Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Desa sebagai pemerintahan yang langsung bersentuhan dengan
masyarakat menjadi fokus utama dalam pembangunan pemerintah, hal ini
dikarenakan sebagian besar wilayah Indonesia ada di perdesaan. Adanya
tuntutan akuntabilitas dan transparansi atas pencatatan transaksi-transaksi, dan
pelaporan kinerja pemerintahan oleh pihak-pihak yang berkepentingan
menjadikan akuntansi pemerintahan sebuah kebutuhan yang tidak lagi
terelakkan saat ini. Isu-isu tentang otonomi daerah, khususnya desa dan
peranturan yang melingkupinya, merupakan isu yang menarik untuk diteliti
(Utomo dan Wahyudi 2008). Dalam sejarah desa atau yang disebut dengan
nama lain bahwa desa telah ada sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI) terbentuk sampai dengan sekarang ini (UU 6/2014). Chamber (1987)
dalam Eko (2014) menjelasakan bahwa negara berdiri mengikuti
perkembangan desa atau tut wuri handayani. Sebelum negara monarki atau
sekarang bergeser menjadi negara kesatuan yang mengintegrasikan berbagai
wilayah itu ada, desa sudah ada lebih dulu. Oleh sebab itu, desa sudah sejak
lahirnya merupakan wilayah yang bersifat otonomi dan selalu akan dinamis
(Susetiawan, 2011).
Dalam undang-undang nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah menyatakan bahwa Otonomi Daerah adalah hak, wewenang, dan
kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan
pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan
perundang-undangan. Daerah otonom, selanjutnya disebut daerah, adalah
kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang
berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan
masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi
masyarakat dalam system Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sejarah
panjang pengaturan tentang desa yang telah dimulai sejak tahun 1948, yang
momentumnya pada era reformasi dan puncaknya pada tahun 2014 (Hoesada,

1
2014), tidak lain dalam rangka untuk mencari bentuk dan format ideal yang
bisa menempatkan posisi desa sebagai suatu daerah yang memiliki sifat
istimewa, heterogen, kejelasan status serta kepastian hukumnya dalam sistem
ketatanegaraan Republik Indonesia (Faozi 2015). Regulasi atas pengelolaan
desa mulai Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Pokok
Pemerintahan Daerah, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 tentang Pokok-
Pokok Pemerintahan Daerah, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1965 tentang
Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1965
tentang Desa Praja, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang
Pemerintahan Desa, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah, dan terakhir dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah (Penjelasan UU 6/2014). Akuntansi
pemerintahan juga harus memungkinkan terselenggaranya pemeriksaan oleh
aparat pengawasan fungsional secara efektif dan efisien (Nordiawan, 2007:1).
Menurut Nordiawan (2012:7-8), Tujuan pokok dari akuntansi
pemerintahan dalam pengelolaan keuangan publik adalah dalam
pertangungjawaban, manajerial, dan pengawasan. Pertanggungjawaban yang
dilakukan pemerintah adalah dengan memberi informasi keuangan yang
lengkap, cermat, dan dalam bentuk dan waktu yang tepat selama periode yang
ditentukan. Akuntansi pemerintahan juga harus menyediakan informasi dalam
proses manajerial seperti perencanaan, penganggaran, pelaksanaan,
pengawasan, pengendalian anggaran, perumusan kebijakan, pengambilan
keputusan, dan penilaian kinerja pemerintah atas keuangan publik. Sondang P.
Siagian (2012:50) dalam Sumiati (2015) menjelaskan bahwa merencanakan
berarti melakukan usaha tertentu secara sadar dan sistimatik untuk mengatasi
suatu keadaan yang apabila tidak diatasi akan dapat menimbulkan masalah
pada organisasi. Hayashsi (1976:2) dalam Siswanto (2005) menjelaskan
perencanaan sebagai suatu proses bertahap dari tindakan yang terorganisasi
untuk menjembatani perbedaan antara kondisi yang ada dan aspirasi
organisasi.
Selain itu juga diperlukan adanya pengawasan secara terarah,

2
ekonomis, efisien, efektif, berkeadilan, dan terkendali atas penggunaan
keuangan publik.
Selanjutnya dalam UU No. 6 Tahun 2014 yang baru ditandatangani 15
Januari 2014 itu menjelaskan bahwa desa dimulai pada tahun 2015 akan
mendapatkan kucuran dana sebesar 10% dari APBN. Dimana alokasi tersebut
tidak akan melewati perantara. Dana tersebut akan lansung sampai kepada
desa. Tetapi jumlah nominal yang akan diberikan kepada masing-masing desa
berbeda tergantung dari letak geografi desa, jumlah penduduk, jumlah
kemiskinan, dan kematian (V. Wiratna Sujarweni, 2015:2).
Dalam bebarapa situasi, penggunaan Alokasi Dana Desa ini rawan
terhadap penyelewengan dana oleh pihak yang seharusnya bisa dipercaya oleh
masyarakat dalam membangun desa menjadi lebih maju dan berkembang. Di
sinilah pentingnya peran masyarakat sebagai pengawas langsung dan tidak
lepas dari peran pemerintah kabupaten selaku pemberi dana untuk selalu
memonitor jalannya pembangunan di desa. Desa akan dapat dana miliyaran
rupiah secara langsung berdasarkan UU Desa No. 6 Tahun 2014 pasal 72 ayat
(3) menyebutkan Alokasi Dana Desa minimal akan di lontarkan secara
lansung ke desa sebanyak 10% dari dana yang diterima oleh Kabupaten/Kota.
Jadi setiap tahun desa akan menerima dana miliyaran rupiah untuk kemajuan
desa. Wakil ketua pensus RUU Desa, Budiman Sudjatmiko dalam V.Wiratna
Sujarweni (2015:3) menyatakan jumlah 10% dari dana yang diterima
Kabupaten/Kota dalam anggaran pendapatan dan Belanja Daerah setelah
dikurangi Dana Alokasi Khusus. 10 % bukan diambil dari dana tranfer daerah,
artinya, dana sekitar Rp. 104, 6 triliun ini dibagi sekitar 72.000 desa. Sehinnga
total Rp. 1,4 miliyar pertahun per Desa. Tetapi akan disesuaikan geografis,
jumlah pendududk dan jumlah kemiskinan.
Dalam pelaksanaan pemerintahan desa tersebut dituntut adanya suatu
aspek tata pemerintahan yang baik (Good Governance), dimana salah satu
karakteristik atau unsur utama dari Good Governance adalah akuntabilitas.
Akuntabilitas dapat diartikan sebagai bentuk tanggungjawab pelaksanaan misi
organisasi dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan melalui media

3
pertanggungjawaban yang dilaksanakan secara periodik. Jadi, akuntabilitas
pemerintahan sangat diperlukan sebagai penunjang penerapan otonomi desa
agar dapat berjalan dengan baik (Aprisiami Putriyanti dalam Lina Nasihatun
Nafidah dan Mawar Suryaningtyas, 2015).
Daerah/Desa dalam melaksanakan hak, kewenangan serta kewajibannya
dalam mengelola kemampuan dan potensi yang dimiliki dituntut untuk
dilakukan secara transparansi dan memiliki akuntanbiltas yang tinggi.
Menurut Waluyo dalam Astuty dan Fanida (2013), akuntabilitas meliputi
pemberian informasi keuangan kepada masyarakat dan pengguna lainnya
sehingga memungkinkan bagi mereka untuk menilai pertanggungjawaban
pemerintah atas semua aktifitas yang dilakukan, bukan hanya laporan
keuangan saja namun harus memberikan informasi dalam pembuatan
keputusan ekonomi, sosial dan politik.
Akuntabilitas dalam pemerintah desa sebagaimana yang diungkapkan
oleh Sukasmanto dalam Sumpeno (2011) melibatkan kemampuan pemerintah
desa untuk mempertanggungjawabkan kegiatan yang dilaksanakan dalam
kaitannya dengan masalah pembangunan dan pemerintahan desa.
Pertanggungjawaban yang dimaksud menyangkut masalah finansial yang
terdapat dalam APBDes dengan alokasi dana desa sebagai salah satu
komponen didalamnya. Fungsi akuntabilitas lebih luas bukan hanya sekedar
ketaatan kepada peraturan perundangan yang belaku. Akan tetapi, fungsi
akuntabilitas tetap memperhatikan penggunaan sumber daya secara bijaksana,
efisien, efektif, dan ekonomis.
Penelitian Amin Rahmannurrasjid (2008) yang berjudul Akuntabilitas
dan transparansi dalam pertanggungjawaban pemerintah daerah untuk
mewujudkan pemerintahan yang baik di Daerah (studi di Kabupaten
Kebumen). Dalam penelitian tersebut bahwa kebijakan desentralisasi dan
implementasi otonomi daerah yang ada di Indonesia pada dasarnya
menyangkut pengalihan kewenangan dan sumber daya dari pusat ke daerah-
daerah.
Menurut Elwood (1993) akuntabilitas adalah proses terkait dengan

