Anda di halaman 1dari 16

BAB III

DASAR TEORI

Batubara adalah endapan sedimen yang terbentuk dari sisa-sisa tumbuh-


tumbuhan merupakan material organik dan telah mengalami dekomposisi atau
penguraian oleh adanya proses biokimia dan geokimia sehingga berubah baik sifat
fisik maupun sifat kimianya. Tingkat perubahan yang berbeda akan menyebabkan
kualitas yang berbeda yaitu dari batubara kualitas rendah sampai tinggi.
Sebagai bahan bakar, batubara dapat dimanfaatkan untuk mengubah air
menjadi uap di dalam suatu ketel uap atau boiler PLTU .pada hakikatnya, semua
batubara itu dapat dibakar, tetapi dalam pemanfaatan sebagai bahan bakar tertentu
perlu dipenuhi berbagai persyaratan tertentu pula.

3.1 Analisis Batubara


1. Analisis Proksimat (Proximate Analisys)
Adalah analisis contoh batubara yang dinyatakan sebagai kandungan air
lembab (Moisure Content), Abu (Ash), Zat Terbang (Volatil Metter), dan Karbon
Tertambat (Fixed Carbon)
2. Analisis Ultimat (Ultimate Analisys)
Analisis ultimat adalah analisis untuk menentukan kelas batubara. Analisis
ini adalah cara paling sederhana untuk menunjukkan unsur pembentuk batubara
yang penting. Pada analisis ultimat terdapat 5 unsur yang dianalisis yaitu : Karbon
(C), Hidrogen (H), Sulfur (S), Nitrogen (N) dan kemudian yang terakhir didapat
dari pengurangan 100% dengan jumlah presentase unsur-unsur yang lain yaitu
unsur Oksigen (O).

3.2 Parameter Kualitas Batubara


Penilaian kualitas batubara ditentukan oleh beberapa parameter yang
terkandung dalam batubara yang ditentukan dari sejumlah analisis di
laboratorium, parameter kualitas batubara umumnya terdiri dari :

14
1. Nilai Kalori (Calorific Value)
Nilai kalori yaitu jumlah panas yang dihasilkan apabila sejumlah tertentu
batubara dibakar. Panas ini merupakan reaksi eksotermal yang melibatkan
senyawa hidrokarbon dan oksigen. Nilai kalori ditentukan dari kenaikan suhu
pada saat sejumlah tertentu batubara dibakar. Satuannya dinyatakan dalam
Kkal/kg dan dasar pelaporan dalam kondisi bebas air permukaan (adb). Nilai kalor
dibagi menjadi dua, yaitu nilai kalori kotor dan nilai kalori bersih.
a. Gross Calorific Value (GCV) adalah nilai kalori kotor sebagai nilai kalor hasil
dari pembakaran batubara dengan semua air dihitung dalam keadaan wujud
gas.
b. Net Calorific Value (NCV) adalah nilai kalori bersih hasil pembakaran batubara
dimana kalori yang dihasilkan merupakan nilai kalor. Harga nilai kalori bersih
ini dapat dicari setelah nilai kalori kotor batubara diketahui dengan
menggunakan rumus :
100 TM
NCV GCVx 49,2H 5,5W
100 M1 ...................................................(3.1)

Keterangan :
TM = Total moisture (adb)
M1 = Inherent moisture (adb)
H = Kadar hidrogen
W = Jumlah total moisture + total moisture pengganti abu
(tiap 10% abu ~ 1% air)

2. Kandungan Sulfur (Total Sulfur)


Digunakan untuk mengetahui kandungan total belerang yang terdapat pada
batubara dengan membakar sampel batubara pada suhu tinggi (13500C) atau
disebut High Temperatur Method, yang dinyatakan dalam %, dan dasar pelaporan
dalam kondisi bebas air permukaan (adb). Sulfur dalam batubara terdapat dalam
tiga bentuk utama yaitu :

15
a. Sulfur piritik (FeS2)
Sulfur piritik jumlahnya sekitar 20-30% dari sulfur total dan terasosiasi
dalam abu. Sulfur piritik umumnya dapat dihilangkan dengan proses pencucian
batubara.
b. Sulfur organik
Sulfur organik jumlahnya sekitar 20-80% dari sulfur total dan secara kimia
terikat di dalam batubara, biasanya berasosiasi dengan sulfat selama proses
pembatubaraan.
c. Sulfat
Sulfat kebanyakan sebagai kalsium sulfat, natrium sulfat, dan besi sulfat,
jumlahnya sangat kecil kecuali pada batubara yang telah terekspos dan telah
teroksidasi.

