuk tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara lebih dari 3 tahun, setelah 16 tahun.
Namun, bagi mereka yang dijatuhi:
Pidana penjara lebih dari 16 tahun, setelah minimal sama dengan yang diputuskan/dijatuhkan
itu.
Pidana penjara seumur hidup, sah setelah habis hidupnya.
Pidana mati, tidak mungkin daluarsa.
Dalam hal pidana penjara seumur hidup dan pidana mati, hanya mungkin jka pidana tersebut
berubah atau diampuni sebelum habis hidupnya atau sebelum ditembak mati.
Masa daluarsa yang diatur dalam pasal 77 CC, ternyata tidak didasarkan kepada
berat/ringannya pidana yang diancamkan, melainkan kepada berat/ringannya pidana yang
diputuskan/dijatuhkan sebagai berikut:
1) Untuk pidana mati, setelah 30 tahun.
2) Untuk pidana penjara/kurungan seumur hidup, setelah 20 tahun.
3) Untuk pidana penjara/kurungan yang tidak kurang dari 10 tahun, setelah 15 tahun.
4) Untuk pidana penjara/kurungan yang tidak kurang dari 30 tahun, atau untuk pidana
penskorsan dari hak-hak tertentu yang tidak kurang dari 5 tahun, setelah 10 tahun.
5) Untuk pidana penjara atau kurungan yang kurang dari 3 tahun atau untuk pidana penskorsan
dari hak-hak tertentu yang kurang dari 5 tahun, setelah 5 tahun.
6) Untuk pidana penskorsan hak-hak tertentu yang kurang dari 5 tahun, denda penyitaan atau
pemungutan dari pengadilan, setelah 3 tahun.
7) Untuk penahanan atau pidana denda ringan, setelah 1 tahun.
Perbedaan yang mengemuka dari kedua ketentuan tesebut, ialah bahwa KUHP mendasarkan
periodisasi/tenggang waktu/masa daluarsa itu pada berat/ringannya pidana yang diancam dan
dijatuhkan, sedangkan CC mendasarkan periodisasi tersebut kepada berat/ringannya pidana
yang diputuskan/dijatuhkan.
B.3. Perbandingan Hukum Pidana Indonesia dengan Korea dalam hal Kesalahan, Bersifat Melawan
Hukum, dan Sebab-Akibat
Dalam rangka mempelajari KUHP, khususnya mengenai kesalahan, bersifat melawan hukum,
dan sebab-akibat, kita pelajari dalam ilmu pengetahuan hukum pidana. Dalam pasal-pasal
tindak pidana, ditemukan istilah-istilah kesengajaan atau culpa/alpa (sebagai perincian
kesalahan), bertentangan dengan hukum, bertentangan dengan hak orang lain, bertentangan
dengan kepatutan/kebiasaan (sebagai perincian dari bersifat melawan hukum), serta istilah-
istilah sebab dan akibat apabila tindak pidana tersebut merupakan tindak pidana material
atau sebab dan akibat itu dikaitkan sebagai syarat pemidanaan, namun tidak dijelaskan apa
artinya dan apa fungsinya dalam suatu tindak pidana. Justru ilmu pengetahuan hukum
pidanalah yang menunjukkan fungsi tersebut, yaitu bagi kesalahan dan bersifat melawan
hukum, masing-masing merupakan unsur, yang jika tidak hadir, maka tidak telah terjadi suatu
tindakan yang dapat dipidana alias tindak pidana. Fungsi sebab-akibat dalam suatu hal
merupakan syarat pemidanaan, di lain hal sebagai pembentuk unsur kesengajaan, serta dalam
hal-hal tertentu menunjukkan hubungan antara sesama bagian-bagian dari tindakan itu
sendiri, menunjukkan hubungan antara kesalahan dengan tindakan serta hubungan bersifat
melawan hukum dengan tindakan yang bersangkutan.
Pada prinsipnya, hal yang sama juga kita temukan dalam mempelajari CC, yaitu dalam
perumusan pasal-pasal di Ketentuan Umum tidak secara tegas dipisahkan pengaturannya
mengenai:
Tiadanya kesalahan/ditiadakannya kesalahan sebagai dasar peniadaan pidana.
Tiadanya bersifat melawan hukum atau ditiadakannya bersifat melawan hukum sebagai alasan
peniadaan pidana.