4
apakah prosedur yang digunakan dalam melaksanakan tugas sudah cukup
baik dalam hal kecukupan sistem informasi akuntansi, sistem informasi
manajeman, dan prosedur administrasi. Akuntabilitas proses termanifestasi
melalui pemberian pelayanan public yang cepat, responsif, dan murah biaya.
Menurut Sabeni dan Gojali (2001) dalam V. Wiratna Sujarweni,
(2015:28) menyebutkan akuntabilitas atau pertanggungjawaban
(accounttability) merupakan suatu bentuk keharusan (pimpinan/pejabat/
pelaksanaan) untuk menjamin bahwa tugas dan kewajiban yang diembannya
sudah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Akuntabilitas dapat
dilihat melalui laporan tertulis yang informatif dan transparan.
Mardiasmo (2002) mengatakan akuntabilitas publik adalah kewajiban
pihak pemegang amanah untuk memberikan pertanggungjawaban, menyajikan
dan menggungkapkan segala aktivitasnya dan kegiatan yang menjadi
tanggungjawab kepada pihak pemberi amanah (Principal) yang memiliki hak
dan kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban tersebut. Menurut
Nordiawan dalam V. Wiratna Sujarweni (2015:28) akuntabilitas adalah
mempertanggungjawabkan pengelolahan sumber daya serta pelaksanaan
kebijakan yang dipercayakan kepada entitas pelaporan dalam mencapai tujuan
yang telah ditetapkan secara Periodik. Akuntabilitas publik adalah prinsip
yang menjamin bahwa setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah desa
dapat dipertanggungjawabkan kepada seluruh lapisan masyarakat.
Alokasi Dana Desa adalah dana yang diberikan kepada desa yang
berasal dari dana perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah yang
diterima oleh Kabupaten/Kota. Pemberian Alokasi Dana Desa merupakan
wujud dari pemenuhan hak desa untuk menyelenggarakan otonominya agar
tumbuh dan berkembang mengikuti pertumbuhan dari desa itu sendiri
berdasarkan keanekaragaman, partisipasi, otonomi asli, demokratisasi,
pemberdayaan masyarakat dan meningkatkan peran Pemerintah Desa dalam
memberikan pelayanan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta
memacu percepatan pembangunan dan pertumbuhan wilayah-wilayah
strategis. Alokasi Dana Desa sangat penting guna pembiayaan pengembangan

5
wilayah tertinggal dalam suatu sistem wilayah pengembangan. Pelaksanaan
Alokasi Dana Desa ini ditujukan untuk program-program fisik dan non fisik
yang berhubungan dengan indikator Perkembangan Desa, meliputi tingkat
pendidikan, tingkat pendapatan masyarakat, dan tingkat kesehatan. (Lina
Nasihatun Nafidah dan Mawar Suryaningtyas, 2015)
Hakekat pembangunan desa bertujuan untuk memperbaiki kondisi dan
taraf hidup masyarakat. Di samping itu pemerintah desa merupakan suatu
strategi pembangunan yang memungkinkan pemerataan pembangunan dan
hasil-hasilnya dinikmati oleh rakyatnya dan pertumbuhan ekonomi yang
cukup tinggi dan tercapainya stabilitas keamanan wilayah yang sehat dan
dinamis. Pemerintah desa sebagai alat untuk mencapai tujuan administrasi
negara, berfungsi sebagai tangan panjang pemerintah dalam rangka
pembangunan nasional demi tercapainya kesejahteraan rakyat yang merata.
(Widjaja, 2002).
Penelitian Subroto (2009) dengan judul Akuntabilitas Pengelolaan Dana
Desa (Studi Kasus Pengelolaan Alokasi Dana Desa di Desa-desa dalam
Wilayah Kecamatan Tlogomulyo Kabupaten Temanggung Tahun 2008. Hasil
penelitian Perencanaan, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban kegiatan ADD
telah akuntabel dan transparan. Namun, dari sisi administrasi masih
diperlukan adanya pembinaan lebih lanjut, karena belum sepenuhnya sesuai
dengan ketentuan.
Thomas (2013) Pengelolaan Alokasi Dana Desa dalam upaya
Meningkatkan Pembangunan di Desa Sebawang Kecamatan Sesayap
Kabupaten Tana Tidung Tahun 2010-2012. Hasil penelitian Pengelolaan
kegiatan untuk belanja aparatur dan belanja operasional serta pengelolaan
kegiatan untuk belanja publik dan pemberdayaan kepada masyarakat.
Okta Rosalinda LPD (2014), dengan judul Pengelolaan Alokasi Dana
Desa (ADD) Dalam menunjang Pembangunan Pedesaan (Studi Kasus : Desa
Segodorejo dan Desa Ploso Kerep, Kecamatan Sumobito, Kabupaten
Jombang) Tahun 2013. Dimana penelitian tersebut disebutkan bahwa tata
kelola dana ADD masih tampak belum efektif, hal ini terlihat pada mekanisme

6
perancanaan yang belum memperlihatkan sebagai bentuk perencanaan yang
efektif karena waktu perencanaan yang sempit, kurang berjalannya fungsi
lembaga desa, partsipasi masyarakat rendah karena dominasi kepala desa dan
adanya pos-pos anggaran dalam pemanfaatan ADD sehingga tidak ada
kesesuaian dengan kebutuhan desa.
Arifiyanto (2014) Akuntabilitas Pengelolaan Dana Desa di Kecamatan
Umbulsari Kabupaten Jember Tahun 2012. Dengan hasil penelitian
menunjukkan Perencanaan program ADD di 10 desa se kecamatan Umbulsari
secara bertahap telah melaksanakan konsep pembangunan partisipatif
masyarakat desa, menerapkan prinsip partisipatif, respondif dan transparan
serta pertanggungjawaban secara teknis sudah cukup baik.
Pemilihan objek penelitian ini dilakukan di Kabupaten Alor kecamatan
Pantar Desa Bana, dasarkan pada kurangnya potensi sumber daya alam,
rendahnya tingkat pendidikan, pengetahuan, dan keterampilan, keterbatasan
sarana dan prasarana, dan mengalami konflik sosial yang sehingga dapat
menyebabkan terganggunya kegiatan pembangunan sosial dan ekonomi, selain
itu pemilihan objek Kabupaten Alor juga di dasarkan pada Peraturan Presiden
RI Nomor 12 Tahun 2015 bahwa Kabupaten Alor merupakan salah satu
Kabupaten yang termasuk dalam daerah 3T (Terpencil, Terluar, dan
Tertinggal). Wujud nyata Kabupaten Alor dalam membantu dan meningkatkan
partisipasi pemerintah desa adalah dengan cara terus berupaya meningkatkan
Alokasi Dana Desa (ADD) kepada desa yang dapat digunakan untuk
mendukung penyelenggaraan kewenangan dan urusan rumah tangganya.
Kewenangan tersebut telah diatur oleh negara dalam beberapa runtutan
konstitusi secara hukum. Dari tahun ke tahun ADD kabupaten Alor selalu
mengalami kenaikan, Pada tahun 2015 jumlah ADD Kabupaten Alor sebesar
Rp. 42.780.821.000 yang dibagi kepada 158 Desa di 17 kecamatan. Pada
penelitian ini, peneliti memilih kecamatan Pantar sebagai objek penelitian
karena kecamatan Pantar merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Alor
yang mempunyai jumlah ADD yaitu Rp 460.299.700 pada tahun 2016. Sejak
digulirkannya Alokasi Dana Desa (ADD) di Kecamatan Pantar yang tampak

7
dari kegiatan pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD) yaitu pada pembangunan
fisik, seperti pembangunan jembatan, jalan, penembokan pantai. Berdasarkan
hal tersebut maka penyelenggaraan pemerintah desa membutuhkan suatu
akuntabilitas atau pertanggungjawaban pengelolaan APBDesa. Penyusunan
APBDesa dan adanya Alokasi Dana Desa merupakan bentuk desentralisasi
untuk mendorong good governance. Pemerintahan yang baik dan
memperhatikan prinsip akuntabilitas dilakukan pada level pemerintahan desa
sebagai konsekuensi otonomi desa. Dalam Astuty dan Fanida (2013) harus ada
komitmen pimpinan dan seluruh staf untuk melakukan pengelolaan
pelaksanaan misi agar akuntabel, harus merupakan sistem yang menjamin
penggunaan sumber daya secara konsisten dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku, harus menunjukkan tingkat pencapaian tujuan dan
sasaran yang telah ditetapkan, harus berorientasi pencapaian visi misi dan
hasil sertamanfaat yang diperoleh, dan harus jujur, objektif, transparan, dan
inovatif sebagai katalisator perubahan manajemen instansi pemerintah dalam
bentuk penyusunan laporan akuntabilitas. Peneliti memilih periode Tahun
2016 karena proses pengelolaan Alokasi Dana Desa pada Tahun 2016 di
masing-masing desa belum efisien, kurangnya pelatihan bagi pihak-pihak
yang terlibat langsung dalam pengelolaan Alokasi Dana Desa, dan semakin
meningkatnya jumlah dana yang di alokasikan di kecamatan Pantar. Selain itu,
pemilihan periode penelitian pada Tahun 2016 agar dapat di peroleh informasi
yang lebih up to date.
Desa Bana salah satu desa yang ada di Kecamatan Pantar dan sebagai
salah satu objek penelitian adalah desa yang setiap tahunnya mendapatkan
ADD. Dana yang diperoleh untuk Desa Bana pada tahun 2016 adalah sebesar
Rp 1,4 miliyar yang bersumber dari bagian dana perimbangan keuangan pusat
dan daerah yang diterima oleh kabupaten/kota. Apabila melihat jumlah
anggaran yang diberikan kepada desa melalui Alokasi Dana Desa yaitu hingga
mencapai Rp 1,4 miliyar,- maka muncul pertanyaan apakah desa beserta
elemen yang ada sudah mampu melaksanakan pengelolaan anggaran tersebut
secara baik. Hal ini mengingat bahwa desa yang dulunya sebelum