3. Kandungan Air Total (Total Moisture)


Kandungan air total adalah banyaknya air yang terkandung dalam batubara
sesuai dengan kondisi lapangan. Kandungan air total sangat dipengaruhi oleh
ukuran butir batubara dan iklim daerah sekitar, yang dinyatakan dalam % dan
dasar pelaporan dari batubara dalam keadaan insitu (ar).
4. Kandungan Air Bawaan (Inherent Moisture)
Merupakan kandungan air yang ada pada batubara bersama dengan saat
terbentuknya batubara tersebut. Kandungan air bawaan berhubungan erat dengan
nilai kalori, umumnya bila kandungan air bawaan berkurang maka nilai kalori
meningkat demikian juga sebaliknya, yang dinyatakan dalam %, dasar pelaporan
dalam kondisi bebas air permukaan (adb).
5. Kandungan Air Bebas (Free Moisture)
Merupakan Air yang berada dipermukaan batubara akibat pengaruh dari luar
seperti cuaca dan iklim.
6. Kandungan Abu (Ash Content)
Merupakan sisa-sisa zat anorganik yang terkandung dalam batubara setelah
dibakar. Kandungan abu tersebut dapat dihasilkan dari pengotor bawaan dalam

16
proses pembentukan batubara maupun dari proses penambangan yang dinyatakan
dalam %, dasar pelaporan dalam kondisi bebas air permukaan (adb).
7. Zat Terbang (Volatile Matter)
Merupakan zat aktif yang terdapat pada batubara yang menghasilkan energi
atau panas apabila batubara tersebut dibakar, sehingga zat terbang merupakan zat
aktif yang mempercepat proses pembakaran. Zat terbang tersebut terdiri dari gas-
gas yang mudah terbakar seperti hidrogen (H), karbon monoksida (CO), dan
metana (CH4), yang dinyatakan dalam %, dasar pelaporan dalam kondisi bebas air
permukaan (adb).
8. Karbon Tertambat (Fixed Carbon)
Merupakan karbon yang tertinggal sesudah zat belerang dan kandungan
airnya hilang. Dengan adanya pengeluaran zat terbang dan kandungan air maka
karbon tertambat secara otomatis akan naik, sehingga semakin tinggi kandungan
karbon maka kelas batubaranya akan naik. Karbon tertambat didapat dari 100%
dikurangi dengan jumlah dari kandungan air bawaan, abu dan zat terbang, yang
dinyatakan dalam %, dasar pelaporan dalam kondisi bebas air permukaan (adb).
9. Indeks ketergerusan (Hardgrove Grindability Index = HGI)
Adalah suatu nilai yang menunjukkan kemudahan batubara untuk digerus.
Makin tinggi harga HGI makin mudah batubara tersebut digerus. Adapun harga
HGI batubara dapat dicari dengan rumus :

HGI = 13,6 + 6,93 W........................................................................................(3.2)

Keterangan :
harga W adalah berat dalam gram batubara lembut ukuran 200 mesh.