Namun, CC dalam beberapa bidang sudah lebih maju karena beberapa materi yang kita
pelajari melalui ilmu pengetahuan hukum pidana, sudah tercantum dalam CC, yaitu antara
lain ketentuan tentang anak di bawah umur 14 tahun (Pasal 9), tentang kehendak jahat (Pasal
13), tentang kealpaan (Pasal 14), tentang kekeliruan fakta (Pasal 15), tentang kekeliruan
hukum (Pasal 16), dan tentang praktek kegiatan dagang (Pasal 20).
Demikian juga merupakan suatu kemajuan dengan menegaskan bahwa suatu akibat yang
terjadi harus ada hubungannya dengan penyebabnya (Pasal 17) dan tentunya dikaitkan pula
dengan kejiwaan si pelaku. Dibandingkan dengan ajaran Pompe, maka suatu kejadian
harus selalu dapat dikaitkan dengan kejiwaan seseorang, yaitu dilakukan dengan kehendak
atau kealpaan.
BAB III
KESIMPULAN
Perbedaan yang sangat mencolok yang dapat dilihat antara sistematika KUHP dengan CC
adalah bahwa CC tidak membedakan antara Kejahatan dengan Pelanggaran, sedangkan
KUHP masih membedakannya. Kejahatan dan Pelanggaran dalam CC disatukan dalam satu
buku, dalam hal ini buku kedua yang memuat tindak pidana.
Beberapa perbandingan antara KUHP Indonesia dengan CC,dalam hal;
1. Penyertaan
Dalam CC bentuk penyertaannya antara lain:
Pelaku peserta (Co-principlas), yaitu dua orang atau lebih bersama-sama melakukan suatu
tindak pidana (Pasal 30).
Penghasut (Instigator), yaitu seseorang yang menghasut orang lain untuk melakukan suatu
tindak pidana (Pasal 31).
Pembantu (Accessories), yaitu mereka yang membantu atau memberi bantuan kepada kepada
orang lain yang melakukan suatu tindak pidana (pasal 32)
Penghasut yang gagal (pasal 30 ayat 3)
2. Perbarengan dan Pengulangan
Perbarengan baik menurut KUHP maupun CC sama-sama merupakan ketentuan umum.
Pengulangan menurut CC merupakan ketentuan umum, sedangkan menurut KUHP merupakan
Ketentuan Khusus. Di Korea, masalah residive ini dipandang lebih membahayakan
kepentingan umum ketimbang concursus. Hal ini dapat diterima akal, karena seseorang itu
sudah pernah dipidana karena tindak pidana yang sejenis tetapi tidak jera. Tentunya dalam hal
ini harus pula diperhitungkan masalah sosial ekonomi dan masalah-masalah politik.
3. Hapusnya hak penuntutan
Hapusnya hak penuntutan tidak diatur dalam CC.
Hapusnya hak pelaksanaan pidana menurut KUHP dapat ditemukan dalam Pasal 83 sampai
dengan Pasal 85, antara lain:
a. Terpidana meninggal (Pasal 83)
b. Daluwarsa (Pasal 84)
Yang menghapuskan pelaksanaan pidana menurut ketentuan umum CC:
a. Daluwarsa (Pasal 77 sampai dengan Pasal 80)
b. Pembatalan putusan (Pasal 81)
c. Pemulihan hak-hak (Pasal 82).
4. Kesalahan, Bersifat Melawan Hukum, dan Sebab-Akibat
CC dalam perumusan pasal-pasal di Ketentuan Umummya tidak secara tegas dipisahkan
pengaturannya mengenai:
Tiadanya kesalahan/ditiadakannya kesalahan sebagai dasar peniadaan pidana.
Tiadanya bersifat melawan hukum atau ditiadakannya bersifat melawan hukum sebagai alasan
peniadaan pidana.
Namun, CC dalam beberapa bidang sudah lebih maju karena beberapa materi yang kita
pelajari melalui ilmu pengetahuan hukum pidana, sudah tercantum dalam CC, yaitu antara
lain ketentuan tentang anak di bawah umur 14 tahun (Pasal 9), tentang kehendak jahat (Pasal
13), tentang kealpaan (Pasal 14), tentang kekeliruan fakta (Pasal 15), tentang kekeliruan
hukum (Pasal 16), dan tentang praktek kegiatan dagang (Pasal 20).