8
melaksanakan pembangunan hanya mendapat bantuan keuangan yang terbatas
dan pengelolaannya masih sangat sentralistis oleh satuan instansi.
Menurut UU Desa No. 6 Tahun 2014 tujuan desa disyahkan adalah
sebagai berikut;
1. Meningkatkan pelayanan publik bagi warga masyarakat desa guna
mempercepat perwujudan kesejahteraan umum;
2. Memberikan penghormatan pada desa, bahwa Indonesia ini terdiri dari
banyak desa yang beragam;
3. Memberikan kejelasan dan kepastian hukum desa berkaitan dengan sistem
ketanegaraan Indonesia agar tercipta keadilan bagi seluruh masyarakat
desa;
4. Memperkuat ekonomi desa serta mengatasi kesenjangan pembangunan
nasional; dan
5. Memperkuat masyarakat desa sebagai subyak pembanguna.
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, peneliti ingin
mengetahui akuntabilitas khususnya dalam hal; perencanaan, pelaksanaan,
serta pertanggungjawaban evaluasi Alokasi Dana Desa Kecamatan Pantar di
desa Bana. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui pemerataan
pembangunan di desa Kecamatan Pantar dengan meneliti.Akuntabilitas
Pengelolahan Alokasi Dana Desa Di Bana Kecamatan Pantar Kabupaten
Alor Tahun 2016.

1.2 Rumusan Masalah


Dari uraian latar belakang diatas, permasalahan yang akan dipecahkan
dalam penelitian ini adalah :
1) Bagaimana proses akuntabilitas perencanaan Alokasi Dana Desa di desa
Bana Wilayah Kecamatan Pantar?
2) Bagaimana proses akuntabilitas pelaksanaan Alokasi Dana Desa di desa
Bana Wilayah Kecamatan Pantar?
3) Bagaimana proses akuntabilitas pertanggungjawaban pelaporan Alokasi
Dana Desa di desa Bana Wilayah Kecamatan Pantar?

9
1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang akan dipecahkan, maka tujuan
Penelitian ini adalah untuk :
1) Untuk mengetahui proses akuntabilitas perencanaan Alokasi Dana Desa di
Desa Bana Wilayah Kecamatan Pantar.
2) Untuk mengetahui proses akuntabilitas pelaksanaan Alokasi Dana Desa di
Desa Bana Wilayah Kecamatan Pantar.
3) Untuk mengetahui proses akuntabilitas pertanggungjawaban pelaporan
Alokasi Dana Desa di Desa Bana Wilayah Kecamatan Pantar.

1.4 Kegunaan Penelitian


Kegunaan yang diperoleh dari hasil penelitian ini antara lain :
1) Kontribusi Teoritis
Kontribusi teoritis yang diharapkan dalam penelitian ini adalah untuk
menambah pengetahuan akuntansi, khususnya akuntansi desa dan hasil
penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi yang akan
melakukan penelitian yang akan datang.

2) Kontribusi Praktis
Kontribusi praktis bagi penulis adalah bahwa seluruh tahapan penelitian
serta hasil yang diperoleh dapat memperluas wawasan dan sekaligus
memeperoleh pengetahuan emprik mengenai ilmu pemerintahan selama
mengikuti penlitian. Pemerintah desa dan masyarakat yang terkait guna
untuk mengetahui akuntabilitas perencanaan, pelaksanaan dan
pertanggungjawaban pelaporan alokasi dana desa di desa Bana kecamatan
Pantar kabupaten Alor.

10
11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori


2.1.1 Pengertian Desa
Secara etimologi kata desa berasal dari bahasa Sansekerta, deca yang
berarti tanah air, tanah asal, atau tanah kelahiran. Dari perspektif geografis,
desa atau village diartikan sebagai a groups of hauses or shops in a
country area, smaller than a town. Desa adalah kesatuan masyarakat
hukum yang memiliki kewenangan untuk mengurus rumah tangganya
sendiri berdasarkan hak asal-usul dan adat istiadat yang diakui dalam
Pemerintahan Nasional dan berada di Daerah Kabupaten.
Pemerintahan desa berdasarkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014
Pasal 1 tentang desa menyebutkan bahwa Desa adalah desa dan desa adat atau yang
disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat
hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan
mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan
prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan
dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Desa dalam pengertian umum adalah sebagai suatu gejala yang
bersifat universal, terdapat dimana pun di dunia ini, sebagai suatu komunitas
kecil, yang terikat pada lokalitas tertentu baik sebagai tempat tinggal (secara
menetap) maupun bagi pemenuhan kebutuhannya, dan terutama yang
tergantung pada sektor pertanian (Edi Indrizal dalam V.Wiratna Sujarweni,
2015:1).
Menurut kamus besar bahasa Indonesia (2008-318) desa adalah
kesatuan wilayah yang dihuni oleh sejumlah keluarga yang mempunyai
sistem pemerintahan sendiri (dikepalai oleh seorang kepala desa) atau desa
merupakan kelompok rumah di luar kota yang merupakan kesatuan.
Menurut Permen No. 113 tahun 2014 desa adalah desa dan desa adat
atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut desa, adalah

12
kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang bewenang
untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan
masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul,
dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem
pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menurut Zakaria dalam Wahjudin Sumpeno (2011:3) menyatakan
bahwa desa adalah sekumpulan manusia yang hidup bersama atau suatu
wilayah, yang memiliki suatu organisasi pemerintahan dengan serangkaian
peraturan-peraturan yang ditetapkan sendiri, serta berada di bawah pimpinan
desa yang dipilih dan ditetapkan sendiri.
Menurut Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Desa adalah
kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang
berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat
setempat, berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan
dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menurut Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 pasal 8 merupakan
tindakan mengadakan desa baru di luar desa yang ada. Syarat dalam
pembentukan sebuah desa, diantaranya sebagai berikut :
1) Batas usia desa induk paling sedikit (lima) tahun terhitung sejak
pembentukan;
2) Jumlah penduduk, yaitu:
a) Wilayah Jawa paling sedikit 6.000 (enam ribu) jiwa atau 1.200
(seribu dua ratus) kepala keluarga;
b) Wilayah Bali paling sedikit 5.000 (lima ribu) jiwa atau 1.000
(seribu) kepala keluarga;
c) Wilayah Sumatera paling sedikit 4.000 (empat ribu) jiwa atau 800
(delapan ratus) kepala keluarga;
d) Wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara paling sedikit 3.000
(tiga ribu) jiwa atau 600 (enam ratus) kepala keluarga;
e) Wilayah Nusa Tenggara Barat paling sedikit 2.500 (dua ribu lima
ratus jiwa atau 500 (lima ratus) kepala keluarga;

13
f) Wilayah Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara,
Gorontalo, dan Kalimantan Selatan paling sedikit 2.000 (dua ribu)
jiwa atau 400 (empat ratus) kepala keluarga;
g) Wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah,
dan Kalimantan Utara paling sedikit 1.500 (seribu lima ratus) jiwa
atau 300 (tiga ratus) kepala keluarga;
h) Wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Maluku Utara paling
sedikit 1.000 (seribu) jiwa atau 200 (dua ratus) kepala keluarga; dan
i) Wilayah Papua dan Papua Barat paling sedikit 500 (lima ratus) jiwa
atau 100 (seratus) kepala keluarga.
3) Wilayah kerja yang memiliki akses transportasi antar wilayah;
4) Sosial budaya yang dapat menciptakan kerukunan hidup bermasyarakat
sesuai dengan adat istiadat Desa;
5) Memiliki potensi yang meliputi sumber daya alam, sumber daya
manusia, dan sumber daya ekonomi pendukung;
6) Batas wilayah Desa yang dinyatakan dalam bentuk peta Desa yang telah
ditetapkan dalam peraturan Bupati/Walikota;
7) Sarana dan prasarana bagi Pemerintahan Desa dan pelayanan publik;
dan
8) Tersedianya dana operasional, penghasilan tetap, dan tunjangan lainnya
bagi perangkat Pemerintah Desa sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang undangan.
Desa memiliki wewenang sesuai yang tertuang dalam Undang-
undang Nomor 6 Tahun 2014 pasal 19 tentang Desa, yakni :
1. Kewenangan berdasarkan hak asal usul;
2. Kewenangan lokal berskala Desa;
3. Kewenangan yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah
Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota; dan
4. Kewenangan lain yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah
Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