17
Tabel 3.1 Klasifikasi Batubara Menurut ASTM

Fixed Carbon Volatile matter


Limits (dry Limits Gross Colorific Value Limits
mineral-matter (dry,mineral- (Moist,mineral-matter-free basis)
free basis) % matter-free
basis)
%
Class
Group Btu/lb Mj/kg
Equal Less Equal Less Equal Less Equal Less
or than or than or than or than
greater greater greater greater
than than than than

Anthracite
Meta- Anthracite 98 ... ... 2
Anthracite 92 98 2 8
Semianthracite 86 92 8 14

Bituminous
Low Volatile 78 86 14 22
Medium Volatile 69 78 22 31
High Volatile A ... 69 31 ... 14.000 ... 32,6 ...
High Volatile B 13.000 14.000 30,2 32,6
High Volatile C 11.500 13.000 26,7 30,2

Subbituminous
Subbituminous A 10.500 11.500 24,4 26,7
Subbituminous B 9.500 10.500 22,1 24,4
Subbituminous C 8.300 9.500 19,3 22,1

Lignite
Lignite A 6.300 8.300 14,7 19,3
Lignite B 6.300 14,7

(Sumber : British Standard Institution, 2008)

3.3 Basis Pelaporan Hasil Analisis


Basis pelaporan kualitas batubara yang dipakai adalah sebagai berikut :
1. As Received (ar)
Pada basis as received berarti semua hasil analisis dihitung mundur dengan
memasukkan kandungan air total dari sampel.

18
2. Air Dry Based (adb)
Pada basis adb, sampel batubara yang dianalisis ditempatkan di udara
terbuka, kandungan air totalnya secara perlahan akan mencapai kesetimbangan
dengan kelembaban udara. Jika kandungan air permukaan dari sampel ini
kemudian ditentukan maka diperoleh kandungan air dalam basis adb.
3. Dry Based (db)
Pada basis dry, artinya sampel batubara dalam keadaan kering maka
kandungan air permukaan dan kandungan air bawaannya adalah nol.
4. Dry Ash Free (daf)
Pada basis daf, analisis dilakukan dengan mengabaikan kandungan abu dan
kandungan air yang ada dalam sampel, artinya kandungan abu dan kandungan air
adalah nol. Analisis dengan basis daf berkaitan dengan material organik murni.
5. Dry Mineral Matter Free (dmmf)
Pada basis dmmf analisis dilakukan untuk memberikan gambaran mengenai
komposisi organik murni, artinya volatile mineral matter dianggap sama dengan
nol. Komponen batubara dan dasar pelaporan (lihat gambar 3.1)

Gambar 3.1 Komponen Batubara dan Dasar Pelaporan

19
Tabel 3.2 Konversi Analisa Batubara

(Sumber : Muchjidin,2006)
Keterangan :
M = Total Moisture (ar)
MI = Inherent Moisture (adb)
A = Ash Content (adb)
B = Mineral Matter (adb)

3.4 Blending Management


Blending adalah suatu proses pencampuran batubara yang memiliki kualitas
berbeda sehingga membentuk satu batubara dengan kualitas tertentu yang
diinginkan. Dalam pelaksanaan pencampuran batubara ada beberapa hal yang
harus menjadi perhatian :
a. Sebelum blending dilakukan, yang perlu diperhatikan adalah target parameter
kualitas batubara yang ingin dicapai dari blending tersebut.
b. Hanya satu target parameter kualitas batubara yang bisa dicapai dengan tepat
(homogen) dalam satu blending. Parameter lainnya mengikuti sesuai dengan
proporsi blendingnya.
c. Diantara parameter kualitas batubara, ada yang bersifat addictive (dapat
dikalkulasi secara kuantitatif pada saat blending). Dan ada juga parameter
yang tidak bersifat addictive atau tidak dapat dihitung secara kuantitatif
berdasarkan proporsi blendingnya.

20
d. Parameter yang bersifat addictive termasuk didalamnya semua parameter yang
dinyatakan dalam % dan satuan berat, contoh : total moisture, proximate,
sulfur, calorific value, ultimate, dan lain-lain.
e. Parameter yang bersifat non addictive biasanya parameter yang bersifat
kualitatif seperti : ash fusion temperature, swelling, HGI, dan parameter lain
yang tidak dinyatakan dalam satuan % berat dan satuan berat. Ada juga
parameter yang sebenarnya addictive, tetapi tidak bisa dikalkulasikan secara
langsung. Parameter ini adalah parameter kuantitatif yang bukan sebagai in
coal. Contoh : ash analisis.
Berikut adalah beberapa sistem pencampuran dengan tingkat homogenitas
yang meningkat (semakin homogeny).
a. Blending barge by barge
b. Blending dump truck by dump truck
c. Blending bucket loader by bucket loader
d. Blending conveyor.