14
Berdasarkan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 Pasal 24 bahwa
Penyelenggaraan Pemerintahan Desa berdasarkan asas :
1. Kepastian hukum;
2. Tertib penyelenggaraan pemerintahan;
3. Tertib kepentingan umum;
4. Keterbukaan;
5. Proporsionalitas;
6. Profesionalitas;
7. Akuntabilitas;
8. Efektivitas dan efisiensi;
9. Kearifan lokal;
10. Keberagaman; dan
11. Partisipatif.
Menurut Sriartha dalam Siti Ainul Wida (2016), berdasarkan tingkat
pembangunan dan kemampuan mengembangkan potensi yang dimilikinya,
desa dapat diklasifikasikan menjadi berikut ini :
1) Desa swadaya
Desa swadaya adalah suatu wilayah pedesaan yang hampir seluruh
masyarakatnya mampu memenuhi kebutuhannya dengan cara mengadakan
sendiri. Ciri-ciri desa swadaya adalah daerahnya terisolir dengan daerah
lainnya, penduduknya jarang, mata pencaharian homogen yang bersifat
agraris, bersifat tertutup, masyarakat memegang teguh adat, teknologi
masih rendah, Sarana dan prasarana sangat kurang, hubungan antar
manusia sangat erat, pengawasan sosial dilakukan oleh keluarga;
2) Desa swakarya; dan
Desa swakarya adalah desa yang sudah bisa memenuhi
kebutuhannya sendiri, kelebihan produksi sudah mulai dijual kedaerah-
daerah lainnya. Ciri-ciri desa swakarya antara lain, adanya pengaruh dari
luar sehingga mengakibatkan perubahan pola pikir, masyarakat sudah
mulai terlepas dari adat, produktivitas mulai meningkat, sarana prasarana
mulai meningkat, adanya pengaruh dari luar yang mengakibatkan

15
perubahan cara berpikir.
3) Desa swasembada
Desa swasembada adalah desa yang lebih maju dan mampu
mengembangkan semua potensi yang ada secara optimal, dengan ciri-ciri
hubungan antar manusia bersifat rasional, mata pencaharian homogen,
Teknologi dan pendidikan tinggi, produktifitas tinggi, terlepas dari adat,
sarana dan prasarana lengkap dan modern.
Desa memiliki wewenang dibidang penyelenggaraan pemerintahan
desa, pelaksanaan pembangunan desa, pembinaan masyarakat,
pemberdayaan masyarakat. Kewenangan desa meliputi kewenangan
berdasarkan hak asal usul, kewenangan lokal berskala desa, kewenangan
yang ditugaskan oleh pemerintah, pemerintah daerah provinsi, atau
pemerintah daerah kabupaten/kota.
Menurut Sadu Wasistiono dalam Datuk Juliansyah (2013)
menyatakan bahwa pembiayaan atau keuangan merupakan faktor essensial
dalam mendukung penyelenggaraan otonomi desa, sebagaimana juga pada
penyelenggaraan otonomi daerah. Sejalan dengan pendapat yang
mengatakan bahwa autonomy indentik dengan auto money, maka
untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri desa
membutuhkan dana atau biaya yang memadai sebagai dukungan
pelaksanaan kewenangan yang dimilikinya.

2.1.2 Struktur Organisasi Desa


Menurut Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa,
dalam melaksanakan Pemerintahan desa, terdapat tugas pemerintahan yang
harus dilakukan oleh tiap desa.
Tugas Pemerintah Desa adalah sebagai berikut :
a. Memimpin penyelenggaran Pemdes berdasarkan kegiatan yang di
tetapkan bersama BPD;
b. Mengajukan Rencana Peraturan Desa;
c. Menetapkan Peraturan Desa;

16
d. Mengajukan Rencana APBDes;
e. Membina kehidupan Masyarakat Desa;
f. Membina perekonomian Desa;
g. Mengkoordinasiakan Pembangunan Desa secara partisipatif dan
Swadaya Masyarakat;
h. Meningkatkan Kesejahteraan rakyat;
i. Ketentraman dan ketertiban;
j. Menjalin hubungan kerja sama dengan mitra Pemdes; dan
k. Pengembangan pendapatan Desa dan sebagainya.
Dalam melaksanakan pemerintahan Desa, terdapat pembagian
wewenang dari masing-masing perangkat desa sebagai bentuk perwujudan
kemandirian Desa. Pembagian wewenang dalam menjalankan pemerintahan
Desa sangat diperlukan agar pemerintahan Desa dapat terselenggara dengan
baik sesuai dengan Undang-undang yang telah ditentukan. Pembagian
wewenang dari masing-masing perangkat desa diwujudkan dengan adanya
struktur organisasi dari tiap-tiap desa.
Pemerintah desa terdiri dari kepala Kepala Desa dan perangkat Desa,
yang meliputi Sekretaris Desa dan perangkat lainnya. Struktur organisasi
Desa adalah sebagai berikut:

17
Struktur organisasi Desa

Kepala Desa BPD

Sek. Desa

Kaur Kaur Kaur Kaur Kaur


Pem. Pemb. Kesra. Keuangan. Umum.

Pelaksana
wilayah
Sumber : Buku Profil tiap Desa Kabupaten Alor.

Untuk masing-masing tugas dan fungsi perangkat desa, akan


dijelaskan sebagai berikut :
1. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud, Kepala Desa
mempunyai wewenang, yaitu :
a) Memimpin penyelenggaraan pemerintahan Desa berdasarkan
kebijakan yang ditetapkan bersama BPD;
b) Mengajukan rancangan Peraturan Desa (Perdes);
c) Menetapkan peraturan Desa yang telah mendapat persetujuan bersama
BPD;
d) Menyusun dan mengajukan rancangan peraturan Desa mengenai
APBDes untuk dibahas dan ditetapkan bersama BPD;
e) Membina kehidupan masyarakat Desa;

18
f) Membina perekonomian Desa;
g) Mengkoordinasikan pembangunan Desa secara partisipatif;
h) Mewakili Desanya didalam dan diluar pengadilan dan dapat menunjuk
kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan peraturan perundang-
undangan; dan
i) Melaksanakan wewenang lain sesuai dengan Peraturan Perundang-
undangan.
2. Badan Permusyawaratan Desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan
Desa dibentuk berdasarkan usulan masyarakat Desa yang bersangkutan.
BPD befungsi menetapkan Peraturan Desa bersama Kepala Desa,
menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. BPD mempunyai tugas
dan wewenang :
a) Membahas rancangan Peraturan Desa bersama Kepala Desa;
b) Melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Desa dan
Peraturan Kepala Desa;
c) Mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Kepala Desa;
d) Membentuk Panitia Pemilihan Kepala Desa;
e) Menggali, menampung, menghimpun, merumuskan dan menyalurkan
aspirasi masyarakat;
f) Memberi persetujuan pemberhentian/pemberhentian sementara
perangkat Desa; dan
g) Menyusun tata tertib BPD.
3. Adapun tugas pokok dan fungsi sekretaris desa sebagai berikut:
a) Merampungkan, mengolah, merumuskan dan mengevaluasi data untuk
kelancaran kegiatan penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan,
dan kemasyarakatan;
b) Pelaksanaan urusan surat menyurat, kearsipan dan pelaporan;
c) Pelaksanaan administrasi umum;
d) Pelaksanaan administrasi pemerintahan, pembangunan, dan
kemasyarakatan;
e) Menyusun dan mengkoordinasikan program kerja pelaksanaan tugas

19
sekretariat;
f) Menyusun dan mengkoordinir kegiatan yang dilakukan oleh perangkat
Desa;
g) Menyusun rencana kebutuhan, perlengkapan dan peralatan serta
pelaksanaan keamanan dan kebersihan kantor;
h) Menyusun dan memperoses rancangan produk hukum Desa, (Peraturan
Desa, peraturan Kepala Desa, Dan keputusan Kepala Desa);
i) Menyelenggarakan tata usaha kepegawaian (Aparatus Desa) yang
meliputi kesejahteraan kerja, pengangkatan dan perberhentian
perangkat Desa;
j) Menyelenggarakan penyusunan rencana anggaran penelolaan
keauangan serta pertanggung jawaban pelaksanaananya;
k) Melakukan pelayanan tekhnis administrasi kepada masyarakat;
l) Menyusun program tahunan Desa; (RPJMDes-RKP Des); dan
m) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Desa. dalam hal
kepala desa berhalangan.
4. Kaur Keuangan (Bendahara Desa) memiliki kewajiban untuk Membantu
Sekretaris Desa dalam melaksanakan pengelolaan sumber pendapatan
Desa, pengelolaan administrasi keuangan Desa dan mempersiapkan bahan
penyusunan APB Desa. Selain itu tugas pokok yang dimiliki bendahara
lainnya adalah :
a) Menerima, menyimpan, menyetorkan, menatausahakan, membayarkan
dan mempertanggungjawabkan keuangan desa dalam rangka
pelaksanaan APBDesa;
b) Membuat laporan pertanggungjawaban atas penerimaan dan uang yang
menjadi tanggungjawabnya melalui laporan pertanggungjawaban;
c) Menerima, menyimpan, menatausahakan, dan membukukan uang/surat
berharga dalam pengelolaannya;
d) Melakukan pengujian dan pembayaran berdasarkan perintah;
e) Menolak perintah pembayaran apabila tidak memenuhi persyaratan
untuk dibayarkan;
f) Melakukan pemotongan/pemungutan penerimaan negara dari
pembayaran yang dilakukannya;

20
g) Menyetorkan pemotongan/pemungutan kewajiban ke kas negara;
h) Mengelola rekening tempat penyimpanan;
i) Menyusun program kerja pelaksanaan tugas dan perencanaan Desa;
j) Mengumpulkan dan menyiapkan bahan penyusunan program dan
perencanaan Desa;
k) Menyusun dan menyiapkan bahan untuk analisis dan evaluasi
penyusunan laporan pelaksanaan program dan perencanaan;
l) Mengumpulkan dan menyiapkan penyusunan program kerja
pelaksanaan tugas kerja bersama;
m) Melaksanakan tugas lain yang telah diberikan oleh Kepala Desa sesuai
dengan tugas dan fungsinya; dan
n) Menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) kepada Kepala
Desa.
5. Kepala urusan umum berkedudukan sebagai unsur sekretariat yang
bertanggungjawab kepada kepala desa melalui sekretaris desa. Kepala
Urusan umum mempunyai tugas adalah :
a) Membantu kepala desa di bidang teknis dan administratif pembinaan
kehidupan masyarakat desa;
b) Melaksanakan urusan surat menyurat serta pelayanan umum;
c) Memlihara dan melestarikan asset-asset pemerintah;
d) Melaksanakan urusan keuangan dan pelaporan;
e) Membina dan melayani administrasi kependudukan;
f) Membina dan melayani perizinan;
g) Pelaksana kegiatan bidang pembinaan kehidupan masyarakat desa;
h) Pelaksana inventarisasi, pembinaan dan pelestarian kebudayaan yang
berlaku di desa; dan
i) Pelaksana kegiatan perencanaan bidang kemasyarakatan dan sosial
budaya desa.
6. Kasi kesejahteraan rakyat (Kesra) mempunyai tugas anatara lain :
a) Mengumpulkan dan mengevaluasi data di bidang kesejahteraan rakyat;
b) Melakukan pembinaan di bidang keagamaan, kesehatan, keluarga
berencana, posyandu, dan pendidikan masyarakat;
c) Menyelenggarakan inventarisasi penduduk yang tuna karya, tuna

21
wisma, tuna susila, para penyandang cacat fisik, yatim piatu, jompo,
panti asuhan dan pencatatan dalam rangka memasyarakatkan kembali
bekas narapidana;
d) Memberikan pelayanan kepada masyarakat di bidang kesejahteraan
masyarakat (raskin, BLSM, dsb);
e) Membantu penyaluran bantuan terhadap korban bencana;
f) Membantu dan membina kegiatan pengumpulan zakat, infak, dan
sodakoh, dan dana sosisal lainnya; dan
g) Membantu administrasi dibidang nikah, talak, cerai, rujuk, dan
kelahiran serta pengurusan jenazah/kematian;
h) Melaksanakan administrasi desa sesuai dengan bidangnya;
i) Melaksanakan tugas di bidang pemberdayaan masyarakat di
bidangnya;
j) Membantu tugas-tugas di bidang pemungutan pendapatan desa dan
pemerintah di atasnya (pajak, retribusi, dan pendapatan lainnya); dan
k) Menjalankan tugas lain yang diberiakan oleh kepada desa dan
sekretarisdesa.
7. Tugas pokok Kaur pembangunan adalah membantu Kepala Desa dalam
tugas pelayanan, perencanaan dan penyelenggaraan program Desa. Tugas
dan Fungsi Kaur Keuangan sebagai berikut :
a) Mengumpulkan dan memformulasikan data untuk bahan penyusunan
program dan perencanaan pengelolaan keuangan dan kekayaan Desa;
b) Menyusun program kerja pelaksanaan tugas dan perencanaan Desa;
c) Mengumpulkan dan menyiapkan bahan penyusunan program dan
perencanaan Desa;
d) Menyusun dan menyiapkan bahan untuk analisis dan evaluasi
penyusunan laporan pelaksanaan program dan perencanaan;
e) Mengumpulkan dan menyiapkan penyusunan program kerja
pelaksanaan tugas kerja bersama; dan
f) Melaksanakan tugas lain yang telah diberikan oleh Kepala Desa sesuai
dengan tugas dan fungsinya.

22
8. Sedangkan Tugas pokok dan Fungsi Kasi Pemerintahan sebagai berikut :
a) Menyusun program dan menyiapkan bahan koordinasi pembinaan
pemerintahan desa;
b) Menyusun program dan menyiapkan bahan koordinasi pembinaan
administrasi kependudukan dan catatv Sipil;
c) Menyusun program dan menyiapkan bahan koordinasi pembinaan
Kegiatan Sosial politik ideology Negara dan kesatuan Bangsa;
d) Menyusun program dan menyiapkan bahan koordinasi pembinaan
administrasi Pemerintahan Desa;
e) Merampungkan, mengolah, merumuskan dan mengevaluasi data yang
terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan umum dan pemerintahan
Desa;
f) Menyelenggaraan kegiatan yang terkait dengan bidang pertahanan dan
kependudukan;
g) Menyelenggaraan kegiatan yang terkait dengan bidang pertahanan dan
kependudukan;
h) Merumuskan upaya terciptanya ketenteraman, ketertiban dan
pembangunan kesatuan bangsa di Desa;
i) Menyelenggarakan kegiatan yang terkait dengan urusan organisasi
sosial kemasyarakat dan adat istiadat;
j) Melakukan kegiatan pembinaan dan pemberdayaan Dusun dan RT;
k) Melakukan kegiatan yang terkait dengan pernyataan Peraturan
Perundang undangan yang berlaku, Keputusan Desa dan Keputusan
Kepala Desa;
l) Melaksanakan kegiatan yang terkait dengan penyelenggaraan
pemerintahan Desa yang sehat dan dinamis; dan
m) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Desa.
9. Tugas pokok Kepala Dusun adalah :
a) Membantu Kepala Desa dalam tugas pelayanan, pemberdayaan dan
penyelenggaraan administrasi umum dan keuangan Desa;
b) Merampungkan, mengolah, merumuskan dan mengevaluasi data yang

23
terkait dengan penyelenggaraan administrasi umum dan keuangan
Desa;
c) Melaksanakan tertib administrasi umum dan keuangan;
d) Melaksanakan urusan perlengkapan dan inventaris Desa;
e) Melaksanakan urusan rumah tangga Desa; dan
f) Melaksanakan penataan rapat dan upacara.

2.1.3 Alokasi Dana Desa (ADD) dan Tujuan Pengelolaan


Alokasi Dana Desa atau ADD adalah bagian keuangan Desa yang
diperoleh dari Bagi Hasil Pajak Daerah dan Bagian dari Dana Perimbangan
Keuangan Pusat dan Daerah yang diterima oleh kabupaten. Menurut
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Desa, Alokasi Dana Desa, selanjutnya disingkat
ADD, adalah dana perimbangan yang diterima kabupaten/kota dalam
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten/kota setelah dikurangi
Dana Alokasi Khusus.
Berdasarkan PP Nomor 60 Tahun 2014 Dana Desa yang bersumber
pada APBN bahwa Dana Desa adalah dana yang bersumber dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara yang diperuntukkan bagi Desa yang
ditransfer melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah kabupaten/kota
dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan,
pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan
masyarakat.
Menurut Sadan (2004:10) Alokasi Dana Desa yang kemudian
disebut ADD adalah dana responsivitas Negara untuk membiayai
kewenangan desa dan memperkuat kemandirian desa. Kewenangan desa
mencakup :
1. kewenangan asal usul (mengelola sumberdaya alam, peradilan adat,
membentuk susunan asli, melestarikan pranata lokal) yang diakui
(rekognisi) oleh Negara;
2. kewenangan atributif organisasi lokal (perencanaan, tata ruang, ekologi,

24
pemukiman, membentuk organisasi lokal dan lain-lain) yang ditetapkan
oleh pemerintah melalui undang-undang; dan
3. kewenangan delegatif-administratif yang timbul dari delegasi atau tugas
pembantuan dari pemerintah.
Menurut Gorris Sahdan dan et al., dalam Datuk Juliansyah
(2013),Dasar hukum kebijakan pemberian Alokasi Dana Desa (ADD)
sebagai berikut :
1. Undang-Undang No.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah pasal
212 ayat 3 tentang Sumber pendapatan desa;
2. Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 2005 Tentang Desa (pasal 68 ayat 1
huruf c tentang bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan
daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota untuk Desa paling sedikit
10% (sepuluh per seratus), yang pembagiannya untuk setiap Desa secara
proporsional yang merupakan alokasi dana desa);
3. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No. 140/640/SJ tertanggal 22 maret
2005 tentang pedoman ADD yang ditujukan kepada Pemerintah
Kabupaten/Kota;
4. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No.140/286/SJ tertanggal 17
februari tentang pelaksanaan ADD; dan
5. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No.140/1841/SJ tertanggal 17
Agustus 2006 tentang perintah penyediaan ADD kepada provinsi
sebagai (evaluator) dan Kabupaten/Kota sebagai pelaksana.
Berdasarkan Peraturan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014
tentang Pengelolaan Keuangan Desa, yaitu :
1) Keuangan desa dikelola berdasarkan asas-asas transparan, akuntabel,
partisipatif serta dilakukan dengan tertib dan disiplin anggaran;
2) Pengelolaan keuangan desa dikelola dalam masa 1 (satu) tahun anggaran
yakni mulai tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember; dan
3) Kepala Desa adalah pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan desa
dan mewakili Pemerintah Desa dalam kepemilikan kekayaan milik desa
yang dipisahkan. Kepala Desa sebagai pemegang kekuasaan