Dalam melakukan blending dapat dilakukan dengan kalkulasi kualitas blending


dengan rumusan berikut:

( K1 xW1 ) ( K 2 xW2 ) ...(KnxWn)


KC
(W 1 W 2) ...Wn .......................................................(3.3)

Keterangan :
KC = Kualitas hasil blending
K1 = Kualitas batubara 1 (kcal/Kg)
K2 = Kualitas batubara 2 (kcal/Kg)
Kn = Kualitas batubara n
W1 = Berat batubara 1 (Kg)
W2 = Berat batubara 2 (Kg)
Wn = Berat batubara n
Maka dalam penanganan blending kualitas batubara hal-hal yang menjadi
perhatian/pertimbangan utama adalah :

21
a. Hasil suatu blending yang homogen sangat diperlukan terutama terhadap
konsumen.
b. Ketidak Homogenan dalam suatu blending akibatnya akan terasa langsung oleh
konsumen pada saat batubara tersebut digunakan.
c. Kesempurnaan dari suatu blending adalah ketepatan dalam pencapaian target
kualitas hasil blending dan Homogenitas hasil blending.

Dengan demikian maka yang menentukan kualitas blending adalah :


a. Proporsi blending yang akurat
b. Sistem blending yang baik dan terkontrol
Perhitungan hasil blending yang komperhensip sesuai dengan tipical parameter
yang benar.

3.5 Tempat Pencampuran Batubara


System penimbunan memiliki dua metode yaitu metode penimbunan
terbuka (open stockpile) dan metode penimbunan tertutup (coverage storage).
Penimbunan yang umum dilakukan pada PLTU adalah dengan metode
penimbunan terbuka (open stockpile). Open stockpile atau stockpile adalah
penimbunan material diatas permukaan tanah secara terbuka dengan ukuran sesuai
tujuan dan proses yang digunakan. Pola penimbunan antara lain sebagai berikut:
Tipe-tipe penumpukan material batubara, yaitu :
1. Cone Play
Merupakan pola dengan bentuk keruncut pada salah satu ujungnya sampai
tercapai ketinggian yang dikehendaki dan dilanjutkan menurut panjang stockpile.
Pola ini menggunakan alat curah seperti, stacker reclaimer.
2. Chevron
Merupakan pola dengan menempatkan timbunan satu baris material, sepanjang
stockpile dan tumpukan dengan cara bolak-balik hingga mencapai ketinggian
yang diinginkan. Pola ini baik untuk alat curah, seperti belt conveyor atau stack
reclaimer

22
3. Windrow
Merupakan pola dengan penumpukan dalam baris sejajar sepanjang lebar
stockpile dan diteruskan sampai ketinggian yang diinginkan tercapai. Umumnya
backhoe, bulldozer, dan loader.

4 1 3 2 2 1

1, 2 = Urutan Penimbunan

(Sumber : Edwards, G.E, 1987)

Gambar 3.3 Tampak Samping Pola Penimbunan Cone

4 3 2 1
1, 2, 3, 4 = Urutan Penimbunan

(Sumber : Edwards, G.E, 1987)

Gambar 3.4 Tampak Samping Pola Penimbunan Chevron

23
10

8 9

7 6 5

1 2 3 4

(Sumber : Edwards, G.E, 1987)