25
pengelolaan keuangan desa mempunyai kewenangan:
a. Menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan APBDesa;
b. Menetapkan perencanaan tenaga kerja desa (PTPKD);
c. Menetapkan petugas yang melakukan pemungutan penerimaan desa;
d. Menyetujui pengeluaran atas kegiatan yang ditetapkan dalam
APBDesa;
e. Melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban
APBDesa; dan
f. Kepala Desa dalam melaksanakan pengelolaan keuangan desa,
dibantu oleh PTPKD.
4) Perencanaan tenaga kerja desa (PTPKD) berasal dari unsure Perangkat
Desa,terdiri dari:
a. Sekretaris Desa;
b. Kepala Seksi; dan
c. Bendahara.
5) Sekretaris Desa bertindak selaku koordinator pelaksana teknis
pengelolaan keuangan desa. Sekretaris Desa selaku koordinator
pelaksana teknis pengelolaan keuangan desa tugas :
a. Menyusun dan melaksanakan Kebijakan Pengelolaan APBDesa;
b. Menyusun Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa, perubahan
APBDesa dan pertanggung jawaban pelaksanaan APBDesa;
c. Melakukan pengendalian terhadap pelaksanaan kegiatan yang telah
ditetapkan dalam APBDesa;
d. Menyusun pelaporan dan pertanggungjawaban pelaksanaan
APBDesa; dan
e. Melakukan verifikasi terhadap bukti-bukti penerimaan dan
pengeluaran APBDesa.
6) Kepala Seksi bertindak sebagai pelaksana kegiatan sesuai dengan
bidangnya. Kepala Seksi mempunyai tugas, yaitu :
a. Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan yang menjadi tanggung
jawabnya;

26
b. Melaksanakan kegiatan dan/atau bersama Lembaga Kemasyarakatan
Desa yang telah ditetapkan di dalam APBDesa;
c. Melakukan tindakan pengeluaran yang menyebabkan atas beban
anggaran belanja kegiatan, mengendalikan pelaksanaan kegiatan,
melaporkan perkembangan pelaksanaan kegiatan kepada Kepala
Desa; dan
d. Menyiapkan dokumen anggaran atas beban pengeluaran pelaksanaan
kegiatan.
7) Bendahara oleh staf pada urusan Keuangan. Bendahara mempunyai
tugas, yaitu :
a. Menerima, menyimpan, menyetorkan/membayar, menatausahakan,
dan mempertanggungjawabkan penerimaan pendapatan desa dan
pengeluaran pendapatan desa dalam rangka pelaksanaan APBDesa.
Selanjutnya Peraturan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 Pasal
8 tentang APBDesa, terdiri atas :
1. Pendapatan Desa;
2. Belanja Desa; dan
3. Pembiayaan Desa.
Pendapatan Desa terdiri atas kelompok :
a) Pendapatan Asli Desa (PADesa);
b) Transfer; dan
c) Pendapatan lain-lain.
Kelompok PADesa terdiri atas jenis :
a) Hasil usaha;
b) Hasil aset;
c) Swadaya, partisipasi dan Gotong royong; dan
d) Lain-lain pendapatan asli desa.
Hasil usaha desa antara lain :
a) Hasil Bumdes, tanah kas desa;
b) Hasil aset antara lain tambatan perahu, pasar desa, tempat pemandian
umum, jaringan irigasi;

27
c) Swadaya, partisipasi dan gotong royong adalah membangun dengan
kekuatan sendiri yang melibatkan peran serta masyarakat berupa
tenaga, barang yang dinilai dengan uang; dan
d) Lain-lain pendapatan asli desa di antara lain hasil pungutan desa.
Kelompok transfer terdiri atas jenis :
a) Dana Desa;
b) Bagian dari Hasil Pajak Daerah Kabupaten/ Kota dan Retribusi
Daerah;
c) Alokasi Dana Desa (ADD);
d) Bantuan Keuangan dari APBD Provinsi;
e) Bantuan Keuangan APBD Kabupaten/Kota; dan
f) Bantuan Keuangan dari APBD Provinsi dan Kabupaten/Kota dapat
bersifat umum dan khusus.
Bantuan Keuangan bersifat khusus dikelola dalam APBDesa tetapi
tidak diterapkan dalam ketentuan penggunaan paling sedikit 70% (tujuh
puluh perseratus) dan paling banyak 30% (tiga puluh perseratus).
Kelompok pendapatan lain-lain, terdiri atas jenis :
a) Hibah dan Sumbangan dari pihak ketiga yang tidak mengikat; dan
Lain-lain pendapatan Desa yang sah;
b) Hibah dan sumbangan dari pihak ketiga yang tidak mengikat adalah
pemberian berupa uang dari pihak ke tiga; dan
c) Lain-lain pendapatan Desa yang sah antara lain pendapatan sebagai
hasil kerja sama dengan pihak ketiga dan bantuan perusahaan yang
berlokasi di desa.
Belanja desa meliputi semua pengeluaran dari rekening desa yang
merupakan kewajiban desa dalam 1 (satu) tahun anggaran yang tidak akan
diperoleh pembayarannya kembali oleh desa. Klasifikasi Belanja Desa
terdiri atas kelompok :
a) Penyelenggaraan Pemerintahan Desa;
b) Pelaksanaan Pembangunan Desa;
c) Pembinaan Kemasyarakatan Desa;

28
d) Pemberdayaan Masyarakat Desa; dan
e) Belanja Tak Terduga.
Kelompok belanja dibagi dalam kegiatan sesuai dengan kebutuhan
Desa yang telah dituangkan dalam RKPDesa. Kegiatan dimaksud terdiri
atas jenis belanja :
a) Pegawai;
b) Barang dan Jasa; dan
c) Modal.
Jenis belanja pegawai dianggarkan untuk pengeluaran penghasilan
tetap dan tunjangan bagi Kepala Desa dan Perangkat Desa serta tunjangan
BPD. Belanja barang/jasa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) antara lain:
a) Alat tulis kantor;
b) Benda pos;
c) Bahan/material;
d) Pemeliharaan;
e) Cetak/penggandaan;
f) Sewa kantor desa;
g) Sewa perlengkapan dan peralatan kantor;
h) Makanan dan minuman rapat;
i) Pakaian dinas dan atributnya;
j) Perjalanan dinas;
k) Upah kerja;
l) Honorarium narasumber/ahli;
m) Operasional Pemerintah Desa;
n) Operasional BPD;
o) Insentif Rukun Tetangga/Rukun Warga; dan
p) Pemberian barang pada masyarakat/kelompok masyarakat.
Insentif Rukun Tetangga /Rukun Warga adalah bantuan uang untuk
operasional lembaga RT/RW dalam rangka membantu pelaksanaan tugas
pelayanan pemerintahan, perencanaan pembangunan, ketentraman dan

29
ketertiban, serta pemberdayaan masyarakat desa. Pembiayaan Desa
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas kelompok :
1. Penerimaan Pembiayaan;
2. Pengeluaran Pembiayaan; dan
3. Penerimaan Pembiayaan, mencakup :
a. Sisa lebih perhitungan anggaran (SiLPA) tahun sebelumnya;
b. Pencairan Dana Cadangan; dan
c. Hasil penjualan kekayaan desa yang dipisahkan.

Tujuan Pengelolaan Alokasi Dana Desa (ADD)


Pengelolaan keuangan Alokasi Dana Desa merupakan bagian
penting yang tidak dipisahkan dari pengelolaan keuangan desa dalam
APBDesa. Seluruh kegiatan yang didanai oleh Alokasi Dana Desa
direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi secara terbuka dengan
melibatkan seluruh unsur masyarakat desa. Seluruh kegiatan harus dapat
dipertanggungjawabkan secara administratif, teknis dan hukum (Aprisiami
Putriyanti, 2012).
Berdasarkan PP Nomor 60 Tahun 2014 tentang Desa yang
bersumber pada APBN bahwa besaran Dana Desa setiap kabupaten/kota
bupati/walikota menetapkan besaran Dana Desa untuk setiap Desa di
wilayahnya. Besaran Dana Desa setiap Desa berdasarkan jumlah penduduk
Desa, luas wilayah Desa, angka kemiskinan Desa, dan tingkat kesulitan
geografis. Jumlah penduduk Desa, luas wilayah Desa, dan angka
kemiskinan Desa dihitung dengan bobot :
1. 30% (tiga puluh per seratus) untuk jumlah penduduk Desa;
2. 20% (dua puluh per seratus) untuk luas wilayah Desa; dan
3. 50% (lima puluh per seratus) untuk angka kemiskinan Desa.

Rumus Alokasi Dana Desa


Sedangkan rumus untuk menghitung besarnya Alokasi Dana Desa di
tiap desa secara merata dan adilmenurut Apriliyani (2014),adalah sebagai
berikut Keterangan :

ADDx = ADDMx + ADDPx

30
a) ADDx = Alokasi Dana Desa;
b) ADDMx = Alokasi Dana Desa Minimal; dan
c) ADDP = Alokasi Dana Desa Proporsiona.
1. Perhitungan Alokasi Dana Desa Minimal
ADDMx = 60% x ADD
JUMLAH DESA SE KABUPATEN
2. Perhitungan Alokasi Dana Desa Proporsional
ADDPx = 40% x NILAI BOBOT DESA x ADD
3. Penentuan nilai bobot desa
Besarnya Alokasi Dana Desa Proporsional untuk masing-masing
desa ditentukan berdasarkan nilai bobot desa. Penetapan bobot desa
dilakukan dengan mempertimbangkan variabel sebagai berikut:
a. Kebutuhan penghasilan tetap kepala desa dan perangkat desa;
b. Jumlah penduduk, yang terdiri dari laki-laki maupun perempuan
dengan usia balita, produktif, maupun lansia;
c. Luas wilayah, dengan indikator batas batas wilayah yang
melingkupinya;
d. Potensi ekonomi, dengan indikator adanya sumber daya yang dapat
dimanfaatkan dalam membantu perekonomian desa;
e. Partisipasi masyarakat, dengan indikator keterlibatan masyarakat
dalam berbagai kegiatan desa;
f. Kemiskinan, yang terdiri dari jumlah keluarga miskin, dan jumlah
angka penduduk miskin Pendidikan dasar, dengan indikator angka buta
huruf penduduk usia 10 sampai 45 tahun, angka partisipasi sekolah,
dan angka putus sekolah;
g. Kesehatan, dengan indikator angka kematian bayi, angka kematian ibu
melahirkan, dan bayi di bawah angka timbangan normal; dan
h. Keterjangkauan, dengan indikator mudah tidaknya akses untuk menuju
desa.

31
2.1.4 Akuntabilitas
Tata kelola pemerintahan yang baik merupakan salah satu tuntunan
masyarakat yang harus dipenuhi. Salah satu pilar tata kelola tersebut adalah
akuntabilitas. Menurut Sabeni dan Gojali Dalam V. Wiratna Sujarweni
(2015:28), menyatakan akuntabiltas atau pertanggungjawaban
(accounttability) merupakan suatu bentuk keharusan seorang
(pemimpin/pejabat/pelaksana) untuk menjamin tugas dan kewajiban yang
diembannya sudah dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku.
Akuntabilitas dapat dilihat melalui laporan tertulis yang informatif dan
transparan.
Menurut Nordiawan dalam V. Wiratna Sujarweni (2015:28)
akuntabilitas adalah mempertanggungjawabkan pengelolahan sumber daya
serta pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada entitas pelaporan
dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara Periodik.
Akuntabilitas publik adalah prinsip yang menjamin bahwa setiap kegiatan
yang dilakukan oleh pemerintah desa dapat dipertanggungjawabkan kepada
seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah daerah sebagai pelaku pemerintahan
harus bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukannya terhadap
masyarakat dalam rangka menjalankan tugas, wewenang, dan kewajiban
Pemerintah Daerah (Sabarno dalam Lina Nasihatun Nafidah dan Mawar
Suryaningtyas, 2015).
Akuntabilitas dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah diartikan
sebagai kewajiban Pemerintah Daerah untuk mempertanggungjawabkan
pengelolaan dan pelaksanaan pemerintahan di daerah dalam rangka otonomi
daerah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan melalui media
pertanggungjawaban yang terukur baik dari segi kualitasnya maupun
kuantitasnya.
Menurut Nordiawan dalam Lina Nasihatun Nafidah dan Mawar
Suryaningtyas (2015) mengatakan Akuntabilitas adalah mempertanggung
jawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kebijakan yang
dipercayakan kepada entitas pelaporan dalam mencapai tujuan yang telah

32
ditetapkan secara periodik. Menurut Kumorotomo dalam Lastria
Nurtanzila (2013) mengatakan Akuntabilitas adalah hak masyarakat
sehingga harus dituntut masyarakat itu sendiri bukan hanya menunggu.
Dalam definisi tradisional, Akuntabilitas adalah istilah umum untuk
menjelaskan betapa sejumlah organisasi telah memperlihatkan bahwa
mereka sudah memenuhi misi mereka Benvenist (1991). Definisi lain
menyebutkan akuntabilitas dapat diartikan sebagai kewajibankewajiban dari
individu-individu atau penguasa yang dipercayakan untuk mengelola
sumber-sumber daya publik danyang bersangkutan dengannya untuk dapat
menjawab hal-hal yang menyangkut pertanggungjawabannya. Akuntabilitas
terkait erat dengan instrumen untuk kegiatan kontrol terutama dalam hal
pencapaian hasil pada pelayanan publik dan menyampaikannya secara
transparan kepada masyarakat (Arifiyadi, 2008).
Menurut Agus Dwiyanto, et al., dalam Muslimin Mappamiring St.
Nurmaeta (2012), akuntabilitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan
seberapa besar tingkat kesusaian penyelenggaraan pelayanan dengan ukuran
nilai-nilai atau norma eksternal yang ada di masyarakat atau dimiliki oleh
para stakeholders. Nilai dan norma yang berkembang dalam masyarakat
tersebut, diantaranya transparansi pelayanan, prinsip keadilan, jaminan
penegakan hukum, hak asasi manusia, dan orientasi pelayanan yang
dikembangkan terhadap masyarakat.
Menurut Behn (2001:4), akuntabilitas adalah derajat sejauh mana
pemerintah menjelaskan (to explain), menjawab (to answer), menjastifikasi
(to justify) tindakan-tindakan spesifik atau apa yang telah mereka kerjakan
atau gagal mereka kerjakan (termasuk kesedian menerima konsekuensinya)
baik atau jelek. Akuntabilitas menentukan alasan, motif dan pentingnya
membuat keputusan serta tindakan di mata manajer publik dan warga.

2.1.5 Pengelolaan Alokasi Dana Desa

Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2007 Pasal

33
20 bagian kedua Pengelolaan ADD. Pengelolaan Alokasi Dana Desa
merupakan satu kesatuan dengan pengelolaan keuangan desa. Dalam
peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2007 tentang pedoman
pengelolaan keuangan Desa Pengelolaan Keuangan Desa adalah
keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, penganggaran, penata
usahaan, pelaporan, pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan desa.
Pengelolaan alokasi dana desa awalnya dengan membuat perencanaan apa
yang akan di bangun pada desa tersebut, baik pembangunan fisik maupun
non fisik.
Rencana-rencana pembangunan yang telah disusun dan ditetapkan
bersama dalam suatu forum musyawarah (yang sering disebut
musrenbangdes) hendaknya dapat dilakukan secara baik. Untuk itu para
pelaku pembangunan di desa harus dapat menerapkan prinsip-prinsip
pengelolaan pembangunan desa sebagai berikut :
1. Accountable, Pengelolaan kegiatan harus dapat dipertanggungjawabkan
kepada masyarakat;
2. Transparant, pengelolaan kegiatan harus dilakukan secara terbuka dan
diketahui oleh masyarakat;
3. Acceptable, pilihan kegiatan berdasarkan musyawarah sehingga
memperoleh dukungan masyarakat; dan
4. Sustainable, pengelolaan kegiatan dapat memberikan manfaat kepada
masyarakat secara berkelanjutan.

Dalam melaksanakan Akuntabilitas Alokasi Dana Desa, mulai dari


tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban pelaporan
berpedoman pada permendagri Nomor 113 Tahun 2014 Pengelolaan Alokasi
Dana Desa, yang dijabarkan sebagai berikut :
a. Perencanaan
Pemerintah desa menyusun perencanaan pembanguna desa sesuai
dengan kewenangan dengan mengacu pada perencanaan pembangunan
kabupaten dan kota.

34
Mekanisme perencanaan menurut Permendagri Nomor 113 Tahun
2014 adalah sebagai berikut :
1. Sekretaris Desa menyusun Rancangan Peraturan Desa

tentang APBDesa berdasarkan RKPDesa. Kemudian

Sekretaris Desa menyampaikan kepada kepala desa;


2. Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa

disampaikan Kepala Desa kepada badan

permusyawaratan desa (BPD) untuk bahasan lebih

lanjut;
3. Rancangan tersebut kemudian disepakati bersama, dan kesepakatan
tersebut paling lambat bulan Oktober tahun berjalan;
4. Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa yang

telah disepakati bersama, kemudian disampaikan oleh

kepala Desa kepada Bupati/Walikota melalui camat

atau sebutan lain paling lambat 3 (tiga) hari sejak

disepakati untuk dievaluasi. Bupati/Walikota dapat

mendelegasikan evaluasi rancangan peraturan desa

tentang APBDesa kepada camat atau sebutan lain.


5. Bupati/Walikota menetapkan hasil evaluasi Rancangan

APBDesa paling lama 20 (dua puluh) hari kerja sejak

diterimanya Rancangan Peraturan Desa tentang

APBDesa. Jika dalam waktu 20 (dua puluh) hari kerja


Bupati/Walikota tidak memberikan hasil evaluasi maka peraturan
desa tersebut berlaku dengan sendirinya;
6. Jika Kepala Desa melakukan penyempurnaan paling

lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak diterimanya

hasil evaluasi;
7. Apabila Bupati/Walikota menyatakan hasil evaluasi

Rancangan Peraturan Desa tentang APBDesa tidak

sesuai dengan kepentingan umum dan peraturan

35
perundang-undangan yang lebih tinggi, melakukan

penyempurnaan paling lama 7 (tujuh) hari kerja

terhitung sejak diterimanya hasil evaluasi;


8. Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Kepala

Desa) dan Kepala Desa tetap menetapkan Rancangan

Peraturan Desa tentang APBDesa menjadi Peraturan

Desa, Bupati/Walikota membatalkan Peraturan Desa

dengan Keputusan Bupati/Walikota;


9. Pembatalan Peraturan Desa, sekaligus menyatakan

berlakunya pagu APBDesa tahun anggaran

sebelumnya. Dalam hal pembatalan, kepala desa

hanya dapat melakukan pengeluaran terhadap

operasional penyelenggaraan Pemerintah Desa; dan


10. Kepala Desa memberhentikan pelaksanaan Peraturan

Desa Paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah

pembatalan dan selanjutnya Kepala Desa bersama BPD

mencabut peraturan desa dimaksud.