Gambar 3.5 Tampak Samping Pola Penimbunan Windrow

3.6 Metode Pembakaran Pada PLTU


Pembakaran merupakan proses reaksi oksidasi antara unsur-unsur yang
terdapat didalam batubara dengan oksigen. Reaksi oksidasi ini berlangsung pada
permukaan butiran batubara, semakin halus ukuran butir batubara maka akan
semakin besar luas permukaan butiran batubara tersebut, sehingga proses
pembakaran batubara akan semakin cepat. Sehingga proses Pembakaran batubara
akan semakin cepat. Proses pembakaran batubara ada 3, metode :
1. Fixed Bed
Metode pembakaran dengan ukuran butir batubara yang dimasukan ke
dalam ruang bakar (burner) adalah 100mm dan menghasilkan temperatur
pembakaran 600C.
2. Fluidized Bed
Metode pembakaran ini ukuran butir batubara yang dimasukan ke dalam
burner lebih halus dibandingkan dengan metode fixed bed yaitu sekitar 1-5 mm.
Umpan batubara harus dilakukan proses peremukan terlebih dahulu, karena
umpan sudah lebih halus maka kecepatan pembakaran juga lebih cepat dan

24
temperatur yang dihasilkan juga lebih tinggi dibanding dengan fixed bed yaitu
bisa mencapai 900.
3. Pulverized Bed
Metode pembakaran ini menggunakan metode ukuran yang paling halus
dibandingkan dengan metode Fixed Bed dan Fludized Bed. Ukuran butir batubara
yang digunakan adalah 200 mesh maka terlebih dahulu harus dilakukan proses
penggilingan menggunakan pulverizer, batubara telah digiling dimasukan ke
dalam burner dengan cara dihembuskan dengan media udara dan temperatur
pembakaran yang dapat dicapai antara 1250-1600C. Dalam sistem ini dibedakan
menjadi dua metode pembakaran, yaitu :
1. Unit System Of Pulverized Coal Firing
Pada sistem ini bahan bakar mula-mula ditampung pada suatu coal bunker,
dan untuk mengeluarkan batubara dari sini digunakan feeder kemudian batubara
dimasukan kedalam pulverizer untuk dihaluskan. Dalam proses penghalusan ini
dibantu dengan hembusan udara panas untuk mengurangi kadar air total serta
menghembuskan batubara halus ke dalam burner.
2. Storage System Of Pulverized Coal Firing
Dalam sistem ini peralatan yang digunakan lebih lengkap karena batubara
yang dihasilkan pulverizer tidak langsung dihembuskan ke dalam burner, tetapi
terlebih dahulu dipisahkan antara batubara halus dan udaranya dalam cyclone
separator, hasil batubara halus segera ditampung ke dalam pulverized coal
storage bin. Proses pengeluaran batubara halus dari coal storage bin diatur
menggunakan feeder dibantu dengan hembusan udara panas dari primary air fun,
selanjutnya batubara masuk kedalam burner.

3.7 Mekanisme Kerja Crusher


Crusher digunakan dalam proses penggilingan batubara untuk mereduksi
ukuran butir batubara kasar menjadi halus dalam spesfikasi tertentu sehingga
dapat digunakan dalam proses pembakaran. Crusher dilengkapi dengan dustor
untuk menentukan jumlah kapasitas umpan batubara yang dibutuhkan, kemudian
umpan tersebut dimasukan ke dalam coal bunker. Batubara yang telah digiling

25
kemudian dihembuskan oleh aliran udara panas dari primary air fan menuju ruang
bakar.

Gambar 3.5 Mekanisme Kerja Crusher

3.8 Proses Pembakaran PLTU


Proses pembakaran batubara terjadi di dalam boiler. Prinsip kerja pada boiler
adalah prinsip kerja ketel uap. Batubara sebagai bahan bakar yang dihembuskan
dari crusher ke dalam burner akan menghasilkan panas untuk merubah air
menjadi uap bertekanan yang kemudian digunakan untuk generator listrik. Bahan
bakar (batubara) yang telah digiling dari crusher masuk melalui saluran masuk
udara dan bahan bakar (air dan fuel inlet) akan terbakar dalam ruang burner,
panas yang dihasilkan dari proses pembakaran digunakan untuk memanaskan air
yang telah dimasukan ke dalam boiler melalui pipa-pipa saluran air (water tubes)
kemudian air yang dipanaskan akan menghasilkan uap yang keluar melalui

26
saluran keluaran uap (steam outlet). Gas hasil dari proses pembakaran batubara
dibuang melalui saluran keluaran gas (flue outlet). (Lihat gambar 3.6)