b. Pelaksanaan
Dalam pelaksanaan anggaran desa yang sudah ditetapkan
sebelumnya timbul transaksi penerimaan dan pengeluaran desa. Semua
penerimaan dan pengeluaran desa dalam rangka pelaksanaan
kewenangan desa dilaksanakan melalui rekening kas desa. Jika desa
yang belum memiliki pelayanan perbankan di wilayahnya maka
pengaturannya ditetapkan oleh pemerintah kabupaten/kota. Semua
peneriman dan pengeluaran desa harus didukung oleh bukti yang
lengkap dan sah :
1. Pemerintah desa dilarang melakukan pungutan sebagai

penerimaan desa selain yang ditetapkan dalam

peraturan desa;

36
2. Bendahara dapat menyimpan uang dalam Kas Desa

pada jumlah tertentu dalam rangka memenuhi

kebutuhan operasional pemerintah desa;


3. Pengaturan jumlah uang dalam kas desa ditetapkan

dalam Peraturan Bupati/Walikota;


4. Pengeluaran desa yang mengakibatkan beban APBDesa

tidak dapat dilakukan sebelum rancangan peraturan

desa tentang APBDesa ditetapkan menjadi peraturan

desa;
5. Pengeluaran desa tidak termasuk untuk belanja

pegawai yang bersifat mengikat dan operasional

perkantoran yang ditetapkan dalam peraturan kepala

desa;
6. Penggunaan biaya tak terduga terlebih dulu harus

dibuat Rincian Anggaran Biaya yang telah disahkan

oleh Kepala Desa;


7. Pelaksana Kegiatan mengajukan pendanaan untuk

melaksanakan kegiatan harus disertai dengan

dokumen antara lain Rencana Anggaran Biaya;


8. Rencana Anggaran Biaya diverifikasi oleh Sekretaris

Desa dan di sahkan oleh Kepala Desa;


9. Pelaksana Kegiatan bertanggungjawab terhadap

tindakan pengeluaran yang menyebabkan atas beban

anggaran belanja kegiatan dengan mempergunakan

buku pembantu kas kegiatan sebagai

pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan di desa;


10. Berdasarkan rencana anggaran biaya pelaksana

kegiatan mengajukan Surat Permintaan Pembayaran

(SPP) kepada Kepala Desa. Surat Permintaan

37
Pembayaran (SPP) tidak boleh dilakukan sebelum

barang dan atau jasa diterima. Pengajuan SPP terdiri

atas: Surat Permintaan Pembayaran (SPP); Pernyataan

tanggungjawab belanja; dan Lampiran bukti transaksi;


11. Dalam pengajuan pelaksanaan pembayaran Sekretaris

Desa berkewajiban untuk: meneliti kelengkapan

permintaan pembayaran di ajukan oleh pelaksana

kegiatan; menguji kebenaran perhitungan tagihan atas

beban APBdes yang tercantum dalam permintaan


pembayaran; menguji ketersedian dana untuk kegiatan

dimaksud; dan menolak pengajuan permintaan

pembayaran oleh pelaksana kegiatan apabila tidak

memenuhi persyaratan yang ditetapkan;


12. Berdasarkan SPP yang telah di verifikasi Sekretaris

Desa kemudian Kepala Desa menyetujui permintaan

pembayaran dan bendahara melakukan pembayaran;


13. Pembayaran yang telah dilakukan selanjutnya

bendahara melakukan pencatatan pengeluaran; dan


14. Bendahara desa sebagai wajib pungut pajak

penghasilan (PPh) dan pajak lainnya, wajib menyetorkan

seluruh penerimaan potongan dan pajak yang

dipungutnya ke rekening kas negara sesuai dengan

ketentuan peraturan perundang-undangan.

c. Pertanggungjawaban pelaporan
Pertanggungjawaban merupakan bentuk konsekuensi atas
penggunaan dana publik yang dipercayakan kepada pemerintah Desa.
Penanggungjawab Alokasi Dana Desa secara keseluruhan adalah Kepala
Desa selaku ketua Tim Pelaksana Desa. Bentuk dan tata cara

38
pertanggungjawaban secara administratif dilakukan sesuai dengan
perundang-undangan yang berlaku. Pertanggungjawaban ADD
terintegrasi dengan pertanggungjawaban APBDes, sehingga bentuk
pertanggungjawabannya adalah pertanggungjawaban dalam pelaksanaan
APBDes yang merupakan bagian dari laporan Penyelenggaraan
Pemerintahan Desa (LPPDesa) yang disampaikan oleh Kepala Desa
kepada Bupatimelalui camat.
Menurut Permendagri Nomor 113 Tahun 2014
pertanggungjawaban terdiri dari :
1. Kepala Desa menyampaikan laporan pertanggungjawaban realisasi
pelaksanaan APBDesa kepada Bupati/Walikota melalui camat setiap
akhir tahun anggaran. Laporan pertanggungjawaban realisasi
pelaksanaan APBDesa terdiri dari; pendapatan, belanja, dan
pembiayaan. Laporan ini ditetapakan peraturan Desa dan dilampiri:
a. Format laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan
APBDesa tahun anggaran berkenaan;
b. Format laporan kekayaan milik desa per 31 Desember tahun
anggaran berkenaan; dan
c. Format laporan program pemerintah dan pemerintah daerah
yang masuk ke Desa.
2. Laporan pertanggungjawaban realisasi pelaksanaan APBDesa
disampaikan paling lambat 1 (satu) bulan setelah akhir tahun
anggaran berkenaan.
Sedangkan pelaporan Menurut permendagri Nomor 113 Tahun
2014 dan Ardi Hamzah dalam V. Wiratna Sujarweni (2015:22) dalam
melaksanakan tugas, kewenangan, hak, dan kewajiban, kepala Desa
wajib :
1. Menyampaikan laporan realisasi pelaksanaan APBDesa kepada
Bupati/Walikota, berupa :
a. Laporan semester pertama berupa laporan realisasi APBDesa,
disampaikan paling lambat pada akhir bulan Juli tahun berjalan;

39
dan
b. Laporan semester akhir tahun, disamapaikan paling lambat
pada akhir bulan Januari tahun berikutnya.
2. Menyampaikan Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Desa
(LPPD) setiap akhir tahun anggaran kepada Bupati/Walikota;
3. Menyampaikan Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Desa
(LPPD) pada akhir masa jabatan kepada Bupati/Walikota; dan
4. Menyampaikan laporan keterangan Laporan Penyelenggaraan
Pemerintah Desa (LPPD) secara tertulis kepada BPD setiap akhir
tahun anggran.

2.2 Kerangka Pemikiran

Kerangka Pemikiran dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai


berikut :

Perencanaan ADD
(X1)

Akuntabilitas Pengelolaan
Pelaksanaan ADD ADD (Y)
(X2)

Pertanggungjawaban
Pelaporan ADD (X1)

Sumber data : olahan penelitian, 2017

40
2.3 Penelitian Terdahulu

Tabel 3.1 Penelitian Terdahulu

No Judul Variabel Hasil Penelitian


1 Akuntabilitas Pengelolaan Alokasi Dana Desa, 1.Perencanaan kegiatan
ADD Transparansi, dan ADD telah menerapkan
(Alokasi Dana Desa) di akuntabilitas prinsip partisipatif dan
Kabupaten Madiun Tahun 2013 transparansi;
(Studi Kasus pada kecamatan 2.Pelaksanaan ADD di
Kare) (Tamtama, 2014) kecamatan Kare telah
menerapkan prinsip
partisipatif dan
transparan; dan
3.Pertanggungjawaban
secara fisik telah
berjalan baik, baik teknis
maupun administrasi,
namun SDM masih
menjadi kendala utama.

2 Akuntabilitas pengelolaan Alokasi Dana 1.Perencanaan dan


Dana Desa, Transparansi, pelaksanaan ADD telah
Desa (Studi kasus pengelolaan dan akuntabilitas menerapkan prinsip

41
alokasi dana desa di kecamatan transparansi dan
Kalisat Kabupaten Jember akuntabel;
Tahun 2013(Sanjiwani, 2014) 2.Pertanggungjawaban
secara teknis dan
administrasi sudah baik,
namun SDM masih
menjadi kendala utama;
dan
3.Pengawasan sudah sesuai
dengan indikator yang
ditentukan.

3 Akuntabilitas Pengelolaan Alokasi Dana Desa 1.Perencanaan program


Alokasi Dana Desa di (ADD), Perencanaan, ADD di 10 desa se-
Kecamatan Umbulsari Pelaksanaan, dan Kecamatan Umbulsari
Kabupaten Jember Pertanggungjawaban secara bertahap telah
(Arifiyanto, 2014) melaksanakan konsep
pembangunan
partisipatif masyarakat
desa;

2.Pelaksanaan program
ADD di Kecamatan
Umbulsari telah
menerapkan prinsip
partisipatif, responsif,
dan transparan; dan
3.Pertanggungjawaban
program ADD di
Kecamatan Umbulsari
secara teknis sudah
cukup baik.

4 Akuntabilitas Alokasi Dana Desa 1.Pelaksanaan program


Pengelolaan Alokasi (ADD), Perencanaan, ADD di Desa
Dana Desa di Desa Pelaksanaan, dan Kedungrejo telah
Kedungrejo, Pertanggungjawaban menerapkan prinsip
Kecamatan Muncar, partisipatif, responsif,
Kabupaten dan transparan;
Banyuwangi 2.Pertanggungjawaban
(Apriliani, 2014) program ADD di
Kecamatan Muncar
secara teknis sudah
cukup baik.

42