(Sumber : Kursus operator PLTU 1998, Mekanisme Kerja Boiler)

Gambar 3.6 Mekanisme Kerja Boiler

3.9 Reaksi Pembakaran


Secara umum pembakaran dapat didefinisikan sebagai proses atau reaksi
oksidasi yang sangat cepat antara bahan bakar (fuel) dan oksidator dengan
menimbulkan panas atau nyala dan panas. Bahan bakar (fuel) merupakan segala

27
subsitansi yang melepaskan panas ketika dioksidasi dan secara umum
mengandung unsur-unsur karbon (C), Hidrogen (H), oksigen (O), nitorgen (N),
dan sulfur (S). Sementara oksidator adalah segala subsitansi yang mengandung
oksigen (misalnya udara) yang akan bereaksi dengan bahan bakar (fuel).
Dalam proses pembakaran fenomena-fenomena yang terjadi antara lain
interaksi proses-proses kimia-fisika, pelepasan panas yang berasal dari energi
ikatan-ikatan kimia, proses perpindahan panas, dan proses perpindahan massa.
1. Carbon (C)
Karbon dapat terbakar secara sempurna maupun tidak sempurna karena itu
terjadi reaksi yang terjadi ada 2 macam, yaitu :
a. Pembakaran tidak sempurna : 2C + O2 2CO, H = - 2415 kcal/kg
b. Pembakaran sempurna : 2C + O2 CO2, H = - 7830 kcal/kg
2. Hydrogen (H)
2H2 + O2 2H2O, H = + 57,798 kcal/gr mol
3. Nitrogen (N)
N2 + O2 2NO, H = - 21,600 kcal/gr mol
4. Sulphur (S)
S + O2 SO2, H = - 79,94 kscal/gr mol

3.10 Perhitungan Effisiensi Boiler


Perhitungan effisiensi boiler berdasarkan standard British Standard, BS S45
: 1987 dan USA Standard ASME PTC4.1 Power Test Code Steam Generating
Units, sebuah standar uji performa untuk menghitung performa dari boiler dapat
dilakukan dengan dua metode yaitu metode langsung dan tak langsung.
Perhitungan metode langsung dan tak langsung yaitu dengan cara
membandingkan langsung antara panas yang dihasilkan/output (steam) dengan
panas yang masuk/ input dari bahan bakar, secara matematis dirumuskan sebagai
berikut :
Rumus :
Panas Keluar
boiler = X 100 %
Panas Masuk.............................................................(3.4)

28
Ws ( Hg Hf )
boiler = X 100 %
Wf (GCV)...........................................................(3.5)

Keterangan = boiler = Nilai Effisiensi Boiler (100%)


Ws = Jumlah panas yang dihasilkan/ jam ( ton/jam)
Wf = Jumlah Bahan bakar yang digunakan/ jam (ton/jam)
Hg = Entalpi Steam Jenuh (KJ/kg)
Hf = Entalpi Air Umpan (KJ/Kg)
GCV = Nilai Panas Kotor Bahan Bakar (Kcal/kg)

Jika panas yang diserap besar maka effisiensi boiler akan bertambah dan
jika panas yang diserap kecil maka effisiensi boiler akan kecil juga. Sedangkan
perhitungan effisiensi boiler dengan metode tak langsung yaitu dengan cara
menghitung kehilangan panas (heat loss), secara matematis dirumuskan sebagai
berikut :

boiler = 100% - (Luc Lg Lmf Lh Lma- Lrad- Lunc).................(3.6)

Keterangan boiler = Nilai effisiensi boiler


Luc = Kehilangan panas karena karbon tidak terbakar
Lg = Kehilangan panas dalam gas buang
Lmf = Kehilangan panas karena adanya kandungan air dalam
bahan bakar
Lh = Kehilangan panas karena adanya hidrogen dalam
bahan bakar
Lma = Kehilangan panas karena kandungan air dalam udara
Lrad = Kehilangan panas karena radiasi
Lunc = Kehilangan panas lain yang tidak dapat diukur

29